Sie sind auf Seite 1von 10

DETEKSI KEBERADAAN BAKTERI COLIFORM PADA

DEPOT AIR MINUM ISI ULANG DI LINGKAR KAMPUS


TERPADU UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA

Ika Afifah Nugraheni


Program Studi Bioteknologi FST Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
Email: ikaafifah@unisayogya.ac.id

Abstract
Water is one of the basic needs for the life, including humans. Humans will not survive without
any water intake into the body. Problems begin because the higher of pollution entering water
bodies as more as water needs,, especially related to the quality of drinking water including refill
drinking water from the depots. This study aims to determine whether or not coliform bacteria
in refill drinking water depots (DAMIU) located in the circle of Integrated Campus ‘Aisyiyah
Yogyakarta and whether drinking water refills are worth consumption or not. The research
method used is descriptive method by comparing the laboratory results with the standard table
of MPN (Most Probable Number) consisting of presumtive test, confirmation test and
complementary test. The results showed that two samples from five DAMIU drinking water
samples was positive containing coliform bacteria of 29 CFU/100 ml and 35 CFU/100 ml. In
addition, both samples of drinking water was also indicated to contain Escherichia coli bacteria,
each of which was 1 CFU/100 ml. This results showed that both samples of drinking water
refill was not worth consumption because it was not in accordance with the Regulation of
Minister of Health RI No. 492/MENKES/Per/IV/2010 that the microbiological requirement of
drinking water quality is 0 CFU/100 ml.

Keywords : Refill water depot, coliform, Escherichia coli, MPN

PENDAHULUAN 2002). Selain itu, Sual et al. (2016) juga


Air adalah salah satu kebutuhan menyebutkan bahwa air sangat berperan
pokok bagi kehidupan makhluk hidup, dalam proses fisiologis manusia dan
termasuk manusia. Makhluk hidup metabolisme sel. Sehingga manusia
memerlukan air untuk kelangsungan dipastikan tidak akan bertahan hidup
hidupnya. Sebagian besar penyusun sel tanpa ada asupan air ke dalam
makhluk hidup adalah air. 75% sel tubuhnya.
tumbuhan dan 67% sel hewan tersusun Kebutuhan air antar individu
dari air. Sedangkan pada manusia, 2/3 manusia berbeda untuk tiap tempat dan
penyusun selnya adalah air. Secara tiap taraf kehidupan mansia. Semakin
umum fungsi air dalam tubuh setiap tinggi taraf kehidupan tiap individu,
organisme adalah untuk melarutkan maka kebutuhan air akan semakin besar
senyawa organik, menstabilkan suhu (Widiyanti dan Ristiati, 2004). Rata-rata
tubuh dan melangsungkan berbagai kebutuhan air di Indonesia sebesar 60
reaksi kimia tingkat seluler (Campbell, liter per kapita yang meliputi 30 liter

105
Jurnal Ilmiah Sains dan Teknologi, Vol. 9 No.2, Juni 2016

untuk kebutuhan mandi,15 liter untuk diperoleh dari DAMIU memiliki harga
kebutuhan minum dan sisanya untuk yang jauh lebih murah dibandingkan air
kebutuhan lain. minum kemasan dengan berbagai merk.
Seiring dengan kemajuan dan Sehingga tidak mengherankan apabila
peningkatan taraf hidup manusia, banyak masyarakat konsumen, terutama
kebutuhan akan air bersih akan selalu dari kalangan mahasiswa dan anak kos
meningkat setiap saat. Akibatnya, yang beralih pada layanan air minum isi
pengadaan air bersih selalu dilakukan ulang.
setiap waktu. Masalah mulai muncul Proses pengolahan air pada
karena semakin banyak kebutuhan air, prinsipnya mampu menghilangkan jenis
maka semakin tinggi pula pencemaran polutan, baik fisik, kimia, maupun
yang memasuki badan air, baik bakteriologis (Depperindag, 2004). Depo
pencemaran dari rumah tangga maupun air minum isi ulang harus menggunakan
industri. Di kota-kota besar, pasokan air peralatan yang sesuai, untuk
bersih berkurang hingga 40% menghindari adanya kontaminasi
disebabkan adanya pencemaran dan bakteri coliform. Pengisian tempat
kurang baiknya fasilitas air yang ada dilakukan dengan menggunakan alat
(Harsojo dan Darsono, 2014), sehingga dan mesin serta dilakukan dalam tempat
diperlukan standar dari pemerintah pengisian yang higienis (Sutrisno dan
untuk memenuhi persyaratan tertentu, Suciastuti, 2002).
terutama pada kualitas air minum. Pemerintah dalam Peraturan
Meningkatnya permintaan air Menteri Kesehatan Republik Indonesia
bersih yang layak konsumsi membuat Nomor 492/Menkes/per/IV/2010 telah
menjamurnya industrialisasi air minum mengatur tentang syarat-syarat kualitas
atau Depot Air Minum Isi Ulang air minum yang meliputi syarat
(DAMIU). Terutama di berbagai pusat mikrobiologi, kimia, radioaktifitas dan
kos-kosan seperti di lingkar kampus fisik. Menurut Notoatmodjo (2007), air
terpadu Universitas ‘Aisyiyah minum harus memenuhi berbagai
Yogyakarta. Seiring berkembangnya persyaratan kualitas, meliputi
Universitas Aisyiyah Yogyakarta persyaratan fisik, kimia dan
menjadi salah satu universitas pilihan di bakteriologis. Persyaratan fisik meliputi
Yogyakarta, kos-kos mahasiswa mulai warna, bau, rasa, suhu dan kekeruhan
menjamur di sekitar daerah tersebut. Hal (Sutrisno dan Suciati dalam Byna et al.,
tersebut muncul sebagai jawaban atas 2009). Persyaratan kimia berhubungan
tingginya permintaan air yang layak dengan ion-ion senyawa maupun logam
minum. Kondisi ini didukung pula berbahaya seperti Hg, Pb, Ag, Cu dan
dengan semakin banyaknya toko-toko Zn (Pratiwi, 2007). Sedangkan
maupun usaha-usaha di sekitarnya, persyaratan bakteriologis berhubungan
termasuk DAMIU. dengan kandungan senyawa
Mahalnya harga Air Minum mikroorganisme yang menyebabkan
Dalam Kemasan (AMDK) menjadikan penyakit, terutama penyakit yang
DAMIU menjadi salah satu alternatif berhubungan dengan pencernaan seperti
sumber air minum. Air minum yang bakteri coliform.

106
Jurnal Ilmiah Sains dan Teknologi, Vol. 9 No.2, Juni 2016

Persyaratan bakteriologis air habitat alaminya dalam saluran


minum telah distandarisasi oleh pencernaan bawah baik pada manusia
pemerintah melalui Peraturan Menteri maupun hewan. Golongan Enterobacter,
Kesehatan Republik Indonesia Nomor seperti Streptococcus faecalis dan S.
907/Menkes/SK/VII/2002. Menteri faecium merupakan flora alami dalam
Kesehatan Republik Indonesia Nomor saluran pencernaan. Golongan ini tidak
492 Tahun 2010 tentang standar baku banyak digunakan untuk indikator
mutu air minum juga menyebutkan kontaminasi fekal, tetapi lebih dikaitkan
bahwa parameter mikrobiologi kadar pada tingkat sanitasi proses produksi
maksimum keberadaan bakteri coliform yang buruk. Sedangkan keberadaan
yaitu sebesar 0/100 ml sampel. Hal ini kelompok Staphylococci seperti
berarti tidak boleh ada kandungan Staphylococcus aureus dalam makanan
bakteri coliform dalam air minum, baik bisa berasal dari kulit, mulut maupun
dalam AMDK maupun DAMIU. Salah rongga hidung tenaga pengolah atau
satu penyakit yang ditimbulkan dari produksi yang merupakan indikator dari
buruknya kualitas mikrobiologis suatu kondisi sanitasi yang tidak memadai
air minum adalah penyakit diare (Sual et (Badan POM, 2008).
al., 2016). Berbagai penelitian mengenai uji
Dalam pengujian cemaran mikrobiologis telah mengindikasikan
mikrobia, umumnya mendeteksi tentang kualitas air minum isi ulang
keberadaan mikrobia indikator. Hal ini yang dari DAMIU. Sunarti (2016) dalam
dikarenakan selain mudah dideteksi juga penelitiannya memaparkan bahwa
memberikan gambaran mengenai keempat sampel air minum yang diambil
kondisi higienis dari produk yang diuji. dari DAMIU di sekitar Kampus UIN
Menurut Badan POM (2008), mikrobia Raden Fatah Palembang menunjukkan
indikator adalah golongan atau spesies hasil tidak layak konsumsi. Hal ini
bakteri yang kehadirannya dalam dikarenakan dari keempat sampel
makanan dalam jumlah si atas batas tersebut diketahui mengandung bakteri
(limit) tertentu, merupakan pertanda coliform antara 12,4 sampai 1100 per 100
bahwa makanan telah terpapar dengan ml. Hasil penelitian Sual et al. (2016)
kondisi-kondisi yang memungkinkan juga menunjukkan hasil yang tidak jauh
berkembang biaknya mikrobia patogen. berbeda, bahwa dua dari lima DAMIU
Sehingga dapat disimpulkan bahwa di Kecamatan Ranoyapo telah tersemar
mikrobia indikator digunakan untuk bakteri coliform. Berdasarkan latar
menilai keamanan dan mutu belakang tersebut, maka permasalahan
mikrobiologi suatu produk. Kelompok yang ditemukan pada penelitian ini yaitu
mikrobia yang digunakan sebagai apakah air minum dari DAMIU di
mikrobia indikator yaitu kelompok lingkar kampus terpadu Universitas
bakteri coliform. ‘Aisyiyah Yogyakarta tercemar bakteri
E. coli atau sering disebut coliform coliform atau tidak. Selain itu juga untuk
fekal merupakan indikator kontaminan mengetahui apakah air minum dari
yang berasal dari sumber fekal atau DAMIU di lingkar kampus terpadu
saluran pencernaan, sesuai dengan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta layak

107
Jurnal Ilmiah Sains dan Teknologi, Vol. 9 No.2, Juni 2016

untuk dikonsumsi sesuai baku mutu seri HVE-50, biological safety cabinet,
mikrobiologis air minum. inkubator, jarum ose, pipet, tabung
reaksi, petridish, hotplate and stirrer,
METODE PENELITIAN timbangan analitik, tabung duran 500
Populasi meliputi seluruh depot air ml, dan gallon air minum isi ulang.
minum isi ulang di sekitar Kampus Coliform yang akan dideteksi pada
Terpadu Universitas ‘Aisyiyah penelitian ini adalah golongan bakteri
Yogyakarta, yaitu sebanyak 10 depot. yang merupakan campuran antara
Sampel penelitian ini sebanyak 5 depot bakteri fekal dan bakteri non fekal.
ait minum isi ulang. Penentuan 5 dari 10 Prinsip penentuan angka bakteri coliform
sampel dilakukan dengan cara mengukur adalah bahwa adanya pertumbuhan
jarak terdekat dari Kampus Terpadu bakteri coliform yang ditandai dengan
Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. terbentuknya gas pada tabung durham,
Sampel air DAMIU selanjutnya dilabeli setelah diinkubasikan dalam waktu
dengan nama sampel A, sampel B, tertentu pada media yang sesuai
sampel C, sampel D, dan sampel E. (Harmita dan Radji, 2008). Pada
Pengujian sampel air minum DAMIU pengujian ini dilakukan dengan metode
dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi MPN (Most Probable Number) atau APM
dan Imunologi Universitas ‘Aisyiyah (Angka Paling Mungkin). Pengujian
Yogyakarta dari bulan Desember 2017 MPN dilakukan dengan tiga tahap yaitu,
sampai Februari 2018. Uji Praduga (Presumtif Test), Uji
Rancangan yang digunakan pada Konfirmasi (Confirmative Test), dan Uji
penelitian ini yaitu deskriptif kuantitatif Lengkap (Completed Test)
untuk mendeteksi ada tidaknya
kandungan bakteri coliform dalam air a. Uji Praduga (Presumtif Test)
minum dari DAMIU di lingkar kampus Pada uji ini disiapkan 9 tabung
terpadu Universitas ‘Aisyiyah yang berisi 10 ml medium Lactose Broth
Yogyakarta. Pengambilan sampel secara (LB) yang di dalamnya terdapat tabung
langsung dengan membeli air minum isi durham terbalik. Pertama, dipipet
ulang pada depot-depot yang telah sebanyak 10 ml sampel ke dalam 3 seri
dipilih tersebut. Tahap penelitian yang tabung pertama, 1 ml sampel air minum
dilakukan yaitu: 1) persiapan alat bahan, ke dalam 3 seri tabung kedua, dan 0.1
2) observasi DAMIU, 3) pengujian ml sampel ke dalam 3 seri tabung ketiga.
sampel, 4) analisis hasil. Seluruh tabung diinkubasi pada suhu
Bahan yang digunakan pada 37°C selama 24 jam. Setelah 24 jam
penelitian ini antara lain sampel air dicatat jumlah tabung yang membentuk
minum isis ulang dari 5 DAMIU di gas pada masing-masing seri dan
lingkar Kampus Terpadu Universitas inkubasi kembali tabung yang tidak
‘Aisyiyah Yogyakarta, Lactose Broth (LB), membentuk gas selama 24 jam,
Brilliant Green Lactose Bile (BGLB), Eosin kemudian dicatat jumlah tabung yang
Methylene Blue Agar (EMBA), alkohol membentuk gas (Sunarti, 2016).
70%, spiritus. Sedangkan alat-alat yang
dibutuhkan yaitu Autoclave Hirayama

108
Jurnal Ilmiah Sains dan Teknologi, Vol. 9 No.2, Juni 2016

b. Uji Konfirmasi (Confirmative Test) dengan kilap logam dan bintik biru
Untuk uji konfirmasi dilakukan kehijauan (Bambang et al., 2014).
dengan cara memindahkan sebanyak 1 Metode analisis pada penelitian ini
ose dari tiap tabung yang membentuk yaitu digunakan metode MPN (Most
gas pada media LB ke dalam tabung Probable Number), yaitu dengan
yang berisi 10 ml Brilliant Green Lactose menentukan kombinasi hasil positif dan
Bile Broth (BGLB) 2%. Diinkubasikan hasil negatif di tiap seri pengujian setelah
semua tabung pada suhu 37°C selama inkubasi serta membandingkannya pada
24-48 jam. Adanya gas pada tabung tabel MPN yang telah tersedia.
durham dalam media BGLB 2%
memperkuat adanya bakteri coliform HASIL DAN BAHASAN
pada sampel air minum isi ulang. Hasil Pengujian kualitas air minum isi
angka bakteri coliform didapatkan dari ulang ini dilakukan metode MPN (Most
tabel MPN yang memberikan nilai duga Probable Number) terhadap bakteri
terdekat dengan kombinasi tabung yang Coliform dan Escherichia coli (E. coli).
positif dan tabung yang negatif pada uji Pengujian dilakukan dengan 3 tahapan,
konfirmasi (Bambang et al., 2014). yaitu uji praduga, uji konfirmasi dan uji
lengkap.
c. Uji Lengkap (Completed Test) Uji praduga digunakan untuk
Masing-masing biakan positif pada mengetahui ada tidaknya bakteri
uji konfirmasi bakteri coliform, diambil Coliform dalam air minum isi ulang.
satu ose dan diinokulasikan pada media Sampel uji difermentasikan pada
EMBA (Eosin Methylene Blue Agar). medium LB (Lactose Broth) dan
Sampel uji diinkubasi pada suhu 37oC diinkubasi selama 24-48 jam. Hasil positif
selama 24 jam. Pertumbuhan E. coli menunjukkan adanya gelembung gas
ditandai dengan pertumbuhan koloni yang dihasilkan pada tabung durham.
yang berwarna hijau metalik atau hijau Data uji praduga ditunjukkan pada
Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Uji Praduga pada Medium Lactose Broth (LB)


No Sampel 10 ml 1 ml 0,1 ml Hasil
1 Sampel A - - - Negatif
2 Sampel B + + + Positif
3 Sampel C + + + Negatif
4 Sampel D - - - Negatif
5 Sampel E - - - Negatif
Keterangan:
(+) : terbentuk gas pada tabung durham
(-) : tidak terbentuk gas pada tabung durham

109
Jurnal Ilmiah Sains dan Teknologi, Vol. 9 No.2, Juni 2016

Berdasarkan uji praduga, dari pada pengujian konfirmasi. Pada uji


kelima sampel yang diuji terdapat dua konfirmasi, medium yang digunakan
sampel yang memberikan hasil positif, yaitu Briliant Green Lactose Bile (BGLB).
yaitu terbentuk gas pada tabung Menurut Bambang et al. (2014), medium
durham. Menurut Nuria dkk (2009), ini mengandung garam empedu yang
tabung durham tersebut mempunyai dapat menghambat pertumbuhan
fungsi untuk menampung gas hasil bakteri yang tidak hidup dalam saluran
fermentasi laktosa untuk memudahkan pencernaan manusia dan mengandung
dalam pengamatan. Keberadaan hijau brilian yang dapat menghambat
gelembung gas menunjukkan adanya pertumbuhan bakteri selain bakteri
aktifitas bakteri coliform yang coliform. Uji ini dilakukan untuk
memfermentasi laktosa sebagai sumber membuktikan kembali dan memperkuat
karbon dalam metabolisme selnya. adanya bakteri coliform pada sampel.
Proses metabolisme tersebut Indikasi yang digunakan yaitu ada
menghasilkan gas sebagai salah satu tidaknya gelembung yang terbentuk
produk akhir. setelah inkubasi selama 24 jam pada
Hasil positif yang diperoleh pada suhu ruang (suhu 37oC). Hasil dari uji
uji praduga selanjutnya diuji kembali konfirmasi disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil uji konfirmasi pada medium Briliant Green Lactose Bile (BGLB)
No Sampel 10 ml 1 ml 0,1 ml Hasil
1 Sampel A 0 0 0 -
2 Sampel B 2 3 0 +
3 Sampel C 2 2 2 +
4 Sampel D 0 0 0 -
5 Sampel E 0 0 0 -
Keterangan:
(+) : terbentuk gas pada tabung durham
(-) : tidak terbentuk gas pada tabung durham

Sampel yang diuji yaitu sampel B menentukan kombinasi jumlah tabung


dan C yang telah memberikan nilai positif tiap serinya setelah inkubasi dan
positif pada uji praduga. Adanya hasil nilai yang dilihat dari tabel MPN.
gelembung gas yang terbentuk di tabung Tabel MPN yaitu tabel yang
durham menandakan adanya aktivitas memberikan jumlah perkiraan terdekat
respirasi dari bakteri coliform. Sedangkan (most probable number) berdasarkan
tabung yang negatif tidak akan kombinasi tabung positif yang
terbentuk gelembung gas atau udara. mengandung coliform dan tabung negatif
Hasil positif pada uji konfirmasi ini dari tes uji (Depkes RI, 2002). Pengujian
memastikan dan menegaskan bahwa bakteri coliform dengan metode MPN
terdapat bakteri coliform pada sampel uji. diperoleh hasil pada Tabel 3.
Berdasarkan hasil uji konfirmasi
menggunakan metode MPN dapat
ditentukan nilai MPN dengan

110
Jurnal Ilmiah Sains dan Teknologi, Vol. 9 No.2, Juni 2016

Tabel 3. Hasil Nilai MPN (Most Probable Number) Bakteri Coliform


No Sampel Coliform Coliform Standar Coliform *) Keterangan
(CFU/ml) (CFU/100 ml) (CFU/100 ml)
1 Sampel A 0 0 0 MMS
2 Sampel B 0.29 29 0 TMS
3 Sampel C 0.35 35 0 TMS
4 Sampel D 0 0 0 MMS
5 Sampel E 0 0 0 MMS
*) Standar Coliform menurut PERMENKES NO. 492/MENKES/Per/IV/2010 tentang persyaratan
kualitas air minum
Keterangan:
TMS : Tidak Memenuhi Syarat
MMS : Memenuhi Syarat

Angka MPN yang diperoleh ketiga sampel air minum dari DAMIU
tersebut mempunyai nilai statistik lainnya di lingkar Kampus Terpadu
dengan tingkat kepercayaan sebesar Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
95%. Nilai MPN pada sampel B dan C memberikan hasil negatif bakteri
yaitu sebesar 29 CFU/100 ml dan 35 coliform, yang berarti air minum yang
CFU/ml. Keberadaan bakteri coliform dihasilkan memenuhi persyaratan
tersebut menunjukkan bahwa air minum kualitas air minum.
isi ulang di kedua DAMIU tidak Hasil sampel positif selanjutnya
memenuhi syarat kualitas air minum, diinokulasikan pada medium Eosin
sesuai dengan standar menurut Methylen Blue Agar (EMBA) dengan
PERMENKES NO. 492/MENKES/ metode streak plate dan diinkubasi
Per/IV/2010. Pada peraturan disebutkan selama 24 jam pada suhu 37oC.
bahwa syarat kualitas air minum secara Keberadaan koloni bakteri berwarna
mikrobiologi yaitu kandungan bakteri hijau metalik pada medium EMBA
coliform sebesar 0 CFU/ml, yang berarti menandakan adanya bakteri Escherichia
tidak boleh ada bakteri coliform yang coli. Pengujian keberadaan bakteri E. coli
muncul pada sampel uji. Sedangkan disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil Pengujian Lengkap pada Medium Eosin Methylen Blue Agar
(EMBA)
No Sampel Warna koloni Total E. coli Standar E. coli *)
1 Sampel A - 0 0
2 Sampel B Hijau metalik 1 0
3 Sampel C Hijau metalik 1 0
4 Sampel D - 0 0
5 Sampel E - 0 0
*) Standar menurut PERMENKES No. 492/MENKES/Per/IV/2010 tentang persyaratan kualitas air
minum

Hasil positif bakteri E. coli masih Menurut Brooks (2008) bila pada
tetap ditunjukkan pada sampel B dan C. medium EMBA diperoleh biakan bakteri

111
Jurnal Ilmiah Sains dan Teknologi, Vol. 9 No.2, Juni 2016

E. coli, maka senyawa asam yang air baku yang digunakan, 2) adanya
dihasilkan dari proses fermentasi akan kontaminasi ketika memasukkan air ke
memuncullkan warna koloni yang dalam tangki pengangkutan, 3) tempat
spesifik untuk E. coli. Warna yang penampungan yang kurang bersih, 4)
terbentuk yaitu hijau metalik atau hijau proses pengolahan yang kurang optimal,
dengan kilau logam, sebagaimana yang 5) kebersihan lingkungan yang kurang
ditunjukkan pada kedua sampel uji. baik, dan 6) adanya kontaminasi dari
Jumlah koloni yang terbentuk pada galon yang tidak disterilisasi. Akan
kedua sampel air minum sebesar 1 tetapi, permasalahan tersebut dapat
CFU/100 ml. diminimalisir dengan berbagai cara,
Keberadaam bakteri coliform pada yaitu dengan memperhatikan kualitas air
sampel mengindikasikan adanya mikro- baku, kebersihan operator, serta pena-
bia yang bersifat enteropatogenik dan nganan yang baik terhadap wadah pem-
atau toksigenik yang berbahaya bagi beli dan kondisi depot (Sunarti, 2016).
kesehatan. Sunarti menyebutkan bahwa
bakteri coliform merupakan bakteri KESIMPULAN DAN SARAN
indikator sanitasi. Maksudnya yaitu Hasil pengujian dan deteksi
keberadaannya pada makanan maupun bakteri coliform pada sampel air minum
minuman menunjukkan adanya pence- isi ulang dari DAMIU di lingkar
maran karena sanitasi yang kurang baik Kampus Terpadu Universitas ‘Aisyiyah
dan kurang higienis. Yogyakarta menunjukkan bahwa dua
Ditambah lagi pada uji pelengkap dari lima sampel yang diuji tidak
yang memberikan hasil positif bakteri E. memenuhi persyaratan kualitas air
coli. Hasil ini semakin memperkuat minum dan tidak layak untuk
buruknya kualitas air minum pada dikonsumsi karena terindikasi adanya
sampel air minum di kedua DAMIU. bakteri coliform dan E. coli.
Bakteri E. coli merupakan salah satu Saran yang diberikan penulis yaitu
bakteri patogen penyebab diare. Menu- hendaknya DAMIU di lingkar Kampus
rut data Kemenkes RI (2011), penyakit Terpadu Universitas ‘Aisyiyah
diare berada pada peringkat ke-13 Yogyakarta diberikan penyuluhan
sebagai penyakit penyebab kematian di mengenai cara pengolahan dan
Indonesia dengan persentase sebesar penanganan DAMIU yang baik dan
3.5% dan urutan pertama yang menye- higienis untuk meminimalisir dan
babkan pasien rawat inap di Rumah menghilangkan kandungan bakteri
Sakit. coliform maupun E. coli pada air minum
Nuria dkk (2009) menjelaskan isi ulang, sehingga diharapkan dapat
bahwa kontaminasi bakteri coliform pada memberikan keamanan dan kelayakan
air minum yang diperoleh dari DAMIU konsumsi air minum terutama bagi
dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah
antara lain: 1) lamanya waktu penyim- Yogyakarta yang tinggal di sekitar
panan air dalam tempat penampungan, kampus tersebut.
sehingga mempengaruhi kualitas sumber

112
Jurnal Ilmiah Sains dan Teknologi, Vol. 9 No.2, Juni 2016

DAFTAR PUSTAKA
Bambang, A.G., Fatimawali, Kojong, N.S. 2014. Analisis Cemaran Bakteri Coliform
dan Identifikasi Eschericia coli pada Air Isi Ulang dari Depot di Kota Manado.
Jurnal Ilmiah Farmasi. 3: 325-334.

BPOM. RI. 2008. Pengujian Mikrobiologi Pangan. Pusat Pengujian Obat Dan
Makanan Badan Pengawasan Obat Dan Makanan Republik Indonesia. Jakarta.

Brooks, Geo F. 2008. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.

Byna S., Krisdiantoro & HS Nur. 2009. Kajian kualitas air sungai yang melewati
Kecamatan Gambut dan Aluh aluh Kalimantan Selatan. Bioscientae. 6:40-50.

Campbell, N.A. 2002. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Departemen Perindustrian dan Perdagangan RI. 2004. Keputusan Menteri


Perindustrian dan Perdagangan No. 651 Tahun 2004 tentang persyaratan
teknis depot air minum dan perdagangannya. Jakarta.

Departemen Kesehatan RI. 2002. Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air


Minum. PerMenKes RI NO. 907/Menkes/SK/VII/2002. Jakarta.

Harsojo dan Darsono. 2014. Studi Kandungan Logam Berat Dan Mikroba Pada Air
Minum Isi Ulang. Jurnal Ecolab. 8:53-60.

Kementerian Kesehatan RI. 2010. Persyaratan Kualitas Air Minum. Permenkes No.
492/Menkes/Per/IV/2010. Jakarta.

Kementerian Kesehatan RI. 2011. Situasi Diare di Indonesia. Buletin Jendela Data dan
Informasi Kesehatan: Triwulan II.

Notoatmodjo, D. 2007. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Rineke Cipta . Jakarta.

Nuria, M.C., Rosyid, A., dan Sumantri. 2009. Uji Kandungan Bakteri Escherichia coli
pada Air Minum Isi Ulang dari Depot Air Minum Isi Ulang di Kabupaten
Rembang. Mediagro. 5: 27-35.

Pratiwi, A.W. 2007. Kualitas bakteriologis air minum isi ulang di wilayah kota bogor.
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional. 2:120-131.

Sual, G.F., Monintja, T.C.N., dan Sapulete, M.R. 2016. Gambaran Mikrobiologi Air
Minum Dari Depot Isi Ulang Di Kecamatan Ranoyapo. Jurnal Kedokteran
Komunitas dan Tropik. 6: 23-30.

113
Jurnal Ilmiah Sains dan Teknologi, Vol. 9 No.2, Juni 2016

Sunarti, R.N. 2016. Uji Kualitas Air Minum Isi Ulang Disekitar Kampus Uin Raden
Fatah Palembang. Jurnal Bioilmi. 2-40-50.

Sutrisno, T. dan Suciastuti, E.. 2002. Teknologi Penyediaan Air Bersih. Rineka Cipta.
Jakarta.

Widiyanti dan Ristiati. 2004. Analisis Kualitatif Bakteri Koliform Pada Depo Air
Minum Isi Ulang Di Kota Singaraja Bali. Bali. Jurnal Ekologi Kesehatan. 3:
64-73.

114