You are on page 1of 12

ANALISIS KONSEPSI SISWA TENTANG PERSAMAAN KUADRAT DI SMA

PROPOSAL

diajukan untuk memenuhi mata kuliah Metode Penelitian Kualitatif


dosen pengampu : Prof. Didi Suryadi, M.Ed dan Dr. Nurjanah, M.Pd

Oleh
Isna Fauziyah
NIM. 1403331

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2017
A. Judul
“Analisis Konsepsi Siswa Tentang Persamaan Kuadrat di SMA”

B. Latar Belakang
Persamaan kuadrat merupakan topik matematika terpenting dalam kurikulum
matematika di sekolah. Saglam & Alacaci (Didis, Makbule Gozde dan Erbas, Ayhan
Kursat 2015, hlm. 1138) persamaan kuadrat menjembatani topik matematika lainnya
seperti persamaan linear, fungsi, dan polynomial. Selanjutnya Didis, Makbule Gozde
dan Erbas, Ayhan Kursat (2015, hlm. 1138) mengungkapkan topik ini, digunakan
dalam berbagai disiplin ilmu seperti fisika, teknik, disain. Sehingga persamaan
kuadrat menjadi perhatian bagi guru, untuk mengetahui sejauhmana siswa mengetahui
konsep persamaan kuadrat.
Salah satu kendala yang sering terjadi dalam topik persamaan kuadrat ini
adalah siswa terhambat dalam mencari akar-akar persamaan kuadrat. Padahal terdapat
berbagai alternatif pemecahan masalah tersebut, yaitu dengan menggunakan
pemfaktoran, kuadrat sempurna, dan rumus kuadratis.
Pemfaktoran merupakan cara yang sederhana ketika menyelesaikan persamaan
kuadrat. Namun, alternatif ini bisa jadi terhambat ketika bentuk persamaan kuadratnya
tidak bisa difaktorkan secara langsung seperti 𝑥 2 + 2𝑥 − 1 = 0 melainkan harus
menggunakan alternatif lainnya.
Kuadrat sempurna menjadi salah satu alternatifnya. Namun dari hasil
penelitian yang dilakukan Didis, Makbule Gozde dan Erbas, Ayhan Kursat (2015)
siswa yang menyelesaikan bentuk persamaan 𝑥 2 + 2𝑥 − 1 = 0, hanya sedikit yang
menggunakan metode kuadrat sempuna dan beberapa siswa yang mencoba dengan
metode tersebut salah. Selanjutnya Didis menyatakan bahwa kebanyakan siswa
menggunakan metode rumus kuadratis dan hasilnya kebanyakan benar.
−𝑏±√𝑏 2 −4𝑎𝑐 −𝑏±√𝐷
Selanjutnya, rumus kuadratis yang berbentuk 𝑥 = = ,𝐷 =
2𝑎 2𝑎

𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑑𝑖𝑠𝑘𝑟𝑖𝑚𝑖𝑛𝑎𝑛 dengan syarat bahwa persamaan kuadratnya berbentuk 𝑎𝑥 2 +


𝑏𝑥 + 𝑐 = 0, 𝑎 ≠ 0; 𝑎, 𝑏, 𝑐 ∈ ℝ menjadi alternatif menemukan solusi dari permaan
kuadrat. Rumus ini merupakan hasil dari penurunan dari persamaan kuadrat bentuk
standar. Berdasarkan penurunan tersebut pada rumus kuadratis munculah nilai
diskriminan yang merupakan nilai pembeda dari suatu persamaan kuadrat. Nilai
pembeda ini yang membedakan jenis akar-akar dari persamaan kuadrat.
Fenomena yang peneliti temukan di lapangan adalah siswa mengetahui rumus
kuadratis atau sering mereka sebut rumus kecap sebagai salah satu cara menentukan
akar-akar dari persamaan kuadrat, namun siswa belum memahami secara mendalam
dari makna rumus tersebut. Makna rumus yang dimaksud adalah tentang eksistensi
koefisien dari persamaan kuadrat, a,b, dan c, selanjutnya tentang nilai diskriminan
yang ditentukan dengan rumus 𝑏 2 − 4𝑎𝑐. Berdasarkan studi pendahuluan peneliti
didapat salah satu konsepsi siswa SMA kelas 12 di kota Bandung menyelesaikan soal
dengan menentukan nilai p,q,r suatu persamaan kuadrat yang berkaitan dengan rumus
kuadratis. Berikut gambar pengerjaanya:

Berdasarkan jawaban siswa tersebut, siswa tidak dapat menentukan p,q, dan r yang
dimaksud soal. Karena kesulitan dalam mengoperasikan eliminasi dari dua buah
persamaan tersebut. Selain itu juga siswa ceroboh dalam melakukan perhitungan.
Selain fakta siswa tersebut, selanjutnya berdasarkan pengalaman mengajar peneliti
terdapat siswa yang bertanya “sebenarnya diskriminan itu apa sih? Kenapa harus 𝑏 2 −
4𝑎𝑐 ?”. padahal dirinya mengetahui penggunaan rumus kuadratis dan hafal akan
rumus tersebut
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Didis, Makbule Gozde dan Erbas,
Ayhan Kursat (2015, hlm.1147), mereka juga mengungkapkan bahwa Since students
memorized the rules, formula, and algebraic procedures to solve quadratic equations
without understanding the meaning, they could not transfer these rules, formula, and
procedures to solve the quadratic equations with non-standard structured. Salah satu
kesalahan siswa dalam menyelesaikan solusi persamaan kuadrat 𝑥 2 + 2𝑥 − 1 = 0
dengan menggunakan rumus kuadratis adalah siswa hanya menghitung satu akar saja
dan juga lupa rumus abc yang sebenarnya. Berikut gambar jawaban siswa:

Oleh karena itu, peneliti berminat untuk meneliti konsepsi siswa tentang
rumus kuadratis di SMA. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi
guru dalam pembelajaran tentang konsepsi siswa berkaitan dengan rumus kuadratis.
Menurut pandangan Ausabel (dalam Sugiatno, 2013) bahwa belajar akan lebih
bermakna dan informasi yang dipelajari akan bertahan lama, jika guru yang mengajar
dapat mengaitkan konsepsi siswa dengan konsep baru yang sedang dipelajari.

C. Rumusan Masalah
Bagaimana konsepsi siswa terhadap persamaan kuadrat di SMA?. Secara lebih khusus
bagaimana konsepsi siswa terhadap penyelesaian persamaan kuadrat dengan metode
pemfaktoran, kuadrat sempurna dan rumus kuadratis?

D. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui konsepsi siswa terhadap topik persamaan kuadrat di SMA. Secara
lebih khusus untuk mengetahui konsepsi siswa terhadap penyelesaian persamaan
kuadrat dengan metode pemfaktoran, kuadrat sempurna dan rumus kuadratis.

E. Manfaat Penelitian
Bagi peneliti dan pembaca dapat mengetahui konsepsi siswa SMA terhadap rumus
kuadratis. Khususnya bagi guru sebagai penunjang bahan mengajar yang akan dibuat.
F. Kajian Teori
1) Konsepsi
Menurut Berg (dalam Pangandongan, 2015) konsepsi adalah
pengertian atau tafsiran seseorang terhadap suatu konsep dalam pikirannya.
Lebih lanjut Berg mengungkapkan bahwa konsepsi siswa perlu dipahami dan
diidentifikasi sebelum mereka melakukan proses pembelajaran disekolah. Hal
tersebut begitu penting karena konsepsi siswa sering tidak sejalan dengan
konsepsi ilmiah atau konsepsi para ahli atau sering disebut miskonsepsi dan
konsepsi siswa dapat mempengaruhi, membantu atau mungkin menghambat
pemahaman konsep lainnya atau bahkan dapat menimbulkan kesulitan siswa
dalam pembelajaran. Sedangkan, Sugiatno (2013) mengungkapkan ada tiga
hal penting yang terkait dengan konsepsi siswa. Pertama, konsepsi siswa dapat
sesuai dengan konsep yang ada dalam pelajaran matematika. Ke dua, konsepsi
siswa, kurang sesuai dengan konsep yang ada dalam pelajaran matematika. Ke
tiga, konsepsi siswa, dapat tidak sesuai dengan konsep yang ada dalam
pelajaran matematika.
Berdasarkan uraian diatas, konsepsi yang menjadi fokus penelitian ini
adalah:
1. Konsepsi siswa tentang performance bentuk umum persamaan
kuadrat. Dilihat apakah ada miskonsepsi siswa atau tidak. Jika ada,
hal apa saja miskonsepsinya.
2. Konsepsi siswa tentang penyelesaian persamaan kuadrat dengan
metode pemfaktoran.Dilihat apakah ada miskonsepsi siswa atau
tidak. Jika ada, hal apa saja miskonsepsinya.
3. Konsepsi siswa tentang penyelesaian persamaan kuadrat dengan
metode kuadrat sempurna. Dilihat apakah ada miskonsepsi siswa
atau tidak. Jika ada, hal apa saja miskonsepsinya.
4. Konsepsi siswa tentang penyelesaian persamaan kuadrat dengan
metode rumus kuadratis. Dilihat apakah ada miskonsepsi siswa
atau tidak. Jika ada, hal apa saja miskonsepsinya.

2) Persamaan kuadrat
Sebelum membicarakan persamaan kuadrat, pelu kita ketahui arti dari
persamaan. Di SMP kita telah mengetahui bahwa sebuah persamaan adalah
sebuah kalimat terbuka yang menggunakan relasi (hubungan) sama dengan
(=_. Sebagai contoh, misalnya kalimatseperti 2x+1=5 adalah persamaan yang
peubahnya x. contoh tersebut merupakan salah satu bentuk persamaan linear
dengan satu peubah.
Selanjutnya akan dibahas tentang persamaan kuadrat. Bentuk umum
persamaan kuadrat adalah 𝑎𝑥 2 + 𝑏𝑥 + 𝑐 = 0 dengan syarat 𝑎 ≠ 0 dan
𝑎, 𝑏, 𝑐 konstanta-konstanta real (biangan real), serta 𝑥 disebut peubah dari
persamaan kuadrat itu. 𝑎 koefisien dari 𝑥 2 , b koefisien dari 𝑥, dan 𝑐 konstanta,
Adapun penyelesaian persamaan kuadrat artinya mencari solusi nilai 𝑥 atau
nilai peubah lainnya yang memenuhi persamaan tersebut.
3) Pemfaktoran
Pengertian dasar yang digunakan dalam menyelesaikan persamaan kuadrat
dengan memfaktorkan adalah pernyataan berikut:
Untuk setiap bilangan real a dan b berlaku:

Jika a x b = 0, maka a=0 atau b=0

4) Kuadrat sempurna
Langkah –langkah:
1. Ubahlah persamaan itu sehingga hanya suku konstanta c yang terdapat
diruas kanan.
2. Jika a, koefisien dari suku pangkat dua, tidak sama dengan 1, maka
bagilah kedua ruas dengan a.
3. Tambahkan kuadrat dari setengah koefisien suku pangkat satu yang
𝑏 2
pertama, yaitu(2𝑎) , pada kedua ruas. (melengkapkan kuadrat)

4. Faktorkan ruas kiri sebagai kuadrat dari suku dua


5. Selesaikan solusi itu dengan menggunakan fakta bahwa (𝑥 + 𝑞)2 = 𝑟
adalah ekuivalen dengan 𝑥 + 𝑞 = ±√𝑟
5) Rumus kuadratis
−𝑏±√𝑏 2 −4𝑎𝑐 −𝑏±√𝐷
Rumus kuadratis berbentuk: 𝑥 = = ,𝐷 =
2𝑎 2𝑎

𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑑𝑖𝑠𝑘𝑟𝑖𝑚𝑖𝑛𝑎𝑛 dengan syarat bahwa persamaan kuadratnya 𝑎𝑥 2 + 𝑏𝑥 +


𝑐 = 0, 𝑎 ≠ 0; 𝑎, 𝑏, 𝑐 ∈ ℝ
a. Penemu
Al khawarizmi merupakan seorang
matematikawan muslim yang berasal dari Arab.
Beliau dikenal sebagai bapak Aljabar, karena
keahliannya dalam bidang aljabar.
Matematikawan tersebut mempunyai nama
lengkap Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa al-
Khwarizmi atau Abu Ja`far Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi
dilahirkan di Khawarizm Kheva sekarang bernama Uzbekistas pada
tahun 770 M atau 780 M dan wafat pada tahun 840 M atau 850 M.
Dalam menemukan rumus kuadratis Al Khawarizmi memulai
pembuktiannya dengan persamaan 𝑥 2 + 𝑏𝑥 = 𝑐

𝑏 2 𝑏 2
(𝑥 + ) = ( ) + 𝑐
2 2

sehingga diperoleh
𝑏 𝑏 2
(𝑥 + 2) = ±√(2) + 𝑐

−𝑏 𝑏 2
𝑥= √
± ( ) +𝑐
2 2

−𝑏 𝑏2
= ±√ +𝑐
2 4

−𝑏 𝑏 2 4𝑐
= ±√ +
2 4 4
−𝑏 √(𝑏)2 + 4𝑐
= ±
2 2
−𝑏 ± √(𝑏)2 + 4𝑐
𝑥=
2

selanjutnya matematikawan lain


mengembangkan pemikiran Al khawarizmi dalam
menemukan rumus kuadratis yaitu salah satunya
adalah Evariste Galois. Galois seorang
matematikawan yang berasal dari Prancis. Ia
dilahirkan dari seorang ayah yang bernama Nicolas Gabriel dan ibu
yang bernama Adelaide Marie Demante Galois, di Bourg-In Reine
pada tanggal 25 Oktober 1811. Pada usia 21 tahun ia meninggal dunia
tepatnya pada tanggal 31 Mei 1832 di Paris. Dalam membuktikan
rumus kuadratis, Galois menggunakan cara membagi “a” pada bentuk
umum persamaan kuadrat. Selengkapnya dijelaskan pada bagian
pembuktian rumus cara 1.

b. Pembuktian rumus
Cara 1

Cara 2
Cara 3

Cara 4
Cara 5

c. Hubungangan nilai diskriminan dan akar-akar


Diskriminan dari 𝑎𝑥 2 + 𝑏𝑥 + 𝑐 = 0, 𝑎 ≠ 0; 𝑎, 𝑏, 𝑐 ∈ ℝ adalah D =
𝑏 2 − 4𝑎𝑐. Nilai inilah yang membedakan jenis akar-akar dari suatu
persamaan kuadrat. Berikut adalah perbedaan kondisi nilai diskriminan
dan akibatnya terhadap akar-akar:
 D>0 : dua akar real berbeda
o Jika D berbentuk kuadrat sempurna maka kedua akarnya
rasional
o Jika D tidak berbentuk kuadrat sempurna maka kedua akarnya
irasional
 D=0 : dua akar real sama
 D<0 : tidak ada solusi akar real

G. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. hal ini
dilakukan karena untuk mengungkap konsepsi siswa berkaitan dengan rumus
kuadratis dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta dilapangan. Subjek penelitian ini
adalah siswa kelas 10 SMA. Hal ini dipilih karena materi yang memunculkan rumus
kuadratis ada pada kelas 10 khususnya pada topik persamaan kuadrat.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara memberikan soal dan wawancara.
Awal penelitian di lapangan siswa akan diberikan tes sejumlah persoalan yang
berkaitan dengan rumus kuadratis. Kemudian peneliti menganalisis hasil jawaban
siswa untuk mengkategorikan persoalan yang muncul. Setelah itu beberapa siswa
yang sesuai dengan kategori dibuat kemudian diwawancara untuk mengetahui
informasi secara lebih dalam memaknai rumus kuadratis. Untuk mendapatkan data
yang kredibel peneliti melakukan triangulasi data. Triangulasi dalam pengujian
kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan
berbagai cara dan berbagai waktu (Sugiyono, 2012). Data yang dilakukan triangulasi
berupa data dari hasil tes, wawancara, dan kajian teori. Adapun teknik analisis yang
digunakan dalam penelitian ini adalah menurut Miles dan Huberman (Sugiyono,
2010) bahwa data yang dilakukan secara interaktif melalui proses reduction, data
display dan verification. Setelah itu dibuat laporan penelitian yang terorganisir.
Daftar Pustaka

Didis, Macbule Gozde dan Erbas, Ayhan Kursat.(2015). Performance and Difficulties of
Students in Formulating and Solving Quadratic Equations with One Unknown.
Educational sciences: Theory & Practice, 1137-1150. doi 10.12738/estp.2015.4.2743

Pangandongan, Fara Virgianita. (2015). Konsepsi Siswa SMP Pada Materi Segiempat
Ditinjau dari Gaya Belajar. Yogyakarta: Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan
Matematika UNY, hal. 1001-1008

Sugiatno.(2013) Konsepsi Siswa mengenai Operasi Hitung Bilangan Bulat di Kelas V


Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Dasar,1,45-57

Sugiyono.(2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Wahyudin. (2012). Kapita Selekta Matematika. Bandung: Rizqi Press.

Wendayani. (2015). Galois dan Teorinya.[online] diakses dari


https://www.slideshare.net/wendawindy/galois-dan-teorinya-50173659 tanggal 4
Desember 2017

Wilson, Jim. (2015). Teaching the derivation of Quadratic Formula. pdf

http://www.dace.co.uk/al_khwarizmi.htm