You are on page 1of 27

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL

DENGAN PRE EKLAMPSIA BERAT

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK IV

DENGAN ANGGOTA KELOMPOK

1. DEWI RIRINS. (NIM. 603072 )


2. IMANINGATI. ( NIM. 603076 )
3. EVI RETNO W. ( NIM. 607075 )
4. YUSTANTI DWIE Y H. (NIM. 603093 )
5. SRI MULYANI. ( NIM. 603085 )

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

AKADEMI KEPERAWATAN KERTA CENDEKIA

SIDOARJO

TH 2017 – 2019.
LEMBAR PENGESAHAN

AsuhanKeperawatanpadaNy. Ndengan
DiagnosamedisGravida 1 Para 0 Ab 0 Uk40 - 42 mg dgPreEklampsiaBerat

Yang telahdiperiksadandisahkanpada
Hari :
Tanggal :

Sidoarjo,
Mengetahui
PembimbingAkademik

( FAIDA ANNISA, S.Kep.,Ns.,MNS )

Mahasiswa ;
1. DEWI RIRIN S. ( NIM. 603072 ) 1. ………………
2. IMANINGATI. ( NIM. 603076 ) 2……………….
3. EVI RETNO W. ( NIM. 607075 ) 3………………
4. YUSTANTI DWIE Y H. (NIM. 603093 ) 4………………
5. SRI MULYANI. ( NIM. 603085 ) 5………………
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Angkakematianibu ( AKI ) adalahjumlahkematianselamakehamilanataudalamperiode 42


hari, setelahberakhirnyakehamilan, akibatsemuasebab yang
terkaitdenganataudiperberatolehkehamilanataupenanganannya,
tetapibukandisebabkanolehkecelakaanataucedera ( WHO, 2014 ).

BerdasarkanSurveiDemografidanKesehatanIndonesia (SDKI) th 2012, AKI sebesar 359 per


100.000 kelahiranhidup. Angkainimeningkattajamdaritahun 2007 ygsudahmencapai 228.
AKI di Indonesia, jauhlebihtinggidibandingkan Negara lain di ASEAN. Seperti di
Singapura, hanya 6 per 100.000 kelahiranhidup, Brunei 33 per 100.000 kelahiranhidup,
danFiliphina 112 per 100.000 kelahiranhidup (DEPKES RI, 2015 ).

Sampaisaatini AKI melahirkanbelumdapatturunseperti yang dibuatrancangan Sustainable


Development Goals (SDGs) atauTujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030 ataudisebutjuga
Global Goals di Jakarta, 1 Desember 2015, KementerianKesehatan Indonesia
mendukungpenuh 17 pointujuan SDGs. Dalamkerangka SDGs yang
menjadiperhatiankhusus di sector kesehatan,
salahsatunyaadalahpoinnomortigayaitutentang “Good Health and Well_being”
atauKesehatan yang Baik “, dimanaterdapat 13 target didalampoin.

DirekturKesehatanKeluargaKementrianKesehatan, dr. EniGustina, MPH menyebutkan,


angkakematianibutercatat 305 per 100.000 kelahiran. Sementarath 2016 menunjukkanangka
4834, di tahun 2015 angkanyamencapai 4897, dantahun 2014 angkanya 5.048. artinya
Indonesia, dariangka yang dilaporkansaja , ada 400 ribuibumeninggalsetiapbulan, dan 15
ribumeninggalsetiapharinya. Penyebabtertinggikematianibutahun 2016, 32 %
disebabkanolehperdarahan, 26 % disebabkanolehhipertensi yang menyebabkankejang,
keracunankehamilan yang menyebabkanibumeninggal.( Jakarta, Jumat, 10 Maret 2017) (
Vivo.co.id)

Preeklampsia berat (PEB) merupakan salah satu penyebab utama kematian maternal dan
perinatal di Indonesia. PEB diklasifikasikan kedalam penyakit hypertensi yang disebabkan
karena kehamilan. PEB ditandai oleh adanya hipertensi sedang-berat, edema, dan
proteinuria yang masif. Penyebab dari kelainan ini masih kurang dimengerti, namun suatu
keadaan patologis yang dapat diterima adalah adanya iskemia uteroplacentol.

Diagnosis dini dan penanganan adekuat dapat mencegah perkembangan buruk PER kearah
PEB atau bahkan eklampsia penanganannya perlu segera dilaksanakan untuk menurunkan
angka kematian ibu (AKI) dan anak. Semua kasus PEB harus dirujuk ke rumah sakit yang
dilengkapi dengan fasilitas penanganan intensif maternal dan neonatal, untuk mendapatkan
terapi definitif dan pengawasan terhadap timbulnya komplikasi-komplikasi.

Pemeriksaan antenatal yang teratur dan secara rutin mencari tanda preeklampsia sangat
penting dalam usaha pencegahan preeklampsia berat, di samping pengendalian terhadap
faktor-faktor predisposisi yang lain.

Preeklampsia adalah penyakit pada wanita hamil yang secara langsung disebabkan oleh
kehamilan. Pre-eklampsia adalah hipertensi disertai proteinuri dan edema akibat kehamilan
setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul
sebelum 20 minggu bila terjadi. Preeklampsia hampir secara eksklusif merupakan penyakit
pada nullipara. Biasanya terdapat pada wanita masa subur dengan umur ekstrem yaitu
pada remaja belasan tahun atau pada wanita yang berumur lebih dari 35 tahun. Pada
multipara, penyakit ini biasanya dijumpai pada keadaan-keadaan berikut :

1) Kehamilan multifetal dan hidrops fetalis.

2) Penyakit vaskuler, termasuk hipertensi essensial kronis dan diabetes mellitus.

3) Penyakit ginjal.

1.2 Rumusan Masalah

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang tindakan perawatan terhadap penyakit


Hamil disertai Preeklampsia Berat, dengan melakukan Asuhan Keperawatan Preeklampsia
Berat, dengan membuat rumusan masalah sebagai berikut, “Bagaimanakah asuhan
keperawatan pada ibu hamil dengan Preeklampsia Berat di Puskesmas Purwodadi.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untukmengidentifikasi asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan Preeklampsia


Berat di Puskesmas Purwodadi.
1.3.1 Tujuan Khusus

1. Mengkaji ibu hamil dengan Preeklampsia Berat di Puskesmas Purwodadi.

2. Merumuskan diagnose keperawatan pada ibu hamil dengan Preeklampsia Berat


di Puskesmas Purwodadi.

3. Merencanakan asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan Preeklampsia Berat


di Puskesmas Purwodadi.

4. Melaksanakan asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan Preeklampsia Berat


di Puskesmas Purwodadi.

5. Mengevaluasi ibu hamil dengan Preklampsia Berat di Puskesmas Purwodadi.

6. Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan Preeklampsia


Berat di Puskesmas Purwodadi.
2.1 Konsep Penyakit

2.1.1 Pengertian

Preeklampsia adalah kelainan multiorgan spesifik pada kehamilan yang ditandai


dengan terjadinya hipertensi, edema dan proteinuria tetapi tidak menunjukkan
tanda-tanda kelainan vaskuler atau hipertensi sebelumnya,sedangkan gejalanya
biasanya muncul setelah kehamilan berumur 20 minggu.(Obsgynacea 2009)

Preeklampsia atau sering juga disebut toksemia adalah suatu kondisi yang bisa
dialami oleh setiap wanita hamil. Preeklampsia adalah kumpulan gejala yang timbul
pada ibu hamil, bersalin dan dalam masa nifas yang terdiri dari trias : hipertensi,
proteinuri, dan edema.

Pengertian preeklampsia menurut beberapa referensi :

A. Preeklampsia adalah perkembangan hipertensi, protein pada urin dan


pembengkakan, dibarengi dengan perubahan pada refleks (Curtis, 1999).
B. Preeklampsia adalah suatu penyakit vasospastik, yang melibatkan banyak
sistem dan ditandai oleh hemokonsentrasi, hipertensi, dan proteinuria (Bobak,
dkk., 2005).
C. Preeklampsia adalah hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan
disertai dengan proteinuria (Prawirohardjo, 2008).
D. Preeklampsia adalah timbulanya hipertensi disertai proteinuria dan edema
akibat kehamilan setelah usia 20 minggu atau segera setelah persalinan
(Mansjoer dkk, 2000).
E. Pre eklamsi merupakan suatu kondisi spesifik kehamilan dimana hipertensi
terjadi setelah minggu ke-20 pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan
darah normal.

2.1.2 Etiologi

Etiologi penyakit preeklamsia sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Banyak
teori – teori dikemukakan oleh para ahli yang mencoba menerangkan penyebabnya.
Oleh karena itu disebut “penyakit teori” namun belum ada memberikan jawaban
yang memuaskan.

Preeklampsia ialah suatu kondisi yang hanya terjadi pada kehamilan manusia.
Tanda dan gejala timbul hanya selama hamil dan menghilang dengan cepat setelah
janin dan plasenta lahir. Tidak ada profil tertentu yang mengidentifikasi wanita yang
akan menderita preeklampsia.

Preeklampsia umumnya terjadi pada kehamilan yang pertama kali, kehamilan di


usia remaja dan kehamilan pada wanita diatas 35 tahun.

Faktor resiko yang lain adalah :

· Kehamilan pertama, ibu hamil dengan usia kurang dari 20 tahun atau lebih
dari 35 tahun.

. Riwayat kencing manis, kelainan ginjal, lupus atau rematoid arthritis

· Riwayat tekanan darah tinggi yang khronis sebelum kehamilan.

· Kegemukan.

· Riwayat mengalami preeklampsiapada kehamilan sebelumnya.

· Riwayat preeklampsia pada ibu atau saudara perempuan.

· Mengandung lebih dari satu orang bayi / kehamilan kembar.

· Gizi buruk

· Gangguan aliran darah ke rahim.

Akan tetapi, ada beberapa faktor resiko tertentu yang berkaitan dengan
perkembangan penyakit: primigravida, grand multigravida, janin besar, kehamilan
dengan janin lebih dari satu, morbid obesitas.

Kira-kira 85% preeklampsia terjadi pada kehamilan pertama. Preeklampsia terjadi


pada 14% sampai 20% kehamilan dengan janin lebih dari satu dan 30% pasien
mengalami anomali rahim yang berat. Pada ibu yang mengalami hipertensi kronis
atau penyakit ginjal, insiden dapat mencapai 25%. Preeklampsia ialah suatu penyakit
yang tidak terpisahkan dari preeklampsia ringan sampai berat, sindrom HELLP, atau
eklampsia (Bobak, dkk., 2005).

2.1.3 Manifestasi klinik& Diagnosis

Pada preeklampsia ringan, gejala subyektif belum dijumpai.

Klasifikasi Preeklampsia ;

1. Pre-eklampsia Ringan
- Tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih yang diukur pada posisi berbaring
terlentang; atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih, atau kenaikan
sistolik30 mmHg atau lebih. Cara pengukuran sekurang kurangnya pada 2
kali pemeriksaan dengan jarak periksa 1 jam, sebaiknya 6 jam.
- Edema umum, kaki, jari tangan, dan muka; atau kenaikan berat badan 1 kg
atau lebih per minggu.
- Proteinuria kwantitatif 0,3 gr atau lebih per liter; kwalitatif 1 + atau 2 + pada
urine kateter atau midstream.
2. Pre-eklampsia Berat
- Bila salah satu diantara gejala atau tanda ditemukan ibu hamil, sudah dapat
dijumpai seperti :
1. Nyeri kepala hebat pada bagian depan atau belakang kepala yang diikuti
dengan peningkatan tekanan darah yang abnormal. Sakit kepala tersebut
terus – menerus dan tidak berkurang dengan pemberian aspirin atau
obat sakit kepala lainnya.
2. Gangguan penglihatan lainnya, pasien akan melihat kilatan – kilatan
cahaya, pandangan kabur, dan terkadang bisa terjadi kebutaan
sementara.
3. Iritabel ibu merasa gelisah dan tidak bisa bertoleransi dengan suara
berisik atau gangguan lainnya.
4. Nyeri perut pada bagian uluhati (bagian epigastrium) yang kadang
disertai dengan mual dan muntah.
5. Gangguan pernafasan sampai cyanosis.
6. Terjadi gangguan kesadaran.
7. Dengan pengeluaran proteinuria keadaan semakin berat, karena terjadi
gangguan fungsi ginjal.
Diagnosis:
Dikatakan preeklampsia berat bila dijumpai satu atau lebih tanda gejala
berikut:
1. TD ≥ 160 / 110 mmHg.
2. Proteinuria > 5 gr / 24 jam atau kualitatif 3 + / 4 +.
3. Oliguria ≤ 500 ml / 24 jam disertai kenaikan kadar kreatinin darah.
4. Peningkatan kadar enzim hati dan / atau ikterus.
5. Gangguan visus dan cerebral.
6. Nyeri epigastrium.
7. Edema paru atau sianosis.
8. Pertumbuhan janin intra uterin yang terhambat (IUFGR).
9. HELLP Syndrom (H= Hemolysis, E = Elevated, L=Liver enzyme, LP=
Low Plateled Counts).

Diagnosis preeklampsia dilakukan pada setiap kali pemeriksaan prenatal dengan


mengukur tekanan darah ibu dan menguji protein urine. Diagnosis preeklampsia
ringan ditegakkan berdasar atas timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan/atau
edema setelah kehamilan 20 minggu (Prawirohardjo, 2008).

a. Hipertensi : sistolik/diastolik ≥140/90 mmHg. Kenaikan sistolik ≥30 mmHg dan


kenaikan diastolik ≥15 mmHg tidak dipakai lagi sebagai kriteria preeklampsia.
b. Proteinuria : ≥ 300 mg/24 jam atau ≥ 1+ dipstik.
c. Edema :edema lokal tidak dimasukkan dalam kriteria preeklampsia, kecuali
edema pada lengan, muka, dan perut, edema generalisata.

Perlu diperhatikan bahwa tingginya tekanan darah bukan merupakan penentu


utama klasifikasi berat atau ringannya PE.

Dari : Cunningham FG et al : Hypertensive Disorder In Pregnancy in “ Williams


Obstetrics” , 22nd ed, McGraw-Hill, 2005

2.1.4 Patofisiologi

Pada pre eklampsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam
dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerulus. Pada
beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilakui
oleh satu sel darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme,
maka tenanan darah akan naik sebagai usaha untuk mengatasi tekanan perifer agar
oksigenasi jaringan dapat dicukupi.

Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air
yang berlebihan dalam ruangan interstitial belum diketahui sebabnya, mungkin
karena retensi air dan garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola
sehingga terjadi perubahan pada glomerulus (Sinopsis Obstetri, Jilid I, Halaman 199).

Patofisiologi pre eklamsi-eklamsi setidaknya berkaitan dengan perubahan fisiologis


kehamilan. Adaptasi fisiologis normal pada kehamilan meliputi peningkatan volume
plasma darah, vasodilatasi penurunan resistensi vaskular sistemik (systemic vascular
resistance[SVRI]), peningkatan curah jantung, dan penurunan tekanan osmotik
koloid.
Pada pre eklamsi volume plasma yang beredar menurun sehingga terjadi
hemokonsentrasi dan peningkatan hematokrit maternal. Perubahan ini membuat
organ maternal menurun, termasuk perfusi ke unit janin-uteroplasenta. Vasospasme
siklik lebih lanjut menurunkan perfusi organ dengan menghancurkan sel-sel darah
merah, sehingga kapasitas oksigen maternal menurun.Vasospasme merupakan
akibat peningkatan sensifitas terhadap tekanan peredaran darah, seperti angiotensin
II dan kemungkinan suatu ketidakseimbagan antara prostasiklin prostaglandin dan
tromboksan A2.

Selain kerusakan endotelial vasospasme arterial menyebabkan peningkatan


permeabilitas kapiler. Keadaan ini meningkatkan edema dan lebih lanjut
menurunkan volume intravaskular, mempredisposisi pasien yang mengalami pre
eklamsi mudah mengalami edema paru.

Hubungan sistem imun dengan pre eklamsi menunjukkan bahwa faktor-faktor


imunologi memainkan peran penting dalam pre eklamsi. Keberadaan protein asing,
plasenta, atau janin bisa membangkitkan respon imunologis lanjut. Teori ini
didukung oleh peningkatan insiden pre eklamsi pada ibu baru dan ibu hamil dari
pasangan baru (materi genetik yang berbeda).

Predisposisi genetik dapat merupakan faktor imunologi lain. Frekuensi pre eklamsi
dan eklamsi pada anak dan cucu wanita yang memiliki riwayat eklamsi, yang
menunjukkan suatu gen resesif autoso yang mengatur respon imun maternal.

Patofisiologi preeklampsia mempengaruhi sistem saraf pusat (SSP) dengan


menginduksi edema otak dan meningkatkan resistensi otak. Komplikasi meliputi
nyeri kepala, kejang, dan gangguan penglihatan (skotoma) atau perubahan keadaan
mental dan tingkat kesadaran. Komplikasi yang mengancam jiwa ialah eklampsia
atau timbul kejang (Bobak, dkk., 2005).

Berbagai teori mengenai asal preeklampsia telah diajukan, tetapi baru-baru ini tidak
terdapat penjelasan yang lengkap tentang penyebab gangguan ini. Respons imun
abnormal, gangguan endokrin, predisposisi genetik, kelebihan atau kekurangan
nutrisi, dan gangguan ginjal semua diajukan sebagai berperan pada terjadinya
preeklampsia.

Banyak sumber menyetujui bahwa penyebab preeklampsia adalah multifaktor antara


lain nulipara, usia maternal lebih dari 35 tahun, usia ibu kurang dari 18 tahun,
riwayat keluarga hipertensi akibat kehamilan (HAK), dan riwayat HAK pada
kehamilan sebelumnya.

Vasospasme paling mungkin sebagai penyebab proses penyakit. Ketika vasospasme


berlanjut, terjadi kerusakan pada dinding pembuluh darah, yang mengakibatkan
mengalirnya trombosit dan fibrin ke dalam lapisan subendotel dinding pembuluh
darah. Hal ini diketahui bahwa ibu yang mengalami preeklampsia mempunyai
sensivitas pada angiotensin II, yang dianggap menjadi kontributor utama untuk
proses vasospasme. Vasokonstriksi juga berperan pada kerusakan sel darah merah
ketika melewati diameter pembuluh darah yang bgerkurang ukurannya.
Vasospasme akhirnya menimbulkan hipoksia jaringan lokal pada berbagai sistem
organ, termasuk plasenta, hati, paru, otak, dan retina. Vasospasme serebral berperan
pada gejala sakit kepala dan gangguan penglihatan serta dapat berlanjut menjadi
stroke.

Vasospasme pada sistem ginjal berperan pada penurunan aliran darah ginjal. Sistem
ginjal mengalami pembengkakan sel endotel glomerulus, lumen kapiler glomerulus
berkonstriksi, dan filtrasi glomerulus dan selanjutnya menurun. Karena penurunan
filtrasi, nitrogen urea darah serum, kreatinin, dan natrium meningkat; dan haluaran
urin menurun. Retensi natrium selanjutnya sensivitas terhadap angiotensi II dan
peningkatan volume cairan ektra seluler. Pada kasus berat, vasospasme dan
pembentukan trombus arterial dapat menimbulkan nekrosis korteks renal.

Terjadinya edema umum karena kerusakan dinding pembuluh darah dan retensi
cairan sekunder akibat penurunan filtrasi glomerulus. Ketika cairan bergeser dari
ruang intravaskular ke ektravaskular terjadi hipovolemia dan hemokonsentrasi. Hal
ini pada gilirannya menempatkan kebutuhan pada jantung sebagai presoreseptor
pada organ mayor memberi umpan balik untuk meningkatkan curah jantung. Riset
tentang curah jantung pada preeklampsia masih menjadi konflik.

Beberapa penelitian telah menetapkan penurunan curah jantung yang dikaitkan


dengan peningkatan tahanan vaskular perifer, sedangkan penilitian lain menemukan
bahwa beberapa ibu dengan preeklampsia secara nyata mengalami peningkatan
curah jantung dan penurunan tahanan perifer sampai penyakit menjadi berat.

Disfungsi hati pada preeklampsia dapat direntang dari perubahan enzim ringan
sampai edema hepatik, edema subkapsular, atau hemoragi. Perubahan berat dapat
terjadi sebagai nyeri kuadran kanan atas. Bila edema hepatik mewakili derajat edema
umum yang mencakup edema serebral, nyeri kuadran kanan atas sering dikaitkan
dengan derajat edema serebral yang mengakibatkan aktivitas kejang (eklampsia).

Kerusakan dinding pembuluh darah, dan kebocoran produk darah ke dalam ruang
ektravaskular akhirnya menimbulkan koagulopati konsumtif serupa dengan
koagulasi intravaskular diseminata. Mekanisme trombositopenia yang tampak pada
preeklampsia tidak dipahami dengan baik. Satu teori adalah bahwa kerusakan
endotel dikaitkan dengan agregasi dan destruksi tombosit. Gangguan mekanisme
pembekuan normal dapat menimbulkan hemoragi dan kematian.

Beberapa ibu yang mengalami preeklampsia berlanjut mengalami sindrom HELLP,


yang dikaitkan dengan progresi cepat proses patologis dan mengakibatkan hasil
janin dan maternal sebaliknya. Ibu yang mengalami sindrom HELLP kemungkinan
menunjukkan subset individual yang mengalami disfungsi endotel lebih berat, dan
dianggap bahwa predisposisi ini mungkin bersifat genetik.

Disamping efek tidak langsung penurunan perfusi maternal pada janin, proses
vasospasme juga secara langsung mempengaruhi plasenta. Lesi plasenta yang adalah
akibat infrak selanjutnya menurunkan perfusi ke janin, yang menimbulkan
intrauterine growth restriction (IUGR) dan hipoksia. Komplikasi yang dikaitkan
dengan preeklampsia berat meliputi gangguan plasenta, gagal ginjal akut, abrupsio
retina, gagal jantung, hemoragi serebral, IUGR, dan kematian maternal dan janin
(Walsh, 2008).

2.1.5 Diagnosa Banding

1. Kehamilan dengan sindrom nefrotik.

2. Kehamilan dengan payah jantung.

3. Hipertensi Kronis.

4. Penyakit Ginjal.

5. Edema Kehamilan.

6. Proteinuria Kehamilan.

2.1.6 Komplikasi

Beberapa komplikasi yang mungkin dapat terjadi, yaitu ;


1. Solusio Placenta: Biasa terjadi pada ibu dengan Hipertensi akut.
2. Hipofibrinogenemia.
3. Hemolisis: Gejala kliniknya dapat berupa ikterik. Diduga terkait nekrosis
periportal hati pada penderita pre eklampsia.
4. Perdarahan otak: Merupakan penyebab utama kematian maternal pada penderita
eklampsia.
5. Kelainan mata : Kehilangan penglihatan sementara dapat terjadi. Perdarahan
pada retina dapat ditemukan dan merupakan tanda gawat yang menunjukkan
adanya apopleksia serebri.
6. Edema paru.
7. Nekrosis hati: terjadi pada daerah periportal akibat vasospasme arteriolomum.
Diketahui dengan pemeriksaan fungsi hati. Terutama dengan enzim.
8. Sindrom HELLP ( Hemolisis, elevated liver enzymes,dan low platelet).
9. Prematuritas.
10. Kelainan Ginjal: Berupa endoteliosis glomerolus yaitu pembengkakan sitoplasma
sel endotelial tubulus ginjal tanpa kelainan struktur lainnya. Bisa juga terjadi
anuria atau gagal ginjal.
11. DIC ( Disseminated Intravakular Coagulation): Dapat terjadi apabila telah
mencapai tahap eklampsia.

2.1.7 Pemeriksaan Penunjang


1. Pemeriksaan Fisik;
a. Tekanan darah harus diukur dalam setiap ANC
b. Tinggi fundus harus diukur dalam setiap ANC untuk mengetahui adanya
retardasi pertumbuhan intrauterin atau oligohidramnion.
c. Edema pada pretibia, dinding perut, lumbosakral, wajah dan tangan yang
memberat.
d. Peningkatan berat badan lebih dari 500 gr per minggu atau peningkatan berat
badan secara tiba tiba dalam 1 – 2 hari.
2. Pemeriksaan Penunjang.
Pemeriksaan Laboratorium;
♦ Pemeriksaan darah lengkap dengan hapusan darah
- Penurunan hemoglobin ( nilai rujukan atau kadar normal hemoglobin
untuk wanita hamil adalah 12 – 14 gr%)
- Hematokrit meningkat ( nilai rujukan 37 – 43 vol%)
- Trombosit menurun ( nilai rujukan 150 - 450 ribu / mm3)
♦ Urinalisis
- Ditemukan protein dalam urine
♦ Pemeriksaan Fungsi hati
- Bilirubin meningkat (N=˂ 1 mg/dl )
- LDH ( laktat dehidrogenase ) meningkat
- Aspartat aminomtransferase (AST) > 60ul.
- Serum Glutamat piruvat transaminase (SGPT) meningkat (N = 15 – 45 u/
ml )
- Serum Glutamat oxaloacetic tramsaminase (SGOT) meningkat (N = ˂ 31
u/l )
- Total protein serum serum menurun ( N = 6,7 – 8,7 mg / dl )
♦ Tes kimia darah
- Asam urat meningkat ( N = 2,4 – 2,7 mg/dl)

Radiologi

- Ultrasonografi

Ditemukan retardasi pertumbuhan janin intrauterus. Pernafasan intrauterus


lambat, dan volume cairan ketuban sedikit.

- Kardiotografi
Diketahui denyut janin bayi lemah.
2.1.8 Pencegahan

Preeklampsia dan eklampsia merupakan komplikasi kehamilan yang berkelanjutan


dengan penyebab yang sama. Pencegahan yang dimaksud ialah upaya untuk
mencegah terjadinya preeklampsia pada perempuan hamil yang berisiko terjadinya
preeklampsia (Prawirohardjo, 2008). Oleh karena itu, pencegahan atau diagnosis dini
dapat mengurangi angka kejadian dan menurunkan angka kesakitan dan kematian.

Untuk dapat menegakkan diagnosis dini diperlukan pengawasan hamil yang teratur
dengan memperhatikan kenaikan berat badan, kenaikan tekanan darah, dan
pemeriksaan urin untuk menetukan proteinuria. Untuk mencegah kejadian
preeklampsia ringan dapat dilakukan nasehat tentang dan berkaitan dengan
preeklampsia :

a. Diet makanan. Makanan tinggi protein, rendah karbohidrat, cukup vitamin,


rendah lemak. Makanan berorientasi pada empat sehat lima sempurna.

b. Cukup istirahat. Istirahat yang cukup pada hamil semakin tua dalam arti
bekerja seperlunya dan disesuaikan dengan kemampuan. Lebih banyak duduk
atau berbaring kea rah punggung janin sehingga aliran darah menuju plasenta
tidak mengalami gangguan.

c. Pengawasan antenatal. Bila terjadi perubahan peraan dan gerak janin dalam
rahim segera datang ke tempat pemeriksaan. Keadaan yang memerlukan
perhatian :

1. Uji kemungkinan preeklampsia :

a). Pemeriksaan tekanan darah atau kenaikannya

b). Pemeriksaan tinggi fundus uteri

c). Pemeriksaan kenaikan berat badan atau edema

d). Pemeriksaan protein dalam urine

e). Kalau mungkin dilakukan pemeriksaan fungsi ginjal, fungsi hati,


gambaran darah umum, dan pemeriksaa retina mata.

2. Penilaian kondisi janin dalam rahim

a). Pemeriksaan tinggi fundus uteri

b). Pemeriksaan janin : gerakan janin dalam rahim, denyut jantung janin,
pemantauan air ketuban

c). Usulkan untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografi (Curtis, 1999).

2.1.9 Penatalaksanaan

Upaya pengobatan ditujukan untuk mencegah kejang, memulihkan organ vital


pada keadaan normal, dan melahirkan bayi dengan trauma sekecil-kecilnya.Bayi
lahir tanpa asfiksia, dengan APGAR SCORE / AS yang baik. Sehingga mencegah
mortalitas maternal dan neonatal.

a. Preeklampsia Ringan

Berikan perawatan dengan, istirahat di tempat tidur sebagai terapi utama dlam
penanganannya. Istirahat dengan berbaring pada sisi tubuh dapat
menyebabkan aliran darah ke placenta dan aliran darah ke ginjal meningkat.
Tekanan vena ke ektremitas bawah menurun dan reabsorpsi cairan bertambah.
Selain itu dengan istirahat berbaring dapat mengurangi kebutuhan volume
darah yang beredar dan juga dapat menurunkan tekanan darah.

Apabila preeklapsia tersebut tidak membaik, dengan penanganan konservatif,


dalam hal ini, kehamilan harus diterminasi, terutama jika mengancam nyawa
maternal & neonatal.

b. Preeklampsia Berat
Segera rawat pasien di rumah sakit.
- Lakukan pemasangan Oksigen dg masker NRBM, 6 – 8 lt / mnt.
- Kemudian berikan MgSO4 , dalam infuse Ringer-Dextrosa 5% / RD5%,
dengan kecepatan 15-20 tetes per menit. Dosis awal sekitar 4gr,
MgSO4 20% (20 20% dalam 20 cc) , IV selama 4 menit ( 1 gr / mnt), atau
kemasan 20% dalam 25 cc larutan MGSO4 ( dalam 3 – 5 menit).Diikuti 4
gr MgSO4 40%( 40% dalam 10 cc) 12,5 cc Boka, dan 12,5 cc Boki, dengan
jarum no 21 panjang 3,7 cm. Untuk mengurangi nyeri, dapat diberikan 1
cc xylokain 2 % yang tidak mengandung Adrenalin, pada suntikan IM.
Dilanjutkan dosis maintenance setiap 4 – 6jam dalam drip infuse sampai
tekanan darah stabil 140-150/90-100 mmHg. Pasang kateter kantong urin,
dan perhatikan output urine setiap 6 jam.Ini diberikan sampai 24 jam
pasca persalinan atau dihentikan 6 jam pasca persalinan ada perbaikan
nyata ataupun tampak tanda-tanda intoksikasi.
- Sebelum memberikan MgSO4 perhatikan reflek patella, pernapasan 16
kali/menit. Selama pemberian parhatikan tekanan darah, suhu, perasaan
panas, serta wajah merah. Berikan nefidipine 3-4 x 10 mg oral (dosis
maksimum 80 mg/hari), tujuannya adalah untuk penurunan tekanan
darah 20% dalam 6 jam. Periksa tekanan darah, nadi, pernapasan tiap
jam.
- Penghentian MGSO4 jika ditemukan gejala sebagai berikut;
Ada tanda tanda keracunan, yaitu kelemahan otot, hipotensi, reflek
fisiologis menurun, fungsi jantung terganggu, depresi SSP, kelumpuhan
dan selanjutnya dapat menimbulkan kematian karena dapat
menimbulkan kelumpuhan otot otot pernafasan, karena ada serum 10 IU
magnesium pada dosis adekuat adalah 4 – 7 mEq/liter. Refleks fisiologis
menghilang pada kadar 8 – 10 mEq/liter. Kadar 12 – 15 mEq/liter, dapat
terjadi kelumpuhan otot otot pernafasan. Dan lebih dari 15 mEq/liter
dapat terjadi kematian jantung.

PE Berat memerlukan antikonvulsi dan antihipertensi serta dilanjutkan dengan


terminasi kehamilan.

Tujuan terapi pada PE:

1. Mencegah kejang dan mencegah perdarahan intrakranial

2. Mengendalikan tekanan darah

3. Mencegah kerusakan berat pada organ vital

4. Melahirkan janin yang sehat

Terminasi kehamilan adalah terapi defintif pada kehamilan > 34 minggu atau bila
terbukti sudah adanya maturasi paru atau terdapat gawat janin.

Penatalaksanaan kasus PEB pada kehamilan preterm merupakan bahan


kontroversi.Pertimbangan untuk melakukan terminasi kehamilan pada PEBerat
pada kehamilan 32 – 34 minggu setelah diberikan glukokortikoid untuk
pematangan paru.

Pada PEBerat yang terjadi antara minggu ke 23 – 32 perlu pertimbangan untuk


menunda persalinan guna menurunkan angka morbiditas dan mortalitas perinatal.

Terapi pada pasien ini adalah :


1. Dirawat di RS rujukan utama (perawatan tersier)
2. MgSO4
3. Antihipertensi
4. Kortiskosteroid
5. Observasi ketat melalui pemeriksaan laboratorium
6. Mengakhiri kehamilan bila terdapat indikasi
Terminasi kehamilan sedapat mungkin pervaginam dengan induksi persalinan
yang agresif. Persalinan pervaginam sebaiknya berakhir sebelum 24 jam. Bila
persalinan pervaginam dengan induksi persalinan diperkirakan melebihi 24jam,
kehamilan sebaiknya diakhiri dengan SC.

2.1.10 Masalah yang lazim muncul (Nanda 2016)


1. Gangguan pertukaran gas b.d penimbunan cairan pada paru ( oedema paru )
2. Kelebihan volume cairan b.d kerusakan fungsi glomerolus sekundr terhadap
penurunan kardiac output.
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
4. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d terjadinya vasospasme arterional
edema serebral, perdarahan.
5. Gangguan rasa nyaman b.d kontraksi uterus dan pembukaan jalan lahir.
6. Nyeri akut.
7. Konstipasi.
8. Defesiensi pengetahuan b.d Penatalaksanaan ( Reeves,2001), terapi dan
perawatan.
2.1.11 Discharge Planning
1. Segera periksakan ke dokter jika sudah mengetahui hamil, untuk mengetahui
secara dini apakah ada gejala penyakit yang menyertai kehamilan.
2. Mencegah dan kenali gejala terjadinya preeklampsia.
3. Diet makanan tinggi protein, tinggi karbohidrat, cukup vitamin, dan rendah
lemak, kurang garam jika berat badan bertambah atau disertai edema;
makanan berorientasi pada diit “Empat sehat, Lima sempurna”; menambah
jumlah protein ditambah satu butir telur setiap hari.
4. Lakukan pemeriksaan antenatal secara rutin/ mengikuti program ANC
Terpadu.
5. Istirahat yang cukup, sesuai bertambahnya usia kehamilan.
6. Bila ada keadaan yang meragukan, sebaiknya segera periksa ke dokter.

2.2 Konsep keperawatan


2.2.1 Pengkajian
1. Anamnesa;
a. Identitas umum pasien meliputi; nama (pemberian identitas yang benar) ,
umur ( sering terjadi pada usia antara ˂ 20 tahun, atau > dari 35 – 40
tahun), jenis kelamin, suku bangsa (melihat adat istiadat terhadap kondisi
pasien), agama( Psikososial spiritual yang stabil akan membantu emosi
yang stabil saat menghadapi masalah) , pendidikan (tingkat pengetahuan
terhadap kondisi sekarang), pekerjaan (data sosial ekonomi yang rendah ,
mendukung kemungkinan lebih banyak karena kurang asupan protein
yang cukup dan juga kurang melakukan antenatal secara teratur),alamat (
registrasi yang baik), status perkawinan ( biasanya terjadi pada wanita
yang menikah pada usia < 20 tahun, atau > 35 tahun).
b. Keluhan utama; adakah keluhan sakit kepala didaerah frontal, adakah rasa
tengkuk terasa berat, adakah gangguan visus (pandangan kabur, skotoma,
diplobia), nyeri epigastrium, mual muntah/ tidak nafsu makan, adakah
gangguan serebral lainnya( terhuyung huyung, reflek tinggi atau tidak
tenang)
c. Riwayat kesehatan sekarang; adakah peningkatan tekanan darah, oedema,
penurunan kesadaran, sesak dst
d. Riwayat kesehatan sebelumnya; adakah penyakit Hipertensi Kronik,
Gagal Ginjal, Anemia, Kelainan Vaskuler Esensial, DM, dll
e. Riwayat Kehamilan; adakah Riwayat kehamilan Ganda, Mola hidatidosa,
Hidramnion, serta riwayat kehamilan dengan Hipertensi, preeklampsia
dan eklampsia.
f. Pola nutrisi; yang dikonsumsi baik makanan pokok ataupun selingan,
apakah telah memenuhi nutrisi bergizi atau 4 sehat 5 sempurna.
2. Pemeriksaan Fisik;
Data Obyektif;
Pemeriksaan umum; Tekanan darah biasanya meningkat.
a. Inspeksi; adakah edema yang tidak hilang pada ekstremitas, dalam kurun
waktu 24 jam, menunjukkan retensi cairan. Edema pada muka dan tangan,
menunjukkan retensi cairan yang patologis.
b. Palpasi; untuk mengetahui TFU, Letak janin, lokasi edema.
c. Auskultasi; mendengarkan DJJ untuk mengevaluasi kondisi janin
d. Perkusi; untuk mengetahui refleks patela, sebagai indikasi pemberian SM/
MGSO4 jika refleks (+)
e. Keadaan Umum (KU); apakah baik, lemah.
f. Kesadaran; Composmentis, Samnolent, Sopor, Coma ?
Berat badan ; adakah peningkatan berat badan lebih dari 1 kg per minggu (
yang menunjukkan retensi cairan ekstravaskuler)
Pemeriksaan Retina, untuk mendeteksi adanya spasme arteriolar dan
kilauan retina dapat terlihat.
Tingkat kesadaran; penurunan GCS sebagai tanda adanya kelainan otak.
USG untuk mengetahui kondisi janin.
NST untuk mengetahui kesejahteraan janin.
Pemeriksaan thoraks; untuk mengetahui adanya edema paru,
Pemeriksaan abdomen; , untuk
g. Pemeriksaan fisik;Persistem;
1. B1 (Breath) / Sistem Pernafasan; biasanya pernafasan kurang dari 14
x/ menit, mengalami sesak nafas setelah melakukan aktifitas, krekel
mungkin ada, adanya edema paru ( dilihat dari hasil Pemeriksaan
Rontgen Thoraks), adanya hipereflexia klonus pada kaki ( dari hasil
refleks patela). Refleks tendon profunda (lutut & kaki); hiperrefleksia
dan klonus merupakan petunjuk dari peningkatan irritabilitas
susunan syaraf pusat dan mungkin dapat meramalkan kemungkinan
terjadi eklampsia.
2. B2 ( Blood ) / Sistem Kardiovaskular;
- Inspeksi; adakah sianosis, lulit pucat, konjungtiva anemis.
- Palpasi; Tekanan darah biasanya mengalami kenaikan setelah usia
kehamilan 20 minggu . Apakah denyut nadi melemah. Leher
biasanya teraba adanya bendungan pada vena jugularis ( artinya
adanya masalah atau gangguan pada jantungnya).
- Auskultasi; adakah Fetal distress pada denyut jantung janin ( USG
), dan penurunan gerak janin ( NST).
- Dari hasil pemeriksaan darah / laboratorium ditemukan kenaikan
kadar kreatinin darah.

3. B3 ( Brain ) / Sistem Persyarafan;


Kesadaran; Composmentis, Samnolent, Sopor, Coma ?
4. B4 ( Bladder ) / Sistem Perkemihan;
Adanya Proteinuria > 5 gr / 24 jam atau kualitatif 3 + / 4 +.
Dan terjadi Oliguria ≤ 500 ml / 24 jam (dari hasil urine yang
dikeluarkan dengan kateter atau urine porsi tengah, disertai
peningkatan BJ urine.
5. B5 ( Bowel ) / Sistem pencernaan;
Dengan palpasi, adanya nyeri tekan daerah epigastrium, anorexia,
mual muntah.
6. B6. ( Bone ) / Sistem Muskuloskleletal;
Adanya edema pada ekstremitas akibat gangguan filtrasi glomerolus
yang meretensi garam dan natrium.
2.2.2 Diagnosa Keperawatan
1.
2.3 ASUHAN KEPERAWATAN

Asuhankeperawatanpada Ny. N dengan masalah PreeklampsiaBerat


Tanggal masuk : 08 September 2017
Tanggal pengkajian : 08 September 2017
Dx medis : G1 P0000 AB000 uk 40 – 41 mg T/H/IU denganPEB

A. PENGKAJIAN
1. Biodata
a. Identitas klien
Nama : Ny.N
Umur : 21 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Suku bangsa :Jawa
Alamat :Purwodadi, Pasuruan
b. Identitas penanggung jawab
Nama : Tn.T
Umur :25 th
Jenis kelamin : laki laki
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Tani
Suku bangsa :Jawa
Alamat :Purwodadi, Pasuruan
Hub dg klien : suami

2. Riwayat Kesehatan.
a. Keluhan utama: mengeluh mual, sedikit pusing, kadang kadang penglihatan kabur
/tidakjelas, badan lemes. Saat bangun tidur mata bengkak, kaki dan seluruh tubuh
bengkak.
b. Riwayat kesehatan sekarang: Pasien mengatakan bila 1 hari yang lalu merasakan
mual mual, pandangan kabur, periksa ke bidan desa setempat pagi tadi, disarankan
periksa ke KIA Puskesmas setempat. Didapatkan tekanandarah 140 /
100mmHg.Kemudian, diberi surat rujukan untuk periksa ke puskesmas.
c. Riwayat kesehatan dahulu:
PasienmengatakantidakpernahsakitHipertensi, Kencing manis ataupun Hamil
kembar. Tapi sering sakit lambung.
d. Riwayat kesehatan keluarga: Pasien mengatakan dalam keluarga tidak ada yang
mengalami penyakit Hipertensi atau pernah Kejang.
e. Genogram:

Keterangan :

:Perempuan

:Laki laki

: Pasien

: Meninggal

f. Riwayat alergi obat dan makanan: tidak ada alergi obat dan makanan
3. Riwayat Obstetri;
1. Menarche : umur 12 tahun.
2. Banyaknya : ganti pembalut sehari, 2 x.
3. Siklus : teratur.
4. Lamanya : 8 hari.
5. HPHT : 24 November 2016
6. TP : 01 September 2017
4. Riwayat Persalinan;
Belum pernah mengalami persalinan.
5. Pemeriksaan fisik;
a. Keadaan Umum; Baik
b. Kesadaran; Composmentis
c. Tekanan darah; 140 / 100 mmHg
d. Nadi; 78 x/menit
e. Suhu; 36,7 ◦ C
f. Pernafasan; 22 x/ menit
g. TB; 156 cm
h. BB; 64 kg
i, Lila; 26 cm
j. B1 / Breath;
Bentuk dada; Normal, simetris
Susunan ruas tulang belakang; Baik
Pola nafas; Irama teratur, jenis Reguler
Retraksi otot bantu nafas; tidak ada retraksi otot bantu nafas
Alat bantu nafas; tidak ada alat bantu nafas
Suara nafas; Vesikuler
Mamae; ada
Areolla mamae; kecoklatan
Papilae mamae; kurang menonjol
Colostrum; Sudah keluar, bening
Masalah keperawatan; tidak ada
k. B2 / Blood;
Tidak ada nyeri dada
Irama jantung, teratur
Pulsasi, kuat
Bunyi jantung, S1 & S2 tunggal
CRT, < 3 detik
Tidak ada cianosis
Tidak ada Clubbing finger
Tidak tampak JVP
Kecepatan denyut jantung, teratur
Masalah keperawatan, tidak ada
l. B3 / Brain;
Kesadaran : Composmentis
GCS : 4-5-6
Orientasi : Baik
Kaku kuduk : Tidak ada
Kejang : Tidak kejang
Brudsky : Tidak ada
Nyeri kepala : 3 hari ini sering sakit kepala
Istirahat / Tidur : Tidur 8 jam, terus sering bangun karena perut
terasa sebah
Kelainan nervus cranialis Pupil Isokor
Reflek cahaya : Positif kanan & kiri
Konjungtiva : Merah muda
Sclera : Putih
Palpebra : Baik, tidak ada edema
Strabismus : Tidak ada
Ketajaman penglihatan : Baik
Alat bantu : Tidak menggunakan alat bantu
Hidung : Normal, Mukosa baik, secret jernih, ketajaman
penciuman normal, tidak ada kelainan.
Telinga : Bentuk normal, ketajaman pendengaran baik,
tidak menggunakan alat bantu pendengaran,
tidak ada keluhan.
Perasa : Mampu merasakan rasa pahit, asam, manis,
asin
Peraba : Mampu merasakan panas dan dingin.
Lain lain : Pasien mengatakan sulit tidur, karena pusing.
Masalah Keperawatan : Peningkatan tekanan intrakranial
Resiko Kejang.
m, B4 (Bladder );
Bentuk alat kelamin : Normal.

Libido : Kemauan normal, kemampuan normal,


kebersihan cukup.
Frekwensi berkemih : ± 1000 – 1500 ml per hari., warna kuning
kecoklatan, Alat bantu yang digunakan adalah
kateter.
Lain lain : Selama dirumah minum air putih ± 500 – 1000
ml per 24 jam.
Masalah keperawatan : Keseimbangan cairan.

n. B5 ( Bowel );
Mulut : Bersih, Mukosa lembab, Bibir tidak kering, Gigi
bersih, kebiasaan gosok gigi teratur,
Tenggorokan : tidak ada tanda tanda radang tenggorokan,
mual, nafsu makan menurun karena badan
lemes.
Abdomen : (Inspeksi) Perut membuncit sesuai usia
kehamilan aterm, tidak tampak adanya sikatrik
bekas operasi
Palpasi :
Ø Leopold I : teraba fundus uteri 3 jari di bawah proc.
Xyphoideus, ( 35 cm), teraba massa besar,
lunak, noduler
Ø Leopold II : teraba tahanan terbesar di sebelah kiri, bagian –
bagian kecil janin di sebelah kanan.
Ø Leopold III : teraba masa keras, terfiksir
Ø Leopold IV : bagian terbawah janin telah masuk pintu atas
panggul
Auskultasi : BJA 142 x/1’ regular
Kontraksi uterus : Kuat, 3 – 4 x, 10 menit, selama 35 detik.
Peristaltik usus : 15 x / menit
Kebiasaan Bab : 1 x /hari, konsistensi lunak, warna kuning
kecoklatan, bau khas, dengan menggunakan
toilet di kamar mandi. Tidak memakai obat
pencahar.
Masalah Keperawatan : Nyeri kontraksi

t. B6 ( Bowel );
Kemampuan pergerakan sendi dan tungkai; kekuatan otot 80% dengan ciri
gerakan normal penuh, menentang gravitasi
dengan tahanan penuh,
Kekuatan otot : 5 5
5 5
Turgor kulit : Baik, bersih, warna coklat, akral hangat.
Tidak ada fraktur.
Lain lain : Terpasang infus RD5% 500 cc, 20 tts/menit.
Masalah keperawatan : kurangnya tenaga / power karena pusing.
6. Data penunjang;
Hasil Proteinuria(stick) : + 2.