Sie sind auf Seite 1von 15

KOMUNIKASI TERAPEUTIK TERAPIS PADA PASIEN PENDERITA

STROKE DIRUMAH SAKIT UMUM SYAFIRA PEKANBARU


(Studi Deskriptif Kualitatif Aktifitas Komunikasi Terapeutik Terapis Pada Pasien
Penderita Stroke Di Rumah Sakit Umum Syafira Pekanbaru)
Dwi Rita Susanti
Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Sosial Dan Politik Universitas Riau
Pekanbaru
ABSTRACT
Disease is a matter of each individual. It's just how people are able to accept the
reality they experienced disease. The tendency of the patient's therapist today is often
felt despair due to her illness without seeing a reality that can be achieved if you want
to try hard. Therefore, therapy or treatment is a way of its own which is applied by
some hospitals and treatment so that patients feel comfortable and improved therapist
with a disease she fought. The therapist serves as a teacher and models as well as
confront the patient with a special way that aims to help patients accelerate healing,
face reality without harming themselves or others through several stages of medical
therapy, phase therapy used in hospitals syafira such as by using therapy therapeutic
communication.
This study uses qualitative descriptively, where data obtained through
observation, interviews and documentation. Informants in this study is an expert stroke
therapy is Mrs. Nadia, 7 speakers therapist stroke patients in hospitals Syafira
Pekanbaru selected using purposive sampling technique. The study used data collection
techniques of observation, interviews, and research documentation. To achieve the
validity of the data in this study, researchers used the extension of participation and
triangulation.
The results showed in the first stage of the pre-interaction therapist gather
information about the patient and then devise strategies to the patient's interpersonal
commnuication (openness, empathy, being supportive, positive attitude and equality). At
the stage of orentation/introductions, introduce themselves to patients show a friendly
attitude, sincerity, empathy and warmth. At the stage of work therapist dig up
information on the patient and apply therapeutic methods such as personal
communication. Therapy was given by therapists like stage stand, sit, walk, talk and try
to repeat the social activity. At the stage of termination therapy sessions end at that
time and advise the patient about the next course of action as well as meetings that will
come in the next day.

Pendahuluan hubungan antar manusia dan mencegah


Komunikasi merupakan proses kesalahpahaman yang mungkin terjadi.
yang sangat khusus dan paling berarti Seiring dengan perkembangan
dari perilaku seseorang. Dalam zaman, berbagai macam inovasi baru
kehidupan sehari-hari, setiap individu bermunculan dalam dunia kesehatan.
melakukan proses komunikasi. Sering Dewasa ini dunia kesehatan semakin
kali, komunikasi yang tidak tepat mengutamakan komunikasi dalam
menimbulkan perbedaan pandangan proses penyembuhan yang dapat
atau salah paham. Setiap individu perlu menunjang kesembuhan para
memahami konsep dan proses pasiennya. Terdapat banyak metode
komunikasi untuk meningkatkn pengobatan dengan menggunakan
komunikasi terapeutik yang telah

JOM Fisip Volume 4 No. 1 - Februari 2017 Page 1


dilakukan kepada masyarakat luas. neuroscience, tapi karena nomeklatur
Komunikasi terapeutik merupakan kata (penamaan) neuroscience tidak dikenal
sifat yang dihubungkan dengan seni di Indonesia sehingga kebanyakan
dari penyembuhan. Maka dapat orang menyebut rumah sakit saraf/otak.
diartikan bahwa komunikasi terapeutik Karena di Indonesia nama rumah sakit
adalah segala sesuatu yang dikaitkan dengan nama organ tubuh,
memfasilitasi proses penyembuhan. seperti rumah sakit jantung, rumah sakit
Sehingga komunikasi terapeutik itu kanker, rumah sakit mata, dll. Dengan
adalah komunikasi yang direncanakan tingkat kesakitan karena stroke
dan dilakukan untuk membantu (serangan otak) yang mencapai
penyembuhan/pemulihan pasien 12,3/1.000 penduduk, maka diperlukan
(Damaiyanti, 2008 : 11). rumah sakit yang khusus dan secara
Stroke termasuk penyakit komprehensif menangani masalah
serebrovaskuler (pembuluh darah otak) kesehatan otak dan syaraf (neurologi).
yang ditandai dengan kematian jaringan Stroke juga menjadi penyebab kematian
otak yang terjadi karena berkurangnya terbanyak di rumah-ruma sakit di
aliran darah dan oksigen ke otak. Indonesia. “Untuk itulah rumah sakit
Berkurangnya aliran darah dan oksigen syafira juga memiliki ahli saraf yang
ini bisa dikarenakan oleh adanya menangani tentang neurologi, yang
penyumbatan, penyempitan atau membantu penyakit stroke dan jantung
pecahnya pembuluh darah. Jumlah serta yang lainnya.” kata ibu nadia
penduduk pada usia produktif antara selaku ahli terapi saraf.
umur 15-64 tahun memiliki jumlah Ibu Nadia menjelaskan lagi
yang lebih banyak daripada penduduk bahwa Penderita stroke yang tercatat di
non produktif maupun usia lansia di RS Syafira rata-rata berumur di mulai
Indonesia. Berdasarkan data penduduk pada umur 40 dan 45 tahun keatas dan
sasaran program pembangunan ada juga umur 15-24 keatas . Fenomena
kesehatan tahun 2007-2011, usia menarik adalah tempat kematian yang
produktif berada pada penduduk yang penyebabnya oleh 2 penyakit terbanyak
berusia 15-64 tahun. Sehingga yaitu Kematian yang disebabkan Stroke
menunjukan bahwa pada usia tersebut dan IHD lebih banyak di rumah
sangat berpotensi terserang penyakit dibandingkan di RS. Sejumlah 19,3 %
tidak menular khususnya stroke. Stroke (n= 24.745) kematian akibat Stroke
mulai terjadi pada orang yang berusia terjadi Di Rumah dan 12% (n=24.745)
produktif (Depkes, 2008). Insiden kematian akibat IHD juga terjadi di
stroke meningkat secara eksponensial Rumah. dengan 42% terjadi di negara
dengan bertambahnya usia dan 1,25 berpenghasilan rendah. Komplikasi
kali lebih besar pada pria dibanding hipertensi menyebabkan sekitar 9,4
wanita. kematian di seluruh dunia setiap
Rumah sakit umum Syafira tahunnya. Hipertensi menyebabkan
merupakan salah satu rumah sakit yang setidaknya 45% kematian karena
ada dipekanbaru yang memberikan penyakit jantung dan 51% kematian
layanan khusus bedah salah satunya karena penyakit stroke. Kematian yang
juga menangani kegiatan neurologi disebabkan oleh penyakit
termasuk didalamnya adalah pasien- kardiovaskuler, terutama penyakit
pasien yang mengalami stroke. Rumah jantung koroner dan stroke diperkirakan
sakit syafira Rumah sakit yang juga akan terus meningkat mencapai 23,3
menangani kesehatan otak disebut juta kematian pada tahun 2030. Hal ini

JOM Fisip Volume 4 No. 1 - Februari 2017 Page 2


terjadi dan banyak di lihat pada Berdasarkan latar belakang
masyarakat yang terkena penyakit diatas, maka peneliti bertujuan untuk
tersebut diluar dari umur, faktor mengetahui bagaimana Komunikasi
keturunan serta jenis kelamin adalah Terapeutik Terapis Pada Pasien
masyarakat yang tinggal di perkotaan, Penderita Stroke di Rumah Sakit Umum
kemudian masyarakat yang memiliki Syafira Pekanbaru.
gaya hidup yang tidak baik, perokok
aktif, jarang berolahraga dan diabetes. Rumusan Masalah
Karena gaya hidup serta banyaknya Berdasarkan uraian latar
peningkatan penyakit kardiovaskuler belakang yang dikemukakan diatas,
tersebut maka rumah sakit syafira ingin maka dapat dirumuskan pokok
memberikan pelayanan terbaik bagi permasalahan dalam penelitian ini
pasien penderita penyakit adalah sebagai berikut: “Bagaimana
kardiovaskuler tersebut dan berharap Komunikasi Terapeutik Terapis Pada
akan kesembuhan mereka oleh karaena Pasien Penderita Stroke Di Rumah
itu rumah sakit syafira memiliki Sakit Umum Syafira Pekanbaru.”
program-program unggulan dalam
melakukan terapi yaitu seperti Identifikasi Masalah
endoscopy, haemadolisa, CT-scan serta Berdasarkan rumusan masalah
ruangan dan alat-alat terapi stroke. yang telah dipaparkan diatas, maka
Dengan banyaknya penyakit dapat dirumuskan pokok permasalahan
stroke yang terjadi pada saat ini di luar dalam penelitian ini adalah sebagai
dari peralatan yang memadai, rumah berikut:
sakit syafira sendiri telah menerapkan 1. Bagaimana tahapan komunikasi
beberapa bentuk tahapan terapi dan terapeutik terapis dan pasien
teknik terapi dalam mempercepat penderita stroke di Rumah Sakit
penyembuhan pasien penderita stroke Umum Syafira Pekanbaru?
yang ada pada rumah sakit itu sendiri 2. Bagaimana teknik komunikasi
seperti dalam menyapa pasien dan terapeutik terapis dan pasien
mendengarkan secara seksama apa penderita stroke di Rumah Sakit
keluhan yang dialami pasien dan Umum Syafira Pekanbaru?
menerapkan pengobatan seprti berdiri
dan berjalan serta menghibur suasana Tujuan Penelitian
hati pasien agar pasien merasa tenang Adapun tujuan dari penelitian
dalam menghadapi penyakit yang ini, yaitu:
diderita, tahapan tersebut diperuntukkan 1. Untuk mengetahui tahapan
untuk mempercepat penyembuhan komunikasi terapeutik terapis
pasien itu sendiri baik melalui terapi pada pasien penderita stroke di
bahkan dengan cara penenangan secara Rumah Sakit Umum Syafira
menyentuh psikologis dari pasien itu Pekanbaru.
sendiri dengan menggunakan 2. Untuk mengetahui teknik
komunikasi yang dapat dipahami oleh komunikasi terapeutik terapis
pasien itu sendiri termasuk didalamnya pada pasien penderita stroke di
menggunakan tahapan dari komunikasi Rumah Sakit Umum Syafira
terapeutik. Dengan hal tersebut Pekanbaru.
diharapkan agar penderita dapat
menyembuhkan penyakitnya secara Kegunaan Penelitian
lebih cepat. 1. Kegunaan Akademis:

JOM Fisip Volume 4 No. 1 - Februari 2017 Page 3


a. Sebagai salah satu syarat Dalam tingkat komunikasi, komunikasi
tugas akhir guna kesehatan merujuk pada bidang - bidang
memperoleh gelar sarjana seperti program - program kesehatan
pada strata satu (S1) Ilmu nasional dan dunia, promosi kesehatan,
Komunikasi. dan rencana kesehatan publik. Jika di
b. Untuk menambah wawasan lihat dari konteks kelompok kecil,
dan pengalaman penelitian komunikasi kesehatan merujuk pada
yang sesungguhnya. bidang - bidang seperti rapat - rapat
c. Untuk mengembangkan ilmu membahas perencanaan pengobatan,
pengetahan khususnya ilmu laporan staf, dan interaksi tim medis.
komunikasi. Dalam konteks interpersonal,
2. Kegunaan Praktis: komunikasi kesehatan termasuk dalam
a. Sebagai sumbangan komunikasi manusia yang secara
partisipasi pemikiran penulis langsung mempengaruhi profesional -
dalam dalam penelitian profesional dan profesional dengan
ilmiah terhadap masyarakat klien. Komunikasi kesehatan dipandang
terutama dalam kajian sosial. sebagai bagian dari bidang - bidang
b. Hasil penelitian ini ilmu yang relevan, fokusnya lebih
diharapkan dapat menjadi spesifik dalam hal pelayanan kesehatan
masukan bagi pihak Rumah
Sakit Umum Syafira b. Karakteristik Komunikasi
Pekanbaru umumnya. 1. Komunikasi adalah suatu proses,
Komunikasi merupakan
Tinjauan Pustaka serangkaian tindakan atau
a. Pengertian komunikasi kesehatan peristiwa yang terjadi secara
Komunikasi kesehatan yaitu berurutan.
proses penyampaian pesan 2. Komunikasi adalah upaya yang
kesehatan oleh komunikator melalui disengaja dan punya
saluran/media tertentu pada tujuan (dilakukan dalam
komunikan dengan tujuan untuk keadaan sadar).
mendorong perilaku manusia 3. Komunikasi menuntut adanya
tercapainya kesejahteraan sebagai partisipasi dan kerjasama dari
kekuatan yang mengarah kepada para pelaku yang terlibat.
keadaan (status) sehat utuh secara Aktifitas komunikasi akan
fisik, mental (rohani) dan sosial. berlangsung dengan baik,
Komunikasi kesehatan lebih sempit apabila pihak-pihak yang terlibat
daripada komunikasi manusia pada berkomunikasi.
umumnya. Komunikasi kesehatan 4. komunikasi bersifat simbolis,
berkaitan erat dengan bagaimana Komunikasi pada dasarnya
individu dalam masyarakat merupakan tindakan yang
berupaya menjaga kesehatannya, dilakukan dengan menggunakan
berurusan dengan berbagai isu yang lambang-lambang.
berhubungan dengan kesehatan. 5. Komunikasi bersifat
Dalam komunikasi kesehatan, transaksional, Komunikasi pada
fokusnya meliputi transaksi hubungan dasarnya menuntut dua tindakan;
kesehatan secara spesifik, termasuk memberi dan menerima.
berbagai faktor yang ikut berpengaruh 6. Komunikasi menembus faktor
terhadap transaksi yang dimaksud. ruang dan waktu Komunikasi

JOM Fisip Volume 4 No. 1 - Februari 2017 Page 4


menembus faktor waktu dan c. Pelatihan professional (jenis,
ruang maksudnya bahwa para jenjang dan kurikulum)
peserta atau pelaku yang terlibat d. Pendidikan masyarakat
dalam komunikasi tidak harus (informal)
hadir pada waktu serta tempat e. SDM pendidik, dan lain-lain.
yang sama. 4. Pemasaran sosial yang bertujuan
untuk memperkenalkan atau
c. Cakupan Komunikasi Kesehatan mengubah perilaku positif
Banyak sekali teori, model dan melalui penerapan prinsip-
perspektif mengenai komunikasi prinsip pemasran
kesehatan. Namun, semua model denganbmengintervensi
teoritik maupun praksis itu, informasi kesehatan yang
menurut Alo Liliwari.2007 bermanfaat bagi kominitas.
meliputi: 5. Penyebarluasan informasi
1. Komunikasi persuasive atau kesehatan; melalui media
komunikasi yang berdampak (sosialisasi informasi,
pada perubahan perilaku pendidikan, hiburan, opini,
kesehatan. pemberitaan dan lain-lain).
2. Faktor-faktor psikologi 6. Advokasi, pendamping melalui
individual yang mempengaruhi komunitas, kelompok atau
persepsi terhadap kesehatan. media massa yang bertujuan
a. Stimulus (objek persepsi)  untuk memperkenalkan
sense organ dan permaknaan kebijakan, peraturan, program-
stimulus (respons). program untuk memperbarui
b. Bagaimana mengorganisir kesehatan.
stimulus  berdasarkan 7. Resiko komunitas, bertujuan
aturan, schemata dan label. untuk menyebarluaskan
c. Interpretasi dan evaluasi informasi yang benar mengenai
berdasarkan pengetahuan, resiko yang dihadapi oleh
pengalaman dan lain-lain. masyarakat terhadap infoemasi
d. Memory. kesehatan.
e. Recall. 8. Komunikasi dengan pasien –
meliputi informasi untuk
3. Teori yang digunakan adalah seorang individu, misalnya
teori persepsi Pendidikan informasi yang berkaitan dengan
kesehatan (health education), kondisi kesehatan individu.
yang bertujuan memperkenalkan 9. Informasi kesehatan untuk para
perilaku hidup sehat melalui konsumen – satu aktivitas
informasi dan pendidikan komunikasi yang ditunjukkan
kepada individu dengan kepada para individu-konsumen
menggunakan aktivitas material demi membantu individu untuk
maupun terstruktur. Cakupan memahami kesehatan individu.
pendidikan kesehatan meliputi: 10. Merancang health entertain atau
a. Jenis pendidkan professional hiburan yang didalamnya
dibidang kesehatan mengandung informasi
(kurikulum, dan lain-lain) kesehatan.
b. Penjenjang pendidikan 11. Kommunikasi kesehatan yang
profesi interaktif yakni komunikasi

JOM Fisip Volume 4 No. 1 - Februari 2017 Page 5


kesehatan yang dilakukan f. Manage demand for health
melalui media interaktif services- memenuhi permintaan
sehungga terjadi dialog dan layanan kesehatan.
diskusi antar sumber dengan
penerima melalui media massa. e. Komunikasi Terapeutik
12. Strategi komunikasi, yang Komunikasi terapeutik adalah
meliputi desain pilihan adalah komunikasi yang direncanakan secara
komunikator kesehatan, pesan- sadar, bertujuan dan kegiatannya
pesan kesehatan, media dipusatkan untuk kesembuhan pasien.
kesehatan, komunikan kesehatan Dalam asuhan keperawatan, komunikasi
(audiens-sasaran komunikasi), ditunjukan untuk mengubah perilaku
mereduksi hambatan klien dalam mencapai tingkat kesehatan
komunikasi, menentukan atau yang optimal (Stuart, G.W.,1998).
memilih konteks komunikasi Dalam dunia kesehatan, banyak
kesehatan dan lain-lain (Health kegiatan komunikasi terapeutik yang
Communication Partnership‟s terjadi. Menurut Mulyana komunikasi
M/Mc Health Communication terapeutik termasuk komunikasi
Materials. 2004 : Alo Liliwari. interpersonal yaitu komunikasi antara
2007). orang-orang secara tatap muka yang
memungkinkan setiap pesertanya
d. Tujuan Komunikasi Kesehatan menangkap reaksi orang lain sacara
Pada umumnya program-program langsung, baik secara verbal dan
yang berkaitan dengann nonverbal (dalam Mundakir, 2006:116).
komunikasi kesehatan yang Menurut Heri Purwanto
dirancang dalam bentuk paket acara komunikasi terapeutik adalah
atau paket modul dapat berfungsi komunikasi yang direncanakan secara
untuk : sadar dan bertujuan dan kegiatannya
a. Relay information, meneruskan difokuskan untuk kesembuhan pasien,
informasi kesehatan dari suatu dan merupakan komunikasi professional
sumber kepada pihak lain yang mengarah pada tujuan untuk
secara berangkai ( hunting ). penyembuhan pasien (dalam Mundakir,
b. Enable informed decision 2006:116). Maka komunikasi dalam
making – memberikan informasi keperawatan disebut komunikasi
akurat utk memungkinkan terapeutik.
pengambilan keputusan. Komunikasi terapeutik adalah
c. Promote peer information komunikasi yang mendorong proses
exchange and emotional support penyembuhan klien (Depkes RI, 1997).
– mendukung pertukaran Dalam pengertian lain mengatakan
pertama dan mendukung secara bahwa komunikasi terapeutik adalah
emosional pertukaran informasi proses yang digunakan oleh perawat
kesehatan. memakai pendekatan yang
d. Promote healthy behavior – direncanakan secara sadar, bertujuan
informasi utk memperkenalkan dan kegiatannya dipusatkan pada klien.
perilaku hidup sehat. Komunikasi terapeutik meningkatkan
e. Promote self care – pemahaman dan membantu
memperkenalkan pemeliharaan terbentuknya hubungan yang
kesehatan diri sendiri. konstruktif diantara perawat- klien.
Tidak seperti komunikasi sosial,

JOM Fisip Volume 4 No. 1 - Februari 2017 Page 6


komunikasi terapeutik mempunyai dasar bagi hubungan terapeutik
tujuan untuk membantu klien mencapai antara dokter dan pasien.
suatu tujuan dalam asuhan keperawatan. 3. Tahap Kerja
Stuart dan Sundeen (dalam Tahap kerja merupakan inti dari
Taufik, 2010:45) menjelaskan bahwa keseluruhan proses komunikasi
dalam prosesnya komunikasi terapeutik terapeutik. Tahap kerja merupakan
terbagi menjadi empat tahapan yaitu tahap yang terpanjang dalam
tahap persiapan atau tahap pra-interaksi, komunikasi terapeutik karena
tahap perkenalan atau orientasi, tahap didalamnya dokter dituntut untuk
kerja dan tahap terminasi. membantu dan mendukung pasien
1. Tahap Persiapan/Pra-interaksi untuk menyampaikan perasaan dan
Pada tahap pra-interaksi, dokter pikirannya dan kemudian
sebagai komunikator yang menganalisa respons ataupun pesan
melaksanakan komunikasi terapeutik komunikasi verbal dan non verbal
mempersiapkan dirinya untuk yang disampaikan oleh pasien.
bertemu dengan klien atau pasien. Dalam tahap ini pula dokter
Sebelum bertemu pasien, dokter mendengarkan secara aktif dan
haruslah mengetahui beberapa dengan penuh perhatian sehingga
informasi mengenai pasien baik mampu membantu pasien untuk
berupa nama, umur, jenis kelamin, mendefinisikan masalah yang sedang
keluhan penyakit dan sebagainya. dihadapi oleh pasien, mencari
Apabila dokter telah dapat penyelesaian masalah dan
mempersiapkan diri dengan baik mengevaluasinya.
sebelum bertemu dengan pasien, 4. Tahap Terminasi
maka ia akan bisa menyesuaikan cara Terminasi merupakan akhir dari
yang paling tepat dalam pertemuan dokter dan pasien. Tahap
menyampaikan komunikasi terminasi dibagi dua yaitu terminasi
terapeutik kepada pasien, sehingga sementara dan terminasi akhir.
pasien dapat dengan nyaman Terminasi sementara adalah akhir
berkonsultasi dengan dokter. dari tiap pertemuan dokter dan
2. Tahap Perkenalan/Orientasi pasien.
Tahap perkenalan dilaksanakan Setelah hal ini dilakukan dokter dan
setiap kali pertemuan dengan pasien pasien masih akan bertemu kembali
dilakukan. Tujuan dalam tahap ini pada waktu yang berbeda sesuai dengan
adalah memvalidasi keakuratan data kontrak waktu yang telah disepakati
dan rencana yang telah dibuat sesuai bersama. Sedangkan terminasi akhir
dengan keadaan pasien saat ini, serta dilakukan oleh dokter setelah
mengevaluasi hasil tindakan yang menyelesaikan seluruh proses
telah lalu. keperawatan.
Tahap perkenalan/orientasi adalah
ketika dokter bertemu dengan pasien.
Persiapan yang dilakukan dokter
pada tahap pra-interaksi f. Tujuan Komunikasi
diaplikasikan pada tahap ini. Sangat Terapeutik
penting bagi dokter untuk Komunikasi terapeutik yang
melaksanakan tahapan ini dengan dilakukan oleh perawat tentu memiliki
baik karena tahapan ini merupakan tujuan-tujuan tertentu. Tujuan
komunikasi terapeutik menurut

JOM Fisip Volume 4 No. 1 - Februari 2017 Page 7


Machfoedz (2009: 105) adalah sebagai keadaan, budaya, dan juga konteks
berikut: psikologikal.
“Bertujuan membantu pasien
memperjelas dan mengurangi Menurut Devito (1989),
beban pikiran dan perasaan komunikasi interpersonal adalah
untuk dasar tindakan guna penyampaian pesan oleh satu orang dan
mengubah situas yang ada penerimaan pesan oleh orang lain atau
apabila pasien percaya pada sekelompok kecil orang, dengan
hal-hal yang diperlukan. berbagai dampaknya dan dengan
Disamping itu juga untuk peluang untuk memberikan umpan balik
mengurangi keraguan serta segera (Effendy, 2003 : 30).
membantu dilakukannya
Bentuk kegiatan komunikasi
tindakan yang efektif,
yang kerap dilakukan oleh manusia
mempererat interaksi kedua
adalah komunikasi interpersonal yaitu
pihak, yakni antara pasien dan
komunikasi antara orang -orang secara
perawat secara professional dan
tatap muka yang memungkinkan setiap
proporsional dalam rangka
pesertanya menangkap reaksi orang lain
membantu penyelesaian
secara langsung baik secara verbal
masalah pasien”.
maupun non verbal (Mulyana, 2008 : 81
Komunikasi yang terjalin pada Metode Penelitian
awalnya hanya membicarakan hal-hal a. Desain penelitian
umum dan tidak langsung Pada penelitian ini digunakan
membicarakan hal yang khusus, karena metode penelitian kualitatif. Penelitian
perawat harus mampu menciptakan kualitatif mengarah pada pendekatan
kepercayaan pasien terlebih dahulu. deskriptif, yaitu memberikan gambaran
Selanjutnya perawat harus mampu situasi serta menganalisis data-data
menjaga hubungan yang akrab dengan berdasarkan survey di lapangan. Untuk
pasien sehingga menimbulkan rasa mendapat kesimpulan yang objektif,
nyaman pada pasien. Dengan demikian penelitian kualitatif mencoba
proses komunikasi dapat berjalan mendalami dan menerobos gejalanya
dengan baik dan efektif. dengan menginterprestasikan masalah
atau mengumpulkan kombinasi atau
g. Komunikasi Interpersonal dari berbagai permasalahan dari
Komunikasi interpersonal berbagai permasalahan sebagaimana
adalah komunikasi yang membutuhkan disajikan situasinya.
pelaku atau personal lebih dari satu
orang. R Wayne Pace mengatakan b. Lokasi dan Jadwal Penelitian
bahwa komunikasi interpersonal adalah Penelitian ini dilakukan di
Proses komunikasi yang berlangsung Rumah Sakit Umum Syafira Pekanbaru
antara 2 orang atau lebih secara tatap yang beralamatkan di Jl. Jenderal
muka. Komunikasi Interpersonal Sudirman No.134, Tangkerang
menuntut berkomunikasi dengan orang Tengah, Kota Pekanbaru, Riau 28282.
lain. Komunikasi jenis ini dibagi lagi Penelitian ini akan dilaksanakan
menjadi komunikasi diadik, komunikasi pada periode waktu bulan september-
publik, dan komunikasi kelompok kecil. Oktober secara bertahap yang dimulai
Komunikasi Interpersonal juga berlaku dari tahap persiapan, pelaksanaan,
secara kontekstual bergantung kepada

JOM Fisip Volume 4 No. 1 - Februari 2017 Page 8


pengolahan data dan kemudian Data penelitian yang diperoleh secara
pelaporan. tidak langsung melalui media perantara
(dihasilkan pihak lain) atau digunakan
c. Subjek dan Objek Penelitian oleh lembaga lainnya yang bukan
i. Subjek Penelitian merupakan pengolahnya, tetapi dapat
Subjek penelitian adalah pihak yang dimanfaatkan dalam suatu penelitian
akan dijadikan sebagai sumber tertentu (Ruslan, 2008: 138).
informasi karena memiliki keterkaitan
terhadap objek yang diteliti. Subjek e. Teknik Pengumpulan Data
penelitian dengan istilah informan i. Observasi
adalah dari yang bersangkutan akan Observasi adalah metode
memperoleh innformasi mengenai hal- pengumpulan data yang dilakukan
hal yang bersangkutan dengan topik peneliti untuk mengamati atau mencatat
penelitian (Kuswaya, 2001: 43). Teknik suatu peristiwa dengan penyaksian
yang digunakan dalam penelitian ini langsungnya, dan biasanya peneliti
adalah teknik purposive sampling. dapat sebagai partisipan atau observer
Purposive sampling yaitu memilih dalam menyaksikan atau mengamati
informan melalui seleksi atas dasar suatu objek peristiwa yang sedang
criteria-kriteria tertentu yang dibuat ditelitinya (Ruslan, 2008: 221).
peneliti berdasarkan tujuan penelitian Participant observation
(Arikunto, 2010). (pengamatan partisipan)
ii. Objek Penelitian mengindikasikan keterlibatan peneliti
Sedangkan objek penelitian merupakan sewaktu melakukan observasi sejauh
hal yang diteliti dalam sebuah mana ia basah kuyup sewaktu terjun
penelitian. Objek penelitian adalah kedalam „kolam‟ observasi, apakah
segala sesuatu permasalahan yang sekedar mengobservasi atau
dianggap penting berdasarkan penilaian berpartisipasi. (Alwasilah, 2006: 219).
atau kriteria tertentu dan memiliki Hal-hal yang secara langsung
informs yang dibutuhkan dalam diamati oleh peneliti adalah hal-hal
penelitian (Alwasilah, 2003: 115). yang berhubungan dengan komunikasi
terapeutik terapis pada pasien penderita
d. Jenis dan Sumber Data stroke di RSU Syafira Pekanbaru.
Menurut Lofland dan Lofland dalam
Moleong (2007: 157) sumber data ii. Wawancara
utama dalam penelitian kualitatif ialah Wawancara adalah bentuk
kata-kata dan tindakan, selebihnya komunikasi antara dua orang,
adalah data tambahan seperti dokumen melibatkan seseorang yang ingin
dan lain-lain. memperoleh informasi dari seseorang
i. Data primer lainnya dengan mengajukan pertanyaan-
Data yang dihimpun secara pertanyaan, berdasarkan tujuan tertentu
langsung dari sumbernya dan diolah (Mulyana, 2006: 180). Wawancara
sendiri oleh lembaga bersangkutan tidak terstruktur atau wawancara
untuk dimanfaatkan. Ada dua metode mendalam adalah metode yang selaras
yang dipergunakan untuk pengumpulan dengan perspektif interaksionalisme
data primer, yaitu melalui survey dan simbolik, karena hal tersebut
observasi (Ruslan, 2008:138). memungkinkan pihak yang
ii. Data sekunder diwawancarai utnuk mendefinisikan
dirinya sendiri dan lingkungannya

JOM Fisip Volume 4 No. 1 - Februari 2017 Page 9


untuk menggunakan istilah-istilah i. Teknik Pemeriksaan Keabsahan
mereka sendiri fenomena yang diteliti, Data
tidak sekedar menjawab pertanyaan
(Mulyana, 2006: 183). Dalam penelitian kualitatif,
Wawancara yang peneliti objektivitas dan keabsahan data
lakukan mencakup hal-hal yang penelitian dilakukan dengan melihat
dibutuhkan peneliti. Selanjutnya hasil realibilitas dan validitas data yang
wawancara ini akan dianalisa untuk diperoleh. Pemeriksaan data dilakukan
mendapatkan hasil yang nyata. dengan dua cara, yaitu:

ii. Perpanjangan Keikutsertaan


iii. Dokumentasi
Documentary historical (penelaahan Keikutsertaan peneliti sangat
dokumentasi), dilakukan oleh peneliti menentukan dalam pengumpulan data.
untuk melakukan kontak dengan pelaku Perpanjangan keikutsertaan peneliti
atau dengan partisipan yang terlibat akan memungkinkan peningkatan
pada suatu peristiwa sejarah masa lalu, derajat kepercayaan data yang
dan terdapat empat jenis dokumentasi dikumpulkan untuk menguji ketidak
yang dipergunakan dalam metode ini, benaran informasi yang diperkenalkan
yaitu data archival (arsif), dokumen oleh distorsi, baik yang berasal dari diri
(sejarah) milik lembaga atau pribadi, sendiri maupun dari informan dan
dokumen privacy, milik pribadi (surat membangun kepercayaan subjek.
wasiat, ijazah, berkas rahasia, agenda iii. Triangulasi
catatan pribadi dan sebagainya), Triangulasi adalah teknik
dokumentasi publik (data atau informasi pemeriksaan keabsahan data yang
yang tercantum diberbagai media memanfaatkan sesuatu yang lain.
massa), kepustakaan, bahan publikasi Triangulasi yang paling banyak
instansi dan pengumuman publik digunakan ialah pemeriksaan melalui
(Ruslan, 2008: 222). sumber lainnya.

f. Teknik Analisis Data Pembahasan


Teknik analisis data merupakan a. Komunikasi Terapeutik,
data yang sangat penting dalam Tahapan Dan Teknik
penelitian. Langkah ini dilakukan agar Komunikasi Terapeutik
data yang didapatkan mempunyai arti Komunikasi terapeutik
dan dapat ditarik kesimpulannya adalah komunikasi yang
sebagai jawaban dari setiap direncanakan secara sadar, bertujuan
permasalahan yang diteliti. Analisis dan kegiatannya dipusatkan untuk
data adalah prose penghimpunan atau kesembuhan pasien. Dalam asuhan
pengumpulan, pemodelan dan keperawatan, komunikasi
tranformasi data dengan tujuan untuk ditunjukan untuk mengubah
menyoroti dan memperoleh informasi perilaku klien dalam mencapai
yang bermanfaat, memberikan saran, tingkat kesehatan yang optimal
kesimpulan dan mendukung pembuatan (Stuart, G.W.,1998). Dalam dunia
dan keputusan (Wiji, 2010: 253). kesehatan, banyak kegiatan
komunikasi terapeutik yang terjadi.
Menurut Mulyana komunikasi
terapeutik termasuk komunikasi
interpersonal yaitu komunikasi

JOM Fisip Volume 4 No. 1 - Februari 2017 Page 10


antara orang-orang secara tatap pasien terapi stroke dijelaskan oleh
muka yang memungkinkan setiap ibu nadia dengan pernyataan sebagai
pesertanya menangkap reaksi orang berikut :
lain sacara langsung, baik secara “Persiapan yang saya lakukan
verbal dan nonverbal (dalam sebelum melakukan sesi
Mundakir, 2006:116). Komunikasi konsultasi dan terapi saya lihat
terapeutik terdiri dari 5 tahapan rekam medis yang telah
yaitu tahapan prainteraksi, terlampir sebelumnya. Sehingga
perkenalan, orentasi, tahap kerja dan memudahkan saya untuk melihat
tahap terminasi. Terlepas dari apa dan bagaimana yang harus
tahapan komunikasi terapeutik saya lakukan selanjutnya.
terdapat juga teknik komunikasi Sebenarnya dalam segi apapun
terapeutik diantaranya yaitu tidak perlu dilakukan persiapan
mendengarkan pasien (listening), yang begitu khusus. Karena
menunjukkan penerimaan, setiap hari pasti ketemu pasien
menanyakan pertanyaan yang jadi sudah terbiasa. Persiapan
terikait, mengulang ucapan pasien, yang sering dilakukan dan
mngklarifikasi, memfokuskan, mendasar kalau saya pada saat
menyatakan hasil observasi, silent, ingin tahu medical cek up
meringkas, memberikan sebelum-sebelumnya dan
penghargaanmemberikan mempersiapkan kalau ada pasien
kesempatan pada pasien untuk yang begitu ngotot dengan
memlulai pembicaraan, analisanya daripada analisa
menempatkan kejadian secara medis yang di dapat (wawancara
berurutan, memberikan kesempatan : Ibu Nadia, ahli terapi stroke,
pada pasien untuk mengurangi 01 oktober 2016).”
presepsinya, dan refleksi.
 Fase Orentasi/Perkenalan
Sajian Dan Analisis Data Tahap perkenalan dilaksanakan
a) Komunikasi Terapeutik setiap kali pertemuan dengan pasien
1. Tahapan Komunikasi Terapeutik dilakukan. Tujuan dalam tahap ini
Secara keseluruhan adalah memvalidasi keakuratan data
komunikasi terapeutik yang dan rencana yang telah dibuat sesuai
terdapat pada rumah sakit syafira dengan keadaan pasien saat ini, serta
di jelaskan sebagai berikut : mengevaluasi hasil tindakan yang
 Fase prainteraksi telah lalu. Fase orentasi/perkenalan
Pada tahap pra-interaksi, dokter yang terdapat pada rumah sakit
sebagai komunikator yang syafira di jelaskan oleh ibu nadia
melaksanakan komunikasi dan dibenarkan oleh pasien seperti
terapeutik mempersiapkan dirinya yang tertera dibawah ini :
untuk bertemu dengan klien atau “Seperti yang sudah saya
pasien. Sebelum bertemu pasien, katakan sebelumnya, sesi terapis
dokter haruslah mengetahui beserta konsultasi ini bukan
beberapa informasi mengenai pasien memakan waktu singkat tapi
baik berupa nama, umur, jenis lumayan lama. Oleh karena itu
kelamin, keluhan penyakit dan saya lebih sering ingin membuat
sebagainya. Fase prainteraksi pada pasien saya tertawa selama masa
RS. Syafira dalam menangani terapis dan konsultasi. Saya

JOM Fisip Volume 4 No. 1 - Februari 2017 Page 11


jelaskan secara nalar saja ya atu didalamnya dokter dituntut untuk
kiasan lah biar mudah membantu dan mendukung pasien
dimengerti, stroke terjadi karena untuk menyampaikan perasaan dan
ada bagian saraf tertentu yang pikirannya dan kemudian
tidak sesuai alurnya. Nah oleh menganalisa respons ataupun pesan
karena itu saya sering bergurau komunikasi verbal dan non verbal
terhadap pasien saya, saya yang disampaikan oleh pasien.
bilang kalau terlalu banyak Dalam tahap ini pula dokter
berfikir lama-lama botak seperti mendengarkan secara aktif dan
mario jenuh dan bahkan candaan dengan penuh perhatian sehingga
lainnya. Karena dari sesi itu lah mampu membantu pasien untuk
termasuk juga sebagai salah satu mendefinisikan masalah yang
terapi tidak tampak dalam dunia sedang dihadapi oleh pasien,
medis ahli saraf. Wong, sarafnya mencari penyelesaian masalah dan
sudah bermasalah masak disuruh mengevaluasinya. Fase kerja pada
serius terus, ya makin stroke rumah sakit syafira dalam
entar pasiennya. Dan pertanyaan menangani pasien terapi stroke di
seputar keluarganya bagaimana jelaskan oleh penerapis sebagai
sehatkah atau tidak, sudah berikut :
makan kah. Maka dari itu “jika pasien yang datang adalah
candaan dan pertanyaan diluar pasien yang punya daya bicara
medis paling utama untuk tinggi belum ditanya sudah
membangkitkan komunikasi bebicara, maka saya akan menerima
balasan dari pasien saya. dengan diam dan tersenyum dengan
(wawancara : Ibu Nadia ahli keluhannya. Kemudian pada
terapi stroke. 05 oktober 2016).” tahapan ini saya juga langsung
Pernyataan tersebut dibenarkan memulai sesi terapi yang telah
oleh pasien sebagai berikut : tercatat pada rekam medis.
“Setiap kali saya medical cek up (wawancara : Ibu Nadia, ahli terapi
untuk terapis stroke, ibu nadia stroke 10 oktober 2016).”
selalu nanya dulu sebelum mulai Dan penjelasan diatas dijelaskan
sesi pengobatan, gimana oleh narasumber sebagai berikut :
keadaan sekarang, anak gimana “Saya senang dengan ibu nadia
sehat? Kerjan ok? Kalau saya makannya saya selalu kembali ke
bilang sibuk Dr. Riki selalu rumah sakit syafira ini untuk terapis
gurauin saya jangan terlalu stroke saya, meskipun saya sulit
sibuk seperti selebritis, entar menggerakkan kaki tapi saya senang
penyakitnya juga ikut ngehits berkonsultasi dengan ibu nadia dia
lagi kayak sibuknya. Ibu nadia selalu diam dan tersenyum saat
sering bercanda seperti itu memberikan saya kesempatan
mbak. (wawancara : Ibu berbicara langsung tanpa di tanya
Rosalinda, 05 oktober 2016).” dulu. Kemudian setelah semuanya
 Fase Kerja saya tanyakan barulah saya mulai
Tahap kerja merupakan inti dari diterapi secara keseluruhan karna
keseluruhan proses komunikasi focus stroke saya adalah
terapeutik. Tahap kerja merupakan menggerakkan tangan saya disuruh
tahap yang terpanjang dalam menulis terlebih dahulu baru saya
komunikasi terapeutik karena diajak berjalan dan melakukan

JOM Fisip Volume 4 No. 1 - Februari 2017 Page 12


aktifitas mengangkat beban berikutnya. Sehingga saya tau terapi
sederhana yang sesuai dengan bagaimana yang harus dilakukan
keluhan saya. (wawancara : Ibu pasien agar stroke yang dialaminya
Rosalinda, 10 oktober 2016). berkurang. (wawancara : Ibu Nadia,
 Fase Terminasi ahli terapi stroke. 13 oktober
Terminasi merupakan akhir dari 2016).”
pertemuan penerapi dan pasien. Hasil wawancara diatas juga
Tahap terminasi dibagi dua yaitu diperkuat dengan hasil wawancara
terminasi sementara dan terminasi salah seorang pasien :
akhir. Terminasi sementara adalah “Setelah konsultasi selesai saya
akhir dari tiap pertemuan penerapi melihat penerapi mencatat dan
dan pasien. Setelah hal ini dilakukan barulah perawat datang untuk
penerapi dan pasien masih akan membantu saya dan penerapi ikut
bertemu kembali pada waktu yang dengan saya karena pada saat itu
berbeda sesuai dengan kontrak saya masih susah berjalan akibat
waktu yang telah disepakati stroke pada kaki saya. Setelah sesi
bersama. Sedangkan terminasi akhir terapi selesai barulah perawat
dilakukan oleh penerapi setelah memberi saya obat-obatan.
menyelesaikan seluruh proses (wawancara : Ibu Rosalinda, 13
keperawatan. Metode atau teknik oktober 2016).”
yang digunakan dalam komunikasi
terapeutik antara lain menurut Stuart b. Teknik komunikasi terapeutik
dan Sundeen (dalam Mundakir,  Mendengarkan, menunjukkan
2006:131), yaitu: mendengarkan penerimaan, menanyakan
(listening), pertanyaan terbuka pertanyaan terkait.
(broad opening), mengulang Dalam hal ini penerapis terlebih
(restoring), klarifikasi, refleksi, dahulu mendengarkan apa yang
memfokuskan, membagi persepsi, pasien rasakan meskipun pada
identifikasi tema, diam (silence), catatan medis yang telah dokter
pemberian informasi (informing), berikan telah tertera, dengan
dan menberikan saran. menunjukkan keramah tamahan dan
Dengan melaksanakan beberapa membalikan pertanyaan agar pasien
teknik atau metode komunikasi dapat merasakaan penerimaan yang
terapeutik, maka kegiatan penerapi berikan. Hal ini
komunikasi terapeutik dapat diperuntukkan agar pasien merasa
dilaksanakan dengan baik. Fase nyaman dengan sesi terapinya.
terminasi pada rumah sakit syafira Seperti yang dikatakan oleh ibu
dalam menangani pasien terapi nadia sebagai berikut (sumber : ahli
stroke di jelaskan penerapi sebagai terapi stroke).
berikut : “saya sealu bertanya pada
“Ketika pasien mengatakan semua setiap pasien baru yang
keluhan yang ia rasakan saya selalu datang, apa keluhan yang
mendengarkan dengan baik dan dirasakan, sudah ada sesi
mencatat poin-poin penting. sebulmnya atau belum?
Menanyakan kembali pertanyaan- Dan bagaimana perasaan
pertanyaan agar saya bisa yang anda rasakan saat ini?
merincikan secara rinci apa yang Saya selalu bertanya
harus dilakukan pada sesi hari seperti itu dengan semua

JOM Fisip Volume 4 No. 1 - Februari 2017 Page 13


pasien saya meskipun saya rumah dengan didampingi keluarga
sudah tau keluhan apa dan meminum bahan-bahan/obat-
yang mereka hadapi dari obatan herbal racikan sendiri.
catatan dokter sebelumnya. Seperti penjelasan ibu nadia sebagai
Guna saya bertanya tadi berikut :
yaitu agar pasien merasa
nyaman dengan saya.” “di sela-sela sesi terapi saya selalu
menyempatkan diri untk
 Menyatakan hasil observasi memberikan pengarahan pada
Penerapis memulai pembicaraan pasien agar nantinya kembali
setelah rasanya cukup dengan mengulang sesi terapi di rumah
pemaparan yang pasien berikan dengan didampingi keluarga, lalu
sebelumnya, disini penerapis minumlah juga obat-obatan yang
mulai memberikan intruksi alami di samping obat-obatan yang
kepada pasien untuk langsung kimiawi gunanya untuk
menerapkan hasil mempercepat penyembuhan pasien
observasi/pengamataan yang saya. (sumber : ahli terapi medis
penerapis terima dan juga yang RS. Syafira).”
telah disarankan oleh dokter
seperti untuk menerapi bagian  Meringkas
kaki dengan cara berjalan, Setelah beberapa sesi terapi
ataupun terapi komunikasi diatas selesai penerapi kemudian
seperti berbicara. Hal ini sesuai meringkas kembali penjelasan dan
dengan pernyataan ahli terapi teknik terapi yang telah dilakukan
medis yaitu ibu nadia : pasien. Hal ini bertujuan agar pasien
“setelah sesi awal dan pasien mengingat kembali apa saja yang
saya kira sudah merasa rileks telah dilakukan dalam sesi terapi
saya langsung menjelaskan yang telah ia jalani dan dapat
pengamataan saya dengan mengulang kembali di rumah.
langsung menerapkan terapi “saya selalu tidak pernah lupa untuk
kepada pasien, jika itu stroke mengulang keseluruhan sesi terapi
pada bagian kaki saya melatih saya santi, itu gunanya agar pasien
pasien dengan cara menemani mengingat kembali apa yang telah
mereka berjalan selama lebih kita lakukan dalam sesi terapi. Jadi
kurang 10 menit lalu saya juga dengan senang hati sebelum sesi
melatih mereka untuk duduk dan berakhir aya selalu meringkas
berdiri gunanya agar semuanya kepada pasien. (sumber :
membiasakan otot kaki ahli terapi medis RS. Syafira).”
menopang tubuh (sumber : ahli
terapi medis RS. Syafira).”  Memberikan penghargaan
Sesi terakir yaitu penerapi
 Menawarkan informasi memberikan pujian tentang sesi
Dengan berjalannya sesi terapi terapi yang telah pasien lakukan,
diatas penerapi juga menyelingi guna pujian tersebut agar pasien
beberapa pendapat tentang lebih giat melakukan terapi dan
mempercepat penyembuhan pasien berharap sembuh dengan cepat.
seperti memberikan masukan “terlepas dari semua yang
dengan belajar terapi sendiri di telah saya sebutkan diatas

JOM Fisip Volume 4 No. 1 - Februari 2017 Page 14


tadi santi, saya juga tidak pertanyaan terkait, menyatakan
pernah lupa untuk memuji hasil observasi, menawarkan
pasien saya seperti : hari informasi, meringkas dan
ini andda telah bekerja memberikan penghargaan kepada
keras, jangan menyerah pasien terapi stroke, teknik ini
atau anda akan lekas pulih sama halnya dengan tahapan
jika mengalami kemajuan komunikasi terapetik bertujuan
cepat seperti ini. Saya untuk mmpercepat penyembuhan
selalu memuji seperti itu pasien terapi stroke pada Rumah
agar pasien merasa Sakit Syafira.
nyaman dan bangga Saran
dengan hasil kerja keras Saran yang dapat disampaikan
mereka. (sumber : ahli penulis berdasarkan penelitian ini
terapi medis RS. Syafira).” adalah sebagai berikut :
Kesimpulan 1) Pihak rumah sakit setidaknya
Dari hasil penelitian yang telah menambah jumlah tenaga perawat
disebutkan diatas komunikasi untuk menjaga pasien saat diterapi
terapeutik yang dilakukan pada rumah dan menyediakan fasilitas yang
sakit umum syafira pekanbaru dapat lebih memadai sesuai dengan
disimpulkan sebagai berikut : kebutuhan pasien yang berkaitan
1) Aktifitas komunikasi terapeutik dengan terapi stroke serta
pada rumah sakit syafira memberikan ruang terapi yang
pekanbaru di mulai dengan fase berbeda bagi pria dan wanita agar
ataupun tahapan prainteraksi yaitu dalam pelaksanaan terapi dapat
tahapan persiapan data yang harus dilakukan dengan maksimal.
disiapkan oleh penerapi, tahapan 2) Melihat pentingnya keluarga bagi
orentasi tahapan perkenalan yang psikologis pasien itu sendiri
dilakukan oleh penerapi saat hendaknya disarankan untuk salah
bertemu dengan pasien, tahapan satu keluarga menemani pasien
kerja dalam komunikasi terapeutik dalam melakukan terapi hal ini
yaitu dimana penerapi mengajak diperuntukkan agar pasien merasa
pasien memulai kegiatan yang nyaman dan merasa keluarganya
telah dirancang pada saat tahapan selalu ada untuk mendampinginya.
prainteraksi dan tahapan terminasi
yaitu tahapan akhir yang
dilakukan oleh penerapi kepada
pasien. Komunikasi terapeutik
yang telah diterapkan RS. Syafira
berdampak positif bagi pasien
terapi stroke khususnya untuk
psikologis pasien itu sendiri.

2) Teknik komunikasi terapeutik


yang terdapat pada RS. Syafira
pekanbaru sebagai berikut yang
pertama adalah teknik
mendengarkan, menunjukkan
penerimaan, menanyakan

JOM Fisip Volume 4 No. 1 - Februari 2017 Page 15