You are on page 1of 19

LAPORAN PENDAHULUAN DEFISIT PERAWATAN DIRI

PRAKTIK KEPERAWATAN JIWA

Disusun oleh:

MOKHAMAD DICKY ALI P 1610711102

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
2018
DEFISIT PERAWATAN DIRI

I.1 Pengertian Defisit Perawatan Diri


Perawatan diri (personal hygiene) mencakup aktivitas yang dibutuhkan untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari. Yang biasa dikenal dengan aktivitas kehidupan sehari-
sehari (ADLs). Aktivitas ini dipelajari dari waktu ke waktu dan menjadi kebiasaan seumur
hidup. Kegiatan perawatan diri tidak hanya melibatkan apa yang harus dilakukan
(kebersihan, mandi, berpakain, toilet, makan).tetapi juga berapa, kapan, dimana, dengan
siapa , dan bagaimana ( militer dalam carpenito moyet, 2009).
Defisit perawatan diri adalah ketidakmampuan dalam: kebersihan diri, makan,
berpakaian, berhias diri, makan sendiri, buang air besar atau kecil sendiri (toileting) (keliat
B.A ,dkk, 2011).
Defisit perawatan diri adalah kurangnya perawatan diri pada pasien dengan gangguan
jiwa terjadi akibat adanya perubahan proses pikir sehingga kemampuan untuk melakukan
aktivitas perawatan diri menurun. Kurang perawatan diri terlihat dari ketidakmampuan
merawat kebersihan diri antaranya mandi, makan minum secara mandiri, berhias secara
mandiri, toileting (BAK/BAB) (Damaiyanti, 2012).
Keadaan seseorang yang mengalami kelainan dalam kemampuan untuk melakukan atau
menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-hari secara mandiri disebut dengan deficit
perawatan diri. Tidak ada keinginan klien untuk mandi secara teratur, tidak menyisir rambut,
pakaian kotor bau badan, bau napas, dan penampilan tidak rapi, deficit perawatan diri
merupakan salah satu masalah yang timbul pada klien gangguan jiwa. Klien gangguan jiwa
kronis sering mengalami ketidakpedulian merawat diri, keadaan ini merupakan gejala
perilaku negative dan menyebabkan klien dikucilkan, baik dalam keluarga maupun
masyarakat.

1
I.2 Etiologi Defisit Perawatan Diri
Menurut potter dan perry (2009), terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi personal
hygiene , yaitu :

a. Citra Tubuh
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihin diri.
Perubahan fisik akibat operasi bedah, misalnya, dapat memicu individu untuk tidak
peduli terhadap kebersihannya.
b. Status sosial ekonomi
Sumber penghasilan atau sumber ekonomi mempengaruhi jenis dan tingkat
praktik perawatan diri yang dilakukan. Perawat harus menuntukan apakah apakah
pasien dapat mencukupi perlengkapan perawatan diri yang penting, seperti sabun, pasta
gigi, sikat gigi, sampo. Selain itu, hal yang perlu diperhatikan adalah apakah
penggunaan perlengkapan tersebut sesuai dengan kebiasaan sosial yang dipraktikan oleh
kelompok sosial pasien.
c. Pengetahuan
Pengetahuan tentang perawatan diri sangat penting karena pengetahuan yang baik
dapat meningkatkan kesahatan. Kurangnya pengetahuan tentang pentingnya perawatan
diri dan implikasinya bagi kesehatan dapat mempengaruhi praktik perawatan diri.
d. Variabel kebudayaan
Kepercayaan akan nilai kebudayaan dan nilai diri mempengaruhi perawatan diri.
Orang dari latar belakang kebudayaan yang berbeda mengikuti praktik kesehatan yang
berbeda pula. Disebagaian masyarakat, misalnya , ada yang menerapkan mandi setiap
hari, tetapi masyarakat dengan lingkup budaya yang berbeda hanya mandi seminggu
sekali.
e. kondisi fisik
Pada keadaan tertentu atau sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang dan
memerlukan bantuan. Biasanya, jika tidak mampu, klien dengan kondisi fisik yang tidak
sehat lebih memilih untuk tidak melakukan perawatan diri.

2
I.3 Lingkup Defisit Perawatan Diri

a. kebersihan diri
Tidak ada keinginan untuk mandi secara teratur, pakaian kotor, bau badan, bau napas,
dan penampilan tidak rapi
b. berdandanan atau berhias
Kurangnya minat dalam memilih pakaian yang sesuai, tidak menyisir rambut, atau
mencukur kumis.
c. Makan
Mengalami kesukaran dalam mengambil, ketidakmampuan membawa makanan dari
piring ke mulut, dan makan hanya beberapa suap makanan dari piring.
d. Toileting
Ketidakmampuan atau tidak adanya keinginan untuk melakukan defekasi atau berkemih
tanpa bantuan

I.4 Jenis

Menurut (NANDAi, 2016) jenis perawatan diri terdiri dari :

a. Defisit perawatan diri : mandi


Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan mandi/beraktivitas
perawatan diri sendiri

Batasan karakteristiknya meliputi :

1) gangguan kemampuan mengeringkan tubuh


2) gangguan kemampuan untuk mengakses kamar mandi
3) gangguan kemampuan untuk mengakses air
4) gangguan kemampuan untuk mengambil perlengkapan mandi
5) gangguan kemampuan untuk mengatur air mandi
6) gangguan kemampuan membasuh tubuh

3
b. Defisit perawatan diri : berpakaian
Hambatan kemampuan untuk melakukan ata menyelesaikan aktivitas berpakaian dan
berhias untuk diri sendiri.
Batasan karekteristiknya meliputi :
1) ketidakmampuan memilih pakaian
2) ketidakmampuan memadupadankan pakaian
3) ketidakmampuan mempertahankan penampilan yang memuaskan
4) ketidakmampuan mengambil pakaian
5) ketidakmampuan mengenakan pakaian pada bagian bawah tubuh
6) ketidakmampuan mengenakan pakaian pada bagan atas tubuh
7) ketidakmampuan memakai berbagai item pakaian (mis : kemeja, kaus kaki)
8) ketidakmampuan melepaskan atribut pakaian (mis : kemeja, kaus kaki)
9) ketidakmampuan menggunakan alat bantu alat
10) ketidakmampuan menggunakan resleting
11) ketidakmampuan mengancingkan pakaian

c. Defisit perawatan diri : makan


Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas makan sendiri.
Batasa karakteristiknya meliputi :
1) ketidakmampuan mengambil dan memasukkan makanan ke mulut
2) ketidakmampuan menggunakan alat bantu
3) ketidakmampuan mengunyah makanan
4) ketidakmampuan memanipulasi makanan dimulut
5) ketidakmampuan membuka container/wadah makanan
6) ketidakmampuan mengambil cangkir
7) ketidakmampuan meletakkan makanan kealat makan
8) ketidakmampuan menyiapkan makanan utuk di makan
9) ketidakmampuan makan dengan tata cara yang biasa diterima
10) ketidakmampuan menelan makanan
11) ketidakmampuan menelan jumlah makanan yang memadai
12) ketidakmampuan memegang alat makan

4
13) ketidakmampuan menghabiskan makanan secara mandiri

d. Defisit perawatan diri : toileting


Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas kegiatan toileting
sendiri.
Batasan karakteristiknya meliputi :
1) ketidakmampuan untuk melakukan hygiene eleminasi secara komplet
2) ketidakmampuan untuk menyiram toilet
3) kemampuan untuk memanipulasi pakaian untuk toileting
4) ketidakmampuan untuk mencapai toilet
5) ketidakmampuan untuk naik ke toilet
6) ketidakmampuan duduk ditoilet

I.5 Rentang Respon

Adatif Maladaptif

Pola perawatan diri seimbang Kadang perawatan diri Tidak melakukan perawatan
kadang tidak diri

a. Pola perawatan diri seimbang: saat pasien mendapatkan stressor dan mampu ntuk
berperilaku adatif maka pola perawatan yang dilakukan klien seimbang, klien masih
melakukan perawatan diri
b. Kadang melakukan perawatan diri kadang tidak: saat pasien mendapatan stressor kadang-
kadang pasien tidak menperhatikan perawatan dirinya
c. Tidak melakukan perawatan diri: klien mengatakan dia tidak perduli dan tidak bisa
melakukan perawatan saat stressor (Ade, 2011)

5
I.6 Pengkajian Defisit Perawatan Diri
Deficit perawatan diri pada klien terjadi akibat adanya perubahan proses pikir, yang
menyebabkan menurunnya kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri. Defisit
perawatan diri tampak dari ketidakmampuan individu merawat kebersihin diri, makan,
berhias, dan eliminasi ( buang air besar atau buang air kecil) secara mandiri

1. Faktor predisposisi
Faktor predisposisi merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya suatu
kondisi. Faktor predisposisi deficit perawatan diri meliputi :
a. Faktor psikologis
Pada faktor ini keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien, sehingga klien
menjadi begitu bergantung dan perkembangan inisiatifnya terganggu. pasien
gangguan jiwa, misalnya, mengalami deficit perawatan diri dikarenakan kemampuan
realitas yang kurang. Hal ini menyebabkan klien tidak peduli terhadap terhadap diri
dan lingkungannya, termasuk perawatan diri
b. Faktor biologis
Pada faktor ini, penyakit kronis berperan sebagai penyebab klien tidak mampu
melakukan perawatan diri. Deficit perawatan diri disebabkan oleh adanya penyakit
fisik dan mental yang menyebabkan pasien tidak mampu melakukan perawatan diri.
Selain itu, faktor herediter (keturunan) berupa anggota keluarga yang mengalami
gangguan jiwa, juga turut menjadi penyebab
c. Faktor sosial
Faktor sosial ini berkaitan dengan kerungnya dukungan dan latihan kemampuan
perawatan diri lingkungannya.

2. Faktor presipitasi
Faktor presipitasi deficit perawatan diri, meliputi kurang nya motivasi, kerusakan kognitif
atau perceptual , cemas dan kelelahan yang dialami klien.

3. Tanda dan gejela


Tanda dan gejala yang tampak pada klien dengan gangguan deficit perawatan diri,antara
lain :

6
a. Data subjektif
klien mengatakan tentang :
1) malas mandi
2) tidak mau menyisir rambut
3) tidak mau menggosok gigi
4) tidak mau memotong kaku
5) tidak mau berhias atau berdandan
6) tidak bisa atau tidak mau menggunakan alat mandi atau kebersihan diri
7) tidak menggunakan alat makan dan minum saat makan dan minum
8) BAB dan BAK sembarangan
9) tidak membersihkan diri dan tidak membersihkan tempat BAB dan BAK setelah
BAB dan BAK
10) tidak mengetahui cara perawatan diri yang bener

b. Data Objektif
1) badan klien bau, kotor, berdaki, rambut kotor, gigi kotor, kuku panjang
2) tidak menggunakan alat-alat mandi pada saat mandi dan tidak mandi dengan
bener
3) rambut kusut, berantakan, kumis dan jenggot tidak rapi, serta tidak mampu
berdandan
4) pakaian tidak rapi, tidak mampu memilih, mengambil, memakai mengencangkan
dan memindahkan pakaian
5) memakai barang-barang yang tidak perlu dalam berpakaian, misalnya memakai
pakain berlapis-lapis, penggunaan pakaian yang tidak sesuai, melepa barang-
barang yang perlu dalam berpakaian misalnya telanjang.
6) makan dan minum sembarangan serta berceceran, tidak menggunakan alat makan,
tidak mampu menyiapkan makanan, memindahkan makanan ke alat makan ( dari
panci ke piring atau mangkok, tidak mampu menggunakan sendok dan tidak
mengetahui fungsi alat-alat makan), memegang alat makan, membawa makanan
dari pirimg ke mulut, mengunyah , menelan makanan secara aman dan
menghabiskan makanan.

7
7) BAB dan BAK tidak pada tempatnya, klien tidak membersihkan diri setelah BAB
dan BAK serta tidak mampu menjaga kebersihan toilet dan menyirim toilet
setelah BAB dan BAK.

Menurut Depkes (2000) tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri adalah:

1) Fisik
a) Badan bau, pakaian kotor
b) Rambut dan kulit kotor
c) Kuku panjang dan kotor
d) Gigi kotor disertai mulut bau
e) Penampilan tidak rapi.

2) Psikologis
a) Malas, tidak ada inisiatif
b) Menarik diri, isolasi diri
c) Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina.

3) Social
a) Interaksi kurang
b) Kegiatan kurang
c) Tidak mampu berperilaku sesuai norma
d) Cara makan tidak teratur
e) BAK dan BAB di sembarang tempat, gosok gigi dan mandi tidak mampu mandiri.

4. Sumber koping
1) Personal ability : Kemampuan individu dalam menyelesaikan masalah
Sumber koping deficit perawatan diri mencakup kemampuan personal ( personal
ability) akan :
a) kemampuan klien dalam melakukan kebersihan diri secara mandiri
b) berhias dan berdandan secara baik
c) melakukan makan dengan baik

8
d) melaksanakan BAB/BAK secara mandiri
e) mengidentifikasi perilaku kebersihan diri yang maladaptif
f) kemampuan klien dalam mengubah perilaku maladaptif menjadi perilaku adaptif

2) Social support : Dukungan dari lingkungan terdekat klien.


3) Material aset : Dukungan material yang dimiliki pasien (ekonomi, pendidikan,
asuransi, dan transportasi, jarak mencapai pelayanan kesehatan )
4) Positif belief : Keyakinan pasien akan kesembuhannya

5. Mekanisme Koping
Mekanisme koping berdasarkan penggolongan di bagi menjadi 2 yaitu:
a. Mekanisme koping adaptif
Mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi pertumbuhan belajar dan
mencapai tujuan. Kategori ini adalah klien bisa memenuhi kebutuhan perawatan diri
secara mandiri.
b. Mekanisme koping maladaptive
Mekanisme koping yang menghambat fungsi integrasi, memecah pertumbuhan,
menurunkan otonomi dan cenderung menguasai lingkungan. Kategorinya adalah
tidak mau merawat diri (Damaiyanti, 2012)
Mekanisme koping : Regresi, penyangkalan, isolasi social menarik diri, intelektualisasi.
Defisit perawatan diri bukan merupakan bagian dari komponen pohon masalah (causa,
core problem, effect) tetapi sebagai masalah pendukung.

9
I.7 Pohon Masalah Defisit Perawatan Diri

Gangguan pemeliharaan
kesehatan
(Effect)

Defisit Perawatan Diri


(Core problem)

Kehilangan fungsi tubuh,


kurangnya motivasi
(Causa)

I.8 Diagnosa Keperawatan Defisit Perawatan Diri


Berdasarkan pohon masalah diatas, Core Problem atau inti permasalahan yang terjadi
adalah Defisit Perawatan Diri

10
I.9 Intervensi Keperawatan Defisit Perawatan Diri

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

KLIEN DENGAN DEFISIT PERAWATAN DIRI

Nama Klien : …………………… DX Medis : …………………..

RM No. : …………………… Ruangan : …………………..

No Dx Perencanaan Rasional
Tgl
Dx Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi

1 Defisit TUM: 1. Dalam … kali 1. Bina hubungan Kepercayaan


perawatan diri interaksi klien saling percaya : dari klien
Klien dapat
menunjukkan tanda- merupakan hal
memelihara  Beri salam
tanda percaya kepada yang akan
atau merawat setiap
perawat: memudahkan
kebersihan berinteraksi.
perawat dalam
sendiri secara o Wajah cerah,  Perkenalkan
melakukan
mandiri tersenyum nama, nama
pendekatan
o Mau panggilan
keperawatan
berkenalan perawat dan
atau intervensi
TUK: o Ada kontak tujuan perawat
selanjutnya
mata berkenalan
1. Klien dapat terhadap klien
o Menerima  Tanyakan
membina
kehadiran nama dan
hubungan
perawat panggilan
saling
o Bersedia kesukaan klien
percaya
menceritakan  Tunjukkan
dengan
perasaannya sikap jujur dan

11
perawat menepati janji
setiap kali
berinteraksi
 Tanyakan
perasaan dan
masalah yang
dihadapi klien
 Buat kontrak
interaksi yang
jelas
 Dengarkan
ungkapan
perasaan klien
dengan empati
 Penuhi
kebutuhan
dasar klien
2. Klien 2. Dalam … kali 2. Diskusikan Pengetahuan
mengetahu interaksi klien dengan klien: tentang
i menyebutkan: pentingnya
 Penyebab klien
pentingnya perawatan diri
o Penyebab tidak merawat
perawatan dapat
tidak diri
diri meningkatkan
merawat diri  Manfaat
motivasi klien
o Manfaat menjaga
menjaga perawatan diri
perawatan untuk keadaan
diri fisik, mental,
o Tanda-tanda dan sosial.
bersih dan  Tanda-tanda
rapi perawatan diri

12
o Gangguan yang baik
yang dialami  Penyakit atau
jika gangguan
perawatan kesehatan yang
diri tidak bisa dialami
diperhatikan oleh klien bila
perawatan diri
tidak adekuat

3. Klien 3.1. Dalam … kali 3.1.Diskusikan Menyiapkan


mengetahu interaksi klien frekuensi klien untuk
i cara-cara menyebutkan menjaga meningktkan
melakukan frekuensi menjaga perawatan diri kemandirian
perawatan perawatan diri: selama ini
diri  Mandi
o Frekuensi
 Gosok gigi Klien dapat
mandi
 Keramas melakukan
o Frekuensi
 Berpakaian perawatan diri
gosok gigi
 Berhias dengan benar
o Frekuensi
 Gunting kuku sehingga klien
keramas
3.2.Diskusikan cara terbiasa
o Frekuensi
praktek
ganti pakaian
perawatan diri
o Frekuensi
yang baik dan
berhias
benar :
o Frekuensi
gunting kuku  mandi
3.2.Dalam … kali  gosok gigi
interaksi klien  Keramas
menjelaskan cara  Berpakaian
menjaga  Berhias

13
perawatan diri:  Gunting kuku
o Cara mandi 3.2. Berikan pujian
o Cara gosok untuk setiap
gigi respon klien
o Cara yang positif
Keramas
o Cara
Berpakaian
o Cara berhias
o Cara gunting
kuku
4. Klien dapat 4. Dalam … kali 4.1.Bantu klien saat Bimbingan
melaksana interaksi klien perawatan diri : perawat akan
kan mempraktekkan mempermudah
 Mandi
perawatan perawatan diri klien
 Gosok gigi
diri dengan dengan dibantu melakukan
 Keramas
bantuan oleh perawat: perawatan diri
 Ganti pakaian
perawat secara mandiri
o Mandi  Berhias
o Gosok gigi  Gunting kuku
o Keramas 4.2. Beri pujian
o Ganti pakaian setelah klien
o Berhias selesai
o Gunting kuku melaksanakan
perawatan diri

5. Klien dapat 5. Dalam … kali 5.1. Pantau klien Melihat


melaksana interaksi klien dalam perkemban
kan melaksanakan melaksanakan gan klien
perawatan praktek perawatan perawatan diri: dalam
diri secara diri secara mandiri melakukan
 Mandi
perawatan

14
mandiri o Mandi 2 X  Gosok gigi diri
sehari  Keramas
o Gosok gigi  Ganti pakaian
sehabis  Berhias
makan  Gunting kuku
o Keramas 2 X 5.2. Beri pujian saat
seminggu klien
o Ganti pakaian melaksanakan
1 X sehari perawatan diri
o Berhias secara mandiri.
sehabis
mandi
o Gunting kuku
setelah mulai
panjang
6. Klien 6.1. Dalam … kali 6.1 Diskusikan Identifikasi
mendapatk interaksi keluarga dengan keluarga: mengenai
an menjelaskan cara- penyebab
 Penyebab klien
dukungan cara membantu pasien tidak
tidak
keluarga klien dalam mau
melaksanakan
untuk memenuhi melakukan
perawatan diri
meningkat kebutuhan perawatan diri
 Tindakan yang
kan perawatan dirinya untuk
telah dilakukan
perawatan menentukan
6.2. Dalam … kali klien selama di
diri intervemsi
interaksi keluarga rumah sakit
selanjutnya
menyiapkan dalam menjaga
sarana perawatan perawatan diri
diri klien: sabun dan kemajuan
mandi, pasta gigi, yang telah
sikat gigi, dialami oleh Penguatan

15
shampoo, handuk, klien (reinforcement)
pakaian bersih,  Dukungan dapat
sandal, dan alat yang bisa meningkatkan
berhias diberikan oleh motivasi diri
keluarga untuk klien
6.3. Keluarga
meningkatkan
mempraktekan
kemampuan
perawatan diri
klien dalam Menamba
pada klien
perawatan diri kenyamanan
6.2. Diskusikan untuk pasien
dengan keluarga dalam merawat
tentang: dirinya

 Sarana yang
diperlukan
untuk menjaga
perawatan diri Memberikan
klien kesempatan
 Anjurkan kepada
kepada keluarga untuk
keluarga membantu
menyiapkan klien dan
sarana tersebut emberikn
6.3. Diskusikan motivasi
dengan keluarga
hal-hal yang
perlu dilakukan Keluarga
keluarga dalam sebagai sistem
perawatan diri : pendukung
berperan
 Anjurkan
penting dalam
keluarga untuk

16
mempraktekka membantu
n perawatan klien
diri (mandi,
gosok gigi,
keramas, ganti
baju, berhias
dan gunting
kuku)
 Ingatkan klien
waktu mandi,
gosok gigi,
keramas, ganti
baju, berhias,
dan gunting
kuku.
 Bantu jika
klien
mengalami
hambatan
dalam
perawatan diri
 Berikan pujian
atas
keberhasilan
klien

17
DAFTAR PUSTAKA

Keliat, Budi Anna & Akemat Pawirowiyono. 2014. Keperawatan Jiwa Terapi Aktivitas
Kelompok Ed.2. Jakarta: EGC

Sutejo. 2016. Keperawatan Jiwa Konsep dan Praktik Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa:
Gangguan Jiwa dan Psikososial. Jakarta: PB

http://www.academia.edu/35135428/Defisit_Perawatan_Diri_LP_SP

http://samoke2012.files.wordpress.com/2017/03/lpsp-defisit-perawatan-diri.pdf

18