Sie sind auf Seite 1von 84

OUTLINE

POLA PSDA WS MUNA

I PENDAHULUAN

II KONDISI WILAYAH SUNGAI

III ANALISIS DATA

IV KEBIJAKAN OPERASIONAL
KONDISI UMUM WS MUNA
► WS Muna merupakan WS
Kewenangan Provinsi Sultra
(Permen PUPR
No.04/PRT/M/2015),
► Luas WS = 3.863,65 km2
= 10,15% dari Luas Wil.
Provinsi Sultra, terdiri dari
106 DAS (DAS terluas
adalah DAS
Mawasangka/Bula-bula =
933,97 km2 = 24,17% dari
Luas WS & DAS Tiworo =
346,51 km2 = 8,97% dari luas
WS,
► Melintasi 4 kabupaten serta
40 kecamatan,
► Jumlah penduduk tahun
2016 = 389.232 Jiwa,
► Jumlah CH rerata tahunan
antara (1389.90 – 4602,7)
mm,
► Potensi air (Q80) = 45,83
m3/dtk atau 1.445,31 juta
m3/tahun,
KONDISI UMUM WS MUNA

Sebaran DAS di WS Muna


KODE Luas KODE Luas KODE Luas KODE Luas
NAM A DAS NAM A DAS NAM A DAS NAM A DAS
DAS km2 DAS km2 DAS km2 DAS km2
1 DAS Tiworo 346,51 28 DAS Katangana 157,20 55 DAS Rano 54,20 82 DAS Lakampula 78,61
2 DAS Soga 33,52 29 DAS Lakabu 3,56 56 DAS Keume 1,56 83 DAS Baliara 6,46
3 DAS Remba 145,64 30 DAS Bonebone 5,61 57 DAS Lenggora 13,06 84 DAS Ketalaposu 2,75
4 DAS Lahodu 29,29 31 DAS Santiri 0,93 58 DAS Talabassi 5,82 85 DAS Sangiang 1,96
5 DAS Omba 73,01 32 DAS Belanbelan Kecil 0,15 59 DAS Dahudahu 4,87 86 DAS Omaleate 2,40
6 DAS Tolimbo 55,68 33 DAS Katela 0,12 60 DAS Lore 3,36 87 DAS Pamali 25,22
7 DAS Baru Membe 26,13 34 DAS Belanbelan Besar 0,28 61 DAS Belulupi 25,46 88 DAS Pikaloa 3,35
8 DAS Lambiku 125,54 35 DAS Bangkomalampe 14,41 62 DAS Kalumpa 47,27 89 DAs Buntila 2,04
9 DAS Bonea 23,72 36 DAS Pasipi 0,72 63 DAS Kalimbunga 39,25 90 DAS Napo 168,25
10 DAS Labungi 33,84 37 DAS Masalokan 5,96 64 DAS Walaende 10,45 91 DAS Molea 30,16
11 DAS Motewe 6,21 38 DAS Maloang 0,88 65 DAS Songalo 8,46 92 DAS Takenoea 11,07
12 DAS Wangkaborona 107,34 39 DAS Sanggaleang 4,71 66 DAS Maliga 5,00 93 DAS Dudu 4,58
13 DAS Kombakomba 33,16 40 DAS Latoa 5,92 67 DAS Tawo 27,18 94 DAS Malandahi 12,78
14 DAS Tongkonu 207,14 41 DAS Mandike 0,15 68 DAS Sangia 21,97 95 DAS Eja 5,20
15 DAS Tongkuno 12,97 42 DAS Kayuangi 0,19 69 DAS Lapulu 50,72 96 DAS Baleara 0,19
16 DAS Wakuru 17,88 43 DAS Simuang 3,17 70 DAS Bengko 4,48 97 DAS Talinga 0,06
17 DAS Mawasangka/Bula-bula 933,97 44 DAS Santigi 0,27 71 DAS Labengko 10,70 98 DAS Mataha 1,39
18 DAS Wasongkala 216,15 45 DAS Tiga 0,97 72 DAS Buhuuwa 25,12 99 DAS Sagori 0,67
19 DAS Labulubulu 41,28 46 DAS Bero 0,20 73 DAS Ngutuno 3,55 100 DAS Bungiolo 0,42
20 DAS Logmia Baru 11,59 47 DAS Bangko 3,70 74 DAS Kalari 4,02 101 DAS Kokoe 0,13
21 DAS Logmia 12,13 48 DAS Malandahi Laut 23,77 75 DAS Kalaero 10,11 102 DAS Wali Kecil 0,01
22 DAS Lamanu 186,28 49 DAS Rolano 42,06 76 DAS Wawodewa 12,54 103 DAS Wali Besar 0,01
23 DAS Wakobalu 38,87 50 DAS Pekoyaa 16,58 77 DAS Pongkalaero 0,96 104 DAS Telaga Besar 8,26
24 DAS Lamelaiya 10,87 51 DAS Onemotto 3,96 78 DAS Puunima 6,22 105 DAS Telaga Kecil 3,34
25 DAS Bonengkadia 6,53 52 DAS Mangiwang 2,21 79 DAS Rarahua 14,27 106 DAS Damalawa 2,45
26 DAS Laangsangia 18,33 53 DAS Tanjung Mangiwang 6,73 80 DAS Langkema 5,22 Total 3.863,65

Sumber : Hasil Analisis berdasarkan Permen PUPR No. 04/PRT/M/2015


KONDISI UMUM WS MUNA
Peta Sebaran DAS di WS Muna
MAKSUD DAN TUJUAN POLA
MAKSUD :
 Untuk merumuskan kerangka dasar dalam merencanakan,
melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan
konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air,
dan pengendalian daya rusak air di WS tersebut.
 Untuk menjamin terselenggaranya pengelolaan sumber daya
air secara terpadu, terkoordinasi dan berkesinambungan dalam
kurun waktu 20 (dua puluh) tahun mendatang.

TUJUAN :
 Sebagai acuan dalam pengelolaan sumber daya air bagi semua
pihak yang berkepentingan;
 Mengupayakan sumber daya air (air, sumber air dan daya air)
yang terkonservasi, berdaya dan berhasil guna, dimana daya
rusak air dapat dikendalikan, dikelola secara menyeluruh,
tepadu, dalam satu kesatuan sistem tata air WS Muna; dan
 Sebagai konsep dasar untuk penyusunan Rencana Induk
Pengelolaan Sumber Daya Air secara terpadu dan menyeluruh
di WS Muna.
SASARAN POLA

 Kebijakan dalam pengelolaan sumber daya air di WS


Muna dalam aspek konservasi sumber daya air;
 Kebijakan pendayagunaan sumber daya air di WS Muna
dengan memperhatikan kebijakan daerah, termasuk
arahan dalam penataan ruang wilayah;
 Kebijakan dalam pengendalian daya rusak air di WS
Muna;
 Kebijakan dalam pelaksanaan sistem informasi sumber
daya air di WS Muna; dan
 Kebijakan dalam pemberdayaan peran masyarakat dan
dunia usaha dalam pengelolaan sumber daya air WS
Muna.
ISU-ISU STRATEGIS WS MUNA

Isu Strategis Nasional:


1) Target Akses Air Bersih SDG’s/Cipta Karya;
Akses Air Bersih 100% pada th. 2030/2019. WS Muna baru
terlayani rerata 43%, dengan rincian; Kab. Muna dan Muna Barat
= 40% (106.942 jiwa), Kab. Buton Tengah = 51% (45.631 jiwa) dan
Kab. Bombana = 39% (12.611 jiwa).
2) Ketahanan Pangan;
Produksi beras 26.860 ton (90% kebut)  belum bisa untuk
menyuplai kebutuhan nasional.
3) Ketersediaan Energi;
Pasokan energi listrik yang terjual di WS Muna (50,86 MW) dari
total ketersediaan listrik 54,40 MW, sebagian besar di Kab. Buton
Tengah (45,69 MW), Kab. Muna & Kab. Muna Barat (4,47 MW),
dan Kab. Bombana (0,71 MW).
4) Perubahan Iklim Global;
Banjir di WS Muna yang semakin sering terjadi dan genangan
yang semakin luas, serta kekurangan air pada saat musim
kemarau.
ISU-ISU STRATEGIS WS MUNA

Isu Strategis Lokal:


1) Degradasi Lingkungan;
 Pengurangan luas hutan lahan kering sekunder / bekas
tebangan seluas 1454 Ha dalam 9 tahun (2003-2011),
 Pengurangan luas hutan mangrove sekunder seluas 694
Ha dalam 9 tahun (2003-2011).
2) Bencana Banjir dan Kekeringan; Intensitas debit banjir
meningkat setiap tahunnya, tetapi sebaliknya pada musim
kemarau beberapa daerah dilanda kekeringan.
3) Erosi dan Sedimentasi; Erosi tebing sungai merupakan
penyebab utama terjadinya pendangkalan di sepanjang alur
sungai dan muara, sehingga mengakibatkan banjir.
4) Kekurangan Air Bersih; Rasio pelayanan air bersih baru
mencapai 43%. Akibat sulitnya mendapatkan sumber air
yang handal dalam 1 DAS (harus dilakukan lintas DAS).
Saat ini pemenuhan kebut air bersih masih dominan
menggunakan air tanah/mata air.
RTRW WS MUNA

1. Rencana Tata Ruang (RTR) WS Muna


Secara umum RTR di WS Muna
No. Wilayah Peraturan
mengacu pada RTRW Provinsi
Sultra dan RTRW Kab/Kota. 1. Pulau Sulawesi
Peraturan Presiden No. 88
Tahun 2011
Secara prinsip kebijakan struktur
Peraturan Daerah Provinsi
dan pola pemanfaatan ruang 2. Provinsi Sulawesi Tenggara
Sultra No. 2 Tahun 2014
provinsi diarahkan untuk Peraturan Daerah Kabupaten
3. Kabupaten Muna
mengembalikan dan Muna No. 2 Tahun 2014
merehabilitasi struktur dan pola Draft Peraturan Daerah
4. Kabupaten Muna Barat Kabupaten Muna Barat
pemanfaatan ruang wilayah
……….2017
Provinsi Sultra. Draft Peraturan Daerah
5. Kabupaten Buton Tengah Kabupaten Buton Tengah
………….2017
2. Kebijakan Struktur dan Pola
Peraturan Daerah Provinsi
Ruang Kab/Kota 6. Kabupaten Bombana
Sultra No. 2 Tahun 2013

1) Sistem Kab/Kota
2) Sistem Ruang Kab/Kota
3) Kawasan Non Budidaya
4) Kawasan Budidaya
5) Arahan Pemanfaatan Ruang
Kab/Kota
PETA STRUKTUR RUANG WS MUNA
PETA POLA RUANG WS MUNA
PETA ADMINISTRASI KAB. WS MUNA

Luas Luas dalam W S (%)


W ilayah (%) dalam
No Kabupaten / Kecamatan terhadap
2 W S Muna
(km2) (km ) (Ha) W S Muna
I Kabupaten Bombana 808,41 799,30 79.929,60 20,69 98,87
II Kabupaten Buton Tengah 980,00 844,52 84.451,50 21,86 86,17
III Kabupaten Muna 1.676,92 1.413,60 141.359,94 36,59 84,30
IV Kabupaten Muna Barat 976,61 806,24 80.623,74 20,87 82,55
Total 4.441,94 3.863,65 386.364,78 100,00

Sumber : Hasil Analisis, 2017


LUAS WIL. KAB/KOTA di WS MUNA
Luas Luas dalam W S (%) Luas Luas dalam W S (%)
W ilayah (%) dalam (%) dalam
No. Kabupaten / Kecamatan terhadap No. Kabupaten / Kecamatan W ilayah terhadap
2 2
(Ha) W S Muna 2 W S Muna
(km ) (km ) W S Muna 2
(km ) (km ) (Ha) W S Muna
I Kabupaten Bombana IV Kabupaten Muna Barat
1. Kabaena 104,99 104,99 10.498,69 2,72 100,00 1. Tiworo Kepulauan 77,90 61,33 6.132,92 1,59 78,73
2. Kabaena Utara 132,97 125,99 12.598,69 3,26 94,75 2. Maginti 43,77 43,77 4.377,30 1,13 100,00
3. Kabaena Selatan 129,20 128,61 12.861,26 3,33 99,55 3. Tiworo Tengah 82,35 66,24 6.624,25 1,71 80,44
4. Kabaena Barat 44,42 44,42 4.442,28 1,15 100,00 4. Tiworo Selatan 66,98 48,64 4.864,46 1,26 72,63
5. Kabaena Timur 121,25 120,97 12.097,16 3,13 99,77 5. Tiworo Utara 62,05 44,61 4.460,73 1,15 71,89
6. Kabaena Tengah 275,58 274,32 27.431,53 7,10 99,54
6. Lawa 134,35 134,35 13.435,44 3,48 100,00
Jumlah 808,41 799,30 79.929,60 20,69
7. Sawerigadi 104,24 104,24 10.424,12 2,70 100,00
II Kabupaten Buton Tengah 8. Barangka 43,64 43,64 4.363,86 1,13 100,00
1. Gu 104,00 99,63 9.962,94 2,58 95,80 9. Wadaga 175,05 106,73 10.673,49 2,76 60,97
2. Sangia Wambulu 10,00 5,49 548,51 0,14 54,85 10. Kusambi 103,33 69,72 6.972,39 1,80 67,48
3. Lakudo 225,00 205,30 20.529,97 5,31 91,24 11. Napano Kusambi 82,95 82,95 8.294,78 2,15 100,00
4. Mawasangka 269,55 223,33 22.332,72 5,78 82,85 Jumlah 976,61 806,24 80.623,74 20,87
5. Mawasangka Timur 126,23 93,12 9.312,48 2,41 73,77
Total 4.441,94 3.863,65 386.364,78 100,00
6. Mawasangka Tengah 152,22 124,65 12.464,53 3,23 81,88
7. Talaga Raya 93,00 93,00 9.300,34 2,41 100,00 Sumber : Kab.Dalam Angka dan Hasil Analisis GIS, 2017
Jumlah 980,00 844,52 84.451,50 21,86
III Kabupaten Muna
1. Tongkuno 440,98 373,94 37.394,47 9,68 84,80
2. Tongkuno Selatan 57,26 30,85 3.085,29 0,80 53,88
3. Parigi 152,42 152,42 15.242,24 3,95 100,00
4. Bone 133,22 133,22 13.321,89 3,45 100,00
5. Marobo 42,58 42,58 4.258,28 1,10 100,00
6. Kabawo 204,94 127,22 12.722,48 3,29 62,08
7. Kabangka 97,62 97,77 9.776,96 2,53 100,15
8. Kontu Kowuna 70,56 44,83 4.483,36 1,16 63,54
9. Kontunaga 50,88 36,25 3.624,63 0,94 71,24
10. Watopute 100,12 93,34 9.334,22 2,42 93,23
11. Katobu 12,88 11,25 1.124,72 0,29 87,32
12. Lohia 58,18 58,18 5.817,66 1,51 100,00
13. Duruka 17,04 17,04 1.703,94 0,44 100,00
14. Batalaiworu 24,85 24,85 2.484,65 0,64 100,00
15. Napabalano 105,47 81,70 8.170,21 2,11 77,46
16. Lasalepa 107,92 88,15 8.814,93 2,28 81,68
Jumlah 1.676,92 1.413,60 141.359,94 36,59
PETA ADMINISTRASI KEC. WS MUNA
JUMLAH PENDUDUK di WS MUNA
Data Kependudukan Tahun 2016 Data Kependudukan Tahun 2016
Kabupaten / Juml. Luas Kepadatan Kabupaten / Juml. Luas Kepadatan
No. No.
Kecamatan Penduduk W ilayah Pend. Kecamatan Penduduk W ilayah Pend.
(jiwa) (Km2) (jiwa/km2) (jiwa) (Km2) (jiwa/km2)
I Bombana IV M una Barat
1 Kabae na 3.474 104,99 33 1 Tiworo Ke pulauan 7.023 61,33 115
2 Kabae na Utara 4.477 125,99 36 2 Maginti 8.995 43,77 205
3 Kabae na Se latan 3.180 128,61 25 3 Tiworo Te ngah 7.123 66,24 108
4 Kabae na Barat 9.137 44,42 206 4 Tiworo Se latan 5.290 48,64 109
5 Kabae na Timur 8.126 120,97 67 5 Tiworo Utara 5.314 44,61 119
6 Kabae na Te ngah 4.193 274,32 15 6 Lawa 8.140 134,35 61
Jumlah 32.587 799,30 381 7 Sawe rigadi 6.877 104,24 66
II Buton Tengah 8 Barangka 6.577 43,64 151
1 Gu 16.529 99,63 166 9 Wadaga 6.257 106,73 59
2 Sangia Wambulu 5.223 5,49 952 10 Kusambi 11.750 69,72 169
3 Lakudo 21.056 205,30 103 11 Napano Kusambi 5.130 82,95 62
4 Mawasangka 23.033 223,33 103 Jumlah 78.476 806,24 1.222
5 Mawasangka Timur 5.037 93,12 54 Total 389.770 3.863,65 8.888
6 Mawasangka Te ngah 9.547 124,65 77
7 Talaga Raya 9.402 93,00 101 Sumber : Kabupaten Dalam Angka 2016
Jumlah 89.827 844,52 1.556
III M una
1 Tongkuno 15.783 373,94 42
2 Tongkuno Se latan 5.789 30,85 188
3 Parigi 11.997 152,42 79
4 Bone 5.636 133,22 42
5 Marobo 6.665 42,58 157
6 Kabawo 13.299 127,22 105
7 Kabangka 10.064 97,77 103
8 Kontu Kowuna 4.082 44,83 91
9 Kontunaga 8.328 36,25 230
10 Watopute 12.788 93,34 137
11 Katobu 31.077 11,25 2763
12 Lohia 14.543 58,18 250
13 Duruka 12.228 17,04 718
14 Batalaiworu 13.854 24,85 558
15 Napabalano 11.794 81,70 144
16 Lasale pa 10.953 88,15 124
Jumlah 188.880 1.413,60 5.730
PETA SEBARAN PENDUDUK WS MUNA
PDRB WS MUNA
Perkembangan PDRB Tahun 2011-2015
Atas
Provinsi/Kabupaten 2011 2012 2013 2014 2015
 Struktur perekonomian sebagian
Dasar
(Milyar Rp.) (Milyar Rp.) (Milyar Rp.) (Milyar Rp.) (Milyar Rp.) besar masyarakat di WS Muna
Prov. Sulawesi Tenggara 55.765,44 64.521,08 71.042,48 78.588,06 88.145,93 masih terletak pada sektor primer
Kabupaten Bombana 2.793,53 3.238,01 3.568,58 3.985,95 4.529,89
Harga yang sangat bergantung pada
Kabupaten Muna 4.261,94 4.767,70 5.254,91 4.439,85 4.965,73
Berlaku
Kabupaten Muna Barat - - - 1.538,50 1.742,86 alam.
Kabupaten Buton Tengah - - - 1.483,53 1.593,27  Potensi alam yang diberdayakan
Prov. Sulawesi Tenggara 53.572,36 59.707,50 64.272,47 68.274,19 73.366,42 oleh masyarakat terlihat dari
Kabupaten Bombana 2.669,00 2.967,46 3.215,13 3.451,47 3.735,02
Harga
Kabupaten Muna 4.091,09 4.412,37 4.706,94 3.829,61 4.013,40
tingginya persentase PDRB pada
Konstan
Kabupaten Muna Barat - - - 1.316,54 1.423,66 sektor Pertanian, Kehutanan, &
Kabupaten Buton Tengah - - - 1.260,52 1.296,60 Perikanan.
LPE LPE  Terbesar kedua dari sektor
Atas Laju Pertumbuhan Ekonomi 2011 - 2015 (%)
Dasar
Provinsi / Kabupaten Rerata Total Pertambangan dan Penggalian.
2011 2012 2013 2014 2015 (%) (%)
Prov. Sulawesi Tenggara 10,63 11,65 7,5 6,26 6,88 8,58 42,92
Kabupaten Bombana 11,18 8,35 7,35 8,22 5,63 8,14 40,72
Harga
Kabupaten Muna 7,85* 6,68* 9,33* 7,15 6,08 7,42 37,09
Konstan
Kabupaten Muna Barat - - - 8,14 7,21 7,67 15,35
Kabupaten Buton Tengah - - - 2,86 2,86 2,86 5,72

Sumber : BPS Provinsi Sultra dan Hasil Analisis, 2017

 Laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Sulawesi Tenggara dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan dan
perlambatan pada suatu waktu.
 Pada tahun 2011 mencapai 10,63%, meningkat 11,65% pada tahun 2012, mengalami penurunan/perlambatan
pada tahun 2013 dan 2014 mencapai 7,50% dan 6,26% dan meningkat 6,88% tahun 2015.
 Laju pertumbuhan ekonomi rerata = 8,58%.
 Tahun 2016 mengalami perlambatan yang hanya mencapai 6,51%.
PETA PENUTUPAN LAHAN EKSISTING WS MUNA
%
Luas
No. Klasifikasi Penutupan Lahan Terhadap
(Ha)
Luas W S
1 Hutan lahan kering primer 9.565,71 2,48
2 Hutan lahan kering sekunder / bekas tebangan 37.743,93 9,77
3 Semak belukar 83.569,46 21,63
4 Pertanian lahan kering campur semak 133.714,64 34,61
5 Pertanian lahan kering 22.802,26 5,9
6 Hutan mangrove primer 653,89 0,17
7 Hutan Tanaman 1.737,01 0,45
8 Perkebunan / kebun 83,28 0,02
9 Permukiman / lahan 4.455,49 1,15
10 Tanah terbuka 5.752,52 1,49
11 Rumput 59.947,56 15,52
12 Tubuh Air 156,43 0,04
13 Hutan mangrove sekunder 17.478,00 4,52
14 Tambak 231,04 0,06
15 Semak belukar rawa 2.560,97 0,66
16 Hutan rawa sekunder 4.881,23 1,26
17 Sawah / Persawahan 1.023,07 0,26
18 Pertambangan 8,4 0,002
Jumlah 386.364,82 100,00
PETA WILAYAH PERTAMBANGAN WS MUNA

%
No W ilayah Luas (Ha) Terhadap
Luas W S
1 Izin Usaha Pertambangan 78.111,05 62,45
2 Pertambangan Rakyat 27.041,54 21,62
3 Wilayah Pencadangan Negara 19.930,32 15,93
∑ Total 125.082,91 100
PETA JARINGAN POS HIDROLOGI
POTENSI KETERSEDIAAN AIR WS MUNA

 Potensi Ketersediaan air di WS Muna dihitung dengan menggunakan metode MOCK.


 Potensi Debit Andalan Q80 dan Q95 dihitung dengan menggunakan persamaan Weibull.

3
Ketersediaan Air (m /dtk)
No. Bulan
Q80 Q95 Q rerata
1 Januari 41,27 21,23 128,56
2 Februari 56,95 23,93 169,91
3 Maret 70,31 7,50 181,16
4 April 99,33 49,55 235,95
5 Mei 65,38 20,36 220,51
6 Juni 88,38 17,45 305,50
7 Juli 44,68 11,93 172,70
8 Agustus 19,82 7,98 88,41
9 September 11,28 3,89 59,51
10 Oktober 5,77 1,96 65,78
11 November 7,78 1,55 121,70
12 Desember 39,02 8,64 164,55
Rerata 45,83 14,67 159,52

Sumber : Hasil Analisis, 2017


KETERSEDIAAN AIR di DAS MAWASANGKA/BULA-BULA
& DAS TIWORO
PETA TINGKAT BAHAYA EROSI
KODE
No TBE NAM A DAS Luas (Ha)
DAS
1 Sangat Berat 17 DAS Mawasangka/Bula-bula 54.175,47
2 Sangat Berat 14 DAS Tongkonu 12.261,20
3 Sangat Berat 18 DAS Wasongkala 5.924,25
4 Sangat Berat 22 DAS Lamanu 4.892,29
5 Sangat Berat 82 DAS Lakampula 4.769,13
6 Sangat Berat 69 DAS Lapulu 4.285,15
7 Sangat Berat 63 DAS Kalimbunga 3.057,51
8 Sangat Berat 12 DAS Wangkaborona 2.706,82
9 Sangat Berat 62 DAS Kalumpa 2.595,90
10 Sangat Berat 72 DAS Buhuuwa 2.375,38

%
Tingkat
No Luas (Ha) Terhadap
Bahaya Erosi
Luas W S
1 Berat 167.184,38 43,27
2 Ringan 49.470,89 12,8
3 Sedang 21.409,29 5,54
4 Sangat Berat 122.392,59 31,68
5 Sangat Ringan 25.907,68 6,71
Total 386.364,82 100
PETA LAHAN KRITIS

Tingkat Luas % Terhadap


No
Kekritisan (Ha) Luas W S

1 Agak Kritis 106.360,80 27,53


2 Kritis 134.432,93 34,79
3 Potensial Kritis 53.465,44 13,84
4 Sangat Kritis 87.954,81 22,76
5 Tidak Kritis 4.150,86 1,07
Jumlah 386.364,82 100
PETA RAWAN BENCANA ALAM
Bencana Lokasi Luas (Ha)
DAS Kalumpa 66,16
DAS Baliara 104,67
DAS Belulupi 103,7
DAS Mawasangka/Bula-bula 1047,36
DAS Logmia Baru 8,33
Potensi Banjir DAS Bonengkadia 12,88
DAS Lamelaiya 6,38
DAS Wangkaborona 90,13
DAS Motewe 81,42
DAS Labungi 328,72
DAS Bonea 119,01
Setiap DAS khususnya di
Daerah Rawan Abrasi
daerah pesisir
Tersebar di setiap DAS
Zona Kerentanan
dengan kerentanan Rendah
Gerakan Tanah
dan Menengah
PETA SUMBER PENCEMARAN LINGKUNGAN

Luas Area
No Sumber Pencemaran Pencemaran Dalam
W S Muna (Ha)
1 Permukiman / lahan 4.600
2 Pertambangan 51.280
 ∑ Total 55.879
PETA SUNGAI, SARANA & PRASARANA

 Terdapat 66 Sungai,
 4 Bendung
 3 Air Baku
 41 Mata Air
RENCANA PENGEMBANGAN PRASARANA SDA
Rencana
No. DAS Keterangan
Prasarana SDA
Sumber air dari sungai lano
1 Air Baku DAS Baru Membe
baru membe
Sumber air dari sungai lano
2 Air Baku DAS Bonea
bonea

Rencana Luas
No. DAS
Prasarana SDA (Ha)
1 Embung DAS Tiworo 322,42
2 Embung DAS Omba 161,53
3 Embung DAS Mawasangka/Bula-bula 1.192,62
4 Embung DAS Wasongkala 160,25
Total 1.836,82
RENCANA PENGEMBANGAN PRASARANA SDA

Prasarana Air Baku


DAS Baru Membe (007)
Kab. Muna
RENCANA PENGEMBANGAN PRASARANA SDA

Prasarana Air Baku


DAS Bonea (009)
Kab. Muna
RENCANA PENGEMBANGAN PRASARANA SDA

Prasarana Embung
DAS Tiworo (001)
Kab. Muna Barat
RENCANA PENGEMBANGAN PRASARANA SDA

Prasarana Embung
DAS Omba (005)
Kab. Muna Barat
RENCANA PENGEMBANGAN PRASARANA SDA

Prasarana Embung
DAS Mawasangka/Bula-bula (017)
Kab. Buton Tengah
RENCANA PENGEMBANGAN PRASARANA SDA

Prasarana Embung
DAS Wasongkala (018)
Kab. Muna
PETA DAERAH IRIGASI WS MUNA
A. Irigasi Permukaan
Luas D.I.
No. Nama DAS Eksisting
(Ha)
1 DAS Tiworo 2.251,92
4 DAS Lahodu 10,84
17 DAS Mawasangka/Bula-Bula 122,36
18 DAS Wasongkala 227,52
19 DAS Labulubulu 521,65
20 DAS Logmia Baru 351,05
21 DAS Logmia 618,36
22 DAS Lamanu 259,89
23 DAS Wakobalu 31,60
28 DAS Katangana 352,20
82 DAS Lakampula 0,14
90 DAS Napo 204,88
Total 4.952,40

B. Irigasi Tambak
Luas Irigasi
No Nama DAS Tambak
(Ha)
1 DAS Tiworo 311,23
2 DAS Soga 0,73
3 DAS Remba 128,21
17 DAS Mawasangka/Bula-bula 79,39
18 DAS Wasongkala 164,72
19 DAS Labulubulu 102,99
21 DAS Logmia 19,59
Jumlah Luas D.I (Ha)
28 DAS Katangana 165,90
No Kabupaten Daerah Yang M asih Bisa
83 DAS Baliara 42,77 Irigasi Potensial Fungsional
Dikembangkan
Total 1.015,53 1 Bombana 2 612,46 205,01 407,45

Sumber : Hasil Analisis, 2017 2 Buton Tengah 5 503,05 122,36 380,69


3 Muna 20 5.138,98 2.010,07 3.128,91
4 Muna Barat 15 3.356,83 2.614,96 741,87
Total 42 9.611,32 4.952,40 4.658,92
KEBUTUHAN AIR WS MUNA

1. Kebutuhan Air RKI (Rumah Tangga, Perkantoran, & Industri)

Jumlah Rerata Jumlah Kebutuhan Air


Jumlah Penduduk
No. Kabupaten Penduduk 2016 Pertumbuhan Penduduk 2017 No. Kategori Kota
(Jiwa)
Bersih
(Jiwa) Penduduk (%) (Jiwa) (liter/orang/hari)

1 Bombana 32.587 3,54 33.727 1


Semi Urban (Ibu Kota
3.000 - 20.000 60 - 90
Kecamatan/Desa)
2 Buton Tengah 89.827 0,60 90.368
2 Kota Kecil 20.000 - 100.000 90 - 110
3 Muna 188.880 1,53 191.772
3 Kota Sedang 100.000 - 500.000 100 - 125
4 Muna Barat 78.476 1,53 79.680
4 Kota Besar 500.000 - 1.000.000 120 - 150
Total 389.770 395.547
5 Metropolitan > 1.000.000 150 - 200
Sumber : Hasil Analisis, 2017
Sumber: Dirjen Cipta Karya DPU,2006,”Unit Pelayanan”, Materi Pelatihan
Penyegaran SDM Sektor Air Minum (Peningkatan Kemampuan Staf
Profesional Penyelenggara SPAM)

Kebutuhan Air (m3/dtk) Jumlah


Kebutuhan
No. Kabupaten Rumah
Perkotaan Industri Air RKI
Tangga (m3/dt)
1 Bombana 0,037 0,013 0,017 0,066
2 Buton Tengah 0,122 0,043 0,045 0,209
3 Muna 0,247 0,086 0,094 0,428
4 Muna Barat 0,089 0,031 0,039 0,160
Total 0,495 0,173 0,195 0,863
Sumber : Hasil Analisis, 2017
KEBUTUHAN AIR WS MUNA
2. Kebutuhan Air Irigasi (Fungsional)
Untuk menghitung kebutuhan air irigasi menurut rencana pola tata tanam, ada beberapa faktor yang
perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
a. Pola tanam yang direncanakan; d. Efisiensi irigasi; dan
b. Luas areal yang akan ditanami; e. Awal tanam.
c. Kebutuhan air pada petak sawah;
Bulan
No. Item Jan Feb M ar Apr M ay Jun Jul Aug Sep Oct Nov Des Keterangan
1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2
1 Jumlah Hari 15 16 14 14 15 16 15 15 15 16 15 15 15 16 15 15 15 16 15 16 15 15 15 16 -
2 Golongan I PadI PadI Palawija
Golongan II PadI PadI Palawija Pola Tanam
Golongan III PadI PadI Palawija
3 ET0 (mm/hari) 3,37 3,09 2,95 3,10 3,62 4,00 2,96 2,79 3,13 3,19 2,44 2,47 2,81 2,78 3,49 3,90 4,13 4,47 4,77 4,45 4,40 4,13 3,16 3,08 Hasil Hitungan ET0
4 Koefisien Tanaman (Kc) 1 1,05 1,05 0,95 0,00 1,10 1,10 1,05 1,05 0,95 0,00 0,50 0,59 0,96 1,05 1,02 0,95 0,00 1,10 1,10 Kc: Tabel A.2.2 (Kp-01:164)
2 1,10 1,05 1,05 0,95 0,00 1,10 1,10 1,05 1,05 0,95 0,00 0,50 0,59 0,96 1,05 1,02 0,95 0,00 1,10 Kc: Tabel A.2.5 (Kp-01:172)
3 1,10 1,10 1,05 1,05 0,95 0,00 1,10 1,10 1,05 1,05 0,95 0,00 0,50 0,59 0,96 1,05 1,02 0,95 0,00
5 Penggunaan Konsumtif, ETc 1 3,54 3,24 2,80 0,00 3,25 3,07 3,28 3,35 2,31 0,00 1,39 2,06 3,74 4,34 4,56 4,53 0,00 3,47 3,39
(mm/hari) 2 3,70 3,24 3,10 2,95 0,00 3,07 3,44 3,35 2,56 2,35 0,00 1,74 2,30 3,96 4,70 4,87 4,23 0,00 3,39 ETc = Kc x ETo (Kp-01:162)
3 3,70 3,39 3,10 3,26 3,43 0,00 3,44 3,51 2,56 2,60 2,67 0,00 1,95 2,44 4,29 5,01 4,54 4,18 0,00
6 Perkolasi, P 1 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00
(mm/hari) 2 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 P = 3 mm/hari (KP-01:165)
3 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00
7 T = 30 hari, S = 250 mm (Padi) 1 6,98 7,40 6,09 7,84 7,54
M 2 7,40 6,25 6,06 7,54 6,47 M=1,1 x ETo+P (Kp-01:158)
Land Preparation, LP (mm/hari) 3 6,25 6,07 6,84 6,47 6,39
1 12,30 12,57 8,95 12,86 12,66
IR 2 12,57 11,85 8,93 12,66 11,98 LP = M.e k / (e k-1)
T = 15 hari, S = 80 mm (Palawija) 3 11,85 11,73 9,46 11,98 11,93
8 Water Layer Replacements, WLR 1 3,30 3,30 3,30 3,30 WLR : 2 kali, sebesar 3.3 mm/hari
(mm/hari) 2 3,30 3,30 3,30 3,30 (KP-01:165)
3 3,30 3,30 3,30 3,30
9 Curah Hujan (80%) (mm/bln) 46,3 36,1 24,6 88,7 116,6 81,9 188,0 86,5 151,5 89,5 134,2 280,5 81,2 83,8 9,5 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 41,0 36,5 70,0 31,5 Hasil Analisis
10 Curah Hujan (50%) (mm/bln) 170,8 75,2 55,5 134,5 144,5 166,5 212,5 224,7 290,0 262,6 210,0 305,6 116,5 165,0 28,7 30,1 77,5 32,1 55,6 163,5 74,9 148,0 205,5 131,9 Hasil Analisis
11 Hujan Efektif, Re 80 (mm/hari) 2,16 1,58 1,23 4,44 5,44 3,58 8,77 4,04 7,07 3,92 6,26 13,09 3,79 3,67 0,44 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,91 1,70 3,27 1,38 Re = 0.7*(1/0,5 bulan)xR 80% (Padi)
12 Hujan Efektif, Re 50 (mm/hari) 5,69 2,35 1,98 4,80 4,82 5,20 7,08 7,49 9,67 8,21 7,00 10,19 3,88 5,16 0,96 1,00 2,58 1,00 1,85 5,11 2,50 4,93 6,85 4,12 Re = 0.5*(1/0,5 bulan)xR 50% (Palawija)
13 Net Field Water Requirement 1 7,68 4,66 4,57 -1,44 6,86 8,99 0,78 2,04 2,51 2,43 -0,95 -10,09 5,06 -0,77 4,10 5,74 4,75 6,56 5,68 -2,11 10,95 10,96 6,51 5,01 NFR (LP) = IR-Re
(NFR) (mm/hari) 2 4,54 7,96 4,87 1,51 -2,44 8,99 3,07 5,34 -0,63 5,73 -0,71 -7,74 -0,79 3,77 3,79 4,29 4,38 6,69 6,01 2,12 0,50 10,96 8,72 8,31 NFR = Etc + P + WLR -Re
3 7,84 4,81 8,17 1,82 0,99 -0,58 3,07 7,70 2,67 2,59 2,59 -7,49 1,88 -0,67 8,51 3,94 2,85 6,29 6,16 2,43 4,68 -1,93 8,72 10,55
14 NFR rata-rata (mm/hari) 6,69 5,81 5,87 0,63 1,80 5,80 2,31 5,02 1,52 3,59 0,31 0,00 2,05 0,78 5,46 4,66 4,00 6,51 5,95 0,81 5,38 6,66 7,98 7,96 Hasil Analisis
15 NFR rata-rata (lt/dt/ha) 0,77 0,67 0,68 0,07 0,21 0,67 0,27 0,58 0,18 0,42 0,04 0,00 0,24 0,09 0,63 0,54 0,46 0,75 0,69 0,09 0,62 0,77 0,92 0,92 Konfersi Satuan
16 Diversion Req. (DR), (lt/dt/ha) 1,19 1,03 1,05 0,11 0,32 1,03 0,41 0,89 0,27 0,64 0,06 0,00 0,37 0,14 0,97 0,83 0,71 1,16 1,06 0,14 0,96 1,19 1,42 1,42 DR=NFR/Efisiensi Irigasi (65%)

Sumber : Hasil Analisis, 2017


KEBUTUHAN AIR WS MUNA
2. Kebutuhan Air Irigasi (Fungsional)

Kebutuhan Air Irigasi (m3/dtk) KAI Rerata


No. Kabupaten Nama Daerah Irigasi
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des (m3/dtk)
D.I. Enano 0,03 0,02 0,02 0,03 0,02 0,01 0,02 0,02 0,03 0,03 0,03 0,03 0,02
1 Bombana
D.I. Tedubara 0,24 0,16 0,17 0,25 0,20 0,08 0,14 0,18 0,21 0,21 0,26 0,26 0,20
D.I. Kaudani 0,08 0,05 0,08 0,11 0,09 0,05 0,06 0,07 0,09 0,08 0,09 0,10 0,08
D.I. Kaudani 2 0,01 0,00 0,01 0,01 0,01 0,00 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01
2 Buton Tengah D.I. Kaudani 3 0,04 0,02 0,03 0,05 0,04 0,02 0,03 0,03 0,04 0,04 0,04 0,05 0,04
D.I. Kaudani 4 0,01 0,00 0,00 0,01 0,01 0,00 0,00 0,00 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01
D.I. Kaudani 5 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01
KEBUTUHAN AIR WS MUNA
2. Kebutuhan Air Irigasi (Fungsional)
Kebutuhan Air Irigasi (m3/dtk) KAI Rerata
No. Kabupaten Nama Daerah Irigasi
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des (m3/dtk)
D.I. Kolasa 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
D.I. Kolasa 2 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01
D.I. Kolasa 3 0,06 0,04 0,06 0,09 0,07 0,04 0,05 0,06 0,07 0,07 0,07 0,08 0,06
D.I. Parigi 1 0,65 0,39 0,64 0,93 0,78 0,44 0,55 0,63 0,76 0,72 0,73 0,84 0,67
D.I. Parigi 2 0,10 0,06 0,10 0,14 0,12 0,07 0,09 0,10 0,12 0,11 0,11 0,13 0,10
D.I. Parigi 3 0,18 0,11 0,18 0,26 0,22 0,12 0,15 0,18 0,21 0,20 0,20 0,23 0,19
D.I. Parigi 4 0,27 0,16 0,27 0,39 0,32 0,18 0,23 0,26 0,32 0,30 0,30 0,35 0,28
D.I. Parigi 5 0,00 0,00 0,00 0,01 0,01 0,00 0,00 0,00 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01
D.I. Parigi 6 0,21 0,13 0,21 0,30 0,25 0,15 0,18 0,21 0,25 0,23 0,24 0,28 0,22
D.I. Parigi 7 0,08 0,05 0,08 0,11 0,09 0,05 0,07 0,08 0,09 0,09 0,09 0,10 0,08
3 Muna
D.I. Parigi 8 0,04 0,02 0,04 0,05 0,05 0,03 0,03 0,04 0,04 0,04 0,04 0,05 0,04
D.I. Labulu-bulu 0,33 0,20 0,32 0,47 0,39 0,22 0,28 0,32 0,38 0,36 0,37 0,42 0,34
D.I. Labulu-bulu 2 0,04 0,02 0,04 0,06 0,05 0,03 0,03 0,04 0,05 0,05 0,05 0,05 0,04
D.I. Labulu-bulu 3 0,05 0,03 0,05 0,07 0,06 0,03 0,04 0,05 0,06 0,05 0,05 0,06 0,05
D.I. Bente 0,06 0,04 0,06 0,08 0,07 0,04 0,05 0,06 0,07 0,07 0,07 0,08 0,06
D.I. Bente 2 0,03 0,02 0,03 0,04 0,03 0,02 0,02 0,03 0,03 0,03 0,03 0,04 0,03
D.I. Bente 3 0,01 0,00 0,01 0,01 0,01 0,00 0,00 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01
D.I. Bente 4 0,01 0,00 0,01 0,01 0,01 0,00 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01
D.I. Lupia 0,03 0,02 0,03 0,04 0,04 0,02 0,02 0,03 0,03 0,03 0,03 0,04 0,03
D.I. Lupia 2 0,00 0,00 0,00 0,01 0,01 0,00 0,00 0,00 0,01 0,00 0,01 0,01 0,00
D.I. Kambara 2,24 1,17 1,36 1,32 0,92 0,06 0,51 1,82 1,89 1,21 2,16 2,86 1,46
D.I. Tikep 0,32 0,16 0,19 0,19 0,13 0,01 0,07 0,26 0,27 0,17 0,30 0,40 0,21
D.I. Maroboa 0,06 0,03 0,04 0,04 0,03 0,00 0,01 0,05 0,05 0,03 0,06 0,08 0,04
D.I. Maroboa 2 0,01 0,01 0,01 0,01 0,00 0,00 0,00 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01
D.I. Kusambi 1 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,02 0,01
D.I. Kusambi 2 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
D.I. Tikiep 0,08 0,04 0,05 0,05 0,03 0,00 0,02 0,06 0,07 0,04 0,08 0,10 0,05
4 Muna Barat D.I. Wanseriwu 1 0,08 0,04 0,05 0,04 0,03 0,00 0,02 0,06 0,06 0,04 0,07 0,10 0,05
D.I. Wanseriwu 2 0,02 0,01 0,01 0,01 0,01 0,00 0,00 0,02 0,02 0,01 0,02 0,02 0,01
D.I. Kasimpa Jaya Baru 1 0,01 0,01 0,01 0,01 0,00 0,00 0,00 0,01 0,01 0,01 0,01 0,02 0,01
D.I. Kasimpa Jaya Baru 2 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
D.I. Kasimpa Jaya Baru 3 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
D.I. Kasimpa Jaya 1 0,04 0,02 0,03 0,03 0,02 0,00 0,01 0,04 0,04 0,02 0,04 0,06 0,03
D.I. Kasimpa Jaya 2 0,01 0,00 0,01 0,01 0,00 0,00 0,00 0,01 0,01 0,00 0,01 0,01 0,01
D.I. Katangana 0,02 0,01 0,01 0,01 0,01 0,00 0,01 0,02 0,02 0,01 0,02 0,03 0,01
Total 5,48 3,07 4,24 5,27 4,15 1,73 2,76 4,78 5,36 4,33 5,65 6,97 4,48

Sumber : Hasil Analisis, 2017


KEBUTUHAN AIR WS MUNA

2. Kebutuhan Air Irigasi (Fungsional)


Kebutuhan Air Irigasi (m3/dtk) KAI Rerata
No. Nama DAS
Jan Feb M ar Apr M ei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des (m3/dtk)
1 DAS Tiworo 2,51 1,30 1,52 1,47 1,02 0,06 0,57 2,03 2,11 1,36 2,41 3,20 1,63
4 DAS Lahodu 0,01 0,01 0,01 0,02 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,02 0,01
17 DAS Mawasangka/Bula-Bula 0,13 0,08 0,13 0,19 0,16 0,09 0,11 0,13 0,15 0,14 0,15 0,17 0,14
18 DAS Wasongkala 0,25 0,15 0,24 0,35 0,29 0,17 0,21 0,24 0,28 0,27 0,27 0,32 0,25
19 DAS Labulubulu 0,56 0,34 0,55 0,80 0,67 0,38 0,47 0,54 0,65 0,62 0,63 0,73 0,58
20 DAS Logmia Baru 0,38 0,23 0,37 0,54 0,45 0,26 0,32 0,37 0,44 0,41 0,42 0,49 0,39
21 DAS Logmia 0,67 0,40 0,66 0,95 0,79 0,45 0,56 0,65 0,77 0,73 0,74 0,86 0,69
22 DAS Lamanu 0,28 0,17 0,28 0,40 0,33 0,19 0,24 0,27 0,33 0,31 0,31 0,36 0,29
23 DAS Wakobalu 0,03 0,02 0,03 0,05 0,04 0,02 0,03 0,03 0,04 0,04 0,04 0,04 0,04
28 DAS Katangana 0,39 0,20 0,24 0,23 0,16 0,01 0,09 0,32 0,33 0,21 0,38 0,50 0,25
82 DAS Lakampula 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
90 DAS Napo 0,27 0,18 0,19 0,28 0,22 0,08 0,16 0,20 0,24 0,23 0,29 0,29 0,22
Total 5,48 3,07 4,24 5,27 4,15 1,73 2,76 4,78 5,36 4,33 5,65 6,97 4,48

Sumber : Hasil Analisis, 2017


KEBUTUHAN AIR WS MUNA
3. Kebutuhan Air Tambak
No. Luas Lahan Kebutuhan Air Tambak
Nama DAS
DAS (Ha) l/dtk m3/dtk
1 DAS Tiworo 311,23 248,99 0,25
2 DAS Soga 0,73 0,58 0,00
3 DAS Remba 128,21 102,57 0,10
17 DAS Mawasangka/Bula-bula 79,39 63,51 0,06
18 DAS Wasongkala 164,72 131,78 0,13
19 DAS Labulubulu 102,99 82,39 0,08
21 DAS Logmia 19,59 15,68 0,02
28 DAS Katangana 165,90 132,72 0,13
83 DAS Baliara 42,77 34,22 0,03
Total 1.015,53 812,42 0,81
Sumber : Hasil Analisis, 2017

 Luas tambak di WS Muna adalah 1.015,53 ha, dimana seluruh D.I.T masih tambak
sederhana.
 Berdasarkan SNI 19-6728.1-2002 tentang Penyusunan Neraca Sumber Daya, Bagian 1-
Sumber Daya Air Spasial, Standar kebutuhan air tawar rata-rata untuk;
 Tambak sederhana adalah 0,80 liter/dtk/ha,
 Tambak semi-intensif adalah 3,90 liter/dtk/ha, dan
 Tambak intensif adalah 5,90 liter/dtk/ha.
KEBUTUHAN AIR WS MUNA
4. Kebutuhan Air Ternak
Jumlah Ternak Tahun 2017 (Ekor) Keb. Air Ternak Jumlah Ternak Tahun 2017 (Ekor) Keb. Air Ternak
No. Kabupaten Kecamatan No. Kabupaten Kecamatan
Sapi/Kerbau Kambing/ Sapi/Kerbau Kambing/
Babi Unggas (liter/hari) (m3/dtk) Babi Unggas (liter/hari) (m3/dtk)
/Kuda Domba /Kuda Domba
Kabaena 1.083 621 0 54.107 78.878,05 0,001 Tiworo Kepulauan 2.802 330 0 113.992 182.110,09 0,002
Kabaena Utara 3.725 842 0 35.615 174.585,05 0,002 Maginti 361 496 0 47.228 45.240,54 0,001
Kabaena Selatan 2.218 745 0 76.974 138.619,25 0,002 Tiworo Tengah 5.438 450 0 109.219 285.318,48 0,003
1 Bombana
Kabaena Barat 2.858 779 0 9.432 123.881,54 0,001 Tiworo Selatan 1.249 290 0 51.197 82.119,67 0,001
Kabaena Timur 1.974 999 0 20.746 96.418,44 0,001 Tiworo Utara 247 325 0 283 11.654,94 0,000
Kabaena Tengah 3.772 385 0 24.640 167.596,92 0,002 4 Muna Barat Lawa 1.437 522 0 131.991 139.299,69 0,002
Jumlah 15.630 4.371 0 221.515 779.979,24 0,009 Sawerigadi 2.041 422 0 191.012 198.366,34 0,002

Gu 898 527 0 20.022 50.554,17 0,001 Barangka 1.704 546 0 105.267 134.066,14 0,002

Sangia Wambulu 81 140 0 152 4.046,13 0,000 Wadaga 533 671 0 271.864 187.813,25 0,002
Kusambi 4.368 1.216 0 5.151 183.877,70 0,002
Lakudo 807 1.064 0 30.500 55.884,43 0,001
Napano Kusambi 1.352 790 0 92.683 113.648,49 0,001
2 Buton Tengah Mawasangka 1.877 567 0 5.053 80.967,27 0,001
Jumlah 21.532 6.059 0 1.119.888 1.563.515,33 0,018
Mawasangka Timur 162 73 0 1.676 7.865,24 0,000
Total 88.400 26.317 154 2.839.480 5.372.185,97 0,062
Mawasangka Tengah 377 83 0 9.225 21.039,67 0,000
Talaga Raya 35 403 0 1.162 4.106,60 0,000
Sumber : Hasil Analisis, 2017
Jumlah 4.238 2.858 0 67.789 224.463,50 0,003
Tongkuno 6.791 670 0 150.560 365.316,33 0,004
Tongkuno Selatan 2.845 603 100 111.231 184.163,05 0,002
Parigi 7.116 670 53 114.491 357.010,97 0,004
Bone 2.091 657 0 92.189 142.219,34 0,002
Marobo 556 527 0 98.251 83.808,03 0,001
Kebutuhan Air
Kabawo 3.535 1.593 0 77.490 195.875,19 0,002 Jenis Ternak
Kabangka 5.022 1.563 0 57.102 242.951,44 0,003 (liter/ekor/hari)
3 Muna
Kontu Kowuna 1.253 788 0 26.683 70.075,16 0,001 Sapi/Kerbau/Kuda 40
Kontunaga 923 1.356 0 104.101 106.177,25 0,001
Watopute 3.768 667 0 95.175 211.172,01 0,002
Kambing/Domba 5
Katobu 233 444 0 57.546 46.086,21 0,001 Babi 6
Lohia 2.005 1.134 0 56.234 119.588,56 0,001
Unggas 0,6
Duruka 296 1.143 0 86.101 69.217,03 0,001
Batalaiworu 709 315 0 96.495 87.849,93 0,001
Napabalano 5.157 539 0 72.410 252.412,07 0,003
Sumber: SNI 19-6728.1-2002 tentang
Lasalepa 4.699 360 0 134.229 270.305,33 0,003 Penyusunan Neraca Sumber Daya,
Jumlah 47.000 13.030 154 1.430.289 2.804.227,89 0,032 Bagian 1-Sumber Daya Air Spasial
KEBUTUHAN AIR WS MUNA
5. Kebutuhan Air untuk Pemeliharaan Sungai
 Kebutuhan air untuk pemeliharaan sungai dikategorikan sebagai kebutuhan air
non consumtive, sehingga tidak diperhitungkan dalam analisa neraca air.
 Besarnya kebutuhan air untuk pemeliharaan sungai dihitung berdasarkan debit
andalan 95% (Q95%) (Sumber : SNI 6728.1:2015),
 Debit andalan 95% (Q95%) di WS Muna = 14,67 m3/dtk.
Data Layanan Eksisting PDAM di WS Muna
Kapasitas Terpasang Kapasitas Produksi Kehilangan Terdistribusi/ % Terlayani Terdistribusi
Kabupaten 3
Terjual dalam WS dlm WS
(liter/dtk) (m3/dtk) (liter/dtk) (m3/dtk) (m /dtk) (m3/dtk) Muna (m3/dtk)
Kabupaten Bombana 20 0,020 10,85 0,011 0,0036 0,007 39% 0,003
Kabupaten Buton Tengah 76,5 0,077 29,36 0,029 0,0109 0,018 51% 0,009
- IKK Lombe 15 0,015 8,41 0,008 0,0027 0,006
- IKK Mawasangka 22,5 0,023 10,19 0,010 0,0035 0,007
- IKK Lakudo 15 0,015 6,88 0,007 0,0037 0,003
- IKK Waburense 8,5 0,009 1,59 0,002 0,0002 0,001
- IKK Lamena 5 0,005 0,90 0,001 0,0002 0,001

- IKK Gundu-Gundu 7 0,007 0,53 0,001 0,0002 0,000


- IKK Talaga Raya 3,5 0,004 0,87 0,001 0,0004 0,000

Kabupaten Muna 88,06 0,088 34,62 0,035 0,0104 0,024 0,010


40%
Kabupaten Muna Barat 15 0,015 9,5 0,010 0,0030 0,006 0,003

Total 199,560 0,200 84,331 0,084 0,0279 0,056 43% 0,025

Sumber : BIS-PU, 2012 dan Cipta Karya PUPR, 2016 & Hasil Analisis, 2017
Pemenuhan air eksisting diperoleh berdasarkan asumsi bahwa bendung irigasi dibuat
untuk memenuhi luasan irigasi eksisting sebesar 4,48 m3/dtk ditambah dengan
pemenuhan kebutuhan air domestik/rumah tangga (0,025 m3/dtk), sehingga diperoleh
jumlah pemenuhan air eksisting sebesar 4,51 m3/dtk.
KEBUTUHAN AIR WS MUNA
Rekapitulasi Kebutuhan Air di WS MUNA

3 3
Komponen Neraca Air m /dtk juta m /tahun

Potensi Qandalan, Q80% 45,83 1.445,31


Potensi Ketersediaan Air Rerata 159,52 5.030,57
Kebutuhan Air RKI 0,86 27,23
Kebutuhan Air Irigasi 4,48 141,36
Kebutuhan Air Ternak 0,06 1,96
Kebutuhan Air Tambak 0,81 25,62
Jumlah Kebutuhan Air 6,22 196,17
Sisa Rerata 153,30 4.834,40
Sisa Q80% 39,61 1.249,15
Sumber : Hasil Analisis, 2017

Berdasarkan Indeks Penggunaan Air (IPA) = (Jumlah


Kebutuhan Air/Q80% = 6,22/45,83 = 0,14) di atas,
maka WS Muna masuk kelas “Baik” karena nilai IPA
berada pada nilai ≤ 0,50.
NERACA AIR di DAS MAWASANGKA/BULA-BULA &
DAS TIWORO
A. Neraca Air DAS Tiworo B. Neraca Air DAS Mawasangka/Bula-bula
Kebutuhan Q Andalan Selisih Q rerata Kebutuhan Q Andalan Selisih Q rerata
No. Bulan No. Bulan
Air (m3/dtk) (m3/dtk) (m3/dtk) (m3/dtk) Air (m3/dtk) (m3/dtk) (m3/dtk) (m3/dtk)
1 Januari 2,82 6,41 3,59 18,33 1 Januari 0,42 10,54 10,12 33,17
2 Februari 1,62 9,12 7,51 20,63 2 Februari 0,36 12,25 11,89 40,06
3 Maret 1,84 10,19 8,35 23,05 3 Maret 0,42 11,64 11,22 38,16
4 April 1,78 24,35 22,56 35,55 4 April 0,47 8,56 8,08 48,51
5 Mei 1,33 13,57 12,23 39,61 5 Mei 0,44 6,65 6,21 38,78
6 Juni 0,37 15,16 14,79 54,74 6 Juni 0,38 5,38 5,01 48,67
7 Juli 0,88 8,01 7,13 38,76 7 Juli 0,40 3,13 2,73 22,64
8 Agustus 2,34 3,12 0,78 13,32 8 Agustus 0,41 1,22 0,81 17,04
9 September 2,42 1,62 -0,80 9,21 9 September 0,44 1,05 0,61 13,48
10 Oktober 1,67 1,06 -0,60 12,14 10 Oktober 0,43 0,33 -0,10 16,28
11 November 2,73 1,41 -1,31 13,78 11 November 0,43 1,40 0,97 37,34
12 Desember 3,51 7,93 4,43 22,38 12 Desember 0,46 4,62 4,16 38,58
Rerata 1,94 8,50 6,55 25,13 Rerata 0,42 5,57 5,14 32,73

Sumber : Hasil Analisis, 2017 Sumber : Hasil Analisis, 2017


NERACA AIR di WS MUNA
Kebutuha Selisih Q 80 Potensi Potensi Jumlah D/S
Keb. Air Keb. Air Keb. Air Keb. Air
n Air & Keb. Air Qandal an,
Ketersediaan Pemenuha terhadap

Potensi Ketersediaan air di No. Bulan RKI Irigasi Ternak Tambak


 (m3/dtk) (m3/dtk) (m3/dtk) (m3/dtk)
Total
(m3/dtk)
Total
(m3/dtk)
Q80
(m3/dtk)
Air Rerata
(m3/dtk)
n Air
(m3/dtk)
KAE
(m3/dtk)

WS Muna dihitung dengan 1 Januari 0,86 5,48 0,06 0,81 7,22 34,05 41,27 128,56 4,51 -2,71

-0,30
2 Februari 0,86 3,07 0,06 0,81 4,81 52,14 56,95 169,91 4,51
menggunakan metode 3 Maret 0,86 4,24 0,06 0,81 5,97 64,34 70,31 181,16 4,51 -1,47

MOCK. 4
5
April
Mei
0,86
0,86
5,27
4,15
0,06
0,06
0,81
0,81
7,00
5,89
92,32
59,49
99,33
65,38
235,95
220,51
4,51
4,51
-2,50

-1,38

 Potensi Debit Andalan Q80 6


7
Juni
Juli
0,86
0,86
1,73
2,76
0,06
0,06
0,81
0,81
3,47
4,50
84,91
40,18
88,38
44,68
305,50
172,70
4,51
4,51
1,04

0,01

dihitung dgn menggunakan 8 Agustus 0,86 4,78 0,06 0,81 6,52 13,30 19,82 88,41 4,51 -2,01

Persamaan Weibull.
9 September 0,86 5,36 0,06 0,81 7,10 4,19 11,28 59,51 4,51 -2,59

10 Oktober 0,86 4,33 0,06 0,81 6,07 -0,29 5,77 65,78 4,51 -1,56
11 November 0,86 5,65 0,06 0,81 7,39 0,39 7,78 121,70 4,51 -2,89

 Neraca air di WS Muna 12 Desember


Rerata
0,86
0,86
6,97
4,48
0,06
0,06
0,81
0,81
8,71
6,22
30,30
39,61
39,02
45,83
164,55
159,52
4,51
4,51
-4,20
-1,71

= Q80 – Qkebutuhan air


=………- / +
Ket : (-) = Defisit, D
(+) = Surplus, S
 Neraca air di WS Muna
berdasarkan ketersediaan
air eksisting terhadap
kebutuhan air total
menunjukkan hasil yang
defisit, dengan nilai rata-
rata = -1,71 m3/dtk =
- 54,04 juta m3/tahun.
ANALISIS DATA

Asumsi dan kriteria dan standar yang digunakan dalam analisis


data antara lain yang termuat didalam:
1) Pedoman Perencanaan Wilayah Sungai, Direktorat Jenderal
Sumber Daya Air, 2004;
2) Standar Kriteria Perencanaan Irigasi KP-01;
3) Kriteria penetapan lahan kritis, oleh BRLKT dan DPKT;
4) Kriteria Kelas Mutu Air sesuai dengan Peraturan Pemerintah
Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas air dan
Pengendalian Pencemaran Air dan Peraturan Daerah terkait;
5) Penetapan Status Daerah Irigasi sesuai dengan Peraturan
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor
14/PRT/M/2015; dan
6) Metode, analisis dan perhitungan sesuai dengan SNI.
PROYEKSI KEBUTUHAN AIR WS MUNA
Proyeksi Jumlah Penduduk di WS Muna
Jumlah Rerata Jumlah Penduduk (Jiwa) Jumlah Rerata Jumlah Penduduk (Jiwa)
Kabupaten Kecamatan Penduduk 2016 Pertumbuhan Kabupaten Kecamatan Penduduk 2016 Pertumbuhan
(Jiwa) Penduduk (%) 2017 2022 2027 2032 2037 (Jiwa) Penduduk (%) 2017 2022 2027 2032 2037
Kabaena 3.474 3,37 3.591 4.238 5.002 5.904 6.968 Tiworo Kepulauan 7.023 1,55 7.132 7.700 8.314 8.976 9.692
Kabaena Utara 4.477 3,37 4.628 5.463 6.448 7.612 8.985 Maginti 8.995 1,50 9.130 9.837 10.598 11.418 12.301
Kabaena Selatan 3.180 3,38 3.288 3.883 4.585 5.415 6.395 Tiworo Tengah 7.123 1,53 7.232 7.803 8.418 9.083 9.799
Bombana Kabaena Barat 9.137 3,37 9.445 11.149 13.161 15.535 18.337 5.371 5.794 6.251 6.744 7.275
Tiworo Selatan 5.290 1,53
Kabaena Timur 8.126 3,37 8.400 9.916 11.704 13.816 16.309
Tiworo Utara 5.314 1,49 5.393 5.807 6.253 6.733 7.250
Kabaena Tengah 4.193 4,34 4.375 5.411 6.692 8.276 10.236
Lawa 8.140 1,53 8.265 8.918 9.624 10.385 11.206
Jumlah 32.587 33.727 40.059 47.593 56.558 67.230 Muna Barat
Sawerigadi 6.877 1,52 6.981 7.526 8.114 8.748 9.431
Gu 16.529 0,61 16.629 17.140 17.667 18.210 18.770
Barangka 6.577 1,61 6.683 7.237 7.836 8.486 9.190
Sangia Wambulu 5.223 0,60 5.255 5.414 5.579 5.749 5.924
Wadaga 6.257 1,55 6.354 6.862 7.410 8.002 8.642
Lakudo 21.056 0,60 21.183 21.828 22.492 23.177 23.883
Kusambi 11.750 1,58 11.935 12.905 13.954 15.089 16.315
Mawasangka 23.033 0,60 23.172 23.881 24.611 25.363 26.139
Buton Tengah Napano Kusambi 5.130 1,45 5.204 5.591 6.007 6.454 6.935
Mawasangka Timur 5.037 0,60 5.068 5.222 5.382 5.546 5.716
Jumlah 78.476 79.680 85.980 92.780 100.118 108.036
Mawasangka Tengah 9.547 0,61 9.604 9.899 10.203 10.516 10.839
Talaga Raya 9.402 0,59 9.457 9.739 10.030 10.329 10.637 Total 389.770 395.547 426.074 459.581 496.434 537.057
Jumlah 89.827 90.368 93.124 95.964 98.891 101.907 Proyeksi jumlah penduduk per kab. di WS Muna, di
Tongkuno 15.783 1,56 16.030 17.324 18.723 20.234 21.868
5.882 6.367 6.892 7.461 8.077
Tongkuno Selatan
Parigi
5.789
11.997
1,60
1,61 12.190 13.201 14.296 15.481 16.765
analisis menggunakan metode Geometrik dengan
Bone 5.636 1,57 5.725 6.189 6.691 7.233 7.820
Marobo 6.665 1,44 6.761 7.264 7.804 8.384 9.007 rumus sebagai berikut :
Kabawo 13.299 1,49 13.497 14.531 15.645 16.844 18.135
Kabangka 10.064 1,60 10.225 11.073 11.990 12.983 14.059
Kontu Kowuna 4.082 1,49 4.143 4.460 4.802 5.170 5.567 Pn  P0 (1  r) n
Muna Kontunaga 8.328 1,50 8.453 9.104 9.805 10.560 11.373
Watopute 12.788 1,52 12.982 13.997 15.092 16.272 17.545
Katobu 31.077 1,54 31.555 34.057 36.757 39.671 42.817
Lohia 14.543 1,52 14.765 15.925 17.176 18.526 19.981
Duruka 12.228 1,46 12.407 13.343 14.349 15.432 16.595
Batalaiworu 13.854 1,54 14.068 15.186 16.393 17.696 19.102
Napabalano 11.794 1,50 11.971 12.898 13.897 14.973 16.133
Lasalepa 10.953 1,52 11.120 11.992 12.932 13.946 15.040
Jumlah 188.880 191.772 206.910 223.243 240.868 259.884
PROYEKSI KEBUTUHAN AIR WS MUNA
Data Penduduk WS Muna 2010 - 2016

Keterangan :
Penduduk Kab. Buton Tengah tahun 2011-2013 diambil dari data Kab. Buton Dalam Angka
Penduduk Kab. Buton Tengah 2016 adalah hasil proyeksi penduduk dari tahun 2010-2015
Penduduk Kab. Muna Barat tahun 2010-2013 diambil dari data Kab. Muna Dalam Angka
PROYEKSI KEBUTUHAN AIR WS MUNA
Proyeksi Jumlah Penduduk di WS Muna
PROYEKSI KEBUTUHAN AIR WS MUNA
Proyeksi Kebutuhan Air RKI
Kebutuhan Air (m3/dtk) Jumlah Kebutuhan Air (m3/dtk) Jumlah
Kebutuhan Kebutuhan
No. Kabupaten Kecamatan Rumah No. Kabupaten Kecamatan Rumah
Perkotaan Industri Air RKI Perkotaan Industri Air RKI
Tangga (m3/dt) Tangga (m3/dt)
Kabaena 0,004 0,001 0,002 0,007 Tiworo Kepulauan 0,008 0,003 0,004 0,014
Kabaena Utara 0,005 0,002 0,002 0,009 Maginti 0,011 0,004 0,004 0,019
Kabaena Selatan 0,003 0,001 0,002 0,006 Tiworo Tengah 0,008 0,003 0,004 0,014
1 Bombana
Kabaena Barat 0,011 0,004 0,005 0,020 Tiworo Selatan 0,006 0,002 0,003 0,010
Kabaena Timur 0,010 0,003 0,004 0,017 Tiworo Utara 0,006 0,002 0,003 0,010
Kabaena Tengah 0,004 0,002 0,002 0,008 4 Muna Barat Lawa 0,009 0,003 0,004 0,017
Jumlah 0,037 0,013 0,017 0,066 Sawerigadi 0,008 0,003 0,003 0,014
Gu 0,023 0,008 0,008 0,039 Barangka 0,007 0,003 0,003 0,013
Sangia Wambulu 0,006 0,002 0,003 0,010 Wadaga 0,007 0,002 0,003 0,012
Lakudo 0,031 0,011 0,010 0,053 Kusambi 0,015 0,005 0,006 0,026
2 Buton Tengah Mawasangka 0,035 0,012 0,011 0,058 Napano Kusambi 0,005 0,002 0,003 0,010
Mawasangka Timur 0,005 0,002 0,002 0,010 Jumlah 0,089 0,031 0,039 0,160
Mawasangka Tengah 0,011 0,004 0,005 0,020 Total 0,495 0,173 0,195 0,863
Talaga Raya 0,011 0,004 0,005 0,020
Jumlah 0,122 0,043 0,045 0,209  Perhitungan kebutuhan air Rumah Tangga :
Tongkuno 0,022 0,008 0,008 0,037  Disetiap Kec. pada Kab. Bombana & Kab. Muna Barat; (60
Tongkuno Selatan 0,006 0,002 0,003 0,011
Parigi 0,015 0,005 0,006 0,027
- 90) liter/orang/hari.
Bone 0,006 0,002 0,003 0,011  Kec. Lakudo dan Mawasangka, Kab. Buton Tengah; (90-
Marobo 0,007 0,003 0,003 0,013 110) liter/orang/hari. Kec. Lainnya; (60 - 90) liter/orang/hari.
Kabawo 0,017 0,006 0,007 0,030
 Kec. Katobu, Kab. Muna; (90-110) liter/orang/hari. Kec.
Kabangka 0,012 0,004 0,005 0,022

3 Muna
Kontu Kowuna 0,004 0,001 0,002 0,008 Lainnya; (60 - 90) liter/orang/hari.
Kontunaga 0,010 0,003 0,004 0,017  Kebutuhan air Perkotaan diasumsi sebesar 35% dari
Watopute 0,017 0,006 0,006 0,029
Katobu 0,048 0,017 0,016 0,081
kebutuhan air rumah tangga, dgn nilai konstan, kehilangan
Lohia 0,020 0,007 0,007 0,034 dlm proses (KP) 6% dan kehilangan air tidak terhitung (KT)
Duruka 0,016 0,005 0,006 0,027 25%,
Batalaiworu 0,018 0,006 0,007 0,032
Napabalano 0,015 0,005 0,006 0,026
 Persentase penduduk untuk industri diasumsikan pd tahap
Lasalepa 0,014 0,005 0,005 0,024 awal sebesar 6% & kebutuhan air Industri per tenaga kerja,
Jumlah 0,247 0,086 0,094 0,428 pd tahap awal diperhitungkan sebesar 500 liter/orang/hari.
PROYEKSI KEBUTUHAN AIR WS MUNA
Proyeksi Kebutuhan Air RKI
3
Kebu tu han Air (m /dtk)
No. Nama DAS Ru mah Tangga Perkotaan Indu stri Total RKI
2 0 17 2022 2027 2032 2037 2 0 17 2022 2027 2032 2037 2 0 17 2022 2027 2032 2037 2 0 17 2022 2027 2032 2037

1 DAS T iw oro 0,03 0,03 0,04 0,04 0,05 0,01 0,01 0,01 0,02 0,02 0,01 0,02 0,02 0,02 0,02 0,05 0,06 0,07 0,08 0,09
2 DAS Soga 0,00 0,00 0,00 0,01 0,01 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01
3 DAS Remba 0,03 0,03 0,03 0,04 0,04 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,02 0,02 0,04 0,05 0,06 0,07 0,07
4 DAS Lahodu 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,01 0,01 0,01 0,02 0,02
5 DAS Omba 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,01 0,01 0,02 0,02 0,02 0,02 0,03
6 DAS T olimbo 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,01 0,01 0,01 0,02 0,02
7 DAS Baru Membe 0,00 0,01 0,01 0,01 0,01 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01
8 DAS Lambiku 0,02 0,02 0,03 0,03 0,04 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,02 0,04 0,04 0,05 0,06 0,06
9 DAS Bonea 0,00 0,00 0,01 0,01 0,01 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01
10 DAS Labungi 0,04 0,04 0,05 0,05 0,06 0,01 0,01 0,02 0,02 0,02 0,01 0,01 0,02 0,02 0,02 0,06 0,07 0,08 0,09 0,10
11 DAS Motew e 0,02 0,03 0,03 0,04 0,04 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,04 0,05 0,05 0,06 0,07
12 DAS Wangkaborona 0,03 0,03 0,04 0,04 0,05 0,01 0,01 0,01 0,02 0,02 0,01 0,01 0,02 0,02 0,02 0,05 0,06 0,07 0,08 0,09
13 DAS Kombakomba 0,01 0,01 0,01 0,02 0,02 0,00 0,00 0,01 0,01 0,01 0,00 0,01 0,01 0,01 0,01 0,02 0,02 0,03 0,03 0,03
14 DAS T ongkonu 0,01 0,02 0,02 0,02 0,02 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,03 0,03 0,03 0,04 0,04
15 DAS T ongkuno 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
16 DAS Wakuru 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
17 DAS Maw asangka/Bula-bula 0,13 0,14 0,15 0,16 0,18 0,04 0,05 0,05 0,06 0,06 0,05 0,05 0,06 0,07 0,07 0,22 0,24 0,26 0,29 0,31
18 DAS Wasongkala 0,02 0,02 0,02 0,03 0,03 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,03 0,04 0,04 0,05 0,06
19 DAS Labulubulu 0,00 0,00 0,01 0,01 0,01 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01
20 DAS Logmia Baru 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
21 DAS Logmia 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
22 DAS Lamanu 0,02 0,03 0,03 0,03 0,04 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,02 0,04 0,04 0,05 0,06 0,07
23 DAS Wakobalu 0,00 0,01 0,01 0,01 0,01 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01
24 DAS Lamelaiya 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
25 DAS Bonengkadia 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
98 DAS Mataha 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
99 DAS Sagori 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
100 DAS Bungiolo 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
101 DAS Kokoe 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
102 DAS Wali Kecil 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
103 DAS Wali Besar 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
104 DAS T elaga Besar 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
105 DAS T elaga Kecil 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
106 DAS Damalaw a 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Total 0,49 0,56 0,63 0,71 0,81 0,17 0,19 0,22 0,25 0,28 0,19 0,23 0,26 0,30 0,36 0,86 0,98 1,11 1,27 1,45
PROYEKSI KEBUTUHAN AIR WS MUNA
Proyeksi Kebutuhan Air Irigasi
 Luas D.I. Fungsional = 4.952,40 ha, dengan Jumlah
kebutuhan air irigasi (KAI) sebesar 4,48 m3/dtk.
 Luas rencana pengembangan D.I. sbb:
 Tahun 2022 seluas 1.164,73 Ha
 Tahun 2027 seluas 2.329,46 Ha,
 Tahun 2031 seluas 3.494,19 Ha, dan
 Tahun 2036 seluas 4.658,92 Ha

Tahun Kebutuhan Air Irigasi (m3/dtk) KAI Rerata


Rencana Jan Feb M ar Apr M ei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des (m3/dtk)
2017 5,48 3,07 4,24 5,27 4,15 1,73 2,76 4,78 5,36 4,33 5,65 6,97 4,48
2022 6,77 3,83 5,39 6,87 5,47 2,42 3,68 5,97 6,75 5,59 7,05 8,60 5,70
2027 8,05 4,59 6,54 8,48 6,79 3,11 4,61 7,15 8,14 6,86 8,45 10,23 6,92
2032 9,34 5,35 7,70 10,08 8,11 3,80 5,53 8,33 9,53 8,12 9,84 11,86 8,13
2037 10,63 6,11 8,85 11,69 9,43 4,49 6,45 9,52 10,92 9,38 11,24 13,49 9,35
Rerata 8,70 4,97 7,12 9,28 7,45 3,46 5,07 7,74 8,84 7,49 9,14 11,05 7,52
PROYEKSI KEBUTUHAN AIR WS MUNA
Proyeksi Kebutuhan Air Irigasi

Kebutuhan Air Irigasi (m3/dtk)


No. Nama DAS
2017 2022 2027 2032 2037
1 DAS Tiworo 1,63 1,70 1,76 1,83 1,90
4 DAS Lahodu 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01
17 DAS Mawasangka/Bula-bula 0,14 0,24 0,35 0,45 0,56
18 DAS Wasongkala 0,25 0,60 0,94 1,29 1,63
19 DAS Labulubulu 0,58 0,77 0,97 1,16 1,35
20 DAS Logmia Baru 0,39 0,40 0,40 0,41 0,42
21 DAS Logmia 0,69 0,69 0,69 0,69 0,69
22 DAS Lamanu 0,29 0,59 0,90 1,20 1,51
23 DAS Wakobalu 0,04 0,05 0,07 0,09 0,10
28 DAS Katangana 0,25 0,32 0,39 0,46 0,52
30 DAS Bonebone 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
49 DAS Rolano 0,00 0,07 0,14 0,21 0,27
82 DAS Lakampula 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
90 DAS Napo 0,22 0,26 0,30 0,34 0,38
Total 4,48 5,70 6,92 8,13 9,35
PROYEKSI KEBUTUHAN AIR WS MUNA
Proyeksi Kebutuhan Air Ternak
Kebutuhan air Ternak (m 3/dtk) Kebutuhan air Ternak (m 3/dtk)
Kabupaten Kecamatan Kabupaten Kecamatan
2017 2022 2027 2032 2037 2017 2022 2027 2032 2037
Kabaena 0,001 0,000 0,000 0,000 0,000 Tiworo Kepulauan 0,002 0,003 0,003 0,005 0,008
Kabaena Utara 0,002 0,003 0,006 0,013 0,031 Maginti 0,001 0,001 0,001 0,003 0,006
Kabaena Selatan 0,002 0,004 0,016 0,070 0,332 Tiworo Tengah 0,003 0,005 0,007 0,010 0,014
Bombana
Kabaena Barat 0,001 0,002 0,003 0,008 0,030 Tiworo Selatan 0,001 0,001 0,001 0,002 0,004
Kabaena Timur 0,001 0,003 0,007 0,021 0,076 Tiworo Utara 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000
Kabaena Tengah 0,002 0,004 0,010 0,023 0,055 Muna Barat Lawa 0,002 0,002 0,003 0,004 0,007
Jumlah 0,009 0,017 0,042 0,135 0,525 Sawerigadi 0,002 0,003 0,006 0,011 0,023

Gu 0,001 0,001 0,001 0,002 0,004 Barangka 0,002 0,002 0,005 0,010 0,021

Sangia Wambulu 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Wadaga 0,002 0,007 0,022 0,073 0,246
Kusambi 0,002 0,002 0,002 0,002 0,003
Lakudo 0,001 0,000 0,000 0,000 0,000
Buton Tengah Napano Kusambi 0,001 0,002 0,004 0,009 0,022
Mawasangka 0,001 0,001 0,001 0,000 0,000
Jumlah 0,018 0,028 0,055 0,131 0,355
Mawasangka Timur 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000
Total 0,106 0,171 0,332 0,877 3,641
Mawasangka Tengah 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000
Talaga Raya 0,000 0,000 0,000 0,002 0,007
Jumlah
Tongkuno
0,003
0,004
0,002
0,006
0,003
0,009
0,005
0,014
0,011
0,021
Proyeksi Kebutuhan Air Ternak di tiap
Tongkuno Selatan 0,002 0,004 0,006 0,011 0,019 kabupatan maupun per DAS dalam WS Muna
Parigi 0,004 0,007 0,011 0,019 0,033
dihitung berdasarkan rerata pertumbuhan tiap
Bone 0,002 0,002 0,003 0,005 0,007
Marobo 0,001 0,001 0,002 0,002 0,003 jenis ternak pada kurun waktu 6 tahun
Kabawo 0,002 0,004 0,007 0,013 0,025 terakhir (2011, 2012, 2013, 2014, 2015 &
Kabangka 0,003 0,006 0,012 0,026 0,055
Kontu Kowuna 0,001 0,002 0,003 0,007 0,014
2016).
Muna
Kontunaga 0,001 0,002 0,002 0,003 0,005
Watopute 0,002 0,003 0,004 0,006 0,008
Katobu 0,001 0,002 0,012 0,096 0,870
Lohia 0,001 0,002 0,003 0,005 0,008
Duruka 0,001 0,001 0,002 0,003 0,004
Batalaiworu 0,001 0,001 0,002 0,003 0,004
Napabalano 0,003 0,005 0,008 0,013 0,021
Lasalepa 0,003 0,004 0,006 0,008 0,010
Jumlah 0,032 0,053 0,094 0,234 1,107
PROYEKSI KEBUTUHAN AIR WS MUNA
Proyeksi Kebutuhan Air Tambak

Proyeksi Kebutuhan Air Tambak di kabupatan maupun per DAS di WS


Muna dihitung dengan asumsi bahwa kenaikan kebutuhan air ternak rata-
rata per 5 tahun sebesar 10% (diatas pertumbuhan ekonomi Sultra).

No. Kebutuhan Air Tambak (m3/dtk)


Nama DAS
DAS 2017 2022 2027 2032 2037
1 DAS Tiworo 0,25 0,27 0,30 0,33 0,36
2 DAS Soga 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
3 DAS Remba 0,10 0,11 0,12 0,14 0,15
17 DAS Mawasangka/Bula-bula 0,06 0,07 0,08 0,08 0,09
18 DAS Wasongkala 0,13 0,14 0,16 0,18 0,19
19 DAS Labulubulu 0,08 0,09 0,10 0,11 0,12
21 DAS Logmia 0,02 0,02 0,02 0,02 0,02
28 DAS Katangana 0,13 0,15 0,16 0,18 0,19
83 DAS Baliara 0,03 0,04 0,04 0,05 0,05
Total 0,81 0,89 0,98 1,08 1,19
Sumber : Hasil Analisis, 2017
NERACA AIR BULANAN & PROYEKSINYA
Bulan Rerata Maks.
Wilayah Sungai Muna
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des (m3/dtk) (m3/dtk)
Potensi Debit Andalan (Q 80) 41,27 56,95 70,31 99,33 65,38 88,38 44,68 19,82 11,28 5,77 7,78 39,02 45,83 99,33
Potensi Ketersediaan Air Rerata 128,56 169,91 181,16 235,95 220,51 305,50 172,70 88,41 59,51 65,78 121,70 164,55 159,52 305,50
Keb. Air RKI 2017 0,86 0,86 0,86 0,86 0,86 0,86 0,86 0,86 0,86 0,86 0,86 0,86 0,86 0,86
Keb. Air Irigasi 2017 5,48 3,07 4,24 5,27 4,15 1,73 2,76 4,78 5,36 4,33 5,65 6,97 4,48 6,97
Keb. Air Ternak 2017 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06
Keb. Air Tambak 2017 0,81 0,81 0,81 0,81 0,81 0,81 0,81 0,81 0,81 0,81 0,81 0,81 0,81 0,81
Keb. Air Total 2017 7,22 4,81 5,97 7,00 5,89 3,47 4,50 6,52 7,10 6,07 7,39 8,71 6,22 8,71
Keb. Air RKI 2022 0,98 0,98 0,98 0,98 0,98 0,98 0,98 0,98 0,98 0,98 0,98 0,98 0,98 0,98
Keb. Air Irigasi 2022 6,30 3,70 5,74 6,13 5,74 1,00 4,79 5,97 7,21 6,63 7,27 8,98 5,79 8,98
Keb. Air Ternak 2022 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10
Keb. Air Tambak 2022 0,89 0,89 0,89 0,89 0,89 0,89 0,89 0,89 0,89 0,89 0,89 0,89 0,89 0,89
Keb. Air Total 2022 8,27 5,67 7,71 8,10 7,71 2,97 6,76 7,94 9,18 8,60 9,24 10,95 7,76 10,95
Keb. Air RKI 2027 1,11 1,11 1,11 1,11 1,11 1,11 1,11 1,11 1,11 1,11 1,11 1,11 1,11 1,11
Keb. Air Irigasi 2027 7,50 4,40 6,83 7,30 6,83 1,20 5,71 7,11 8,58 7,90 8,66 10,69 6,89 10,69
Keb. Air Ternak 2027 0,19 0,19 0,19 0,19 0,19 0,19 0,19 0,19 0,19 0,19 0,19 0,19 0,19 0,19
Keb. Air Tambak 2027 0,98 0,98 0,98 0,98 0,98 0,98 0,98 0,98 0,98 0,98 0,98 0,98 0,98 0,98
Keb. Air Total 2027 9,79 6,69 9,12 9,59 9,12 3,48 8,00 9,40 10,87 10,18 10,95 12,98 9,18 12,98
Keb. Air RKI 2032 1,27 1,27 1,27 1,27 1,27 1,27 1,27 1,27 1,27 1,27 1,27 1,27 1,27 1,27
Keb. Air Irigasi 2032 8,70 5,10 7,92 8,47 7,92 1,39 6,62 8,24 9,95 9,16 10,04 12,40 7,99 12,40
Keb. Air Ternak 2032 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50
Keb. Air Tambak 2032 1,08 1,08 1,08 1,08 1,08 1,08 1,08 1,08 1,08 1,08 1,08 1,08 1,08 1,08
Keb. Air Total 2032 11,55 7,96 10,77 11,32 10,78 4,24 9,47 11,10 12,80 12,01 12,90 15,26 10,85 15,26
Keb. Air RKI 2037 1,45 1,45 1,45 1,45 1,45 1,45 1,45 1,45 1,45 1,45 1,45 1,45 1,45 1,45
Keb. Air Irigasi 2037 9,89 5,81 9,01 9,64 9,02 1,58 7,53 9,38 11,32 10,42 11,43 14,11 9,09 14,11
Keb. Air Ternak 2037 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00
Keb. Air Tambak 2037 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19
Keb. Air Total 2037 14,53 10,44 13,65 14,27 13,65 6,21 12,17 14,02 15,96 15,06 16,06 18,75 13,73 18,75
Sumber : Hasil Analisis, 2017
NERACA AIR BULANAN & PROYEKSINYA
SKENARIO PENGELOLAAN SDA
WS Muna

1. Skenario PPSDA WS Muna bila


pertumbuhan ekonomi rendah (<4,5%)

2. Skenario PPSDA WS Muna bila


pertumbuhan eknomi sedang (4,5%-6,5%)

3. Skenario PPSDA WS Muna bila


pertumbuhan ekonomi tinggi (>6,5%)
SKENARIO PENGELOLAAN SDA
WS MUNA
A. Skenario Ekonomi Rendah
Tahun Rencana Skenario Ekonomi Rendah;
Item Satuan
2017 2022 2027 2032 2037  Kebutuhan air irigasi pada 5 tahun
Ketersediaan Air Rerata 3
m /det 159,52 159,52 159,52 159,52 159,52 pertama diasumsikan mengalami
Potensi Air (Q80%) 3
m /det 45,83 45,83 45,83 45,83 45,83 kenaikan sebesar 0,02 m3/dtk (2022),
Jumlah Pemenuhan Air m3/det 4,51 6,51 7,51 8,51 9,26 sedangkan tahun berikutnya (2027
Jenis Kebutuhan s/d 2037) tetap.
Kebutuhan RKI m3/det 0,86 0,98 1,11 1,27 1,45  Kebutuhan air tambak diasumsikan
Kebutuhan Ternak 3
m /det 0,06 0,10 0,19 0,50 2,00 mengalamai kenaikan per 5 tahun
Kebutuhan Irigasi 3
m /det 4,48 4,50 4,50 4,50 4,50 sebesar 4%.
3
Kebutuhan Tambak m /det 0,81 0,84 0,88 0,91 0,95
3
Jumlah Kebutuhan Air m /det 6,22 6,42 6,69 7,19 8,90

B. Skenario Ekonomi Sedang


Tahun Rencana Skenario Ekonomi Sedang;
Item Satuan
2017 2022 2027 2032 2037  Kebutuhan air irigasi diasumsikan
Ketersediaan Air Rerata 3
m /det 159,52 159,52 159,52 159,52 159,52 mengalami kenaikan per 5 tahun
Potensi Air (Q80%) m3/det 45,83 45,83 45,83 45,83 45,83 sebesar 0,05 m3/dtk.
Jumlah Pemenuhan Air 3
m /det 4,51 6,91 7,91 8,91 9,66  Kebutuhan air tambak diasumsikan
Jenis Kebutuhan mengalamai kenaikan per 5 tahun
Kebutuhan RKI 3
m /det 0,86 0,98 1,11 1,27 1,45 sebesar 6%.
3
Kebutuhan Ternak m /det 0,06 0,10 0,19 0,50 2,00
3
Kebutuhan Irigasi m /det 4,48 4,53 4,58 4,63 4,68
Kebutuhan Tambak m3/det 0,81 0,86 0,91 0,97 1,03
3
Jumlah Kebutuhan Air m /det 6,22 6,47 6,80 7,37 9,15
SKENARIO PENGELOLAAN SDA
WS MUNA
C. Skenario Ekonomi Tinggi

Tahun Rencana
Item Satuan
2017 2022 2027 2032 2037
3
Ketersediaan Air Rerata m /det 159,52 159,52 159,52 159,52 159,52
3
Potensi Air (Q80%) m /det 45,83 45,83 45,83 45,83 45,83
3
Jumlah Pemenuhan Air m /det 4,51 8,51 11,01 13,01 14,01
Jenis Kebutuhan
Kebutuhan RKI 3 0,86 0,98 1,11 1,27 1,45
m /det
Kebutuhan Ternak 3 0,06 0,10 0,19 0,50 2,00
m /det
3
Kebutuhan Irigasi m /det 4,48 5,79 6,89 7,99 9,09
3
Kebutuhan Tambak m /det 0,81 0,89 0,98 1,08 1,19
3
Jumlah Kebutuhan Air m /det 6,22 7,76 9,18 10,85 13,73

Skenario Ekonomi Tinggi;


 Kebutuhan air irigasi pada 5 tahun pertama direncanakan mengalami kenaikan sebesar 1,31
m3/dtk dan 5 tahun berikutnya tahun 2027 sampai dengan 2037 kebutuhan air irigasi sebesar
1,10 m3/dtk (sesuai luas pengemb. Daerah Irigasi per 5 tahun).
 Kebutuhan air tambak diasumsikan mengalamai kenaikan per 5 tahun sebesar 10%.
SKENARIO EKONOMI RENDAH
POLA PSDA WS MUNA

TAHUN 2017-2022 TAHUN 2022-2027 TAHUN 2027-2031 TAHUN 2031-2037


Pemenuhan Air 2 m3/dtk: Pemenuhan Air 1 m3/dtk: Pemenuhan Air 1 m3/dtk : Pemenuhan Air 0,75 m3/dtk :
 Pembangunan secara  Pembangunan secara  Pembangunan secara  Pembangunan secara
bertahap 5 embung x 0,025 bertahap 5 embung x 0,025 bertahap 5 embung x 0,025 bertahap 4 embung x 0,025
m3/dtk dan 10 Intake Air m3/dtk dan 5 Intake Air m3/dtk dan 5 Intake Air m3/dtk dan 5 Intake Air
Baku x 0,025 m3/dtk serta 3 Baku x 0,025 m3/dtk serta 2 Baku x 0,025 m3/dtk serta 1 Baku x 0,025 m3/dtk serta 1
pembangunan bendung x pembangunan bendung x pembangunan bendung x pembangunan bendung x
0,54 m3/dtk. 0,38 m3/dtk. 0,75 m3/dtk. 0,53 m3/dtk.
 Kegiatan Operasi dan  Kegiatan Operasi dan  Kegiatan Operasi dan  Kegiatan Operasi dan
Pemeliharaan. Pemeliharaan. Pemeliharaan. Pemeliharaan.
 Kegiatan Rehabilitasi.  Kegiatan Rehabilitasi.  Kegiatan Rehabilitasi.  Kegiatan Rehabilitasi.
SKENARIO EKONOMI SEDANG
POLA PSDA WS MUNA
Neraca Air Ws Muna (Skenario Ekonomi Sedang)
Tahun 2017 - 2037
60,00

55,00

50,00
45,83 45,83 45,83 45,83 45,83
45,00
TAHUN 2017-2022 TAHUN 2022-2027 TAHUN 2027-2031 TAHUN 2031-2037
40,00 Pemenuhan Air 2,4 m3/dtk: Pemenuhan Air 1 m3/dtk: Pemenuhan Air 1 m3/dtk : Pemenuhan Air 0,75 m3/dtk :
 Pembangunan  Pembangunan
Debit (m3/dtk)

 Pembangunan secara  Pembangunan secara secara secara


bertahap 5 embung x 0,025 bertahap 5 embung x 0,025 bertahap 5 embung x 0,025 bertahap 4 embung x 0,025
35,00 m3/dtk dan 10 Intake Air m3/dtk dan 5 Intake Air m3/dtk dan 5 Intake Air m3/dtk dan 5 Intake Air
Baku x 0,025 m3/dtk serta 3 Baku x 0,025 m3/dtk serta 2 Baku x 0,025 m3/dtk serta 1 Baku x 0,025 m3/dtk serta 1
pembangunan bendung x pembangunan bendung x
30,00 pembangunan bendung x
0,51 m3/dtk.
pembangunan bendung x
0,38 m3/dtk. 0,75 m3/dtk. 0,53 m3/dtk.
 Kegiatan Operasi dan  Kegiatan Operasi dan  Kegiatan Operasi dan  Kegiatan Operasi dan
Pemeliharaan. Pemeliharaan.
25,00 Pemeliharaan. Pemeliharaan.
 Kegiatan Rehabilitasi.  Kegiatan Rehabilitasi.
 Kegiatan Rehabilitasi.  Kegiatan Rehabilitasi.

20,00

15,00
9,66
7,91 8,91
10,00 6,91
6,22

5,00 7,37 9,15


6,47 6,80
4,51
0,00
2017 2022 2027 2032 2037

Kebutuhan Air (m3/dtk) Potensi Air (Q80) (m3/dtk) Jumlah Pemenuhan Air (m3/dtk)
SKENARIO EKONOMI TINGGI
POLA PSDA WS MUNA

TAHUN 2017-2022 TAHUN 2022-2027 TAHUN 2027-2031 TAHUN 2031-2037


Pemenuhan Air 4,0 m3/dtk: Pemenuhan Air 2,5 m3/dtk: Pemenuhan Air 2,0 m3/dtk : Pemenuhan Air 1,0 m3/dtk :
 Pembangunan secara  Pembangunan secara  Pembangunan secara  Pembangunan secara
bertahap 10 embung x 0,025 bertahap 5 embung x 0,025 bertahap 5 embung x 0,025 bertahap 5 embung x 0,025
m3/dtk dan 15 Intake Air m3/dtk dan 10 Intake Air m3/dtk dan 10 Intake Air m3/dtk dan 10 Intake Air
Baku x 0,035 m3/dtk serta 4 Baku x 0,035 m3/dtk serta 3 Baku x 0,035 m3/dtk serta 2 Baku x 0,035 m3/dtk serta 1
pembangunan bendung x pembangunan bendung x pembangunan bendung x pembangunan bendung x
0,81 m3/dtk. 0,68 m3/dtk. 0,76 m3/dtk. 0,53 m3/dtk.
 Kegiatan Operasi dan  Kegiatan Operasi dan  Kegiatan Operasi dan  Kegiatan Operasi dan
Pemeliharaan. Pemeliharaan. Pemeliharaan. Pemeliharaan.
 Kegiatan Rehabilitasi.  Kegiatan Rehabilitasi.  Kegiatan Rehabilitasi.  Kegiatan Rehabilitasi.
ALTERNATIF PILIHAN STRATEGI
POLA PSDA WS MUNA
A. Konservasi Sumber Daya Air
1) Upaya Perlindungan dan Pelestarian SDA:
a. Pengelolaan lahan sesuai dengan kaidah konservasi;
b. Kerjasama antar Kabupaten dalam pengelolaan DAS
secara terpadu;
c. Pengolahan lahan yang sesuai dengan kaidah konservasi
dan mengembalikan fungsi hutan;
d. Penetapan kawasan konservasi/resapan dibagian hulu
dan kawasan budidaya dibagian hilir DAS dapat berjalan
efektif.
2) Upaya Pengawetan Air,
a. Penyimpanan air pada saat hujan atau debit tinggi;
b. Penyadaran masyarakat mengenai pentingnya
penghematan air;
c. Pembuatan embung (untuk menyimpan air pada musim
hujan/debit tinggi); dan
d. Penanganan daerah tangkapan hujan dengan konservasi.
ALTERNATIF PILIHAN STRATEGI
POLA PSDA WS MUNA
A. Konservasi Sumber Daya Air
3) Upaya Pengolahan Kualitas Air dan Pengendalian
Pencemaran
a. Pengendalian buangan bahan pencemar (limbah rumah
tangga, limbah industri) ke sungai sehingga mengurangi
pencemaran sungai;
b. Pengendalian pemanfaatan bantaran sungai sehingga
dapat mengurangi erosi/longsor tepi/tebing sungai serta
mengurang hambatan aliran sungai;
c. Pengendalian penambangan komoditas tambas non
mineral sehingga tidak menyebabkan kerusakan
lingkungan sungai, erosi tepi/tebing dan dasar sungai
ALTERNATIF PILIHAN STRATEGI
POLA PSDA WS MUNA
B. Pendayagunaan Sumber Daya Air
1) Penatagunaan sumber daya air:
a. Penanganan konflik kepentingan dalam pemakaian air;
b. Terwujudnya pola alokasi air; dan
c. Terwujudnya pola alokasi dan hak guna air bagi pengguna
air;
2) Penggunaan sumber daya air,
a. Peningkatan pemanfaatan sumber daya air secara optimal
sesuai dengan ketersediaan dan potensinya;
b. Peningkatan pelayanan untuk pemenuhan kebutuhan air
RKI;
c. Penambahan jaringan air bersih dengan luas cakupan
pelayanan >50%;
3) Penyediaan sumber daya air,
a. Peningkatan penyediaan air untuk irigasi dan
pengembangan lahan irigasi;
b. Peningkatan efektifitas dan efisiensi fungsi sarana dan
prasarana irigasi;
ALTERNATIF PILIHAN STRATEGI
POLA PSDA WS MUNA
B. Pendayagunaan Sumber Daya Air
4) Pengembangan sumber daya air:
a. Pengembangan irigasi baru dalam rangka mendukung
usaha tani untuk meningkatkan produksi pertanian guna
menunjang ketahanan pangan nasional;
b. Pengembangan sistem pola tata tanam yang hemat air;
c. Pengaturan dalam pemanfaatan lahan agar alih fungsi lahan
sawah tidak semakin meningkat; dan
d. Peningkatan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan air
RKI, irigasi dan industri.
5) Pengendalian pengusahaan sumber daya air,
a. Penyusunan pedoman penentuan biaya jasa pengelola
sumber daya air dan metode pembebanan kepada para
pemanfaat;
b. Perwujudan sistem pemantauan dan pelaksanaan
pengusahaan untuk mengatur peran serta dunia usaha
dalam pengusahaan sumber daya air;
c. Peningkatkan peran dunia usaha dalam pengusahaan SDA
dengan tetap mengutamakan kepentingan masyarakat.
ALTERNATIF PILIHAN STRATEGI
POLA PSDA WS MUNA
C. Pengendalian Daya Rusak Air
1) Pencegahan daya rusak air:
a. Penanganan kawasan/daerah banjir dan perencanaan
pengendalian banjir yang komprehensif;
b. Pengendalian kerugian akibat/dampak banjir di daerah
rawan banjir;
c. Pengendalian tata ruang untuk mencegah peningkatan daya
rusak air.
2) Penanggulangan daya rusak air,
a. Penyiapan penanggulangan darurat bencana banjir dan
sistem evakuasi; dan
b. Penyediaan sistem peringatan dini terhadap bencana banjir.
3) Peningkatan upaya pemulihan
a. Pemulihan sarana dan prasarana pengendali banjir,
termasuk memulihkan kawasan yang terkena bencana
akibat daya rusak air
b. Revitalisasi retensi ekologis disepanjang alur sungai; dan
c. Revitalisasi sarana dan prasarana sumber daya air.
ALTERNATIF PILIHAN STRATEGI
POLA PSDA WS MUNA

D. Ketersediaan Data dan Informasi SDA

1) Penyediakan data dan informasi sumber daya air yang


akurat, tepat waktu, berkelanjutan dan mudah diakses;
2) Penyediaan informasi yang berkaitan dengan permasalahan
sumber daya air;
3) Peningkatan kemudahan akses data dan informasi oleh
masyarakat, swasta dan dunia usaha;
4) Revitalisasi Floods Warning System (FWS); dan
5) Penyediaan alat penakar hujan, debit, iklim secara lengkap
dan akurat
ALTERNATIF PILIHAN STRATEGI
POLA PSDA WS MUNA

E. Pemberdayaan Masyarakat dan Peningkatan Peran Dunia


Usaha
1) Peningkatan peran masyarakat dan swasta dalam
pengelolaan sumber daya air;
2) Peningkatan kinerja lembaga pemerintahan dalam
pengelolaan sumber daya air;
3) Peningkatan koordinasi lintas propinsi, kabupaten/kota
dalam pengelolaan sumber daya air;
4) Peningkatan dan pemerataan pengetahuan dan kemampuan
sumber daya manusia dalam pengelolaan sumber daya air;
5) Peningkatan pengawasan terhadap seluruh proses dan hasil
pelaksaanaan pengelolaan sumber daya air wilayah nya;
6) Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengembangan,
pengelolaan, dan konservasi sumber daya air; dan
7) Peningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya
melestarikan lingkungan sebagai antisipasi dan adaptasi
terhadap perubahan iklim global.
KEBIJAKAN OPERASIONAL

Kebijakan Operasional WS Muna disusun untuk setiap pilihan


Strategi berdasarkan Skenario Pertumbuhan Ekonomi, yaitu;
 Skenario Ekonomi Rendah,
 Skenario Ekonomi Sedang,
 Skenario Ekonomi Tinggi.
Kebijakan Operasional dalam Pengelolaan Sumber Daya Air WS
Muna menurut Skenario dan Strategi Jangka Pendek (lima
tahunan), Jangka Menengah 10 tahunan dan jangka panjang
20 tahunan, ditampilkan dalam bentuk matriks kebijakan.

Gambaran visual kebijakan operasional disajikan dalam bentuk


peta-peta tematik berdasarkan Skenario Ekonomi Rendah,
Skenario Ekonomi Sedang, dan Skenario Ekonomi Tinggi,
yang terdiri dari 5 aspek :
1) Aspek Konservasi SDA,
2) Aspek Pendayagunaan SDA,
3) Aspek Pengendalian Daya Rusak Air,
4) Aspek Sistem Informasi SDA,
5) Aspek Pemberdayaan dan Peningkatan Peran Masyarakat
dan Dunia Usaha.
KEBIJAKAN OPERASIONAL
KEBIJAKAN OPERASIONAL
KEBIJAKAN OPERASIONAL
KEBIJAKAN OPERASIONAL
KEBIJAKAN OPERASIONAL
A. PETA TEMATIK ASPEK KONSERVASI SUMBER DAYA AIR
(SKENARIO EKONOMI TINGGI)
KABUPATEN BOMBANA KABUPATEN MUNA BARAT
1. Rehabilitasi hutan lindung dan hutan 1. Rehabilitasi hutan lindung dan KABUPATEN MUNA
suaka alam : DAS Lapulu (22,67 ha); hutan suaka alam : DAS Tolimbo
DAS Lakampula (59,74,13 ha); DAS (38,88 ha); DAS Tolimbo (1,70 ha); 1. Rehabilitasi hutan lindung dan hutan
Molea (0,34 ha); DAS Napo (0,01 ha); 2. Melaksanakan pengawasan dan suaka alam : DAS Wakuru (16,24
DAS Malandahi Laut (8,33 ha); pengendalian pemanfaatan lahan ha); DAS Mawasangka/Bula-bula
2. Melaksanakan pengawasan dan sesuai dengan peruntukan dalam (2,53 ha); DAS Tongkuno (451,18 ha);
pengendalian pemanfaatan lahan RTRW; DAS Wasongkala (51,60 ha); DAS
sesuai dengan peruntukan dalam 3. Penetapan kawasan konservasi Tongkonu(1.941,78 ha); DAS
RTRW; /resapan dibagian hulu; Kombakomba (23,51 ha); DAS
3. Merehabilitasi prasarana dan sarana 4. Merehabilitasi prasarana dan sarana Wangkaborona (19,08 ha); DAS
untuk konservasi SDA; untuk konservasi SDA; Motewe (3,65 ha); DAS Labungi
4. Meningkatkan kualitas air sungai 5. Meningkatkan kualitas air sungai (79,63 ha);
sesuai atau lebih baik dari standar sesuai atau lebih baik dari standar 2. Melaksanakan pengawasan dan
baku mutu dan merencanakan sistem baku mutu dan merencanakan pengendalian pemanfaatan lahan
monitoring kualitas air secara real sistem monitoring kualitas air secara sesuai dengan peruntukan dalam
time; real time; RTRW;
5. Melaksanakan sosialisasi dan 6. Melindungi keberadaan lingkungan 3. Penetapan kawasan konservasi
menerapkan efisiensi pemakaian air mata air; /resapan dibagian hulu;
rumah tangga dan industri; 7. Melaksanakan sosialisasi dan 4. Merehabilitasi prasarana dan sarana
6. Penegakan Hukum dan Pengenaan menerapkan efisiensi pemakaian air untuk konservasi SDA;
Sanksi Sesuai dengan Ketentuan yang rumah tangga dan industri; 5. Meningkatkan kualitas air sungai
berlaku; 8. Penegakan Hukum dan Pengenaan sesuai atau lebih baik dari standar
7. Membangun bangunan Pengendali Sanksi Sesuai dengan Ketentuan baku mutu dan merencanakan
Sedimen. yang berlaku; sistem monitoring kualitas air secara
9. Membangun bangunan Pengendali real time;
KABUPATEN BUTON TENGAH Sedimen; 6. Melindungi keberadaan lingkungan
10. Pembuatan Embung dan prasarana mata air;
1. Rehabilitasi hutan lindung dan air baku di Daerah Potensial; 7. Melaksanakan sosialisasi dan
hutan suaka alam : DAS Tawo 11. Pembuatan Sumur Resapan; menerapkan efisiensi pemakaian air
(9,86 ha); DAS Mawasangka/ 12. Pengendalian bahan pencemar rumah tangga dan industri;
Bula-bula (321,13 ha); lingkungan. 8. Penegakan Hukum dan Pengenaan
2. Melaksanakan pengawasan Sanksi Sesuai dengan Ketentuan
dan pengendalian yang berlaku;
pemanfaatan lahan sesuai 9. Membangun bangunan Pengendali
dengan peruntukan dalam Sedimen;
RTRW; 10. Mengendalikan izin penambangan
3. Merehabilitasi prasarana dan pada kawasan lindung, sumber air
sarana untuk konservasi SDA; dan hutan lindung;
4. Meningkatkan kualitas air 11. Pembuatan Embung dan prasarana
sungai sesuai atau lebih baik air baku di Daerah Potensial;
dari standar baku mutu dan 12. Pembuatan Sumur Resapan;
merencanakan sistem 13. Pengendalian bahan pencemar
monitoring kualitas air secara lingkungan.
real time;
5. Melaksanakan sosialisasi dan
menerapkan efisiensi
pemakaian air rumah tangga
dan industri;
6. Penegakan Hukum dan
Pengenaan Sanksi Sesuai
dengan Ketentuan yang
berlaku;
7. Membangun bangunan
Pengendali Sedimen;
8. Pengendalian bahan pencemar
lingkungan.
B. PETA TEMATIK ASPEK PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR
(SKENARIO EKONOMI TINGGI)
KABUPATEN BOMBANA KABUPATEN MUNA KABUPATEN MUNA BARAT

1. Menyusun, merumuskan, menetapkan, 1. Menyusun, merumuskan, 1. Menyusun, merumuskan,


mensosialisasikan dan menerapkan menetapkan, mensosialisasikan dan menetapkan, mensosialisasikan dan
Pergub peruntukan air dan sumber air; menerapkan Pergub peruntukan air menerapkan Pergub peruntukan air
2. Mengkaji dan menetapkan zona dan sumber air; dan sumber air;
pemanfaatan air serta memadukan 2. Mengkaji dan menetapkan zona 2. Mengkaji dan menetapkan zona
pada RTRW Prov.Kab/Kota; pemanfaatan air serta memadukan pemanfaatan air serta memadukan
3. Perlindungan sumber air dan mata air pada RTRW Prov.Kab/Kota; pada RTRW Prov.Kab/Kota;
dalam rangka penyediaan air baku; 3. Perlindungan sumber air dan mata 3. Perlindungan sumber air dan mata
4. Pengalokasian ketersediaan air sesuai air dalam rangka penyediaan air air dalam rangka penyediaan air
prinsip-prinsip penggunaan SDA; baku; baku;
5. Pemenuhan kebutuhan air baku 4. Pengalokasian ketersediaan air 4. Pengalokasian ketersediaan air
dibeberapa kecamatan; sesuai prinsip-prinsip penggunaan sesuai prinsip-prinsip penggunaan
6. Rehabilitasi/peningkatan jaringan SDA; SDA;
irigasi; 5. Membuat SDA air baku dan embung 5. Membuat SDA air baku dan embung
7. Mengoptimalkan/ meningkatkan untuk meningkat ketersediaan air untuk meningkat ketersediaan air
kinerja sistem irigasi yang mengalami baku; baku;
penurunan kinerja; 6. Menyiapkan SOP embung di wilayah 6. Menyiapkan SOP embung di wilayah
8. Peningkatan fungsi sarana & sungai; sungai;
prasarana irigasi teknis dan semi 7. Rehabilitasi/peningkatan jaringan 7. Rehabilitasi/peningkatan jaringan
teknis; irigasi; irigasi;
9. Meningkatkan OP Sarana dan 8. Mengoptimalkan/meningkatkan 8. Mengoptimalkan/meningkatkan
prasarana Sumber Daya Air. kinerja sistem irigasi yang mengalami kinerja sistem irigasi yang
penurunan kinerja; mengalami penurunan kinerja;
9. Peningkatan fungsi sarana & 9. Peningkatan fungsi sarana &
prasarana irigasi teknis dan semi prasarana irigasi teknis dan semi
KABUPATEN BUTON TENGAH
teknis; teknis;
1. Menyusun, merumuskan, 10. Pengembangan luas areal baru 10. Pengembangan luas areal baru
menetapkan, daerah irigasi teknis & semi teknis; daerah irigasi teknis & semi teknis;
mensosialisasikan dan 11. Meningkatkan OP Sarana dan 11. Mencegah terjadinya alih fungsi
menerapkan Pergub prasarana Sumber Daya Air. lahan pertanian;
peruntukan air dan sumber 12. Meningkatkan OP Sarana dan
air; prasarana Sumber Daya Air.
2. Mengkaji dan menetapkan
zona pemanfaatan air serta
memadukan pada RTRW
Prov.Kab/Kota;
3. Perlindungan sumber air dan
mata air dalam rangka
penyediaan air baku;
4. Pengalokasian ketersediaan air
sesuai prinsip-prinsip
penggunaan SDA;
5. Rehabilitasi/peningkatan
jaringan irigasi;
6. Mengoptimalkan/
meningkatkan kinerja sistem
irigasi yang mengalami
penurunan kinerja;
7. Peningkatan fungsi sarana &
prasarana irigasi teknis dan
semi teknis;
8. Meningkatkan OP Sarana dan
prasarana Sumber Daya Air.
C. PETA TEMATIK ASPEK PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR
(SKENARIO EKONOMI TINGGI)
KABUPATEN BUTON TENGAH

KABUPATEN BOMBANA 1. Menerapkan Perda zona rawan


banjir, batas sempadan sungai dan
1. Menerapkan Perda zona rawan banjir, daerah retensi termasuk larangan
batas sempadan sungai dan daerah membangun;
retensi termasuk larangan 2. Pengendalian banjir secara teknis
membangun; dengan pembangunan
2. Pengendalian banjir secara teknis infrastruktur pengendali banjir;
dengan pembangunan infrastruktur 3. Pembuatan bangunan pengaman KABUPATEN MUNA & MUNA BARAT
pengendali banjir; sungai; grounsill, krip beton,
3. Pembuatan bangunan pengaman retaining wall, tanggul dll; 1. Menerapkan Perda zona rawan
sungai; grounsill, krip beton, retaining 4. Penanaman mangrove sebagai banjir, batas sempadan sungai dan
wall, tanggul dll; green belt di sepanjang pantai. daerah retensi termasuk larangan
4. Penanaman mangrove sebagai green 5. Pelaksanaan sistem peringatan dini membangun;
belt di sepanjang pantai. bahaya banjir, termasuk sistem 2. Pengendalian banjir secara teknis
5. Pelaksanaan sistem peringatan dini evakuasi; dengan pembangunan infrastruktur
bahaya banjir, termasuk sistem 6. Melakukan inventarisasi dan pengendali banjir;
evakuasi; pemetaan daerah rawan longsor 3. Pembuatan bangunan pengaman
6. Melakukan inventarisasi dan pemetaan ditingkat kab/kota; sungai; grounsill, krip beton,
daerah rawan longsor ditingkat 7. Mengatasi penutupan muara retaining wall, tanggul dll;
kab/kota; akibat sedimentasi; 4. Penanaman mangrove sebagai green
7. Memperbaiki sarana dan prasarana 8. Memperbaiki sarana dan prasarana belt di sepanjang pantai.
Sumber Daya Air yang telah mengalami Sumber Daya Air yang telah 5. Pelaksanaan sistem peringatan dini
kerusakan. mengalami kerusakan. bahaya banjir, termasuk sistem
evakuasi;
6. Melakukan inventarisasi dan
pemetaan daerah rawan longsor
ditingkat kab/kota;
7. Mengatasi penutupan muara akibat
sedimentasi;
8. Menyiapkan bahan-bahan banjiran
dan peralatan yang dibutuhkan
untuk penanggulangan darurat
banjir;
9. Memperbaiki sarana dan prasarana
Sumber Daya Air yang telah
mengalami kerusakan.
D. PETA TEMATIK ASPEK SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA AIR
(SKENARIO EKONOMI TINGGI)
KABUPATEN BOMBANA KABUPATEN BUTON TENGAH

1. Mengembangkan jaringan sistem 1. Mengembangkan jaringan sistem


informasi sumber daya air yang informasi sumber daya air yang
terpadu dan didukung oleh terpadu dan didukung oleh
kelembagaan yang tangguh; kelembagaan yang tangguh;
2. Meningkatkan kualitas data dan 2. Meningkatkan kualitas data dan
tingkat kehandalan database SDA tingkat kehandalan database SDA KABUPATEN MUNA & MUNA BARAT
secara terpadu dan berkelanjutan; secara terpadu dan berkelanjutan;
3. Rasionalisasi Pos Hidrologi; 3. Rasionalisasi Pos Hidrologi; 1. Mengembangkan jaringan sistem
4. Meningkatkan ketersediaan dana 4. Meningkatkan ketersediaan dana informasi sumber daya air yang
untuk membentuk dan untuk membentuk dan terpadu dan didukung oleh
mengembangkan SISDA; mengembangkan SISDA; kelembagaan yang tangguh;
5. Meningkatkan peran serta masyarakat 5. Meningkatkan peran serta 2. Meningkatkan kualitas data dan
dan dunia usaha dalam SISDA; masyarakat dan dunia usaha tingkat kehandalan database SDA
6. Menyediakan SDM yang profesional dalam SISDA; secara terpadu dan berkelanjutan;
untuk menangani SISDA; 6. Menyediakan SDM yang profesional 3. Rasionalisasi Pos Hidrologi;
7. Melaksanakan pendataan untuk untuk menangani SISDA; 4. Meningkatkan ketersediaan dana
mendukung sistem peringatan dini; 7. Melaksanakan pendataan untuk untuk membentuk dan
8. Sosialisasi SISDA termasuk tugas mendukung sistem peringatan dini; mengembangkan SISDA;
pokok dan fungsi dinas instansi yang 8. Sosialisasi SISDA termasuk tugas 5. Meningkatkan peran serta
terkait dalam Pengelolaan Sumber pokok dan fungsi dinas instansi masyarakat dan dunia usaha dalam
Daya Air yang sistematis dan yang terkait dalam Pengelolaan SISDA;
komprehesif; Sumber Daya Air yang sistematis 6. Menyediakan SDM yang profesional
9. Evaluasi SISDA termasuk pelaksanaan dan komprehesif; untuk menangani SISDA;
tugas pokok dan fungsi dinas instansi 9. Evaluasi SISDA termasuk 7. Melaksanakan pendataan untuk
yang terkait dalam Pengelolaan Sumber pelaksanaan tugas pokok dan mendukung sistem peringatan dini;
Daya Air; fungsi dinas instansi yang terkait 8. Sosialisasi SISDA termasuk tugas
10. Penyusunan Nota Kesepahaman dalam dalam Pengelolaan Sumber Daya pokok dan fungsi dinas instansi yang
Pengelolaan SDA WS dengan Forum Air; terkait dalam Pengelolaan Sumber
Koordinasi WS Muna. 10. Penyusunan Nota Kesepahaman Daya Air yang sistematis dan
dalam Pengelolaan SDA WS dengan komprehesif;
Forum Koordinasi WS Muna. 9. Evaluasi SISDA termasuk
pelaksanaan tugas pokok dan fungsi
dinas instansi yang terkait dalam
Pengelolaan Sumber Daya Air;
10. Penyusunan Nota Kesepahaman
dalam Pengelolaan SDA WS dengan
Forum Koordinasi WS Muna.
E. PETA TEMATIK ASPEK PEMBERDAYAAN DAN PENINGKATAN PERAN
MASYARAKAT DAN DUNIA USAHA (SKENARIO EKONOMI TINGGI)

KABUPATEN BOMBANA & BUTON TENGAH

1. Pembentukan wadah koordinasi pengelolaan SDA tingkat nasional, provinsi,


tingkat WS, dan/atau tingkat Kabupaten/Kota;
2. Pelibatan SDM dalam pembagian peran antar unit pengelola SDA; KABUPATEN MUNA & MUNA BARAT
3. Koordinasi agar instansi terkait dengan pembiayaan pengelolaan SDA
terpadu; 1. Pembentukan wadah koordinasi
4. Pelibatan seluruh stake holder mengenai komitmen pembiayaan SDA dalam pengelolaan SDA tingkat nasional,
tahap perencanaan, pembangunan dan operasi pemeliharaan. provinsi, tingkat WS, dan/atau
5. Pembuatan ijin penggunaan dan pengusahaan air permukaan & air tanah; tingkat Kabupaten/Kota;
6. Sosialisasi dan pelarangan membuang sampah ke sungai/ badan air lainnya; 2. Pelibatan SDM dalam pembagian
7. Sosialisasi pengelolaan sampah melalui sistem 3R ( Reduce, Reuse dan peran antar unit pengelola SDA;
Recycle); 3. Koordinasi agar instansi terkait
8. Meningkatkan kerjasama dan koordinasi dalam penanggulagan banjir; dengan pembiayaan pengelolaan
9. Pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaan, pengawasan dan SDA terpadu;
Pemeliharaan SDA; 4. Pelibatan seluruh stake holder
10. Sosialisasi pembangunan, pemanfaatan dan pemeliharaan sarana dan mengenai komitmen pembiayaan
prasarana lingkungan di WS Muna; SDA dalam tahap perencanaan,
11. Pelatihan tentang pelaksanaan, pemanfaatan dan pemeliharaan sarana dan pembangunan dan operasi
prasarana SDA yang bisa dikelola oleh masyarakat di WS Muna; pemeliharaan.
12. Revisi RTRW Tingat Provinsi & Kabupaten; 5. Pembuatan ijin penggunaan dan
13. Pembinaan dan evaluasi pelaksanaan, pemanfaatan dan pemeliharaan lahan pengusahaan air permukaan & air
yang bisa dikelola oleh masyarakat di WS Muna. tanah;
6. Sosialisasi dan pelarangan
membuang sampah ke sungai/
badan air lainnya;
7. Sosialisasi pengelolaan sampah
melalui sistem 3R ( Reduce, Reuse
dan Recycle);
8. Meningkatkan kerjasama dan
koordinasi dalam penanggulagan
banjir;
9. Pemberdayaan masyarakat dalam
pelaksanaan, pengawasan dan
Pemeliharaan SDA;
10. Sosialisasi pembangunan,
pemanfaatan dan pemeliharaan
sarana dan prasarana lingkungan di
WS Muna;
11. Pelatihan tentang pelaksanaan,
pemanfaatan dan pemeliharaan
sarana dan prasarana SDA yang bisa
dikelola oleh masyarakat di WS
Muna;
12. Revisi RTRW Tingat Provinsi &
Kabupaten;
13. Pembinaan dan evaluasi
pelaksanaan, pemanfaatan dan
pemeliharaan lahan yang bisa
dikelola oleh masyarakat di WS
Muna.
SEKIAN &
TERIMA KASIH