Sie sind auf Seite 1von 68

KEPERAWATAN GERONTIK

Asuhan Keperawatan Gerontik dengan Alzhaimer pada Lansia

Dosen pengampu: Ns. Sang Ayu M, S.kep Sp.Kep kom

Endang Dwi S 1610711055 Januarita Akhrina 1610711057


Ismi Zakiah 1610711056 Fina Alfya S 1610711058
Amelia Diah Wardani 1610711065 Purwandari Nurfaizah 1610711059
Gustina Rahmiandini P 1610711071 Amastia Ikayuwandari1610711060
An’nisaa Eka Rahmawati 1610711072 Assyfa Siti R 1610711061
Leni Marlia 1610711073 Adinda Zein Nur 1610711062
Hannisa Rizki Riansyah 1610711079 Putri Zalfa 1610711064
Diah Ayu K 1610711067 Farah Nabilah 1610711068
Cintya Veronica 1610711069 Tessya Deant E 1610711070
Erliana Mandasari 1610711074 Asya Shalbiah M 1610711075
Anggryta Putry 1610711082 Nessa Ishmah M 1610711083
Ardhita Qory 1610711063

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL "VETERAN" JAKARTA
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

1
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan
hidayah-Nya kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah “Asuhan Keperawatan
Gerontik dengan Stroke” ini tepat pada waktu yang telah ditentukan. Makalah ini diajukan
guna memenuhi tugas yang diberikan dosen pada mata kuliah Keperawatan Gerontik.
Pada kesempatan ini juga kami berterima kasih atas bimbingan dan masukan dari
semua pihak yang telah memberi kami bantuan wawasan untuk dapat menyelesaikan
makalah ini, baik itu secara langsung maupun tidak langsung.
Kami menyadari isi makalah ini masih jauh dari kategori sempurna, baik dari segi
kalimat, isi, maupun dalam penyusunan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun
dari dosen mata kuliah yang bersangkutan dan rekan-rekan semuanya, sangat kami harapkan
demi kesempurnaan makalah ini dan makalah-makalah selanjutnya.

Depok, Mei 2019

Kelompok

DAFTAR ISI

2
KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISIiii

BAB I PENDAHULUAN4

I.1 Latar Belakang 4

I.2 Rumusan Masalah 4

I.3 Tujuan Penulisan 5

BAB II TINJAUAN TEORI6

II.1 Prevalensi Alzhaimer 6


II.2.Pengertian Alzhaimer 9
II.3.Etiologi dan Klasifikasi Alzhaimer 9
II.4 Patofisiologi Alzhaimer 12
II.5 Tanda dan gelaja Alzhaimer 13
II.6 Jenis dan Pencegahan Alzhaimer 13
II.7 Penatalaksanaan Alzhaimer 16
II.8 Komplikasi Alzhaimer 17
II.9 Teori Penuaan pada Lansia 18
II.10 Etika dan Peran Perawat 19
II.11 Pemeriksaan Penunjang Alzhaimer 20

BAB III PROSES KEPERAWATAN27


III.1 Kasus27
III.2 Pengkajian28
III.3 Analisa Data dan Diagnosa51
III.4 Intervensi Keperawatan52
BAB IV PENUTUP55
IV.1 Kesimpulan 55

IV.2 Saran 55

DAFTAR PUSTAKA56

BAB I

3
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Demensia merupakan hilangnya ingatan yang bisa timbul bersama dengan gejala
gangguan perilaku maupun psikologis pada seseorang (Ikawati, 2009). Gambaran paling
awal berupa hilangnya ingatan mengenai peristiwa yang baru berlangsung. Terganggunya
intelektual seseorang dengan Demensia secara signifikan mempengaruhi aktivitas normal
dan hubungan. Mereka juga kehilangan kemampuan untuk mengontrol emosi dan
memecahkan sebuah masalah, sehingga bukan tidak mungkin mereka mengalami perubahan
kepribadian dan tingkah laku (Ikawati, 2009).

Penyakit Alzheimer adalah penyakit degeneratif otak dan penyebab paling umum
dari demensia. Hal ini ditandai dengan penurunan memori, bahasa, pemecahan masalah dan
keterampilan kognitif lainnya yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk melakukan
kegiatan sehari-hari. Penurunan ini terjadi karena sel-sel saraf (neuron) di bagian otak yang
terlibat dalam fungsi kognitif telah rusak dan tidak lagi berfungsi normal.

I.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana Prevalensi Alzhaimer ?
2. Apa Pengertian Alzhaimer ?
3. Apa Etiologi dan Klasifikasi Alzhaimer ?
4. Bagaimana Patofisiologi Alzhaimer ?
5. Apa Tanda dan gelaja Alzhaimer ?
6. Apa Jenis dan Pencegahan Alzhaimer ?
7. Bagaimana Penatalaksanaan Alzhaimer ?
8. Apa Komplikasi Alzhaimer ?
9. Bagaimana Teori Penuaan pada Lansia ?
10. Apa Etika dan Peran Perawat ?
11. Bagaimana Pemeriksaan Penunjang Alzhaimer Apa diagnosa yang ditegakkan pada
kasus?
12.Bagaimana intervensinya?

I.3 Tujuan Penelitian


1. Mengetahui Prevalensi Alzhaimer

4
2. Mengetahui Pengertian Alzhaimer
3. Mengetahui Etiologi dan Klasifikasi Alzhaimer
4. Mengetahui Patofisiologi Alzhaimer
5. Mengetahui Tanda dan gelaja Alzhaimer
6. Mengetahui Jenis dan Pencegahan Alzhaimer
7. Mengetahui Penatalaksanaan Alzhaimer
8. Mengetahui Komplikasi Alzhaimer
9. Mengetahui Teori Penuaan pada Lansia
10. Mengetahui Etika dan Peran Perawat
11. Mengetahui Pemeriksaan Penunjang Alzhaimer Apa diagnosa yang ditegakkan
pada kasus
12. Mengetahui intervensinya

BAB II

5
TINJAUAN TEORI

II.1 PREVALENSI ALZHEIMER

Ada sekitar 46 juta jiwa yang menderita penyakit Alzheimer di dunia, dan sebanyak
22 juta jiwa di antaranya berada di Asia. Di negara maju seperti Amerika Serikat saat ini
ditemukan lebih dari 4 juta orang usia lanjut penderita Penyakit Alzheimer. Angka ini
diperkirakan akan meningkat hampir 4 kali pada tahun 2050. Hal tersebut berkaitan dengan
lebih tingginya harapan hidup pada masyarakat di negara maju, sehingga populasi penduduk
lanjut usia juga bertambah.
Indonesia sebagai negara berkembang dengan jumlah penduduk terbanyak ke-4 di
dunia. Dampak keberhasilan pembangunan kesehatan antara lain terjadinya penurunan
angka kelahiran, angka kesakitan dan angka kematian serta peningkatan angka harapan
hidup penduduk Indonesia. Di Indonesia, usia harapan hidup meningkat dari 68,6 tahun
(2004) meningkat menjadi 72 tahun (2015). Usia harapan hidup penduduk Indonesia
diproyeksikan akan terus meningkat, sehingga persentase penduduk Lansia terhadap total
penduduk diproyeksikan terus meningkat. Berdasarkan hasil Susenas tahun 2014, jumlah
Lansia di Indonesia mencapai 20,24 juta orang atau sekitar 8,03% dari seluruh penduduk
Indonesia. Data tersebut menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan hasil Sensus
Penduduk tahun 2010 yaitu 18,1 juta orang atau 7,6% dari total jumlah penduduk.
Demensia Alzheimer adalah gangguan penurunan fisik otak yang mempengaruhi
emosi, daya ingat dan pengambilan keputusan dan biasa disebut pikun. Kepikunan
seringkali dianggap biasa dialami oleh lansia sehingga Alzheimer seringkali tidak terdeteksi,
padahal gejalanya dapat dialami sejak usia muda (early on-set demensia) dan deteksi dini
membantu penderita dan keluarganya untuk dapat menghadapi pengaruh psiko-sosial dari
penyakit ini dengan lebih baik.
Penyakit Alzheimer paling sering ditemukan pada orang tua berusia > 65 tahun,
tetapi dapat juga menyerang orang yang berusia sekitar 40 tahun. Berikut adalah
peningkatan persentase Penyakit Alzheimer seiring dengan pertambahan usia, antara lain:
0,5% per tahun pada usia 69 tahun, 1% per tahun pada usia 70-74 tahun, 2% per tahun pada
usia 75-79 tahun, 3% per tahun pada usia 80-84 tahun, dan 8% per tahun pada usia > 85
tahun.
Estimasi jumlah penderita Penyakit Alzhemeir di Indonesia pada tahun 2013
mencapai satu juta orang. Jumlah itu diperkirakan akan meningkat drastis menjadi dua kali

6
lipat pada tahun 2030, dan menjadi empat juta orang pada tahun 2050. Bukannya menurun,
trend penderita Alzheimer di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya. Ke-15
organisasi anggota ADI Asia Pasifik berlokasi di Australia, China, TADA China Taipei,
Hong Kong SAR, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Selandia Baru, Pakistan, Filipina,
Singapura, Korea Selatan, Sri Lanka dan Thailand. Negara-negara lain yang termasuk dalam
analisis ini adalah Bangladesh, Bhutan, Brunei Darussalam, Kampuchea, Makau, Republik
Demokrasi Rakyat Korea, Timor Timur (Timor Leste), Myanmar, Nepal, Papua Nugini dan
Vietnam.
Berdasarkan data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, penduduk kawasan seluruhnya
berjumlah 3,58 miliar pada tahun 2005. Penduduk yang berusia di atas 65 tahun
diperkirakan berjumlah 238,9 juta orang dengan 37,2 juta berusia di atas 80 tahun. Keadaan
ekonomi, bahasa dan agama di kawasan ini sangat beraneka ragam.
Demensia adalah sekelompok penyakit dengan ciri-ciri hilangnya ingatan jangka
pendek,kemampuan berpikir (kognitif) lain dan kemampuan melakukan hal sehari-hari.
Penyakit Alzheimer’s dan demensia vaskuler adalah jenis demensia yang paling umum.
Pada tahun 2005 penderita demensia di kawasan Asia Pasifik berjumlah 13,7 juta
orang dan menjelang tahun 2050 jumlah ini akan meningkat menjadi 64,6 juta orang. Pada
tahun 2005 jumlah kasus demensia baru di kawasan adalah 4,3 juta per tahun. Menjelang
tahun 2050 jumlah ini diproyeksikan akan meningkat menjadi 19,7 juta kasus baru per
tahun.Tergantung pada metodologi yang digunakan, penelitian yang berbedamemberikan
hasil yang berbeda pula. Akan tetapi berjangkitnya wabah demensia sudahlah pasti karena
jumlah penderita demensia meningkat dengan penduduk yang menua. Di kawasan Asia
Pasifik mereka yang berusia di atas 60 tahun dewasa ini berjumlah kurang dari 10% dari
jumlah penduduk seluruhnya, sedangkan yang berusia di atas 80 tahun berjumlah 1% dari
jumlah penduduk. Menjelang tahun 2050 angka-angka ini akan meningkat menjadi 25%
untuk yang berusia di atas 60 tahun dan 5% untuk yang berusia di atas 80 tahun.
Di samping peningkatan jumlah penderita demensia, ada faktor-faktor lain yang
memperparah dampak demensia pada bidang sosial dan ekonomi. Faktor-faktor ini
termasuk urbanisasi, kecenderungan meninggalkan sistem keluarga besar menuju
keluarga batih, dan sebagai akibatnya terjadi peningkatan dalam jumlah orang tua
yang hidup sendirian. Kemampuan merawat orang-orang ini akan tergantung pada
gabungan antara perawatan formal dan yang informal. Banyak negara di kawasan
Asia Pasifik mungkin belum cukup siap untuk memberikan pelayanan kesehatan dan
perawatan bermutu kepada penderita demensia dan keluarga yang merawatnya.

7
Demensia berpotensi mengakibatkan dampak yang menghancurkan sistem kesehatan
masyarakat negara-negara Asia Pasifik. Hal ini tidak hanya disebabkan karena
penduduk “bertambah ubanan”, tetapi karena demensia adalah satu penyakit kronis
yang paling menyebabkan ketidak-mampuan. “Beban penyakit” diukur dengan berapa
tahun dari hidup sehat yang hilang sebagai akibat penyakit. Beban ini adalah jumlah
“beban mortalitas” (berapa tahun hidup yang hilang karena kematian prematur) dan
“beban ketidak-mampuan” (berapa tahun dari hidup sehat yang hilang karena ketidak-
kemampuan). Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan se-Dunia ada tanda-tanda
yang menunjukkan bahwa:

1. Dalam hal beban ketidak-mampuan hanya penyakit menular dan parasitis yang
lebih parah daripada penyakit neuropsikiatris.
2. Beban penyakit demensia melebihi beban penyakit malaria, tetanus, kanker
payudara, penyalahgunaan obat-obatan dan perang dan:
3. Beban penyakit akibat demensia diperkirakan akan meningkat sebanyak lebih
dari 76% selama seperempat abad mendatang.

Bagaimana hal ini akan mempengaruhi biaya kesehatan masyarakat akan sangat
bervariasi tergantung pada negara dan gabungan perawatan apa yang disediakan,
meskipun biaya akan bertambah sesuai dengan produk domestik bruto sementara
prevalensi meningkat. Cara menghemat yang paling efektif adalah jika permulaan
demensia dapat ditangguhkan atau jumlah insidens dikurangi dengan cara-cara
pencegahan yang timbul dari penelitian baru.
Bagi ke-15 anggota ADI di kawasan Asia Pasifik, Wimo dkk (2006b) telah
memperkirakan bahwa biaya demensia adalah sebesar $60,4 miliar (dalam dolar AS
tahun 2003). 70% dari biaya perawatan demensia seluruh kawasan diperkirakan
terdapat dalam ekonomi negara-negara maju, yang mengandung 18% dari prevalensi.

II.2 PENGERTIAN ALZEIMER & DEMENSIA

Definisi

8
Demensia merupakan hilangnya ingatan yang bisa timbul bersama dengan gejala
gangguan perilaku maupun psikologis pada seseorang (Ikawati, 2009). Gambaran paling
awal berupa hilangnya ingatan mengenai peristiwa yang baru berlangsung. Terganggunya
intelektual seseorang dengan Demensia secara signifikan mempengaruhi aktivitas normal
dan hubungan. Mereka juga kehilangan kemampuan untuk mengontrol emosi dan
memecahkan sebuah masalah, sehingga bukan tidak mungkin mereka mengalami perubahan
kepribadian dan tingkah laku (Ikawati, 2009).

Penyakit Alzheimer adalah penyakit degeneratif otak dan penyebab paling umum
dari demensia. Hal ini ditandai dengan penurunan memori, bahasa, pemecahan masalah dan
keterampilan kognitif lainnya yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk melakukan
kegiatan sehari-hari. Penurunan ini terjadi karena sel-sel saraf (neuron) di bagian otak yang
terlibat dalam fungsi kognitif telah rusak dan tidak lagi berfungsi normal.
Pada penyakit Alzheimer, kerusakan saraf akhirnya mempengaruhi bagian otak yang
memungkinkan seseorang untuk melaksanakan fungsi tubuh dasar seperti berjalan dan
menelan (Alzheimer’s Association, 2015)

II.3 ETIOLOGI DAN KLASIFIKASI


A. ETIOLOGI

Alzheimer merupakan manifestasi penyakit seperti dementia yang berangsur-angsur


dapat memburuk hingga menyebabkan kematian. Alzheimer diduga terjadi karena
penumpukan protein beta-amyloid yang menyebabkan plak pada jaringan otak. Secara
normal, beta-amyloid tidak akan membentuk plak yang dapat menyebabkan gangguan
sistem kerja saraf pada otak. Namun, karena terjadi misfolding protein, plak dapat
menstimulasi kematian sel saraf.
Para ahli percaya bahwa Alzheimer, seperti penyakit kronis umum lainnya,
berkembang sebagai akibat dari beberapa faktor. Penyebab ataupun faktor yang
menyebabkan seseorang menderita penyakit Alzheimer antara lain sebagai berikut:

a. Usia
Faktor risiko terbesar untuk penyakit Alzheimer adalah usia. Kebanyakan orang dengan
penyakit Alzheimer didiagnosis pada usia 65 tahun atau lebih tua. Orang muda kurang dari

9
65 tahun juga dapat terkena penyakit ini, meskipun hal ini jauh lebih jarang. Sementara usia
adalah faktor risiko terbesar.

b. Riwayat Keluarga
Riwayat keluarga dengan keluarga yang memiliki orangtua, saudara atau saudari dengan
Alzheimer lebih mungkin untuk mengembangkan penyakit daripada mereka yang tidak
memiliki kerabat dengan Alzheimer's. Faktor keturunan (genetika), bersama faktor
lingkungan dan gaya hidup, atau keduanya dapat menjadi penyebabnya.

c. Faktor Lingkungan
Ekmann (1988), mengatakan bahwa faktor lingkungan juga dapat berperan dalam
patogenesa penyakit alzheimer. Faktor lingkungan antar alain, aluminium, silicon, mercury,
zinc. Aluminium merupakan neurotoksik potensial pada susunan saraf pusat yang
ditemukan neurofibrillary tangles (NFT) dan senile plaque (SPINALIS). Hal tersebut diatas
belum dapat dijelaskan secara pasti, apakah keberadaan aluminum adalah penyebab
degenerasi neurosal primer atau sesuatu hal yang tumpang tindih. Pada penderita alzheimer,
juga ditemukan keadan ketidak seimbangan merkuri, nitrogen, fosfor, sodium, dengan
patogenesa yang belum jelas.
Ada dugaan bahwa asam amino glutamat akan menyebabkan depolarisasi melalui reseptor
N-methy D-aspartat sehingga kalsium akan masuk ke intraseluler (Cairan-influks)
danmenyebabkan kerusakan metabolisma energi seluler dengan akibat kerusakan dan
kematian neuron.

d. Faktor trauma : Traumatic Brain Injury (TBI)


Trauma Cedera Otak sedang dan berat meningkatkan risiko perkembangan penyakit
Alzheimer. Trauma Cedera Otak adalah gangguan fungsi otak yang normal yang disebabkan
oleh pukulan atau tersentak ke kepala atau penetrasi tengkorak oleh benda asing, juga dapat
didefinisikan sebagai cedera kepala yang mengakibatkan hilangnya kesadaran. Trauma
Cedera Otak dikaitkan dengan dua kali risiko mengembangkan Alzheimer dan demensia
lainnya dibandingkan dengan tidak ada cedera kepala.

e. Mengalami sindrom Down. Kelainan genetik yang menyebabkan terjadinya sindrom


Down dapat menyebabkan penumpukan protein di otak sehingga memicu terjadinya
penyakit Alzheimer.

10
f. Memiliki gangguan kognitif. Orang-orang dengan kondisi ini memiliki masalah pada
daya ingat, dan dapat memburuk seiring bertambahnya usia.

B. KLASIFIKASI ALZHAIMER

1. Demensia Predementia:

Pada Alzheimer tingkat ini terjadi gangguan kognitif ringan, defisit memori, serta apatis,
apatis.

2. Demensia onset awal

Pada Alzheimer tingkat ini terjadi gangguan bahasa, kosakata, bahasa oral & tulisan,
gangguan persepsi, gangguan gerakan, terlihat bodoh, kurang inisiatif untuk melakukan
aktivitas.

3. Dementia moderat

Pada Alzheimer tingkat ini terjadi deteriorasi progresif, tidak mampu membaca & menulis,
gangguan long-term memory, subtitusi penggunaan kata (parafasia), misidentifikasi, labil,
mudah marah, delusi, Inkontinen system urinaria.

4. Dementia tahap lanjut (advanced)

Pada Alzheimer tingkat ini terjadi tidak dapat mengurus diri secara mandiri, kehilangan
kemampuan verbal total, agresif, apatis ekstrim, deteriorasi massa otot & mobilitas,
kehilangan kemampuan untuk makan.

II.4 PATOFISIOLOGI ALZHEIMER/DEMENSIA.


Terdapat beberapa perubahan khas biokimia dan neuropatologi yang
dijumpai padapenyakit Alzheimer, antara lain: serabut neuron yang kusut (masa
kusut neuron yangtidak berfungsi) dan plak seni atau neuritis (deposit protein beta-

11
amiloid, bagian darisuatu protein besar, protein prukesor amiloid (APP). Kerusakan
neuron tersebut terjadisecara primer pada korteks serebri dan mengakibatkan
rusaknya ukuran otak.
Secara maskroskopik, perubahan otak pada Alzheimer melibatkan kerusakan
berat neuron korteks dan hippocampus, serta penimbunan amiloid dalam pembuluh
darahintracranial. Secara mikroskopik, terdapat perubahan morfologik (structural)
danbiokimia pada neuron – neuron. Perubahan morfologis terdiri dari 2 ciri khas lesi
yangpada akhirnya berkembang menjadi degenarasi soma dan atau akson dan atau
dendrit.Satu tanda lesi pada AD adalah kekusutan neurofibrilaris yaitu struktur
intraselular yangberisi serat kusut dan sebagian besar terdiri dari protein “tau”.
Dalam SSP, protein tausebagian besar sebagai penghambat pembentuk structural
yang terikat danmenstabilkan mikrotubulus dan merupakan komponen penting dari
sitokleton sel neuron.
Pada neuron AD terjadi fosforilasi abnormal dari protein tau, secara
kimiamenyebabkan perubahan pada tau sehingga tidak dapat terikat pada
mikrotubulussecara bersama – sama. Tau yang abnormal terpuntir masuk ke filament
heliks gandayang sekelilingnya masing – masing terluka. Dengan kolapsnya
systemtransportinternal, hubungan interseluler adalah yang pertama kali tidak
berfungsi dan akhirnyadiikuti kematian sel. Pembentukan neuron yang kusut dan
berkembangnya neuronyang rusak menyebabkan Alzheimer.
Lesi khas lain adalah plak senilis, terutama terdiri dari beta amiloid (A-beta)
yang terbentuk dalam cairan jaringan di sekeliling neuron bukan dalam sel neuronal.
A-betaadalah fragmen protein prekusor amiloid (APP) yang pada keadaan normal
melekatpada membraneneuronal yang berperan dalam pertumbuhan dan pertahanan
neuron.APP terbagi menjadi fragmen – fragmen oleh protease, salah satunya A-beta,
fragmenlengket yang berkembang menjadi gumpalan yang bisa larut. Gumpalan
tersebutakhirnya bercampur dengan sel – sel glia yang akhirnya membentuk fibril –
fibril plakyang membeku, padat, matang, tidak dapat larut, dan diyakini beracun bagi
neuronyang utuh. Kemungkinan lain adalah A-beta menghasilkan radikal bebas
sehinggamengganggu hubungan intraseluler dan menurunkan respon pembuluh
darah sehinggamengakibatkan makin rentannya neuron terhadap stressor. Selain
karena lesi,perubahan biokimia dalam SSP juga berpengaruh pada AD. Secara
neurokimia
kelainan pada otak.

12
II.5 TANDA DAN GEJALA DIMENSIA

Menurut Hurley (1998), tanda dan gejala demensia secara umum adalah sebagai berikut:

1. Daya ingat yang terus terjadi pada penderita demensia, "lupa" menjadi bagian
keseharian yang tidak bisa lepas.

2. Gangguan orientasi waktu dan tempat, misalnya: lupa hari, minggu, bulan, tahun,
tempat penderita demensia berada.

3. Penurunan dan ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat yang benar,


menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi, mangulang kata atau
cerita yang sama berkali-kali.

4. Ekspresi yang berlebihan, misalnya menangis yang berlebihan saat melihat sebuah
drama televisi, marah besar pada kesalahan kecil yang di lakukan orang lain, rasa
takut dan gugup yang tak beralasan. Penderita demensia kadang tidak mengerti
mengapa perasaan-perasaan tersebut muncul.

5. Adanya perubahan tingkah laku seperti: acuh tak acuh, menarik diri dan gelisah.

II.6 JENIS DAN PENCEGAHAN DEMENSIA

A. JENIS DEMENSIA

Demensia dapat diklasifikasikan dalam beberapa jenis, yaitu sebagai berikut (Meiner, 2011):
a. Demensia Reversibel

Demensia reversibel merupakan kejadian yang terjadi ketika individu mengalami kondisi
yang menyerupai demensia. Penyebab demensia reversibel, yaitu: Obat-obatan, alkohol,
kelainan metabolik, depresi, delirium, neoplasma otak (CNS neoplasm), hematoma subdural
kronik dan Hidrosepalus tekanan normal.

b. Demensia Alzeimer

Demensia Alzeimer merupakan bentuk demensia yang terjadi pada lansia dan dialami oleh
60% - 80% orang. Faktor resiko pada demensia alzeimer, yaitu: Genetik, Nutrisi

13
(Kekurangan vitamin B12), Virus (herpes zoster, herpes simplex, atau ensepalitis) dan
lingkungan (paparan zat beracun atau zat kimia).

c. Demensia Vaskular (VAD)

Jenis ini dikenal dengan multiinfarct demensia, merupakan jenis kedua paling sering
ditemukan dalam kategori demensia, banyak ditemukan pada lansia. VAD didefinisikan
sebagai hilangnya fungsi kognitif akibat iskemik, lesi otak hipoperfusif, atau perdarahan
akibat penyakit serebrovaskular atau kondisi patologis kardiovaskular. VAD dikaitkan
dengan hilangnya progresif jaringan otak sebagai akibat dari serangkaian serangan otak
kecil (infark) yang disebabkan oleh oklusi dan penyumbatan arteri ke otak.

d. Demensia Badan Lewy (DLB)

DLB (inklusi neuronal intracytoplasmic) merupakan gangguan otak progresif yang


degeneratif, yang dapat ditemukan di batang otak, di encephalon, ganglia basalis, dan
korteks serebral. Individu dengan penyakit Parkinson (PD) memiliki peningkatan risiko
enam kali lipat untuk pengembangan DLB dibandingkan dengan populasi umum. Faktor
risiko yang terkait dengan pengembangan DLB termasuk usia lanjut, depresi, kebingungan,
atau psikosis saat mengambil levodopa, dan masker wajah pada individu dengan PD
didiagnosis.

e. Demensia Frontotemporal (FTD)

FTD adalah sindrom klinis pengecualian terkait dengan non-AD kondisi patologis dan
relatif jarang terjadi dalam pengaturan klinikal. Sindrom ini mencakup spektrum non-AD
demensia dan ditandai oleh atrofi fokus daerah temporal yang frontal dan anterior.
Patologis, FTD adalah variabel, beberapa kasus mungkin menunjukkan teupostur penyakit
(dengan atau tanpa badan Pick klasik), sedangkan yang lain menunjukkan ubiquitin-positif
inklusi, dan masih orang lain mungkin kurang khas histologis ciri-ciri.

B. PENCEGAHAN ALZHAIMER
1. pencegahan primer
Pencegahan primer dapat dilakukan dengan upaya pendidikan kesehatan atau promosi
kesehatan dan indentifikasi karakteristik individu atau faktor risiko lingkungan seperti
pendidikan, pekerjaa, usia, riwayat depresi , riwayat jatuh dan sebagainya. Dalam promosi

14
kesehatan, dapat diberikan materi mengenai perilaku CERDIK ( Cek kesehatan secara
berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat degan kalori seimbang,
Istirahat cukup dan Kelola stress.
Suatu komunitas Alzheimer’s Indonesia menjelaskan bahwa demesi alzheimer dapat
dikurangi resikonya dengan melakukan 5 hal dibawah ini :
a) Menjaga kesehatan jantung
b) Bergerak, berolahraga produktif
c) Mengkonsumsi sayur/buah (gizi seimbang)
d) Menstimulasi otak, fisi – mental – spiritual
e) Bersosialisasi dan beraktifitas positif
2. pencegahan sekuder
Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan:
a) Deteksi dini atau screening demensia (biasanya menggunakan DSM-IV,
pemeriksaan fisik, MRI dan sebagainya.)
b) Menurunkan tekanan lingkungan (Progressively Lowered Stress Threshold) .
Individu dengan demensia mengalami penurunan ambang untuk bertoleransi dan
beradaptasi terhadap stress dari lingkungan. Intervensi yang dapat menurunakan tekanan
lingkungan lingkungan dan menyeimbangankan antara pengalaman sensori yang
menenangkan dengan pengalaman yang menstimulasi sensori merupakan asuan yang efektif
untuk individu dengan demensia.
c) Terapi obat

II.7 PENATALAKSANAAN ALZHEIMER

Pengobatan penyakit Alzheimer masih sangat terbatas dikarenakan etiologi dan


patofisiologisnya yang masih belum jelas, sehingga tidak ada pengobatan spesifik untuk
penyakit alzheimer. Pengobatan yang digunakan saat ini diantaranya adalah terapi
simptomatik, sosial, terapi psikiatri, serta dukungan keluarga. Selain itu, penggunaan
Acethylcolinsterase inhibitors atau N-methyl D-aspartate (NMDA) inhibitor (Memantin)
dapat mempengaruhi transmisi glutamat serta dapat meningkatkan fungsi kognitif pada
penyakit Alzheimer stadium awal.
1. Kolinesterase inhibitor

15
Inhibitor ini digunakan untuk pengobatan simptomatik penyakit alzheimer, dimana
paenderita alzheimer akan mengalami penurunan kadar asetilkolin. Terapi simptomatik
ini menggunakan inhibitor kolinesterase donepezil, rivastigmin, dan galantamin.
Adapun kerja farmakologis dari donepezil, rivastigmin, dan galantamin adalah
menghambat kolinesterase dengan menghasilakn peningkatan asetilkolin di otak.
Pemberian obat ini dikatakan dapat memperbaiki memori dan apraksia selama
pemberian berlangsung. Cholinesterase inhibitor telah diakui untuk pengobatan
penyakit alzheimer ringan sampai sedang.
Pemberian dosis dari ketiga Cholisterase inhibitor yang umum digunakan adalah
sebagai berikut.
a. Donepezil, dimulai dengan dosis 5 mg per hari, kemudian dosis ditingkatkan menjadi
10 mg per hari setelah 1 bulan.
b. Dosisi rivastigmine ditingkatkan dari 1,5 - 3 mg per 2 kali sehari, kemudian menjadi
4,5 mg per 2 kali sehari, dan untuk maksimal dosis yaitu 6 mg per 2 kali sehari.
c. Galantamine, dimulai dengan dosis 4 mg per 2 kali sehari. Pertama-tama, dosis
ditingkatkan menjadi 8-12 mg per 2 kali sehari. Seperti rivastigmine, waktu yang lebih
lama antara peningkatan dosis berhubungan dengan penurunan efek samping.

2. Memantin
Memantin merupakan obat yang telah diakui oleh Food and Drug Administration
(FDA) untuk pengobatan penyakit Alzheimer sedang sampai berat. Dosis awal untuk
penggunaan Memantin adalah 5 mg per hari, kemudian ditingkakan hingga 10 mg per 2
kali sehari. Memantin bekerja dengan cara memblok saluran N-methyl-D-aspartate
(NMDA) yang berlebihan sehingga mampu memperlambat kerusakan kognitif pada
pasien dengan Alzheimer.

Adapun obat-obatan lain yang berperan untuk terapi gambaran nonkognitif meliputi
antidepresan, neuroleptik, dan ansiolitik.
Pada penyakit tahap lanjut, dengan meningkatnya ketergantungan pasien, beban perawatan
pasien jatuh pada pasangan atau keluarga dekat pasien yang mungkin sudah berusia lanjut
pula. Disamping itu, terdapat jasa eksternal pendukung seperti perawatan psikiatri dalam
komunitas, perawatan rumah sakit khusus siang hari, kesempatan untuk perawatan luar, dan
informasi dari organisasi khusus, misalnya Alzheimer’s Disease Society yang terdapat di
Inggris, adapun di Indonesia bernama Asosiasi Alzheimer Indonesia (AAzI).

16
II.8 KOMPLIKASI ALZHEIMER

Dengan semakin berkembangnya penyakit alzheimer, pengidapnya akan kehilangan


kemampuan untuk menjaga dirinya. Hal inilah yang membuat pengidap alzheimer rentan
terhadap beberapa masalah kesehatan, seperti :
a. Pneumonia. Kesulitan menelan makanan dan cairan menyebabkan penderita alzheimer
menghirup (menghisap) apa yang mereka makan atau minum ke dalam saluran
pernapasan dan paru, yang dapat menyebabkan pneumonia.
b. Infeksi. Kesulitan menahan air seni membuat penderita membutuhkan kateter urin, yang
dapat menyebabkan risiko infeksi saluran kemih. Infeksi saluran kemih yang tidak
segera ditangani bisa menyebabkn infeksi yang lebih serius dan parah. Selain itu,
infeksi saluran kemih yang akut bisa membuat kita tidak nyaman dan tidak bisa tidur
nyenyak.
c. Kaki pegal linu. Pada orang berusia setengah abad atau lebih tua, biasanya di malam
hari sering merasakan kaki pegal linu. Ketidaknyamanan ini akan sembuh sendiri jika
kaki digerakkan.
d. Jatuh dan masalah lain yang ditimbulkannya. Pengidap alzheimer mudah gamang
sehingga bisa sering terjatuh. Akibat jatuh bisa terjadi luka di kepala, seperti
pendarahan otak. Operasi untuk memperbaiki luka akibat jatuh juga beresiko. Sebagai
contoh, berbaring dalam waktu lama untuk pemulihan luka akibat terjatuh
meningkatkan risiko pembekuan darah di paru-paru (pulmonary embolism), yang dapat
menimbulkan kematian.

II.9 TEORI PENUAAN PADA LANSIA SESUAI KASUS

1. Teori Aktivitas
Menurut SCHROOTS(1996),penuaan yang sukses memiliki arti bahwa seseorang
yang sudah memasuki usia tua namun masih mampu melakukan aktivitas yang sedang
dan penting meskipun terdapat batasan dalam melakukan kegiatan tersebut.
Pada kasus, opa masih bisa melakukankegiatan sehari-hari dan sering keluyuran di
luar apartment.
2. Teori Cross-Linkage

17
Teori ini disebut sebagai teori cross-link, dan mengungkapkan bahwa seiring
berjalannya waktu, proses biokimia menciptakan hubungan antara struktur yang biasanya
tidak terkoneksi. Beberapa hubungan silang terjadi dengan cepat antara usia 30 dan 50
tahun.
Elastin mengering dan pecah karena usia; karenanya, kulit dengan sedikit elastin
(seperti halnya dengan orang dewasa yang lebih tua) cenderung lebih kering dan keriput.
Seiring waktu, karena penurunan cairan ekstraseluler, banyak deposit natrium, klorida,
dan kalsium menumpuk di sistem kardiovaskular.
Pada kasus, opa sering terbangun di malam hari untuk ke toilet.
3. Teori Pakai dan Usang (wear and tear theory)
Seiring waktu, perubahan kumulatif yang terjadi pada sel menua dan merusak
metabolisme seluler. Contohnya adalah ketidakmampuan sel untuk memperbaiki DNA
yang rusak, seperti pada sel yang menua. Diketahui bahwa sel-sel di otot jantung, neuron,
otot lurik, dan otak tidak dapat menggantikan diri mereka sendiri, seperti dihancurkan
oleh karena telah usang.
Pada kasus, opa tidak mampu mengingat kapan terakhir kali makan dan saat opa
keluyuran/ pergi ke luar apartment opa tidak bisa kembali ke rumah.

II.10 PERAN DAN ETIK PERAWAT DALAM KASUS

A. Peran perawat yang terdapat dalam kasus


1. Direct-Care Provider : Perawat membantu opa membersihkan diri seperti
menggosokgigi, mengganti popok, dan bercukur.
2. Pendidik : Perawat memberikan pendidikan kesehatan kepada oma dan opa terkait
penyakit Alzheimer.
3. Evidence-Based Clinician : Untuk menunjang pekerjaannya, perawat banyak membaca
literatur penelitian untuk diterapkan.
4. Advokat : Perawat memberikan informasi kepada oma bahwa opa juga perlu
mendapatkan pemerikasaan lain yang lebih lengkap di rumah sakit agar kondisi opa
bisaterus terpantau dan terlihat perkembangannya, namun perawat tidak memaksa oma
untuk membawa opa ke rumah sakit.
5. Kolaborator : Perawat juga bekerjasama dengan ahli neurologi untuk merawat opa.

B. Prinsip Etik yang terdapat dalam kasus

18
1. Otonomi (Autonomy) : Perawat memberikan informasi kepada oma bahwa opa
jugaperlu mendapatkan pemerikasaan lain yang lebih lengkap di rumah sakit agar
kondisi opabisa terus terpantau dan terlihat perkembangannya, namun perawat tidak
memaksa oma untuk membawa opa ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan
ulang atau check up secara rutin dan keputusannya semua berada di oma.
2. Tidak merugikan (Nonmaleficience) : Selain memberikan perawatan rutin setiap
minggu, perawat juga memberikan konseling psikis khususnya kepada oma. Perawat
sudah mengajarkan cara benar minum obat kepada oma agar pada saat oma sedang
memberikan obat kepada opa tidak terjadi kesalahan.
3. Menepati janji (Fidelity) : Oma senang karena perawat datang tepat waktu ke apartemen
mereka sesuai janji yang sudah di sepakati.

II.1 PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Skala Depresi Geriatrik Yesavage
Skala Depresi Geriatrik Yesavage atau biasa disebut dengan Geriatric
Depression Scale (GDS) merupakan instrument yang disusun secara khusus untuk
memeriksa depresi. Instrument ini terdiri atas 30 atau 15 pertanyaan dengan jawaban
YA atau TIDAK. GDS ini telah diuji kesahihan dan keandalannya. Beberapa nomor
jawaban YA dicetak tebal, dan beberapa nomor yang lain jawaban TIDAK dicetak
tebal. Jawaban yang dicetak tebal mempunyai nilai 1 apabila dipilih. Instrument GDS
dengan 30 item pertanyaan ini dikatakan juga dengan GDS Long Version, sedangkan
yang menggunakan 15 item pertanyaan biasa disebut GDS Short Version.
a. Skala Depresi Geriatrik Yesavage (GDS) Long Version

No Pertanyaan Jawaban Skor

Apakah pada dasarnya anda puas dengan kehidupan


1 Ya/Tidak
anda?
Apakah anda sudah meninggalkan banyak kegiatan dan
2 Ya/Tidak
minat/kesenangan anda?

3 Apakah anda merasa kehidupan anda hampa ? Ya/Tidak

4 Apakah anda sering merasa bosan ? Ya/Tidak

5 Apakah anda penuh pengharapan akan masa depan ? Ya/Tidak

19
Apakah anda diganggu oleh pikiran-pikiran yang tidak
6 Ya/Tidak
dapat anda keluarkan/ungkapkan?
Apakah anda mempunyai semangat baik sepanjang
7 Ya/Tidak
waktu?
Apakah anda takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada
8 Ya/Tidak
anda?
Apakah anda merasa bahagia pada sebagian besar waktu
9 Ya/Tidak
anda ?

10 Apakah anda sering merasa tidak berdaya ? Ya/Tidak

11 Apakah anda sering merasa gelisah dan resah/gugup? Ya/Tidak

Apakah anda lebih senang tinggal di rumah daripada


12 Ya/Tidak
pergi keluar dan mengerjakan sesuatu hal yang baru?

13 Apakah anda seringkali kuatir akan masa depan ? Ya/Tidak

Apakah anda merasa mempunyai banyak maslah dengan


14 Ya/Tidak
daya ingat anda dibandingkan kebanyakan orang ?
Apakah anda piker hidup anda sekarang ini
15 Ya/Tidak
menyenangkan ?

16 Apakah anda merasa murung dan sedih ? Ya/Tidak

Apakah anda merasa tidak berharga seperti perasaan


17 Ya/Tidak
anda saat ini ?
Apakah anda sangat kuatir tentang kejadian-kejadian
18 Ya/Tidak
masa lalu ?
Apakah anda merasakan bahwa kehidupan ini sangat
19 Ya/Tidak
menyenangkan/menarik ?
Apakah anda merasa berat untuk memulai
20 Ya/Tidak
proyek/pekerjaan baru?

21 Apakah anda merasa penuh semangat ? Ya/Tidak

Apakah anda merasa bahwa keadaan anda tidak ada


22 Ya/Tidak
harapan ?

23 Apakah anda pikir bahwa orang lain lebih baik Ya/Tidak

20
keadaannya daripada anda ?

24 Apakah anda seringkali kesal terhadap hal-hal sepele ? Ya/Tidak

25 Apakah anda seringkali merasa ingin menangis ? Ya/Tidak

Apakah anda mempunyai kesulitan dalam berkonsentrasi


26 Ya/Tidak
?

27 Apakah anda senang bangun di pagi hari ? Ya/Tidak

28 Apakah anda lebih senang menghindari kegiatan social ? Ya/Tidak

29 Apakah mudah bagi anda untuk mengambil keputusan ? Ya/Tidak

30 Apakah pikiran anda jernih seperti biasanya ? Ya/Tidak

Total

Interpretasi :
Skor 0-9 : not depressed (tidak depresi/normal)
Skor 10-19 : mild depression (depresi ringan)
Skor 20-30 : severe depression (depresi sedang/berat)

b. Skala Depresi Geriatrik Yesavage (GDS) Short Version

No Pertanyaan Jawaban Skor

1 Apakah anda sebenarnya puas dengan kehidupan anda ? Ya/Tidak

Apakah anda telah meninggalkan banyak kegiatan dan


2 Ya/Tidak
minat atau kesenangan anda ?

3 Apakah anda merasa kehidupan anda kosong ? Ya/Tidak

4 Apakah anda sering merasa bosan? Ya/Tidak

Apakah anda mempunyai semangat yang baik setiap


5 Ya/Tidak
saat?
Apakah anda takut bahwa sesuatu yang buruk akan
6 Ya/Tidak
terjadi pada anda ?

21
Apakah anda merasa bahagia untuk sebagian besar hidup
7 Ya/Tidak
anda ?

8 Apakah anda sering merasa tidak berdaya ? Ya/Tidak

Apakah anda lebih senang tinggal di rumah daripada


9 Ya/Tidak
keluar dan mengerjakan sesutau yang baru?
Apakah anda merasa mempunyai banyak masalah dengan
10 Ya/Tidak
daya ingat anda dibandingkan kebanyakan orang ?
Apakah anda pikir bahwa hidup anda sekarang ini
11 Ya/Tidak
menyenangkan?
Apakah anda merasa tidak berharga seperti perasaan
12 Ya/Tidak
anda saat ini?

13 Apakah anda merasa anda penuh semangat ? Ya/Tidak

Apakah anda merasa bahwa keadaan anda tidak ada


14 Ya/Tidak
harapan ?
Apakah anda pikir bahwa orang lain lebih baik
15 Ya/Tidak
keadaannya daripada anda ?

Total

Interpretasi :
Skor 0-9 : not depressed (tidak depresi/normal)
Skor 10-19 : mild depression (depresi ringan)
Skor 20-30 : severe depression (depresi sedang/berat)

2. Short Portable Mental Status Questionnaire (SPMSQ)


Pengkajian ini digunakan untuk mendeteksi adanya tingkat kerusakan
intelektual. Instrument SPMSQ terdiri dari 10 pertanyaan tentang orientasi, riwayat
pribadi, memori dalam hubungannya dengan kemampuan perawatan diri, memori jauh,
dan kemampuan matematis. Penilaian dalam pengkajian SPMSQ adalah nilai 1 jika
rusak/salah dan nilai 0 tidak rusak/benar.
Benar Salah Nomor Pertanyaan
1 Tanggal berapa hari ini ?

22
2 Hari apa sekarang ?
3 Apa nama tempat ini ?
4 Di mana alamat anda ?
5 Berapa anak anda ?
6 Kapan anda lahir ?
7 Siapakah presiden Indonesia saat ini ?
8 Siapakah presiden Indonesia sebelumnya ?
9 Siapakah nama ibu anda ?
Kurangi 3 dari 20 dan tetap pengurangan 3 dari
10
setiap angka baru, semua secara menurun
Jumlah

Interpretasi :
Salah 0-3 : fungsi intelektual utuh
Salah 4-5 : fungsi intelektual kerusakan ringan
Salah 6-8 : fungsi intelektual kerusakan sedang
Salah 9-10 : fungsi intelektual kerusakan berat

3. Mini-Mental State Exam (MMSE)


Mini-mental state exam (MMSE) digunakan untuk menguji aspek kognitif dan
fungsi mental : orientasi, registrasi, perhatian, kalkulasi, mengingat kembali, dan
Bahasa. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melengkapi dan menilai, tetapi tidak dapat
digunakan untuk tujuan diagnostic, namun berguna untuk mengkaji kemajuan klien.

Nilai Nilai Kriteria


No Aspek Kognitif
Maksimal Klien
Orientasi 5 Menyebutkan
- Tahun
- Musim
1.
- Tanggal
- Hari
- Bulan

23
Orientasi 5 Di mana sekarang kita beradaa ?
- Negara
- Provinsi
- Kabupaten
Registrasi 3 Sebutkan 3 nama objek (kursi,
2 meja, kertas), kemudian
ditanyakan kepada klien,
menjawab :
1. Kursi
2. Meja
3. kertas
Perhatian dan 5 Meminta klien berhitung mulai
kalkulasi dari 100, kemudian dikurangi 7
3 sampai 5 tingkat

(100, 92, …, …, …)
Mengingat 3 Meminta klien untuk menyebutkan
objek pada point 3
4 1. Kursi
2. Meja
3. ….
Bahasa 9 Menanyakan kepada klien tentang
benda (sambal menunjuk benda
tersebut).
1. Jendela
2. Jam dinding
Meminta klien untuk mengulang
5 kata berikut “tanpa, jika, dan, atau,
tetapi”. Klien menjawab …, dan,
atau, tetapi.
Meminta klien untuk mengikuti
perintah berikut yang terdiri dari 3
langkah.
Ambil pulpen di tangan anda,

24
ambil kertas, menulis “saya mau
tidur”.
1. Ambil pulpen
2. Ambil kertas
3. …
Perintahkan klien untuk hal
berikut (bila aktivitas sesuai
perintah nilai 1 poin):
“tutup mata anda”.
(Klien menutup mata)
Perintahkan pada klien untuk
menulis satu kalimat dan menyalin
gambar (2 buah segi 5).

Total 30

Skor :
24-30 : Normal
17-33 : Probable gangguan kognitif
0-16 : Definitif gangguan kognitif

II.2 Fungsi Kognitif

II.2.1 Perubahan Penuaan Yang Berhubungan Dengan Fungsi Kognitif

Teori terkini tentang penuaan dan kognisi berbeda secara signifikan dari teori
yang pertama kali diusulkan pada 1960-an. Studi cross-sectional awal, yang
didasarkan pada tes yang dirancang untuk memprediksi kinerja sekolah pada anak-
anak, mengarah pada kesimpulan bahwa penurunan kemampuan kognitif adalah
bagian normal dari proses penuaan. Pada pertengahan 1980-an, hasil studi
lonïongitudinal mulai menunjukkan bahwa fungsi intelektual tetap sama atau membaik
hingga usia 50 atau 60 tahun, setelah itu secara bertahap menurun. Dalam beberapa
dekade terakhir, para peneliti telah memfokuskan pada interaksi antara kemampuan
kognitif dan faktor-faktor seperti emosi, lingkungan, pengalaman hidup, dan kondisi
sosial ekonomi. Gerontolog sangat tertarik dalam mengidentifikasi intervensi yang
meningkatkan kemampuan kognitif pada orang dewasa yang lebih tua karena
penelitian menunjukkan bahwa otak memiliki kemampuan untuk berubah. Seperti

25
halnya banyak aspek fungsi lainnya pada orang dewasa yang lebih tua, para ahli
gerontologi berusaha untuk membedakan antara perubahan kognitif yang terjadi pada
orang dewasa yang sehat dan yang terkait dengan proses patologis seperti demensia
(dibahas pada Bab 14). Perubahan terkait usiayang memengaruhi kognitif dapat
dipahami dalam hal perubahan fisik dalam sistem saraf pusat dan dalam teori tentang
kecerdasan, memori, dan perkembangan psikologis yang berupaya menjelaskan
hubungan antara penuaan dan kognisi.

Sistem Saraf Pusat

Pengetahuan tentang penuaan otak diperoleh dari banyak jenis studi, termasuk
penyelidikan klinis, neuropsikologis, neuropatologis, dan neurokimia. Studi awal
penuaan otak bergantung pada temuan otopsi, tetapi kemajuan besar baru-baru ini
dalam teknik neuroimaging noninvasif (mis. Pencitraan resonansi magnetik
fungsional) secara signifikan memperluas basis pengetahuan. Studi terbaru terus
mengidentifikasi perubahan yang berkaitan dengan usia di otak, tetapi mereka tidak
meyakinkan sehubungan dengan dampak perubahan ini pada kognisi. Temuan
penelitian saat ini dibahas di sini. Kehilangan materi putih sering dicatat pada tes
pencitraan otak, dan perubahan ini mempengaruhi fungsi global pada orang dewasa
yang lebih tua; Namun, penelitian menunjukkan bahwa perubahan ini disebabkan oleh
penyakit pembuluh darah kecil yang terkait dengan faktor risiko vaskular daripada
perubahan terkait usia saja (Inzitari et al., 2009).

Studi juga telah menemukan penurunan aliran darah otak dan kehilangan volume
kortikal, terutama di lobus frontal, tetapi beberapa studi menunjukkan bahwa otak
orang dewasa yang lebih tua mungkin dapat mengimbangi perubahan ini (Sorond,
Schnyer, Serrador, Milberg, & Lipstiz, 2008 ). Perubahan tambahan yang berkaitan
dengan usia di otak dan sistem saraf pusat yang secara potensial memengaruhi
kemampuan kognitif adalah penurunan berat otak, berkurangnya aliran darah otak,
pembesaran ventrikel dan sulkus yang lebih luas, kehilangan dan penyusutan neuron,
berkurangnya transmisi neurotransmitter atau situs pengikatannya, dan akumulasi
lipofuscin dalam tubuh sel saraf. Selain secara langsung mempengaruhi keterampilan
kognitif, perubahan terkait usia ini menyebabkan waktu reaksi lebih lambat dan
mempengaruhi kecepatan pemrosesan informasi.

Gerontolog menekankan bahwa perubahan degenerasi terkait usia dalam struktur


saraf tidak sepenuhnya menentukan kemampuan kognitif karena potensi kognitif dapat
tetap ada bahkan ketika struktur saraf dikompromikan (Willis, Schaie, & Martin,
2009). Para peneliti telah mengajukan teori scaffolding tentang penuaan dan kognisi
sebagai cara untuk menjelaskan respons adaptif otak terhadap menurunnya struktur
dan fungsi saraf. Menurut teori ini, perancah adalah proses normal yang melibatkan

26
pengembangan dan penggunaan sirkuit saraf komplementer dan alternatif untuk
mencapai tujuan kognitif (Goh & Park, 2009). Proses ini melindungi kemampuan
kognitif meskipun ada perubahan terkait usia (Park & Reuter-Lorenz, 2009).

Istilah neuroplastisitas (juga disebut plastisitas saraf) mengacu pada kemampuan


fisiologis otak dan sirkuit saraf untuk berubah dan berkembang sebagai respons
terhadap rangsangan lingkungan. Konsep cadangan kognitif yang terkait erat mengacu
pada kapasitas untuk terus berfungsi pada tingkat kognitif yang memadai meskipun
ada proses yang berkaitan dengan usia atau patologis yang mempengaruhi struktur
saraf (Vance & Wright, 2009; Willis et al., 2009). Neuroplastisitas didefinisikan
sebagai positif ketika mempromosikan koneksi neuron dan meningkatkan cadangan
kognitif dan sebagai negatif ketika menghambat koneksi neuron dan menurunkan
cadangan kognitif (Vance & Wright, 2009).

Gerontolog semakin menekankan bahwa perkembangan kognitif dapat terjadi


pada setiap tahap perkembangan manusia; Namun, orang dewasa yang lebih tua
memiliki lebih banyak kendala dan batasan yang perlu ditangani (Willis et al., 2009).
Studi berdasarkan model cadangan kognitif menunjukkan bahwa partisipasi dalam
kegiatan kreatif (misalnya, seni, mendongeng, kelas tari) dan kegiatan kognitif waktu
luang (misalnya, membaca, menulis, diskusi kelompok, bermain musik) dikaitkan
dengan keterlambatan onset memori. penurunan dan peningkatan kognisi pada orang
dewasa yang lebih tua (Hall et al., 2009; McFadden & Basting, 2010). Meskipun
penelitian tentang penuaan otak memberikan dasar biologis informasi, teori-teori
psikologis menjelaskan perbedaan dalam kemampuan kognitif, seperti yang dibahas
dalam bagian berikut.

Fluid and Crystallized Intelligence

Teori Cattell dan Horn tentang kecerdasan cairan dan kristal, pertama kali
diajukan pada akhir 1960-an, adalah salah satu teori pertama yang mencoba
menjelaskan perubahan terkait usia dalam beberapa kemampuan kognitif.
Kecerdasan cairan terutama tergantung pada fungsi sistem saraf pusat dan kemampuan
bawaan seseorang, seperti memori dan pengenalan pola. Kecerdasan cairan dikaitkan
dengan keterampilan kognitif integrasi, penalaran induktif, pemikiran abstrak, dan
pemikiran fleksibel dan adaptif. Karakteristik kognitif ini memungkinkan orang untuk
mengidentifikasi dan menarik kesimpulan tentang hubungan yang kompleks.
Kecerdasan yang terkristalisasi mengacu pada keterampilan kognitif, seperti kosa kata,
informasi, dan pemahaman verbal, yang diperoleh orang melalui budaya, pendidikan,
pembelajaran informal, dan pengalaman hidup lainnya. Karakteristik kognitif ini
sangat terkait dengan kebijaksanaan, penilaian, dan pengalaman hidup.

Menurut teori ini, kecerdasan cairan dan kristalberkembang bersamaan selama


masa bayi dan anak-anak dan tidak dapat dibedakan karena sistem saraf pusat semakin

27
matang. Perubahan terkait usia dalam struktur saraf menyebabkan penurunan
kecerdasan cairan. Kecerdasan yang terkristalisasi, bagaimanapun, terus berkembang
selama masa dewasa karena akumulasi pengalaman dan pembelajaran. Kecerdasan
yang terkristalisasi, kecuali proses-proses yang bergantung pada kecepatan respons,
tidak menurun seiring bertambahnya usia, dan bahkan dapat meningkat karena
pengalaman yang meningkatkan kebijaksanaan. Meskipun kecerdasan cairan
diperkirakan menurun dengan bertambahnya usia, sebuah studi longitudinal baru-baru
ini dari 626 orang dewasa menemukan bahwa rasa pengarahan diri sendiri yang kuat
dalam situasi kerja mencegah penurunan memori verbal dan penalaran induktif, yang
merupakan dua aspek kecerdasan cairan (Yu, Ryan, Schaie, Willis, & Kolanowski,
2009).

Memori

Memori sering dikonseptualisasikan sebagai sistem pemrosesan informasi seperti


komputer di mana informasi pertama kali dirasakan, kemudian disimpan, dan akhirnya
diambil ketika dibutuhkan atau diinginkan. Memori primer memiliki durasi yang
singkat dan kapasitas yang sangat kecil, dan berfungsi sebagai tangki penampung
untuk peristiwa beberapa detik terakhir yang segera daripada sebagai sistem
penyimpanan memori yang sebenarnya. Informasi dalam memori utama dapat
dipanggil kembali untuk waktu yang singkat atau dikirim ke penyimpanan jangka
panjang. Memori sekunder memiliki durasi lebih lama dan, oleh karena itu, lebih
penting dalam hal pengambilan, serta penyimpanan, informasi. Pengambilan informasi
dari penyimpanan disebut sebagai pemrosesan memori jarak jauh, tersier, atau sangat
jangka panjang, dan keterampilan yang terlibat diklasifikasikan sebagai memori
mengingat dan memori pengenalan. Beberapa teori yang terkait dengan konsep-konsep
ini menunjukkan bahwa orang tua mengingat peristiwa dahulu kala lebih baik daripada
peristiwa baru-baru ini; Namun, penelitian menunjukkan bahwa kedua jenis memori
menurun sama tetapi orang dewasa yang lebih tua memiliki penyimpanan informasi
yang lebih besar tentang peristiwa dahulu kala (Botwinick, 1984).

Studi juga menemukan bahwa orang dewasa yang lebih tua dapat mengingat
peristiwa yang terjadi tetapi lebih sulit mengingat konteks di mana mereka terjadi
(Cansino, 2009). Baru-baru ini, gerontologis telah melihat model pemrosesan
informasi sebagai terlalu sederhana karena mengabaikan lingkungan di mana
memori beroperasi. Dengan demikian, teori kontekstual yang lebih baru membahas
variabel yang dapat memengaruhi memori. Misalnya, kecepatan pemrosesan yang
lebih lambat adalah perubahan terkait usia yang secara signifikan dapat memengaruhi
memori dan keterampilan kognitif lainnya. Variabel lain yang dapat memengaruhi
daya ingat meliputi motivasi, harapan, pengalaman, pendidikan, kepribadian, tuntutan
tugas, kebiasaan belajar, keterampilan intelektual, latar belakang sosiokultural,
kesehatan fisik dan mental, dan gaya pemrosesan informasi.

28
Studi terbaru menemukan bahwa ingatan dan keterampilan kognitif orang
dewasa yang lebih tua samaatau lebih baik daripada orang dewasa yang lebih muda
dalam kondisi tertentu (Labouvie-Vief, 2009). Sebagai contoh, orang dewasa yang
lebih tua memiliki ingatan dan pengakuan yang lebih baik daripada orang dewasa yang
lebih muda ketika informasi atau rangsangan emosional positif dibandingkan dengan
rangsangan yang negatif (Blanchard-Fields & Kalinauskas, 2009). Demikian pula,
orang dewasa yang lebih tua mampu menggunakan keterampilan kognitif yang
kompleks ketika situasinya sangat menarik atau memiliki relevansi pribadi (Hess,
Leclerc, Swaim, & Weatherbee, 2009). Pendekatan teoretis lain menekankan
pengkodean dan analisis alih-alih aspek penyimpanan dan pengambilan memori.

Menurut perspektif ini, memori adalah rangkaian pemrosesan, mulai dari level
dangkal hingga dalam; semakin dalam tingkat di mana informasi disimpan, semakin
lama memori akan bertahan. Salah satu dari variabel berikut ini dapat memengaruhi
kedalaman penyimpanan (Botwinick, 1984):

● Teknik pemrosesan, mulai dari level paling dangkal yang digunakan untuk informasi
sensorik hingga level terdalam yang digunakan untuk informasi yang sangat abstrak

● Elaborasi, atau kualitas, pemrosesan yang dilakukan di semua tingkat kedalaman

● Kekhasan informasi, yang sebagian bergantung pada seberapa baik informasi itu
dipelajari

● Kedalaman dan penjabaran proses pengambilan.

Beberapa penelitian berdasarkan kerangka ini menyimpulkan bahwa orang


dewasa yang lebih tua mengalami penurunan fungsi memori karena mekanisme
pemrosesan yang salah (Botwinick, 1984). Sebuah studi baru-baru ini menyarankan
bahwa pengurangan terkait usia dalam akurasi memori dikaitkan, setidaknya sebagian,
dari pengkodean yang lebih buruk (Pansky, Goldsmith, Koriat, & Pearlman-Avnion,
2009).

Perspektif teoretis lain yang memandang memori sebagai sebuah kontinum


adalah teori pemrosesan otomatis dan usaha, yang diusulkan oleh Hasher & Zacks
(1979). Di satu ujung kontinum adalah pemrosesan otomatis, atau tugas-tugas yang
tidak memerlukan perhatian atau kesadaran dan tidak membaik dengan latihan. Di
ujung lain adalah pemrosesan yang mudah, atau tugas-tugas yang menuntut tingkat
perhatian dan energi kognitif yang tinggi. Dengan latihan, tugas yang mudah
membutuhkan sedikit perhatian dan menjadi lebih otomatis. Menurut teori ini,
penuaan tidak mempengaruhi memori otomatis karena tugas-tugas ini
membutuhkan sedikit atau tidak ada energi kognitif. Namun, daya ingat yang kuat
menurun seiring bertambahnya usia karena sumber daya kognitif yang terbatas yang
tersedia untuk fungsi-fungsi memori mulai menurun pada awal masa dewasa.

29
Studi telah mengkonfirmasi penurunan dalam proses upaya (misalnya, perhatian
selektif, citra mental, kefasihan verbal, produksi bahasa, dan memori kerja verbal dan
visuospatial) dan tidak ada penurunan dalam fungsi kognitif otomatis (misalnya,
pengenalan gambar dan memori implisit dan prosedural) (Carstensen, Mickles, &
Mathers, 2006). Metamemory mengacu pada pengetahuan diri dan persepsi tentang
memori, fungsi kognitif, dan pengembangan memori. Metamemori penting dalam
kegiatan sehari-hari karena jika orang tahu apa yang dapat mereka ingat dan berapa
banyak usaha yang mereka perlukan untuk mengingat hal-hal tertentu, mereka dapat
merencanakan strategi yang efisien dan efektif untuk mengingat. Karena orang dewasa
yang lebih tua cenderung memandang diri mereka sebagai kurang kompeten daripada
orang dewasa yang lebih muda atau kurang kompeten daripada yang sebenarnya dalam
banyak tugas kognitif, gerontologis menekankan pentingnya mengatasi
sikap usia yang berkontribusi pada stereotip diri negatif tentang kemampuan kognitif
(Levy & Leifheit-Limson, 2009).

Adult Psychological Development

Teori tentang perkembangan psikologis mendalilkan bahwa pemikiran orang


dewasa menjadi semakin kompleks dan menunjukkan reorganisasi progresif dari
keterampilan intelektual (Labouvie-Vief & Blanchard-Fields, 1982). Misalnya, fokus
terbaru dari teori-teori ini adalah pada kemampuan kognitif yang terkait dengan
pengambilan keputusan dan pemecahan masalah sehari-hari. Kesimpulan dari studi
keterampilan pengambilan keputusan adalah sebagai berikut (Mariske & Margrett,
2006):

• Pengaruh dan motivasi adalah prediktor kuat pengambilan keputusan pada orang
dewasa yang lebih tua.
• dewasa yang lebih tua lebih selektif dalam informasi yang mereka gunakan untuk
pengambilan keputusan (yaitu, mereka mendasarkan keputusan pada informasi yang
lebih sedikit).
• Orang dewasa yang lebih tua membutuhkan lebih banyak waktu untuk membuat
keputusan yang setara kualitasnya dengan orang dewasa yang lebih muda, tetapi
mereka dapat memilih untuk menghabiskan waktu yang sama atau kurang.
• Kompleksitas tugas yang meningkat dikaitkan dengan lebih banyak kesalahan dan
lebih banyak inkonsistensi untuk orang dewasa yang lebih tua dan lebih muda.
• Keahlian tugas dan pengalaman sebelumnya berkontribusi pada keputusan yang
lebih baik untuk orang dewasa yang lebih tua dan lebih muda. Perawat dapat
menerapkan kesimpulan dari studi ini ketika mereka melibatkan orang dewasa yang
lebih tua dalam keputusan tentang perawatan diri.

Teori-teori tahap perkembangan kognitif orang dewasa pertama kali


dikembangkan selama tahun 1970-an sebagai perpanjangan dari teori
perkembangan intelektual Piaget pada anak-anak dan remaja. Salah satu teori
seperti itu mendalilkan bahwa anak-anak dan remaja fokus pada

30
memperoleh pengetahuan, dan orang dewasa fokus pada penerapan pengetahuan
pada tahap-tahap berikut (Schaie, 19771978):

• Tahap pencapaian (awal masa dewasa): orang dewasa menerapkan pengetahuan


yang diperoleh untuk tuntutan dan komitmen, seperti karier dan keluarga;
mereka menggunakan kemampuan intelektual mereka untuk membangun
kemandirian mereka dan mengembangkan perilaku yang berorientasi pada
tujuan.
• Tahap yang bertanggung jawab (akhir 30-an hingga awal 60-an): orang dewasa
mengintegrasikan tujuan jangka panjang dan memenuhi kebutuhan keluarga dan
masyarakat mereka.
• Tahap eksekutif (bagian dari tahap yang bertanggung jawab): berlaku untuk
orang yang memiliki tingkat tanggung jawab sosial yang tinggi.
• Tahap reintegrasi (kemudian dewasa): tugas intelektual adalah
menyederhanakan hidup dan hanya memilih tanggung jawab yang memiliki
makna dan tujuan; orang dewasa yang lebih tua bertanya "Mengapa saya harus
tahu?" daripada "Apa yang harus saya ketahui?" Baru-baru ini, Cohen (2005)
mengembangkan model pemberdayaan berdasarkan studi lebih dari 3000 orang
dewasa. Model ini menggambarkan empat fase penuaan dewasa berikut ini:
1. Evaluasi ulang usia paruh baya (awal 40-an hingga akhir 50-an): orang
menghadapi rasa kematian; rencana dan tindakan dibentuk oleh pencarian atau
krisis; perubahan otak memacu kecerdasan perkembangan.
2. Pembebasan (akhir 50-an hingga awal 70-an): orang merasakan rasa baru
pembebasan batin; pengembangan bagian pemrosesan informasi otak
meningkatkan hasrat akan hal-hal baru; rencana dan tindakan dibentuk oleh
kebebasan pribadi; pensiun memungkinkan waktu untuk pengalaman baru.
“Ringkasnya (akhir 60-an sampai 80-an): orang termotivasi untuk berbagi
kebijaksanaan; rencana dan tindakan dibentuk oleh keinginan untuk menemukan
makna; perkembangan otak meningkatkan kapasitas untuk ekspresi otobiografi;
orang mungkin merasa terdorong untuk menghadiri bisnis yang belum selesai
dan konflik yang belum terselesaikan.
3. Encore (akhir 70-an sampai akhir kehidupan): rencana dan tindakan dibentuk
oleh keinginan untuk menyatakan kembali dan menegaskan kembali tema-tema
utama dan untuk mengeksplorasi variasi-variasi baru pada tema-tema itu;
perubahan otak meningkatkan emosi dan moral positif; keinginan untuk hidup
dengan baik sampai akhir memiliki dampak positif pada orang lain. Gerontolog
juga telah fokus pada paradoks kesejahteraan, yang menggambarkan fenomena
orang dewasa yang lebih tua yang menderita kerugian signifikan dari kesehatan,
kognisi, dan fungsi sosial tetapi melaporkan tingkat kesejahteraan yang tinggi
dan emosi positif (Labouvie-Vief, 2009).

Teori selektivitas sosioemosional membahas pertanyaan ini dalam konteks


motivasi. Menurut teori ini, orang dewasa yang lebih tua mengakui bahwa waktu
terbatas, sehingga mereka termotivasi untuk mengejar kepuasan emosional.
Dengan demikian, mereka mengubah fokus mereka dari mengejar pengetahuan
dan pengumpulan informasi dan berkonsentrasi pada hubungan yang lebih dekat
dan lebih intim (Labouvie-Vief, 2009). Fokus lain saat ini adalah pada

31
kebijaksanaan sebagai aspek fungsi kognitif, yang dipandang sebagai "jenis
keahlian khusus tentang makna hidup dan pragmatik tentang bagaimana segala
sesuatu bekerja dalam situasi tertentu" (Zarit, 2009). Definisi kerja kebijaksanaan
sebagai aspek integral dari perkembangan orang dewasa termasuk yang berikut
(Knight & Laidlaw, 2009, p. 684):

o Akumulasi keahlian "knowing how" atas "knowing what"


o kemampuan untuk mengintegrasikan dan menyeimbangkan emosi dan nalar
o Kesadaran akan banyak konteks kehidupan dan bagaimana mereka berubah
selama bertahun-tahun
o Penerimaan akan ketidakpastian dalam hidup dan pemahaman tentang
bagaimana menangani hal ini
o Pemahaman tentang relativisme individu nilai-nilai dan peningkatan
toleransi untuk perbedaan individu. Konsep serupa adalah kecerdasan
perkembangan, yang didefinisikan sebagai "pendewasaan kognisi, kecerdasan
emosi, penilaian, keterampilan sosial, pengalaman hidup, dan kesadaran dan
integrasi dan sinergi mereka" (Cohen, 2005, hal. 35). Pandangan Cohen
tentang penuaan kognitif, yang bersifat optimis dan berbasis penelitian,
menekankan bahwa banyak orang dewasa menunjukkan kualitas
kebijaksanaan yang bergantung pada usia karena mereka mengintegrasikan
semua komponen kecerdasan perkembangan

II.2.2 Faktor Risiko Yang Mempengaruhi Kesehatan Kognitif

Banyak kondisi internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi fungsi kognitif pada
orang-orang dari segala usia, tetapi orang dewasa yang lebih tua sangat rentan
terhadap faktor-faktor risiko ini. Perawat harus memberikan perhatian khusus untuk
mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang ada dan yang dapat diatasi melalui
intervensi promosi kesehatan.

1). Pengaruh Pribadi, Sosial, dan Sikap

Banyak karakteristik pribadi yang mempengaruhi kemampuan kognitif pada orang-


orang dari segala usia, dan para peneliti telah mencoba mengidentifikasi yang paling
signifikan mempengaruhi orang dewasa yang lebih tua. Lamanya pendidikan adalah
faktor yang paling konsisten dikaitkan dengan kinerja kognitif pada orang dewasa
yang lebih tua. Kurangnya informasi tentang pendidikan pada masanya mengakibatkan
sebagian besar lansia hanya mampu berpendidikan hingga jenjang sekolah dasar.
Selain itu sulitnya menerima informasi pada saat ini juga dapat dipengaruhi oleh
tingkat pendidikan. Hal ini sependapat dengan penelitian yang dilakukan oleh
Henniwati dalam Lanawati (2015) yang mengatakan bahwa semakin tinggi pendidikan
seseorang akan meningkatkan pula ilmu pengetahuan dan informasi yang didapat.
(Kaufman, Kaufman, Lui, & Johnson, 2009; Wilson et al., 2009).

Faktor-faktor lain yang mempengaruhi fungsi kognitif termasuk pekerjaan,


pendidikan, hubungan sosial, ras dan etnis, masalah pendengaran, penglihatan,
kenyamanan dan kegiatan intelektual, serta faktor gaya hidup (mis., nutrisi, aktivitas
fisik) (Friedman et al., 2009; Hakansson et al., 2009; Nikolova, Demers, & Beland,

32
2009). Pendidikan yang telah dicapai seseorang atau lanjut usia dapat mempengaruhi
secara tidak langsung terhadap fungsi kognitif seseorang, termasuk pelatihan (indirect
training). Berdasarkan teori reorganisasi anatomis menyatakan bahwa stimulus
eksternal yang berkesinambungan akan mempermudah reorganisasi internal dari otak.
Tingkat pendidikan seseorang mempunyai pengaruh terhadap penurunan fungsi
kognitifnya. Pendidikan mempengaruhi kapasitas otak, dan berdampak pada tes
kognitifnya. Pekerjaan juga dapat mempercepat proses menua yaitu pada pekerja keras
/ over working, seperti pada buruh kasar / petani. Pekerjaan orang dapat
mempengaruhi fungsi kognitifnya, dimana pekerjaan yang terus menerus melatih
kapasitas otak dapat membantu mencegah terjadinya penurunan fungsi kognitif.

Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Lusiati (2014) di Malang menyebutkan


bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang diberikan akan semakin menghambat
penurunan fungsi kognitif dan sebaliknya, semakin rendah dukungan sosial akan
semakin mempercepat penurunan fungsi kognitif. Seseorang membutuhkan orang lain
untuk berpaling, curhat, dan selalu ada selama masa sehat dan sakit (Meiner, 2011).
Dukungan sosial telah terbukti sebagai faktor pelindung yang penting dalam menjaga
fungsi kognitif lansia.

Usia dan menurunnya harapan pada orang dewasa yang lebih tua dapat secara
negatif memengaruhi fungsi kognitif. Studi menunjukkan bahwa orang dewasa yang
lebih tua menginternalisasi stereotip tentang penurunan memori sebagai hasil yang tak
terhindarkan dari penuaan dan persepsi memiliki efek buruk pada kemampuan kognitif
mereka (Hess, Hinson, & Hodges, 2009; Levy & Leifheit-Limson, 2009). Selain itu,
penelitian ini menemukan bahwa efek negatif dari stereotipe adalah yang terkuat untuk
orang dewasa yang lebih tua dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi (Hess,
Emery, & Queen, 2009).

2). Faktor Kesehatan Fisik dan Mental

Banyak kondisi kronis dan aspek kesehatan fisik lainnya yang mempengaruhi
kemampuan kognitif pada orang dewasa yang lebih tua. Contohnya kondisi kronis yang
terkait dengan gangguan fungsi kognitif meliputi gangguan tiroid, diabetes, demensia,
dan gangguan kardiovaskular. Status gizi diakui secara luas sebagai faktor kesehatan
yang dapat memengaruhi fungsi kognitif tanpa memandang usia seseorang. Misalnya,
rendahnya kadar beta-karoten, dan vitamin B, C, dan D dikaitkan dengan fungsi
kognitif yang buruk. Peneliti telah memfokuskan banyak perhatian pada faktor gizi
yang mempengaruhi kognisi karena ini dapat diatasi melalui intervensi yang relatif
sederhana. Berikut kesimpulannya yang didasarkan pada studi terbaru:

a. Sebuah studi longitudinal terhadap 436 wanita berusia 70 hingga 80 tahun di baseline
menemukan bahwa anemia dikaitkan dengan baseline yang lebih buruk, yaitu
penurunan kemampuan kinerja dan penurunan kognitif yang lebih tajam (Deal, Carison,
Xue, Fried, & Chaves, 2009).
b. Data dari hampir 3000 pria dan wanita yang hidup di komunitas, lebih dari 60 tahun
menemukan bahwa status gizi yang lebih buruk adalah terkait dengan peningkatan
risiko gangguan kognitif (Lee et al., 2009).
c. Sebuah penelitian terhadap 980 pria dan wanita yang hidup di komunitas berusia 65
hingga 99 tahun menemukan bahwa kadar vitamin D serum rendah terkait dengan

33
kinerja yang lebih buruk pada tes eksekutif fungsi dan perhatian / kecepatan
pemrosesan tetapi tidak dengan tes memori (Buell et al., 2009).
d. Sebuah penelitian terhadap lebih dari 3000 pria berusia antara 40 tahun dan 79 tahun
menemukan bahwa kadar vitamin D serum lebih rendah dari 35 nmol / L dikaitkan
dengan kinerja yang lebih buruk pada uji fungsi kognitif (Lee et al., 2009).
e. Studi menunjukkan bahwa kemampuan kognitif orang dewasa yang lebih tua
mungkin akan terpengaruh oleh keurangankadar vitamin B serum (Smith & Refsum,
2009).
f. Sebuah penelitian terhadap 1358 Puerto Rico yang berusia 45 hingga 75 tahun di
Massachusetts menemukan bahwa kerawanan pangan dikaitkan dengan kinerja kognitif
yang lebih rendah (Gao, Scott, Falcon, Wilde, & Tucker, 2009).
g. Sebuah studi longitudinal terhadap hampir 1500 wanita berusia 70 tahun dan yang
lebih tua dengan diabetes tipe 2 menemukan bahwa asupan lemak jenuh yang lebih
tinggi dikaitkan dengan penurunan kognitif (Devore et al., 2009).

Gangguan sensorik adalah aspek lain dari kesehatan yang mempengaruhi proses
kognitif karena defisit pendengaran atau penglihatan yang membatasi jumlah dan
kualitas informasi yang diterima dari lingkungan. Karena input sensorik berpengaruh
secara signifikan pada belajar dan proses kognitif lainnya, perawat perlu memastikan
kondisi visual dan pendengaran yang optimal saat berkomunikasi dengan orang dewasa
yang lebih tua.

Peneliti juga berfokus pada faktor kesehatan mental yang dapat mempengaruhi fungsi
kognitif. Stres psikologis, terutama jika berkepanjangan, merupakan faktor kesehatan
yang bisa menekan perkembangan neuron baru (Cohen, 2005). Penelitian telah
menemukan kecemasan dapat merusak kemampuan kognitif dengan menyebabkan
kekhawatiran dan keraguan diri yang berlebihan dan dengan mengganggu perhatian
dan kecepatan pemrosesan (Beaudreau & O'Hara, 2009). Depresi dan bahkan variasi
subklinis dalam gejala depresi sangat terkait dengan gangguan fungsi kognitif
(terutama memori). Depresi berkontribusi negatif terhadap harapan diri dan
mengganggu perhatian dan konsentrasi, yang merupakan dua keterampilan kognitif
yang secara signifikan mempengaruhi daya ingat.

Beberapa studi berfokus pada kombinasi faktor yang berhubungan dengan


kesehatan, dengan penekanan pada perilaku kesehatan yang mempromosikan fungsi
kognitif yang baik. Data dari studi 17 tahun, lebih dari 5.000 pria dan wanita dengan
usia rata-rata awal 44 tahun ditemukan hubungan antara jumlah dan lamanya perilaku
orang tidak sehat yang lebih rendah pada ukuran fungsi kognitif dalam kehidupan
selanjutnya (Sabia et al., 2009). Studi lain telah menemukan perilaku gaya hidup sehat
(mis., tidak merokok, aktivitas fisik, konsumsi sayuran, dan keterlibatan sosial) terkait
dengan mempertahankan fungsi kognitif yang baik (Lee, Kim, & Back, 2009;
Williamson et al., 2009; Yaffe et al., 2009). Sebuah ulasan studi terbaru
menyimpulkan bahwa studi epidemiologi, uji coba terkontrol acak jangka pendek, dan
penelitian biologi menunjukkan bahwa aktivitas fisik meningkatkan fungsi kognitif
pada orang dewasa yang lebih tua (Rolland, vanKan, & Vellas, 2010).

3). Efek Obat

Obat-obatan yang diresepkan dan dijual bebas dapat mengganggu memori dan
fungsi kognitif lainnya dalam berbagai cara. Misalnya, bahan antikolinergik yang

34
terkandung dalam banyak resep dan obat bebas, secara signifikan dapat
mempengaruhi memori dan fungsi kognitif lainnya dan merupakan
penyebab umum dari perubahan status mental pada orang dewasa yang lebih tua
(Carriere et al., 2009).

Dalam beberapa tahun terakhir, semakin dikenal bahwa orang dewasa yang lebih
tua sangat rentan terhadap antikolinergik. Efek samping dari obat-obatan, termasuk
beberapa obat yang tidak diakui secara luas memiliki efek antikolinergik dalam
tubuh. Ulasan penelitian mengidentifikasi agen antikolinergik sebagai penyebab
faktor delirium dan jenis gangguan kognitif lainnya pada orang dewasa yang lebih
tua (Campbell et al., 2009; Wright et al., 2009). Obat antikolinergik bekerja pada
reseptor muskarinik dalam sistem saraf pusat dan perifer dengan menghambat
respon neurotransmitter asetilkolin secara kompetitif, yang berfungsi membantu
otak dalam melakukan proses belajar dan mengingat serta diresepkan sebagai
pengobatan utama untuk Ed mensia.

Jenis obat yang umum dengan sifat antikolinergik termasuk antidepresan,


antihistamin, agen antiparkinson, antipsikotik, agen kardiovaskular, agen
gastrointestinal, dan antispasmodik urin.

4).Faktor Merokok dan Lingkungan

Para peneliti juga memeriksa faktor-faktor risiko seperti merokok dan


paparan racun lingkungan. Studi telah ditemukan bahwa merokok kronis dan paparan
asap rokok terkait dengan peningkatan risiko penurunan fungsi kognitif (Aziz,
Monterosso, O'Neill, & London, 2009; Llewellyn, Lang, Langa, Naughton, &
Matthews, 2009). Sebuah studi longitudinal menemukan bahwa pada awal, skor
perokok lebih rendah daripada bukan perokok pada tes fungsi kognitif. Pada tindak
lanjut 5 tahun, penurunan di antara perokok secara signifikan lebih besar (Noovens,
Van Gelder, & Verschuren, 2008). Merokok dikaitkan dengan penurunan fungsi
kognitif dan demensia, juga dengan perubahan struktur otak. Korteks serebri, lapisan
luar dari substansia nigra, dilaporkan mengalami penipisan pada perokok. Lapisan
otak ini berperan penting dalam fungsi kognitif seperti memori, bahasa, dan persepsi.
Walaupun korteks serebri pada orang dewasa memang cenderung menipis seiring
bertambahnya usia. Namun pada beberapa penelitian ditemukan bahwa merokok dapat
mempercepat terjadinya proses ini. Penipisan korteks adalah salah satu penyebab dari
penuaan kognitif.

Studi juga menemukan hubungan terpapar racun lingkungan, seperti pelarut,


merkuri, pestisida, dan asap rokok, menyebabkan kerusakan progresif jangka
panjang yang meniru proses penuaan (Rowland & McKinstry,
2006). Merkuri berpengaruh terhadap system syaraf merupakan akibat pemajanan uap
elemen merkuri dan metil merkuri karena senyawa ini mampu menembus blood brain
barrier dan dapat mengakibatkan kerusakan otak sehingga mempengaruhi fungsi
kognitif.

35
BAB III

PROSES KEPERAWATAN

III.1 KASUS 4

Seorang lansia laki – laki (85 tahun) tinggal bersama istri (76 tahun) di apartemen
lantai 3. Dua tahun yang lalu opa didiagnosis penyakit Alzheimer, tapi opa masih bisa
melakukan kegiatan sehari – hari. Sekarang opa mulai mengabaikan kebersihan dirinya dan
tidak mampu mengingat kapan terakhir kali makan. Oma mengatakan, opa sering terbangun
di malam hari untuk pergi ke toilet, dan beberapa kali opa bukannya kembali ke kamar tidur
malah membuka pintu apartemen, keluyuran di luar dan tidak bisa kembali ke rumah. Oma
menjadi waspada dan takut opa hilang. Oma juga membuatkan jadwal kegiatan yang sudah
atau belum dilakukan opa. Hasil pemeriksaan GDS : 18, MMSE : 20, dan SPMSQ : 6.
Data Tambahan :
Klien berbagi kamar dengan istrinya. Suasana rumah lansia tidak rapi , banyak
barang menumpuk, dan kamar mandi tidak bersih namun kondisi di luar rumah
lansia masih terlihat rapi dan bersih. Setiap minggu datang seorang perawat ke
apartemen sepasang lansia yang berada di Limo, Depok untuk memeriksa kesehatan
mereka. Hasil pemeriksaan untuk opa GDS : 18, MMSE : 20, dan SPMSQ : 6. Td:
160/100 mmhg, n : 80 x/mnt, s: 36,7 °C , rr : 20 x/mnt.Oma mengatakan bahwa opa
hanya tidur 3-4 jam di malam hari. Opa sering menguap pada siang hari. Opa terlihat
letih dan mengantuk pada siang hari. Oma mengatakan pada siang hari opa sering
melakukan kegiatan berkebun, Oma mengatakan setiap malam suara-suara
tetangganya cukup mengganggu. Sejak masih muda dulu, opa adalah seorang
perokok berat dan peminum alkohol karena opa hanya lulusan SMA dan saat itu
sedang menganggur sehingga berperilaku beresiko. Oma sering kali berkonsultasi
tentang kesehatan suaminya dan perawat menjelaskannya dengan baik dan sabar,
perawat juga memberikan pendidikan kesehatan kepada oma dan opa terkait
penyakit alzheimer opa. Selain melakukan perawatan rutin setiap minggu, perawat
juga memberikan konseling psikis khususnya kepada oma. Oma mengatakan, opa
diberikan vitamin B, C dan E oleh perawat atas resep dokter sebagai obat yang rutin
diminumnya. Sebelum memberikan obat kepada oma untuk diberikan pada opa,

36
perawat sudah mengajarkan cara benar minum obat kepada oma agar pada saat oma
sedang memberikan obat kepada opa tidak terjadi kesalahan. Untuk menunjang
pekerjaannya, perawat banyak membaca literatur penelitian untuk diterapkan.
Karena ketidakmampuan opa membersihkan dirinya sendiri, badan menjadi bau,
kotor, berdaki, kuku panjang, rambut kusut, berantakan, kumis dan jenggot tidak
rapi. Opa tidak mampu menggunakan alat-alat mandi pada saat mandi dan tidak
mandi dengan benar.perawat membantu opa untuk membersihkan diri seperti
menggosok gigi, mengganti popok, dan bercukur. Oma senang karena perawat
datang tepat waktu ke apartemen mereka sesuai janji yang sudah disepakati. Selain
menjalani perawatan rumah atau rawat jalan, perawat juga memberikan informasi
kepada oma bahwa opa juga perlu mendapatkan pemeriksaan lain yang lebih
lengkap di rumah sakit agar kondisi opa bisa terus terpantau dan terlihat
perkembangannya. Namun perawat tidak memaksa oma untuk membawa opa ke
rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan ulang atau check up secara rutin dan
keputusan sepenuhnya berada di oma. Mengenai hal itu, oma mengatakan bahwa ia
sedang tidak berada dalam ekonomi yang stabil setelah 2 tahun merawat opa karena
ia hanya seorang Ibu Rumah Tangga. Perawat menganjurkan oma untuk membuat
BPJS demi meringankan biaya perawatan dan pemeriksaan opa jika dibawa ke
rumah sakit serta perawat bersedia untuk membantu oma membuat BPJS. Perawat
juga bekerjasama dengan ahli neurologi untuk merawat opa.

III.2 PENGKAJIAN KASUS


Demensia adalah sindrom kompleks yang biasanya melibatkan lamamanifestasi dan
fluktuasi yang terputus-putus. Demikianpenilaian adalah proses berkelanjutan yang
berfokus pada identifikasikontribusi dan kondisi yang dapat diobati dan konsekuensi
negatif yang berkembang selama demensia. Juga penting untuk mengidentifikasi dan
mengatasi kondisi yang mengganggudengan penilaian demensia.

1. Faktor - Faktor Yang MenggangguPenilaian Demensia


Sikap, mitos, dan kurangnya informasi adalah faktor risiko itumengganggu penilaian
yang tepat, dan intervensiuntuk, demensia. Dalam beberapa tahun terakhir, kemajuan
luar biasa telah terjadidibuat dalam memahami dan mengidentifikasi penyebab
gangguanfungsi kognitif; namun, banyak orang dewasa yang lebih tua dan keluarga
mereka dan pengasuh masih melihat gangguan kognitif seriussebagai penuaan yang

37
diharapkan dan normal. Kapan initerjadi, kondisi yang dapat diobati cenderung
diabaikan, danorang dewasa yang lebih tua ditolak intervensi yang tepat untuk
mengobatiatau kelola kondisinya. Bahkan tanpa adanya kuratifperawatan, banyak
intervensi yang efektif dalam menundaperkembangan kondisi, mengelola gejala,
dansisting dengan perencanaan jangka panjang. Faktor budaya yang mempengaruhi
persepsi tentang penuaan danpenyakit dapat secara signifikan mempengaruhi
evaluasi dan perawatandemensia. Sebagai contoh, beberapa kelompok budaya
menerimagangguan kognitif sebagai "penuaan normal," sedangkan yang lain
melihatperilaku terkait demensia memalukan. Gerontologis itu adilmulai
mempelajari berbagai aspek pengaruh budayapersepsi perubahan mental dan
penerimaan intervensi.

2. Penilaian Awal
Dengan pengecualian demensia delirium dan poststroke, gangguan fungsi kognitif
berpasangan adalah proses yang perlahan-lahan progresif itumembutuhkan penilaian
yang cermat untuk mengidentifikasi dengan tepat dasarpenyebab. Seringkali,
perubahan terjadi secara perlahan selama periode tahun,dan penilaian ditunda hingga
perubahan signifikanmengganggu fungsi normal. Proses penilaianbiasanya
berlangsung selama beberapa minggu atau bulan dan melibatkankompilasi informasi
tentang medis dan psikososialfungsi resmi. Karena gangguan kognitif progresif
adalahsebuah fenomena yang sangat kompleks, proses penilaian menghasilkansekutu
multidisiplin, membutuhkan masukan dari perawatan primerpenyedia, psikiater,
perawat, pekerja sosial, dan rehabilitasiterapis. Anggota tim penilai harus
bekerjadengan keluarga dan pengasuh lainnya untuk mendapatkan informasi
danmenentukan tingkat keterlibatan yang tepat dari paraorang yang memiliki
keterbatasan dalam membahas penilaianhasil dan perencanaan perawatan. Fokus
keperawatan utama adalah untuktermine tingkat fungsi orang tersebut, untuk
mengidentifikasi faktor-faktornyayang memengaruhi tingkat fungsi orang tersebut,
dan untuk mengidentifikasirespons seseorang terhadap penyakitnya. Seringkali,
perawatberfungsi sebagai pemimpin tim dan bertanggung jawab untuk
berkoordinasiinformasi dan memfasilitasi komunikasi antar timanggota dan dengan
orang dewasa yang lebih tua dan keluarganya ataupengasuh lainnya. Perawat dapat
menggunakan Kotak 1-1 sebagai panduan untukgangguan kognitif progresif pada
orang dewasa yang lebih tua.

38
3. Penilaian Konsekuensi Yang Sedang Berlangsung
Karena demensia adalah kondisi progresif yang lazimhidup berdampingan dengan
kondisi lain, semua orang dengan demensia penilaian berkelanjutan dari semua hal
berikut:
a. Perubahan fungsi kognitif dan psikososial terkaitdemensia (mis., penurunan
kemampuan kognitif, onsetnya)kecemasan atau depresi
b. Perubahan status mental terkait dengan kondisi bersamaan(mis., delirium karena
kondisi medis atau medikasi yang merugikanefek ikasi)
c. Perubahan kemampuan fungsional
d. Penyebab perubahan perilaku terkait dengan kondisi yang dapat diobati (mis.,
kecemasan, ketidaknyamanan fisik, lingkunganfaktor).

Tujuan utama dari penilaian berkelanjutan adalah untuk mengidentifikasi faktor-


faktoryang mengganggu tingkat fungsi atau kualitas orang tersebutkehidupan,
sehingga intervensi dapat dimulai untuk meringankan inifaktor kontribusi. Meskipun
demensia bersifat progresifkondisi yang secara bertahap mempengaruhi semua
tingkatan fungsi, beberapaperubahan yang terjadi disebabkan oleh kondisi
bersamaanbukannya oleh demensia itu sendiri. Demikian penilaian yang sedang
berlangsunguntuk mengidentifikasi semua faktor yang mempengaruhi tingkat fungsi
adalah penting. Tujuan lain dari penilaian berkelanjutan adalah untuk
mengidentifikasi kinerjakekuatan dan keterbatasan anak untuk merencanakan secara
individual intervensi untuk meningkatkan fungsi dan kualitas orang tersebuthidup.
Karena sifat progresif dan berfluktuasigangguan fungsi kognitif, kekuatan dan
keterbatasan seseorang akan berubah secara berkala; jadi rencana perawatan harus
diperbaruisering. Salah satu cara menilai kekuatan dan kelemahan adalahuntuk
menanyakan tentang bagaimana demensia memengaruhi setiap harihidup dan
bagaimana orang tersebut mengatasi, atau menyesuaikan dengan, ini perubahan.
Kotak 1-2 merangkum beberapa pernyataan orangdengan demensia tentang cara
mengatasi dan kehidupan sehari-hari.Perawat dapat menggunakan Kotak 1-2 sebagai
panduan untuk menilaidepresi demensia dari tahap awal ke tahap selanjutnya.
Pengikutpanduan dalam teks ini berkaitan dengan penilaian berkelanjutan
terhadapbanyak aspek konsekuensi fungsional yang terkait denganperkembangan
demensia: fungsi dan keamanan, fungsi psikososial dan depresi, pendengaran dan

39
penglihatan, fungsi kemih, risiko jatuh, dan tidur dan istirahat. Perawat juga dapat
menggunakan alat penilaian dalam bab-bab tentang obat-obatan dan rasa sakit untuk
mengatasi aspek-aspek perawatan yang sangat penting untuk penderita demensia.
Selain itu, alat penilaian tersedia dari Hartford Institute for Geriatric Nursingyang
tercantum di bagian Alat Klinis ini dan lainnyabab berlaku untuk menilai aspek
fungsidan merawat penderita demensia
Kotak 1-1 Menilai Penurunan Kognitif Progresif pada Dewasa yang Lebih Tua
Prinsip – Prinsip Umum Fokus Penilaian Pertimbangan dalam Menilai
Faktor Risiko Yang
1. Penilaian fungsi kognitif 1. Tujuan utama penilaian BerkontribusiGangguan
terganggu biasanya adalah untuk Fungsi Kognitif
terjadiselama beberapa mengidentifikasi
kunjungan, dan itu penyebabnyadari 1. Jangan pernah berasumsi
mungkin termasuk gangguan kognitif bahwa semua gangguan
penilaian rumah. 2. Penilaian seseorang kognitif dan
2. Orang dengan gangguan dengan gangguan fungsi perilakumanifestasi
fungsi kognitif mungkin kognitif berasal dari penyakit
bukan reliabilitasreporter adalahmultidisiplin dan gila.
yang cakap, tetapi mencakup komponen- 2. Karena faktor risiko
persepsinya harus komponen berikut : dapat menyebabkan
menjadi satu a. Tulis riwayat medis gangguan kognitif awal
kesatuanbagian dari dan pemeriksaan fisik atau berkembang
penilaian dan keakuratan termasuklihat semua kemudian, menyebabkan
informasi obat gangguan tambahan,
harusdivalidasi. b. Penilaian fungsional mereka harusdikaji ulang
3. Profesional layanan c. Sebuahpenilaian secara berkala.
kesehatan harus status mental 3. Kategori-kategori faktor-
menghormati hak dan psikososial dan faktor risiko berikut
permintaan orang formal yang harus dinilai,
tersebutizin sebelum komprehensif keduanyasecara resmi
mendapatkan informasi d. Dan penilaian dan berkelanjutan:
dari orang lain, termasuk pengaruh lingkungan depresi, perubahan
anggota keluarga. dan pengasuh, dengan fisiologis,gangguan

40
4. Jangan berasumsi bahwa penekanan khusus fungsi, efek obat yang
keluarga telah membuat pada faktor-faktor merugikan, dan
kesimpulan yang yang memengaruhi lingkunganpengaruh
akurattentang peristiwa keselamatandan mental dan psikososial.
masa lalu (mis., anggota kemampuan 4. Di awal penilaian,
keluarga dapat fungsional. pastikan bahwa
menyatakan bahwa 3. Penilaian mencakup penglihatan dan
seseorang pensiun dan wawancara dengan pendengaran terganggu
kemudian menunjukkan pengasuh, diberikan kompensasi
defisit kognitif ketika, keluargaanggota, dan sebanyak mungkin dan
dalam realita nya orang orang lain yang dapat bahwa lingkungan tidak
itu pensiun karena menggambarkan mengganggu kinerja
ketidakmampuan untuk perkembanganmanifestas orang tersebut
mengatasi i dari penurunan nilai. (mis.,mungkin, pastikan
pekerjaantuntutan). 4. Informasi tentang pola orang tersebut
kepribadian, koping, menggunakan kacamata
dankarakteristik kinerja dan alat bantu dengarjika
dipertimbangkan dalam diperlukan, dan pastikan
kaitannya dengan penerangannya optimal).
kinerjatingkat fungsional 5. Prioritas adalah untuk
putra saat ini. mengidentifikasi dan
5. Mungkin perlu untuk memperlakukan faktor-
mengajukan pertanyaan faktor yang dapat dibalik
menyelidik untuk sebelum memutuskan
membantu anggota rencana manajemen
keluarga. Saya mengenali jangka panjang.
petunjuk untuk defisit
kognitif secara
retrospektif.

41
Kotak 1-2 Pengalaman Hidup: Mengatasi dan Hidup Sehari-hari dengan Demensia
Tentang Cara Mengatasi Tentang Kehidupan Sehari-hari

1. Saya pikir tidak apa-apa untuk 1. Besok saya akan memiliki sedikit
memberikan diri Anda sedikit waktu memori hari ini, dan ini membuat
untuk fokus padarasa sakit dan hiduphari ini seperti mendorong batu ke
ketakutan. Itulah manusia; tetapi penting atas bukit mengetahui itu akan berputar
untuk bergerakjauh dari fokus yang kembali.
menyedihkan dan jangan biarkan itu 2. Kelambanan adalah masalah serius bagi
menghabiskan Anda. saya, dan kadang-kadang saya
2. Saya mencoba untuk lebih sabar dengan terpakukursi saya. Mungkin itu hanya
diri saya sendiri dan memaafkan diri karena begitu banyak upaya untuk
sendiri. mendapatkan diriku organSaya
3. Tetap sibuk melakukan apa yang saya melakukan hal-hal, yang secara mental
suka lakukan benar-benar membuat saya saya lelah bahkan sebelum saya mulai.
terus maju danmembantu saya. Saya 3. Saya merampingkan semuanya dan
berada dalam dua kelompok pendukung; menyingkirkan semua yang tidak saya
Saya punya sesi mingguan; gunakansering. Menjaga rumah tetap
a. Saya melakukan kelas meditasi rapi membantu meminimalkan
mingguan setiap hari dengan waktudiperlukan untuk menemukan item
pekerjaan rumah yang salah tempat.
b. Saya membaca tentang kesadaran 4. Saya mencoba mencari cara untuk
dan penyembuhan itumendukung memberikan kompensasi. Misalnya, saya
kehidupan saya di saat ini dan sekarang menggunakan GPS untukbantu
menjaga semangat saya. aku agar tidak tersesat saat mengemudi.
4. Saya mencoba melakukan sesuatu yang 5. Adik ipar saya melepas semua pintu
masih bisa saya lakukan — tidak sebaik lemari saya di dapur saya jadi sayabisa
sebelumnya—tetapi sesuatu yang masih melihat semua makanan di dapur saya
bisa saya lakukan. ketika saya berjalan ke dapur saya.
5. Sangat penting untuk tertawa dan 6. Saya pikir akan lebih baik jika saya tidak

42
menikmati lelucon atau basa-basi mengemudi; dan sebenarnya secara
dengannyaorang-orang. mental, itujauh lebih baik bahwa saya
6. Kami memiliki masalah ini dan kami membuat keputusan itu daripada
tidak dapat mengubahnya, tetapi kami seseorangkeputusan itu untuk saya.
dapatbuktikan hidup kita dengan tidak Secara psikologis, sangat baik bahwa
membiarkannya hanya membawa kita saya sebenarnyabersekutu dalam posisi
ketidakbahagiaan 24 jam per hari. di mana mereka berkata, "OK Anda bisa
7. Biasanya saya hanya memperlambat, dan mengemudi," dan baru saja
mengatur ulang harapan saya. meninggalkannyapada saat itu, dan saya
Mengharapkanbahwa Anda bisa menjadi berbalik dan berkata, “Yah, terima kasih
diri Anda dulu hanyalah obat untuk rasa banyak, tapiSaya sebenarnya tidak akan
sakit dankesedihan. mengemudi. "
8. Saya perlu memiliki pengetahuan bahwa
saya melakukan apa yang saya bisa.
Karenaseringkali sangat halus, dan saya
mengutuknya sesekali dan kemudianitu
membantu.
9. Saya meminta orang untuk tidak
mengharapkan saya mengingat untuk
melakukan sesuatu.
10. Ahh! Saya memiliki banyak kemudahan
dengan tidak mengingat hal-hal. OhYa
Tuhan, itu membuatku gila. . . tetapi kita
harus menerima apa yang tidak bisa kita
lakukanperubahan.pergi ke gereja; Saya
bernyanyi. . . membuatku bahagia.

FORMAT PENGKAJIAN LANSIA


ADAPTASI TEORI MODEL CAROL A MILLER

Nama wisma : Tanggal Pengkajian :

43
1. IDENTITASKLIEN :

Nama : Tn. I
Umur : 85 tahun
Agama : Kristen
Alamat : Limo, Depok
Pendidikan : SMA
Jenis Kelamin Laki-laki
Suku Bangsa Jawa
2. DATA :
KELUARGA
Nama : Ny. M
Hubungan : Istri
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Limo, Depok
3. STATUS KESEHATAN SEKARANG :
a. Keluhan utama:
Klien mulai mengabaikan kebersihan dirinya
Klien tidak mampu megingat terakhir kali makan
Klien sering terbangun di malam hari dan pergi ke toilet
Klien suka keluyuran dan lupa jalan ke rumah

b. Pengetahuan, usaha yang dilakukan untuk mengatasi keluhan:


Membuat jadwal kegiatan untuk klien sebelum maupun sesudah kegiatan

c. Obat-obatan:Vitamin B, C dan E

4. AGE RELATED CHANGES(PERUBAHAN TERKAIT PROSES MENUA) :

FUNGSI FISIOLOGIS

1. Kondisi Umum
Ya Tidak
Kelelahan :

44
Perubahan BB :
Perubahan nafsu :
makan
Masalah tidur : Ya
Kemampuan ADL :
KETERANGAN : ......................................................................................................
......................................................................................................

2. Integumen
Ya Tidak
Lesi / luka :
Pruritus :
Perubahan :
pigmen
Memar :
Pola :
penyembuhan lesi
KETERANGAN : ..........................................................................................................
..........................................................................................................

3. Hematopoetic
Ya Tidak
Perdarahan : Tidak
abnormal
Pembengkakan : Tidak
kel. Limfe
Anemia : Ya
KETERANGAN : .....................................................................................................

4. Kepala
Ya Tidak

45
Sakit kepala : Tidak
Pusing : Ya
Gatal pada kulit :
kepala
KETERANGAN : ....................................................................................................................
....................................................................................................................

5. Mata
Ya Tidak
Perubahan : Ya
penglihatan
Pakai kacamata : Tidak
Kekeringan mata : Ya
Nyeri : Tidak
Gatal : Tidak
Photobobia : Tidak
Diplopia : Tidak
Riwayat infeksi : Tidak
KETERANGAN : ....................................................................................................................
....................................................................................................................

6. Telinga
Ya Tidak
Penurunan pendengaran : Ya
Discharge : Tidak
Tinitus : Tidak
Vertigo : Tidak
Alat bantu dengar : Tidak
Riwayat infeksi : Tidak
Kebiasaan membersihkan : Tidak

46
telinga
Dampak pada ADL : ..........................................................................................
KETERANGAN : ..........................................................................................
..........................................................................................

7. Hidung sinus
Ya Tidak
Rhinorrhea : Tidak
Discharge : Tidak
Epistaksis : Tidak
Obstruksi : Tidak
Snoring : Tidak
Alergi : Tidak
Riwayat infeksi :
KETERANGAN : ...................................................................................................................
...................................................................................................................

8. Mulut,
tenggorokan
Ya Tidak
Nyeri telan : Tidak
Kesulitan menelan : Tidak
Lesi : Tidak
Perdarahan gusi :
Caries : Ya
Perubahan rasa : Tidak
Gigi palsu : Tidak
Riwayat Infeksi :
Pola sikat gigi : Klien kadang lupa menggosok gigi
KETERANGAN : ........................................................................................................
........................................................................................................

47
9. Leher
Ya Tidak
Kekakuan : Tidak
Nyeri tekan : Tidak
Massa : Tidak
KETERANGAN : ....................................................................................................................
....................................................................................................................

10. Pernafasan
Ya Tidak
Batuk : Ya
Nafas pendek : Ya
Hemoptisis : Tidak
Wheezing : Tidak
Asma : Tidak
KETERANGAN : ..................................................................................................................
..................................................................................................................

11. Kardiovaskuler
Ya Tidak
Chest pain : Tidak
Palpitasi : Tidak
Dipsnoe : Tidak
Paroximal : Tidak
nocturnal
Orthopnea : Tidak
Murmur : Tidak
Edema : Tidak
KETERANGAN : ...............................................................................................................
...............................................................................................................

12. Gastrointestinal

48
Ya Tidak
Disphagia : Tidak
Nausea / : Tidak
vomiting
Hemateemesis : Tidak
Perubahan nafsu : Ya
makan
Massa : Tidak
Jaundice : Tidak
Perubahan pola : Tidak
BAB
Melena : Tidak
Hemorrhoid : Tidak
Pola BAB : ...........................................................................................................
KETERANGAN : ...........................................................................................................
...........................................................................................................

13. Perkemihan
Ya Tidak
Dysuria : Tidak
Frekuensi : .......................................................................................................
Hesitancy : Ya
Urgency : Ya
Hematuria : Tidak
Poliuria : Ya
Oliguria : Tidak
Nocturia : Ya
Inkontinensia : Ya
Nyeri berkemih : Tidak
Pola BAK : ...........................................................................................................
KETERANGAN : ...........................................................................................................
...........................................................................................................

49
14. Reproduksi (laki-
laki)
Ya Tidak
Lesi : Tidak
Disharge : Tidak
Testiculer pain : Tidak
Testiculer massa : Tidak
Perubahan gairah : Tidak
sex
Impotensi : Tidak

Reproduksi
(perempuan)
Lesi :
Discharge :
Postcoital bleeding :
Nyeri pelvis :
Prolap :
Riwayat menstruasi : ..............................................................................................
Aktifitas seksual :
Pap smear :
KETERANGAN : ...........................................................................................................
...........................................................................................................

15. Muskuloskeletal
Ya Tidak
Nyeri Sendi : Ya
Bengkak :
Kaku sendi : Ya
Deformitas : Tidak
Spasme : Tidak
Kram : Tidak

50
Kelemahan otot : Ya
Masalah gaya : Ya
berjalan
Nyeri punggung : Ya
Pola latihan : ............................................................................................
Dampak ADL : ..................................................................................................
KETERANGAN : ...........................................................................................................
...........................................................................................................

1 Persyarafan
6
.

Ya Tidak
Headache : Tidak
Seizures : Tidak
Syncope : Tidak
Tic/tremor : Tidak
Paralysis : Tidak
Paresis : Ya
Masalah memori : Ya
KETERANGAN : ....................................................................................................
...........................................................................................................

5. POTENSI PERTUMBUHAN PSIKOSOSIAL DAN SPIRITUAL :


Psikososial YA Tidak
Cemas : Ya
Depresi : Tidak
Ketakutan : Ya
Insomnia : Ya
Kesulitan dalam mengambil : Ya

51
keputusan
Kesulitan konsentrasi : Ya
Mekanisme koping : Menonton tv atau mendengarkan radio

Persepsi tentang kematian : Menurut klien kematian akan segera menghampirinya


karena ia sudah tua jadi klien merasa harus melakukana apa yang masih bisa
dilakukan.

Dampak pada ADL: Klien masih melakukan aktivita seperti berkebun atau jalan-
jalan.

Spiritual
 Aktivitas ibadah : Klien jarang ke gereja tetapi sering berdoa di rumah
 Hambatan :Saat melakukan ibadah, klien sering lupa apa yang ingin
diucapkan.
KETERANGAN :Semenjakmemasukimasalansia, klien sering melakukan
ibadah di rumah tetapi sering lupa apa yang ingin diucapkannya.

6. LINGKUNGAN :

 Kamar : Klien berbagi kamar dengan istrinya

 Kamar mandi :Kamarmandikurangbersih

 Dalam rumah/ wisma : dalam rumah kurang rapi, banyak barang menumpuk

 Luar rumah :Luarrumah cukup bersih

7. NEGATIVE FUNCTIONAL CONSEQUENCES

1. Kemampuan ADL
Tingkat kemandirian dalam kehidupan sehari-hari (Indeks Barthel)

52
No Kriteria Dengan Mandiri Skor
Bantuan Yang
Didapat
1 Makan 5 10 5
2 Berpindah dari kursi roda ke tempat tidur, atau 5-10 15 10
sebaliknya
3 Personal toilet (cuci muka, menyisir rambut, gosok 0 5 0
gigi)
4 Keluar masuk toilet (mencuci pakaian, menyeka 5 10 5
tubuh, menyiram)
5 Mandi 0 5 0
6 Berjalan di permukaan datar (jika tidak bisa, dengan 0 5 5
kursi roda )
7 Naik turun tangga 5 10 10
8 Mengenakan pakaian 5 10 5
9 Kontrol bowel (BAB) 5 10 5
10 Kontrol Bladder (BAK) 5 10 5

2. Aspek Kognitif

MMSE (Mini Mental Status Exam)

N Aspek Nilai Nila Kriteria


o Kognitif maksim i
al Klie

53
n
1 Orientasi 5 4 Menyebutkan dengan benar :
Tahun : 2019 Hari :
Musim : ............................ Bulan :
.............................................
Tanggal :
2 Orientasi 5 4 Dimanasekarangkitaberada ?
Negara: …………………… Panti :
………………………………..
Propinsi: ………………….. Wisma :
……………………………..
Kabupaten/kota :
………………………………………………
…….
3 Registrasi 3 2 Sebutkan 3 namaobyek (misal : kursi, meja,
kertas), kemudian ditanyakankepadaklien,
menjawab :
1) Kursi 2). Meja 3). Kertas
4 Perhatiandankalkul 5 3 Meminta klien berhitung mulai dari 100
asi kemudian kurangi 7 sampai 5 tingkat.
Jawaban :
1). 93 2). 86 3). 79 4). 72 5).
65
5 Mengingat 3 1 Mintaklienuntukmengulangiketigaobyekpadap
oinke- 2 (tiappoinnilai 1)
6 Bahasa 9 6 Menanyakan pada klien tentang benda (sambil
menunjukan benda tersebut).
1). ...................................
2). ...................................
3). Minta klien untuk mengulangi kata berikut
:
“ tidak ada, dan, jika, atau tetapi )
Klien menjawab :

54
Minta klien untuk mengikuti perintah berikut
yang terdiri 3 langkah.
4). Ambil kertas ditangan anda
5). Lipat dua
6). Taruh dilantai.
Perintahkan pada klien untuk hal berikut (bila
aktifitas sesuai perintah nilai satu poin.
7). “Tutup mata anda”
8). Perintahkan kepada klien untuk menulis
kalimat dan
9) Menyalin gambar 2 segi lima yang saling
bertumpuk

Total nilai 30 20
Interpretasihasil :
24 – 30 : tidakadagangguankognitif
18 – 23 : gangguankognitifsedang
0 - 17 : gangguankognitifberat
Kesimpulan :…………………………………………………………………………………..

3. Tes Keseimbangan
Time Up Go Test
No Tanggal Pemeriksaan Hasil TUG (detik)

Rata-rata Waktu TUG

55
Interpretasi hasil

Interpretasi hasil:
Apabila hasil pemeriksaan TUG menunjukan hasil berikut:
>13,5 detik Resiko tinggi jatuh

>24 detik Diperkirakan jatuh dalam kurun


waktu 6 bulan

>30 detik Diperkirakan membutuhkan bantuan


dalam mobilisasi dan melakukan ADL

(Bohannon: 2006; Shumway-Cook,Brauer & Woolacott: 2000; Kristensen, Foss &


Kehlet: 2007: Podsiadlo & Richardson:1991)

4. Kecemasan, GDS
Pengkajian Depresi
Jawaban
No Pertanyaan
Ya Tdk Hasil
1. Anda puas dengan kehidupan anda saat ini 0 1 1
2. Anda merasa bosan dengan berbagai aktifitas dan kesenangan 0 1 1
3. Anda merasa bahwa hidup anda hampa / kosong 0 1 1
4. Anda sering merasa bosan 1 0 1
5. Anda memiliki motivasi yang baik sepanjang waktu 0 1 1
8. Anda takut ada sesuatu yang buruk terjadi pada anda 1 0 1
7. Anda lebih merasa bahagia di sepanjang waktu 0 1 1
8. Anda sering merasakan butuh bantuan 1 0 1
9. Anda lebih senang tinggal dirumah daripada keluar melakukan 0 1 1
sesuatu hal
10. Anda merasa memiliki banyak masalah dengan ingatan anda 1 0 0
11. Anda menemukan bahwa hidup ini sangat luar biasa 1` 0 1
12. Anda tidak tertarik dengan jalan hidup anda 0 1 1
13. Anda merasa diri anda sangat energik / bersemangat 1 0 1

56
14. Anda merasa tidak punya harapan 0 1 1
15. Anda berfikir bahwa orang lain lebih baik dari diri anda 1 0 1
Jumlah
(Geriatric Depressoion Scale (Short Form) dari Yesafage (1983) dalam
Gerontological Nursing, 2006)

Interpretasi :
Jika Diperoleh skore 5 atau lebih, maka diindikasikan depresi

5. Status Nutrisi

Pengkajian determinan nutrisi pada lansia:

No Indikators score Pemeriksaan

1. Menderita sakit atau kondisi yang mengakibatkan perubahan 2 ceklis


jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi

2. Makan kurang dari 2 kali dalam sehari 3 -

3. Makan sedikit buah, sayur atau olahan susu 2 -

4. Mempunyai tiga atau lebih kebiasaan minum minuman 2 -


beralkohol setiap harinya

5. Mempunyai masalah dengan mulut atau giginya sehingga tidak 2 -


dapat makan makanan yang keras

6. Tidak selalu mempunyai cukup uang untuk membeli makanan 4 -

7. Lebih sering makan sendirian 1 -

8. Mempunyai keharusan menjalankan terapi minum obat 3 kali 1 -


atau lebih setiap harinya

9. Mengalami penurunan berat badan 5 Kg dalam enam bulan 2 -


terakhir

10. Tidak selalu mempunyai kemampuan fisik yang cukup untuk 2 ceklis

57
belanja, memasak atau makan sendiri

Total score 4

(American Dietetic Association and National Council on the Aging, dalam


Introductory Gerontological Nursing, 2001)
Interpretasi:
0 – 2 : Good
3 – 5 : Moderate nutritional risk
6≥ : High nutritional risk
(Yang di centangaja yang dijumlah)

6. Hasil pemeriksaan Diagnostik


No Jenis pemeriksaan Tanggal Hasil
Diagnostik Pemeriksaan

7. Fungsi sosial lansia

APGAR KELUARGA DENGAN LANSIA


Alat Skrining yang dapat digunakan untuk mengkaji fungsi sosial lansia

58
NO URAIAN FUNGSI SKORE

1. Saya puas bahwa saya dapat kembali pada keluarga (teman- ADAPTATION 2
teman) saya untuk membantu pada waktu sesuatu
menyusahkan saya

2. Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman)saya PARTNERSHI 1


membicarakan sesuatu dengan saya dan mengungkapkan P
masalah dengan saya

3. Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) saya GROWTH 1


menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan
aktivitas / arah baru

4. Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) saya AFFECTION 2


mengekspresikan afek dan berespon terhadap emosi-emosi
saya seperti marah, sedih/mencintai

5. Saya puas dengan cara teman-teman saya dan saya RESOLVE 1


meneyediakan waktu bersama-sama

Kategori Skor: TOTAL 7


Pertanyaan-pertanyaan yang dijawab:
1). Selalu : skore 2
2). Kadang-kadang : skore 1
3). Hampir tidak pernah : skore 0

Intepretasi:
< 3 = Disfungsi berat
4 - 6 = Disfungsi sedang
> 6 = Fungsi baik

Smilkstein, 1978 dalam Gerontologic Nursing and health aging 2005

III.3 ANALISA DATA DAN DIAGNOSA

A. DATA FOKUS

59
NO DATA SUBYEKTIF DATA OBYEKTIF
1. Opa mengabaikan kebersihan dirinya Badan klien bau, kotor, berdaki, kuku
panjang
2 Opa tidak mampu membersihkan Rambut kusut, berantakan, kumis dan
dirinya sendiri jenggot tidak rapi.

3 Opa sering terbangun di malam hari Tidak menggunakan alat-alat mandi


untuk pergi ke toilet pada saat mandi dan tidak mandi
dengan bener

4 Oma mengatakan bahwa opa hanya Opa sering menguap pada siang hari
tidur 3-4 jam di malam hari Opa terlihat letih dan mengantuk pada
siang hari
5 Dua tahun yang lalu opa didiagnosis Beberapa kali opa bukannya kembali
penyakit Alzheimer ke kamar tidur malah membuka pintu
apartemen
6 Sekarang opa tidak mampu mengingat Opa sering keluyuran di luar dan tidak
kapan terakhir kali makan bisa kembali ke rumah

7 Oma menjadi waspada dan takut opa Hasil pemeriksaan GDS : 18, MMSE :
hilang 20, dan SPMSQ : 6.
8 Oma juga membuatkan jadwal
kegiatan yang sudah atau belum
dilakukan opa

B. ANALISA DATA

NO. DATA MASALAH


1. DS: Konfusi kronik
 Dua tahun yang lalu opa
didiagnosis penyakit Alzheimer
 Lansia mengatakan sekarang
tidak mampu mengingat kapan

60
terakhir kali makan
 Oma menjadi waspada dan takut
opa hilang
 Oma juga membuatkan jadwal
kegiatan yang sudah atau belum
dilakukan opa

DO:

 Beberapa kali opa bukannya


kembali ke kamar tidur malah
membuka pintu apartemen
 Opa sering keluyuran di luar dan
tidak bisa kembali ke rumah
 Hasil pemeriksaan GDS : 18,
MMSE : 20, dan SPMSQ : 6.
2. DS: Deficit perawatan diri:
 Opa mengabaikan kebersihan mandi
dirinya
 Opatidak mampu membersihkan
dirinya sendiri
DO:
 Badan klien bau, kotor, berdaki,
kuku panjang
 rambut kusut, berantakan, kumis
dan jenggot tidak rapi.
 tidak menggunakan alat-alat
mandi pada saat mandi dan tidak
mandi dengan bener

3. DS: Gangguan pola tidur


 Opa sering terbangun di malam
hariuntuk pergi ke toilet

61
 Oma mengatakan bahwa opa
hanya tidur 3-4 jam di malam hari
 Oma mengatakan pada siang hari
opa sering melakukan kegiatan
berkebun
 Oma mengatakan setiap malam
suara-suara tetangganya cukup
mengganggu
DO:
 Opa sering menguap pada siang
hari
 Opa terlihat letih dan mengantuk
pada siang hari

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Konfusi kronik pada Lansia X
2. Deficit perawatan diri: mandi pada Lansia X
3. Gangguan pola tidur pada Lansia X

III.4 INTERVENSI

No. Diagnosa NOC NIC


1. Konfusi Tujuan Umum : 1. Manajemen Demensia:
Kronik Setelah dilakukan tindakan keperawatan Keluyuran hal 162
..x24 jam diharapkan konfusi kronik pada  Identifikasi pola biasa dari
klien dapat berkurang/ tidak terjadi perilaku berkeliaran pasien
Tujuan Khusus :  Beri tanda pasien dengan gelang
1. Tingkat Demensia: hal 569 atau kalung tanda medis
 Kesulitan mengingat  Identifikasi dan singkirkan
peristiwa yang baru saja potensi bahaya bagi pasien di

62
terjadi dipertahankan pada lingkungan sekitarnya
cukup berat (2) dan
ditingkatkan ke ringan (4) 2. Latihan Memori: hal 141
 Kesulitan menemukan jalan  Stimulasi ingatan dengan cara
ke tempat yang lazim mengulangi pemikiran pasien
dikenal dipertahankan pada yang terakhir diekspresikan,
cukup berat (2) dan dengan cara yang tepat
ditingkatkan ke ringan (4)  Dukung pasien untuk
 Keluyuran yang tidak aman berpartisipasi dalam program
dipertahankan pada cukup kelompok latihan mengingat,
berat (2) dan ditingkatkan dengan cara yang tepat.
ke tidak ada (5)  Implementasikan teknik
mengingat yang tepat. Misalnya
2. Memori: hal 311 visual imagery, alat yang
 Mengingat informasi baru membantu ingatan, membuat
saja terjadi secara akurat daftar, permainan ingastan,atau
dipertahankan pada sangat berlatih mengulang informasi.
terganggu (1) dan
ditingkatkan ke sedikit 3. Stimulasi Kognisi hal 423
terganggu (4)  Orientasikan klien
 Mengingat informasi yang terhadap waktu, tempat
terbaru secara akurat dan orang
dipertahankan pada sangat  Rangsang memori debgan
terganggu (1) dan mengulang pemikiran
ditingkatkan ke sedikit terakhir klien
terganggu (4)  Stimulasi perkembangan
klien dengan melibatkan
3. Orientasi kognitif: hal 325 aktifitas untuk
 Mengidentifikasi tempat meningkatkan pencapaian
saat ini dipertahankan pada dan pembelajaran dengan
banyak terganggu (3) dan memenuhi kebutuhan
ditingkatkan ke tidak klien.
terganggu (5)  Tingkatkan atau ulang

63
 Mengidentifikasi peristiwa informasi.
saat ini yang signifikan
dipertahankan pada banyak
terganggu (2) dan
ditingkatkan ke tidak
terganggu (5)

2. Defisit Setelah dilakukan tindakan keperawatan Nic:Bantuan Perawatan


Perawatan selama 3 x 24 jam diharapkan klien dapat Diri:Mandi/Kebersihan (hal:82)
Diri melakukan kebersihan diri 1. Pertimbangkan usia pasien saat
mempromosikan aktivitas
Noc:Perawatan Diri:Mandi (haln441) perawatan diri
1. Mengambil alat mandi 2. Letakan
dipertahankan pada sangat handuk,sabun,deodoran,alat
terganggu ditingkatkan ke sedikit cukur, dan asesoris lain yang
terganggu (1>4) diperlukan di sisi tempat tidur
2. Mandi dengan bersiram atau kamar mandi
dipertahankan pada sangat 3. Fasilitasi pasien untuk mandi
terganggu ditingkatkan ke sedikit sendiri, dengan tepat
terganggu (1>4> 4. Berikan bantuan sampai pasien
3. Mencuci badan bagian atas benar-benar mampunmerawat
dipertahankan pada sangat diri secara mandiri
trganggu ditingkatkan ke sedikit 5. Monitor kebersihan kuku, sesuai
terganggu (1>4) dengan kemampuan merawat diri
Noc:Perawatan Diri pasien
:Kebersihan(Haln438) Nic:Perawatan Rambut dan Kulit
1. Mengeramas rambut dipertahankan Kepala (hal:385)
pada sangat terganggu ditingkatkan 1. Cuci dan kondisikan
ke sedikit terganggu (1>4) rambut,memijatkan sampo ke
2. Memperhatikan kuku jari tangan kulit kepala
dipertahankan pada sangat 2. Sikat atau sisir rambut dengan
terganggu ditingkatkan ke sedikit mengunakan sisir bergerigi
terganggu(1>4) jarang

64
3. Mempertahankan kebersihan tubuh 3. Atur rambut
dipertahankan pada saangat Nic:Moodifikasi Perilaku (hal:226)
terganggu ditingkatkan ke sedikit 1. Tentukan motivasi pasien
terganggu (1>4) terhadap perlunya perubahan
Noc:Motivasi(hal:317) perilaku
1. Menggembangkan rencana 2. Dukung untuk mengganti
tindakan dipertahankan pada tidak kebiasaan yang tidak diinginkan
pernah menunjukkan ditingkatkan dengan kebiasaan yang
ke sering menunjukkan<1>4) diinginkan
2. Memulai perilaku mencapai target 3. Fasilitasi keterlibatan keluarga
yang diarahkan dari diri sendiri dalam proses modifikasi perilaku
dipertahankan pada tidak pernah dengan cara yang tepat
menunjukkan ditingkatkan ke
sering menunjukkan (1>4)
3. Menerima kesempatan atas
kemampuan untuk melakukan
tindakan dipertahankan pada tidak
pernah menunjukkan ditingkatkan
ke sering menunjukkan (1>4)

3. Gangguan Tujuan Umum : 1. Peningkatan tidur (348)


Pola Setelah dilakukan tindakan keperawatan  Tentukan pola tidur/aktivitas
Tidur 3x24 jam lansia diharapkan dapat pasien
memperbaiki pola tidurnya  Jelaskan pentingnya tidur
Tujuan Khusus : yang cukup selama sakit
1. Kelelahan : Efek yang  Monitor/catat pola tidur
mengganggu (122) pasien dan jumlah jam tidur
 Malaise dipertahankan pada  Mulai terapkan langkah-
cukup berat (2) dan langkah kenyamanan seperti
ditingkatkan ke ringan (4) pijat, pemberian posisi, dan
 Gangguan pada rutinitas sentuhan afektif
dipertahankan pada sedang  Ajarkan pasien dan orang
(3) dan ditingkatkan ke terdekat mengenai faktor

65
tidak ada (5) yang berkontribusi terjadinya
 Gangguan kinerja peran gangguan pola tidur
dipertahankan pada cukup 2. Manajemen Lingkungan :
berat (2) dan ditingkatkan Kenyamanan (192)
ke ringan (4)  Tentukan tujuan pasien
dan keluarga dalam
2. Gangguan gaya hidup bagi mengelola lingkungan
caregiver : (99) dan kenyamanan yang
 Tidur dipertahankan pada optimal
banyak terganggu (2) dan  Ciptakan lingkungan yang
ditingkatkan ke sedikit tenang dan mendukung
terganggu (4)  Pertimbangkan sumber
 Gangguan lingkungan sumber ketidaknyamanan
tempat tinggal ( lingkungan yang
dipertahankan pada cukup mengganggu )
berat (2) dan ditingkatkan 3. Dukungan Pengasuhan (93)
ke tidak ada (5)  Monitor interaksi
keluarga dalam
3. Status kenyamanan : permasalahan berkaitan
Lingkungan (530) dengan pasien
 Lingkungan yang kondusif  Mengajarkan caregiver
untuk dipertahankan pada mengenai pemberian
cukup terganggu (3) dan terapi bagi pasien sesuai
ditingkatkan ke tidak dengan keinginan pasien
terganggu (5)  Menyediakan informasi
 Tempat tidur yang nyaman mengenai pasien sesuai
dipertahankan pada sedikit dengan apa yang menjad
terganggu (4) dan keinginan pasien
ditingkatkan ke tidak
terganggu (5)
 Adaptasi linkungkan yang
dibutuhkan dipertahankan
pada sedikit terganggu (4)

66
dan ditingkatkan ke tidak
terganggu (5)

BAB IV

PENUTUP

V.1 Kesimpulan

Demensia merupakan hilangnya ingatan yang bisa timbul bersama dengan gejala
gangguan perilaku maupun psikologis pada seseorang (Ikawati, 2009).
Penyakit Alzheimer adalah penyakit degeneratif otak dan penyebab paling umum
dari demensia. Hal ini ditandai dengan penurunan memori, bahasa, pemecahan masalah dan
keterampilan kognitif lainnya yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk melakukan
kegiatan sehari-hari. Penurunan ini terjadi karena sel-sel saraf (neuron) di bagian otak yang
terlibat dalam fungsi kognitif telah rusak dan tidak lagi berfungsi normal.
Etiologi Alzheimer antara lain usia, riwayat keluarga, faktor lingkungan, Faktor
trauma : Traumatic Brain Injury (TBI), mengalami sindrom down, dan gangguan kognitif

1. Tanda dan Gelajanya Daya ingat yang terus terjadi pada penderita demensia, "lupa"
menjadi bagian keseharian yang tidak bisa lepas.

2. Gangguan orientasi waktu dan tempat

3. Penurunan dan ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat yang benar

4. Ekspresi yang berlebihan

5. Adanya perubahan tingkah laku seperti: acuh tak acuh, menarik diri dan gelisah.

Pengobatan yang digunakan saat ini diantaranya adalah terapi simptomatik, sosial,
terapi psikiatri, serta dukungan keluarga. Selain itu, penggunaan Acethylcolinsterase
inhibitors atau N-methyl D-aspartate (NMDA) inhibitor (Memantin) dapat mempengaruhi
transmisi glutamat serta dapat meningkatkan fungsi kognitif pada penyakit Alzheimer
stadium awal.

67
V.2 Saran
Makalah sangat jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu saya mengharapkan
kritik dan saran dari dosen pembimbing dan teman – teman sesama mahasiswa. Dan
lebih memperhatikan masalah masalah dalam keluarga.

DAFTAR PUSTAKA

 Ginsberg, Lionel. 2007. Lecture Notes : Neurology. Penerbit Erlangga


 Ide, pangkalan. 2008. Seri tune up gaya hidup penghambat alzheimer.Jakarta : PT Elex
media komputindo

 Meiner, Sue. 2011. Gerontologic Nursing. USA: ELSEVIER.


 Elvira, Sylvia D dan Hadisukanto, Gitayanti. 2010. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan
Penerbit FK UI.
 Stanley. 2007. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta: EGC.
 https://www.alzi.or.id/cara-mengurangi-resiko-demensia/ diakses pada tanggal 5 Mei
2019 pukul 11.00 WIB
 Stanley, Mickey . 2006. Buku Ajar Keperawatan Gerontik Edisi 2. Jakarta : EGC
 http://www.depkes.go.id/development/site/jkn/index.php?cid=1975&id=langkah-cerdik-
mencegah-penyakit-tidak-menular-(ptm).html diakses pada tanggal 5 Mei 2019 pukul
11.15 WIB
 Sunaryo, Rahayu Wijayanti. 2015. Asuhan Keperawatan Gerontik. Yogyakarta. Andi
Offset.
 Miller, C.A. 2011. Nursing for wellness in older adults 6th ed. Philadelphia: Wolters
Kluwer- Lippincott William & Wilkins

68