You are on page 1of 16

MAKALAH

KEPERAWATAN GAWAT DARURAT


LAPORAN PENDAHULUAN TRAUMA ABDOMINAL
( TRAUMA ABDOMINAL TUMPUL DAN TRAUMA ABDOMINAL TAJAM )
Dosen Pembimbing : Achmad Kusyairi S,Kep Ns., M.Kep

Di susun oleh:

Nur aisah 14201.08.16032


Hafidho Iqro’ul Maufiroh 14201.08.16012
Dewi Puspita Sari 14201.08.16008
Zainal Arifin 14201.08.16052
Inna Yatul Maula 14201.08.16014
Zubaidah 14201.08.16054
Ira Astutik 14201.08.16015
Putri Nurul D . Z 14201.08.16036
Muhammad baydowi 14201.08.16025
Reni Dwi Fatmala 14201.08.16037

SARJANA KEPERAWATAN
STIKES HAFSHAWATY ZAINUL HASAN GENGGONG
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Trauma abdomen mungkin mengancam nyawa dan harus ditangani dengan


hati-hati. Setelah trauma, perut mungkin suatu tempat untuk perdarahan okultisme itu,
jika tidak ditemukan dan diperbaiki secepatnya, dapat mengakibatkan konsekuensi
buruk. Secara tradisional cedera ini diklasifikasikan sebagai trauma tumpul, yang
sebagian besar berasal dari tabrakan kendaraan bermotor, dan trauma tajam, yang
sebagian besar adalah sekunder untuk tembakan atau tikaman. Pasien dengan trauma
abdomen harus memperoleh penilaian cepat, stabilisasi, dan konsultasi bedah dini
untuk memaksimalkan peluang hasil yang sukses.
Trauma tajam adalah hasil dari senjata api tinggi atau kecepatan rendah,
cedera tusuk, dan penetrasi benda asing ke dalam tubuh. Senjata api menyebabkan
insiden tinggi (90%) pada peritoneum / cedera organ solid yang serius, dengan tingkat
kematian 10-30%. Dua pertiga dari luka tusukan menembus peritoneum, dengan 50-
75% dari pasien ini memiliki cedera pembuluh darah atau organ solid yang signifikan.
Kematian telah dilaporkan pada 5% dari cedera tusukan serius. Luka tusukan lebih
sering di sebelah kiri (penyerang dominan kanan) dan di kuadran atas. Dalam 30%
dari luka tusuk perut, ada 30% diiringi penetrasi rongga toraks. Cedera diafragma
menjadi perhatian khusus dalam kasus ini.
Pada hakekatnya, pengenalan, penilaian cepat, dan tatalaksana awal yang baik
pada trauma tajam abdomen sangat diperlukan karena hal ini menentukan outcome
dan tatalaksana lanjutan terbaik yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya
komplikasi atau kematian yang tidak diharapkan.
B. Rumusan masalah
1. Apa Definisi Trauma Abdomen tumpul dan tajam ?
2. Apa Etiologi Trauma Abdomen tumpul dan tajam ?
3. Apa Patofisiologi Trauma Abdomen tumpul dan tajam ?
4. Apa Manifestasi Klinis Trauma Abdomen tumpul dan tajam?
5. Apa Pemeriksaan Penunjang Trauma Abdomen tumpul dan tajam?
6. Bagaimana Kondisi Gawat Darurat Pada Trauma Abdominal ?
7. Bagaimana Penatalaksanaan Trauma Abdomen tumpul dan tajam?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Definisi Trauma Abdomen tumpul dan tajam.
2. Untuk mengetahui Etiologi Trauma Abdomen tumpul dan tajam.
3. Untuk mengetahui Patofisiologi Trauma Abdomen tumpul dan tajam.
4. Untuk mengetahui Manifestasi Klinis Trauma Abdomen tumpul dan tajam.
5. Untuk mengetahui Pemeriksaan Penunjang Trauma Abdomen tumpul dan tajam.
6. Untuk mengetahui Penatalaksanaan Trauma Abdomen tumpul dan tajam.
7. Untuk Mengetahui Kondisi Gawat Darurat Pada Trauma Abdominal.
D. Manfaat
1. Bagi Institusi Pendidikan

Makalah ini bagi Institusi pendidikan kesehatan adalah untuk mengetahui


tingkat kemampuan mahasiswa sebagai peserta didik dalam menelaah suatu
fenomena kesehatan yang spesifik tentang Trauma Abdominal
2. Bagi Tenaga Kesehatan (Perawat)
Makalah ini bagi tenaga kesehatan khususnya untuk perawat adalah untuk
mengetahui pentingnya bagaimana pelayanan yang tepat kepada penderita Trauma
Abdominal
3. Bagi Mahasiswa
Manfaat makalah ini bagi mahasiswa baik menyusun maupun pembaca adalah
untuk menambah wawasan terhadap seluk beluk tentang Trauma Abdominal.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar Trauma Abdomen
1. Definisi trauma abdomen
Trauma abdomen adalah cedera pada abdomen, dapat berupa trauma tumpul
dan tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja. ( Brunner
&Suddarth, 2015).
Trauma Abdomen adalah cedera yang terjadi anterior dari garis puting ke
lipatan inguinal dan posterior dari ujung skapula ke lipatan gluteal.(Taufan
Nugroho, 2015 )
Menurut “ Anggota Kelompok ” Trauma abdomen yaitu cedera yang dialami
di perut kita yang terbagi menjadi dua yaitu cedara abdominal tajam dan cedar
abdominal tumpul. ( kelompok 5, 2019)
2. Definisi Trauma Abdomen Tumpul
Menurut Jurnal “An experience with blunt abdominal trauma: evaluation”
abdominal trauma tumpul adalah keadaan darurat yang sering terjadi dan
dikaitkan dengan morbiditas dan mortalitas yang signifikan walaupun terdapat
peningkatan pengakuan, diagnosis dan manajemen. ( Nikhil Mehta, 2014 )
Trauma abdomen tumpul adalah pukulan atau benturan langsung pada rongga
abdomen yang mengakibatkan cedera tekanan pada isi rongga abdomen. ( Taufan
Nugroho, 2015)
Menurut “ Anggota Kelompok ” Trauma tumpul yaitu suatu jenis cedera di
abdomen yang biasanya diakibatkan oleh adanya benturan yang biasanya karena
adanya kecelakan , jatuh dari sepeda motor dan lain lain tidak mengakibatkan luka
atau close. (Kelompok 5, 2019)
3. Definisi Trauma Abdomen Tajam
Menurut Jurnal “Latest Progress Of Research on Acute Abdominal Injury”
Trauma tajam adalah hasil dari senjata api tinggi atau kecepatan rendah, cedera
tusuk, dan penetrasi benda asing ke dalam tubuh. ( Ionut negoi, 2015 )
Menurut Jurnal “ CT – guided tractography is a safe and complementary
diagnostic toolin the management of penetrating abdominal trauma” Trauma
Penetrasi abdominal adalah jenis trauma yang diakibatkan oleh luka tembakan
dan tusukan benda tajam. ( Muzaffer akkoca, 2018)
Menurut “ Anggota Kelompok ” Trauma tajam yaitu suatu jenis cedera di
abdomen yang biasanya diakibatkan oleh senjata api, cedera tusuk, tembakan
sehingga mengakibat luka pada abdomen.( Kelompok, 2019)
4. Etiologi
Menurut Jurnal“ Latest Progress Of Research on Acute Abdominal Injury“
Trauma abdominal mayor, baik tumpul dan tembus, sangat sulit untuk dikelola
karena status menta l pasien yang sering berubah dan keparahan cedera
terkait.Dalam studi poltraumaprospektif 30 bulan dari rumah sakit kami, yang
paling umum adalah cedera tumpul pada 92,8% kasus dan trauma tembus pada
hanya 7.2% dari kasus.paling parah Trauma disebabkan oleh kecelakaan di jalan
(61,9%), baik sebagai pengemudi atau penghuni kendaraan atau tabrakan
kendaraan-pejalan kaki. Kecelakaan sepeda motor ditemukan pada 2% kasus.
Mereka diikuti oleh jatuh dan agresi manusia (15,0% dan 15,6%masing-masing).
Cidera kerja adalah yang paling jarang terjadi,ditemui di 4,8% dan
autoaggressions di 0,7% dari kasus masing-masing. ( Ionut negoi, 2015 )
a. Trauma Abdomen Tumpul
Menurut Jurnal “ Gastric Perforation Following Blunt Abdominal
Trauma” yaitu kecelakaan , jatuh kendaraan bermotor, Luka viscera berongga ke
duodenum, jejunum, kandung kemih dan colo-rectum. ( M.R Aboobakar, 2017)
Merupakan trauma abdomen tanpa penetrasi ke dalam rongga peritoneum.
Luka tumpul pada abdomen bisa disebabkan kecelakaan industry, penganiayaan,
kecelakaan olahraga, dan terjatuh dari ketinggian.( Arif Muttaqin, 2010 )
b. Trauma Abdomen Tembus
Menurut Jurnal “Anaesthesi aconsiderations inpenetrating trauma“
penyebab dari trauma abdominal tembus yaitu luka tembak, luka dengan luka,
luka serangan.
Merupakan trauma abdomen dengan penetrasi ke dalam rongga peritoneum.
Disebabkan oleh luka tembak, luka tusuk, luka akibat tusukan.( Taufan Nugroho,
2015)
5. Manifestasi Klinis
a. Trauma tembus abdomen
1) Terdapat luka robekan pada abdomen
2) Luka tusuk sampai menembus abdomen
3) Penanganan yang kurang tepat biasanya memperbanyak perdarahan atau
memperparah keadaan
4) Biasanya organ yang tekena penetrasi bisa keluar dari dalam abdomen
( Taufan Nugroho, 2015)
b. Trauma tumpul abdomen
Menurut Jurnal “An experience with blunt abdominal trauma:
evaluation) Nyeri perut, Kekakuan, menjaga dianggap tanda klasik cedera
internal, Memar atau jejas pada dinding perut. ( Nikhil Mehta, 2014 )
Menurut Jurnal “Evaluation and Management of Blunt Abdominal
Trauma”
1. Nyeri perut dan nyeri tekan selama pemeriksaan
2. Kontusio perut (tanda sabuk pengaman atau tanda stang)
3. Patah tulang rusuk bagian bawah
4. Kelemahan margin kosta
5. Fraktur tulang belakang lumbar
6. Hematokrit kurang dari 30 persen
7. Hematuria
8. Kelembutan Abdominal
9. Hipotensi
10. ALT > 125
11. AST > 200
12. HCT < 30%
13. Hematuria > 5rbc / hpf
14. Fraktur Femur
15. GCS ≤ 13 ( Israel Road S.E, 2017)
6. Kondisi Kegawat Daruratan Trauma Abdomen
a. Internal Bleeding
Menurut Jurnal “Prehospital control of life-threatening truncal and
junctional haemorrhage is the ultimate challenge in optimizing trauma care; a
review of treatment options and their applicability in the civilian trauma
setting” Internal bleeding adalah Pendarahan intra abdomen yang merupakan hal
menantang karena organ dan pembulu darah pecah, yang dapat mengakibatkan
nekrosis atau komplikasi pada organ abdomen. Untuk mengetahui bahwa pasien
mengalami internal bleeding yaitu biasanya pasien mengalami nyeri tekan pada
area trauma, memar, muntah batuk darah, Feses berwarna hitam atau berdarah,
penurunan kesadaran ( malaise, letargi, gelisah) yang disebabkan oleh kehilangan
darah begitulah awal dai hemorogic ( S. E. van Oostendorp, 2016)
7. Penatalaksanaan Pre Hospital pada Internal Bleeding
a. Dalam jurnal ‘ResQ Foam for the Treatment of Non-Compressible
Hemorrhage on the Front Line’ dikatakan bahwa untuk menghentikan
pendarahan sementara bisa dilakukan dengan pengobatan busa yaitu
pengobatanyang menggunakan pencampuran dua injeksi precursor yaitu cairan
fase polio dan fase iso cyanate yang diberikan secara perkutan ke dalam
rongga perut. Setelahpencampuranbahan dengan cepat akan mengembang
sekitar 35 kali lipat di dalam rongga perut dan akanterjadi transisi yang mana
buka akan padat. Proses ini memakan waktu sekitar 1 menit. Bahan yang
dihasilkan menciptakan efek tamponade lokal, sehingga mengurangi tingkat
perdarahan intraabdomen dan memperpanjang kelangsungan hidup.() Julius C.
Chan,2015
b. Dalam jurnal ‘Nano and micro Material in the treatment of internal
bleeding and uncontrolled hemorrhage’ dikatakan bahwa dalam mengurangi
pendarahan yaitu bisa dilakukan kompresi dan penggunakan tourniquet untuk
mengendalikan pendarahan terbuka dan cedera ekstermitas sedangkan untuk
intestinal bleeding dapat dilkukan dengan pemberian partikel nanopolimerik
yang dirancang dengan sintesis platelet diberikan secara intravena. Partikel
nanopolimerik terdiri dari polylactic-co-glycolic kopolimerblokasam-poli-L-
lisin (PLGA-PLL) bersamaan dengan lengan polietilenglikol (PEG) dengan
asam amino urutan Arg-Gly-Asp (RGD) untuk mengaktifkan trombos itu
untuk dipasangkan dan dengan demikian akan membentuk pembekuan darah.
( Elizabeth, 2018).
c. Dalamjurnal ‘long-term consequences of abdominal aortic and junctional
tourniquet for haemorrhage control’ dikatakan bahwa untuk mengurangi
perdarahan bisa dilakukan dengan menggunakan tourniquet.( Bijan S, 2018)
8. Klasifikasi
Berdasarkan mekanisme trauma, dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Trauma Tumpul (Blunt Injury)
Menurut Jurnal “An experience with blunt abdominal trauma:
evaluation
a) Kompresi eksternal menghasilkan peningkatan tekanan intra-
abdominal yang akut dan intens. Mekanisme ini berlaku khususnya
ke perut buncit dengan peningkatan besar tekanan intra lambung.
Mekanisme ini dapat menjelaskan perkembangan opment perforasi
lambung setelah manuver Heimlich.
b) Deselerasi cepat menyebabkan pergerakan diferensial antara
struktur yang berdekatan menghasilkan gaya geser yang
menyebabkan lubang, solid, organ serviks dan pedikel vaskular
robek, terutama pada titik perlekatan yang relatif tetap.
c) Hancur isi intra-abdominal antara dinding perut anterior dan kolom
vertebral atau sangkar toraks posterior.( Nikhil Mehta, 2014 )
b. Trauma Tajam (Penetration Injury)
Laserasi merupakan jika terdapat luka pada dinding abdomen yang
menembus rongga abdomen harus di eksplorasi. ( Taufan Nugroho, 2015)
9. Patofisiologi
Menurut Jurnal ““Evaluation and Management of Blunt Abdominal
Trauma” mekanisme Trauma abdominal Tumpul dalam gawat darurat adalah
( Sumber : Israel Road S.E, 2017 )
10. Komplikasi
Menurut Jurnal “ Abdominal Emergance during pregnancy”dalam kasus
trauma abdomen pada ibu hamil harus segera di tangani, karena berpotensi
persalinan prematur spontan. Hal ini berbahaya pada ibu dan janin yang berada di
kandungan. Trauma abdominal juga dapat menyebabkan shok hemoragik yang
akan berakibatkan fatal pada janin yang di kandung (abortus, kematian) bahkan
jika trauma abdomen tajam dapat mengakibatkan infeksi luka.( J. Bouyou, 2015)
11. Pemeriksaan diagnostik
a. Trauma Tumpul
Menurut Jurnal “An experience with blunt abdominal trauma: evaluation”
pemeriksaan diagnostic pada trauma tumpul yaitu
a) ultrasonografi
b) CT scan adalah mengevaluasi pasien mana yang membutuhkan
pembedahan atau dalam memutuskan pasien mana yang dapat dengan
aman dikeluarkan dari keadaan darurat. . ( Nikhil Mehta, 2014 )
c) Radiografi abdomen adalah dapat memberikan bukti tidak langsung dari
cedera viskus berongga dengan menunjukkan udara atau gas dalam
peritoneum, tetapi tidak memiliki sensitivitas dan spesifisitas. ( Nikhil
Mehta, 2014 )
d) Pemeriksaan X-Ray untuk screening trauma tumpul
Rontgen untuk screening adalah Ro-foto cervical lateral, Thorax AP
dan pelvis AP dilakukan pada pasien trauma tumpul dengan multitrauma.
Rontgen foto abdomen tiga posisi (telentang, setengah tegak dan lateral
decubitus) berguna untuk melihat adanya udara bebas dibawah diafragma
ataupun udara di luar lumen diretroperitoneum, yang kalau ada pada
keduanya menjadi petunjuk untuk dilakukan laparatomi. Hilangnya
bayangan psoas menunjukkan kemungkinan cedera
retroperitoneal( Musliha, 2010).
b. Trauma Tajam
a) Tragtokgrafi
Menurut Jurnal “ CT – guided tractography is a safe and
complementary diagnostic toolin the management of penetrating
abdominal trauma” berfungsi untuk modalitas pencitraan di mana media
kontras iodinasi yang larut dalam air diberikan ke lokasi cedera pada unit
CT. Ketebalan otot pinggang maupun punggung melindungi organ visera di
bawahnya pada luka tusuk maupun luka tembak. Walaupun laparatomi
merupakan pilihan yang relevan, untuk pasien asimptomatik terdapat
pilihan diagnostik lain yaitu pemeriksaan fisik serial, CT dengan double
atau triple kontras atau DPL. Dengan pemeriksaan fisik diagnostik serial
untuk pasien asimptomatik yang menjadi simptomatik, diperoleh akurasi
terutama untuk deteksi cedera retroperitoneal maupun intraperitoneal di
belakang linea aksilaris anterior. CT scan dengan kontras memakan banyak
waktu serta membutuhkan ketelitian untuk memeriksa bagian kolon
retroperitoneal pada sisi luka tusuk. Ketajamannya sebanding dengan
pemeriksaan fisik diagnostik serial, tetapi memungkinkan deteksi yang
lebih dini. DPL bisa digunakan untuk screening awal. DPL (+)
menunjukkan indikasi laparatomi. ( Muzaffer akkoca, 2018)
b) Cedera thorax bagian bawah
Untuk pasien yang asimptomatik dengan kecurigaan pada diafragma
dan struktur abdomen bagian atas diperlukan pemeriksaan fisik maupun
thorax foto berulang, thoracoskopi, laparoskopi maupun pemeriksaan CT
scan.
c) Eksplorasi local luka dan pemeriksaan serial dibandingkan dengan DPL
pada luka tusuk abdomen depan. Untuk pasien yang relatif asimtomatik
(kecuali rasa nyeri akibat tusukan), opsi pemeriksaan diagnostik yang
tidak invasive adalah pemeriksaan diagnostik serial dalam 24 jam, DPL
maupun laroskopi diagnostik.
d) Pemeriksaan fisik diagnostik serial dibandingkan dengan double atau
triple contrast pada cedera flank maupun punggung
Untuk pasien yang asimptomatik ada opsi diagnostik antara lain
pemeriksaan fisik serial, CT dengan double atau triple contrast, maupun
DPL. Dengan pemeriksaan diagnostic serial untuk pasien yang mula-
mula asimptomatik kemudian menjadi simtomatik, kita peroleh
ketajaman terutama dalam mendeteksi cedera retroperinel maupun
intraperineal untuk luka dibelakang linea axillaries anterior
e) Pemerikasaan X-Ray untuk screening trauma tajam
Pasien luka tusuk dengan hemodinamik yang abnormal tidak
memerlukan pemeriksaan X-Ray pada pasien luka tusuk diatas umbilicus
atau dicurigai dengan cedera thoracoabdominal dengan hemodinamik
yang abnormal, rontgen foto thorax tegak bermanfaat untuk
menyingkirkan kemungkinan hemo atau pneumothorax, ataupun untuk
dokumentasi adanya udara bebas intraperitoneal. Pada pasien yang
hemodinamiknya normal, pemasangan klip pada luka masuk maupun
keluar dari suatu luka tembak dapat memperlihatkan jalannya peluru
maupun adanya udara retroperitoneal pada rontgen foto abdomen tidur.
12. PENATALAKSANAAN PRE HOSPITAL PADA TRAUMA ABDOMEN
Pengkajian yang dilakukan untuk menentukan masalah yang mengancam
nyawa, harus mengkaji dengan cepat apa yang trjadi dilokasi kejadian. Paramedik
mungkin harus melihat apabila sudah ditemukan luka tikaman, luka trauma benda
lainnya, maka harus segera ditangani, penilaia awal dilakukan prosedur ABC jika
ada indikasi, jika korban tidak berespon, maka segera buka dan bersihkan jalan
nafas.
a. Airway dengan kontrol tulang belakang
Membuka jalan nafas menggunakan teknik head tilt chin lift atau
menengadahkan kepala dan mengangkat dagu, periksa apakan ada benda
asing yang dapat menimbulkan tertutupnya jalan nafas. Misalnya muntahan,
makanan, darah atau benda asing lainnya.
b. Breating dengan ventilasi yang adekuat
Memeriksa pernafasan dengan menggunkaan cara lihat, dengar, rasakan
tidak lebih dari 10 detik untuk memastikan apakah ada nafas atau tidak,
selanjutnya lakukan pemeriksaan status respirasi korban (kecepatan, ritme
dan adekuat tidaknya pernafasan).
c. Circulation dengan kontrol perdarahan herbal
Jika pernafasan korban tersenggal-senggal dan tidak adekuat, maka
bantuan nafas dapat dilakukan. Jika tidak ada tanda-tanda sirkulasi, lakukan
resusitasi jantung paru. Rasio kompresi dada dan bnatuan nafas dalam RJP
30:2 (30 kali kompresi dada dan 2 kali bantuan nafas).
a. Penanganan pre hospital trauma non penetrasi atau trauma tumpul
1) Stop makanan dan minuman
2) Mobilisasi
3) Kirim kerumah sakit ( Arif Muttaqin, 2011)

b. Penanganan pre hospital penetrasi atau trauma tajam


Menurut Jurnal “Prehospital control of life-threatening truncal and junctional
haemorrhage is the ultimate challenge in optimizing trauma care; a review of
treatment options and their applicability in the civilian trauma setting”
penanganan pre hospital pada trauma tajam yaitu
1) Apabila ada luka tusuk, maka tusukan (pisau atau benda tajam lainnya) tidak
boleh dicabut kecuali dengan adanya tim medis
2) Penanganannya bila terjadi luka tusuk cukup dengan melilitkan dengan kain
kasa pada daerah antara pisau untuk memfiksasi pisau sehingga tidak
memperparah luka.
3) Bila ada usus atau organ lain yang keluar, maka organ tersebut tidak dianjurkan
dimasukkan kembali kedalam tubuh, kemudian organ yang keluar dari dalam
tersebut dibalut kain bersih atau bila ada perban steril.
4) Imobilisasi pasien
5) Tidak dianjurkan memberi makan dan minum
6) Apabila ada luka terbuka lainnya maka balut luka dengan menekang.
7) Kirim kerumah sakit

13. PENANGANAN DI RUMAH SAKIT PADA TRAUMA ABDOMEN


a. Trauma penetrasi atau trauma tajam
Bila ada dugaan bahwa ada luka tembus dinding abdomen, seseorang ahli bedah
yang berpengalaman akan memeriksa lukanya secara lokal untuk menentukan
dalamnya luka. Pemeriksaan ini sangat berguna apabila ada luka masuk dan luka
keluar yang berdekatan.

a) Resusitasi
Menurut Jurnal “ Latest Progress Of Research on Acute Abdominal
Injury“ Resusitasi pasien trauma bisa dibagi menjadi dua periode waktu 10
menit platinum dan jam emas. Selama 10 menit platinum, rumah sakit Tim
trauma harus menangani saluran pernafasan serta menghalangi adanya servikal
trauma dan pasien kritis harus diangkut dari adegan trauma. Selama jam emas,
rumah sakit Tim trauma harus menangani saluran pernafasan dan pasien kritis
harus diangkut dari adegan trauma. Selama jam emas, rumah sakit Tim trauma
harus mengidentifikasi semua lesi dan rauma semua cedera yang mengancam
jiwa. (Ionut negoi, 2015 )
Menurut Jurnal “ Resuscitative strategies in traumatic hemorrhagic
shock” Pasien trauma yang mengalami syok hemoragik. Pada penelitian ini,
peneleti melakukan percobaan yang membandingkan 0,9% salin vs hidroksietil
pati (HES 130 / 0,4) dilakukan pada penetrasi pasien trauma tumpul yang
membutuhkanv> 3 liter resusitasi cairan . Pada pasien dengan trauma tembus (n
= 67), penggunaan HES (130 / 0,4) dikaitkan dengan kejernihan laktat yang
lebih baik, sehingga menunjukkan resusitasi dini. Selain itu, skor SOFA
maksimum yang lebih rendah dan tidak adanya cedera ginjal akut diamati pada
kelompok HES. Namun, pada pasien dengan trauma tumpul (n = 42), tidak ada
perbedaan dalam persyaratan cairan, pembersihan laktat, dan skor SOFA
maksimum antara kedua. Dalam perhitungan resusitasi sama seperti pemberian
resusitasi gawat darurat. (adrien bougle, 2013)
b) Pemberian anastesi
Menurut Jurnal “Anaesthesi aconsiderations in penetrating trauma” anestesi
untuk memberikan lebih banyak persetujuan tingkat tinggi mengenai
manajemen jalan napas. (N. Sheff, 2014 )
c) laparotomi (LAP)
Menuurut Jurnal “Management Guidelines for Penetrating
Abdominal Trauma” laparotomi (LAP) termasuk ketidakstabilan
hemodinamik, pengeluaran isi, peritonitis, atau impalement. Manajemen
nonoperatif selektif stabil, pasien tanpa gejala telah terbukti aman. Uji
diagnostik tambahan - ultrasonografi, computed tomography, eksplorasi luka
lokal, diagnostik peritoneal lavage, laparoskopi - sering digunakan dalam upaya
untuk mengidentifikasi cedera signifikan yang memerlukan manajemen
operasi.. ( Walter L. Biffl, 2015)
b. Trauma non penetrasi atau trauma tumpul
a) Pengambilan darah dan urin
Darah diambil dari salah satu vena permukaan untuk pemeriksaan
laboratorium rutin, dan juga untuk pemeriksaan laboratorium khusus seperti
pemeriksaan darah lengkap, potasium, glukosa, amilase
b). Pemeriksaan rongten
pemeriksaan rongten servikal lateral, thorak anteroposterior dan pelvis
adalah pemeriksaan yang harus dilakukan pada penderita dengan multi
trauma, mungkin berguna untuk mengetahui udara ekstraluminal di
retroperitonium atau udara bebas dibawah diagfragma yang keduannya
memerlukan laparatomi segera
c). Studi kontras urologi dan gastrointestinal
dilakukan pada cedera yang meliputi daerah duodenium, kolon
ascendens atau decendens dan dubur. ( Musliha, 2010 )
d). Pemeriksaan Fisik Trauma Abdomen
Menurut Jurnal “Is abdominal auscultation a still relevant part of the
physical examination” Dalam melakukan pemeriksaan fisik pada abdomen memang
di anjurkan untuk melakukan auskultasi dari palpasi. Urutan pemeriksaan fisik ini
berbeda dengan pemeriksaan pada anggota yang lain, seperti inspeksi, palpasi,
perkusi, auskultasi. Sedangkan pada bagian abdomen di utamakan inspeksi, lalu
auskultasi, baru di lakukan palpasi dan perkusi. Pemeriksaan ini berfungsi untuk
mendengar suara usus atau bising usus dengan di lakukan pemeriksaan dengan waktu
terbatas (:ZuinM,etal, 2017)
 Inspeksi : Untuk mengetahui adanya kondisi lecet, tanda memar atau abrasi
diperut bagian bawah berhubungan dengan kondisi patologis intraperioneal.
Inspeksi visual untuk mengetahui distensi abdomen, yang mungkin karena
pneumoperitonium, dilatasi lambung, fraktur iga bagian bawah dapat
berhubungan dengan cedera pada limpa atau cedera hati.
 Palpasi : pemeriksaan palpasi dapat mengungkapkan adanya keluhan tenderness
( nyeri tekan ) baik secara lokalis atau seluruh abdomen, kekakuan abdomen
 Perkusi : untuk mengetahui adanya cairan atau tidak, biasanya terdapat suara
timpani karena pasien mengalami kembung.( Arif Muttaqin, 2011)
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Trauma abdomen adalah cedera pada abdomen, dapat berupa trauma tumpul dan
tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja. Trauma abdomen tumpul dapat
terjadi karena adanya kecelakaan , jatuh dari kendaraan adanya serangan, benturan
ataupun pukulan yang mengenai abdomen yag biasanya tidak mengakibatkan luka, jika
trauma abdomen tajam biasanya diakibatkan oleh luka tusuk dan luka tembak biasanya
mengakibatkan adanya luka dibagian abdomennya. Tanda gejalanya dari trauma
abdomen yaitu adanya nyeri abdomen, menyentuh bagian abdomen, adanya hematoma,
adanya penumpukan cairan didalam abdomen, mual muntah.Komplikasi dari trauma
abdomen yaitu syok, hemorogic, cedera jika lambat maka akan mengakibatkan infeksi
luka bahkan kematian, jika pada ibu hamil dapat mngakibatkan abortus atau kemtian
janin.
B. Saran
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok
bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya,
kerena adanya keterbatasan pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada
hubungannya dengan judul makalah ini. Kami banyak berharap para pembaca dapat
memberikan saran yang dapat membangun kepada kami demi sempurnanya makalah ini
dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini
berguna bagi penulis dan juga para pembaca pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Nugroho Taufan.2015.Teori Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. Yogyakarta : Nuha
Medika
Musliha.2010. keperawatan Gawat Darurat. Yogyakarta : Nuha Medika
Muttaqin Arif .2011. Gangguan Gastrointestinal. Jakarta : Salemba Medika
Mehta Nikhil, Sudarshan Babu dkk. 2014. An experience with blunt abdominal
trauma: evaluation, management and outcome : Department of General Surgery,
Road Israel. 2017.Evaluation and Management of Blunt Abdominal Trauma :
Washington State Department of Health Office of Community Health Systems
Aboobakar, M.R dkk. 2017. Gastric perforation following blunt abdominal trauma.
(http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0/): Department of Surgery and King
Edward VIII Hospital, University of KwaZulu-Natal, Durban, South Africa
Magalhães Daniela Moreira dkk. 2017. Deaths from abdominal trauma.DOI:
10.1590/0100-69912017006006
Kempegowda Institute of Medical Sciences, Bangalore, India Negoi Ionut. 2016.
Latest progress of research on acute abdominal injuries.
http://dx.doi.org/10.1016/j.joad.2015.07.003
N. Sheffy.2014.Anaesthesi aconsiderations in penetrating trauma.
doi:10.1093/bja/aeu234: BJA Advance Access
Stehanie D.2015. Laparoscopic – assisted management of traumatic abdominal wall
hernias in children : case series and a review of the literature. Elsevier
Walter L.2015.Management Guidelines for Penetrating Abdominal Trauma. DOI
10.1007/s00268-014-2793-7: CrossMark
Muzaffer Akkoca.2018.CT – guided tractography is a safe and complementary
diagnostic tool in the management of penetrating abdominal trauma : Asian Journal Of
Surgenc.
J. Bouyou.2016.Abdominal Emergencies During Pregnancy : Elsevier
Offner, P., 2013. Penetrating Abdominal Trauma Treatment & Management. Available
from : http://emedicine.medscape.com/article/2036859-treatment [Accessed 26 June 2013]
Stanton-Maxey K.J, et al. 2011. Penetrating Abdominal Trauma. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/2036859-overview [Accessed on 27 Jun 2013]
Julius C. Chang.2015. ResQFoam for the Treatment of Non-Compressible
Hemorrhage on the Front Line. MILITARY MEDICINE

S. E. van Oostendorp1.2016.Prehospital control of life-threatening truncal and


junctional haemorrhage is the ultimate challenge in optimizing trauma care; a review of
treatment options and their applicability in the civilian trauma setting.crossmask
Zuin.2016. Is Abdominal a still relevant part of the physicalexaminition. Elsevier
Andrew lackyer.2018. Patterns of injury penetrating sharp trauma in a provincial
KwnZulu – Natal Hospital. AFJEM
Bijan.2018. Long – termconsequences of abdominal aorticjunction tourniquet for
hemorrhage.Elsevier
Elizabeth.2018. Nano and Macro materials in the treatment of internal bleeding and
uncontroled hemorraghig. Elsevier