You are on page 1of 24

BAB I

LAPORAN PENDAHULUAN LUKA BAKAR

A. Anatomi & Fisiologi


1. Anatomi

2. Fisiologi
Kulit merupakan pembatas tubuh dengan lingkungan sekitar karena
posisinya yang terletak di bagian paling luar. Luas kulit dewasa 1,5 m2
dengan berat kira-kira 15% berat badan.
Kulit merupakan organ tubuh yang terletak paling luar dan
merupakan proteksi terhadap organ-organ yang terdapat dibawahnya dan
membangun sebuah barrier yang memisahkan organ-organ internal dengan
lingkungan luar dan turut berpartisipasi dalam banyak fungsi tubuh yang
vital.
Lapisan kulit terbagi menjadi beberapa bagian yaitu sebagai
berikut :

a. Lapisan Epidermis (kutikel)


1) Stratum Korneum (lapisan tanduk)
Lapisan kulit paling luar yang terdiri dari sel gepeng yang
mati, tidak berinti, protoplasmanya berubah menjadi keratin
(zat tanduk)

2) Stratum Lusidum
Terletak di bawah lapisan korneum, lapisan sel gepeng
tanpa inti, protoplasmanya berubah menjadi protein yang
disebut eleidin. Lapisan ini lebih jelas tampak pada telapak
tangan dan kaki.
3) Stratum Granulosum (lapisan keratohialin)
Merupakan 2 atau 3 lapis sel gepeng dengan sitoplasma
berbutir kasar dan terdapat inti di antaranya. Butir kasar terdiri
dari keratohialin. Mukosa biasanya tidak mempunyai lapisan
ini.

4) Stratum Spinosum (stratum Malphigi) atau prickle cell


layer (lapisan akanta )
Terdiri dari sel yang berbentuk poligonal,
protoplasmanya jernih karena banyak mengandung glikogen,
selnya akan semakin gepeng bila semakin dekat ke permukaan.
Di antara stratum spinosum, terdapat jembatan antar sel
(intercellular bridges) yang terdiri dari protoplasma dan
tonofibril atau keratin. Perlekatan antar jembatan ini
membentuk penebalan bulat kecil yang disebut nodulus
Bizzozero. Di antara sel spinosum juga terdapat pula sel
Langerhans.

5) Stratum Basalis
Terdiri dari sel kubus (kolumnar) yang tersusun vertikal
pada perbatasan dermo-epidermal berbaris seperti pagar
(palisade). Sel basal bermitosis dan berfungsi reproduktif. Sel
kolumnar yaitu protoplasma basofilik inti lonjong besar, di
hubungkan oleh jembatan antar sel.

6) Sel pembentuk melanin (melanosit) atau clear cell


Sel berwarna muda, sitoplasma basofilik dan inti gelap,
mengandung pigmen (melanosomes)

b. Lapisan Dermis (korium, kutis vera, true skin)


Terdiri dari lapisan elastik dan fibrosa pada dengan elemen-
elemen selular dan folikel rambut.

1) Pars Papilare
Bagian yang menonjol ke epidermis, berisi ujung
serabut saraf dan pembuluh darah

2) Pars Retikulare
Bagian bawah yang menonjol ke subkutan. Terdiri
dari serabut penunjang seperti kolagen, elastin, dan
retikulin. Dasar (matriks) lapisan ini terdiri dari cairan
kental asam hialuronat dan kondroitin sulfat, dibagian ini
terdapat pula fibroblas. Serabut kolagen dibentuk oleh
fibroblas, selanjutnya membentuk ikatan (bundel) yang
mengandung hidroksiprolin dan hidroksisilin. Kolagen
muda bersifat elastin, seiring bertambahnya usia, menjadi
kurang larut dan makin stabil. Retikulin mirip kolagen
muda. Serabut elastin biasanya bergelombang, berbentuk
amorf, dan mudah mengembang serta lebih elastis.

c. Lapisan Subkutis (hipodermis)


Lapisan paling dalam, terdiri dari jaringan ikat longgar
berisi sel lemak yang bulat, besar, dengan inti mendesak ke
pinggir sitoplasma lemak yang bertambah. Sel ini berkelompok
dan dipisahkan oleh trabekula yang fibrosa. Lapisan sel lemak
disebut dengan panikulus adiposa, berfungsi sebagai cadangan
makanan. Di lapisan ini terdapat saraf tepi, pembuluh darah, dan
getah bening. Lapisan lemak berfungsi juga sebagai bantalan,
ketebalannya berbeda pada beberapa kulit. Di kelopak mata dan
penis lebih tipis, di perut lebih tebal (sampai 3 cm).
d. Kelenjar Kulit
terdapat pada lapisan dermis
Kelenjar Keringat (glandula sudorifera): Keringat
mengandung air, elektrolit, asam laktat, dan glukosa. pH nya
sekitar 4-6,8. Terdapat beberapa macam kelenjar:

1) Kelenjar Ekrin: kecil-kecil, terletak dangkal di dermis


dengan secret encer. Kelenjar Ekrin terbentuk sempurna pada
minggu ke 28 kehamilan dan berfungsi 40 minggu setelah
kelahiran. Salurannya berbentuk spiral dan bermuara
langsung pada kulit dan terbanyak pada telapak tangan, kaki,
dahi, dan aksila. Sekresi tergantung beberapa faktor dan saraf
kolinergik, faktor panas, stress emosional.
2) Kelenjar Apokrin: lebih besar, terletak lebih dalam, secretnya
lebih kental. Dipengaruhi oleh saraf adrenergik, terdapat di
aksila, aerola mammae, pubis, labia minora, saluran telinga.
Fungsinya belum diketahui, waktu lahir ukurannya kecil, saat
dewasa menjadi lebih besar dan mengeluarkan secret
3) Kelenjar Palit (glandula sebasea) Terletak di seluruh
permukaan kuli manusia kecuali telapak tangan dan kaki.
Disebut juga dengan kelenjar holokrin karena tidak berlumen
dan sekret kelenjar ini berasal dari dekomposisi sel-sel
kelenjar. Kelenjar palit biasanya terdapat di samping akar
rambut dan muaranya terdapat pada lumen akar rambut
(folikel rambut). Sebum mengandung trigliserida, asam
lemak bebas, skualen, wax ester, dan kolesterol. Sekresi
dipengaruhi oleh hormon androgen. Pada anak-anak,
jumlahnya sedikit. Pada dewasa menjadi lebih banyak dan
berfungsi secara aktif.
Fungsi kulit sebagai berikut :
a. Fungsi Proteksi: Kulit punya bantalan lemak, ketebalan, serabut
jaringan penunjang yang dapat melindungi tubuh dari gangguan :
1) Fisis atau mekanis : tekanan, gesekan, tarikan.
2) kimiawi : iritan seperti lisol, karbil, asam, alkali kuat
3) panas : radiasi, sengatan sinar UV
4) infeksi luar : bakteri, jamur

Beberapa macam perlindungan :

1) Melanosit: lindungi kulit dari pajanan sinar matahari dengan


mengadakan tanning (penggelapan kulit)
2) Stratum korneum impermeable terhadap berbagai zat kimia
dan air.
3) Keasaman kulit kerna ekskresi keringat dan sebum:
perlindungan kimiawo terhadap infeksi bakteri maupun jamur
4) Proses keratinisasi: sebagai sawar (barrier) mekanis karena sel
mati melepaskan diri secara teratur.
b. Fungsi Absorpsi: permeabilitas kulit terhadap O2, CO2, dan uap
air memungkinkan kulit ikut mengambil fungsi respirasi.
Kemampuan absorbsinya bergantung pada ketebalan kulit, hidrasi,
kelembaban, metabolisme, dan jenis vehikulum. PEnyerapan
dapat melalui celah antar sel, menembus sel epidermis, melalui
muara saluran kelenjar.
c. Fungsi Ekskresi: mengeluarkan zat yang tidak berguna bagi
tubuh seperti NaCl, urea, asam urat, dan amonia. Pada fetus,
kelenjar lemak dengan bantuan hormon androgen dari ibunya
memproduksi sebum untuk melindungi kulitnya dari cairan
amnion, pada waktu lahir ditemui sebagai Vernix Caseosa.
d. Fungsi Persepsi : kulit mengandung ujung saraf sensori di dermis
dan subkutis. Saraf sensori lebih banyak jumlahnya pada daerah
yang erotik.
e. Fungsi Pengaturan Suhu Tubuh (termoregulasi): dengan cara
mengeluarkan keringat dan mengerutkan (otot berkontraksi)
pembuluh darah kulit. Kulit kaya pembuluh darah sehingga
mendapat nutrisi yang baik. Tonus vaskuler dipengaruhi oleh
saraf simpatis (asetilkolin). Pada bayi, dinding pembuluh darah
belum sempurna sehingga terjadi ekstravasasi cairan dan
membuat kulit bayi terlihat lebih edematosa (banyak
mengandung air dan Na)
f. Fungsi Pembentukan Pigmen: karena terdapat melanosit (sel
pembentuk pigmen) yang terdiri dari butiran pigmen
(melanosomes)
g. Fungsi Keratinisasi: Keratinosit dimulai dari sel basal yang
mengadakan pembelahan, sel basal yang lain akan berpindah ke
atas dan berubah bentuknya menjadi sel spinosum, makin ke atas
sel makin menjadi gepeng dan bergranula menjadi sel
granulosum. Makin lama inti makin menghilang dan keratinosit
menjadi sel tanduk yang amorf. Proses ini berlangsung 14-21
hari dan memberi perlindungan kulit terhadap infeksi secara
mekanis fisiologik.
h. Fungsi Pembentukan Vitamin D: kulit mengubah 7 dihidroksi
kolesterol dengan pertolongan sinar matahari. Tapi kebutuhan vit
D tubuh tidak hanya cukup dari hal tersebut. Pemberian vit D
sistemik masih tetap diperlukan(Syaifuddin, 2011)

B. Definisi
Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus
listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang
lebih dalam. (Nugroho Taufan Dkk, 2016).
Luka Bakar ditimbulkan panas kering atau panas basah, terkena bahan
kimia, arus listrik, dan radiasi (Hardisman. 2014).
Luka Bakar adalah kerusakan/ kehilangan jaringan yang disebabkan
kontak langsung dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia,
listrik dan radiasi. (Moenajat, 2012)

C. Etiologi

1. Luka Bakar Suhu Tinggi(Thermal Burn)


a. Gas
b. Cairan
c. Bahan padat (solid)
2. Luka Bakar Bahan Kimia (hemical Burn)
a. Asam kuat
b. Basa kuat
c. Zat kimia lainnya

3. Luka Bakar Sengatan Listrik (Electrical Burn)


4. Luka Bakar Radiasi (Radiasi Injury)

D. Patofisiologi
Luka bakar disebabkan oleh perpindahan energi dari sumber panas ke
tubuh, yang mungkin dipindahkan melalui konduksi dan radiasi
elektromagnetik.Kulit dengan luka bakar akan mengalami kerusakan pada
epidermis, dermis maupun jaringan subkutan tergantung faktor penyebab dan
lamanya kulit kontak dengan sumber panas tersebut.Dalamnya luka bakar
akan mempengaruhi kerusakan/ gamgguan integritas kulit dan kematian sel-
sel.
Akibat luka bakar fungsi kulit yang normal hilang, berakibat terjadi
perubahan fisiologis :
1. Hilang daya lindung terhadap infeksi
2. Cairan tubuh terbuang
3. Hilang kemampuan mengendalikan keringat
4. Banyak kehilangan reseptor sensoris
Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan
kesakitan.Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan permeabilitas
meningkat.Sel darah yang ada didalamnya ikut rusak sehingga terjadi
anemia.Meningkatnya permeabilitas pembuluh darah sehingga air, natrium,
klorida dan protein tubuh akan keluar dalam sel dan menyebabkan edema dan
menimbulkan bula dengan membawa serta elektrolit.Hal itu akan
menyebabkan berkurangnya volume cairan intravaskuler dan kehilangan
cairan tambahan karena penguapan yang berlebihan.Jika keadaan berlanjut
akan terjadi syok hipovolemik dengan gejala yang khasseperti gelisah, pucat,
dingin, berkeringat,nadi kecil an cepat,tekanan darah menurun,serta produksi
urine berkurang.Pembengkakan terjadi pelan-pelan. Maksimal terjadi setelah 8
jam. Kehilangan cairan tubuh dapat disebabkan beberapa faktor (Nugroho
Taufan Dkk, 2016).:
1. Peningkatan mineralokortikoid

a. Retensi air
b. Natrium
c. Klorida
d. Ekresi kalium
2. Peningkatan permeabilitas pembuluh darah, keluarnya elektrolit dan
protein dari pembuluh darah
3. Perbedaan tekanan osmotik intra-ekstrasel

Bila luka bakar terjadi dimuka kerusakan mukosa jalan napas karena
gas, asap atau uap yang terhisap.Edema laring yang terjadi dapat
menyebabkan gangguan hambatan jalan napas.Gejala yang timbul adalah
seseka napas, takipnea, stridor, suara serak dan dahak berwarna gelap.
Tingkat hipovolemi dimulai dari terjadinya luka bakar dan
berlangsung sampai 48-72 jam pertam. Kondisi disertai dengan pergeseran
cairan dari kompartemen vaskular keruang interstitium.Bila terjadi syok
hipovolemi dan terjadi penurunan desakan darah yang berat dan etrjadi
pengaliran cairan yang tidak adekuat ke ginjal yang memburuk kondisi syok
dan timbul anuri.Akibat pergeseran cairan bisa mnyebabkan dehidrasi kepada
jaringan yang tidak menderita kerusakan. Jadi menimbulkan banyak cairan
dan gara mhilang dari kapiler pada protein. Perfusi jaringan yang tidak
sempurna menyebabkan metabolisme anaerob dan hasil akhir produk asam
ditahan karena rusaknya fungsi ginjal. Selanjutnya timbul asidosis metabolik.
(Nugroho Taufan Dkk, 2016).

E. Pathway
F. Manifestasi Klinis
1. Fase Luka Bakar
a. Fase akut
Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Dalam fase awal
penderita akan mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas),
brething (mekanisme bernafas), dan circulation (sirkulasi). Gnagguan
airway tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah
terbakar, namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat
cedera inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma. Cedera inhalasi adalah
penyebab kematian utama penderiat pada fase akut.

Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan


elektrolit akibat cedera termal yang berdampak sistemik.

b. Fase Sub Akut


Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi
adalah kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak denga sumber
panas. Luka yang terjadi menyebabkan:

1) Proses inflamasi dan infeksi


2) Problem penutupan luka dengan titik perhatian pada luka
telanjang atau tidak berbaju epitel luas dan atau pada struktur atau
organ-organ fungsional
3) Keadaan hipermetabolisme
2. Fase Lanjut
Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut
akibat luka dan pemulihan fungsi organ-organ fungsional. Problem yang
muncul pada fase ini adalah penyulit berupa parut yang hipertropik,
kleoid, gangguan pigmentasi, deformitas dan kontraktur. (Nugroho Taufan
Dkk, 2016).
G. Klasifikasi Luka Bakar

a. Dalamnya Luka Bakar

Kedalaman Penyebab Penampilan Warna Perasaan

Ketebalan partial Jilatan api, sinar Kering tidak ada Bertambah Nyeri
superficial ultra violet gelembung, Oedem merah.
(tingkat I) (terbakar oleh minimal atau tidak
matahari). ada, Pucat bila ditekan
dengan ujung jari,
berisi kembali bila
tekanan dilepas

Lebih dalam dari Kontak dengan Blister besar dan Berbintik- Sangat
ketebalan partial bahan air atau lembab yang bintik yang nyeri
bahan padat. ukurannya bertambah kurang
(tingkat II)
Jilatan api besar. Pucat bial jelas, putih,
Kepada pakaian. ditekan dengan ujung coklat,
- Superfisial
Jilatan langsung jari, bila tekanan pink,
- Dalam kimiawi, Sinar dilepas berisi kembali. daerah
ultra violet. merah
coklat.

Ketebalan Kontak dengan Kering disertai kulit Putih, Tidak


sepenuhnya bahan cair atau mengelupas. kering, sakit,
padat. Nyala Pembuluh darah hitam, sedikit
(tingkat III)
api, Kimia, seperti arang terlihat coklat tua, sakit,
Kontak dengan dibawah kulit yang Hitam, Rambut
arus listrik. mengelupas. mudah
Gelembung jarang, Merah. lepas bila
dindingnya sangat dicabut.
tipis, tidak membesar.
Tidak pucat bila
ditekan.

b. Luas Luka Bakar


Wallace membagi tubuh atas bagian 9% atau kelipatan 9 yang
terkenal dengan nama rule of nine atua rule of wallace yaitu:

1) Kepala dan leher : 9%

2) Lengan masing-masing 9% : 18%

3) Badan depan 18%, badan belakang 18% : 36%

4) Tungkai maisng-masing 18% : 36%

5) Genetalia/perineum : 1%

Total : 100 %

c. Berat dan Ringan Luka Bakar


Untuk mengkaji beratnya luka bakar harus dipertimbangkan
beberapa faktor antara lain :

1) Persentasi area (Luasnya) luka bakar pada permukaan tubuh.


2) Kedalaman luka bakar.
3) Anatomi lokasi luka bakar.
4) Umur klien.
5) Riwayat pengobatan yang lalu.
6) Trauma yang menyertai atau bersamaan.
American Burn Association membagi dalam :

1. Yang termasuk luka bakar ringan (minor) :

a Tingkat II kurang dari 15 % Total Body Surface


Area pada orang dewasa atau kurang dari 10 % Total Body
Surface Area pada anak – anak

b Tingkat III kurang dari 2 % Total Body Surface


Area yang tidak disertai komplikasi

2. Yang termasuk luka bakar sedang (moderate)

a Tingkat II 15% - 25% Total Body Surface Area pada


orang dewasa atau kurang dari 10% - 20% Total Body Surface
Area pada anak-anak

b T ingkat III kurang dari 10% Total Body Surface


Area yang tidak disertai komplikasi.

3. Yang termasuk luka bakar kritis (mayor)

a T Tingkat II 32% Total Body Surface Area atau


lebih pada orang dewasa atau lebih dari 20% Total Body Surface
Area pada anak-anak..

b Tingkat III 10% atau lebih

c Luka bakar yang melibatkan muka, tangan, mata,


telinga, kaki dan perineum..

d Luka bakar pada jalan pernafasan atau adanya


komplikasi pernafasan

e Luka bakar sengatan listrik (elektrik)


f Luka bakar yang disertai dengan masalah yang
memperlemah daya tahan tubuh seperti luka jaringan linak,
fractur, trauma lain atau masalah kesehatan sebelumnya.

American college of surgeon membagi dalam:

1. Parah – critical:

a. Tingkat II : 30% atau lebih.

b. Tingkat III : 10% atau lebih.

c. Tingkat III pada tangan, kaki dan wajah.

d. Dengan adanya komplikasi penafasan, jantung, fractura, soft tissue


yang luas.

2. Sedang - moderate:

a. Tingkat II : 15 - 30%.

b. Tingkat III : 1 - 10%

3. Ringan – minor:

a. Tingkat II : kurang 15%.

b. Tingkat III : kurang 1% (Nugroho Taufan Dkk, 2016).

H. Perubahan Fisiologis Pada Luka Bakar

Perubahan Tingkatan hipovolemik Tingkatan diuretik

( s/d 48-72 jam pertama) (12 jam – 18/24 jam pertama)


Mekanisme Dampak dari Mekanisme Dampak dari

Pergeseran Vaskuler ke Hemokonsentrasi Interstitial ke Hemodilusi.


cairan insterstitial. oedem pada lokasi vaskuler.
ekstraseluler. luka bakar.

Fungsi renal. Aliran darah Oliguri. Peningkatan Diuresis.


renal aliran darah renal
berkurang karena desakan
karena darah meningkat.
desakan darah
turun dan CO
berkurang.

Kadar Na+ Defisit sodium. Kehilangan Na+ Defisit sodium.


sodium/natriu direabsorbsi melalui diuresis
m. oleh ginjal, (normal kembali
tapi setelah 1
kehilangan minggu).
Na+ melalui
eksudat dan
tertahan dalam
cairan oedem.
Kadar K+ dilepas Hiperkalemi K+ bergerak Hipokalemi.
potassium. sebagai akibat kembali ke dalam
cidera jarinagn sel, K+ terbuang
sel-sel darah melalui diuresis
merah, K+ (mulai 4-5 hari
berkurang setelah luka
ekskresi bakar).
karena fungsi
renal
berkurang

Kadar protein. Kehilangan Hipoproteinemia. Kehilangan Hipoproteinemi


protein ke protein waktu a.
dalam jaringan berlangsung terus
akibat katabolisme.
kenaikan
permeabilitas

Keseimbangan Katabolisme Keseimbangan Katabolisme Keseimbangan


nitrogen. jaringan, nitrogen negatif. jaringan, nitrogen negatif.
kehilangan kehilangan
protein dalam protein,
jaringan, lebih immobilitas.
banyak
kehilangan
dari masukan.

Keseimbnagan Metabolisme Asidosis metabolik. Kehilangan Asidosis


asam basa anaerob karena sodium
perfusi bicarbonas metabolik.
jarinagn melalui diuresis,
berkurang hipermetabolisme
peningkatan disertai
asam dari peningkatan
produk akhir, produk akhir
fungsi renal metabolisme.
berkurang
(menyebabkan
retensi produk
akhir tertahan),
kehilangan
bikarbonas
serum.

Respon stres. Terjadi karena Aliran darah renal Terjadi karena Stres karena
trauma, berkurang. sifat cidera luka.
peningkatan berlangsung lama
produksi dan terancam
cortisone psikologi pribadi.

Eritrosit Terjadi karena Luka bakar termal. Tidak terjadi pada Hemokonsentra
panas, pecah hari-hari pertama. si.
menjadi fragil.

Lambung. Curling ulcer Rangsangan central Akut dilatasi dan Peningkatan


(ulkus pada di hipotalamus dan
gaster), peingkatan jumlah paralise usus. jumlah cortison.
perdarahan cortison.
lambung,
nyeri.

Jantung. MDF Disfungsi jantung. Peningkatan zat CO menurun.


meningkat 2x MDF (miokard
lipat, depresant factor)
merupakan sampai 26 unit,
glikoprotein bertanggung
yang toxic jawab terhadap
yang syok spetic.
dihasilkan oleh
kulit yang
terbakar.

I. Indikasi Rawat Inap Luka Bakar

1. Luka bakar grade II


2. Dewasa > 20%
3. Anak/orang tua > 15%
4. Luka bakar grade III
5. Luka bakar dengan komplikasi : jantung, otak dll (Nugroho Taufan Dkk,
2016).

J. Penatalaksanaan
1. Farmakologi
a. Resusitasi A, B, C
1) Pernafasan
a) Udara panas mukosa rusak odem obstruksi.
b) Efek toksik dari asap: HCN, NO2, HCL, Bensin iritasi
Brokhokontriksi obstruksi gagal nafas.
2) Sirkulasi
Gangguan permeabilitas kapiler: cairan intra vaskuler
pindah ke ekstra vaskuler hipovelemi relative syok ATN gagal
ginjal.
b. Pemasangan Infus
Pemasangan infus bertujuan untuk mempermudah pemenuhan
cairan melalui intravena.
c. Kateter
Tindakan kateter berguna untuk pasien dengan luka bakar
untuk membatasi pergerakan pasien.
d. CVP
Bertujuan untuk mengetahui tekanan vena centralis untuk
mengambil darah vena dan sebagai tempat medikasi secara intra
vena.
e. Pemberian terapi Oksigen
Pemenuhan oksigenasi diperlukan pada pasien yang
berindikasi pada pasien yang kekurangan oksigen. Tindakan ini
bertujuan agar sirkulasi tetap stabil.
f. Pemeriksaan laboratorium dengan menggunakan kultur luka
Manfaat dari pemeriksaan kultur luka ini adalah sebagai
penentu bakteri yang berada di kulit pasien. Bakteri tersebut yang
akan menyebabkan infeksi pada pasien sehingga memparah keadaan
luka pasien.
g. Resusitasi cairan
Resusitasi cairan ini diperlukan untuk menggantikan cairan
yang hilang akibat luka bakar. Pemenuhan cairan diberikan
berdasarkan tingkat golongan dewasa dan pada anak, yaitu sebagai
berikut :
Rumus resusitasi cairan menggunakan Baxter yaitu :
1) Dewasa
Menggunakan cairan RL

4 cc x BB x % LB/24 jam

2) Anak
RL : Dextran = 17 : 3

Jumlah resusitasi : 2 cc x BB x % LB

Kebutuhan faal:

< 1 tahun : BB x 100 cc

1 – 3 tahun : BB x 75 cc

3 – 5 tahun : BB x 50 cc

Kebutuhan resusitasi : jumlah resusitasi + kebutuhan faal

½ à diberikan 8 jam pertama

½ à diberikan 16 jam berikutnya.

2. Non Farmakologi

1) Monitor urine
2) Topical dean tutup luka
a. Cuci luka dengan savlon : NaCl
0,9% ( 1 : 30 ) + buang jaringan nekrotik.
b. Tule
c. Silver sulva diazim tebal
d. Tutup kassa tebal
e. Evaluai 5 – 7 hari, kecuali balutan
kotor
f. Obat – obatan
g. Antibiotika : tidak diberikan bila
pasien datang
h. Bila perlu berikan antibiotika sesuai
dengan pola kuman dan sesuai hasil kultur.
i. Analgetik : kuat (morfin, petidine)
j. Antasida : kalau perlu (Nugroho
Taufan Dkk, 2016).

K. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Nugroho Taufan Dkk, 2016, diperlukan pemeriksaan penunjang
pada luka bakar yaitu :

1. Laboratorium
a. Hitung darah lengkap
Hb (Hemoglobin) turun menunjukkan adanya pengeluaran
darah yang banyak sedangkan peningkatan lebih dari 15%
mengindikasikan adanya cedera, pada Ht (Hematokrit) yang
meningkat menunjukkan adanya kehilangan cairan sedangkan Ht
turun dapat terjadi sehubungan dengan kerusakan yang diakibatkan
oleh panas terhadap pembuluh darah.
b. Leukosit
Leukositosis dapat terjadi sehubungan dengan adanya infeksi atau
inflamasi
c. GDA (Gas Darah Arteri)
Untuk mengetahui adanya kecurigaaan cedera inhalasi. Penurunan
tekanan oksigen (PaO2) atau peningkatan tekanan karbon dioksida
(PaCO2) mungkin terlihat pada retensi karbon monoksida.
d. Elektrolit Serum
Kalium dapat meningkat pada awal sehubungan dengan cedera
jaringan dan penurunan fungsi ginjal, natrium pada awalmungkin
menurun karena kehilangan cairan, hipertermi dapat terjadi saat
konservasi ginjal dan hipokalemi dapat terjadi bila mulai diuresis.
e. Natrium Urin
Lebih besar dari 20 mEq/L mengindikasikan kelebihan cairan ,
kurang dari 10 mEqAL menduga ketidakadekuatan cairan.
f. Alkali Fosfat
Peningkatan Alkali Fosfat sehubungandengan perpindahan cairan
interstisial atau gangguan pompa, natrium.
g. Glukosa Serum
Peninggian Glukosa Serum menunjukkan respon stress.
h. Albumin Serum
Untuk mengetahui adanya kehilangan protein pada edema cairan.
i. BUN atau Kreatinin
Peninggian menunjukkan penurunan perfusi atau fungsi ginjal, tetapi
kreatinin dapat meningkat karena cedera jaringan.
2. Loop aliran volume
Memberikan pengkajian non-invasif terhadap efek atau luasnya cedera.
3. EKG
Untuk mengetahui adanya tanda iskemia miokardial atau distritmia.
4. Fotografi luka bakar
Memberikan catatan untuk penyembuhan luka bakar.
L. Komplikasi
1. Bekas luka
Disebabkan oleh pertumbuhann jaringan parut yang berlebihan
akibat luka bakar.
2. Hipotermia
Kondisi yang berbahaya ini terjadi ketika suhu tubuh menjadi
sangat rendah akibat luka bakar.
3. Gangguan Bergerak
Ketika luka bakar membuat jaringa tubuh, seperti kulit atau otot
menjadi lebih pendek dan kencang.
4. Infeksi
Infeksi kulit akibat luka bakar dapat berkembang menjadi infeksi
dalam aliran darah, hingga sepsis.
5. Gangguan Pernafasan
Gangguan pernafasan terjadi jika penderita menghirup udara asap
kebakaran.
6. Kehilangan banyak Cairan Tubuh
Kehilangan banyak cairan tubuh ini dapat menimbulkan kurangnya
cairan dalam pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah. (Nugroho
Taufan Dkk, 2016).

DAFTAR PUSTAKA

Bulechek M.Gloria.dkk.2013.Nursing Intervention Classification


(NIC).Ed.6.Jakarta.

Hardisman. 2014. Gawat Darurat Medis Praktis. Yogyakarta : Gosyen Publising.

Hertman T. Heather.dkk.2017.Diagnosis Keperawatan definisi &


klasifikasi.Ed.10.Penerbit buku Kedokteran EGC.Jakarta.

Moenadjat Y. 2012. Luka bakar masalah dan tatalaksana. Jakarta : Balai penerbit
FKUI

Moorhead Sue.dkk.2013.Nursing Outcomes Classification (NOC).Ed.5.Jakarta

Nurarif Huda Amin.dkk.2015.Asuhan keperawatan berdasarkan diagnose mrdis


& NANDA (NIC – NOC). jilid 1.Yogjakarta.
Syaifuddin.H.2011.Anatomi Fisiologi Kurikulum Berbasis Kopetensi untuk
Keperawatan & Kebidanan. Ed.4. Penerbit buku Kedokteran EGC.Jakarta

Taufan Nugroho Dkk.2016.Teori Asuhan Keperawatan Gawat


Darurat.Yogyakarta: Nuha Medika