Sie sind auf Seite 1von 4

TUGAS X : REGULATION OF IMMUNE RESPONSES

1. Apa kepetingan regulasi dalam system imun?


2. Sebutkan ada berapa macam cara regulasi dari system imun
3. Bagaimana mekanisme apoptosis dari sel T?
4. Bagaimana mekanisme regulasi idiotipik?
5. Bagaimana mekanisme regulasi antibody feedback?
6. Apa yang dimaksud dengan sitokin regulator?

1. Kepentingan regulasi imun

Agar tidak terjadi aktivasi sistem imun yang berkepanjangan dan tak terkendali setelah antigen
dieliminasi
2. cara regulasi dari system imun (disuruh nyebutin doang)
- Regulasi oleh antibody yang terbentuk
- Regulasi idiotip spesifik
- Regulasi oleh sel T suppressor (Ts)
3. Bagaimana mekanisme apoptosis dari sel T?
Recognition of self antigens may trigger pathways of apoptosis that result in elimination
(deletion) of the self-reactive lymphocytes (Fig. 9-6). There are two likely mechanisms of death
of mature T lymphocytes induced by self antigens:
• Antigen recognition induces the production of pro-apoptotic proteins in T cells that induce
cell death by causing mitochondrial proteins to leak out and activate caspases, cytosolic
enzymes that induce apoptosis. In normal immune responses, the activity of these pro-
apoptotic proteins is counteracted by anti-apoptotic proteins that are induced by costimulation
and by growth factors produced during the responses. However, self antigens, which are
recognized without strong costimulation, do not stimulate production of anti-apoptotic
proteins, and the relative deficiency of survival signals induces death of the cells that recognize
these antigens.
• Recognition of self antigens may lead to the coexpression of death receptors and their
ligands. This ligand-receptor interaction generates signals through the death receptor that
culminate in the activation of caspases and apoptosis. The best-defined death receptor– ligand
pair involved in self-tolerance is a protein called Fas (CD95), which is expressed on many cell
types, and Fas ligand (FasL), which is expressed mainly on activated T cells. The Fas pathway
may also be involved in death of some B cells in germinal centers, discussed later.

4 Bagaimana mekanisme regulasi idiotipik?

Idiotipe adalah kumpulan epitop spesifik yang diekspresikan sebagai reseptor antigen pada sel
B dan sel T. Antibodi yang dihasilkan dari antigen eksternal disebut antibodi idiotipe (Ab1),
antibodi yang dihasilkan oleh Ab1 adalah antibodi anti-idiotipe (Ab2), antibodi yang dihasilkan
oleh Ab2 adalah antibodi anti anti-idiotipe (Ab3), dan seterusnya. Antibodi Ab1
mengekspresikan beberapa kumpulan idiotipe dan populasi Ab2 yang mengenalinya disebut
sebagai antibodi anti-idiotipe (Male et al., 1987).
ANTI-IDIOTIPE
Interaksi determinan idiotipe dan antibodi anti-idiotipe mempengaruhi regulasi respon imun.
Pemberian anti-idiotipe dapat menekan ekspresi idiotipe dan memacu pembentukan idiotipe
spesifik limfosit T supresor. Pada kondisi yang lain meningkatkan ekspresi idiotipe dan
pembentukan antigen spesifik limfosit T helper (Shenk et al., 1984; Rabinowitz et al., 1988),
sehingga antibodi anti-idiotipe dapat mengaktivasi atau menekan imun humoral dan respon
imun selular (Keay et al., 1988; Tackaberry et al., 1993; Zhou dan Kisil, 1995a ; 1995b).
Mekanisme aktivasi yang terjadi seperti antigen asing yang merangsang pembentukan respon
imun, sedangkan mekanisme supresif adalah : pertama, anti-idiotipe memblok reseptor
idiotipe pada sel B primer dan hanya merangsang pembentukan non-idiotipe; kedua, anti-
idiotipe hanya menginduksi idiotipe-spesifik sel T supresor (Nisonoff, 1991). Idiotope berlokasi
pada atau didekat sisi pengikat antigen (antigen-combinating site), pada rantai berat maupun
rantai ringan Ab1. Jika Ab2 digunakan sebagai immunogen akan mengakibatkan
peningkatan respon antibodi spesifik (Ab 3). Idiotipe Ab1 identik dengan Ab 3 (Clark et al.,
1996). Kekhasan reaksi di atas digunakan sebagai dasar untuk menghasilkan reagen anti-
imunoglobulin spesifik (Harlow dan Lane, 1988).
5. BAGAIMANA MEKANISME REGULASI ANTIBODY FEEDBACK?
Antibodi IgG yang disekresikan terjadi down regulasi ketika kompleks antigen antibody secara
simultan terkait dengan membrane sel B dan Fcγ receptors (FcγRII). Pada kondisi ini,
cytoplasmic tails pada Fcγ receptors mentransduksi sninyal penghambat di dalam sel B.
Setelah sel B diferensiasi menjadi sel penyekresi antibody dan sel memori, beberapa sel
bertahan lama, tapi kebanyakan akan mati dengan proses apoptosis. Menurunnya sel B yang
diaktifkan secara bertahap berkontribusi terhadap penurunan fisiologis dari imunitas humoral.
Sel B menggunakan mekanisme khusus untuk menghentikan produksi antibody. Antibodi IgG
diproduksi dan beredar di sirkulasi. Antibodi tersebut dapat berikatan dengan antigen di darah
dan jaringan membentuk kompleks imun. Sel B spesifik untuk antigen berikatan dengan bagian
antigen pada kompleks imun dengan reseptor Ig
Fc pada antibody IgG dikenali oleh reseptor Fc khusus yang terekspresi pada sel B yaitu FcγRIIB
(Fig. 7–15). Reseptor ini akan memberikan sinyal penghambat yang akan menghentikan sinyal
dari reseptor antigen sehingga respon sel B terhenti. Pada proses ini yang mana ikatan
antibody dan antigen akan menghambat produksi antibody lebih lanjut disebut umpan balik
antibody. Proses ini berfungsi untuk menghentikan repon imun humoral setelah jumlah yang
cukup dari antibody IgG yang telah diproduksi.
6. APA YANG DIMAKSUD DENGAN SITOKIN REGULATOR?
Sitokin merupakan protein pengatur (regulator) yang diproduksi oleh berbagai macam sel yang
memediasi terjadinya inflamasi dan reaksi imun. Sitokin jugs merupakan mediator untuk sel
saling berkomunikasi. Pada innate immunity sitokin di produksi oleh sel dendritik dan sel
makrofag. Pada adaptive immunity, sitokin disekresikan oleh sel T terutama CD4+. Sel T CD4+
memproduksi IL-2 untuk proliferasi dan diferensiasi sel T. Sel helper T CD4+ juga memproduksi
sitokin untuk aktivasi makrofag fagosit dalam mencerna mikroba, mengumpulkan leukosit dan
aktivasi limfosit B untuk memproduksi antibody.
Pada imunitas alami dalam melawan antigen intraseluler seperti virus dimediasi oleh sel NK
yang akan membunuh sel terinfeksi virus dan dengan sitokin interferons type I yang akan
menghambat replikasi virus pada sel host tersebut.
Beberapa sitokin yang berperan untuk aktivasi NK cell yaitu interleukin-15 (IL-15), type I
interferons (type I IFNs), and interleukin-12 (IL-12). IL-15 untuk perkembangan dan maturasi NK
cell, type I IFNs and IL-12 meningkatkan fungsi membunuh sel oleh NK cell.
Sitokin berupa TNF-alfa, IL-6, IL-1, IL-12 berperan dalam proses inflamasi yang dihasilkan
makrofag. Sebelumnya makrofag teraktivasi dengan adanya antigen dan sitokin yang dihasilkan
oleh NK cell berupa interferon gamma. Makrofag juga bisa teraktivasi dengan adanya induksi
sitokin IL-4 dan IL-13 yang penting dalam perbaikan jaringan dan inflamasi.