You are on page 1of 7

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Hasanuddin

JURNAL NASIONAL ILMU KESEHATAN (JNIK)


Volume 1. Edisi 2 2018 ISSN: 2621-6507

ANALISIS SPASIAL EFEKTIVITAS FOGGING DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS


MAKROMAN, KOTA SAMARINDA

Spatial Analysis of Fogging Effectiveness in Work Areas of Makroman Health Center,


Samarinda City
Syamsir1, Andi Daramusseng1
1
Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur
Email: sya809@umkt.ac.id

ABSTRAK
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes
aegypti. DBD menjadi momok yang menakutkan karena penularannya dapat berlangsung cepat dalam
suatu wilayah. Bahkan dalam satu bulan, jumlah kasus DBD pada wilayah endemik bisa mencapai
puluhan manusia yang terinfeksi virus dengue. Pemaksimalan program pengendalian DBD di dinas
kesehatan dan puskesmas setempat menjadi kunci utama dalam menanggulangi penyebaran DBD.
Namun menjadi kendala saat ini sehingga membuat belum efektifnya program pengendalian DBD di
Kota Samarinda yaitu belum adanya prediksi ilmiah tentang letak wilayah rentan DBD di Kota
Samarinda, termasuk di wilayah kerja Puskesmas Makroman. Sehingga program pengendalian DBD
seperti fogging belum mampu mengurangi kasus DBD secara signifikan. Penelitian ini menggunakan
analisis observational dengan desain cross sectional. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis
dengan menggunakan analisis spasial dengan metode buffer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus
DBD hampir tersebar di seluruh wilayah kerja Puskesmas Makroman. Berdasarkan wawancara dengan
petugas puskesmas, radius fogging sekitar 200 meter dari tempat pelaksanaan fogging. Setelah
dilakukan analisis spasial dengan metode buffer maka didapatkan radius fogging hanya menjangkau
sebagian kecil wilayah kerja Puskesmas Makroman yang terindikasi wilayah rawan DBD. Pelaksanaan
program fogging yang tidak berdasarkan pada wilayah rentan DBD mengakibatkan tidak efektifnya
pencegahan DBD. Oleh karena itu, dibutuhkan pemetaan penyakit DBD berbasis spasial untuk
mengetahui wilayah yang rentan DBD sehingga dapat menjadi acuan dalam penentuan lokasi fogging.
Kata kunci: Spasial, Fogging, Dengue, Aedes aegypti.

ABSTRACT
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a disease transmitted by the mosquito Aedes aegypti. DHF
is a frightening specter because its transmission can take place quickly in a region. Even in one month,
the number of DHF cases in endemic areas can be up to tens of people infected with the dengue virus.
Maximizing the program of DHF control in the local health office and health center is the main key in
tackling the spread of dengue. However, the problem that absence of scientific predictions about the
location of vulnerable DHF areas in Samarinda City, including in the work area of the Makroman
Health Center. So that the impact of the DHF control program such as fogging has not been able to
reduce dengue cases significantly. This study used observational analysis with a cross sectional design.
The data analyzed using spatial analysis with the Buffer. The results showed that DHF cases were
almost spread throughout the work area of the Makroman Health Center. Based on interviews with
officers, the radius of fogging is about 200 meters from the place of fogging. After spatial analysis with
the buffer method, the fogging radius was found to only reach a small area of the Makroman Health
Center area indicated by vulnerable DHF areas. The conclusion is implementation of fogging programs
that are not based on vulnerable areas of DHF results in ineffective prevention of DHF. Therefore, a
spatial based DHF mapping is needed to find out the vulnerable areas of DHF so that it can be a
reference in determining the location of fogging.
Keyword: Spatial, Fogging, Dengue, Aedes aegypti

Jurnal Nasional Ilmu Kesehatan (JNIK) LP2M Unhas, Vol 1, 2 2018 1


PENDAHULUAN DBD(3). Meskipun pada tahun 2017
Demam Berdarah Dengue (DBD) mengalami penurunan tetapi jumlahnya
merupakan salah satu penyakit endemik di masih cukup tinggi, termasuk di wilayah
seluruh wilayah tropis dan sebagian kerja Puskesmas Makroman(4).
wilayah subtropis. Penyakit yang Pada beberapa wilayah, peningkatan
ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti kasus DBD dipengaruhi oleh curah hujan
tersebut menjadi momok yang menakutkan dan kelembaban udara(5). Bahkan pada
karena penularannya dapat berlangsung beberapa kasus, puncak kejadian DBD
cepat dalam suatu wilayah. Bahkan dalam terjadi pada puncak musim hujan(6). Oleh
satu bulan, jumlah kasus DBD pada karena itu, dibutuhkan perencanaan yang
wilayah endemik bisa sampai puluhan matang dalam mengendalikan penyebaran
manusia yang terinfeksi virus dengue. penyakit DBD, khususnya di musim hujan.
Kementerian Kesehatan Republik Pemaksimalan program pengendalian
Indoneisa mencatat pada tahun 2016, DBD di dinas kesehatan dan puskesmas
terdapat 201.885 penderita DBD di seluruh setempat menjadi kunci utama dalam
wilayah Indonesia dimana sebanyak 1.585 menanggulangi penyebaran DBD.
penderita meninggal dunia akibat serangan Namun menjadi kendala saat ini
virus dengue yang berpindah ke dalam sehingga membuat belum efektifnya
tubuh manusia melalui gigitan nyamuk program pengendalian DBD di Kota
Aedes aegypti(1). Bahkan di beberapa Samarinda yaitu belum adanya prediksi
provinsi, jumlah kasus DBD cenderung ilmiah tentang letak wilayah rentan DBD
meningkatkan atau pun bersifat fluktuatif di Kota Samarinda, termasuk di wilayah
namun masih pada jumlah kasus yang kerja Puskesmas Makroman. Sehingga
cukup tinggi. program pengendalian DBD seperti
Salah satu provinsi yang merasakan fogging belum mampu mengurangi kasus
dampak dari wabah DBD yaitu DBD secara signifikan.
Kalimantan Timur, khususnya Kota Bahkan pelaksanaan fogging yang
Samarinda. Dinas Kesehatan Kalimantan tidak efektif dapat mengakibatkan nyamuk
Timur pernah mencatat jumlah kasus DBD Aedes aegyti menjadi resisten terhadap
pada tahun 2013 sebanyak 606 penderita insektisida. Sebagai contoh di Kota
yang tersebar di seluruh kecamatan yang di Bontang, Kalimantan Timur, ditemukan
(2)
Kota Samarinda . Tiga tahun setelahnya, bahwa nyamuk Aedes aegyti telah resisten
kemudian mengalami peningkatan yang terhadap Malation dan Lambdacyhalotrin
cukup signifikan sebanyak 2.814 penderita dengan tingkat kematian hanya kurang

Jurnal Nasional Ilmu Kesehatan (JNIK) LP2M Unhas, Vol 1, 2 2018 2


dari 70%(7). Jika permasalahan ini tidak Penelitian ini menggunakan analisis
segera diatasi maka resistensi nyamuk observational dengan desain cross
Aedes aegyti akan terus meningkat di sectional. Data yang dikumpulkan
wilayah Kalimantan Timur, termasuk di kemudian dianalisis dengan menggunakan
wilayah kerja Puskesmas Makroman, Kota analisis spasial dengan metode buffer.
Samarinda. Hasil dari analisis buffer yaitu peta
Oleh karena itu, penelitian ini jangkauan program fogging terhadap
bertujuan untuk menganalisis efektivitas kejadian DBD.
pelaksanaan program fogging di wilayah
HASIL
kerja Puskesmas Makroman dengan
Berdasarkan hasil wawancara yang
menggunakan pemetaan wilayah rentan
dilakukan kepada petugas Puskesmas
DBD. Penelitian dengan desain analisis
Makroman, program pengendalian DBD
spasial pada pengukuran efektivitas
yang dilakukan pada tahun 2015-2017
program fogging merupakan penelitian
yaitu penyuluhan, pemberian abate, dan
yang baru dilaksanakan di Kota
program fogging. Program penyuluhan
Samarinda. Maka dari itu, penelitian ini
kepada masyarakat terkait cara mencegah
diharapkan memberikan informasi baru
penularan DBD hanya dilakukan saat
kepada petugas kesehatan dan masyarakat
kegiatan posyandu di Pinang Sari,
terkait metode yang efektif dalam
Makroman, dan Sindan Sari.
mengendalikan penyebaran DBD.
Dari rentang tahun 2015-2017,
program fogging dilaksanakan pada bulan
METODE
Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Februari dan Mei 2016. Adapun program
kerja Puskesmas Makroman, Kota fogging yang dilaksanakan pada Bulan
Samarinda. Kegiatan pengumpulan data Februari di Sindang Sari RT 3, Pinang Sari
dilaksanakan pada bulan September – RT 4, serta Makroman RT 5 dan RT 3.
Desember 2017. Data yang dikumpulkan Sedangkan pada Bulan Mei 2016,
berupa program fogging dan titik dilaksanakan di Makroman RT 5, 7, 9, dan
koordinat alamat rumah penderita DBD. 27. Berdasarkan titik koordinat lokasi
Data program fogging dikumpulkan pelaksanaan fogging dan alamat penderita
dengan wawancara sedangkan titik DBD maka didapatkan hasil analisis
koordinat alamat rumah penderita DBD spasial dengan metode buffer sebagai
dikumpulkan dengan menggunakan GPS. berikut:

Jurnal Nasional Ilmu Kesehatan (JNIK) LP2M Unhas, Vol 1, 2 2018 3


Gambar 1. Peta Efektivitas Pelaksanaan Fogging di
Wilayah Kerja Puskesmas Makroman

Kasus DBD hampir tersebar di seluruh maka yang harus dilakukan yaitu
wilayah kerja Puskesmas Makroman dan mengidentifikasi keberadaan larva dan
sebagian wilayah kerja Puskesmas Sungai nyamuk Aedes aegypti. Pengetahuan
Kapih (berwarna putih). Berdasarkan tentang suksesi habitat larva dapat
wawancara dengan petugas puskesmas, memudahkan untuk memotong siklus
radius asap fogging sekitar 200 meter dari hidup nyamuk di sekitar rumah (8).
tempat pelaksanaan fogging. Setelah Namun bukan persoalan yang mudah
dilakukan analisis buffer maka didapatkan untuk menentukan wilayah yang rentan
radius fogging (warna hijau pada peta) DBD. Dibutuhkan analisa akurat dan
hanya menjangkau sebagian kecil wilayah konsisten terhadap keberadaan vektor
kerja Puskesmas Makroman yang DBD untuk menentukan tingkat
terindikasi wilayah rawan DBD. kerentanan sebuah wilayah terhadap
penularan DBD. Salah satu teknologi yang
PEMBAHASAN dapat diterapkan untuk menentukan
Dalam memaksimalkan program tingkat kerentanan suatu wilayah terhadap
pengendalian penyakit DBD seperti DBD yaitu dengan menggunakan
fogging, maka strategi yang harus Geographic Information System (GIS) atau
dilakukan yaitu menentukan wilayah dikenal juga dengan istilah analisis spasial.
rentan DBD. Untuk mengetahui Penentuan wilayah rentan DBD
kerentanan suatu wilayah terhadap DBD dengan menggunakan GIS didasarkan

Jurnal Nasional Ilmu Kesehatan (JNIK) LP2M Unhas, Vol 1, 2 2018 4


pada data kasus DBD dari puskesmas dan Tidak hanya terjadi di Indonesia,
rumah sakit yang kemudian dimasukkan pelaksanaan fogging dengan tujuan untuk
ke dalam software berbasis pemetaan memberantas keberadaan nyamuk yang
seperti QGIS dan ArcGIS. Bahkan dapat menjadi vektor penyakit, justru membuat
dimasukan ke web dengan multi user dan nyamuk di beberapa belahan dunia
dapat dilakukan kompilasi data sehingga menjadi resisten terhadap insektisida yang
memudahkan untuk menentukan status diberikan. Sebagaimana yang terjadi di
Kejadian Luar Biasa (KLB) di wilayah wilayah Benin, Afrika Barat, menunjukkan
tersebut (9). bahwa nyamuk telah resisten terhadap
(13)
Pengunaan GIS ataupun sistem insektisida jenis DDT dan pyrethoroid .
penginderaan jauh dalam menentukan Kejadian serupa juga terjadi di Desa
wilayah rentan DBD, akan memberikan Moshi, Tanzania, dimana beberapa jenis
kemudahan dalam penentuan lokasi nyamuk telah resisten terhadap insektisida
(10)
fogging yang tepat sasaran . Jika tidak DDT (14).
dilakukan pemetaan wilayah rentan DBD Bukan berarti program fogging tidak
sebelum melakukan fogging maka memberikan dampak positif terhadap
dikhawatirkan justru akan menimbulkan penanggulangan penyakit DBD. Namun
permasalahan baru seperti terjadinya dibutuhkan perencanaan yang matang
peningkatan resistensi nyamuk terhadap dalam memilih lokasi fogging dan tidak
insektida yang diberikan saat fogging. dilaksanakan dengan frekuensi yang
Pada beberapa wilayah di Kota sering. Dinas kesehatan harus
Samarinda, ditemukan bahwa nyamuk mengembangkan alternatif pencegahan
(15)
Aedes aegypti telah resisten terhadap DBD yang bersifat alamiah .
beberapa jenis insektisida seperti Sebagaimana dijelaskan dalam permenkes
Malathion, Lambdasihalothrin, Permethrin no. 374/MENKES/PER/III/2010 tentang
(11)
dan Bendiocarb . Beberapa kota di Pengendalian Vektor, dimana dijelaskan
Indonesia juga menunjukkan gejala yang bahwa pengendalian vektor harus
serupa, seperti yang terjadi di Kota mempertimbangkan kaidah ekologi dan
Semarang, dimana menunjukkan bahwa prinsip ekonomi berwawasan lingkungan
beberapa wilayah ditemukan nyamuk dan berkelanjutan(16). Sebagai contoh,
Aedes aegyti telah resisten terhadap penggunaan ekstrak tananam Serai Wangi
insektisida jenis Pyrethroid dan Malation dan daun Legundi sebagai repellent
(12) (17,18)
. nyamuk .

Jurnal Nasional Ilmu Kesehatan (JNIK) LP2M Unhas, Vol 1, 2 2018 5


Kampanye 3M (menguras, menutup, memaksimalkan program pengendalian
dan menimbun) harus terus digalakkan DBD seperti fogging.
kepada seluruh masyarakat. Bahkan
pemberian inovasi baru terkait DAFTAR PUSTAKA
penanggulangan DBD harus dilakukan 1. Kemenkes. Data dan Informasi,
Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta;
secara masif. Sebagai contoh, pembuatan
2017.
larvasida dengan bahan alamiah seperti 2. Dinkes Kaltim. Profil Kesehatan
Provinsi Kalimantan Timur Tahun
jamur Metharrizium sehingga masyarakat
2013. Samarinda; 2013.
tidak harus menunggu program pembagian 3. Dinkes Kaltim. Profil Kesehatan
(19) Kalimantan Timur Tahun 2016.
abate dari puskesmas . Selain itu,
Samarinda; 2016.
pemberian pemahaman terkait penyebab 4. Samarinda DK. Laporan Dinas
Kesehatan Kota Samarinda Tahun
dan cara pencegahan penyakit DBD
2017. Samarinda; 2017.
kepada masyarakat, khusus ibu rumah 5. Zubaidah T. Dampak Perubahan
Iklim Terhadap Kejadian Penyakit
tangga, harus terus dimaksimalkan. Masih
Demam Berdarah Dengue di Kota
banyak ibu rumah tangga yang memiliki Banjarbaru , Kalimantan Selatan
Selama Tahun 2005-2010. Jurnal
persepsi bahwa nyamuk Aedes aegyti
Epidemiologi dan Penyakit
hanya sebagai binatang pengganggu saja, Bersumber Bintang. 2012;4(2):59–
65.
tidak dimaknai sebagai vektor penyakit
6. Iriani Y. Hubungan antara Curah
DBD (20). Hujan dan Peningkatan Kasus
Demam Berdarah Dengue Anak di
Kota Palembang. Sari Pediatri.
KESIMPULAN DAN SARAN 2012;13(6):378–381.
7. Boewono DT, Widiarti, Ristiyanto.
Pelaksanaan program fogging yang
Analisis Spasial Distribus Kasus
tidak berdasarkan pada wilayah rentan Demam Berdarah Dengue (DBD)
Kota Bontang, Provinsi Kalimantan
DBD mengakibatkan tidak efektifnya
Timur. Buletin Penelitian
pencegahan DBD. Oleh karena itu, Kesehatan. 2012;40(3):100–9.
8. Kweka EJ, Zhou G, Munga S, Lee
dibutuhkan pemetaan penyakit DBD
M, Atieli HE, Nyindo M, et al.
berbasis spasial untuk mengetahui wilayah Anopheline Larval Habitats
Seasonality and Species
yang rentan DBD sehingga dapat menjadi
Distribution : A Prerequisite for
acuan dalam penentuan lokasi fogging. Effective Targeted Larval Habitats
Control Programmes. PLoS One.
Diharapkan puskesmas yang di Kota
2012;7(12).
Samarinda dapat menggunakan aplikasi 9. Masrochah S, Susanto E, Irmawati.
Sistem Informasi Pemantauan
GIS untuk membuat pemetaan wilayah
Kejadiaan Luar Biasa (KLB)
rentan DBD. Penggunaan pemetaan Demam Berdarah Berbasis
Geographic Information System
wilayah rentan DBD diharapkan dapat

Jurnal Nasional Ilmu Kesehatan (JNIK) LP2M Unhas, Vol 1, 2 2018 6


(GIS) di Kota Semarang. Jurnal 2014;6(3):31–41.
Riset Kesehatan. 2016;5(2):53–59. 15. Susanti L, Boesri H. Pengaruh
10. Ruliansyah A, Gunawan T, M SJ. Insektisida Sipermethrin 100 G/L
Pemanfaatan Citra Penginderaan Terhadap Nyamuk Dengan Metode
Jauh dan Sistem Informasi Pengasapan. Jurnal Kesehatan
Geografis untuk Pemetaan Daerah Masyarakat. 2012;7(2):151–158.
Rawan Demam Berdarah Dengue 16. Kemenkes RI. Peraturan Menteri
(Studi Kasus di Kecamatan Kesehatan RI No.
Pangandaran Kabupaten Ciamis 374/MENKES/PER/III/2010
Provinsi Jawa Barat). Aspirator. Tentang Pengendalian Vektor.
2011;3(2):72–81. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI;
11. Boewono DT, Ristiyanto, Widiarti, 2010. p. 1–54.
Widyastuti U. Distribusi Spasial 17. Boesri H, Heriyanto B, Susanti L,
Kasus Demam Berdarah Dengue Handayani SW. Uji Repelen (Daya
(DBD), Analisis Indeks Jarak Dan Tolak) Beberapa Ekstrak Tumbuhan
Alternatif Pengendalian Vektor Di Terhadap Gigitan Nyamuk Aedes
Kota Samarinda, Provinsi aegypti Vektor Demam Berdarah
Kalimantan Timur. Media Litbang Dengue. Vektora. 2015;7(2):79–85.
Kesehatan. 2012;22(5):131–137. 18. Medikanto BR, Setyaningrum E.
12. Widiarti, Boewono DT, Garjito TA, Pengaruh Ekstrak Daun Legundi
Tunjungsari R, Asih PB, Syafruddin (Vitex trifolia L.) Sebagai Repellent
D. Identifikasi Mutasi Noktah Pada Terhadap Nyamuk Aedes aegypti.
” Gen Voltage Gated Sodium Medical Journal of Lampung Univ.
Channel ” Aedes aegypti Resisten 2013;2(4):35–43.
Terhadap Insektisida Pyrethroid Di 19. Yasmin Y, Fitri L, Bustam BM.
Semarang Jawa Tengah. Buletin Analisis Efektifitas Tepung Jamur
Penelitian Kesehatan. sebagai Larvasida Aedes aegypti.
2012;40(1):31–38. Jurnal Natur Indonesia.
13. Aïzoun N, Aïkpon R, Gnanguenon 2012;14(2):126–130.
V, Azondekon R, Agbo FO-, 20. Pujiyanti A, Paramastri I,
Padonou GG, et al. Dynamics of Triratnawati A. Kepercayaan Ibu
Insecticide Resistance and Effect of Rumah Tangga Tentang Nyamuk
Synergists Piperonyl Butoxide Aedes dan Pencegahan Demam
(PBO), S.S.S- Berdarah Dengue Di Kelurahan
Tributylphosphorotrithioate (DEF) Endemis. Berita Kedokteran
and Ethacrynic Acid (ETAA or EA) Masyarakat. 2010;26(4):179–186.
on Permethrin, Deltamethrin and
Dichlorodiphenyltrichloroethane
(DDT) Resistance in Two Anophel.
Journal of Parasitologi Vector
Biology. 2014;6(1):1–10.
14. Matowo J, Kitau J, Kabula B, M
RAKR, Kaaya R, Francis P, et al.
Dynamics of insecticide Resistance
and The Frequency of kdr Mutation
in the Primary Malaria Vector
Anopheles Arabiensis in Rural
Villages of Lower Moshi , North
Eastern Tanzania. Journal of
Parasitology Vector Biology.

Jurnal Nasional Ilmu Kesehatan (JNIK) LP2M Unhas, Vol 1, 2 2018 7