Sie sind auf Seite 1von 106

Pengelolaan Supervisi Akademik Kepala Sekolah di Sekolah Dasar Negeri Kota Semarang | Ngatini & Bambang Ismanto

Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan ISSN 2443-0544
Magister Manajemen Pendidikan
Volume: 2, No.2, Juli - Desember 2015
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana
jurnalkelola@gmail.com Halaman: 127-138

PENGELOLAAN SUPERVISI AKADEMIK KEPALA SEKOLAH


DI SEKOLAH DASAR NEGERI KOTA SEMARANG

Ngatini
ngatini.dasiyo@yahoo.com
Alumni Program Pascasarjana Magister Manajemen Pendidikan
FKIP-Universitas Kristen Satya Wacana

Bambang Ismanto
bambang.ismanto@staff.uksw.edu
Program Pascasarjana Magister Manajemen Pendidikan
FKIP-Universitas Kristen Satya Wacana

ABSTRACT

This study aimed to know the management of school academic supervision


activity that conducted by principal in the state primary school Pongangan,
Gunungpati, Semarang area that included the planning, implementation, and the
follow-up to increacse teachers’ performace. This research was conducted with
qualitative descriptive method. The collecting data used interview, observation, and
documentation. Research results revealed that (1) the planning of academic supervision
by the principal at SDN Pongangan rated very good. (2) the implementation of
academic supervision in SDN Pongangan a great fit the program, the schedule, the
instruments that used according to the design, aspects that disupervisi votes had
been lead on target academic supervision adapted to the needs of teachers and
schools, the approach was with the program, academic supervision techniques used
varied enough, the academic supervision of implementation constraints by the head
of the school is the limited time; (3) the principal efforts made in the follow-up assessed
academic supervision has been very good and hard-wired. Activities performed were:
a) the beginning of each semester were held in groups/joint supervision of teachers
meeting school/KKG school; b) performs the inverse to the teacher in order to reflect
ourselves; c) implementing guidance on drafting/administration/creation of learning;
d) emphasize on teachers that always paid attention to the discipline of work in
carrying out the task of teaching as a teacher; e) provided guidance for teachers on
how to teach in interesting and fun way; f) conducted coaching and guidance for
teachers in the use of learning media, techniques/methods of teaching; g) provide a
learning device formats that are new to the teacher, and taught how to fill them; g)
For School Superintendent gave a complete written report in the end of years.

Keywords: Management of Academic Supervision, Principal

| 127
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

PENDAHULUAN akademik adalah supervisi yang menitik


Kualitas mutu pendidikan di sekolah beratkan pengamatan pada masalah akademik,
merupakan tanggungjawab bersama antara yaitu yang langsung berada dalam lingkup
kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru
lainnya yang berada di sekolah. Kepala sekolah untuk membantu siswa ketika sedang dalam
sebagai pemimpin di sekolah agar dapat proses belajar. Terkait dengan supervisi
menghasilkan pendidikan bermutu harus akademik Suharsimi (2004: 13) menegaskan
didukung oleh kompetensi kepribadian, bahwa supervisi akademik mempunyai fungsi
manajerial, supervisi, sosial, dan kewirausahaan sebagai kegiatan meningkatkan mutu pem-
(Permendiknas Nomor 13 tahun 2007). belajaran, sebagai pemicu atau penggerak
Demikian halnya guru, ia harus memiliki empat terjadinya perubahan pada unsur-unsuryang
kompetensi yang melekat dan kuat pada dirinya terkait dengan pembelajaran, dan sebagai
yaitu kompetensi kepribadian, sosial, pae- kegiatan memimpin dan membimbing.Dari dua
dagogik, dan profesional untuk dapat melak- pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
sanakan tugas sebagai guru yang memiliki supervisi akademik adalah pengawasan dari
profesionalitas tinggi. atasan kepada guru yang fungsinya untuk mem-
Kepala sekolah sebagai manajer dan bantu guru dalam melaksanakan pembelajaran
supervisor mempunyai peran penting dalam sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran
menggerakan dan mengarahkan kompetensi yang ditentukan.
profesional guru agar mumpuni dalam melak- Hersey dan Blanchard dalam Sudjana
sanakan pembelajaran. Sebagai manajer dan (2000:17) memberi arti pengelolaan sebagai
supervisor kepala sekolah dituntut mampu “Management as working with and through
mengelola pelaksanaan supervisi akademik individual and groups to accomplish
dengan baik. organizational goals” (pengelolaan merupakan
Kegiatan supervisi akademik pada kegiatan yang dilakukan bersama dan melalui
intinya adalah membina guru dalam mening- orang-orang serta kelompok dengan maksud
katkan mutu proses pembelajaran. Hal ini sesuai untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi).
dengan amanat Permendiknas nomor 41 tahun Sedang Sumijo Soebedjo dalam Sudjana
2007, yaitu Tentang Standar Proses Untuk (2000:17) mengemukakan bahwa “Management
Pendidikan Dasar Dan Menengah, yang me- the process of planning, organizing, leading,
nyatakan bahwa salah satu dimensi kompetensi and controlling the efforts of organizing
kepala sekolah/madrasah adalah supervisi members and of using all other organizational
akademik yang nantinya guru akan memperoleh resources achieve statet organizational
bimbingan dari kepala sekolah secara langsung. goals”. Kalau kita simpulkan dari kedua
Menurut Mulyasa (2013: 249), supervisi pengertian di atas konsep manajemen atau
akademik adalah bantuan profesional kepada pengelolan merupakan serangkaian kegiatan
guru, melalui siklus perencanaan yang siste- merencanakan, mengorganisasikan, mengge-
matis, pengamatan yang cermat dan umpan rakkan, mengendalikan dan mengembangkan
balik yang objektif dan segera. Pendapat ter- secara inovatif terhadap segala upaya dalam
sebut sesuai dengan pendapat Suharsimi mengatur dan mendayagunakan sumber daya
(2004:5) yang menyatakan bahwa supervisi manusia, sarana prasarana secara efektif dan
efisien untuk mencapai tujuan organisasi yang

128 |
Pengelolaan Supervisi Akademik Kepala Sekolah di Sekolah Dasar Negeri Kota Semarang | Ngatini & Bambang Ismanto

telah ditetapkan. Dirjen PMPTK(2014:164). Supervisi akademik


Berdasarkan hal di atas maka penger- tidak terlepas dari penilaian kinerja guru dalam
tian pengelolaan mengandung unsur usaha dan mengelola pembelajaran. Sergiovanni (1987)
proses. Usaha ditunjukkan oleh kemauan menegaskan bahwa refleksi praktis penilaian
kepala sekolah, tenaga edukatif dan tenaga kinerja guru dalam supervisi akademik adalah
administratif yang terlibat, sedangkan proses melihat kondisi nyata kinerja guru dalam proses
ditunjukkan oleh jalannya usaha dalam rangka pembelajaran, antara lain untuk menjawab
pencapaian tujuan di sekolah. Usaha dan pertanyaan-pertanyaan yang muncul: Apa yang
proses tersebut berupa kegiatan-kegiatan sebenarnya terjadi di dalam kelas? apa yang
pengelolaan, seperti perencanaan, pengorgani- sebenarnya dilakukan oleh guru dan peserta
sasian, pengarahan dan pengendalian. Berdasar- didik di dalam kelas? Aktivitas-aktivitas mana
kan proses-proses yang dikedepankan oleh para dari keseluruhan aktivitas di dalam kelas itu yang
ahli manajemen tersebut, maka Suryobroto bermakna bagi guru dan peserta didik?Apa
(2004:33) mengabstrasikan bahwa pengelolaan/ yang telah dilakukan oleh guru dalam mencapai
manajemen menjadi empat proses yaitu: tujuan akademik? Apa kelebihan dan kekurangan
planning, orginizing, actuating, dan controling. dan bagaimana cara mengembangkannya?
Hal senada disampaikan pula oleh Berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan-
Pidarta (2004: 13) memberikan penjelasan pertanyaan ini akan diperoleh informasi
bahwa empat fungsi pengelolaan yakni mengenai kemampuan guru dalam mengelola
merencanakan, mengorganisasi, memotivasi dan pembelajaran. Namun satu hal yang perlu
mengontrol. Menurut Suryobroto (2004: 35) ditegaskan di sini, bahwa setelah melakuakan
pengelolaan pendidikan mengandung pengertian penilaian kinerja bukan berarti selesailah
proses untuk mencapai tujuan pendidikan. pelaksanaan supervisi akademik, melainkan
Proses itu dimulai dari perencanaan, pengor- harus dilanjutkan dengan tindak lanjutnya
ganisasian, pengarahan, dan pemantauan. berupa pembuatan program tindak lanjut.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat Dalam kaitannya dengan manajemen
disimpulkan bahwa pengelolaan adalah suatu dan kepemimpinan kepala sekolah, supervisi
usaha yang dilakukan secara bersama-sama lebih ditekankan pada pembinaan dan pening-
untuk menentukan dan mencapai tujuan-tujuan katan kemampuan dan kinerja tenaga kepen-
organisasi dengan pelaksanaan fungsi-fungsi didikan/guru di sekolah dalam melaksanakan
perencanaan (planning), pengorganisasian pembelajaran. Untuk memahami dan wawasan
(organizing), pelaksanaan (actuating), dan yang lebih luas tentang supervisi, dalam Carter
pengawasan (controlling). Manajemen dibutuh- Good’s Dictionary of Education dikemukakan
kansetidaknya untuk mencapai tujuan, menjaga definisi supervisi sebagai berikut: Segala usaha
keseimbangan di antara tujuan-tujuan yang pejabat sekolah dalam memimpin guru-guru
saling bertentangan, dan untuk mencapai dan tenaga kependidikan lainnya, untuk
efisiensi dan efektivitas. memperbaiki pengajaran, termasuk mensti-
Supervisi akademik adalah serangkaian mulasi, menyeleksi pertumbuhan dan per-
kegiatan membuat guru untuk mengembangkan kembangan jabatan guru-guru, menyeleksi, dan
kemampuannya mengelola proses pembelajar- merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan
an untuk mencapai tujuan pembelajaran pengajaran dan metode-metode mengajar serta
(Daresh,1989, Glickman, et al; 2007), dalam evaluasi pengajaran.

| 129
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

Pada hakikatnya supervisi mengandung Teknik supervisi akademik terdiri atas


beberapa kegiatan pokok, yaitu pembinaan dua macam, yaitu teknik supervisi individual dan
yang kontinyu, pengembangan kemampuan teknik supervisi kelompok. Prosedur supervisi
profesional personel, perbaikan situasi belajar akademik merupakan rangkaian kegiatan
mengajar, dengan sasaran akhir pencapaian supervisi untuk memberikan bantuan dan
tujuan pendidikan dan pertumbuhan pribadi bimbingan kepada kepala sekolah dan guru agar
peserta didik. Dengan kata lain, dalam supervisi termotifasi melakukan perbaikan-perbaikan
ada proses pelayanan untuk membantu atau yang diperlukan dalam bidang akademik
membina guru-guru. Pembinaan ini menyebab- dengan cara memilih pendekatan, metode, dan
kan perbaikan atau peningkatan kemampuan teknik supervisi yang tepat sesuai dengan tujuan
profesional guru, kemudian selanjutnya ditrans- yang ingin dicapai. Prosedur pelaksanaan
fer ke dalam perilaku mengajar sehingga tercip- supervisi akademik terdiri atas: 1) Tahap per-
tanya situasi belajar mengajar yang lebih efektif siapan meliputi: (a) menyiapkan instrumen dan
dan pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi (b) menyiapkan jadwal bersama, 2) Tahap
belajar peserta didik. Jadi pengertian supervisi Pelaksanaan, yaitu pelaksanaan observasi
lebih difokuskan kepada upaya memberi layan- supervise baik secara langsung maupun tidak
an dan bantuan, baik secara individual maupun langsung, 3) Tahap Pelaporan, meliputi; (a)
secara kelompok dalam usaha memperbaiki mengidentifikasi hasil pengamatan pada saat
pengajaran, sehingga guru dan tenaga kepen- observasi, (b) menganalisis hasil supervise, (c)
didikan lainnya merasakan bimbingan dari mengevaluasi bersama antara supervisor
seorang supervisor, bukan sebagai hubungan dengan kepala sekolah dan guru, (d) membuat
antara atasan dengan bawahan tetapi suatu catatan hasil supervisi yang didokumentasikan
hubungan kemanusiaan. sebagai laporan, 4) Tahap Tindak Lanjut,
Berdasarkan uraian di atas maka dapat meliputi: (a) mendiskusikan dan membuat solusi
diambil kesimpulan bahwa supervisi akademik bersama, (b) memberitahukan hasil pelaksana-
adalah bantuan profesional yang diberikan an supervisi akademik, dan (c) mengkomuni-
kepala sekolah pada guru yang merupakan kasikan hasil pelaksanaan supervisi akademik
serangkaian kegiatan pada guru untuk dapat antara kepala sekolah dan guru.
mengembangkan kemampuannya mengelola Top Bottom of Form Kepala sekolah
proses pembelajaran sehingga dapat mencapai dalam kedudukan dan tanggung jawabnya
tujuan pembelajaran yang diinginkan. sebagai supervisor melaksanakan program
Tujuan supervisi akademik antara lain tindak lanjut hasil supervisi dilakukan sebagai-
membantu guru-guru,(1) mengembangkan mana tercantum dalam Permendikbud Nomor
proses belajar mengajar, (2) menerjemahkan 65 tahun 2013 tentang Standar Proses meliputi:
kurikulum ke dalam bahasa belajar mengajar,(3) (a) memberi penguatan dan penghargaan
melihat tujuan pendidikan membimbing kepada guru yang menunjukkan kinerja yang
pengalaman belajar mengajar, menggunakan memenuhi standar, (b) memberi kesempatan
sumber dan metode mengajar, memenuhi kepada guru untuk mengikuti program
kebutuhan belajar dan menilai kemajuan siswa, pengembangan keprofesionalan berkelanjutan.
membina moral kerja, menyesuaikan diri, dan Pelaksanaan tindak lanjut yang dilakukan
(4) membantu mengembangkan profesional guru. kepala sekolah menganalisis kelemahan dan

130 |
Pengelolaan Supervisi Akademik Kepala Sekolah di Sekolah Dasar Negeri Kota Semarang | Ngatini & Bambang Ismanto

kekuatan guru dengan alat instrumen penilaian belum optimal dalam menjalankan profesinya,
kinerja guru (IPKG), sehingga hasil analisis sebagai guru terutama dalam memahami lan-
catatan supervisor dapat dimanfaatkan untuk dasan kependidikan, belum melakukan pe-
mengembangkan kompetensi guru dalam ngembangan kurikulum atau silabus, belum
melaksanakan pembelajaran, meningkatkan sempurnanya membuat perencanaan pembe-
profesional guru. Dari umpan balik itu pula lajaran, belum optimal dalam melaksanakan
tercipta suasana komunikasi yang harmonis, pembelajaran, belum optimal dalam melak-
memberi kesempatan untuk mendorong guru sanakan evaluasi hasil belajar, hal ini meng-
memperbaiki kinerjanya kegiatan sebagai akibatkan mutu pendidikan belum optimal.
berikut:a). Pembinaan langsung, pembinaan ini Fenomena masih belum optimalnya mutu proses
dilakukan terhadap hal-hal yang bersifat khusus, pembelajaran di Gugus Ibu Kartini, diperoleh
yang perlu perbaikan dengan segera dari hasil melalui hasil studi pendahuluan dan diskusi yang
analisis supervisi, pembinaan dapat dilakukan dilakukan oleh penulis terhadap sesama kepala
melalui pemberian contoh, diskusi, konsultasi, sekolah dan guru-guru di Gugus Ibu Kartini.
atau pengadakan pelatihan. b) Pembinaan tidak Melihat fenomena yang terjadi sebagai-
langsung adalah hal-hal yang bersifat umum mana dijelaskan di atas, tentu dapat diprediksi
dari hasil analisis supervisi. bahwa mutu pendidikan sekolah dasar menjadi
Berdasarkan uraian di atas maka dapat terabaikan, karena salahsatu kriteria pencapaian
disimpulkan bahwa tindak lanjut supervisi mutu pendidikan adalah sumber daya kepala
akademik adalah tindakan yang dilakukan sekolah dan guru.
kepala sekolah setelah hasil dari supervisi SDN Pongangan Kecamatan Gunung-
akademik dilakukan yang tujuannya untuk pati Kota Semarang sebagai SD Inti sangat
memperbaiki kekurangan dan kelemahan guru menarik untuk dijadikan objek penelitian dalam
yang diperoleh dari proses pembelajaran yang rangka membuktikan asumsi penulis. Penulis
dilakukan. mencoba mencari pemecahan dengan me-
Dari hasil pengamatan peneliti di lakukan kajian lapangan tentang pengelolaan
lapangan bahwa supervisi akademik kepala supervisi akademik dengan melakukan
sekolah di Gugus Ibu Kartini Gunungpati penelitian di SDN Pongangan Gunungpati Kota
Semarang secara umum ditemukan beberapa Semarang
kelemahan bahwa supervisi akademik kepala
METODE PENELITIAN
sekolah di Gugus Ibu Kartini Gunungpati
Semarang belum berjalan dengan baik, Penelitian ini adalah penelitian kualitatif
diantaranya kepala sekolah belum memahami dengan menggunakan metode diskriptif. Proses
tugasnya sebagai supervisor. Dalam melakukan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif
supervisi belum melakukan tahapan yang benar bersifat fenomenologis yaitu menyelidiki suatu
yaitu dengan perencanaan program supervisi fenomena sosial atau masalah manusia. Menurut
akademik, pelaksanaan program supervisi Sugiyono (2009:1), penelitian kualitatif yaitu
akademik, dan tindak lanjut hasil supervisi suatu metode yang digunakan untuk meneliti
akademik. pada kondisi objek yang alamiah, dimana
Demikian halnya dengan guru-guru di peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik
Gugus Ibu Kartini dimana banyak guru yang pengumpulan data dilakukan secara triangulasi
(gabungan), sifat analisis data dan hasil pene-

| 131
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

litian kualitatif lebih menekankan makna dari- Dokumentasi dan Arsip.


pada generalisasi. Tujuan dari penelitian Setelah diperoleh data, maka data
kualitatif deskriptif ini dimaksudkan untuk dianalisisis. Pada penelitian ini analisis data
mendiskripsikan permasalahan yang ada pada menggunakan model interaktif, yaitu me-
suatu penelitian sehingga akan diperoleh ngumpulkan data dengan model analisis
pemecahan permasalahnya dalam hal ini interaktif ada tiga komponen utama analisis,
berhubungan dengan pengelolaan supervisi yaitu reduksi data, sajian data dan penarikan
akademik oleh Kepala Sekolah di SDN kesimpulan atau verifikasi. Dalam analisis data
Pongangan Kecamatan Gunungpati Kota kualitatif dilakukan secara interaktif dan ber-
Semarang. langsung secara terus menerus sampai tuntas,
Subjek pada penelitian ini adalah sehingga data yang diperoleh sampai titik jenuh.
Kepala Sekolah SDN Pongangan Kecamatan Untuk memperjelas model analisis interaktif
Gunungpati Kota Semarang. Lokasi penelitian dapat digambarkan dengan skema sebagai
yaitu di SDN Pongangan Kecatam Gunungpati berikut:
Kota Semarang. Dipilihnya SDN Pongangan
HASIL PENELITIAN
sebagai objek dan lokasi penelitian karena
sekolah tersebut merupakan SD inti yang Perencanaan merupakan syarat bagi
nantinya hasil penelitian dapat dikembangkan setiap organisasi atau lembaga dalam melaku-
dan direkomendasi untuk sekolah itu sendiri dan kan kegiatan, baik perorangan maupun
sekolah imbas. kelompok. Perencanaan merupakan keharusan
Teknik pengumpul data merupakan untuk melakukan kegiatan pelaksanaan.
langkah yang paling penting dalam penelitian. Perencanaan pada penelitian ini adalah tentang
Pengumpulan data dapat dilakukan dalam perencanaan program supervisi akademik yang
berbagai cara dan berbagai sumber. Sumber dilakukan oleh kepala sekolah yang ditinjau
data dapat menggunakan sumber primer, dan dari tujuan, sasaran, langkah-langkah, dan
sumber data sekunder. Sumber primer adalah waktu yang ditetapkan.
sumber data yang diperoleh dari pihak yang Program perencanaan yang digunakan
langsung berhubungan dengan permasalahan, dalam pengelolaan supervisi akademik di SDN
sedangkan data primer adalah sumber data dari Pongangan dilaksanakan dengan cara meng-
pihak/sumber lain yang berfungsi untuk koordinasikan lewat rapat dengan semua guru
penguatan atau crosschek. untuk menentukan dasar atau landasan dalam
menyusun perencanaan supervisi, menyusun
Ditinjau dari segi tata cara atau teknik
jadwal rencana supervisi akademik, memahami
pengumpul data, maka teknik pengumpulan
tujuan dari supervisi yang dilakukan nantinya.
data dapat dilakukan dengan wawancara
Dengan panduan kalender pendidikan yang di
(interview), observasi (pengamatan), doku-
buat kepala sekolah dan menyiapkan buku-
mentasi dan gabungan ketiganya. Berdasarkan
buku sebagai sarana pendukung yang
sifat penelitian kualitatif maka data yang
diperlukan. Kegiatan riilnya berupa penyusunan
digunakan dalam penelitian ini terdiri data
program supervisi akademik, pelaksanaan
primer dan data sekunder, dengan teknik
pembelajaran serta rencana evaluasi dan tindak
pengumpulan data yang dilakukan dengan cara:
lanjut. Sedang mekanisme melalui rapat guru
Wawancara, Pengamatan (Observasi) dan

132 |
Pengelolaan Supervisi Akademik Kepala Sekolah di Sekolah Dasar Negeri Kota Semarang | Ngatini & Bambang Ismanto

untuk mensosialisasikan program supervisi Pelaksanaan supervisi akademik yang


akademik yang akan dilakukan kepala sekolah. dilakukan oleh Kepala Sekolah di SDN
Perencanaan supervisi akademik di Pongangan Kecamatan Gunungpati Kota
SDN Pongangan Gunungpati ini tentunya Semarang ini menggunakan langkah-langkah
dilakukan dengan langkah-langkah yang yang telah terstruktur dan waktu pelaksanaan
terstruktur serta supervisi akademik ini memiliki yang sudah direncanakan sebelumnya sehingga
aspek atau materi yang harus diketahui kepala nantinya akan mampu menghasilkan hasil
sekolah dan guru sehingga dapat disupervisi. supervisi yang maksimal dan optimal. Langkah-
Dalam perencanaan supervisi akademik yang langkah yang dilakukan kepala sekolah dalam
dilakukan kepala sekolah SDN Pongangan pelaksanaan supervisi akademik di SDN
Kecamatan Gunungpati Kota Semarang adalah Pongangan Kecamatan Gunungpati Kota
sebagai berikut: 1) Kepala Sekolah melakukan Semarang ini antara lain adalah 1) mengadakan
analisis hasil supervisi tahun lalu, 2) Menyusun pertemuan awal dengan guru, 2) menyampaikan
program, jadwal dan instrument, 3) melakukan instrument untuk disepakati, 3) melakukan
sosialisasi kepada guru, 4) melaksanakan pemantauan dokumen pembelajaran atau
supervisi manajerial dan akademik, 5) melak- administrasi kelas, 4) melaksanakan pengamat-
sanakan tindak lanjut (refleksi, pembinaan dan an atau observasi pembelajaran, 5) mengada-
penyusunan laporan), 6) pembuatan dilakukan kan balikan guna melakukan refleksi. Kemudian
pada awal tahun pelajaran baru hal tersebut waktu dalam pelaksanaan supervisi akademik
dimaksudkan karena awal semester pada bulan di SDN Pongangan Gunungpati ini yaitu: 1)
ke dua supervisi akademik tersebut akan atau pada awal semester pertama dan kedua, hal ini
sudah harus digunakan, 7) menganalisis hasil dimaksudkan sebagai alat formatif untuk
dari pelaksanaan tahun lalu, 8) mengadakan mengadakan pembinaan dan PKB, dan 2)
pertemuan dengan guru untuk berdiskusi, 9) Akhir tahun pelajaran, yaitu sebagai penilaian
menyusun program atau rencana, dan 10) formatif PKG.
kepala sekolah menanyakan kepada guru Tindak lanjut supervisi akademik adalah
aspek atau materi yang perlu disupervisi suatu kegiatan yang dilakukan kepala sekolah
akademik ini meliputi aspek manajerial yaitu yang berguna untuk menganalisis kelemahan
administrasi kelas dan pembelajaran dan aspek dan kekuatan guru dengan alat instrumen
akademis yaitu perencanaan, pelaksanaan dan penilaian kinerja guru (IPKG), sehingga hasil
penilaian pembelajaran. analisis catatan supervisor dapat dimanfaatkan
Pelaksanaan merupakan kegiatan untuk mengembangkan kompetensi guru dalam
untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan melaksanakan pembelajaran, meningkatkan
nyata dalam rangka mencapai tujuan secara profesional guru.
efektif dan efisien. Rencana yang telah disusun Kepala Sekolah dalam menindak
akan mempunyai nilai jika dilaksanakan dengan lanjuti pelaksanaan supervisi akademik tentunya
efektif dan efisien. Dalam pelaksanaan, setiap dilakukan dengan serinci mungkin.Hal tersebut
organisasi harus memiliki kekuatan yang mantap dilakukan supaya hasil yang diperoleh nantinya
dan meyakinkan sebab jika tidak kuat, maka dapat sesempurna yang diinginkan. Begitu pula
proses pendidikan yang diinginkan sulit dalam mengatasi hambatan dalam pelaksanaan
terealisasi. supervisi akademik di SDN Pongangan
Gunungpati Semarang kepala sekolah harus

| 133
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

mampu mengatasinya dengan semaksimal dibuat oleh supervisor sendiri yaitu kepala
mungkin. Tindak lanjut supervisi akademik sekolah untuk melihat apakah semua persiapan
kepala sekolah di SDN Pongangan Gunungpati guru dalam pembelajaran sudah sesuai atau
Semarang adalah dengan melakukan balikan belum seperti penyusunan Silabus, RPP, alata
kepada guru baik dalam catatan instrumen peraga pembelajaran, media pembelajaran dan
maupun pembinaan cara langsung maupun tidak lain sebagainya.
langsung kepada guru dan pembinaan melalui Berdasarkan hasil penelitian menunjuk-
rapat sekolah dan juga melakukan refleksi. kan bahwa aktivitas perencanaan supervisi
akademik yang dilakukan oleh kepala sekolah
PEMBAHASAN
menekankan pada tujuan yang berorientasi
Perencanaan supervisi akademik yang pada peningkatan profesionalisme dan pening-
dilakukan kepala sekolah SDN Pongangan katan kualitas guru dalam pembelajaran. Selain
Kecamatan Gunungpati Kota Semarang adalah itu sasaran supervisi akademik sudah ber-
sebagai berikut: 1) Kepala Sekolah melakukan dasarkan permasalahan dan karateristik
analisis hasil supervisi tahun lalu, 2) Menyusun permasalahan yang dihadapai guru.
program, jadwal dan instrumen, 3) melakukan Peran kepala sekolah dalam membina
sosialisasi kepada guru, 4) melaksanakan guru atau yang lebih dikenal dengan istilah
supervisi manajerial dan akademik, 5) melak- supervisi pendidikan/pengajaran, kedudukan-
sanakan tindak lanjut (refleksi, pembinaan dan nya sangat strategis dalam rangka meningkatkan
penyusunan laporan), 6) pembuatan dilakukan kemampuan profesionalisme guru khususnya
pada awal tahun pelajaran baru hal tersebut dalam kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini,
dimaksudkan karena awal semester pada bulan kepala sekolah diharapkan mampu membim-
ke dua supervisi akademik tersebut akan atau bing, membina, dan mendorong guru dalam
sudah harus digunakan, 7) menganalisis hasil memecahkan problematika kegiatan belajar
dari pelaksanaan tahun lalu, 8) mengadakan mengajar yang dihadapi guru. Hal ini sebagai-
pertemuan dengan guru untuk berdiskusi, 9) mana yang dijelaskan oleh Syaiful Sagala (2010:
menyusun program atau rencana, dan 10) 95) yaitu kegiatan supervisi menaruh perhatian
kepala sekolah menanyakan kepada guru utama pada bantuanyang dapat meningkatkan
aspek atau materi yang perlu disupervisi kemampuan profesional guru. Kemampuan
akademik ini meliputi aspek manajerial yaitu professional ini tercermin pada kemampuan
administrasi kelas dan pembelajaran dan aspek guru memberikan bantuan belajar kepada
akademis yaitu perencanaan, pelaksanaan dan muridnya, sehingga terjadi perubahan perilaku
penilaian pembelajaran. akademik pada siswanya.
Perencanaan supervisi akademik di Pelaksanaan merupakan kegiatan
SDN Pongangan Kecamatan Gunungpati ini untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan
selain perlu menyusun program supervisi nyata dalam rangka mencapai tujuan secara
tentunya juga perlu menyusun instrumen supervisi efektif dan efisien. Rencana yang telah disusun
yang gunanya untuk melihat bagaimana akan mempunyai nilai jika dilaksanakan dengan
kesiapan guru dalam pelaksanaan supervisi yang efektif dan efisien. Dalam pelaksanaan, setiap
akan dilaksanakan nantinya. Instrumen tersebut organisasi harus memiliki kekuatan yang mantap
biasanya berupa instrumen cek list yang akan dan meyakinkan sebab jika tidak kuat, maka

134 |
Pengelolaan Supervisi Akademik Kepala Sekolah di Sekolah Dasar Negeri Kota Semarang | Ngatini & Bambang Ismanto

proses pendidikan yang diinginkan sulit pembelajaran, yakni program/materi supervisi


terealisasi. yang berhubungan/berkaitan dengan adminis-
Pelaksanaan supervisi akademik kepala trasi guru meliputi: program tahunan,program
sekolah terhadap pembelajaran di SDN semester, silabus, RPP, KKM, kalender
Pongangan Kecamatan Gunungpati Kota pendidikan, jadwal tatap muka,agenda harian,
Semarang ini adalah 1) menyusun jadwal pelak- daftar nilai, dan absensi siswa. Pada komponen
sanaan, 2) melakukan koordinasi kesepakatan pelaksanaan pembelajaran, kegiatan supervisi
dengan guru, 3) melaksanakan supervisi sesuai diarahkan pada kemampuan guru dalam
jadwal, 4) menganalisis hasil supervisi, 5) mengelola kelas, dimulai dari kegiatan
menyusun laporan, 6) mengadakan pertemuan pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup.
awal dengan guru, 7) menyampaikan instrumen Berdasarkan hasil penelitian dan
untuk disepakati, 8) melakukan pemantauan pembahasan pada aspek pelaksanaan supervisi
dokumen pembelajaran atau administrasi kelas, akademik kepala SDN Pongangan telah
9) melaksanakan pengamatan atau observasi melaksanakan supervisi dengan baik karena
pembelajaran, dan 10) mengadakan balikan telah melaksanakan sesuai prinsipi supervisi
guna melakukan refleksi. akademik berorientasi pada permasalahan dan
Supervisi juga dilaksanakan oleh kebutuhan guru, dalam rangka peningkatan
supervisor secara konstruktif dan kreatif dengan kemampuan dan kualitas pembelajaran.
cara mendorong inisiatif guru untuk ikut aktif Pendekatan sesuai tujuan dan permasalahan.
menciptakan suasana kondusif yangdapat Kesemuanya dilakukan dengan berbagai tehnik
membangkitkan suasana kreativitas peserta dengan kunjungan kelas, pertemuan pribadi,
didik dalam belajar. Pendapat senada disampai- kelompok melalui rapat serta dengan meman-
kan oleh Ali Imron (2011: 23) mengartikan faatkan informasi dari guru lain, siswa dan
bahwa supervisi pembelajaran adalah bantuan orangtua. Kesemuanya dibingkai dalam
dalam wujud layanan profesional yang diberikan pelaksanaan supervisi kolegial familier
oleh orang yang lebih ahli dalam rangka sebagaimana dinyatakan kepala sekolah.
peningkatan kemampuan profesional, terutama Tindak lanjut supervisi akademik adalah
dalam proses belajar mengajar. suatu kegiatan yang dilakukan kepala sekolah
Melalui kegiatan supervisi tersebut yang berguna untuk menganalisis kelemahan
diharapkan proses belajar mengajar, yang di dan kekuatan guru dengan alat instrumen
dalamnya melibatkan guru dan siswa, melalui penilaian kinerja guru (IPKG), sehingga hasil
serangkaian tindakan, bimbingan dan arahan analisis catatan supervisor dapat dimanfaatkan
akan menjadi baik. Proses belajar mengajar untuk mengembangkan kompetensi guru dalam
akan baik pencapaiannya antara lain melalui melaksanakan pembelajaran, meningkatkan
peningkatan kemampuan profesional guru profesional guru.
tersebut diharapkan memberikan kontribusi Tindak lanjut supervisi akademik
bagipeningkatan mutu pendidikan. kepala sekolah di SDN Pongangan Gunungpati
Aspek-Aspek yang disupervisi oleh Semarang adalah dengan melakukan balikan
Kepala Sekolah adalah aspek perencanaan, kepada guru baik dalam catatan instrumen
pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, dan maupun pembinaan cara langsung maupun tidak
kegiatan tindak lanjut.Aspek perencanaan langsung kepada guru dan pembinaan melalui

| 135
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

rapat sekolah dan juga melakukan refleksi. kepala sekolah tersebut merupakan salah satu
Tindak lanjut pada pelaksanan supervisi kekuatan yang dimiliki sekolah dalam rangka
akademik kepala sekolah di SDN Pongangan meningkatkan kemampuan guru dalam hal
Kecamatan Gunungpati Kota Semarang ini mengelola pembelajaran, sehingga pada
dilakukan untuk melengkapi kekurangan dari gilirannya dapat pula meningkatkan mutu proses
supervisi yang telah dilaksanakan sebelumnya. dan hasil pembelajaran.
Proses tindak lanjut yang dilakukan dalam Kepala sekolah SDN Pongangan
supervisi akademik di SDN Pongangan dalam menjalankan fungsinya sebagai
Kecamatan Gunungpati Kota Semarang ini supervisor pendidikan tidak dapat dilepaskan
adalah dengan mengadakan pelatihan/ dari beberapa kendala baik secara internal
workshop pada guru yang disupervisi, kepala maupun eksternal. Secara internal kendala-
sekolah memberikan pengarahan pada guru kendala kegiatan supervisi dapat diidentifikasi
yang disupervisi pada tiap akhir semester atau menjadi dua jenis, yakni kendala yang
pada akhir bulan yang gunanya untuk mening- berhubungan dengan teknis dan kendala yang
katkan kemampuan guru dalam pelaksanaan bersifat non-teknis. Secara teknis kendala
proses kegiatan belajar mengajar. pengawas dalam mengadakan kegiatan
Kegiatan tindak lanjut adalah kegiatan supervisi yaitu kendala yang berhubungan
supervisi diarahkan pada pembimbingan dan dengan kemampuan atau keterampilan sebagai
penilaian profesional guru, dan dilakukan upaya supervisor, sedangkan kendala yang bersifat
perbaikan mutu pendidikan melalui supervisi non-teknis diantaranya adalah jika kepala
administrasi penilaian pembelajaran dengan sekolah sakit sementara guru-guru yang lain
jalan pembimbingan guru sebagai refleksi dan kurang respon, maka jadwal kegiatan supervisi
feedback hasil penilaian kinerja. menjadi terganggu.
Dilihat dari pendekatannya, pengawas Upaya yang dilakukan kepala sekolah
dalam melakukan kegiatan supervisi menerap- dalam melaksanakan supervisi akademik dapat
kan tiga model pendekatan, yakni: menggunakan berjalan dengan baik dan lancar adalah berkat
pendekatan kedinasan, pendekatan sebagai kemampuan yang dimiliki oleh kepala sekolah
mitra kerja, dan pendekatan cara kekeluar- yang selalu membina atau membangun
gaan. Sedangkan dilihat dari teknik, pengawas komunikasi yang baik dengan para guru. Hasil
menerapkan atau melaksanakan kegiatan supervisi akademik dievaluasi dan dianalisis
supervisedengan teknik-teknik yang cukup untuk kemudian didiskusikan dan diinterpretasi-
bervariasi. Teknik-teknik kegiatan supervisi kan melalui rapat. Sikap guru terhadap hasil
kepala sekolah yang dapat diidenifikasi antara supervisi merespon dengan baik bahkan untuk
lain: teknik diskusi kelompok atau rapat ke depan bisa diberikan bimbingan lebih baik.
supervisi, teknik pertemuan individual, dan Selain itu hasil dilaporkan kepada pengawas
teknik kunjungan kelas/lapangan. sebagai bukti pelaksanaan supervisi. Dengan
Keadaan ini menunjukkan bahwa demikian berdasarkan hasil penelitian dan kajian
kepala sekolah telah memiliki keterampilan teori bahwa aspek tindak lanjut supervisi
yang cukup baik dalam melakukan tugasnya akademik yag dilakukan oleh kepala sekolah
sebagai supervisor pengajaran. Dengan SDN Pongangan sangat baik.
demikian maka keterampilan yang dimiliki

136 |
Pengelolaan Supervisi Akademik Kepala Sekolah di Sekolah Dasar Negeri Kota Semarang | Ngatini & Bambang Ismanto

SIMPULAN DAN SARAN Semarang adalah dengan melakukan balikan


Perencanaan supervisi akademik yang kepada guru baik dalam catatan instrument
dilakukan kepala sekolah SDN Pongangan maupun pembinaan cara langsung maupun tidak
Kecamatan Gunungpati Kota Semarang adalah langsung kepada guru dan pembinaan melalui
sebagai berikut: 1) Kepala Sekolah melakukan rapat sekolah dan juga melakukan refleksi.
analisis hasil supervisi tahun lalu, 2) Menyusun Ada beberapa saran yang dapat peneliti
program, jadwal dan instrumen, 3) melakukan sampaikan berdasarkan hasil penelitian yaitu:
sosialisasi kepada guru, 4) melaksanakan Bagi Peneliti selanjutnya, diharapkan penelitian
supervisi manajerial dan akademik, 5) melak- ini dapat memberikan sumbangan wawasan dan
sanakan tindak lanjut (refleksi, pembinaan dan pengetahuan dalam melaksanakan kegiatan
penyusunan laporan), 6) pembuatan dilakukan supervisi akademik. Bagi Kepala sekolah,
pada awal tahun pelajaran baru hal tersebut penelitian ini diharapkan dapat dijadikan
dimaksudkan karena awal semester pada bulan rujukan dalam menyusun program, melaksana-
ke dua supervisi akademik tersebut akan atau kan program dan mengevaluasi program
sudah harus digunakan, 7) menganalisis hasil supervisi akademik di sekolah. Bagi guru,
dari pelaksanaan tahun lalu, 8) mengadakan penelitian ini diharapkan dapat menambah
pertemuan dengan guru untuk berdiskusi, 9) pengetahuan dan wawasan dalam melaksana-
menyusun program atau rencana, dan 10) kan kegiatan pembelajaran yang berkualitas.
kepala sekolah menanyakan kepada guru aspek Bagi Pengawas, penelitian ini diharapkan dapat
atau materi yang perlu disupervisi akademik ini memberikan bahan dan masukan serta
meliputi aspek manajerial yaitu administrasi wawasan kepada guru dalam pelaksanaan
kelas dan pembelajaran dan aspek akademis supervisi akademik yang akan dilakukan
yaitu perencanaan, pelaksanaan dan penilaian berikutnya. Pihak-pihak yang terkait lainnya,
pembelajaran. diharapkan dapat menyusun strategi dan
Pelaksanaan supervisi akademik program peningkatan profesionalisme guru
kepala sekolah terhadap pembelajaran di SDN sekolah dasar.
Pongangan Kecamatan Gunungpati Kota
Semarang ini antara lain adalah 1) menyusun DAFTAR PUSTAKA
jadwal pelaksanaan, 2) melakukan koordinasi Atmodiwiryo, Soebagio. 2011. Manajemen
kesepakatan dengan guru, 3) melaksanakan Pengawasan dan Supervisi Sekolah.
supervisi sesuai prosedur, prinsip, dan jadwal, Jakarta: Ardadizya Jaya.
4)menganalisis hasil supervisi, 5) menyusun Darmadi, Hamid. 2011. Methode Penelitian
laporan, 6) mengadakan pertemuan awal dengan Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
guru, 7) menyampaikan instrumen untuk Daryanto, Haji. 2010. Evaluasi Pendidikan.
disepakati, 8) melakukan pemantauan dokumen Jakarta: Rineka Cipta.
pembelajaran atau administrasi kelas, 9) Irawan, Prasetya. 2007. Peneltian Kualitatif
melaksanakan pengamatan atau observasi & Kuantitatif Untuk Ilmu-Ilmu Sosial.
pembelajaran, dan 10) mengadakan balikan Jakarta: DIA FISIP Universitas
guna melakukan refleksi. Indonesia.
Tindak lanjut supervisi akademik
kepala sekolah di SDN Pongangan Gunungpati

| 137
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Sagala, Saeful. 2010. Supervisi Pembelajaran


Kepala Sekolah. 2011. Supervisi dalam Profesi Pendidikan. Bandung: PT
Akademik. Surakarta. Remaja Rosda Karya.
Makawimbang, Jerrry H. 2011. Supervisi Dan Sahertian, A, Piet.2006. Konsep Dasar dan
Peningkatan Mutu Pendidikan. Bandung: Teknik Supervisi. Jakarta: Penerbit
Alpabeta. Rineka Cipta.
Mulyasa, E. 2011. Manajemen dan Kepe- Satori, Djama’an. 2009. Metodologi
mimpinan Kepala Sekolah. Jakarta: PT Penelitian Kualitatif. Bandung:
Bumi Aksara. Alfabeta .
Mulyasa, E. 2006. Menjadi Kepala Sekolah. Suryosubroto, B. 2004. Manajmen Pendidikan
Bandung: PT Remaja Rosdakarya. di Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Mulyono. 2008. Manajemen Administrasi. Slameto. 2009. Manajemen Pendidikan.
Ar-Ruzz Media: Yogyakarta. Salatiga: Widyasari Press.
Muhroji, dkk. 2004. Manajemen Pendidikan: Sugiyono. 2009. Metode Penelitian
Pedoman bagi Kepala Sekolah Dan Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
Guru. Surakarta: University Muhamma- kualitatif, dan RD. Bandung: Alpabeta.
diyah Press. Sunjana, Nana. 2011. Supervisi Akademik
Pidarta, M. 2004. Manajemen Pendidikan Membina Profesianalisme Guru
Indonesia. Rineka Cipta: Bandung. Melalui SupervisiKlinis. Jakarta: Bina
Purwanto, Ngalim. 2010. Administrasi dan Mitra Pulisting.
Supervisi Pendidikan. Bandung: PT
Remaja Rosda Karya.

138 |
Evaluasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) | Rita Widjajanti & Bambang Suteng Sulasmono

Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan ISSN 2443-0544
Magister Manajemen Pendidikan
Volume: 2, No.2, Juli - Desember 2015
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana
jurnalkelola@gmail.com Halaman: 139-150

EVALUASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS)


DI SMP NEGERI BOJA KABUPATEN KENDAL

Rita Widjajanti
ritachristawijayanti@gmail.com
Alumni Program Pascasarjana Magister Manajemen Pendidikan
FKIP-Universitas Kristen Satya Wacana

Bambang Suteng Sulasmono


bambang.sulasmono@staff.uksw.edu
Program Pascasarjana Magister Manajemen Pendidikan
FKIP-Universitas Kristen Satya Wacana

ABSTRACT

The study aimed to evaluate 1) whether the PAKEM plan carried out as a fulfillment of
the standardized goal-oriented learning plan. 2) The performance of PAKEM learning
carried out looking into whether it is in accordance with the goal-oriented plans. 3)
The outputs of PAKEM learning, measured by the achievement of the learning objectives.
The research conducted here has applied an evaluative approach using both quantitative
and qualitative methodology. This research was conducted in SMPN 2 Boja Kendal
regency. The respondents assigned to the research were principal, 20 classroom teachers
of IX grade and 30 students of class IX C. The data collection techniques used
observation, documentation study and interview. The quantitative data analysis was
conducted to gain the results of the data of observation and of studying the documents,
whereas the qualitative data analysis was carried out to examine the results of the
interviews. The research showed that (1) the PAKEM learning plan carried out had
fulfilled the standardized goal-oriented learning plan. Nevertheless, the teachers’
competence in selecting and making use of teaching media needs improving. Teachers
as individuals or with the support of school may do this either. (2) The performance of
PAKEM learning carried out has been done well in accordance with the goal-oriented
plan because all the teachers have achieved good grades of teaching performance.
However, to enhance their teaching performance, it is necessary for the teachers to
improve their competence in making use of the available learning and teaching sources,
teaching media and in assessing the students learning. (3) The outputs of PAKEM
learning have been able to measure the goal achievement of learning. This has been
proven by the fact that a lot of students have passed most of the school subjects (8
subjects) achieving grades higher than the minimum grades required to pass them.
Referring to the minimum grade required to pass the subjects, only a few students have
not passed 4 of them. Nevertheless, school needs to gradually raise the minimum passing
grade in order to be equal to the national one.
Keywords: program evaluation, school-based management, PAKEM

| 139
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

PENDAHULUAN bantu belajar, termasuk pemanfaatan lingkungan,


Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) supaya pembelajaran lebih menarik, menye-
menurut Mulyasa, (2014: 11) adalah suatu nangkan, dan efektif (Asmani, 2013: 59).
konsep yang menawarkan otonomi pada PAKEM berasal dari konsep bahwa pem-
sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah belajaran harus berpusat pada siswa (student
dalam rangka meningkatkan mutu, efisiensi dan centered learning) dan pembelajaran harus
pemerataan pendidikan agar dapat meng- bersifat menyenangkan (learning is fun), agar
akomodasi keinginan masyarakat setempat mereka termotivasi untuk terus belajar sendiri
serta menjalin kerjasama yang erat antara seko- tanpa diperintah dan agar mereka tidak merasa
lah, masyarakat dan pemerintah Manajemen terbebani atau merasa takut (Rusman, 2010:
Berbasis Sekolah (MBS) atau School Based 321). Lebih lanjut menurut Rusman (2010:
Management merupakan model penyeleng- 323), dalam model PAKEM guru dituntut untuk
garaan pendidikan untuk mencapai mutu pen- dapat melakukan kegiatan pembelajaran yang
didikan yang sesuai dengan paradigma desen- dapat melibatkan siswa melalui kegiatan-
tralisasi. Masih menurut Mulyasa (2014: 24), kegiatan yang partisipatif, aktif, kreatif, efektif
MBS merupakan salah satu wujud dari refor- dan menyenangkan yang pada akhirnya
masi pendidikan yang menawarkan kepada membuat siswa dapat menciptakan karya,
sekolah untuk menyediakan pendidikan yang gagasan, pendapat, ide atas hasil penemuannya
lebih baik dan memadai bagi para peserta dan usahanya sendiri, bukan dari gurunya.
didik. Otonomi dalam manajemen merupakan SMP Negeri 2 Boja Kabupaten Kendal
peluang bagi sekolah untuk meningkatkan merupakan sekolah Standar Nasional yang
kinerja staff, menawarkan partisipasi langsung sejak tahun 2010 sudah menerapkan Manajemen
kelompok-kelompok yang terkait, dan me- Berbasis Sekolah. Sekolah ini sebenarnya
ningkatkan pemahaman masyarakat terhadap sangat ideal untuk menjadi sekolah yang
pendidikan. Terdapat 3 (tiga) pilar dalam MBS berprestasi, baik di bidang akademik maupun
yaitu: a) Manajemen sekolah, b) Pembelajaran non akademik. Hal ini didukung dengan kondisi
Aktif Kreatif dan Menyenangkan (PAKEM), antara lain: 1) lokasi sekolah yang sangat
dan c) Peran serta masyarakat. Ketiga pilar strategis dan menjadi pilihan orang tua, 2) jumlah
MBS itu -manajemen sekolah, PAKEM, dan guru yang memenuhi syarat dalam jumlah,
peran serta masyarakat- perlu terus dan kualifikasi maupun kompetensinya, 3) guru
semakin ditingkatkan guna mewujudkan mengajar sesuai bidangnya, 4) jumlah tenaga
pendidikan yang bermutu baik dalam hal kualitas kependidikan yang memenuhi syarat baik
pembelajaran, kurikulum, pendidik, tenaga kualifikasi dan kompetensinya, 5) ruang kelas
kependidikan lainnya, maupun pelayanan yang cukup, ruang penunjang lainnya yang
pendidikan secara keseluruhan. memenuhi syarat (ruang ketrampilan,
PAKEM adalah pendekatan yang perpustakaan, laboratorium, ruang media,
memungkinkan peserta didik mengerjakan tempat ibadah), 6) serta peralatan dan media
kegiatan beragam untuk mengembangkan pembelajaran yang cukup. Namun ketersediaan
ketrampilan, sikap, dan pemahamannya dengan berbagai kondisi yang ideal tersebut belum
penekanan belajar sambil bekerja. Sementara, seimbang dengan mutu/prestasi yang diperoleh
guru menggunakan berbagai sumber dan alat oleh sekolah. Hal ini dibuktikan dengan nilai

140 |
Evaluasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) | Rita Widjajanti & Bambang Suteng Sulasmono

ujian nasional yang fluktuatif dalam kurun tiga dilakukan. Pengecekan ini dilakukan secara
tahun terakhir, sebagaimana terlihat pada tabel terus menerus dan berkesinambungan sehingga
berikut. diketahui ketercapaian tujuan perencanaan
program pembelajaran PAKEM. Pada tahap
pelaksanaan, peneliti melakukan pantauan

Tabel 1 Hasil UN Siswa SMPN 2 Boja Tahun Ajaran 2011/2012 – 2013/2014


Bhs Bhs Rata- Peringkat
No Tahun Ajaran MTK IPA
Ind Ingg rata Kab
1 2011/2012 8,39 5,63 6,37 7,25 6,91 19
2 2012/2013 7,88 5,57 6,48 5,92 6,46 5
3 2013/2014 7,50 5,87 5,10 5,74 6,05 15
Sumber: Data diolah, 2015

Hal di atas mengisyaratkan perlunya terhadap proses pelaksanaan pembelajaran


dilakukan evaluasi terhadap program MBS yang telah dilakukan oleh guru di kelas.
khususnya dalam aspek pembelajaran PAKEM Pengecekan ini dilakukan secara terus menerus
di SMPN 2 Boja. Evaluasi ini dimaksudkan dan berkesinambungan sehingga diketahui
untuk mengetahui berbagai kendala dan ketercapaian tujuan pelaksanaan program
kekurangan serta kelebihan proses pembelajar- pembelajaran PAKEM. Pada tahap evaluasi
an yang berlangsung di SMPN 2 Boja selama dalam PAKEM di SMPN 2 Boja Kabupaten
ini. Mengingat tidak bisa dipastikannya sebuah Kendal, peneliti secara terus menerus dan
program pembelajaran yang sama akan berkesinambungan melakukan pantauan
memberikan hasil yang sama pula pada tempat terhadap evaluasi pembelajaran yang telah
dan waktu yang berbeda. Tujuan diadakannya dilakukan oleh guru seusai pembelajaran, baik
evaluasi program adalah untuk mengetahui evaluasi proses maupun evaluasi hasil belajar.
pencapaian tujuan program dengan langkah Beberapa penelitian terdahulu yang
mengetahui keterlaksanaan kegiatan program, memiliki relevansi dengan penelitian ini adalah
karena evaluator program ingin mengetahui sebagai berikut. Pertama, penelitian Tri
bagian mana dari komponen dan sub komponen Wahyuningsih (2010) dengan judul Implemen-
program yang belum terlaksana dan apa tasi MBS dalam Upaya Peningkatan Mutu
sebabnya (Arikunto, 2008: 18). Sekolah di SMPN 1 Purwokerto Tahun Ajaran
Penelitian ini menggunakan Model Goal 2010/2011. Hasil penelitian menunjukkan
Oriented Evaluation. Goal oriented evaluation bahwa program implementasi MBS mampu
atau evaluasi yang berorientasi pada tujuan, meningkatkan mutu pendidikan di sekolah yang
merupakan sebuah model evaluasi yang meliputi SDM guru serta hasil belajar siswa
menekankan peninjauan pada tujuan sejak awal secara bertahap dan berkelanjutan serta adanya
kegiatan dan berlangsung secara berkesinam- kerjasama antar pihak secara intensif. Kedua,
bungan. Pada tahap perencanaan dalam penelitian Blimpo dan Evans (2011) yang
PAKEM di SMPN 2 Boja Kabupaten Kendal, berjudul School-Based Management and
peneliti melakukan observasi terhadap proses Educational Outcomes: Lessons from a
perencanaan pembelajaran yang telah Randomized Field Experiment. Hasil

| 141
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

penelitian ini menunjukkan bahwa proses dengan penelitian terdahulu, baik dari segi model
pembelajaran menjadi lebih bernilai dengan evaluasi yang hendak digunakan maupun lokasi
hasil optimal jika dikelola secara efektif dan penelitiannya.
efisien dengan menerapkan model manajemen Berdasarkan uraian latar belakang di atas
berbasis sekolah. Ketiga, penelitian Arifin maka peneliti tertarik untuk mengadakan
(2007) dengan judul Penerapan Model penelitian dengan judul “Evaluasi Manajemen
PAKEM Dalam Meningkatkan Mutu Berbasis Sekolah (MBS) dalam PAKEM di
Pembelajaran Gaya Gesekan Pada Siswa SMP Negeri 2 Boja Kabupaten Kendal.”
Kelas V SD Laboratorium Universitas Sejalan dengan latar belakang di atas maka
Negeri Gorontalo. Hasil yang diperoleh dari rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
penelitian ini adalah model pembelajaran aktif, 1)apakah perencanaan pembelajaran PAKEM
kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM) di SMPN 2 Boja Kabupaten Kendal meme-
dapat diterapkan dalam meningkatkan mutu nuhi standar RPP yang berorientasi pada
pembelajaran gaya gesekan pada peserta didik tujuan?, 2) apakah pelaksanaan pembelajaran
kelas V Sekolah Dasar Laboratorium Univer- PAKEM di SMPN 2 Boja Kabupaten Kendal
sitas Negeri Gorontalo. Keempat, Ratam sesuai dengan perencanaan yang berorientasi
(2009) dalam penelitiannya yang berjudul pada tujuan?, dan 3) apakah evaluasi pem-
Pengaruh Pola Pembelajaran Aktif, Kreatif belajaran PAKEM di SMPN 2 Boja Kabu-
dan Menyenangkan (PAKEM) dan Motivasi paten Kendal dapat mengukur ketercapaian
Belajar terhadap Ketuntasan IPS Materi tujuan pembelajaran? Tujuan dari penelitian ini
Sejarah siswa Sekolah Dasar di Kecamatan adalah untuk mengevaluasi perencanaan
Karanganyar Kabupaten Purbalingga, pembelajaran PAKEM dalam pemenuhan
menemukan bahwa pola pembelajaran standar RPP yang berorientasi pada tujuan, dan
PAKEM lebih efektif dalam menolong siswa pelaksanaan pembelajaran PAKEM dalam
mencapai ketuntasan belajar dari pada pola kesesuaiannya dengan perencanaan, serta
konvensial. Kelima, Syaikhudin (2008) dalam evaluasi pembelajaran PAKEM yang diukur
penelitiannya yang berjudul Evaluasi dengan ketercapaian tujuan pembelajaran.
Pelaksanaan Model Pembelajaran Aktif, METODE PENELITIAN
Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan
Jenis penelitian ini adalah penelitian
(PAKEM) di Madrasah Ibtidaiyah Negeri
evaluatif dengan pendekatan kuantitatif dan
(MIN) Jejeran Bantul Yogyakarta, menunjuk-
kualitatif. Model evaluasi yang digunakan
kan bahwa (1) 38% guru termasuk dalam
adalah model evaluasi berbasis tujuan (goal
kategori baik dan 14% sangat baik dalam hal
oriented evaluation model). Subyek dalam
pemahaman tentang pembelajaran PAKEM (2)
penelitian ini adalah kepala sekolah, 20 guru
48% guru termasuk kategori baik dan 9% Guru
mata pelajaran yang mengajar di kelas IX
masuk dalam kategori sangat baik dalam hal
SMPN 2 Boja Kabupaten Kendal. Teknik
pelaksanaan pembelajaran PAKEM. Kelima
pengumpulan data yang digunakan mencakup
penelitian di atas memiliki kesamaan yaitu
observasi, studi dokumen dan wawancara.
berupa penelitian evaluatif terhadap pem-
Analisis data menggunakan metode campuran
belajaran dalam konteks manajemen berbasis
yaitu metode kuantitatif dan kualitatif. Data
sekolah, yang di Indonesia disebut PAKEM.
kualitatif merupakan data yang dikumpulkan
Penelitian yang hendak dilakukan berbeda

142 |
Evaluasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) | Rita Widjajanti & Bambang Suteng Sulasmono

wawancara dengan kepala sekolah maupun HASIL PENELITIAN DAN


guru. Sedang data kuantitatif berupa data angka PEMBAHASAN
yang diperoleh melalui penilaian perencanaan
1. Hasil Penelitian
pembelajaran oleh guru dengan menggunakan
instrumen IPKG 1, dan skor pelaksanaan pem- a. Hasil Evaluasi Perencanaan Pembelajaran.
belajaran yang dilakukan oleh guru dengan Penilaian terhadap RPP 20 guru yang
menggunakan instrumen IPKG 2. Kualitas mengajar di kelas IX, menghasilkan data
perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran perencanaan pembelajaran per komponennya,
guru diklasifikasikan dalam rentang skor pada tergambar dalam tabel 3.
Tabel 2.

Tabel 2 Rentang skor Kualitas Perencanaan dan Pelaksanaan Pembelajaran


Rentang skor Nilai Kualitas
86 - 100 A Sangat Baik
71 – 85 B Baik
56 – 70 C Cukup
< 55 D Kurang

Tabel 3 Rekapitulasi Nilai Komponen Perencanaan Pembelajaran Guru


Nama
Komponen Perencanaan
No guru/ Mata pelajaran Jumlah Rata-rata
Kode 1 2 3 4 5
1 Gr 1 Bahasa Indonesia 4 3,50 3 3,50 3,66 17,66 3,53
2 Gr 2 PKn 4 3 2,66 3,25 2,66 15,57 3,11
3 Gr 3 IPA Terpadu 4 3,25 3 2,55 3 15,75 3,15
4 Gr 4 PAI 4 3,25 3 3 3 16,25 3,25
5 Gr 5 TIK 4 3 3 4 3 17 3,43
6 Gr 6 IPS Terpadu 3,33 3 2,33 3 2,66 14,29 2.85
7 Gr 7 Ketrampilan 4 3 3 2 3 15,00 3,00
8 Gr 8 Seni Budaya 3,66 3 3 3 3,66 15,99 3,98
9 Gr 9 Matematika 4 3,5 3,25 3 2,66 16,41 3,28
10 Gr 10 Bahasa Jawa 3.66 3 2,66 2,5 3 14,82 2,96
11 Gr 11 IPS Terpadu 4 3 3 3 2,66 15,66 3,13
12 Gr 12 IPA Terpadu 3.66 3,75 2,66 3 3 16.07 3,21
13 Gr 13 BK 3,25 3 3,66 3,5 4 17,41 3,48
14 Gr 14 Penjasorkes 4 3,25 3 3,25 3,66 17.16 3,43
15 Gr 15 Bahasa Inggris 3 3 2,33 3 3 14,33 2,86
16 Gr 16 Bahasa Inggris 3,66 3 2,33 3 3 14,99 2,99
17 Gr 17 Bahasa Inggris 3,33 3,75 2,66 3,25 3 15,99 3,19
18 Gr 18 Matematika 4 3,75 3 3,25 3 17 3,4
19 Gr 19 Matematika 3.33 3,50 2,66 3 3 15,41 3,08
20 Gr 20 Matematika 4 3,25 3 3 3 16,25 3,15
Jumlah 71,63 64,7 57,2 61,0 61,2 315,92 63,18
Nilai Komponen (skala ratusan)
= Nilai diperoleh : Nilai 89,53 80,98 71,5 76,31 76,61 394,9 78,98
maksimal x100
Keterangan: Lima Komponen perencanaan pembelajaran meliputi: 1) Perumusan Tujuan Pembelajar-an, 2) Pemilihan dan
pengorganisasian Materi Pembelajaran, 3) Pemilihan Sumber Belajar/Media Pembelajaran, 4) Metode Pembelajaran,
dan 5) Penilaian hasil Belajar.

| 143
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

Menurut Tabel 3, nilai tertinggi yang diperoleh b. Evaluasi Pelaksanaan Pembelajaran


para Guru adalah komponen ke-1 yaitu Hasil observasi terhadap pelaksanaan
perumusan tujuan pembelajaran dengan nilai pembelajaran dari 20 guru mata pelajaran yang
rata-rata 89,53, nilai terendah adalah mengajar kelas IX, disajikan dalam Tabel 4.
komponen ke-3 yaitu pemilihan sumber belajar/ Menurut Tabel 4, nilai tertinggi yang
media pembelajaran dengan nilai rata-rata 71,5. dicapai oleh para Guru adalah nilai dalam
Rendahnya nilai ini disebabkan antara lain oleh komponen ke-6 yaitu penggunaan bahasa
keterbatasan sumber belajar/media pembe- dengan tara-rata nilai 92,02 (A), sedang nilai
lajaran yang dimiliki sekolah, dan keterbatasan terendah adalah komponen ke-4 yaitu
kemampuan guru dalam menggunakan media pemilihan sumber belajar/media pembelajaran
pembelajaran yang ada di sekolah. Tampak dengan nilai rata-rata 69,81 (C). Nilai terendah
juga bahwa nilai rata-rata setiap komponen kedua adalah nilai komponen ke-7 yaitu
perencanaan belum mencapai kategori Amat penilaian proses dan hasil belajar dengan nilai
Baik. Penyebabnya antara lain adalah karena rata-rata 70,41. Rendahnya nilai komponen ke-
sebagian guru masih meng-copy paste RPP 4 yaitu pemanfaatan sumber belajar/media
yang di buat oleh MGMP atau sumber lain yang pembelajaran disebabkan antara lain keter-
belum disesuaikan dengan kondisi sekolah. batasan sarana dan prasarana khususnya

Tabel 4. Rekapitulasi Nilai Komponen Pelaksanaan Pembelajaran Guru


Nama Komponen Pelaksanaan Pembelajaran
Mata Jum Rata-
No guru/
pelajaran 1 2 3 4 5 6 7 8 lah rata
Kode
1 Gr 1 Bhs.Ind 4 3,5 3,11 2,66 3,5 3,66 3 3,25 26,93 3,36
2 Gr 2 PKn 3,5 3,25 3,28 2,33 3,16 4 3 3,25 25,77 3,22
3 Gr 3 IPA 4 3,66 3,33 3 2,66 3,16 2,5 3,25 25,56 3,19
4 Gr 4 PAI 3,25 3 3 2,66 3 3,66 2,5 3,25 24,32 3,04
5 Gr 5 TIK 3,25 3 3 2,66 2,83 4 3 3,25 24,99 3,12
6 Gr 6 IPS 3,25 3 3,14 2,66 3 3,66 3 3 24,71 3,08
7 Gr 7 Ketrampila 3,5 3 2,77 3 3,16 4 2,5 3,25 25,18 3,14
8 Gr 8 S. Budaya 3,25 3,4 3,14 3,33 3 4 3 3,25 26,37 3,29
9 Gr 9 Mat 3,5 3 3,16 3,16 3 2,66 2,83 3,25 24,56 3,07
10 Gr 10 Bhs. Jawa 3,5 3 2,77 3 3,16 4 2,5 3,25 25,18 3,14
11 Gr 11 IPS 4 3 3,14 2,66 3 4 3 3,25 26,05 3,25
12 Gr 12 IPA 3,5 3,66 3,28 2 2,83 4 3 3,25 25,52 3,19
13 Gr 13 BK 3,5 3 2,77 3 3,16 4 2,5 3,25 25,18 3,14
14 Gr 14 Penjas 3,5 3 2,77 3 3,16 4 2,5 3,25 25,18 3,14
15 Gr 15 B. Inggris 3,25 3,4 3,14 3,33 3 4 3 3,25 26,37 3,29
16 Gr 16 B. Inggris 3,5 3 2,77 2,66 2,83 4 3 3 24,76 3,09
17 Gr 17 B. Inggris 4 3,66 3,14 2,66 3,16 3,66 3 3,25 26,53 3,31
18 Gr 18 Math 3,5 3,33 3,16 3 3 3,16 3 2,75 24,9 3,11
19 Gr 19 Math 3,5 3 3,16 2,75 2,33 3 3 3,25 23,99 2,99
20 Gr 20 Math 3.5 3 3.16 2.33 2.88 3 2.5 3 23.37 2.92

Jumlah 71 63.86 61.19 55.85 59.82 73.62 56.33 63.75 505.4 63.17
Nilai Komponen
(skala ratusan)
88.75 79.82 76.49 69.81 74.77 92.02 70.41 79.68 631.78 78.97
= Nilai diperoleh :
Nilai maksimal x100
Sumber: Data penelitian, diolah
Keterangan : komponen 1 adalah membuka pelajaran, komponen 2 adalah penguasaan materi, komponen 3 adalah
pendekatan dan strategi, komponen 4 adalah pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran, komponen
5 adalah peran aktif siswa, komponen 6 adalah penggunaan bahasa, komponen 7 adalah penilaian
proses dan hasil belajar, serta komponen 8 adalah menutup pelajaran.

144 |
Evaluasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) | Rita Widjajanti & Bambang Suteng Sulasmono

sumber belajar/media pembelajaran yang di bawah ini, tampak bahwa jika dibandingkan
dimiliki sekolah, dan masih rendahnya kemam- dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
puan guru dalam menggunakan media pem- untuk tiap-tiap matapelajaran yang sudah
belajaran yang ada. Sedang rendahnya nilai ditetapkan oleh sekolah, maka dari 12 mata
komponen ke-7 yaitu penilaian proses dan hasil pelajaran yang diajarkan, terdapat 8 mata
belajar siswa disebabkan antara lain : guru tidak/ pelajaran yang seluruh siswanya telah mencapai
belum melaksanakan penilaian proses dan hasil nilai KKM. Sedangkan 4 mata pelajaran yang
belajar sesuai rencana karena sebagian guru lain yaitu PKn, Bahasa Inggris, Matematika,
masih ada yang berpendapat bahwa yang IPS, terdapat sejumlah siswa yang belum
terpenting sudah menyusun perencanaan, dan mencapai KKM. Sepintas tampak bahwa
pelaksanaan nnya bolehtidak sesuai dengan berdasarkan data di atas secara umum kualitas
yang direncanakan. hasil belajar siswa pada ulangan harian yang
c. Evaluasi terhadap penilaian hasil belajar diselenggarakan oleh para Guru sudah termasuk
baik. Namun jika ditilik lebih dalam akan
Data hasil evaluasi terhadap, penilaian tampak bahwa dari dua belas mata pelajaran
hasil belajar siswa yang dilakukan oleh para yang ada, hanya dua mata pelajaran yang
guru setelah melaksanakan pembelajaran disajikan hanya ada 2 (dua) matapelajaran yaitu
tergambar dalam Tabel 5. Berdasarkan tabel IPS dan Mulok Ketrampilan yang KKM nya

Tabel 5 Rekap Nilai Ulangan Harian Kedua Kelas IX C


Nomor Nilai per Mata Pelajaran

Rata-rata
P Kewarganeg

Tek Informasi

Jumlah
Bahasa Jawa
Pend Agama

Seni Budaya
Matematika

Penjasorkes
B Indonesia

Peng Sosial
Induk

Peng Alam
Urut

B Inggris

KKM 73 73 73 70 70 70 75 72 72 72 72 Mulok II
75
1 5984 73 84 80 75 70 80 75 80 75 75 75 80 922 76,83
2 6015 75 72 73 70 80 80 75 80 80 75 75 80 915 76,25
3 5951 80 80 84 70 75 85 85 85 80 80 80 80 964 80,33
4 5922 75 72 80 70 75 85 85 85 80 85 80 85 957 79,75
5 6083 80 84 76 80 75 75 80 85 80 72 80 85 952 79,33
6 6050 80 78 84 85 80 90 85 80 85 75 75 80 977 81,42
7 5985 73 88 92 75 75 90 85 80 75 75 75 85 968 80,67
8 6090 75 88 88 80 75 70 65 85 75 80 80 80 941 78,42
9 5960 75 84 92 80 85 85 75 80 75 85 75 80 971 80,92
10 5990 80 92 84 75 70 70 75 90 80 75 85 80 956 79,67
11 6058 80 76 86 75 65 75 75 85 75 75 90 80 937 78,08
12 6029 73 84 88 70 65 85 70 85 75 75 75 75 920 76,67
13 6122 75 88 84 70 80 70 70 80 80 85 85 85 952 79,33
14 6030 80 84 84 70 75 75 75 80 80 90 75 85 953 79,42
15 5935 75 72 80 70 70 70 80 80 85 85 85 80 932 77,67
16 6035 75 88 88 75 80 80 80 85 85 85 85 80 986 82,17
17 5971 75 84 84 85 70 90 80 90 85 75 85 80 983 81,92
18 6127 75 80 84 75 85 80 90 85 75 75 85 85 974 81,17
19 6069 80 88 88 70 80 80 85 85 75 75 75 80 961 80,08
20 5940 75 80 84 70 75 80 75 80 75 80 75 75 924 77,00
21 6002 75 80 75 65 75 70 70 80 80 75 75 75 895 74,58
22 6003 73 80 84 80 75 80 75 80 80 75 80 75 937 78,08
23 6004 80 80 84 85 75 75 75 80 80 75 80 80 949 79,08
24 6102 80 84 84 70 80 75 75 80 85 72 75 80 940 78,33
25 5943 73 60 84 70 75 75 80 80 85 75 75 75 907 75,58
26 6106 75 88 88 85 75 75 85 85 75 72 80 85 968 80,67
27 6109 80 92 84 90 80 90 75 90 75 90 90 80 1016 84,67
28 5978 80 80 84 75 85 80 75 80 75 75 80 80 949 79,08
29 6014 80 76 80 75 85 85 75 85 75 72 80 80 948 79,00
30 5950 73 73 75 70 75 75 70 80 80 72 75 75 893 74,42
Nilai Rata-rata 77 81 84 75 76 79 77 83 79 78 80 80 948 79
Nilai Tertinggi 80 92 92 90 85 90 90 90 85 90 90 85 1016 85
Nilai Terendah 73 60 73 65 65 70 65 80 75 72 75 75 893 74
Tuntas (%) 100 87 100 97 93 100 83 100 100 100 100 100
Tidak tuntas (%) 0 13 0 3 7 0 17 0 0 0 0 0

Sumber: Data penelitian, diolah

| 145
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

sama dengan KKM Nasional yaitu sebesar 75. pada komponen 3 (tiga) tentang pemilihan
Selebihnya KKM 10 (sepuluh) mata pelajaran sumber belajar/media pembelajaran. Rendahnya
yang lain masih kurang dari 75. Hal ini kemampuan guru dalam memilih dan meng-
menunjukkan bahwa kualitas KKM di SMP 2 gunakan sumber pembelajaran/media pem-
Boja mayoritas masih di bawah KKM Nasional belajaran disebabkan karena sebagian guru
yaitu 75. Sehingga capaian atas KKM oleh para belum memiliki kompetensi yang baik dalam
siswa di atas, sebagian besar belum mencapai memilih dan menggunakan sumber pembelajar-
KKM Nasional. an/media pembelajaran. Selain itu juga dikare-
nakan masih terbatasnya sarana prasarana/
2. Pembahasan
media pembelajaran yang ada di sekolah. Hal
a. Pembahasan Hasil Perencanaan Pembelajaran ini perlu pendapatkan perhatian baik dari guru
Berdasarkan hasil penilaian perencanaan maupun kepala sekolah, agar guru meningkat-
pembelajaran yang telah dipaparkan di atas, kan kompetensinya dalam pemilihan dan
bisa dikatakan bahwa perencanaan pembe- pemanfaatan sumber/media pembelajaran.
lajaran yang dilakukan oleh guru-guru SMP Kategori nilai Baik yang diperoleh dalam
Negeri 2 Boja pada dasarnya telah mengacu perencanaan pembelajaran yang disusun oleh
model RPP pembelajaran PAKEM yang guru disebabkan karena sebagian besar guru
mencakup komponen RPP yang benar yaitu aktif dalam kegiatan Musyawarah Guru Mata
meliputi: Identitas sekolah, Standar Kompe- Pelajaran (MGMP) sekolah yang diadakan
tensi, Kompetensi Dasar, Indikator pencapaian setiap 2 (dua) minggu sekali maupun MGMP
hasil belajar, tujuan pembelajaran, materi Kabupaten yang diadakan setiap bulan sekali
pembelajaran, pendekatan dan metode pada minggu keempat. Selain itu, kemampuan
pembelajaran, langkah kegiatan pembelajaran guru dalam menyusun RPP juga dipengaruhi
(pendahuluan, inti dan penutup), alat dan dengan adanya fungsi kepala sekolah sebagai
sumber belajar serta penilaian pembelajaran. supervisor yang telah menjalankan tugasnya
Hal ini telah sesuai dengan komponen RPP dengan baik yaitu dengan memeriksa RPP guru
PAKEM yang dikemukakan oleh Usman sebelum digunakan dalam pembelajaran.
(2008) yang menyebutkan secara teknis Kualitas kemampuan guru dalam menyusun RPP
rencana pembelajaran minimal mencakup juga dipicu oleh adanya kegiatan rutin kompetisi
komponen-komponen berikut: (1) Standar guru berprestasi tingkat kabupaten yang biasa
kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator diadakan tiap semester.
pencapaian hasil belajar, (2) Tujuan
b. Pembahasan Hasil Pelaksanaan Pembe-
pembelajaran. (3) Materi pembelajaran. (4)
lajaran
Pendekatan dan metode pembelajaran. (5)
Langkah-langkah kegiatan pembelajaran. (6) Pelaksanaan pembelajaran yang dilaku-
Alat dan sumber belajar. (7) Evaluasi pem- kan oleh guru-guru di SMP Negeri 2 Boja pada
belajaran. dasarnya sudah sesuai dengan model PAKEM,
Secara kualitas nilai semua komponen hal ini ditunjukkan dalam pelaksanaan
perencanaan pembelajaran menunjukkan nilai pembelajarannya sudah memenuhi kriteria aktif,
yang belum mencapai Amat Baik. Masih ada kreatif, efektif dan menyenangkan, namun
komponen yang sangat penting dalam sebuah demikian kompetensi guru tetap masih sangat
perencanaan, yang nilainya masih rendah yaitu perlu ditingkatkan terus agar kualitas pem-

146 |
Evaluasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) | Rita Widjajanti & Bambang Suteng Sulasmono

belajaran semakin baik sehingga hasilnya pun Secara keseluruhan nilai rata-rata pelak-
juga akan semakin baik. Masih dijumpai be- sanaan pembelajaran semua guru di SMP
berapa guru dalam membuka pelajaran banyak Negeri 2 Boja sudah Baik. Hal ini juga
menghabiskan waktu sehingga tidak sesuai disebabkan karena adanya program kegiatan
dengan yang direncanakannya. supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah
Pada kegiatan inti, masih ada komponen secara rutin tiap 2 kali dalam 1 semester. Selain
yang memperoleh nilai rendah yaitu pada supervisi oleh kepala sekolah, guru juga mampu
komponen pemanfaatan sumber belajar/media menciptakan interaksi dengan siswa yang baik
pembelajaran dan komponen penilaian proses sehingga pembelajaran lebih kondusif. Sedang-
dan hasil belajar. Hal ini terjadi karena kom- kan pada kegiatan inti pelajaran, ada dua
petensi guru dalam pemanfaatan sumber komponen yang nilainya masih dalam kategori
belajar/media pembelajaran masih sangat Cukup, yaitu komponen 4 (empat) yaitu pe-
kurang. Banyak guru yang belum mampu manfaatan sumber belajar dan media pem-
menggunakan komputer / LCD sebagai media. belajaran dan komponen 7 (tujuh) yaitu pe-
Untuk menyikapi hal tersebut, dalam kegiatan nilaian proses dan hasil belajar. Mengingat pen-
inti ini guru dituntut untuk lebih kreatif me- tingnya kedua komponen tersebut, maka guru
manfaatkan lingkungan yang ada sebagai media maupun kepala sekolah agar memberikan
pembelajaran. Kegiatan pembelajaran tidak perhatian. Rendahnya nilai kedua komponen
harus di dalam kelas tetapi bisa juga dilakukan ini disebabkan masih terbatasnya kemampuan
di luar kelas dengan memanfaatkan lingkungan guru dalam memanfaatkan sumber belajar dan
yang ada. Hal ini perlu mendapatkan perhatian media pembelajaran, juga disebabkan masih
yang serius dari guru maupun sekolah agar terbatasnya media/alat pembelajaran yang
kompetensi dan kreativitas guru lebih ditingkat- disediakan oleh sekolah.
kan, agar siswa gembira dalam mengikuti Pada dasarnya pelaksanaan pembelajar-
pelajaran sehingga mereka akan mencintai ilmu an PAKEM di SMP 2 Boja sudah berjalan
yang dipelajarinya. Dengan suasana yang dengan baik sesuai dengan hasil penelitiannya
gembira dan mencintai ilmu yang dipelajarinya Blimpo dan Evans (2001) yang mengatakan
tentu siswa akan lebih mudah menyerap materi bahwa proses pembelajaran menjadi lebih
pelajaran sehingga tujuan yang direncanakan bernilai dengan hasil optimal jika dikelola secara
bisa tercapai. Demikian halnya dengan kegiatan efektif dan efisien dengan menerapkan model
penutup, terkadang guru lupa tidak memberikan PAKEM, namun masih perlu pembenahan dan
refleksi dan penugasan. Kegiatan refleksi sangat peningkatan.
penting untuk mengetahui seberapa besar materi Disisi lain sebagai pembanding, menurut
yang sudah diserap dan dipahami oleh siswa, hasil penelitian yang dilakukan oleh Kafit (2009)
oleh karena itu guru harus lebih disiplin dalam tentang Efektifitas Penggunaan Media
pemanfaatan waktu, agar semua kegiatan bisa Pembelajaran Komputer Untuk Meningkatkan
dilaksanakan dengan baik. hasil Belajar Mata Pelajaran IPA Kelas VIII
Berdasarkan hasil penilaian pelaksana- MTs NU Hasyim Asyari Honggowongso Jekulo
an pembelajaran di atas, ternyata faktor Kudus, menyatakan bahwa: Penggunaan media
kedisiplinan guru dalam menggunakan waktu pembelajaran komputer mampu mening-
berdasarkan perencanaan yang telah disusun katkan prestasi belajar IPA, karena dengan
perlu mendapatkan perhatian yang serius. menggunakan media tersebut siswa lebih ter-

| 147
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

tarik dan lebih termotivasi. Dengan demikian yang meliputi pretest, penilaian proses dan
kompetensi guru SMP Negeri 2 Boja postest maupun bentuk penilaian lainya seperti
khususnya dalam pemanfaatan sumber belajar/ portofolio, penugasan terstruktur maupun
media pembelajaran sangat perlu ditingkatkan kegiatan mandiri terstruktur. Perencanaan
agar kualitas pembelajaran semakin baik dan evaluasi pembelajaran yang telah dilaksanakan
hasil/prestasi belajar siswa pun juga semakin yang meliputi kualitas butir soal, kualitas hasil
meningkat. belajar, kualitas waktu dalam perencanaan dan
Dengan demikian, sekalipun di SMP Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) diperoleh
Negeri 2 Boja sudah mengimplementasikan hasil bahwa kualitas butir soal ternyata belum
MBS dan PAKEM, namun, dengan pencapaian semua guru menyusun instrumen penilaian
prestasi belajar siswa yang belum memenuhi secara lengkap dalam RPP.
harapan, maka kompetensi guru dalam Kualitas hasil belajar siswa SMP N 2
menerapkan PAKEM masih sangat perlu Boja, secara umum sebenarnya sudah baik, hal
ditingkatkan, dan sekolah perlu memberikan ini dibuktikan dengan 8 mata pelajaran
dukungan dengan memberikan fasilitas yang menunjukkan semua anak telah mencapai
cukup bagi guru untuk melaksanakan PAKEM. KKM, sedangkan 4 mata pelajaran yang lain
c. Pembahasan Hasil Evaluasi Pembelajaran yaitu mata pelajaran PKn, Bahasa Inggris,
Matematika dan IPS hanya menunjukkan
Menurut Asmani (2013: 105) salah beberapa anak yang belum mencapai batas
satu kriteria penilaian yang sesuai dengan tuntas. Kualitas KKM di SMP 2 Boja perlu
konsep PAKEM yaitu penilaian yang sesuai adanya peningkatan menuju KKM Nasional
dengan pembelajaran model PAKEM yaitu yaitu 75, hal ini terlihat dari dari data KKM
penilaian otentik yang merupakan proses sekolah hanya dua mata pelajaran yang KKM
pengumpulan informasi oleh guru tentang nya 75, yaitu mata pelajaran IPS dan
perkembangan dan pencapaian pembelajaran Ketrampilan, sedangkan mata pelajaran yang
peserta didik melalui berbagai teknik yang lain KKM nya masih di bawah 75.
mampu mengungkapkan, membuktikan atau Pentingnya mengevaluasi pembelajaran
menunjukkan secara tepat bahwa tujuan karena guru akan mengetahui tingkat
pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan keberhasilan maupun bagian-bagian yang perlu
dicapai. Bentuk penilaian tes dapat dilakukan diperbaiki. Hal ini sebagaimana dikemukakan
secara lisan, tertulis, dan perbuatan. Sementara oleh Uno (2008: 95), bahwa Evaluasi akhir atau
itu, bentuk penilaian non-tes dilakukan dengan post test berfungsi untuk memperoleh gambar-
menggunakan skala sikap, ceklis, kuesioner, an tentang kemampuan yang dicapai siswa pada
studi kasus, dan portofolio. akhir pengajaran. Jika hasil evaluasi akhir kita
Mengacu pada hasil observasi pelak- bandingkan dengan evaluasi awal, maka dapat
sanaan pembelajaran yang salah satu kom- diketahui seberapa jauh efek atau pengaruh dari
ponennya adalah penilaian proses dan hasil pengajaran yang telah kita berikan, disamping
pembelajaran, ternyata yang dilaksanakan oleh sekaligus dapat pula diketahui bagian-bagian
guru SMP Negeri 2 Boja belum dilaksanakan mana dari bahan pengajaran yang masih belum
dengan baik. Hal ini tentunya belum sesuai dipahami oleh sebagian besar siswa.
sepenuhnya dengan karateristik evaluasi yang
seharusnya dilakukan dalam model PAKEM

148 |
Evaluasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) | Rita Widjajanti & Bambang Suteng Sulasmono

SIMPULAN DAN SARAN Saran


Simpulan 1. Kepala Sekolah hendaknya: a) mengadakan
1. Perencanaan pembelajaran PAKEM di kegiatan In House Training (IHT) dengan
SMPN 2 Boja Kabupaten Kendal telah me- menghadirkan narasumber dengan materi
menuhi standar RPP yang berorientasi pada pemanfaatan sumber/media pembelajaran.
tujuan, akan tetapi masih perlu perbaikan b) mengintensifkan kegiatan supervisi
dan peningkatan kompetensi guru pada akademik untuk memastikan guru meningkat
komponen pemilihan dan pemanfaatan kompetensinya dalam pemanfaatan sumber
sumber/media pembelajaran, baik oleh belajar/media pembelajaran. dan penilaian
guru secara mandiri maupun oleh sekolah proses dan hasil belajar. c) menambah alat
2. Pelaksanaan pembelajaran PAKEM di peraga/media pembelajaran yang dibutuh-
SMPN 2 Boja Kabupaten Kendal telah kan oleh guru sehingga kualitas pembelajaran
sesuai dengan perencanaan yang berorientasi guru semakin baik, d) mengadakan kegiatan
pada tujuan, karena semua guru memiliki IHT/Workshop tentang penyusunan butir
nilai pelaksanaan pembelajaran rata-rata soal dan alat evaluasi agar kompetensi guru
Baik, akan tetapi agar kualitas pembelajaran khususnya dalam penilaian proses dan hasil
menjadi lebih baik, maka guru perlu belajar dapat lebih berkualitas, e) menga-
meningkatkan kompetensinya dalam dakan pemberdayaan kegiatan MGMP
komponen pemanfaatan sumber belajar/ sekolah.
media pembelajaran dan penilaian proses 2. Guru hendaknya: a) aktif belajar mandiri dari
dan hasil belajar berbagai sumber dan aktif mengikuti ke-
3. Evaluasi pembelajaran PAKEM di SMPN giatan IHT/Workshop, serta diklat yang di-
2 Boja Kabupaten Kendal telah dapat selenggarakan oleh LPMP dll tentang pe-
mengukur ketercapaian tujuan pembelajar- milihan dan pemanfaatan sumber/mediapem-
an. Meskipun belum semua guru mata belajaran, b) meningkatkan kompetensinya
pelajaran melaksanakan penilaian sesuai dalam komponen penggunaan/pe-manfaatan
dengan standar PAKEM yaitu melalui sumber belajar/media pembelajaran, dengan
pretest, penilaian proses, postest, portofolio secara terbuka meminta kepala sekolah
maupun penugasan terstruktur dan tugas untuk mensupervisi pembelajaran dan
mandiri tidak terstruktur sesuai dengan memberikan masukan, c) meningkatkan
rencana penilaian, namun tujuan pem- kompetensinya dalam penilaian proses dan
belajaran sudah tercapai, hal ini bisa hasil belajar sehingga kualitas pembelajaran
dibuktikan dengan 12 (dua belas) mata menjadi lebih baik, dengan cara aktif belajar
pelajaran yang diajarkan di kelas IX, mandiri dari berbagai sumber serta
terdapat 8 (delapan) mata pelajaran yang mengikuti kegiatan IHT/Workshop terkaitan
siswanya tuntas semua sesuai dengan KKM dengan penilaian proses dan hasil belajar,
yang sudah ditetapkan, dan hanya 4 (empat) d) mengembangkan kreativitas dan ino-
mata pelajaran yang sebagian kecil siswa vasinya dalam proses pembelajaran dengan
belum tuntas berdasarkan KKM, namun mengembangkan/menciptakan alat peraga/
sekolah perlu secara bertahap meningkatkan media pembelajaran serta memanfaatkan
KKM menuju KKM nasional. lingkungan sekolah sebagai sumber belajar,

| 149
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

e) memiliki motivasi dan merasa tertantang Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19
untuk meningkatkan KKM mata pelajaran Tahun 2005 Tentang Standar Nasional
menuju KKM Nasional. Pendidikan.
Ratam. 2009. Pengaruh Pola Pembelajaran
DAFTAR PUSTAKA Aktif, Kreatif dan Menyenangkan
(PAKEM) dan Motivasi Belajar
Arifin, Irvin Novita. 2007. Penerapan Model
terhadap Ketuntasan IPS Materi
Pakem Dalam Meningkatkan Mutu
Sejarah Siswa Sekolah Dasar di
Pembelajaran Gaya Gesekan Pada Siswa
Kecamatan Karanganyar Kabupaten
Kelas V SD Laboratorium Universitas
Purbalingga. Yogyakarta: UIN Sunan
Negeri Gorontalo. Jurnal Penabur UNG.
Kalijaga Press.
Vol. 09, No. 2.
Rusman. 2010. Model-model Pembelajaran.
Arikunto, Suharsimi. 2008. Evaluasi Program
Bandung: Mulia Mandiri Press.
Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Slameto. 2009. Manajemen Pendidikan.
Asmani, Jamal Ma’mur. 2013. 7 Tips Aplikasi
Salatiga: Widya Sari Press.
PAKEM. Yogyakarta: Diva Press.
Syaikhudin, Ahmad. 2008. Evaluasi Pelak-
Blimpo dan Evans. 2011. School-Based
sanaan Model Pembelajaran Aktif,
Management and Educational Outcomes:
Kreatif, Efektif, dan Menyenang-kan
Lessons from a Randomized Field
(PAKEM) di Madrasah Ibtidaiyah
Experiment. SIEPR, Stanford University
Negeri (MIN) Jejeran Bantul Yogya-
The World Bank. Nop. Vol. 4 No.45.
karta. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga
Depdiknas. 2001. Manajemen Peningkatan Press.
Mutu Berbasis Sekolah. Buku 2:
Tri Wahyuningsih. 2010. Implementasi MBS
Panduan Penyusunan dan Pelaporan.
dalam Upaya Peningkatan Mutu
Jakarta: Depdiknas, Ditjen Dikdasmen
Sekolah di SMPN 1 Purwokerto Tahun
Direktorat SLTP.
ajaran 2010/2011. Tesis. Purwokerto:
Kafit, M. 2009. Efektifitas Media Pem- UNP Press.
belajaran Komputer Untuk Meningkat-
Uno, Hamzah.2013. Belajar dengan Pende-
kan Hasil Belajar Mata Pelajaran IPA
katan PAIKEM. Jakarta: Bumi Aksara.
Klas VIII MTs NU Hasyim Asyari 03
Honggowongso Jekulo Kabupaten Usman, Uzer. 2008. Menjadi Guru Profesional.
Kudus. Semarang: Walisongo Press. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mulyasa, E. 2014. Manajemen Berbasis
Sekolah. Bandung: Rosda Karya.

150 |
Evaluasi Implementasi Program Sekolah Dasar Standar Nasional (SDSN)| Eriyani & Sutriyono

Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan ISSN 2443-0544
Magister Manajemen Pendidikan
Volume: 2, No.2, Juli-Desember 2015
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana
jurnalkelola@gmail.com Halaman: 151-161

EVALUASI IMPLEMENTASI PROGRAM SEKOLAH DASAR


STANDAR NASIONAL (SDSN) DI SEKOLAH DASAR NEGERI
KABUPATEN TEMANGGUNG

E ri yan i
wheery09@gmail.com
Alumni Program Pascasarjana Magister Manajemen Pendidikan
FKIP-Universitas Kristen Satya Wacana

Sutriyono
sutriyono@staff.uksw.edu
Program Pascasarjana Magister Manajemen Pendidikan
FKIP-Universitas Kristen Satya Wacana

ABSTRACT
This study aimed to describe the design, installation, process and product implementation
SDSN program at SDN 1 Ngadirejo Temanggung. This study is evaluative, by using a
mixed methods Discrepancy models. The data collecting technique used interview,
questionnaires, study documentation, and observation. The validity of the data was
done by using triangulation. The results of the study were (a) the design stage in
accordance with the guidelines organizing school national standards, (b) the installation
phase there was a shortage of space (c) phase of the process has not been implemented
to the maximum, competency standards there was a gap in the medium category that
has not been able to achieve in the level district or higher. Content standards had gaps
with low category, the ownership of the curriculum document by 80%. Standard
processes had gaps with low category that teachers rarely did ICT-based learning.
Standard teachers and education personnel had gaps medium category that educators
were still many of internship teachers(Guru Wiyata Bhakti). Standard facilities and
infrastructure has a gap with category-less school grounds and space for PBM.
Management standards had gaps lower categories, namely activities carried out 70-
89% of new schools, school community involvement in decision making policy and
school programs of up to 70-80%. Standard finance was still a gap with the low category
for schools to implement the program required additional costs of the public. Assessment
standards had gaps with low category because of the level of student learning outcomes
documentation was only implemented by 75-90%. (d) Product implementation of
programs already met the standard mastery learning is at least 95% and 90% of
graduates go on to a higher school. The standards have not been met is the UN values
above the regional average and have achievements in regional, national and
international.
Keywords: Program Evaluation, National Standard Elementary School

| 151
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

PENDAHULUAN potensi yang dimiliki oleh masing-masing


Tujuan pendidikan nasional secara sekolah. SSN diharapkan juga berfungsi sebagai
umum adalah untuk mencerdaskan kehidupan patok duga (bench mark) bagi sekolah dalam
bangsa, oleh sebab itu setiap warganegara mengembangkan diri menuju layanan pendidikan
Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang yang baik dan komprehensif (Depdiknas,
bermutu sesuai dengan bakat dan minat yang 2008). Sedang Sekolah Dasar Standar Nasional
dimilikinya tanpa memandang status sosial, ras, selanjutnya disebut SDSN sebagaimana
etnis, dan agama mereka. Oleh karena itu disebutkan dalam buku Panduan Penyeleng-
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 garaan Sekolah Dasar Standar Nasional tahun
tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II 2007 adalah Sekolah Dasar/Madrasah
Pasal 3 menyatakan bahwa pendidikan nasional Ibtidaiyah yang memenuhi Standar Nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan Pendidikan. Standar-standar tersebut meliputi
membentuk watak serta peradaban bangsa standar isi, proses, kompetensi lulusan, pen-
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan didik dan tenaga kependidikan, sarana dan
kehidupan bangsa. prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan peni-
Pendidikan yang bermutu diharapkan laian. Tujuan penyelenggaraan Sekolah Dasar
dapat membuahkan Sumber Daya Manusia Standar Nasional adalah (1) memfungsikan SD/
(SDM) yang unggul dan mampu bersaing di era MI menjadi pusat pembudayaan ilmu penge-
globalisasi ini. Dalam upaya tersebut pemerintah tahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan
menetapkan Standar Nasional Pendidikan, nilai; (2) menjamin terwujudnya mutu pen-
sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan didikan sekolah dasar yang dapat mencerdas-
Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang kan kehidupan bangsa dan membentuk watak
Standar Nasional Pendidikan. Dalam peraturan serta peradaban bangsa yang bermartabat; (3)
ini pemerintah memetakan sekolah/madrasah meningkatkan mutu layanan pendidikan di
menjadi sekolah/madrasah yang sudah atau tingkat sekolah dasar. Tujuan SDSN dapat
hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan terwujud bila sekolah dapat memenuhi delapan
dan sekolah/madrasah yang belum memenuhi standar nasional pendidikan.
Standar Nasional Pendidikan. Selanjutnya Dari studi pendahuluan di Kabupaten
pemerintah mengkategorikan sekolah/ Temanggung diketahui bahwa pelaksanaan
madrasah yang telah memenuhi atau hampir SDSN mengalami beberapa hambatan seperti
memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke belum intensifnya sosialisasi implementasi
dalam kategori mandiri, dan sekolah/madrasah SDSN, dan sumber daya manusia pelaksana
yang belum memenuhi Standar Nasional kebijakan yang belum mampu menjabarkan dan
Pendidikan ke dalam kategori standar. melaksanakan kebijakan SDSN. Prestasi
Sekolah Standar Nasional (SSN) sekolah-sekolah SDSN di Kabupaten Temang-
diharapkan menjadi acuan atau rujukan sekolah gung juga belum optimal. Hal ini terbukti dari
lain dalam pengembangan sekolah, sesuai prestasi akademik maupun non akademik
dengan standar nasional. Selain itu SSN sebelas sekolah dasar yang ditetapkan sebagai
diharapkan dapat memacu untuk terus SDSN paling awal yaitu tahun pelajaran 2007/
mengembangkan diri dan mencapai prestasi 2008 masih tertinggal dari SD yang bukan
dalam berbagai bidang yang sesuai dengan Standar Nasional. Selama ini implementasi
SDSN di Kabupaten Temanggung belum

152 |
Evaluasi Implementasi Program Sekolah Dasar Standar Nasional (SDSN)| Eriyani & Sutriyono

pernah dievaluasi secara akademik, oleh karena Penelitian tentang implementasi SSN
itu penulis tertarik untuk melakukan evaluasi antara lain pernah dilakukan oleh Muhawwin
terhadap implementasi SDSN. (2012) dengan judul Studi Evaluasi Imple-
Evaluasi berasal dari kata evaluation mentasi Program Sekolah Standar Nasional
(bahasa Inggris) yang kemudian kata tersebut (SSN) Pada SMP Negeri Di Kabupaten
diserap ke dalam perbendaharaan istilah bahasa Lombok Timur. Hasil dari penelitian ini
Indonesia menjadi “evaluasi” dengan tujuan menunjukkan bahwa kendala yang dihadapi
mempertahankan kata aslinya dengan sedikit dalam implementasi program SSN adalah pola
penyesuaian lafal. Arikunto dan Jabar (2008) pikir dari sebagian stakeholder yang tidak
mengemukakan bahwa evaluasi adalah kegiatan sungguh-sungguh menyikapi perubahan
untuk mengumpulkan informasi tentang kebijakan pemerintah di bidang pendidikan.
bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi Berdasarkan latar belakang masalah di
tersebut digunakan untuk menentukan alternatif atas, maka yang menjadi rumusan masalah
yang tepat dalam sebuah keputusan. Tyler dalam penelitian ini adalah bagaimana disain,
mengemukakan bahwa evaluasi ialah proses instalasi, proses dan produk implementasi
yang menentukan sampai sejauh mana tujuan program SDSN di Sekolah Dasar Negeri 1
pendidikan dapat dicapai. Sedangkan Maclcolm, Ngadirejo Kabupaten Temanggung? Tujuan
Provus mendefinisikan evaluasi sebagai per- penelitian ini adalah mendiskripsikan disain,
bedaan apa yang ada dengan suatu standar instalasi, proses dan produk implementasi
untuk mengetahui apakah ada selisih. program SDSN di Sekolah Dasar Negeri 1
(Tayibnapis, 2008). Di lain pihak Wirawan Ngadirejo Kabupaten Temanggung. Manfaat
(2011) mengemukakan bawa evaluasi sebagai teoritis adalah untuk menambah dan mengem-
riset untuk mengumpulkan, menganalisis, dan bangkan wawasan ilmu pengetahuan yang
menyajikan informasi yang bermanfaat berhubungan dengan masalah tentang pelak-
mengenai objek evaluasi, menilainya dengan sanaan program Sekolah Dasar Standar
membandingkannya dengan indikator evaluasi Nasional (SDSN). Selain itu, hasil penelitian
dan hasilnya dipergunakan untuk mengambil ini juga dapat menjadi referensi tentang
keputusan mengenai objek evaluasi. Beberapa pelaksanaan program SDSN, sehingga menjadi
pendapat di atas menunjukkan hakikat evaluasi acuan dalam pengelolaan bagi SD yang belum
adalah upaya untuk mengumpulkan data tentang berstatus SDSN. Manfaat praktis diharapkan
sesuatu obyek evaluasi sebagai bahan dalam hasil penelitian ini akan memberikan masukan
pengambilan keputusan tentang obyek evaluasi bagi pihak sekolah SDN 1 Ngadirejo dalam
itu sendiri. Dalam penelitian ini obyek evaluasi- pengambilan kebijakan untuk memperbaiki
nya adalah implementasi program SDSN di pelaksanaan program SDSN selanjutnya.
salah satu SDSN di Kabupaten Temanggung,
METODE PENELITIAN
yaitu Sekolah Dasar Negeri 1 Ngadirejo
Kabupaten Temanggung. Model evaluasi yang Penelitian ini merupakan penelitian
hendak penulis gunakan adalah Discrepancy evaluatif dengan menggabungkan jenis
Model yang dikembangkan oleh Malcom penelitian kualitatif dan kuantitatif (mixed
Provus (Wirawan 2011) atau yang dikenal pula methods). Metode analisis data dengan cara
dengan Model Kesenjangan. analisis kesenjangan (discrepancy analysis).
Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Negeri

| 153
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

1 Ngadirejo Kabupaten Temanggung. Instru- HASIL PENELITIAN


men pengumpulan data yang digunakan Setelah dilakukan penelitian dan
mengadopsi instrumen baku, yaitu instrumen informasi yang diperoleh dianalisis maka
kinerja sekolah monitoring dan evaluasi SSN dihasilkan berbagai data (informasi) yang
dari Departemen Pendidikan Nasional Direk- disajikan dalam masing-masing tahapan sebagai
torat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar berikut :
dan Menengah Tahun 2008. Data mengenai
implementasi SDSN diperoleh melalui wawan- 1. Disain Implementasi Program SDSN
cara dengan Kepala Sekolah, tim pengembang Berdasarkan wawancara dengan
SDSN dan Komite Sekolah serta studi doku- Kepala Sekolah SD Negeri 1 Ngadirejo serta
mentasi yang ada di SD N 1 Ngadirejo. Untuk studi dokumentasi terhadap berbagai dokumen
mengecek keabsahan data, penulis memakai yang terkait dengan program SDSN di SD
teknik triangulasi sumber. Negeri 1 Ngadirejo, diperoleh informasi disain
implementasi program SDSN sebagai berikut.

Tabel 1 Disain Implementasi Program SDSN


Tahap/ Aspek yang
Standar/ kriteria keberhasilan
Aspek Dievaluasi
1. Memiliki RPS dan RAPBS
Pendanaan,
Sarana dan 2. Memiliki dokumen kurikulum (silabus, RPP dan bahan ajar) untuk semua
Prasarana serta mata pelajaran dan semua tingkatan kelas
Sumber Daya 3. Memiliki ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang ibadah,
Manusia kamar kecil yang cukup dan memadai
4. Memiliki ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang multimedia
Tahap Instalasi

dan ruang serba guna, sarana olah raga / kesenian.


(input)

5. Memiliki sarana pembelajaran yang memadai dan mencukupi


kebutuhan jumlah siswa
6. Rasio ruang kelas: siswa = 1:28
7. Memiliki tenaga pendidik minimal 50% S1
8. Penguasaan kompetensi, 50% guru bersertifikasi kompetensi
9. Memiliki tenaga kependidikan yang kompeten di bidangnya.

1. Terpenuhinya Standa r Kompetensi Lulusan.


Pemenuhan
2. Terpenuhinya Standar Isi.
delapan Standar
Nasional 3. Terpenuhinya Standar Proses.
Tahap Proses

4. Terpenuhinya Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan.


(process)

Pendidikan
5. Terpenuhinya Standar Sarana dan Prasarana.
6. Terpenuhinya Standar Pengelolaan.
7. Terpenuhinya Standar Pembiayaan.
8. Terpenuhinya Standar Penilaian.
Tahap Produk

Prestasi siswa 1. Standar ketuntasan belajar minimal 95% (SKBM).


(output)

meliputi aspek 2. Nilai UN di atas rata-rata regional.


Afektif, Kognitif, 3. Memiliki prestasi di tingkat regional, nasional dan internasional.
dan Psikomotorik 4. 90% lulusan melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi.
Sumber: Data penelitian, diolah

154 |
Evaluasi Implementasi Program Sekolah Dasar Standar Nasional (SDSN)| Eriyani & Sutriyono

Tabel 1 di atas merupakan disain S1. Dalam hal penguasaan kompetensi


(standar/kriteria) Sekolah SD Negeri 1 Ngadi- pendidik, baru terdapat 40.9 % tenaga pendidik
rejo. Kriteria atau standar di atas merupakan di SD Negeri 1 Ngadirejo memiliki sertifikat
indikator atau syarat yang dijadikan dasar dalam pendidik.
menentukan tingkat keberhasilan SDSN. Kri-
3. Proses Implementasi Program SDSN
teria tersebut dapat dijadikan tolok ukur apakah
implementasi SDSN sudah sejalan dengan Evaluasi proses dilakukan untuk menilai
panduan penyelenggaraan SDSN tahun 2007. sejauh mana ketercapaian dari masing-masing
standar dari 8 (delapan) Standar Nasional
2. Instalasi Implementasi Program SDSN
Pendidikan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 3.1. Analisis Kesenjangan Standar Kompetensi
kepemilikan RPS dan RAPBS Sekolah SD Lulusan
Negeri 1 Ngadirejo sudah sesuai dengan pasal
53 Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005 Pencapaian standar kompetensi lulusan
tentang Standar Nasional Pendidikan. di SD Negeri 1 Ngadirejo seperti terlihat pada
Pembiayaan SDSN dibantu oleh pemerintah gambar berikut :
pusat dan daerah, sekolah yang ditetapkan
sebagai SDSN setiap tahunnya dijanjikan untuk
mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah
(APBD II), namun pada kenyataannya bantuan
dari pemerintah daerah (APBD II) hanya
berlangsung satu kali yaitu pada proses
perintisan atau pada awal penetapan sebagai
sekolah standar nasional. Kepemilikan Gambar 1 Kesenjangan Standar Kompetensi Lulusan
dokumen kurikulum (silabus, RPP dan bahan
ajar) untuk semua mata pelajaran dan semua Tampak bahwa capaian standar kompetensi
tingkatan kelas belum semuanya terpenuhi lulusan di SD Negeri 1 Ngadirejo baru 71.56 %
dokumen kurikulum baru sekitar 80 % sehingga dari nilai standar. Kesenjangan antara nilai
masih belum memenuhi standar. Namun dalam standar dan nilai perolehan dalam standar
hal kepemilikan ruang, SD Negeri 1 Ngadirejo kompetensi lulusan ini sebesar 28.44% yang
masih kekurangan 1 (satu) ruang kelas dan menunjukkan kesenjangan dalam kategori
ruang ibadah. Rasio ruang kelas belum sesuai sedang. Kesenjangan terjadi karena sekolah
dengan standar program SDSN karena dalam belum dapat meraih prestasi akademik maupun
program SDSN rasio ruang kelas dengan siswa non akademik di tingkat kabupaten atau yang
adalah 1 berbanding 28, sementara jumlah lebih tinggi.
siswa di SD Negeri 1 Ngadirejo pada tahun 3.2. Hasil Analisis Kesenjangan Standar Isi
pelajaran 2014/2015 adalah 373 orang siswa.
Evaluasi terhadap sejauh mana
Kualifikasi akademik tenaga pendidik di SD
ketercapaian masing-masing komponen dari
Negeri 1 Ngadirejo sudah sesuai dengan
dokumen kurikulum memberikan gambaran
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor
sebagai berikut.
16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi
Akademik dan Kompetensi Guru Minimal 50%

| 155
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

Gambar 2 Kesenjangan Standar Isi Gambar 4 Kesenjangan Standar Pendidik dan


Tenaga Kependidikan
Capaian pelaksanaan Standar Isi di SD Negeri
1 Ngadirejo mencapai 91.05 % dari nilai Kesenjangan antara nilai standar dan nilai
standar. Kesenjangan sebesar 8.95 % termasuk perolehan dalam standar pendidik dan tenaga
dalam kategori rendah. Kesenjangan ini terjadi kependidikan sebesar 30.16% merupakan
karena sekolah baru memiliki 80% dokumen kesenjangan kategori sedang. Hal itu terjadi
kurikulum yang semestinya dimilikinya. karena jumlah guru PNS yang ada masih
kurang, walaupuan proses pembelajaran
3.3. Hasil Analisis Kesenjangan Standar Proses
terbantu oleh guru wiyata bakti.
Hasil penerapan standar proses di SD
3.5. Hasil analisis kesenjangan Standar Sarana
Negeri 1 Ngadirejo adalah sebagai berikut.
dan Prasarana
100
Hasil analisis kesenjangan Standar
100 80.02
Sarana dan Prasarana di SD Negeri 1
80
Nilai Standar
60 Nilai Perolehan
Ngadirejo adalah sebagai berikut.
19.98
40 Kesenjangan
20
0
Standar Proses

Gambar 3 Kesenjangan Standar Proses

Kesenjangan antara nilai standar dan nilai


perolehan dalam standar proses ini sebesar
19.98 % yang termasuk kesenjangan dalam Gambar 5 Kesenjangan Standar Sarana dan
Prasarana
kategori rendah. Kesenjangan terjadi karena
masih banyak guru yang jarang menggunakan
Kesenjangan antara nilai standar dan nilai
ICT dalam proses pembelajaran.
perolehan dalam standar sarana dan prasarana
3.4.Hasil Analisis Kesenjangan Standar di SD Negeri 1 Ngadirejo sebesar 36.98%
Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang menunjukkan kesenjangan kategori
Pemenuhan standar pendidik dan sedang. Kesenjangan terjadi, meskipun sarana
tenaga kependidikan di SD Negeri 1 Ngadirejo pembelajaran di SD Negeri 1 Ngadirejo sudah
adalah sebagai berikut. cukup lengkap, namun sekolah ini masih
kekurangan ruang-ruang pendukung pem-
belajaran.

156 |
Evaluasi Implementasi Program Sekolah Dasar Standar Nasional (SDSN)| Eriyani & Sutriyono

3.6. Hasil Analisis Kesenjangan Standar 3.7. Hasil Analisis Kesenjangan Standar
Pengelolaan Penilaian
Hasil evaluasi terhadap pelaksanaan Hasil analisis kesenjangan pelaksanaan
standar proses di SD Negeri 1 Ngadirejo standar penilaian di SD Negeri 1 Ngadirejo
adalah sebagai berikut. terlihat pada Gambar 8 di bawah ini.

Gambar 8 Kesenjangan Standar Penilaian


Kesenjangan dalam standar sarana dan
Kesenjangan antara nilai standar dan nilai
prasarana di SD Negeri 1 Ngadirejo sebesar
perolehan dalam standarpenilaian di SD Negeri 1
17.33% yang menunjukkan kesenjangan dalam
Ngadirejo sebesar 5.8% yang menunjukkan
kategori rendah. Kesenjangan ini bisa terjadi
kesenjangan kategori rendah. Hal ini terjadi
karena program yang direncanakan baru
karena tingkat pendokumentasian hasil belajar
tercapai 80%.
siswa oleh guru baru dilaksanakan 75-90%.
3.1. Hasil Analisis Kesenjangan Standar
Pembiayaan 4. Produk Implementasi Program SDSN
Hasil evaluasi terhadap implementasi Hasil evaluasi terhadap produk masing-
Standar Pembiayaan di SD Negeri 1 Ngadirejo masing komponen SDSN adalah sebagai
terlihat pada gambar 7 berikut. berikut.
4.1. Standar ketuntasan belajar minimal 95 %
Untuk standar kelulusan semua siswa
di SD Negeri 1 Ngadirejo telah memenuhi
standar kelulusan sebagaimana terbukti dari
lulusnya 100 % siswa pada setiap akhir ujian
nasional. Namun untuk standar kenaikan kelas,
belum semuanya siswa memenuhi standar.
Gambar 7 Kesenjangan Standar Pembiayaan
Sebagian besar siswa telah memenuhi batas
Kesenjangan antara nilai standar dan nilai kriteria ketuntasan minimal pada setiap mata
perolehan dalam standar pembiayaan di SD pelajaran, namun masih ada beberapa siswa
Negeri 1 Ngadirejo sebesar 15.75% yang yang belum memenuhi batas kriteria ketuntasan
menunjukkan kesenjangan dalam kategori minimal.
rendah. Hal ini terjadi karena untuk 4.2. Nilai UN di atas rata-rata regional
menuntaskan kegiatan sekolah, masyarakat
atau orang tua wali murid harus memberikan SD Negeri 1 Ngadirejo belum mampu
dana tambahan. memenuhi standar nilai Ujian Nasional di atas

| 157
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

rata-rata regional. SD Negeri 1 Ngadirejo baru di SD Negeri 1 Ngadirejo. Sekolah juga belum
memiliki prestasi nilai UN di atas rata-rata dapat meraih prestasi non akademik di tingkat
kecamatan. Hal ini tidak sesuai dengan indikator Kabupaten atau yang lebih tinggi sehingga
keberhasilan SDSN bahwa sekolah SDSN walaupun standar kompetensi lulusan sudah
harus memiliki nilai UN di atas rata-rata disusun dan dilaksanakan sesuai dengan
regional. peraturan namun hasilnya masih belum
4.3. Memiliki prestasi di tingkat regional, maksimal. Untuk memenuhi standar kompetensi
nasional dan internasional lulusan diperlukan adanya saling keterkaitan
antara terpenuhinya standar pendidik dan
Prestasi mencakup dua aspek yaitu
tenaga kependidikan serta standar sarana dan
prestasi akademik dan prestasi non akademik.
prasarana pendidikan.
SD Negeri 1 Ngadirejo belum dapat memenuhi
Dari segi standar isi sekolah telah
standar in karena belum memiliki prestasi -baik
membuat dan memiliki dokumen Kurikulum,
prestasi akademik maupun non akademik- di
silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran
tingkat regional. SD Negeri 1 Ngadirejo baru
(RPP), kriteria ketuntasan minimum (KKM),
mendapatkan kejuaraan lomba mapel IPA dan
program tahunan, program semester, kalender
Bahasa Indonesia dan Seni Mocopat di tingkat
pendidikan, pembagian tugas mengajar guru,
Kecamatan, kemudian mewakili kecamatan
dan pedoman penilaian untuk semua guru.
untuk maju ke tingkat Kabupaten namun di
Hanya saja kepemilikan dokumen kurikulum
Kabupaten belum memperoleh juara.
sekolah baru sebanyak 80% dan penyusunan
4.4. 90% lulusan melanjutkan ke sekolah yang dokumen kurikulum dilakukan oleh sekolah
lebih tinggi bukan oleh masing-masing guru sehingga tingkat
Kepala Sekolah menjelaskan bahwa kelengkapan dokumen masih kurang. Penerap-
seluruh lulusan dari SD Negeri 1 Ngadirejo an standarisi di SD Negeri 1 Ngadirejo masih
melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi dan terdapat kesenjangan dan belum sesuai dengan
hampir semuanya dapat diterima di sekolah ketentuan standar isi yang memuat kerangka
negeri kecuali yang memang sengaja mendaftar dasar dan struktur kurikulum, beban belajar,
di sekolah swasta. Dengan demikian berarti SD kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan
Negeri 1 Ngadirejo telah memenuhi standar kalender pendidikan/akademik (Depdiknas,
output SDSN yaitu 90% lulusan melanjutkan 2006).
ke sekolah yang lebih tinggi. Standar proses pendidikan berkaitan
dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
satuan pendidikan untuk mencapai standar
SD Negeri 1 Ngadirejo menggunakan komptensi lulusan. Dalam proses pembelajaran
sistem belajar tuntas yang ketentuan batas diselenggarakan secara interaktif, inspiratif,
tuntas dari masing-masing mata pelajaran memotivasi, menyenangkan, menantang,
ditentukan oleh sekolah sendiri dengan nama mendorong peserta didik untuk berpartisipasi
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Kenaik- aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi
an kelas dan kelulusan siswa dilaksanakan prakarsa, kreativitas, dan kemandirian peserta
berdasarkan berdasarkan Permendiknas No. didik sesuai dengan bakat, minat, dan perkem-
5 Tahun 2008. Masih terdapat kesenjangan bangan fisik serta psikologinya (Depdiknas,
dalam pelaksanaan standar kompetensi lulusan 2007). Dalam standar proses masih terdapat

158 |
Evaluasi Implementasi Program Sekolah Dasar Standar Nasional (SDSN)| Eriyani & Sutriyono

kesenjangan dikarenakan belum semua guru RKS di SD Negeri 1 Ngadirejo saat ini baru
yang melakukan proses pembelajaran berbasis mencapai 70-89 % terlaksana, keterlibatan atau
ICT, namun hal tersebut dirasakan tidak peran serta warga sekolah dalam pengambilan
menggangggu proses belajar mengajar karena keputusan kebijakan dan program sekolah
pemilihan media pembelajaran disesuaikan sebesar 70-89% dikarenakan pelibatan
dengan materi pembelajaran. Penggunaan disesuaikan dengan porsinya masing-masing.
media pembelajaran dapat juga memanfaatkan Pengawasan yang dilakukan di SD Negeri 1
lingkungan sekitar. Ngadirejo meliputi pemantauan proses belajar
Tenaga kependidikan pada SD Negeri mengajar, supervisi oleh kepala sekolah,
1 Ngadirejo masih belum memenuhi standar evaluasi hasil belajar, pelaporan hasil belajar,
pendidik dan ketenaga kependidikan SDSN dan tindak lanjut dari hasil pengawasan.
karena sekurang-kurangnya pendidik dan Supervisi dilakukan secara teratur oleh kepala
tenaga kependidikan SDSN terdiri atas kepala sekolah dan pengawas pendidikan. SD Negeri 1
sekolah, tenaga administrasi, tenaga perpus- Ngadirejo juga melaksanakan dan mem-
takaan, tenaga laboratorium, dan tenaga keber- berikan laporan hasil belajar yang diberikan
sihan sekolah. Persyaratan untuk menjadi kepada orang tua/wali siswa, berisi hasil ulangan
kepala SDSN meliputi: berstatus guru SD; setiap tengah dan akhir semester serta setiap
memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi nilai ulangan harian siswa.
sebagai agen pembelajaran sesuai dengan Standar pembiayaan mengatur kom-
ketentuan perundangan yang berlaku; memiliki ponen dan besarnya biaya operasional satuan
pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 pendidikan. Pembiayaan SDSN mencakup
(lima) tahun di SD; dan memiliki kemampuan biaya investasi, biaya operasi dan biaya personal
kepemimpinan dan kewirausahaan di bidang satuan pendidikan. (Depdiknas, 2009). SD
pendidikan (Depdiknas, 2007) Negeri 1 Ngadirejo memiliki dukungan sumber
Dari sisi standar Sarana dan Prasarana, dana yang cukup baik yang berasal dari
SD Negeri 1 Ngadirejo hanya memiliki luas pemerintah pusat yaitu block grant SDSN,
lahan 2.494 m2 sedangkan standar sarana dan pemerintah daerah serta dari orang tua wali
prasarana yang harus dimiliki SDSN luas lahan murid melalui Komite Sekolah.
minimum adalah 10.000 m2 (Depdiknas,2007). Standar penilaian pendidikan berkaitan
Kelengkapan sarana dan prasarana meliputi dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen
ruang kelas sebanyak 11 ruang sedangkan penilaan prestasi belajar peserta didik. Penilaan
seharusnya 12 ruang kelas, ruang perpustakaan, hasil belajar peserta didik dilaksanakan sesuai
ruang guru, kamar mandi dan WC, lapangan dengan ketentuan Peraturan Menteri No. 20
sekolah. Sarana dan prasarana yang lain seperti Tahun 2007. Dari data yang diperoleh tentang
ruang ibadah dan ruang UKS belum dimiliki alat, ruang lingkup dan jenis penilaian yang
oleh SD Negeri 1 Ngadirejo sehingga dalam dilakukan oleh SD Negeri 1 Ngadirejo
hal ini sarana dan prasarana yang dimiliki belum dikatakan sudah mengacu pada standar
sesuai dengan ketentuan standar sarana dan penilaian pendidikan. Alat yang digunakan untuk
prasarana pendidikan. penilaian di SD Negeri 1 Ngadirejo meliputi
Dalam hal standar pengelolaan, pengamatan keaktifan siswa, penugasan, unjuk
pelaksanaan kegiatan sekolah dilakukan sesuai kerja dan tes hasil belajar.
dengan RKS yang telah disusun. Implementasi

| 159
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

Dari segi produk dapat dikatakan mengukur keberhasilan pelaksanaan


bahwa SD Negeri 1 Ngadirejo telah memenuhi program SDSN.
standar karena siswa SD Negeri 1 Ngadirejo 2. Secara spesifik kekurangan yang terjadi
lulus 100% setiap tahunnya. Untuk standar pada tahap instalasi adalah ketidak
kenaikan kelas sebagian besar siswa sudah lengkapan ruang kelas, ruang ibadah, UKS,
mencapai batas ketuntasan minimal yang laboratorium dan ruang olah raga/ruang
ditentukan pada KKM walaupun masih kesenian dan terdapat kesenjangan antara
terdapat beberapa siswa yang belum tuntas. rasio ruang kelas dengan siswa.
Pada komponen nilai UN menujukkan bahwa 3. Implementasi program SDSN di SD Negeri
SD Negeri 1 Ngadirejo belum dapat memenuhi 1 Ngadirejo sudah terlaksana namun belum
standar memiliki nilai UN di atas rata-rata maksimal. Terdapat kesenjangan kategori
regional. Nilai rata-rata UN tertinggi justru sedang pada: 1) standar kompetensi lulusan,
diperoleh sekolah yang bukan merupakan 2) standar pendidik dan tenaga kepen-
SDSN. Hal ini tidak sesuai dengan yang didikan, dan 3) standar sarana dan pra-
diharapkan oleh Depdiknas tahun 2008 yang sarana; kesenjangan kategori rendah pada:
berbunyi Sekolah Standar Nasional (SSN) 1) standar isi, 2) standar proses, 3)standar
diharapkan menjadi acuan atau rujukan sekolah pengelolaan, 4) standar pembiayaan dan 5)
lain dalam pengembangan sekolah, sesuai standar penilaian
dengan standar nasional. Dari segi prestasi 4. Produk program SDSN di SD Negeri 1
akademik dan prestasi non akademik, SD Ngadirejo yang sudah terpenuhi adalah
Negeri 1 Ngadirejo belum dapat memenuhi standar ketuntasan belajar minimal 95% dan
standar, yaitu belum dapat memiliki prestasi di 90% lulusan melanjutkan ke sekolah yang
tingkat regional. Sedang dari segi tingkat lebih tinggi. Sebaliknya standar yang belum
melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi dari dapat terpenuhi adalah nilai UN di atas rata-
para lulusannya SDN 1 Ngadirejo tidak rata regional dan memiliki prestasi di tingkat
terdapat kesenjangan, karena seluruh lulusan regional, nasional dan internasional.
SDN 1 Ngadirejo melanjutkan ke berbagai
Saran
SMP di Kabupaten Temanggung. Dari uraian
tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam 1. Bagi Kepala Sekolah
komponen ini tidak terjadi kesenjangan dengan a. Untuk memenuhi standar kompetensi
indikator keberhasilan SDSN yang tercantum lulusan kepala sekolah hendaknya
dalam panduan penyelenggaraan sekolah memberikan pelatihan kepada guru
standar nasional untuk sekolah dasar tahun tentang proses pembelajaran yang
2007. bervariasi sehingga pengetahuan guru
tentang kegiatan belajar mengajar dapat
SIMPULAN DAN SARAN bertambah.
b. Untuk memenuhi standar isi sebaiknya
Uraian dan pembahasan hasil penelitian
kepala sekolah menugaskan kepada
di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:
guru untuk melengkapi kepemilikan
1. Disain implementasi program SDSN di SD
dokumen kurikulum sehingga dapat
Negeri 1 Ngadirejo sudah dibuat sesuai
memenuhi standar.
dengan panduan, disain ini digunakan untuk

160 |
Evaluasi Implementasi Program Sekolah Dasar Standar Nasional (SDSN)| Eriyani & Sutriyono

c. Untuk memenuhi standar proses kepala dengan menggunakan alat bantu ICT
sekolah hendaknya menghimbau kepada sehingga proses pembelajaran lebih ber-
guru agar lebih memanfaatkan alat bantu variatif dan dapat menambah pengetahuan
ICT guna menambah pengetahuan siswa. siswa. Guru juga sebaiknya memenuhi
d. Untuk meningkatkan standar pendidik dokumen kurikulum sesuai dengan standar
dan tenaga kependidikan, sebaiknya isi. Dalam proses belajar mengajar guru
kepala sekolah memberikan pelatihan supaya lebih memanfaatkan alat bantu ICT
kepada guru, sehingga walaupun guru untuk menambah pemahaman siswa.
belum memiliki sertifikat pendidik namun
DAFTAR PUSTAKA
pengetahuan tentang pembelajaran sudah
luas dan proses belajar mengajar menjadi Arikunto, S. & A. Jabar. 2008. Evaluasi
lebih bervariasi. Program Pendidikan. Jakarta: Bumi
e. Untuk memenuhi standar sarana dan Aksara.
prasarana, kepala sekolah perlu bekerja- Direktorat Pembinaan TK dan SD. 2007.
sama dengan masyarakat melalui komite Panduan Penyelenggaraan Sekolah
sekolah, selain itu hendaknya kepala Standar Nasional untuk Sekolah
sekolah membatasi jumlah penerimaan Dasar. Jakarta : Depdiknas.
siswa baru tiap tahunnya agar jumlah Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan
siswa tidak melebihi rasio ruang kelas. Dasar dan Menengah. 2008. Istrumen
f. Kepala sekolah juga sebaiknya lebih Kinerja Sekolah Monitoring dan
melibatkan warga sekolah dalam pe- Evaluasi SSN. Jakarta : Depdiknas.
ngambilan keputusan kebijakan dan Muhawwin. 2012. Studi Evaluasi Program
program sekolah sesuai dengan kom- Sekolah Standar Nasional (SSN) pada
petensi masing-masing untuk memenuhi SMP Negeri di Kabupaten Lombok
standar pengelolaan. Timur. pasca.undiksha.ac.id/e-journal/
g. Untuk memenuhi standar pembiayaan index. php/ jurnal_ep/ article/ .../33/33
sebaiknya sekolah dalam menyusun diakses pada 20 Mei 2014.
RPS/RAKS lebih memperhitungkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005
biaya yang dibutuhkan sehingga untuk Standar Nasional Pendidikan.
melaksanakan program tidak perlu Tayibnapis, Farida Y. 2008. Evaluasi Program
penambahan biaya dari masyarakat. dan Instrumen Evaluasi. Jakarta:
h. Untuk pemenuhan standar penilaian Rineka Cipta.
kepala sekolah hendaknya memberikan Wirawan. 2011. Evaluasi Teori, Model,
tugas kepada guru untuk lebih mening- Standar, Aplikasi, dan Profesi. Depok:
katkan pendokumentasian hasil belajar Rajagrafindo Persada.
siswa. Yoni, Mia. 2012. Proses Implementasi
2. Bagi Guru Kebijakan Sekolah Standar Nasional
Untuk memenuhi delapan standar nasional pada Sekolah Dasar di Kabupaten
pendidikan guru sebaiknya mengikuti pe- Purbalingga. Purbalingga: UNSOED.
latihan pembelajaran terutama pembelajaran

| 161
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan ISSN 2443-0544
Magister Manajemen Pendidikan
Volume: 2, No.2, Juli-Desember 2015
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana
jurnalkelola@gmail.com Halaman: 162-172

PENERAPAN SUPERVISI KUNJUNGAN KELAS


UNTUK MENINGKATKAN KINERJA GURU SD NEGERI 2
KALIMANGGIS KECAMATAN KALORAN, TEMANGGUNG

Suprih Danurwati
danur61tn@gmail.com
Alumni Program Pascasarjana Magister Manajemen Pendidikan
FKIP-Universitas Kristen Satya Wacana

Slameto
slameto@staff.uksw.edu
Program Pascasarjana Magister Manajemen Pendidikan
FKIP-Universitas Kristen Satya Wacana

ABSTRACT

Suprih Danurwati, 942013161. Implementation of supervision class visiting


to increase teacher’s performance of SD Negeri 2 Kalimanggis District of Kaloran.
Thesis. The graduatiton Program Master of Management Education Satya Wacana
Christian University Salatiga. Supervisor Prof. Dr. Slameto, M.Pd.
This study is to determine that through the implementation of supervision class
visiting can improve the performance of teachers in the learning management. The
subjects of this study are teachers in SD Negeri 2 Kalimanggis, Kaloran, Temanggung.
The procedure used in this study consists of a series of three main activities undertaken
in a repeating cycle, including (a) plan, (b) action by observation, and (c) reflection.
research approach using action research methods, while the method of data collection
using the study documentation, observations, questionnaires, and interviews. The
results showed an increasing in the ability of teachers to prepare lesson plans and
manage the learning of the first act, second, until the third act. The inference that
supervision class visiting that can improve the performance of teachers in the learning
management. Suggestions given to teachers, is taking advantage of supervision
activities as a source of information to improve the competence and performance,
for principals use the results of this study as a reference in conducting research,
while for school superintendent will use the results of this study as one of the references
in activity guidance to the heads of schools and teachers to improve their performance.
Keywords: academic supervision, class visiting, teacher performance

162 |
Penerapan Supervisi Kunjungan Kelas Untuk Meningkatkan Kinerja Guru | Suprih Danurwati & Slameto

PENDAHULUAN menyebutkan bahwa supervisi adalah “usaha


Ada tiga faktor yang mempengaruhi yang sistematis dan terus menerus dalam rangka
kinerja karyawan, yaitu “kemampuan, usaha memberikan dorongan dan pengarahan bagi
yang dicurahkan, dan dukungan organisasi atau perkembangan profesional guru”. Sedang
institusi.” Kinerja seseorang akan meningkat menurut Prasojo (2011:84) supervisi akademik
jika ketiga komponen (kemampuan, motivasi, adalah “serangkaian kegiatan membantu guru
dan dukungan) itu ada pada dirinya, sebaliknya dalam mengembangkan kemampuan dalam
jika salah satu komponen itu tidak ada maka mengelola proses pembelajaran untuk mencapai
sangat mungkin kinerja seseorang akan tujuan pembelajaran.” Dari dua pengertian
berkurang (Brotosejati, 2012:6; Prasojo, tentang supervisi akademik di atas dapat
2011:103; Sudiyono, 2011:103; Mangkunegara, disimpulkan bahwa pada dasarnya supervisi
2004:67, dan Mustafa, 2013:155). akademik adalah suatu tindakan yang berupaya
Guru adalah pendidik profesional yang untuk membantu guru dalam mengembangkan
tugas utamanya adalah mengajar, mendidik, kemampuan atau potensinya dalam mengelola
membimbing, melatih, mengarahkan, menilai, proses pembelajaran dalam kelas sehingga
serta mengevaluasi. Guru idealnya memiliki tujuan pembelajaran dapat tercapai.
kemampuan untuk merancang program Supervisi akademik yang dilakukan
pembelajaran, mengelola kelas dalam hal ini kepala sekolah maupun pengawas akan
proses pembelajaran, mengevaluasi hasil mengena pada sasarannya jika dilaksanakan
belajar, serta melakukan tindak lanjut dari hasil sesuai prosedur, artinya ada perencanaan,
belajar siswa, sehingga tujuan dari proses pelaksanaannya dengan menimbang kaidah-
pembelajaran dapat tercapai dan tujuan akhir kaidah yang ada, dievaluasi, dan yang tidak
proses pendidikan yaitu mendewasakan peserta kalah pentingnya adalah adanya tindak lanjut
didik juga tercapai. Kinerja guru juga dipenga- dari hasil supervisi tersebut. Tanpa adanya
ruhi oleh ketiga faktor di atas. Kemampuan tindak lanjut maka kegiatan supervisi yang
Guru antara lain ditunjukan oleh kepemilikan sudah dilaksanakan menjadi sia-sia, karena
sertifikasi pendidik yang mencerminkan tujuan utama diadakan supervisi tidak akan
pengakuan atas penguasaan empat kompetensi tercapai dan terwujud. ( PPTK, PSDM dan
Guru yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi PMP, 2011:19; Prasojo, 2011:84; Fathur-
sosial, kompetensi pedagogik, dan kompetensi rochman, 2011:30; Nakpodia,2011; dan
professional. Motivasi Guru tercermina dalam Purwanto, 2012:89)
antusiasme mereka ketika menunaikan tugas Kunjungan kelas merupakan salah satu
profesionalnya. Sedang dukungan bagi Guru teknik supervisi akademik. Teknik supervisi
yang menampilkan unjuk kerjanya antara lain merupakan cara-cara yang ditempuh oleh
diwujudkan dalam bentuk supervisi akademik supervisor dalam hal ini kepala sekolah atau
oleh Kepala Sekolah. pengawas sekolah untuk mencapai tujuan
Supervisi akademik merupakan bagian tertentu yang berorientasi pada peningkatan
dari supervisi pendidikan yaitu merupakan mutu pendidikan dan masalah-masalah
segala upaya yang dilakukan secara ber- akademik dengan sasaran para guru di sekolah.
kesinambungan untuk membantu guru dan Kunjungan kelas adalah teknik pembinaan guru
kepala sekolah untuk mengembangkan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah
kemampuan serta kinerja guru dalam mengelola dengan mengamati proses pembelajaran di
pembelajaran. Fathurrohman (2011:30) kelas sehingga memperoleh data yang

| 163
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

diperlukan masih dalam rangka pembinaan Kondisi guru di lapangan belum seperti
guru. Dengan supervisi kunjungan kelas kepala apa yang diharapkan, pada kenyataannya masih
sekolah maupun pengawas sekolah dapat banyak guru yang kinerjanya belum memenuhi
mengukur seberapa tingkat kompetensi Standar Pelayanan Minimal (SPM), bahkan
pedagogik yang dimiliki oleh seorang guru. dapat dikatakan bekerja tanpa target, apalagi
Karena hanya dengan teknik kunjungan kelas target prestasi. Karenanya masih perlu adanya
kita dapat memperoleh data tentang kemam- motivator dan supervisor untuk mendampingi
puan guru dalam mengelola pembelajaran di guru dalam melaksanakan tugas keseharian
kelas, diantaranya penguasaan materi, diantaranya melalui supervisi.
ketrampilan menggunakan alat peraga dan Berdasarkan observasi dan studi
media pembelajaran, kemampuan memilih dokumen yang peneliti lakukan di SD Negeri
metode pembelajaran serta ketrampilan dalam 2 Kalimanggis ternyata prestasi akademik
memilih alat evaluasi yang tepat. maupun non akademik masih kurang,hal ini juga
Supervisi kunjungan kelas bertujuan terlihat dalam dokumen pencapaian prestasi
untuk mendapatkan data yang lengkap tentang kejuaraan bidang non akademik maupun lomba
guru yang disupervisi dalam hal pengelolaan yang bersifat akademik di tingkat kecamatan
pembelajaran dan selanjutnya adalah untuk masihdalam kategori cukup, berdasarkan data
menolong guru dalam mengatasi masalah dalam capaian UTS/UAS/US di UPT Dinpendik
kelas. Kunjungan kelas dilakukan dengan Kecamatan Kaloran, hasil ulangan tengah
berbagai tiga cara, yaitu dengan: (1) pem- semester gasal 2014/2015 dan akhir semester
beritahuan terlebih dahulu, (2) tanpa pem- peringkat 21 dari 27 sekolah di kecamatan,
beritahuan terlebih dahulu, (3) atas permintaan bahkan hasil ujian sekolah tahun pelajaran
atau undangan guru yang bersangkutan”.. 2013/2014 hanya meraih rata-rata 6,90
Kunjungan kelas merupakan cara yang (20,69) dan menduduki peringkat 20 dari 27
tepat untuk mendapatkan informasi yang tepat sekolah Dasar di Kecamatan Kaloran.
tentang proses belajar mengajar secara langsung, Kurangnya prestasi SD Negeri 2 Kalimanggis
baik menyangkut kelebihan, kekurangan, dan dimungkinkan karena proses pembelajaran
kelemahannya. Melalui kunjungan kelas yang tidak direncanakan dan dilaksanakan
supervisor dapat mengamati secara langsung sesuai prosedur dan tahapan-tahapan yang
kegiatan guru dalam mengelola proses pem- semestinya, dan kinerja guru yang belum
belajaran, dimana di dalamnya mencakup cara maksimal disamping faktor lainnya, sehingga
mengajar, penggunaan metode, penggunaan alat hasil dari proses pembelajaran juga tidak
peraga dan media pembelajaran, penguasaan maksimal.
materi dan semua unsur pendukungnya. Selain prestasi sekolah rendah dampak
Supervisor hendaknya mampu merubah lain adalah menurunnya tingkat kepercayaan
cara pandang guru tentang supervisi, oleh karena masyarakat Desa Kalimanggis terhadap SD
itu supervisor harus memiliki atau menemukan Negeri 2 Kalimanggis dalam dua tahun terakhir.
cara yang lebih tepat dalam melaksanakan Hal itu dibuktikan dengan jumlah siswa yang
supervisi kunjungan kelas, sehingga kehadiran semakin menurun, dikarenakan pendaftar yang
supervisor di kelas menjadi sesuatu yang masuk di SD Negeri 2 Kalimanggis sangat
dinantikan oleh guru, dengan kata lain kunjungan sedikit.
kelas oleh supervisor bukan menjadi hal yang Dari catatan dan dokumen tentang guru
menakutkan dan dihindari oleh guru. yang ada di sekolah dapat disimpulkan bahwa

164 |
Penerapan Supervisi Kunjungan Kelas Untuk Meningkatkan Kinerja Guru | Suprih Danurwati & Slameto

selama ini 5 (55,6 %) dari guru yang ada di kunjungan kelas di SMA Negeri se Kota
SDN 2 Kalimanggis masuk kategori kurang Magelang berpengaruh terhadap kinerja dan
disiplin dalam hal administrasi dan waktu, hal kompetensi guru, Kinerja dan kompetensi guru
tersebut sangat mungkin menjadi salah satu akan berpengaruh terhadap prestasi siswa.
penyebab sekolah tidak dapat berprestasi Demikian juga, penelitian Tri Widodo (2014)
secara maksimal. SDN 2 Kalimanggis yang tentang Supervisi Kunjungan Kelas dalam Me-
selama ini tidak pernah diperhitungkan dalam ningkatkan Kinerja Guru IPA SMP Negeri 1
berbagai kegiatan tingkat kecamatan, kondisi Bandungan, yang menunjukkan bahwa supervisi
inipun tidak berpengaruh terhadap motivasi dan kunjungan kelas berpengaruh positif dalam
kinerja guru-gurunya, mereka merasa nyaman meningkatkan kinerja guru IPA SMP Negeri 1
dan aman dalam kondisi seperti tersebut di atas. Bandungan dalam perencanaan pembelajaran
Selama ini kegiatan supervisi yang dilakukan dan dalam pelaksanaan pembelajaran.
kepala sekolah belum terprogram dan belum NamunYuli Indrawati (2012) dalam penelitian-
ada tindak lanjutnya, sehingga belum terasa nya tentang pengaruh supervisi Kepala Sekolah
dampaknya terhadap kinerja guru. Jika masalah dan Motivasi Kerja Guru terhadap Kinerja
tersebut dibiarkan dan tidak segera ada Guru TK/RA di UPT Dinpendik Kecamatan
penanganan maka dikhawatirkan kondisi Bandungan, Kabupaten Semarang menemukan
sekolah akan semakin terpuruk sehingga secara bahwa tidak ada pengaruh positif dan signifikan
tidak langsung berpengaruh terhadap peserta antara supervisi kepala sekolah dan motivasi
didik dan kepercayaan masyarakat kepada kerja terhadap kinerja guru TK/RA. Jadi, dua
sekolah. dari tiga penelitian di atas menunjukkan bahwa
Berdasarkan permasalahan tersebut kegiatan supervisi kunjungan kelas yang
maka peneliti memandang perlu untuk dilaksanakan kepala sekolah memiliki dampak
melakukan tindakan sebagai upaya peningkatan positif terhadap peningkatan kinerja guru.
kinerja guru diantaranya dengan melakukan Dalam penelitian Edi Wahyudi, hasil supervisi
supervisi akademik kunjungan kelas secara kunjungan kelas dimanfaatkan untuk mengetahui
efektif dan berkesinambungan. Adanya pengaruhnya terhadap kinerja dan kompetensi
supervisi kunjungan kelas diharapkan guru guru dalam pembelajaran, sedangkan Tri
mendapatkan bimbingan dan pembinaan serta Widodo dalam simpulannya menyatakan
pendampingan untuk menjalankan tugas pokok bahwa supervisi kunjungan kelas berdampak
dan fungsinya utamanya dalam pengelolaan positif dalam peningkatan kinerja guru IPA baik
proses pembelajaran. Dengan kunjungan kelas secara administratif maupun pengelolaan
dapat diketahui kekurangan dan kesulitan yang pembelajaran dalam kelas.
dialami guru ketika melaksanakan proses Berbeda dengan penelitian-penelitian
pembelajaran di kelas. terdahulu, cara yang akan dilakukan oleh
Pemilihan tindakan dengan supervisi peneliti dalam supervisi kunjungan kelas dalam
akademik kunjungan kelas juga didasari oleh penelitian ini pada tahap akhir kunjungan, akan
penelitian-penelitian terdahulu yang relevan dilakukan evaluasi diri dari pihak guru yang
dengan penelitian yang akan penulis lakukan disupervisi, sehingga dapat dikatakan bahwa
sebagai berikut. Penelitian Edi Wahjanto supervisi kunjungan kelas yang akan dilakukan
(2007) tentang supervisi akademik kunjungan adalah berbasis evaluasi diri guru. Dimana pada
kelas di SMA Negeri se Kota Magelang, tahap akhir kunjungan guru bersama supervisor
menunjukkan bahwa kegiatan supervisi mengamati rekaman pelaksanaan pembelajaran

| 165
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

yang dilaksanakan guru, kemudian guru bentuk kualitatif. Begitupun hasil dari penelitian
mengevaluasi sendiri apa yang dilaksanakan ini juga berupa uraian atau deskripsi yang
menggunakan instrumen yang ada. Hasil mendalam tentang hasil dari supervisi kunjungan
evaluasi diri guru dicocokkan dengan hasil kelas.
pengamatan supervisor, jika terdapat kesamaan Penelitian ini terdiri rangkaian tiga
persepsi maka langkah selanjutnya adalah kegiatan pokok yang dilakukan dalam siklus
menentukan tindak lanjut berdasarkan berulang. Tiga kegiatan utama yang ada pada
kekurangan yang dilakukan guru dalam setiap tindakan adalah (a) perencanaan, (b)
pengelolaan pembelajaran. tindakan dengan pengamatan, dan (c) refleksi,
Mempertimbangkan latar belakang dengan disertai evaluasi diri guru. Rangkaian
yang telah dipaparkan pada bagian di atas, maka kegiatan design intervensi penelitian tindakan
rumusan masalah penelitian ini adalah “Apakah sekolah tampak pada gambar 2 berikut ini.
penerapan supervisi kunjungan kelas dapat
meningkatkan kinerja guru SD Negeri 2 Perencanaan

Kalimanggis dalam pengelolaan pembelajar-


an?” Sedang tujuan penelitian ini adalah untuk
Refleksi Tindakan/
mengetahui apakah penerapan super-visi Pengamatan

kunjungan kelas dapat meningkatkan kinerja


Gambar 1 Prosedur Penelitian
guru SD. Negeri 2 Kalimanggis dalam
pengelolaan pembelajaran.
Pada kegiatan perencanaan dalam
Secara teoritis, hasil penelitian ini
penelitian ini peneliti melakukan kegiatan-
diharapkan dapat memberi sumbangan penge-
kegiatan sebagai berikut menyusun proposal
tahuan tentang upaya peningkatan kinerja guru
penelitian, membuat instrumen penelitian,
dalam pengelolaan proses kegiatan belajar
mengajukan ijin penelitian, mengumpulkan
mengajar melalui supervisi akademik kunjungan
data awal pendukung penelitian, dan menyusun
kelas. Sedang secara praktis hasil penelitian ini
program supervisi. Dalam penelitian ini, peneliti
diharapkan dapat bermanfaat bagi Kepala
merencanakan tiga kali tindakan, setiap
Sekolah, yaitu sebagai referensi bagi kepala
kegiatan tindakan terdiri dari tiga tahap, yaitu
sekolah dalam melaksanakan supervisi
tahap persiapan, tahap pengamatan, dan tahap
terhadap guru, dan bagi Pengawas Sekolah
refleksi. Pada tahap persiapan supervisor
yaitu sebagai bahan pertimbangan dalam
menentukan sasaran kunjungan, jadwal kun-
menyusun program kegiatan pengawas,
jungan, khusus pada tindakan pertama kegiatan
membina kepala sekolah dan guru untuk
persiapan ditambah dengan sosialisasi pada
meningkatkan kinerjanya dalam upaya
guru-guru tentang maksud dan tujuan supervisi,
meningkatkan efektifitas pembelajaran dan
serta penyampaian indikator yang akan dinilai
mutu pendidikan.
dalam supervisi. Tahap pengamatan, adalah
METODE PENELITIAN kegiatan dimana supervisor mengamati proses
kegiatan belajar mengajar dalam kelas dengan
Penelitian ini masuk dalam jenis
menggunakan instrumen pengamatan dan
penelitian deskriptif kualitatif, dengan metode
dibantu media lain berupa kamera dan alat
penelitian tindakan. Data yang diperoleh dalam
rekam adegan/ kegiatan. Tahap refleksi,
penelitian ini dipaparkan berupa diskripsi,
merupakan tahap akhir dalam supervisi
sedangkan data kuantitatif dikonversi kedalam

166 |
Penerapan Supervisi Kunjungan Kelas Untuk Meningkatkan Kinerja Guru | Suprih Danurwati & Slameto

kunjungan kelas dimana guru dan supervisor mengecek data yang sama namun diperoleh
duduk bersama setelah kegiatan pembelajaran dari sumber yang berbeda, dan dengan teknik
selesai untuk bersama-sama melihat rekaman yang berbeda. Dalam penelitian ini data kinerja
proses pembelajaran dan kemudian mengevaluasi guru dalam pengelolaan pembelajaran diperoleh
kegiatan tersebut, dilanjutkan adanya melalui dokumen hasil PKG guru, hasil supervisi
kesepakatan untuk tindak lanjutnya. kunjungan kelas sebelum tindakan, dan hasil
Penelitian ini dilaksanakan di SDN 2 wawancara. Triangulasi waktu, diakukan
Kalimanggis, UPT Dinpendik Kecamatan dengan mengecek hasil wawancara dengan
Kaloran, Kabupaten Temanggung. Penelitian sumber yang sama namun dalam waktu yang
ini dilaksanakan pada bulan Februari 2015 berbeda.
sampai dengan Mei 2015. Berdasarkan hipotesis kinerja yang
Dalam penelitian ini pengumpulan data berbunyi “Penerapan supervisi kunjungan kelas
dilakukan dengan empat cara yaitu 1) Studi diduga dapat meningkatkan kinerja guru SD
Dokumentasi, 2) Observasi, 3) Angket dan 4) Negeri 2 Kalimanggis dalam pengelolaan
Wawancara. Studi dokumentasi dilakukan pembelajaran” maka penelitian ini dinyatakan
terhadapdokumen hasil ujian nasional, data berhasil apabila: 1) Lima dari enam orang guru
hasil supervisi yang dilakukan kepala sekolah, yang mendapat supervisi kunjungan kelas
dan hasil penilaian kinerja guru. Observasi yang memperoleh nilai kategori Baik (71- 85) pada
dimaksudkan disini adalah kegiatan pengamatan aspek persiapan pembelajaran, dan 2) Lima
dalam tindakan kunjungan kelas. Metode ini dari enam orang guru yang mendapat supervisi
merupakan bagian yang sangat penting dalam kunjungan kelas memperoleh nilai kategori
penelitian tindakan kelas. Observasi dilakukan Baik (71 - 85) pada aspek pelaksanaan pem-
dengan teknik observasi partisipatif pasif. belajaran.
Angket, peneliti gunakan sebagai alat evaluasi
HASIL PENELITIAN DAN
diri guru setelah kegiatan pembelajaran ber-
PEMBAHASAN
langsung, sekaligus sebagai alat kroscek ter-
hadap hasil pengamatan yang dilakukan Deskripsi Kondisi Awal
supervisor dalam hal ini peneliti, selain itu juga Kepala SD Negeri 2 Kalimanggis
angket untuk mengetahui respon guru terhadap sudah menyusun program supervisi setiap
pelaksanaan supervisi kunjungan kelas. Sedang tahunnya. Namun dalam pelaksanaannya
wawancara dilakukan terhadap guru pada tahap kadang tidak sesuai dengan rencana yang sudah
refleksi, yaitu setiap sehabis kegiatan supervisi disusun, hal itu dikarenakan berbagai tugas yang
berakhir dan pada saat kegiatan evaluasi. harus dikerjakan oleh kepala sekolah yang
Dalam penelitian ini data yang diperoleh, sifatnya insidentil dan bersifat urgen. Hal itu
dianalisis dengan menggunakan tiga langkah dibuktikan dengan dokumen supervisi terhadap
yaitu: reduksi data, paparan data, dan penarikan perangkat pembelajaran dilaksanakan terhadap
simpulan. Hasil reduksi data dalam penelitian lima orang guru pada semester genap tahun
ini berupa data pokok yang diantaranya berupa pelajaran 2014/2015 sedangkan supervisi
data hasil pengamatan supervisor, hasil evaluasi kunjungan kelas belum terlaksana.
diri guru, hasil wawancara dengan kepala Tentang kinerja Guru dokumen yang
sekolah. Sedang keabsahan data dilakukan ada di UPT Dinpendik Kecamatan Kaloran
melalui triangulasi, baik triangulasi sumber, dan menunjukkan bahwa jika dibandingkan dengan
waktu. Triangulasi sumber adalah cara untuk prestasi sekolah di seluruh wilayah UPT Dinpen-

| 167
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

dik Kecamatan Kaloran, maka prestasi siswa adegan (handycam) dan kamera, hal tersebut
di SD Negeri 2 Kalimanggis berada pada kate- dilakukan sebagai pelengkap pengumpulan
gori cukup. Kurangnya prestasi tersebut dise- data yang diperoleh dengan instrumen serta
babkan kinerja guru yang kurang maksimal bukti pelaksanaan supervisi kunjungan kelas.
disamping faktor-faktor lainnya. Hal tersebut c.Tahap Refleksi
diperkuat dengan hasil wawancara dengan Refleksi dilakukan bersama antara guru
Kepala sekolah serta dokumen-dokumen sekolah dan supervisor dengan cara mengamati rekaman
yang berhubungan dengan kinerja guru, dian- adegan proses pembelajaran, setelah mengamati
taranya adalah dokumen RPP yang digunakan rekaman adegan guru mengisi angket evaluasi
guru, hasil supervisi yang dilakukan kepala diri tentang pelaksanaan KBM yang dilakukan,
sekolah, administrasi kelengkapan pembelajar- hasil evaluasi diri di kros cek dengan hasil
an, hasil PKG, SKP Guru, presensi guru, dan pengamatan supervisor dalam hal ini meng-
buku pembinaan karyawan. gunakan instrumen pengamatan. Hasil refleksi
Pelaksanaan Penelitian tindakan pertama didapatkan beberapa ke-
kurangan baik pada penyusunan rencana pem-
Tindakan I, II, dan III
belajaran maupun pada pelaksanaan proses
Prosedur pelaksanaan penelitian pada pembelajaran, diantaranya adalah penggunaan
tindakan satu, dua, dan tiga merupakan tahapan metode pembelajaran, pemanfaatan alat peraga
dalam siklus yang berulang, yaitu meliputi dan penggunaan instrumen penilaian, pelaksana-
tahapan persiapan, pengamatan dan tahap an penilaian, dan tindak lanjut penilaian, serta
refleksi. kegiatan penutup pembelajaran.
a.Tahap persiapan Hasil Penelitian
Pada tahap persiapan dalam tindakan
pertama peneliti menentukan sasaran kunjungan 1. Hasil Perencanaan
yaitu guru yang akan mendapat supervisi Perencanaan adalah awal dari sebuah
kunjungan kelas, jadwal kunjungan, dan juga proses, berhasil tidaknya suatu kegiatan atau
mengadakan sosialisasi kepada guru-guru proses banyak bergantung pada perencanaan-
tentang kegiatan supervisi kunjungan kelas yang nya, begitupun dengan kegiatan penelitian yang
akan dilaksanakan dalam dua bulan yang akan akan peneliti lakukan. Dalam kegiatan peren-
datang dan tujuannya. canaan ini antara lain dihasilkan Kisi-kisi
penelitian, instrumen yang digunakan pengamat-
b.Tahap Pengamatan
an proses pelaksanaan pembelajaran, instrumen
Dalam tahap ini peneliti selaku super-
evaluasi diri guru, angket respon guru pasca
visor melakukan kunjungan kelas sesuai jadwal
supervisi, panduan wawancara dengan kepala
mingguan yang sudah disepakati. Peneliti
sekolah, program supervisi kunjungan kelas,
melakukan pengamatan pelaksanaan kegiatan
dan data pendukung awal berupa dokumen hasil
pembelajaran dari awal kegiatan dimulai sampai
supervisi sebelumnya dari kepala sekolah.
kegiatan berakhir dalam satu pertemuan.
Selama pengamatan supervisor menggunakan 2. Hasil tindakan
instrumen pengamatan KBM untuk mencatat a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
segala sesuatu yang dilakukan oleh guru dalam Penilaian terhadap dokumen RPP dan
pelaksanaan pembelajaran. Selain itu super- perencanaan pembelajaran lainnya dilaksanakan
visor juga menggunakan alat bantu perekam bersamaan dengan pelaksanaan pengamatan

168 |
Penerapan Supervisi Kunjungan Kelas Untuk Meningkatkan Kinerja Guru | Suprih Danurwati & Slameto

proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran tujuh belas kali kunjungan ke


instrumen yang melekat pada instrumen lembar kelas atau pelaksanaan pembelajaran
pengamatan proses kegiatan pembelajaran. memperoleh hasil sebagai berikut,
Hasil penelitian terhadap dokumen perencana- b. Pengamatan Proses Kegiatan belajar
an pembelajaran yang meliputi silabus, prota, Mengajar
promes, serta rencana pelaksanaan pembelajar- Hasil pengamatan proses pembelajaran
an mulai tindakan pertama sampai tindakan yang tertera pada tabel 2 merupakan gabungan
ketiga dapat dilihat dalam tabel 1. Dari data di antara nilai evaluasi diri guru setelah mengamati
atas dapat didiskripsikan hasil dari setiap rekaman adegan proses pembelajaran yang
tindakan, sebagaimana tertera dalam tabel 1. baru dilaksanakan dan hasil pengamatan
Tabel 1 menunjukkan bahwa dari satu supervisor ketika proses pembelajaran ber-
tindakan ke tindakan berikutnya ada pening- langsung. Dari tindakan pertama, kedua, dan
katan kompetensi guru dalam merencanakan
ketiga dapat dilihat pada tabel 2.
pelaksanaan pembelajaran. Untuk Kegiatan
Pada tabel 2, menunjukkan bahwa dari
belajar mengajar dari tiga kali tindakan
tindakan pertama, tindakan kedua hingga
pengamatan proses kegiatan Belajar Mengajar
tindakan ketiga terjadi peningkatan kompetensi
pada enam kelas dengan guru pengelola
guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran.

Tabel 1 Hasil Penilaian Dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)


Tindakan I Tindakan II Tindakan III
No Subyek
Nilai Kategori Nilai Kategori Nilai Kategori
1 A 61,1 C 66,7 C 72,2 B
2 B 66,7 C 77,8 B 83,3 B
3 C 72,2 B 77,8 B 83,3 B
4 D 66,7 C 77,8 B - -
5 E 61,1 C 77,8 B 83,3 B
6 F 61,1 C 66,7 C 72,2 B
Rerata 64,8 C 74,1 B 78,9 B
Sumber: Data penelitian diolah

Tabel 2 Hasil Pengamatan Proses Kegiatan Belajar Mengajar

Tindakan I Tindakan II Tindakan III


No Subyek
Nilai Kategori Nilai Kategori Nilai Kategori
1 A 64,80 C 69,65 C 76,20 B
2 B 69,75 C 76,50 B 81,70 B
3 C 69,75 C 79,00 B 82,10 B
4 D 66,70 C 76,50 B - -
5 E 67,30 C 78,40 B 79,00 B
6 F 67,90 C 69,10 C 74,70 B
Rerata 67,70 C 76,09 B 79,00 B
Sumber: Data penelitian diolah

| 169
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

PEMBAHASAN Dalam penelitian ini peneliti menambahkan


Supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan evaluasi diri pada setiap tahap refleksi,
kegiatan membantu guru dalam mengembang- hal ini belum lazim digunakan pada kegiatan
kan kemampuan dalam mengelola proses supervisi kunjungan kelas, ternyata hasil super-
pembelajaran untuk mencapai tujuan pem- visi yang diperoleh dengan adanya evaluasi diri
belajaran. Dengan demikian fungsi supervisi lebih dapat diterima oleh guru yang men-
akademik sebenarnya tidak untuk menilai guru dapatkan supervisi kunjungan kelas. Dari uraian
dalam melaksanakan tugasnya, namun untuk tersebut dapat disimpulkan bahwa tahapan yang
membantu guru dalam mengembangkan peneliti lakukan dalam supervisi ini adalah 1)
potensinya. Namun untuk mengetahui bantuan perencanaan, 2) tindakan sekaligus pengamat-
apa yang harus diberikan pada seorang guru, an, 3) Refleksi dengan Evaluasi diri.
maka supervisor dalam hal ini kepala sekolah SIMPULAN
maupun pengawas sekolah perlu mengetahui
Berdasarkan hasil penelitian yang telah
kekurangan maupun kelebihan yang dimiliki
diuraikan pada bab IV dalam tiga tindakan
guru dalam mengelola pembelajaran sehingga
dapat disimpulkan sebagai berikut:
dapat menentukan bantuan dengan tepat.
1. Supervisi kunjungan kelas sebagai upaya
Pelaksanaan supervisi kunjungan kelas
untuk meningkatkan kompetensi guru dapat
dalam penelitian ini dilaksanakan sesuai
meningkatkan kinerja guru dalam aspek
langkah-langkah yang ada dalam penelitian
penyusunan rencana pelaksanaan pembe-
tindakan. Langkah tersebut meliputi tahap
lajaran pada guru SD negeri 2 Kali-
perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, dan
manggis.
tahap refleksi. Penelitian yang penulis lakukan
memiliki kesamaan dengan tiga penelitian 2. Supervisi kunjungan kelas sebagai upaya
terdahulu. Kesamaannya yaitu baik penelitian untuk meningkatkan kompetensi guru dapat
yang dilakukan Edi Wahjanto di SMA Negeri meningkatkan guru SD Negeri 2 Kali-
se Kodya Magelang, penelitian Tri Widodo di manggis pada aspek pelaksanaan pem-
SMP Negeri 1 Bandungan, serta penelitian Yuli belajaran
Indrawati pada guru TK/RA UPT Dinpendik Saran
Kecamatan Bandungan bertujuan untuk
mengetahui pengaruh supervisi kunjungan kelas Saran berikut ini peneliti ajukan untuk
terhadap kinerja guru. guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah.
Walaupun memiliki kesamaan namun Saran ini ada kaitannya dengan penelitian tentang
penelitian ini memiliki perbedaan dengan penerapan supervisi kunjungan kelas untuk
penelitian sebelumnya yaitu dalam tahapan meningkatkan kinerja guru SD Negeri 2
maupun pelaksanaan supervisinya. Perbedaan Kalimanggis dalam pengelolaan pembelajaran.
pada tahap refleksi ada kegiatan evaluasi diri 1. Bagi Guru
dari guru setelah mengamati rekaman adegan Guru lain dapat dan mau memanfaatkan
proses kegiatan pembelajaran yang baru kegiatan supervisi sebagai sumber informasi
dilakukan oleh guru yang bersangkutan, hasil untuk meningkatkan kinerja guru dalam
evaluasi diri guru akan menjadi bahan melaksanakan tugas pokok dan fungsinya,
pembahasan antara supervisor dengan guru. yaitu dalam pengelolaan pembelajaran.
Supervisi kunjungan kelas dalam penelitian ini
dapat disebut supervisi berbasis evaluasi diri.

170 |
Penerapan Supervisi Kunjungan Kelas Untuk Meningkatkan Kinerja Guru | Suprih Danurwati & Slameto

2. Bagi Kepala Sekolah Nakpodia, E.D. 2011. The Dependent


Dapat memanfaatkan hasil penelitian ini outcome of Teachers Performance in
sebagai referensi dalam melaksanakan secondary schools in Delta State an
supervisi terhadap guru. Assessment of principal’s Supervision
3. Bagi Pengawas Sekolah Capacity. African Journal of Education
Memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai and Technology, Vol 1, Number 1, April
salah satu referensi atau bahan pertimbangan 2011.
dalam menyusun program kegiatan pem- Permeneg PAN & RB Nomor 16 Tahun 2009
binaan terhadap kepala sekolah dan guru tentang Jabatan Fungsional Guru dan
untuk meningkatkan kinerjanya Angka Kreditnya.
DAFTAR PUSTAKA Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun
Brotosejati. 2012. Pengaruh Supervisi 2005 tentang Standar Nasional
Kunjungan Kelas oleh Kepala Sekolah Pendidikan. Jakarta: Sekjen Depdiknas.
terhadap Kinerja Guru SD Negeri di Pidarta, Made. 2009. Supervisi Pendidikan
Kecamatan Sukoharjo. Jurnal Pendi- Kontekstual. Jakarta: Rineka Cipta.
dikan & Kebudayaan, Vol 18, nomor 3, Prasojo, Lantip Diat. 2011. Supervisi
September 2012. Pendidikan. Yogyakarta: Gava Media.
Edi Wahjanto. 2007. Pengaruh Supervisi Purwanto, Ngalim. 2012. Administrasi dan
Kunjungan Kelas Oleh Kepala Sekolah Supervisi Pendidikan. Bandung:
dan Kompetensi Guru terhadap Remaja Rosdakarya.
Kinerja Guru dan Prestasi Belajar
Siswa SMA Negeri se Kota Magelang, Sudiyono.2011. Supervisi Pendidikan.
lib.unnes.ac. vol 02, No 7, 2007. Yogyakarta: Gava Media.

Fathurrohman, Pupuh. 2011. Supervisi Sugiyono. 2014. Metode Penelitian


Pendidikan, dalam Pengembangan Kombinasi. Bandung: Alfabeta
Proses Pengajaran. Bandung: Refika Tri Widodo. 2014. Supervisi Kunjungan Kelas
Aditama. dalam Meningkatkan Kinerja Guru IPA
Mangkunegara AA, Prabu. 2007. Manajemen SMP Negeri 1 Bandungan. Tesis.
Sumber Daya Manusia Perusahaan. Program Studi S2 Magister Manajemen
Bandung: Remaja Rosdakarya Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan, Universitas Kristen
Mulyasa, H.E. 2011. Manajemen & Kepe- Satyawacana.
mimpinan Kepala Sekolah. Jakarta:
Bumi Aksara Widyani, Nengah Ni. 2011. Teknik Supervisi
Kunjungan Kelas Sebagai upaya
——. 2012. Penelitian Tindakan Sekolah. Meningkatkan Kompetensi Profesio-
Bandung: Remaja Rosdakarya. nalisme Guru SD 3 dan 10 Kesiman
Mustafa, Syaiful. 2013. Supervisi Pendidikan Denpasar. WIDYATECH Jurnal Sains
Terobosan Baru dalam Peningkatan dan teknologi.Volume 11 No. 1
Kinerja Pengawas Sekolah dan Guru, Agustus 2011.
Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

| 171
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

Yuli Indrawati. 2012. Pengaruh Supervisi Studi S2 Magister Manajemen Pen-


Kepala Sekolah dan Motivasi Kerja didikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu
Guru terhadap Kinerja Guru TK/RA di Pendidikan, Universitas Kristen Satya-
UPT Dinpendik Kecamatan Bandungan, wacana.
Kabupaten Semarang. Tesis. Program

172 |
Hubungan Gaya Kepemimpinan dan Budaya Organisasi dengan Kinerja... | Abdul Rahmat

Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan ISSN 2443-0544
Magister Manajemen Pendidikan
Volume: 2, No.2, Juli-Desember 2015
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana
jurnalkelola@gmail.com Halaman: 173-184

HUBUNGAN GAYA KEPEMIMPINAN DAN BUDAYA ORGANISASI DENGAN


KINERJA APARATUR PENDIDIKAN NONFORMAL
DI DINAS PENDIDIKAN KOTA GORONTALO

Abdul Rahmat
abdulrahmat@ac.id
Universitas Negeri Gorontalo

ABSTRACT

This study aimed to examine the alleged causality between the dependent and
independent variables. This study is a descriptive research using survey method. Data
collected by using questionnaire and analyzed using path analysis to test the hypothesis.
Engineering analysis will be determined by SPSS data analysis program. The result of
the study were; 1) Leadership style has a significant relationship with the performance
of officials local government in Gorontalo city. It is seen in the calculation of the
product r correlation counted is 0.811 at the significance level (0.05), r table at 0,239
then count r > r of the table so that we can conclude the existence of a significant
relationship, while the relationship is based on arithmetic interval coefficient criteria r
is 0.811, which means relatively strong relationship with the leadership style of
performance in local government apparatus city Gorontalo relatively strong. While t is
0.957 and compared t table with a significance level of 0.044 (0.05) turns out t count
> t table with the sense of the hypothesis is accepted which stated the existence of a
significant relationship. 2) Organizational Culture has a significant relationship
performance in local government apparatus city Gorontalo, it can be seen that the
calculation of the product correlation r counted is 0.922 at the significance level (0.05)
r price table is 0.098 then the count r > r table. It conclude the existence of a significant
relationship, while the relationship is based on interval arithmetic coefficient criteria r
is 0.922, which means has relatively strong relationship with the organizational culture
apparatus as very strong performance. While t is 0.957 and compared t table with a
significance level of 0.044 (0.05) turns out t > t table. It means the hypothesis is accepted
which states the existence of a very significant. 3) Relationship between Leadership
Style and organizational culture have significant performance relationship in local
government of Gorontalo apparatus city. It is seen in the strength of mastery skills and
cultural organization along with the performance of the apparatus, comparing the r
counting with r table it is known that 0.811 > 0.239, the correlation both have strong
significant relationship.

Keywords: Culture, leadership, and staff performance

| 173
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

PENDAHULUAN faktor kepemimpinan sebagaimana disebutkan


sebelumnya, yang tidak kalah penting dan perlu
Hasil observasi awal, ternyata masih mendapatkan perhatian untuk mencapai tujuan
banyak Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kota organisasi ialah faktor budaya yang berkembang
Gorontalo yang tidak masuk kerja alias mem- didalam organisasi yang selanjutnya kita sebut
bolos tanpa ada alasan yang jelas. Profe- dengan budaya organisasi. Suatu organisasi
sionalisme aparatur negara masih rendah yaitu akan berhasil atau gagal untuk mencapai
sekitar 40%, dan angka ini jauh dari harapan. tujuannya, sebagian besar ditentukan oleh faktor
Disamping itu, kendala yang dihadapi oleh budaya. Salah satu bukti gagalnya organisasi
Pemda Kota Gorontalo dalam rangka pening- dalam mencapai tujuannya, yaitu adanya budaya
katan kinerja aparatur saat ini adalah disebab- paternalisme yang mengakar kuat dalam
kan inovasi dan kreativitas aparat birokrasi birokrasi pemerintahan, budaya paternalisme
masih relatif rendah. Hal ini dapat dilihat dari masih sangat kuat, yang cenderung mendorong
kondisi riil yang ada yakni manakala pimpinan pejabat birokrasi lebih berorientasi pada
melakukan tugas (dinas) luar, maka ada anggapan kekuasaan dari pada tugas pelayanan.
bahwa tugas dan tanggungjawab yang ada Aparat/aparatur adalah keseluruhan
dapat ditunda pelaksanaannya atau dengan kata organ pemerintahan atau pejabat negara serta
lain selalu menunggu pimpinan kembali untuk pemerintahan negara yang bertugas melaksana-
meminta petunjuk dan pengarahannya. Dengan kan suatu kegiatan yang berkaitan dengan tugas
kondisi demikian maka proses pengurusan yang dan kewajiban sebagai tanggung jawab yang
ada dibirokrasi akan berjalan tidak sebagai- dibebankan negara kepadanya. Untuk itu
mana mestinya. Kendala yang perlu mendapat sumber daya manusia dalam organisasi
perhatian untuk menghadapi isu yang ber- pemerintahan sering disebut “aparatur” yaitu
kembang di atas serta untuk mewujudkan pegawai negeri yang melaksanakan tugas-tugas
kinerja aparatur yang baik setidak-tidaknya kelembagaan (Widjaja, 1995:177). Sehingga
dapat dihubungani oleh beberapa faktor yang penggunaan istilah sumber daya manusia
memhubunganinya, antara lain adalah faktor berkenaan dengan orang-orang didalam
kepemimpinan, budaya yang berkembang organisasi (Simamora,1992:2) sama dengan
didalam organisasi, serta struktur maupun aparatur pegawai.
mekanisme kerja yang ada didalam organisasi Menurut Wiley dan Yukl (1997:129)
tersebut. kinerja adalah cara segenap elemen di suatu
Kalau kita amati dari beberapa faktor instansi dalam melaksanakan tugas dan
yang telah dikemukakan di atas, maka faktor fungsinya masing-masing sesuai dengan aturan
kepemimpinan mempunyai hubungan yang yang ada. Handoko (1988:143) mengatakan
besar dengan kinerja yang akan dicapai oleh bahwa kinerja merupakan keadaan emosional
aparatur. Sebab didalam organisasi apapun yang menyenangkan atau tidak menyenangkan.
bentuknya baik besar maupun kecil pasti Hal ini akan tanpak dari sikap positif karyawan
memerlukan seorang pemimpin. Oleh karena dengan segala sesuatu yang dihadapi di ling-
itu pemimpin yang baik dapat menjadi panutan kungan kerja. Pendapat yang sama juga
atau teladan bagi bawahan dalam bekerja dan disampaikan oleh Tiffin (dalam As’ad,
sekaligus dapat memberikan motivasi dan 1991:104) mengatakan bahwa kinerja ber-
semangat kerja didalam organisasi. Di samping hubungan erat dengan sikap dari karyawan

174 |
Hubungan Gaya Kepemimpinan dan Budaya Organisasi dengan Kinerja... | Abdul Rahmat

dengan pekerjaannya, situasi kerja, kerjasama dilakukan oleh suatu organisasi. Sedangkan
antara pimpinan dengan karyawan, dan antar kualitas layanan dapat dilihat dari penilaian
sesama karyawan. Dalam pengertian ini dapat pengguna jasa atau masyarakat yaitu bagaimana
diketahui bahwa kinerja sebagai hasil interaksi tingkat kepuasan mereka dengan layanan yang
manusia dengan lingkungan kerja. Berkaitan diberikan oleh organisasi. Untuk mengukur kinerja
dengan hal ini Prawirosentono (1999:2) dari pegawai atau aparatur, Mondy dan Noe
mengartikan kinerja atau performance adalah (1990:99) menggunakan pendekatan yang me-
hasil kerja yang dapat dicapai oleh seorang atau ngarah pada Management by Objective (MBO).
sekelompok orang dalam suatu organisasi, Metode MBO melihat perilaku pegawai atau
sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab aparatur (personal attributes) dalam melaksana-
masing-masing dalam rangka upaya mencapai kan pekerjaan. Indikator yang digunakan adalah
tujuan organsasi bersangkutan secara legal, quantity of work, quality of work, dependa-
tidak melanggar hukum dan sesuai dengan bility, initiative, adaptability, dan cooperati-
moral maupun etika. on. Selain itu, juga diberikan kebebasan kepada
Untuk mengukur kinerja organisasi atau pegawai untuk memberikan pendapatnya
kinerja aparatur, Lenvine sebagaimana yang mengenai kinerjanya selama ini, juga pendapatnya
dikutip oleh Dwiyanto (1995) menawarkan tiga dengan kinerjanya masa depan.
konsep yaitu: responsiveness, responsibility Kegiatan manusia secara bersama-
dan accauntability. Responsiveness atau sama membutuhkan pemimpin. Keberhasilan
responsivitas yaitu kemampuan organisasi untuk dan kegagalan sebuah organisasi dalam men-
dapat mengenali kebutuhan masyarakat, jalankan misinya sangat tergantung kepada
menyusun agenda dan prioritas pelayanan, tanggung-jawab dari seorang pemimpin. Untuk
mengembangkan program-program pelayanan itu kepemimpinan dapat diartikan sebagai
publik yang sesuai dengan kebutuhan dan sebuah aktivitas untuk memimpin orang-orang
aspirasi masyarakat. Dengan kata lain responsi- agar diarahkan mencapai suatu tujuan organisasi
vitas adalah kesesuaian antara program dan Terry (dalam Thoha, 2001:227). Seorang
kegiatan yang dijalankan dengan yang dibutuhkan pemimpin apapun wujudnya, dimanapun
oleh masyarakat. Responsibility atau respon- letaknya akan selalu mempunyai beban untuk
sibilitas yaitu menjelaskan apakah pelaksanaan mempertanggung jawabkan kepemimpinannya.
kegiatan organisasi publik itu dilakukan sesuai Mengingat besarnya arti kepemimpinan dalam
dengan prinsip administrasi yang benar atau organisasi, maka seorang pemimpin harus
sesuai dengan kebijakan organisasi baik yang mampu dan dapat memainkan peranannya, pe-
implisit maupun ekplisit. Accuntability atau mimpin harus mampu menggali potensi-potensi
akuntabilitas yaitu menunjuk pada seberapa yang ada pada dirinya dan memanfaatkannya
besar kebijakan dan kegiatan organisasi tunduk didalam unit organisasi. Ada tiga peran utama
pada para pejabat politik yang dipilih oleh yang dimainkan oleh setiap manajer dimanapun
rakyat (elected officials). letak hirarkinya, peran tersebut meliputi: Peran
Namun untuk mengukur kinerja Hubungan Antar Pribadi (Interpersonal Rale),
organisasi publik ada dua konsep lagi yaitu Peran yang Berhubungan dengan Informasi
produktifitas dan kualitas layanan. Produktivitas (Informational Role), dan Peran Pembuat
adalah output yang dihasilkan oleh organisasi Keputusan (Decisional Role) (Thoha, 2001:
yaitu jenis layanan apa yang dihasilkan atau yang 232-240).

| 175
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

Dalam arti klasik, budaya organisasi Dari apa yang telah dikemukakan di
adalah persepsi yang sama dikalangan para atas penulis mencoba melihat lebih jauh
anggota organisasi tentang makna kehidupan bagaimana faktor kepemimpinan dan faktor
bersama dalam organisasi tersebut (Siagian, budaya organisasi dapat memberikan kontribusi
2002:64). Kultur atau budaya organisasi ialah atau hubungan dengan kinerja yang telah dicapai
suatu sistem nilai dan keyakinan bersama yang oleh aparatur didalam organisasi adalah dengan
dianut oleh semua pihak yang harus berinteraksi judul: “Hubungan Gaya Kepemimpinan dan
dalam rangka mencapaian tujuan. Jadi dapat Budaya Organisasi dengan Kinerja Aparatur
disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Pendidikan Nonformal di Dinas Pendidikan
kultur organisasi adalah kesepakatan bersama Kota Gorontalo”.
trntang nilai yang dianut bersama dalam METODE PENELITIAN
kehidupan organisasi dan mengikat semua orang
dalam organisasi yang bersangkutan. Robbins Penelitian ini dilaksanakan tahun 2014
(1992: 247) memberikan definisi tentang di dinas pendidikan kota Gorontalo. Penelitian
pengertian budaya organisasi yaitu suatu ini adalah penelitian deskriptif dengan
persepsi bersama yang dianut oleh anggota- menggunakan metode survei yakni suatu
anggota organisasi dan merupakan suatu sistem penelitian yang mengambil sampel dari suatu
dari makna bersama. Budaya (culture) populasi dengan menggunakan kuesioner
merupakan pola asumsi dasar bersama yang sebagai alat pengumpulan data yang pokok
dipelajari oleh kelompok dalam suatu organiassi (Arikunto, 1998:3). Teknik pengumpulan data
sebagai alat untuk memecahkan masalah yang digunakan adalah angket dan observasi.
dengan penyesuaian faktor ekternal dan integrasi Analisis data yang digunakan untuk menguji
faktor internal, dan telah terbukti sahih, oleh hipotesis penelitian ini adalah path analysis
karenanya diajarkan kepada anggota organisasi (analisis jalur). Analisis ini dipilih karena
yang baru sebagai cara yang benar untuk mem- penelitian ini bertujuan untuk menguji dugaan
persepsikan pemikiran dan merasakan dala sebab akibat antara variabel dependen dengan
kaitan masalah-masalah yang dihadapi itu. variabel independen. Teknik analisisnya akan
Kuatnya budaya dalam organisasi ditandai ditentukan melalui komputasi analisis data
dengan ditanamnya nilai-nilai budaya secara luas program SPSS.
dan menyebar kepada seluruh anggota. Hal ini Hasil penelitian yang valid adalah
ditandai dengan semakin kuatnya anggota apabila terdapat kesmaan antara data yang
organisasi menerima nilai-nilai dan komitmen terkumpul dengan data yang sesungguhnya
dengan nilai-nilai tersebut sehingga mampu terjadi pada objek yang diteliti. Valid berarti
membangun iklim yang kondusif serta loyalitas instrument yang dipilih dapat digunakan untuk
dengan organisasi. Disamping itu budaya lemah mengukur apa yang seharusnya diukur (Singgih
(weak culture) ditandai dengan lamanya Santoso, 2000: 109). Uji validitas pada
komitmen dengan tujuan organisasi, prilaku penelitian ini dilakukan dengan analisis butir
yang tidak konsisten dan kurangnya loyalitas menggunakan rumus korelasi Product
dan kebanggaan dengan organisasi, serta Moment.
tingginya turnover karyawan.
rxy =

176 |
Hubungan Gaya Kepemimpinan dan Budaya Organisasi dengan Kinerja... | Abdul Rahmat

Keterangan: ditolak (Duwi Priyatno, 2011: 258). Uji t


xy = skor pertanyaan-pertanyaan dikalikan skor
digunakan untuk mengetahui hubungan masing-
total
x = Skor jawaban pertanyaan-pertanyaan tiap masing variabel independen dengan variabel
responden dependen. Kritaeria pengujian yang digunakan
y = skor total adalah jika p value < 0,05, maka Ha diterima
N = Jumlah responden dan jika p value > 0,05, maka Ha ditolak.
Untuk mengetahui apakah item-item
HASIL PENELITIAN
dapat dinyatakan valid atau tidak adalah dengan
membandingkan hasil perbandingan nilai r hitung Analisis Uji Pengolahan Data
dengan rtabel. Apabila rhitung > rtabel maka item
1. Hasil Uji Validitas
dinyatakan valid, demikian sebaliknya
(Arikunto, 1998: 137). Uji coba instrumen akan dilakukan pada
Pengujian reliabilitas instrument 93 orang responden yang semuanya merupakan
penelitian menggunakan teknik Alpha populasi dari penelitian ini yang dijadikan sampel
Cronbrack dengan menggunakan rumus: penelitian. Pengujian validitas tiap butir yang
digunakan adalah analisis item/butir yaitu
r= mengkorelasikan skor tiap butir dengan skor
total yang merupakan jumlah tiap skor butir
Keterangan: dengan menggunakan rumus korelasi Pearson
r = koefisien Reliabilitas Instrumen Product Moment (PPM) sebagai berikut :
(cronbach alfa)
n XY  X Y
k = Banyaknya butir pertanyaan r i i i i

 n X i2  ( X i ) 2  nY i2  (Y i ) 2 
xy

= Jumlah variabel butir


5Øßt² = varian total rxy = nilai koaefisien product moment
n = banyaknya responden
Untuk menginterpresentasikan koefisien Xi = skor butir soal
Alpha (r) digunakan kategori menurut Arikunto Yi = skor total butir soal
(2002: 245), yaitu:
Analisis dilakukan dengan semua butir
Tabel 1 Interpresentasi Koefisien Alpha instrumen. Kriteria pengujian dengan cara
No Koefisien Interpresentasi membandingkan rhitung dengan rtabel. Jika rhitung
1 Antara 0,8000 - 1,000 Sangat Tinggi lebih besar dari rtabel maka butir instrumen
2 Antara 0,6000- 0,799 Tinggi
3 Antara 0,4000- 0,599 Cukup Tinggi
dinyatakan valid dan sebaliknya apabila rhitung
4 Antara 0,2000- 0,399 Rendah lebih kecil dari rtabel maka instrumen dinyatakan
5 Antara 0,0000- 0,199 Sangat Rendah tidak valid atau drop, sehingga tidak dapat
Sumber: Arikunto, 2002 digunakan untuk keperluan penelitian.
Uji F digunakan untuk mengetahui ada 2. Uji Reliabilitas
tidaknya hubungan simultan variabel-variabel Uji coba instrumen yang dilakukan pada
independen dengan variabel dependen. Kriteria 93 orang responden yang semuanya merupakan
pengujian yang digunakan adalah jika populasi dari penelitian yang dijadikan sampel
probability value (p value) < 0,05, maka Ha penelitian. Pengujian reliabilitas tiap butir yang
diterima dan jika p value > 0,05, maka Ha digunakan adalah analisis item/butir. Instrumen

| 177
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

yang digunakan untuk menghitung reliabilitas normal atau berdistribusi tidak normal. Per-
adalah instrumen yang valid saja. Nilai samaan regresi dikatakan baik jika mempunyai
Reliabilitas dapat dihitung dengan menggunakan data variabel bebas dan data variabel terikat
Rumus sebagai berikut: berdistribusi normal atau tidak sama sekali.
Dengan persamaan regresi statistik
 k   S i 
2 pada uji normalitas maka harus diketahui
r   1
 k  1  S t  terlebih dahulu melalui nilai kemiringan kurva
tt 2

(skewness = a3) atau nilai kruncingan kurva


Keterangan:
(kurtosis = a4) diperbandingkan dengan nilai
R tt = Reliabilitas instrumen
K = Butir soal yang valid Z tabel, dengan ketentuan analisis sebagai berikut
berdasarkan ketentuan analisis: a) Veriabel
 S = Jumlah Varians Butir
2
i

2
(bebas atau terikat) berdistribusi normal jika
S = Varians Total
t Z hitung (Za3 atau Za4) < Z tabel. b) Variabel
Adapun hasil pengolahan data dengan berdistribusi tidak normal jika Z hitung (Za3
program exel (dengan bantuan program SPSS atau Za4) > Z tabel. Untuk mengetahui apakah
versi 17) semua variabel realibel hasil per- dengan menggunakan uji statistik pada distribusi
hitungan dapat dilihat pada lampiran untuk normalitas sebagaimana hasil olah data yang
rekapitulasi hasil perhitungan di bawah: disajikan berikut (lihat lampiran uji normalitas):
Nilai uji pada variabel Gaya Kepemim-
Tabel 1 Reliabilitas Variabel Gaya Kepemimpinan (X1) pinan diketahui Z hitung (Za3 atau Za4) <
Cronbach's Z tabel yaitu - 0,757 < 0,495, maka variabel X1
N of Items
Alpha berdistribusi normal. Kemudian, variabel
0,924 28 Budaya Organisasi diketaui Z hitung (Za3 atau
Za4) < Z tabel yakni memiliki perbandingan 0,018
Tabel 2 Reliabilitas Variabel Budaya Organisasi (X2)
< 0,495, maka dinyatakan berdistribusi normal.
Cronbach's
N of Items Dan, varibel terikat (Y) Kinerja Aparatur
Alpha
0,923 26
memiliki perbandingan Z hitung (Za3 atau Za4)
< Z tabel, yakni 0,052 < 0,495, maka dinyatakan
Tabel 3 Reliabilitas Variabel Kinerja Aparatur (Y) berdistribusi normal.
Cronbach's Maka dari itu hasil analisis data pada
N of Items
Alpha uji normalitas ini telah memenuhi analisis
0,948 40 prasyarat yang diajukan untuk kemudian
dilanjutkan pada pengujian hipotesis dan uji
Pengujian Persyaratan Analisis dengan Uji lainnya.
Asumsi Klasik
2. Uji Multikolinieritas
1. Uji Normalitas
Uji ini dimaksudkan untuk mendeteksi
Pengujian asumsi klasik dengan gejala korelasi antara variabel independen yang
menggunakan regresi berganda uji normalitas satu dengan variabel independen yang lain.
dimaksudkan untuk menguji variabel bebas (X) Pada model regresi yang baik seharusnya tidak
dan data variabel terikat (Y) pada persamaan terdapat korelasi di antara variabel independen.
regresi yang dihasilkan apakah berdistribusi Uji Multikolinieritas dapat dilakukan dengan 2

178 |
Hubungan Gaya Kepemimpinan dan Budaya Organisasi dengan Kinerja... | Abdul Rahmat

cara yaitu dengan melihat VIF (Variance


Inflation Factors) dan nilai tolerance. Jika VIF
> 10 dan nilai tolerance < 0,10 maka terjadi
gejala Multikolinieritas. Hasil oleh data
sebagaimana berikut ini:
Tabel 4 Hasil Uji Multikolenieritas
Variabel
No. Tolerance VIF Keterangan
Independen
1 Gaya 0,920 1,087 Tidak terjadi
Kepemimpinan Multikolenieritas
2 Budaya 0,920 1,087 Tidak terjadi
Organisasi Multikolenieritas
Gambar 1 Uji Kurva Penyebaran P-Plot
Sumber: Data Primer diolah, 2014.

Dari data tabel tersebut dapat diketahui Berdasarkan grafik hasil Gambar 1,
bahwa syarat untuk lolos dari uji multikolinieritas dapat dilihat bahwa distribusi data tidak teratur
sudah terpenuhi oleh seluruh variabel dan tidak membentuk pola tertentu, serta
independen yang ada, yaitu nilai tolerence yang tersebar di atas dan bawah angka 0 pada sumbu
tidak kurang dari 0,10 dan nilai VIF yang tidak Y, sehingga dapat disimpulkan bahwa pada
lebih dari 10. Maka dari itu dapat disimpulkan model regresi ini tidak terjadi masalah
bahwa seluruh variabel independen yang heteroskedasitas.
digunakan dalam penelitian ini tidak berkorelasi 2. Uji Autokorelasi
antara variabel independen satu dengan variabel
Persamaan regresi yang baik adalah
independen yang lain. Sehingga dapat
yang tidak memiliki masalah autokorelasi. Jika
disimpulkan tidak terjadi multikolenieritas.
terjadi autokorelasi maka persamaan tersebut
2. Uji Heteroskedastisitas menjadi tidak baik atau tidak layak dipakai
Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk prediksi. Masalah autokorelasi baru timbul jika
menguji apakah dalam model regresi terjadi ada korelasi secara linier antara kesalahan
ketidaksamaan variance dari residual satu pengganggu periode (berada) dan kesalahan
pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, atau pengganggu periode t-1 (sebelumnya).
disebut homoskedastisitas. Model regresi yang
Tabel 5 Hasil Uji Durbin-Watson (DW)
baik adalah yang homoskedastisitas, tidak
Model Summaryb
heteroskedastisitas. Heteroskedastisitas
ditandai dengan adanya pola tertentu pada Model Durbin-Watson
grafik scatterplot. Jika titik-titik yang ada 1 1,815
membentuk suatu pola tertentu yang teratur a. Predictors: (Constant), Budaya Organisasi,
(bergelombang), maka terjadi heterokedas- Gaya Kepemimpinan
tisitas. Jika tidak ada pola yang jelas, titik-titik b. Dependent Variable: Kinerja Aparatur
menyebar di atas dan di bawah angka nol pada
Berdasarkan hasil tersebut, salah satu
sumbu Y, maka tidak terjadi heterokedastisitas.
ukuran dalam menentukan ada tidaknya
Maka untuk lebih jelas hasil olah data
masalah autokorelasi dengan uji Durbin-
sebagaimana berikut ini:
Watson (DW), dengan ketentuan hasil data di
atas, ditemukan Durbin-Watson (DW) test =

| 179
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

1,815 dan DW < 2. Maka dapat disimpulkan Aparatur mempunyai kemampuan dalam
bahwa data di atas tidak terjadi autokorelasi. menerangkan dan memprediksi variabel kinerja
Karena angka angkat DW test berada di antara sangat terbatas
-2 dan +2 atau -2 d” DW d” +2. 3. Uji Simultan (Uji F)
Pengujian Hipotesis Uji F digunakan untuk mengetahui ada
1. Uji Determinasi (Uji R2) tidaknya hubungan simultan variabel-variabel
independen dengan variabel dependen. Kriteria
Uji determinasi digunakan untuk
pengujian yang digunakan adalah jika
mengukur seberapa jauh kemampuan model
probability value (p value) < 0,05, maka Ha
menjelaskan variasi dependen. Apabila nilai
diterima dan jika p value > 0,05, maka Ha
koefisien determinasi dalam model regresi
ditolak. Uji F dapat pula dilakukan dengan
semakin kecil (mendekati nol) berarti semakin
membandingkan nilai Fhitung dan Ftabel. Jika Fhitung
kecil hubungan semua variabel independen
> Ftabel, maka Ha diterima. Artinya, secara
dengan variabel dependen. Dengan kata lain
statistik daya yang ada dapat membuktikan
nilai R2 yang nilai kecil berarti kemampuan
bahwa semua variabel independen (X1, X2)
semua variabel dalam menjelaskan variabel
berhubungan dengan variabel dependen (Y).
dependen sangat terbatas. Sebaliknya apabila
Jika Fhitung < Ftabel, maka ditolak. Artinya, secara
nilai R2 semakin mendekati 100% berarti semua
statistik daya yang ada dapat membuktikan
variabel independen dalam model memberikan
bahwa semua variabel independen (X1, X2) tidak
hampir semua imformasi yang diperlukan untuk
berhubungan dengan variabel dependen (Y).
memprediksi variabel dependennya atau
semakin besar hubungan semua variabel Tabel 7 Hasil Uji Simultan (Uji F)
N F (hitung) F (tabel) Kesimpulan
independen dengan variabel dependennya.
Hasil koefisien determinasi (R 2) Gaya 93 0,044 0,957 Positif

Kepemimpinan dan Budaya Organisasi dengan Sumber: Data primer diolah, 2014

Kinerja Aparatur dapat dilihat pada Tabel 6 Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa
berikut ini, berdasarkan hasil uji simultan (Uji F)
menunjukan bahwa Fhitung < Ftabel = 0,042 <
Tabel 6 Koefisien Determinasi Gaya Kepemimpinan dan
Budaya Organisasi dengan Kinerja Aparatur 0,957 maka hasil data tersebut dapat
Gaya Kepemimpinan dan Budaya
Organisasi dengan Kinerja
Koefisien Determinasi
(R2)
Keterangan dinyatakan Ha ditolak. Artinya, secara statistik
Aparatur Guru
X-Y 0,031
Persamaan X daya yang ada dapat membuktikan bahwa
100%
Sumber: Data Primer yang diolah, 2014 semua variabel yakni variabel (X) Gaya
Kepemimpinan dan Budaya Organisasi tidak
Berdasarkan hasil pengujian yang ada
mempunyai hubungan signifikan pada variabel
pada Tabel 6, diketahui bahwa Adjusted
(Y) yakni kinerja aparatur.
Determination Coefficient (R2) sebesar 0,031
yaitu lebih dari nol dan kurang dari satu yang 4. Uji Parsial (Uji t)
berarti variabilitas Gaya Kepemimpinandan
Uji parsial (Uji t) digunakan untuk
Budaya Organisasi yang dapat dijelaskan oleh
mengetahui hubungan masing-masing variabel
variabilitas variabel kinerja aparatur sebesar
independen dengan variabel dependen. Kriteria
0,4%, sehingga variabel Gaya Kepemimpinan
pengujian yang digunakan adalah jika p value
dan Budaya Organisasi dengan Kinerja

180 |
Hubungan Gaya Kepemimpinan dan Budaya Organisasi dengan Kinerja... | Abdul Rahmat

< 0,05, maka Ha diterima dan jika p value 22,519 yang artinya jika variabel Gaya
> 0,05, maka Ha ditolak. Kemudian, hasil olah Kepemimpinan meningkat satu point maka
data SPSS uji parsial (uji t) berikut ini: variabel kinerja aparatur akan meningkat
Tabel 8 Hasil Uji Parsial (Uji t)
22,619 point.
Dari hasil perhitungan dapat disimpul-
Variabel t (hitung) t (tabel)
kan bahwa koefisien diterminasi 0,031 yang
Gaya Kepemimpinan 0,239 0,811
Budaya Organisasi 0,098 0,922 artinya kinerja aparatur disumbang oleh Gaya
Sumber: Data primer diolah, 2014. Kepemimpinan sebesar 3,1%, melalui model
persamaan regresinya. Kekuatan hubungan
Berdasarkan Tabel 8, dapat disimpul-
Gaya Kepemimpinan dengan kinerja aparatur,
kan bahwa nilai t (hitung) pada variabel Gaya
berdasarkan analisis perhitungan korelasi
Kepemimpinan 0,239 dengan nilai probabilitas
product moment bahwa r hitungnya adalah
(disamakan dengan nilai t (tabel)) adalah 0,811
0,811 pada taraf signifikansi (0.05) harga r tabel
atau 81,1% (persamaan koefisiensi determinasi)
sebesar 0,239 maka r hitung > r tabel sehingga
di atas 5%. Dan, nilai t (hitung) pada variabel
dapat disimpulkan adanya hubungan yang
Budaya Organisasi adalah 0,098 dengan nilai
sangat signifikan, adapun kekuatan hubungan
probabilitas 0,922 atau 92,2% di atas 5%. Hal
berdasarkan kriteria interval koefisien r hitung
ini dapat disimpulkan bahwa variabel Gaya
0,811 tergolong kuat yang artinya hubungan
Kepemimpinan memiliki nilai t (hitung) = 0,239
Gaya Kepemimpinan dengan kinerja aparatur
> 0,05 atau 5% (persamaan nilai probabilitas),
tergolong kuat. Sedangkan t hitung sebesar 0,957
maka Ho ditolak. Sedangkan, variabel Budaya
dan dibandingkan t tabel sebesar (0,044) dengan
Organisasi memiliki nilai t (hitung) = 0,098 >
taraf signifikansi (0.05) ternyata t hitung > dari
0,05 atau 5%, maka Ho ditolak.
t tabel dengan arti hipotesis diterima yang
PEMBAHASAN menyatakan adanya hubungan yang signifikan.
Berdasarkan hasil olah data dan analisa
di atas maka selanjutnya menafsirkan dari Tabel 9 Hasil Perhitungan Uji Korelasi Product
Moment dan t Hitung
berbagai hasil data statistik tersebut. Dalam hal
ini dibagi menjadi dua bagian sebagaimana Signifikansi 0.05
N r (hitung) t (Hitung)
tercantum dalam rumusan masalah pada r tabel t tabel
penelitian ini.. 93 0,811 0,957 0,239 0,044

Hubungan Antara Gaya Kepemimpinan Sumber: Data primer yang diolah, 2014

dengan Kinerja Aparatur Pengujian ini menunjukan adanya


Hipotesis yang pertama yang diujikan hubungan yang signifikan sedangkan kekuatan
adalah terdapatnya hubungan antara Gaya hubungannya sebesar 3,1% hal ini juga berarti
Kepemimpinandengan kinerja aparatur. Dari bahwa semakin baik Gaya Kepemimpinan
hasil analisa dengan SPSS Versi. 17 (lihat maka kinerja aparatur semakin baik dalam
lampiran) dapat dijelaskan bahwa F hitung melaksanakan tugas atau kerja. Kondisi
102.477 lebih besar dari F tabel atau juga nilai demikian bisa disebabkan oleh multifaktor maka
signifikansi uji F lebih kecil dari nilai alfa 0,05 bagi pimpinan dalam membangun iklim kerja
yang artinya regresi mempunyai hubungan yang yang kondusif harus memperhatikan item-item
sangat signifikan. Sedangkan konstantanya evaluasi lainnya.

| 181
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

Hubungan Antara Budaya Organisasi Tabel 10 Hasil Perhitungan Uji Korelasi Product
Moment dan t hitung
dengan Kinerja Aparatur
Signifikansi 0.05
Hipotesis kedua yang diujikan adalah N r (hitung) t (Hitung)
r tabel t tabel
terdapatnya hubungan Budaya Organisasi
dengan Kinerja Aparatur. Pengujian 93 0,922 0,957 0,098 0,044

dimaksudkan untuk mengetahui apakah Sumber: Data primer yang diolah, 2014

persamaan regresi yang diperoleh sama atau


bahwa semakin banyak Budaya Organisasi
hampir sama dengan model regresi berganda.
berarti kinerja aparatur semakin baik.
Dari hasil analisa dengan SPSS Versi. 17 (lihat
lampiran) dapat dijelaskan bahwa F hitung Pengujian Hipotesis Hubungan Secara
102.477 lebih besar dari F tabel atau juga nilai Bersama-sama Antara Gaya Kepemim-
signifikansi uji F lebih kecil dari nilai alfa 0,05 pinan dan Budaya Organisasi dengan
yang artinya regresi mempunyai hubungan yang Kinerja Aparatur
sangat signifikan. Sedangkan konstantanya Hipotesis yang ketiga yang diujikan
22,519 yang artinya jika variabel Gaya adalah terdapatnya hubungan secara bersama-
Kepemimpinan meningkat satu poin maka sama antara Gaya Kepemimpinan dan Budaya
variabel kinerja aparatur akan meningkat Organisasi dengan kinerja aparatur. Pengujian
22,619 poin. dimaksudkan untuk mengetahui probabilitas
Dari hasil perhitungan dapat disimpul- keliru, apakah persamaan regresi yang
kan bahwa koefisien diterminasi 0,031 yang diperoleh sama atau hampir sama dengan model
artinya Budaya Organisasi disumbang oleh regresi berganda Y = a + bX1+ bX2. Dari hasil
Kinerja Aparatur sebesar 3,1%, melalui model analisa SPSS Versi 17 (Lihat: Lampiran) dapat
persamaan regresinya. Kekuatan hubungan dijelaskan bahwa F hitung 102,477 lebih besar
variabel Budaya Organisasi dengan Kinerja dari F tabel atau juga nilai signifikansi untuk uji F
Aparatur, berdasarkan analisis perhitungan lebih kecil dari nilai alfa 0,05 yang artinya
korelasi product moment bahwa rhitungnya regresi mempunyai hubungan yang sangat
adalah 0,922 pada taraf signifikansi (0.05) signifikan.
harga r tabel sebesar 0,098 maka r hitung > dari r Dari hasil perhitungan dapat disimpul-
tabel
sehingga dapat disimpulkan adanya kan bahwa koefisien diterminasi 0,031 yang
hubungan signifikan, adapun kekuatan hubung- artinya Gaya Kepemimpinan dan Budaya
an berdasarkan kriteria interval koefisien r hitung Organisasi dengan kinerja aparatur secara
0,922 tergolong kuat yang artinya hubungan bersama-sama sebesar 3,1%, melalui model
Budaya Organisasi memiliki hubungan yang persamaan regresinya. Kekuatan penguasaan
cukup signifikan. Sedangkan t hitung sebesar keterampilan dan Budaya Organisasi secara
0,957 dan dibandingkan t tabel sebesar (0,044) bersama-sama dengan kinerja aparatur,
dengan taraf signifikansi (0.05) ternyata t hitung membandingkan antara r hitung dengan r tabel
> dari t tabel dengan arti hipotesis diterima yang maka diketahui bahwa 0,811 > 0,239, maka
menyatakan adanya hubungan yang signifikan. kekuatan korelasi keduanya memiliki cukup
Pengujian ini menunjukan adanya hubungan yang signifikan.
hubungan yang signifikan sedangkan kekuatan
hubungannya sebesar 3,1% hal ini juga berarti

182 |
Hubungan Gaya Kepemimpinan dan Budaya Organisasi dengan Kinerja... | Abdul Rahmat

Pendidikan Nonformal Di Dinas Pendidikan


Kota Gorontalo, hal tersebut dapat dilihat
pada perhitungan korelasi product moment
Tabel 11 Hasil Perhitungan Uji Korelasi Product
Moment dan t Hitung bahwa r hitungnya adalah 0,922 pada taraf
signifikansi (0.05) harga r tabel sebesar 0,098
Signifikansi 0.05
N r (hitung) maka r hitung > dari r tabel sehingga dapat
r tabel
disimpulkan adanya hubungan yang sangat
93 0,811 0,239 signifikan, adapun kekuatan hubungan
berdasarkan kriteria interval koefisien r
Pengujian ini menunjukkan adanya
hitung 0,922 tergolong kuat yang artinya
hubungan yang sangat signifikan sedangkan
hubungan Budaya Organisasi dengan
kekuatan hubungannya hanya sebesar 3,1% hal
Kinerja Aparatur tergolong sangat kuat.
ini juga berarti bahwa semakin baik Gaya
Sedangkan t hitung sebesar 0,957 dan
Kepemimpinan dan Budaya Organisasi secara
dibandingkan t tabel sebesar 0,044 dengan
bersama-sama maka semakin baik pula kinerja
taraf signifikansi (0.05) ternyata t hitung > dari
aparatur.
t tabel dengan arti hipotesis diterima yang
SIMPULAN menyatakan adanya hubungan yang sangat
Berdasarkan hasil dan pembahasan signifikan
penelitian ini dapat di simpulkan bahwa: 3. Hubungan antara Gaya Kepemimpinan dan
1. Gaya Kepemimpinan mempunyai hubungan Budaya Organisasi secara bersama-sama
yang signifikan dengan kinerja aparatur di mempunyai hubungan yang signifikan dengan
Pendidikan Nonformal di Dinas Pendidikan Kinerja Aparatur di Pendidikan Nonformal
Kota Gorontalo, hal tersebut dapat dilihat Di Dinas Pendidikan Kota Gorontalo. Hal
pada perhitungan korelasi product moment tersebut dapat dilihat pada kekuatan
bahwa r hitungnya adalah 0,811 pada taraf penguasaan keterampilan dan Budaya
signifikansi (0.05) harga r tabel sebesar 0,239 Organisasi secara bersama-sama dengan
maka r hitung > dari r tabel sehingga dapat kinerja aparatur, membandingkan antara r
disimpulkan adanya hubungan yang sangat hitung
dengan r tabel maka diketahui bahwa
signifikan, adapun kekuatan hubungan 0,811 > 0,239, maka kekuatan korelasi
berdasarkan kriteria interval koefisien r hitung keduanya memiliki cukup hubungan yang
0,811 tergolong kuat yang artinya hubungan signifikan.
Gaya Kepemimpinan dengan kinerja
aparatur di Pemda Kota Gorontalo tergolong DAFTAR PUSTAKA
kuat. Sedangkan t hitung sebesar 0,957 dan As’ad, Muhammad. 1991. Kinerja Sebagai
dibandingkan t tabel sebesar 0,044 dengan Media Peningkatan Drajad Dalam
taraf signifikansi (0.05) ternyata t hitung > Konteks Industrialisasi; Bandung:
dari t tabel dengan arti hipotesis diterima yang Ganeca.
menyatakan adanya hubungan yang sangat Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian
signifikan. Suatu Pendekatan Praktek; Jakarta:
2. Budaya Organisasi mempunyai hubungan Rineka Cipta.
yang signifikan dengan Kinerja Aparatur di

| 183
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

____2002. Prosedur Suatu Penelitian: Simamora, Ermaya. 1992. Psikologi


Pendekatan Praktek. Edisi Revisi. Kepegawaian dan Peran Pemimpin
Kelima. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta. Dalam Memotivasi Kerja. Bandung:
Dwiyanto, Agus. 1995. Penilaian Kinerja Ramadan.
Organisasi Publik; Yogyakarta: Fisipol Singgih Santoso. 2000. Buku Latihan SPSS
Universitas Gajah Mada. Statistik Parametrik. Jakarta: PT Elek
Handoko. 1988. Kinerja dan Tingkat Media Komputindo.
Emosional. Surabaya: Pratama. Thoha, Miftah. 2001. Kepemimpinan Dalam
Mondy, R.W. & Robert M. Noe. 1990. Human Manajemen. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Resources Management. Allyn and Persada.
Bacon. Widjaja, A.W. 1995.Administrasi Kepegawaian.
Prawirosentono, S. 1999. Kebijakan Kinerja Suatu Pengantar. Jakarta: Raja
Karyawan. Yogyakarta: BPFE. Grafindo.

Robbins, P. Stephen. 2002. Perilaku Wiley dan Yulk.1977. Strategik Manajemen


Organisasi, Jilid 1 (terjemahan). dan Industrial. London: Ditmen
Jakarta: Prehallindo. Publishing.

Siagian, Sondang P. 2002. Manajemen Abad Yulk, GA. 1998. Ledership In Organisation
21. Jakarta: Bumi Jakarta Aksara. (secon edition). Englewood Clips, New
Jersey: Prencice Hull, Inc.

184 |
Penguasaan Kompetensi Pedagogik Guru Tersupervisi Klinis dan Guru Tanpa Supervisi | Leinora Juliana Kaipatty dkk.

Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan ISSN 2443-0544
Magister Manajemen Pendidikan
Volume: 2, No.2, Juli-Desember 2015
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana
jurnalkelola@gmail.com Halaman: 185-195

PENGUASAAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU


TERSUPERVISI KLINIS DAN GURU TANPA SUPERVISI
DI DUA SMA SWASTA DI KOTA AMBON

Leinora Juliana Kaipatty


lely_ax@yahoo.com
Alumni Program Pascasarjana Magister Manajemen Pendidikan
FKIP-Universitas Kristen Satya Wacana

Lobby Loekmono
loekmono@yahoo.com
Program Pascasarjana Magister Manajemen Pendidikan
FKIP-Universitas Kristen Satya Wacana

Slameto
slameto@staff.uksw.edu
Program Pascasarjana Magister Manajemen Pendidikan
FKIP-Universitas Kristen Satya Wacana

ABSTRACT

This study is an experimental research with using pretest and posttest control group
design. The aimed of the study were: 1). To know the differences significant of teacher’s
mastery of pedagogical competences between teachers clinical supervised in SMA
Kristen YPKPM Ammbon and non-supervised teachers in SMA Kartika XIII-I Ambon,
2). To determine how the the clinical supervision influenced the teachers’ mastery of
pedagogical competences. The data was collected by using observation toward
teaching profile competence from Wasserman and Egert. Data analyzed using t test
comparative and linear regression analysis. The result of the study was the coefficient
t test was 4,184 with significant 0,001 < 0,05. It proved that there was a difference
between supervision and non-supervision teachers significantly. The clinical
supervision has influence about 41,9% on teachers pedagogical competences.

Keywords: Pedagogic Competency, Clinic Supervision

| 185
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

PENDAHULUAN mengajar. Wasserman dan Eggert (1981)


Dalam proses pendidikan formal, menyatakan bahwa profil kompetensi mengajar
terdapat aktivitas pembelajaran, dan tenaga guru yaitu kemampuan dasar professional guru
pendidik memiliki peran penting dalam dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab
menunjang keberhasilan pembelajaran yang dalam mendidik, melatih, membimbing dan
dilakukan. Oleh karena itu setiap guru harus memfasilitasi kegiatan belajar peserta didik
memiliki kompetensi dalam mendidik dan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
mencapai tujuan pendidikan. Kompetensi secara efektif dan efisien.
adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan Permasalahan umum yang saat ini
dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan masih menimpa dunia pendidikan, terjadi dalam
dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksana- penyelenggaraan pendidikan yang dialami
kan tugas keprofesionalannya. (UU No.14 Sekolah Menengah Atas Kota Ambon. Fakta
tahun 2007). Dalam perspektif kebijakan di lapangan khususnya di sekolah-sekolah
pendidikan nasional, pemerintah Indonesia telah tingkat menengah atas (SMA) kota Ambon,
merumuskan empat jenis kompetensi guru menurut Data yang diperoleh dari Dinas
meliputi kompetensi pedagogik, professional, Pendidikan Kota Ambon tahun 2012 yang
kepribadian dan sosial (UU No.14 tahun menunjukkan UKA (Uji Kompetensi Awal) di
2005). kota Ambon yang meliputi penguasaan
Kompetensi pedagogik merupakan kompetensi pedagogik dan professional masih
bagian yang tak terpisahkan dari empat di bawah standar nasional. Dari uji kompetensi
kompetensi yang harus dimiliki seorang guru. awal yang dilakukan di kota ambon terdapat
Kompetensi pedagogik sangat dibutuhkan oleh dua pokok penting yang diuji dalam UKA yaitu
guru dalam mendesain pembelajaran sekaligus penguasaan bahan ajar dan metode pedagogik
mengevaluasinya sehingga pembelajaran di yang digunakan dalam perancangan pem-
kelas akan berjalan dengan lancar sejak awal belajaran. Adapun Hasil dari UKA guru dari
dimulainya proses pembelajaran sampai tahap kompetensi pedagogik dengan standar deviasi
evaluasi. Slameto (2013) menyatakan bahwa adalah 12,72. Hasil Kompetensi pedagogik
inti dari kompetensi pedagogik terletak pada hanya memperoleh nilai 37,26 di bawah skor
kemampuan guru dalam menyelenggaraan rata-rata nasional 45,06 atau berada pada
pembelajaran yang mendidik, inti dari pem- peringkat 32 nasional. Untuk skor maksimum
belajaran yang mendidik terletak pada kemam- dari kompetensi pedagogik dan professional
puan guru untuk melaksanakan pembelajaran adalah 100, dan hanya 1,42% guru di kota
keseharian. Pembelajaran mendidik merupakan Ambon memperoleh skor di atas 70, sebagian
kemampuan manajemen pembelajaran besar 53,55% guru di kota Ambon mem-
mencakup proses merancang pembelajaran, peroleh skor antara 3039,9 dan 17,06% yang
mengimplementasikan pembelajaran, menilai memperoleh skor kurang dari 30sebagian besar
proses dan hasil pembelajaran, serta melakukan 53,55% guru di kota Ambon memperoleh skor
perbaikan secara berkelanjutan. antara 3039,9 dan 17,06% yang memperoleh
Penelitian ini lebih memfokuskan pada skor kurang dari 30.
penguasaan kompetensi pedagogik guru yang Melihat fakta di lapangan mengenai
berkaitan dengan kompetensi guru dalam penguasaan kompetensi pedagogik, masih
banyak masalah, yang dihadapi guru, oleh karena

186 |
Penguasaan Kompetensi Pedagogik Guru Tersupervisi Klinis dan Guru Tanpa Supervisi | Leinora Juliana Kaipatty dkk.

itu guru perlu diberikan bantuan sesuai dengan penelitian ini dirumuskan sebagai a) untuk
kebutuhannya untuk mengatasi kelemahan atau mengetahui perbedaan penguasaan kompetensi
kekurangan dalam proses pembelajaran sehing- pedagogik (kompetensi mengajar) guru antara
ga dapat meningkatkan penguasaan kompetensi guru yang tersupervisi klinis di SMA Kristen
pedagogik guru. Salah satu upaya yang dapat YPKPM Ambon dengan guru tanpa supervisi
dilakukan untuk meningkatkan penguasaan di SMA Kartika XIII-I Ambon, dan b) untuk
kompetensi pedagogik guru adalah pelaksana- mengetahui berapa besar pengaruh pelaksana-
an supervisi klinis. Supervisi Klinis menurut an supervisi klinis kepala sekolah terhadap
Acheson dan Gall (2003) “Supervision as the penguasaan kompetensi pedagogik guru.
process of helping the teacher reduce the Secara teoritik manfaat yang dapat
discrepancy” (suatu proses membantu guru diambil dari penelitian ini adalah bahwa hasil
memperkecil kesenjangan antara perilaku penelitian ini dimanfaatkan sebagai bahan
mengajar yang nyata dengan perilaku mengajar referensi/kajian tentang peningkatan pengua-
yang ideal). Defenisi ini memberi indikasi bahwa saan kompetensi pedagogik melalui supervisi
supervisi klinis merupakan suatu proses klinis. Sedang secara praktis hasil penelitian ini
membantu guru mengatasi kesulitannya dalam dapat menjadi masukan bagi guru, dalam
mengajar. Proses membantu pada supervisi mendorong guru untuk meningkatkan pengua-
klinis dalam arti memberi pertolongan secara saan kompetensi pedagogik melalui supervisi
langsung yang diberikan supervisor kepada klinis sehingga dapat meningkatkan kualitas
guru-guru dengan cara melakukan tindakan pembelajaran di sekolah. Hasil penelitian ini
observasi untuk membantu memecahkan diharapkan juga dapat memberi masukan juga
masalah-masalah yang terjadi dalam proses pada sekolah, dan dinas pendidikan dalam
pembelajaran. mengambil kebijakan akan pentingnya supervisi
SMA Kristen YPKPM Ambon, dan untuk peningkatan penguasaan kompetensi
SMA Kartika XIII-I Ambon, adalah sekolah pedagogik guru.
menengah atas yang terdapat di kota Ambon,
yang memiliki kesamaan, antara lain, memiliki METODE PENELITIAN
jumlah guru 45 guru, memiliki akreditasi B dan Jenis penelitian yang digunakan dalam
berstatus sekolah swasta. Dalam penelitian ini, penelitian ini adalah penelitian eksperimen
penulis ingin mengetahui perbedaan penguasaan dengan jenis desain Pretest-Postest Control
kompetensi pedagogik guru yang tersupervisi Group Design (Sugiyono, 2006). Desain ini
klinis dengan guru tanpa supervisi. terdapat dua kelompok yang dipilih secara
Berdasarkan latar belakang masalah di random, kemudian diberi pretest untuk
atas maka masalah dalam penelitian ini mengetahui keadaan awal adakah perbedaan
dirumuskan sebagai: a) Adakah perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok
signifikan penguasaan kompetensi pedagogik kontrol, dan diberi posttest setelah dilakukan
guru yang tersupervisi klinis di SMA Kristen treatmen untuk mengetahui adakah perbedaan
YPKPM Ambon dengan guru tanpa supervisi setelah di beri treatmen pada kelompok
di SMA Kartika XIII-I Ambon?, dan b) kontrol dan kelompok eksperimen. Kelompok
seberapa besar pengaruh pelaksanaan supervisi yang diberi perlakuan atau treatmen disebut
klinis terhadap penguasaan kompetensi kelompok eksperimen sedangkan kelompok
pedagogik guru?. Oleh karena itu tujuan yang tidak diberi treatment disebut kelompok

| 187
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

kontrol. Lokasi penelitian dilaksanakan di dua mengajar guru) di kelas dengan tujuan untuk
tempat, yaitu SMA Kristen YPKPM Ambon mengetahui kemampuan akhir dari kelompok
dan SMA Kartika XIII-I Ambon. Subyek eksperimen dan kelompok kontrol setelah
penelitian adalah guru-guru di SMA Kristen dilakukan treatment. Langkah Keempat
YPKPM Ambon dan SMA Kartika XIII-I Analisis Data. Setelah posttest diberikan,
Ambon yang masing-masing sampel guru yang dilakukan analisis untuk membandingkan hasil
diteliti berjumlah 32 guru yaitu 16 guru dari posttest antara kelompok eksperimen dan
SMA Kristen YPKPM, dan 16 Guru SMA kelompok kontrol.
Kartika XIII-I Ambon, alasan mendasar Teknik pengumpulan data dalam
memilih 16 guru dari masing-masing sekolah penelitian ini adalah pengumpulan data berupa
karena peneliti harus mengambil subyek yang penguasaan kompetensi pedagogik pada saat
memiliki kesamaan-kesamaannya pada tingkat posttest yang berupa lembar observasi yang
pendidikan, golongan, dan masa kerja. Variabel digunakan untuk mengumpulkan data tentang
dalam penelitian ini ada dua jenis yaitu variabel penguasaan kompetensi pedagogik guru
bebas (X) dan variabel terikat (Y). Di dalam (kompetensi mengajar guru) di kelas. Pada
penelitian ini yang bertindak sebagai variabel observasi penguasaan kompetensi pedagogik
bebas (X) adalah tersupervisi klinis (X1) dan berupa kegiatan belajar mengajar di dalam
tanpa supervisi klinis (X2). Sedangkan untuk kelas yang telah teruji validitas dan realibilitasnya
variabel terikatnya (Y) adalah penguasaan kepada sampel guru. Teknik analisis data yang
kompetensi pedagogik (kompetensi mengajar) digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
guru. deskriptif dan analisis komparatif t yaitu dengan
Langkah-langkah dalam melakukan melihat perbedaan nilai kelompok eksperimen
pengumpulan data dalam penelitian ini, yaitu dan kelompok kontrol (posttest) pada
pertama melakukan Uji kesetaraan terhadap penguasaan kompetensi pedagogik guru dan
seluruh guru dengan signifikansi 5%. Jika angka regresi linear untuk mengetahui berapa besar
Signifikansi hitung kurang dari 0,05 maka pengaruh supervisi klinis terhadap penguasaan
sekolah tersebut tidak setara. Sedangkan jika kompetensi pedagogik.
angka signifikansi hitung lebih besar dari 0,05
HASIL PENELITIAN
maka sekolah tersebut setara. Menghitung uji
kesetaraan diperoleh dari skor penguasaan Pada hasil penelitian ini pelaksanaan
kompetensi pedagogik guru; langkah kedua supervisi klinis dilakukan sebanyak tiga kali
melakukan treatment, dalam penelitian ini kelas pada kelompok eksperimen yaitu SMA Kristen
eksperiment diberi treatment kepada guru- YPKPM Ambon dan pada kelompok kontrol
guru dalam pembelajaran di kelas yang yaitu SMA Kartika XIII-I Ambon tidak
tersupervisi klinis sedangkan pada kelompok dilakukan supervisi atau tanpa ada peran
kontrol pada guru-guru dalam pembelajaran di supervisor dalam supervisi.
kelas tanpa ada peran supervisor dalam Pelaksanaan supervisi:
melaksanakan supervisi klinis pada proses a. Pertemuan pertama
pembelajaran; Langkah ketiga melakukan Dilakukan pada 12-17 Januari 2015.
Posttest. Posttest berupa hasil Observasi di Adapun prosedur pelaksanaan supervisi klinis
kelas berdasarkan instrumen observasi dilakukan,
penguasaan kompetensi pedagogik (kompetensi 1. Tahap Perencanaan

188 |
Penguasaan Kompetensi Pedagogik Guru Tersupervisi Klinis dan Guru Tanpa Supervisi | Leinora Juliana Kaipatty dkk.

Pada tahap awal perencanaan, yang dilaku- untuk mengatasi kekurangan yang dihadapi
kan adalah supervisor, guru senior dan guru oleh guru, yang berdasarkan hasil data
yang diteliti, bersama-sama secara bertatap observasi yang telah dianalisis oleh super-
muka langsung, menciptakan suasana akrab, visor, maka selanjutkan dilakukan wawan-
untuk mereview, mendiskusikan, meng- cara dengan guru-guru yang bersangkutan
analisis, terkait dengan Pemetaan Standar untuk mendapatkan sebuah data yang
Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi obyektif dengan membandingkan hasil
Dasar (KD), Penyusunan RPP, dan Silabus observasi dengan wawancara dan studi
yang sesuai dengan Permendiknas No.41 dokumentasi. Dari hasil observasi yang telah
tahun 2007 tentang Standar Proses, serta dianalisis oleh supervisor, wawancara
penyiapan materi ajar bagi guru yang diteliti. dengan guru yang diteliti dan dokumentasi
Kemudian dari guru yang belum paham kemudian dikumpulkan, dicatat sehingga
dalam menyusun RPP dengan baik, mulai mendapatkan kemantapan kebenarannya
secara individu dapat menyusun kembali data yang valid. Data yang telah dianalisis,
RPP dengan bimbingan dari guru senior yang memperoleh sebuah data dari kekurangan
memiliki basik pengetahuan yang sama. yang dilakukan oleh guru pada proses
2. Tahap Pelaksanaan Pembelajaran pembelajaran yaitu: 1) kurang mengaitkan
Pada tahap pelaksanaan pembelajaran yang materi pengajaran dengan pengetahuan yang
dilakukan oleh supervisor untuk melakukan relevan, 2) kurang dalam penguasaan Kelas,
observasi di kelas. Adapun tahap observasi 3) kurang melibatkan siswa dalam peman-
ini dilakukan dengan dibantu instrument faatan media, 4) melakukan penilai akhir
observasi supervisi klinis yang menggunakan belum sesuai dengan kompetensi (tujuan)
kemampuan melaksanan pembelajaran yaitu pembelajaran, Belum terlihat pada penyam-
pelaksanaan pembelajaran mengajar guru paian pesan materi pada proses pembelajar-
(IPKG2). IPKG 2 seperti yang telah dibaku- an dengan gaya yang sesuai dalam menyam-
kan oleh Depdiknas serta Pedoman paikan pesan materi tersebut, 5) kurang
Penilaian Kinerja Guru dari Direktorat memberikan rangkuman akhir, dan tidak
Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan ada keterlibatkan siswa secara bersama-
Tenaga Kependidikan Departemen sama dalam membuat rangkuman dari akhir
Pendidikan Nasional tahun 2008. Adapun materi pembelajaran, dan 6) Guru belum
hasil pengamatan atau observasi berdasar- optimal memanfaatkan hasil penilaian
kan kegiatan-kegiatan pada instrumen pencapaian pembelajaran untuk melakukan
dengan memiliki indikator dalam penilaian umpan balik kepada siswa belum dilaksana-
pada tabel 1. Kemudian hasil observasi yang kan karena kekurangan waktu.
tersaji dalam tabel 1 itu dianalisis oleh Dari hasil data kekurangan yang
supervisor. Hasil pada pertemuan pertama diperoleh, kemudian supervisor dapat melaku-
masih terlihat ada kekurangan yang kan beberapa langkah-langkah supervisi klinis
dilakukan guru dalam proses pembelajaran dalam mengatasi kekurangan yang dihadapi
di kelas yang belum menunjuk keberhasilan oleh guru pada proses pembelajaran di kelas.
karena baru mencapai nilai rata-rata 2,91. Penyelesaian masalah ini dilakukan bersama
3. Tahap Umpan Balik atau Refleksi dengan guru yang bersangkutan. Pengem-
Pada tahap balikan atau refleksi kegiatan ini, bangan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

| 189
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

1. Mendengarkan. Supervisor mendengarkan 8. Standarisasi. Jika guru sudah jelas, super-


kesan yang dialami oleh guru pada proses visor memberikan patokan yang perlu
pembelajaran yang dilakukan, termasuk dilakukan guru pada pertemuan kedua.
masalah/kekurangan yang dihadapi oleh Pemberian patokan diambil dari hasil diskusi
guru berdasarkan hasil yang telah dianalisis. bersama dengan guru-guru.
Dari kekurangan tersebut yang diperoleh 9. Penguatan. Supervisor memberikan moti-
dari hasil yang didengar dari pihak guru vasi kepada guru. Agar dalam pertemuan
tersebut, supervisor memperjelas tentang berikutnya guru menjadi lebih bersemangat.
masalah yang dihadapi oleh guru, dan b. Pertemuan Kedua
melakukan tanya jawab dengan guru untuk
Pelaksanaan supervisi pada pertemuan
mendapatkan apa yang diinginkan oleh guru.
kedua dilakukan pada tanggal 19-24 Januari
2. Mendorong. Dalam proses menyelesaikan
2015. Adapun prosedur pelaksanaan supervisi
masalah supervisor membuat suasana yang
klinis pada tiap tahapan tetap sama seperti yang
nyaman dengan guru agar guru dalam
dilakukan pada pertemuan pertama. Pada tahap
melakukan perbaikan tidak merasa tertekan.
perencanaan supervisor, guru senior dan guru
3. Presentasi. pada bagian ini, supervisor
yang diteliti tetap melakukan diskusi bersama,
memberikan gambaran mengenai masalah
yang masih terkait dengan Kompetensi Inti (KI),
atau kesulitan yang dihadapi guru dalam
Kompetensi Dasar (KD), Penyusunan RPP dan
pertemuan pertama beserta memberikan
silabus bagi guru yang belum paham benar, atau
solusi/saran kepada guru untuk menjadi lebih
masih yang belum jelas, sehingga pada tahap
baik.
ini, guru bisa mendapatkan hasil yang optimal/
4. Pemecahan masalah. Supervisor bersama
puas. Tahap observasi pada pelaksanaan
dengan guru yang bersangkutan melakukan
pembelajaran di kelas tetap sama dilakukan
perundingan untuk menyelesaikan masalah
pada pertemuan pertama. Pertemuan kedua ini
yang dihadapi oleh guru. Suasana berunding
sudah terlihat perbaikan yang terjadi dari
terjadi dalam suasana yang nyaman.
kekurangan dalam pertemuan pertama.
5. Negosiasi. Pada negosiasi masih sama
Perbaikan terlihat pada nilai rata-rata yang
tujuannya dengan pemecah masalah, yaitu
diperoleh pada pertemuan kedua yaitu 3,63.
untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi
Ada beberapa kelemahan yang masih dilakukan
guru-guru.
guru dalam proses pembelajaran pada per-
6. Demonstrasi. Setelah mencapai kesepakat-
temuan kedua sebagai berikut, yaitu: 1) Guru
an dalam penyelesaian masalah, selanjutnya
masih kurang melibatkan siswa dalam
supervisor mendemonstrasikan atau mem-
pemanfaatan media, 2) Guru melakukan peni-
berikan contoh untuk memperagakan apa
laian akhir yang sesuai dengan kompetensi
yang akan dilakukan guru dalam pertemuan
tujuan, 3) masih kurang tindak lanjut dengan
yang kedua, sehingga diharapkan pada
memberikan arahan/tugas sebagai bagian
pertemuan ke dua dapat terjadi perubahan
remedi/pengayaan, 4) Guru belum optimal pada
yang lebih baik.
penilaian pencapaian pembelajaran untuk
7. Mengarahkan. Masih seperti pada bagian
melakukan umpan balik kepada siswa karena
demonstrasi, hanya saja dalam bagian ini super-
kurang waktu.
visor memberikan kesempatan kepada guru
untuk menanyakan apa saja yang belum jelas.

190 |
Penguasaan Kompetensi Pedagogik Guru Tersupervisi Klinis dan Guru Tanpa Supervisi | Leinora Juliana Kaipatty dkk.

Untuk mengatasi kekurangan yang Tabel 1 Hasil Peningkatan Rata-rata Tiap


Pertemuan Supervisi Klinis
terjadi dalam pertemuan kedua, supervisor
Kegiatan Banyak Guru Total Rata-Rata
tetap melakukan langkah-langkah yang sama
Pertemuan I 16 78,50 2,91
seperti supervisi pada pertemuan pertama. Pertemuan II 16 97,75 3,63
Diharapkan dengan cara yang sama pada Pertemuan III 16 114,19 4,23
tahapan umpan balik atau refleksi, guru yang
bersangkutan dapat merasa nyaman dalam Hasil pada tabel 1 terlihat peningkatan
mengatasi kekurangan, bersama dengan super- rata-rata pada pertemuan pertama adalah 2,91
visor. Sehingga hasil dari supervisi pada per- menjadi 3,63 dengan kenaikan 24,4% dan
temuan kedua diharapkan dapat meningkatkan kenaikan juga terlihat pada pertemuan ketiga
kompetensi guru dalam mengajar di SMA dimana pada pertemuan kedua rata-rata 3,63
Kristen YPKPM Ambon, terutama dalam per- menjadi 4,23 naik 16,5%. Dari hasil yang
temuan yang ketiga. diperoleh pada pelaksanaan supervisi klinis
terhadap penguasaan kompetensi mengajar
c. Pertemuan Ketiga
guru, mengalami peningkatan di tiap pertemuan
Pelaksanaan supervisi pada pertemuan
dari pertemuan pertama sampai pada per-
ketiga dilakukan pada tanggal 26 – 31 Januari
temuan ketiga.
2015. Pertemuan ketiga sudah memperlihatkan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah
peningkatan yang nyata dalam proses pem-
dilakukan, hasil posttest kelompok eksperimen
belajaran. Hal ini terlihat hasil rata-rata pada
dan kelompok kontrol pada penguasaan
pertemuan ketiga yaitu 4,23. Namun masih ada
kompetensi pedagogik yang memiliki nilai
kelemahan yang terjadi pada pertemuan ketiga,
tertinggi pada kelompok eksperimen diperoleh
yaitu menyampaikan materi pembelajaran
10 orang dan nilai sedang 6 orang, dengan
dengan gaya dan melaksanakan tindak lanjut
memiliki mean (rata-rata) 62,19, dan standar
dengan memberikan arahan, atau tugas sebagai
deviasi 7.259 jika dibandingkan dengan
bagian remedi/pengayaan. Walaupun dalam
posttest kelompok kontrol yang memiliki nilai
penelitian ini pertemuan ketiga merupakan
sedang berjumlah 13 orang, nilai rendah 3 orang
pertemuan terakhir, supervisor tetap melakukan
dengan nilai mean (rata-rata) 53,84 dengan
supervisi klinis. Adapun langkah-langkah
standar deviasi 5.767. Rata-rata (mean)
supervisi tetap sama dengan langkah-langkah
kelompok eksperimen lebih besar. dibanding-
pada pertemuan pertama dan kedua. Diharap-
kan dengan kelompok kontrol dengan selisih
kan pada supervisi pertemuan ketiga ini,
pada mean yaitu 8,25.
masalah-masalah yang terjadi pada proses
Berdasarkan Uji beda Paired Sample
pembelajaran di kelas khusus dalam penyam-
paian materi dengan gaya yang memberikan T (Test) diperoleh hasil t hitung sebesar 4,184
arahan atau tugas sebagai remedy atau pengayaan dengan Sig.2-tailed 0,001<0,05. Maka mem-
dapat teratasi. buktikan hasil hipotesis yang diajukan dalam
Adapun hasil rekapitulasi data dan penelitian ini berbunyi jika koefisien signifikansi
persen (%) peningkatan pada tiap pertemuan < 0,05 maka H1 yang berbunyi ada perbedaan
supervisi klinis tersaji pada Tabel 1. yang signifikan penguasaan kompetensi
pedagogik (kompetensi mengajar) antara guru
yang tersupervisi klinis dengan guru tanpa
supervisi diterima. Sehingga hasil uji bedat antara

| 191
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

guru yang tersupervisi klinis dengan tanpa regresi 0,224, dengan nilai F sebesar 10,086
supervisi menghasilkan koefisien signifikansi dengan signifikansi 0,007<0,05 dan mem-
0,001<0,05 menyimpulkan H1 diterima Ho berikan sumbangan sebesar 41,9% terhadap
ditolak. Terlihat pada tabel 2. penguasaan kompetensi pedagogik yang
Sedangkan hasil dari pengaruh ditunjukkan oleh nilai RSguare Sebesar 0,419,
pelaksanaan supervisi klinis terhadap dengan penyimpangan estimasi yang mungkin
penguasaan kompetensi pedagogik mengguna- terjadi sebesar 5.729. Terlihat pada tabel 3.
kan regresi linear memperoleh nilai koefisien

Tabel 2 Hasil Uji Beda Postest Penguasaan Kompetensi Pedagogik antara Guru yang
Tersupervisi Klinis dengan Guru Tanpa Supervisi
Paired Samples Test
Paired Differences
95%
Confidence
Interval of the
Std. Std. Difference
Devia Error Sig. (2-
Lower Upper
Mean tion Mean T Df tailed)
Pair 1 Postest Eksperi
ment – Postest 8.250 7.887 1.972 4.047 12.453 4.184 15 .001
Kontrol

Tabel 3 Hasil Pengaruh Supervisi Klinis Terhadap


Kompetensi Pedagogik
Model Summary
Mo Adjusted R Std. Error of the
del R R Square
Square Estimate

1 .647 a .419 .377 5.729


a. Predictors: (Constant), Supervisi Klinis

ANOVAb

Model Squares Df Mean Square F Sig.

Regression 331.000 1 331.000 10.086 .007 a


Residual 459.438 14 32.817
Total 790.438 15
a. Predictors: (Constant), SupervisiKlinis
b. Dependent Variable: Kompetensi Pedagogik
Coefficientsa

Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model T Sig.
Std. Beta
B
Error
1 (Constant) .448 19.493 .023 .982
SupervisiKlinis .224 .071 .647 3.176 .007
a. Dependent Variable:
Kompetensi Pedagogik

192 |
Penguasaan Kompetensi Pedagogik Guru Tersupervisi Klinis dan Guru Tanpa Supervisi | Leinora Juliana Kaipatty dkk.

PEMBAHASAN guru mengembangkan keterampilannya dan


Hasil penelitian ini menemukan ada mengembangkan model atau strategi dalam
perbedaan penguasaan kompetensi pedagogik pembelajaran, (4) membantu guru mengem-
antara guru yang tersupervisi klinis dengan guru bangkan satu sikap positif terhadap pengem-
tanpa supervisi, dengan diketahui hasil posttest bangan professional yang berkesinambungan.
rata-rata penguasaan kompetensi pedagogik Berbeda dengan pembelajaran tanpa
pada kelompok eksperimen lebih tinggi supervisi klinis yang dilakukan dalam kelompok
dibandingkan dengan rata-rata kelompok kontrol kontrol, karena peran supervisor tidak ada
yaitu untuk kelompok eksperimen sebesar dalam proses pembelajaran sehingga guru
62,19 dan kelompok kontrol sebesar 53,94 dalam kelompok kontrol di SMA Kartika XIII-I
dengan selisih mean (rata-rata) sebesar 8,25 Ambon melakukan pembelajaran sendiri tanpa
dengan signifikansi 0,001<0,05, sehingga bantuan supervisor. Pembelajaran berlangsung
membuktikan ada perbedaan penguasaan kom- seperti biasa yang dilakukan guru-guru SMA
petensi pedagogik guru tersupervisi klinis Kartika XIII-I Ambon sehari-hari. Pada hasil
dengan tanpa supervisi. Adanya perbedaan ini akhir penelitian tidak terjadi peningkatan
dipengaruhi oleh supervisi klinis yang dijalankan penguasaan kompetensi pedagogik karena
sehingga terbukti dapat membantu guru untuk kekurangan-kekurangan yang terjadi dalam
memperbaiki setiap kekurangan yang ada pada pelaksanaan pembelajaran tidak mendapat
penguasaan kompetensi pedagogik (kompe- perbaikan langsung.
tensi mengajar guru di kelas). Hasil dari penga- Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil
ruh supervisi klinis terhadap penguasaan penelitian yang dilakukan oleh Fitriana (2008)
kompetensi pedagogik dengan nilai F sebesar dengan judul “Upaya Peningkatan Kompetensi
10,086 dengan signifikan sebesar 0,007<0,05. pedagogik guru PAI Kelas VII SMPN 1
Membuktikan bahwa supervisi klinis mem- Comal”. Selain itu penelitian ini juga sejalan
berikan pengaruh yang positif signifikan bagi dengan Korma (2012) dengan judul “Pen-
kompetensi pedagogik guru sebesar 41,9% hal dekatan Supervisi Klinis terhadap Wawasan
ini menunjukkan bahwa besarnya pengaruh Kompetensi Pedagogik dan Kualitas Pengelo-
yang dapat diberikan supervisi klinis terhadap laan Pembelajaran Para Guru di Gugus IV SD
penguasaan kompetensi pedagogik guru adalah Kecamatan Denpasar Selatan“ yang menyim-
sebesar 41,9% sedangkan sisanya yang 58,1% pulkan bahwa pendekatan supervisi klinis mem-
dipengaruhi oleh variabel lain. Sehingga dapat punyai pengaruh yang signifikan terhadap
menyimpulkan bahwa supervisi klinis dilakukan wawasan kompetensi pedagogik dan pengelo-
terbukti dapat memberikan peningkatan bagi laan pembelajaran guru sehingga dapat mening-
penguasaan kompetensi pedagogik pada katkan kompetensi guru.
kelompok eksperimen yaitu SMA Kristen Hasil penelitian ini bertolak belakang
YPKPM Ambon. Tujuan supervisi menurut dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Chui
Achelson dan Gall (2003) yaitu: (1) menyedia- Mi (2012) dan Hernadi (2010) yang membukti-
kan umpan balik yang obyektif terhadap guru kan bahwa supervisi tidak effektif dan tidak
mengenai pengajaran yang dilaksanakannya, (2) meningkatkan kualitas guru dalam proses pem-
mendiagnosis dan membantu memecahkan belajaran (kompetensi pedagogik) guru. Hal ini
masalah-masalah pengajaran, (3) membantu di karenakan pada penelitian Chui Mi (2012)
dan Hernadi (2010), pelaksanaan supervisi

| 193
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

klinis tidak diterapkan atau dilaksanakan secara 2. Besar pengaruh pelaksanaan supervisi klinis
baik. Chui Mi (2012) dalam hasil penelitiannya terhadap penguasaan kompetensi pedagogik
menyatakan bahwa supervisi klinis hanya guru sebesar 41,9%, sedangkan sisanya
dilaksanakan pada pemeriksaan administrasi 58,1% yang dipengaruhi oleh faktor/variabel
pembelajaran guru berupa RPP dan Silabus. lain. Artinya semakin tinggi skor supervisi
Sehingga, guru beranggapan bahwa mereka klinis maka semakin tinggi pula skor
mampu melaksanakan pembelajaran di kelas kompetensi pedagogik demikian pula
dengan baik. Maka dari hasil penelitiannya sebaliknya
bahwa supervisi klinis tidak effektif dilaksanakan Berdasarkan simpulan penelitian yang
dalam meningkatkan penguasaan kompetensi telah dipaparkan, maka dapat diajukan bebe-
pedagogik guru. rapa saran. Kepala Sekolah dapat meningkat-
Sedangkan hasil penelitian Hernadi kan penguasaan kompetensi pedagogik guru
(2010) bahwa pelaksanaan supervisi klinis, yang masih rendah, maka perlu dengan me-
guru-guru tidak dilibatkan pada tahap peren- nyelenggarakan dan meningkatkan supervisi
canaan pelaksanaan supervisi klinis sehingga klinis di sekolah yang dipimpinnya. Pengawas,
membuat guru tidak dapat memahami manfaat untuk meningkatkan penguasaan kompetensi
dari supervisi klinis tersebut, kemudian pada pedagogik guru di Kota Ambon yang masih
tahap umpan balik/pembinaan lanjutan tidak rendah, maka pengawas diharapkan mengawasi
dilakukan oleh supervisor dalam memperbaiki dan meningkatkan pengawasan ke seluruh satuan
kekurangan-kekurangan guru pada pelaksana- pendidikan termasuk satuan pendidikan SMA
an pembelajaran sehingga membuat hasil dari dengan cara memberikan supervisi klinis
supervisi klinis tidak meningkatkan kompetensi langsung kepada guru-guru dalam peningkatan
pedagogik. penguasaan kompetensi pedagogik. Untuk
Sesuai yang diajukan pada penelitian penyempurnaan penelitian disarankan kepada
ini bahwa terdapat perbedaan yang signifikan penelitian lanjutan untuk mengadakan penelitian
antara guru yang tersupervisi dengan guru tanpa dengan mengkaji lebih dalam pada setiap tahap
supervisi sehingga pelaksanaan supervisi klinis pelaksanaan supervisi klinis yaitu pada tahap
yang dilaksanakan memberikan pengaruh perencanaan, pelaksanaan dan umpan balik
dalam peningkatan penguasaan kompetensi untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari
pedagogik (kompetensi mengajar) guru. tiap-tiap tahap supervisi tersebut, sehingga
dalam penelitian lanjutan ini peneliti dapat
SIMPULAN DAN SARAN
memakai (multiple regresion).
Kesimpulan penelitian ini dirumuskan sebagai
berikut: DAFTAR PUSTAKA
1. Ada perbedaan penguasaan kompetensi Achelson, K. dan Gall, M. 1992. Techniques
pedagogik antara guru yang tersupervisi In The Clinical Supervision of Teachers
klinis di SMA Kristen YPKPM Ambon (Preservice and Inservice Application).
dengan tanpa supervisi di SMA Kartika New York: Longman.
XIII-I Ambon. Artinya bahwa supervisi ———2003. Using Clinical Supervision in
klinis yang dilakukan dapat meningkatkan Teacher Evaluation. In Clinical
penguasaan kompetensi pedagogik guru. Supervision and Teacher Development

194 |
Penguasaan Kompetensi Pedagogik Guru Tersupervisi Klinis dan Guru Tanpa Supervisi | Leinora Juliana Kaipatty dkk.

Preservice and Inservice Applications. Slameto. 2013. Implementasi Eksplorasi,


New York: Wiley. Elaborasi, dan Konfirmasi dalam
Chui Mi. 2012. Pelaksanaan Supervisi Klinis Pembelajaran Guna Meningkatkan
dalam Mengelola Pembelajaran di Kompetensi Pedagogik Guru SD.
SMA Negeri 2 Sambas. Jurnal Visi Ilmu Salatiga: Tisara Grafika.
Pendidikan, Vol.7 No.1. diakses. 20/04/ Sugiyono. 2006. Metode Penelitian
2014. Pendidikan. Bandung: CV. Alfabeta.
Depdiknas. 2007. Permendiknas No.16 tahun Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
2007 tentang Standar Kualifikasi 14 Tahun 2005. Tentang Guru dan
Akademik dan Kompetensi Guru. Dosen.
Fitriana. 2008. Upaya Peningkatan Kompe- Wasserman, S., and Eggert, W. 1981. Profile
tensi Pedagogik Guru PAI Kelas VII of Teaching Competency. British
SMPN 1 Comal. Semarang. Skripsi. Colombia. Cebter for The Study of
Institut Agama Islam Negeri Walisongo Curriculum and Instruction.
Semarang. Wijaya, Daya N. 2011. Peningkatan Kemam-
Hernadi Dedi. 2010. Effektivitas Supervisi puan Guru dalam Menyusun RPP
terhadap Kualitas Pengajaran dan Melalui Supervisi Klinis & Implikasi
Pembelajaran Bahasa Inggris (Studi terhadap Pembelajaran IPS di SMPN
Kualitatif di SMP Negeri 3 Bayat). 2 Wlingi Kabupaten Blitar. Malang:
Tesis. Surakarta. Univeristas Sebelas Jurnal Vol 7 No.2. Universitas Negeri
Maret. Malang.
Korma. 2012. Pengaruh Implementasi
Pendekatan Supervisi Klinis Terhadap
Wawasan Kompetensi Pedagogik dan
Kualitas Pengelolaan Pembelajaran
Para Guru di Gugus IV SD Kecamatan
Denpasar Selatan. Jurnal Vol 2. No.2
Universitas Pendidikan Ganesha.

| 195
Efektifitas Penerapan Project Based Learning Berbantuan Web 2.0 Tools dan Deming Cycle | Nohel Yemima

Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan ISSN 2443-0544
Magister Manajemen Pendidikan
Volume: 2, No.2, Juli-Desember 2015
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana
jurnalkelola@gmail.com Halaman: 196-202

EFEKTIFITAS PENERAPAN PROJECT BASED LEARNING


BERBANTUAN WEB 2.0 TOOLS DAN DEMING CYCLE PADA
MATAKULIAH PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA

Nohel Yemima
nohelyemima@gmail.com
Alumni Program Pascasarjana Magister Manajemen Pendidikan
FKIP-Universitas Kristen Satya Wacana

ABSTRACT

This is a Quasi Experimental research which aimed to know the effectiveness of


implementing Project Based Learning (PBL) with assistance of Web 2.0 tools and
Deming Cycle towards the learning achievement in Mathematics Problem Soving
Course of undergraduate students in Primary School Teacher Education Program in
Satya Wacana Christian Univerisity (PGSD, UKSW). This research included 52
students which were devided into two classes consist of 26 students. In the experimental
group, the treatment were given by implementing a PBL with Web 2.0 tools and Deming
Cycle whereas in control group, PBL was implemented but without the use of Web 2.0
tools and Deming Cycle. The T-Test anylisis showed that the experimental group had
the significant increasing of learning achievement compare to the control group. As
the result, in the third term of 2013/2014 accademic year, it is effective to improve
students learning achievement in Mathematics Problem Solving Course by
implementing PBL with the assistance of Web 2.0 tools and Deming Cylce.
Keywords: Deming cycle, Mathematics, PBL, Primary School, Web 2.0 tools.

PENDAHULUAN definisi tersebut, kerjasama yang efisien dan


efektif antara seluruh stakeholder pendidikan
Dalam upaya peningkatan kualitas
seperti pendidik, perserta didik, orang tua,
pendidikan tentu tidak terlepas dari faktor-
penyedia sarana dan prasarana, pimpinan
faktor utama yang mempengaruhinya salah satu
yayasan dan pihak-pihak penentu kebijakan
diantaranya adalah manajemen. Menurut
dari suatu insistusi pendidikan menjadi sangat
Arikunto & Yuliana (2012:3) definisi dari
penting.
manajemen adalah “rangkaian segala kegiatan
Lingkup manajemen yang terkecil
yang menunjuk kepada usaha kerjasama antara
namun terpenting dari sebuah pendidikan formal
dua orang atau lebih untuk mencapai salah satu
adalah di dalam kelas. Seperti yang dijelaskan
tujuan yang telah ditetapkan” Berdasarkan

| 195
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

oleh Arikunto & Yuliana (2012:5) bahwa & Mostert (2014) dalam penelitiannya tentang
manajemen kelas merupakan “suatu kegiatan potensi Moodle dengan blended learning
terkecil dalam usaha pendidikan yang justru management system bagi guru matematika di
merupakan “dapur inti” dari seluruh jenis Afrika Selatan membuktikan bahwa interaksi
manajemen pendidikan”. Oleh karena itu, antara dosen dan siswa meningkat ketika
peningkatan kualitas pendidikan harus dimulai menggunakanMoodle sehingga dapat dikatakan
dari peningkatan kualitas pembelajaran. Di bahwa penggunaan LMS dapat meningkatkan
dalam pembelajaran tentunya peran manajemen efisiensi dan keaktifan dalam pembelajaran.
menjadi sangat penting untuk meningkatkan Namun demikian pernyataan Noam Chomsky
efisiensi dan efektifitas pembelajaran yang pada yang dikutip oleh George Veletsianos (2014)
akhirnya bermuara pada peningkatan mutu terkait peran teknologi dalam dunia pendidikan
pendidikan secara kongkrit, efektifitas dan adalah sebagai berikut.
efisiensi kerjasama antara guru dengan siswa “As far as technology itself and
education is concerned, technology is
dan antar siswa dengan siswa menjadi penentu
basically neutral. It’s like a hammer. The
dalam keberhasilan sebuah pembelajaran. hammer doesn’t care whether you use it
Untuk meningkatkan kualitas pem- to build a house or whether on torture,
belajaran dibutuhkan sarana pendidikan yang using it to crush somebody’s skull, the
menunjang dengan manajemen yang efektif dan hammer can do either.”
efisien. Oleh karena itu, peran dari manajemen Pernyataan Chomsky ini menunjukan
sarana pendidikan sangatlah penting. Arikunto bahwa berhasil atau tidaknya penggunaan
dan Yuliana (2012:187) menjelaskan bahwa teknologi sangat tergantung pada penggunanya.
“sarana pendidikan adalah semua fasilitas Oleh karena itu, jika LMS digunakan dalam
yang diperlukan dalam proses belajar pembelajaran maka selain aspek familiarity
mengajar baik yang bergerak maupun tidak
terhadap teknologi, aspek manajemen peng-
bergerak agar pencapaian tujuan pendidik-
an dapat berjalan dengan lancar, teratur, gunaan teknologi juga menjadi sangat penting
efektif, dan efisien” untuk keberhasilan sebuah pembelajaran.
Faktor utama berikutnya selain faktor
Dari penjelasan tersebut, media pembe-
manajemen, faktor pendidik memiliki peranan
lajaran berupa media audio, visual dan media
yang sangat penting juga dalam dunia pen-
audio visual merupakan sarana manjemen yang
didikan. Keberhasilan sebuah Negara dalam
tidak bergerak yang penting untuk peningkatan
dunia pendidikan tidak bergantung pada system
kualitas pembelajaran jika digunakan dengan
yang kuat tetapi kualitas pendidik yang pro-
tepat. Selain itu, peran multimedia seperti
fessional. McKinsey mengatakan bahwa
software pembelajaran ataupun Learning
“kualitas sistem pendidikan tidak dapat melebihi
Management System (LMS) seperti Moodle,
kualitas guru” (Barber & Mourshed, 2007.
Blackboard, Joomla dan lain-lain sebagainya
p.13). Selanjutnya dijelaskan bahwa keyakinan
juga merupakan sarana peranti lunak yang
bahwa perubahan organisasi bisa memicu
dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi
prestasi yang lebih baik merupakan hal yang
dan efektifitas pembelajaran di kelas. Beberapa
naif. Dengan demikian tentunya peran guru
penelitian telah menunjukan bahwa penggunaan
dalam menghasilkan siswa yang berprestasi
LMS dengan manajemen yang baik dapat
sangatlah besar.
meningkatkan kualitas pembelajaran. Ndlovu

196 |
Efektifitas Penerapan Project Based Learning Berbantuan Web 2.0 Tools dan Deming Cycle | Nohel Yemima

Program Pendidikan Guru Sekolah (menganalisa), dan Act (memperbaiki


Dasar (PGSD) merupakan program yang pelaksanaan) sangat perlu untuk dilakukan
bertujuan untuk mencetak guru-guru yang dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis
mampu mengajar siswa sekolah dasar. Tentunya proyek di kelas.
akan sangat disesalkan apabila lulusan PGSD Penerapan Project Based Learning
tidak mampu mengajar siswa sekolah dasar (PBL) dengan manajemen yang baik tentu
dengan baik. Untuk menghasilkan lulusan yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Namun
professional, tentunya sangat bergantung juga bagaimana bila penerapan PBL yang terencana
dari kualitas dosen yang mengajar dan mem- di kelas dibantu dengan aplikasi Web 2.0 dan
bimbing calon guru. siklus manajemen Deming? Apakah hasilnya
Salah satu matakuliah wajib yang harus akan lebih baik ataukah sama saja dengan
diikuti para siswa PGSD adalah matakuliah penerapan PBL pada umumnya. Membanding-
Pemecahan Masalah Matematika. Dalam kan efektifitas kedua model penerapan PBL
pelaksanaan pembelajaran pada umumnya inilah yang menjadi fokus penelitian ini.
dosen mempraktekan pembelajaran berbasis Penerapan PBL dengan Web 2.0 selain terkait
proyek dengan cara membagi siswa dalam 3- erat dengan manajemen tetapi juga terkait
4 orang per kelompok kemudian mereka dengan penggunaan teknologi komputer dan
diminta untuk mencari informasi dari berbagai internet yang pada umumnya sudah tidak lagi
sumber tentang bagaimana memecahkan soal- asing bagi para siswa di abad dua puluh satu
soal permasalahan matematika. Namun ber- ini. Oleh karena itu, penting sekali bagi dosen
dasarkan pengalaman peneliti dalam mengajar untuk mengembangkan kreativitas dan kemam-
matakuliah ini, penerapan pembelajaran mate- puan kolaborasi siswa dengan memberikan
matika berbasis proyek ini belum dikatakan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama
berhasil sepenuhnya karena dalam melakukan menyajikan hasil proyek mereka dengan
presentasi, mereka hanya menjawab soal-soal menggunakan alat kolaborasi Web 2.0.
pemecahan masalah matematika dengan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh
perhitungan matematis tanpa menggunakan Elam & Nesbit (2012) terhadap 22 siswa
media pembelajaran berupa animasi dalam Korea Selatan jurusan pariwisata membuktikan
komputer yang mempermudah pemahaman bahwa penerapan PBL dengan bantuan alat
penyelesaian permasalahan matematika, kolaborasi Web 2.0 berhasil meningkatkan
sehingga ada siswa yang tidak bisa mengerti motivasi dan kemampuan kolaborasi
hasil yang teman mereka presentasikan. siswa.Web 2.0 menurut Dictionary.com (2014)
Dari permasalahan ini, setelah melaku- adalah sebagai berikut.
kan refleksi terhadap pembelajaran yang telah “a second generation in the development
dilakukan pada semester sebelumnya, peneliti of the World Wide Web, conceived as a
menemukan bahwa kelemahan penerapan combination of concepts, trends, and
technologies that focus on user colla-
pembelajaran berbasis proyek adalah kurangnya
boration, sharing of user-generated
perencanaan yang matang dan tentunya hal ini content, and social networking.”
terkait dengan manajemen pembelajaran yang
tidak tertata dengan benar. Tentunya teori W. Dalam hal ini aplikasi perangkat lunak
Edwards Deming tentang PDCA - Plan yang menunjang terjadinya kolaborasi antar
(merencanakan), Do (melaksanakan), Check pengguna merupakan bagian dari Web 2.0.

| 197
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

Beberapa contoh Web 2.0 adalah facebook, posttest pada kedua kelompok tersebut. Quasi
twitter, skype, learning management system eksperimen atau eksperimen semu dipilih
(LMS) seperti Moodle, Blackboard, Joomla, karena peneliti sulit mendapatkan kelompok
Schoology, dan lain sebagainya. kontrol selain itu dalam penentuan kelompok
Oleh karena itu, dalam penelitian ini eksperimen dan kontrol tidak dilakukan secara
peneliti mencoba membandingkan efektifitas random.
penerapan PBL yang selama ini dilaksanakan Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian
dengan PBL berbantuan Web 2.0 dengan siklus
manajemen Deming. Dengan demikian judul Penelitian ini dilakukan di Program
penelitian eksperimen ini adalah “Efektifitas Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas
Penerapan Project Based Learning berbantuan Kristen Satya Wacana.Dilaksanakan mulai bulan
Web 2.0 tools dan Mangement cycle Deming Mei 2014 hingga Agustus 2014. Subjek dalam
pada Matakuliah Pemecahan Masalah penelitian ini adalah siswa PGSD angkatan
Matematika bagi siswa PGSD UKSW. 2011 sebanyak dua kelas dengan jumlah siswa
Berdasarkan latar belakang masalah sebanyak 52 siswa yang mana 26 siswa akan
maka dapat dirumuskan masalah dalam dijadikan sebagai kelompok eksperimen dan
penelitiam yaitu: Apakah ada perbedaan 26 siswa sebagai kelompok kontrol.
efektifitas antara penerapan Project Based Variabel Penelitian
Learning (PBL) berbantuan Web 2.0 tools dan
a. Variabel Bebas (X)
Deming cycle dengan PBL tanpa berbantuan
Variabel bebas adalah variabel yang mem-
Web 2.0 dan tanpa bantuan Deming Cycle
pengaruhi variabel terikat (Priyatno 2010:3).
terhadap prestasi belajar siswa PGSD UKSW
Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah
dalam matakuliah Pemecahan Masalah
penggunaan Project Based Learning berbantuan
Matematika SD?
Web 2.0 tools dan Deming Cycle
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui seberapa besar efektifitas b. Variabel Terikat (Y)
penerapan Project Based Learning berbantuan Variabel terikat adalah variabel yang nilainya
Web 2.0 tools dan Deming Cycle (PDCA) dipengaruhi oleh variabel lain (Priyatno 2010:3).
terhadap hasil belajar Matematika pada Dalam penelitian ini yang menjadi variable
matakuliah Pemecahan Masalah Matematika terikat adalah hasil belajar siswa pada
mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar, matakuliah Pemecahan Masalah Matematika.
Universitas Kristen Satya Wacana semester
antara tahun 2013-2014. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam
METODE PENELITIAN
penelitian eksperimen untuk mengetahui
Jenis dan Lokasi Penelitian efektifitas pada kelas eksperimen setelah meng-
Jenis penelitian yang digunakan dalam gunakan PBL berbantuan Web 2.0 tools dan
penelitian ini adalah quasi eksperimen dimana Deming Cycle adalah melalui observasi dan
akan terdapat dua kelompok yang diteliti yaitu tes. Dalam penelitian ini digunakan dua kelas
kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. dengan mata kuliah yang sama. Salah satu kelas
Dalam penelitian ini dilakukan pretest dan menjadi kelompok kontrol dengan Project

198 |
Efektifitas Penerapan Project Based Learning Berbantuan Web 2.0 Tools dan Deming Cycle | Nohel Yemima

Based Learning, sedangkan kelas lainnya Validitas dan Reliabilitas


menjadi kelompok eksperimen dengan Project Uji validitas adalah pengujian yang
Based Learning berbantuan Web2.0 tools dan dilakukan untuk mengetahui seberapa cermat
Deming Cycle pada matakuliah Pemecahan suatu instrumen dalam mengukur apa yang ingin
Masalah Matematika. diukur (Priyatno 2010:14). Menurut Sugiyono
Sebelum dilakukan penelitian, dibuat (2010:455) bahwa N=40 (N= jumlah siswa
rancangan rencana pelaksanaan pembelajaran dalam kelas uji validitas), maka batas
(RPP) untuk kelas kontrol maupun kelas koefisiennya adalah > 0,304. Validitas dihitung
eksperimen. Kemudian peneliti akan membuat menggunakan SPSS 20 for Windows.
serangkaian soal untuk Pre Test dan Post Test. Uji reliabilitas yaitu untuk menguji
Pada tahap awal, kedua kelas diberikan Pre konsistensi alat ukur, apakah hasilnya tetap
test untuk mengukur kemampuan awal siswa konsisten jika pengukuran diulang (Priyatno
sebelum diberikan perlakuan. Setelah itu kedua 2010:14). Reliabilitas instrumen dimaksudkan
kelas diberikan perlakuan yang berbeda. Kelas untuk mengetahui tingkat keajegan instrumen
kontrol hanya diberikan Project Based Learning dari variabel yang hendak diukur. Batasan untuk
sedangkan untuk kelas eksperimen diberikan menentukan tingkat reliabilitas instrumen
Project Based Learning berbantuan Web 2.0 digunakan pedoman menurut Sekaran (Priyatno
tools dan Deming Cycle. Pada tahap akhir, 2010:32) yaitu kurang dari 0,6 adalah kurang
siswa diberikan Post-test untuk mengevaluasi baik, sedangkan 0,7 dapat diterima dan di atas
hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari, 0,8 adalah baik.Uji reliabilitas dihitung dengan
setelah itu dibandingkan hasil antara Post Test menggunakan SPSS 17 for Windows.
kelas kontrol dan Post Test kelas Eksperimen.
Berikut ini adalah model penelitian Instrumen Skor Non Diskrit

Tabel 1 Model Penelitian Instrumen skor non diskrit merupakan


Group Pretest Treatment Posttest instrumen pengukuran yang bersifat gradual
Kelas Eksperimen T1 XE T2 yaitu ada penjenjangan skor dimulai dari yang
Kelas Kontrol T3 XK T4 tertinggi sampai dengan yang terendah.
Instrumen skor non diskrit digunakan untuk test
Keterangan:
yang berbentuk uraian. Interval skor yang
T1 = T3 = Pre Test yang diberikan sebelum proses
pembelajaran diberikan digunakan adalah 1 (satu) sampai 10 (sepuluh).
T2 = T4 = Post Test yang diberikan setelah proses Pada instrumen skor non diskrit analisis relia-
pembelajaran
XE = Perlakuan terhadap kelompok eksperimen bilitasnya menggunakan rumus Alpha
yang berupa Project Based learning (Widoyoko, 2012).
berbantuan Web 2.0 tools dan Deming Cycle Berikut ini adalah rumus Alpha,
terhadap matakuliah Pemecahan Masalah  n 
2

Matematika   Xi 
 i 1 
n

XK = Perlakuan terhadap kelompok kontrol yang  k    b 


2 i x 2

N
r  1   , dimana  b  i 1
2

berupa Project Based Learning terhadap mata  k  1   t


2
 N
kuliah Pemecahan Masalah Matematika Keterangan
r = reliabilitas instrumen
Instrumen Pengumpulan Data k = banyaknya soal
 2
b = jumlah varians
1. Soal pre-test dan post-test
2. Artifak pekerjaan mahasiswa  t2 = varian total
X = skor total

| 199
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

Setelah dilakukan penghitungan ber- 15.7692 bila dibandingkan dengan kelompok


dasarkan rumus alpha, instrumen dikatakan kontrol.
reliabel apabila nilai koefisien Alpha lebih besar Pada kelompok kontrol produk yang
dari harga kritik atau standar reliabilitas. Harga dihasilkan kurang begitu bervariasi karena
kritik untuk indeks reliabilitas intrumen adalah hanya menggunakan Power Point saja. Sedang-
0,7. Artinya apabila nilai koefisien Alpha lebih kan untuk interaksi mahasiswa dengan dosen,
besar dari 0,7 maka instrumen tersebut reliabel pada kelas kontrol tidak begitu intens karena
dan sebaliknya bila nilai koefisien Alpha lebih konsultasi dilakukan hanya sekali saja di kelas
rendah dari 0,7 maka instrumen tersebut tidak saat presentasi dan lewat feedback yang
reliabel (Widoyoko, 2012). dituliskan pada tugas yang dikumpulkan dalam
bentuk hardcopy. Keterbatasan komunikasi
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
menyebabkan masing-masing kelompok di
Dari segi penggunaan media, pada kelas kontrol cenderung berfokus pada materi
kelompok eksperimen hasil produknya lebih yang dipelajarinya saja sedangkan pekerjaan
menarik dan bervariasi karena mereka tidak teman yang lain cenderung diabaikan.
hanya menggunakan animasi dalam Ms. Power Kemudian jika dilihat dari segi waktu setidaknya
Point saja tetapi juga menggunakan media dibutuhkan satu minggu bagi satu kelompok
pembelajaran berbasis web 2.0 sebagai contoh untuk menerima masukan dari dosen dan hanya
prezi, screen-o-matic, schoology, weebly, atau- beberapa teman saja yang aktif memberikan
pun animasi flash,dan sebagainya. Sedangkan feedback bagi kelompok tersebut.Selain itu,
untuk interaksi mahasiswa dengan dosen, pada kelas kontrol dalam proses revisi memerlukan
kelas eksperimen lebih intens bila dibandingkan waktu yang lama, serta tidak semua siswa
dengan kelas kontrol dimana semua siswa bisa langsung bisa melihat hasil masukan temannya
langsung memberikan input terhadap per- dikarenakan revisi dilakukan secara manual
kembangan produk yang dikerjakan oleh (print out tugas).Oleh karena itu proses ini
sebuah kelompok. Dalam hal ini peran Web dirasakan kurang efisien. Namun, walaupun
2.0 membuka peluang terjadinya kolaborasi tidak signifikan, hasil dari penerapan PBL di
antar kelompok secara real time untuk meng- kelas kontrol menunjukan adanya peningkatan
hasilkan produk yang terbaik yang diharapkan. skor dari rata-rata 48.08 menjadi 67.31 dengan
Mahasiswa cenderung lebih aktif dalam me- selisih sebesar 19.23. Hal ini menunjukan
nanggapi dan memberikan masukan bagi adanya dampak dari penerapan PBL terhadap
kelompok yang lain sehingga mahasiswa bisa peningkatan hasil belajar.
mempelajari semua materi berdasarkan Berdasarkan penjelasan di atas dapat
presentasi, revisi, dan konsultasi yang diberikan kita simpulkan bahwa pelakasanan Project
oleh dosen maupun mahasiswa. Berdasarkan Based Learning (PBL) berbantuan Web 2.0
hasil analisa data, penerapan PDSA berbantuan dan Deming Cycle pada kelompok eksperimen
Web 2.0 yang diterapkan di kelas eksperimen dapat memberikan hasil yang signifikan
dibandingkan dengan kelas kontrol memiliki terhadap peningkatan hasil belajar mahasiswa
perbedaan yang signifikan. Jika dilihat dari pada mata kuliah pemecahan masalah mate-
selisih gain maka kelompok eksperimen lebih matika. Hal ini disebabkan oleh lima faktor
tinggi hasilnya dengan perbedaannya sebesar utama. Pertama, dari segi partisipasi mahasiswa,

200 |
Efektifitas Penerapan Project Based Learning Berbantuan Web 2.0 Tools dan Deming Cycle | Nohel Yemima

mereka cenderung aktif memberikan komentar signifikan antara hasil belajar mahasiswa pada
terhadap pekerjaan teman mereka melalui mata kuliah pemecahan masalah matematika di
Schoology. Selain itu juga dosen memberikan kelompok eksperimen dengan kelompok
feedback terhadap pekerjaan mahasiswa. kontrol. Penerapan PBL berbantuan Web 2.0
Perbaikan yang dilakukan membuat produk tools dan Deming Cycle di kelompok
yang dihasilkan semakin lebih baik. Kedua, dari eksperimen dapat dinyatakan efektif terhadap
segi waktu, mahasiswa dan dosen dapat saling peningkatan hasil belajar mahasiswa. Hal ini
berkomunikasi kapan saja diluar pertemuan di disebabkan oleh lima faktor utama. Pertama,
kelas. Oleh karena tidak adanya batasan waktu mahasiswa aktif melakukan diskusi dan
dan ruang, memungkinkan mahasiswa untuk perbaikan terkait proyek yang dikerjakan.
aktif berdiskusi online diluar tatap muka. Ketiga, Kedua, akftifitas diskusi tidak dibatasi oleh
dengan terlaksananya siklus PDSA mahasiswa waktu dan ruang. Ketiga, siklus Deming Cycle
memiliki kebiasaan untuk memperbaiki menolong mahasiswa untuk dapat melakukan
produknya secara terus menerus lewat komen- perbaikan terus menerus terhadap produk yang
tar dan masukan dari dosen maupun teman dihasilkan. Keempat, mahasiswa dapat saling
mereka. Proses perencanaan, pelaksanaan, belajar dari pekerjaan teman dari kelompok
analisa, dan tindakan dapat dimonitor dan lain sehingga setiap mahasiswa dapat
didokumentasikan oleh dosen lewat LMS mempelajari seluruh materi yang diberikan
sehingga proses PDSA dapat berjalan dengan dosen melalui masing-masing kelompok.
baik. Keempat, dengan menganalisa dan Kelima, mahasiswa memiliki rasa kepemilikan
memberikan komentar terhadap pekerjaan terhadap proyek yang dikerjakan. Hal ini
kelompok lain. Dengan demikian setiap menyebabkan motivasi mereka meningkat
mahasiswa secara tidak langsung mempelajari karena mereka diberikan kebebasan untuk
dan menganalisa pekerjaan mereka sendiri dan secara kreatif membuat dan mempresentasikan
temannya. Dengan demikian setiap mahasiswa hasil karya mereka menggunakan Web 2.0
dapat memahami semua materi yang diberikan tools.
dosen kepada setiap kelompok. Kelima, Bedasarkan data statistika, ditemukan
motivasi mahasiswa meningkat karena adanya bahwa terdapat perbedaan yang cukup
rasa kepemilikan mereka akan produk yang signifikan antara rata-rata “Gain” kelompok
dikerjakan. Hal itu terlihat dari meningkatnya kontrol dengan “Gain” kelompok eksperimen
intensitas komunikasi mahasiswa terkait proyek dengan selisih sebesar 15.7692. Setelah
yang dikerjakan. Mahasiswa diberikan dilakukan uji T, nilai T hitung 3.665 memiliki
kebebasan untuk secara kreatif menyajikan signifikansi sebesar 0.001 kurang dari 0.05
produknya dengan cara yang kreatif maka dapat disimpulkan bahwa kelompok
menggunakan Web 2.0. eksperimen menunjukan perubahan yang
signifikan dibandingkan kelompok kontrol.
PENUTUP Berdasarkan temuan tersebut maka dapat
Simpulan disimpulkan bahwa H 1 diterima karena
penerapan PBL dengan Web 2.0 dan Deming
Berdasarkan hasil analisis data dan
Cycle efektif meningkatkan hasil belajar
pembahasan, dapat disimpulkan bahwa dari
mahasiswa PGSD, UKSW pada mata kuliah
segi efektifitas, terdapat perbedaan yang
Pemecahan Masalah Matematika.

| 201
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

DAFTAR PUSTAKA Ndlovu, I. Mostert. 2014. The Potential Of


Moodle In A Blended Learning
Arikunto, S., & Yuliana, L. 2012. Manajemen
Management System:ACase Study OfAn
Pendidikan. Yogyakarta: Aditya Media
In-Service Programme For Secondary
Yogyakarta.
Mathematics Teachers, EdulearN14
Barber, M., & Mourshed, M. 2007. How the Proceedings, pp. 3715-3724.
world’s best-performing school systems
Priyatno, D. 2010. Teknik Mudah dan Cepat
come out on top. London: McKinsey &
Melakukan Analisis Data Penelitian
Company.
dengan SPSS dan Tanya Jawab Ujian
Elam, J. R., & Nesbit, B.2012. The effectiveness Pendadaran. Yogyakarta: Gava Media
of project-based learning utilizing Web 2.0
Web 2.0. (n.d.). Dictionary.com Unabridged.
tools in EFL. The Jalt Call Journal 2012,
diunduh pada August 02, 2013, dari
8, 113-127.
Dictionary.com website: http://
George Veletsianos. 2014. January 23. On Noam dictionary.reference.com/browse/Web 2.0
Chomsky and technology’s neutrality.
Widoyoko, S. 2012. Evaluasi Program
Retrieved September 8, 2014, from http:/
Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka
/www.veletsianos.com/2014/01/23/on-
Pelajar.
noam-chomsky-and-technologys-
neutrality/

202 |
Evaluasi Hidden Curriculum SMP...|Neni Lestari & Bambang S. Sulasmono

Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan ISSN 2443-0544
Magister Manajemen Pendidikan
Volume: 2, No.2, Juli-Desember 2015
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana
jurnalkelola@gmail.com Halaman: 203-213

EVALUASI HIDDEN CURRICULUM


DI SMP NEGERI BOJA, KABUPATEN KENDAL

Neni Lestari
nenilestri@gmail.com
Alumni Program Pasca Sarjana Manajemen Pendidikan
FKIP - Universitas Kristen Satya Wacana

Bambang Suteng Sulasmono


sulasmonobambang@yahoo.com
Program Pasca Sarjana Manajemen Pendidikan
FKIP - Universitas Kristen Satya Wacana

ABSTRACT

This study aimed to evaluate the implementation and impact of Hidden Curriculum,
as well as the determinant factors of success and sustainability in SMPN 2 Boja
Kendal. This study was an evaluative research using qualitative approach. The data
collected by using observation, interviews, and documentation. Data analyzed by
collecting and selecting to be deduce. Validity used triangulation data that combined
the result of observation, interviews, and documentation. The results of the study
were: 1) The activities of hidden curriculum development at SMPN 2 Boja Kendal,
namely: flag ceremony, school environmental management, establishing and enforcing
discipline, special religious worship, smiles, greetings and courtesies, exemplary,
relationship among students and principal, teachers, and staff, school canteen
services. 2) The impact of the hidden curriculum development was the changing of
school community’s behavior being better, created clean and beautiful school
environment, the improvement of public trust to the school toward their kids’ education.
Development of the hidden curriculum could establish students good character and
an optimal achievement as well as a good school culture. 3) Internal supporting
factors including: qualified human resources, the availability of school facilities,
school environment was clean and beautiful. External supporting factors occur in
the form of endorsement of the parents, school committees and communities in
establishing good and virtuous character for the students.
Keywords: Program Evaluation, Goal Free Model, Hidden Curriculum

| 203
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

PENDAHULUAN Termasuk di dalam kurikulum ini adalah hidden


Ketika seorang guru memberikan curriculum, karena hidden curriculum
pelajaran fisika, maka seharusnya guru berpikir disajikan dan dialami oleh peserta didik di
bagaimana mata pelajaran fisika dapat sekolah baik di kelas ataupun di luar kelas.
membentuk anak yang memiliki sikap, Istilah hidden curriculum terdiri dari
kecerdasan, dan keterampilan sesuai dengan dua kata, yaitu hidden dan curriculum. Secara
tujuan pendidikan, demikian juga guru mata etimologi, kata “hidden” berasal dari Bahasa
pelajaran lainnya. Sehingga ketika hal itu sudah Inggris, yaitu hide yang berarti tersembunyi
dapat dilaksanakan oleh semua guru, mata (terselubung). Sedangkan istilah kurikulum
pelajaran apapun yang diberikan akan me- sendiri berarti sejumlah mata pelajaran dan
ngarah pada tujuan yang sama, yaitu pem- pengalaman belajar yang harus dilalui peserta
bentukan sikap, kecerdasan, dan keterampilan didik demi menyelesaikan tugas pendidikannya.
bagi setiap peserta didik. Tampaknya, Dengan demikian, hidden curriculum adalah
pelaksanaan pendidikan kita di sekolah belum kurikulum tersembunyi atau kurikulum ter-
sesuai dengan harapan di atas. Para guru masih [selubung dimana kurikulum ini tidak tercantum
bekerja sendiri-sendiri sesuai dengan mata dalam kurikulum ideal tetapi memiliki andil
pelajaran yang diberikan, seakan-akan mata dalam pencapaian tujuan pendidikan. Beragam
pelajaran yang satu terlepas dari mata pelajaran definisi tentang hidden curriculum atau kuri-
yang lain. Dengan perkataan lain terdapat kulum tersembunyi yang dikemukakan oleh
keragaman dalam immplementasi kurikulum di para ahli (dalam Rohinah, 2012: 27), sebagai
sekolah-sekolah negeri ini. berikut: Jhon D. MC. Neil, menyatakan bahwa
Terdapat dua hal yang dapat dipahami hidden curriculum adalah pengaruh pem-
dalam pengertian kurikulum, yaitu kurikulum belajaran yang tidak resmi (tidak direncana) hal
pada aspek program atau rencana, yang pada mana bisa melemahkan atau menguatkan dalam
hakikatnya adalah kurikulum ideal (ideal mereliasasikan tujuan. SedangAllan A. Glattron,
curriculum) dan kurikulum pada aspek menyatakan bahwa hidden curriculum adalah
pengalaman belajar siswa, yang pada hakikat- kurikulum yang tidak menjadi bagian untuk
nya adalah kurikulum faktual (actual dipelajari, yang secara definitif digambarkan
curriculum) (Wina Sanjaya, 2008: 22). sebagai berbagai aspek dari sekolah di luar
Kurikulum ideal merupakan kurikulum yang kurikulum yang dipelajari, namun mampu
menggambarkan suatu cita-cita dalam bidang memberikan pengaruh dalam perubahan nilai,
pendidikan yang diharapkan dapat dilaksanakan persepsi dan perilaku siswa. Di lain pihak, Dede
dan berfungsi sebagai acuan atau pedoman guru Rosyada dikutip sebagai menyatakan hidden
dalam proses pembelajaran. Sedangkan kuri- curriculum secara teoritik sangat rasional
kulum faktual merupakan kurikulum yang disaji- mempengaruhi siswa, baik menyangkut
kan di hadapan kelas atau yang dilaksanakan lingkungan sekolah, suasana kelas, pola inter-
oleh guru di sekolah, dan merupakan pen- aksi guru dengan siswa dalam kelas, bahkan
jabaran dari kurikulum resmi ke dalam pe- pada kebijakan serta manajemen pengelolaan
ngembangan program mengajar, dimana sekolah secara lebih luas dan perilaku dari
kurikulum faktual secara riil dapat dilaksanakan semua komponen sekolah dalam hubungan
oleh guru sesuai dengan kondisi yang ada. interaksi vertikal dan horisontal mereka. Oemar
Hamalik, menyatakan hidden curriculum

204 |
Evaluasi Hidden Curriculum SMP...|Neni Lestari & Bambang S. Sulasmono

adalah hasil dari desakan sekolah, tugas baca Mengingat pentingnya manfaat hidden
buku yang memberikan efek yang tak diinginkan curriculum bagi perkembangan karakter
begitu pula kebutuhan untuk mempengaruhi peserta didik dalam proses maupun pasca
orang lain agar menyetujui sesuatu yang pembelajaran, maka hidden curriculum perlu
diharapkan. Melalui interaksi kelas dan testing memperoleh pengelolaan yang positif dari pihak
guru-guru secara sadar dapat mengubah cita- sekolah. Dalam hal ini, tentunya mencakup
cita pendidikan yang dimintakan. Sedangkan bagaimana hidden curriculum di sekolah
H. Dakir, dikutip sebagai menyatakan bahwa maupun pengendalian dan pengevaluasinya
hidden curriculum adalah kurikulum yang untuk menghasilkan tindak lanjut yang lebih
tidak direncanakan, tidak diprogram dan tidak baik.
dirancang tetapi mempunyai pengaruh, baik Dalam rangka mewujudkan tujuan
secara langsung maupun tidak langsung pendidikan nasional yang erat kaitannya dengan
terhadap output dari proses belajar mengajar. pembentukan karakter peserta didik di SMP
Dari berbagai definisi diatas dapat disimpulkan Negeri 2 Boja mempunyai visi “Luhur Budi
bahwa hidden curriculum adalah segala Pekerti Unggul dalam Prestasi”. Tujuan yang
pengalaman belajar yang di alami para siswa di akan dicapai dalam kurun waktu 5 tahun
luar pengalaman belajar yang bersumber dari kedepan antara lain: mengembangkan ling-
kurikulum formal. kungan pendidikan yang kondusif, bersih,
Menurut Rohinah (2012: 3) kurikulum indah, nyaman, rindang dan asri dengan
sebagai dokumen dan sebagai konsep yang ditunjang pembentukan pendidikan nilai-nilai
disebut kurikulum ideal tidak mempunyai luhur dengan berlandaskan bertaqwa dan
makna apa-apa jika tidak dilaksanakan oleh akhlak mulia, dan menumbuhkan semangat
pendidik dalam proses pengajaran dan Nasionalisme peserta didik melalui Pembinaan
pembelajaran di dalam atau di luar kelas. Proses Nasionalisme yang terintegrasi dengan mata
pelaksanaan dan penerapan kurikulum menjadi pelajaran.
salah satu materi tersendiri disebut sebagai Dari pengamatan awal nampak bebe-
kurikulum tersembunyi. Apa yang dilakukan rapa hidden curriculum di SMP Negeri 2 Boja
oleh guru di dalam dan di luar sekolah akan antara lain kegiatan bersalaman di pagi hari, guru
menjadi pengalaman belajar yang sangat mem- menyambut peserta didik dengan senyum, sapa,
pengaruhi peserta didik. Pengalaman belajar salam sekaligus mengecek ketertiban dalam
peserta didik di sekolah dalam pelaksanaan berseragam, kebersihan kuku, tagihan kosa
kurikulum ideal disebut sebagai kurikulum yang kata Bahasa Inggris dipandu peserta didik
sebenarnya (real curriculum) atau kurikulum pilihan, kegiatan sholat dhuhur berjamaah,
faktual (factual curriculum). Dengan demikian upacara bendera dan perwalian, senam dan
kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) kebersihan, pengelolaan kelas, pemasangan
adalah segala sesuatu yang terjadi pada saat tulisan dan gambar-gambar yang memotivasi
pelaksanaan kurikulum ideal menjadi kurikulum di kelas dan lokasi-lokasi yang strategis.
faktual. Sebagai contoh segala sesuatu yang Namun demikian, belum semua warga sekolah
terjadi dalam kelas, seperti kebiasaan guru, memiliki komitmen yang sama dalam kegiatan-
kepala sekolah, tenaga kependidikan atau kegiatan tersebut. Berangkat dari permasalahan
bahkan peserta didik itu sendiri. tersebut peneliti mengadakan penelitian dengan

| 205
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

judul “Evaluasi Hidden Curriculum di SMP terprogram yang diwujudkan melalui keteladanan
Negeri 2 Boja Kabupaten Kendal”. guru dan pembiasaan budaya sekolah. (2)
Beberapa kajian terdahulu tentang Strategi pengembangan hidden curriculum
hidden curriculum yang relevan dengan dilakukan melalui: (a) pembiasaan peserta didik
penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, untuk menerapkan budaya 7S (salam, salim,
penelitian Khairun Nisa’ (2009) yang berjudul senyum, sapa, santun, sehat dan sabar), (b)
Hidden Curriculum: Upaya Peningkatan pelatihan kepemimpinan peserta didik, (c)
Kecerdasan Spiritual Peserta didik. Hasil penerapan jam motivasi untuk guru, (d)
kajiannya menunjukkan bahwa penerapan penciptaan lingkungan sekolah yang kondusif.
hidden curriculum dapat membantu pencapaian (3) karakteristik kepala sekolah perempuan
tujuan pendidikan nasional yang diinginkan, dalam mengembangkan hidden curriculum
peserta didik tidak hanya cerdas secara intelek- mengacu pada dua aspek yaitu: (a) berkaitan
tual, tetapi juga cerdas secara spiritual. Oleh dengan karakter kepala sekolah yang feminis
karena itu, hidden curriculum harus menjadi sebagai seorang perempuan yang dapat dilihat
kajian evaluatif dalam proses perbaikan dan pada integritas kepala sekolah, gaya kepemim-
pengembangan sekolah. Kedua, penelitian Sigit pinan kepala sekolah, kemampuan manajerial
Wahyono (2010) yang berjudul Inovasi kepala sekolah serta kompetensi kepala
Hidden Curriculum pada Pesantren Berbasis sekolah, (b) berkaitan dengan faktor penentu
Entrepreneurship (Studi Kasus di Pondok keberhasilan hidden curriculum yang meliputi
Pesantren Al Isti’anah Plangitan Pati). Hasil kewenangan kepala sekolah, peran guru dalam
dari penelitian ini adalah inovasi pendidikan mengawal pelaksanaan hidden curriculum,
entrepreneurship yang diaplikasikan dalam dukungan orang tua, serta otonomi sekolah. (4)
bidang- antara lain: 1) visi seorang kyai atau dukungan komponen sekolah dalam pelaksanaan
bahasa sederhananya, impian dan keinginan hidden curriculum menjadi langkah strategis
seorang kyai dalam membentuk tradisi dan bagi pengembangan karakter positif peserta
aktifitas keseharian dalam pondok pesantren, didik. (5) kendala pelaksanaan hidden
2) pola hubungan yang dibangun antara sesama curriculum bersumber dari dua hal yaitu (a)
santri, antara santri dengan ustadz dan santri internal sekolah berupa minimnya kesadaran
dengan pengasuh/kyai, 3) peraturan, rutinitas guru dalam menjalankan program yang telah
sehari-hari dan kebijakan yang ada dan ditetapkan yang berdampak pada pelanggaran
diterapkan dalam aktivitas keseharian pada terhadap komitmen yang telah disepakati.
Pondok Pesantren Al-Isti’anah. Ketiga, Solusinya dilakukan melalui upaya-upaya
penelitian Wijayanto (2014) dengan judul sistematis dengan mencatat setiap pelanggaran
Kepemimpinan kepala sekolah perempuan yang dilakukan oleh guru kedalam buku kasus,
dalam mengembangkan hidden curriculum mengingatkan kembali akan tanggung jawab
(studi kasus di SD Plus Al-Kautsar Malang). dan peran sebagai pendidik, pemberian teguran
Hasil penelitian sebagai berikut: (1) Hidden prosedur yang berlaku hingga pengurangan jam
curriculum yang dikembangkan difokuskan mengajar bagi guru. (b) eksternal sekolah berupa
pada dua aspek yaitu: (a) kegiatan terprogram minimnya kesadaran orang tua dalam pendidikan
yang diwujudkan melalui misi sekolah serta anaknya yang berdampak pada kepedulian
kegiatan ekstrakurikuler dan (b) kegiatan tidak orang tua untuk mendukung setiap aktifitas

206 |
Evaluasi Hidden Curriculum SMP...|Neni Lestari & Bambang S. Sulasmono

positif peserta didik. Solusinya dilakukan melalui maka rumusan permasalahan dalam penelitian
pembentukan Forum Komunikasi Kelas, ini adalah: a) bagaimana pelaksanaan Hidden
membentuk SMS Centre, dan optimalisasi Curriculum di SMP Negeri 2 Boja Kabupaten
website sekolah. (6) dampak karakter yang Kendal?, b) apa dampak dari Hidden
dibangun dari hidden curriculum yaitu: (a) Curriculum di SMP Negeri 2 Boja Kabupaten
perubahan perilaku warga sekolah ke arah yang Kendal?, dan c) apa faktor-faktor penentu
lebih baik, (b) terwujudnya suasana sekolah keberhasilan dan keberlanjutan Hidden
yang nyaman dan menyenangkan, (c) ter- Curriculum di SMP Negeri 2 Boja Kabupaten
bangunnya kesadaran peserta didik akan Kendal?. Oleh karena itu tujuan dari penelitian
batasan-batasan perilaku yang harus dijalankan, ini adalah untuk mengevaluasi pelaksanaan
dan (d) tumbuhnya kepercayaan masyarakat Hidden Curriculum, dampak dari pengelolaan
pada sekolah untuk pendidikan putra-putrinya Hidden Curriculum, dan faktor-faktor penentu
Keempat, penelitian “Hidden Curri- keberhasilan dan keberlanjutan Hidden
culum Contributing to Social Production- Curriculum di SMP Negeri 2 Boja, berdasarkan
Reproduction in a Math Classroom” oleh Acar atas jawaban ketiga masalah penelitian di atas
Esin (2012), membuktikan bahwa kegiatan akan dirumuskan beberapa masukan bagi
kurikuler dan ekstrakurikuler seringkali perbaikan pengelolaan hidden curriculum di
dilingkari oleh pengaruh keputusan budaya/ SMP N 2 Boja, Kendal.
kebiasaan. Di samping itu, sebuah kelas mate- Jadi penelitian ini diharapkan bisa
matika dasar menunjukkan bahwa murid-murid memberikan manfaat baik secara teoritis dan
dibentuk dari budaya dan pola sosial yang praktis bagi para pemerhati pendidikan. Secara
memudar lebih dari yang diharapkan. Kelima, teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat
penelitian oleh Zuhal Cubukcu (2012) berjudul memberi pengetahuan kepada peneliti dan
“The Effect of Hidden Curriculum on pembaca mengenai hidden curriculum
Character Education Process of Primary terhadap terbentuknya karakter peserta didik
School Students” adalah penelitian yang meng- dan memberi sumbangan bagi pengembangan
gunakan model studi kasus dengan tujuan untuk teori tentang kurikulum khususnya kurikulum
mengetahui kegiatan yang mendukung dan tersembunyi. Secara praktis, bagi kepala sekolah
pandangan siswa yang berpartisipasi dalam dan guru hasil penelitian ini diharapkan dapat
kegiatan ini tentang pentingnya kurikulum memberikan kontribusi dalam perkembangan
tersembunyi dalam mendapatkan nilai dalam pendidikan yang berkaitan dengan pembentukan
pendidikan karakter di sekolah dasar. Hasilnya karakter peserta didik sehingga pada akhirnya
kegiatan yang mendukung kurikulum tersembunyi dapat memberikan kepuasan (satisfaction),
antara lain seperti kegiatan sosial dan budaya, kepercayaan (trust), dan pelayanan (service)
kegiatan waktu luang dan kegiatan sportif, kepada masyarakat luas dan pemakai jasa
perayaan hari-hari khusus dan minggu, karya pendidikan (stakeholders) terhadap lembaga
klub sosial. Semua kegiatan itu dianggap sebagai pendidikan khususnya di SMP Negeri 2 Boja.
sarana yang bagi siswa sekolah dasar dalam METODE PENELITIAN
memahami, menginternalisasi dan mewujud-
nyatakan nilai-nilai. Jenis penelitian ini adalah penelitian
Sejalan dengan latar belakang evaluatif dengan pendekatan kualitatif.
masalah dan kajian beberapa penelitian di atas Penelitian evaluatif dalam hal ini adalah

| 207
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

penelitian yang berupaya mengevaluasi sesuatu hidden curriculum di sekolah yang bernuansa
untuk memperoleh hasil secara maksimal. positif dan memberikan manfaat bagi sekolah.
Dalam penelitian ini jenis evaluasi yang Sebaliknya, pihak sekolah menghentikan
digunakan peneliti adalah model Goal Free berbagai program kegiatan di sekolah jika
Evaluation (Arikunto & Jabar, 2014). Subyek kegiatan tersebut bernuansa negatif. Hal ini
utama dalam penelitian ini adalah Kepala sebagai bentuk tanggungjawab pihak sekolah
Sekolah, guru dan peserta didik di SMP Negeri pada hidden curriculum sekolah.
2 Boja baik yang aktif maupun pasif dalam Hidden Curriculum di SMP Negeri 2
mengikuti proses pembelajaran. Pengumpulan Boja berlangsung dengan baik karena memiliki
data dalam penelitian ini, peneliti berfungsi tujuan yang mengarah pada tercapainya peserta
sebagai pelaku dan instrumen. Adapun untuk didik yang memiliki pengetahuan, berakhlak
mengumpulkan data digunakan beberapa mulia dan berkarakter. Pada akhirnya nanti
teknik yaitu observasi, wawancara, dan hidden curriculum di SMP Negeri 2 Boja
dokumentasi. Peneliti dalam mengambil data dapat membentuk budaya sekolah yang baik,
menggunakan beragam sumber data yang sehingga mampu menumbuhkan kepercayaan
berbeda-beda. Artinya data yang sama atau masyarakat pada sekolah untuk pendidikan
sejenis akan lebih valid kebenarannya apabila putra putrinya.
digali dari beberapa sumber data yang berbeda, Kepala sekolah sebagai manajer di
yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi sekolah memberikan dukungan dalam bentuk
untuk sebagai sumber triangulasi data yang riil dan berperan pada setiap kegiatan di sekolah
sama secara serempak. dalam bentuk keteladanan guna menumbuhkan
program hidden curriculum di SMP Negeri 2
HASIL PENELITIAN DAN
Boja.
PEMBAHASAN
Keberadaan guru sebagai tenaga
Hasil Penelitian pendidik memiliki posisi strategis dalam
Bentuk kegiatan pengembangan hidden mendampingi peserta didik. Peran guru dalam
curriculum di SMP Negeri 2 Boja antara lain: pelaksanaan hidden curriculum di SMP
budaya 3S (senyum, salam, dan sapa), Negeri 2 Boja tidak terbatas, baik pada saat
keteladanan seluruh warga sekolah, membina pembelajaran di kelas maupun di luar kelas.
hubungan baik antar warga sekolah, upacara Aktivitas peserta didik dalam pelak-
bendera, pengelolaan kelas dan lingkungan sanaan hidden curriculum di SMP Negeri 2
sekolah seperti kebersihan dan kesehatan kelas Boja berlangsung secara alamiah dengan latar
dan lingkungan sekolah, mengintegrasikan nilai- belakang yang berbeda dan pengalaman hidup
nilai dalam proses pembelajaran, ibadah khusus masing-masing. Peserta didik menjadi lebih aktif
keagamaan, dan layanan kantin sekolah dan karena adanya dukungan kepala sekolah dan
kantin kejujuran. guru sehingga terbina potensi karakter peserta
Pelaksanaan hidden curriculum di didik yang positif.
SMP Negeri 2 Boja merupakan integrasi Pelaksanaan hidden curriculum di
kerjasama antar pihak sekolah. Kepala sekolah SMP Negeri 2 Boja Kendal memunculkan
didukung oleh para guru dan peserta didik banyak manfaat sebagai dampak positif yang
berkomitmen melestarikan keberlangsungan bermuara pada terbentuknya peserta didik
berkarakter bangsa dengan prestasi yang

208 |
Evaluasi Hidden Curriculum SMP...|Neni Lestari & Bambang S. Sulasmono

optimal dan terbentuknya budaya sekolah yang


berkarakter. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
dalam Tabel 1.

Tabel 1 Gambaran umum dampak kegiatan pengembangan hidden curriculum di SMP Negeri 2 Boja

Kegiatan Hidden
Pihak yang terlibat Dampak
Curriculum
Budaya 3S (senyum, salam, Peserta didik, guru, - Peserta didik secara spontan memberi salam,
dan sapa) kepala sekolah, dan bersalaman, dan mencium tangan ketika
tenaga kependidikan dimanapun berjumpa dengan guru, KS,
maupun tenaga kependidikan
Upacara Bendera Peserta didik, guru, - Kedisiplinan peserta didik terbentuk
kepala sekolah, dan
tenaga kependidikan
Membangun kedisiplinan Peserta didik, guru, - Peserta didik menjadi lebih tertib dan santun
kepala sekolah, dan dalam berpakaian, lebih sopan dalam bersikap
tenaga kependidikan, dan berperilaku
orang tua - Orang tua mengapresiasi adanya komunikasi
yang dilakukan terkait dengan pelanggaran
peserta didik
Pengelolaan kelas dan Peserta didik, guru, - Peserta didik menjadi lebih peduli terhadap
lingkungan sekolah kepala sekolah, kebersihan dan kesehatan
(kebersihan, kesehatan, dan koordinator 7K, tenaga Lingkungan yang bersih, indah dan asri.
mengelola kelas) kependidikan dan wali Suasana ruang dan kelas yang nyaman
kelas untuk belajar
Ibadah khusus keagamaan Peserta didik, guru - Peserta didik dapat beribadah sholat duhur
agama, wali kelas, lebih tepat waktu
kepala sekolah dan
pembantu kepala sekolah
Pengintegrasian nilai-nilai Peserta didik, guru, - Pembelajaran di kelas berlangsung lebih
dalam proses pembelajaran kepala sekolah, tenaga kondusif
kependidikan - Peserta didik lebih memahami bahwa
nilai/norma tidak hanya dipelajari pada mapel
Agama dan PKn saja.
Keteladanan Warga Sekolah Semua warga sekolah - Peserta didik lebih menata perilaku, tutur kata
yang santun di sekolah.
- Kebiasaan guru datang tepat waktu ketika
mengajar di kelas berpengaruh kepada
pembentukan kepribadian peserta didik.
- Perubahan perilaku warga sekolah menjadi
lebih baik
Hubungan antar warga Peserta didik, guru, - Terbina kedekatan peserta didik dengan kepala
sekolah kepala sekolah, tenaga sekolah, guru, tenaga kependidikan sehingga
kependidikan tercipta suasana kekeluargaan yang lebih
kental.
- Tercipta hubungan yang harmonis antar warga
sekolah sehingga jarang terjadi konflik
Layanan kantin sekolah dan Peserta didik, guru, - Kondisi kantin sekolah yang kurang
kantin kejujuran kepala sekolah, tenaga representatif menimbulkan peserta didik
kependidikan pengurus kurang dalam memperhatikan kesehatan,
OSIS, pengelola kantin kebersihan, saling menghargai, dan disiplin
waktu
- Layanan kantin kejujuran belum mampu
mendidik pemahaman dan perilaku jujur
dalam lingkungan skala kecil yaitu disekolah
Sumber: Data penelitian, diolah

| 209
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

Pelaksanaan hidden curriculum di kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk dalam


SMP Negeri 2 Boja didukung oleh semua pihak, perjalanan panjang sekolah, dikembangkan
baik oleh kepala sekolah, guru, komite, orang sekolah dalam jangka waktu yang lama dan
tua peserta didik dan peserta didik. Peserta didik menjadi pegangan serta diyakini oleh seluruh
melaksanakan hidden curriculum dengan warga sekolah sehingga mendorong munculnya
semangat dan kesediaannya dalam mengikuti sikap dan perilaku warga sekolah.
arahan guru dalam berbagai kegiatan ber- Strategi pengembangan hidden
dasarkan atas kondisi lingkungan sekolah yang curriculum SMP Negeri 2 Boja Kendal antara
mendukung. lain meliputi 1) upacara bendera, 2) Pengelolaan
Dukungan dari kelengkapan sarana lingkungan sekolah (kebersihan, kesehatan), 3)
prasarana yang tersedia, berupa tersedianya Membangun dan menegakkan kedisiplinan, 4)
lapangan sepak bola, halaman sekolah yang luas Ibadah khusus keagamaan, 5) Senyum, salam,
dan bisa untuk pelaksanaan upacara, musholla dan sapa, 6) Keteladanan (Kepala sekolah,
untuk kegiatan keagamaan, dan lingkungan guru, dan tenaga kependidikan), 7) Hubungan
sekolah yang asri dan mendukung, dan ruang peserta didik dengan Kepala sekolah, guru, dan
kelas yang memadai. tenaga kependidikan, 8) Layanan kantin sekolah.
Persamaan dengan penelitian Wijayanto (2014)
Pembahasan
adalah strategi pengembanganhidden curriculum
Program utama SMP Negeri 2 Boja melalui budaya senyum, salam, sapa, penciptaan
tertuang dalam visi, misi dan tujuan sekolah. lingkungan sekolah yang kondusif. Sejalan juga
Adanya visi, misi dan tujuan sekolah berorientasi dengan apa yang dikemukakan oleh Dede
pada keberhasilan yang berupa tercapainya mutu Rosyada (2004), hidden curriculum di SMP
pendidikan baik berupa prestasi akademik Negeri 2 Boja mempengaruhi siswa, baik
maupun non akademik. Selain kurikulum menyangkut lingkungan sekolah, suasana kelas,
normatif, keberhasilan mutu akademik didukung pola interaksi guru dengan siswa dalam kelas,
oleh kegiatan harian yang berupa hidden bahkan pada kebijakan serta manajemen
curriculum. Hidden Curriculum di sekolah pengelolaan sekolah secara lebih luas dan
sebagai kurikulum yang tidak terencana, sehingga perilaku dari semua komponen sekolah dalam
bisa dikatakan sebagai kurikulum yang hubungan interaksi vertikal dan horisontal
tersembunyi, hal ini berupa aturan-aturan tak mereka.
tertulis namun sudah menjadi aktivitas yang rutin. Salah satu tujuan hidden curriculum di
Hidden Curriculum di SMP Negeri 2 Boja SMP Negeri 2 Boja adalah mengarah pada
merupakan sejumlah pengalaman peserta didik tercapainya peserta didik berprestasi dan
dalam mengembangkan nilai-nilai di sekolah berkarakter secara komprehensif yang pada
yang prosesnya berbeda-beda sesuai tingkat akhirnya dapat membentuk budaya sekolah yang
semangat kepala sekolah, guru, tenaga positif. Sesuai dengan apa yang telah diamanatkan
kependidikan, dan kondisi fisik serta keadaan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional
sosial dari sekolah, bertujuan untuk membentuk bertujuan membentuk insan Indonesia yang
peserta didik berkarakter. Hal tersebut sesuai cerdas dan berkepribadian atau berkarakter
dengan apa yang dinyatakan oleh Zamroni sehingga melahirkan generasi bangsa yang
(2011:111) tentang budaya sekolah adalah pola tumbuh dan berkembang dengan karakter yang
nilai-nilai, prinsi-prinsip, tradisi-tradisi dan

210 |
Evaluasi Hidden Curriculum SMP...|Neni Lestari & Bambang S. Sulasmono

bernapaskan nilai-nilai luhur bangsa dan agama pada mata pelajaran Agama dan PKn saja tetapi
(Anas Salahudin, 2013: 42) . pada semua mata pelajaran.
Selaras dengan penelitian Khairun Nisa’ Selain mata pelajaran Agama dan PKn,
(2009) bahwa penerapan hidden curriculum nilai-nilai juga dipelajari pada mata pelajaran
bertujuan agar peserta didik tidak hanya cerdas lainnya seperti penelitian Esin Acar (2012) bahwa
secara intelektual, tetapi juga cerdas secara dalam kelas matematika dasar peserta didik
spiritual, sehingga hidden curriculum menjadi dapat dibentuk dari budaya dan pola sosial yang
kajian evaluatif dalam proses perbaikan dan telah memudar.
pengembangan sekolah. Kegiatan ibadah khusus keagamaan
sangat didukung oleh kondisi masyarakat Kendal
Dampak Hidden Curriculum di SMP
yang agamis sehingga seharusnya tidak sulit untuk
Negeri 2 Boja Kabupaten Kendal
membentuk generasi yang berakhlak mulia.
Pengembangan hidden curriculum di Berdasarkan uraian tersebut bisa
SMP Negeri 2 Boja memberikan dampak positif dikatakan bahwa pelaksanaanhidden curriculum
antara lain: 1) peningkatan kedisiplinan dan di SMP Negeri 2 Boja Kendal berdampak pada
nasionalisme pada kegiatan upacara bendera; 2) perubahan perilaku warga sekolah kearah yang
terwujudnya lingkungan sekolah menjadi bersih lebih baik, terwujudnya suasana sekolah yang
dan asri, dan peserta didik terbiasa membuang bersih dan asri, aman dan nyaman, tumbuhnya
sampah di tempatnya pada kegiatan pengelolaan kepercayaan masyarakat pada sekolah akan
lingkungan sekolah, 3) kegiatan membangun dan pendidikan putra putrinya. Disamping itu
menegakkan kedisiplinan, berdampak pada pengembangan hidden curriculum dapat
ketertiban dan kedisiplinan peserta didik di membentuk peserta didik berkarakter dengan
sekolah meningkat, 2) kegiatan ibadah khusus prestasi yang optimal dan terbentuknya kultur
keagamaan, meningkatnya peserta didik dalam sekolah yang baik sehingga terwujud pendidikan
kesadaran untuk beribadah tepat waktu, 3) yang baik.
kegiatan Senyum, Salam, dan Sapa, memberikan
dampak pada spontanitas peserta didik Faktor-faktor penentu keberhasilan dan
bersalaman, menyapa dengan sopan ketika keberlanjutan Hidden Curriculum di SMP
bertemu dengan Kepala Sekolah, guru, dan Negeri 2 Boja Kabupaten Kendal
tenaga kependidikan, 4) keteladanan dari Kepala
Pelaksanaan hidden curriculum di
Sekolah, guru, dan tenaga kependidikan berupa
SMP Negeri 2 Boja Kabupaten Kendal
tutur kata yang sopan dan sikap yang santun
berlangsung karena berbagai faktor pendukung
mampu membentuk pola yang baik dalam
baik internal maupun eksternal. Faktor pendukung
perilaku yang santun, tutur kata yang sopan dalam
internal dapat terlihat berupa: 1) adanya SDM
kehidupan di masyarakat. 5) kebiasaan guru
yang berkualitas (meliputi: kepala sekolah, guru,
datang tepat waktu ketika mengajar di kelas akan
peserta didik), 2) tersedianya sarpras sekolah,
berpengaruh positif pada pembentukan
3) lingkungan sekolah. Dimana ketiga faktor di
kepribadian peserta didik. 6) Pengintegrasian
atas tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
nilai-nilai dalam proses pembelajaran telah
Faktor pendukung eksternal pelaksanaan
mampu menjadikan pembelajaran di kelas
hidden curriculum di SMP Negeri 2 Boja
berjalan kondusif, dan peserta didik menjadi
muncul dari orang tua peserta didik, komite
paham bahwa nilai-nilai tidak hanya dipelajari

| 211
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

sekolah serta masyarakat mengenai pembentuk- kedisiplinan peserta didik di sekolah, 2)


an karakter peserta didik dan berbudi luhur. kegiatan Ibadah khusus keagamaan,
Hal ini selaras dengan penelitian “Inovasi memberikan manfaat berupa meningkatnya
Hidden Curriculum pada Pesantren Berbasis peserta didik dalam kesadaran untuk
Entrepreneurship” oleh Sigit Wahyono (2010) beribadah setiap waktu, 3) kegiatan Senyum,
dan penelitian “Kepemimpinan Kepala Sekolah Salam, dan Sapa, berdampak positif pada
Perempuan dalam Mengembangkan Hidden kebiasaan peserta didik senyum dan
Curriculum” oleh Wijayanto (2014) menunjuk- bersalaman, menyapa dengan sopan ketika
kan bahwa keteladanan guru dan kepala sekolah bertemu, 4) keteladanan dari Kepala Sekolah
dan pembiasaan budaya sekolah merupakan dan guru berdampak positif bagi peserta didik
faktor penentu keberhasilan hidden curriculum dalam bertutur kata santun dan bersikap. 5)
sebagai langkah strategis bagi pengembangan kebiasaan guru datang tepat waktu
karakter peserta didik. berdampak positif pada kepribadian peserta
didik yang disiplin. 6) pembinaan hubungan
SIMPULAN DAN SARAN
yang baik antara peserta didik dengan guru
Simpulan berdampak positif pada terciptanya suasana
1. Pelaksanaan Hidden Curriculum di SMP kekeluargaan. Hasil dari pengembangan
Negeri 2 Boja Kabupaten Kendal dalam hidden curriculum adalah terbentuknya
bentuk kegiatan-kegiatan yang berorientasi peserta didik berkarakter bangsa dengan
pada terbentuknya peserta didik berkarakter prestasi yang optimal dan kultur sekolah
dan pencapaian prestasi serta mutu pendi- kondusif berbasis karakter.
dikan, meliputi: 1) upacara bendera, 2) c. Faktor-faktor penentu keberhasilan dan
pengelolaan lingkungan sekolah, 3) keberlanjutan Hidden Curriculum di SMP
membangun dan menegakkan kedisiplinan, Negeri 2 Boja Kabupaten Kendal, terdiri atas
4) ibadah khusus keagamaan, 5) senyum, faktor pendukung internal meliputi: SDM yang
salam, dan sapa, 6) keteladanan, 7) hubungan berkualitas, tersedianya sarpras sekolah,
peserta didik dengan kepala sekolah, guru, lingkungan sekolah yang asri. Faktor
dan tenaga kependidikan, 8) layanan kantin pendukung eksternal berupa dukungan orang
sekolah. tua peserta didik, komite sekolah dan masya-
2. Dampak Hidden Curriculum di SMP Negeri 2 rakat mengenai pembentukan peserta didik
Boja Kabupaten Kendal meliputi: 1) kegiatan berkarakter dan berbudi luhur.
upacara bendera, memberikan dampak Saran
positif pada peningkatan kedisiplinan dan
1. Kepala Sekolah hendaknya: a) menghentikan
tepat waktu; 2) kegiatan pengelolaan
kebiasaan-kebiasaan yang berkonotasi
lingkungan sekolah (kebersihan, kesehatan)
negatif yang berakibat pada rendahnya
berdampak positif pada terwujudnya
karakter dan mutu pendidikan, b) mensupervisi
lingkungan sekolah menjadi bersih, peserta
tidak hanya berkaitan dengan kurikulum
didik terbiasa membuang sampah di
normatif saja, melainkan juga pada hidden
tempatnya, 3) kegiatan membangun dan
curriculum, c) sebagai agen perubahan
menegakkan kedisiplinan, memberikan
diharapkan mampu mewujudkan layanan
dampak positif pada ketertiban dan
kantin yang sehat dan representatif, misalnya

212 |
Evaluasi Hidden Curriculum SMP...|Neni Lestari & Bambang S. Sulasmono

dengan upaya menjalin kerjasama dengan Khairun Nisa. 2009. Hidden Curriculum: Upaya
Dinas Kesehatan setempat untuk menserti- Peningkatan Kecerdasan Spiritual
fikasi kantin sehat yang menjual makanan Peserta didik. Lentera Pendidikan, Vol
sehat, bebas MSG dan pengawet, d) 12 No. 1. Juni. 72-86.
berupaya menjembatani antara pihak sekolah Rohinah M.Noor. 2012. The Hidden
dengan komite untuk duduk bersama dalam Curriculum: Membangun Karakter
pengembangan karakter peserta didik. melalui Kegiatan Kurikuler. Yogyakarta.
Sehingga tidak selalu pihak sekolah mengun- Insan Madani
dang orang tua ketika berurusan dengan Sigit Waluyo.2010. Inovasi Hidden Curriculum
finansial saja. pada Pesantren Berbasis Enterpreneur-
ship (Studi Kasus di Pondok Pesantren
2. Guru hendaknya: (1) menghentikan kebia- Al-Isti’anah Plangitan Pati). Semarang
saan-kebiasaan yang berkonotasi negatif IAIN Walisongo.
yang berakibat pada rendahnya karakter dan
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kombinasi
mutu pendidikan, (2) lebih meningkatkan (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta.
pengetahuannya dengan banyak membaca
Undang-Undang No. 20. Tahun 2003 tentang
buku khususnya berkaitan dengan perkem-
Sistem Pendidikan Nasional.
bangan peserta didik.
Wijayanto & Nurul Ulfatin. 2014. Kepemimpinan
DAFTAR PUSTAKA Kepala Sekolah Perempuan dalam
Mengembangkan Hidden Curriculum.
Acar, Esin. 2012. Hidden Curriculum Manajemen Pendidikan: Volume 24
Contributing to Social Production- Nomor 3, Maret jal 242-250.
Reproduction in a math Classroom.
International Online Journal of Edu- Wina Sanjaya. 2008. Kurikulum dan
cational Sciences 4 (1):19-30. Pembelajaran: Teori dan Praktik
Pengembangan Kurikulum Tingkat
Anas Salahudin. 2013. Pendidikan Karakter: Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta:
Pendidikan Berbasis Agama dan Kencana
Budaya Bangsa. Bandung: CV. Pustaka
Sedia. Zamroni. 2011. Manajemen Berbasis Sekolah:
Piranti Reformasi Sistem Pendidikan.
Arikunto, Suharsimi & Abdul Jabar. 2014.
Evaluasi Program Pendidikan: Pedoman Zuhal Cubukcu. 2012. The Effect of Hidden
Teoretis Praktis bagi Mahapeserta didik Curriculum on Character Education
dan Praktisi Pendidikan. Edisi Kedua. Process of Primary School Student.
Jakarta: PT. Bumi Aksara. Education, Vol. 133 (1): 49-66.

Dede Rosyada. 2004. Paradigma Pendidikan


Demokrasi. Sebuah Model Pelibatan
Masyarakat dalam Penyelenggaraan
Pendidikan. Jakarta: Prenada Media.

| 213
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan ISSN 2443-0544
Magister Manajemen Pendidikan
Volume: 2, No.2, Juli-Desember 2015
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana
jurnalkelola@gmail.com Halaman: 214-220

ANTUSIASME GURU DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN


KOMPETENSI PEDAGOGIK DAN DETERMINANNYA*)

Donald Samuel
dsmuq87@gmail.com
Program Studi S1 Pendidikan Ekonomi
FKIP - Universitas Kristen Satya Wacana

ABSTRACT

This study aimed to describe the enthusiasm of the teachers at SMPN 2


Gedangsari, Gunung kidul in the program of Education and Training (Dik-lat) for
pedagogic competence development, organized by the Education Foundation of
Astra-Michael D. Ruslim (which is running a program of Corporate Social
Responsibility in the field of education in the middleschool. In addition, this study
also aimed to find the determinant factor for the enthusiasm of the teachers. This
research applied mixed method. The results showed enthusiasm in participating in
teacher training pedagogical competence development was quite high. In
quantitative terms, the level of enthusiasm of teachers was worth on average 3.8
with H0 was rejected (teacher enthusiasm was high). In addition, there were several
determinants affecting the enthusiasm of teachers, namely, the intensity of individual
meetings (b value = 0.633), while the suitability of the teacher trainers approach
did not affect the enthusiasm (b value = 0.364). Thus, the trainer advised to
frequently meet with the teacher so that the enthusiasm of teachers increased, and
dik-lat program targets could be achieved well.
Keywords: Enthusiasm, Pedagogiccompetence, Meeting Intensity, Approach.

PENDAHULUAN profesi guru dengan profesi-profesi yang lain.


Kompetensi pedagogik berisikan 10 sub-
Undang-Undang No. 14 Tahun 2005
kompetensi yang mengarah pada kemampuan
Tentang Guru dan Dosen menentukan bahwa
guru dalam kaitannya dengan pembelajaran
guru yang profesional perlu memiliki 4
yang dilaksanakan. Subkompetensi dimulai dari
kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik,
kemampuan mengenali karakter peserta didik,
kepribadian, sosial, dan profesional. Dari
hingga melakukan tindakan reflektif untuk
keempat kompetensi tersebut, kompetensi
perbaikan pembelajaran.
pedagogik adalah kompetensi yang strategis,
karena kompetensi inilah yang membedakan
*) makalah pernah disajikan dalam seminar nasional “Peningkatan Kinerja Guru dalam Menghadapi Persaingan Global”,
FKIP UNS 7 November 2015.

214 |
Antusiasme Guru dalam Program Pengembangan Kompetensi Pedagogik dan Determinannya | Donald Samuel

Kompetensi adalah perpaduan dari Adapun pengertian kompetensi peda-


penguasaan, pengetahuan, keterampilan, nilai gogik adalah kemampuan dalam pengelolaan
dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan peserta didik, (Saiful Sagala, 2009) meliputi:
berpikirdan bertindak dalam melaksanakan 1. Pemahaman wawasan guru akan landasan
tugas/pekerjaannya; kemampuan yang dan filsafat pendidikan.
merupakan gambaran hakikat kualitatif dari 2. Guru memahami potensi dan keberagaman
peserta didik, sehingga dapat didesain
perilaku guru atau tenaga kependidikan yang
strategi pelayanan belajar sesuai keunikan
tampak sangatberarti (Cece Wijaya dan Tabrani masing-masing peserta didik.
Rusyan, 1994). 3. Guru mampu mengembangkan kurikulum/
Di sini dapat diartikan kompetensi silabus baik dalam bentuk dokumen maupun
sebagai suatu tugas yang memadai,atau implementasi dalam bentuk pengalaman
pemilikan pengetahuan, keterampilan dan belajar.
kemampuan yang dituntut oleh jabatan 4. Guru mampu menyusun rencana dan strategi
pembelajaran berdasarkan standar kompe-
seseorang. Dari uraian diatas nampak bahwa
tensi dan kompetensi dasar.
kompetensi mengacu pada kemampuan 5. Mampu melaksanakan pembelajaranyang
melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui mendidik dengan suasana dialogis dan
pendidikan. Kompetensi guru menunjuk interaktif.
kepada performance dan perbuatan yang 6. Mampu memanfaatkan teknologi pem-
rasional untuk memenuhi spesifikasi tertentu belajaran
7. Mampu melakukan evaluasi hasil belajar
dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan.
dengan memenuhi prosedur dan standar
Dikatakan rasional karena mempunyai arah dan yang dipersyaratkan.
tujuan, sedangkan performance adalah 8. Mampu mengembangkan bakat dan minat
perilaku nyata dalam arti tidak hanya diamati peserta didik melalui kegiatan intrakulikuler
tetapi mencakup sesuatu yang tidak kasat mata. dan ekstrakulikuler untuk mengaktualisasikan
Pedagogik adalah teori mendidik yang berbagai potensi yang dimilikinya.
mempersoalkan apa dan bagaimana mendidik Kompetensi pedagogik perlu men-
itu sebaik-baiknya (Edi Suardi, 1979). Sedangkan dapatkan perhatian yang serius. Hal ini penting,
pendidikan menurut pengertian Yunani adalah dikarenakan pendidikan di Indonesia dinyata-
pedagogik, yaitu ilmu menuntun anak yang kan kurang berhasil oleh sebagian masyarakat.
membicarakan masalah atau persoalan- Oleh sebab itu guru harus memiliki kompetensi
persoalan dalam pendidikan dan kegiatan- pedagogik sehingga mampu mengelola
kegiatan mendidik, antara lain seperti tujuan pembelajaran dan mengubah paradigma yang
pendidikan, alat pendidikan, cara melaksanakan ada di masyarakat tersebut.
pendidikan, anak didik, pendidik dan sebagainya. Salah satu kompetensi yang harus
Orang Romawi melihat pendidikan sebagai dimiliki oleh seorang guru adalah kompetensi
educate, yaitu mengeluarkan dan menuntun, pedagogik (Mendiknas, 2007). Karakteristik
tindakan merealisasikan potensi peserta didik kompetensi tersebut seperti berikut:
(Robiah, 2009). Oleh sebab itu pedagogik 1. Menguasai karakteristik peserta didik dari
aspek fisik, moral, sosial, kultural,
dipandang sebagai suatu proses atau aktifitas
emosional, dan intelektual.
yang bertujuan agar tingkah laku manusia 2. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip
mengalami perubahan (Dewi Gusti, 2009). pembelajaran yang mendidik.

| 215
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

3. Mengembangkan kurikulum yang terkait kecenderungan beberapa guru untuk meng-


dengan bidang pengembangan yang hindar ketika bertemu dengan pelatih. Beberapa
diampu. guru yang didampingi menyatakan bahwa
4. Menyelenggarakan kegiatan pengembangan
sedang menghadapi berbagai kesibukan,
yang mendidik Kegiatan pengembangan
dapat berupa berbagai kreativitas yang sehingga tidak dapat mengikuti pelatihan atau
dibangun siswa bersama gurunya. mengerjakan target-target pelatihan. Berdasar-
5. Memanfaatkan teknologi informasi dan kan gejala-gejala yang tampak, dapat dinyata-
komunikasi untuk kepentingan penyeleng- kan bahwa guru memiliki kecenderungan untuk
garaan kegiatan pengembangan yang tidak antusias ketika mengikuti program
mendidik. Sudah banyak tool Teknologi pengembangan kompetensi pedagogik.
Informasi dan Komunikasi (TIK) yang
Antusiasme adalah energi, bahan bakar,
dapat digunakan sebagai media pem-
belajaran. nyala api yang membawa sekitar hasil yang
6. Memfasilitasi pengembangan potensi sukses. Seorang penulis terkenal pernah me-
peserta didik untuk mengaktualisasikan ngatakan bahwa tidak ada yang besar pernah
berbagai potensi yang dimiliki. terjadi tanpa antusiasme. Jika Anda ingin men-
7. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan capai hal-hal besar; jika Anda ingin mewujud-
santun dengan peserta didik.
kan tujuan besar; jika Anda ingin hidup yang
8. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi
besar, Anda benar-benar harus memiliki
proses dan hasil belajar Guru memiliki hak
istimewa dalam menentukan nilai siswa. antusiasme untuk semua yang Anda lakukan.
9. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi Mengapa antusiasme begitu penting untuk
untuk kepentingan pembelajaran. sukses? Alasannya adalah bahwa perbedaan
10. Melakukan tindakan reflektif untuk antara keberhasilan dan kegagalan sering menit.
peningkatan kualitas pembelajaran. Dua orang dengan hampir jumlah yang sama
Bertolak dari pentingnya kompetensi keterampilan dan bakat dapat berbeda jauh
pedagogik bagi seorang guru, PT. Astra Inter- dalam jumlah kesuksesan yang mereka capai.
national membuat suatu program Corporate Perbedaan ini tidak dapat dikaitkan dengan
Social Responsibility (CSR) dalam hal pe- memiliki kemampuan lebih dibandingkan orang
ngembangan kompetensi pedagogik guru lain. Bahkan, dalam banyak kasus, orang yang
melalui Yayasan Pendidikan Astra-Michael D. lebih sukses sebenarnya memiliki kemampuan
Ruslim. Salah satu sekolah yang dibina guru- kurang. Perbedaannya adalah dalam antusias-
gurunya supaya memiliki kompetensi pedagogik me (Randy Slechta, t.th)
yang baik adalah SMP Negeri 2 Gedangsari, Antusiasme adalah kegembiraan,
Kabupaten Gunungkidul. Kegiatan pengem- lonjakan gairah, minat yang besar dalam sesuatu.
bangan kompetensi pedagogik yang dilak- Antusiasme kata berasal dari kata Yunani yang
sanakan di sekolah ini telah dimulai sejak tahun berarti Entheos “Tuhan dalam” atau “diilhami
2008. oleh Allah”. Antusiasme dan kepercayaan
Kenyataan yang ditemui di lapangan adalah perasaan, kesadaran dari hubungan
menunjukkan bahwa sebagian guru menampil- antara orang dan sumber kekuatan untuk
kan sikap tidak antusias ketika mengikuti pro- mencapai tujuan. Antusiasme adalah harmoni
gram-program yang dilaksanakan. Hal ini dan kepercayaan, kesadaran dari hubungan
tampak dari gejala-gejala ketika program antara orang dan sumber kekuatan untuk
dilaksanakan. Beberapa gejala tersebut adalah mencapai tujuan. Oleh karena itu kita perlu

216 |
Antusiasme Guru dalam Program Pengembangan Kompetensi Pedagogik dan Determinannya | Donald Samuel

berbicara menggunakan antusiasme dan sikap itu dapat dicapai dalam pembelajaran kola-
positif dan bertindak dengan kepercayaan. boratif. Untuk siswa, model ini lebih menarik
Energi dapat ditransmisikan atau sebagai dan semakin nyata, karena membawa kehidup-
antusiasme menular dengan sendirinya kepada an nyata ke dalam kompleksitas dan berbagai
orang-orang di sekitar kita. Antusiasme akan aspek. Di sebuah perspektif yang lebih luas,
mendorong seseorang ke depan dan memenang- guru dapat menerapkan model bersama-sama
kan perjuangannya (Ruly Mujahid, 2012). dan dengan pemangku kepentingan lainnya.
Antusiasme adalah pilihan dari perasaan Banyak faktor yang dapat membangkit-
yang muncul dan diseleksi kemudian dilanjutkan kan semangat/antusiasme, sebagai berikut (Ruly
dan diperkuat, karena antusiasme dapat Mujahid, 2012):
dihasilkan dari dan dalam diri kita sendiri atau 1. Niat atau Factor Purpose. Sadar atau tidak
oleh keadaan di luar diri, paling kuat adalah sadar seseorang akan sangat senang karena
ia memiliki tujuan yang jelas yang ingin
pilihan sendiri, karena ketika Anda telah
dicapai. Akibatnya seseorang mampu
memutuskan untuk memilih untuk menjadi memilih jalan dan membuat kananstrategi
antusias, maka akan dijalankan program dalam untuk membangkitkan dan memperkuat
pikiran langsung menghasilkan energi. semangat.
Guru perlu memiliki motivasi, antusias 2. Menetapkan Tujuan atau Target Peren-
dan perasaan sehingga mereka dapat terus canaan. Ini adalah bagian dari tujuan yang
jelas di atas apalagi jika seseorang memiliki
bekerja dan melakukan pekerjaan mereka
menargetkan di masa depan dalam beberapa
dengan sukacita. Antusiasme harus dibawa ke tahun atau bulan bekerja atau hidup.
guru sendiri atau siapa saja yang memiliki tujuan Penetapan tujuan sangat mem-pengaruhi
untuk dapat bekerja nyaman, bahagia dan antusiasme dalam pekerjaan, mengarahkan
gembira, untuk kemudian mendapatkan tindakan dan tetap semangat untuk tetap
tinggi.
kesuksesan.
3. Potensi dan Hambatan Pengakuan. Untuk
Dalam perannya sebagai agen-agen mewujudkan potensi dan hambatan
perubahan, guru antusias perlu memiliki kemudian seseorang harus memiliki besar
karakteristik dasar atau kemampuan maka ia gambar kemampuannya, keahlian, kekuatan
harus terus-menerus dengan itu. Kemampuan dan sumber daya apa pun. Mereka adalah
digambarkan indah oleh Fullan (1993) dengan hal-hal yang dibutuhkan untuk menjadi
ditingkatkan dan belajar, untuk meningkat-
empat dasar kapasitas untuk menjadi melekat
kan kepercayaan diri, memperkuat harga diri
dalam guru sebagai agen perubahan. Karakter dan pasti terima dengan Pencipta.
dasar dari 4 kapasitas adalah: pengembangan 4. Positivity dalam pikiran, kata-kata dan
visi pribadi, penyelidikan kebiasaan, pentingnya perasaan, sebisa mungkin dapat memancar-
penguasaan dan kolaborasi. Kemampuan untuk kan energi positif di sekitar dan itu akan
belajar bersama atau bekerja sama diperlukan. direspon oleh alam semesta maka akan
dikembalikan kembali ke dia sebagai positif
Selain itu kemampuan untuk belajar untuk lebih besar. Positif akan menyebabkan sikap
mengatasi kelemahan pribadi yang biasanya dan persepsi positif untuk menghadapi dan
datang dalam keterbatasan diri. Bekerja dalam mengatasi peristiwa datang, memfasilitasi diri
kelompok telah juga karakteristik perkem- untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
bangan modern akhir-akhir ini. Kolaborasi yang
Pendidikan dan pelatihan adalah
efektif biasanya dikompensasi oleh bertanya
seperangkat komponen atau unsur-unsur atau
keterampilan pribadi terus menerus. Namun hal

| 217
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

sub-sistem yang berinteraksi untuk meningkat- an, merancang skenario pelatihan yang efektif
kan kompetensi guru sehingga mereka bisa yang dikendalikan, dan akuntabel. Pendidikan
tampil lebih baik dalam proses belajar mengajar. dan pelatihan harus relevan dengan kebutuhan,
Pendekatan dalam sistem pendidikan dan untuk mendapatkan respon positif dari para
pelatihan terdiri dari serangkaian komponen peserta. Oleh karena itu, pendidikan dan
seperti ‘input’,‘proses’, ‘output’, dan ‘outcome’. pelatihan yang terencana melalui proses
Unsur ‘Masukan/input’ bisa dalam bentuk penilaian penting. Pelatih harus mampu
materi pendidikan dan pelatihan diajarkan oleh menyampaikan materi dengan baik, menyeleng-
dosen yang kompeten. Tentu saja, ada bebe- garakan sesi pendampingan yang teratur, tertib
rapa faktor yang perlu dipertimbangkan dan penuh makna. Intensitas pertemuan
mengenai pelatihan manajemen seperti anggar- menjadi faktor kunci keberhasilan dik-lat.
an, waktu, sarana dan prasarana. Sebuah Ada beberapa strategi pelatihan yang
proses pembelajaran adalah sebagai sub-sistem dapat meningkatkan antusiasme guru, yaitu:
dalam pendidikan dan pelatihan, evaluasi pra- 1. Kelompok belajar melalui diskusi kelompok
dan-pospelatihan pendidikan, penataan kecil
infrastruktur kelas dan sebagainya (Slameto, 2. Penggunaan konteks yang relevan ber-
dasarkan materi pelatihan disampaikan,
2013).
3. Metode evaluasi yang mendalam yang
Sebuah program pendidikan dan membutuhkan peserta untuk memiliki belajar
pelatihan dapat berhasil jika peserta mampu bermakna bukan hanya menghafal (Gokhale,
melibatkan diri dalam melakukan perubahan 1995).
tugas dan perilaku yang tercermin dalam sikap Ada beberapa faktor yang harus
mereka, disiplin dan etos kerja. Salah satu upaya dipertimbangkan dengan baik yaitu penerapan
untuk meningkatkan kompetensi pedagogik pendekatan Andragogi yang didasarkan pada
guru selain antusiasme-adalah organisasi pengalaman dan kinerja pengembangan/
pendidikan dan pelatihan kompetensi yang pemberdayaan; pengembangan pengalaman
efektif (Slameto, 2013). Struktur program peserta melalui pembelajaran aktif, dan
pendidikan dan pelatihan kompetensi guru perlu melibatkan peserta sebagai subyek kegiatan
dirancang secara komprehensif. Karena pendidikan dan pelatihan selama proses
pendidikan dan pelatihan yang komprehensif pembelajaran. Dengan mengalami dan terlibat
diharapkan secara efektif meningkatkan dalam kegiatan tertentu, pendidikan dan
kompetensi guru. Identifikasi informasi yang pelatihan akan mampu menarik dan menyenang-
berkaitan dengan kompetensi real seorang guru kan dan hati-hati dalam evaluasi. Keterlibatan
harus memiliki di lapangan. Tujuan kompetensi, peserta juga akan membuat mental, emosional,
pendidikan dan materi pelatihan, pengalaman sosial, fisik atau atmosfer yang lebih baik, selain
dikembangkan, sumber belajar, alokasi waktu lingkungan pelatihan akan lebih “hidup” dan para
untuk pendidikan dan pelatihan harus dipetakan peserta akan lebih antusias. Beberapa refleksi
ketika merancang pelatihan. Hal ini diperlukan diri yang diperlukan untuk melihat, kemudian
untuk memperhatikan strategi yang relevan mengevaluasi dan mengurangi kelemahan.
dengan karakteristik peserta. Pendidikan dan Akibatnya, beberapa sisi terintegrasi (seperti
materi pelatihan harus memfasilitasi pembelajaran FGD), harus terlibat.
aktif dan menyenangkan, berdasarkan kom- Penelitian Slameto (2013) menyatakan
petensi berbasis pengalaman dan pengembang- bahwa pelatihan yang diikuti 37 guru menunjuk-

218 |
Antusiasme Guru dalam Program Pengembangan Kompetensi Pedagogik dan Determinannya | Donald Samuel

kan adanya pengembangan model pelatihan 3,8 dan standar deviasi 1,23 sebagaimana tersaji
yang efektif dan efisien. Model yang dikem- dalam tabel 1. Selain itu intensitas pertemuan
bangkan oleh Slameto dipengaruhi 3 deter- berada pada nilai 19,5 dan standar deviasi
minan yaitu perilaku positif, kejelasan dan 2,21. Sedangkan pendekatan yang digunakan
kebermaknaan tugas, serta sikap kooperatif oleh trainer berada pada nilai 7,5 dengan
standar deviasi 1,27 sebagaimana tersaji dalam
dan antisipatif yang meningkatkan 81,6%
tabel 1.
antusiasme guru. Selanjutnya, determinan dari antusiasme,
Penelitian ini bertujuan mendeskripsi- yaitu intensitas dan pendekatan diuji, sehingga
kan antusiasme guru di SMP Negeri 2 Gedang- diperoleh persamaan regresi Y=-
sari, Kabupaten Gunungkidul dalam mengikuti 5,806+0,633X1 dan Y=-5,806+(-0,364).
program Pendidikan dan Pelatihan (Dik-lat) Nilai beta variabel intensitas adalah 0,633
pengembangan kompetensi pedagogik yang dengan nilai t 4,139 yang signifikan pada tingkat
diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan kesalahan 0,001 yang berarti H0 ditolak atau
Astra-Michael D. Ruslim (yang sedang men- ada pengaruh intensitas terhadap antusiasme
jalankan program Corporate Social Res- guru. Sedangkan nilai beta variabel pendekatan
ponsibility bidang pendidikan di SMP ini). adalah -0,364 dengan nilai t -1,371 yang
Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk signifikan pada 0,188 yang berarti H0 diterima
menemukan faktor yang menjadi determinan yang berarti tidak ada pengaruh pendekatan
bagi antusiasme guru. terhadap antusiasme guru.
METODE PENELITIAN Hasil pengumpulan data secara
Penelitian ini adalah penelitian campur- kualitatif mendukung temuan kuantitatif
penelitian, di mana guru berpendapat bahwa
an yang menggunakan strategi triangulasi kon-
kruen. Data kuantitatif yang dihasilkan di dengan intensitas yang sering, guru menjadi
terbiasa dan menjadi mudah dalam mengem-
triangulasi dengan data kualitatif. Pengumpulan
data kuantitatif dengan teknik angket yang bangkan kompetensi pedagogiknya. Oleh
karena itulah antusiasme guru menjadi tinggi.
disebar pada guru. Sedangkan data kualitatif
dikumpulkan dengan cara wawancara. Guru berpikir bahwa belajar yang baik adalah
belajar yang sering (walau hanya sebentar), dan
Hasil Penelitian dan Pembahasan bukan belajar yang lama namun jarang. Oleh
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karena itu, intensitas menjadi kunci dari model
antusiasme guru dalam mengikuti pelatihan ini.
mendekati kategori tinggi dengan nilai rata-rata Temuan penelitian ini sejalan dengan
temuan Slameto (2013) sekalipun beda

Tabel 1 Hasil Perhitungan Statistik Deskriptif Antusiasme, Intensitas, dan Pendekatan

Statistics
Antusiasme Intensitas Pendekatan
N Valid 20 20 20
Missing 0 0 0
Mean 3.8000 19.5000 7.5500
Std. Deviation 1.23969 2.21241 1.27630

| 219
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

Tabel 2 Hasil Perhitungan Konstatanta dan Koefisien Persamaan Regresi


Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
(Constant) -5.806 1.607 -3.612 .002
1 Intensitas .633 .153 1.130 4.139 .001
Pendekatan -.364 .265 -.374 -1.371 .188
a. Dependent Variable: Antusiasme

determinannya, kebiasaan positif, kualitas tugas Reform. Educational leadership Mar


yang antisipatif, jelas dan bermakna serta kerja 1993, 50, 6.
sama. Kedua temuan ini memperkuat teori Gokhale. 1995. Collaborative Learning
psikologi positif yang terbukti efektif dalam Enhances Critical Thinking. Ejournals
model pendidikan dan pelatihan. JTE. Volume 7, Number 1 Fall 1995.

SIMPULAN Mendiknas. 2007. Permendiknas RI No. 16


Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi
Hasil penelitian menunjukkan antusiasme Akademik dan Kompetensi Guru.
guru dalam mengikuti Dik-lat pengembangan
Randy Slechta. (t.th). A global leadership and
kompetensi pedagogik cukup tinggi. Secara
organizational development company.
kuantitatif, tingkat antusiasme guru bernilai 3,8
President of Leadership Management
secara rata-rata degan keputusan bahwa H0
International, Inc.
ditolak (antusiasme guru termasuk tinggi). Selain
itu, terdapat dua determinan yang mempengaruhi Robiah, 2009. Pengertian dan Unsur
antusiasme guru, yaitu intensitas pertemuan Pendidikan.http://robiah. Blogmalhikdua.
individu (nilai b = 0,633). Dengan demikian, com.
disarankan pada trainer untuk sering bertemu Ruly Mujahid. 2012. Bangkitkan antusiasme
dengan guru supaya antusiasme guru meningkat, anda. http://reframepositive.com
dan target program diklat dapat tercapai dengan
baik. Saiful Sagala. 2009. Kemampuan Profesio-
nalisme Guru danTenaga Kependi-
DAFTAR PUSTAKA dikan. Bandung: Alfabeta.
Cece Wijaya dan Tabrani Rusyan. 1994. Saiful Sagala. 2009. Kemampuan Profesio-
Kemampuan Dasar Guru Dalam nalisme Guru dan Tenaga Kependi-
Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT
dikan. Bandung: Alfabeta.
Remaja Rosdakarya.
Slameto. 2013. Enthusiasm Enhancement of
Dewi Gusti. Kompetensi Pedagogik, http://
Elementary School Teacher through
dewigusti.blogspot.com. Diakses pada
tanggal 6 Maret 2009. ‘Training and Development Personnel
Model’ and Its Success. Determinant.
Edi Suardi. 1979. Pedagogik. Bandung:
DOI: 10.7763/IPEDR. 2013. V66. 17).
Angkasa Offset.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
Fullan, M. G. 1993. Why Teachers Must
Become Change Agent. Education 20 Tahun 2003. Tentang SISDIKNAS.

220 |
Analisis Akar Masalah Ketidakefektifan Manajemen Kelas di Sekolah Dasar | Hilda S.Momongan & Supramono

Kelola
Jurnal Manajemen Pendidikan ISSN 2443-0544
Magister Manajemen Pendidikan
Volume: 2, No.2, Juli-Desember 2015
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana
jurnalkelola@gmail.com Halaman: 221-231

ANALISIS AKAR MASALAH KETIDAKEFEKTIFAN


MANAJEMEN KELAS DI SEKOLAH DASAR
DI SALATIGA DAN SEKITARNYA

Hilda Saranita Momongan


hildamomongan@gmail.com
Alumni Program Pasca Sarjana Manajemen Pendidikan
FKIP - Universitas Kristen Satya Wacana

Supramono
supramono@staff.uksw.edu
Program Pasca Sarjana Manajemen Pendidikan
FKIP - Universitas Kristen Satya Wacana

ABSTRACT

The aim of this study is to determine the root cause of ineffectiveness at classroom
management which is applied by teachers as well as to propose solution to overcome
ineffectiveness at elementary school’s classroom management. The data collection
technique used in this research is focused group discussions and observations in
the classrooms. The analysis technique used is Fishbone analysis or Ishikawa
diagram. The results of this study shows that there are six roots of ineffectiveness
problem at classroom management, namely: 1) teachers did not focus on students
individually but to the curriculum only; 2) the existence of dissability students
have different learning pace compared to others; 3) there was no demanding from
principal about fun learning implementation in classroom; 4) teachers luck of
knowledge about classroom management; 5) teachers lack to provide interpersonal
relationship with students; 6) teachers had low trust about students ability to
disciplined and organized themselves. The proposed solutions formulated together
are such as teachers review the lesson plans and the daily teaching journal, teachers
implement the system of reward and punishment as well as peer-teaching method to
students, and principals require fun learning and supervise teachers in the
classrooms.
Keywords: root cause, ineffectiveness at classroom management, Fishbone analysis

| 221
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

PENDAHULUAN (Cooper, 1995; Arikunto, 2006; dan Mulyasa,


Salah satu tujuan pendidikan nasional 2006). Dengan demikian manajemen kelas
adalah meningkatkan kualitas manusia merupakan usaha sadar, untuk mengatur
Indonesia seutuhnya. Menurut Mulyasa (2006), kegiatan proses belajar mengajar secara
tiga syarat utama dalam pembangunan pen- sistematis. Usaha sadar itu mengarah pada
didikan agar dapat memberikan kontribusi penyiapan bahan belajar, penyiapan sarana dan
terhadap peningkatan kualitas sumber daya alat peraga, pengaturan ruang belajar,
manusia adalah sarana gedung, buku ber- mewujudkan situasi/kondisi proses belajar
kualitas, serta guru yang profesional. Guru mengajar dan pengaturan waktu sehingga
profesional mempunyai pengaruh sangat besar pembelajaran berjalan dengan baik dan tujuan
terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. kurikuler dapat tercapai (Dirjen PUOD dan
Slameto (2013) menyatakan bahwa guru sering Dirjen Dikdasmen, 1996).
dianggap sebagai penyebab utama rendahnya Tentang tujuan manajemen kelas,
kualitas pendidikan. Salah satu penyebabnya Sudirman (2000) menyatakan bahwa tujuan
adalah rendahnya kemampuan guru dalam manajemen kelas adalah penyediaan fasilitas
mengelola proses pembelajaran dan penguasaan bagi macam-macam kegiatan belajar siswa
pengetahuan tentang manajemen kelas. dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelek-
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan tual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu
Nasional Nomor 41 tahun 2007 tentang standar memungkinkan siswa belajar dan bekerja,
proses untuk satuan pendidikan dasar dan terciptanya suasana sosial yang memberikan
menengah dinyatakan pentingnya manajemen kepuasan, suasana disiplin, perkembangan
kelas. Manajemen kelas bertujuan mewujudkan intelektual, emosional, dan sikap serta apresiasi
situasi dan kondisi kelas yang memungkinkan pada siswa. serta sifat-sifat individunya (Dirjen
siswa mengembangkan kemampuan mereka PUOD dan Dirjen Dikdasmen,1996). Dalam
secara optimal, menghilangkan hambatan yang hubungan ini, Rusydie (2011) menyatakan
menghalangi terwujudnya interaksi pembelajar- bahwa jika kegiatan manajemen kelas
an, dan menyediakan dan mengatur fasilitas dilaksanakan dengan baik maka tujuan dari
serta perabot belajar yang mendukung dan manajemen kelas dapat tercapai.
memungkinkan siswa belajar sesuai dengan Secara umum faktor yang mempengaruhi
lingkungan sosial, emosional dan intelektual manajemen kelas menurut Djamarah (2006)
siswa dalam kelas (Dikdasmen, 1996). dibagi menjadi dua golongan yaitu, faktor intern
Manajemen kelas adalah semua dan faktor ekstern siswa. Faktor intern siswa
aktivitas guru di kelas yang dapat menciptakan berhubungan dengan masalah emosi, pikiran,
dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi dan perilaku. Faktor ekstern siswa terkait
terjadinya proses belajar. Manajemen kelas dengan masalah suasana lingkungan belajar,
adalah suatu usaha yang dilakukan penanggung penempatan siswa, pengelompokan siswa,
jawab kegiatan belajar mengajar dengan tujuan jumlah siswa, dan sebagainya. Di lain pihak
agar tercapai kondisi yang optimal serta Cooper (1995) mengemukakan adanya tiga
kondusif, sehingga dapat terlaksana kegiatan pendekatan dalam pengelolaan kelas, yaitu
belajar seperti yang diharapkan dan mengen- Behaviour-Modification Approach (Behavio-
dalikan jika terjadi gangguan atau hambatan rism Approach), Socio-emotional Climate
Approach (Humanistic Approach), dan Group

222 |
Analisis Akar Masalah Ketidakefektifan Manajemen Kelas di Sekolah Dasar | Hilda S.Momongan & Supramono

Process Approach. Schmuck dan Schmuck kelas agar siswa dapat memaksimalkan prestasi
dalam Entang dan Joni (1985) mengemukakan belajarnya secara optimal. Penelitian ini meng-
prinsip-prinsip dalam penerapan pendekatan gunakan Analisis Tulang Ikan atau Diagram
proses kelompok, adalah mutual expectations, Sebab-Akibat untuk mendapat akar masalah
leadership, attraction, norm, communication, manajemen kelas sekolah dasar. Analisis akan
cohesiveness. dilakukan terhadap kegiatan manajemen kelas
Rukmana & Suryana (2009) menjelas- yaitu kegiatan pengaturan kondisi non-fisik
kan bahwa secara garis besar kegiatan guru (emosional dan sosio-emosional), pengaturan
dalam manajemen kelas ada dua yaitu kegiatan kondisi fisik, serta pengaturan kondisi
pengaturan kondisi non-fisik meliputi pengaturan organisasional.
kondisi emosional siswa yaitu tingkah laku,
kedisiplinan, minat/perhatian, gairah belajar, METODE PENELITIAN
dinamika kelompok dan pengaturan kondisi Jenis penelitian ini adalah deskriptif
sosio-emosional yang melekat pada guru antara yang menganalisis akar masalah manajemen
lain tipe kepemimpinan, sikap, suara, pem- kelas di 2 (dua) sekolah di Kabupaten Semarang
binaan hubungan. Kedua, pengaturan fasilitas dan 3 (tiga) sekolah di Kota Salatiga serta
belajar mengajar/kondisi fisik meliputi ventilasi, merumuskan usulan solusi atas permasalahan
pencahayaan, kenyamanan, letak duduk, tersebut. Data primer didapatkan melalui FGD
penempatan siswa. Selain itu, pengaturan (Focus Group Discussion) dan untuk melengkapi
kondisi organisasional yang berkaitan dengan data tersebut dilakukan observasi.FGD dilakukan
rutinitas yang dilakukan tingkat kelas maupun di tiap sekolah dengan beberapa guru kelas
sekolah juga mempengaruhi keberhasilan untuk mengetahui akar masalah manajemen
manajemen kelas. Selain dua kegiatan mana- kelas, dan merumuskan usulan solusi bersama
jemen kelas, Good & Brophy (1991) mengata- untuk mengatasi akar masalah manajemen kelas.
kan bahwa guru juga menghadapi beberapa tipe Dalam penelitian ini observasi dilakukan oleh
siswa dalam kelas antara lain successful peneliti di dalam ruang kelas di tiap sekolah
students, social students, dependent students, saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung.
alienated students, dan phantom students. Analisis data penelitian ini menggunakan analisis
Kondisi tersebut juga dialami oleh be- tulang ikan atau diagram Fishbone (Ishikawa,
berapa sekolah dasar seperti yang terjadi di 1985). Focus Group Discussion di SDN Ujung-
sekolah dasar di Salatiga yaitu SDN Kauman Ujung 01 dan 02 dilakukan bersama-sama oleh
Kidul, SDN Ujung-Ujung 01 dan 02, SDN guru-guru dari kedua sekolah di salah satu ruang
Salatiga 02, dan SDN 10 Salatiga. Wawancara kelas SDN Ujung-Ujung 02 setelah siswa
awal dengan beberapa guru menyatakan bahwa pulang sekolah. Jumlah guru yang terlibat FGD
mereka mengalami beragam kesulitan terutama berjumlah 4 orang dari kedua sekolah. FGD
dalam menghadapi bermacam siswa yang ada yang sama juga dilakukan di tiga sekolah lainnya
dalam kelas sehingga menghambat terjadinya yaitu SDN Kauman Kidul, SDN Salatiga 10,
proses belajar mengajar. Berdasar uraian di dan SDN Salatiga 02. Jumlah peserta FGD di
atas, penulis memandang perlu diadakannya SD Kauman Kidul berjumlah 3 orang, SDN
penelitian mengenai apa yang menjadi akar Salatiga 10 berjumlah 2 orang, dan SDN
masalah manajemen kelas di lima sekolah dasar Salatiga 02 diikuti 2 orang guru.
Salatiga serta mengusulkan solusi manajemen

| 223
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

HASIL PENELITIAN pengaturan kondisi emosional, kondisi sosio-


Pada tahap awal, peserta FGD mela- emosional, dan kondisi fisik. Sementara peserta
kukan brainstorming mengenai semua masalah dari ketiga sekolah dasar lainnya menyatakan
dalam manajemen kelas tanpa dibatasi ataupun bahwa tiga kegiatan pengaturan dalam mana-
diinterupsi sehingga peserta dapat mencurahkan jemen kelas yang memiliki permasalahan paling
semua permasalahan yang dihadapi. Setelah itu, vital adalah kegiatan pengaturan kondisi
semua masalah dikelompokkan sesuai dengan emosional, kondisi sosio-emosional, dan kondisi
kegiatan pengaturan dalam manajemen kelas. organisasional. Pada kondisi organisasional,
Kemudian, peserta mendiskusikan penyebab guru-guru di SDN Kauman Kidul menyatakan
utama dari masalah-masalah dalam tiap bahwa adanya adanya tugas tambahan dari
kegiatan pengaturan dan dimasukkan dalam sekolah sebagai petugas TU dan pustakawan
diagram fishbone. Setelah pengelompokkan mempengaruhi efektifitas manajemen kelas
selesai dilakukan, para peserta diminta memilih yang mereka terapkan, sementara guru-guru di
penyebab utama dalam pengaturan manajemen SDN Salatiga 10 menyatakan bahwa
kelas yang memiliki masalah paling penting yang banyaknya administrasi yang harus diselesaikan
mempengaruhi keefektifan manajemen kelas. yang mempengaruhi manajemen kelas, dan
Hasil FGD dengan diagram fishbone adanya inkonsistensi sekolah dan dinas dalam
dapat dilihat pada Gambar 1. PSB dinyatakan oleh guru-guru di SDN
Salatiga 02 sebagai penyebab utama dalam
Peserta di SDN Ujung-Ujung 01 dan
pengaturan kondisi organisasional yang
02 menyatakan bahwa ada tiga kegiatan
mempengaruhi efektifitas manajemen kelas.
pengaturan dalam manajemen kelas yang
Namun dalam diskusi selanjutnya, para peserta
memiliki permasalahan paling vital adalah

Pengaturan Kondisi Pengaturan Kondisi


Emosional Sosio -Emosional

Perkembangan
Guru cenderung
teknologi monoton dalam kelas

Banyak
misbehavior Kelelahan guru
students secara fisik dan Inkonsistensi guru
emosional dalam penegakan
kedisiplinan

Keberadaan siswa
ABK membutuhkan Minat, perhatian,
penanganan khusus
gairah belajar
dalam kelas kurang Ketidakefektifan
Manajemen
Kelas di Sekolah
Tugas tambahan Dasar
dari sekolah dan
Sekolah tidak dinas
fokus pada
sarpras Overload
tugas
Inkonsistensi administrasi
sekolah dan dinas
dalam PSB

Pengaturan Pengaturan Kondisi


Kondisi Fisik Organisasional

Gambar 1 Diagram Fishbone Hasil FGD di Lima Sekolah Dasar

224 |
Analisis Akar Masalah Ketidakefektifan Manajemen Kelas di Sekolah Dasar | Hilda S.Momongan & Supramono

menyepakati bahwa hanya dua kegiatan homogen didapati pada SDN Ujung-Ujung 01
pengaturan yang paling berpengaruh terhadap dan 02.
efektifitas manajemen kelas yaitu pengaturan Penyebab utama ketiga adalah adanya
kondisi emosional dan kondisi sosio-emosional. inkonsistensi guru dalam penegakan disiplin
Dalam diagram fishbone di atas tampak dalam kelas dinyatakan oleh SDN Ujung-
bahwa ada tiga penyebab utama pada dua Ujung 01 dan 02 serta SDN Salatiga 10
kegiatan pengaturan dalam manajemen kelas sebagai faktor utama yang berpengaruh dalam
yang dialami guru-guru di SDN Ujung-Ujung pengaturan kondisi sosio-emosional guru.
01 dan 02 yaitu pada pengaturan kondisi Langkah selanjutnya setelah menyepakati
emosional dan sosio-emosional. Penyebab kedua permasalahan dalam kegiatan manajemen
utama timbulnya permasalahan pada kegiatan kelas, para peserta mulai mendiskusikan akar
pengaturan kondisi emosional karena ada masalah dari masalah-masalah tersebut.
banyak misbehavior students dalam kelas. Rangkuman masalah, penyebab utama, serta
Penyebab utama ini homogen didapati pada akar masalah ketidakefektifan manajemen kelas
kelima sekolah yang menyatakan bahwa di lima sekolah tersebut disajikan dalam matrik
misbehavior students dalam kelas yang sebab dan akar masalah pada Tabel 2.
sebagian besar mencari perhatian siswa lain dan Dalam Tabel 2 para guru di lima sekolah
guru mempengaruhi manajemen kelas mereka. menyepakati bahwa masalah-masalah dalam
Selain itu, penyebab kesulitan dalam pengaturan pengaturan kondisi emosional disebabkan oleh
kondisi emosional adalah minat, perhatian, tiga penyebab utama yaitu banyaknya mis-
gairah belajar siswa kurang dalam PBM di behavior students dalam kelas, keberadaan
kelas. Guru-guru di SDN Salatiga 10 menyadari siswa ABK yang membutuhkan penanganan
bahwa siswa kurang berminat karena bosan khusus, minat, perhatian, gairah belajar siswa
dengan suasana monoton yang disebabkan oleh kurang. Peneliti kemudian menanyakan
sistem teacher-centered yang diterapkan guru. mengenai akar masalah dari masing-masing
Minat, perhatian, gairah belajar siswa kurang penyebab utama dan didapati bahwa akar
juga homogen didapati di tiga sekolah lainnya masalahnya adalah guru belum fokus pada
yaitu SDN Kauman Kidul dan SDN Ujung- siswa secara individu namun pada penyelesaian
Ujung 01 dan 02. Sementara di SDN Kauman kurikulum. Kedua, keberadaan siswa ABK
Kidul penyebab utama lainnya dalam yang memiliki learning pace berbeda dengan
pengaturan kondisi emosional adalah siswa lain. Ketiga, belum ada tuntutan dari
keberadaan siswa ABK yang membutuhkan kepala sekolah mengenai fun learning dalam
penanganan khusus. Dalam pengaturan kondisi PBM. Keempat, guru kurang pengetahuan akan
sosio-emosional ditemukan bahwa dalam kelas manajemen kelas. Kelima, guru kurang
guru-guru di SDN Ujung-Ujung 01 dan 02 mengadakan pendekatan interpersonal dengan
menyatakan bahwa penyebab utama kesulitan siswa. Terakhir, guru kurang percaya bahwa
dalam pengaturan kondisi sosio-emosional siswa dapat disiplin dan teratur dalam kelas.
adalah kelelahan secara fisik maupun emosional. Dua minggu setelah diadakan FGD,
Sementara di SDN Salatiga 10 penyebab peneliti kembali ke SDN Ujung-Ujung 01 dan
utama dari permasalahan pengaturan kondisi 02 untuk melakukan observasi mengenai
sosio-emosional adalah guru cenderung manajemen kelas yang dilakukan guru dalam
monoton dalam PBM. Penyebab ini juga kelas. Hasil observasi sesuai dengan hasil FGD

| 225
226 |
Tabel 2 Matrik Sebab dan Akar Masalah Ketidakefektifan Manajemen Kelas
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015
Analisis Akar Masalah Ketidakefektifan Manajemen Kelas di Sekolah Dasar | Hilda S.Momongan & Supramono

yang dilakukan sebelumnya bahwa dalam jenjang kelas yang sama. Saat siswa mulai
proses PBM dalam kelas, tindakan menganggu berbicara sendiri atau mengganggu teman, guru
dan menyimpang banyak dilakukan siswa menegur dengan suara rendah namun tegas dan
seperti bermain telepon genggam saat guru siswa pun mulai tenang walaupun beberapa saat
sedang fokus pada siswa lain, berlari keluar kemudian siswa kembali ramai saat ada celah
kelas, mengganggu teman, serta berjalan-jalan waktu kosong. Saat observasi berlangsung,
dalam kelas. Observasi di SDN Kauman Kidul tidak ada siswa yang berjalan-jalan dalam kelas,
dilakukan tiga minggu sesudah FGD berteriak, ataupun mengganggu temannya
dilaksanakan. Dalam manajemen kelas, guru sehingga suasana kelas cukup kondusif.
terlihat cukup kesulitan menghadapi tingkah laku Akar permasalahan di atas menjadi
siswa dalam kelas. Saat guru sedang mengoreksi dasar dari perumusan usulan solusi untuk
pekerjaan salah satu siswa atau fokus pada menangani ketidakefektifan manajemen kelas
siswa ABK, jeda waktu digunakan siswa lain yang diaplikasikan guru dalam kelas. Adapun
untuk bermain sendiri, mengganggu teman yang usulan solusi yang telah dirumuskan bersama
sedang mengerjakan tugas, saling memukul, dapat dilihat dalam Tabel 3
serta ada beberapa siswa yang bercakap-cakap Dalam Tabel 3, guru-guru menyepakati
dengan teman dengan suara keras. Guru bahwa alternatif solusi yang dapat dilakukan
kemudian memperingatkan siswa untuk diam pada akar permasalahan pertama adalah guru
dan tenang dengan nada tinggi, namun mereview pada RPH maupun RPP yang telah
ketenangan hanya berlangsung sebentar dibuat agar agihan waktu dapat disesuaikan
kemudian siswa mulai bermain dan bercanda agar waktu untuk pemenuhan kebutuhan
dengan teman lainnya kembali bahkan ada yang psikologi siswa juga dapat terpenuhi. Pada akar
berlari di dalam kelas. permasalahan yang kedua, guru dapat mene-
Hasil observasi yang dilakukan peneliti rapkan sistem reward and punishment pada
di SDN Salatiga 10 pada tiga minggu sesudah siswa lain yang dapat menyelesaikan tugasnya
FGD juga mendapat hasil yang sama dengan dengan disiplin selama guru mendampingi atau
paparan guru-guru saat diskusi. Dalam satu fokus pada siswa ABK dan metode peer-
kelas yang diobservasi, guru terkadang kesulitan teaching dalam kelas. Solusi yang dapat
dalam mengkondusifkan kelas karena kelas dilakukan untuk akar permasalahan ketiga
dalam situasi siswa ramai berbicara dengan adalah kepala sekolah mewajibkan guru untuk
temannya. Hal ini sering terjadi saat ada waktu menerapkan fun learning dalam PBM sehingga
kosong yang sering dimanfaatkan siswa untuk pembelajaran dalam kelas dapat lebih menarik
berbicara sendiri, menjahili teman, berkelahi, dan tidak membosankan bagi siswa.
maupun berjalan-jalan dalam kelas. Guru sering Pada akar permasalahan keempat,
berbicara menggunakan nada tinggi karena solusi yang dapat dilakukan adalah guru dapat
siswa tidak mendengarkan guru saat menegur mereview kembali urgensi manajemen kelas
dengan suara pelan. Observasi di SDN Salatiga bahwa manajemen kelas bukan hanya sekedar
02 dilakukan dua minggu setelah FGD selesai teori atau hasil penelitian namun sesuatu yang
dilakukan. Peneliti menemukan bahwa hasil wajib diaplikasikan agar tujuan manajemen
FDG dengan hasil observasi sedikit berbeda kelas dapat tercapai. Selain itu, guru dapat
yaitu siswa dalam kelas cenderung lebih mudah mendiskusikan strategi manajemen kelas
diatur dibandingkan siswa di sekolah dengan dengan kolega maupun guru senior sebagai

| 227
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

langkah preventif untuk minimalisisr masalah- PEMBAHASAN


masalah yang sering terjadi dalam manajemen Berdasarkan pada paparan akar
kelas. permasalahan di atas maka pada bagian ini
Akar permasalahan kelima adalah guru akan dibahas mengenai usulan solusi yang dapat
kurang mengadakan pendekatan interpersonal diaplikasikan dalam manajemen kelas yaitu,
dengan siswa. Solusi yang dapat diaplikasikan keberadaan misbehaviour students adalah
dalam kelas adalah guru mengingat kembali salah satu masalah krusial dalam manajemen
prinsip-prinsip dalam manajemen kelas serta kelas karena berpengaruh terhadap smoothness
mengaplikasikannya dalam PBM. Selain itu, dalam PBM. Selain itu, siswa dengan perilaku
break time yang biasanya berlangsung dua kali mengganggu atau menyimpang juga berpengaruh
dalam satu hari dapat dimanfaatkan guru untuk terhadap tercapainya tujuan manajemen kelas.
melakukan pendekatan pribadi pada siswa Namun, guru belum fokus pada siswa secara
sehingga hal-hal yang berkaitan dengan siswa, individu karena hanya berpikir untuk penyelesaian
latar belakang keluarga, permasalahan sosialisasi, kurikulum agar semua selesai tepat waktu dalam
ataupun permasalahan siswa lainnya dapat satu semester. Solusi yang dapat dilakukan
diketahui oleh guru sehingga dapat dilakukan dalam kelas untuk permasalahan ini adalah guru
langkah-langkah solusinya. Pada akar per- mereview kembali RPH dan RPP agar agihan
masalahan terakhir solusi yang dapat dilakukan waktu untuk kurikulum maupun kebutuhan
untuk guru kurang percaya bahwa siswa dapat psikologis siswa dapat terpenuhi. Sebagai
disiplin dan teratur adalah adanya konsistensi contoh, guru memasukkan total waktu sepuluh
guru dalam penegakan kedisiplinan dalam kelas sampai lima belas menit untuk berbincang atau
dan pengembangan rasa trust guru pada siswa memberikan perhatian dengan satu atau
sehingga siswa enggan untuk melakukan beberapa siswa dalam kelas. Kegiatan ini dapat
tindakan indisipliner dalam kelas. dilakukan pada keesokan harinya untuk siswa

Tabel 3 Akar Permasalahan dan Alternatif Solusi


Akar Permasalahan Alternatif Solusi
Guru belum fokus pada siswa - Guru mereview kembali RPH dan RPP dengan penyesuaian
secara individu namun pada agihan waktu.
penyelesaian kurikulum.
Keberadaan siswa ABK yang - Guru menerapkan sistem reward and punishment kepada
memiliki learning pace berbeda siswa.
dengan siswa lain. - Guru menerapkan metode peer-teaching dalam kelas.
Belum ada tuntutan dari kepala - Kepala sekolah mewajibkan fun learning dalam PBM.
sekolah mengenai fun learning - Kepala sekolah melakukan supervisi dalam kelas.
dalam PBM.
- Guru menggunakan variasi dalam PBM.
Guru kurang pengetahuan akan - Guru mereview kembali urgensi manajemen kelas.
manajemen kelas. - Guru bekerjasama dengan kolega/senior sebagai tindakan
preventif.
Guru kurang mengadakan - Guru mengaplikasikan prinsip manajemen kelas.
pendekatan interpersonal dengan - Guru memanfaatkan break time untuk pendekatan personal.
siswa.
Guru kurang percaya bahwa siswa - Guru konsisten dalam penegakan kedisiplinan siswa.
dapat disiplin dan teratur dalam - Guru mengembangkan trust pada siswa.
kelas.

228 |
Analisis Akar Masalah Ketidakefektifan Manajemen Kelas di Sekolah Dasar | Hilda S.Momongan & Supramono

yang berbeda sehingga setiap siswa merasa PBM dalam kelas sehingga mencari kegiatan
diperhatikan dan diberi kasih sayang oleh guru yang lebih menarik bagi mereka. Guru-guru
mereka. Waktu yang ada tidak hanya digunakan tidak berminat untuk menerapkan fun learning
untuk penyelesaian kurikulum namun juga dapat karena belum ada tuntutan dari kepala sekolah,
digunakan guru untuk mempelajari karakter tiap selain itu mereka juga fokus pada penyelesaian
siswa, mencari tahu latar belakang siswa, materi.
permasalahan yang dihadapi dalam belajar Kepala sekolah dapat mewajibkan fun
maupun bersosialisasi bahkan juga minat bakat learning dalam PBM sebagai salah satu solusi
pada masing-masing siswa. sehingga guru terpacu untuk mengembangkan
Siswa ABK dalam kelas membutuhkan metode pembelajaran yang lebih menarik minat
perhatian serta waktu khusus dalam pena- siswa. Kepala sekolah juga diharapkan melaku-
nganannya padahal guru memiliki waktu kan supervisi sebagai tindak lanjut dari
terbatas untuk menyelesaikan semua tugasnya penerapan fun learning dalam kelas. Supervisi
dalam kelas. Para guru merasa kesulitan dalam diharapkan dapat meningkatkan kinerja guru
menyampaikan materi kepada seluruh kelas dalam menerapkan manajemen kelas yang
maupun pada saat membimbing siswa ABK efektif. Selain itu, melalui supervisi guru dapat
secara khusus. Solusi yang telah dirumuskan terpacu untuk menerapkan fun learning dalam
adalah pemberian reward and punishment kelas. Guru juga dapat menggunakan variasi
dalam kelas selama guru fokus membimbing dalam PBM dengan penggunaan audio visual
siswa ABK. Sebagai contoh, guru akan mem- aids seperti alat peraga, video, juga games atau
berikan reward berupa hadiah kecil atau poin group discussion agar siswa lebih tertarik
yang dikumpulkan hingga akhir tahun. Para dalam mengikuti PBM dalam kelas.
siswa yang mendapat poin yang tinggi akan Guru cenderung monoton dalam PBM
mendapat hadiah akhir tahun. Punishment disebabkan oleh kurangnya keterampilan dalam
dapat diberikan untuk siswa yang tidak disiplin menganalisis kondisi kelas. Akar permasalah-
contohnya berdiri di depan kelas atau menger- annya terletak pada kurangnya pengetahuan
jakan tugas piket tambahan. Selain reward and akan manajemen kelas. Salah satu solusi yang
punishment, solusi yang dapat diaplikasikan dapat dilakukan adalah guru mereview kembali
adalah metode peer-teaching yaitu siswa dibagi akan urgensi manajemen kelas, teori maupun
dalam kelompok dengan ketua kelompok yang aplikasi agar dapat efektif dilaksanakan. Guru
dapat bertanggung-jawab atas kelompoknya juga dapat bekerjasama dengan kolega dengan
dan dengan kemampuan akademis beragam cara mendiskusikan secara terus menerus
agar siswa dapat saling membantu. Tujuan lain mengenai manajemen kelas sebagai langkah
peer-teaching adalah agar siswa tidak sibuk preventif untuk permasalahan yang sering terjadi
sendiri dalam kelas selama guru fokus pada dalam manajemen kelas.
siswa ABK. Banyaknya permasalahan dalam kelas
Minat, perhatian, gairah belajar kurang antar siswa maupun guru dengan siswa yang
dapat ditingkatkan dengan metode mengajar mengakibatkan kelelahan guru secara fisik mau-
yang menarik. Namun, pada kenyataannya guru pun emosional disebabkan oleh kurang akrab-
cenderung monoton dengan metode pembe- nya guru dengan siswa dan kurangnya pema-
lajaran teacher-centered. Akibatnya, siswa haman guru terhadap siswa secara individu.
kurang berminat dan bergairah dalam mengikuti Selain itu, disebabkan juga oleh kurangnya

| 229
Jurnal Kelola Vol.2, No.2, Juli-Desember 2015

pendekatan interpersonal guru dengan siswa. guru kurang mengadakan pendekatan


Guru harus dapat mengaplikasikan prinsip- interpersonal dengan siswa, dan f) guru
prinsip manajemen kelas seperti hangat, kurang percaya bahwa siswa sekolah dasar
antusias, variasi, dan lainnya. Solusi yang kedua dapat disiplin dan teratur.
adalah guru dapat memanfaatkan waktu break 2. Alternatif solusi yang dapat diaplikasikan
time yang biasanya dilaksanakan dua kali untuk mengatasi ketidakefektifan mana-
dalam satu hari untuk melakukan pendekatan jemen kelas yaitu guru mereview kembali
personal pada siswa. Guru dapat memberi RPH dan RPP dengan penyesuaian agihan
perhatian serta menggali latar belakang siswa, waktu, guru menerapkan sistem reward
cara bersosialisasi, maupun mencari tahu and punishment juga metode peer-
kesulitan belajar yang dihadapi di sekolah. teaching dalam kelas, kepala sekolah
Guru-guru dalam kelas sering mela- mewajibkan fun learning dalam kelas serta
kukan inkonsistensi dalam penegakan disiplin melakukan supervisi, guru menggunakan
dalam kelas karena kurangnya kepercayaan alternatif penyampaian materi, guru
guru terhadap siswa. Guru kurang percaya mereview kembali urgensi manajemen kelas
bahwa siswa sekolah dasar dapat disiplin dan serta mendiskusikan strategi manajemen
teratur. Akibatnya, toleransi lebih sering kelas dengan kolega maupun senior, guru
diberikan oleh guru kepada siswa bahkan sering mengaplikasikan prinsip-prinsip manaje-
tindakan indisipliner siswa dibiarkan terjadi men kelas serta memanfaatkan break time
dalam kelas. Solusi untuk akar permasalahan untuk melakukan pendekatan personal
terakhir adalah guru harus konsisten dalam pada siswa.
penegakan kedisiplinan dalam kelas. Selain itu,
Saran
guru juga harus mengembangkan hubungan
Berdasarkan hasil analisis pada pene-
saling mempercayai dengan siswa. Dengan dasar
litian ini, berikut ini dikemukakan saran yang
inilah, guru dapat yakin untuk melaksanakan
dapat dijadikan pertimbangan bagi kepala
manajemen kelas efektif agar tujuan yang telah
sekolah dan guru untuk mencapai tujuan
ditetapkan dapat dicapai.
manajemen kelas efektif.
SIMPULAN DAN SARAN 1. Guru diharapkan dapat mengembangkan
Simpulan tugas dan tanggung jawabnya yang dapat
dilakukan dengan membangkitkan inner
Berdasar pada hasil analisis dalam pe- motivation dan self-awareness sebagai
nelitian dapat disimpulkan bahwa : seorang guru. Guru diharapkan dapat
1. Terdapat 6 (enam) akar permasalahan memperkaya pengetahuan melalui internet,
dalam pengaturan kondisi emosional dan buku dan sumber lainnya untuk dapat me-
sosio-emosional yaitu: a) guru belum fokus nambah pengetahuan mengenai manajemen
pada siswa secara individu namun pada kelas efektif yang dilakukan sekolah lain
penyelesaian kurikulum, b) keberadaan atau bahkan sekolah di luar negeri. Konsis-
siswa ABK yang memiliki learning pace tensi dan kepercayaan dalam melakukan
berbeda dengan siswa lain, c) belum adanya semua yang telah dirancang atau dituju juga
tuntutan dari kepala sekolah mengenai fun harus dimiliki oleh guru agar tujuan atau
learning dalam kelas, d) guru kurang solusi yang telah diusulkan bersama dapat
pengetahuan akan manajemen kelas, e)

230 |
Analisis Akar Masalah Ketidakefektifan Manajemen Kelas di Sekolah Dasar | Hilda S.Momongan & Supramono

dilaksanakan dan manajemen kelas efektif DAFTAR PUSTAKA


dapat terwujud.
Arikunto, S. 2006. Pengelolaan Kelas dan
2. Kepala sekolah diharapkan dapat mem- Siswa: Sebuah Pendekatan Evaluatif.
bantu guru dalam meningkatkan keefektifan Jakarta: Rajawali.
manajemen kelasnya dengan cara mereview
Cooper, J.M. 1995. Classroom Teaching
RPP maupun RPH yang telah dibuat guru,
Skills. A Handbook. Lexingtong: De
melakukan supervisi dalam kelas, dan juga Health and Coy.
mewajibkan guru mengaplikasikan fun
learning dalam kelas. Selain itu, kepala Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen. 1996.
Pengelolaan Kelas, Seri Peningkatan
sekolah dapat mengembangkan sistem
Mutu 2. Jakarta: Depdagri dan
penghargaan kepada guru kreatif dalam
Depdikbud.
PBM sehingga guru terpacu untuk meng-
aplikasikan pembelajaran menyenangkan Djamarah, S.B. 2006. Strategi Belajar
dalam kelas. Kepala sekolah juga dapat Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
memfasilitasi para guru untuk mengadakan Entang & Joni. 1983. Pengelolaan Kelas,
workshop mengenai fun learning. Dengan Proyek Pengembangan Lembaga
adanya bantuan serta supervisi dari kepala Pendidikan Tenaga Kependidikan.
sekolah diharapkan manajemen kelas yang Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud
dilakukan guru dapat berhasil sesuai dengan Entang, Joni & Prayitno. 1985. Pengelolaan
tujuan. Kelas, Proyek Pengembangan Lembaga
3. Penelitian ini tidak terlepas dari keter- Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud
batasan dan kekurangan yang dimiliki oleh
peneliti. Berbagai keterbatasan ini dapat Ishikawa, K. 1985. Pengendalian Mutu
diperbaiki dalam penelitian yang akan Terpadu. Bandung: Remaja Rosdakarya
datang. Dalam penelitian ini tidak melibat- Mulyasa. 2006.Kurikulum Berbasis Kompetensi.
kan kepala sekolah dan orang tua siswa Bandung: Remaja Rosdakarya.
sehingga belum ditelusuri lebih lanjut Rukmana & Suryana. 2009. Manajemen
mengenai hubungan signifikan banyaknya Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
permasalahan emosional siswa di sekolah
Rusydie, Salman. 2011. Prinsip-Prinsip
dengan latar belakang yang mendasari
Manajemen Kelas. Yogyakarta: Diva
munculnya perilaku-perilaku mengganggu/
Press.
menyimpang yang dilakukan misbehavior
students. Selain itu, peneliti melihat dan Slameto. 2013. Implementasi, Eksplorasi,
Elaborasi, dan Konfirmasi Dalam
meneliti lima sekolah secara bersamaan
Pembelajaran Guna Meningkatkan
sehingga hasil penelitian kurang detail
Kompetensi Pedagogik Guru SD.
dibandingkan jika hanya meneliti satu atau
Salatiga: Tisara Grafika.
dua sekolah.
Sudirman, dkk, 1991. Ilmu Pendidikan.
Bandung: Remaja

| 231