You are on page 1of 55

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA

PADA Ny. S DENGAN DIAGNOSA “RHEUMATHOID ATHRITIS”


DI RUANG MAWAR UPT PSTW JOMBANG PARE

Oleh :
1.Teguh Prasetya
2.Zulianah Putri Damayanti
3.Mega Endah Suci
4.Sri Nuryati
5.Muhammad Rifki Nur
6.Dinar
7.Rizky Mulyawati
8.Elok Nur Indah Sari
9.Radiktiya Galih
10.Nur Alfiyatul Khoiroh
11.Resita Agustina Eka Pratiwi
12.Astri Putri Pratiwi

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


STIKES PEMKAB JOMBANG
TAHUN 2017/2018

LEMBAR PENGESAHAN
Asuhan keperawatan pada Ny.S dengan diagnose Medis
“RHEUMATHOID ARTHRITIS”di Wisma AWF UPT PSLU Jombang di Pare-
Kediri, sesuai praktik yang dilakukan:

Nama Anggota :
1.Teguh Prasetya
2.Zulianah Putri Damayanti
3.Mega Endah Suci
4.Sri Nuryati
5.Muhammad Rifki Nur
6.Dinar
7.Rizky Mulyawati
8.Elok Nur Indah Sari
9.Radiktiya Galih
10.Nur Alfiyatul Khoiroh
11.Resita Agustina Eka Pratiwi
12.Astri Putri Pratiwi

Program Studi : Pendidikan Profesi Ners


Semester : Genap (II)
Sebagai pemenuhan tugas praktek klinik Pendidikan Profesi Ners STIKES
PEMKAB JOMBANG yang telah disetujui dan disahkan pada:
Hari :
Tanggal :
Pare, April 2018
Mengetahui

Pembimbing Akademik Pembimbing Kelompok

( ) ( )

PembimbingLahan ` Ketua Prodi


Kasi Bimbingan dan Pembinaan Lanjut

( ) ( )
KATA PENGANTAR

ii
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan
Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun
isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang
saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca
untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk
kesempurnaan makalah ini.

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................ii

iii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii

Latar Belakang.......................................................................................................1
Rumusan Masalah.................................................................................................2
Tujuan Penulisan...................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN
Definisi Lansia…………………………………………………………………...3
Karakteristik Lansia……………………………………………………………...4
Batasan Umur Lansia............................................................................................4
Tipe Lansia............................................................................................................5
Klasifikasi Lansia………………………………………………………………. .6
Teori Proses Menua...............................................................................................6
Tugas Perkembangan Lansia …………………………………………………… 9
Perubahan yang Terjadi Pada Lansia……………………………………..……...9
Latar Belakang.......................................................................................................15
Rumusan Masalah.................................................................................................16
Tujuan Penulisan...................................................................................................16
Definisi Rheumathoid Arthritis.............................................................................17
Etiologi Rheumathoid Arthritis.............................................................................17
Manifestasi klinik Rheumathoid Arthritis.............................................................18
Patofisiologi Rheumathoid Arthritis......................................................................18
Komplikasi Rheumathoid Arthritis........................................................................18
Prognosis Rheumathoid Arthritis..........................................................................19
Pemeriksaan penunjang Rheumathoid Arthritis....................................................20
Pencegahan Rheumathoid Arthritis.......................................................................20
Penatalaksanaan Rheumathoid Arthritis ...............................................................20
WOC .....................................................................................................................21
Asuhan Keperawatan Teori Rheumathoid Arthritis ..............................................22

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN


Asuhan Keperawatan.............................................................................................27

iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Lanjut usia adalah bagian dari proses tumbuh kembang. Manusia
tidak secara tiba-tiba menjadi tua, tetapi berkembang dari bayi, anak-anak,
dewasa dan akhirnya menjadi tua. Hal ini normal, dengan perubahan
fisik dan tingkah laku dapat diramalkan yang terjadi pada semua orang
saat mereka mencapai usia tahap perkembangan kronologis tertentu
(Azizah, 2011).
Proses menua merupakan proses yang terus menerus (berlanjut)
secara alamiah dimulai sejak lahir dan umumnya dialami pada semua
makhluk hidup. Menua (menjadi tua) adalah suatu proses
menghilangnya secara perlahan lahan kemampuan jaringan untuk
memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya
sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki
kerusakan yang diderita. Semua orang akan mengalami proses menjadi
tua dan masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir, yang
pada masa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial
sedikit sampai tidak memerlukan tugasnya sehari-hari lagi hingga bagi
kebanyakan orang masa tua itu merupakan masa yang kurang
menyenangkan.
Manusia yang muda menjadi tua merupakan proses penuaan
secara alamiah yang tidak bisa kita hindari dan merupakan hukum alam.
Akibat dari proses itu menimbulkan beberapa perubahan meliputi fisik,
mental, spritual, psikososial adaptasi terhadap stres mulai menurun
(Azizah, 2011: 65). Berdasarkan hal tersebut, maka dalam makalah ini
akan dibahas seperti apa masa lanjut usia itu.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan lansia?
2. Apa saja karakteristik lansia?

1
3. Berapa saja batasan umur lansia?
4. Apa saja tipe lansia?
5. Apa saja klasifikasi lansia?
6. Bagaimana teori proses penuaan pada lansia?
7. Apa saja tugas perkembangan lansia?
8. Apa saja perubahan yang terjadi pada lansia?

C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mampu mengetahui dan memahami konsep dan teori lansia
2. Tujuan Khusus
a. Mampu mengetahui dan memahami definisi lansia
b. Mampu mengetahui dan memahami karakteristik lansia
c. Mampu mengetahui dan memahami batasan umur lansia
d. Mampu mengetahui dan memahami tipe lansia
e. Mampu mengetahui dan memahami klasifikasi lansia
f. Mampu mengetahui dan memahami teori proses penuaan pada
lansia
g. Mampu mengetahui dan memahami tugas perkembangan lansia
h. Mampu mengetahui dan memahami perubahan yang terjadi pada
lansia

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 DEFINISI LANSIA


Lanjut usia (Lansia) merupakan salah satu fase kehidupan yang
dialami oleh individu yang berumur panjang. Lansia tidak hanya meliputi
aspek biologis, tetapi juga meliputi psikologis dan social. Lansia adalah
tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian dari proses kehidupan
yang tak dapat dihindarkan dan akan di alami oleh setiap individu. Pada
tahap ini individu mengalami banyak perubahan baik secara fisik maupun

2
mental, khususnya kemunduran dalam berbagai fungsi dan kemampuan
yang pernah dimilikinya.
Menurut J.W. Santrock (J.W.Santrock, 2002, h.190), ada dua
pandangan tentang definisi orang lanjut usia atau lansia, yaitu menurut
pandangan orang barat dan orang Indonesia. Pandangan orang barat yang
tergolong orang lanjut usia atau lansia adalah orang yang sudah berumur
65 tahun keatas, dimana usia ini akan membedakan seseorang masih
dewasa atau sudah lanjut. Sedangkan pandangan orang Indonesia, lansia
adalah orang yang berumur lebih dari 60 tahun. Lebih dari 60 tahun karena
pada umunya di Indonesia dipakai sebagai usia maksimal kerja dan mulai
tampaknya ciri-ciri ketuaan.
Menurut Hurlock (2002), tahap terakhir dalam perkembangan ini
dibagi menjadi usia lanjut dini yang berkisar antara usia enam puluh
sampai tujuh puluh tahun dan usia lanjut yang dimulai pada usia tujuh
puluh tahun hingga akhir kehidupan seseorang. Orangtua muda atau usia
tua (usia 65 hingga 74 tahun) dan orangtua yang tua atau usia tua akhir (75
tahun atau lebih) dan orang tua lanjut (85 tahun atau lebih) dari orang-
orang dewasa lanjut yang lebih muda.

2.2 KARAKTERISTIK LANSIA


Menurut Keliat dalam Maryam (2008), lansia memiliki
karakteristik sebagai berikut:
1. Berusia lebih dari 60 tahun (sesuai dengan Pasal 1 ayat (2) UU No.13
tentang kesehatan)
2. Kebutuan dan masalah yang bervariasi dari rentang sehat sampai sakit,
dari kebutuhan biopsikososial sampai spiritual, serta dari kondisi
adaptif hingga kondisi maladaptif
3. Lingkungan tempat tinggal yang bervariasi. Karakteristik penyakit
yang dijumpai pada lansia diantaranya:
a. Penyakit yang sering multipel, saling berhubungan satu sama lain
b. Penyakit bersifat degeneratif, serta menimbulkan kecacatan
c. Gejala sering tidak jelas, berkembang secara perlahan
d. Masalah psikologis dan sosial sering terjadi bersamaan
e. Lansia sangat peka terhadap penyakit infeksi akut

3
f. Sering terjadi penyakit yang bersifat iatrogenic

2.3 BATASAN UMUR LANSIA


Menurut pendapat berbagai ahli dalam Efendi (2009) batasan-
batasan umur yang mencakup batasan umur lansia adalah sebagai berikut:
1. Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 dalam Bab 1 Pasal 1
ayat 2 yang berbunyi “Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai
usia 60 (enam puluh) tahun ke atas”.
2. Menurut World Health Organization (WHO), usia lanjut dibagi
menjadi empat kriteria berikut : usia pertengahan (middle age) ialah
45-59 tahun, lanjut usia (elderly) ialah 60-74 tahun, lanjut usia tua
(old) ialah 75-90 tahun, usia sangat tua (very old) ialah di atas 90
tahun.
3. Menurut Dra. Jos Masdani (Psikolog UI) terdapat empat fase yaitu :
pertama (fase inventus) ialah 25-40 tahun, kedua (fase virilities) ialah
40-55 tahun, ketiga (fase presenium) ialah 55-65 tahun, keempat (fase
senium) ialah 65 hingga tutup usia.
4. Menurut Prof. Dr. Koesoemato Setyonegoro masa lanjut usia (geriatric
age): > 65 tahun atau 70 tahun. Masa lanjut usia (getiatric age) itu
sendiri dibagi menjadi tiga batasan umur, yaitu young old (70-75
tahun), old (75-80 tahun), dan very old ( > 80 tahun) (Efendi, 2009).
2.4 TIPE LANSIA
Beberapa tipe pada lansia bergantung pada karakter, pengalaman
hidup, lingkungan, kodisi fisik, mental, sosial, dan ekonominya (Nugroho
2000 dalam Maryam dkk, 2008). Tipe tersebut dijabarkan sebagai berikut :
1. Tipe arif bijaksana. Kaya dengan hikmah, pengalaman, menyesuaikan
diri dengan perubahan zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah,
rendah hati, sederhana, dermawan, memenuhi undangan, dan menjadi
panutan.
2. Tipe mandiri. Mengganti kegiatan yang hilang dengan yang baru,
selektif dalam mencari pekerjaan, bergaul dengan teman, dan
memenuhi undangan.

4
3. Tipe tidak puas. Konflik lahir batin menentang proses penuaan
sehingga menjadi pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, sulit
dilayani, pengkritik dan banyak menuntut.
4. Tipe pasrah. Menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan
agama, dan melakukan pekerjaan apa saja.
5. Tipe bingung. Kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri,
minder, menyesal, pasif, dan acuh tak acuh.
6. Tipe lain dari lansia adalah tipe optimis, tipe konstruktif, tipe
independen (ketergantungan), tipe defensife (bertahan), tipe militan
dan serius, tipe pemarah/frustasi (kecewa akibat kegagalan dalam
melakukan sesuatu), serta tipe putus asa (benci pada diri sendiri).

2.5 KLASIFIKASI LANSIA


1. Menurut Departemen Kesehatan RI lansia dibagi sebagai berikut:
a. Kelompok menjelang usia lanjut (45-54 tahun) sebagai masa
virilitas
b. Kelompok usia lanjut (55-64 tahun) sebagai presenium
c. Kelompok usia lanjut (kurang dari 65 tahun) senium
2. Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), usia lanjut dibagi menjadi
empat kriteria berikut ini:
a. Usia pertengahan (middle age) ialah kelompok usia 45 sampai 59
tahun
b. Usia lanjut (elderly) antara 60-74 tahun
c. Usia tua (old) antara 75-90 tahun
d. Usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun
3. Menurut pasal 1 Undang-Undang no. 4 tahun 1965:
Seseorang dikatakan sebagai orang jompo atau usia lanjut setelah yang
bersangkutan mencapai usia 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak
berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari,
dan menerima nafkah dari orang lain‖ (Santoso, 2009).

2.6 TEORI PROSES PENUAAN


Teori-teori yang mendukung terjadinya proses penuaan, antara lain:
teori biologis, teori kejiwaan sosial, teori psikologis, teori kesalahan
genetik, dan teori penuaan akibat metabolisme (Santoso, 2009).

5
1. Teori Biologis Teori biologis tentang penuaan dapat dibagi menjadi
teori intrinsik dan ekstrinsik. Intrinsik berarti perubahan yang timbul
akibat penyebab di dalam sel sendiri, sedang teori ekstrinsik
menjelaskan bahwa penuaan yang terjadi diakibatkan pengaruh
lingkungan.
a. Teori Genetik Clock Menurut teori ini menua telah terprogram
secara genetik untuk spesies tertentu. Tiap spesies di dalam inti
selnya mempunyai suatu jam genetik yang telah diputar menurut
suatu replikasi tertentu dan akan menghitung mitosis. Jika jam ini
berhenti, maka spesies akan meninggal dunia.
b. Teori Mutasi Somatik (Error Catastrophe Theory) Penuaan
disebabkan oleh kesalahan yang beruntun dalam jangka waktu
yang lama melalui transkripsi dan translasi. Kesalahan tersebut
menyebabkan terbentuknya enzim yang salah dan berakibat pada
metabolisme yang salah, sehingga mengurangi fungsional sel.
c. Teori Autoimun (Auto Immune Theory) Menurut teori ini proses
metabolisme tubuh suatu saat akan memproduksi zat khusus. Ada
jaringan tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap suatu zat,
sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit.
d. Teori Radikal Bebas, Menurut teori ini penuaan disebabkan adanya
radikal bebas dalam tubuh.
e. Teori Pemakaian dan Rusak, Kelebihan usaha dan stres
menyebabkan sel-sel tubuh lelah (rusak).
f. Teori Virus, Perlahan-Lahan Menyerang Sistem Sistem Kekebalan
Tubuh (Immunology Slow Virus Theory). Menurut teori ini
penuaan terjadi sebagai akibat dari sistem imun yang kurang
efektif seiring dengan bertambahnya usia.
g. Teori Stres, Menurut teori ini penuaan terjadi akibat hilangnya sel-
sel yang biasa digunakan oleh tubuh.
h. Teori Rantai Silang, Menurut teori ini penuaan terjadi sebagai
akibat adanya reaksi kimia sel-sel yang tua atau yang telah usang
menghasilkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen.

6
i. Teori Program, Menurut teori ini penuaan terjadi karena
kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang
membelah sel-sel tersebut mati.

2. Teori Kejiwaan Sosial


a. Aktivitas atau Kegiatan (Activity Theory) Menurut Havigusrst dan
Albrecht (1953) berpendapat bahwa sangat penting bagi lansia
untuk tetap beraktifitas dan mencapai kepuasan.
b. Teori Kepribadian Berlanjut (Continuity Theory) Perubahan yang
terjadi pada lansia sangat dipengaruhi oleh tipe kepribadian yang
dimiliki.
c. Teori Pembebasan (Disengagement Theory) Teori ini menyatakan
bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang berangsurangsur
mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya.

3. Teori Psikologi
Teori-teori psikologi dipengaruhi juga oleh biologi dan sosiologi salah
satu teori yang ada. Teori tugas perkembangan yang diungkapkan oleh
Hanghurst (1972) adalah bahwa setiap tugas perkembangan yang
spesifik pada tiap tahap kehidupan yang akan memberikan persaan
bahagia dan sukses. Tugas perkembangan yang spesifik ini bergantung
pada maturasi fisik, penghargaan kultural, masyarakat, nilai aspirasi
individu. Tugas perkembangan pada dewasa tua meliputi penerimaan
adanya penurunan kekuatan fisik dan kesehatan, penerimaan masa
pensiun dan penurunan pendapatan, respon penerimaan adanya
kematian pasangan, serta mempertahankan kehidupan yang
memuaskan.

4. Teori Kesalahan Genetik


Proses menjadi tua ditentukan oleh kesalahan sel genetik DNA di mana
sel genetik memperbanyak diri sehingga mengakibatkan kesalahan-
kesalahan yang berakibat pula pada terhambatnya pembentukan sel

7
berikutnya, sehingga 13 mengakibatkan kematian sel. Pada saat sel
mengalami kematian orang akan tampak menjadi tua.

5. Teori Rusaknya Sistem Imun Tubuh


Mutasi yang terjadi secara berulang mengakibatkan kemampuan sistem
imun untuk mengenali dirinya berkurang (self recognition), sehingga
mengakibatkan kelainan pada sel karena dianggap sel asing yang
membuat hancurnya kekebalan tubuh.

2.7 TUGAS PERKEMBANGAN LANSIA


Lansia harus menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik yang
terjadi seiring penuaan. Waktu dan durasi perubahan ini bervariasi pada
tiap individu, namun seiring penuaan sistem tubuh, perubahan penampilan
dan fungsi tubuh akan terjadi. Perubahan ini tidak dihubungkan dengan
penyakit dan merupakan perubahan normal. Adanya penyakit terkadang
mengubah waktu timbulnya perubahan atau dampaknya terhadap
kehidupan sehari-hari.
Adapun tugas perkembangan pada lansia dalam adalah :
beradaptasi terhadap penurunan kesehatan dan kekuatan fisik, beradaptasi
terhadap masa pensiun dan penurunan pendapatan, beradaptasi terhadap
kematian pasangan, menerima diri sebagai individu yang menua,
mempertahankan kehidupan yang memuaskan, menetapkan kembali
hubungan dengan anak yang telah dewasa, menemukan cara
mempertahankan kualitas hidup (Potter & Perry, 2009).

2.8 PERUBAHAN YANG TERJADI PADA LANSIA


Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia menurut Nugroho (2000)
yaitu :
1. Perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada lansia diakibatkan oleh
terjadinya proses degeneratif yang meliputi :
a. Sel terjadi perubahan menjadi lebih sedikit jumlahnya dan lebih
besar ukurannya, serta berkurangnya jumlah cairan tubuh dan
berkurangnya intraseluler.

8
b. Sistem persyarafan terjadi perubahan berat otak 10-20, lambat
dalam respon dan waktu untuk bereaksi dan mengecilnya syaraf
panca indera yang menyebabkan berkurangnya penglihatan, 10
hilangnya pendengaran, menurunnya sensasi perasa dan penciuman
sehingga dapat mengakibatkan terjadinya masalah kesehatan
misalnya glukoma dan sebagainya.
c. Sistem pendengaran terjadi perubahan hilangnya daya pendengaran
pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada
yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50%
terjadi pada usia di atas umur 65 tahun dan pendengaran bertambah
menurun pada lanjut usia yang mengalami ketegangan jiwa atau
stress. Hilangnya kemampuan pendengaran meningkat sesuai
dengan proses penuaan dan hal yang seringkali merupakan keadaan
potensial yang dapat disembuhkan dan berkaitan dengan efek-efek
kolateral seperti komunikasi yang buruk dengan pemberi
perawatan, isolasi, paranoia dan penyimpangan fungsional.
d. Sistem penglihatan terjadi perubahan hilangnya respon terhadap
sinar, kornea lebih terbentuk spesies, lensa lebih suram sehingga
menjadi katarak yang menyebabkan gangguan penglihatan,
hilangnya daya akomodasi, meningkatnya ambang pengamatan
sinar, daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat dan susah
melihat dalam cahaya gelap, menurunnya lapang pandang sehingga
luas pandangnya berkurang luas.
e. Sistem kardiovaskuler terjadi perubahan elastisitas dinding aorta
menurun, katup jantung menebal dan menjadi kaku, kemampuan
11 jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah
berumur 20 tahun, hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan
volume kehilangan elastisitas pembuluh darah karena kurangnya
efektivitas pembuluh darah feriver untuk oksigenasi, perubahan
posisi dari tidur ke duduk, duduk keberdiri bisa mengakibatkan
tekanan darah menurun menjadi mmHg yang mengakibatkan

9
pusing mendadak, tekanan darah meninggi diakibatkan oleh
meningkatnya resitensi dari pembuluh darah perifer.

2. Perubahan mental
Meliputi perubahan dalam memori secara umum. Gejala-gejala
memori cocok dengan keadaan yang disebut pikun tua, akhir-akhir ini
lebih cenderung disebut kerusakan memori berkenaan dengan usia atau
penurunan kognitif berkenaan dengan proses menua. Pelupa
merupakan keluhan yang sering dikemukakan oleh manula, keluhan ini
di anggap lumrah dan biasa oleh lansia, keluhan ini didasari oleh fakta
dari peneliti cross sectional dan logitudional didapat bahwa
kebanyakan, namun tidak semua lansia mengalami gangguan memori,
terutama setelah usia 70 tahun, serta perubahan IQ (intelegentia
quotient) tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan
verbal, berkurangnya penampilan, persepsi dan ketrampilan
psikomotor terjadi perubahan daya membayangkan karena tekanan-
tekanan dari factor waktu.

3. Perubahan-perubahan psikososial
Meliputi pensiun, nilai seseoarang sering di ukur oleh
produktivitasnya dan identitas di kaitkan dengan peranan dalam
pekerjaan. Bila seorang pension (purna tugas) ia akan mengalami
kehilangan financial, status, teman dan pekerjaan. Merasakan sadar
akan kematian, semakin lanjut usia biasanya mereka menjadi semakin
kurang tertarik terhadap kehidupan akhirat dan lebih mementingkan
kematian itu sendiri serta kematian dirinya, kondisi seperti ini benar
khususnya bagi orang yang kondisi fisik dan mentalnya semakin
memburuk, pada waktu kesehatannya memburuk mereka cenderung
untuk berkonsentrasi pada masalah kematian dan mulai dipengaruhi
oleh perasaan seperti itu, hal ini secara langsung bertentangan dengan
pendapat orang lebih muda, dimana kematian mereka tampaknya
masih jauh dank arena itu mereka kurang memikirkan kematian.
4. Perubahan psikologis

10
Masalah psikologis yang dialami oleh lansia ini pertama kali
mengenai sikap mereka sendiri terhadap proses menua yang mereka
hadapi, antara lain penurunan badaniah atau dalam kebingungan untuk
memikirkannya. Dalam hal ini di kenal apa yang di sebut
disengagement theory, yang berarti ada penarikan diri dari masyarakat
dan diri pribadinya satu sama lain. Pemisahan diri hanya dilakukan
baru dilaksanakan hanya pada masa-masa akhir kehidupan lansia saja.
Pada lansia yang realistik dapat menyesuaikan diri 13 terhadap
lingkungan baru. Karena telah lanjut usia mereka sering dianggap
terlalu lamban, dengan gaya reaksi yang lamban dan kesiapan dan
kecepatan bertindak dan berfikir yang menurun. Daya ingat mereka
memang banyak yang menurun dari lupa sampai pikun dan demensia,
biasanya mereka masih ingat betul peristiwa-peristiwa yang telah lama
terjadi, malahan lupa mengenal hal-hal yang baru terjadi
3.1 PENGERTIAN
Kata arthritis berasal dari dua kata Yunani. Pertama, arthron, yang
berarti sendi. Kedua, itis yang berarti peradangan. Secara harfiah,
arthritis berarti radang sendi. Sedangkan rheumatoid arthritis adalah
suatu penyakit autoimun dimana persendian (biasanya sendi tangan dan
kaki) mengalami peradangan, sehingga terjadi pembengkakan, nyeri
dan seringkali akhirnya menyebabkan kerusakan bagian dalam sendi
(Gordon, 2002). Engram (1998) mengatakan bahwa, rheumatoid
arthritis adalah penyakit jaringan penyambung sistemik dan kronis
dikarakteristikkan oleh inflamasi dari membran sinovial dari sendi
diartroidial.
Rheumatoid Arthritis (RA) merupakan penyakit autoimun
(penyakit yang terjadi pada saat tubuh diserang oleh sistem kekebalan
tubuhnya sendiri) yang mengakibatkan peradangan dalam waktu lama
pada sendi. Penyakit ini menyerang persendian, biasanya mengenai
banyak sendi, yang ditandai dengan radang pada membran sinovial dan
struktur – struktur sendi serta atrofi otot dan penipisan tulang.

11
Arthritis rheumatoid adalah penyakit sistemik dengan gejala ekstra
– artikuler. (Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Volume 3. 2001).
3.2 ETIOLOGI
Penyebab penyakit rheumatoid arthritis belum diketahui secara
pasti, namun faktor predisposisinya adalah mekanisme imunitas
(antigen – antibodi), faktor metabolik dan infeksi virus (Suratun,
Heryati, Manurung & Raenah, 2008).
Agen spesifik penyebab arthritis rheumatoid belum dapat
dipastikan, tetapi jelas ada interaksi faktor genetik dengan faktor
lingkungan. (Maini dan Feldmann, 1998 : Blab et al, 1999).
3.3 MANIFESTASI KLINIS
Ketika penyakit ini aktif gejala dapat termasuk kelelahan,
kehilangan energi, kurangnya nafsu makan, demam kelas rendah, nyeri
otot dan sendi serta kekakuan otot dan kekauan sendi biasanya paling
sering di pagi hari. Disamping itu juga manifestasi klinis rheumatoid
arthritis sangat bervariasi dan biasanya mencerminkan stadium serta
beratnya penyakit. Rasa nyeri, pembengkakan, panas, eritema dan
gangguan fungsi merupakan gambaran klinis yang klasik untuk
rheumatoid arthritis (Smeltzer & Bare, 2002). Gejala sistemik dari
rheumatoid arthritis adalah mudah capek, lemah, lesu, takikardi, berat
badan menurun, anemia (Long, 1996).
3.4 PATOFISIOLOGI
Peradangan AR berlangsung terus-menerus dan menyebar ke
struktur-struktur sendi dan sekitarnya termasuk tulang rawan sendi dan
kapsul fibrosa sendi. Ligamentum dan tendon meradang. Peradangan
ditandai oleh penimbunan sel darah putih, pengaktivan komplemen,
fagositosis ekstensif dan pembentukan jaringan parut. Peradangan
kronik akan menyebabkan membran sinovium hipertrofi dan menebal
sehingga terjadi hambatan aliran darah yang menyebabkan nekrosis sel
dan respons peradangan berlanjut. Sinovium yang menebal kemudian
dilapisi oleh jaringan granular yang disebut panus. Panus dapat
menyebar ke seluruh sendi sehingga semakin merangsang peradangan

12
dan pembentukan jaringan parut. Proses ini secara lambat merusak
sendi dan menimbulkan nyeri hebat serta deformitas.
3.7 KOMPLIKASI
 Osteoporosis
 Gangguan jantung
 Gangguan paru
3.8 PROGNOSIS
Pada umumnya pasien artritis reumatoid akan mengalami
manifestasi penyakit yang bersifat monosiklik (hanya mengalami satu
episode artritis reumatoid dan selanjutnya akan mengalami remisi
sempurna). Tapi sebagian besar penyakit ini telah terkena artritis
reumatoid akan menderita penyakit ini selama sisa hidupnya dan hanya
diselingi oleh beberapa masa remisi yang singkat (jenis polisiklik).
Sebagian kecil lainnya akan menderita artritis reumatoid yang progresif
yang disertai dengan penurunan kapasitas fungsional yang menetap
pada setiap eksaserbasi.
Seperti telah disebutkan sebelumnya, bahwasannya penyakit ini
bersifat sistemik. Maka seluruh organ dapat diserang, baik mata, paru-
paru, jantung, ginjal, kulit, jaringan ikat, dan sebagainya. Bintik-bintik
kecil yang berupa benjolan atau noduli dan tersebar di seluruh organ di
badan penderita. Pada paru-paru dapat menimbulkan lung fibrosis, pada
jantung dapat menimbulkan pericarditis, myocarditis dan seterusnya.
Bahkan di kulit, nodulus rheumaticus ini bentuknya lebih besar dan
terdapat pada daerah insertio dan otot-otot atau pada daerah extensor.
Bila RA nodule ini kita sayat secara melintang maka kita akan dapati
gambaran: nekrosis sentralis yang dikelilingi dengan sebukan sel-sel
radang mendadak dan menahun yang berjajar seperti jeruji roda sepeda
(radier) dan membentuk palisade. Di sekitarnya dikelilingi oleh deposit-
deposit fibrin dan di pinggirnya ditumbuhi dengan fibroblast. Benjolan
rematik ini jarang dijumpai pada penderita-penderita RA jenis ringan.
Disamping hal-hal yang disebutkan di atas gambaran anemia pada
penderita RA bukan disebabkan oleh karena kurangnya zat besi pada
makanan atau tubuh penderita. Hal ini timbul akibat pengaruh

13
imunologik, yang menyebabkan zat-zat besi terkumpul pada jaringan
limpa dan sistema retikulo endotelial, sehingga jumlahnya di daerah
menjadi kurang. Kelainan sistem pencernaan yang sering dijumpai
adalah gratitis dan ulkus peptik yang merupakan komplikasi utama
penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) atau obat pengubah
perjalanan penyakit (desease modifying antiremathoid drugs, DMARD)
yang menjadi faktor penyebab morbiditas dan mortalitas utama pada
artritis reumatoid. Komplikasi saraf yang terjadi tidak memberikan
gambaran jelas, sehingga sukar dibedakan antara akibat lesi artikular
dan lesi neuropatik. Umumnya berhubungan dengan mielopati akibat
ketidakstabilan vertebra servikal dan neuropati iskemik akibat
vaskulitis.
3.9 PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Tes faktor reumatoid positif, antinuclear antibody (ANA), posotif
bermakna pada sebagian penderita.
2. LED naik pada penyakit aktif : Umumnya meningkat pesat ( 80 – 100
mm/h) mungkin kembali normal sewaktu gejala – gejala meningkat;
anemia; albumin serum rendah dan fosfatase alkali meningkat.
3. Rontgen menunjukkan erosi terutama pada sendi – sendi tangan, kaki
dan pergelangan pada stadium dini; kemudian, pada tiap sendi.
4. Kelainan destruktif yang progresif pada sendi dan disorganisasi pada
penyakit yang berat.
5. Kadar asam urat lebih dari 7 mg/dl.

3.10 PENCEGAHAN
Menjaga supaya rematik tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari
– hari, sebaiknya digunakan air hangat bila mandi pada pagi hari.
Dengan air hangat pergerakan sendi menjadi lebih mudah bergerak.
Selain mengobati, kita juga bisa mencegah datangnya penyakit ini,
seperti: tidak melakukan olahraga secara berlebihan, menjaga berat
badan tetap stabil, menjaga asupan makanan selalu seimbang sesuai
dengan kebutuhan tubuh, terutama banyak memakan ikan laut.
Mengkonsumsi suplemen bisa menjadi pilihan, terutama yang

14
mengandung Omega 3. Didalam omega 3 terdapat zat yang sangat
efektif untuk memelihara persendian agar tetap lentur.
3.11 PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
1. Memberikan Pendidikan
Pendidikan yang diberikan meliputi pengertian tentang
patofisiologi, penyebab dan prognosis penyakit termasuk komponen
penatalaksanaan regimen obat yang kompleks. Pendidikan tentang
penyakit ini kepada pasien, keluarga dan siapa saja yang berhubungan
dengan pasien.
Pendidikan pencegahan yang diberikan pada klien berupa istirahat
yang cukup, gunakan kaos kaki atau sarung tangan sewaktu tidur
malam, kurangi aktivitas yang berat secara perlahan – lahan.
2. Istirahat
Sangat penting karena Rematoid Artritis biasanya disertai rasa lelah
yang hebat. Oleh karena itu, pasien harus membagi waktu istirahat dan
beraktivitas.
3. Latihan Fisik
Dapat bermanfaat dalam mempertahankan fungsi sendi. Latihan ini
mencakup gerakan aktif dan pasif semua sendi yang sakit, minimalnya
2x sehari.

4. Termotrafi
Lakukan kompres panas pada sendi – sendi yang sakit dan bengkak
mungkin dapat mengurangi nyeri.
5. Gizi
Pemenuhan gizi pada atritis reumatoid adalah untuk mencapai dan
mempertahankan status gizi yang optimal serta mengurangi peradangan
pada sendi.
Adapun syarat – syarat diet atritis reumatoid adalah protein cukup,
lemak sedang, cukup vitamin dan mineral, cairan disesuaikan dengan
urine yang dikeluarkan setiap hari. Rata – rata asupan cairan yang
dianjurkan adalah 2 – 2 ½ L/hari, karbohidrat dapat diberikan lebih
banyak yaitu 65 – 75% dari kebutuhan energi total.

4.1 RESIKO JATUH

15
A. Pengertian
Jatuh sering terjadi atau dialami oleh usia lanjut. Banyak faktor
berperan di dalamnya, baik faktor intrinsic dalam diri lansia tersebut
seperti gangguan gaya berjalan, kelemahan otot ekstremitas bawah,
kekakuan sendi, sinkope dan dizzines, serta faktor ekstrinsik seperti lantai
yang licin dan tidak rata, tersandung benda – benda, penglihatan kurang
karena cahaya kurang terang, dan sebagainya.
Jatuh adalah suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi
mata, yang melihat kejadian mengakibatkan seseorang mendadak
terbaring/terduduk di lantai / tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa
kehilangan kesadaran atau luka ( Reuben, 1996 ).
B. FAKTOR RESIKO
Untuk dapat memahami faktor risiko jatuh, maka harus dimengerti bahwa
stabilitas badan ditentukan atau dibentuk oleh:
1. Sistem sensori
Yang berperan di dalamnya adalah: visus (penglihatan), pendengaran,
fungsi vestibuler, dan proprioseptif. Semua gangguan atau perubahan
pada mata akan menimbulkan gangguan penglihatan. Semua penyakit
telinga akan menimbulkan gangguan pendengaran. Vertigo tipe perifer
sering terjadi pada lansia yang diduga karpena adanya perubahan
fungsi vestibuler akibat proses manua. Neuropati perifer dan penyakit
degeneratif leher akan mengganggu fungsi proprioseptif (Tinetti,
1992). Gangguan sensorik tersebut menyebabkan hampir sepertiga
penderita lansia mengalami sensasi abnormal pada saat dilakukan uji
klinik.
2. Sistem saraf pusat ( SSP )
SSP akan memberikan respon motorik untuk mengantisipasi input
sensorik. Penyakit SSP seperti stroke, Parkinson, hidrosefalus tekanan
normal, sering diderita oleh lansia dan menyebabkan gangguan fungsi
SSP sehingga berespon tidak baik terhadap input sensorik (Tinetti,
1992).
3. Kognitif
Pada beberapa penelitian, dementia diasosiasikan dengan
meningkatkan risiko jatuh.

16
4. Muskuloskeletal ( Reuben, 1996; Tinetti, 1992; Kane, 1994;
Campbell, 1987; Brocklehurs, 1987 ).
Faktor ini disebutkan oleh beberapa peneliti merupakan faktor yang
benar – benar murni milik lansia yang berperan besar terhadap
terjadinya jatuh.Gangguan muskuloskeletal. Menyebabkan gangguan
gaya berjalan (gait) dan ini berhubungan dengan proses menua yang
fisiologis. Gangguan gait yang terjadi akibat proses menua tersebut
antara lain disebabkan oleh:
a. Kekakuan jaringan penghubung
b. Berkurangnya massa otot
c. Perlambatan konduksi saraf
d. Penurunan visus / lapang pandang
e. Kerusakan proprioseptif

Yang kesemuanya menyebabkan:


1) Penurunan range of motion ( ROM ) sendi
2) Penurunan kekuatan otot, terutama menyebabkan kelemahan
ekstremitas bawah
3) Perpanjangan waktu reaksi
4) Kerusakan persepsi dalam
5) Peningkatan postural sway ( goyangan badan )

Semua perubahan tersebut mengakibatkan kelambanan gerak,


langkah yang pendek, penurunan irama, dan pelebaran bantuan
basal.Kaki tidak dapat menapak dengan kuat dan lebih cenderung
gampang goyah. Perlambatan reaksi mengakibatkan seorang lansia
susah / terlambat mengantisipasi bila terjadi gangguan seperti
terpleset, tersandung, kejadian tiba – tiba, sehingga memudahkan
jatuh.

C. PENYEBAB – PENYEBAB JATUH PADA LANSIA


Penyebab jatuh pada lansia biasanya merupakan gabungan beberapa
faktor, antara lain: ( Kane, 1994; Reuben , 1996; Tinetti, 1992; campbell,
1987; Brocklehurs, 1987 ).
1. Kecelakaan : merupakan penyebab jatuh yang utama ( 30 – 50% kasus
jatuh lansia ), Murni kecelakaan misalnya terpeleset, tersandung.
Gabungan antara lingkungan yang jelek dengan kelainan – kelainan

17
akibat proses menua misalnya karena mata kurang awas, benda –
benda yang ada di rumah tertabrak, lalu jatuh, nyeri kepala dan atau
vertigo, hipotensi orthostatic, hipovilemia / curah jantung rendah,
disfungsi otonom, penurunan kembalinya darah vena ke jantung,
terlalu lama berbaring, pengaruh obat-obat hipotensi, hipotensi
sesudah makan

2. Obat – obatan
a. Diuretik / antihipertensi
b. Antidepresen trisiklik
c. Sedativa
d. Antipsikotik
e. Obat – obat hipoglikemia
f. Alkohol
3. Proses penyakit yang spesifik
4. Idiopatik ( tak jelas sebabnya)
5. Sinkope : kehilangan kesadaransecara tiba-tiba
6. Drop attack ( serangan roboh )
7. Penurunan darah ke otak secara tiba – tiba
8. Terbakar matahari

D. FAKTOR–FAKTORLINGKUNGAN YANG SERING DIHUBUNGKAN


DENGAN KECELAKAAN PADA LANSIA
1. Alat-alat atau perlengkapan rumah tangga yang sudah tua, tidak stabil,
atau tergeletak di bawah
2. tempat tidur atau WC yang rendah / jongkok
3. tempat berpegangan yang tidak kuat / tidak mudah dipegang
4. Lantai yang tidak datar baik ada trapnya atau menurun
5. Karpet yang tidak dilem dengan baik, keset yang tebal / menekuk
pinggirnya, dan benda-benda alas lantai yang licin atau mudah tergeser
6. Lantai yang licin atau basah
7. Penerangan yang tidak baik (kurang atau menyilaukan)
8. Alat bantu jalan yang tidak tepat ukuran, berat, maupun cara
penggunaannya.

E. FAKTOR-FAKTOR SITUASIONAL YANG MUNGKIN


MEMPRESIPITASI JATUH ANTARA LAIN : ( Reuben, 1996; Campbell,
1987 )

18
1. Aktivitas
Sebagian besar jatuh terjadi pada saat lansia melakukan aktivitas biasa
seperti berjalan, naik atau turun tangga, mengganti posisi. Hanya
sedikit sekali ( 5% ), jatuh terjadi pada saat lansia melakukan aktivitas
berbahaya seperti mendaki gunung atau olahraga berat. Jatuh juga
sering terjadi pada lansia dengan banyak kegiatan dan olahraga,
mungkin disebabkan oleh kelelahan atau terpapar bahaya yang lebih
banyak. Jatuh juga sering terjadi pada lansia yang imobil ( jarang
bergerak ) ketika tiba – tiba dia ingin pindah tempat atau mengambil
sesuatu tanpa pertolongan.
2. Lingkungan
Sekitar 70% jatuh pada lansia terjadi di rumah, 10% terjadi di tangga,
dengan kejadian jatuh saat turun tangga lebih banyak dibanding saat
naik, yang lainnya terjadi karena tersandung / menabrak benda
perlengkapan rumah tangga, lantai yang licin atau tak rata, penerangan
ruang yang kurang
3. Penyakit Akut
Dizzines dan syncope, sering menyebabkan jatuh. Eksaserbasi akut
dari penyakit kronik yang diderita lansia juga sering menyebabkan
jatuh, misalnya sesak nafas akut pada penderita penyakit paru
obstruktif menahun, nyeri dada tiba – tiba pada penderita penyakit
jantung iskenmik, dan lain – lain.

F. KOMPLIKASI
Jatuh pada lansia menimbulkan komplikasi – komplikasi seperti : ( Kane,
1994; Van – der – Cammen, 1991 )
1. Perlukaan ( injury )
Rusaknya jaringan lunak yang terasa sangat sakit berupa robek atau
tertariknya jaringan otot, robeknya arteri / vena, Patah tulang (fraktur) :
Pelvis, Femur (terutama kollum), humerus, lengan bawah, tungkai
bawah, kista, Hematom subdural.

19
2. Perawatan rumah sakit
a. Komplikasi akibat tidak dapat bergerak ( imobilisasi )
b. Risiko penyakit – penyakit iatrogenik
3. Disabilitas
a. Penurunan mobilitas yang berhubungan dengan perlukaan fisik.
b. Penurunan mobilitas akibat jatuh, kehilangan kepercayaan diri, dan
pembatasan gerak
4. Resiko untuk dimasukkan dalam rumah perawatan (nursing home)
5. Mati

G. PENCEGAHAN
Usaha pencegahan merupakan langkah yang harus dilakukan karena bila
sudah terjadi jatuh pasti terjadi komplikasi, meskipun ringan tetap
memberatkan.
Ada 3 usaha pokok untuk pencegahan, antara lain : ( Tinetti, 1992; Van –
der – Cammen, 1991; Reuben, 1996 )
1. Identifikasi faktor resiko
2. Penilaian keseimbangan dan gaya berjalan ( gait )
3. Mengatur / mengatasi fraktur situasional

H. PENDEKATAN DIAGNOSTIK
Setiap penderita lansia jatuh, harus dilakukan assesmen seperti dibawah
ini: (Kane, 1994; Fischer, 1982)
1. Riwayat Penyakit (Jatuh)
Anamnesis dilakukan baik terhadap penderita ataupun saksi mata jatuh
atau keluarganya. Anamnesis ini meliputi :
a. Seputar jatuh
b. Gejala yang menyertai : nyeri dada, berdebar – debar, nyeri kepala
tiba-tiba, vertigo, pingsan, lemas, konfusio, inkontinens, sesak
nafas.
c. Kondisi komorbid yang relevan : pernah stroke, Parkinsonism,
osteoporosis, sering kejang, penyakit jantung, rematik, depresi,
defisit sensorik.
d. Review obat – obatan yang diminum : antihipertensi, diuretik,
autonomik bloker, antidepresan, hipnotik, anxiolitik, analgetik,
psikotropik.

20
e. Review keadaan lingkungan : tempat jatuh, rumah maupun tempat-
tempat kegiatannya.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Tanda vital
b. Kepala dan leher : penurunan visus, penurunan pendengaran,
nistagmus, gerakan yang menginduksi ketidakseimbangan, bising.
c. Jantung : aritmia, kelainan katup
d. Neurologi : perubahan status mental, defisit fokal, neuropati
perifer, kelemahan otot, instabilitas, kekakuan, tremor.
e. Muskuloskeletal : perubahan sendi, pembatasan gerak sendi
problem kaki ( podiatrik ), deformitas.

3. Assesmen Fungsional
Dilakukan observasi atau pencarian terhadap :
a. Fungsi gait dan keseimbangan : observasi pasien ketika dari
bangku langsung duduk dikursi, ketika berjalan, ketika membelok
atau berputar badan, ketika mau duduk dibawah.
b. Mobilitas : dapat berjalan sendiri tanpa bantuan, menggunakan alat
bantu, memakai kursi roda atau dibantu
c. Aktifitas kehidupan sehari – hari : mandi, berpakaian, bepergian,
kontinens.
I. PENATALAKSANAAN ( Reuben, 1996; Kane, 1994; Tinetti, 1992 )
Tujuan penatalaksanaan ini untuk mencegah terjadinya jatuh
berulang dan menerapi komplikasi yang terjadi, mengembalikan fungsi
AKS terbaik, mengembalikan kepercayaan diri penderita.
Penatalaksanaan penderita jatuh dengan mengatasi atau
meneliminasi faktor risiko, penyebab jatuh dan menangani komplikasinya.
Penatalaksanaan ini harus terpadu dan membutuhkan kerja tim yang terdiri
dari dokter (geriatrik, neurologik, bedah ortopedi, rehabilitasi medik,
psikiatrik, dll), sosiomedik, arsitek dan keluarga penderita.
Penatalaksanaan bersifat individual, artinya berbeda untuk setiap
kasus karena perbedaan factor – factor yang bekerjasama mengakibatkan
jatuh.Bila penyebab merupakan penyakit akut penanganannya menjadi
lebih mudah, sederhanma, dan langsung bisa menghilangkan penyebab

21
jatuh serta efektif.Tetapi lebih banyak pasien jatuh karena kondisi kronik,
multifaktorial sehingga diperlukan terapi gabungan antara obat
rehabilitasi, perbaikan lingkungan, dan perbaikan kebiasaan lansia itu.
Pada kasus lain intervensi diperlukan untuk mencegah terjadinya jatuh
ulangan, misalnya pembatasan bepergian / aktifitas fisik, penggunaan alat
bantu gerak.
Untuk penderita dengan kelemahan otot ekstremitas bawah dan
penurunan fungsional terapi difokuskan untuk meningkatkan kekuatan dan
ketahanan otot sehingga memperbaiki nfungsionalnya.Sayangnya sering
terjadi kesalahan, terapi rehabilitasi hanya diberikan sesaat sewaktu
penderita mengalami jatuh, padahal terapi ini diperlukan terus – menerus
sampai terjadi peningkatan kekuatan otot dan status fumgsional. Penelitian
yang dilakukan dalam waktu satu tahun di Amerika Serikat terhadap
pasien jatuh umur lebih dari 75 tahun, didapatkanpeningkatan kekuatan
otot dan ketahanannya baru terlihat nyata setelah menjalani terapi
rehabilitasi 3 bulan, semakin lama lansia melakukan latihan semakin baik
kekuatannya.
Terapi untuk penderita dengan penurunan gait dan keseimbangan
difokuskan untuk mengatasi / mengeliminasi penyebabnya/faktor yang
mendasarinya. Penderita dimasukkan dalam program gait training, latihan
strengthening dan pemberian alat bantu jalan. Biasanya program
rehabilitasi ini dipimpin oleh fisioterapis.Program ini sangatmembantu
penderita dengan stroke, fraktur kolum femoris, arthritis, Parkinsonisme.
Penderita dengan dissines sindrom, terapi ditujukan pada penyakit
kardiovaskuler yang mendasari, menghentikan obat-obat yang
menyebabkan hipotensi postural seperti beta bloker, diuretik, anti
depresan, dll.
Terapi yang tidak boleh dilupakan adalah memperbaiki lingkungan
rumah / tempat kegiatan lansia seperti di pencegahan jatuh.

22
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Lanjut usia (Lansia) merupakan salah satu fase kehidupan yang
dialami oleh individu yang berumur panjang. Lansia tidak hanya meliputi
aspek biologis, tetapi juga meliputi psikologis dan social. Lansia adalah
tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian dari proses kehidupan
yang tak dapat dihindarkan dan akan di alami oleh setiap individu. Pada
tahap ini individu mengalami banyak perubahan baik secara fisik maupun
mental, spritual, psikososial adaptasi terhadap stres mulai menurun
Arthritis rheumatoid adalah penyakit sistemik dengan gejala ekstra-
artikuler. ( Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,Volume 3. 2001 ).
Artritis Reumatoid ( AR ) adalah kelainan inflamasi yang terutama
mengenai mengenai membran sinovial dari persendian dan umumnya
ditandai dengan dengan nyeri persendian, kaku sendi, penurunan
mobilitas, dan keletihan. ( Diane C. Baughman. 2000 )
Penyebab penyakit rheumatoid arthritis belum diketahui secara pasti,
namun faktor predisposisinya adalah mekanisme imunitas (antigen –
antibodi), faktor metabolik dan infeksi virus (Suratun, Heryati, Manurung
& Raenah, 2008).
B. SARAN
Setelah penyusun membuat makalah ini, penyusun menjadi tahu
tentang perkembangan yang terjadi pada lansia. Lansia adalah masa
dimana seseorang mengalami kemunduran, dimana fungsi tubuh kita
sudah tidak optimal lagi. Oleh karena itu sebaiknya sejak muda kita

23
persiapkan dengan sebaik-sebaiknya masa tua kita. Gunakan masa muda
dengan kegiatan yang bermanfaat agar tidak menyesal di masa tua. Bagi
yang masih memiliki keluarga yang tergolong lansia, selalu rawat mereka
dengan baik dan berusaha penuhi semua keutuhannya baik fisik maupun
psikisnya.

24
25
Inflamasi non – bacterial disebabkan oleh
infeksi, endokrin, autoimun, metabolic dan
faktor genetik, serta faktor lingkungan

Artritis Reumatoid

Sinovil Tenosinoviti Kelainan Kelainan pd Gambaran


is s pd tulang jaringan ekstra - khas nodul
artikular subkutan
Hiperemia Invasi
& kolagen Erosi tl. & Miopat Sistemi saraf Kelenjar Inflamasi
pembengka kerusakan i k limfe keluar ekstra
kan pd tl. rawan - artikular

Atrofi Neuropati
otot Splenomega perifer
Instabilitas
dan li
Nekrosis & Ruptur tendo
secara parsial deformitas Anemia
kerusakan
atau lokal sendi Osteoporosi
dlm ruang Mk :
sendi s Gangguan
generalisata Sensorik
Mk : Gangguan Kelemahan
Mk : Perikarditis,
Hambatan mekanis & fisik
Nyeri miokarditis
mobilitas fisik fungsional
pd sendi dan radang
Mk : Defisit katup jantung
Perawatan diri

Gambaran khas Perubahan bentuk Mk : Resiko


nodul subkutan tubuh pada tl. dan Trauma
sendi Kegagalan
fungsi
Mk : Gangguan jantung
Mk : Mk : 1
Konsep Diri, Citra
Ansietas Kebutuhan
Diri
Informasi
TEORI ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN REMATOID ARTRITIS
1. Pengkajian
Sistem Muskuloskeletal
a. Inspeksi :
 Perhatian keadaan sendi-sendi pada leher, spina servikal, spina torakal,
lumbai, bahu siku, pergelangan, tangan dan jari tangan, pinggul, lutut,
ekstermitas bawah dan panggul
 Amati kemerahan dan bengkak pada jaringan lunak sekitar sendi.
b. Palpasi :
- Adanya nyeri sendi padadaerah yang disertai kemerahan / bengkak.
Dengan skala nyeri :
Ringan :0–3
Sedang :4–6
Berat : 7 – 10
- Temperatur hangat pada sendi yang nyeri.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan pada yang dapat ditemukan pada klien rumatoid
arthritis (doengoes, 2000) adalah sebagai berikut :
a. Nyeri akut kronis berhubungan dengan distensi jaringan akibat akumulasi
cairan/ proses inflamasi/ destruksi sendi.
b. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas skeletal, nyeri/
ketidaknyamanan, intoleransi terhadap aktivitas atau penurunan kekuatan otot.
c. Gangguan citra tubuh/ perubahan penampilan peran berhubungan dengan
perubahan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas umum, peningkatan
penggunaan energy atau ketidakseimbangan mobilitas.
d. Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan musculoskeletal,
penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri saat bergerak, atau depresi.
e. Resiko tinggi kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah berhubungan
dengan proses penyakit degenerative jangka panjang, system pendukung tidak
adekuat.
f. Kurang pengetahuan/ kebutuhan belajar mengenai penyakit, prognosis, dan
pengobatan berhubungan dengan kurang pemajanan/mengingat, kesalahan
interpretasi informasi

23
ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK
Asuhan Keperawatan Pada Ny.S dengan Reumatik Di UPT PSTW Jombang
di Pare Kediri
I. PENGKAJIAN
IDENTITAS
Nama : Ny.S
Umur : 74 tahun

24
Jenis Kelamin : Perempuan
Riwayat Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Penghasilan : Tidak ada
Tingkat Pendidikan : Tidak Sekolah
Status Perkawinan :Kawin (janda)
Lama tinggal di panti : 3 tahun
Keluarga yang dapat dihubungi : Tidak ada

RIWAYAT KEPERAWATAN (NURSING HISTORY)

Keluhan utama :
Pasien mengatakan nyeri pada kedua kaki
P : Pasien mengatakan nyeri saat terlalu lama berjalan
Q : Nyeri seperti kemeng-kemeng dan cekut-cekut
R : Nyeri pada kedua kaki
S : Skala nyeri
T : Neri timbul saat berjalan atau sering berdiri

Keluhan yang dirasakan tiga bulan terakhir


Pasien mengatakan nyeri pada kedua kaki

Riwayatpenyakit sekarang
Pasien mengatakan menderita penyakit reumatik sudah 1 tahun an

Upaya yang telah dilakukan :


Hanya minum obat yang di berikan oleh petugas kesehatan di panti dan
istirahat tidur
Terapi/operasi yang pernah dilakukan : Tidak ada

Riwayat Kesehatan Terdahulu


Pasien menderita katarak, hipertensi, dan glukoma

Riwayat Kesehatan Keluarga


Di keluarga tidak ada yang menderita katarak, reumatik, hipertensi
danglukoma

Riwayat Kesehatan Lingkungan


Pasien tinggal di ruang mawar timur, lingkungan cukup bersih, tidak ada
tanjakan curam, ada tangga di pintu keluar tetapi ada alat bantu keamanan
atau pegangan

Alasan datang ke Panti Werda

25
Ny. S mengatakan di antar ke panti oleh tetangganya karena kakak iparnya
sudah tidak mau mengurus
.
PEMERIKSAAN FISIK
Tanda-tanda Vital :
TD : 110/80 mmHg
N : 90 x/menit
RR : 18 x/menit

PENGKAJIAN PERSISTEM
Sistem Pernapasan
Anamnesa : pasien tidak mengaluh sesak
Hidung:
Inspeksi: bersih, tidak ada pernaasan cuping hidung, tidak ada secret, tidak
ada polip
Palpasi: tidak ada nyeri tekan, tidak ada fraktur tulang nasal

Mulut
Inspeksi : mukosabibir lembab, tidak ada stomatitis

Sinus paranasalis
Palpasi : tidak ada nyeri tekan

Leher
Inspeksi : simetris
Palpasi : tidak ada masa, tidak ada pembesaran kelenjar limfe

Faring :
Inspeksi : tidak ada oedem, tidak ada kemerahan

Area dada:
Inspeksi: pola napas teratur, tidak ada alat bantu napas, pergerakan dada
simetris
Palpasi: tidak ada nyeri tekan, tidak ada kelainan pada dinding thorax, vocal
premitus simetris kanan kiri
Perkusi : sonor pada seluruh lapang paru
Auskultasi : suara napas vesikuler, tidak terdapat suara napas tambahan
ronkhi maupun wheezing

Cardiovaskuler Dan Limfe


Anamnesa: tidak berdebar-debar, tidak ada nyeri dada
Wajah
Inspeksi : wajah tidak sembab, konjungtivatidak anemis

Leher
Inspeksi : tidak ada bendungan vena jugularis

26
Palpasi : tidak ada bendungan vena jugularis

Dada
Inspeksi : simetris, pulsasi ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis tampak pada ICS 5 midklavikula sinistra
Perkusi : pekak
Auskultasi : BJ1 BJ2 tunggal reguler, tidak ada bunyi tambahanmur mur
maupun gallop

Ekstrimitas Atas
Inspeksi : tidak ada sianosis, adanya perubahan bntuk pada jari-jari tangan
Palpasi : CRT < 3 detik, akral hangat

Ekstrimitas Bawah
Inspeksi : tidak ada sianosis, adanya perubahan bntuk pada jari-jari kaki,
tidak ada oedem
Palpasi : CRT < 3 detik, akral hangat, tidak ada pitting oedem

Persyarafan
Anamnesa :pasien tidak mengeluh nyeri kepala, tidak ada mual muntah
Pemeriksaan Nervus
Uji nervus I olfaktorius ( pembau)
Pasien mampu membau
Ujinervus II opticus( penglihatan)
Pasien mampu melihat benda di depannya
Ujinervus III oculomotorius
Tidak ada oedema pada kelopak mata
Nervus IV toklearis
Pupil isokor, reflek pupil (+)
Nervus V trigeminus ( sensasi kulit wajah)
Sensibilitas wajah.
Rasa raba : dapat merasakan sentuhan kapas yang disentuhkan ke kedua
sisi wajah
Rasa nyeri : dapat merasakan benda tumpul yang digoreskan di kedua sisi
wajah
Rasa suhu : pasien dapat merasakan suhu panas dan dingin
Rasa sikap: pasien dapat menyebutkan bagian wajah yang disentuh oleh
pemeriksa
Rasa getar : pasien dapat merasakan getar
Nervus VI abdusen
Gerakan bola mata tidak simetris
Nervus VII facialis
Pasien dapat merengut dan menggembungkan pipi
Nervus VIII auditorius
Fungsi pendengaran baik
Nervus IX glosopharingeal

27
Reflek muntah positif
Nervus X Vagus
Pasien dapat membedakan rasa pahit, manis, asin, pasien dapat
mengatakan “ah”
Nervus XI Accesorius
Pasien dapat mengangkat bahu
Nervus XII hipoglotus
Pasien dapat menjulurkan lidah dan menggerakkan kesisi kanan dan kiri
PEMERIKSAAN REFLEK
a. reflek fisiologis
reflek bisep : +/+
reflek trisep : +/+
reflek brachiaradialis : +/+
reflek patella +/+
reflek asila :+/+
b. reflek patologis
reflek babinsky :-/-
reflek chaddock : -/-
reflek openhim : -/-
reflek Gordon : -/-
Tingkat kesadaran :
GCS :E4V5M6 (composmentis)
SISTEM PENCERNAAN – ELIMINASI ALVI
Anamnesa : pasien tidak mengeluh mual muntah, makan 3 kali
Mulut
Inspeksi : tidak ada stomatitis , mulut bersih

Lidah
Inspeksi : lidah bersih, pergerakan lidah simetris

Abdomen
Inspeksi : tidak ada luka bekas operasi, tidak ada distensi abdomen, tidak
terjadi asites
Auskultasi : bising usus 12 x/menit
Palpasi : Kuadran 1 : tidak ada hepatomegali, tidak ada nyeri tekan
Kuadran II : tidak ada nyeri tekan
Kuadran III : tidak ada massa, tidak ada skibala
Kuadaran IV : tidak ada nyeri tekan
Perkusi : timpani
SISTEM PERKEMIHAN – ELIMINASI URI
Kandung kemih
Inspeksi : tidak ada pembesaran
Palpasi : tidak ada masa, tidak ada retensi urine
SISTEM MUSCULOSKELETAL DAN INTEGUMENT

28
Anamnesa : pasien mengatakan tidak kuat berjalan jauh hanya mampu
berjalan di depan kamar
Kulit : lembab, tidak gatal-gatal, tidak bersisik
Kekuatan otot :
5 5

5 5

Tingkat mobilisasi : ambulasi mandiri, berjalan terbatas berpegangan


SISTEM ENDOKRIN
Wajah
Inspeksi : tidak moonface
Palpasi : tidak teraba oedema
Leher
Inspeksi : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
Palpasi : tidak teraba pembesaran kelenjar tyroid

SISTEM PERSEPSI – SENSORI


Anamnesa : pasien mengatakan mata kadang buram atau kabur
Mata
Inspeksi : pupil isokor , sclera tidak jernih, katarak
Palpasi : tidak ada pembengkakan kelopak mata
Hidung
Inspeksi : simetris , bersih
Palpasi : tidak ada fraktur
POLA KONSEP DIRI
1. Citra tubuh
Ny. S menyadari kondisinya sekarang dimasa tuaya dengan perubahan dan
penurunan fisik
2. Ideal diri
Ny. S mensyukuri kondisi kesehatannya
3. Harga diri
Ny. S merasa dihargai oleh penghuni panti tapi merasa dibuang oleh
keluarganya
4. Peran diri
Ny. S berperan sebagai anggota panti yang baik
5. Identitas diri
-Ny. S kurang aktif dalam mengikuti kegiatan panti
-Ny. S selalu bercengkrama dengan anggota panti yang lain

POLA PERSEPSI TATA LAKSANA HIDUP SEHAT


1. Ny. S makan 3x/hari sesuai dengan menu yang disediakan oleh pihak
panti
2. Jika sakit Ny.diberi obat oleh perawat yang ada di panti

29
3. Ny. S mandi 3x sehari dengan menggunakan sabun dang anti baju
2x/hari
NILAI DAN KEPERCAYAAN/ SPIRITUAL
Ny. S percaya kepada tuhan yang maha esa dan shalat 5 waktu
ISTIRAHAT TIDUR
Ny. S mengatakan tidur nyenyak

PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL
1. Interaksi sosial
a. Hubungan dengan orang lain dalam wisma baik
b. Hubungan dengan orang lain diluar wisma mampu berinteraksi dengan
baik
c. Kebiasaan lansia berinteraksi ke wisma lainnya dalam panti sering
d. Frekuensi kunjungan keluarga tidak pernah
2. Identifikasi masalah emosional
a. Apakah klien mengalami sukar tidur ? Tidak
b. Apakah klien sering merasa gelisah ? Tidak
c. Apakah klien sering merasa murung/ menangis ? Tidak
d. Apakah klien sering merasa was-was ? Tidak
3. Mengukur tingka tdepresi
Dengan menggunakan skala GDS( skala depresi gereatri) didapat kan skor
9 artimya tidak terjadi depresi.
4. Tingkat kerusakan intelektual
Dengan mengajukan pertanyaan dengan menggunakan SPMSQ ( short
pertable mental status quisioner) kepada NY. S didapatkan hasil pertanyaan
yang salah 4 yang berartiNY.S mengalami kerusakan intelektual ringan.
5. Identifikasi aspek kognitif
Dengan menggunakan MMSE (mini mental stase examination)
didapatkan hasil / skor 21 yang berarti NY.S kategori mengalami gangguan
kognitif sedang.
6. Pengkajian perilaku terhadap kesehatan
a. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
NY.S jarang mengikuti kegiatan panti, mandi 3x sehari , sikat gigi 2x sehari ,
berganti pakaian 2x
b. Tingkat kemandirian dalam kehidupan sehari –hari
Pengkajian fungsional berdasarkan Barthel indeks didapatkan skor 95 berarti
ketergantungan ringan.

PENGUKURAN TINGKAT DEPRESI

Skala Depresi Geriatri (GDS)

NO PERNYATAAN
Apakah bapak/ibu sekarang ini merasa puas dengan √

30
kehidupannya?
Apakah bapak/ibu telah meninggalkan banyak √
kegiatan atau kesenangan akhir-akhir ini?
Apakahbapak/ibu sering merasa hampa/kosong di
dalam hidup ini?
Apakahbapak/ibu sering merasa bosan?
Apakah bapak/ibu merasa mempunyai harapan yang √
baik di masa depan?
Apakah bapak/ibu mempunyai pikiran jelek yang
menganggu terus menerus?
Apakah bapak/ibu memiliki semangat yang baik √
setiap saat?
Apakah bapak/ibu takut bahwa sesuatu yang buruk
akan terjadi pada anda?
Apakah bapak/ibu merasa bahagia sebagian besar
waktu?
10. Apakah bapak/ibu sering merasa tidak mampu √
berbuat apa-apa?
11. Apakah bapak/ibu sering merasa resah dan gelisah??
12. Apakah bapak/ibu lebih senangtinggal dirumah
daripada keluardan mengerjakan sesuatu?
13. Apakah bapak/ibu sering merasa khawatir tentang
masa depan??
14. Apakah bapak/ibu akhir-akhir ini sering pelupai?
15. Apakah bapak/ibu pikir bahwa hidup bapak/ibu √
sekarang ini menyenangkan?
16. Apakah bapak/ibu sering merasa sedih dan putus
asa?
17. Apakah bapak/ibu merasa tidak berharga akhir-akhir √
ini?
18. Apakah bapak/ibu sering merasa khawatir tentang
masa lalu?
19. Apakah bapak/ibu merasa hidup ini
menggembirakan?
20. Apakah sulit bagi bapak/ibu untuk memulai kegiatan
yang baru?
21. Apakah bapak/ibu merasa penuh semangat? √
22. Apakah bapak/ibu merasa situasi sekarang ini tidak
ada harapan;?
23. Apakah bapak/ibu berpikir bahwa orang Iain lebih
baik keadaannya daripada bapak/ibu?
24. Apakah bapak/ibu sering marah karena hal-hal yang
sepele?
25. Apakah bapak/ibu sering merasa ingin menangis?
26. Apakah bapak/ibu sulit berkonsentrasi?

31
27. Apakah bapak/ibu merasa senang waktu bangun tidur √
dipagi hari?
28. Apakah bapak/ibu tidak suka berkumpul di
pertemuan sosial?
29. Apakah mudah bagi bapak/ibu membuat suatu
keputusan?
30. Apakah pikiran bapak/ibu masih tetap mudah dalam
memikirkan sesuatu seperti dulu?

Skor: Hitungjumlahjawaban yang dicentang (Setiapjawaban yang


dicentangmempunyainilai 1)
0 - 10 = Not depressed
11 - 20 = Mild depression
21 - 30 = Severe depression

GDS 15: 1,2,3,4,7,8,9,10,12,14,15,17,21,22,23 (cut-off 5/6 indicated depression)


GDS 10: 1,2,3,8,9,10,14,21,22,23
GDS 4 : 1,3,8,9 (cut-off Vi indicated depression)

4. TIGKAT KERUSAKAN INTELEKTUAL


Ajukan beberapa pertanyaan dengan mengguakan SPMSQ (Short Portable
Mental Status Quesioner)
Benar Salah Nomor Pertanyaan
√ 1 Tanggal berapa hari ini ?
√ 2 Hari apa sekarang ?
√ 3 Apa nama tempat ini ?
√ 4 Dimana alamat anda ?
√ 5 Kapan anda lahir ?
√ 6 Berapa umur anda ?
√ 7 Siapa kepala panti/lurah sekarang ?
√ 8 Siapa kepala panti/lurahsebelumnya ?
√ 9 Siapa nama ibu anda ?
√ 10 20 dikurangi 3 = ? dan seterusnya dikurangi 3
JUMLAH

IntepretasiHasil: ………………
Keterangan :
Salah 0 – 3 : FungsiIntelektualutuh
Salah 4 – 5 : Kerusakanintelektualringan
Salah 6 – 8 : Kerusakanintelektualsedang
Salah 9 – 10 : Kerusakanintelektualberat
4. IDENTIFIKASI ASPEK KOGNITIF
Mini Mental State Examination (MMSE)

32
No Aspek Nilai Nilai Krfiteria
. kognitif Maksimal didapat
1 Orientasi 5 5 Menyebutkan dengan benar
Waktu  Tahun
 Musim
 Tanggal
 Hari
 Bulan
2 Orientasi 5 4 Menyebutkan tempat keberadaan kita
Tempat sekarang
 Negara
 Propinsi
 Kota / Kabupaten
 Panti
3 Registrasi 3 2 Sebutkan tiga nama obyek
4 Perhatian 5 2 Berhitung
dan 100 – 7 sampai 5 tingkat
kalkulasi
5 Mengingat 3 1 Mengulangi menyebutkan obyek pada
no 3
6 Bahasa 9 7  Tunjukkan benda dan tanyakan
namanya
 Buat kalimat dan minta klien
menirukan
 Mengikuti perintah sebanyak tiga
langkah
 Minta untuk melakukan gerakan
 Minta untuk menulis
 Minta untuk menyalin gambar
JUMLAH 21
Intepretasi :……………..

Keterangan :
24 – 30 : Tidakadagangguankognitif
18 – 23 : Gangguankognitifsedang
0 – 17 : Gangguan kognitif berat

VI. PENGKAJIAN PERILAKU TERHADAP KESEHATAN


1. POLA PEMENUHAN KEBUTUHAN SEHARI-HARI
Ny S jarang mengikuti kegiatan panti, mandi 3x sehari, berganti
pakaian 2x sehari

33
2. TINGKAT KEMANDIRIAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Pengkajian Fungsional Berdasarkan Barthel Indeks.
NILAI
NO AKTIVITAS
BANTUAN MANDIRI
1. Makan 5 10
2. Berpindah dari kursi roda ke 5-10 15
tempat tidur dan sebaiiknya,
termasuk duduk di tempat tidur
3. Kebersian diri, mencuci muka, 0 5
menyisir, mencukur dan
4. mengosok gigi 5 10
5. Aktivitas toilet 0 5
Mandi
6. Berjalan di jalan yang datar (jika 10 15
tidak mampu berjalan lakukan
dengan kursi roda)
7. Naik turun tangga 5 10
8. Berpakaian termasuk mengenakan sepatu 5 10
9. Mengontrol defekasi 5 10
10. Mengontrol berkemih 5 10
JUMLAH 95

Penilaian
0 -2 : Ketergantungan
21 - 61 : Ketergantungan berat/sangat tergantung
62 - 90 : Ketergantungan berat
91 - 99 : Ketergantungan ringan
100 : Mandiri
Kapasitas perawatan diri lansia mengalami penurunan

Skala Morse (Skala Resiko Jatuh)


No. Pengkajian Skala Nilai
1. Riwayat jatuh: apakah lansia pernah Tidak 0
jatuh dalam 3 bulan terakhir Ya 25 25
2. Diagnosa sekunder: apakah lansia Tidak 0 15
memiliki lebih dari satu penyait Ya 15
3. Alat bantu jalan: bedrest/dibantu perawat 0
Kruk/tongkat/walker 15
Berpegangan pada benda-benda sekitar 30 30
(kursi,lemari,meja)
4. Terapi intravena Tidak 0 0

34
Apakah saat ini lansia terpasang infus Ya 20
5. Gaya berjalan/cara berpindah 0
normal/bedrest immobilisasi bila (tidak
dapat bergerak sendiri)
Lemah tidak bertenaga 10
Gangguan/tidak normal (pincang/diseret) 20 20
6. Status mental: lansia menyadari kondisi 0 0
dirinya
Total 90

Intepretasi :
Skor 0-24: Resiko jatuh tidak ada
Skor 25-50: Resiko jatuh rendah
Skor ≥ 51: Resiko jatuh tinggi

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN


Diagnosa 1
NS. Nyeri Kronis
DIAGNOSIS : Kategori :Psikologis
(SDKI) Subkategori :NyeridanKenyamanan
Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan
jaringan actual atau fungsional dengan onset mendadak atau lambat dan
DEFINITION:
berintesitasringan hingga berat dan konstan yang berlangsung lebih dari 3
bulan.
 Kondisimuskuloskletalkronis
 Kerusakansistemkronis
 Penekanansyaraf
PENYEBAB  Kondisipasca trauma
 Gangguanfungsi metabolic
 Peningkatanindeksmassatubuh
 Tekananemosional

35
Gejala danTanda Mayor Subjektif Gejala dan Tanda Mayor Objektif
Pasien mengatakan nyeri pada kedua kaki TD : 110/80mmhgS: 36,7 ºC
N : 90 x/mntRR : 20 x/mnt
P : nyeri saat terlalu lama berjalan
- Klien terlihat menahan sakit
Q: nyeri kemeng- kemeng dan cekot- cekot
R: nyeri pada kedua kaki
S: skala 6
T: timbul saat beraktifitas

Diagnosis specify : Nyeri Kronis


Client Related To : nyeri kronis berhubungan dengan kondisi muskuloskletal
kronis
Diagnostic
Statement

Diagnosa 2
NS
Diagnosa Resiko jatuh
NANDA-I
Definisi Beresiko mengalami kerusakan fisik dan gangguan kesehatan akibat terjatuh
1. Usia ≥ 65 tahun (pada dewasa) atau ≤ (pada anak)
2. Riwayat jatuh
3. Penggunaan alat bantu jalan
Faktor 4. Penurunan tingkat kesadaran
resiko 5. Perubahan fungsi kognitif
6. Lingkungan tidak aman
7. Kekuatan otot menurun
8. Hipotensi/hipertensi osteoarthritis
9. Gangguan pendengaran
1. Osteoporosis
2. Kejang
Kondisi 3. Penyakit cerebrovaskuler
klinis 4. Demensia
terkait 5. Hipotensi
6. Intoksitasi
A DS DO

36
S Pasien mengatakan tidak mampu berjalan - Riwayat jatuh
S jauh/lama - Gaya berjalan pincang
E - Berjalan berpegangan
S - Tidak bisa menjangkau ke
M tempat lebih jauh
E - Skala morse 90
N
T Diagnostic :
Clien diagnostic Resiko jatuh
Related to :
Nyeri sendi

III. INTERVENSI KEPERAWATAN


IntervensiKeperawatan1
Tgl Diagnosa Rencana Tindakan
Keperawat Tujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
an
30- Nyeri Setelah 1. Mengatak 1. Kajinyerisecara Mengetahui
03- Kronis dilakukan annyeribe komprehensif karrakteristik
20 tindakan rkurang. nyeri
01 keperawata 2. Memenuh 2. Anjurkanklienu Rasa hangat
8 n di ikebutuha ntukmandi air dapat
harapkan nsecarama hangat, memberikan
nyeri ndiri kompresssendis rasa nyaman.
berkurang. endi, yang
sakitdengankom
presshangat.
3. Berikanmasase Masase
yang lembut meningkatka
n relaksasi
sehingga
menurunkan
rasa sakit

37
4. Ajarkanteknikdi Meningkatka
straksirelaxsasi n relaksasi
memberikan
rasa nyaman
5. Anjurkanpadakl Mengurangi
ienuntukistiraha resiko cedera
tapabilamerasas mengurangi
akit nyeri
6. Kolaborasipemb Memberikan
erianobat dan
membantu
menurunkan
nyeri dengan
obat-obat
yang tepat

Intervensi Keperawatan 2
N Diagnose RencanaKeperawatan
o keperawat Tujuan Kriteriahasil Intervensi Rasional
an
1. Resiko Diharapk Fall prevention Nic ; pencegahan
jatuh ansetelah behavior kecelakaan jatuh 1. Untuk
dilakuka 1. Mampu 1. Identiikasi mengurang
ntindaka mengide kognitif i potensi
nkepera ntifikasi 2. Monitor jatuh
watanpas bahaya saat pasien dalam
ien tidak lingkung berjalan, lingkungan
mengala an yang keseimban tertentu
mi jatuh dapat gan saat 2. Untuk
meningk ambulasi menilai
atkan 3. Ajari kekuatan
resiko pasien pasien
jatuh ;4 bagaimana 3. Dengan
2. Menggu meminimal pengetahua
nakan kan injuri n yang
peganga 4. Identiikasi cukup
n tangan karakteristi mengurang
sesuai k i injuri

38
kebutuh lingkungan 4. Aktor
an ;4 yang dapat lingkungan
3. Memper meningkat yg menjadi
tahankan kan potensi potensi
keseimb untuk jatuh jatuh
angan ;4 5. Modiikasi 5. Memudahk
lingkungan an pasien
sekitar agar tidak
tempat tejadi jatuh
tidur 6. Agar
pasien penglihatan
6. Berikan jelas
lingkungan
yang
tenang

IV. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN


Implementasi 1
N Diagn Tgl/j Implementasi Respon Par
o osa am af
Nyeri 31-3- 1. Mengkajinyerisecarakomprehensif Pasien
kronis 2018 mengata
kan
nyeri
saat
berjalan
, seperti
berdeny
ut dan
kemeng
saat di
pakai
istirahat
nyeri
berkura
ng.

39
2. Menganjurkanklienuntukmandi air Klien
hangat, kompressendi-sendi yang koopera
sakitdengankompreshangat. tif
3. Memberikanmasase yang lembut Pasien
relax
4. Menganjurkantekniknafas dalam Pasien
koopera
tif
5. Menganjurkanpadaklienuntukistirahat Pasien
apabilamerasasakit faham

Implementasi 2
N Diagnosakeper Tanggal Implementasi Respon paraf
o awatan dan jam
1 Resiko jatuh 02-4- 1. Mengidentif 1. Pasien
2018 ikasi berjalan
kognitif pelan
kelemahan dan
pasien berpega
2. Memonitor ngan
pasien saat pada
berjalan, dinnding
melatih 2. Keseimb
keseimbang angan
an pasien
3. Mengajarka belum
n pasien maksim
meminimalk al,
an injuri belum
dengan bisa
menyaranka berjalan

40
n setelah seimban
kekamar g
mandi harus 3. Pasien
mengelap paham
kaki sampai dan
kering dulu, kooperat
saat lantai if
basah 4. Lantai
nunggu kering,
kering benda-
4. Mengidentif benda
ikasi ditaruh
karakter disampi
lingkungan ng-
dengan cara samping
menjaga 5. Alat-alat
lantai agar barang-
tetap kering, barang
menyingkir tertata
kan benda- didekat
benda yang bed
menghalang pasien
i, 6. Pasien
menggunak paham
an pegangan dan
tangan kooperat
5. Memodifika i
si
lingkungan
dengan
mendekatka
n barang-
barang yang
dibutuhkan
pasien
kedekat
pasien,
menata
barang alat-
alat yang
dibutuhkan
ditempat
yang mudah
dijangkau
pasien
6. Memberika

41
n
lingkungan
yang terang
dengan
membuka
cendela
kamar saat
pagi atau
siang hari

V. EVALUASI

No Diagnosa Tgl/Jam Catatan Perkembangan Paraf


Nyeri 01-03-2018 S : Pasien mengatakan masih
Kronis nyeri
O : TTV
 TD : 120/70 mmHg
 N : 87x/menit
 RR : 20x/menit
 Menunjukan area nyeri
 Adanya perubahan pada
jari-jari tangn dan kaki
A : Masalah nyeri kronis belum
teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
I ; a. Mengkompres sendi-sendi
yang sakit dengan air
hangat

42
b. Menganjurkan untuk
mandi dengan air hangat
c. Melalukan massase yang
lebihlembutpada area
kaki
d. Menganjurkan istirahat
yang cukup
E ; a. Ny S mengatakan nyeri
berkurang saat istirahat
b. Ny S mengatakan nyeri
berkurang saat dilakukan
massage
R ; Tujuan teratasi sebagian
intervensi dilanjutkan

No Diagnosakeperawatan Tanggaldan Catatanperkembangan Paraf


jam
1. Resiko jatuh 03-04- S :pasien mengatakan
20182018 tidak jatuh
O : - pasien berjalan
pincang
- Berjalan
berpegangan pada
dinding
- Tidak bisa
menjangkau ke
tempat lebih jauh.
A : Masalah resiko jatuh
teratasi sebagian.
P : Intervensi di lanjutkan
I;
1. Menghilangkan
resiko dari
lingkungan, seperti

43
lantai licin/basah
2. Mengajarkan
keseimbangn
3. Menganjurkan
istirahat yang
cukup
4. Menghindari
permukaan lantai
yang tidak rata dan
curam
E; 1. Pasien tidak turun
tempat tidur saat
lantai masih basah
2. Lingkungan pasien
aman
3. Ny S istirahat saat
mulai capek
4. Pasien tidak capek
R ; tujuan teratasi
sebagian, intervensi
dilanjutkan

VI. EVALUASI

N Diagnos Tgl/Ja Catatan Perkembangan Paraf


o a m
Nyeri 02-04- S : Pasien mengatakan nyeri berkurang
Kronis 2018 O : TTV
 TD : 110/80 mmHg
 N : 80x/menit
 RR : 20x/menit
 Menunjukan area nyeri
 Adanya perubahan pada jari-jari
tangn dan kaki
A : Masalah nyeri kronis teratasi sebagian
P : Intervensi dilanjutkan
I ; a. Menganjurkan untuk istirahat cukup
b. Melatih pergerakan otot
c. Melakukan massage
E ; a. Ny S mengatakan nyeri berkurang
saat istirahat

44
b. Ny S mengatakan nyeri berkurang
saat dilakukan massage
R ; Tujuan teratasi sebagian intervensi
dilanjutkan

N Diagnosakepera Tanggald Catatanperkembangan Paraf


o watan an jam
1. Resiko jatuh 04-04- S :pasien mengatakan tidak jatuh
2018 O : - pasien berjalan pincang
- Ny S berjalan berpegangan
pada dinding ,benda-benda
- Tidak bisa menjangkau ke
tempat lebih jauh.
A : Masalah resiko jatuh teratasi
sebagian.
P : Intervensi di lanjutkan
I;
a. Mengajarkan pasien
meregangkan otot
b. Mengajak pasien jalan-
jalan
c. Menganjurkan pasien
untuk berpegangan saat

45
berjalan
E; 1. Pasien tidak jatuh
2. Pasien menirukan gerakan
meregangkan otot
R ; tujuan teratasi sebagian,
intervensi dilanjutkan

DAFTAR PUSTAKA

Doenges E Marilynn.2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC


Kalim.Handono.1996.Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Mansjoer.Arif.2000.Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculaapius
FKUI.
Smeltzer, Suzanne C dan Bare, Brenda G.2001.Buku AjarKeperawatan Medikal
Bedah Edisi 8.Jakarta : EGC
Azizah, L. M. (2011). Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta:Graha Ilmu
Nugroho, W. 2008.Gerontik dan Geriatik. EGC: Jakarta
Nugroho, W.2000.Keperawatan Gerontik & Geriatric. Edisi 3. EGC. Jakarta
Maryam, S dkk, 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya .Salemba
Medika:Jakarta
Almatsier, S.2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: EGC

46
Azwar, A.2006. Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut Bagi Petugas
Kesehatan. Depkes: Jawa Timur
Nasrul, E.1998.Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat Edisi
2.Jakarta:EGC

47