You are on page 1of 22

PENGERTIAN MODAL SAHAM

Modal saham merupakan jenis modal yang hanya terdapat dalam perusahaan yang
berbentuk Perseroan Terbatas ( PT ) yang diperoleh dengan cara menerbitkan dan menempatkan
saham – saham tersebut kepada pihak tertentu atau kepada masyarakat umum. Tingkat
kepemilikan pemegang saham terhadap perusahaan tergantung seberapa besar bagian saham
yang dikuasainya.

JENIS-JENIS MODAL SAHAM

Apabila perusahaan mengeluarkan satu macam saham maka saham – saham itu disebut
saham biasa (common stock). Apabila saham yang dikeluarkan itu 2 macam,yang satu adalah
saham biasa dan yang lain adalah saham prioritas (preferred stock). Berikut ini diuraikan
mengenai masing – masing jenis saham yaitu:

 Saham biasa (Common Stock)

Saham biasa adalah saham yang melunasinya dilakukan dalam urutan yang paling akhir
dalam hal perusahaan dilikuidasi, sehingga risikonya adalah yang paling besar. Karena risikonya
besar, biasanya jika usaha perusahaan berjalan dengan baik maka dividen saham biasa akan lebih
besar daripada saham prioritas.

 Sertifikat Saham

Sertifikat saham ini dikeluarkan oleh PT Danareksa, yaitu suatu PT yang didirikan oleh
pemerintah Republik Indonesia untuk membeli saham perusahaan-perusahaan yang “go public”
melalui pasar modal dan menjualnya kembali kepada masyarakat umum dalam bentuk sertifikat
saham. Karena sahamnya dimiliki oleh PT Danareksa, maka hak suara atas saham tersebut juga
berada pada PT Danareksa. Pemilik sertifikat saham tidak memiliki hak suara dalam PT.

 Saham prioritas

Saham yang mempunyai beberapa kelebihan, biasanya dihubungkan dengan pembagian


deviden dan pembagian aktiva pada saat perusahaan dilikuidasi. Dalam hal pembagian deviden
adalah bahwa deviden yang dibagi pertama kali harus dibagikan untuk saham prioritas, kalau ada
kelebihan baru dibagikan kepada pemegang saham biasa.

Ada beberapa kelebihan yang dimiliki saham prioritasnya yaitu:

 Saham Prioritas Kumulatif dan tidak Kumulatif

Saham prioritas kumulatif adalah saham prioritas yang devidennya setiap tahun harus
dibayarkan kepada pemegang saham. Jika dalam suatu tahun deviden tidak dapat dibayar, maka
pada tahun-tahun berikutnya deviden yang belum dibayar harus dilunasi lebih dulu, sehingga
dapat mengadakan pembagian deviden untuk saham biasa. Saham prioritas tidak kumulatif
adalah deviden tahun-tahun sebelumnya yang belum dibayar tidak perlu dilunasi pada tahun-
tahun berikutnya. Jika akan membayar deviden untuk saham biasa, kewajibannya hanya
membayar deviden saham prioritas untuk tahun tersebut.

 Saham prioritas berpartisipasi dan tidak berpartisipasi

Saham prioritas berpartisipasi adalah jika saham prioritas berhak atas deviden dengan
jumlah yang sama besar dengan saham biasa sesudah saham biasa mendapat deviden sebesar
persentase deviden saham prioritas. Saham prioritas tidak berpartisipasi adalah saham prioritas
akan mendapat deviden sampai jumlah tertentu (dinyatakan dalam %) yang ditetapkan sesudah
saham biasa mendapat deviden dengan tarif yang sama dengan saham prioritas.

 Saham Prioritas atas aktiva dan dividen pada saat likuidasi

Saham dengan preferensi seperti ini pada saat likuidas akan tetap menerima dividen yang
belum bayar, walaupun saldo laba tidak dibagi mencukupi. Sesudah pelunasi dividennya, saham
prioritas ini dilunasi. Jika saldo laba tidak dibagi tidak mencukupi maka pelunasan dividen dan
nominal saham prioritas dilakukan dari modal yang disetor dari saham yang biasa. Saham biasa
yang pelunasannya jatuh pada urutan terakhir akan menerima jumlah pengembalian sebesar sisa
modal disetor yang masih ada. Dapat terjadi sisanya nol sehingga saham biasa tidak memperoleh
pengembalian.

 Saham prioritas yang dapat ditukar dengan Saham Biasa

Kadang – kadang saham prioritas mempunyai preferensi dapat ditukar dengan saham
biasa pemegang saham prioritas jenis ini akan menukarkan sahamnya dengan saham biasa dalam
keadaan dividen yang dibagi untuk saham biasa tiap tahunnya lebih besar dari pada dividen
untuk saham prioritas. Apabila keaadaan seperti yang disebutkan diatas diperkirakan akan
berlangsung terus maka lebih menguntungkan memiliki saham biasa dari pada saham prioritas
karena saham biasa mempunyai klaim yang tidak terbatas atas laba.

PENCATATAN MODAL SAHAM

Pencatatan transaksi modal saham dapat dilakukan dengan menggunakan 2 metode, yaitu :

 Modal saham dicatat sebesar nominal saham yang diotoritaskan

Pada saat diputuskan untuk menerbitkan saham baru, maka sebesar nilai nominal saham –
saham yang diterbitkan pada perkiraan “modal saham diotoritaskan” dan dikreditkan pada
perkiraan “modal saham”.
 Modal saham dicatat sebesar nominal saham terjual

Pada saat modal saham dicetak tidak perlu ada jurnal cukup dibuatkan catatan dalam
bentuk memorial dan pencatatan modal baru dilakukan apabila saham telah terjual.

PEMBATALAN PESANAN SAHAM

Saham yang sudah di pesan, jumlah lembarnya disisihkan tersendiri dan akan di serahkan
kepada pemesan bila harga jual saham sudah dilunasi. Apabila terjadi pemesanan tidak dapat
melunasi kekurangan pembayarannya maka perusahaan dapat mengambil salah satu jalan
sebagai berikut:

1. Uang yang sudah diterima dikembalikan pada pemesan.


2. Uang yang sudah diterima dikembalikan pada pemesan sesudah dikurangi biaya atau
kerugian penjualan kembali saham-saham tersebut.
3. Uang yang sudah diterima dianggap hilang (tidak dikembalikan).
4. Mengeluarkan saham yang nilainya sama dengan jumlah uang yang sudah diterima.

PENJUALAN SAHAM SECARA LUPSUM

Unit saham ini terdiri dari beberapa jenis saham. Apabila penjualan dilakukan dengan
cara seperti ini maka penerimaan dari penjualan akan dibagikan untuk setiap jenis saham. Dalam
penjualan cara ini dasar pembagiannya adalah harga pasar dari saham tersebut. Metode yang
dapat digunakan adalah Metode Inkremental dan Metode Proporsional. Bila harga pasar kedua
jenis saham diketahui maka perhitungannya menggunakan metode Proporsional. Namun apabila
hanya harga salah satu jenis saham saja yang diketahui maka digunakan metode Inkremental.

PERTUKARAN SAHAM DENGAN AKTIVA SELAIN KAS

Kadang – kadang modal saham dikeluarkan dengan menerima aktiva (selain dari kas).
Dalam keadaan seperti ini besarnya jumlah yang akan dicatat dalam rekening modal dan
rekening aktiva didasarkan pada yang lebih mudah ditentukan dari harga pasar saham yang di
keluarkan atau nilai wajar aktiva yang diterima.

PSAK No.21 paragraf 13 (f) menyatakan bahwa saham dicatat berdasarkan nilai wajar
aktiva bukan kas yang diterima (butir b). Apabila kedua penilaian diatas tidak dapat ditentukan,
biasanya dilakukan penilaian terhadap aktiva yang diterima. Penilaian ini bisa juga dilakukan
oleh pimpinan perusahaan. Kecendrungan yang sering terjadi jika penilaian dilakukan oleh
pimpinan perusahaan adalah menghindari adanya disagio saham, sehingga aktiva dan modal
saham akan dicatat terlalu besar maka modal saham itu disebut “watered”. Tetapi jika dicatat
terlalu kecil maka neraca yang disusun mengandung “cadangan rahasia”.

BONUS YANG BERUPA SAHAM

Agar penjualan obligasi atau saham prioritas bisa menarik pembeli, kadang – kadang
diberikan saham biasa sebagai bonus.

PERLAKUAN TERHADAP AGIO ATAU DISAGIO SAHAM YANG DIJUAL

Dalam hal penjualan saham dengan harga di atas atau di bawah nilai nominal, maka
selisih itu akan dicatat di dalam rekening giro atau disagio saham. Rekening (akun) agio saham
dipakai untuk mencatat kelebihan harga di atas nilai nominalnya sedang rekening disagio saham
dipakai untuk mencatat kekurangan harga dari nilai nominal saham. Rekening – rekening agio
atau disagio saham adalah rekening yang menunjukan modal yang disetor dari pemegang saham,
oleh karena itu selama saham – saham tersebut masih beredar maka rekening itu juga akan
nampak dalam neraca. Di dalam neraca rekening agio saham merupakan tambahan terhadap
rekening modal saham dan rekening disagio saham merupakan pengurangan terhadap rekening
modal saham. Apabila saham yang beredar ditarik,maka rekening agio dan disagio saham yang
berhubungan dengan saham tersebut dibatalkan.

PUNGUTAN TAMBAHAN ATAS SAHAM (ASSESSMENTS)

Dalam suatu keadaan tertentu perusahaan bisa mengadakan pungutan tambahan kepada
para pemegang saham. Pencatatn terhadap pungutan tambahan ini tergantung pada harga jual
saham – saham tersebut. Apabila saham – saham itu dulu dujual dibawah nominal (dengan
disagio) maka pungutan tambahan yang dikenakan kepada para pemegang saham di catat sebagai
berikut:

Kas Rp.xxxx

Disagio saham Rp.xxxx

Rekening giro saham akan dikredit maksimum sebesar disagio yang timbul dari
penjualan saham. Jika pungutan lebih besar dari pada disagio maka selisihnya akan dikreditkan
ke rekening modal pungutan tambahan. Tetapi apabila penjualan saham dulunya tidak di bawah
nominal maka pungutan tadi semuanya akan dikreditkan ke rekening modal pungutan tambahan.
PENGELUARAN SAHAM UNTUK MEMBELI (AKUISISI) PERUSAHAAN

Sebuah PT bisa membeli (akuisisi) perusahaan lain dan di gabungkan (merger) menjadi
satu. Pembelian ini dapat dibayar dengan saham dari PT tersebut. Jumlah saham akan dipakai
untuk pembayaran tergantung pada harga pasar saham tersebut dan juga harga pasar dari aktiva
perusahaan yang dibeli.

Kadang – kadang perusahaan yang diakuisisi dinilai lebih tinggi dari pada harga pasar
aktivanya, hal ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, antara lain kemampuan perusahaan itu
dalam memperoleh laba. Selisih harga pasar aktiva yang diakuisisi dengan jumlah harga
pembelian yang disetujui dicatat sebagai goodwill.

Kadang–kadang perusahaan – perusahaan perseorangan bergabung untuk membentuk


suatu PT. Masing – masing perusahaan akan menerima saham dari PT tersebut sebagai ganti
aktiva yang diserahkan kepada PT baru. Bisa juga sebuah perusahaan perseorangan berganti
bentuk menjadi PT. Apabila perusahaan yang lama itu berbentuk firma maka para anggota firma
tersebut akan menerima saham dari PT yang baru sebanding dengan modal masing – masing
anggota. Dalam keadaan ini ada 2 cara pencatatan yang dapat dilakukan:

1. Buku – buku perusahaan lama diperlanjutkan sebagai buku perusahaan baru.


2. Buku – buku perusahaan lama ditutup dan dibuat buku baru untuk perusahaan baru.

MODAL SAHAM (Lanjutan)

KLASIFIKAS MODAL PT

Pada waktu berdirinya PT, modalnya diperoleh dari penjualan saham. Modal saham ini
tercantum dalam akta pendirian perusahaan. Walaupun tercantum dalam akta, perusahaan masih
dapat mengubah jumlah modal sahamnya sesudah perusahaan itu berjalan. Perubahan-
perubahan yang mungkin terjadi dalam modal saham adalah:

 Pembelian kembali saham yang beredar, untuk sementara waktu atau selamanya.
 Penukaran saham yang beredar dengan jenis saham yang lain, atau mungkin juga
dilakukan reorganisasi yang menyeluruh terhadap struktur modal dan,
 Emisi saham baru.

TREASURY STOCK

Merupakan saham perusahaan yang dibeli kembali dari peredaran untuk sementara
waktu. Pembelian kembali saham yang beredar sebagai treasury stock bisa terjadi karena
berbagai alasan yaitu untuk menaikkan harga pasar saham; akan dijual kembali pada karyawan
perusahaan; akan dibagikan sebagai dividen; untuk menukar surat-surat berharga perusahaan
lain, dan sebagainya.

PENCATATAN TRANSAKSI TREASURY STOCK

Ada beberapa pendekatan yang digunakan dalam pencatatan transaksi Treasury Stock.
Pendekatan-pendekatan itu merupakan dasar dari metode pencatatan treasury stock sebagai
berikut:

 Pembelian treasury stock dipandang sebagai penghentian peredaran sebagian saham yang
beredar dan metode pencatatannya disebut metode nilai nominal.
 Pembeliaan treasury stock dipandang sebagai tambahan terhadap elemen modal yang
belum ditentukan penyelesaiannya. Metode pencatatannya disebut metode harga
perolehan.

PEMBATASAN LABA TIDAK DIBAGI UNTUK PEMILIKAN TREASURY STOCK

Agar modal disetor itu tidak menjadi lebih kecil, maka pembelian treasury stock harus
mempertimbangkan saldo yang ada dalam rekening laba tidak dibagi. Untuk menjaga supaya
laba tidak dibagi tidak diminta oleh pemegang saham (sebagai dividen), maka jika perusahaan
membeli sahamnya sebagai treasury stock, laba tidak dibagi akan dibatasi sebesar Treasury
stock yang dibeli. Pembatasan laba tidak dibagi ini adalah untuk menjaga agar modal yang
disetor tidak berkurang, karena modal yang disetor itu merupakan jaminan bagi kreditur.

Prosedur-prosedur yang dapat digunakan untuk melaporkan pembatasan laba tidak dibagi
dalam neraca sebagai berikut (digunakan metode harga perolehan untuk mencatat treasury
stock):

(a) pembatasan laba tidak dibagi ditunjukkan terpisah dari laba tidak dibagi yang masih
bebas,
(b) pembatasan laba tidak dibagi dijelaskan dengan keterangan,
(c) pembatasan laba tidak dibagi dijelaskan dengan footnote (catatan kaki).

TREASURY STOCK DITERIMA SEBAGAI SUMBANGAN

Pemegang saham bisa menyumbangkan kembali saham kepada perusahaan. Sumbangan ini bisa:

(a) untuk menambah modal kerja yang dibutuhkan yaitu dengan cara perusahaan menjual
kembali saham yang disumbangkan tersebut,
(b) sebagai hadiah untuk perusahaan,
(c) menunjukkan pengembalian saham karena adanya penilaian yang terlalu tinggi terhadap
aktiva yang diserahkan untuk menukar saham tersebut.

Saham yang diterima sebagai sumbangan ini dikelompokkan sebagai treasury stock. Ada
3 metode yang dapat digunakan untuk mencatat penerimaan sumbangan saham ini, yaitu:

(1) saham yang diterima dicatat dengan catatan memo (jika tidak ada biaya yang terjadi
ketika menerima sumbangan ini),
(2) treasury stock didebit dengan harga pasar saham kepada pada saat penerimaan dan
dikreditkan ke rekening modal sumbangan,
(3) rekening treasury stock didebit dengan jumlah nominal atau nilai yang dinyatakan
agio/disagionya (sejumlah lembar yang diterima) juga dibatalkan dan kreditnya adalah
rekening modal sumbangan.

HAK YANG DIBERIKAN PADA PEMBELI SURAT BERHARGA JENIS LAIN

Untuk mendorong penjualan suatu jenis surat berharga, perusahaan bisa memberi kepada
pembeli hak untuk membeli surat berharga lain.

HAK BELI SAHAM YANG DIBERIKAN PADA PEGAWAI PERUSAHAAN

Perusahaan bisa memberikan hak beli pada pegawai-pegawainya untuk membeli saham
di masa yang akan datang dengan harga yang sudah ditentukan. Hak ini disebut stock option.
Pemberian hak pada pegawai ini dimaksudkan untuk memberikan kompensasi tambahan untuk
jasa-jasa yang sudah dan yang akan diberikan, juga agar pegawai dapat ikut memiliki perusahaan
tempatnya bekerja. Biasanya hak ini diberikan dengan kelonggaran bahwa pembelian bisa
dilakukan selama suatu periode tertentu. Apabila ada kenaikan harga pasar saham selama periode
pembelian itu maka kenaikan di atas harga beli berdasar hak beli tadi merupakan tambahan
kompensasi bagi pegawai. Biasanya hak beli untuk pegawai ini dibatasi agar tidak dapat dijual
pada pihak lain. Pengeluaran hak beli saham dan penggunaannya untuk membeli saham akan
dicatat dalam buku. Hak beli saham/jumlah kompensasi adalah selisih antara harga pasar saham
“pada tanggal pemberian hak itu kepada pegawai” dengan harga penjualan dengan menggunakan
hak beli saham.

PERTUKARAN SAHAM

Jika saham perusahaan itu adalah “convertible stock” maka pemegang saham akan dapat
menukarkan saham yang dimilikinya dengan saham jenis lain. Jurnal yang dibuat untuk mencatat
pertukaran saham ini tergantung pada nilai nominal saham yang akan dipakai sebagai penukar
dan harga jual saham yang akan ditukarkan.

PERUBAHAN NILAI NOMINAL (REKAPITALISASI)

Apabila seluruh saham PT diubah nilai nominalnya, maka tindakan ini disebut
rekapitalisasi. Perubahan nilai nominal ini akan mengubah juga akta pendirian perusahaan dan
harus disetujui oleh para pemegang saham. Dalam rekapitalisasi, rekening modal saham yang
lama ditutup dan diganti dengan rekening modal saham yang baru. Rekening agio saham yang
timbul dari saham lama juga ditutup dan diganti dengan agio saham modal yang baru. Apabila
modal saham baru nilainya lebih besar dari modal saham lama maka selisihnya didebitkan ke
rekening laba tidak dibagi, tetapi bila saham baru nilainya lebih kecil dari saham lama maka
selisihnya dikreditkan pada agio saham baru.

Apabila rekapitalisasi merupakan usaha untuk menghilangkan defisit atau untuk


menurunkan nilai aktiva maka disebut kuasi-reorganisasi atau corporate readjustment.

PEMECAHAN SAHAM (STOCK SPLIT-UPS)

Perusahaan dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu bisa memecah sahamnya


menjadi saham yang nominalnya lebih kecil. Di sini saham yang beredar ditarik kembali dan
ditukar dengan saham yang nominalnya lebih kecil. Misalnya nominal saham @Rp 1000,00,
perusahaan memutuskan untuk memecah tiap lembar menjadi 2 lembar saham baru dengan nilai
nominal @ Rp 500,00. Pemegang saham akan menerima saham baru, untuk menukar saham
lama dengan perbandingan 2:1. Prosedur ini dsebut split-ups. Kadang-kadang saham lama
diganti dengan saham baru yang nominalnya lebih besar. Misalnya saham lama nominalnya Rp
1000,00, ditarik dan ditukar dengan saham baru, nominal Rp 2000,00. Pemegang saham akan
menerima saham baru 1 lembar untuk menukar 2 lembar saham lama. Prosedur ini disebut split-
down atau reverse-split. Dengan adanya split-ups atau split-down, saldo modal tidak berubah,
yang berubah hanya jumlah lembar yang beredar. Prosedur ini bisa dicatat dengan cara memo
atau dibuat jurnal untuk menutup rekening modal saham lama dan membuka rekening modal
saham baru.
Laba Tidak Dibagi
Laba tidak dibagi merupakan modal yang berasal dari perusahaan yaitu kumpulan laba dan
rugi sampai saat tertentu sesudah dikurangi dividen yang dibagi dan jumlah yang
dipindahkan ke rekening modal. Laba rugi ini dapat berasal dari laba rugi usaha, laba rugi
kegiatan yang tidak rutin seperti laba penjualan aktiva tetap, dan koreksi terhadap laba tahun -
tahun yang lalu. Apabila rekening laba tidak dibagi menunjukan saldo debit maka disebut
defisit.
Laba tidak dibagi dapat digunakan untuk beberapa tujuan sebagai berikut:
- Pembagian dividen
- Pembelian treasury stock
- Pembatasan laba tidak dibagi untuk tujuan-tujuan tertentu (appropriations)
- Rekapitalisasi
- Penyerapan kerugian

Pencatatan laba tidak dibagi hendaknya dipisahkan dari modal setor agar dapat diketahui
sumber masing-masing modal. Walaupun laba tidak dibagi itu sebagian jumlahnya sudah
dibatasi penggunaannya, tetapi keduanya tetap termasuk dalam jumlahlaba tidak dibagi.
Dalam neraca jumlah laba tidak dibagi terdiri dari 2 golongan rekening yaitu lada tidak
dibagi yang masih bebas dan laba tidak dibagi yang sudah tujuan penggunaan.

2.2 Dividen
Dividen adalah pembagian kepada pemegang saham PT yang sebanding dengan jumlah
lembar yang dimiliki. Dividen biasanya dibagiakan dengan interval waktu yang tetap namun
kadang-kadang diadakan pembagian dividen tambahan pada waktu yang bukan biasanya.
Apabila dividen yang dibagikan itu berbentuk selain uang tunai maka akan dicatat dengan
judul yang sesuai. Jika digunakan istilah dividen saja, maka yang dimaksudkan adalah
dividen kas. Pembagian dividen pada para pemegang saham dapat berakibat sebagai berikut:
- Pembagian aktiva PT dan penurunan dalam jumlah modal PT seperti dalam hal dibiden kas,
aktiva selain kas, atau dividen likuidasi.
- Timbulnya suatu utang dan suatu penurunan dalam jumlah modal PT seperti dalam hal
dividen utang atau dividen kas yang sudah diumumkan tetapi belum dibayar.
- Tidak ada perubahan dalam aktiva, utang atau jumlah modal PT, tetapi hanya menimbulkan
perubahan komposisi masing-masing elemen dalam modal PT seperti dalam hal dividen
saham.
Dividen yang dibagi oleh perusahaan bisa mempunyai beberapa bentuk sebagai berikut:
1. Dividen kas
Dividen yang paling umum dibagikan oleh PT adalah dividen dalam bentuk kas. Yang perlu
diperhatikan oleh pimpinan perusahaan sebelum membuat pengumuman adanya dividen kas
ialah apakah jumlah uang kas yang ada mencukupi untuk pmbagian dividen tersebut.
Contoh:
Misalnya PT Rsa Fadila pada tanggal 20 desember 2005 mengumumkan pembagian dividen
sebesar Rp 1.000,00 untuk setiap lembar saham biasa dan akan dibayar tanggal 20 januari
2006 pada pemegang saham yang terdaftar pada tanggal 10 januari 2006. Saham biasa yang
beredar sebanyak 1.000 lembar. Jurnal yang dibuat PT Risa Fadila untuk mencatat bagian
dividen diatas adalah:
Tanggal pengumuman (20 desember 2005)
Laba tidak dibagi Rp 1.000.000,00
Utang dividen kas Rp 1.000.000,00
Tanggal pembayaran (20 januari 2006)
Utang dividen kas Rp 1.000.000,00
Kas Rp 1.000.000,00
Dalam neraca yang disusun pada tanggal 31 desember 2005, utang dividen kas dilaporkan
dalam kelompok utang lancar karena akan segera dilunasi.

2. Dividen aktiva selain kas (property dividends)


Aktiva yang dibagikan bisa berbentuk surat-surat berharga perusahaan lain yang dimiliki
oleh PT, barang dagang atau aktiva-aktiva lain. Pemegang saham akan mencatat dividen
yang diterimanya ini sebesar pasar aktiva tersebut. Akan tetapi PT yang membagi property
dividends akan mencatat dividen ini sebesar nilai buku aktiva yang dibagikan.
Contoh:
PT Bahtera mempunyai 10.000 lembar saham PT XYZ, dengan harga perolehan sebesar Rp
1.100.000,00. Saham PT Bahtera yang beredar sebanyak 10.000 lembar. Pada tanggal 15
desember 2005 diumumkan pembagian property dividends dimana setiap lembar saham PT
Bahtera akan menerima 1 lembar saham PT XYZ, pembagiannya pada tanggal 15 januari
2006 sebesar Rp 125,00 per lembar. Jurnal yang dibuat oleh PT Bahtera adalah
15 desember 2005
Laba tidak dibagi Rp 1.100.000,00
Utang dividen saham PT XYZ Rp 1.100.000,00
15 januari 2006
Utang dividen saham PT XYZ Rp 1.100.000,00
Investasi dalam saham PT XYZ Rp 1.100.000,00
3. Dividen utang (scrip dividends)
Utang dividen timbul apabila laba tidak dibagi itu saldonya mencukupi untuk pembagian
dividen, tetapi saldo kas yang ada tidak cukup. Oleh karena itu PT akan mengeluarkan scrip
dividends yaitu janji tertulis untuk membayar jumlah tertentu diwaktu yang akan datang.
Scrip dividends ini mungkin berbunga, mungkin juga tidak.
Contoh:
PT ABC mengumumkan pembagian scrip dividends sebesar Rp 1.000.000,00 bunga 10%
jatuh tempo 3 bulan kemudian. Jurnal yang dibuat PT ABC sebagai berikut.
Laba tidak dibagi Rp 100.000,00
Utang dividen scrip Rp 100.000,00
Ketika jatuh tempo scrip dan bunganya dilunasi dengan jurnal:
Utang dividen scrip Rp 100.000,00
Biaya bunga RP 2.500,00
Kas Rp 102.500,00
Perhitungan :
Biaya bunga= 3/12 x 10% x Rp 100.000,00 = Rp 2.500,00

4. Dividen likuidasi
Dividen likuidasi adalah dividen yang sebagian merupakan pengembalian modal. Dividen
likuidasi ini dapat dicatat dengan mendebit rekening pengemba\lian modal yang dalam
neraca dilaporkan sebagai pengurang modal saham. Dalam perusahaan yang memiliki
wasting assets yang tidak akan diganti, bisa membagi dividen likuidasi secara periodik.
Biasanya modal yang dikembalikan adalah sebesar deplesi yang diperhitungkan untuk
pertiode tersebut. Apabila perusahaan membagi saham likuidasi, maka para pemegang saham
harus diberitahu mengenai berapa jumlah pembagian laba dan berapa yang merupakan
pengembalian modal, sehingga para pemegang saham dapat mengurangi rekening
investasinya.

5. Dividen saham
Dividen saham adalah pembagian tambahan saham, tanpa dipunggut pembayaran kepada
para pemegang saham, sebanding dengan saham-saham yang dimilikinya.
Dividen saham dapat dibagikan sebagai berikut:
o Dividen saham berupa saham yang jenisnya sama, misalnya dividen saham biasa untuk
pemegang saham biasa, atau dividen saham prioritas untuk pemegang saham prioritas,
disebut dividen saham biasa.
o Divden saham berupa saham yang jenisnya berbeda, misalnyta dividen saham prioritas untuk
pemegang saham biasa atau dividen saham biasa untuk pemegang saham prioritas, disebut
dividen saham spesial (khusus).
Ada beberapa keadaan atau alasan-alasan yang membenarkan pembagian dividen saham,
antara lain:
- Keinginan pimpinan perusahaan untuk menahan laba secara tetap yaitu dengan
mengkapitalisasi sebagian laba tidak bidagi. Akibat adanya dividen saham ialah menaikan
jumlah modal setor yaitu dengan cara membebani rekening laba tidak dibagi dan dikreditkan
ke rekening modal saham.
- Untuk dapat membagi dividen tanpa pembagian aktiva yang diperlukan untuk modal kerja
atau ekspansi.
- Untuk menaikan jumlah lembar saham yang beredar, sehingga harga pasarnya akan
menurun. Akibatnya yang lain adalah untuk mendorong perdagangan saham.
Yang perlu diketahui bahwa dividen saham ini berbeda dengan pemecahan saham. Karena
dalam pemecahan saham tidak ada perubahan struktur modal. Tetapi dalam dividen saham
terjadi perubahan struktur modal, walaupun jumlah modal keseluruhan tidak berubah. Dalam
dividen saham, nilai nominal per lembar tidak berubah, tetapi dalam pemecahan saham nilai
nominal sahanya berubah. Sebagai ilustrasi pembagian dividen saham, diberikan contoh
sebagai berikut:
Modal PT ADA adalah sebagai berikut:
Modal saham prioritas, nominal Rp 2.000,00 beredar 5.000 lembar Rp 10.000.000,00
Modal saham biasa, nominal Rp 1.000,00 beredar 10.000 lembar RP 10.000.000,00
Agio saham prioritas Rp 1.000.000,00
Agio saham biasa Rp 1.500.000,00
Laba tidak dibagi Rp 15.000.000,00

Jumlah Rp 37.500.000,00

Harga pasar per lembar:


Saham prioritas = Rp 2.500,00
Saham biasa = Rp 1.100,00
Untuk mencatat dividen saham, terdapat beberapa harga yang dapat digunakan yaitu
dicatat sebesar harga pasar pada saat saham dibagi, dicatat sebesar nilai nominasi saham, dan
dicatat sebesar harga jual sahamnya dulu sehingga jumlah agio atau disagionya sama.
Contoh:
Diumumkan pembagian dividen saham sebesar 10% untuk pemegang saham biasa. Jurnal
yang dibuat untuk mencatat dividen sebagai berikut:
Laba tidak dibagi Rp 1.100.000,00
Utang dividen saham biasa Rp 1.000.000,00
Agio saham biasa Rp 100.000,00
Pada tanggal pengeluaran:
Utang dividen saham biasa Rp 1.000.000,00
Modal saham biasa Rp 1.000.000,00

Pembagian dividen pada para pemegang saham dapat berakibat sebagai berikut:
- Pembagian aktiva PT dan penurunan dalam jumlah modal PT seperti dalam hal dibiden kas,
aktiva selain kas, atau dividen likuidasi.
- Timbulnya suatu utang dan suatu penurunan dalam jumlah modal PT seperti dalam hal
dividen utang atau dividen kas yang sudah diumumkan tetapi belum dibayar.
- Tidak ada perubahan dalam aktiva, utang atau jumlah modal PT, tetapi hanya menimbulkan
perubahan komposisi masing-masing elemen dalam modal PT seperti dalam hal dividen
saham.

2.3 Akumulasi Dividen dari Saham Prioritas


Dividen saham prioritas yang berakumulasi, sebelum secara resmi diumumkan belum
merupakan PT tetapi supaya jelas, didalam neraca diminta untuk melaporkan adanya
akumulasi dividen tersebut. Cara melaporkan dalam neraca bisa :
a. Catatan kaki (footnote)
b. Laba tidak dibagi yang tidak dibatasi dikurangi dengan jumlah dividen yang belum dibayar
dengan cara sebagai berikut :
Laba tidak dibagi:
Jumlah dividen saham preperen yang belum dibayar Rp100.000,00
Yang tidak dibatasi Rp500.000,00
Jumlah Rp600.000,00

Dividen untuk saham tanpa nilai nominal


Jika saham yang beredar tanpa nominal, maka dividen yang akan dibagikan harus dinyatakan
dalam rupiah dan bukan dalam persentase. Apabila perusahaan ingin mentransfer laba tidak
dibagi ke modal saham, tidak perlu mengumumkan dividen saham tetapi cukup dengan
membuat jurnal sebagai berikut:
Laba tidak dibagi Rpxx
Modal saham Rpxx
2.4 Pembatasan Laba Tidak Dibagi
Seperti yang telah disebutkan dimuka, laba tidakdibagi itu berasal dari kumpulan laba
rugi perusahaan baik yang rutin, tidak rutin atauyang merupakan koreksi laba tahun -tahun
sebelumnya. Dividen yang dibagikan dibebankan ke rekening laba tidak dibagi. Dari waktu
ke waktu dapat dilakukan pembatasan terhadap laba tidal dibagi dengan maksud untuk
menjaga agar tidak semua saldo tidak dibagi diminta sebagai dividen. Pembatasan ini dapat
dilakukan dengan dua cara yaitu :
1. Dengan membuat jurnal untuk mencatat pembatasan laba tidak dibagi,sehingga jumlah laba
yang tidak dibagi terdiri dari dua rekening yaitu rekening laba yang tidak dibagi yang masih
bebas dan laba tidak dibagi yang dibatasi.
2. Tidak membuat jurnal pembatasab laba tidak dibagi.
Dalam cara ini pembatasan-pembatasan yang dilaporkan dalam neraca dalam suatu
keterangan atau catatan kaki. Ada beberapa sebab yang mengakibatkan terjadinya
pembatasan laba tidak dibagi sebagai berikut:
1. Untuk mematuhi peraturan (undang-undang). Biasanya undang-undang seperti ini
dimaksudkan agar tidak terjadi penurunan modal sampai dibawah jumlah modal yang disetor.
Contohnya adalah pembatasan untuk pembelian treasury stock.
2. Untuk memenuhi perjanjian utang seperti dalam hal pengeluaran obligasi dimana debitur
harus membentuk dana pelunasan obligasi dan membatasi laba tidak dibagi.
3. Merupakan tindakan pimpinan perusahaan yang disesuaikan dengan rencana keuangan
perusahaan.
4. Merupakan tindakan pimpinan perusahaan untuk menjaga kemungkinan timbulnya kerugian
di waktu yan akan datang.
Penjelasan sebab no 1 diatas dapat dilihat bab yang dimuka yaitu dalam
pembahasan mengenai treasury stock. Berikut ini dibahas ketiga sebab yang lain.

a. Pembatasan laba tidak dibagi untuk memenuhi perjanjian utang panjang


Agar pengeluaran obligasi dapat lebih menarik kreditur, biasanya dengan perjanjian
yang mewajibkan perusahaan untuk membuat dana pelunasan obligasi yang disimpan oleh
pihak ke tiga. Dana ini bisa merupakan setoran peridik dengan jumlah tertentu, atau mungkin
juga jumlahnya tidak sama. Untuk mengimbangi adanya dana pelunasan obligasi, biasanya
laba tidak dibagi juga diminta untuk dibatasi penggunaannya. Pembatasan laba tidak dibagi
dibuat dalam jurnal yang sama dengan jumlah dana pelunasan obligasi. Bila obligasi yang
beredar itu merupakan obligasi berseri, jumlah pembatasan laba tidak dibagi tidak harus
sama dengan jumlah dana pelunasan obligasi. Pembatasan laba tidak dibagi ini dibuat selama
obligasi masih beredar, sesudah obligasi yang beredar itu dilunasi, pembatasan yang sudah
dilakukan dihapuskan dan dikembalikan ke rekening laba tidak dibagi. Jurnal yang dibuat
untuk mambatasi laba tidak dibagi adalah sebagai berikut:
Laba tidak di bagi Rpxx
Laba tidak dibagi untuk pelunasan obligasi Rpxx

Sesudah obligasi dilunasi pembatasan laba tidak dibagi dihapuskan dengan jurnal
sebagai berikut:
Laba tidak dibagi untuk pelunasan obligasi Rpxx
Laba tidak dibagi Rpxx

Pembatasan laba tidak dibagi dapat juga dilakukan tanpa jurnal seperti diatas, tetapi
dengan memberi keterangan untuk menunjukan jumlah yang dibatasi penggunaannya.

b. Pembatasan laba tidak dibagi untuk perencanaan keuangan


Perusahaan yang mempunyai rencana untuk memperluas kegiatannya, dapat membatasi
laba tidak dibagi supaya tetap bisa ditahan dalam perusahaan. Sesudah ekspansi dilakukan
berarti tujuan pembatasan laba tidk dibagi itu sudah tercapai maka laba tidak dibagi yang
dibatasi dahapuskan dan dikembalikan ke rekening laba tidak dibagi. Pembatasan laba tidak
dibagi untuk tujuan perluasan dapat ditunjukan dalam rekening-rekening sebagai berikut:
 Laba tidak dibagi untuk investasi pabrik
 Laba tidak dibagi untuk modal kerja
 Laba tidak dibagi untuk pembelian mesin
Sesudah tujuan pembatasan ini tercapai, rekening yang dibatasi dikembalikan ke rekening
laba tidak dibagi, berarti jumlahnya dapat diminta sebagai dividen. Untuk manjaga agar
jumlah tersebut dapat tetap menjadi modal perusahaan maka perusahaan dapat membagi
dividen saham.

c. Pembatasan laba tidak dibagi untuk kemungkinan timbulnya kerugian di masa yang
akan datang
Untuk menjaga kemungkinan timbulnya kerugian di masa yang akan dtang pimpinan
perusahaan dapat membatasi laba tidak dibagi dan mencatatnya dalam rekening-rekening
sebagai berikut:
 Laba tidak dibagi untuk ketidakpuasan
 Laba tidak dibagi untuk kemungkinan turunnya harga persediaan
 Laba tidak dibagi untuk kemungkinan kerugian dalam sengketa hukum
 Laba tidak dibagi untuk asuransi diri

Seperti dalam tujuan pembatasan yang lain, pembatasan untuk kemungkinan kerugian
dimasa yang akan datang ini dapat dikerjakan dengan membuat jurnal atau dengan memberi
keterangan tanpa jurnal.
2.5 Pengukuran-Pengukuran Yang Dihitung Dari Laporan Keuangan PT
Dari laporan PT dapat dilakukan beberapa perhitungan yang dipakai sebagai alat
pengukuran terhadap kemampuan perusahaan yaitu:
1. Nilai buku per lembar saham
2. Pendapatan per lembar saham

1. Nilai buku per lembar saham (book value per share)


Yang dimaksud nilai buku saham adalah jumlah rupiah yang menjadi milik tiap-tiap
lembar saham dalam modal PT. nilai buku ini jumlah yang akan dibayarkankepada para
pemegang saha pada waktu pembubaran (likuidasi) PT, jika aktiva dapat dijual sebesar nilai
bukunya.
Apabila saham yang beredar itu hanya satu macam, yaitu saham biasa maka nilai
buku per lembar saham dihitung sebagai berikut:

Jumlah PT
Nilai buku per lembar saham = jumlah lembar saham yang beredar
Sebagai ilustrasi, berikut ini contoh modal dari PT Risa Fadila.
Modal saham , nominal Rp1000,00 1000 lembar beredar Rp1.000.00,00
Agio saham Rp 550.000,00
Laba tidak dibagi Rp 575.000,00
Jumlah Rp2.125.000,00

Nilai buku per lembar = Rp2.125.00,00 = Rp2.125,00


1000 lembar

Apabila ada modal saham dipesan, maka jumlahnya ditambahkan pada modal dan
jumlah lembarnya ditambahkan pada jumlah lembar yang beredar. Jika ada treasury stock,
maka jumlahnya dikurangkan pada modal dan jumlah lembarnya dikurangkan pada jumlah
lembar yang beredar.
Misalnya: modal PT Bahtera sebagai berikut:
Modal saham, nominal Rp1000,00 beredar 1000 lembar
Dibeli sebagi treasury stock 100 lembar Rp1.000.000,00
Modal saham dipesan 300 lembar Rp 300.000,00
Agio saham Rp 425.000,00
Laba tidak dibagi: dibatasi Rp350.000,00
Tidak dibatasi Rp450.000,00
Rp 800.000,00
Rp2.525.000,00
(-) treasury stock, sebesar harga beli Rp 125.000,00
Rp2.400.000,00
Nilai buku per lembar saham = Rp2.400.000,00
100 lembar + 300 lembar - 100 lembar
= Rp2000.00

Apabila saham yang beredar itu terdiri dari saham biasa dan prioritas, maka pertama
kali harus dihitung dulu bagian modal yang menjadi milik saham prioritas. Sisa modal yang
ada menjadi bagian saham biasa. Nilai buku per lembar saham prioritas adalah bagian modal
saham prioritas dibagi dengan jumlah lembar saham prioritas yang beredar. Nilai buku per
lembar saham biasa adalah bagian modal saham biasa dibagi dengan jumlah lembar saham
biasa yang beredar.
menghitung bagian modal yang menjadi milik saham prioritas perlu dipertimbangkan hal –
hal berikut :
1. Nilai likuidasi yaitu jumlah yang akan dibayarkan kepada pemegang saham prioritas pada
saat perusahaan dilikuidasi. Nilai ini bisa dibawah nominal, sama dengan nominal at au lebih
besar dari nominal.
2. Hak dividen. Saham prioritas mungkin mempunyai hak – hak tertentu, misalnya hak atas
laba tidak dibagi sesuai dengan perjanjian tentang dividen. Dalam keadaan seperti ini, maka
laba tidak dibagi sebesar jumlah yang sesuai dengan perjanjian akan dihubungkan dengan
saham prioritas. Kadang – kadang saham prioritas itu bersifat kumulatif atau berpartisipasi,
jika keadaannya seperti ini maka harus dihitung berapa besarnya laba tidak dibagi yang harus
diperhitungkan terhadap saham prioritas.
Sebagian ilustrasi perhitungan nilai buku saham prioritas dan biasa, berikut ini
diberikan beberapa contoh, yang dasarnya adalah modal PT ADA per 31 Desember 2005
sebagai berikut :
Modal saham biasa, 10.000 lembar, nominal @ Rp 500,00 Rp 5.000.000,00
Laba tidak dibagi Rp 750.000,00
Rp 6.750.000,00
Contoh 1:
Dividen saham prioritas yang belum dibayar adalah mulai 1 juli 2005. Nilai likuidasi
saham prioritas Rp 1.100,00. Saham prioritas berhak atas dividen yang belum diterima. Nilai
buku saham pada tanggal 31 Desember 2005 dihitung sebagai berikut :
Jumlah modal Rp 6.750.000,00
Modal untuk saham prioritas :
Nilai likuidasi : Rp 1.100,00 x 1.000 lembar = Rp 1.100.000,00
Nilai dviden : 6/ 12 x 10% x Rp 1.000.000,00 = Rp 50.000,00

Rp 1.150.000,00
Modal untuk saham biasa =Rp 5.600.000,00
Nilai buku per lembar :
Prioritas = Rp 1.150.000,00 : 1.000 lembar = Rp 1.150,00
Biasa = Rp 5.600.000,00 : 10.000 lembar = Rp 560,00
Contoh 2:
Nilai likuidasi saham prioritas Rp 1.100,00. Saham prioritas adalah kumulatif dan
dividen yang belum dibayar adalah sejak tahun 2001. Perhitungan nilai buku saham sebagai
berikut :
Jumlah modal Rp 6.750.000,00
Modal untuk saham prioritas :
Nlai likuidasi = Rp 1.100,00 x 1.000 lembar = Rp 1.100.000,00
Dividen = 5 tahun x 10% x Rp 1.000.000,00 =Rp
500.000,00 Rp 1.600.00
0,00
Modal untuk saham biasa Rp 5.150.000,00
Nilai buku saham per lembar :
Prioritas = Rp 1.600.000,00 : 1.000 lembar = Rp 1.600,00
Biasa = Rp 5.150.000,00 : 10.000 lembar = Rp 515,00

Contoh 3:
Nilai likuidasi saham prioritas Rp 1.000,00. Saham prioritas adalah kumulaif dan
dividen yang belum dibayar adalah sejak tahun 1998. Dividen selama 8 tahun ini tetap
diperhitungkan walaupun akan mengurangi modal untuk saham biasa sampai dibawah nilai
nominalnya. Perhitungan nialai buku saham sebagai berikut :
Jumlah modal Rp 6.750.000,00
Modal untuk saham prioritas :
Nilai likuidasi = Rp 1.000,00 x 1.000 lembar = Rp 1.000.000,00
Dividen (98 s.d 05) =
8 tahun x 10% x Rp 1.000.000 = Rp 800.000,00
Rp 1.800.000,00
Modal untuk saham Rp 4.950.000,00
Nilai buku saham per lembar :
Prioritas = Rp 1.800.000,00 : 1.000 lembar = Rp 1.800,00
Biasa = Rp 4.900.000,00 : 10.000 lembar = Rp 495,00
Contoh 4 :
Misalnya nilai likuidasi saham prioritas Rp 1.000,00. Dividen saham prioritas ½ tahun
pertama tahun 2005 sudah dibayar. Saham prioritas berpartisipasi penuh dengan saham biasa,
sesudah saham biasa menerima dividen dengan persentase yang sama dengan saham
prioritasi. Laba tidak dibagi yang menjadi bagian saham prioritas dan saham biasa dihitung
sebagai berikut :
Jumlah Prioritas Biasa
Saldo laba tidak dibagi Rp 750.000,00
Dividen prioritas = 6/12 x 10%x Rp 1.000.000,00 = 50.000,00 Rp 50.000,00
Rp 700.000,00
Dividen saham biasa 10% x Rp 5.000.000,00 = 500.000,00 Rp 500.000,00
Rp 200.000,00
Saldo dibagikan ke prioritas dan biasa dengan tarif

3,33% ( = 200.000 x 100% ) = 200.000,00 33.333,00 166.666,00


600.000
Rp 0,00 Rp 83.333,00 Rp666.666,00

Nilai buku dihitung sebagai berikut Rp6.750.000,00


Jumlah modal
Modal untuk prioritas :
Nilai likuidasi = 1.000 x Rp 1.000,00 = Rp 1.000.000,00
Dividen dan laba tidak dibagi = 83.333,00

Modal untuk saham prioritas 1.083.000,00

Modal untuk saham biasa Rp


5.666.666,00

Nilai buku saham per lembar =


Prioritas = Rp 1.083.333,00 : 1.000 lembar = Rp 1.083,33
Biasa = Rp 5.666.666,00 : 10.000 lembar = Rp 566,67
2.6 Laba Perlembar Saham (Earnings Per Share/ Eps)
Yang dimaksud dengan laba per lembar saham adalah jumlah pendapatan yang
diperoleh dalam suatu periode untuk tiap lembar saham yang beredar. Informasi mengenai
laba perlembar saham dapat digunakan oleh pimpinan perusahaan untuk menentukan dividen
yang akan dibagikan. Informasi ini juga berguna bagi investor untuk mengetahui
perkembangan perusahaan. Apabila dividen yang dibayarkan pada setiap lembar saham
dibandingkan dengan pendapatan perlembar saham dalam periode yang sama, maka akan
diperoleh persentase pembayaran (pay out percentage/ devidend payout ratio)
Perhitungan laba per lembar saham diatur dalam SAK No. 56 yang menyatakan ada
dua macam laba per lembar saham yaitu :
1. Laba per saham dasar (LSP dasar) adalah jumlah laba paada suatu periode yang tersedia
untuk setiap saham biasa yang beredar dalam periode pelaporan.
2. Laba per saham dilusian (LPS dilusian) adalah jumlah laba suatu periode yang tersedia
untuk setiap saham biasa yang beredar selama periode pelaporan dan efek lain yang
asumsinya diterbitkan bagi semua efek berpotensi saham biasa yang sifatnya dilutif yang
beredar sepanjang periode pelaporan.

a. Laba per Saham Dasar


Laba per saham dasar dihitung dengan memnagi laba atau rugi yang tersedia bagi
pemegang saham biasa ( laba bersih residual ) dengan jumlah rata – rata tertimbang saham
biasa yang beredar dalam suatu periode. Laba bersih residual adalah laba bersih (setelah
dikurangi beban pajak, pos luar biasa dan hak pemegang saham minoritas) dikurangi dengan
dividen saham utama yang meliputi :
1. Dividen saham utama (prioritas) bukan kumulatif yang di umumkan pada periode yan g
bersangkutan.
2. Dividen saham utama (prioritas) kumulatif yang terkumulasi pada periode yang
bersangkutan, baik dividen tersebut sudah atau belum diumumkan.
Rumus LPS dasar adalah :

Laba per saham dasar = laba bersih – dividen sahm prioritas


Rata – rata tertimbang saham yang beredar
Apabila terdapat transaksi yang mengubah jumlah saham biasa, maka jumlah rata –
rata tertimbang saham biasa harus disesuikan. Contoh transaksi yang mengubah jumlah
saham biasa adalah :
1. Pembagian divedin saham biasa dan saham bonus
2. Penerbitan hak memesan lebih dulu (right issue) untuk pemegang saham lama.
3. Pemecahan saham (stock splits)
4. Penggabungan saham.
Contoh 1:
PT Maju mempunyai modal saham biasa yang beredar dalam tahun 2005 sebanyak
1.000 lembar. Pendapatan bersih dalam tahun 2005 sebesar Rp 1.500.000,00. Semua saham
sudah beredar sejak awal tahun 2005 dan tidak ada saham prioritas. Pendapatan per lembar
saham RT Maju untuk tahun 2005 sebesar :
Rp 1.500.000,00 – 0 = Rp 1.500,00
1.000 lembar

Contoh 2:
PT Baru mempunyai modal sebagai berikut : saham biasa (beredar) sebanyak 1.500
lembar. Saham prioritas, nominal Rp 1.000,00 per lembar, beredar sebanyak 500 lembar.
Dividen saham prioritas sebesar 10%. Pendapatan bersih tahun 2005 sebesar Rp
2.000.000,00. Perincian mengenai saham biasa adalah sebagai berikut : 1 Januari 2005,
beredar 1.000 lembar. 1 Juli 2005, emisi baru sebanyak 500 lembar.
Untuk dapat menghitung laba per lembar saham, pertama kali perlu dihitung rata – rata
tertimbang saham biasa yang beredar. Perhitungan sebagai berikut :

Jumlah Laba Peredaran Bobot Rata – rata


Saham (Bulan) (Weight) Tertimbang
1.000 6 6/12 = 1/2 500
1.500 6 6/12 = 1/2 750
Jumlah rata – rata tertimbang 1.250

Laba per lembar saham dasar = Rp 2.000.000,00 – 50.000*)


1.250
= Rp 156,00.
*) Dividen saham prioritas = 500 lembar x Rp 1.000,00 x 10% = Rp 50.000,00.

b. Laba per Saham Dilusian


Menurut SAK No. 56, dalam menghitung laba per saham dilusian, laba bersih residual
dan jumlah rata – rata tertimbang saham biasa beredar harus disesuaikan dengan
memperhitungkan dampak dari semua efek berpotensi saham biasa yang dilutif. Yang
dimaksud dilution (dilutif) adalah pengurangan terhadap EPS yang diakibatkan oleh
anggapan bahwa convertible securities sudah ditukarkan atau options dan warrants sudah
digunakan atau saham – saham lain sudah dikeluarkan untuk memenuhi persyaratan –
persyaratan tertenttu.
Adapun contoh efek berpotensi saham biasa adalah :
1. Efek utang (debt security) atau instrumen ekuitas selain saham biasa yang dapat ditukar
dengan saham biasa.
2. Waran atau opsi saham, yaitu instrumen keuangan yang memberikan hak kepada pemiliknya
untuk membeli saham biasa dengan harga tertentu dan dalam periode (jangka waktu)
tertentu.
3. Kebijakan kepegawaian yang memberikan hak kepada karyawan untuk menerima saham
biasa sebagai bagian dari remunerasi atau hak untuk membeli saham dengan syarat tertentu.
4. Saham yang akan diterbitkan saat terpenuhinya kondisi – kondisi tertentu yang dimuat
dalam suatu perjanjian, seperti kontrak pembelian usaha atau aktiva lain.
Perhitungan laba per saham dilusian pada dasarnya sama dengan perhitungan LPS
dasar . perbedaannya terletak pada hal–hal berikut :
1. Laba bersih yang diperhitungkan adalah laba bersih residual ditambah dividen dan bunga
(dihitung setelah pajak) dan disesuaikan dengan perubahan penghasilan dan beban yang
disebabkan konversi efek berpotensi saham biasa.
2. Jumlah rata–rata saham biasa yang beredar ditambah rata–rata, tertimbang saham biasa yang
akan beredar dengan asumsi semua efek berpotensi saham biasa yang dilutif dikonversikan
menjadi saham biasa.