You are on page 1of 8

Masjid Cheng Hoo Surabaya,

Simbol Akulturasi Budaya


By ipank / December 10th, 2013 - Modified on December 27th, 2013. / 0
comments

Masjid Cheng Hoo, terletak di Jalan Gading 2, tepatnya berada di komplek Gedung Serbaguna Pembina
Imam Tauhid Islam (PITI) Ketabang, Genteng, Surabaya. Masjid ini hanya berjarak sekitar satu kilometer
dari Gedung Balaikota.

Masjid dengan nama lengkap Masjid Muhammad Cheng Hoo ini didirikan untuk menghormati Laksamana
Cheng Hoo yang datang ke Pulau Jawa pada abad ke-15. Selain berdagang, Cheng Hoo juga
menyebarkan agama Islam.

Didirikan 15 Oktober 2001 dan selesai dibangun pada 13 Oktober 2002, bangunan ini terinspirasi dari
masjid kuno Niu Jie di Beijing. Ir. Aziz Johan yang juga anggota PITI asal Bojonegoro adalah arsitek yang
membangun tempat ibadah tersebut. Aziz membangun semirip mungkin masjid dengan Masjid Niu Jie yang
aslinya di bangun pada 996 Masehi. Menelan biaya Rp 3,3 milyar bangunan berwarna kuning, merah serta
hijau tersebut memiliki hiasan kaligrafi yang terukir besar pada dinding luarnya.
Ketika wisatawan memasuki halaman depan, tampak pintu masuk masjid berbentuk pagoda. Begitu

masuk, Anda akan melewati anak tangga yang


jumlahnya lima. Jumlah ini mensimbolkan rukun Islam sedangkan pada dinding masjid terdapat lafadz
Allah. Pada sisi kiri terdapat bedug yang biasa digunakan untuk memanggil jamaah melaksanakan ibadah
sholat. Bagian sisi kanan dan kiri terdapat bangunan pendukung dengan posisi lebih rendah. Bangunan
pendukung tersebut berfungsi sebagai ruangan serba guna dan gudang. Begitu masuk kedalam, terdapat
enam anak tangga yang merupakan simbol rukun iman. Keunikan lain adalah bentuk tempat imam
memimpin sholat pada pintu yang lebih mirip pintu gereja.

Masjid yang berdiri di atas lahan seluas 21 x 11 meter persegi ini memiliki luas bangunan 11 x 9 meter
persegi. Angka sebelas melambangkan ukuran Ka’bah di Mekkah, sedangkan sembilan melambangkan
jumlah Wali Songo. Bagian atas bangunan utama dibentuk bersisi delapan yang diyakini sebagai
keberuntungan. Lampu kristal yang berada tepat diatas kubah tampak selaras dengan bentuk anggun pada
bagian dalam Masjid.

Di sekitar dalam masjid ini Anda bisa melatih kemampuan fotografi. Ambil berbagi sudut padang foto sesuai
keinginan Anda. Dapatkan momen yang pas saat Anda menentukan objek foto. Pilih waktu di malam hari
saat sinar-sinar lampu menerangi bangunan Masjid Cheng Hoo.
Tak hanya itu, di sekeliling masjid, terdapat fasilitas penunjang seperti Sekolah Taman Kanak-Kanak,
lapangan badminton, kelas kursus bahasa Mandarin serta kantin.

Kesan dari masjid ini adalah besarnya rasa toleransi yang ingin ditunjukkan melalui unsur bangunan yang
menggabungkan gaya Cina, Arab, Jawa serta Eropa.

Selama di Surabaya Anda bisa mengunjungi tempat wisata lain seperti Monumen Jalesveva
Jayamahe, Tugu Pahlawan atau Monumen Kapal Selam Surabaya. Anda juga dapat menentukan
penginapan sesuai keinginan dan kebutuhan Anda, Hotel Ibis Rajawali, Satelit Hotel serta Hotel
Tunjungan.
IAUGREEN.COM - Berbicara tentang akulturasi, tentunya Belanda menjadi
salah satu negara yang punya pengaruh paling kuat bagi perkembangan
budaya kita. Menjadi negara jajahan Belanda selama 350 tahun membuat
bangsa kita sedikit-banyak bersentuhan dengan budaya negeri kincir angin.

Akibatnya beberapa unsur budaya dari Belanda terserap dan membaur dengan
budaya lokal. Dan hal ini bisa dilihat dari banyak hal, salah satunya kuliner.

Tahukah kamu, cukup banyak masakan di Indonesia yang ternyata berakar dari
kuliner Belanda. Salah satunya adalah semur dan kue cubit. Makanan apa lagi
yang ditinggalkan penjajah? Berikut ini beberapa di antaranya.

1.Semur

Meskipun bercitarasa lokal, ternyata sejarah semur bisa ditelusuri sampai ke


kuliner Belanda. Menurut The Javanese, istilah semur berasal dari bahasa
Belanda 'smoor' yang berarti rebusan. Di Belanda sendiri smoor adalah daging
yang direbus bersama tomat dan bawang dalam waktu lama.

Di Indonesia, smoor berkembang dari sekadar rebusan daging sapi dengan


tomat dan bawang menjadi masakan kaya bumbu dengan berbagai bahan
dasar alternatif. Di Groot Nieuw Oost-Indisch Volledig Kookboek, buku resep
tertua yang diterbitkan pada masa Hindia Belanda saja setidaknya ada 6
variasi resep semur, yaitu Smoor Ajam I, Ajam Smoor II, Smoor Ajam III, Smoor
Bandjar van Kip, Smoor Bantam van Kip, dan Solosche Smoor van Kip.

Lambat laun, semur dengan citarasa lokal pun mulai bermunculan dan
menjadi kuliner khas beberapa daerah. Antara lain semur Jengkol yang sangat
populer di kalangan warga Betawi.

http://riaugreen.com/view/Dunia/11312/9-Makanan-Indonesia-Ini-Hasil-Akulturasi-Warisan-Zaman-
Penjajahan-Belanda.html#.W-7FKpMzbDc
Orkes Gambus. Budaya Timur Tengah ternyata juga memiliki pengaruh kuat
dalam khasanah Betawi, hal ini terbukti bahkan sampai saat ini di seantero Jakarta
terdapat puluhan grup orkes gambus. Orkes ini biasanya ditampilkan di acara
pesta perkawinan untuk mengiringi para penyanyi gambus baik laki maupun
perempuan. Mereka biasanya membawakan lagu-lagu gambus dengan lirik
religius maupun lagu-lagu cinta berbahasa Arab.

Zapin Dara, Tarian Akulturasi Dua Budaya


Sejak dahulu, masyarakat nusantara dikenal memiliki kultur yang terbuka terhadap kebudayaan
asing tanpa meninggalkan jati diri kebudayaannya sendiri. Sifat keterbukaan tersebut
menghasilkan akulturasi budaya yang semakin memperkaya khazanah kebudayaan bangsa. Tari
zapin merupakan sebagian dari hasil akulturasi budaya lokal dengan budaya Arab.
Secara etimologi, “zapin” berasal dari bahasa Arab “zafn” yang memiliki arti gerakan kaki yang
cepat mengikuti hentakan musik. Tari zapin merupakan tarian nusantara yang sangat
dipengaruhi budaya Arab. Tari ini berkembang di masyarakat Riau, pesisir Sumatera bagian
barat, Serawak, hingga Brunei. Dahulu, tari ini hanya dipentaskan oleh laki-laki sebagai hiburan
dan pendidikan.
Berdasarkan perkembangannya, tari zapin kini tidak hanya dipentaskan oleh kaum adam. Tari
zapin pun dibawakan oleh kaum hawa atau percampuran antara keduanya. Tari zapin yang bia sa
dipentaskan oleh perempuan secara khusus lebih dikenal dengan nama tari zapin dara. Tari
zapin dara pada dasarnya memiliki gerakan yang sama dengan tari zapin. Yang membedakan di
antara kedua tari itu hanyalah jenis kelamin penari yang membawakannya. Gerakan tari zapin
didominasi oleh kelihaian gerakan mengangkat kaki. Kaki yang diangkat tidak terlalu tinggi, untuk
menghormati penonton atau para tamu yang hadir.
Tari ini diiringi musik yang bersumber dari perpaduan alat musik tradisional gambus dan
beberapa alat musik pukul yang biasa dikenal dengan nama marwas. Di sela-sela musik
tersebut, terdapat syair-syair yang disampaikan. Konon, syair-syair tersebut berisi pendidikan
moral dalam ajaran agama Islam. Karena itulah, tari zapin dahulu sering dijadikan sebagai media
dakwah agama Islam.
Tari zapin merupakan salah satu tarian yang bersumber dari kultur masyarakat nusantara yang
terbuka. Di setiap gerakan yang ditampilkan, terkandung makna filosofis yang dalam tentang
penghormatan dan pendidikan. Perlu perhatian khusus dari generasi muda untuk tetap mencintai
dan melestarikan tarian nusantara yang satu ini, sehingga tetap eksis dan tidak terkubur
modernisasi. [AhmadIbo/IndonesiaKaya]

https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/zapin-dara-tarian-akulturasi-dua-budaya

Tari Cokek, Akulturasi Budaya


Betawi dan Tionghoa
Foto: adat-tradisional.blogspot.com

1001indonesia.net – Tidak diragukan lagi, masyarakat Tionghoa memberikan


banyak pengaruh terhadap kebudayaan masyarakat Betawi. Besarnya pengaruh
ini kemudian melahirkan beragam bentuk kesenian yang merupakan hasil
akulturasi kedua kebudayaan tersebut. Salah satunya adalah tari cokek.

Tari Cokek lahir pada lingkungan masyarakat Betawi-Tionghoa di pinggiran kota


Jakarta, tepatnya di Teluk Naga, Tangerang.

Dulu, Sungai Cisadane di Tangerang merupakan akses yang digunakan para


pedagang Tionghoa untuk menjual barang-barangnya pada masyarakat di sana.
Perdagangan di lokasi ini berkembang pesat hingga banyak orang Tionghoa
yang membeli tanah dan menetap di sana. Mereka kemudian membaur dengan
masyarakat setempat.

Pembauran inilah yang akhirnya membuat kebudayaan masyarakat Tionghoa


memengaruhi kebudayaan setempat. Kemudian lahirlah beragam budaya hasil
akulturasi, baik dalam bahasa, kuliner, busana, maupun kesenian. Tari cokek
merupakan salah satu kesenian hasil akulturasi tersebut.
Tari cokek ditarikan oleh penari wanita dengan iringan musik gambang
kromong. Dalam tarian ini, penari biasanya juga mengajak para tamu untuk
ikut menari. Dalam masyarakat Betawi, ajakan tersebut dikenal dengan
istilah ngibing.

Para penari mengajak tamu untuk menari bersama dengan mengalungkan


selendang yang mereka kenakan ke leher tamu tersebut. Tidak semua tamu
diajak menari bersama. Biasanya, para tamu terhormat yang mendapat
prioritas untuk diajak menari.

Nama cokek sendiri berasal dari bahasa Hokkian chniou-khek yang berarti
menyanyikan lagu. Disebut menyanyikan lagu karena pada awalnya, cokek
bukanlah sebuah tari yang berdiri sendiri, tetapi juga dengan menyanyi.

Cokek sebenarnya merupakan sebutan bagi penyanyi yang diiringi musik


gambang kromong. Namun, ia tidak sekadar menyanyi, tapi juga menari.
Penyanyi ini lebih dikenal dengan sebutan wayang cokek.

Keberadaan cokek tidak bisa dilepaskan dari musik gambang kromong. Musik
tradisional Betawi ini juga merupakan hasil akulturasi kebudayaan Betawi
dengan kebudayaan China. Begitu pun aspek-aspek dalam tari cokek, seperti
kostum dan gerakan, semuanya merupakan hasil akulturasi budaya.

Tari tradisional Betawi ini merupakan tari pergaulan. Fungsinya sebagai


hiburan. Dulu, pertunjukan tari cokek mengisi acara-acara hajatan masyarakat
Betawi, seperti pernikahan dan khitanan. Tari ini juga berfungsi sebagai
penerima para tamu terhormat.

Saat ini, semakin jarang pertunjukan tari cokek. Hanya pada acara-acara besar,
seperti ulang tahun Jakarta dan festival budaya, kita bisa menyaksikan tarian
khas Betawi ini digelar.

https://1001indonesia.net/tari-cokek-akulturasi-budaya-betawi-dan-tionghoa/
1. Wayang potehi

Akulturasi budaya asing yang berkembang di tanah air bisa kita lihat dalam wayang potehi.
Tahukah Anda wayang potehi merupakan kesenian yang lahir karena pencampuran budaya
Indonesia dan China. Wayang potehi sendiri terlihat menyerupai dengan wayan golek atau
yang biasa disebut wayang kayu. Yang menarik dari pementasan wayang potehi ialah cerita-
cerita yang ditampilkan bukan berasal dari tanah air seperti hal nya cerita pada wayang kulit
atau wayang Bali. Wayang potehi ditampilkan dengan mengambil alur cerita masyarakat
Tiongkok. Beberapa cerita yang berasal dari Tiongkok yang diceritakan ialah Sih Djienkoei
dan Sampek Engthay serta Sungokong. Karena mengambil tema cerita dari negeri Tiongkok,
maka pakaian yang dibalutkan pada wayang juga didesain dengan mencampurkan cirri khas
Indonesia dan China. Sayagnya, karena ada beberapa dalang yang bukan berasal dari
negeri Tiongkok, bahasa yang digunakan saat pementasan wayang ini ialah bahasa
Indonesia.

2. Festival Pehcun

Satu lagi kebudayaan yang lahir karena pencampuran budaya Indonesia dan masyarakat
China yaitu festival pehcun. Festival ini merupakan festival yang mengarah pada perlombaan
balap menggunakan perahu naga. Festival Pehcun sendiri biasanya dilakukan oleh
masyakarta Tiongha yang tinggal di tanah air. Konon, festival ini merupakan bukti akulturasi
kebudayaan Tionghoa dan Indonesia. Tak hanya itu, di Tiongkok sendiri festival Pehcun
sering dilakukan dan acara ini menjadi acara yang bersejarah. Pehcun memiliki artian
mendayung perahu yang dihiasi dengan ornament naga. Bahkan beberapa perahu dihias
menyerupai naga. Kira-kira kappan ya festival ini diadakan? Acara ini biasanya dilakukan
setiap tahun yaitu pada tanggal 5 tepat di bulan 5 juga. Namun perhitungan tanggal festival
harus menurut penanggalan Imlek. Lebih menarik lagi, festival budaya ini sudah berumur
ribuan tahun bahkan bila dihitung konon umurnya sudah mencapai 2300 tahun lho.

Nah, kita bisa melihat seberapa populer dan seberapa berkembangnya kebudayaan
campuran melalui wayang potehi dan juga festival Pehcun tersebut. Meski bukan merupakan
kesenian yang lahir dari adat dan kebiasaan orang Indonesia, namun tak ada salahnya kita
menghormati akulturasi budaya tersebut. Terlebih lagi Indonesia adalah negara yang
ditinggali oleh beragam suku bangsa dan juga kebudayaan.

http://infobudayaindonesia.com/contoh-budaya-asing-yang-berkembang-di-indonesia/