You are on page 1of 75

Asuhan Keperawatan Diabetes Mellitus pada Lansia

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Gerontik

Dosen Pengampu: Ns. Sang Ayu M, S.Kep, Sp. Kep. Kom

Disusun Oleh:

Endang Dwi S 1610711055 Januarita Akhrina 1610711057


Ismi Zakiah 1610711056 Fina Alfya S 1610711058
Amelia Diah Wardani 1610711065 Purwandari Nurfaizah 1610711059
Gustina Rahmiandini P 1610711071 Amastia Ikayuwandari 1610711060
An’nisaa Eka Rahmawati 1610711072 Assyfa Siti R 1610711061
Leni Marlia 1610711073 Adinda Zein Nur 1610711062
Hannisa Rizki Riansyah 1610711079 Putri Zalfa 1610711064
Diah Ayu K 1610711067 Farah Nabilah 1610711068
Cintya Veronica 1610711069 Tessya Deant E 1610711070
Erliana Mandasari 1610711074 Asya Shalbiah M 1610711075
Anggryta Putry 1610711082 Nessa Ishmah M 1610711083
Ardhita Qory 1610711063

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL "VETERAN" JAKARTA

TAHUN 2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan
hidayah-Nya kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah “Asuhan Keperawatan
Gerontik dengan Diabetes Mellitus” ini tepat pada waktu yang telah ditentukan. Makalah ini
diajukan guna memenuhi tugas yang diberikan dosen pada mata kuliah Keperawatan
Gerontik.

Pada kesempatan ini juga kami berterima kasih atas bimbingan dan masukan dari
semua pihak yang telah memberi kami bantuan wawasan untuk dapat menyelesaikan makalah
ini, baik itu secara langsung maupun tidak langsung.

Kami menyadari isi makalah ini masih jauh dari kategori sempurna, baik dari segi
kalimat, isi, maupun dalam penyusunan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun
dari dosen mata kuliah yang bersangkutan dan rekan-rekan semuanya, sangat kami harapkan
demi kesempurnaan makalah ini dan makalah-makalah selanjutnya.

Depok, April 2019

Kelompok

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................ ii

DAFTAR ISI................................................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................... 5

I.1 Latar Belakang ............................................................................................................... 5

I.2 Rumusan Masalah ........................................................................................................... 6

I.3 Tujuan Penulisan ............................................................................................................ 6

BAB II TINJAUAN TEORI...................................................................................................... 8

II.1 Prevalensi Diabetes Mellitus ......................................................................................... 8


II.2 Pengertian Diabetes Mellitus ......................................................................................... 10
II.3 Etiologi Diabetes Mellitus ............................................................................................. 11
II.4 Tanda dan Gejala Diabetes Mellitus ............................................................................. 12
II.5 Komplikasi Diabetes Mellitus ...................................................................................... 12
II.6 Klasifikasi Diabetes Mellitus ........................................................................................ 14
II.7 Penatalaksanaan Diabetes Mellitus ............................................................................... 15
II.8 Terapi Diabetes Mellitus ............................................................................................... 16
II.9 Riwayat Alamiah Penyakit Diabetes Mellitus .............................................................. 17
II.10 Pencegahan Penyakit Diabetes Mellitus ..................................................................... 18
II.11 Etika dan Peran Perawat .............................................................................................. 19
II.12 Terapi Modalitas ......................................................................................................... 25
II.13 Teknik Komunikasi Lansia ......................................................................................... 26
II.14 Teori Penuaan sesuai Kasus ........................................................................................ 32
II.15 Perawatan Lansia dengan Diabetes Mellitus .............................................................. 34
II.16 Perubahan Sistem Pencernaan ..................................................................................... 37

BAB III PROSES KEPERAWATAN ...................................................................................... 48

III.1 Kasus ............................................................................................................................ 48

III.2 Pengkajian .................................................................................................................... 51

III.3 Analisa Data dan Diagnosa .......................................................................................... 65

III.4 Intervensi Keperawatan ................................................................................................ 68

iii
BAB IV PENUTUP .................................................................................................................... 74

IV.1 Simpulan ...................................................................................................................... 74

IV.2 Saran ............................................................................................................................ 74

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................. 75

iv
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Diabetes mellitus merupakan suatu penyakit menahun yang ditandai dengan


kadar glukosa darah melibihi batas normal. Apabila penyakit ini dibiarkan tak terkendali
maka akan menimbulkan komplikasi-komplikasi yang dapat berakibat fatal, termasuk
penyakit jantung, ginjal, kebutaan, dan mudah terkena ateroskelosis.

Gejala khas diabetes mellitus berupa pliuria, polidipsia, lemas, dan berat badan
turun (meskipun nafsu makan meningkat), hiperglekimia, dan glukosuria. Gejala lain
yang mungkin dikemukakan pasien adalah kesemutan, gatal, mata kabur, dan impoten
pada pasien pria serta pruritus vulvae pada pasien wanita, biasanya diabetes muncul pada
usia diatas 40 tahun dan anak-anak yang masing-masing berlainan sifatnya.

Umumnya, diabetes mellitus disebabkan oleh rusaknya sebagian kecil/sebagian


besar sel-sel beta dari pulau-pulau langerhans pada pankreas yang berfungsi
menghasilkan insulin, sehingga terjadi kekurangan insulin. Disamping itu, DM (diabetes
melitus) juga dapat terjadi karena gangguan terhadap fungsi insulin dalam memasukkan
glukosa kedalam sel.

Jika tidak ditangani secara cepat dan tepat, dalam jangka panjang diabetes dapat
menimbulkan berbagai komplikasi. Jika tidak waspada, DM bisa mengakibatkan
gangguan pembuluh darah otak (stroke), pembuluh darah mata (gangguan penglihatan),
pembuluh darah jantung (penyakit jantung koroner), pembuluh darah ginjal (gagal ginjal),
pembuuh darah kaki (luka yang sukar sembuh/gangren).

Pengobatan DM secara langsung terhadap kerusakan pulau-pulau langerhans di


pankreas belum ada langkah utama pengobatan dapat dilakukan dengan cara melakukan
diet, yakni mengurangi kalori dan meningkatkan konsumsi vitamin, melakukan olah raga
secara teratur, mengonsumsi obat-obatan hipoglekimia oral, melakukan terapi insulin.

5
Ternyata sampai sekarang ini masih saja penderita DM bertambah banyak. Hal
tersebut disebabkan karena masih banyak masyarakat khususnya penderita DM yang tidak
tanggap terhadap penyakitnya. Hal itu mungkin disebabakan karena ketidaktahuannya
akan penyakit DM tersebut, tidak ada biaya berobat atau ketidakpedulian terhadap DM itu
sendiri. Padahal sudah jelas betapa penyakit DM itu dapat menimbulkan komplikasi yang
dapat berakibat fatal.

I.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana prevalensi diabetes mellitus?


2. Apa pengertian diabetes mellitus?
3. Apa etiologi diabetes mellitus?
4. Apa tanda dan gejala diabetes mellitus?
5. Apa komplikasi diabetes mellitus?
6. Apa klasifikasi diabetes mellitus?
7. Bagaimana penatalaksanaan diabetes mellitus?
8. Bagimana terapi diabetes mellitus ?
9. Apa saja riwayat alamiah penyakit diabetes mellitus?
10. Bagaimana pencegahan penyakit diabetes mellitus?
11. Apa saja data tambahan dalam pengkajian diabetes mellitus?
12. Bagaimana etika dan peran perawat?
13. Apa diagnosa dan intervensi keperawatan diabetes mellitus?
14. Bagaimana terapi modalitas diabetes mellitus?
15. Bagaimana teknik komunikasi lansia?
16. Apa saja teori penuaan sesuai kasus?
17. Bagaimana perawatan lansia dengan diabetes mellitus?

I.3 Tujuan Penelitian

1. Mengetahui prevalensi diabetes mellitus


2. Mengetahui pengertian diabetes mellitus
3. Mengetahui etiologi diabetes mellitus
4. Mengetahui tanda dan gejala diabetes mellitus
5. Mengetahui komplikasi diabetes mellitus
6. Mengetahui klasifikasi diabetes mellitus

6
7. Mengetahui penatalaksanaan diabetes mellitus
8. Mengetahui terapi diabetes mellitus
9. Mengetahui riwayat alamiah penyakit diabetes mellitus
10. Mengetahui pencegahan penyakit diabetes mellitus
11. Mengetahui data tambahan dalam pengkajian diabetes mellitus
12. Megetahui etika dan peran perawat
13. Mengetahui diagnosa dan intervensi keperawatan diabetes mellitus
14. Mengetahui terapi modalitas diabetes mellitus
15. Mengetahui teknik komunikasi lansia
16. Mengetahui teori penuaan sesuai kasus
17. Mengetahui perawatan lansia dengan diabetes mellitus

7
BAB II

TINJAUAN TEORI

II. 1 Prevalensi Diabetes Mellitus

Diabetes mellitus (DM) merupakan kumpulan penyakit metabolisme yang ditandai


dengan peningkatan kadar gula darah (hiperglikemia) yang disebabkan karena kegagalan
sekresi insulin atau kerja insulin. Hiperglikemia yang kronis dapat menyebabkan
kerusakan jangka panjang, ketidakfungsian dan kegagalan dari berbagai organ seperti
mata, ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah (American Diabetes Association, 2013).

Jumlah penderita DM di dunia semakin bertambah setiap tahunnya. Hal ini


dapat disebabkan karena peningkatan jumlah populasi, usia, prevalensi obesitas dan
penurunan aktivitas fisik (Puji, 2015). Menurut International Diabetes Federation (IDF)
pada tahun 2017 prevalensi DM di dunia mencapai 424,9 juta jiwa dan diperkirakan akan
mencapai 628,6 juta jiwa pada tahun 2045. Indonesia merupakan negara dengan penderita
DM terbanyak ke enam di dunia dengan jumlah penderita DM mencapai 10,3 juta jiwa.
Diperkirakan angka tersebut akan terus mengalami kenaikan hingga mencapai 16,7 juta
jiwa pada tahun 2045.

Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menyebutkan bahwa
terjadi peningkatan prevalensi DM dari tahun 2007-2013 sebanyak 1%. Pada tahun 2007
prevalensi DM di Indonesia sebanyak 1,1% dan meningkat menjadi 2,1% pada tahun
2013. Propinsi Yogyakarta menempati posisi pertama dengan jumlah penderita DM
sebanyak 72 ribu jiwa.

8
9
II. 2 Pengertian Diabetes Melitus

Menurut WHO, Diabetes Melitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau
gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar

10
gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat lipid, dan protein sebagai
akibat dari insufiensi fungsi insulin.
Diabetes Melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kinerja insulis,
atau kedua-duanya ( ADA, 2010 )

II. 3 Etiologi Diabetes Melitus


Dari hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh para ahli kedokteran,
ditemukan teori baru yang menyatakan bahwa penyakit diabetes melitus tidak hanya
disebabkan oleh faktor keturunan (genetik), tetapi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor
lain yang multi-kompeks, antara lain kebiasaan hidup dan lingkungan. Orang yang
tubuhnya membawa gen diabetes, belum tentu akan menderita penyakit gula, karena
masih ada beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit ini pada
seseorang, yaitu antara lain makan yang berlebihan/ kegemukan, kurang gerak atau jarang
berolahraga, dan kehamilan.
1. Makan yang berlebihan menyebabkan gula dan lemak dalam tubuh menumpuk secara
berlebihan. Kondisi tersebut menyebabkan kelenjar pankreas terpaksa harus bekerja
keras memproduksi insulin untuk mengolah gula yang masuk. Jika suatu saat pankreas
tidak mampu memenuhi kebutuhan hormon insulin yang terus bertambah, maka
kelebihan gula tidak dapat terolah lagi dan akan masuk kedalam darah serta urine ( air
kencing ). Data statistik di Amerika menunjukan bahwa 70% dari total penderita
diabetes melitus, merupakan orang yang memiliki berat tubuh berlebihan (obesitas).
2. Pada saat tubuh melakukan aktivitas/gerakan, maka sejumlah gula akan dibakar untuk
dijadikan tenaga gerak. Sehingga jumlah gula dalam tubuh akan berkurang, dan
dengan demikian kebutuhan akan hormon insulin juga berkurang. Pada orang yang
kurang gerak dan jarang olahraga, zat makanan yang masuk kedalam tubuh tidak
dibakar, tetapi hanya akan ditimbun dalam tubuh sebagai lemak dan gula. Proses
pengubahan zat makanan menjadi lemak dan gula, memerlukan hormon insulin.
Namun, jika hormon insulin kurang mencukupi, maka akan timbul gejala penyakit
diabetes melitus.
3. Pada saat hamil, untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan janinnya, seorang ibu
secara naluri akan menambah jumlah konsumsi makanannya, sehingga umumnya berat
badan ibu hamil akan naik sekitar 7-10 kg. Pada saat penambahan jumlah konsumsi

11
makanan tersebut terjadi, jika ternyata prosuksi insulin kurang mencukupi maka akan
timbul gejala penyakit diabetes melitus.

II. 4 Tanda dan Gejala Diabetes Melitus


 Gejala yang sering muncul pada DM, yaitu :
a. Poliuria (banyak dan sering kencing)
b. Polipagia (banyak makan)
c. Polidipsi (banyak minum)
 Kemudian diiringi dengan keluhan-keluhan :
a. Kelemahan tubuh, lesu, tidak bertenaga.
b. Berat badan menurun
c. Rasa kesemutan, karenairitasi (perangsangan) pada serabut-serabut saraf
d. Kelainan kulit, gatal-gatal, bisul-bisul
e. Infeksi saluran kencing
f. Kelainan ginjal kalogi: keputihan
g. Infeksi yang sukar sembuh
 Pada pemeriksaan laboratorium:
a. Kadar gula darah meningkat
b. Peningkatan plasma proinsulin dan plasma C polipeptida
c. Glukosuria

II. 5 Komplikasi Diabetes Melitus


Komplikasi diabetes mellitus diklasifikasikan menjadi akut dan kronis. Yang
termasuk dalam komplikasi akut adalah hipoglikemia, diabetes ketoasidosis (DKA),
dan hyperglycemic hyperosmolar nonketocic coma (HHNC). Yang termasuk dalam
komplikasi kronis adalah retinopati diabetic, nefropati diabetic, neuropati, dislipidemia,
dan hipertensi.
 Komplikasi akut
a) Diabetes ketoasidosis
Diabetes ketoasidosis adalah akibat yang berat dari deficit insulin yang berat pada
jaringan adipose, otot skeletal, dan hepar. Jaringan tersebut termasuk sangat
sensitive terhadap kekurangan insulin. DKA dapat dicetuskan oleh infeksi
(penyakit).

12
 Komplikasi kronis:
a) Retinopati diabetic
Lesi paling awal yang timbul adalah mikroaneurism pada pembuluh retina. Terdapat
pula bagian iskemik, yaitu retina akibat berkurangnya aliran darah retina. Respon
terhadap iskemik retina ini adalah pembentukan pembuluh darah baru, tetapi
pembuluh darah tersebut sangat rapuh sehingga mudah pecah dan dapat
mengakibatkan perdarahan vitreous. Perdarahan ini bisa mengakibatkan ablasio
retina atau berulang yang mengakibatkan kebutaan permanen.
b) Nefropati diabetic
Lesi renal yang khas dari nefropati diabetic adalah glomerulosklerosis yang nodular
yang tersebar dikedua ginjal yang disebut sindrom Kommelstiel-Wilson.
Glomeruloskleriosis nodular dikaitkan dengan proteinuria, edema dan hipertensi.
Lesi sindrom Kommelstiel-Wilson ditemukan hanya pada DM.
c) Neuropati
Neuropati diabetic terjadi pada 60 – 70% individu DM. neuropati diabetic yang
paling sering ditemukan adalah neuropati perifer dan autonomic.
d) Displidemia
Lima puluh persen individu dengan DM mengalami dislipidemia.
e) Hipertensi
Hipertensi pada pasien dengan DM tipe 1 menunjukkan penyakit ginjal,
mikroalbuminuria, atau proteinuria. Pada pasien dengan DM tipe 2, hipertensi bisa
menjadi hipertensi esensial. Hipertensi harus secepat mungkin diketahui dan
ditangani karena bisa memperberat retinopati, nepropati, dan penyakit
makrovaskular.
f) Kaki diabetic
Ada tiga factor yang berperan dalam kaki diabetic yaitu neuropati, iskemia, dan
sepsis. Biasanya amputasi harus dilakukan. Hilangnya sensori pada kaki
mengakibatkan trauma dan potensial untuk ulkus. Perubahan mikrovaskuler dan
makrovaskuler dapat mengakibatkan iskemia jaringan dan sepsis. Neuropati,
iskemia, dan sepsis bisa menyebabkan gangren dan amputasi.
g) Hipoglikemia
Hipoglikemia adalah keadaan dengan kadar glukosa darah di bawah 60 mg/dl, yang
merupakan komplikasi potensial terapi insulin atau obat hipoglikemik oral.

13
Penyebab hipoglikemia pada pasien sedang menerima pengobatan insulin eksogen
atau hipoglikemik oral.

II. 6 Klasifikasi Diabetes Mellitus

Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2016, klasifikasi DM


yaitu DM tipe 1, DM tipe 2, DM gestasional, dan DM tipe lain. Namun jenis DM yang
paling umum, yaitu DM tipe 1 dan DM tipe 2.

 Diabetes Mellitus Tipe 1


DM tipe 1 merupakan kelainan sistemik akibat terjadinya gangguan metabolik glukosa
yang ditandai dengan hiperglikemia kronik. Keadaan ini disebabkan oleh kerusakan sel
beta pankreas baik oleh proses autoimun maupun Idiopatik. Proses autoimun ini
menyebabkan tubuh kehilangan kemampuan untuk memproduksi insulin karena sistem
kekebalan tubuh menghancurkan sel yang bertugas memproduksi insulin sehingga
produksi insulin berkurang atau terhenti (Rustama dkk, 2010). DM tipe 1 dapat
menyerang orang semua golongan umur, namun lebih sering terjadi pada anak-anak.
Penderita DM tipe 1 membutuhkan suntikan insulin setiap hari untuk mengontrol
glukosa darahnya (IDF, 2015). DM tipe ini sering disebut juga Insulin Dependent
Diabetes Mellitus (IDDM), yang berhubungan dengan antibody berupa Islet Cell
Antibodies (ICA), Insulin Autoantibodies(IAA), dan Glutamic Acid Decarboxylase
Antibodies (GADA). 90% anak-anak penderita IDDM mempunyai jenis antibodi ini
(Bustan, 2007).
 Diabetes Mellitus Tipe 2
DM tipe 2 atau yang sering disebut dengan Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus
(NIDDM) adalah jenis DM yang paling sering terjadi, mencakup sekitar 85% pasien
DM. Keadaan ini ditandai oleh resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif. DM
tipe ini lebih sering terjadi pada usia diatas 40 tahun, tetapi dapat pula terjadi pada
orang dewasa muda dan anak-anak (Greenstein dan Wood, 2010).

14
II. 7 Penatalaksanaan Diabetes Melitus
1. Mempertimbangakan Nutrisi yang Tepat
Tujuan umum : membantu klien dengan DM meningkatkan pengendalian metabolisme
dengan mengubah prilaku makan.
Tujuan khusus : memperbaiki kadar lemak da glukosa, menyediakan asupan makanan
hari ke hari secara konsisten (DM Tipe-1), memfasilitasi pengelolaan berat badan (DM
Tipe-2), dan memberikan nutrisi adekuat untuk seluruh tahap kehidupan.
2. Meningkatkan Aktifitas Fisik Teratur
Aktifitas fisik menurunkan kadar glukosa darah dengan menigkatkan metabolisme
karbohidrat, membantu menjaga dan menurunkan kadar high-density
lipoprotein (HDL), menurunkan kadar trigliserid, menurunkan tekanan darah, serta
mengurangi ketegangan dan stres.
3. Pengobatan
a. Obat-Obatan Antidiabetes Oral : Sulfoniurea, Biguanid, Meglitinid
mimetik, dan Amylonomimetik.
b. Terapi Insulin : Klien dengan DM tipe 1 mengasilkan cukup insulin untuk
menopang kehidupan. Klien bergantung pada pemberian insulin eksogen harian.
Klien dengan DM tipe 2 tidak begantung pada eksogen untuk bertahan hidup.
Namun DM tipe 2 mungkin butuh untuk memakai insulin guna mengendalikan
glukosa adekuat, khususnya pada saat stres atau sakit

15
c. Terapi Pompa Insulin : Memperbaiki glukosa darah dengan cara infus insulin
subkutan secara terus-menerus.
d. Insulin Hirup : Dipakai yang memiliki DM tipe 1 dan 2 usia >18 tahun. Produknya
yaitu Exubera. Insulin ini berbentuk bubuk.
e. Terapi DM Intensif :Pengobatan insulin lebih dari 3 kali suntik dalam sehari.
f. Terapi Kombinasi : Penggunaan lebih dari 2 obat antidiabetes oral atau obat oral
dikombinasi dengan insulin.

II. 8 Terapi Diabetes Mellitus

1. Terapi Nutrisi dan Pengaturan Diet


Terapi nutrisi medis dianjurkan untuk semua pasien. Untuk tipe 1 DM,
fokusnya adalah pada fisiologis yang mengatur pemberian insulin dengan diet
seimbang untuk mencapai dan mempertahankan berat badan yang sehat.
Merencanakan makan dengan jumlah karbohidrat yang moderat dan rendah lemak
jenuh, dengan fokus pada makanan seimbang. Pasien dengan DM tipe 2 sering
membutuhkan keseimbangan kalori untuk meningkatkan berat badan (DiPiro, 2015).

Dianjurkan diet dengan komposisi makanan yang seimbang dalam hal


karbohidrat, lemak, dan protein sesuai dengan kecukupan gizi yang baik sebagai
berikut:

• Karbohidrat : 60-70%
• Protein : 10-15%
• Lemak : 20-25%
Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur, stres akut,
dan kegiatan fisik, yang pada dasarnya ditujukan untuk mencapai danmempertahankan
berat badan ideal (DEPKES RI, 2005).

2. Olahraga
Berolahraga secara teratur dapat menurunkan dan menjaga kadar gula darah
tetap normal. Prinsipnya, tidak perlu olah raga berat, olah raga ringan asal dilakukan
secara teratur akan sangat bagus pengaruhnya bagi kesehatan. Disarankan olah raga
yang bersifat CRIPE (Continuous, Rhytmical, Interval,Progressive, Endurance
Training). Sedapat mungkin mencapai zona sasaran 75-85% denyut nadi maksimal
(220-umur), disesuaikan dengan kemampuandan kondisi penderita. Beberapa contoh
olah raga yang disarankan, antara lain jalan atau lari pagi, bersepeda, berenang, dan
16
lain sebagainya. Olahraga aerobik ini paling tidak dilakukan selama total 30-40 menit
per hari didahului dengan pemanasan 5-10 menit dan diakhiri pendinginan antara 5-10
menit. Olah raga akan memperbanyak jumlah dan meningkatkan aktivitas reseptor
insulin dalam tubuh dan juga meningkatkan penggunaan glukosa (DEPKES RI, 2005).
Selain itu, latihan aerobik dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan kontrol glikemik
dan dapat mengurangi faktor risiko kardiovaskular, membantu untuk penurunan berat
badan atau pemeliharaan, dan meningkatkan kesehatan (DiPiro, 2015).

3. Berhenti Merokok
Kandungan nikotin dalam rokok dapat mengurangi penyerapan glukosa oleh
sel (Tjay& Raharja, 2007). Dari penelitian yang dilakukan terhadap subyek uji pasien
lansia bahwa merokok 2 batang dalam sehari dapat menyebabkan resiko nefropati dan
menghambat absorbsi insulin (Lee, 2009).

II. 9 Riwayat Alamiah Penyakit Diabetes Melitus

Terdapat 5 tahap riwayat alamiah penyakit diabetes melitus, yaitu :

1. TahapPrepatogenesis
Pada kondisi ini, individu belum merasakan gejala (simptom) dan belum dinyatakan
diabetes. Tahap prepatogenesis dapat berpindah menjadi pre diabetes dipengaruhi
oleh faktor resiko masing-masing individu.
2. TahapPrediabetes
Pre-diabetes adalah kondisi dimana kadar gula darah seseorang berada diantara
kadar normal dan diabetes, lebih tinggi dari pada normal tetapi tidak cukup tinggi
untuk dikatagorikan ke dalam diabetes tipe 2. Pada masa pre-diabetes ini belum
terdapat abnormalitas dari metabolisme, tapi sudah membawa faktor genetik(carriers).
Kondisi pra-diabetes merupakan faktor risiko untuk diabetes, serangan jantung
dan stroke. Apabila tidak dikontrol dengan baik, kondisi pra-diabetes dapat
meningkat menjadi diabetes tipe 2 dalam kurun waktu 5-10 tahun.Ada dua tipe
kondisi pra-diabetes, yaitu :
a. Impaired Fasting Glucose (IFG), yaitu keadaan dimana kadar glukosa darah puasa
seseorang sekitar 100-125 mg/dl (kadar glukosa darah puasa normal: <100mg/dl).
b. Impaired Glucose Tolerance (IGT) atau Toleransi Glukosa Terganggu (TGT),
yaitu keadaan dimana kadar glukosa darah seseorang pada uji toleransi glukosa

17
berada di atas normal tetapi tidak cukup tinggi untuk dikategorikan ke dalam
kondisidiabetes.
3. Tahap Diabetes Kimiawi
Pasien masih bersifat asimptomatik (belum timbul gejala-gejala) namun sudah
terdapat abnormalitas metabolisme pada pemeriksaan laboratoris.
4. TahapKlinis
Fase dimana penderita sudah menunjukkan gejala-gejala dan tanda-tanda penyakit
DM. Gejala-gejala diabetes melitus yaitu Trias DM (Poliuria, Polidipsia, Polifagia).
5. Tahap Akhir Penyakit
Penyakit diabetes melitus adalah penyakit kronis yang belum dapat disembuhkan.
Penyakit ini hanya dapat dikontol dan diberi pengawasan khusus. Penyakit
komplikasi yang muncul dari penyakit diabetes melitus dapat menimbulkan kecacatan
atau kematian misalnya katarak, ganggrene, stroke, PJK, dll. Apabila tidak muncul
komplikasi, individu tersebut tetap akan menjadi carier atau pembawa sifat penyakit
dan dapat menularkan kepadaketurunannya.

II.10 Pencegahan Diabetes Mellitus

Beberapa cara pencegahan penyakit DM :

1. Pencegahan Primer
Pencegahan ini merupakan suatu upaya yang ditujukan pada kelompok risiko tinggi.
Mereka yang belum menderita DM, tetapi berpotensi untuk menderita penyakit ini,
yaitu mereka yang tergolong kelompok usia dewasa (di atas 45 tahun), kegemukan ,
tekanan darah tinggi (lebih dari 140/90 mmhg), riwayat keluarga DM, dan lain-lain.
Upaya yang perlu dilakukan pada tahap ini adalah menghilangkan faktor-faktor
tersebut.

2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan ini berupaya mencegah atau menghambat timbulnya penyulit dengan
tindakan deteksi dini dan dilakukan sejak awal penyakit. Tindakan ini berarti
mengelola DM dengan baik agar tidak timbul penyakit lanjut. Penyuluhan mengenai
DM dan pengelolaannya memegang peran yang penting untuk meningkatkan
kepatuhan berobat.

18
3. Pencegahan Tersier
Kalau penyakit menahun DM ternyata terjadi juga maka pengelolaan harus berusaha
mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut dan merehabilitasi pasien sedini mungkin
sebelum kecacatan tersebut menetap. Contohnya, aspirin dosis rendah (80-325 mg)
dapat dianjurkan diberikan secara rutin bagi pasien DM yang sudah mempunyai
penyakit mikroangiopati.

II.11 Etika dan Peran Perawat

A. Etika Keperawatan
1. Pengertian Etika Keperawatan
Etik keperawatan adalah norma-norma yang di anut oleh perawat dalam bertingkah
laku dengan pasien, keluarga, kolega, atau tenaga kesehatan lainnya di suatu
pelayanan keperawatan yang bersifat professional. Perilaku etik akan dibentuk oleh
nilai-nilai dari pasien, perawat dan interaksi social dalam lingkungan.
2. Tujuan Etika Keperawatan
Tujuan dari etika keperawatan adalah :
a. Mengidentifikasi, mengorganisasikan, memeriksa dan membenarkan tindakan-
tindakan kemanusiaan dengan menerapkan prinsip-prinsip tertentu
b. Menegaskan tentang kewajiban-kewajiban yang diemban oleh perawat dan
mencari informasi mengenai dampak-dampak dari keputusan perawat.
3. Prinsip Etika Keperawatan
Prinsip–prinsip etik keperawatan adalah :
a. Otonomi (Autonomy)
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir
logis dan mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa dianggap kompeten
dan memiliki kekuatan membuat sendiri, memilih dan memiliki berbagai
keputusan atau pilihan yang harus dihargai oleh orang lain. Otonomi merupakan
hak kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri. Praktek
professional merefleksikan otonomi saat perawat menghargai hak-hak klien
dalam membuat keputusan tentang perawatan.
b. Berbuat baik (Beneficience)
Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan,
memerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan
atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain. Terkadang,

19
dalam situasi pelayanan kesehatan, terjadi konflik antara prinsip ini dengan
otonomi
c. Keadilan (Justice)
Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadap orang lain
yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai ini
direfleksikan dalam prkatek professional ketika perawat bekerja untuk terapi
yang benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan yang benar untuk
memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.
d. Tidak merugikan (Non maleficience)
Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/ cedera fisik dan psikologis pada
klien.
e. Kejujuran (Veracity)
Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran.Nilai ini diperlukan oleh
pemberi pelayanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap klien
dan untuk meyakinkan bahwa klien sangat mengerti. Prinsip veracity
berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengatakan kebenaran.
Informasi harus ada agar menjadi akurat, komprensensif, dan objektif untuk
memfasilitasi pemahaman dan penerimaan materi yang ada, dan mengatakan
yang sebenarnya kepada klien tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan
keadaan dirinya selama menjalani perawatan.
f. Menepati janji (Fidelity)
Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan komitmennya
terhadap orang lain. Perawat setia pada komitmennya dan menepati janji serta
menyimpan rahasia klien. Ketaatan, kesetiaan, adalah kewajiban seseorang
perawat untuk mempertahankan komitmen yang dibuatnya kepada pasien.
g. Kerahasiaan (Confidentiality)
Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus dijaga
privasinya. Segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan kesehatan klien
hanya boleh dibaca dalam rangka pengobatan klien. Tidak ada seorang pun dapat
memperoleh informasi tersebut kecuali jika diijinkan oleh klien dengan bukti
persetujuan. (Geoffry hunt. 1994)
h. Akuntabilitas

20
Menurut Ismani (2001) akuntabilitas merupakan standar yang pasti bahwa
tindakan seorang professional dapat dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau
tanpa terkecuali.

B. Peran Perawat
1. Peran Perawat secara Teori
a. Direct-Care Provider (Penyedia Perawatan Langsung)
Dalam peran pengasuh atau penyedia perawatan, perawat gerontologis
memberikan perawatan langsung kepada orang dewasa yang lebih tua dalam
berbagai pengaturan. Orang dewasa yang lebih tua hadir dengan gejala atipikal
yang mempersulit diagnosis dan pengobatan. Selain itu, perawat sebagai
penyedia perawatan langsung harus dididik tentang proses penyakit dan sindrom
yang biasa terlihat pada populasi yang lebih tua. Ini dapat mencakup
pengetahuan tentang faktor risiko, tanda dan gejala, perawatan medis yang biasa,
rehabilitasi, dan perawatan di akhir hayat.
b. Pendidik
Bagian penting dari semua keperawatan adalah mengajar. Perawat gerontologis
memfokuskan pengajaran mereka pada faktor-faktor risiko yang dapat
dimodifikasi dan promosi kesehatan. Banyak penyakit dan kondisi penuaan yang
melemahkan dapat dicegah melalui modifikasi gaya hidup di bidang diet,
berhenti merokok, manajemen berat badan, aktivitas fisik, dan manajemen stres,
serta pemeriksaan kesehatan rutin. Perawat memiliki tanggung jawab untuk
mendidik populasi dewasa yang lebih tua tentang cara-cara untuk mengurangi
risiko gangguan tertentu seperti penyakit jantung, kanker, dan stroke, penyebab
utama kematian untuk kelompok usia ini. Perawat dapat mengembangkan
keahlian dalam bidang khusus dan mengajarkan keterampilan kepada perawat
lain untuk mempromosikan perawatan berbasis bukti di antara orang dewasa
yang lebih tua.
c. Leader (Pemimpin)
Perawat gerontologis bertindak sebagai pemimpin selama praktik sehari-hari
karena mereka menyeimbangkan keprihatinan pasien, keluarga, perawatan, dan
seluruh tim interprofesional. Semua perawat harus terampil dalam
kepemimpinan, manajemen waktu, membangun hubungan, komunikasi, dan
mengelola perubahan. Pemimpin perawat yang berada di posisi manajemen dapat

21
mengawasi tenaga keperawatan lainnya termasuk perawat praktis berlisensi
(LPN), asisten perawat bersertifikasi (CNA), teknisi, mahasiswa keperawatan,
dan tenaga pendamping tanpa izin lainnya.
d. Advokat
Sebagai advokat, perawat gerontologis bertindak atas nama orang dewasa yang
lebih tua untuk mempromosikan kepentingan terbaik mereka dan memperkuat
otonomi dan pengambilan keputusan mereka. Advokasi dapat mengambil banyak
bentuk, termasuk keterlibatan aktif di tingkat politik atau membantu menjelaskan
prosedur medis atau perawatan kepada anggota keluarga di tingkat unit. Perawat
juga dapat mengadvokasi pasien melalui kegiatan lain seperti membantu anggota
keluarga memilih panti jompo terbaik untuk orang yang mereka cintai atau
mendukung anggota keluarga yang berada dalam peran pengasuhan. Apa pun
situasinya, perawat gerontologis harus ingat bahwa menjadi advokat tidak berarti
membuat keputusan untuk orang dewasa yang lebih tua, tetapi memberdayakan
mereka untuk tetap mandiri dan mempertahankan martabat, bahkan dalam situasi
yang sulit.
e. Evidence-Based Clinician
Tingkat keterlibatan yang tepat bagi perawat di tingkat sarjana muda adalah
penerapan prinsip praktik berbasis bukti (EBP). Perawat gerontologis harus tetap
mengikuti literatur penelitian saat ini, membaca dan menerjemahkan ke dalam
praktik hasil penelitian yang dapat diandalkan dan valid. Menggunakan EBP,
perawat gerontologis dapat meningkatkan kualitas perawatan pasien di semua
pengaturan. Meskipun perawat dengan gelar sarjana mungkin terlibat dalam
penelitian di beberapa fasilitas, seperti mengajukan penyelidikan klinis atau
membantu pengumpulan data, persiapan dasar mereka terutama ditujukan untuk
menggunakan penelitian dalam praktik. Semua perawat harus membaca jurnal
profesional khusus untuk spesialisasi mereka dan melanjutkan pendidikan
mereka dengan menghadiri seminar dan lokakarya, berpartisipasi dalam
organisasi profesional, mengejar pendidikan formal tambahan atau gelar, dan
memperoleh sertifikasi. Dengan menerapkan praktik berbasis bukti, perawat
gerontologis dapat meningkatkan kualitas perawatan pasien di semua rangkaian.
f. Konselor
Perawat gerontik sebagai konselor bertugas membantu pasien mengidentifikasi
dan mengklarifikasi masalah kesehatan dan memilih tindakan-tindakan yang

22
tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut (Potter, Perry, Stockert, & Hall,
2013). Contoh peran ini, yaitu perawat membantu mengidentifikasi dan
menyelesaikan masalah kesehatan lansia melalui konsultasi kesehatan
berkelanjutan, membantu keluarga pasien memutuskan apakah perlu lansia
dimasukkan ke panti, memberikan arahan terkait biaya perawatan lansia yang
sesuai dengan kebutuhand an lain-lain. Seperti halnya pada peran sebagai
advokator, seorang perawat konselor tidak membuat keputusan untuk klien
namun membiarkan klien memilih keputusan terbaiknya.
g. Kolaborator
Kolaborasi atau bekerja dalam upaya gabungan dengan semua pihak yang
terlibat dalam perawatan perlu mengembangkan rencana yang dapat diterima
bersama demi tercapainya tujuan bersama (Potter, Perry, Stockert, & Hall,
2013). Contoh peran ini, seperti praktisi perawat berada pada tim perawatan
berbasis rumah yang berkolaborasi dengan dokter untuk memberikan layanan
perawatan primer kepada pasien lansia yang berisiko tinggi (Touhy & Jett,
2014).
h. Peneliti
Perawat peneliti adalah pemimpin dalam memperluas pengetahuan dalam
bidang keperawatan dan disiplin perawatan kesehatan lainnya. Tugas mereka
adalah memberikan bukti praktik untuk memastikan perawat memiliki bukti
terbaik untuk mendukung praktik mereka. Selain itu perawat peneliti juga
menyelidiki masalah untuk memperluas asuhan keperawatan, mengurangi atau
memperluas cakupan praktik keperawatan (Potter, Perry, Stockert, & Hall,
2013). Contoh peran ini, yaitu perawat mengembangkan penelitian mengenai
metode perawatan yang cocok untuk pasien lansia dengan penyakit kronik
tertentu, membantu mengembangkan teori keperawatan modern yang sesuai
dengan kondisi saat ini, dan lain-lain.

i. Manajer Perawat
Perawat sebagai manajer bertanggung jawab dalam memberikan lingkungan
yang positif serta profesional di rumah sakit atau komunitas agar terwujudnya
pelayanan yang berkualitas. Selain itu, perawat sebagai manajer juga harus
mampu memimpin dan mengelola tim klinis yang dibentuk. Mauk (2014),

23
mengemukakan bahwa perawat manajer dalam keperawatan gerontik perlu
memiliki kemampuan dalam beberapa hal antara lain:
1) Membangun dan meningkatkan kemampuan serta keterampilan anggota tim
keperawatan gerontik. Dalam hal ini, seorang perawat gerontik harus
memiliki standar dalam memberikan asuhan keperawatan kepada lansia.
Standar tersebut antara lain, pengetahuan dan keterampilan untuk menjaga
kesehatan lansia, mencegah penyakit, mengelola penyakit kronis yang
kompleks, penurunan fungsi fisik dan mental, hingga perawatan paliatif
(ANA, 2010 dalam Touhy& Jett, 2014). Sehingga, manajer perlu
memfasilitasi pelatihan atau workshop agar kemampuan anggota tim dapat
meningkat.
2) Menentukan prioritas dan tujuan yang realistis, dapat terukur serta memiliki
batasan waktu.
3) Membuat keputusan dalam menyelesaikan masalah baik masalah internal
antar anggota tim dan masalah klien.
4) Mendelegasikan tugas kepada seseorang yang dianggap dapat menjalankan
tugas dengan baik.
5) Mampu memberikan dorongan, arahan yang jelas, dan harapan terhadap
stafnya.

2. Peran Perawat sesuai Kasus

a. Direct-Care Provider

Perawat memberikan perawatan langsung kepada lansia yang menderita DM di


panti jompo dan sering memeriksakan GDS lansia. Hasil pemerikasaan GDS
lansia dalam 3 hari terakhir : 320 mg/dl, 201 mg/dl, 375 mg/dl.

b. Pendidik

Pada kasus, Istri mengakatan tidak tau tentang penyakit suaminya. Lansia
mendapatkan injeksi insulin 1x/hari, tetapi jarang diinjeksikan karena lansia
mengganggap penyakitnya adalah penyakit tua. Perawat bertugas untuk
memberikan pengetahuan tentang penyakit yang diderita, meliputi factor risiko,
etiologi, tanda gejala serta pengobatannya.

c. Konselor
24
Perawat membantu mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah kesehatan
lansia melalui konsultasi kesehatan berkelanjutan, terkait dengan tanda gejala
yang muncul pada lansia.

d. Kolaborator

Pada kasus, berat badan klien turun 5 kg dalam satu bulan terakhir. Perawat
berkolaborasi dengan ahli gizi untuk mengatur diit klien serta bekerjasama
dengan semua pihak yang terlibatdalam perawatan demi tercapainya
tujuanbersama.

e. Leader

Perawat bertugas untuk memimpin jalannya kegiatan-kegiatan lansia untuk


melakukan terapi modalitas dan TAK dan memotivasi agar lansia mau ikut
kegiatan senam ataupun kegiatan seni lainnya.

II.12 Terapi Modalitas

Terapi modalitas merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu luang bagi
lansia.

1. Tujuan
 Mengisi waktu luang bagi lansia
 Meningkatkan kesehatan lansia
 Meningkatkan produktivitas lansia
 Meningkatkan interaksi sosial antarlansia
2. Jenis kegiatan
 Psikodrama
Bertujuan untuk mengekspresikan perasaan lansia. Tema dapat dipilih sesuai
dengan masalah lansia.
 Terapi aktivitas kelompok (TAK)
Terdiri atas 7-10 orang.
Bertujuan untuk meningkatkan kebersamaan, bersosialisasi, bertukar pengalaman,
dan mengubah perilaku. Untuk terlaksananya terapi ini dibutuhkan leader, co-
leader, dan fasilitator. Misalnya cerdas cermat, tebak gambar, dan lain-lain.
 Terapi musik

25
Bertujuan untuk menghibur para lansia sehingga meningkatkan gairah hidup dan
dapat mengenang masa lalu.
 Terapi berkebun
Bertujuan untuk melatih kesabaran, kebersamaan, dan memanfaatkan waktu luang.
 Terapi dengan binatang
Bertujuan untuk meningkatkan rasa kasih sayang dan mengisi hari-hari sepinya
dengan bermain bersama binatang.
 Terapi okupasi
Bertujuan untuk memanfaatkan waktu luang dan meningkatkan produktivitas
dengan membuat atau menghasilkan karya dari bahan yang telah disediakan.
 Terapi kognitif
Bertujuan agar saya ingat tidak menurun. Seperti mengadakan cerdas cermat,
mengisi TTS, dan lain-lain.
 Life review terapi
Bertujuan untuk meningkatkan gairah hidup dan harga diri dengan menceritakan
pengalaman hidupnya.
 Rekreasi
Bertujuan untuk meningkatkan sosialisasi, gairah hidup, menurunkan rasa bosan,
dan melihat pemandangan.
 Terapi keagamaan
Bertujuan untuk kebersamaan, persiapan menjelang kematian, dan meningkatkan
rasa nyaman. Seperti mengadakan pengajian, kebaktian, dan lain-lain.

II.13 Teknik Komunikasi Lansia


A. Dasar-Dasar Komunikasi
Komunikasi menghubungkan manusia dengan orang lain dan lingkungan, dan itu
adalah bagian penting dari kehidupan bagi orang-orang dari segala usia, termasuk
orang dewasa yang lebih tua. Kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain
adalah karakteristik manusia yang unik dengan kepentingan yang berlanjut hingga usia
lanjut. Manusia menggunakan komunikasi untuk memberikan dan menerima informasi
dari orang lain. Komunikasi yang sukses melibatkan penyampaian pesan antara
pengirim dan penerima. Komunikasi yang efektif adalah proses dinamis yang
mencakup pertukaran informasi yang berkelanjutan dengan umpan balik antara
pengirim dan penerima. Komunikasi sangat bergantung pada indera yang utuh, seperti
26
pendengaran dan penglihatan, dan proses fisik dan kognitif, yang semuanya diperlukan
untuk mengirim dan menerima pesan. Selain itu, lingkungan harus kondusif untuk
memungkinkan pengiriman pesan antara pengirim dan penerima. Komunikasi itu
kompleks, mencakup aspek verbal dan nonverbal dan merupakan keterampilan yang
dipelajari yang bergantung pada kemampuan fisik dan kognitif serta berbagai indera.
Komunikasi verbal bergantung pada pengetahuan tentang bahasa yang sama serta
kemampuan untuk menghasilkan kata-kata, sementara komunikasi nonverbal
mencakup nada suara dan perilaku fisik seperti bahasa tubuh dan kontak mata.
Kegagalan komunikasi terjadi ketika hambatan komunikasi ada di komponen apa pun
dari sistem interaktif ini.
Komunikasi adalah bagian integral dari perawatan kesehatan berkualitas, seperti
yang diidentifikasi dalam laporan Institute of Medicine tahun 2001 Crossing the
Quality Chasm, yang mengidentifikasi keterpusatan pasien dan komunikasi yang
berpusat pada pasien sebagai karakteristik utama dari perawatan kesehatan berkualitas.
Dimensi keterpusatan pasien meliputi penghormatan terhadap nilai-nilai pasien,
preferensi, dan kebutuhan yang diungkapkan, bersama dengan fokus pada informasi,
komunikasi, dan pendidikan pasien dalam istilah yang jelas. Komunikasi yang
konsisten dan efektif antara pasien dan dokter telah dikaitkan dengan peningkatan
kepuasan dan keamanan pasien, hasil kesehatan yang lebih baik, dan biaya perawatan
kesehatan yang lebih rendah. Sebaliknya, gangguan komunikasi telah berimplikasi
pada kesenjangan layanan kesehatan dan kesalahan medis. Standar profesional
mencakup komunikasi yang penuh hormat dan efektif sebagai faktor kunci dalam
informed consent dan hubungan saling percaya (Paget et al., 2011).
Komunikasi sangat penting untuk memberi dan menerima informasi dan
pertukaran ide, pikiran, dan perasaan. Kami berkomunikasi untuk bertukar informasi
dan untuk memenuhi kebutuhan fisik, sosial, dan emosional kami, serta untuk
memenuhi kebutuhan orang lain. Komisi Gabungan Rumah Sakit Amerika telah
mengakui dan mengamanatkan perhatian pada komunikasi yang efektif dalam
pengaturan perawatan kesehatan untuk mencegah kesalahan dan masalah keamanan
(Komisi Bersama, 2010). Interaksi sosial telah ditemukan memiliki efek perlindungan
kesehatan (Kiely, Simon, Jones, & Morris, 2000), dapat menghemat waktu dan
menjadi terapi bagi pasien, dan dapat mendorong perawatan diri dan otonomi.
Penelitian menunjukkan bahwa orang dewasa yang lebih tua mengutip kemampuan
mereka untuk berhubungan dengan perawat sebagai prediktor utama kepuasan dengan

27
perawatan dan perawat yang membangun hubungan perawat-pasien yang dekat
melaporkan tingkat kepuasan kerja yang lebih tinggi (Grau, Chandler, & Saunders,
1995; Parsons, Simmons, Penn , & Furlough, 2002).
dijelaskan secara lebih rinci di bawah ini. Obrolan yang berpusat pada orang
mengakui orang yang lebih tua sebagai orang yang unik dan menunjukkan keinginan
untuk berinteraksi dengan orang tersebut.

B. Komunikasi Yang Berpusat Pada Orang


Komunikasi yang berpusat pada orang adalah bagian integral dari perawatan
yang berpusat pada orang dan mencerminkan fokus pada pasien dan persepsi dan
pengalaman unik mereka dengan kesehatan dan penyakit. Intervensi keperawatan
termasuk memberikan informasi untuk meningkatkan kesehatan dan penyembuhan dan
untuk melibatkan pasien dalam perawatan diri. Dengan demikian, perawatan yang
berpusat pada orang mengkonfirmasi keunikan pasien dan memungkinkan pasien
untuk berpartisipasi dalam perawatannya sendiri.

C. Faktor Yang Mempengaruhi Komunikasi Terapeutik pada Pasien Lanjut Usia


Komunikasi dengan pasien lanjut usia dapat menjadi lebih sulut dibandingkan
dengan komunikasi pada populasi biasa sebagai akibat dari gangguan sensori yang
terkait usia dan penurunan memori. Orang ketiga juga dapat menjadi bagian dari
interaksi, karena pasien lanjut usia sering kali ditemani oleh anggota keluarga yang
dicintai dan aktif terlibat pada perawatan pasien dan berpatisipasi dalam kunjungan.
Ada banyak faktor lain yang mempengaruhi efektivitas komunikasi dengan pasien
lanjut usia. Pasien lanjut usia sering hadir dengan masalah yang kompleks dan
beberapa keluhan utama yang memerlukan waktu untuk menyelesaikannya. Untuk
setiap dekade kehidupan setelah usia 40 tahun, pasien kemungkinan mengalami satu
penyakut kronik baru. Sehingga pada usia 80 tahun, orang kemungkinan memiliki
paling tidak 4 penyakit kronis (Vieder, dkk, 2002). Faktor lain adalah bahwa pasien
lanjug usia umumnya lebih sedikit bertanya dan menunggu untuk ditanya sesuai
kewanangan dokter (Haug &amp; Ory, 1987) (Greene et al, 1989). Masalah usia atau
dikenal dengan istilah ageism juga merupakan hal yang lazim dijumpai pada perawatan
kesehatan dan secara tidak sengaja berperan terhadap buruknya komunikasi dengan
pasien lanjut usia(Ory, dkk, 2003).

28
D. Komunikasi Pada Lansia
Dalam komunikasi dengan lansia harus diperhatikan faktor fisik, psikologi,
(lingkungan dalam situasi individu harus mengaplikasikan ketrampilan komunikasi
yang tepatdisamping itu juga memerlukan pemikiran penuh serta memperhatikan
waktu yang tepat.
1. Ketrampilan komunikasi
Listening/Pendengaran yang baik yaitu :
a. Mendengarkan dengan perhatian.
b. Memahami dengan sepenuh hati, keikhlasan dengan hati yang jernih.
c. Memikirkan secara menyeluruh dengan pikiran jernih.

2. Teknik komunikasi dengan lansia


a. Teknik komunikasi dengan penggunaan bahasa yang baik
Kecepatan dan tekanan suara yang tepat dengan menyesuaikan pada topik
pembicaraan dan kebutuhan lansia,berbicara dengan lansia yang dimensia
dengan pelan.Tetapi berbicara dengan lansia demensia yang kurang mendengar
dengan lebih keras hati-hati karena tekanan suara yang tidak tepat akan merubah
arti pembicaraan,pertanyaan yang tepat kurang pertanyaan yang lansia menjawab
ya atau tidak.
Berikan kesempatan orang lan untuk berbicara hindari untuk mendominasi
,pembicara sebaiknya mendorontg lansia untuk berperan aktifMerubah topik
pembicaaraan dengan jitu menggunakan objek sekitar untuk topik pembicaraan
bila lansia tidak interest lagi. Contoh : siapa yang membelikan pakaian bapak/ibu
yang bagus ini? Gunakan kata-kata yang sederhana dan konkrit. Gunakan
kalimat yang simple dan pendek satu pesan untuk satu kalimat.
b. Teknik nonverbal komunikasi
1) Perilaku : ramah tamah, sopan dan menghormati, cegah supaya tidak acuh tak
acuh, perbedaan.
2) Kontak mata : tetap jaga kontak mata
3) Ekspresi wajah : merefleksikan perasaan yang sebenarnya.
4) Postur dan tubuh : mengangguk, gerakan tubuh yang tepat, meletakan kursi
dengan tepat.
5) Sentuhan : memegang tangan, menjabat tangan.
c. Teknik untuk meningkatkan komunikasi dengan lansia

29
1) Memulai kontak saling memperkenalkan nama dan berjabat tangan.
2) Bila hanya menyentuh tangannya hanya untuk mengucapaka pesan-pesan
verbal dan merupakan metode primer yang non verbal.
3) Jelaskan tujuan dari wawancara dan hubungan dengan intervensi keperawatan
yang akan diberikan.
4) Mulai pertanyaan tentang topik-topik yang tidak mengancam.
5) Gunakan pertanyaan terbuka dan belajar mendengar yang efektif.
6) Secara periodik mengklarifikasi pesan.
7) Mempertahankan kontak mata dan mendengar yang baik dan mendorong
untuk berfokus pada informasi.
8) Jangan berespon yang menonjolkan rasa simpati.
9) Bertanya tentang keadaan mental merupakan pertanyaan yang mengancam
dan akan mengakiri interview.
10) Minta ijin bila ingin bertanya secara formal.
d. Lingkungan wawancara
1) Posisi duduk berhadapan
2) Jaga privasi
3) Penerangan yang cukup dan cegah latar belakang yang silam
4) Kurangi keramaian dan berisik
5) Komunikasi dengan lansia kita mencoba untuk mengerti dan menjaga kita
mengekspresikan diri kita sendiri efek dari kmunikasi adalah pengaruh timbal
balik seperti cermin.

E. Teknik Pendekatan Dalam Perawatan Lansia Pada Konteks Komunikasi Dan Pada
Reaksi Penolakan
1. Teknik pendekatan dalam perawatan lansia pada konteks komunikasi
a. Pendekatan fisik
Mencari kesehatan tentang kesehatan obyektif, kebutuhan, kejadian yang di
alami, perubahan fisik organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bisa di capai
dan di kembangkan serta penyakit yang dapat di cegah progresifitasnya.
b. Pendekatan psikologis
Pendekatan ini bersifat abstrak dan mengarah pada perubahan perilaku, maka
umumnya membutuhkan waktu yang lebih lama. Untuk melaksanakan
pendekatan ini, perawat sebagai konselor, advokat terhadap segala sesuatu yang

30
asing atau sebagai penampung masalah pribadi dan sebagai sahabat yang akrab
bagi klien.
c. Pendekatan social
Pendekatan ini dilaksanakan meningkatkan keterampilan berinteraksi dengan
lingkungan. Mengadakan diskusi tukar fikiran bercerita serta bermain merupakan
implementasi dari pendekatan ini agar klien dapat berinteraksi dengan sesama
lansia maupun dengan petugas kesehatan,
d. Pendekatan Spiritual
Perawat harus bisa memberikan kepuasan batin dalam hubungannya dengan
tuhan atau agama yang di anutnyaterutama pada saat klien sakit atau mendekati
kematian.

2. Teknik pendekatan dalam perawatan lansia pada reaksi penolakan


Penolakan adalah ungkapan ketidakmampuan sesorang untuk mengakui
secara sadar terhadap pikiran, keiinginan, perasaan atau kebutuhan pada kejadian –
kejadian nyata sesuatu yang merupakan reaksi ketidaksiapan lansia menerima
perubahan yang terjadi pada dirinya.
Ada beberapa langkah yang bisa di laksanakan untuk menghadapi klien lansia
dengan penolakan antara lain:
a. Penolakan segera reaksi penolakan klien.
Yaitu membiarkan lansia bertingkah laku dalam tenggang waktu tertentu.
Langkah – langkah yang dapat di lakukan sebagai berikut :
1) Identifikasi pikiran yang paling membahayakan dengan cara observasi klien
bila sedang mengalami puncak reaksinya.
2) Ungkapakan kenyataan yang di alami klien secara perlahan di mulai dari
kenyataan yang merisaukan.
3) Jangan menyongkong penolakan klien, akan tetapi berikan perawatan yang
cocok bagi klien dan bicarakan sesering mungkin jangan sampai menolak.
b. Orientasikan klien lansia pada pelaksanaan perawatan sendiri.
Langkah ini bertujuan mempermudah proses penerimaan klien terhadap
perawatan yang akan di lakukan serta upaya untuk memandikan klien, antara
lain:
1) Libatkan klien dalam perawatan dirinya, misalnya dalam perencanaan waktu,
tempat dan macam, perawatan.

31
2) Puji klien lansia karena usahanya untuk merawat dirinya atau mulai mengenal
kenyataan.
3) Membantu klien lansia untuk mengungkapkan keresahaan atau perasaan
sedihnya dengan mempergunakan pertanyaan terbuka, mendengarkan dan
menluangkan waktu bersamanya.
c. Libatkan keluarga atau pihak terdekat dengan tepat.
Langkah ini bertujuan untuk membantu perawat atau petugas kesehatan
memperolah sumber informasi atau data klien dan mengefektifkan rencana atau
tindakan dapat terealisasi dengan baik dan cepat. Upaya ini dapat di laksanakan
dengan cara – cara sebagai berikut :
1) Melibatkan keluarga atau pihak terkait dalam membantu klien lansia
menentukan perasaannya.
2) Meluangkan waktu untuk menerangkan kepada mereka yang bersangkutan
tentang apa yang sedang terjadi pada klien lansia serta hal – hal yang dapat di
lakukan dalam rangka membantu.
3) Hendaknya pihak – pihak lain memuji usaha klien lansia untuk menerima
kenyataan.
4) Menyadarkan pihak lain akan pentingnya hukuman (bukan hukuman fisik)
apabila klien lansia mempergunakan penolakan atau denial.

II.14 Teori Penuaan sesuai Kasus


Teori penuaan yang terdapat dalam kasus adalah :

A. BOLOGICAL AGING THEORY


1. Teori pakai dan using
Teori pakai dan usang (wear and Tear Theory) menjelaskan bahwa penuaan terjadi
perubahan kumulatif yang terjadi pada sel manusia dan merusak system metabolism
seluler. Pengaplikasian dalam kasus: Seorang lansia laki-laki berusia 75 tahun
tinggal di panti jompo mengidap penyakit Diabetes Melitus (DM).
2. Teori Jaringan Konektif ( Teori Cross-Linkage)
Teori Jaringan Konektif (Teori Cross-Linkage) mengungkapkan bahwa seiring
berjalannya waktu proses biokimia menciptakan hubungan antara struktur yang
biasanya tidak terkoneksi. Pengaplikasian dalam kasus: Lansia mengatakan
pandanganya kabur seperti ada kabut putih, lansia mengalami penurunan

32
pendengaran, lansia mengeluh mudah haus, sering BAK terutama di malam hari,
serta sering merasa lapar.
3. Teori Neuroendokrin dan kekebalan
Teori Neuroendokrin dan kekebalan menjelaskan bahwa adanya hubungan antara
berkurangnya fungsi kekebalan tubuh dan peningkatan respon autoimun tubuh.
Pengaplikasian dalam kasus: lansia merasa mudah lelah dan ingin pingsan serta
lansia merasa mudah lemas, lansia mengatakan kesemutan pada jari kaki dan
tangan.
4. Teori Genetik
Teori genetic mengidentifikasi lokasi masing-masing gen manusia dan
mempengaruhi penyakit yang terkait usia. Pengaplikasian dalam kasus: Lansia yang
terkena diabetes mellitus dapat menurunkan penyakit tersebut terhadap
keturunannya.

B. TEORI SOSIOKULTURAL
1. Teori Pelepasan
Teori pelepasan merupakan sebuah proses pelepasan atau pemisahan bertahap
seseorang dari hubungan bermasyarakat. Pengaplikasian dalam kasus: lansia laki-
laki berusia 75 tahun tinggal di panti jumbo bersama istrinya berusia 68 tahun
2. Teori Aktivitas
Teori aktivitas menjelaskan bahwa lansia yang sukses adalah lansia yang mampu
melakukan sebuah aktifitas ringan sampai sedang meskipun terdapat batasan dalam
melakukan kegiatan, dan kegiatan tersebut dilakukan secara berkelompok.
Pengaplikasian dalam kasus: lansia lebih sering berbaring di tempat tidur sambil
menonton TV dan makan cemilan, lansia juga tidak mau mengikuti kegiatan senam
ataupun kegiatan seni lainnya.

C. TEORI PSIKOLOGIS
1. Teori kebutuhan manusia (HUMAN NEEDS THEORY)
Human needs theory merupakan teori yang menjelaskan setiap individu memiliki
hirarki dari dalam diri mulai dari kebutuhan fisiologis hingga aktualisasi diri.
Penerapan dalam kasus: Lansia merasa tidak terpenuhi kebutuhan interpersonal
yang positif dengan sang istri karena sang istri tidak pernah menjawab perkataan

33
lansia, sedangkan menurut sang istri , ia sudah menjawab perkataan lansia namun
lansia tidak mendengar karena keterbatasan pendengaran.
2. Teori Life-Course (Pengembangan Rentang Kehidupan)
Teori Life-Course (Pengembangan Rentang Kehidupan) menjelaskan bahwa
individu harus beradaptasi dengan perubahan peran dan hubungan yang terjadi
sepanjang hidup seperti menikah, menyelesaikan sekolah, menyesuaikan dinas,
mendapatkan pekerjaan dan pensiunan. Pengaplikasian dalam kasus: lansia sudah
menikah, dan tinggal di panti jumbo bersama sang istri.
3. Teori Gerotranscendence
Teori gerotranscendence menjelaskan bahwa penuaan merupakan proses yang
rasional, bergerak dari pandangan yang lebih kosmologis dan tradisional. Penerapan
dalam kasus: lansia mengalami penurunan minat dalam melakukan aktivitas
kelompok seperti melakukan senam, melakukan kegiatan seni.

II.15 Perawatan Lansia dengan Diabetes Mellitus


Pelayanan pada lansia dalam panti dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas
hidup, kesejahteraan, dan terpenuhinya kebutuhan dasar lanjut usia. Adapun jenis
pelayanan kesehatan yang diberikan dalam panti, meliputi:
1. Upaya promotif
Upaya untuk menggairahkan semangat hidup dan meningkatkan derajat kesehatan
lansia agar tetap berguna, baik bagi dirinya, keluarga, maupun masyarakat.
Kegiatannya berupa:
a. Penyuluhan kesehatan danatau pelatihan bagi petugas panti mengenai hal-hal:
Masalah gizi dan diet, perawatan dasar kesehatan, keperawatan kasus darurat,
olahraga, dan teknik-teknik berkomunikasi.
b. Bimbingan rohani pada lansia, kegiatannya antara lain:Sarasehan, pembinaan
mental dan ceramah keagamaan,pembinaan dan pengembangan kegemaran pada
lansia di panti.
c. Rekreasi
d. Kegiatan lomba antar lansia di dalam atau antar panti.
e. Penyebarluasan informasi tentang kesehatan lansia di panti maupun masyarakat luas
melalui berbagai macam media.
2. Upaya preventif

34
Upaya pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya penyakit-penyakit yang
disebabkan oleh proses penuaan dan komplikasinya.
Kegiatannya adalah sebagai berikut:
a. Pemeriksaan berkala yang dapat dilakukan dipanti oleh petugas kesehatan yang
datang ke panti secara periodik atau di Puskesmas dengan menggunakan KMS
lansia.
b. Penjaringan penyakit pada lansia, baik oleh petugas kesehatan di puskesmas
maupun petugas panti yang telah dilatih dalam pemeliharaan kesehatan lansia.
c. Pemantauan kesehatan oleh dirinya sendiri dengan bantuan petugas panti
yangmenggunakan buku catatan pribadi.
d. Melakukan olahraga secara teratur sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-
masing.
e. Mengelola diet dan makanan lansia penghuni panti sesuai dengan kondisi
kesehatannya masing-masing.
f. Meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
g. Mengembangkan kegemarannya agar dapat mengisi waktu dan tetap produktif.
h. Melakukan orientasi realita, yaitu upaya pengenalan terhadap lingkungan
sekelilingnya agar lansia dapat lebih mampu mengadakan hubungan dan
pembatasan terhadap waktu, tempat, dan orang secara optimal.
3. Upaya kuratif
Upaya pengobatan bagi lansia oleh petugas kesehatan atau petugas panti terlatih sesuai
kebutuhan.
Kegiatan ini dapat berupa hal-hal berikut ini:
a. Pelayanan kesehatan dasar di panti oleh petugas kesehatan atau petugas panti yang
telah dilatih melalui bimbingan dan pengawasan petugas kesehatan/puskesmas.
b. Perawatan kesehatan jiwa.
c. Perawatan kesehatan gigi dan mulut.
d. Perawatan kesehatan mata.
e. Perawatan kesehatan melalui kegiatan di Puskesmas.
f. Rujukan ke rumah sakit, dokter spesialis, atau ahli kesehatan yang diperlukan.
4. Upaya rehabilitatif
Upaya pemulihan untuk mempertahankan fungsi organ seoptimal mungkin.
Kegiatan ini dapat berupa rehabilitasi fisik, mental dan vokasional (keterampilan).
Kegiatan ini dilakukan oleh petugas kesehatan dan petugas panti yang telah dilatih

35
Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah berupaya menormalkan aktivitas
insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler
serta neuropati. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar
glukosa darah normal. Perawatan yang diberikan pada lansia yang menderita DM lebih
difokuskan pada upaya preventif dan promosi kesehatan Perilaku perawatan yang
dapat dilakukan pada pasien lansia di panti yang menderita diabetes mellitus antara
lain:

1. Penyuluhan
Penyuluhan merupakan salah satu bentuk penyuluhan kesehatan kepada penderita
DM, melalui bermacam-macam cara atau media misalnya: leaflet, poster, TV, kaset
video, diskusi kelompok, dan sebagainya. Penyuluhan kepada penderita DM dapat
berupa memberikan informasi mengenai tentang pengertian, perjalanan penyakit,
tanda gejala, komplikasi, penatalaksanaan dari DM, dan diet yang harus
dikonsumsi.
2. Diet
Suatu perencanaan makanan yang terdiri dari 10% lemak, 15% protein, 75%
karbohidrat kompleks direkomendasikan untuk mencegah diabetes. Kandungan
rendah lemak dalam diet ini tidak hanya mencegah arterosklerosis, tetapi juga
meningkatkan aktivitas reseptor insulin.
3. Latihan fisik
Latihan juga diperlukan untuk membantu mencegah diabetes. Pemeriksaan sebelum
latihan sebaiknya dilakukan untuk memastikan bahwa klien lansia secara fisik
mampu mengikuti program latihan kebugaran. Pengkajian pada tingkat aktivitas
klien yang terbaru dan pilihan gaya hidup dapat membantu menentukan jenis latihan
yang mungkin paling berhasil. Berjalan atau berenang, dua aktivitas dengan
dampak rendah, merupakan permulaan yang sangat baik untuk para pemula. Untuk
lansia dengan NIDDM, olahraga dapat secara langsung meningkatkan fungsi
fisiologis dengan mengurangi kadar glukosa darah, meningkatkan stamina dan
kesejahteraan emosional, dan meningkatkan sirkulasi, serta membantu menurunkan
berat badan. Latihan fisik dilakukan kurang lebih 30 menit perhari sebanyak 3-4
kali perminggu
4. Pemantauan

36
Pada pasien dengan diabetes, kadar glukosa darah harus selalu diperiksa secara
rutin. Selain itu, perubahan berat badan lansia juga harus dipantau untuk
mengetahui terjadinya obesitas yang dapat meningkatkan resiko DM pada lansia.
5. Terapi farmakologis
Sulfoniluria adalah kelompok obat yang paling sering diresepkan dan efektif hanya
untuk penanganan NIDDM. Pemberian insulin juga dapat dilakukan untuk
mepertahankan kadar glukosa darah dalam parameter yang telah ditentukan untuk
membatasi komplikasi penyakit yang membahayakan.
6. Perawatan kaki
Ditujukan untuk mencegah timbulnya luka pada penderita DM. Dimana
pemeriksaannya meliputi kondisi neuropati diabetik, vaskularisasi, kondisi ulkus,
dan perubahan bentuk kaki.
II.16 Perubahan Sistem Pencernaan

Pengaruh Usia Terhadap Perubahan Sistem Pencernaan dan Pola Makan


Jumlah makanan dan pemeliharaan nutrisi sedikit banyak dipengaruhi oleh
perubahan gastrointestinal yang berkaitan dengan usia dan sebagian besar oleh faktor risiko
yang umumnya terjadi pada usia lansia. Meskipun lansia dengan mudah mengkompensasi
perubahan terkait usia pada saluran pencernaan, mereka lebih sulit mengkompensasi banyak
faktor yang mengganggu kemampuan mereka untuk memperoleh, menyiapkan, dan
menikmati makanan.
A. Aroma dan Rasa
Kedua indera ini menurun pada lansia karena kombinasi perubahan terkait usia dan
faktor risiko. Kemampuan untuk mencium tergantung pada persepsi bau oleh sel-sel
sensorik di mukosa penciuman dan pada pemrosesan sistem saraf pusat dari informasi itu.
Kemampuan untuk mendeteksi dan mengidentifikasi bau adalah yang terbaik antara usia 30
dan 40 tahun, setelah itu secara bertahap menurun. Bahkan pada lansia yang sehat,
perubahan yang berkaitan dengan usia mempengaruhi semua struktur yang terlibat dalam
penciuman (yaitu, kemampuan untuk mencium bau), yang dimulai di hidung berakhir di
otak (Lafreniere & Mann, 2009). Kondisi tambahan yang dapat mengganggu penciuman
meliputi mengunyah tembakau, virus, penyakit degeneratif, kesehatan mulut yang buruk.
penyakit periodontal, penyakit sinus, dan obat-obatan. Para peneliti saat ini memfokuskan
indera penciuman sebagai salah satu tanda klinis awal demensia, penyakit Parkinson, dan
kondisi neurodegeneratif lainnya (Doty. 2009: Welge-Lussen. 2009).

37
Kemampuan untuk merasakan terutama tergantung pada sel-sel reseptor, sel-sel
pengecap, yang menggerakkan lidah, langit-langit, dan amandel. Karakteristik sensasi rasa
diukur berdasarkan kemampuan untuk memahami intensitas rasa, yang berkurang seiring
bertambahnya usia, dan kemampuan untuk merasakan rasa yang berbeda. Meskipun hasil
penelitian tidak konsisten, dengan salah satu studi menemukan bahwa sel-sel rasa dapat
meregenerasi indera perasa seiring dengan usia (Visvanathan Chapman, 2009). Lanisa yang
merokok, kekuragan gizi, memakai gigi palsu, dalam pengobatan, atau memiliki kondisi
kesehatan yang buruk (diabetes) adalah yang biasanya mengalami gangguan untuk
mendeteksi rasa.
B. Rongga Mulut
Pencernaan dimulai saat makanan masuk ke mulut yang ditindaklanjuti oleh gigi, air
liur, dan struktur neuromuskuler yang bertanggung jawab untuk pengunyahan. Perubahan
terkait usia pada gigi dan struktur pendukung memengaruhi proses pencernaan dan
kenikmatan makanan. Dengan bertambahnya usia, email gigi menjadi lebih keras dan ruang
menjadi lebih pendek dan lebih sempit. Karena perubahan yang berkaitan dengan usia ini,
gigi kurang sensitif terhadap rangsangan, dentin menjadi lebih berserat, dan saraf lebih
rentan terhadap patah tulang. Perubahan-perubahan ini, bersama dengan tindakan kasar,
juga menyebabkan perataan bertahap pada gigi. Tulang yang menopang gigi lansia
berkurang dalam tinggi dan kepadatan, dan gigi dapat longgar atau rontok, terutama pada
kondisi patologis (misalnya penyakit periodontal).
Saliva dan mukosa mulut memainkan peran penting dalam sistem pencernaan. Air
liur sangat penting untuk mengunyah dan menelan dan untuk menjaga mukosa mulut yang
lembab. Air liur memfasilitasi pencernaan dengan mensuplai enzim pencernaan, mengatur
flora oral, remineralisasi gigi, membersihkan indra perasa, membuat jaringan lunak, dan
menyiapkan makanan untuk dikunyah. Lansia yang sehat tidak mengalami penurunan yang
signifikan dalam aliran saliva namun, sekitar 30% dari usia 65 tahun dan lebih tua
mengalami xerostomia (mulut kering) karena obat-obatan dan penyakit (Turner & Kapal,
2007). Obat yang paling mungkin menyebabkan xerostomia adalah anticholinergik,
antidepresan, antipsikotik, antiemetik, analgesik, antihipertensi, dan antihistamin (Lam.
Kiyak, Gossett, & McCormick, 2009: Ney, Weiss, Kind & Robinson, 2009: Uher et al.,
2009). Penyebab umum lainnya adalah dehidrasi, diabetes, dan terapi radiasi ke kepala dan
leher (Visvanathan & Nix, 2010).
Perubahan usia yang terkait dengan mukosa mulut termasuk kehilangan elastisitas,
atrofi sel epitel, dan berkurangnya pasokan darah ke jaringan ikat. Perubahan-perubahan ini

38
dapat terjadi secara hati-hati, dipengaruhi oleh kondisi umum pada lansia (mis., Xerostomia,
defisiensi vitamin), membuat mukosa mulut lebih rentan dan rentan terhadap infeksi dan
ulserasi.
Perubahan usia yang mempengaruhi perubahan neuromuskuler, dapat
mempengaruhi pengunyahan dan menelan termasuk berkurangnya kekuatan otot dan
berkurangnya tekanan lidah (Ney et al, 2009). Lansia yang sehat tidak akan mengalami
masalah menelan yang signifikan, kecuali terdapat faktor risiko, seperti gigi rontok atau
kondisi neurologi.

C. Kerongkongan dan Perut

Fase kedua pencernaan terjadi ketika kombinasi gelombang propulsive dan


nonpropulsive mendorong makanan melalui faring dan esofagus ke dalam lambung. Pada
orang dewasa yang lebih tua, esofagus menegang dan gelombang peristaltik berkurang
(Gregersen, Pedersen, & Drewes, 2008). Presbyphagia mengacu pada perlambatan menelan
yang dikaitkan dengan perubahan terkait usia dan dapat meningkatkan risiko aspirasi (Ney
et al., 2009).

Setelah melewati sfingter esofagus, makanan memasuki lambung, di mana enzim


lambung mencairkannya dan tindakan lambung mengubahnya menjadi chyme.
Pengosongan lambung diperlambat ketika makan terdiri dari lebih dari 500 kalori (Morley,
2007). Meskipun beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sekresi lambung
yang berkurang adalah perubahan terkait usia, studi yang lebih baru menemukan bahwa
asam lambung dan sekresi pepsinogen meningkat dengan penuaan pada orang sehat
(Morley, 2007).

D. Saluran Usus

Setelah chyme masuk ke usus kecil, enzim pencernaan dari usus kecil, hati, dan
pankreas mengubah zat makanan menjadi nutrisi. Sebuah proses segmentasi menggerakkan
chyme ke belakang dan ke depan, memfasilitasi pencernaan makanan dan penyerapan
nutrisi melalui vili di dinding usus kecil. Perubahan terkait usia yang terjadi di usus kecil
termasuk atrofi serat otot dan permukaan mukosa; pengurangan jumlah folikel limfatik;
pengurangan berat usus halus secara bertahap; dan pemendekan dan pelebaran vili, yang
secara bertahap membentuk punggungan paralel daripada proyeksi seperti jari. Perubahan
struktural ini tidak secara signifikan mempengaruhi motilitas, permeabilitas, atau waktu

39
transit di saluran usus; Namun, mereka dapat mempengaruhi fungsi kekebalan dan
penyerapan beberapa nutrisi, seperti folat, kalsium, dan vitamin B12 dan D.

Setelah nutrisi diserap di usus kecil, chyme masuk ke usus besar, di mana air dan
elektrolit diserap dan dibuang. produk dikeluarkan. Perubahan terkait usia dalam usus
besar termasuk berkurangnya sekresi lendir, penurunan elastisitas dinding rektum, dan
berkurangnya persepsi tentang distensi dinding rektum. Meskipun perubahan yang
berkaitan dengan usia ini berdampak kecil atau tidak sama sekali pada motilitas tinja
melalui usus, mereka mungkin mempengaruhi orang yang lebih tua untuk mengalami
konstipasi.

E. Hati, Pankreas, dan Kantung Empedu

Hati membantu pencernaan dengan memproduksi dan mengeluarkan empedu, yang


sangat penting untuk pemanfaatan lemak. Ini juga memainkan peran penting dalam
metabolisme dan penyimpanan obat-obatan dan nutrisi. Dengan bertambahnya usia, hati
menjadi lebih kecil dan lebih berserat, lipofuscin (pigmen coklat) menumpuk, dan aliran
darah ke hati berkurang sekitar sepertiga. Namun, beberapa perubahan ini mungkin bersifat
patologis, bukan terkait usia, berasal. Meskipun ada perubahan yang berkaitan dengan usia
atau patologis, hati memiliki kapasitas regeneratif dan cadangan yang sangat besar, yang
memungkinkannya untuk mengkompensasi perubahan tersebut tanpa secara signifikan
mempengaruhi fungsi pencernaan.

Fungsi pencernaan utama pankreas adalah sekresi enzim yang penting untuk
menetralkan asam dalam chyme dan memecah lemak, protein, dan karbohidrat di usus kecil.
Pankreas juga berfungsi sebagai kelenjar endokrin dan menghasilkan insulin dan glikogen,
yang penting untuk metabolisme glukosa. Perubahan terkait usia pada pankreas termasuk
penurunan berat badan, hiperplasia duktus, fibrosis lobus, dan penurunan respons sel B
pankreas terhadap glukosa. Perubahan-perubahan ini tidak secara langsung mempengaruhi
fungsi pencernaan namun efek pada metabolisme glukosa dapat meningkatkan kerentanan
orang dewasa yang lebih tua terhadap perkembangan diabetes tipe 2.

Perubahan terkait usia yang mempengaruhi kandung empedu dan saluran empedu
termasuk sintesis asam empedu berkurang, pelebaran saluran empedu umum, dan
peningkatan sekresi kolesistokinin, hormon peptida yang mengontrak kandung empedu dan
mengendurkan sfingter empedu. Perubahan yang berkaitan dengan usia ini dapat
meningkatkan kerentanan orang dewasa yang lebih tua terhadap perkembangan

40
cholelithiasis (batu empedu). Selain itu, kadar cholecystokinin yang lebih tinggi dapat
menekan nafsu makan.

PERSYARATAN GIZI TERKAIT PERUBAHAN USIA

Sejak 1941, Recommended Dietary Allowances (RDAs) telah menjadi standar


referensi utama untuk mengukur tingkat asupan nutrisi penting yang memenuhi kebutuhan
orang sehat. Pada tahun 2001, Badan Pangan dan Gizi, Institut Kedokteran, Akademi Ilmu
Pengetahuan Nasional, dan Kesehatan Kanada bersama-sama menerbitkan revisi utama
RDA, dan merekomendasikan penggunaan Dietary Reference Intakes (DRIs). Keuntungan
dari DRI adalah mereka menetapkan standar untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dasar orang
dewasa yang sehat sesuai dengan kelompok usia tertentu (mis., Orang dewasa berusia 51
hingga 70 tahun dan mereka yang 70 tahun ke atas) daripada menggeneralisasi untuk semua
orang dewasa. Selain itu, DRI berlaku untuk promosi kesehatan karena mencakup indikator
untuk mencegah penyakit kronis dan menghindari efek berbahaya dari mengonsumsi terlalu
banyak nutrisi. Standar-standar ini perlu disesuaikan untuk mengimbangi orang-orang yang
memiliki kondisi seperti kekurangan nutrisi dan kondisi medis. Selain itu, penyesuaian
untuk makanan dan obat-obatan mungkin diperlukan untuk orang yang mengambil satu atau
lebih obat-obatan. DRI yang meningkat seiring bertambahnya usia adalah kalsium (1200 mg
untuk mereka yang berusia 50 tahun ke atas) dan vitamin D (400 dan 600 IU / hari untuk
mereka yang berusia 51 hingga 70 tahun dan mereka yang 70 tahun dan lebih tua, masing-
masing). DRI untuk zat besi berkurang hingga 8 mg /hari pada wanita 51 tahun dan lebih
tua sebagai akibat dari menstruasi penghentian. Bukti terakumulasi sejak publikasi DRI
menunjukkan bahwa DRI untuk vitamin D harus ditingkatkan hingga 1000 IU/hari untuk
semua orang dewasa (Marra & Boyar, 2009).

A. Kalori

Potensi penghasil energi dari makanan diukur dalam satuan disebut kalori.
Persyaratan kalori ditentukan oleh kombinasi berbagai faktor, termasuk tinggi badan, berat
badan, jenis kelamin, kondisi kesehatan-penyakit, dan tingkat aktivitas fisik yang biasa.
Kebutuhan energi menurun secara bertahap karena aktivitas fisik pada dewasa yang lebih
tua menurun dan penurunan ini dalam tingkat metabolisme basal yang berhubungan dengan
berkurangnya massa otot. Karena itu, pedoman nutrisi merekomendasikan pengurangan
kalori secara bertahap yang dimulai antara usia 40 dan 50 tahun. Penurunan asupan kalori
ini membutuhkan peningkatan proporsional dalam kualitas kalori (kepadatan nutrisi) untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi minimal. Jadi, defisiensi gizi akan terjadi kecuali asupan kalori
41
berkurang disertai dengan peningkatan asupan makanan dengan nilai gizi yang tinggi dan
penurunan asupan makanan secara bersamaan yang mengandung sedikit atau tanpa nutrisi.

B. Protein

Protein menyediakan komponen penting untuk pertumbuhan jaringan baru dalam


tubuh manusia. Perubahan terkait usia, seperti berkurangnya massa tubuh menjadi kurus
serta albumin plasma dan kadar total albumin tubuh menurun, dapat memengaruhi
kebutuhan protein pada orang dewasa yang lebih tua. RDA untuk asupan protein harian
untuk semua orang dewasa 19 tahun ke atas adalah 0,8 g / kg tubuh berat. Ini dapat dicapai
jika sekitar 10% hingga 20% dari asupan kalori harian berasal dari protein. Meski survei
nasional menunjukkan bahwa kebanyakan orang dewasa melebihi AKG untuk protein,
penelitian menunjukkan bahwa 11% wanita 71 tahun dan lebih tua memiliki asupan kurang
dari RDA (Fulgoni, 2008). Satu ulasan tentang studi menyimpulkan bahwa RDA untuk
orang dewasa yang lebih tua harus ditingkatkan hingga 1,0 hingga 1,2 g / kg protein untuk
otot dan tulang yang sehat optimal (Gaffney-Stomberg, Insogna, Rodriguez, &
Kerstetter,2009). Studi lain menekankan bahwa rencana diet 25 hingga 30 g protein
berkualitas tinggi setiap kali makan akan menjaga otot massa pada orang dewasa yang lebih
tua (Paddon-Jones & Rasmussen, 2009).

C. Karbohidrat dan Serat

Karbohidrat menyediakan sumber energi dan serat yang penting. Tanpa asupan
karbohidrat yang cukup, tubuh akan mendapatkan energi dari lemak dan protein,
menyebabkan peningkatan kadar kolesterol serum dan trigliserida serta penipisan air,
elektrolit, dan asam amino. Serat makanan (mis., karbohidrat dan lignin yang tidak dicerna
pada tanaman) telah diterima banyak perhatian dalam beberapa tahun terakhir, terutama
untuk perannya dalam pencegahan penyakit, sebagai komponen makanan penting. Rata-rata
setiap hari asupan serat untuk orang Amerika adalah 10 hingga 15 g, yang sangat signifikan
kurang dari jumlah yang disarankan dari 25 hingga 38 g / hari untuk wanita dewasa dan
pria, masing-masing (Slavin, 2008). Ulasan studi menemukan bahwa asupan serat dari
keseluruhan makanan (12 hingga 33 g / hari) atau suplemen (42,5 g / hari) dapat
menurunkan tekanan darah, meningkatkan kadar lipid serum, dan mengurangi indikator
peradangan. Studi menemukan bahwa serat makanan mungkin berperan dalam pencegahan
dan pengobatan obesitas, diabetes, penyakit kardiovaskular, dan kanker kolorektal (Dahm et
al.,2010; Du et al., 2010; Hopping et al., 2010; Maki et al., 2010). Pedoman diet

42
menyarankan asupan harian lima hingga sembilan porsi buah-buahan dan sayuran, dengan
setidaknya 55% dari total kalori yang dikonsumsi berasal dari karbohidrat kompleks.

D. Lemak

Fungsi utama lemak adalah untuk membantu pengaturan suhu, menyediakan sumber
cadangan energi, memfasilitasi penyerapan vitamin yang larut dalam lemak, dan
mengurangi sekresi asam dan aktivitas otot perut. Lemak juga bermanfaat dalam
menyediakan perasaan kenyang dan meningkatkan rasa makanan. Lemak dikategorikan
menurut sumbernya. Lemak jenuh diturunkan dari hewan, sedangkan lemak tak jenuh
ditemukan dalam sayuran. Meskipun kedua jenis lemak tersebut dapat memenuhi kebutuhan
nutrisi, hanya lemak jenuh yang dikaitkan dengan akumulasi yang merugikan kolesterol
serum. Orang dewasa di sebagian besar industri masyarakat mengkonsumsi jauh lebih
banyak kalori dalam lemak daripada yang sehat atau perlu. Karena asupan lemak yang
berlebihan dikaitkan dengan efek yang berbahaya, seperti hiperlipidemia, lemak seharusnya
tidak membentuk lagi dari 10% hingga 30% dari asupan kalori harian seseorang. Lemak
yang dikonsumsi harus asam lemak tak jenuh ganda dan tak jenuh tunggal, bukan kolesterol
dan lemak jenuh.

E. Air

Air sangat umum tersedia sehingga sering diabaikan sebagai kebutuhan nutrisi.
Namun, sangat penting untuk semua kegiatan metabolisme dan harus dikonsumsi dalam
jumlah yang memadai untuk kinerja fisiologis yang tepat. Fungsi air termasuk mengatur
suhu tubuh, menjaga lingkungan metabolisme yang cocok, mencairkan obat yang larut
dalam air, dan memfasilitasi ekskresi ginjal dan usus. Konsekuensi potensial air tubuh yang
berkurang mengakibatkan penurunan efisiensi termoregulasi, peningkatan kerentanan
terhadap dehidrasi, dan peningkatan konsentrasi obat yang larut dalam air dalam tubuh.
Sepanjang hidup, proporsi total air tubuh sebagai persentase berat badan yang menurun
secara bertahap. Sedangkan air merupakan sekitar 80% dari berat bayi yang baru lahir, itu
mewakili 60% dari berat orang dewasa yang lebih muda, dan sekitar 50% atau kurang dari
berat orang dewasa yang lebih tua. Penurunan total air tubuh dikaitkan dengan hilangnya
massa tubuh tanpa lemak dan dipengaruhi oleh jenis kelamin dan tingkat lean, dengan
wanita dan orang gemuk memiliki persentase air tubuh yang lebih rendah daripada pria dan
ramping, orang berotot. Pada orang dewasa yang lebih tua, total air tubuh dapat semakin
berkurang karena asupan cairan yang buruk. Jumlah asupan air yang disarankan (dalam
minuman, air minum, dan makanan) sama untuk orang dewasa dari segala usia: 3,7 liter
43
untuk pria dan 2,7 liter untuk wanita. Sekitar 80% dari total asupan air berasal dari air
minum dan minuman dan 20% berasal dari makanan (Buyckx, 2009).

KONSEKUENSI FUNGSIONAL YANG MEMPENGARUHI PENCERNAAN DAN


NUTRISI

Konsekuensi fungsional negatif pada lansia terjadi terutama karena banyak faktor
risiko yang mempengaruhi orang tua :

A. Kemampuan untuk Mengadaan, Menyiapkan, dan Menikmati Makanan

Kegiatan

Kemampuan yang terlibat dalam pengadaan, persiapan, konsumsi, dan


menikmati makanan tergantung pada keterampilan kognisi, keseimbangan, mobilitas,
dan ketangkasan manual, serta pada panca indera. Pembelian makanan tergantung pada
kekuatan lansia untuk pergi ke toko, mendorong keranjang belanja, meraih barang-
barang makanan di rak-rak tinggi, membaca cetakan kecil di rak-rak dan paket makanan
untuk informasi biaya dan nutrisi, serta menghadapi sorotan cahaya terang, terutama di
bagian makanan beku. Perubahan dan kondisi terkait usia yang dapat mengganggu
aktivitas ini termasuk gangguan penglihatan dan penyakit tulang seperti artritis, yang
membatasi mobilitas, keseimbangan, atau ketangkasan manual.

Kegiatan persiapan makanan yang cenderung lebih sulit bagi orang dewasa yang
lebih tua termasuk memotong barang makanan, mengukur bahan secara akurat,
membawa makanan dan cairan tanpa tumpah, berdiri lama di dapur, meraih barang-
barang di rak-rak tinggi dan di lemari , menggunakan oven atau kompor dengan aman,
dan membaca kontrol suhu dengan benar. Gangguan penglihatan, keseimbangan,
kognisi, mobilitas, atau ketangkasan manual cenderung menyebabkan kesulitan dalam
melakukan tugas-tugas ini.

Fungsi sensorik yang berkurang dapat mempengaruhi kenikmatan makanan


dengan cara berikut:

● Persepsi warna, rasa, atau bau yang tidak akurat dapat mengganggu dengan
nafsu makan dan daya tarik makanan pada lansia.

● Sensitivitas penciuman dan penciuman yang berkurang dapat menyebabkan


penggunaan bumbu yang berlebihan, seperti garam dan gula.
44
● Gangguan penglihatan dan penciuman mungkin menyulitkan mendeteksi
makanan.

● Selain itu, pilihan makanan dipengaruhi oleh kondisi rongga mulut dan gigi,
serta oleh kuantitas dan kualitas gigi alami atau pengganti.

B. Perubahan Fungsi Lisan

Proses pencernaan pada orang tua yang sehat tidak secara signifikan dipengaruhi
oleh perubahan yang berkaitan dengan usia, tetapi orang dewasa yang lebih tua sering
memiliki keluhan pencernaan (misalnya mulas atau sembelit) hal ini biasa terjadi karena
banyak konsekuensi fungsional negatif yang dikaitkan dengan obat-obatan seperti obat
Xerostomia yang mengganggu kenyamanan mulut, kenikmatan makanan, dan
sensitivitas rasa. Selain itu, berkurangnya produksi air liur membuatnya lebih sulit untuk
mengunyah makanan dan meningkatkan kerentanan gigi dan lidah terhadap aksi bakteri.
Orang dewasa yang lebih tua dengan kesehatan mulut yang buruk cenderung
menghindari makan buah utuh, sayuran mentah, dan daging (Quandt et al., 2010).
Konsekuensi fungsional menjadi edentulous atau menggunakan penyimpangan termasuk
menghindari makanan tertentu, mengurangi efisiensi mengunyah, dan meningkatkan
kerentanan terhadap tersedak tak sengaja dari pengunyahan yang tidak efektif. Karena
orang yang kurang sehat cenderung menghindari daging, salad, buah-buahan segar, dan
sayuran mentah, mereka mungkin berisiko kekurangan gizi (Savoca et al., 2010; Tsakos,
Herrick, Sheiham, & Watt, 2010).

C. Status Gizi dan Perubahan Berat Badan

Pada lansia yang memiliki lebih sedikit kalori, kekurangan mineral atau vitamin
esensial kemungkinan terjadi jika jumlah kalori berkurang tanpa peningkatan kualitas
makanan yang dikonsumsi. Selain itu, faktor risiko (mis., Obat-obatan dan proses
patologis) yang umumnya terjadi pada orang dewasa yang lebih tua sering menyebabkan
kekurangan nutrisi. Lalu, kekurangan zat besi dikaitkan dengan penyakit kronis dan
status sosial ekonomi rendah. Mineral dan vitamin lain yang umumnya kurang pada
orang dewasa yang lebih tua adalah seng, kalsium, sebagian besar vitamin B, dan
vitamin D dan E.

Jenis malnutrisi yang umum pada orang dewasa tua yang lemah adalah
malnutrisi protein-energi (juga disebut malnutrisi protein-kalori), yang terjadi ketika
asupan kalori dan protein kurang dari jumlah yang dibutuhkan untuk memenuhi
45
kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini dikaitkan dengan diet tinggi karbohidrat, rendah
protein, yang seringkali merupakan hasil dari satu atau beberapa faktor risiko yang telah
dibahas (mis., Depresi, kehilangan pasangan, kondisi patologis). Karakteristik malnutrisi
protein-energi ringan atau sedang termasuk kelemahan, kelesuan, penurunan berat badan
yang tidak disengaja, massa otot berkurang, penurunan lemak subkutan, dan gangguan
kemampuan untuk merespons tekanan fisiologis (mis., Operasi, infeksi). Jika kondisinya
berkembang dan menjadi parah, ini ditandai dengan edema dan kehilangan protein
visceral. Dalam sebuah studi pasien antara usia 65 dan 99 tahun, konsekuensi negatif
dari malnutrisi energi-protein termasuk anemia, penurunan fungsi tiroid, perubahan
produksi insulin, anomali dalam retensi garam dan air, hilangnya massa otot rangka,
penurunan laju filtrasi glomerulus, penurunan bersihan kreatinin, dan peningkatan risiko
pneumonia (Price, 2008).

Perubahan terkait usia dalam komposisi tubuh dan metabolisme karbohidrat


berkontribusi terhadap peningkatan berat badan secara bertahap. Proporsi lemak tubuh
untuk jaringan ramping mulai meningkat sekitar 30 tahun dan menyebabkan
peningkatan lemak perut secara tidak proporsional selama masa dewasa nanti. Pola
distribusi lemak ini dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes, penyakit
kardiovaskular, dan kondisi kronis lainnya. Prevalensi obesitas yang meningkat secara
bertahap merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama untuk semua kelompok
populasi, tetapi paling umum di antara orang dewasa yang berusia antara 65 dan 74
tahun.

D. Kualitas hidup

Makanan dan gizi yang baik adalah komponen penting dari kualitas hidup yang
berhubungan dengan kesehatan dalam banyak hal. Kegiatan yang berhubungan dengan
makanan sering menjadi titik fokus dari perayaan suatu acara, ritual keagamaan, atau
pertemuan untuk berbagi peristiwa penting. Selain itu, waktu makan biasanya dikaitkan
dengan perhatian, kenyamanan, pengasuhan, dan interaksi sosial. Dengan demikian,
ketika kenikmatan waktu makan dipengaruhi dengan cara apa pun, aspek psikososial
dari makan juga terpengaruh. Orang dewasa yang lebih tua yang menikmati
berpartisipasi dalam makanan keluarga atau makan di restoran dapat menarik diri dari
kegiatan ini jika makanan tidak lagi menyenangkan. Demikian pula, ketika peristiwa ini
bukan lagi bagian dari kehidupan orang dewasa yang lebih tua, mereka mungkin
kehilangan minat makan
46
Ketika asupan cairan atau nutrisi tidak memadai, orang dewasa yang lebih tua
cenderung mengalami malnutrisi dan dehidrasi karena gangguan mekanisme
homeostatis. Perubahan status mental, termasuk gangguan memori, adalah di antara
tanda-tanda awal malnutrisi, dehidrasi, dan ketidakseimbangan elektrolit pada orang
dewasa yang lebih tua. Kadang-kadang perubahan mental ini dikaitkan secara tidak
benar dengan kondisi yang tidak dapat diubah (mis., Demensia) daripada karena
ketidakseimbangan metabolisme yang dapat diobati dan dapat diterima. Sebagai contoh,
kekurangan vitamin B12 atau D adalah penyebab nutrisi umum dari perubahan mental
(Morley, 2010).

Pathologic condition affecting digestive wellness: constipation

Konstipasi didefinisikan sebagai penurunan frekuensi defekasi yang disertai


kesulitan atau pengeluaran feses tidak tuntas dan/atau yang keras, kering dan banyak
(NANDA, 2018). Konstipasi merupakan salah satu kondisi patologi yang sering terjadi
pada sistem pencernaan. Frekuensi BAB yang normal yaitu sekitar diantara tiga kali
sehari hingga seminggu atau dua minggu. Karakteristik lain adalah orang mengalami
perasaan tidak tuntas atau tidak lengkap setelah buang air besar. Sekitar setengah dari
orang dewasa lanjut usia yang dilembagakan melaporkan kebanyakan masalah adalah
konstipasi dan tiga perempat dari itu menggunakan obat pencahar setiap hari (Bouras &
Tangalos, 2009). Tingkat prevalensi tertinggi ada pada wanita dan meningkat secara
bertahap setelah usia 50 tahun, dengan peningkatan terbesar setelah usia 70 tahun
(McCrea, Miaskowski, Stotts, Macera, & Varma, 2009).

Meskipun konstipasi adalah keluhan umum dari orang dewasa yang lebih tua,
hal tersebut dapat disebabkan oleh faktor risiko yang terkait dengan perubahan usia.
Faktor risiko yang umum pada orang dewasa yang lebih tua termasuk gangguan
fungsional (misalnya, mobilitas berkurang), kondisi patologis (misalnya,
hipotiroidisme), efek obat yang merugikan (termasuk penyalahgunaan pencahar jangka
panjang), dan kebiasaan pola makan yang buruk (misalnya, asupan massal, serat, dan
cairan). Karena sembelit sering terjadi pada orang dewasa yang lebih tua, perawat
menilai faktor-faktor risiko dan memulai intervensi promosi kesehatan.

47
BAB III
PROSES KEPERAWATAN

III.1 Kasus

KASUS
Seorang lansia laki-laki berusia 75 tahun tinggal di panti jompo bersama dengan istrinya
(68 tahun). Lansia mengeluh lemas serasa ingin pingsan. Akhir-akhir ini lansia mengeluh
sering haus, sering BAK terutama di malam hari, sering merasa lapar, berat badan
menurun 5 kg dalam satu bulan terakhir. Lansia juga mengeluh mudah lelah, kesemutan
pad ajari tangan dan kaki, pandangan kabur seperti ada kabut putih. Hasil pemeriksaan
GDS lansia dalam 3 hari terakhir 320mg/dl , 201 mg/dl , 375 mg/dl.
Istri mengatakan lansia lebih banyak berbaring di tempat tidur sambil menonton tv sambil
makan cemilan, tidak mau ikut kegiatan senam maupun kegiatan seni lainnya. Istri
mengatakan tidak tau tentang penyakit suaminya. Lansia mendapatkan injeksi insulin
1x/hari, tetapi jarang diinjeksikan karena lansia mengagap penyakitnya adalah penyakit
tua.
Istri mengatakan sering bertengkar karena lansia mengalami penurunan pendengaran.
Lansia sering nonton TV dengan volume yang kencang, berbicara kepada istri dengan
nada tinggi dan beteriak. Namun lansia mengangap istri tidak pernah mendengarkan
perkataannya. Istri mengatakan sudah menjawab namun sambil mengerjakan sesuatu
dengan jarak yang cukup jauh
DATA TAMBAHAN:
Lansia mengatakan tidak tahu manfaat dari injeksi insulin dan akibat jika insulin tidak
diinjeksikan, malas mencari informasi mengenai penyakitna. Lansia merasa tidak perlu
injeksi insulin karena ia menganggap penyakitnya tidak akan sembuh. Tidak menjawab
ketika istri atau perawat memanggil dari jauh. Lansia sering meminta pembicara untuk
mengulang pertanyaan yang sudah diajukan. Lansia sering mendekatkan salah satu telinga
ke arah pembicara. Lansia tidak berespon terhadap suara yang keras. Lansia malas
mengikuti kegiatan yang ada dipanti karena sulit untuk berinteraksi atau berkomunikasi.
Lansia tidak memakai alat bantu pendengaran karena merasa malu. Lansia mengatakan
selalu kesulitan untuk berjalan jauh. Lansia lebih suka menghabiskan waktu sendiri atau
bersama istrinya dibanding bersosialisasi dengan teman di panti. Lansia merasa kesuliat
ketika berdiri terlalu lama. Lansia cepat merasa letih atau kelelahan ketika beraktivitas
terlalu berat. Perawat melakukan pemeriksaan GDS setiap hari ddan menjelaskan
48
mengenai pengertian, penyebab, tanda dan gejala, komplikasi dan pengobatan DM.
Perawat menjelaskan mengenai manfaat insulin dan akibat jika lansia tidak menijeksikan
insulin secara teratur. Perawat mempertahankan dan melindungi hak-hak lansia yang
meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya dan hak atas informasi tentang penyakitnya.
Perawat mencari dan mempelajari literatur penelitian saat ini, dan menerjemahkan ke
dalam praktik hasil penelitian . Perawat membantu lansia mengidentifikasi dan
mengklarifikasi mengenai tindakan injeksi insulin dan menjelaskan tindakan-tindakan
yang tepat untuk melaksanakan injeksi insulin tersebut. Perawat bekerja sama dengan
dokter untuk memotivasi lansia memakai alat bantu pendengaran agar lansia dapat
berkomunikasi dengan baik.

Data Tambahan Dalam Pengkajian untuk Meneggakkan Diagnosa Ditambahkan Data Untuk
Peran dan Etika Perawat

1. Data tambahan untuk diagnosa


a. Risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah
1) Lansia mengatakan tidak tahu manfaat dari injeksi insulin dan akibat jika insulin
tidak diinjeksikan
2) Lansia malas mencari informasi mengenai penyakitnya
3) Lansia merasa tidak perlu injeksi insulin karena ia menganggap penyakitnya
tidak akan sembuh
b. Hambatan komunikasi verbal
1) Tidak menjawab ketika istri atau perawat memanggil dari jauh
2) Lansia sering meminta pembicara untuk mengulang pertanyaan yang sudah
diajukan
3) Lansia sering mendekatkan salah satu telinga ke arah pembicara
4) Lansia tidak berespon terhadap suara yang keras
5) Lansia malas mengikuti kegiatan yang ada dipanti karena sulit untuk berinteraksi
atau berkomunikasi
6) Lansia tidak memakai alat bantu pendengaran karena merasa malu
c. Sindrom Lansia Lemah
1) Lansia mengatakan selalu kesulitan untuk berjalan jauh
2) Lansia lebih suka menghabiskan waktu sendiri atau bersama istrinya dibanding
bersosialisasi dengan teman di panti
3) Lansia merasa kesuliat ketika berdiri terlalu lama

49
4) Lansia cepat merasa letih atau kelelahan ketika beraktivitas terlalu berat

2. Data tambahan untuk peran dan etika perawat


a. Peran Perawat
1) Direct-Care Provider
Perawat melakukan pemeriksaan GDS setiap hari
2) Pendidik
a) Perawat menjelaskan mengenai pengertian, penyebab, tanda dan gejala,
komplikasi dan pengobatan DM
b) Perawat menjelaskan mengenai manfaat insulin dan akibat jika lansia tidak
menijeksikan insulin secara teratur
3) Advokat
Perawat mempertahankan dan melindungi hak-hak lansia yang meliputi hak atas
pelayanan sebaik-baiknya dan hak atas informasi tentang penyakitnya
4) Evidence-Based Clinician
Perawat mencari dan mempelajari literatur penelitian saat ini, dan
menerjemahkan ke dalam praktik hasil penelitian
5) Konselor
Perawat membantu lansia mengidentifikasi dan mengklarifikasi mengenai
tindakan injeksi insulin dan menjelaskan tindakan-tindakan yang tepat
untukmelaksanakan injeksi insulin tersebut.
6) Kolaborator
Perawat bekerja sama dengan dokter untuk memotivasi lansia memakai alat
bantu pendengaran agar lansia dapat berkomunikasi dengan baik.
b. Etika Perawat

1) Otonomi (Autonomi)
Perawat memberikan lansia kebebasan dalam memilih tindakan selanjutnya
ketika sudah dijelaskan manfaat injeksi insulin dan akibat jika tidak diinjeksikan
2) Beneficence (Berbuat Baik)
a) Perawat menjelaskan kegunaan dan manfaat memakai alat bantu dengar dan
memotivasi lansia untuk mengikuti kegiatan di panti
b) Perawat memotivasi lansia untuk ikut kegiatan senam agar kakinya tidak
kesemutan lagi
3) Justice (Keadilan)
50
Perawat memperlakukan lansia dengan istrinya sama dan tidak membeda-
bedakan
4) Non-maleficence (tidak merugikan)
a) Perawat memberikan perawatan yang dibutuhkan lansia
b) Perawat mengajarkan senam kaki untuk penderita DM agar kesemutan yang
sering dialami lansia dapat berkurang
5) Veracity (Kejujuran)
Perawat memberikan penjelasan mengenai penyakit DM yang tidak bisa sembuh
namun bisa di kontrol
6) Fidelity (Menepati janji)
Perawat selalu menepati janji untuk menemui lansia dan istrinya
7) Confidentiality (Kerahasiaan)
Perawat menjaga kerahasiaan mengenai kondisi lansia dan tidak
menceritakannya walaupun dengan teman atau keluarganya.
III.2 Pengkajian

FORMAT PENGKAJIAN LANSIA


ADAPTASI TEORI MODEL CAROL A MILLER

Nama wisma : Tanggal Pengkajian :

IDENTITAS 1.:
KLIEN

Nama : Tn. L

Umur : 78 tahun

Agama : Islam

Alamat asal : Ciracas

Tanggal datang : 28 April 2010 Lama Tinggal di Panti : 9 tahun

2. DATA :
KELUARGA

Nama : Ny. M

Hubungan : Istri

51
Pekerjaan :

Alamat : Ciracas Telp : 0813 1894 0440

3. STATUS KESEHATAN SEKARANG :


Keluhan utama:

lansia sering marah-marah dan melempar benda-benda di sekitarnya. Lansia kesal jika petugas
tidak paham apa yang diinginkan lansia. lansia memakai diapers karena sudah tidak bisa
merasakan sensasi ingin berkemih atau BAB Lansia masih sering merokok jika teman-temannya
ada yang merokok, apabila dilarang lansia melempar barang yang ada didekatnya

Pengetahuan, usaha yang dilakukan untuk mengatasi keluhan:

Penggunaan popok lansia, melarang lansia untuk merokok.

Obat-obatan: -

4. AGE RELATED CHANGES (PERUBAHAN TERKAIT PROSES MENUA) :

FUNGSI FISIOLOGIS

1. Kondisi Umum
Ya Tidak
Kelelahan :
Perubahan BB :
Perubahan nafsu :
makan
Masalah tidur :
Kemampuan ADL :
KETERANGAN : ......................................................................................................
......................................................................................................

2. Integumen
Ya Tidak
Lesi / luka : Ya
Pruritus :

52
Perubahan :
pigmen
Memar : Ya
Pola :
penyembuhan lesi
KETERANGAN : ..........................................................................................................
..........................................................................................................

3. Hematopoetic
Ya Tidak
Perdarahan : Tidak
abnormal
Pembengkakan : Tidak
kel. Limfe
Anemia : Ya
KETERANGAN : .....................................................................................................

4. Kepala
Ya Tidak
Sakit kepala : Tidak
Pusing : Ya
Gatal pada kulit : Ya
kepala
KETERANGAN : ............................................................................................................................
............................................................................................................................

5. Mata
Ya Tidak
Perubahan : Ya
penglihatan
Pakai kacamata : Tidak

53
Kekeringan mata : Ya
Nyeri : Tidak
Gatal : Tidak
Photobobia : Tidak
Diplopia : Tidak
Riwayat infeksi : Tidak
KETERANGAN : .........................................................................................................................
.........................................................................................................................

6. Telinga
Ya Tidak
Penurunan pendengaran : Ya
Discharge : Tidak
Tinitus : Tidak
Vertigo : Tidak
Alat bantu dengar : Tidak
Riwayat infeksi : Tidak
Kebiasaan membersihkan : Tidak
telinga
Dampak pada ADL : ..........................................................................................
KETERANGAN : ..........................................................................................
..........................................................................................

7. Hidung sinus
Ya Tidak
Rhinorrhea : Tidak
Discharge : Tidak
Epistaksis : Tidak
Obstruksi : Tidak
Snoring : Tidak

54
Alergi : Tidak
Riwayat infeksi :
KETERANGAN : ...................................................................................................................
...................................................................................................................

8. Mulut,
tenggorokan
Ya Tidak
Nyeri telan : Tidak
Kesulitan menelan : Tidak
Lesi : Tidak
Perdarahan gusi : Ya
Caries : Ya
Perubahan rasa : Tidak
Gigi palsu : Tidak
Riwayat Infeksi :
Pola sikat gigi : Lansia jarang sikat gigi
KETERANGAN : ........................................................................................................
........................................................................................................

9. Leher
Ya Tidak
Kekakuan : Tidak
Nyeri tekan : Ya
Massa : Tidak
KETERANGAN : .........................................................................................................................
.........................................................................................................................

10. Pernafasan
Ya Tidak
Batuk : Ya
Nafas pendek : Ya
55
Hemoptisis : Tidak
Wheezing : Tidak
Asma : Tidak
KETERANGAN : ...................................................................................................................
...................................................................................................................

11. Kardiovaskuler
Ya Tidak
Chest pain : Tidak
Palpitasi : Tidak
Dipsnoe : Tidak
Paroximal : Tidak
nocturnal
Orthopnea : Tidak
Murmur : Tidak
Edema : Tidak
KETERANGAN : ...............................................................................................................
...............................................................................................................

12. Gastrointestinal
Ya Tidak
Disphagia : Tidak
Nausea / : Tidak
vomiting
Hemateemesis : Tidak
Perubahan nafsu : Ya
makan
Massa : Tidak
Jaundice : Tidak
Perubahan pola : Ya
BAB
Melena : Tidak

56
Hemorrhoid : Tidak
Pola BAB : ...........................................................................................................
KETERANGAN : ...........................................................................................................
...........................................................................................................

13. Perkemihan
Ya Tidak
Dysuria : Tidak
Frekuensi : .......................................................................................................
Hesitancy : Ya
Urgency : Ya
Hematuria : Tidak
Poliuria : Ya
Oliguria : Tidak
Nocturia : Ya
Inkontinensia : Ya
Nyeri berkemih : Tidak
Pola BAK : ...........................................................................................................
KETERANGAN : ...........................................................................................................
...........................................................................................................

14. Reproduksi (laki-


laki)
Ya Tidak
Lesi : Tidak
Disharge : Tidak
Testiculer pain : Tidak
Testiculer massa : Tidak
Perubahan gairah : Tidak
sex

57
Impotensi : Tidak

Reproduksi
(perempuan)
Lesi :
Discharge :
Postcoital bleeding :
Nyeri pelvis :
Prolap :
Riwayat menstruasi : ..............................................................................................
Aktifitas seksual :
Pap smear :
KETERANGAN : ...........................................................................................................
...........................................................................................................

15. Muskuloskeletal
Ya Tidak
Nyeri Sendi : Ya
Bengkak : Ya
Kaku sendi : Ya
Deformitas : Tidak
Spasme : Tidak
Kram : Tidak
Kelemahan otot : Ya
Masalah gaya : Ya
berjalan
Nyeri punggung : Ya
Pola latihan : ............................................................................................
Dampak ADL : ..................................................................................................
KETERANGAN : ...........................................................................................................
...........................................................................................................

58
16. Persyarafan
Ya Tidak
Headache : Tidak
Seizures : Tidak
Syncope : Tidak
Tic/tremor : Tidak
Paralysis : Tidak
Paresis : Ya
Masalah memori : Ya
KETERANGAN : ...........................................................................................................
...........................................................................................................

5. POTENSI PERTUMBUHAN PSIKOSOSIAL DAN SPIRITUAL :

Psikososial YA Tidak

Cemas : Ya

Depresi : Tidak

Ketakutan : Ya

Insomnia : Ya

Kesulitan dalam mengambil : Ya


keputusan

Kesulitan konsentrasi : Ya

Mekanisme koping : Lansia menarik diri

Persepsi tentang kematian : Menurut lansia, kematian pasti akan dating kapan saja.
Apalagi dirinya sudah tua, pasti akan sebentar lagi.

Dampak pada ADL : Lansia tidak memiliki motivasi untuk bergerak dan

59
berakivitas.

Spiritual

 Aktivitas ibadah : Lansia jarang melaksanakan ibadah

 Hambatan : Saat waktu ibadah tiba, lansia sedang mengemis. Selain


itu lansia juga merasa lemas
KETERANGAN : Semenjak memasuki masa lansia, lansia jarang melakukan
ibadah karena mengemis dan terlalu lelah.

6. LINGKUNGAN :

 Kamar : Lansia tidak memiliki kamar sendiri

 Kamar mandi : Kamar mandi kurang bersih, licin

 Dalam rumah/ wisma :


................................................................................................

 Luar rumah : Luar rumah kumuh

7. NEGATIVE FUNCTIONAL CONSEQUENCES

1. Kemampuan ADL
Tingkat kemandirian dalam kehidupan sehari-hari (Indeks Barthel)
No Kriteria Dengan Mandiri Skor
Bantuan Yang
Didapat
1 Makan 5 10 10
2 Berpindah dari kursi roda ke tempat tidur, atau 5-10 15 10
sebaliknya
3 Personal toilet (cuci muka, menyisir rambut, gosok 0 5 3
gigi)
4 Keluar masuk toilet (mencuci pakaian, menyeka 5 10 5

60
tubuh, menyiram)
5 Mandi 0 5 0
6 Berjalan di permukaan datar (jika tidak bisa, dengan 0 5 5
kursi roda )
7 Naik turun tangga 5 10 10
8 Mengenakan pakaian 5 10 5
9 Kontrol bowel (BAB) 5 10 10
10 Kontrol Bladder (BAK) 5 10 5

2. Aspek Kognitif

MMSE (Mini Mental Status Exam)

N Aspek Nilai Nilai Kriteria


o Kognitif maksima Klie
l n
1 Orientasi 5 Menyebutkan dengan benar :
Tahun : 2019 Hari :
Musim : ............................ Bulan :
.............................................
Tanggal :
2 Orientasi 5 Dimana sekarang kita berada ?
Negara: …………………… Panti :
………………………………..
Propinsi: ………………….. Wisma :
……………………………..
Kabupaten/kota :
…………………………………………………
….
3 Registrasi 3 Sebutkan 3 nama obyek (misal : kursi, meja,
kertas), kemudian ditanyakan kepada klien,
menjawab :
1) Kursi 2). Meja 3). Kertas
4 Perhatiandankalkula 5 Meminta klien berhitung mulai dari 100
si kemudia kurangi 7 sampai 5 tingkat.
Jawaban :
1). 93 2). 86 3). 79 4). 72 5).
65
5 Mengingat 3 Minta klien untuk mengulangi ketiga obyek
pada poin ke- 2 (tiap poin nilai 1)
6 Bahasa 9 Menanyakan pada klien tentang benda (sambil
menunjukan benda tersebut).
1). ...................................
2). ...................................
3). Minta klien untuk mengulangi kata berikut :

61
“ tidak ada, dan, jika, atau tetapi )
Klien menjawab :

Minta klien untuk mengikuti perintah berikut


yang terdiri 3 langkah.
4). Ambil kertas ditangan anda
5). Lipat dua
6). Taruh dilantai.
Perintahkan pada klien untuk hal berikut (bila
aktifitas sesuai perintah nilai satu poin.
7). “Tutup mata anda”
8). Perintahkan kepada klien untuk menulis
kalimat dan
9). Menyalin gambar 2 segi lima yang saling
bertumpuk

Total nilai 30
Interpretasi hasil :
24 – 30 : tidak ada gangguan kognitif
18 – 23 : gangguan kognitif sedang
0 - 17 : gangguan kognitif berat
Kesimpulan :…………………………………………………………………………………..

3. Tes Keseimbangan
Time Up Go Test
No Tanggal Pemeriksaan Hasil TUG (detik)

Rata-rata Waktu TUG

Interpretasi hasil

Interpretasi hasil:
Apabila hasil pemeriksaan TUG menunjukan hasil berikut:
>13,5 detik Resiko tinggi jatuh

>24 detik Diperkirakan jatuh dalam kurun waktu


6 bulan

62
>30 detik Diperkirakan membutuhkan bantuan
dalam mobilisasi dan melakukan ADL

(Bohannon: 2006; Shumway-Cook,Brauer & Woolacott: 2000; Kristensen, Foss &


Kehlet: 2007: Podsiadlo & Richardson:1991)
4. Kecemasan, GDS
Pengkajian Depresi
Jawaban
No Pertanyaan
Ya Tdk Hasil
1. Anda puas dengan kehidupan anda saat ini 0 1 1
2. Anda merasa bosan dengan berbagai aktifitas dan kesenangan 1 0 1
3. Anda merasa bahwa hidup anda hampa / kosong 1 0 1
4. Anda sering merasa bosan 1 0 1
5. Anda memiliki motivasi yang baik sepanjang waktu 0 1 1
8. Anda takut ada sesuatu yang buruk terjadi pada anda 1 0 1
7. Anda lebih merasa bahagia di sepanjang waktu 0 1 1
8. Anda sering merasakan butuh bantuan 1 0 1
9. Anda lebih senang tinggal dirumah daripada keluar melakukan 1 0 1
sesuatu hal
10. Anda merasa memiliki banyak masalah dengan ingatan anda 1 0 0
11. Anda menemukan bahwa hidup ini sangat luar biasa 0 1 1
12. Anda tidak tertarik dengan jalan hidup anda 1 0 1
13. Anda merasa diri anda sangat energik / bersemangat 0 1 1
14. Anda merasa tidak punya harapan 1 0 1
15. Anda berfikir bahwa orang lain lebih baik dari diri anda 1 0 1
Jumlah
(Geriatric Depressoion Scale (Short Form) dari Yesafage (1983) dalam Gerontological
Nursing, 2006)
Interpretasi :
Jika Diperoleh skore 5 atau lebih, maka diindikasikan depresi

5. Status Nutrisi

Pengkajian determinan nutrisi pada lansia:

No Indikators score Pemeriksaan

63
1. Menderita sakit atau kondisi yang mengakibatkan perubahan 2 -
jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi
2. Makan kurang dari 2 kali dalam sehari 3 3
3. Makan sedikit buah, sayur atau olahan susu 2 2
4. Mempunyai tiga atau lebih kebiasaan minum minuman 2 -
beralkohol setiap harinya
5. Mempunyai masalah dengan mulut atau giginya sehingga tidak 2 2
dapat makan makanan yang keras
6. Tidak selalu mempunyai cukup uang untuk membeli makanan 4 4
7. Lebih sering makan sendirian 1 1
8. Mempunyai keharusan menjalankan terapi minum obat 3 kali 1 -
atau lebih setiap harinya
9. Mengalami penurunan berat badan 5 Kg dalam enam bulan 2 2
terakhir
10. Tidak selalu mempunyai kemampuan fisik yang cukup untuk 2 2
belanja, memasak atau makan sendiri
Total score 16
(American Dietetic Association and National Council on the Aging, dalam Introductory
Gerontological Nursing, 2001)
Interpretasi:
0 – 2 : Good
3 – 5 : Moderate nutritional risk
6≥ : High nutritional risk
(Yang di centang aja yang dijumlah)

6. Hasil pemeriksaan Diagnostik


No Jenis pemeriksaan Tanggal Hasil
Diagnostik Pemeriksaan

64
7. Fungsi sosial lansia

APGAR KELUARGA DENGAN LANSIA


Alat Skrining yang dapat digunakan untuk mengkaji fungsi sosial lansia

NO URAIAN FUNGSI SKORE


1. Saya puas bahwa saya dapat kembali pada keluarga (teman- ADAPTATION 1
teman) saya untuk membantu pada waktu sesuatu
menyusahkan saya
2. Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman)saya PARTNERSHI 0
membicarakan sesuatu dengan saya dan mengungkapkan P
masalah dengan saya
3. Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) saya GROWTH 0
menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan
aktivitas / arah baru
4. Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) saya AFFECTION 0
mengekspresikan afek dan berespon terhadap emosi-emosi
saya seperti marah, sedih/mencintai
5. Saya puas dengan cara teman-teman saya dan saya RESOLVE 1
meneyediakan waktu bersama-sama
Kategori Skor: TOTAL 2
Pertanyaan-pertanyaan yang dijawab:
1). Selalu : skore 2 2). Kadang-kadang : 1
3). Hampir tidak pernah : skore 0
Intepretasi:
< 3 = Disfungsi berat
4 - 6 = Disfungsi sedang
> 6 = Fungsi baik
Smilkstein, 1978 dalam Gerontologic Nursing and health aging 2005

III.3 Analisa Data dan Diagnosa

65
Analisa data
Data Masalah
Ds: Sindrom Lansia Lemah
 Lansia mengatakan selalu kesulitan
untuk berjalan jauh
 Lansia merasa kesuliat ketika berdiri
terlalu lama
 Lansia cepat merasa letih atau
kelelahan ketika beraktivitas terlalu
berat
Do:
 Lansia lebih suka menghabiskan
waktu sendiri atau bersama istrinya
dibanding bersosialisasi dengan
teman di panti

Ds: Risiko Ketidakseimbangan Kadar Glukosa


 Lansia mengeluh lemas serasa ingin Darah
pingsan
 Akhir-akhir ini lansia mengeluh sering
haus, sering BAK terutama di malam
hari, sering merasa lapar, berat badan
menurun 5 kg dalam satu bulan terakhir
 . Lansia juga mengeluh mudah lelah,
kesemutan pad ajari tangan dan kaki,
pandangan kabur seperti ada kabut putih
 Istri mengatakan lansia lebih banyak
berbaring di tempat tidur sambil
menonton tv sambil makan cemilan,
tidak mau ikut kegiatan senam maupun
kegiatan seni lainnya
 Istri mengatakan tidak tau tentang
penyakit suaminya.
 Lansia jarang diinjeksikan insulin karena

66
lansia mengagap penyakitnya adalah
penyakit tua.
 Lansia mengatakan tidak tahu manfaat
dari injeksi insulin dan akibat jika insulin
tidak diinjeksikan
 Lansia malas mencari informasi
mengenai penyakitnya
 Lansia merasa tidak perlu injeksi insulin
karena ia menganggap penyakitnya tidak
akan sembuh

Do:
 Hasil pemeriksaan GDS lansia dalam
3 hari terakhir 320mg/dl , 201 mg/dl
, 375 mg/dl.

Ds: Hambatan komunikasi verbal


 Istri mengatakan sering bertengkar
karena lansia mengalami penurunan
pendengaran.
 Lansia sering nonton TV dengan volume
yang kencang, berbicara kepada istri
dengan nada tinggi dan beteriak.
 lansia mengangap istri tidak pernah
mendengarkan perkataannya padahal
istri sudah menjawab namun sambil
mengerjakan sesuatu dengan jarak yang
cukup jauh
 Tidak menjawab ketika istri memanggil
dari jauh.
 Lansia malas mengikuti kegiatan yang
ada dipanti karena sulit untuk
berinteraksi atau berkomunikasi

67
 Lansia tidak memakai alat bantu
pendengaran karena merasa malu.

Do:
 Tidak menjawab ketika perawat
memanggil dari jauh.
 Lansia sering meminta pembicara untuk
mengulang pertanyaan yang sudah
diajukan.
 Lansia sering mendekatkan salah satu
telinga ke arah pembicara.
 Lansia tidak berespon terhadap suara
yang keras
 Lansia tidak memakai alat bantu dengar

Diagnosa Keperawatan
1.Sindrom Lansia Lemah
2.Risiko Ketidakseimbangan Kadar Glukosa Darah
3.Defisiensi Pengetahuan

III.4 Intervensi Keperawatan

Rencana keperawatan (NOC & NIC)

No. Diagnosa Outcomes Intervensi

1. Sindrom Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama NIC: Manajemen Energi (hal
lansia lemah 2 x 24 jam diharapkan klien dapat memperbaiki 177)
kemampuan dalam beraktivitas sehari-hari 1. Kaji status fisiologi pasien
NOC: Tingkat kelelahan (hal 575) yang menyebabkan
1. Kelelahan dipertahankan pada berat dan kelelahan sesuai konteks usia
68
ditingkatkan ke ringan (1  4) dan perkembanagan
2. Nyeri otot dipertahankan pada berat dan 2. Anjurkan pasien
ditingkatkan ke ringan (1  4) mengungkapkan perasaanna
3. Kegiatan sehari-hari (ADL) dipertahankan secara verbal mengenai
pada sangat tergangguu dan ditingkatkan ke keterbatasan yang dialami
sedikit terganggu (1  4) 3. Pilih intervensi untuk
NOC: Kelelahan: Efek yang mengganggu mengurangi kelelahan baik
(hal 122) secara farmakologis maupun
1. Malaise dipertahankan pada berat dan secara nonfarmokologis
ditingkatkan ke ringan (1  4) dengan tepat
2. Perubahan status nutrisi dipertahankan 4. Tetntukan jenis dan
pada berat dan ditingkatkan ke ringan (1  banyanya aktivitas yang
4) dibutuhkan untuk menjaga
3. Hubungan interpersonal dipertahankan ketahanan
pada berat dan ditingkatkan ke ringan (1  NIC: Peningkatan latihan (hal
4) 338 )
1. Gali pengalaman individu
NOC: Konservasi Energi (hal 253)
sebelumnya mengenai
1. Menyeimbangan antara aktivitas dan aktivitas
istirahat dipertahankan pada tidak pernah 2. Gali hambatan untuk
menunjukan dan ditingkatkan ke sering melakukan aktivitas
menunjukan (1  4) 3. Pertimbangkan motivasi
2. Menyadari keterbatasan energi individu unntuk memulai
dipertahankan pada tidak pernah lanjutan program latihan
menunjukan dan ditingkatkan ke sering 4. Libatkan keluarga dalam
menunjukan (1  4) merencanakan dan
3. Mengatur akitivitas untuk konservasi energi meningkatkan program
dipertahankan pada tidak pernah latihan
menunjukan dan ditingkatkan ke sering NIC: Terapi Aktivitas (hal 431)
menunjukan (1  4) 1. Cipptakan lingkungan yang
4. Mempertahankan intake nutrisi yang cukup aman untuk dapat melakukan
dipertahankan pada tidak pernah pergerakan otot secara
menunjukan dan ditingkatkan ke sering berkala sesuai indikasi
menunjukan (1  4) 2. Bantu klien untuk

69
mengidentifikasi aktivitas
yang diinginkan
3. Berkoordinasi dalam
menyeleksi pasiensesuai
dengan umur yang sesuai
dengan aktivitas yag
diinginkan
4. Rujuk kepusat komunitas
maupun program program
aktivitas komunitas, jika
diperlukan

2. Risiko Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama NIC: Pengajaran : Peresepan


ketidakseimb 3 x 24 jam diharapkan klien dapat memperbaiki Diet (hal 296)
angan kadar kemampuan dalam beraktivitas sehari-hari 1. Kaji tingkat pengtahuan
glukosa NOC: Kadar Glukosa Darah ( hal 109 ) pasien mengenai diet yang
darah 1. Glukosa darah dipertahankan pada devisiasi disarankan
berat dari kisaran normal ditingkatkan ke 2. Instruksikan kepada pasien
devisiasi ringan sedang dari kisaran normal untuk merencanakan diet
(1  4) yang sesuai
2. Urin glukosa dipertahankan pada devisiasi 3. Kaji pola makan pasiensaat
berat dari kisaran normal ditingkatkan ke ini dan sebelumnya,termasuk
devisiasi ringan sedang dari kisaran normal makanan yang disukai dan
(1  4) pola makan saat ini.
70
NOC : Keparahan Hiperglikemia (hal 132) NIC : Manajemen
1. Peningkatan urin output Dipertahankan Hiperglikemi (hal 180)
pada berat ditingkatkan ke ringan (1  4) 1. Monitor kadar glukosa
2. Peningkatan haus Dipertahankan pada berat darah, sesuai indikasi
ditingkatkan ke ringan (1  4) 2. Monitor tanda dan gejala
3. Lapar berlebihan Dipertahankan pada berat hiperglikemia
ditingkatkan ke ringan (1  4) :poliuria,polifagi,polidipsi,
4. Kelelahan Dipertahankan pada berat kelemahan,malaise,pandanga
ditingkatkan ke ringan (1  4) n kabur.
5. Kehilangan berat badan yang tidak bisa 3. Berikan insulin sesuai resep
dijelaskan Dipertahankan pada berat 4. Monitor status cairan input
ditingkatkan ke ringan (1  4) dan output sesuai kebutuhan.
6. Pandangan kabur Dipertahankan pada berat 5. Fasilitasi kepatuhan terhadap
ditingkatkan ke ringan (1  4) diet dan regimen latihan.
7. Peningkatan glukosa darah Dipertahankan NIC : Manajemen Berat Badan
pada berat ditingkatkan ke ringan (1  4) (hal 156)
1. Diskusikan dengan pasien
NOC : Pengetahuan : Diet yang Disarankan
mengenai kondisi medis apa
(hal 354)
saja yang berpengaruh
1. Hubungan antara diet, olahraga dan berat
terhadap berat badan.
badan dipertahankan pada tidak ada
2. Hitung berat badan ideal
pengetahuan dan ditingkatkan ke
pasien
pengetahuan banyak (1  4)
3. Diskusikan resiko yang
2. Manfaat diet yang dianjurkan
mungkin mncul jika terdapat
dipertahankan pada tidak ada pengetahuan
kelebihan berat badan atau
dan ditingkatkan ke pengetahuan banyak (1
berat badan kurang.
 4)
3. Tujuan diet dipertahankan pada tidak ada
pengetahuan dan ditingkatkan ke
pengetahuan banyak (1  4)
4. Makanan yang dihindari dalam diet
dipertahankan pada tidak ada pengetahuan
dan ditingkatkan ke pengetahuan banyak (1
 4)

71
5. Porsi makanan yang direkomendasikan
dipertahankan pada tidak ada pengetahuan
dan ditingkatkan ke pengetahuan banyak (1
 4)

NOC : Pengetahuan : Manajemen Diabetes


(hal 285)
1. Peggunaan insulin yang benar
dipertahankan pada tidak ada pengetahuan
dan ditingkatkan ke pengetahuan banyak (1
 4)
2. Faktor-faktor penyebab dan faktor yag
berkontribusi (menonton tv sambil makan
cemilan) dipertahankan pada tidak ada
pengetahuan dan ditingkatkan ke
pengetahuan banyak (1  4)
3. Tindakan yang diambil dalam mengatasi
kadar glukosa darah dipertahankan pada
tidak ada pengetahuan dan ditingkatkan ke
pengetahuan banyak (1  4)

3. Hambatan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama NIC: Mendengar aktif (hal
komunikasi 2x24 jam diharapkan klien dapat memperbaiki 223)
verbal kemampuan komunikasi klien dengan orang di
1. Klarifikasi pesan yang
sekitarnya
diterima dengan
NOC: Komunikasi (hal 229) menggunakan pertanyaan
maupun memberikan umpan
1. Menggunakan bahasa lisan dipertahankan
balik
pada sangat terganggu dan ditingkatkan ke
2. Verifikasi pemahaman
sedikit terganggu (1  4)
mengenai pesan-pesan yang
2. Mengenali pesan yang diterima
disampaikan dengan
dipertahankan pada sangat terganggu dan
menggunakan pertanyaan
ditingkatkan ke sedikit terganggu (1  4)
maupun memberikan umpan
3. Menginterpretasikan secara akurat pesan
balik
yang diterima dipertahankan pada sangat
3. Hindari penghalang dalam

72
terganggu dan ditingkatkan ke sedikit mendengar aktif
terganggu (1  4) NIC: Peningkatan komunikasi:
kurang pendengaran (hal 336)
NOC: Memproses informasi (hal 312)
1. Hindari lingkungan yang
1. Memahami kalimat dipertahankan pada
berisik saat berkomunikasi
sangat terganggu dan ditingkatkan ke
2. Hindari berkomunikasi lebih
sedikit terganggu (1  4)
dari 2-3 kaki jauhnya dari
2. Memahami cerita dipertahankan pada
pasien
sangat terganggu dan ditingkatkan ke
3. Fasilitasi penggunaan
sedikit terganggu (1  4)
perangkat dan alat bantu
3. Menyatakan pesan yang koheren
pendengaran
dipertahankan pada sangat terganggu dan
NIC: Perawatan telinga (hal
ditingkatkan ke sedikit terganggu (1  4)
392)
NOC: Fungsi sensori: pendengaran (hal 95)
1. Monitor fungsi auditori
1. Ketajaman pendengaran (kanan dan kiri) 2. Monitor tanda dan gejala
dipertahankan pada sangat terganggu dan disfungsi yang dilaporkan
ditingkatkan ke sedikit terganggu (1  4) klien
2. Berbalik ke arah suara dipertahankan pada 3. Lakukan tes pendengaran
sangat terganggu dan ditingkatkan ke dengan tepat
sedikit terganggu (1  4)
3. Merespon pada stimulus pendengaran
dipertahankan pada sangat terganggu dan
ditingkatkan ke sedikit terganggu (1  4)

73
BAB IV

PENUTUP

IV. 1 Simpulan
Berdasarkan pembahasan di atas penulis menyimpulkan bahwa diabetes melitus
(DM) adalah penyakit menahun yang ditandai dengan kadar glukosa darah melebihi batas
normal. Apabila penyakit ini dibiarkan tak terkendali maka akan menimbulkan
komplikasi-komplikasi yang dapat berakibat fatal, termasuk penyakit jantung, ginjal,
kebutaan, dan mudah terkena ateroskelosis. Penyakit ini dpat dikontrol dengan cara pola
hidup dan olah raga yang teratur.

IV. 2 Saran

Makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami mengharapkan
kritik dan saran dari dosen pembimbing dan teman-teman sesama mahasiswa. Dan lebih
memperhatikan masalah-masalah dalam keluarga.

74
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Muhith & Sandu Siyoto, 2018, Aplikasi Komunikasi Terapeutik Nursing & Health,
Yogyakarta, ANDI

Ismaini, N. 2001. Etika Keperawatan. WidyaMedika: Jakarta.


Kozier B., Erb G., Berman A., & Snyder S.J. 2004.Fundamentals of Nursing Concepts,Process
and Practice 7th Ed., New Jersey: Pearson Education Line

Kristen L. Mauk. 2013. Gerontological Nursing Competencies For Care. Jones & Bartlett
Learning

Lanywati, E. 2011. Diabetes Melitus Penyakit Kencing Manis. Kanisius: Yogyakarta

Mauk, K, L. (2013). Gerontological nursing competencies for care, 3rd edition. USA: Jones &
Bartlett.
Maryam, R, Siti., et al. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Salemba Medika:
Jakarta

Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth Edisi 8 Vol 2. Jakarta : EGC

Sulastri, Sri & Sahadi Humaedi. 2017. Pelayanan Lanjut Usia Terlantar Dalam Panti, No.1.,
Vol.4., ISSN : 2442-4480. Prosiding KS : Riset & PKM