Sie sind auf Seite 1von 7

Anggraini, M.D., et al.

, Inovasi Pelayanan SAKINA di Puskesmas Sempu Kabupaten Banyuwangi

Inovasi Pelayanan SAKINA di Puskesmas Sempu Kecamatan Sempu Kabupaten


Banyuwangi
(SAKINA Service Innovation at Sempu Public Health Center, Sempu Sub-Regency, Banyuwangi
Regency)

Mita Dian Anggraini, Anastasia Murdyastuti, Inti Wasiati


Program Studi Administrasi Publik, FISIP Universitas Jember
Jln. Kalimantan 37, Jember 68121
Email: a_murdyastuti.fisip@unej.ac.id; inti_w.fisip@unej.ac.id

Abstract
This study was aimed at describing the service innovation devoted to pregnant women through SAKINA
program at Sempu Public Health Center, Sempu Sub-regency, Banyuwangi regency. Sempu Public Health
Center faced issues germane to the high number of pregnant women and babies’ deaths in its operational
region, wherein the health center was reported to contribute the highest number of mothers and babies’
death rates in Banyuwangi. The high death rates in its operational region occurred due to slow service for
pregnant women. As such, Sempu Public Health Center created an innovation in their service so as to
surmount the issue under the spotlight, resulting in SAKINA service. This research applied descriptive
method in qualitative setting. Research data were collected by observation, interview, and documentation.
Informant determination was done through snowball technique. The obtained data were then tested for its
validity by observation consistency, triangulation, and detailed elaboration. Afterward, data were analyzed
using Miles and Huberman’s analysis model, comprising of data collection, data reduction, data
presentation, and verification. The research findings showed that SAKINA service innovation carried out
by Sempu Public Health Center was effective and efficient in bringing down the death rates of mothers and
babies in its operational region. That was representative of the innovation in service process and methods
applied. The innovation in service process was to give service emphasizing the ease of access, which could
be obtained within and beyond the health center. In terms of method innovation, the health center applied
get-the-ball method, by which midwifes and Laskar cadres came to patient’s house in order to carry out
examination. Implementing these innovations, Sempu Public Health Center managed to nullify the death
rates in 2014 and 2015.

Keywords: innovation, service, SAKINA, get-the-ball method

Pendahuluan kesehatan masyarakat, (b) tingkat pendidikan,


(c) partisipasi angkatan kerja.”
Masyarakat dalam kehidupannya tidak akan lepas
dari kegiatan administrasi, baik dalam hal pengurusan Pengertian tersebut menunjukkan bahwa indeks
dokumen-dokumen negara maupun dalam pemenuhan pembangunan manusia selain dapat diukur dari tingkat
pelayanan kesehatan, karena pada hakekatnya pendidikan dan partisipasi angkatan kerja, juga dapat di
masyarakat atau public membutuhkan pelayanan dari ukur dari kesehatan masyarakatnya. Kesehatan adalah
orang lain. Yang dimaksud orang lain adalah salah satu faktor yang penting dan dominan dalam
pemerintah selaku pemberi pelayanan. Oleh karena itu, mendukung kelancaran setiap orang dalam beraktivitas.
pemerintah sebagai pemberi pelayanan senantiasa Reformasi di bidang kesehatan memang perlu
melakukan pembaruan atau peningkatan pelayanan. dilakukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dan
Peningkatan pelayanan untuk memberikan pelayanan menjadikannya lebih efisien, efektif serta terjangkau
yang lebih baik. Kesehatan adalah hak asasi manusia seluruh lapisan masyarakat. Pihak instansi tidak pernah
dan salah satu unsur kesejahteraan suatu bangsa, serta berfikir apakah masyarakat mengalami kesulitan dalam
menjadi salah satu dari tiga faktor utama yang menjangkau fasilitas kesehatan. Kesulitan-kesulitan
menentukan indeks pembangunan manusia (IPM) atau itulah yang menyebabkan tidak meratanya pelayanan
Human Development Indeks (HDI). Pengertian IPM kesehatan. Untuk itu, diharapkan puskesmas dapat lebih
menurut BPS pusat (2016) adalah: tanggap dan peka melihat serta mendengar apa yang
terjadi di lingkungan sekitar, agar masyarakat di pelosok
“Suatu indeks komposit yang mencakup tiga
tetap dapat merasakan pelayanan kesehatan.
bidang pembangunan manusia yang dianggap
Puskesmas Sempu mempunyai problema angka
sangat mendasar, yaitu usia hidup (longetivity),
kematian ibu dan bayi yang terus meningkat. Puskesmas
pengetahuan (knowledge), dan standar hidup
Sempu menjadi penyumbang terbesar angka kematian
layak (decent living). Oleh karenanya, IPM
ibu dan bayi dibandingkan puskesmas lain di Kabupaten
dapat diukur dari tiga indikator, yaitu (a)

E-SOSPOL Vol. IV Edisi 2; Mei - Agustus 2017; hal. 75 - 81 Hal - 75


Anggraini, M.D., et al., Inovasi Pelayanan SAKINA di Puskesmas Sempu Kabupaten Banyuwangi

Banyuwangi. Berikut ini data angka kematian ibu dan persalinan. Program inovasi pelayanan SAKINA
bayi di Puskesmas Sempu tahun 2011-2015. merupakan ide dari Kepala Puskesmas Sempu yang
kemudian dilegalkan melalui SK Camat Nomor:
Tabel 1. Angka kematian ibu dan bayi di Puskesmas
445/143/KEP/429.519/2014 tentang Program
Sempu periode 2011-2015
“SAKINA” Stop Angka Kematian Ibu dan Anak. Dalam
Tahun AKB AKI SK Camat dilampirkan juga Tim Pelaksana program
2011 11 0 SAKINA yang terdiri atas berbagai elemen, yaitu:
2012 11 4 Ketua PKK Kecamatan, Puskesmas Sempu, Bidan,
2013 17 5 Dokter PONED, Kepala KUA, Analis Kesehatan, dan
2014 0 0 juga Laskar Sakina.
2015 0 0 Dalam penelitian ini, penulis merujuk pada teori
Jumlah 39 9 Muluk (2008:44-45), yaitu Tipologi Inovasi Sektor Publik
yang terdiri atas inovasi produk/layanan, inovasi proses
Sumber: Subtata Usaha UPTD Puskesmas Sempu
pelayanan, dan inovasi metode pelayanan. Dari tipologi
Kecamatan Sempu, tanggal 9 Mei 2016 (diolah)
tersebut penulis menyadari bahwa pembaruan yang
Berdasarkan Tabel 1 di atas, angka kematian bayi dilakukan Puskesmas Sempu melalui program inovasi
di tahun 2011 sebanyak 11 jiwa dan angka kematian ibu pelayanan SAKINA memang benar-benar program baru.
nol (0). Pada tahun 2012 kematian bayi sebanyak 11 Program tersebut merupakan bentuk pengembangan dalam
jiwa dan kematian ibu sebanyak 4 jiwa. Tahun 2013 pelayanan kesehatan pada ibu hamil. Penulis mencoba
angka kematian bayi sebanyak 17 jiwa dan angka menggunakan teori tersebut sebagai dasar teori supaya
kematian ibu sebanyak 5 jiwa. Ditahun 2014 dan 2015 dapat menjelaskan bagaimana bentuk inovasi pelayanan
angka kematian bayi dan ibu zero (0). Angka kematian tersebut sehingga dapat menjawab permasalahan yang ada
bayi dan ibu terlihat tinggi di tahun 2013 jika dilihat di wilayah kerja puskesmas. Untuk itu, peneliti tertarik
dari standar angka kematian ibu dan bayi nasional yaitu untuk melakukan penelitian dengan rumusan masalah
AKI 102/100.000KH dan AKB 23/1000KH. “Bagaimana bentuk inovasi pelayanan kepada ibu hamil
Evaluasi terkait tingginya angka kematian ibu dan melalui program SAKINA di Puskesmas Sempu
bayi tidak hanya dilakukan dengan melihat data riwayat Kecamatan Sempu Kabupaten Banyuwangi?” Tujuan
persalinan, akan tetapi juga mencari faktor lain. Setelah penelitian ini untuk mendeskripsikan bentuk inovasi
dianalisis terdapat empat faktor yang menyebabkan pelayanan pada ibu hamil melalui program SAKINA di
tingginya angka kematian di wilayah kerja Puskesmas Puskesmas Sempu Kecamatan Sempu Kabupaten
Sempu, seperti pada Tabel 2 di bawah ini. Banyuwangi.
Tabel 2. Faktor-faktor penyebab tingginya angka kematian
Tinjauan Pustaka
di wilayah kerja Puskesmas Sempu
No. Penyebab Administrasi Publik
1 Rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya Dengan perkembangan ilmu dan pemikiran manusia,
pemeriksaan kehamilan secara berkala pandangan terhadap administrasi sudah berubah dari
2 Keterlambatan penanganan yang disebabkan oleh aslinya karena dianggap tidak sesuai sehingga muncullah
kondisi geografis dan askes transportasi yang sulit pengertian baru. Seperti yang di kemukakan Anastasia
3 Rendahnya kemampuan masyarakat dalam pembiayaan (2009: 5) “Di Indonesia administrasi diartikan sebagai
kehamilan dan persalinan fungsi dari pada atau apa yang harus dijalankan oleh
4 Masih tingginya angka pernikahan dini. setiap orang yang bertugas kewajiban memimpin atau
Sumber: hasil wawancara dengan Kepala Puskesmas Sempu mengepalai suatu organisasi”. Administrasi dalam
tanggal 9 Mei 2016 pukul 08.30 wib (diolah) perkembangannya dihadapkan pada persoalan yang
semakin rumit, yang menyangkut tugas pelayanan
Dengan berlatar belakang tingginya angka kematian (service) dari masyarakat yang semakin komplek. Dalam
ibu dan anak yang disebabkan oleh banyak faktor, perkembangannya, ilmu administrasi digolongkan
Puskesmas Sempu membuat pemikiran baru yang dapat menjadi dua golongan besar yaitu administrasi negara
memudahkan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan (publik administration) dan administrasi bisnis (busines
kesehatan terbaik khususnya ibu hamil yang tinggal administration) (Anastasia, 2009: 8).
jauh dari puskesmas. Kemudian dibuatlah sebuah Menurut Chandler dan Plato (dalam Yeremias,
program inovasi pelayanan “SAKINA” di tahun 2014 2008: 3) “Administrasi publik adalah proses yang
yang merupakan akronim dari Stop Angka Kematian sumber dan personel publik di organisasi dan
Ibu dan Anak. SAKINA merupakan suatu layanan jasa dikoordinasikan untuk memformulasikan,
di bidang kesehatan secara gratis pada masyarakat mengimplementasikan, dan mengelola keputusan-
(visible service) dengan mengedepankan pelayanan keputusan dalam kebijakan publik”. Variasi definisi
prima dan paripurna khususnya ibu hamil dengan resiko administrasi publik juga dapat dilihat dari pendapat
tinggi guna menekan kematian ibu dan bayi di wilayah Dimock dan Fox (1991) bahwa administrasi publik
kerja Puskesmas Sempu. Inovasi tersebut terpusat pada merupakan produksi barang dan jasa yang direncanakan
proses pelayanan yaitu dengan memberikan pelayanan untuk melayani kebutuhan masyarakat. Nigro dan Nigro
prima dengan model jemput bola dan pendampingan (dalam yeremias, 2008: 5) juga menambahkan bahwa
secara eksklusif pada ibu hamil sejak kehamilan sampai administrasi publik adalah usaha kerjasama kelompok

E-SOSPOL Vol. IV Edisi 2; Mei - Agustus 2017; hal. 75 - 81 Hal - 76


Anggraini, M.D., et al., Inovasi Pelayanan SAKINA di Puskesmas Sempu Kabupaten Banyuwangi

dalam lingkungan publik, yang mencakup ketiga cabang baru, metode baru, dan pendekatan baru, serta upaya
yaitu yudikatif, legislatif, dan eksekutif. untuk mencari solusi kreatif dalam rangka
meningkatkan partisipasi dan memperbaiki kinerja
Pelayanan Publik
governance. Dengan adanya pengertian di atas inovasi
Pelayanan Publik oleh Roth (dalam Istianto
diartikan bahwa inovasi tidak selalu dianggap sebagai
2011:106) sebagai any service available to the public
perubahan yang menyimpang, tetapi lebih dianggap
whether provided publicly (as is a museum) or privately
sebagai upaya untuk mengisi dan menyesuaikan antara
(as is a retaurant meal). Menurut Roth, pelayanan
keadaan wilayah setempat. Manfaat yang ingin dicapai
publik merupakan suatu pelayanan yang telah
dengan adanya inovasi dapat berupa efektivitas,
disediakan jika untuk kepentingan publik disediakan
kecepatan, biaya murah dan rasa senang atau bangga
oleh pemerintah. “Any service” yang dikemukakan oleh
atas layanan yang diterima.
Roth berkaitan dengan barang dan jasa dalam
Inovasi dalam pelayanan publik mempunyai ciri
pelayanan. Pelayanan publik yang dimaksud adalah
khas, yaitu bersifat intangiable artinya karena inovasi
segala bentuk kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh
pelayanan publik dalam organisasi tidak hanya diartikan
suatu organisasi atau individu dalam bentuk barang dan
dengan munculnya suatu produk baru yang dapat
jasa kepada masyarakat baik secara individu maupun
dilihat, tetapi dapat dilihat dari hubungan pelakunya
kelompok atau organisasi.
dalam suatu perubahan. Tipologi inovasi sektor publik
Pelayanan Kesehatan menurut Muluk (2008) yaitu, terdapat inovasi produk
Menurut Levey dan Loomba (dalam Azwar, atau pelayanan, yang selanjutnya di dalam pelayanan
2010:35), pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang terdapat proses, metode, kebijakan dan sistem
diselenggarakan sendiri atau bersama-sama dalam suatu pelayanan.
organisasi untuk memelihara dan meningkatkan a. Inovasi Produk atau layanan berdasarkan
kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta perubahan bentuk dan desain produk atau layanan.
memulihkan perseorangan, keluarga, kelompok, b. Inovasi proses pelayanan berasal dari adanya
ataupun masyarakat. Dalam Undang-Undang Nomor 36 pembaruan kualitas yang berkelanjutan dan
Tahun 2014 tentang kesehatan disebutkan bahwa: berkembang dengan perubahan organisasi, prosedur
dan kebijakan yang dibutuhkan dalam berinovasi.
“pembangunan kesehatan diselenggarakan
Inovasi proses pelayanan dapat dibedakan menjadi
dengan berasaskan perikemanusiaan,
dua kriteria, yaitu inovasi terusan (sustaining
keseimbangan, manfaat, perlindungan, dan
innovation) dan inovasi proses (discontinues
penghormatan terhadap hak dan kewajiban,
innovation). Sustaining Innovation merupakan
keadilan, gender dan nondiskriminatif dan proses inovasi yang membawa perubahan baru
norma-norma agama.” namun dengan tetap mendasarkan diri pada kondisi
Dengan demikian, pelayanan kesehatan bersifat pelayanan dan sistem yang sedang berjalan atau
universal kepada siapapun yang membutuhkan. Bentuk produk yang sudah ada. Discontinues Innovation
dan jenis pelayanan kesehatan banyak macamnya, akan merupakan proses inovasi yang membawa
tetapi jika disederhanakan secara umum dapat perubahan yang sama sekali baru dan tidak lagi
dibedakan menjadi dua. Menurut Hodgetts dan Caseio berdasarkan pada kondisi yang sudah ada
(dalam Azwar, 2010:36), bentuk dan jenis pelayanan sebelumnya.
kesehatan yang dimaksud sebagai berikut. c. Inovasi metode pelayanan adalah cara baru
berinteraksi dalam memberikan pelayanan kepada
1. Pelayanan Kedokteran masyarakat. Metode pelayanan biasanya dapat
Pelayanan kesehatan yang termasuk dalam dirasakan ketika face to face, kini dapat berkembang
kelompok pelayanan kedokteran (medical service) hanya dengan menggunakan teknologi digital.
ditandai dengan pengorganisasian yang dapat d. Inovasi kebijakan mengacu pada visi, misi, tujuan,
bersifat sendiri (solo practice) atau secara bersama- dan strategi yang baru.
sama dalam satu organisasi. Tujuan utamanya e. Inovasi sistem adalah berkembangnya interaksi
untuk menyembuhkan penyakit dan memulihkan sistem yang mencakup cara baru atau cara yang
kesehatan, serta sasarannya terutama untuk diperbarui dalam berinteraksi dengan aktor-aktor
perseorangan dan keluarga. lain atau dapat dikatakan perubahan dalam tata
2. Pelayanan Kesehatan Masyarakat kelola pemerintahan.
Pelayanan kesehatan yang termasuk dalam Program Inovasi
kelompok kesehatan masyarakat (public health Menurut Zaltman (1973) dalam Damanik (2013)
service) ditandai dengan pengorganisasian yang tahapan prosedural program inovasi antara lain: tahapan
umumnya secara bersama-sama dalam suatu permulaan (initiation stage) dan tahap pelaksanaan.
organisasi. Tujuan utamanya untuk memelihara dan
meningkat kesehatan, mencegah penyakit dan 1. Tahap Permulaan (initiation stage) terdiri atas:
sasarannya untuk kelompok atau masyarakat.  langkah pengetahuan dan kesadaran;
 langkah pembentukan sikap terhadap inovasi,
Inovasi Sektor Publik
dan
Menurut Sumarto (2009:14), inovasi adalah upaya
untuk memperkenalkan sesuatu yang baru, artinya ide  langkah pengambilan keputusan

E-SOSPOL Vol. IV Edisi 2; Mei - Agustus 2017; hal. 75 - 81 Hal - 77


Anggraini, M.D., et al., Inovasi Pelayanan SAKINA di Puskesmas Sempu Kabupaten Banyuwangi

2. Tahap Pelaksanaan terdiri atas: atas bidan koordinator desa dan kader SAKINA yang
 langkah awal atau permulaan pelaksanaan berjumlah 6-7 orang. Dalam inovasi produk, SAKINA
 langkah kelanjutan pembinaan inovasi. mempunyai fasilitas untuk ibu hamil, yaitu: 1)
keberadaan rumah singgah yang gunanya sebagai
Inovasi Pelayanan Stop Angka Kematian Ibu dan tempat transit bagi ibu hamil yang tinggal di dalam
Anak (SAKINA) hutan, 2) konsultasi gratis dengan dokter spesialis
SAKINA merupakan layanan jasa di bidang kandungan 1x di RSUD.
kesehatan secara gratis pada masyarakat (visible
service) dengan mengedepankan pelayanan prima dan Inovasi Proses Layanan
paripurna khususnya ibu hamil dengan resiko tinggi Inovasi proses layanan adalah perubahan atau
guna menekan kematian ibu dan bayi di wilayah kerja pembaruan kualitas pelayanan yang terus berlanjut atau
Puskesmas Sempu. Tujuan dari program inovasi bahkan menciptakan suatu alur proses pelayanan yang
tersebut untuk menurunkan angka kematian ibu dan baru guna mempermudah pengguna layanan. Inovasi
bayi di wilayah kerja Puskesmas Sempu. Tulang proses layanan dalam sektor publik mencakup
punggung dalam pelaksanaan program tersebut ialah tim serangkaian peristiwa yang diambil dari masalah sekitar
kader laskar SAKINA. Dalam proses pelayanan yang tujuannya agar dapat menyelesaikan masalah
program SAKINA puskesmas dan segenap tim sebelumnya. Keberadaan program inovasi pelayanan
pelaksana mengutamakan pemberian pelayanan dengan SAKINA di Puskesmas Sempu yaitu memberikan
prinsip kemudahan akses. Inovasi pelayanan SAKINA pelayanan yang lebih eksklusif dalam menangani ibu
ini menggunakan model jemput bola, artinya kader dari hamil di wilayah kerja Puskesmas Sempu, baik ibu
tim SAKINA yang akan mendatangi rumah-rumah ibu hamil tanpa resiko maupun resiko rendah, tinggi,
hamil untuk melakukan pemeriksaan kehamilan setiap ataupun sangat tinggi. Proses pelayanan yang dilakukan
satu minggu satu kali. Semua tim pelaksana program berdasarkan prinsip pelayanan yaitu kemudahan akses.
SAKINA siap 24 jam. Proses pelayanan kepada ibu hamil dilakukan di dalam
puskesmas dan di luar puskesmas. Inovasi proses
Metode Penelitian pelayanan yang dilakukan puskesmas melalui program
tersebut termasuk dalam kategoti inovasi terusan
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif (sustaining inovation) yaitu proses inovasi yang
kualitatif. Lokasi penelitian di Puskesmas Sempu Jalan membawa pembaruan baru namun dengan tetap
Kali Setail No.170 Kecamatan Sempu Kabupaten mendasarkan diri pada kondisi pelayanan dan sistem
Banyuwangi. Penelitian dilaksanakan selama 2 bulan, yang sedang berjalan atau produk yang sudah ada
dari tanggal 20 April – 20 Juni 2016. sebelumnya.
Penelitian ini menggunakan sumber data primer dan
sumber data sekunder dengan teknik pengumpulan Proses Pelayanan Sebelum Program Inovasi
datanya observasi, wawancara, dan dokumentasi. SAKINA
Teknik penentuan informan dilakukan dengan Proses pelayanan pada ibu hamil sebelum adanya
menggunakan teknik snowball. Selanjutnya, data inovasi tersebut yaitu pasien ibu hamil yang harus berperan
dianalisis dengan menggunakan model analisis aktif untuk memeriksakan kehamilannya dengan datang
interaktif Miles dan Huberman yang terdiri atas langsung ke puskesmas, sesuai dengan jadwal yang sudah
pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan diberikan oleh bidan. Ibu hamil juga harus melewati
verfikasi. Uji keabsahan data menggunakan teknik serangkaian alur pelayanan yang ada di Puskesmas Sempu.
ketekunan pengamatan, triangulasi, dan uraian rinci. Pasien (ibu hamil) harus mendaftar di loket puskesmas
dengan membayar uang sebesar Rp 2.000,00 sebagai biaya
Hasil dan Pembahasan administrasi pendaftaran. Kemudian pasien antri di ruang
tunggu yang telah disediakan untuk menunggu panggilan
Inovasi Produk/Layanan dari poli KIA. Setelah dipanggil ibu hamil diperiksa di
Pada inovasi produk, puskesmas membuat produk ruang KIA, dan kemudian bidan memberikan KIE
unggulan bernama SAKINA yang merupakan produk (konseling, informasi, dan edukasi) tentang hasil
layanan jasa gratis kepada ibu hamil dengan pemeriksaan yang telah dilakukan. Setelah itu jika bidan
pendampingan secara eksklusif agar kehamilan lebih memberikan resep, pasien dapat mengambilnya di apotek,
terkontrol. Produk SAKINA tersebut merupakan produk jika tidak diberi resep, pasien dapat langsung pulang.
unggulan yang dibentuk oleh Puskesmas Sempu pada
akhir tahun 2013, akan tetapi baru mendapat legalitas Proses Pelayanan Sesudah Program Inovasi
dari Camat Sempu pada tanggal 3 Januari 2014. SAKINA
SAKINA merupakan akronim dari Stop Angka Proses pelayanan pada ibu hamil pada program
Kematian Ibu dan Anak. SAKINA merupakan layanan inovasi pelayanan SAKINA tidak jauh beda dengan
jasa di bidang kesehatan secara gratis pada masyarakat proses pelayanan yang lama. Hanya, peran bidan atau
dengan mengedepankan pelayanan prima dan paripurna tenaga puskesmas yang lebih aktif dan responsif dalam
khususnya ibu hamil dengan resiko tinggi guna mengawal kesehatan kehamilan ibu hamil khususnya
menekan angka kematian ibu dan bayi di wilayah kerja yang beresiko tinggi dan sangat tinggi.
Puskesmas Sempu. Di dalam program SAKINA Proses pelayanan setelah adanya pogram inovasi
terdapat laskar atau tim yang bertugas mendampingi dan SAKINA yaitu Laskar SAKINA mencari keberadaan ibu
memantau ibu hamil resiko tinggi. Setiap desa terdiri hamil. Setelah menemukan ibu hamil, kader langsung

E-SOSPOL Vol. IV Edisi 2; Mei - Agustus 2017; hal. 75 - 81 Hal - 78


Anggraini, M.D., et al., Inovasi Pelayanan SAKINA di Puskesmas Sempu Kabupaten Banyuwangi

menelpon bidan wilayah/bidan desa, kemudian bidan (trimester ketiga).


mendatangi rumah ibu hamil sesuai dengan informasi Metode pelayanan SAKINA dengan jemput bola
dari kader untuk melakukan deteksi awal resiko tinggi dirasa sudah sangat baik karena bermanfaat bagi ibu
dengan kartu skrining. Ketika dalam proses pemeriksaan hamil. Manfaatnya telah dirasakan langsung oleh ibu
bidan menemukan keluhan yang memerlukan cek hamil baik yang beresiko maupun yang tidak beresiko,
laboraturium, bidan akan segera menelpon ambulance yang mana mereka merasa sangat terbantu dan
puskesmas untuk menjemput ibu hamil dan membawanya dimudahkan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan
ke Puskesmas Sempu. Inovasi pelayanan pada ibu hamil kehamilan. Hal ini karena sebelumnya yang menjadi
melalui inovasi SAKINA dilakukan di luar dan di dalam kendala ibu hamil selain faktor geografis, yaitu
puskesmas, ketika pelayanan dilakukan di dalam kurangnya kepedulian suami terhadap istri yang tidak
puskesmas pelaksana (tenaga medis) menggunakan SOP mau mengantar istrinya untuk periksa ke puskesmas
standar yang sudah ada dipuskesmas. Akan tetapi, jika dengan alasan kerja, capek, dan asumsi bahwa “periksa
pelayanan dilakukan di luar puskesmas pelaksana (tenaga rutin itu tidak penting, yang penting ibunya sehat”.
medis) beracuan pada SOP inovasi. Berdasarkan pemaparan hasil penelitian di atas,
Inovasi proses layanan SAKINA tidak hanya dalam teori Muluk tentang inovasi sektor publik yang terdiri
pemeriksaan rutin seperti yang telah dipaparkan di atas. atas lima tipologi. Namun, peneliti hanya
Akan tetapi, inovasi pelayanannya juga menyangkut mendeskripsikan hasil penelitian dengan menggunakan
pada pelayanan ibu hamil resiko tinggi yang akan tiga tipologi yaitu inovasi produk, proses layanan, dan
melahirkan. Hal ini karena tujuan dari inovasi tersebut metode pelayanan. Peneliti tidak mendeskrpsikan
adalah mengawal dan mendampingi ibu hamil sejak tentang inovasi kebijakan dan sistem karena adanya
awal kehamilan, persalinan, dan pascapersalinan. inovasi SAKINA tidak mengubah standart yang sudah
ada, tetapi hanya menambahkan alur/prosedur inovasi
Tabel 3. Proses pelayanan sebelum dan sesudah inovasi
pelayanan yang dilakukan di luar puskesmas. Ketika
Sebelum Sesudah pelayanan dilakukan di dalam puskesmas kembali
Pasien mendaftar di loket Pasien memberi menggunakan alur atau standar prosedur baku yang ada
puskesmas informasi ke bidan di puskesmas. Berikut ini ditampilkan ringkasan hasil
Pasien antri di ruang Pasien menunggu bidan penelitian sesuai dengan teori Muluk untuk
tunggu di rumah mempermudah pemahaman.
Pasien diperiksa di poli Pasien diperiksa di
KIA rumah Tabel 4. Ringkasan hasil penelitian berdasarkan teori
Pasien menebus resep di Bidan langsung Muluk (2008)
apotek memberikan obat Bidang Inovasi Bentuk inovasinya
Sumber: Data dioleh dari hasil penelitian (2016) Inovasi Puskesmas Sempu membuat
Produk/layanan program inovasi yang bernama
Inovasi Metode Pelayanan SAKINA, yang merupakan
Inovasi metode pelayanan adalah cara baru inovasi layanan jasa dibidang
berinteraksi dalam memberikan pelayanan kepada kesehatan secara gratis pada ibu
masyarakat. Metode pelayanan biasanya dapat dirasakan hamil dan khususnya ibu hamil
ketika berhadapan langsung atau face to face, namun dengan resiko tinggi dengan
dapat juga menggunakan teknologi digital. Dalam hal pendampingan secara eksklusif
ini Puskesmas Sempu menggunakan metode pelayanan agar kehamilan lebih terkontrol.
dengan face to face atau berhadapan langsung dengan Inovasi Proses Pada proses pelayanan
pasien (ibu hamil) dengan metode jemput bola. layanan puskesmas mengedepankan
Penggunaan metode ini dirasa lebih efektif karena prinsip kemudahan akses,
berhubungan langsung dengan pelayanan kesehatan. dimana pelayanan pada ibu
Dengan metode pelayanan yang dilakukan Puskesmas hamil dapat dilakukan di dalam
Sempu dengan metode jemput bola, pelayanan puskesmas dan di luar
kesehatan akan dapat dirasakan secara merata, baik puskesmas yang siap melayani
yang tinggal di desa strategis maupun desa terpencil. 24 jam.
Metode pelayanan pada inovasi SAKINA ini Inovasi Metode Dengan menerapkan metode
menggunakan metode jemput bola, artinya bidan desa Pelayanan jemput bola. Bidan dan kader
dan kader laskar SAKINA yang akan mendatangi rumah Laskar SAKINA yang akan
pasien (ibu hamil) untuk melakukan deteksi awal mendatangi rumah ibu hamil
kehamilan beresiko dan pemeriksaan kehamilan secara untuk melakukan pemeriksaan
berkala yang meliputi pemeriksaan wajib K1-K4. kehamilan rutin.
Pemeriksaan kepada ibu hamil harus mencakup K1-K4. Sumber: Penulis (2016)
Hal tersebut penting untuk melihat perkembangan janin
pada setiap tahapannya. K adalah singkatan dari Hasil analisis terkait inovasi pelayanan yang
kunjungan, yang artinya bidan akan melakukan dilakukan Puskesmas Sempu pada ibu hamil melalui
kunjungan sebanyak empat kali dalam masa kehamilan. program SAKINA sudah berjalan dengan baik jika dilihat
Kunjungan dilakukan pada setiap trimester K1 dari proses pelayanan dan metode yang digunakan.
(trimester pertama), K2 (trimester kedua), K3&K4 Dengan hal tersebut dampaknya yaitu menurunnya angka

E-SOSPOL Vol. IV Edisi 2; Mei - Agustus 2017; hal. 75 - 81 Hal - 79


Anggraini, M.D., et al., Inovasi Pelayanan SAKINA di Puskesmas Sempu Kabupaten Banyuwangi

kematian ibu dan bayi di wilayah kerja Puskesmas layanan dan metode pelayanan yang digunakan
Sempu hingga nol kematian. Akan tetapi, jika dilihat selama dua tahun sehingga inovasi tersebut dapat
berdasarkan teori pelayanan kesehatan masih kurang memberikan pelayanan kesehatan pada ibu hamil
sesuai karena dalam proses pelayanan pada ibu hamil, secara merata hingga ke pelosok-pelosok desa.
bidan dalam melakukan kunjungan atas dasar toleransi Selain itu juga dapat mengurangi angka kematian
yang disebabkan oleh cuaca atau kepentingan pribadi ibu dan bayi yang ada di wilayah kerja Puskesmas
bidan. Dari sinilah pelayanan dirasa kurang sesuai dengan Sempu di tahun 2014-2015 hingga nol (0) kematian.
teori kebidanan yang seharusnya melakukan kunjungan 2. Inovasi produk, puskesmas membuat produk
secara berkala. Padahal, semakin hari permasalahan unggulan bernama SAKINA yang merupakan
kehamilan semakin kompleks. Jika kunjungan tidak produk layanan jasa gratis kepada ibu hamil dengan
sesuai jadwal, pemeriksaan tidak akan sesuai target. pendampingan secara eksklusif agar kehamilan lebih
terkontrol. Dalam inovasi produk, SAKINA
Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat Inovasi
mempunyai fasilitas untuk ibu hamil, yaitu: 1)
Pelayanan SAKINA
keberadaan rumah singgah yang gunanya sebagai
1. Faktor Pendukung tempat transit bagi ibu hamil yang tinggal di dalam
hutan, 2) konsultasi gratis dengan dokter spesialis
a) Komitmen tim pelaksana program
kandungan satu kali di RSUD.
Dalam hal ini, tim pelaksana program akan
3. Inovasi proses layanan dalam inovasi SAKINA ini
mewujudkan keberhasilan programnya. Dengan
berupa pelayanan yang siap melayani 24 jam kepada
adanya komitmen dari tim pelaksana program,
pasien (ibu hamil). Pada inovasi proses pelayanan
masing-masing jabatan akan sadar diri dan lebih puskesmas lebih mengedepankan prinsip pelayanan
bertanggung jawab dalam pelaksanaan tugasnya. kemudahan akses, yang pelayanan pada ibu hamil
b) Adanya Kerjasama dapat dilakukan di dalam puskesmas dan di luar
Kerjasama yang dilakukan dapat berupa kerjasama puskesmas.
pada lintas sektor dan lintas program. 4. Inovasi metode pelayanan yang baru yaitu dengan
jemput bola dengan melakukan pemeriksaan
c) Sosialisasi yang berkelanjutan kehamilan dengan mendatangi rumah ibu hamil.
Kegiatan sosialisasi dilakukan untuk memberikan Untuk dapat menemukan keberadaan ibu hamil
informasi terkait manfaat dan pentingnya program secara cepat, bidan dibantu oleh yang namanya
tersebut. Sosialisasi yang dilakukan dengan kader laskar SAKINA. Kader tersebutlah yang akan
memberikan informasi berjenjang dimulai dari mencari dan menemukan keberadaan ibu hamil
dengan bantuan informasi dari warga dan juga
sosialisasi di tingkat kecamatan, desa, dan dusun.
dengan mendatangi sendiri ke rumah warga atau
2. Faktor Penghambat pasangan usia subur yang telah menikah. Manfaat
dari ditemukannya ibu hamil sejak dini yaitu dapat
a. Kesadaran Masyarakat dipantau dan didampingi mulai awal kehamilan
Peran masyarakat dalam program inovasi tersebut hingga menjelang persalinan agar kehamilannya
yaitu dalam kegiatan program, mereka memiliki tidak beresiko.
hak sebagai pengguna jasa program dan ikut
Saran
mengevaluasi jalannya program. Akan tetapi 1. Harus meningkatkan koordinasi dengan PKK desa
masyarakat kurang menyadari penitngnya sebagai organisasi terdekat dengan masyarakat. Hal
pemeriksaan kehamilan secara rutin, sehingga tersebut untuk membantu meningkatkan kesadaran
mereka kadang-kadang sulit untuk digerakkan. masyarakat (ibu hamil) akan pentingnya
pemeriksaan kehamilan terutama ibu hamil resiko
b. Kemampuan bidan wilayah tinggi.
Permasalahan pada kehamilan semakin hari 2. Perlu penambahan pelatihan atau lokakarya
semakin berkembang. Hal ini karena ketika ada kesehatan untuk bidan, dokter PONED dan laskar
permasalahan pada ibu hamil kadang-kadang bidan SAKINA tentang penanganan ibu hamil. Pelatihan
wilayah tidak dapat menangani sehingga ibu hamil tersebut dengan tujuan bidan wilayah akan semakin
harus dirujuk ke puskesmas ataupun rumah sakit kompeten di bidangnya dalam menangani ibu hamil.
daerah. Hal ini jika tidak segera diatasi,
Daftar Pustaka
pelaksanaan inovasi pelayanan akan terhambat.
Buku
Penutup Azwar, Azrul. 2010. Pengantar Administrasi
Kesehatan. Jakarta: Binarupa Aksara.
Kesimpulan
1. Inovasi pelayanan SAKINA kepada ibu hamil yang Istianto, Bambang. 2009. Manajemen Pemerintahan
dilakukan Puskesmas Sempu merupakan pelayanan Dalam Perspektif Pelayanan Publik. Jakarta:
yang efektif dan efisien dalam menurunkan angka Keban, Yeremias T. 2008. Enam Dimensi Strategis
kematian ibu dan bayi yang ada di wilayah kerja Administrasi Publik (konsep, teori, dan isu).
Yogyakarta: Gava Media.
Puskesmas Sempu. Hal ini dilihat dari inovasi proses

E-SOSPOL Vol. IV Edisi 2; Mei - Agustus 2017; hal. 75 - 81 Hal - 80


Anggraini, M.D., et al., Inovasi Pelayanan SAKINA di Puskesmas Sempu Kabupaten Banyuwangi

Muluk, Khairul. 2008. Knowledge Management Kunci Perundang-undangan


Sukses Inovasi Pemerintah Daerah. Jatim: SK Camat Nomor 445/143/KEP/429.519/2014 tentang
Bayumedia Publishing. Inovasi Program Stop Angka Kematian Ibu dan
Murdyastuti, Anastasia. 2009. Teori Administrasi Anak (SAKINA).
Publik. Malang: Universitas Brawijaya Malang.
Internet
Sumarto, Hetifah Sj. 2009. Inovasi, Partisipasi, dan
Jatim.bps.go.id diakses tgl 18 Januari 2016 pukul 08.00
Good Governance. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia. wib.
Suwarno, Yogi. 2008. Inovasi disektor publik.
Jakarta:STIA-LAN Press.

E-SOSPOL Vol. IV Edisi 2; Mei - Agustus 2017; hal. 75 - 81 Hal - 81