You are on page 1of 20

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI 1

BAB I : PENDAHULUAN 2
 Latar Belakang 2

BAB II : TINJAUAN TEORI 3


 Definisi 3
PEMBAHASAN 4
 Etiologi 4
 Tanda dan Gejala 5
 Diagnosa NANDA 5
 Pathway 6
 Penatalaksanaan 7
 Perencanaan 7
 Asuhan Keperawatan 9
 Pre-operasi 9
 Post-operasi 11
 Intervensi NANDA-NIC-NOC 15

BAB III : PENUTUP 18


Kesimpulan 18

DAFTAR PUSTAKA 19

Laporan Pendahuluan Askep dengan Atresia Ani | 1


BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Laporan pendahuluan ini disusun berdasarkan latar belakang yang


mengingatkan kita pada kondisi kesehatan, khususnya kesehatan pada bayi yang
lahir Indonesia saat ini. Salah satu kelainan kongenital yang biasanya terjadi tidak
adanya lubang anus pada bayi sehingga menimbulkan banyak kebingungan di
kalangan masyarakat. Maka dari itu peran dari tenaga kesehatan sangat diperlukan
guna membimbing dan mengarahkan masyarakat ke arah yang lebih baik.

Laporan Pendahuluan Askep dengan Atresia Ani | 2


BAB II
TINJAUAN TEORI

1. Definisi
Istilah atresia ani berasal dari bahasa Yunani yaitu “ a “ yang artinya
tidak ada dan trepsis yang berarti makanan dan nutrisi. Dalam istilah
kedokteran, atresia ani adalah suatu keadaan tidak adanya atau tertutupnya
lubang yang normal.
Atresia ani adalah kelainan kongenital yang dikenal sebagai anus
imperforata meliputi anus, rektum, atau batas di antara keduanya (Betz,
2002). Atresia ani merupakan kelainan bawaan (kongenital), tidak adanya
lubang atau saluran anus (Donna, 2003). Atresia ani adalah tidak
lengkapnya perkembangan embrionik pada distal anus atau tertutupnya
anus secara abnormal (Suradi, 2001). Atresia ani atau anus imperforata
adalah tidak terjadinya perforasi membran yang memisahkan bagian
endoterm mengakibatkan pembentukan lubang anus yang tidak sempurna.
Anus tampak rata atau sedikit cekung ke dalam atau kadang berbentuk
anus namun tidak berhubungan langsung dengan rektum (Purwanto,
2001).
Penulis menyimpulkan bahwa, atresia ani adalah kelainan kongenital
dimana anus tidak mempunyai lubang untuk mengeluarkan feses karena
terjadi gangguan pemisahan kloaka yang terjadi saat kehamilan.

Laporan Pendahuluan Askep dengan Atresia Ani | 3


PEMBAHASAN

Untuk membahas lebih lanjut tentang kelainan kongenital Atresia Ani, maka akan
dijelaskan dibawah ini.
2. Etiologi
Penyebab sebenarnya dari atresia ani ini belum di ketahui pasti, namun ada
sumber yang mengatakan bahwa kelainan bawaan anus di sebabkan oleh :
1. Karena kegagalan pembentukan septum urorektal secara komplit
karena gangguan pertumbuhan, fusi, atau pembentukan anus dari tonjolan
embrionik.
2. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan dubur, sehingga bayi
lahir tanpa lubang anus.
3. Gangguan organogenesis dalam kandungan penyebab atresia ani,
karena ada kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12
minggu atau 3 bulan.
4. Kelainan bawaan, anus umumnya tidak ada kelainan rektum, sfingter,
dan otot dasar panggul. Namum demikian pada agenesis anus, sfingter
internal mungkin tidak memadai. Menurut penelitian beberapa ahli masih
jarang terjadi bahwa gen autosomal resesif yang menjadi penyebab atresia
ani. Orang tua tidak diketahui apakah mempunyai gen carier penyakit ini.
Janin yang diturunkan dari kedua orang tua yang menjadi carier saat
kehamilan mempunyai peluang sekitar 25 % - 30 % dari bayi yang
mempunyai 19 sindrom genetik, abnormalitas kromosom, atau kelainan
kongenital lain juga beresiko untuk menderita atresia ani (Purwanto,
2001).

Faktor Predisposisi
Atresia ani dapat terjadi disertai dengan beberapa kelainan
kongenital saat lahir, seperti :
1. Kelainan sistem pencernaan terjadi kegagalan perkembangan anomali
pada gastrointestinal.
2. Kelainan sistem perkemihan terjadi kegagalan pada genitourinari.

Laporan Pendahuluan Askep dengan Atresia Ani | 4


3. Tanda dan Gejala
Bayi muntah-muntah pada 24-48 jam setelah lahir dan tidak terdapat
defekasi mekonium. Gejala ini terdapat pada penyumbatan yang lebih
tinggi.
Pada golongan 3 hampir selalu disertai fistula. Pada bayi wanita
sering ditemukan fistula rektovaginal (dengan gejala bila bayi buang air
besar feses keluar dari (vagina) dan jarang rektoperineal, tidak pernah
rektourinarius. Sedang pada bayi laki-laki dapat terjadi fistula
rektourinarius dan berakhir di kandung kemih atau uretra dan jarang
rektoperineal. Gejala yang akan timbul :
1.) Mekonium tidak keluar dalm 24 jam pertama setelah kelahiran.
2.) Tidak dapat dilakukan pengukuran suhu rektal pada bayi.
3.) Mekonium keluar melalui sebuah fistula atau anus yang letaknya
salah.
4.) Perut kembung.
5.) Bayi muntah-muntah pada umur 24-48 jam.
(Ngastiyah, 2005)

4. Diagnosa NANDA
1. Gangguan eliminasi (defekasi)
2. Inkontinensia defekasi
3. Nyeri akut
4. Kerusakan integritas kulit
5. Gangguan rasa nyaman
6. Resiko infeksi

Laporan Pendahuluan Askep dengan Atresia Ani | 5


5. Pathway

Laporan Pendahuluan Askep dengan Atresia Ani | 6


6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan dalam tindakan atresia ani yaitu :
a. Pembuatan kolostomi
Kolostomi adalah sebuah lubang buatan yang dibuat oleh dokter ahli
bedah pada dinding abdomen untuk mengeluarkan feses. Pembuatan
lubang biasanya sementara atau permanen dari usus besar atau colon
iliaka. Untuk anomali tinggi, dilakukan kolostomi beberapa hari
setelah lahir.
b. PSARP (Posterio Sagital Ano Rectal Plasty)
Bedah definitifnya, yaitu anoplasty dan umumnya ditunda 9 sampai 12
bulan. Penundaan ini dimaksudkan untuk memberi waktu pelvis untuk
membesar dan pada otot-otot untuk berkembang. Tindakan ini juga
memungkinkan bayi untuk menambah berat badannya dan bertambah
baik status nutrisinya.
c. Tutup kolostomi
Tindakan yang terakhir dari atresia ani. Biasanya beberapa hari setelah
operasi, anak akan mulai BAB melalui anus. Pertama, BAB akan
sering tetapi seminggu setelah operasi BAB berkurang frekuensinya
dan agak padat.

7. Perencanaan
I. Pengkajian Fokus
1. Pengkajian
Konsep teori yang digunakan penulis adalah model konseptual
keperawatan dari Gordon. Menurut Gordon data dapat dikelompokkan
menjadi 11 konsep yang meliputi :
a. Pola Persepsi Kesehatan
Mengkaji kemampuan pasien dan keluarga melanjutkan perawatan di
rumah.
b. Pola Nutrisi dan Metabolik
Anoreksia, penurunan BB dan malnutrisi umumnya terjadi
pada pasien dengan atresia ani post tutup kolostomi. Keinginan

Laporan Pendahuluan Askep dengan Atresia Ani | 7


pasien untuk makan mungkin terganggu oleh mual dan muntah
dampak dari anastesi.
c. Pola Eliminasi
Dengan pengeluaran melalui saluran kencing, usus, kulit dan
paru maka tubuh dibersihkan dari bahan-bahan yang melebihi
kebutuhan dan dari produk buangan. Oleh karena itu pada pasien
atresia ani tidak terdapatnya lubang pada anus, sehingga pasien
akan mengalami kesulitan dalam defekasi.
d. Pola Aktivitas dan Latihan
Pola latihan dan aktivitas dipertahankan untuk menghindari
kelemahan otot.
e. Pola Persepsi Kognitif
Menjelaskan tentang fungsi penglihatan, pendengaran,
penciuman dan daya ingatan masa lalu dan ketanggapan dalam
menjawab pertanyaan.
f. Pola Tidur dan Istirahat
Pada pasien mungkin pola istirahat dan tidur terganggu karena
nyeri pada luka insisi.
g. Pola Konsep Diri dan Persepsi Diri
Menjelaskan konsep diri dan persepsi diri misalnya body
image, body comfort. Tidak terjadi perilaku distraksi, gelisah,
penolakan karena dampak luka jahitan operasi.
h. Pola Peran dan Pola Hubungan
Bertujuan untuk mengetahui peran dan hubungan sebelum dan
sesudah sakit. Perubahan pola biasa dalam tanggung jawab atau
perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran.
i. Pola Reproduksi dan Seksual
Pola ini bertujuan untuk menjelaskan fungsi sosial sebagai alat
reproduksi.
j. Pola Pertahanan Diri, Stress dan Toleransi
Adanya faktor stress lama, efek hospitalisasi, masalah keuangan, dan
rumah.

Laporan Pendahuluan Askep dengan Atresia Ani | 8


k. Pola Keyakinan
Untuk menerapkan sikap, keyakinan klien dalam
melaksanakan agama yang dipeluk dan konsekuensinya dalam
keseharian. Dengan ini diharapkan perawat memberikan motivasi
dan pendekatan terhadap klien dalam upaya pelaksanaan ibadah.

2. Pemeriksaan Fisik
Hasil pemeriksaan fisik yang didapatkan pada pasien atresia ani
biasanya anus tampak merah, usus melebar, termometer yang
dimasukkan melalui anus tertahan oleh jaringan, pada auskultasi
terdengar hiperperistaltik, tanpa mekonium dalam waktu 24 jam
setelah bayi lahir, tinja dalam urine dan vagina.

8. Asuhan Keperawatan
Fokus Intervensi
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul :
1. Pre Operasi
a. Inkontinentia bowel berhubungan dengan tidak lengkapnya
pembentukan anus.
b. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah.
c. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kurang pengetahuan
tentang penyaki t dan prosedur perawatan.
2. Post Operasi
a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan insisi
pembedahan.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan anoreksia.
c. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan.
d. Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan kebutuhan
perawatan dirumah.
Intervensi keperawatan :
1. Pre Operasi

Laporan Pendahuluan Askep dengan Atresia Ani | 9


a. Inkontinentia bowel berhubungan dengan tidak lengkapnya
pembentukan anus.
Tujuan : Terjadi peningkatan fungsi usus.

KH :
1.) Pasien menunjukkan konsistensi tinja lembek
2.) Terbentuknya tinja
3.) Tidak ada nyeri saat defekasi
4.) Tidak terjadi perdarahan
Intervensi :
a.) Lakukan dilatasi anal sesuai program.
Rasional : Meningkatkan kenyamanan pada anak.
b.) Kaji bising usus dan abdomen setiap 4 jam.
Rasional : Menyakinkan berfungsinya usus.
c.) Ukur lingkar abdomen klien.
Rasional : Membantu mendeteksi terjadinya distensi.
d.) Pertahankan puasa dan berikan terapi hidrasi IV sampai fungsi
usus normal.
Rasional : Memulihkan dan mengembalikan fungsi usus.

b. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah.


Tujuan : Volume cairan terpenuhi
Kriteria Hasil :
1.) Turgor kulit baik dan bibir tidak kering
2.) TTV dalam batas normal
Intervensi :
a.) Awasi masukan dan keluaran cairan.
Rasional : Untuk memberikan informasi tentang keseimbangan
cairan.
b.) Kaji tanda-tanda vital seperti TD, frekuensi jantung, dan nadi.
Rasional : Kekurangan cairan meningkatkan frekuensi jantung,
TD dan nadi turun.

Laporan Pendahuluan Askep dengan Atresia Ani | 10


c.) Observasi tanda-tanda perdarahan yang terjadi post operasi.
Rasional : Penurunan volume menyebabkan kekeringan
pada jaringan.
d.) Kolaborasi dalam pemberian cairan elektrolit sesuai
indikasi.
Rasional : Untuk pemenuhan cairan yang hilang.

c. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kurang pengetahuan


tentang penyakit dan prosedur perawatan.
Tujuan : Rasa cemas dapat hilang atau berkurang.
Kriteria Hasil :
1.) Ansietas berkurang
2.) Klien tidak gelisah
Intervensi :
a.) Kaji status mental dan tingkat ansietas dari klien dan keluarga.
Rasional : Derajat ansietas akan dipengaruhi bagaimana
informasi tersebut diterima.
b.) Jelaskan dan persiapkan untuk tindakan prosedur sebelum
dilakukan operasi.
Rasional : Dapat meringankan ansietas terutama ketika tindakan
operasi tersebut dilakukan.
c.) Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan isi pikiran dan
perasaan takutnya.
Rasional : Mengungkapkan rasa takut secara terbuka dimana rasa
takut dapat ditujukan.

d.) Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman.


Rasional : Lingkungan yang nyaman dapat mengurangi ansietas.

2. Post Operasi
a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan insisi
pembedahan.

Laporan Pendahuluan Askep dengan Atresia Ani | 11


Tujuan : Nyeri dapat berkurang dan skala nyeri berkurang
Kriteria Hasil :
1.) Klien menunjukkan ekspresi bahwa nyeri berkurang
2.) Skala nyeri 0-1
3.) Ekspresi wajah terlihat rileks
Intervensi :
a.) Kaji karakteristik, lokasi, durasi, frekuensi, dan kualitas nyeri.
Rasional : Bantu klien untuk menilai nyeri dan sebagai temuan
dalam pengkajian.
b.) Ajarkan klien manajemen nyeri dengan teknik relaksasi dan
distraksi.
Rasional : Membantu dalam menurukan atau mengurangi persepsi atau
respon nyeri.
c.) Ciptakan lingkungan yang nyaman dan anjurkan klien untuk
istirahat.
Rasional : Memberikan kenyamanan untuk klien agar dapat
istirahat.
d.) Kolaborasi untuk pemberian analgetik sesuai advis dokter.
Rasional : Untuk mengurangi rasa nyeri.

b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan anoreksia.
Tujuan : Asupan nutrisi dapat terpenuhi dan menuunjukkan
perbaikan usus.
Kriteria Hasil :
1.) Tidak terjadi penurunan BB.
2.) Klien tidak mual dan muntah
Intervensi :
a.) Kaji kemampuan klien untuk menelan dan menguyah makanan.
Rasional : Menentukan pemilihan jenis makanan sehingga
mencegah terjadinya aspirasi.
b.) Timbang berat badan sesuai indikasi.

Laporan Pendahuluan Askep dengan Atresia Ani | 12


Rasional : Mengevaluasi keadekuatan rencana pemenuhan
nutrisi.
c.) Jaga keamanan saat memberikan makan klien seperti kepala
sedikit fleksi saat menelan.
Rasional : Menurunkan resiko terjadinya aspirasi dan
mengurangi rasa nyeri pada saat menelan.
d.) Berikan makanan lembut dalam porsi sedikit tapi sering.
Rasional : Meningkatkan pemasukan dan menurunkan distress
gaster.

c.) Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan.


Tujuan : Tidak ditemukannya tanda-tanda infeksi
Kriteria Hasil :
1.) Tidak ada tanda-tanda infeksi
2.) Pemeriksaan laboratorium tidak ditemukan peningkatan
leukosit.
3.) Luka post operasi bersih
Interversi :
a.) Pantau suhu tubuh klien (peningkatan suhu).
Rasional : Demam dapat terjadi karena infeksi.
b.) Ajarkan keluarga teknik mencuci tangan dengan benar dan
menggunakan sabun anti mikroba.
Rasional : Faktor ini paling sederhana tetapi paling penting
untuk mencegah infeksi di rumah sakit.
c.) Pertahankan teknik aseptik pada perawatan luka.
Rasional : Mencegah terjadinya infeksi nosokomial.
d.) Kolaborasi dalam pemberian antibiotik.
Rasional : Mencegah terjadinya infeksi luka.
e.) Kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium.
Rasional : Peningkatan leukosit menunjukkan adanya infeksi.

Laporan Pendahuluan Askep dengan Atresia Ani | 13


d. Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan
kebutuhan perawatan dirumah.
Tujuan : Pasien dan keluarga memahami perawatan di rumah
Kriteria Hasil :
1.) Kelurga menunjukkan kemampuan untuk memberikan
perawatan untuk bayi di rumah.
2.) Keluarga tahu dan memahami dalam memberikan perawatan
pada klien.
Intervensi :
a.) Ajarkan perawatan kolostomi dan partisipasi dalam perawatan.
Rasional : Agar keluarga dapat melakukannya.
b.) Ajarkan untuk mengenal tanda-tanda dan gejala yang perlu
dilaporkan perawat.
Rasional : Agar segera dilakukan tindakan.
c.) Ajarkan keluarga cara perawatan luka yang tepat.
Rasional : Dapat memberikan pengetahuan keluarga
d.) Latih keluarga untuk kebiasaan defekasi.
Rasional : untuk melatih pasien.
e.) Ajarkan keluarga untuk memodifikasi diit (misalnya serat).
Rasional : Membantu klien memperlancar defekasi.

Laporan Pendahuluan Askep dengan Atresia Ani | 14


Intervensi NANDA-NIC-NOC
Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Gangguan eliminasi urin NOC NIC
Urinary elimination 1. Urinary Retention Care
Batasan karakteristik : Urinary continuence 2. Lakukan penilaian kemih
Disuria, Sering berkemih, Anyang- komprehensif pada inkontinesia
anyangan, Inkontinesia, Nokturia, KH : 3. Merangsang refleks kandung kemih
Retensi, Dorongan 1. Vesica U. Kosong dapat secara penuh dengan terapi dingin untuk perut
2. Tak ada residu urine >100-200cc 4. Sediakan waktu untuk waktu
Faktor yang berhubungan : 3. Intake cairan DBN pengosongan kandung kemih (10
Obstruksi anatomik, penyebab multiple, 4. Bebas dari ISK menit)
ggn. Sensori-motorik, ISK 5. Tak ada spasme bladder 5. Pasang kateter untuk merekam output
6. Balancing cairan urine
Inkonteinensia defekasi NOC NIC
Bowel elimination Bowel incontinence care
Batasan karakteristik : 1. Perkirakan penyebab fisik dan
Rembesan konstan feses lunak KH : psikologi
Bau fekal, warna fekal ditempat tidur BAB teratur tiap hari 3-5 hari 2. Jelaskan penyebab masalah dan
Warna fekal pada pakaian Defekasi lunak, feses berbentuk rasional tindakan

Laporan Pendahuluan Askep dengan Atresia Ani | 15


Ketidakmampuan menunda defekasi Integritas kulit dan jaringan baik 3. Jelaskan tujuan dari managemen bowel
pada keluarga
Faktor yang berhubungan : 4. Diskusikan prosedur dan kriteria hasil
Tekanan abdomen abnormal tinggi 5. Instruksikan keluarga untuk mencatat
Tekanan usus abnormal tinggi keluaran feses
Pengosongan usus tidak tuntas 6. Jaga kebersihan baju dan tempat tidur
Impaksi, medikasi 7. Monitor ESO
8. Jaga privasi klien
9. Evaluasi status BAB secara rutin
Nyeri Akut NOC NIC
Cardiac pump effectiveness Cardiac care
Batasan karakteristik : Circulation status 1. Kaji karakteristik, lokasi, durasi,
Perubahan TD, frekw. Jantung, frekw. Vital sign status frekuensi, dan kualitas nyeri.
Pernafasan 2. Ciptakan lingkungan yang nyaman dan
Mengekspresikan perilaku KH : anjurkan klien untuk
Masker wajah, indikasi nyeri yg dapat TD-DBN +/- 120/80 3. istirahat
diamati Tidak ada edema paru, perifer, dan stres 4. Kolaborasi untuk pemberian analgetik
sesuai advis dokter.
Tidak ada penurunan kesadaran
5. Monitor TTV
Faktor yang berhubungan :

Laporan Pendahuluan Askep dengan Atresia Ani | 16


Agen cedera (pembedahan)
Kerusakan integritas kulit NOC NIC
Tissue integrity Pressure management
Batasan karakteristik :
Kerusakan lapisan kulit (dermis) KH : 1. Pakaikan pakaian yang longgar
Gangguan permukaan kulit (epidermis) Integritas kulit yang baik bisa 2. Jaga kebersihan kulit tetap bersih
Invasi struktur kulit dipertahankan 3. Mobilisasi pasien 2 jam sekali
Tidak ada luka/lesi dikulit 4. Monitor aktivitas klien
Faktor yang berhubungan : Perfusi jaringan baik 5. Mandikan klien dengan air hangat
Luka bekas pembedahan

Laporan Pendahuluan Askep dengan Atresia Ani | 17


BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Atresia Ani merupakan
kelainan bawaan (kongenital), tidak adanya lubang atau saluran anus. Disamping
itu Atresia ani juga merupakan tidak lengkapnya perkembangan embrionik pada
distal anus atau tertutupnya anus secara abnormal. Maka diharapkan petugas
medis khususnya perawat dapat memahami dan mengerti kasus-kasus seperti ini
agar dapat memberikan tindakan yang terbaik ketika menemuinya di lapangan.

Laporan Pendahuluan Askep dengan Atresia Ani | 18


DAFTAR PUSTAKA

Nurarif, Kusuma. 2015. Aplikasi Askep NANDA NIC-NOC. Jogjakarta:


MediAction
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC
Hidayat, Aziz. 2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Salemba Medika
Hidayat, Aziz. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba
Medika

Media online :
Website resmi Univ. Muhammadiyah Semarang :
Digilib.unimus.ac.id
Website resmi Univ. Sumatera Utara :
Repository.usu.ac.id/bitstream/.../3/chapter%20ll.pdf
Website kumpulan hasil penelitian :
Academia.edu/8685826/askep_pada_pasien_atresia_ani

Laporan Pendahuluan Askep dengan Atresia Ani | 19


1. Tolong jelaskan bagaimana kelainan bawaan bisa menjadi faktor predisposisi pada
klien dengan kasus atresia ani?

Kelainan bawaan, anus umumnya tidak ada kelainan rektum, sfingter, dan otot dasar
panggul. Namum demikian pada agenesis anus, sfingter internal mungkin tidak
memadai. Menurut penelitian beberapa ahli masih jarang terjadi bahwa gen autosomal
resesif yang menjadi penyebab atresia ani. Orang tua tidak diketahui apakah
mempunyai gen carier penyakit ini. Janin yang diturunkan dari kedua orang tua yang
menjadi carier saat kehamilan mempunyai peluang sekitar 25 % - 30 % dari bayi
yang mempunyai 19 sindrom genetik, abnormalitas kromosom, atau kelainan
kongenital lain juga beresiko untuk menderita atresia ani (Purwanto, 2001).

2. Setahu saya pada penatalaksanaan ada yang namanya Posterio Sagital Ano Rectal
Plasty. Bisa Anda hal tersebut?

Yaitu tindakan bedah dengan membelah muskulus sfingter eksternus dan muskulus
levator ani untuk memudahkan mobilisasi kantong rectum dan pemotongan fistel.
Bedah definitifnya, yaitu anoplasty dan umumnya ditunda 9 sampai 12
bulan. Penundaan ini dimaksudkan untuk memberi waktu pelvis untuk
membesar dan pada otot-otot untuk berkembang. Tindakan ini juga
memungkinkan bayi untuk menambah berat badannya dan bertambah baik status
nutrisinya.

3. Apakah atresia ani dan anus imperforata itu sama atau beda? Tolong jelaskan!

Atresia ani atau anus imperforata


adalah tidak terjadinya perforasi membran yang memisahkan bagian
endoterm mengakibatkan pembentukan lubang anus yang tidak sempurna.

Laporan Pendahuluan Askep dengan Atresia Ani | 20