You are on page 1of 22

A.

Latar Belakang
Kwashiorkor ialah suatu keadaan kekurangan gizi ( protein ). Walaupun sebab utama
penyakit ini adalah defisiensi protein, tetapi karena bahan makanan yang dimakan kurang
mengandung nutrisi lainnya ditambah dengan konsumsi setempat yang berlainan, maka akan
terdapat perbedaan gambaran kwashiorkor di berbagai negara.
Selain oleh pengaruh negatif faktor sosial ekonomi, budaya yang berperan terhadap
kejadian malnutrisi umumnya, keseimbangan nitrogen yang negatif dapat pula disebabkan
oleh diare kronik, malabsorpsi protein, hilangnya protein melalui air kemih (sindrom
nefrotik), infeksi menahun, luka bakar dan penyakit hati.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui zat gizi yang dibutuhkan pada tumbuh kembang anak normal
2. Untuk mengetahui pemberian asupan makanan yang seimbang untuk anak
3. Untuk mengetahui kelainan yang timbul bila terjadi kekurangan satu atau lebih zat gizi
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan penyakit kwashiorkor ?
2. Bagaimanakah gejala-gejala dari penyakit kwashiorkor ?
3. Apa sajakah penyebab dari penyakit kwashiorkor ?
4. Bagaimanakah proses metabolisme protein pada penderita kwashiorkor ?
5. Bagaimanakah cara mencegah dan mengobati penyakit kwashiorkor ?

C. Tujuan
Agar dapat mengetahui suatu penyakit, yaitu penyakit kwashiorkor yang salah
satunya disebabkan karena kekurangan protein.
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Kesehatan secara Umum


a) Pengertian Kesehatan
Pengertian kesehatan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1948
menyebutkan bahwa pengertian kesehatan adalah sebagai “suatu keadaan fisik, mental, dan
sosial kesejahteraan dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau kelemahan”
Pada tahun 1986, WHO, dalam Piagam Ottawa untuk Promosi Kesehatan,
mengatakan bahwa pengertian kesehatan adalah “sumber daya bagi kehidupan sehari-hari,
bukan tujuan hidup Kesehatan adalah konsep positif menekankan sumber daya sosial dan
pribadi, serta kemampuan fisik.
Adapun pengertian kesehatan menurut Undang-Undang adalah:
 Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap
orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
 Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang
dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat.
 Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta
memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang
untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan
 Sarana kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan.
 Kesehatan adalah sesuatu yang sangat berguna.
 Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan
yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan
persalinan.
 Pendidikan kesehatan adalah proses membantu sesorang, dengan bertindak secara sendiri-
sendiri ataupun secara kolektif, untuk membuat keputusan berdasarkan pengetahuan
mengenai hal-hal yang memengaruhi kesehatan pribadinya dan orang lain.
Jadi, pengertian kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pemeliharaan
kesehatan adalah upaya penaggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang
memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan
persalinan. Pendidikan kesehatan adalah proses membantu sesorang, dengan bertindak secara
sendiri-sendiri ataupun secara kolektif, untuk membuat keputusan berdasarkan pengetahuan
mengenai hal-hal yang memengaruhi kesehatan pribadinya dan orang lain.
b) Tujuan Kesehatan
Salah satu tujuan nasional adalah memajukan kesejahteraan bangsa, yang berarti
memenuhi kebutuhan dasar manusia, yaitu pangan, sandang,pangan, pendidikan,
kesehatan, lapangan kerja dan ketenteraman hidup. Tujuan pembangunan kesehatan adalah
tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk, jadi tanggung jawab untuk
terwujudnya derajat kesehatan yang optimal berada di tangan seluruh masyarakat
Indonesia, pemerintah dan swasta bersama-sama.
c) Aspek-Aspek Kesehatan
Pada dasarnya kesehatan itu meliputi empat aspek, antara lain :
A. Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak
adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh
berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.
B. Kesehatan mental (jiwa) mencakup 3 komponen, yakni pikiran, emosional, dan spiritual.
 Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran.
 Emosional sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya,
misalnya takut, gembira, kuatir, sedih dan sebagainya.
 Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian,
kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha
Kuasa
C. Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau
kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayan, status
sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan menghargai.
D. Kesehatan dari aspek ekonomi terlihat bila seseorang (dewasa) produktif, dalam arti
mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong terhadap hidupnya
sendiri atau keluarganya secara finansial.
Bagi mereka yang belum dewasa (siswa atau mahasiswa) dan usia lanjut (pensiunan), dengan
sendirinya batasan ini tidak berlaku. Konsep Sehat dan Sakit

BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kwashiorkor
Kwashiorkor ialah gangguan yang disebabkan oleh kekurangan protein ( Ratna
Indrawati,1994). Kwashiorkor ialah defisiensi protein yang disertai defisiensi nutrien lainnya
yang biasa dijumpai pada bayi masa disapih dan anak prasekolah (balita). (Ngastiyah, 1995).
Kwashiorkor adalah satu bentuk malnutrisi yang disebabkan oleh defisiensi protein
yang berat bisa dengan konsumsi energi dan kalori tubuh yang tidak mencukupi kebutuhan.
Kwashiorkor atau busung lapar adalah salah satu bentuk sindroma dari gangguan yang
dikenali sebagai Malnutrisi Energi Protein (MEP) Dengan beberapa karakteristik berupa
edema dan kegagalan pertumbuhan,depigmentasi,hyperkeratosis.
Jadi, Kwashiorkor yaitu keadaan kekurangan protein yang parah dan pemasukan
kalori yang kurang.
B. Gejala-gejala Penyakit Kwashiorkor
1. Edema umumnya di seluruh tubuh terutama pada kaki (dorsum pedis)
2. Wajah membulat dan sembab
3. Otot-otot mengecil (penurunan massa otot)
4. Perubahan status mental: cengeng, rewel kadang apatis, lethargia, iritabilitas
5. Anak sering menolak segala jenis makanan (anoreksia)
6. Pembesaran hati
7. Sering disertai infeksi, anemia, gangguan fungsi ginjal dan diare/mencret
8. Rambut berwarna kusam dan mudah dicabut
9. Gangguan kulit berupa bercak merah yang meluas dan berubah menjadi hitam terkelupas
(crazy pavement dermatosis)
10. Pandangan mata anak nampak sayu
11. Gagal untuk menambah berat badan
12. Pertumbuhan linier terhenti
13. Pada keadaan berat / akhir dapat menngakibatkan shock, coma dan berakhir dengan
kematian.
C. Penyebab penyakit Kwashiorkor
1. Pola makan
Protein (dan asam amino) adalah zat yang sangat dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang. Meskipun
intake makanan mengandung kalori yang cukup, tidak semua makanan mengandung protein/ asam amino yang
memadai. Bayi yang masih menyusui umumnya mendapatkan protein dari ASI yang diberikan ibunya, namun
bagi yang tidak memperoleh ASI protein adri sumber-sumber lain (susu, telur, keju, tahu dan lain-lain)
sangatlah dibutuhkan. Kurangnya pengetahuan ibu mengenai keseimbangan nutrisi anak berperan penting
terhadap terjadi kwashiorkhor, terutama pada masa peralihan ASI ke makanan pengganti ASI.
2. Faktor sosial
Hidup di negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, keadaan sosial dan politik tidak stabil, ataupun
adanya pantangan untuk menggunakan makanan tertentu dan sudah berlansung turun-turun dapat menjadi hal
yang menyebabkan terjadinya kwashiorkor.
3. Faktor ekonomi
Kemiskinan keluarga/ penghasilan yang rendah yang tidak dapat memenuhi kebutuhan berakibat pada
keseimbangan nutrisi anak tidak terpenuhi, saat dimana ibunya pun tidak dapat mencukupi kebutuhan
proteinnya.
4. Faktor infeksi dan penyakit lain
Telah lama diketahui bahwa adanya interaksi sinergis antara MEP dan infeksi. Infeksi derajat apapun dapat
memperburuk keadaan gizi. Dan sebaliknya MEP, walaupun dalam derajat ringan akan menurunkan imunitas
tubuh terhadap infeksi.
D. Metabolisme Protein Penderita
Definisi kwashiorkor adalah satu bentuk malnutrisi yang disebabkan oleh defisiensi
protein yang berat bisa dengan konsumsi energi dan kalori tubuh yang tidak mencukupi
kebutuhan. Kwashiorkor atau busung lapar adalah salah satu bentuk sindroma dari gangguan
yang dikenali sebagai Malnutrisi Energi Protein (MEP) Dengan beberapa karakteristik berupa
edema dan kegagalan pertumbuhan,depigmentasi,hyperkeratosis.
Penyakit ini merupakan bentuk malnutrisi paling banyak didapatkan di dunia ini, pada
dewasa ini,terutama sekali pada wilayah-wilayah yang masih terkebelakangan bidang
industrinya.
Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Cicely D. Williams pada rangkaian
saintifik internasional melalui artikelnya Lancet 1935 (1,9). Beliau pada tahun 1933
melukiskan suatu sindrom tersebut berhubungan dengan defisiensi dari nutrien apa. Akhirnya
baru diketahui defisiensi protein menjadi penyebabnya.
Walaupun sebab utama penyakit ini ialah defisiensi protein, tetapi karena biasanya
bahan makanan yang dimakan itu juga kurang mengandung nutrien lainnya, maka defisiensi
protein disertai defisiensi kalori sehingga sering penderita menunjukkan baik gejala
kwashiorkor maupun marasmus.
ETIOLOGI
Kwashiorkor paling seringnya terjadi pada usia antara 1-4 tahun ,namun dapat pula
terjadi pada bayi .Kwashiorkor yang mungkin terjadi pada orang dewasa adalah sebagai
komplikasi dari parasit atau infeksi lain.
Banyak hal yang menjadi penyebab kwashiorkor, namun faktor paling mayor adalah
menyusui, yaitu ketika ASI digantikan oleh asupan yang tidak adekuat atau tidak seimbang.
Setelah usia 1 tahun atau lebih ,kwashiorkor dapat muncul bahkan ketika kekurangan bahan
pangan bukanlah menjadi masalahnya, tetapi kebiasaan adat atau ketidak tahuan (kurang nya
edukasi) yang menyebabkan penyimpangan keseimbangan nutrisi yang baik.
Walaupun kekurangan kalori dan bahan-bahan makanan yang lain memepersulit pola-
pola klinik dan kimiawinya, gejala-gejala utama malnutrisi protein disebabkan oleh
kekurangan pemasukan protein yang mempunyai nilai biologik yang baik.Bisa juga terdapat
gangguan penyerapan protein,misalnya yang dijumpai pada keadaan diare kronik,kehilangan
protein secara tidak normal pada proteinuria (nefrosis), infeksi,perdarahan atau luka-luka
bakar serta kegagalan melakukan sintesis protein , seperti yanga didapatkan pula pada
penyakit hati yang kronis.
E. Mencegah dan Mengobati Penderita Kwashiorkor
Pengobatannya dengan cara:
1.DIIETIK
- Makanan TKTP = 1 setengah x kebutuhan normal
Kebutuhan normal
0-3 tahun : 150 – 175 kcal/kg/hari, diberikan bertahap
Mg I : Fase stabilisasi (75% - 80% kebutuhan normal)
Protein : 1 - 1,5 gram/kgBB/hari
Mg II : Fase transisi ( 150% dari kebutuhan normal)
Protein : 2 - 3 gram/kgBB/hari
Mg III : Fase rehabilitasi ( 150 – 200% kebutuhan normal)
Protein : 4 - 6garm/kgBB/hari
2.PENAMBAHAN SUPLEMENTASI VITAMIN
Vitamin A → 1 tahun : 200.000 SI (1 kali dalam 6 bulan)
Vitamin D + B kompleks + C
3 .MINERAL
- Jumlah cairan : 130 – 200 ml/kg/BB/hari (per oral / NGT)
- Kalau edem dikurangi
- Porsi kecil tetapi sering
Pencegahannya dapat berupa diet adekuat dengan jumlah-jumlah yang tepat dari
karbohidrat, lemak (minimal 10% dari total kalori), dan protein (12 % dari total kalori).
Sentiasa mengamalkan konsumsi diet yang seimbang dengan cukup karbohidrat, cukup
lemak dan protein bisa mencegah terjadinya kwashiorkor. Protein terutamanya harus
disediakan dalam makanan. Untuk mendapatkan sumber protein yang bernilai tinggi bisa
didapatkan dari protein hewan seperti susu, keju, daging, telur dan ikan. Bisa juga
mendapatkan protein dari protein nabati seperti kacang ijo dan kacang kedelai.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kwashiorkor adalah salah satu penyakit gangguan gizi yang disebabkan rendahnya
asupan karbohidrat dan protein dalam makanan sehari-hari.

B. Saran
Agar lebih memperhatikan pola makan dan istirahat kita, agar terhindar dari penyakit
kwashiorkor.
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kwarsiorkor merupakan salah satu masalah gizi utama
di Indonesia. Kwarsiorkor disebabkan karena defisiensi makronutrient (zat gizi makro).
Meskipun sekarang ini terjadi permasalahan pada status gizi dari defisiensi makronutrient
kwarsiorkorada defisiensi mikronutrient, tetapi beberapa daerah di indonesia
prevalensi kwarsiorkormasih tinggi (> 30%) sehingga memerlukan penanganan intensif
dalam upaya penurunan prevalensi kwarsiorkor. Kwashiorkor atau yang biasa
disebut busung lapar adalah sindrom klnis akibat dari defisiensi protein berat dan masukan
kalori tidak cukup. Akibat defisiensi vitamin dan mineral dapat menimbulkan tanda dan
gejala seperti tinggi dan berat bedan tidak sesuai dengan anak seusianya dari kekurangan
masukan atau dari kehilangan yang berlebihan atau kenaikan angka metabolik yang
disebabkan oleh infeksi kronik. Walaupun penambahan tinggi dan berat dipercepat dengan
pengobatan, ukuran ini tidak akan pernah sama dengan tinggi dan berat badan anak yang
secara tetap bergizi baik.
Penyakit akibat kwarsiorkor ini dikenal dengan kwashiorkor. Kwashiorkor disebabkan
karena kurang protein. Adapun yang menjadi penyebab langsung
terjadinya kwarsiorkor adalah konsumsi yang kurang dalam jangka waktu yang lama. Pada
orang dewasa, kwarsiorkor timbul pada anggota keluarga rumahtangga miskin olek karena
kelaparan akibat gagal panen atau hilangnya mata pencaharian. Bentuk berat
dari kwarsiorkor di beberapa daerah di Indonsia kwarsiorkor pernah dikenal sebagai penyakit
busung lapar atau ho (honger oedeem). Oleh karena itu, penting bagi perawat untuk
mempelajari penyakit kwashiorkor pada anak.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana pengertian kwarshiorkor?
1.2.2 Bagaimana epidemiologi kwarshiorkor?
1.2.3 Bagaimana klasifikasi kwarshiorkor?
1.2.4 Bagaimana etiologi kwarshiorkor?
1.2.5 Bagaimana tanda dan gejala kwarshiorkor?
1.2.6 Bagaimana manifestasi klinis kwarshiorkor?
1.2.7 Bagaimana patofisiologi kwarshiorkor?
1.2.8 Bagaimana komplikasi dan prognosis kwarshiorkor?
1.2.9 Bagaimana pemeriksaan penunjang kwarshiorkor?
1.2.10 Bagaimana penatalaksanaan kwarshiorkor?
1.2.11 Bagaimana pencegahan kwarshiorkor?
1.2.12 Bagaimana asuhan keperawatan pada anak dengankwarshiorkor?

1.3 Tujuan dan Manfaat


Dari rumusan masalah yang telah disebutkan, penulis kembali menetapkan tujuan dan
manfaat penulisan makalah ini di antaranya:
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian kwarshiorkor.
1.3.2 Untuk mengetahui epidemiologi kwarshiorkor.
1.3.3 Untuk mengetahui klasifikasi kwarshiorkor.
1.3.4 Untuk mengetahui etiologi kwarshiorkor.
1.3.5 Untuk mengetahui tanda dan gejala kwarshiorkor.
1.3.6 Untuk mengetahui manifestasi klinis kwarshiorkor.
1.3.7 Untuk mengetahui patofisiologi kwarshiorkor.
1.3.8 Untuk mengetahui komplikasi dan prognosis kwarshiorkor.
1.3.9 Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang kwarshiorkor.
1.3.10 Untuk mengetahui penatalaksanaan kwarshiorkor.
1.3.11 Untuk mengetahui pencegahan kwarshiorkor.
1.3.12 Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada anak dengankwarshiorkor.

1.4 Implikasi Keperawatan


Manfaat dalam keperawatan adalah dengan adanya makalah ini di harapkan perawat
akan memahami mengenai pengertian, epidemiologi, klasifikasi, etiologi, tanda dan gejala,
manifestasi klinis, patofisiologi, komplikasi dan prognosis, pemeriksaan penunjang,
penatalaksanaan, pencegahan, serta asuhan keperawatan terhadap anak
dengankwarshiorkor agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap tindakan yang akan di
lakukan oleh perawat terhadap klien.

BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kwashiorkor


Kwashiorkor adalah sindrom klnis akibat dari defisiensi protein berat dan masukan
kalori tidak cukup. Akibat defisiensi vitamin dan mineral dapat menimbulkan tanda dan
gejala seperti tinggi dan berat bedan tidak sesuai dengan anak seusianya dari kekurangan
masukan atau dari kehilangan yang berlebihan atau kenaikan angka metabolik yang
disebabkan oleh infeksi kronik. Walaupun penambahan tinggi dan berat dipercepat dengan
pengobatan, ukuran ini tidak akan pernah sama dengan tinggi dan berat badan anak yang
secara tetap bergizi baik (Behrman et all, 2000). Kwashiorkor ialah gangguan yang
disebabkan oleh kekurangan protein (Ratna Indrawati, 1994). Kwashiorkor juga disebut
sebagai defisiensi protein yang disertai defisiensi nutrien lainnya yang biasa dijumpai pada
bayi masa disapih dan anak prasekolah (balita) (Ngastiyah, 1997). Kwashiorkor atau busung
lapar adalah salah satu bentuk sindroma dari gangguan yang dikenali sebagai Malnutrisi
Energi Protein (MEP).
Kwashiorkor atau biasa lebih dikenal “busung lapar", pertama kali diperkenalkan oleh
Dr Cecile Williams pada tahun 1933 ketika ia berada di Gold Coast, Afrika. Saat itu, Dr
Cecile Williams banyak menemui anak-anak mengalami gejala busung lapar atau
kwashiorkor. Istilah kwashiorkor berasal dari bahasa setempat yang artinya “penyakit anak
pertama yang timbul begitu anak kedua muncul". Dari beberapa pengertian diatas dapat
disimpulkan bahwa kwashiorkor adalah satu bentuk malnutrisi yang disebabkan oleh
defisiensi protein yang berat akibat mengkonsumsi energi dan kalori tubuh yang tidak
mencukupi kebutuhan. Defisiensi protein sangat parah meskipun konsumsi energi atau kalori
tubuh mencukupi kebutuhan.

2.2 Epidemiologi
Kwashiorkor paling sering terjadi di negara yang belum berkembang atau masih
dalam garis kemiskinan. Negara-negara yang paling sering terdeteksi penyakit ini adalah
negara-negara di benua Afrika. Kwashiorkor cenderung terjadi di negara-negara dimana serat
dan makanan digunakan untuk menyapih bayi (misalnya umbi jalar, singkong, beras, kentang
dan pisang) sedikit mengandung protein dan sangat banyak mengandung zat tepung, misalnya
di pedesaan Afrika, kepulauan Karibia, kepulauan Pasifik, Amerika Tengah, Amerika
Selatan, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Masyarakat yang berpenghasilan rendah jarang
mengkonsumsi protein yang bermutu baik terutama pada bahan makanan yang berasal dari
hewan seperti protein, susu, keju, telur, daging, dan ikan karena harganya yang mahal.
Biasanya, kwashiorkor ini lebih banyak menyerang bayi dan balita pada usia enam
bulan sampai tiga tahun. Usia paling rawan terkena defisiensi ini adalah dua tahun. Pada usia
itu berlangsung masa peralihan dari ASI ke pengganti ASI atau makanan sapihan.

2.3 Klasifikasi
Klasifikasi MEP ditetapkan dengan perbandingan berat badan terhadap umur anak
sebagai berikut.
a. Berat badan 60-80% standar tanpa edema : gizi kurang (MEP ringan).
b. Berat badan 60-80% standar dengan edema : kwashiorkor (MEP berat).
c. Berat badan <60% standar tanpa edema : marasmus (MEP berat).
d. Berat badan <60% standar dengan edema : marasmik kwashiorkor
(MEP berat)

2.4 Etiologi
Kwashiorkor terjadi karena adanya defisiensi protein pada anak karena kandungan
karbohidrat makanan tersebut tinggi, tapi mutu dan kandungan proteinnya sangat
rendah.Faktor yang paling mungkin adalah menyusui, ketika ASI digantikan oleh asupan
yang tidak adekuat atau tidak seimbang. Selain makanan yang tidak mengandung protein,
penyakit kwashiorkor juga dapat ditimbulkan karena gangguan penyerapan protein, misalnya
pada keadaan diare kronik, kehilangan protein secara tidak normal pada proteinuria
(nefrosis), infeksi, perdarahan atau luka-luka bakar, serta kegagalan melakukan sintesis
protein pada penyakit hati yang kronis. Kompartemen protein visceral akan mengalami
deplesi yang lebih parah pada kwashiorkor. Kehilangan kompartemenprotein visceral yang
nyata pada kwashiorkor akan menimbulkan hipoalbuminemia sehingga terjadi edema yang
menyeluruh atau edema dependen.
Faktor yang dapat menyebabkan inadekuatnya intake protein antara lain sebagai
berikut.
a. Pola makan
Protein (asam amino) sangat dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang. Kurangnya
pengetahuan ibu mengenai keseimbangan nurisi anak akan berperan penting terhadap
terjadinya Kwashiorkor, terutama pada masa peralihan ASI ke makanan pengganti ASI.
b. Faktor sosial
Negara dengan tingkat penduduk tinggi, keadaan sosial dan politik yang tidak stabil, atau
adanya pantangan untuk makan makanan tertentu dapat menyebabkan terjadinya
Kwashiorkor.
c. Faktor ekonomi
Penghasilan yang rendah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan berakibat pada
keseimbangan nutrisi anak yang tidak terpenuhi.
d. Faktor infeksi dan penyakit lain
Infeksi dan MEP saling berhubungan. Infeksi dapat memperburuk keadaan gizi. MEP akan
menurunkan imunitas tubuh terhadap infeksi. Misalnya, gangguan penyerapan protein karena
diare.

2.5 Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala yang terjadi pada anak dengan Kwashiorkor antara lain sebagai
berikut.
a. Edema, umunya seluruh tubuh terutama pada punggung kaki (dorsum pedis).
b. Wajah membulat dan sembab.
c. Pandangan mata sayu.
d. Rambut tipis kemerahan seperti warna jagung, mudah di cabut tanpa rasa sakit dan rontok.
Anak yang rambutnya keriting dapat menjadi lurus.
e. Perubahan status mental, apatis, dan rewel.
f. Tidak nafsu makan.
g. Pembesaran Hati.
h. Otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata diperiksa pada posisi berdiri atau duduk.
i. Warna kulit pucat.
j. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat
kehitaman dan terkelupas (crazy pavement dermatosis).
k. Sering disertai: penyakit infeksi, umumnya akut; anemia; dan diare.
2.6 Manifestasi Klinis
Pada awalnya, bukti klinik awal malutrisi protein tidak jelas tetapi meliputi letargi,
apatis, atau iritabilitas. Hal ini dapat mengakibatkan pertumbuhan tidak cukup, kurang
stamina, kehilangan jaringan muskuler, bertambahnya kerentanan terhadap infeksi, dan
udem. Salah satu manifestasi yang paling serius dan konstan adalah imunodefisiensi
sekunder. Misalnya, campak dapat memburuk dan mematikan pada anak malnutrisi. Pada
anak dapat terjadi anoreksia, kekenduran jaringan subkutan, dan kehilangan tonus otot. Hati
membesar dapat terjadi awal atau lambat serta sering terjadi infiltrasi lemak. Udem biasanya
terjadi di awal, penurunan berat badan yang dapa dilihat pada muka dan tungkai. Aliran
plasma ginjal, angka filtrasi glomerulus, dan fungsi tubuler ginjal menurun. Manifestasi klinis
yang lain adalah dermatitis. Penggelapan kulit tampak pada daerah yang teriritasitetapi tidak
ada pada daerah yang terpapar sinar matahari. Penyebaran rambut jarang dan tipis serta
kehilangan sifat elastisitasnya. Pada anakyang berambut hitam, dispigmentasi menyebabkan
warna merah atau abu-abu seperti coretan pada rambut (hipokromtrichia). Rambur menjadi
kasar pada fase kronik. Anak juga mengalami anoreksi, muntah, dan diare terus menerus.
Otot menadi lemah, tipis dan atrofi, tetapi kadang-kadang mungkin ada kelebihan lemak
subkutan. Perubahan mental tertama iritabilitas dan apati sering terjadi.
Perubahan-perubahan pada kwashiorkor sebagai berikut.
a. Wujud umum: secara umum, penderita kwashiorkor tampak pucat, kurus, atrofi pada
ekstremitas, adanya edema pedis dan pretibial serta asites. Muka penderita seperti moon
faceakibat terjadinya edema.
b. Retardasi pertumbuhan: gejala yang paling penting adalah pertumbuhan yang terganggu.
Selain berat badan, tinggi badan juga kurang dibandingkan dengan anak sehat.
c. Perubahan mental: biasanya penderita cengeng, hilang nafsu makan, dan rewel. Pada stadium
lanjut bisa menjadi apatis. Kesadarannya juga bisa menurun dan anak menjadi pasif.
d. Edema: sebagian besar anak dengan Kwashiorkor ditemukan edema, baik ringan maupun
berat. Edemanya bersifat pitting. Edema terjadi bisa disebabkan hipoalbuminemia, gangguan
dinding kapiler, dan hormonal akibat dari gangguan eliminasi ADH.
e. Kelainan rambut: perubahan rambut sering dijumpai, baik mengenai bangunnya (texture)
maupun warnanya. Rambut kepala mudah tercabut tanpa rasa sakit. Pada penderita
kwashiorkor lanjut, rambut akan tampak kusam, halus, kering, jarang dan berubah warna
menjadi putih.
f. Kelainan kulit: kulit biasanya kering dengan menunjukkan garis-garis kulit yang lebih
mendalam dan lebar. Sering ditemukan hiperpigmentasi dan persisikan kulit. Pada sebagian
besar penderita ditemukan perubahan kulit yang khas untuk penyakit kwashiorkor,
yaitu crazy pavement dermatosis yang merupakan bercak-bercak putih atau merah muda
dengan tepi hitam ditemukan pada bagian tubuh yang sering mendapat tekanan, terutama bila
tekanan terus-menerus dan disertai kelembapan oleh keringat atau ekskreta, seperti pada fosa
politea, lutut, buku kaki, paha, lipat paha, pantat, dan sebagainya. Perubahan kulit demikian
dimulai dengan bercak-bercak kecil merah yang dalam waktu singkat bertambah dan menjadi
hitam. Pada suatu saat, bercak-bercak ini akan mengelupas dan memperlihatkan bagian-
bagian yang tidak mengandung pigmen dibatasi oleh tepi yang masih hitam oleh
hiperpigmentasi.
g. Kelainan gigi dan tulang: pada tulang penderita kwashiorkor didapatkan dekalsifikasi,
osteoporosis, dan hambatan pertumbuhan. Sering juga ditemukan caries pada gigi penderita.
h. Kelainan hati: pada biopsi hati ditemukan perlemakan, bisa juga ditemukan semua sela hati
mengandung vakuol lemak besar. Sering juga ditemukan tanda fibrosis, nekrosis, dan
infiltrasi sel mononukleus. Perlemakan hati terjadi akibat defisiensi faktor lipotropic.
i. Kelainan darah dan sumsum tulang: anemia ringan selalu ditemukan pada penderita
kwashiorkor. Bila disertai penyakit lain, terutama infestasi parasit (ankilostomiasis dan
amoebiasis) maka dapat dijumpai anemia berat. Anemia juga terjadi disebabkan kurangnya
nutrien yang penting untuk pembentukan darah seperti ferum dan vitamin B kompleks (B12,
folat, B6). Kelainan dari pembentukan darah dari hipoplasia atau aplasia sumsum tulang
disebabkan defisiensi protein dan infeksi menahun. Defisiensi protein juga menyebabkan
gangguan pembentukan sistem kekebalan tubuh, akibatnya terjadi defek umunitas seluler dan
gangguan sistem komplimen.
j. Kelainan pankreas dan kelenjar lain: di pankreas dan kebanyakan kelenjar lain seperti
parotis, lakrimal, saliva, dan usus halus terjadi perlemakan.
k. Kelainan jantung: bisa terjadi miodegenerasi jantung dan gangguan fungsi jantung
disebabkan hipokalemi dan hipmagnesemia.
l. Kelainan gastrointestinal: terjadi anoreksia sampai semua pemberian makanan ditolak dan
makanan hanya dapat diberikan dengan sonde lambung. Diare terdapat pada sebagian besar
penderita. Hal ini terjadi karena tiga masalah utama, yaitu berupa infeksi atau infestasi usus,
intoleransi laktosa, dan malabsorbsi lemak. Intoleransi laktosa disebabkan defisiensi laktase.
Malabsorbsi lemak terjadi akibat defisiensi garam empedu, konjugasi hati, defisiensi lipase
pankreas, dan atrofi villi mukosa usus halus.

2.7 Patofisiologi
Pada defesiensi protein murni tidak terjadi katabolisme jaringan yang
sangat berlebihan karena persediaan energi dapat dipenuhi oleh jumlah kalori dalam
dietnya. Kelainanan yang mencolok adalah gangguan metabolik dan perubahan sel yang
meyebabkan edema dan lemak dalam hati. Kekurangan protein dalam diet akan
terjadi karena kekurangan berbagai asam amino esensial dalam serum yang diperlukan untuk
sentesis dan metabolisme yang akan disalurkan ke jaringan otot. Semakin asam
amino berkurang dalam serum ini akan menyebabkan kurangnya produksi albumin oleh
hepar yang kemudian berakibat edema. Lemak dalam hati terjadi karena gangguan
pembentukan beta-lipoprotein sehingga transport lemak dari hati terganggu dan berakibat
terjadinya penimbunan lemak dalam hati.

2.8 Komplikasi dan Prognosis


Kwashiorkor yang tidak cepat diatasi akan mengakibatkan marasmus bahkan
marasmus-kwashiorkor. Anak akan mudah terserang infeksi, seperti diare, ISPA (infeksi
saluran pernapasan atas), TBC, polio, dan lain-lain.Lebih dari 40% anak-anak yang menderita
Kwashiorkor meninggal karena gangguan elektrolit, infeksi, hipotermia, dan kegagalan
jantung. Keterbelakangan mental yang bersifat ringan bisa menetap sampai anak mencapai
usia sekolah dan mungkin lebih. Anak dengan Kwashiorkor dapat terjadi penurunan IQ
secara permanen. Diperlukan waktu sekitar 2-3 bulan agar berat badan anak kembali ke berat
badan ideal.Komplikasi jangka pendek yang akan terjadi bagi penderita kwashiorkor adalah
diare, hipoglikemia, anemia, hipokalemia, shock, hipotermi, dehidrasi, gangguan fungsi vital,
gangguan keseimbangan elektrolit asam-basa, infeksi berat, serta hambatan penyembuhan
penyakit penyerta. Sedangkan komplikasi jangka panjang adalah tubuh pendek dan
berkurangnya potensi tumbuh kembang.

2.9 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada anak dengan Kwashiorkor antara
lain sebagai berikut.
a. Pemeriksaan laboratorium: 1) penurunan kadar albumin serum merupakan perubahan yang
paling khas. Pada stadium awal kekurangan makan sering terdapat ketonuria tetapi sering
menghilang pada stadium akhir; 2) glukosa dalam darah rendah; 3) ekskresi hidroksiprolin
urin yang berhubungan dengan kreatinin dapat turun; 4) asam amino esensial plasma turun
terhadap angka asam amino non esensial dan dapat menambah aminoasiduria; 5) defisiensi
kalium dan magnesium; 6) kadar kolesterol serum rendah; 7) angka amilase, esterase,
kolinesterase, transaminase, lipase, dan alkalin fosfatase serum turun; 8) penurunan aktivitas
enzim pankreas dan sanhin oksidase; 9) pertumbuhan tulang biasanya lambat; serta 10)
sekresi hormon pertumbuhan mungkin bertambah.
b. Pemeriksaan air kemih menunjukkan peningkatan ekskresi hidroksiprolin dan adanya amino
asidulia.
c. Pada biopsi hati ditemukan perlemakan ringan sampai berat, fibrosis, nekrosis, dan infiltrasi
sel mononuklear. Pada perlemakan berat hampir semua sel hati mengandung vakuol lemak
yang besar.
d. Pemeriksaan autopsi penderita kwashiorkor menunjukkan kelainan pada hampir semua organ
tubuh, seperti degenerasi otot jantung, osteoporosis tulang, atrofi vilus usus, atrofi sistem
limfoid, dan atrofi kelenjar timus.

2.10 Penatalaksanaan
Dalam mengatasi kwashiorkor adalah dengan memberikan makanan bergizi
secara bertahap. Bila bayi menderita kwashiorkor, maka bayi tersebut diberi susu yang
diencerkan. Secara bertahap keenceran susu dikurangi, sehingga suatu saat mencapai
konsistensi yang normal seperti susu biasa kembali. Jika anak sudah agak besar, bisa mulai
dengan makanan encer, kemudian makanan lunak (bubur) dan bila keadaan membaik, maka
baru diberikan makanan padat biasa. Dalam melaksanakan hal ini selalu diberikan
pengobatan sesuai dengan penyakit yang diderita. Bila keadaan kesehatan dan gizi sudah
mencapai normal, perlu diteruskan dengan imunisasi. Makanan yang dihidangkan diet tinggi
kalori, protein, cairan, vitamin, dan mineral. Bila diperlukan dilakukan pemberian cairan dan
elektrolit.

2.11 Pencegahan
Pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah anak terkena Kwashiorkor adalah
mencukupi kebutuhan protein yang lengkap dengan mengkonsumsi sumber protein yang
dikombinasikan antara sumber protein hewani dan sumber protein nabati sehingga saling
melengkapi jumlah protein yang harus dikonsumsi bayi setiap hari. Hal ini bergantung pada
umur, berat badan, jenis kelamin, mutu protein yang dikonsumsi, serta keadaan tertentu,
misalnya sedang sakit atau baru sembuh dari sakit, yang mengharuskan anak untuk
mengkonsumsi protein dalam jumlah yang lebih besar. Umumnya tingkat kebutuhan protein
anak dalam keadaan sehat normal membutuhkan sekitar 40-60 gram protein tiap hari. Ada
pula ahli yang menyebutkan konsumsi protein 1 gr/kgBB perhari. Anak diterapkan diet yang
seimbang dengan cukup karbohidrat, cukup lemak, dan protein untuk mencegah terjadinya
kwashiorkor. Untuk mendapatkan sumber protein yang bernilai tinggi bisa didapatkan dari
protein hewan seperti susu, keju, daging, telur dan ikan dan protein nabati seperti kacang
hijau dan kacang kedelei.
4.3 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul adalah:
1. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan asupan kalori dan protein
yang tidak adekuat.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan yang tidak
adekuat, anoreksia dan diare.
3. Gangguan kekurangan cairan berhubungan dengan intake cairan tidak adekuat.
4. Gangguan persepsi sensori (penglihatan) berhubungan dengan defisiensi vitamin A.
5. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan nutrisi atau status metabolik.
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan faktor sekunder akibat malnutrisi.
7. Kerusakan gigi berhubungan dengan penurunan asupan kalsium.
8. Diare berhubungan dengan inflamasi GI, malabsorbsi lemak.
9. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan mengenai penyakit.
10. Resiko infeksi berhubungan dengan daya tahan tubuh rendah.
11. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan nutrisi.
5.1 Kesimpulan
Kwashiorkor adalah sindrom klnis akibat dari defisiensi protein berat dan
masukan kalori tidak cukup. Akibat defisiensi vitamin dan mineral dapat menimbulkan
tanda dan gejala seperti tinggi dan berat bedan tidak sesuai dengan anak seusianya dari
kekurangan masukan atau dari kehilangan yang berlebihan atau kenaikan angka
metabolik yang disebabkan oleh infeksi kronik.Kwashiorkor paling sering terjadi di
negara yang belum berkembang atau masih dalam garis kemiskinan.Biasanya,
kwashiorkor ini lebih banyak menyerang bayi dan balita pada usia enam bulan sampai
tiga tahun. Usia paling rawan terkena defisiensi ini adalah dua tahun. Pada usia itu
berlangsung masa peralihan dari ASI ke pengganti ASI atau makanan sapihan.

5.2 Saran
Perawat harus mengetahui tanda dan gejala, komplikasi, pengobatan serta
asuhan keperawatan terhadap pasien yang menderita kwarshiorkor. Hal ini sangat
penting untuk diketahui oleh perawat dalam menjalankan asuhan keperawatan.
Karena jika nantinya salah dalam memberi penanganan, pasien akan
mengalamibeberapa perubahan, diantaranya perubahan mental.
DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Behrman, et all. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson, Vol. 1. E/15. Alih bahasa oleh Wahab.
Jakarta: EGC.

Brashers, Valentina L. 2007. Aplikasi Klinis Patofisiologi: Pemeriksaan dan


Manajemen. Jakarta: EGC.

Carpenito, Lynda Juall. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Jakarta : EGC.

Dongoes, M.E., Mary F.M., dan Alice C. G. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta:
EGC.

Davey, Patrick. 2005. At a Glance Medicine. Jakarta: Erlangga.

Gupte, Suraj. 2004. Panduan Perawatan Anak. Pustaka Populer Obor: Jakarta.

Kee, Joyce LeFever. 1997. Buku saku pemeriksaan laboratorium dan diagnostik dengan
implikasi keperawatan. Alih bahasa Easter Nurses. Editor Monica Ester. Jakarta: EGC.

Mitchell, Richard N, dkk. 2009. Buku Saku Dasar Patologis Penyakit Robbins & Cotran. EGC:
Jakarta.

NANDA International. 2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-


1014. Jakarta: EGC.

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. EGC: Jakarta.

Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan,Edisi Empat. Vol.1.
Jakarta:EGC.

Schwartz, M. William. 2005. Pedoman Klinis Pediatri.EGC: Jakarta.

Wong, Donna, L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik, Edisi Enam. Vol.1. Jakarta: EGC.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Yodium merupakan zat yang esensial bagi tubuh, karena
merupakan komponen dari hormon tiroksin. Terdapat dua ikatan organik yang menunjukkan
bioaktifitas hormon ini, ialah Triiodotironin (T3) dan Tetrajodotyronin (T4) yang terakhir disebut juga
tiroksin (Sediaoetama, 2006). Dalam tubuh terkandung sekitar 25 mg yodium yang tersebar dalam
semua jaringan tubuh. Kandungannya yang tinggi yaitu sekitar sepertiganya terdapat dalam kelenjar
tiroid dan yang relatif lebih tinggi dari itu ialah pada ovari, otot, dan darah. Zat mineral yodium
biasanya terdapat pada garam dapur yang tersedia bebas di pasaran, namun tidak semua jenis dan
merk garam dapur mengandung yodium. Hasil survei garam beriodium tahun 2005 menunjukkan
bahwa masih ada 13% garam yang digunakan oleh rumah tangga ternyata tidak mengandung
yodium. Sebanyak 16% garam yang digunakan rumah tangga di perdesaan dan 9% di perkotaan tidak
mengandung iodium. Garam tanpa iodium masih beredar di pasaran karena masih ada penjualan
langsung dari petani garam atau pedagang kecil (Direktorat Gizi Masyarakat dan Direktorat Statistik
Kesejahteraan Rakyat, 2005) dalam Kartono (2010). Yodium berperan penting untuk membantu
perkembangan kecedasan atau kepandaian pada anak. Yodium juga dapat membantu mencegah
penyakit gondok, gondong, atau gondongan. Yodium berfungsi untuk

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit Mump atau penyakit gondok telah dilaporkan hampir di seluruh belahan dunia, demikian
juga di Indonesia resiko anak terkena gondok mungkin masih tinggi. Gondok masih endemik di
banyak negara di seluruh dunia, sedangkan vaksin MMR digunakan hanya 57% dari negara-negara
yang menjadi anggota Organisasi Kesehatan Dunia, terutama di Negara-negara maju. Dalam Inggris
dan Wales, sebuah epidemi gondok yang dimulai pada 2005, telah dilaporkan 56.390 kasus
kematian.
Penyakit Gondok atau dalam dunia kedokteran dikenal sebagai parotitis atau Mumps adalah suatu
penyakit menular dimana sesorang terinfeksi oleh virus (Paramyxovirus) yang menyerang kelenjar
ludah (kelenjar parotis) di antara telinga dan rahang sehingga menyebabkan pembengkakan pada
leher bagian atas atau pipi bagian bawah.

Penyakit gondongan tersebar di seluruh dunia dan dapat timbul secara endemic atau epidemik,
Gangguan ini cenderung menyerang anak-anak yang berumur 2-14 tahun. Peningkatan kasus yang
besar biasanya didahului pada penularan di tempat sekolah. Pada orang dewasa, infeksi ini bisa
menyerang testis (buah zakar), sistem saraf pusat, pankreas, prostat, payudara dan organ lainnya

Adapun mereka yang beresiko besar untuk menderita atau tertular penyakit ini adalah mereka yang
menggunakan atau mengkonsumsi obat-obatan tertentu untuk menekan hormon kelenjar tiroid dan
mereka yang kekurangan zat Iodium dalam tubuh. Kematian karena penyakit gondong jarang
dilaporkan. Hampir sebagian besar jkasus yang fatal justru terjadi pada usia di atas 19 tahun.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana definisi dari penyakit gondok ?


2. Bagaimana penyebab penyakit gondok ?
3. Bagaimana gejala penyakit gondok ?
4. Bagaimana penularan penyakit gondok ?
5. Bagaimana diagnosis penyakit gondongk ?
6. Bagaimana pengobatan penyakit gondok ?
7. Bagaimana pencegahan penyakit gondok ?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui definisi dari penyakit gondok.


2. Untuk mengetahui penyebab penyakit gondok.
3. Untuk mengetahui gejala penyakit gondok.
4. Untuk mengetahui penularan penyakit gondok.
5. Untuk mengetahui klasifikasi dari Mumps virus.
6. Untuk mengetahui morfologi dari Mumps virus.
7. Untuk mengetahui diagnosis penyakit gondok.
8. Untuk mengetahui pengobatan penyakit gondok.
9. Untuk mengetahui pencegahan penyakit gondok.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Penyakit Gondok

Penyakit Gondok (Mumps atau Parotitis) adalah suatu penyakit menular dimana sesorang terinfeksi
oleh virus (Paramyxovirus) yang menyerang kelenjar ludah (kelenjar parotis) di antara telinga dan
rahang sehingga menyebabkan pembengkakan pada leher bagian atas atau pipi bagian bawah.

Penyakit gondok tersebar di seluruh dunia dan dapat timbul secara endemic atau epidemik,
Gangguan ini cenderung menyerang anak-anak yang berumur 2-12 tahun. Pada orang dewasa,
infeksi ini bisa menyerang testis (buah zakar), sistem saraf pusat, pankreas, prostat, payudara dan
organ lainnya.

B. Penyebab

Penyakit ini disebabkan oleh virus Mumps yaitu virus berjenis RNA virus yang merupakan anggota
famii Paramyxoviridae dan genus Paramyxovirus. Terdapat dua permukaan glikoprotein yang terdiri
dari hemagglutinin-neuraminidase dan fusion protein. Virus Mumps sensitive terhadap panas dan
sinar ultraviolet.

C. Gejala

Tidak semua orang yang terinfeksi oleh virus Paramyxovirus mengalami keluhan, bahkan sekitar 30-
40% penderita tidak menunjukkan tanda-tanda sakit (subclinical). Namun demikian mereka sama
dengan penderita lainnya yang mengalami keluhan, yaitu dapat menjadi sumber penularan penyakit
tersebut.

Masa tunas (masa inkubasi) penyakit gondong sekitar 12-24 hari dengan rata-rata 17-18 hari.
Adapun tanda dan gejala yang timbul setelah terinfeksi dan berkembangnya masa tunas dapat
digambarkan sdebagai berikut :

1. Pada tahap awal (1-2 hari) penderita Gondong mengalami gejala: demam (suhu
badan 38.5 – 40 derajat celcius), sakit kepala, nyeri otot, kehilangan nafsu makan, nyeri
rahang bagian
2. belakang saat mengunyah dan adakalanya disertai kaku rahang (sulit membuka
mulut).
3. Selanjutnya terjadi pembengkakan kelenjar di bawah telinga (parotis) yang diawali
dengan pembengkakan salah satu sisi kelenjar kemudian kedua kelenjar mengalami
pembengkakan.
4. Pembengkakan biasanya berlangsung sekitar 3 hari kemudian berangsur
mengempis.
5. Kadang terjadi pembengkakan pada kelenjar di bawah rahang (submandibula) dan
kelenjar di bawah lidah (sublingual). Pada pria akil balik adalanya terjadi pembengkakan buah
zakar (testis) karena penyebaran melalui aliran darah.

D. Penularan

Penyakit Gondok (Mumps atau Parotitis) penyebaran virus dapat ditularkan melalui kontak langsung,
percikan ludah, bahan muntah, mungkin dengan urin. Virus dapat ditemukan dalam urin dari hari
pertama sampai hari keempat belas setelah terjadi pembesaran kelenjar.

Penyakit gondok sangat jarang ditemukan pada anak yang berumur kurang dari 2 tahun, hal tersebut
karena umumnya mereka masih memiliki atau dilindungi oleh anti bodi yang baik. Seseorang yang
pernah menderita penyakit gondongan, maka dia akan memiliki kekebalan seumur hidupnya.

E. Diagnosis

Diagnosis dtegakkan hanya secara klinis. Diagnosis ditegakkan bila jelas ada gejala infeksi parotitis
epidemika pada pemeirksaan fisis, termasuk keterangan adanya kontak dengan penderita penyakit
gondok (Mumps atau Parotitis) 2-3 minggu sebelumnya. Selain itu adalah dengan tindakan
pemeriksaan hasil laboratorium air kencing (urin) dan darah.

1. Pemeriksaan Laboratorium

Mengingat penegakan diagnosis hanya secara klinis, maka pemeriksaan laboratorium tidak terlalu
bermanfaat. Pemeriksaan laboratorium didapatkan leucopenia dengan limfosiotsis relative,
didapatkan pula kenaikan kadar amylase dengan serum yang mencapai puncaknya setelah satu
minggu dan kemudian menjadi normal kembali dalam dua minggu.
Jika penderita tidak menampakkan pembengkakan kelenjar dibawah telinga, namun tanda dan gejala
lainnya mengarah ke penyakit gondok sehingga meragukan diagnosa. Dokter akan memberikan
anjuran pemeriksaan lebih lanjut seperti serum darah. Sekurang-kurang ada 3 uji serum (serologic)
untuk membuktikan spesifik mumps antibodies: Complement fixation antibodies (CF),
Hemagglutination inhibitor antibodies (HI), Virus neutralizing antibodies (NT).

Hampir semua anak yang menderita gondok akan pulih total tanpa penyulit, tetapi kadang gejalanya
kembali memburuk setelah sekitar 2 minggu. Keadaan seperti ini dapat menimbulkan komplikasi,
dimana virus dapat menyerang organ selain kelenjar liur. Hal tersebut mungkin terjadi terutama jika
infeksi terjadi setelah masa pubertas.

2. Komplikasi yang dapat terjadi adalah:

1. Orkitis : peradangan pada salah satu atau kedua testis dilaporkan terjadi pada 10-
20% penerita.. Setelah sembuh, testis yang terkena mungkin akan menciut. Jarang terjadi
kerusakan testis yang permanen sehingga terjadi kemandulan.
2. Ovoritis : peradangan pada salah satu atau kedua indung telus. Timbul nyeri perut
yang ringan dan jarang menyebabkan kemandulan.
3. Ensefalitis atau meningitis : peradangan otak atau selaput otak. Meningitis lebih
sering terjadi daripada ensefalitis. Gejalanya berupa sakit kepala, kaku kuduk, mengantuk,
koma atau kejang. 5-10% penderita mengalami meningitis dan kebanyakan akan sembuh
total. Gejala yang dapat terjadi adalah sakit kepala, demam, mual, muntah, dan
meningismus. Ditandai perubahan kesadaran atau gangguan kesadaran. Pleocytosis yang
terjadi pada cairan sumsum tulang. Dalam klinis didiagnosis meningoencephalitis, yaitu
gambaran cairan sumsum tulang mononuclear pleocytosis yang terjadi, gukosa tidak normal
dan hypoglycorrhachia. Virus gondok mungkin terisolasi dari cairan sumsum tulang pada
awal penyakit. Gondok meningoencephalitis membawakan prognosa yang baik dan biasanya
dikaitkan dengan pemulihan yang baik. Tetapi 1 diantara 400-6.000 penderita yang
mengalami enserfalitis cenderung mengalami kerusakan otak atau saraf yang permanen,
seperti ketulian atau kelumpuhan otot wajah.
4. Pankreatitis : peradangan pankreas, bisa terjadi pada akhir minggu pertama.
Penderita merasakan mual dan muntah disertai nyeri perut. Gejala ini akan menghilang
dalam waktu 1 minggu dan penderita akan sembuh total.
5. Nefritis atau Peradangan ginjal bisa menyebabkan penderita mengeluarkan air kemih
yang kental dalam jumlah yang banyak.
6. Peradangan sendi bisa menyebabkan nyeri pada satu atau beberapa sendi:

 Transient myelitis
 Polineuritis
 Infeksi otot jantung atau miokarditis
 Infeksi kelenjar tiroid
 Thrombocytopenia purpura
 Mastitis atau peradangan payudara
 Pnemonia atau Infeksi paru-paru ini juga pernah dilaporkan sebagai komplikasi pada
penderita penyakit gondong.
 Gangguan sensorineural telinga dan gangguan pendengaran

F. Pengobatan

Pengobatan ditujukan untuk mengurangi keluhan (simptomatis) dan istirahat selama penderita panas
dan kelenjar (parotis) membengkak. Dapat digunakan obat pereda panas dan nyeri (antipiretik dan
analgesik) misalnya Parasetamol dan sejenisnya, Aspirin tidak boleh diberikan kepada anak-anak
karena memiliki resiko terjadinya sindroma Reye (bisa karena pengaruh aspirin pada anak-anak).

Pada penderita yang mengalami pembengkakan testis, sebaiknya penderita menjalani istirahat tirah
baring ditempat tidur. Rasa nyeri dapat dikurangi dengan melakukan kompres Es pada area testis
yang membengkak tersebut.

Penderita yang mengalami serangan virus apada organ pancreas (pankreatitis), dimana
menimbulkan gejala mual dan muntah sebaiknya diberikan cairan melalui infus.

Pemberian kortikosteroid selama 2-4 hari dan 20 ml convalescent gammaglobulin diperkirakan dapat
mencegah terjadinya orkitis. Terhadap virus itu sendiri tidak dapat dipengaruhi oleh anti mikroba,
sehingga Pengobatan hanya berorientasi untuk menghilangkan gejala sampai penderita kembali baik
dengan sendirinya.

Penyakit gondongan sebenarnya tergolong dalam “self limiting disease” (penyakit yg sembuh sendiri
tanpa diobati). Penderita penyakit gondongan sebaiknya menghindarkan makanan atau minuman
yang sifatnya asam supaya nyeri tidak bertambah parah, diberikan diet makanan cair dan lunak.
Pemberian imunomodulator belum terdapat laporan penelitian yang menunjukkan efektifitasnya.

G. Pencegahan

Vaksinasi gondok merupakan bagian dari imunisasi rutin pada masa kanak-kanak. Vaksin gondong
biasanya terdapat dalam bentuk kombinasi dengan measles dan rubella (MMR), yang disuntikkan
melalui otot paha atau lengan atas.

Vaksin MMR diberikan secara kombinasi dan dipisahkan sekurang-kurangnya 28 hari. Dosis pertama
diberikan pada usia antara 12 dan 15 bulan, dosis yang kedua diberikan pada usia 4-6 tahun. Jika
dosis yang kedua ini lupa diberikan pada usia tersebut, dapat diberikan sebelum usia 12 tahun
(Wilson, 2001). Vaksin MMR adalah cara terbaik untuk mencegah gondong. Cara lain yang dapat
dilakukan untuk mencegah gondong adalah mengajarkan pola hidup bersih kepada anak seperti
mencuci tangan dengan baik dan menggunakan sabun serta membersihkan permukaan meja,
gagang pintu, mainan yang sering disentuh secara teratur dengan menggunakan sabun dan air, atau
dengan menggunakan tisu pembersih.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Mumps atau gondok disebabkan oleh paramyxovirus. Sebelum vaksin sekitar 50% anak-anak
mengalami gondok. Sekitar 200.000 kasus yang dilaporkan pada tahun 1964 sebelum pengenalan
vaksin dibandingkan dengan 291 kasus pada tahun 2005. Gejala yang terjadi pada penyakit Mumps
adalah meningkatnya suhu tubuh dan rasa ketidaknyamanan pada rahang, kemudian disertai dengan
pembengkakan kelenjar parotis. Seringkali terjadi pembengkakan yang tidak merata, satu sisi wajah
dahulu sebelum sisi yang lainnya. Suhu tubuh akan naik menjadi 40°C dan bengkaknya terasa nyeri.

Pencegahan penyakit gondok yang terbaik adalah dengan vaksin yang biasanya terdapat dalam
bentuk kombinasi dengan measles dan rubella (MMR). Cara lain yang dapat dilakukan yaitu :
mencuci tangan dengan baik dan menggunakan sabun, mengajarkan pola hidup bersih kepada anak,
tidak membagi peralatan makan, membersihkan permukaan meja, gagang pintu, mainan yang sering
disentuh secara teratur dengan menggunakan sabun dan air, atau dengan menggunakan tisu
pembersih. Tidak ada pengobatan khusus untuk gondong. Demam dapat dikurangi dengan
pemberian acetaminophen/paracetamol (thylenol).

B. Saran

Jagalah kesehatan yang telah diberikan oleh Tuhan sebagai anugrah terbesar sehingga kita terhindar
dari Mumps virus yang dapat menyebabkan penyakit gondok dan dapat mengganggu aktifitas kita
sehari-hari dengan melakukan pencegahan di secara dini dan jangan lupa menjaga kebersihan baik
dari badan, tempat, maupun pakaian karena dengan kebersihan semoga kita terhindar dari virus
tersebut.