You are on page 1of 27

MAKALAH

STUDI KASUS AKI DAN AKB

(Disusun guna memenuhi tugas Ujian Tengah Semester Kesehatan Global)

Oleh:
Fatmalia Fhierziandrini N 172520102040

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS JEMBER
2018

1
BAB 1. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu ukuran untuk menggambarkan pencapaian hasil pembangunan
suatu negara termasuk pembangunan bidang kesehatan digunakan indikator
Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Beberapa indikator IPM adalah kesehatan,
pendidikan dan ekonomi. Salah satu indikator kesehatan adalah umur harapan
hidup sebagai ukuran pencapaian derajat kesehatan masyarakat. IPM negara
Indonesia berada di peringkat 108 dari 177 negara di dunia, lebih rendah dari
negara-negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam dan
Thailand.
Komposisi penduduk Indonesia menurut kelompok umur, menunjukkan
bahwa penduduk yag berusia muda (0-14 tahun) sebesar 29,30%, usia produktif
(15-64 tahun) sebesar 65,05 % dan usia lanjut (> 65 tahun) sebesar 5,65%.
Dengan beban Tanggungan (Dependency Ratio) penduduk Indonesia pada tahun
2007 sebesar 53,73 %. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2006
sebesar 49,90%.
Angka kematian Ibu/maternal bersama dengan Angka kematian Bayi
senantiasa menjadi indikator keberhasilan sektor pembangunan kesehatan . AKI
mengacu kepada jumlah kematian ibu yang terkait dengan masa kehamilan,
persalinan dan nifas. Hasil survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun
2007 menyebutkan bahwa AKI tahun 2007 sebesar 228 per 100.000 kelahiran
hidup. Angka ini dibandingkan AKI tahun 2002 sebesar 307 per 100.000
kelahiran hidup.
Angka kematian Bayi di Indonesia sebesar 34 per 1000 kelahiran hidup
(BPS,2007). Angka ini sedikit menurun dibandingan dengan AKB tahun 2003
sebesar 35 per 1000 kelahiran hidup. Program-programnya adalah penurunan
AKB merujuk kepada jumlah bayi yang meninggal pada fase antara kelahiran
hingga bayi belum mencapai umur 1 tahun per 1000 kelahiran hidup. Angka
kematian Balita (AKABA) menggambarkan peluang untuk meninggal pada fase

2
antara kelahiran dan sebelum umur 5 tahun. AKABA di Indonesia sebesar 44 per
1000 kelahiran hidup (BPS,2007)
Kesehatan anak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan
wanita. Salah satu indikator kesehatan umum dan kesejahteraan suatu masyarakat
adalah angka kematian dan kesakitan pada bayi/anak. Keadaan ini juga memberi
dampak pada kesakitan dan kematian pada ibu/wanita. Sebagai contoh karena
suatu proses persalinan lama menyebabkan cedera jalan lahir sehingga
menimbulkan penurunan kesehatan ibu dan atau bayi. Keadaan malformasi
kongenital dan target aborsi oleh karena seleksi jenis kelamin menyebabkan
kematian pada ibu dan bayi.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Angka kematian Ibu (AKI) adalah kematian ibu yang terjadi selama masa
kehamilan atau dalam 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, tanpa melihat usia
dan lokasi kehamilan, oleh setiap penyebab yang berhubungan dengan atau
diperberat oleh kehamilan atau penanganannya tetapi bukan oleh kecelakaan atau
incidental (faktor kebetulan).
Angka kematian ibu tinggi adalah angka kematian yang melebihi dari
angka target nasional. Jumlah kematian ibu yang meninggal mulai saat hamil
hingga 6 minggu setelahpersalinan per 100.000 persalinan tinggi. Tingginya
angka kematian, berarti rendahnya standar kesehatan dan kualitas
pelayanankesehatan yang diberikan, dan mencerminkan besarnya masalah
kesehatan.
Angka kematian anak (AKA) menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI) adalah bilangan yang menunjukkan banyaknya jumlah kematian anak-
anak dari umur 1 tahun sampai 4 tahun perseribu penduduk. AKABA atau Agka
Kematian Balita adalah jumlah anak yang dilahirkan pada tahun tertentu dan
meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun, dinyatakan sebagai angka per 1000
kelahiran hidup. Nilai normatif Akaba > 140 sangat tinggi, antara 71 – 140 sedang
dan <20 rendah.Sedangkan AKB atau Angka Kematian Bayi adalah banyaknya
bayi yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun AKB per 1000 kelahiran
hidup pada tahun yang sama.

B. Tujuan Penurunanan AKA/I


Secara umum tujuan penurunan AKA/I adalah untuk Menyiapkan
seoptimal mungkin mungkin fisik dan mental dalam upaya menyelamatkan ibu
dan anak selama dalam kehamilan, persalinan, nifas, sehingga didapat ibu dan
anak/ bayi yang sehat.
Adapun tujuan khusus penurunan AKA/I adalah sebagai berikut :

4
• Mengenali dan menangani penyakit – penyakit yang mungkin dijumpai
padakehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan keluarga berencana.
• Mengenali dan mengobati penyakit-penyakit yang mungkin diderita sedini
mungkin.
• Menurunkan mordibitas dan mortabilitas ibu dan anak .
• Memberikan nasehat tentang cara hidup sehari-hari tentang KB, tentang
kehamilan, persalinan, nifas, dan bayi baru lahir.

C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi AKA/I


Kematian bayi dan balita umumnya disebabkan oleh penyakit sistim
pernapasan bagian atas (ISPA) dan diare, yang merupakan penyakit karena infeksi
kuman. Faktor gizi buruk juga menyebabkan anak-anak rentan terhadap penyakit
menular, sehingga mudah terinfeksi dan menyebabkan tingginya kematian bayi
dan balita di sesuatu daerah.
Angka Kematian Anak akan tinggi bila terjadi keadaan salah gizi atau gizi
buruk, kebersihan diri dan kebersihan yang buruk, tingginya prevalensi penyakit
menular pada anak, atau kecelakaan yang terjadi di dalam atau di sekitar rumah
(Budi Utomo, 1985). Tingginya AKI di Indonesia tersebut erat kaitannya dengan
kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan reproduksi dan
pemeriksaan kesehatan selama kehamilan (Widodo, Angraini, Halim, et al, 2005).
Kemiskinan, ketidaktahuan dan kebodohan serta rendahnya status wanita dalam
masyarakat merupakan beberapa faktor yang ikut berperan pada tingginya AKI
(Wikjosastro, 2002).
Beberapa faktor yang melatarbelakangi risiko kematian ibu adalah
kurangnya partisipasi ibu yang disebabkan tingkat pendidikan ibu rendah,
kemampuan ekonomi keluarga rendah, kedudukan sosial budaya yang tidak
mendukung. Jika ditarik lebih jauh, beberapa perilaku tidak mendukung juga bisa
membawa risiko. Sebanyak 16,6% perempuan menolak kehamilannya. Pasangan
yang tidak ingin anak lagi (4,6%) atau menunda punya anak (4%). Upaya aborsi
selalu menempatkan perempuan dalam situasi hidup dan mati. Selain jumlah
anemia ibu hamil sangat tinggi (40%), rendahnya partisipasi dalam program

5
Keluarga Berencana (KB) paska persalinan (19,1%) mengakibatkan kehamilan
yang tidak diinginkan (Anonymous 2006).
Tren AKI belum menggembirakan. Masih tingginya dan kurang cepatnya
penurunan AKI dapat terjadi karena berbagai hal. Pertama, memang kondisi
kesehatan untuk kelompok resti (bumil, bulin, dan bufas) masih jelek. Kedua,
pertambahan relatif penduduk memasuki usia subur lebih besar daripada
pertambahan relative kelahiran. Ketiga, mungkin penanganan kesehatan maternal
belum optimal. Dari sisi geografis, provinsi di kawasan Indonesia Timur relatif
memiliki AKI lebih tinggi.
Tiga faktor utama penyebab kematian ibu di Indonesia adalah :
1) Faktor medis (langsung dan tidak langsung),
2) Faktor sistem pelayanan (sistem pelayanan antenatal, sistem pelayanan
persalinan dan sistem pelayanan pasca persalinan dan pelayanan kesehatan anak),
3) Faktor ekonomi, sosial budaya dan peran serta masyarakat (kurangnya
pengenalan masalah, terlambatnya proses pengambilan keputusan, kurangnya
akses terhadap pelayanan kesehatan, pengarusutamaan gender, dan peran
masyarakat dalam kesehatan ibu dan anak) .
Faktor utama yang perlu diperhatikan dalam penurunan Angka Kematian
Ibu adalah peningkatan keterjangkauan (akses) dan kualitas pelayanan kesehatan
maternal dan peningkatan kualitas pelayanan pada saat dan pasca persalinan (13%
kematian martenal disebabkan oleh aborsi dan di dunia terjadi 55000 kali aborsi
setiap harinya, 95% diantaranya terjadi di negara berkembang). Selain itu
penurunan angka kematian ibu dapat dilaksanakan melalui beberapa fase atau
tahapan yaitu:
1) Pada masa sebelum masa kehamilan, yaitu perilaku sehat termasuk nutrisi,
aktivitas fisik, perawatan sebelum konsepsi, menghindari substansi yang
membahayakan alat reproduksi,
2) Perencanaan masa kehamilan, yaitu dengan perawatan kehamilan awal yang
berkualitas, pengetahuan gejala dan timbulnya tanda munculnya masalah,

6
3) Pada masa persalinan yaitu melakukan persalinan yang sehat, persalinan disaat
yang tepat dengan intervensi minimal, serta bantuan pada pasca persalinan yang
disertai penyuluhan serta pemeliharaan kualitas kesehatan lingkungan.
Sedangkan faktor yang mempengaruhi AKB, menurut UNICEF (2001),
menurunnya kualitas hidup anak pada usia 3 tahun pertama hidupnya adalah: gizi
buruk, ibu sering sakit, status kesehatan buruk, kemiskinan, dan diskriminasi
gender. Bayi dengan gizi buruk mempunyai resiko 2 kali meninggal dalam 12
bulan pertama hidupnya. AKI dan AKB tidak berkorelasi langsung dengan
kejadiab infeksi atau parasit, kecuali pada beberapa daerah yang endemik malaria.
Terkait AKB, satu faktor penting adalah umur ibu dibawah 20 tahun
meningkatkan resiko kematia neonatal, serta usia ibu di atas 35 tahun
meningkatkan resiko kematian perinatal (Litbangkes, 1994). Odds Ratio AKB
dari ibu usia di bawah 20 tahun sebesar 1,4 kali lebih tinggi dari AKB pada ibu
usia 20-35 tahun.

D. Dampak Tingginya AKA/I


Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia yang masih berada di level 228 per
100.000 kelahiran hidup, oleh karena itu Pemerintah harus melakukan perbaikan
disparitas pelayanan kesehatan, penyebaran dan perbaikan kualitas tenaga
kesehatan, serta dukungan alokasi anggaran pemerintah pusat dan pemerintah
daerah. Patut disesalkan adalah masih tingginya AKI ketika melahirkan di
Indonesia, bahkan tertinggi di Asia Tenggara. Menurut para ahli kesehatan
masyarakat, derajat kesehatan suatu negara dilihat dari indikator angka kematian
bayi (AKB). Semakin tinggi AKB suatu negara maka semakin jelek kualitas
derajat kesehatan masyarakat di kawasana tersebut.
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat
derajat kesehatan perempuan. Angka kematian ibu juga merupakan salah satu
target yang telah ditentukan dalam tujuani Millenium Development Goals
(MDGs) yaitu tujuan ke 5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu dimana target yang
akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai ¾ resiko jumlah
kematian ibu.

7
Masalah kematian ibu dan anak adalah masalah yang kompleks. Jika
kematian ibu dan anak disuatu Negara/ daerah tinggi, tentu akan berpengaruh
terhadap indeks pembangunan di Negara tersebut. Jika sudah demikian maka
pemerintah perlu memperbaiki system yang ada. Pemerintah harus bekerja keras
dalam menangani hal ini.

E. Peran Pemerintah Dalam Menurunkan AKA/I


Dalam rangka menurunkan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia,
Kementerian Kesehatan pada tahun 2001 ini menetapkan lima strategi operasional
yaitu:
1. penguatan Puskesmas dan jaringannya;
2. penguatan manajemen program dan sistem rujukannya;
3. meningkatkan peran serta masyarakat; kerjasama dan kemitraan;
4. kegiatan akselerasi dan inovasi tahun 2011;
5. penelitian dan pengembangan inovasi yang terkoordinir.
Menkes menambahkan terkait strategi keempat yaitu kegiatan akselerasi
dan inovasi tahun 2011, upaya yang dilakukan Kementerian Kesehatan yaitu:
• Pertama, Kerjasama dengan sektor terkait dan pemerintah daerah
telah menindaklanjuti Inpres No. 1 Tahun 2010 Tentang
Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional dan
Inpres No. 3 tahun 2010 Tentang Program Pembangunan Yang
Berkeadilan melalui kegiatan sosialisasi, fasilitasi dan advokasi
terkait percepatan pencapaian MDGs. Akhir tahun 2011,
diharapkan propinsi dan kabupaten/kota telah selesai menyusun
Rencana Aksi Daerah dalam percepatan pencapaian MDGs yaitu
mengentaskan kemiskinan ekstrim dan kelaparan, mengurangi
tingkat kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi
HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya.
• Kedua, pemberian Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), mulai
tahun 2011 setiap Puskesmas mendapat BOK, yang besarnya
bervariasi dari Rp 75 juta sampai 250 juta per tahun. Dengan

8
adanya BOK, pelayanan “outreach” di luar gedung terutama
pelayanan KIA-KB dapat lebih mendekati masyarakat yang
membutuhkan.
• Ketiga, menetapkan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat
(IPKM) berupa indikator komposit (status kesehatan, perilaku,
lingkungan dan akses pelayanan kesehatan) yang digunakan untuk
menetapkan kabupaten/kota yang mempunyai masalah kesehatan.
Ada 130 kab/kota yang ditetapkan sebagai DBK yang tahun ini
akan didampingi dan difasilitasi Kementerian Kesehatan.
• Keempat, penempatan tenaga strategis (dokter dan bidan) dan
penyediaan fasilitas kesehatan di Daerah Terpencil, Perbatasan,
Kepulauan (DTPK), termasuk dokter plus, “mobile team”.
• Kelima, akan diluncurkan 2 Peraturan Menteri Kesehatan terkait
dengan standar pelayan KB berkualitas, sebagaimana diamanatkan
UU Nomor 52 tahun 2009 Tentang Perkembangan Kependudukan
dan Pembangunan Keluarga.
Selain itu menurut Menkes, pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan akan
meluncurkan Jaminan Persalinan (Jampersal) yang mencakup pemeriksaan
kehamilan, pelayanan persalinan, nifas, KB pasca persalianan, dan neonatus.
Melalui program ini, persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan
kesehatan diharapkan meningkat, demikian pula dengan pemberian ASI dini,
perawatan bayi baru lahir, pelayanan nifas dan KB pasca persalinan.
Dalam MDGs yang telah disepakati para pimpinan dunia, ada 8 tujuan
(GOALs) yang ingin dicapai diantara tahun 1999-2015. Untuk mencapai 8 tujuan
MDGs ini harus jelas definisi dan konsep indikator yang akan digunakan. Berikut
indikator pencapaian MDGs untuk menurunkan angka kematian anak. Targetnya
selama tahun 1990 – 2105 setidaknya dapat menjadi pedoman untuk daerah lain
dalam menurunkan angka kematian balita sebesar dua per tiganya. Untuk
mencapai target ini ada dua indikator dibuat yaitu

9
• Indikator global atau nasional untuk memonitoring pencapaian Target ke
empat yaitu angka kematian balita, angka kematian bayi dan proporsi
campak pada bayi yang telah mencapai usia 1 tahun.
• Indiktor lokal untuk memonitoring pencapaian target keempat yaitu
pemantauan terhadap pencapaian target MDGs untuk tingkat lokal
kabupaten/kota dan kecamatan yang dapat dilakukan dengan indikator
proksi tertentu.
Adapun penjelasan mengenai indikator global dan lokal adalah sebagai
berikut :
• Angka Kematian Balita (AKABA)
AKABA adalah jumlah anak yang dilahirkan pada tahun tertentu dan
meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun, dinyatakan sebagai angka per 1000
kelahiran hidup. Nilai normatif Akaba > 140 sangat tinggi, antara 71 – 140 sedang
dan <20 rendah.
Indikator ini terkait langsung dengan target kelangsungan hidup anak dan
merefleksikan kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan anak-anak bertempat
tinggal termasuk pemeliharaan kesehatannya. AKABA kerap dipakai untuk
mengidentifikasi kesulitan ekonomi penduduk. Mengingat kegiatan registrasi
penduduk di Indonesia belum sempurna sumber data ini belum dapat dipakai
untuk menghitung AKABA. Sebagai gantinya AKABA dihitung berdasarkan
estimasi tidak langsung dari berbagai survei.
• Angka Kematian Bayi (AKB)
AKB adalah banyaknya bayi yang meninggal sebelum mencapai usia 1
tahun AKB per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Nilai normatif AKB
kurang dari 40 sangat sulit diupayakan penurunannya (hard rock), antara 40-70
tergolong sedang namun sulit untuk diturunkan, dan lebih besar dari 70 tergolong
mudah untuk diturunkan.
Indikator ini terkait langsung dengan target kelangsungan hidup anak dan
merefleksikan kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan anak-anak bertempat
tinggal termasuk pemeliharaan kesehatannya. AKB cenderung lebih
menggambarkan kesehatan reproduksi dari pada Akaba. Meskipun target program

10
terkait khusus dengan kematian balita, AKB relevan dipakai untuk memonitor
pencapaian target program karena mewakili komponen penting pada kematian
balita. Definisi operasional dari angka kematian bayi terdahulu harus diketahui
yaitu pengertian dari “Lahir Mati” yaitu Kelahiran seorang bayi dari kandungan
yang berumur paling sedikit 28 minggu tanpa menunjukkan tanda-tanda
kehidupan. Kemudian Kematian Bayi yaitu Kematian yang terjadi pada bayi
sebelum mencapai usia satu tahun.
Proporsi imunisasi campak (PIC) pada anak yang berusia 1 tahun
PIC adalah perbandingan antara banyaknya anak berumur 1 tahun yang telah
menerima paling sedikit satu kali imunisasi campak terhadap jumlah anak
berumur 1 tahun, dan dinyatakan dalam persentase. Indikator ini merupakan suatu
ukuran cakupan dan kualitas sistem pemeliharaan kesehatan anak di suatu
wilayah. Imunisasi adalah unsur penting untuk mengurangi kematian balita.
Berikut ini adalah definisi operasional :
➢ Persentase Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
Definisi Operasionalnya yaitu Bayi dengan BBLR adalah keadaan bayi lahir
dengan berat badan (BB) < 2500 gram yang ditimbang pada saat lahir atau hari ke
7 setelah lahir
➢ Presentase Balita dengan BGM (Bawah Garis Merah)
Definisi Operasionalnya yaitu Balita dengan BGM (Bawah Garis Merah) adalah
Balita dengan berat badan menurut umur (BB/U) berada pada dan di bawah garis
merah pada KMS
➢ Pemantauan Pertumbuhan menggunakan data SKDN
SKDN adalah singkatan dari pengertian kata-katanya yaitu
• S adalah Seluruh balita yang ada di wilayah kerja
• K adalah jumlah balita yang terdaftar dan memiliki KMS atau buku KIA
• D adalah jumlah seluruh balita yang Ditimbang
• N adalah balita yang Naik berat badannya sesuai dengan garis
pertumbuhan
➢ Cakupan Kunjungan Bayi

11
Definisi Operasional yaitu Kunjungan Bayi adalah kunjungan bayi (umur 1-12
bulan) termasuk neonatus (umur 1-28 hari) untuk memperoleh pelayanan
kesehatan sesuai dengan standar oleh dokter, bidan, perawat yang memiliki
kompetensi klinis kesehatan, paling sedikit 4 kali (bayi), 2 kali (neonatus) di satu
wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
Kunjungan Neonatus adalah kunjungan neonatus (umur 1-28 hari) untuk
memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh dokter, bidan,
perawat yang memiliki kompetensi klinis kesehatan, paling sedikit 2 kali di satu
wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
➢ Cakupan pemberian vitamin A pada balita
Definisi Operasional yaitu Balita mendapat kapsul Vit.A, 2 kali/tahun adalah Bayi
umur 6-11 bulan mendapat kapsul vitamin A -1 kali dan anak umur 12-59 bulan
mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi 2 kali per tahun di suatu wilayah kerja
pada kurun waktu tertentu
➢ Persentase Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif
Definisi Operasional yaitu Pemberian ASI Ekslusif adalah pemberian hanya Air
Susu Ibu saja kepada bayi sejak lahir sampai berumur 6 bulan tanpa makanan atau
minuman lain, kecuali obat, vitamin dan mineral
➢ Desa/kelurahan Universal Child Imunization
Definisi Operasional yaitu Desa /kelurahan Universal Child Immunization (UCI)
adalah Desa atau Kelurahan UCI adalah desa/kelurahan dimana ³ 80% dari jumlah
bayi yang ada di desa tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap pada satu
kurun waktu tertentu.
Imunisasi dasar Lengkap adalah imunisasi dasar lengkap pada bayi meliputi: 1
dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis Polio, 4 dosis Hepatitis B, 1 dosis DPT dan atau
DPT/HB ( telah dilaksanakan di seluruh Indonesia mulai tahun 2007), 1 dosis
Campak. Pada ibu hamil dan wanita usia subur meliputi 2 dosis TT. Untuk anak
sekolah tingkat dasar meliputi 1 dosis DT, 1 dosis campak dan 2 dosis TT.

12
F. ANALISIS
Dewasa ini AKI dan AKB di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan
negara ASEAN lainnya. Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia
(SDKI) 2007, AKI di Indonesia adalah 228 per 100.000 kelahiran hidup, AKB 34
per 1.000Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI), AKI di
Indonesia masih tinggi jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, yaitu
sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup. Upaya penurunan AKI harus difokuskan
pada Tujuan Jaminan Persalinan ini adalah meningkatnya akses terhadap
pelayanan persalinan yang dilakukan oleh dokter atau bidan dalam rangka
menurunkan AKI dan AKB (Angka Kematian Bayi) melalui jaminan pembiayaan
untuk pelayanan persalinan. Sasaran.
Anak balita merupakan salah satu populasi paling beresiko terkena
bermacam gangguan kesehatan (kesakitan dan kematian). Menurut Survei
Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, Angka Kematian Balita
di Indonesia sebesar 44/10.000 Kelahiran Hidup . Dalam mencapai upaya
percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi
(AKB) maka salah satu upaya promotif dan preventif yang mulai gencar
dilakukan adalah Kelas ibu hamil dan Kelas ibu balita.
Menurut Prawirohardjo (2002), untuk menurunkan AKI dan AKB dengan
menetapkan salah satu sasaran untuk tahun 2010 adalah menurunkan angka
kematian ibu menjadi 125 orang per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian
bayi menjadi 16 orang.
AKB di Indonesia pada tahun 2003 sebesar 42/1000 kelahiran hidup dan
pada tahun 2004 menjadi 43.52/1000 kelahiran hidup (Dinkes Provinsi Jambi,
2005: 26). Untuk mengurangi AKI dan AKB maka diperlukan suatu
penatalaksanaan pelayanan kesehatan yang Angka kejadian seksio sesarea di
Indonesia menurut data survey nasional pada tahun 2007 adalah 921.000 dari
4.039.000 persalinan atau sekitar 22.8% dari seluruh persalinan.
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2006 (2008, dalam Depkes RI),
AKI Indonesia adalah 307/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2002, sedangkan
AKB di Indonesia sebesar 35/1000 kelahiran hidup. Penyebab langsung kematian

13
maternal yang paling umum di Indonesia adalah pendarahan 28%, eklamasi 24%,
dan infeksi 11%. Penyebab kematian bayi yaitu BBLR 38,94%, asfiksia lahir
27,97%. Hal ini menunjukkan bahwa 66,91% kematian perinatal dipengaruhi oleh
kondisi ibu saat melahirkan.
Kematian bayi dan balita umumnya disebabkan oleh penyakit sistim
pernapasan bagian atas (ISPA) dan diare, yang merupakan penyakit karena infeksi
kuman. Faktor gizi buruk juga menyebabkan anak-anak rentan terhadap penyakit
menular, sehingga mudah terinfeksi dan menyebabkan tingginya kematian bayi
dan balita di sesuatu daerah.
Data menunjukkan masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) yaitu 461
per 100.000 kelahiran hidup, dan juga Angka Kematian Balita (AKB) yaitu 42 per
1.000 kelahiran hidup. Berdasarkan kecenderungan angka-angka tersebut, akan
sulit dicapai target MDG tahun 2015. Penurunan AKI hanya mencapai 52% dari
keadaan tahun 1990 dari target 75% dan penurunan AKB mencapai 53% dari
target 67%. Dari penilaian sistem kesehatan berbagai Negara, Indonesia
menempati urutan 106 dari 191 negara yang dinilai untuk indikator pencapaian
yang mencakup status kesehatan dan tingkat tanggapan (responsiveness).
Tingginya AKI di Indonesia tersebut erat kaitannya dengan kurangnya
pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan reproduksi dan pemeriksaan
kesehatan selama kehamilan (Widodo, Angraini, Halim, et al, 2005). Kemiskinan,
ketidaktahuan dan kebodohan serta rendahnya status wanita dalam masyarakat
merupakan beberapa faktor yang ikut berperan pada tingginya AKI (Wikjosastro,
2002).
Provinsi dengan kasus kematian ibu melahirkan tertinggi adalah Provinsi
Papua, yaitu sebesar 730/100.000 kelahiran hidup, diikuti Provinsi Nusa Tenggara
Barat sebesar 370/100.000 kelahiran hidup, Provinsi Maluku sebesar 340/100.000
kelahiran hidup, dan Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 330/100.000
kelahiran hidup. Jumlah ini tidak terlalu banyak berubah sejak masa orde baru.
Tidak ada perbaikan yang terlihat dalam penurunkan angka kematian
ibu.Sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB), trennya semakin menurun, dari 142
per 1.000 kelahiran hidup tahun 1967, menjadi 42 per 1.000 tahun 2000,

14
kemudian SDKI 2002-2003 sebesar 35 per 1.000, namun dari metode perhitungan
tidak langsung, AKB tahun 2003 tetap 43 per 1.000 kelahiran hidup. Di antara 10
negara ASEAN, AKB Indonesia menempati peringkat ke-7, sebelum Kamboja,
Laos, dan Myanmar. Tidak ada pola geografis untuk AKB di Indonesia. Kawasan
Indonesia barat maupun timur menyumbang kontribusi yang sama besar. AKB di
pedesaan 1,6 kali lebih tinggi daripada AKB di perkotaan. Makin miskin rumah
tangga, makin tinggi AKB dan pola ini terus konsisten hingga kini.
Faktor langsung penyebab tingginya AKI adalah perdarahan (45%),
terutama perdarahan post partum. Selain itu adalah keracunan kehamilan (24%),
infeksi (11%), dan partus lama/macet (7%). Komplikasi obstetrik umumnya
terjadi pada waktu persalinan, yang waktunya pendek yaitu sekitar 8 jam.
Menurut WHO (2000), 81% AKI akibat komplikasi selama hamil dan bersakin,
dan 25% selama masa post partum.
➢ Besaran dan kecenderungan AKI dan AKA
Berdasarkan estimasi langsung dan tidak langsung dari data yang tersedia
(Susenas, Sensus Penduduk (SP), SKRT dan SDKI), terdapat bebrapa angka dan
scenario penurunan AKI dan AKA yang dapat diajukan (lihat lampiran 1). Semua
angka estimasi menunjukkan bahwa tingkat kematian Ibu dan anak di Indonesia
dewasa ini masih tinggi. AKI berdasarkan data SDKI 2002-2003 dengan estimasi
“direct sisterhood” adalah 307 per 100.000. data yang sama dengan pendekatan
PMDF memberikan angka lebih tinggi ialah 461 per 100.000 kelahiran hidup
untuk perkiraan tahun 2000. AKB berdasarkan SP dan Susenas adalah 42 per
1000 kelahiran hidup dan AKBA 55 per 1000 kelahiran hidup untuk tahun 2000.
AKB berdasar cara langsung (SDKI 2002-2003) memberikan perkiraan rendah
ialah 35 per 100 dan AKBA 46 per 1000.
Lampiran 1
Table 1.1. Prospek AKI 1990-2015 menurut alternatif skenario, Indonesia
Tahun Skenario I Skenario II Skenario III
1990 408 636 544
1995 352 542 471
2000 304 461 407

15
2005 262 393 352
2010 226 335 305
2015 195 285 264
Penurunan 1990- 52% 55% 52%
2015
Penurunan 2000- 36% 38% 35%
2015
Catatan : Skenario I metode sisterhood SDKI, scenario II metode PMDF dari
SDKI dan scenario III metode PMDF dari SKRT.
Tabel 1.2. Prospek AKB tahun 1990-2015 berdasarkan pilihan skenario

Tahun Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3


Trend SDKI 1991- Trend SP-Susenas Trend SP-Susenas
2002/2003 1965-2000 1995-2000
1990 62 62 62
1995 48 51 50
2000 37 42 43
2005 28 35 38
2010 22 29 33
2015 17 24 29
Penurunan 1990-2015 73% 61%
53%
Penurunan 2000-2015 55% 43%
34%

Tabel 1.3. Prospek AKBA tahun 1990-2015 berdasarkan pilihan skenario


Tahun Skenario 1 Skenario 2 Skenario 2
(Trend SDKI) (Trend SP- (Trend SP-
Susenas 1965- Susenas 1995-

16
2000) 2000)
1900 85 85 81
1995 63 69 67
2000 46 56 55
2005 34 45 46
2010 25 36 39
2015 18 29 31
Penurunan 1990- 78% 65% 61%
2015
Penurunan 2000- 60% 47% 43%
2015

Semua gambaran kecenderungan AKI dan AKA menunjukkan bahwa


sekalipun ada penurunan sejak 1990, terdapat indikasi bahwa sasaran Indonesia
sehat (IS) tahun 2010 (khususnya untuk AKI sebesar 150 per 100.000 kelahiran
hidup) dan Millenium Development Goals (MDG) tahun 2015 (penurunan AKI
sebesar 75% dan AKA sebesar 67% dari 1990) akan sulit dicapai. Estimasi AKI
dan AKA menurut provinsi menunjukkan keragaman yang besar dimana
keragaman AKI jauh lebih besar dibandingkan keragaman AKA.
Ada beberapa program yang sejak dulu telah diterapkan pemerintah untuk
menurunkan Angka Kematian Anak/Ibu. Program-program tersebut adalah
sebagai berikut :
• Making Pregnancy Safer (MPS)
Pada tahun 1990 WHO meluncurkan strategi Making Pregnancy Safer
(MPS) oleh badan – badan Internasional seperti UNFPA, UNICEF, dan World
Bank. Pada dasarnya MPS meminta perhatian pemerintah dan masyarakat disetiap
negara untuk :
a. Menempatkan Safe Motherhood sebagai prioritas utama dalam rencana
pembangunan Nasional dan Internasional.
b. Menyusun acuan nasional dan standar pelayanan kesehatan maternal dan
neonatal.

17
c. Mengembangkan sistem yang menjamin pelaksanaan standar yang telah
disusun.
d. Memperbaiki akses pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, keluarga
berencana, aborsi legal, baik publik maupun swasta.
e. Meingkatkan upaya kesehatan promotif dalam kesehatan maternal dan
neonatal serta pengembalian fertilitas pada tingkat keluarga dan
lingkungannya.
f. Memperbaiki sistem monitoring pelayanan kesehatan maternal dan neonatal
(Saifuddin, 2001)
Strategi MPS mendukung target internasional yang telah disepakati.
Dengan demikian, tujuan global MPS adalah untuk menurunkan kesakitan dan
kematian ibu dan bayi baru lahir sebagai berikut:
a. Menurunkan angka kematian ibu sebesar 75% pada tahun 2015 dari AKI tahun
1990.
b. Menurunkan angka kematian bayi menjadi kurang dari 35/1.000 kelahiran
hidup pada tahun 2015.
Berdasarkan lesson learned dari upaya Safe Motherhood, maka pesan-
pesan kunci MPS adalah:
a. Setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih.
b. Setiap komplikasi obstetri dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat.
c. Setiap perempuan usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan
yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran.
Indonesia telah mencanangkan Making Pregnancy Safer (MPS) sebagai
strategi pembangunan kesehatan masyarakat menuju Indonesia Sehat 2010 pada
12 Oktober 2000 sebagai bagian dari program Safe Motherhood. Dalam arti kata
luas tujuan Safe Motherhood dan Making Pregnancy Safer sama, yaitu
melindungi hak reproduksi dan hak asasi manusia dengan mengurangi beban
kesakitan, kecacatan dan kematian yang berhubungan dengan kehamilan dan
persalinan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. MPS merupakan strategi sektor
kesehatan yang fokus pada pendekatan perencanaan sistematis dan terpadu dalam
melaksanakan intervensi klinis dan pelayanan kesehatan. MPS dilaksanakan

18
berdasarkan upaya-upaya yang telah ada dengan penekanan pada pentingnya
kemitraan antara sektor pemerintah, lembaga pembangunan, sektor swasta,
keluarga dan anggota masyarakat.
Melalui MPS diharapkan seluruh pejabat yang berwenang, mitra
pembangunan dan pihak-pihak lain yang terlibat lainnya untuk melaksanakan
upaya bersama dalam meningkatkan kemampuan pelayanan kesehatan guna
menjamin pelaksanaan dan pemanfaatan intervensi yang efektif berdasarkan bukti
ilmiah (evidence based). Perhatian difokuskan pada kegiatan-kegiatan berbasis
masyarakat yang menjamin agar ibu dan bayi baru lahir mempunyai akses
terhadap pelayanan yang mereka butuhkan bilamana diperlukan, dengan
penekanan khusus pada pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang
terampil pada saat melahirkan serta pelayanan yang tepat dan berkesinambungan.
Didalam rencana strategi nasional MPS di Indonesia 2001 – 2010
disebutkan bahwa dalam konteks Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju
Indonesia Sehat 2010, visi MPS adalah “kehamilan dan persalinan di Indoneisa
berlangsung aman, serta bayi yang dilahirkan hidup dan sehat” (Saifuddin, 2002).
Salah satu sasaran yang ditetapkan untuk tahun 2010 adalah menurunkan AKI
menjadi 125 per 100.000 KH dan angka kematian neonatal menjadi 16 per 1000
KH (Saifuddin, 2002). Salah satu faktor penting dalam upaya penurunan angka
kematian tersebut yaitu penyediaan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal
yang berkualitas dekat dengan masyarakat (Saifuddin, 2002).
Sembilan puluh persen kematian ibu terjadi di saat sekitar persalinan dan
kira – kira 95 % penyebab kematian ibu adalah komplikasi obstetri yang sering
tidak dapat diperkirakan sebelumnya, maka kebijakan Departemen Kesehatan RI
untuk mempercepat penurunan AKI adalah mengupayakan agar : 1) setiap
persalinan ditolong atau minimal didampingi oleh bidan dan 2) pelayanan obstetri
sedekat mungkin kepada semua ibu hamil. Salah satu upaya terobosan yang
cukup mencolok untuk mencapai keadaan tersebut adalah pendidikan sejumlah
54.120 bidan yang ditempatkan di desa selama 1989/1990 sampai 1996/1997
(Saifuddin, 2001).

19
• Jampersal : Jaminan Persalinan Gratis Untuk Penurunan Angka
Kematian Ibu Dan Bayi
Jaminan persalinan merupakan salah satu program pemerintah untuk
menekan angka kematian ibu dan bayi. Kematian ibu dan bayi seringkali
disebabkan oleh perdarahan, eklamsia (kejang karena tingginya tekanan darah),
infeksi, dan komplikasi selama persalinan dan pada saat nifas. Kematian ibu juga
diakibatkan oleh beberapa faktor resiko keterlambatan (tiga terlambat),
diantaranya :
1. Terlambat dalam mengenali tanda bahaya dalam kehamilan
2. Terlambat saat mengunjungi fasilitas kesehatan pada keadaan emergensi
3. Terlambat dalam memperoleh pelayanan keadaan emergensi
Dari keterlambatan yang ada salah satu pencegahannya adalah melakukan
persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.
Berdasarkan Riskesdas 2010, masih cukup banyak ibu hamil dengan faktor risiko
4 Terlalu, yaitu:
Terlalu tua hamil (hamil di atas usia 35 tahun) sebanyak 27%
Terlalu muda untuk hamil (hamil di bawah usia 20 tahun) sebanyak 2,6%
Terlalu banyak (jumlah anak lebih dari 4) sebanyak 11,8%
Terlalu dekat (jarak antar kelahiran kurang dari 2 tahun)
Menurut hasil Riskesdas 2010, persalinan oleh tenaga kesehatan pada
kelompok sasaran miskin baru mencapai sekitar 69,3%. Sedangkan persalinan
yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan baru mencapai 55,4%.
Salah satu kendala penting untuk mengakses persalinan oleh tenaga kesehatan di
fasilitas kesehatan adalah keterbatasan dan ketidak-tersediaan biaya sehingga
diperlukan kebijakan terobosan untuk meningkatkan persalinan yang ditolong
tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan melalui kebijakan yang disebut Jaminan
Persalinan. Jaminan persalinan ini diharapkan mampu menghilangkan hambatan
finansial bagi seluruh ibu hamil untuk mendapatkan jaminan persalinan hanya
dengan memenuhi persyaratan berupa buku pemeriksaan kehamilan (Buku KIA
berwarna Pink) serta fotokopi identitas diri (KTP atau identitas lainnya). Program
Jampersal menjamin pembebasan biaya pemeriksaan kehamilan, pelayanan nifas

20
termasuk KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir. Dengan demikian
Jampersal diharapkan dapat mengurangi terjadinya tiga keterlambatan yang
nantinya menurunkan angka kematian ibu dan bayi.
Dalam penerapan program jampersal ini pemerintah menjalin kerjasama
dengan puskesmas dan puskesmas PONED serta jaringannya termasuk Polindes
dan Poskesdes,serta instansi kesehatan swasta yang memiliki Perjanjian Kerja
Sama (PKS) dengan Tim Pengelola Kabupaten/Kota untuk memberikan
pelayanan tingkat pertama. Sedangkan untuk kasus-kasus yang memerlukan
rawatan lanjutan akan diberikan fasilitas perawatan kelas III di RS Pemerintah
dan Swasta yang memilik Perjanjian Kerja sama (PKS) dengan Tim Pengelola
Kabupaten/Kota. Oleh karena itu Program Jampersal ini diharapkan diketahui
oleh masyarakat umum sehingga pemanfaatannya dapat berlangsung secara
maksimal. Namun demikian tidak semua instansi kesehatan baik pemerintah
maupun swasta menerapkan kebijakan program Jampersal. Atau ada beberapa
instansi atau fasilitas kesehatan yang membebaskan biaya pemeriksaan
kehamilan, persalinan, penanganan kegawatdaruratan serta perawatan paska
persalinan namun masih menarik biaya pengobatan, pemakaian kamar pasien,
serta biaya administrasi lainnya. Oleh karena itu masyarakat harus jeli dalam
menyikapi program jampersal ini.
• Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi (RSSIB)
Rumah Sakit Sayang Ibu Bayi (RSSIB) merupakan salah satu program di
Kementerian Kesehatan dalam upaya menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi
di RS melalui 10 Langkah Perlindungan Ibu dan Bayi secara Terpadu dan
Paripurna. Melalui program ini telah diadakan penilaian dalam rangka
memperingati Hari Ibu ke 82 pada tanggal 22 Desember 2010 bersama
Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA)
memberikan beberapa penghargaan diantaranya penghargaan pada Pengelola
Terbaik RSSIB tingkat Propinsi.
RSSIB merupakan Rumah Sakit Pemerintah maupun Swasta, umum
maupun khusus yang telah melaksanakan sepuluh langkah menuju perlindungan
Ibu dan Bayi secara terpadu dan paripurna, antara lain :

21
o Ada kebijakan tertulis tentang manajemen yang mendukung pelayanan
kesehatan Ibu dan Bayi termasuk pemberian ASI eksklusif dan perawatan
metode kanguru (PMK) untuk bayi Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR).
o Menyelenggarakan pelayanan antenatal termasuk konseling kesehatan
maternal dan neonatal.
o Menyelenggarakan persalinan bersih dan aman serta penanganan pada
Bayi Baru Lahir dengan inisiasi menyusui dini dan kontak kulit ibu – bayi.
o Menyelenggarakan Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi
Komprehensif (PONEK).
o Menyelenggarakan pelayanan adekuat untuk nifas, rawat gabung termasuk
membantu ibu menyusui yang benar dan pelayanan neonatus sakit.
o Menyelenggarakan pelayanan rujukan dua arah dan membina jejaring
rujukan pelayanan ibu dan bayi dengan sarana kesehatan lain.
o Menyelenggarakan pelayanan imunisasi bayi dan tumbuh kembang.
o Menyelenggarakan pelayanan keluarga berencana termasuk pencegahan
dan penanganan kehamilan yang tidak diinginkan serta kesehatan
reproduksi lainnya.
Dengan ditingkatkannya program Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi
diharapkan kepada Rumah Sakit untuk semakin meningkatkan mutu pelayanannya
terutama pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi.
Untuk memantapkan pelaksanaan program RSSIB ini, perlu kerja sama
seluruh pemangku kepentingan di mana pembinaan dan evaluasi perlu dilakukan
terus menerus dan berkesinambungan untuk menjamin program akan dapat terus
berlanjut.Program RSSIB ini bukan hanya milik Kementerian Kesehatan. Untuk
menjamin pelaksanaan program secara berkesinambungan, membutuhkan
keikutsertaan masyarakat dan berbagai lintas program.
• Program Expanding Maternal and Newborn Survival (EMAS)
Program EMAS merupakan program hasil kerja sama antara Pemerintah
Indonesia dengan lembaga donor USAID, yang bertujuan untuk menurunkan AKI
dan AKN di Indonesia sebesar 25%. Untuk mencapai target tersebut, program
EMAS akan dilaksanakan di provinsi dan kabupaten dengan jumlah kematian

22
yang besar, yaitu Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur,
dan Sulawesi Selatan, dimana pada tahun pertama akan dilaksanakan pada 10
kabupaten.
Program Expanding Maternal and Newborn Survival (EMAS) adalah
program kerjasama Kementerian Kesehatan RI dengan USAID selama lima tahun
(2012-2016), dalam rangka mengurangi AKI dan AKB dan diharapkan
menurunkan AKI dan AKB sebanyak 25%.
Upaya penurunan AKI dan AKN melalui program EMAS akan dilakukan
dengan cara:
o Meningkatkan kualitas pelayanan emergensi obstetri dan bayi baru lahir
minimal di 150 Rumah Sakit (PONEK) dan 300 Puskesmas/Balkesmas
(PONED)
o Memperkuat sistem rujukan yang efisien dan efektif antar Puskesmas dan
Rumah Sakit

Dalam pelaksanaannya di lapangan, upaya tersebut dilakukan dengan


pendekatan “Vanguard”, yaitu:
o Memilih dan memantapkan sekitar 30 RS dan 60 Puskesmas yang sudah
cukup kuat agar berjejaring dan dapat membimbing jaringan Kabupaten
yang lain, dan
o Melibatkan RS/RB swasta untuk memperkuat jejaring sistem rujukan di
daerah

• BackLog Fighting(BLF)
BLF adalah pemberian vaksinasi campak untuk meningkatkan cakupan
terhadap anak-anak usia 12-36 bulan yang belum divaksinasi, yang hanya akan
dilakukan bagi anak-anak yang belum divaksinasi sampai usia satu tahun. Untuk
melengkapi imunisasi campak pada anak usia 1 tahun, di Indonesia mulai tahun
2008 telah dilakukan pemberian dosis kedua campak pada anak sekolah. Di
samping itu, dilaksanakan Crash Program Campak yang merupakan kampanye
vaksinasi yang dilakukan untuk mencakup semua anak berusia 6-59 bulan, tanpa

23
memperhitungkan status vaksinasi anak-anak usia tersebut di kawasan dimaksud,
yaitu di area yang selama 3 tahun berturut-turut tidak dapat mencapai target yang
ditetapkan. Sedangkan cakupan imunisasi campak untuk anak usia 12-23 bulan
hanya akan merupakan sampel pada survei yang dilakukan untuk menilai cakupan
imunisasi campak untuk bayi (<12 bulan) dari program tahun sebelumnya.

24
BAB 3. PENUTUP

Kesimpulan
Angka kematian Ibu (AKI) adalah kematian ibu yang terjadi selama masa
kehamilan atau dalam 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, tanpa melihat usia
dan lokasi kehamilan, oleh setiap penyebab yang berhubungan dengan atau
diperberat oleh kehamilan atau penanganannya tetapi bukan oleh kecelakaan atau
incidental (faktor kebetulan). Angka kematian anak (AKA) menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI) adalah bilangan yang menunjukkan banyaknya jumlah
kematian anak-anak dari umur 1 tahun sampai 4 tahun perseribu penduduk.
Secara umum tujuan penurunan AKA/I adalah untuk Menyiapkan
seoptimal mungkin mungkin fisik dan mental dalam upaya menyelamatkan ibu
dan anak selama dalam kehamilan, persalinan, nifas, sehingga didapat ibu dan
anak/ bayi yang sehat.
Beberapa faktor yang melatarbelakangi risiko kematian ibu adalah
kurangnya partisipasi ibu yang disebabkan tingkat pendidikan ibu rendah,
kemampuan ekonomi keluarga rendah, kedudukan sosial budaya yang tidak
mendukung. Jika ditarik lebih jauh, beberapa perilaku tidak mendukung juga bisa
membawa risiko.Tiga faktor utama penyebab kematian ibu di Indonesia adalah :
1) Faktor medis (langsung dan tidak langsung), 2) Faktor sistem pelayanan
(sistem pelayanan antenatal, sistem pelayanan persalinan dan sistem pelayanan
pasca persalinan dan pelayanan kesehatan anak), 3) Faktor ekonomi, sosial
budaya dan peran serta masyarakat (kurangnya pengenalan masalah, terlambatnya
proses pengambilan keputusan, kurangnya akses terhadap pelayanan kesehatan,
pengarusutamaan gender, dan peran masyarakat dalam kesehatan ibu dan anak) .
Sedangkan faktor yang mempengaruhi AKB, menurut UNICEF (2001),
menurunnya kualitas hidup anak pada usia 3 tahun pertama hidupnya adalah: gizi
buruk, ibu sering sakit, status kesehatan buruk, kemiskinan, dan diskriminasi
gender. Bayi dengan gizi buruk mempunyai resiko 2 kali meninggal dalam 12
bulan pertama hidupnya. AKI dan AKB tidak berkorelasi langsung dengan
kejadiab infeksi atau parasit, kecuali pada beberapa daerah yang endemik malaria.

25
Menurut para ahli kesehatan masyarakat, derajat kesehatan suatu negara
dilihat dari indikator angka kematian bayi (AKB). Semakin tinggi AKB suatu
negara maka semakin jelek kualitas derajat kesehatan masyarakat di kawasana
tersebut.
Dalam rangka menurunkan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia,
Kementerian Kesehatan pada tahun 2001 ini menetapkan lima strategi operasional
yaitu: penguatan Puskesmas dan jaringannya; penguatan manajemen program dan
sistem rujukannya; meningkatkan peran serta masyarakat; kerjasama dan
kemitraan; kegiatan akselerasi dan inovasi tahun 2011; penelitian dan
pengembangan inovasi yang terkoordinir. Berdasarkan Profil Kesehatan
Indonesia 2006 (2008, dalam Depkes RI), AKI Indonesia adalah 307/100.000
kelahiran hidup pada tahun 2002, sedangkan AKB di Indonesia sebesar 35/1000
kelahiran hidup.
Program-program yang bertujuan menurunkan AKA/I adalah Making
Pregnancy Safer (MPS), Jampersal : Jaminan Persalinan Gratis Untuk Penurunan
Angka Kematian Ibu Dan Bayi, Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi (RSSIB),
Program Expanding Maternal and Newborn Survival (EMAS), BackLog
Fighting(BLF).

26
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Kesehatan Ibu : Peluncuran Program “EMAS” (Online),


(http://www.kesehatanibu.depkes.go.id/archives/371 , diakses 27 Maret
2012)

Anonim. 2010. Pusat Informasi Penyakit Infeksi : Tingkatkan Program Rumah


Sakit Sayang Ibu dan Bayi (Online),
(http://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=5010, diakses 27 Maret
2012)

HP, Catur. 2012. Namaanakbayi: Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Anak
Masih Tinggi Di Indonesia (Online),( http://namanakbayi.com/angka-
kematian-ibu-dan-angka-kematian-bayi-di-indonesia-masih-tinggi/,
diakses 27 Maret 2012 ).

Opini. 2011. Kompasiana : Angka Kematian Ibu Indonesia Tertinggi di Asean


(Online), (http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2011/12/17/angka-
kematian-ibu-indonesia-tertinggi-di-asean/, diakses 27 Maret 2012)

Puskesmas. 2011. Wadah aspirasi dan komunikasi Kepala Puskesmas Kabupaten


Banjar : LIMA STRATEGI MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN IBU
(Online),(http://fkkpkabbanjar.wordpress.com/2011/02/06/lima-strategi-
operasional-menurunkan-angka-kematian-ibu/, diakses 27 Maret 2012).

Sackarpu. SacKarpu : Survey AKI dan AKB di Indonesia.(Online),


(http://j3ffunk.blogspot.com/2011/05/survey-aki-dan-akb-di-
indonesia.html, diakses 27 Maret 2012)

27