Sie sind auf Seite 1von 75

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK : DIABETES MELITUS (DM)

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Gerontik

Disusun Oleh:

Susilawati 1610711108

Fajri Eka T 1610711110

Siti Anisatur 1610711113

Vera Septiana 1610711115

Amelia Mustika 1610711116

Santi Sri Hartini 1610711120

Siti Juharotul F 1610711123

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN “VETERAN” JAKARTA

2019

1
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya kepada penyusun sehingga akhirnya penyusun dapat menyelesaikan
makalah ini tepat pada waktunya.

Makalah yang berjudul Auhan Keperawatan Gerontik ini ditulis untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah Keperawatan Gerontik.

Pada kesempatan yang baik ini, kami menyampaikan rasa hormat dan ucapan terima
kasih kepada semua pihak yang dengan tulus ikhlas telah memberikan bantuan dan dorongan
kepada kami dalam pembuatan makalah ini terutama kepada :
1. Orang tua kami yang telah memberikan semangat, dukungan serta doa untuk
menyelesaikan makalah ini
2. Semua aspek yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini

Depok, 25 April 2019

Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN

2
A. Latar Belakang

Negara Indonesia merupakan negara dengan persentase penduduk lansia


terbanyak yaitu sebesar 55,52% (World Population Prospect, 2010). Usia harapan
hidup (UHH) merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan nasional
termasuk dibidang kesehatan. Keberhasilan pembangunan dibidang kesehatan ini juga
terlihat di Indonesia dimana terdapat peningkatan UHH dari 70.7 tahun pada periode
2010-2015 menjadi 71,7 pada periode 2015-2020 (Kemenkes, 2014). Pertambahan
jumlah penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2005 berjumlah 15.814.511 jiwa atau
7.2% dan diperkirakan akan terus bertambah menjadi 28.822.879 jiwa atau 11,34%
pada tahun 2020. Dari data diatas menunjukkan akan terjadi peningkatan jumlah
lansia dalam 15 tahun kedepan. Berdasarkan hasil survey dari Susenas (2013)
menyatakan bahwa lansia yang tinggal di daerah perkotaan sebanyak 9,26 juta orang
atau 7,49%. Lansia yang tidak tinggal di rumah sendiri dapat tinggal dengan saudara,
anak dan bahkan tidak mempunyai tempat tinggal. Lansia yang tidak memiliki tempat
tinggal biasanya tinggal di pinggir jalan dan terlantar. Berdasarkan situasi tersebut,
maka di daerah perkotaan muncul suatu tempat penampungan bagi lansia yang tidak
memiliki tempat tinggal, yang disebut dengan sasana werdha.

Meningkatnya jumlah lansia di Indonesia tentu saja akan meningkatkan permasalahan


kesehatan terkait lansia. Penyakit pada lanjut usia (lansia) berbeda dengan dewasa
muda, hal ini disebabkan karena penyakit pada lansia merupakan gabungan antara
penyakit dengan proses menua yaitu menghilangnya secara perlahan kemampuan
jaringan untuk memperbaiki diri serta mempertahankan fungsi dan struktur
normalnya. Sehingga tidak dapat bertahan terhadap penyakit (termasuk infeksi) dan
memperbaiki kerusakan yang diderita (Stanley, 2006).

Berdasarkan data Kemenkes pada tahun 2011, masalah yang umum terjadi pada lansia
adalah hipertensi (4,02%), Diabetes mellitus (2,1%), asam urat, dyspepsia (2,52%),
penyakit jantung iskemik (2,84%) dan penyakit kulit (2,33%). Individu yang telah
lanjut usia juga dapat terlihat dari kulit yang mulai keriput, rambut yang mulai
memutih, berkurangnya fungsi pendengaran dan penglihatan, melambatnya proses
berpikir, dan aktivitas untuk bergerak yang mulai melambat, yang berarti akan
membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan berbagai aktifitas (Wallace, 2008).
Diantara perubahan yang terjadi pada lansia, perubahan kulit merupakan salah satu
perubahan nyata yang dapat dilihat.

Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu penyakit kronis yang ditandai oleh
ketidakmampuan tubuh melakukan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein
sehingga menyebabkan hiperglikemia (Black & Hawks, 2009). Hiperglikemia kronik
yang tidak terkontrol ini menyebabkan kerusakan jangka panjang, disfungsi atau
kegagalan beberapa organ, yaitu pada mata, ginjal, syaraf, jantung dan pembuluh

3
darah. Smeltzer & Bare (2010) menyatakan bahwa mekanisme yang menyebabkan
resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes melitus tipe 2 masih
belum diketahui dengan pasti, tetapi faktor genetik dalam keluarga turut ambil bagian
dalam penyakit ini. Kondisi yang menjadi faktor risiko munculnya penyakit ini adalah
adanya infeksi virus (pada DM tipe 1), kegemukan, pola makan yang salah, minum
obat-obatan yang bisa menaikkan kadar gula darah, proses menua, dan stres
(Soegondo, 2011). Suyono (2007) mengatakan pola makan sangat terkait terhadap
terjadinya penyakit ini.

Pola hidup merupakan perilaku yang dapat menyebabkan penyakit diabetes


melitus. Salah satu pola hidup masyarakat perkotaan yang sangat erat hubungannya
dengan munculnya penyakit DM adalah pola diet yang tinggi lemak, garam, dan gula
secara berlebihan. Pola makan di kota-kota telah bergeser dari pola makan yang
tradisional yang banyak mengandung karbohidrat dan serat dari sayuran berubah
menjadi pola makan yang kebarat-baratan. Komposisi makanan yang tinggi lemak,
garam dan sedikit serat pada makanan siap saji yang pada akhir-akhir ini sangat
digemari dikalangan masyarakat perkotaan. Data RISKESDAS (2007) menyatakan
bahwa proporsi penduduk Indonesia dengan faktor risiko DM dengan diet tidak
seimbang seperti mengkonsumsi makanan atau minuman manis lebih dari 1 kali per
hari sebesar 53,1%, proporsi yang memakan atau meminum minuman tinggi lemak
lebih dari 1 kali per hari sebesar 40,7%, dan proporsi yang mengkonsumsi makanan
asin lebih dari 1 kali per hari sebesar 26,2%.

Selain pola diet, perilaku masyarakat perkotaan yang erat hubungannya


dengan penyakit DM adalah gaya hidup sedentari. Gaya hidup sedentari adalah
sebuah pola hidup tidak aktif yang saat ini semakin banyak dijalani masyarakat
perkotaan (Cahyono, 2008). Gaya hidup yang menghabiskan waktu terlalu banyak
duduk dengan rata-rata waktu 7 jam per hari saat bekerja dan 5 jam per hari di akhir
pekan serta penggunaan kendaraan bermotor dan malas berolah raga. Dengan gaya
hidup seperti ini tentu akan menyebabkan penimbunan kalori dan gula darah karena
tidak dipakai untuk beraktifitas. PERKENI (2011) menyatakan bahwa aktifitas fisik
selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki
sensitifitas insulin sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah.

Faktor selanjutnya yang mempengaruhi terjadinya DM adalah kondisi mental


(stres). Saat seseorang stres terjadi peningkatan berat badan, yang disebabkan karena
makan yang tidak terkendali, tidak berolah raga serta gangguan emosional. Sehingga
tubuh memperoduksi hormon epinephrine dan kortisol yang dapat memicu terjadinya
glukoneogenesis sehingga dapat meningkatkan kadar gula darah (Sherwood, 2011).

4
Masyarakat yang tinggal di kota cenderung lebih mudah terkena stres dari pada di
desa. Hal ini disebabkan oleh pegawai yang dituntut untuk memiliki etos kerja dan
disiplin waktu yang tinggi dan tuntutan kerja yang berat. Wildani (2012) menyatakan
dalam penelitiannya bahwa dari 89 pegawai dinas kesehatan di kota Depok
didapatkan bahwa 32,6 % pegawai dengan stres kerja ringan, 34,8% stres kerja sedang
dan 32,6% stres kerja berat.

Data stastistik World Health Organization (WHO) (2014) menyatakan bahwa


penderita DM di dunia tahun 2000 berjumlah 171 juta jiwa, pada 2016 menjadi 346
juta dan diperkirakan meningkat dua kali lipat pada tahun 2030. Indonesia menduduki
peringkat ke empat jumlah penderita DM terbanyak di dunia. Di Indonesia, menurut
RISKESDAS (2018) prevalensi DM sebesar 2,1 %

berdasarkan diagnosa dan penunjukan tanda dan gejala. Data proporsi masyarakat
perkotaan dengan toleransi glukosa terganggu (TGT) lebih tinggi (29,9%) jika
dibandingkan dengan di pedesaan (RISKESDAS, 2018). Survei kesehatan rumah
tangga (SKRT) (2004) menyatakan bahwa 16,5% penderita DM meninggal akibat
komplikasi penyakit jantung. Upaya pencegahan komplikasi dan pengelolaan
penderita DM ditekankan pada pola makan menyangkut jumlah, jenis dan jadwal
makan disamping memperhatikan faktor aktifitas fisik, edukasi dan stres.

BAB II
LANDASAN TEORI

5
A. Konsep Dasar Penyakit
1. Definisi
Pengertian lansia Lansia merupakan kelompok yang telah memasuki
tahapan akhir dari fase kehidupan (WHO). Menurut (WHO) kategori lanjut usia
berkisar antara 60-74 tahun. Di Indonesia menurut Undang-undang Nomor 13 tahun
1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, yang dimaksud dengan lanjut usia adalah
penduduk yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Seiring dengan tahap
kehidupan, lansia memiliki tugas perkembangan khusus. Terdapat tujuh kategori
utama tugas perkembangan lansia, yaitu menyesuaikan terhadap penurunan kekuatan
fisik dan kesehatan, menyesuaikan terhadap masa pensiun dan penurunan atau
penetapan pendapatan, menyesuaikan terhadap kematian pasangan, menerima diri
sebagai individu lansia, mempertahankan kepuasaan pengaturan hidup,
mendefinisikan ulang hubungan dengan anak yang dewasa, dan menemukan cara
untuk mempertahankan kualitas hidup (Potter & Perry, 2005). Tugas perkembangan
ini umum ditemui pada lansia. Akan tetapi, cara lansia menyesuaikan terhadap
perubahan penuaan bergantung pada individu sendiri. Untuk beberapa lansia
adaptasi dan penyesuaian terhadap penuaan relatif mudah, namun beberapa lansia
lainnya memerlukan intervensi keperawatan.
Diabetes melitus merupakan kelainan metabolisme yang kronis terjadi
defisiensi insulin atau retensi insulin, di tandai dengan tingginya keadaan glukosa
darah (hiperglikemia) dan glukosa dalam urine (glukosuria) atau merupakan
sindroma klinis yang ditandai dengan hiperglikemia kronik dan gangguan
metabolisme karbohidrat, lemak dan protein sehubungan dengan kurangnya sekresi
insulin secara absolut / relatif dan atau adanya gangguan fungsi insulin.
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai
oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia (Mansjoer, 2000).
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh
kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth,
2002).
Diabetes mellitus merupakan penyakit sistemis, kronis, dan multifaktorial yang
dicirikan dengan hiperglikemia dan hipoglikemia. ( Mary,2009)

6
2. Teori Pada Lansia
A. Teori Penuaan
Penuaan merupakan suatu keadaan normal, dengan perubahan fisik dan tingkah
laku yang terjadi pada waktu tertentu atau ketika setiap orang mencapai usia tahap
perkembangan tertentu (Miller, 2006). Teori-teori yang menjelaskan tentang penuaan
terbagi menjadi 2 yaitu dari teori biologis dan teori psikososial. Teori biologis
berfokus kepada proses penuaan, sedangkan teori psikososial berfokus kepada
kepribadian dan perilaku (Miller, 2006).
B. Teori Biologis
Teori biologi ini menjelaskan mengenai proses penuaan, termasuk perubahan
fungsi dan struktur, perkembangan, panjang usia dan kematian. Perubahan dalam
tubuh termasuk perubahan molekular dan selular dalam sistem organ utama dan
kemampuan tubuh untuk melawan penyakit. Dalam teori ini, terdapat lima
karakteristik biologis penuaan diantaranya peningkatan usia harapan hidup, penuaan
dapat ditemukan didalam sel, molekul, jaringan dan massa tulang, perusakan bersifat
progresif, diperlukan waktu yang panjang untuk kembali dari periode serangan, dan
peningkatan kerentanan terhadap infeksi.
C. Teori Cross Link
Teori ini menjelaskan bahwa molekul-molekul yang normal terpisah akibat
adanya reaksi kimia. Saat serat kolagen yang awalnya berada di dalam jaringan otot
polos, kemudian menjadi renggang dan jaringan menjadi fleksibel. Kulit yang
menua merupakan contoh cross linkage elastin (Stanley, 2006)

D. Teori lingkungan

Teori ini menjelaskan bahwa faktor-faktor di dalam lingkungan seperti


karsinogen, cahaya matahari, trauma dan infeksi merupakan penyebab terjadinya
perubahan dalam proses penuaan. Walaupun faktor-faktor ini diketahui dapat
mempercepat penuaan, namun faktor lingkungan merupakan dampak sekunder dan
bukan merupakan faktor utama penyebab perubahan dalam proses penuaan (Stanley,
2006).

E. Teori Imunitas

7
Teori ini menjelaskan mengenai suatu kemunduran atau penurunan dalam
sistem imun yang berhubungan dengan proses penuaan. Ketika seseorang bertambah
tua, maka kemampuan pertahanan mereka terhadap penyakit dan infeksi juga
mengalami penurunan. Teori ini berfokus kepada peran dari kelenjar timus. Berat
dan ukuran kelenjar timus menurun seiring dengan bertambahnya umur, sehingga
tubuh kehilangan kemampuan untuk meningkatkan pertahanan tubuh pada saat
terjadi infeksi (Stanley, 2006)

3. Epidemiologi
Diabetes terutama prevalen diantara kaum lanjut usia. Diantara individu yang
berusia lebih dari 65 tahun, 8,6% menderita diabetes tipe II. Angka ini mencakup
15% populasi pada panti lansia.

4. Etiologi
Pada lansia cenderung terjadi peningkatan berat badan, bukan karena mengkonsumsi
kalori berlebih namun karena perubahan rasio lemak-otot dan penurunan laju
metabolisme basal. Hal ini dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya diabetes
mellitus. Penyebab diabetes mellitus pada lansia secara umum dapat digolongkan ke
dalam dua besar:
A. Proses menua/kemunduran (Penurunan sensitifitas indra pengecap, penurunan
fungsi pankreas, dan penurunan kualitas insulin sehingga insulin tidak berfungsi
dengan baik).
B. Gaya hidup(life style) yang jelek (banyak makan, jarang olahraga, minum alkohol,
dll.)
Keberadaan penyakit lain, sering menderita stress juga dapat menjadi
penyebab terjadinya diabetes mellitus.
Selain itu perubahan fungsi fisik yang menyebabkan keletihan dapat
menutupi tanda dan gejala diabetes dan menghalangi lansia untuk mencari bantuan
medis. Keletihan, perlu bangun pada malam hari untuk buang air kecil, dan infeksi
yang sering merupakan indikator diabetes yang mungkin tidak diperhatikan oleh
lansia dan anggota keluarganya karena mereka percaya bahwa hal tersebut adalah
bagian dari proses penuaan itu sendiri.

5. Klasifikasi

8
Diabetes melitus tipe I:
Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut baik melalui
proses imunologik maupun idiopatik.
Karakteristik Diabetes Melitus tipe I:
a. Mudah terjadi ketoasidosis
b. Pengobatan harus dengan insulin
c. Onset akut
d. Biasanya kurus
e. Biasanya terjadi pada umur yang masih muda
f. Berhubungan dengan HLA-DR3 dan DR4
g. Didapatkan antibodi sel islet
h. 10%nya ada riwayat diabetes pada keluarga

B. Diabetes melitus tipe II:


Bervariasi mulai yang predominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif
sampai yang predominan gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin.
Karakteristik DM tipe II:
a. Sukar terjadi ketoasidosis
b. Pengobatan tidak harus dengan insulin
c. Onset lambat
d. Gemuk atau tidak gemuk
e. Biasanya terjadi pada umur > 45 tahun
f. Tidak berhubungan dengan HLA
g. Tidak ada antibodi sel islet
h. 30%nya ada riwayat diabetes pada keluarga
i. ± 100% kembar identik terkena

6. Manifestasi Klinis
Keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada lansia
umumnya tidak ada. Osmotik diuresis akibat glukosuria tertunda disebabkan ambang
ginjal yang tinggi, dan dapat muncul keluhan nokturia disertai gangguan tidur, atau
bahkan inkontinensia urin. Perasaan haus pada pasien DM lansia kurang dirasakan,
akibatnya mereka tidak bereaksi adekuat terhadap dehidrasi. Karena itu tidak terjadi
polidipsia atau baru terjadi pada stadium lanjut. Sebaliknya yang sering mengganggu
pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah
dan saraf.
Pada DM lansia terdapat perubahan patofisiologi akibat proses menua,
sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari kasus tanpa gejala sampai kasus dengan
komplikasi yang luas. Keluhan yang sering muncul adalah adanya gangguan
penglihatan karena katarak, rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot
9
(neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan
lazim.
Menurut Supartondo, gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering
ditemukan adalah :
a. Katarak
b. Glaukoma
c. Retinopati
d. Gatal seluruh badan
e. Pruritus Vulvae
f. Infeksi bakteri kulit
g. Infeksi jamur di kulit
h. Dermatopati
i. Neuropati perifer
j. Neuropati viseral
k. Amiotropi
l. Ulkus Neurotropik
m. Penyakit ginjal
n. Penyakit pembuluh darah perifer
o. Penyakit koroner
p. Penyakit pembuluh darah otak
q. Hipertensi

7. Patofisiologi
Dalam proses metabolisme, insulin memegang peranan penting yaitu
memasukkan glukosa ke dalam sel yang digunakan sebagai bahan bakar. Insulin
adalah suatu zat atau hormon yang dihasilkan oleh sel beta di pankreas. Bila insulin
tidak ada maka glukosa tidak dapat masuk sel dengan akibat glukosa akan tetap
berada di pembuluh darah yang artinya kadar glukosa di dalam darah meningkat.
Pada Diabetes melitus tipe 1 terjadi kelainan sekresi insulin oleh sel beta
pankreas. Pasien diabetes tipe ini mewarisi kerentanan genetik yang merupakan

10
predisposisi untuk kerusakan autoimun sel beta pankreas. Respon autoimun dipacu
oleh aktivitas limfosit, antibodi terhadap sel pulau langerhans dan terhadap insulin
itu sendiri.
Pada diabetes melitus tipe 2 yang sering terjadi pada lansia, jumlah insulin
normal tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel yang
kurang sehingga glukosa yang masuk ke dalam sel sedikit dan glukosa dalam darah
menjadi meningkat.

8. Perubahan Fungsi Fisik Pada Lansia (Miller, 2006)


A. Sistem Pendengaran
Fungsi pendengaran tergantung pada urutan proses, mulai dari tiga
kompartemen telinga dan diakhiri dengan pemrosesan informasi dalam korteks
pendengaran otak (lihat Tabel 16-1). Suara dikodekan menurut intensitas dan
frekuensi. Intensitas, atau amplitudo, mencerminkan kenyaringan atau kelembutan
suara dan diukur dalam desibel (dB). Frekuensi, yang diukur dalam siklus per detik
(cps) atau hertz (Hz), menentukan apakah nada tinggi atau rendah. Intensitas dan
frekuensi suara dapat diubah jika faktor risiko tertentu ikut berperan. Bahkan dengan
tidak adanya faktor risiko, perubahan yang berkaitan dengan usia normal
mempengaruhi frekuensi, menyebabkan masalah pendengaran bagi banyak orang
dewasa yang lebih tua.
Telinga Eksternal
Pendengaran dimulai di telinga luar atau luar, yang terdiri dari pinna dan
kanal pendengaran eksternal (Gambar 16-1). Struktur tulang rawan ini melokalisasi
suara sehingga orang dapat mengidentifikasi sumber. Pinna mengalami perubahan
dalam ukuran, bentuk, fleksibilitas, dan pertumbuhan rambut dengan bertambahnya
usia, tetapi perubahan ini tidak mempengaruhi konduksi gelombang suara pada
orang dewasa yang sehat. Saluran pendengaran ditutupi oleh kulit dan dilapisi
dengan folikel rambut dan kelenjar yang memproduksi serumen. Seru- men, atau
kotoran telinga, adalah zat alami yang secara genetis ditentukan sebagai kering
(bersisik dan abu-abu) atau basah (lembab dan cokelat atau cokelat). Fungsi cerumen
adalah untuk membersihkan, melindungi, dan melumasi saluran telinga. Cerumen
secara alami dikeluarkan, tetapi dapat menumpuk pada orang dewasa yang lebih tua
karena perubahan terkait usia, seperti peningkatan konsentrasi keratin, pertumbuhan

11
rambut yang lebih panjang dan lebih tebal (terutama pada pria), dan penipisan dan
pengeringan kulit yang melapisi kanal. Penurunan aktivitas kelenjar keringat yang
berkaitan dengan usia semakin meningkatkan potensi ceruk untuk menumpuk
dengan membuat lilin lebih kering dan lebih sulit untuk dihilangkan. Kanal telinga
yang prolaps atau kolaps adalah kondisi lain yang berkaitan dengan usia yang dapat
terjadi dan mempengaruhi lokalisasi dan persepsi bunyi frekuensi tinggi.
Telinga Tengah
Membran timpani adalah lapisan transparan, abu-abu mutiara, sedikit
berbentuk kerucut dari jaringan fleksibel yang memisahkan telinga luar dan tengah.
Fungsi utamanya adalah untuk mentransmisikan energi suara dan melindungi telinga
tengah dan dalam. Dengan bertambahnya usia, jaringan kolagen menggantikan
jaringan elastis, sehingga gendang telinga lebih tipis dan lebih kaku. Getaran suara
melewati membran timpani ke tiga osori pendengaran: malleus, incus, dan stapes.
Tulang-tulang ini terhubung satu sama lain tetapi bergerak secara independen,
bertindak sebagai tuas untuk memperkuat suara. Fungsi utamanya adalah untuk
mentransmisikan getaran melintasi telinga tengah yang berisi udara, melalui jendela
oval, dan ke telinga dalam yang berisi cairan. Transmisi suara dipengaruhi oleh
frekuensi setiap suara dan merupakan yang paling efektif dalam rentang frekuensi
menengah dari suara normal dan paling tidak efektif pada frekuensi terendah dan
tertinggi. Kalsifikasi tulang yang berhubungan dengan usia dapat mengganggu
transfer getaran suara dari membran timpani ke jendela oval.
Otot-otot telinga tengah dan ligamen berkontraksi sebagai respons terhadap suara
keras, merangsang refleks akustik, yang melindungi telinga bagian dalam yang halus
dan menyaring gangguan pendengaran yang berasal dari suara dan gerakan tubuh
seseorang. Dengan bertambahnya usia, otot-otot telinga tengah dan ligamen menjadi
lebih lemah dan kaku dan memiliki efek yang merugikan pada refleks akustik.
Selain itu, perubahan degeneratif ini mengurangi ketahanan membran timpani.
Bagian dalam telinga
Di telinga bagian dalam, getaran ditransmisikan ke koklea, di mana mereka
diubah menjadi impuls saraf dan diberi kode untuk intensitas dan frekuensi. Impuls
saraf merangsang serabut saraf kranialis kedelapan dan mengirim pesan
pendengaran ke otak. Proses ini terjadi terutama di sel-sel rambut sensorik organ
Corti di koklea.

12
Perubahan yang berkaitan dengan usia telinga bagian dalam termasuk hilangnya sel-
sel rambut, pengurangan suplai darah, berkurangnya produksi endolimf, penurunan
fleksibilitas membran basilar, degenerasi sel ganglion spiral, dan hilangnya neuron
dalam nuklei koklea. Perubahan telinga bagian dalam ini mengakibatkan gangguan
pendengaran degenegatif yang disebut presbikusis.
Satu sistem klasifikasi untuk presbikusis didasarkan pada sumber struktural
spesifik dari gangguan tersebut sebagai berikut:
a. Presbikus sensoris dikaitkan dengan degeneratif
perubahan sel-sel rambut dan organ Corti dan merupakan
ditandai dengan gangguan pendengaran yang tajam pada frekuensi tinggi.
b. Presbikusis saraf, yang disebabkan oleh degenerasi serabut saraf di koklea dan
ganglion spiral, merupakan karakteristik terized oleh pengurangan diskriminasi
wicara.
c. Presbikus metabolik disebabkan oleh perubahan degenerative di stria vascularis dan
gangguan berikutnya dalam pasokan nutrisi esensial. Awalnya, perubahan ini
mengurangi sensitivitas terhadap semua frekuensi suara; pada akhirnya, mereka
mengganggu diskriminasi ucapan.
d. Presbikus mekanis dihasilkan dari perubahan mekanis pada struktur telinga bagian
dalam dan ditandai dengan gangguan pendengaran yang awalnya melibatkan
frekuensi yang lebih rendah dan secara bertahap menyebar ke frekuensi yang lebih
tinggi dan mengganggu diskriminasi bicara.Meskipun berguna untuk menjelaskan
dasar fisiologis untuk berbagai jenis presbikusis, pada kenyataannya, presbikusis
biasanya melibatkan beberapa proses yang berkaitan dengan usia.
Sistem Saraf Pendengaran
Dari telinga bagian dalam, serabut saraf pendengaran melewati meatus
pendengaran internal dan memasuki otak. Fungsi jalur saraf pendengaran termasuk
melokalisasi arah suara, menyetel rangsangan pendengaran, dan mentransfer
informasi dari korteks pendengaran primer ke area asosiasi pendengaran. Sistem
saraf pendengaran dipengaruhi oleh semua perubahan yang berkaitan dengan usia
berikut ini: perubahan degeneratif di telinga bagian dalam, penyempitan meatus
auditori dari apposisi tulang, berkurangnya pasokan darah, dan perubahan sistem
saraf pusat (misalnya, berkurangnya kecepatan pemrosesan informasi) ). Studi
terbaru menunjukkan bahwa perubahan terkait usia dalam fungsi pendengaran pusat

13
berperan penting dalam komponen gangguan pendengaran pada orang dewasa yang
lebih tua (Gates, Feeney, & Mills, 2008).

FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN


PENDENGARAN (Miller, 2006)
Selain perubahan terkait usia yang memengaruhi pendengaran, faktor-faktor
yang terkait dengan gaya hidup, keturunan, lingkungan, obat-obatan, lilin yang
terkena, dan kondisi penyakit dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Pedoman
berbasis bukti mengidentifikasi tindak lanjut
Faktor Risiko untuk Pendengaran
a. Predisposisi genetik
b. Usia bertambah
c. Rekreasi atau paparan pekerjaan terhadap kebisingan
d. Rokok ;merokok
e. Obat ototoksik
f. Aminoglikosida
g. Aspirin dan Cisplatin salisilat lainnya
h. Eritromisin
i. Ibuprofen
j. Imipramine
k. Indometasin
l. Loop diuretik
m. Quinidine
n. Kina
o. Bahan kimia lingkungan ototoksik Karbon monoksida
p. Bahan bakar
q. Memimpin
r. Mercury Organophosphates Styrene
s. Toluene
faktor risiko gangguan pendengaran (Adams-Wendling & Pimple, 2008):
a. Usia 65 tahun atau lebih
b. Tinggal di fasilitas keperawatan
c. Gangguan kognitif atau visual
d. Paparan terhadap kebisingan yang berlebihan
e. Penggunaan obat ototoxic
f. Jenis kelamin laki-laki
Banyak penelitian tentang faktor-faktor risiko berfokus pada faktor-faktor
risiko yang dapat dimodifikasi, seperti kebisingan, yang dapat diatasi melalui
intervensi promosi kesehatan. Penelitian juga berfokus pada keterkaitan antara
faktor-faktor risiko, seperti kebisingan dan zat ototoksik (mis., Obat-obatan atau

14
racun lingkungan). Sebagai contoh, orang yang secara genetik cenderung mengalami
gangguan pendengaran mungkin lebih rentan terhadap efek merusak dari paparan
kebisingan atau obat-obatan ototoxic. Karena perubahan terkait usia meningkatkan
risiko gangguan pendengaran, sangat penting untuk mengidentifikasi faktor risiko
yang dapat dimodifikasi pada orang dewasa yang lebih tua sehingga risiko tersebut
dapat diatasi. Kemungkinan besar, beberapa gangguan pendengaran yang disebabkan
oleh perubahan terkait usia sebenarnya hasil dari faktor risiko, seperti paparan
kebisingan atau zat ototoxic.
Kotak 16-1 merangkum beberapa faktor yang mengganggu kesehatan
pendengaran, baik sendiri maupun dalam kombinasi.

Faktor Gaya Hidup dan Lingkungan (Miller,2006)


Faktor risiko yang sering terjadi untuk gangguan pendengaran adalah kontak
yang terlalu lama atau terputus-putus terhadap kebisingan, yang dapat dilihat sebagai
pilihan gaya hidup dan faktor lingkungan. Bahkan, kebisingan lingkungan telah
dibandingkan dengan asap rokok karena merupakan pencemar udara yang tidak
diinginkan yang diproduksi oleh orang lain tanpa persetujuan dan kadang-kadang,
tempat, dan volume di mana pengamat tidak memiliki kontrol (Tompkins, 2009).
Studi menunjukkan bahwa meskipun perubahan terkait usia memperhitungkan
jumlah gangguan pendengaran yang lebih besar daripada paparan kebisingan di
tempat kerja, gangguan pendengaran yang diinduksi oleh kebisingan (NIHL) masih
merupakan penyebab paling penting yang dapat dicegah dari gangguan pendengaran
di Amerika Serikat (Dobie, 2008) . Pekerjaan yang terkait dengan peningkatan risiko
NIHL termasuk petani, musisi, sopir truk, anggota angkatan bersenjata, dan pekerja
penerbangan (Jansen, Hellerman, Dreschler, & deLaat, 2009; Helfer et al., 2010;
Karimi, Nasiri, Kazerooni, & Oliaei , 2010; McCullagh & Robertson, 2009;
Wagstaff, 2009). Penggunaan headphone dan earphone dengan pemutar musik
pribadi adalah aktivitas rekreasi yang meningkatkan risiko NIHL (Kim, Hong, Shim,
Cha, & Yeo, 2009; Vogel, Verschuure, van der Ploeg, Brug, & Raat, 2010).
Beberapa orang dewasa yang lebih tua mungkin telah bekerja dalam
pengaturan pekerjaan sebelum rekomendasi tingkat kebisingan ditegakkan oleh
Institut Nasional untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Misalnya, orang lanjut
usia yang pernah bekerja sebagai penenun atau pekerja tekstil kemungkinan besar

15
telah terpapar dengan lingkungan yang bising selama tahun-tahun kerja mereka.
Karena efek NIHL dan perubahan terkait usia bersifat kumulatif, gangguan
pendengaran mungkin tidak akan terlihat sampai dewasa nanti.
Paparan bahan kimia beracun di tempat kerja atau lingkungan adalah faktor
risiko lain untuk gangguan pendengaran yang telah diselidiki sejak tahun 1990-an,
dengan penelitian saat ini berfokus pada logam, pelarut, asfiksia, dan pestisida /
herbisida. Merokok, serta tinggal di rumah tangga dengan perokok, adalah faktor
lain yang diselidiki sebagai risiko independen dan sebagai kondisi yang
mempotensiasi efek kebisingan yang menyebabkan gangguan pendengaran.
Perburuan, pertukangan kayu, dan kegiatan waktu senggang lainnya juga
dapat berkontribusi pada NIHL, terutama jika orang yang terlibat dalam kegiatan ini
tidak menggunakan perangkat pelindung telinga. Kegiatan lain yang mungkin
menyebabkan kerusakan sensorineural kecuali mekanisme perlindungan digunakan
termasuk mendengarkan musik keras; mengoperasikan traktor, gergaji rantai, atau
blower daun; dan mengendarai sepeda motor, pesawat terbang, mobil salju, atau
perahu motor. Gambar 16-2 menggambarkan tingkat kebisingan dari berbagai
kegiatan. Suara lebih keras dari 80 dB dianggap berpotensi ototoxic.

Cerumen yang terkena dampak


Cerumen impak umum terjadi pada orang dewasa yang lebih tua sebagai penyebab
utama gangguan pendengaran. Perubahan terkait usia, yang membuat pengering
cerumen, lebih keras, dan kasar, meningkatkan risiko impaksi. Penggunaan alat
bantu dengar juga meningkatkan kemungkinan impaksi lilin, yang dapat merusak
atau mengganggu fungsi alat bantu dengar. Selain menyebabkan gangguan
pendengaran, cerumen yang terkena dampak dapat menyebabkan rasa sakit, infeksi,
tinitus, pusing, atau batuk kronis (karena stimulasi cabang saraf vagus) (McCarter,
Courtney, & Pollart, 2007; University of Texas School of Nursing, 2007). Akumulasi
serumen dapat dicegah dan diobati, dan yang paling penting, mudah menerima
intervensi keperawatan, seperti yang akan dibahas nanti dalam bab ini. Studi
menunjukkan bahwa hingga 57% dari penghuni panti jompo yang lebih tua telah
memengaruhi cerumen (Roland et al., 2008). Selain itu, penelitian pada orang
dewasa yang dirawat di rumah sakit menunjukkan bahwa 75% dari mereka yang
membuang kotoran telinga mengalami peningkatan pendengaran (McCarter et al.,
2007).

16
Efek Obat
Obat-obatan dapat menyebabkan atau berkontribusi pada gangguan
pendengaran dengan merusak divisi koklea dan vestibular dari saraf pendengaran.
Terlepas dari kenyataan bahwa ototoxicities kina dan salisilat pertama kali diamati
lebih dari satu abad yang lalu, efek ototoxic dari pengobatan telah menerima sedikit
perhatian dalam pengaturan klinis. Meskipun usia saja tidak meningkatkan risiko
ototoxicity, orang dewasa yang lebih tua lebih mungkin untuk mengambil obat
ototoxic, seperti aspirin dan furosemide. Faktor-faktor lain yang berkontribusi yang
biasanya terjadi pada orang dewasa yang lebih tua dan meningkatkan risiko
ototoxicity termasuk gagal ginjal, penggunaan jangka panjang dari obat ototoxic,
dan potensiasi antara dua obat ototoxic, seperti antibiotik furosemide dan
aminoglikosida. Kotak 16-1 mencantumkan obat-obatan yang cenderung bersifat
ototoksik. Ototoksisitas sering kali berhubungan dengan dosis, dan gangguan
pendengaran mungkin bersifat sementara jika obat dihentikan atau dosisnya
dikurangi. Meskipun ototoxicity berpotensi reversibel, obat-obatan dapat diabaikan
sebagai faktor penyebab jika gangguan pendengaran secara keliru dianggap berasal
dari perubahan degeneratif yang tak terelakkan dan tidak dapat dihindari.

KONSEKUENSI FUNGSIONAL YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN


PENDENGARAN
Pada tahun 2006, 32% orang berusia antara 65 dan 74 tahun, 46% dari
mereka yang berusia antara 75 dan 84 tahun, dan 62% dari mereka yang berusia 85
tahun ke atas mengalami gangguan pendengaran (Forum Antar Lembaga Federal
pada Aging-Related Statistics, 2008). Peningkatan pendengaran paling mungkin
terjadi pada pria, orang-orang dari status ekonomi rendah, dan orang-orang yang
terpapar dengan kebisingan terkait pekerjaan yang berkepanjangan atau rekreasional.
Kesehatan yang buruk juga dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi untuk
gangguan pendengaran, seperti riwayat keluarga otosklerosis.
Kehilangan pendengaran dikategorikan menurut lokasi penurunan nilai.
Abnormalitas telinga eksternal dan tengah menyebabkan mekanisme konduksi suara
dan diklasifikasikan sebagai gangguan pendengaran konduktif. Abnormalitas telinga
bagian dalam terganggu oleh struktur sensorik dan saraf dan diklasifikasikan sebagai
gangguan pendengaran sensorineural. Gangguan pendengaran sensorineural sering

17
disebabkan oleh usia atau kebisingan. Gangguan pendengaran yang melibatkan
gangguan konduktif dan sensorineural disebut gangguan pendengaran campuran.
Efek pada Komunikasi
Pemahaman bicara yang akurat tergantung pada kecepatan bicara, frekuensi
suara, kebisingan lingkungan, dan fungsi pendengaran internal. Ketajaman
pendengaran untuk nada frekuensi tinggi mulai menurun di awal masa dewasa, dan
pada usia 30 tahun untuk pria dan 50 tahun untuk wanita, ada beberapa penurunan
sensitivitas pendengaran di semua frekuensi.
Pemahaman ucapan paling langsung dipengaruhi oleh frekuensi fonem, satuan suara
terkecil. Setiap fonem dalam suatu kata memiliki frekuensi yang berbeda; umumnya,
vokal memiliki frekuensi lebih rendah dan konsonan memiliki frekuensi lebih tinggi.
Meskipun sebagian besar kata fonem memiliki frekuensi rentang yang lebih rendah,
konsonan bersaudara (yang memiliki kualitas bersiul, seperti ch, f, g, s, sh, t, th, dan
z) memiliki frekuensi rentang yang lebih tinggi. Karena perubahan yang berkaitan
dengan usia paling awal dan paling universal memengaruhi kemampuan seseorang
untuk mengkodekan suara dengan frekuensi lebih tinggi, kata-kata yang kaya
saudara akan paling dipengaruhi oleh perubahan sistem auditori yang berkaitan
dengan usia.
Presbycusis, seperti yang disebutkan sebelumnya, adalah gangguan pendengaran
sensorineural yang terkait dengan degenerasi struktur pendengaran yang berkaitan
dengan usia. Presbikusis biasanya terjadi pada kedua telinga, tetapi tingkat gangguan
pada masing-masing telinga dapat bervariasi. Konsekuensi fungsional awal dari
presbikusis adalah hilangnya kemampuan untuk mendengar suara-suara bernada
tinggi dan konsonan yang bersuara. Ketika suara bernada tinggi disaring, kata-kata
menjadi terdistorsi dan campur aduk, dan kalimat menjadi tidak jelas.

KONDISI PATOLOGI YANG MEMPENGARUHI PENDENGARAN:


TINNITUS
Tinnitus adalah sensasi terus-menerus dari deringan, deru, tiupan, dengung, atau
jenis kebisingan lainnya yang tidak berasal dari lingkungan luar. Tinnitus adalah
patologis yang umum
kondisi pada orang dewasa yang lebih tua yang sangat terkait dengan gangguan
pendengaran, obat ototoxic, dan penyakit Ménière. Ini dapat disebabkan oleh impak
lilin, terutama jika lilin menempel pada membran timpani. Kafein, alkohol, atau

18
nikotin dapat memperburuk tinitus. Orang dengan tinitus harus dievaluasi untuk
kondisi patologis terkait atau salah satu faktor yang berkontribusi. Contoh-contoh
dari kondisi yang berkontribusi yang harus dievaluasi untuk perawatan medis
termasuk hipertensi, penyakit cere-brovascular, dan kondisi peradangan atau alergi
pada hidung dan struktur yang bersebelahan (Shulman & Goldstein, 2009). Studi
menunjukkan bahwa intensitas tinitus diperburuk oleh peningkatan usia dan jumlah
paparan kebisingan dan memiliki efek negatif yang signifikan terhadap kualitas
psikologis kehidupan (Muluk & Oguztürk, 2008).
Perawat dapat mengajar orang yang memiliki tinitus tentang efek memperburuk
kondisi, termasuk merokok dan minum minuman beralkohol atau berkafein, yang
dapat diatasi melalui tindakan perawatan diri.
PENILAIAN KEPERAWATAN PENDENGARAN
Penilaian pendengaran keperawatan bertujuan mengidentifikasi hal-hal berikut:
a. Faktor-faktor yang mengganggu kesehatan pendengaran
b. Kekurangan pendengaran aktual
c. Dampak dari setiap defisit pendengaran pada keselamatan dan kualitas hidup
d. Peluang untuk meningkatkan kesehatan pendengaran
e. Hambatan untuk mengimplementasikan intervensi.
Masing-masing faktor ini penting dalam membantu orang dewasa yang lebih
tua dan pengasuh mereka mengimbangi kekurangan pendengaran. Penilaian
dilakukan melalui wawancara, mengamati isyarat perilaku, dan melakukan tes
pendengaran.
Wawancara Tentang Perubahan Pendengaran
Pertanyaan wawancara digunakan untuk memperoleh informasi tentang
(1) faktor risiko saat ini dan masa lalu,
(2) kesadaran dan pengakuan orang tersebut akan gangguan pendengaran,
(3) dampak psikososial dari setiap defisit pendengaran, dan
(4) sikap yang mungkin memengaruhi intervensi promosi kesehatan (Kotak 16-2).
Wawancara penilaian pendengaran dimulai dengan pertanyaan tentang riwayat
keluarga dengan gangguan pendengaran dan riwayat pribadi dari kontak yang terlalu
lama dengan suara keras. Identifikasi obat-obatan ototoxic sebagai faktor risiko
dapat dimasukkan sebagai bagian dari penilaian pendengaran atau sebagai bagian
dari riwayat pengobatan. Perawat dapat menggunakan pertanyaan untuk mendorong
orang tersebut untuk mengetahui masalah pendengaran, terutama jika mereka

19
membahas faktor-faktor ini sehubungan dengan peningkatan risiko gangguan
pendengaran.

Menggunakan Otoscope untuk Menilai Faktor-Faktor Yang Dapat Mengganggu


Pendengaran
A. Pegang otoskop terbalik, letakkan tangan Anda di atas kepala seseorang
untuk menstabilkan instrumen.
B. Sebelum memasukkan spekulum, tarik pinna ke atas dan ke belakang
menangkal, sambil memiringkan kepala orang itu sedikit ke belakang dan ke
arah bahu berlawanan.
C. Jika cerumen menumpuk hingga mengganggu pemeriksaan atau penutupan
saluran, ikuti pengangkatan serumen prosedur yang dijelaskan pada bagian
Intervensi Keperawatan.
D. Temuan otoskopik normal pada orang dewasa yang lebih tua termasuk yang
berikut:
Jumlah serumen kecil
Lapisan epitel merah muda-putih, tidak ada kemerahan atau lesi
Membran timpani berwarna abu-abu mutiara, yang kurang tembus cahaya pada
orang dewasa yang lebih muda
Refleks ringan anterior dari umbo
Landmark yang terlihat
Menggunakan Garpu Tuning untuk Mendeteksi Gangguan Pendengaran
1. Gunakan garpu tala dengan frekuensi 512 hingga 1024 cps (Hz).
2. Pegang garpu tala dengan kuat di batangnya.
3. Tempelkan garpu ke telapak tangan Anda, atau pukul garpu dengan palu
karet refleks, untuk membuatnya bergerak.
Tes Weber
Prosedur: Tempatkan ujung garpu tala yang bergetar di tengah dahi orang tersebut.
Tanyakan di mana mereka mendengar suara itu dan apakah suaranya lebih keras di
satu telinga daripada di telinga lainnya.
Temuan normal: Suara dari garpu tala terdengar sama di kedua telinga.
Temuan abnormal: Suara dari garpu tala terdengar lebih baik di satu telinga,
menunjukkan kemungkinan gangguan pendengaran.
Rinne Test

20
Prosedur: Tutupi satu telinga, kemudian tempatkan garpu tala yang bergetar pada
proses mastoid dari telinga yang berlawanan sampai orang tersebut menunjukkan
bahwa suara dari getaran tidak lagi dapat didengar. Kemudian, cepat-cepat letakkan
garpu tala di depan saluran telinga dengan bagian atas di dekat saluran telinga.
Temuan normal: Durasi getaran garpu tala dapat didengar di atas saluran telinga
kira-kira dua kali lebih lama dari waktu saat itu dapat didengar di atas tulang
mastoid.
Temuan abnormal: Lamanya waktu getaran garpu tala terdengar di depan telinga
lebih pendek dua kali lipat dari waktu ketika terdengar pada proses mastoid. Dalam
kasus seperti itu, orang tersebut harus menjalani tes lebih lanjut untuk gangguan
pendengaran.

B. Sistem Penglihatan
PERUBAHAN YANG BERKAITAN DENGAN USIA YANG
MEMPENGARUHI PENGLIHATAN
Fungsi visual tergantung pada urutan proses, dimulai dengan persepsi stimulus
eksternal dan berakhir dengan pemrosesan impuls saraf di korteks serebral.
Perubahan terkait usia mempengaruhi semua struktur yang terlibat dalam fungsi
visual; Namun, dengan tidak adanya proses penyakit, perubahan bertahap ini hanya
berdampak halus pada kegiatan sehari-hari orang tua.
Mata (VISION)
Perubahan terkait usia di mata itu sendiri juga memengaruhi kesejahteraan
visual. Struktur spesifik mata yang berubah seiring bertambahnya usia termasuk
kornea, lensa, iris dan pupil, badan ciliary, vitreous, dan retina.
Kornea adalah tembus yang menutupi mata yang memantulkan sinar cahaya
dan memberikan 65% hingga 75% dari kekuatan fokus mata. Saat mata menua,
kornea menjadi buram dan kuning, mengganggu perjalanan cahaya, terutama sinar
ultraviolet (UV), ke retina. Perubahan kornea lainnya, seperti akumulasi endapan
lipid, dapat menyebabkan peningkatan hamburan sinar cahaya dan memiliki efek
kabur pada penglihatan. Selain itu, perubahan terkait usia dalam kelengkungan
kornea mempengaruhi kemampuan refraksi.
Lensa terdiri dari lapisan konsentris dan avaskular protein bening, kristal.
Lensa tidak memiliki suplai darah, jadi itu tergantung pada humor aqueous untuk
fungsi metabolisme dan dukungan. Serat lensa transparan terus membentuk lapisan

21
baru tanpa menumpahkan lapisan lama. Ketika lapisan baru terbentuk secara perifer,
lapisan lama dikompresi ke dalam menuju pusat, di mana mereka akhirnya diserap
ke dalam nukleus. Proses ini secara bertahap meningkatkan ukuran dan kerapatan
lensa, menyebabkan tiga kali lipat massanya pada usia 70 tahun. Dengan demikian,
lensa secara bertahap menjadi kaku, lebih padat, dan lebih buram.
Karena perubahan yang berkaitan dengan usia ini, lensa bergerak maju di mata
dan kurang responsif terhadap otot ciliary. Perubahan-perubahan ini juga
mengganggu transmisi sinar cahaya, menyebarkan sinar yang melewati lensa dan
mengurangi
Jumlah cahaya yang mencapai retina. Perubahan ini tidak memengaruhi semua
panjang gelombang secara merata; sebaliknya, efek paling merugikan terjadi dengan
panjang gelombang biru dan violet yang lebih pendek.
Iris adalah otot sfingter berpigmen yang melebar dan berkontraksi untuk
mengontrol ukuran pupil dan mengatur jumlah cahaya yang mencapai retina.
Dengan bertambahnya usia, iris menjadi sklerotik dan kaku dan pupil menjadi lebih
kecil. Perubahan-perubahan ini mengganggu kemampuan untuk merespon tingkat
cahaya yang rendah dan mengurangi jumlah cahaya yang mencapai retina.
Tubuh ciliary adalah massa otot, jaringan ikat, dan pembuluh darah yang
mengelilingi lensa. Otot-otot ini mengatur perjalanan sinar cahaya melalui lensa
dengan mengubah bentuk lensa. Tubuh ciliary bertanggung jawab untuk akuisisi,
suatu proses yang mengontrol kemampuan seseorang untuk fokus pada objek dekat.
Selain itu, tubuh ciliary menghasilkan cairan berair. Karena perubahan yang
berkaitan dengan usia, sel-sel otot diganti dengan jaringan ikat, dan tubuh ciliary
secara bertahap menjadi lebih kecil, kaku, dan kurang fungsional. Dengan
bertambahnya usia, sekresi humor aqueous yang berkurang mengganggu makanan
dan pembersihan lensa dan kornea.
Vitreous adalah massa yang jernih, agar-agar yang membentuk zat dalam
dan mempertahankan bentuk bola mata. Perubahan terkait usia menyebabkan zat
agar-agar menyusut dan peningkatan proporsional dalam porsi cairan. Karena
perubahan-perubahan ini, tubuh vitreous menarik diri dari retina, menghasilkan
gejala seperti floaters, penglihatan kabur, gambar terdistorsi, atau kilatan cahaya.
Selain itu, perubahan-perubahan ini dapat menyebabkan cahaya menyebar lebih
difus melalui cairan vitreus, mengurangi jumlah cahaya yang mencapai retina.

22
Proses mengubah rangsangan visual menjadi impuls saraf dimulai pada
batang dan kerucut, yang merupakan sel-sel fotoreseptor penghasil pigmen di retina.
Batang tidak melihat warna, tetapi mereka bertanggung jawab untuk penglihatan di
bawah cahaya rendah. Kerucut membutuhkan tingkat cahaya yang tinggi untuk
berfungsi secara efektif, dan mereka bertanggung jawab untuk persepsi warna dan
ketajaman, yang merupakan kemampuan untuk mendeteksi detail dan membedakan
objek. Batang didistribusikan ke seluruh retina perifer dan kerucut terkonsentrasi di
bagian tengah dan paling sensitif dari makula, yang disebut fovea. Meskipun batang
dan kerucut berkurang dengan bertambahnya usia, dampak dari perubahan ini adalah
minimal karena kehilangan kerucut terjadi terutama dalam periferal retina, dengan
hanya kerugian minimal di fovea. Juga, meskipun jumlah batang menurun di retina
pusat, ukuran batang yang tersisa bertambah dan mempertahankan kemampuan
mereka untuk menangkap cahaya. Perubahan terkait usia tambahan dalam struktur
retina termasuk akumulasi lipofuscin dan penipisan dan sklerosis pembuluh darah
dan epitel pigmen.
Jalur Retina-Neural
Sel-sel fotoreseptor bertemu dalam sel-sel ganglion saraf optik. Informasi
neurosensoris diteruskan dari saraf optik, melalui thalamus, ke korteks visual.
Perubahan terkait usia yang memengaruhi neuron-neuron ini, serta perubahan sistem
saraf pusat lainnya yang memengaruhi fungsi kognitif, dapat mengganggu fungsi
visual pada orang dewasa yang lebih tua.

EFEK PERUBAHAN AGE-TERKAIT DENGAN PENGLIHATAN


Ketajaman visual terbaik-koreksi mulai menurun pada orang dewasa,
terlepas dari ras, jenis kelamin, etnis, atau status sosial ekonomi, setelah usia 50,
bahkan tanpa adanya faktor risiko. Bahkan orang-orang yang memiliki ketajaman
visual 20/20 pada usia 90 tahun mengalami perubahan halus dalam keseluruhan visi
dan kualitas optik. Namun, terlepas dari prevalensi universal dari perubahan
penglihatan yang berkaitan dengan usia, kebanyakan orang dewasa yang lebih tua
dapat melakukan kegiatan mereka yang biasa dengan menggunakan alat bantu
penglihatan rendah dan memodifikasi lingkungan mereka. Gangguan penglihatan,
yang didefinisikan sebagai kehilangan penglihatan yang tidak dapat dikoreksi
dengan kacamata atau lensa kontak saja, berkisar dari gangguan ringan hingga
kebutaan.

23
Gangguan penglihatan ringan
Disebabkan oleh perubahan yang berkaitan dengan usia normal, tetapi
mereka secara signifikan diperburuk oleh kondisi lingkungan seperti silau dan
pencahayaan yang buruk. Intervensi kompensasi untuk efek perubahan penglihatan
yang berkaitan dengan usia cukup efektif untuk meningkatkan kesehatan visual.
Sebagai contoh, orang-orang yang menggunakan kacamata baca dan cahaya yang
terang tetapi tidak berani untuk meningkatkan kemampuan membaca mereka
mengimbangi gangguan penglihatan ringan. Gangguan penglihatan ringan ini
dibahas pada bagian berikut, dan konsekuensi dari gangguan penglihatan yang lebih
signifikan dibahas di bagian Kondisi Pengaruhi Penglihatan.
A. Kehilangan Akomodasi
Presbiopia adalah hilangnya akomodasi, yang merupakan kemampuan untuk
fokus dengan jelas dan cepat pada objek di berbagai jarak. Presbiopia adalah
perubahan visi terkait usia awal dan universal, yang dimulai pada awal masa dewasa
dan memengaruhi semua manusia sampai taraf tertentu pada pertengahan 50-an
(Ferrer-Blasco, Gonzalez-Meijome, & Montes-Mico, 2008). Perubahan
penglihatan ini disebabkan oleh perubahan degeneratif pada lensa dan tubuh
ciliary. Secara fungsional, perubahan akomodatif secara bertahap memperluas titik
dekat penglihatan, yang merupakan titik terdekat di mana objek kecil dapat dilihat
dengan jelas. Contoh tipikal dari efek presbiopia adalah kebutuhan untuk memegang
bahan bacaan lebih jauh dari mata agar fokus dengan jelas pada cetakan.
B. Ketajaman berkurang
Ketajaman visual biasanya dinilai dengan menggunakan bagan Snellen, dan
diukur terhadap nilai normal 20/20. Ketajaman visual paling baik sekitar usia 30,
setelah itu secara bertahap menurun. Ketajaman yang berkurang terjadi akibat
perubahan okular terkait usia, termasuk penurunan ukuran pupil, penyebaran
cahaya di kornea dan lensa, kekeruhan lensa dan cairan vitreus, dan hilangnya
sel fotoreseptor di retina. Perubahan-perubahan ini mengganggu perjalanan cahaya
ke retina, menyebabkan pengurangan tiga kali lipat dalam pencahayaan retina antara
usia 20 dan 60.Ketajaman juga dipengaruhi oleh kondisi, seperti ukuran dan
pergerakan objek dan jumlah cahaya yang dipantulkan dari suatu objek. Karena
pencahayaan yang buruk menambah efek perubahan okular terkait usia sehubungan

24
dengan ketajaman visual, orang yang lebih tua membutuhkan lebih banyak
pencahayaan untuk melihat objek dengan jelas. Selain itu, karena ketajaman visual
lebih terganggu untuk memindahkan objek daripada untuk objek diam, itu menjadi
lebih baik dengan meningkatnya kecepatan objek. Perubahan ketajaman visual ini
khususnya dapat memengaruhi kompetensi mengemudi malam hari.
C. Adaptasi Gelap dan Terang
Kemampuan untuk merespon cahaya redup, yang disebut adaptasi gelap,
mulai menurun sekitar usia 20 tahun dan berkurang secara nyata setelah usia 60
tahun. Penurunan ini terkait dengan penurunan pencahayaan retina dan perubahan
yang berkaitan dengan usia di jalur retina dan retina-saraf. . Akibatnya, orang
dewasa yang lebih tua membutuhkan lebih banyak waktu untuk beradaptasi dengan
pencahayaan redup ketika pindah dari lingkungan yang lebih terang ke yang lebih
gelap. Misalnya, ketika memasuki bioskop gelap, orang yang lebih tua perlu waktu
ekstra untuk beradaptasi dengan perubahan pencahayaan sebelum melanjutkan ke
kursi.Perubahan terkait usia pada lensa dan pupil mengganggu respons terhadap
cahaya terang karena mengurangi jumlah cahaya yang mencapai retina. Secara
praktis, ini artinya orang yang lebih tua merespons lampu dengan lebih lambat,
seperti lampu mobil atau bus dan membutuhkan lebih banyak waktu untuk pulih dari
paparan cahaya yang menyilaukan dan terang.

D. Peningkatan Sensitivitas Silau


Silau terjadi ketika cahaya yang tersebar di media optik mengurangi
kejernihan gambar visual. Silau dialami ketika cahaya dipantulkan dari permukaan
mengkilap, ketika cahaya terlalu terang atau tidak tepat fokus, atau ketika cahaya
terang berasal dari beberapa sumber sekaligus. Glare diklasifikasikan menurut tiga
jenis: jilbab, menyilaukan, dan scotomatic. Silau berjilbab disebabkan oleh
hamburan cahaya di atas permukaan retina dan menghasilkan kontras yang
berkurang dari objek yang dilihat. Silau kerudung terjadi, misalnya, ketika lampu
neon terang di toko kelontong mencerminkan plastik bening menutupi produk
makanan dalam kasing putih. Silau yang menyilaukan, yang disebabkan oleh
tampilan visual yang cerah, mengganggu kemampuan untuk melihat detail. Direktori
yang tertutup kaca di pusat perbelanjaan yang menyala terang menghasilkan cahaya
yang menyilaukan yang mengganggu kemampuan seseorang untuk membaca kata-

25
kata dalam direktori, terutama jika ada kontras yang buruk antara huruf dan latar
belakang. Silau Scotomatic adalah silau menyilaukan yang disebabkan oleh
hilangnya sensitivitas retina dan stimulasi berlebih pigmen retina selama paparan
cahaya terang. Misalnya, sinar matahari dapat membuat silau skotomatik, terutama
saat matahari terbit atau terbenam.Dimulai pada dekade kelima, perubahan terkait
usia meningkatkan sensitivitas seseorang untuk silau dan waktu yang dibutuhkan
untuk pulih dari silau. Sensitivitas cahaya dipengaruhi terutama oleh kekeruhan
lensa; Namun, hal itu dipengaruhi juga oleh perubahan terkait usia pada pupil dan
cairan vitreus. Secara fungsional, perubahan-perubahan ini dapat secara signifikan
mempengaruhi kemampuan orang untuk membaca tanda-tanda, melihat objek,
berkendara di malam hari, dan bermanuver dengan aman di lingkungan yang cerah.
Di banyak bangunan modern dan pusat perbelanjaan, lampu terang, jendela besar,
dan lantai yang sangat reflektif menghasilkan cahaya yang dapat menyebabkan
kecelakaan dan persepsi yang tidak akurat.

E. Bidang Visual berkurang


Bidang visual adalah area berbentuk oval yang mencakup pandangan total
yang dirasakan orang sambil melihat titik tetap lurus ke depan. Ruang lingkup
bidang visual sedikit menyempit antara usia 40 dan 50 tahun dan kemudian menurun
dengan mantap. Secara fungsional, bidang visual penting ketika orang terlibat dalam
tugas yang membutuhkan persepsi luas tentang lingkungan dan objek bergerak.
Berjalan di tempat-tempat ramai dan mengendarai kendaraan adalah contoh kegiatan
yang bergantung pada bidang penglihatan.

F. Persepsi Kedalaman Berkurang


Persepsi kedalaman adalah keterampilan visual yang bertanggung jawab
untuk menempatkan objek dalam ruang tiga dimensi, menilai perbedaan kedalaman
objek, dan mengamati hubungan antar objek dalam ruang. Secara fungsional,
persepsi kedalaman memungkinkan orang untuk menggunakan objek secara efektif
dan bermanuver dengan aman di lingkungan.Stereopsis, atau perbedaan antara
gambar retina yang disebabkan oleh pemisahan kedua mata, adalah karakteristik
mata primer yang mempengaruhi persepsi kedalaman. Faktor-faktor tambahan yang
mempengaruhi persepsi kedalaman termasuk pengalaman persepsi sebelumnya dari
pengamat; pergerakan kepala atau tubuh pengamat; dan karakteristik objek, seperti

26
ukuran, tinggi, jarak, tekstur, kecerahan, dan bayangan. Meskipun persepsi
kedalaman menurun dengan bertambahnya usia, penelitian menunjukkan bahwa
meskipun perubahan terkait usia dalam stereopsis, orang dewasa yang lebih tua
dapat membedakan perbedaan kedalaman dengan cara yang mirip dengan orang
dewasa yang lebih muda (Norman et al., 2008).

G. Penglihatan Warna yang Diubah


Pigmen dalam kerucut retina menyerap cahaya dalam spektrum merah, biru,
atau kuning. Seperti halnya banyak fungsi visual lainnya, persepsi warna
dipengaruhi oleh jenis dan jumlah gelombang cahaya yang mencapai retina.
Akibatnya, segala perubahan terkait usia yang mengganggu iluminasi retina —
termasuk kekeruhan lensa, miosis pupil, perubahan retina atau retina-neural — dapat
mengganggu persepsi warna yang akurat. Kekurangan dan kekuningan lensa
mengganggu secara langsung dengan panjang gelombang yang lebih pendek,
menyebabkan persepsi perubahan warna biru, hijau, dan ungu. Tingkat iluminasi
yang rendah dan faktor lingkungan lainnya juga mengganggu persepsi warna.Secara
fungsional, persepsi warna yang diubah dimanifestasikan sebagai relatif gelapnya
objek biru dan persepsi kekuningan cahaya putih. Persepsi warna yang akurat tidak
penting dalam semua kegiatan sehari-hari, tetapi penting, misalnya, dalam
membedakan antara obat yang memiliki warna atau nada yang sama, terutama yang
berada dalam kisaran biru-hijau dan kuning-putih. Selain itu, persepsi warna yang
berubah dapat mengganggu deteksi makanan busuk.

G. Fusion Flicker Kritis Berkurang


Fusion flicker kritis adalah titik di mana sumber cahaya berselang dianggap
sebagai cahaya yang kontinu, bukan berkedip. Kemampuan untuk memahami lampu
kilat secara akurat adalah fungsireseptor retina dan dipengaruhi oleh faktor-faktor
ekstraokular, seperti ukuran, warna, dan pencahayaan objek. Perubahan terkait usia
pada retina dan jalur retina-neural, serta perubahan yang menurunkan iluminasi
retina, mengganggu fusi flicker yang kritis. Tingkat iluminasi yang rendah semakin
memperburuk efek dari perubahan ini. Secara fungsional, fusion flicker kritis yang
berkurang mendistorsi persepsi cahaya yang berkedip-kedip, menjadikannya lampu
yang terus menerus. Dengan demikian, fusion flicker kritis berkurang dapat

27
mengganggu penegasan kendaraan darurat dan lampu konstruksi jalan, terutama di
malam hari.

H. Memproses Informasi Visual lebih lambat


Perubahan terkait usia dari jalur retina-neural mempengaruhi keakuratan dan
efisiensi pemrosesan informasi visual. Dengan demikian, orang dewasa yang lebih
tua umumnya membutuhkan lebih banyak waktu untuk memproses informasi visual,
tetapi efeknya minimal atau dapat diabaikan ketika tugas sudah akrab. Tabel 17-1
merangkum perubahan penglihatan yang berkaitan dengan usia dan pengaruhnya
terhadap penglihatan.
FAKTOR RISIKO YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN VISUAL
Faktor gaya hidup, nutrisi, dan lingkungan — termasuk kondisi segera dan
jangka panjang — memperburuk perubahan penglihatan yang berkaitan dengan usia
dan mengganggu kesehatan visual. Misalnya, pajanan jangka panjang terhadap sinar
UV (mis., Sinar matahari) dikaitkan dengan perkembangan katarak (perubahan
terkait usia pada lensa) dan hilangnya sel fotoreseptor, khususnya kerucut. Selain itu,
orang dewasa yang lebih tua lebih rentan terhadap kerusakan mata dari sinar
matahari karena perubahan yang berkaitan dengan usia mengubah respon
perlindungan terhadap sinar UV yang berbahaya. Temperatur lingkungan yang lebih
hangat dikaitkan dengan usia onset yang lebih dini untuk presopia (yaitu, kehilangan
penglihatan dekat). Mata kering dapat disebabkan oleh kondisi lingkungan seperti
angin, sinar matahari, kelembaban rendah, dan asap rokok. Pengaruh lingkungan
lainnya pada kesehatan seksual termasuk silau, pencahayaan redup, dan kontras
warna yang buruk. Studi menemukan bahwa gizi buruk meningkatkan risiko
degenerasi makula terkait usia (AMD) (Montgomery et al., 2010). Merokok adalah
faktor gaya hidup yang meningkatkan risiko katarak dan degenerasi makula. Satu
studi menemukan bahwa merokok dikaitkan dengan kemungkinan gangguan
penglihatan sekitar empat kali lebih tinggi (Jin & Wong, 2008).
Efek pada Keselamatan dan Fungsi
Karena gangguan penglihatan berhubungan dengan banyak aspek keselamatan dan
fungsi, orang yang tunanetra cenderung lebih tergantung pada aktivitas kehidupan
sehari-hari mereka. Perubahan visi terkait usia paling langsung memengaruhi
kegiatan berikut:
1. Pergi keluar

28
2. Mengemudi kendaraan
3. Berbelanja untuk bahan makanan
4. Naik dan turun tangga
5. Masuk dan keluar dari tempat tidur atau kursi
6. Melakukan manuver dengan aman di lingkungan yang gelap atau asing
7. Melihat tanda pada jam, radio, termostat, peralatan,dan televisi
8. Membaca koran, direktori, tanda-tanda cetak kecil dan poster, dan label pada
item makanan dan wadah obat.
Sebagian besar kegiatan ini dipengaruhi tidak hanya oleh perubahan dalam
keterampilan visual tetapi juga oleh kondisi lingkungan, seperti silau dan
pencahayaan.
Gangguan penglihatan mengancam fungsi yang aman karena dapat memengaruhi
gaya berjalan, keseimbangan, dan stabilitas postural. Mereka juga meningkatkan
risiko jatuh, patah tulang, dan cedera serius lainnya akibat jatuh. Studi telah
menemukan hubungan antara gangguan penglihatan dan peningkatan risiko dari
semua yang mengikuti: jatuh, kematian, patah tulang pinggul, ketidakpatuhan
pengobatan, kecelakaan mobil, dan penurunan kualitas hidup (Kalinowski, 2008).
Perubahan visi terkait usia spesifik yang meningkatkan risiko jatuh termasuk
ketajaman berkurang, bidang visual berkurang, persepsi kedalaman berkurang,
gangguan sensitivitas kontras, dan peningkatan sensitivitas terhadap silau. Satu Efek
baru pada Kualitas Hidup
Perubahan visi terkait usia berkembang secara bertahap dan seringkali tidak
diperhatikan selama bertahun-tahun. Ketika perubahan berlangsung dan
mengganggu aktivitas biasa, orang dewasa yang lebih tua dapat menarik diri dari
kegiatan daripada mengakui masalah penglihatan atau menyesuaikan diri dengan
perubahan. Studi telah menemukan bahwa gangguan penglihatan berhubungan
dengan kecemasan, depresi, dan tingkat kesejahteraan psikologis yang lebih rendah
(Mabuchi et al., 2008). Satu studi menemukan bahwa kehilangan penglihatan adalah
prediktor kuat dari onset dan kegigihan depresi (Chou, 2008).
Tentu saja, gaya hidup biasa seseorang memengaruhi sejauh mana dampak
psikososial yang terkait dengan perubahan visi. Jika kegiatan waktu luang yang
disukai membutuhkan keterampilan visual yang baik, orang dewasa yang lebih tua
cenderung menjadi bosan dan bahkan tertekan ketika perubahan perubahan
mengganggu usaha, seperti membaca, menjahit, atau menjahit. Demikian pula,
ketika pengejaran artistik dan acara hiburan adalah kegiatan penting, fungsi seksual
yang berkurang dapat mengganggu kualitas hidup orang tersebut. Sebaliknya, efek

29
gangguan penglihatan pada gaya hidup mungkin minimal untuk orang yang lebih
suka musik atau kegiatan lain yang kurang tergantung pada keterampilan visual.
Lingkungan hidup seseorang dan sistem pendukung adalah penentu lain dari
konsekuensi psikososial dari perubahan visi. Keterampilan visual yang baik lebih
penting bagi orang-orang yang hidup sendiri atau yang menyediakan perawatan
untuk orang lain daripada mereka yang hidup dengan, atau sering berhubungan
dengan, orang lain yang memiliki visi yang baik. Juga, jika orang-orang tunanetra
dapat memodifikasi lingkungan tempat tinggal mereka untuk mengkompensasi
gangguan tersebut, konsekuensi psikososial akan diminimalkan. Sebaliknya, orang
yang tinggal di lingkungan institusional mungkin mengalami konsekuensi negatif
yang relatif lebih besar karena ketidakmampuan mereka untuk mengubah kondisi
lingkungan.
Beberapa orang dewasa yang lebih tua yang melihat penurunan penglihatan
mengembangkan ketakutan yang secara negatif mempengaruhi kualitas hidup
mereka. Sebagai contoh, orang mungkin keliru takut akan buta jika mereka berpikir
mereka memiliki penyakit serius dan progresif ketika, pada kenyataannya, mereka
memiliki kondisi yang dapat diobati. Ketakutan akan kebutaan mungkin didasarkan
pada mitos, informasi yang tidak akurat, atau pengalaman teman-teman yang
memiliki gangguan penglihatan yang serius. Sikap negatif atau putus asa tentang
perubahan visi dapat menghalangi orang yang lebih tua dari mengakui masalah atau
mencari bantuan. Ketakutan akan jatuh adalah sumber kecemasan lain yang terkait
dengan gangguan penglihatan. Persepsi kedalaman yang tidak akurat dapat
menyebabkan sering menabrak objek, dan orang dewasa yang lebih tua mungkin
merasa tidak aman dan tidak aman, bahkan di lingkungan yang akrab. Jika orang
tersebut mengalami jatuh atau tersandung, atau mengenal seseorang yang menderita
patah tulang akibat terjatuh, ketakutan itu dapat diperbesar.
Efek pada Mengemudi
Perubahan visi secara signifikan dapat memengaruhi keterampilan
mengemudi dan memberikan dampak mendalam pada orang dewasa yang lebih tua,
keluarga mereka, dan masyarakat. Karena mengemudi dikaitkan dengan masalah
keselamatan dan kemandirian yang cukup besar bagi pengemudi dan keluarga
mereka — dan karena pengemudi yang tidak aman menempatkan orang lain dalam
risiko — telah terjadi peningkatan minat yang kuat terhadap efek perubahan visi
pada keterampilan mengemudi pada orang dewasa yang lebih tua. Dimensi visual

30
yang memengaruhi kemampuan mengemudi adalah penglihatan dekat, pencarian
visual, penglihatan dinamis, sensitivitas kontras, dan kecepatan pemrosesan visual.
Konsekuensi dari gangguan penglihatan berkenaan dengan mengemudi meliputi:
a. Adaptasi gelap dan cahaya yang lebih lambat menciptakan masalah saat
mengemudi keluar masuk terowongan dan saat mengemudi di malam hari di
jalan-jalan dengan pencahayaan yang bervariasi.
b. Berkurangnya penglihatan tepi mengganggu bidang visual luas yang penting
untuk menghindari tabrakan.
c. Ketajaman yang menurun mengganggu persepsi objek bergerak, khususnya
kendaraan yang bergerak cepat.
d. Akomodasi yang berkurang dan ketajaman menimbulkan masalah ketika
orang dewasa yang lebih tua mencoba membaca indikator dasbor setelah
fokus pada jalan.
e. Silau mengganggu persepsi objek dan diperparah oleh kondisi hujan, salju,
atau cerah.
f. Sinar matahari cerah tak lama setelah matahari terbit atau sebelum matahari
terbenam dapat secara signifikan mengganggu persepsi lampu lalu lintas
merah dan hijau karena peningkatan sensitivitas terhadap silau.
g. Jika mobil memiliki jendela berwarna, iluminasi yang berkurang semakin
mengganggu keterampilan visual.
Dalam beberapa tahun terakhir, ahli gerontologi dan dokter memfokuskan perhatian
pada pengidentifikasian variabel yang memengaruhi mengemudi pada orang dewasa
yang lebih tua, dan banyak penelitian menyebutkan keterampilan visual sebagai
faktor penting. Misalnya, Baldock, Berndt, dan Mathias (2008) menemukan bahwa
pengemudi dengan defisit dalam sensitivitas kontras cenderung mendekati titik di
jalan di mana diperlukan manuver (mis. Persimpangan) terlalu cepat. Studi juga
telah menemukan hubungan antara mengemudi penghentian dan semua langkah
fungsi visual berikut: katarak, glaukoma, sensitivitas kontras, ketajaman visual
dasar, dan defisit bidang visual periferal (Ackerman, Edwards, Ross, Ball, &
Lunsman, 2008 ; Ramulu, Barat, Munoz, Jampel, & Friedman, 2009).

KONDISI PATOLOGI YANG MEMPENGARUHI PENGLIHATAN


1. Katarak
Katarak adalah penyebab utama dan dapat disembuhkan dari gangguan
penglihatan, mempengaruhi sekitar 50% orang berusia 80 tahun ke atas. Katarak

31
disebabkan oleh perkembangan perubahan terkait usia pada lensa yang dimulai
sekitar usia 40 dan akhirnya dapat berkembang menjadi kekeruhan total. Saat
katarak berkembang, lensa yang biasanya transparan menjadi keruh, transmisi
cahaya ke retina berkurang, dan penglihatan ditingkatkan. Selain disebabkan oleh
perubahan terkait usia, faktor risiko termasuk penyakit sistemik, obat-obatan, dan
faktor lingkungan, seperti dirangkum dalam Tabel 17-2. Juga, katarak cenderung
terjadi lebih umum setelah operasi glaukoma atau jenis operasi mata lainnya. Faktor
risiko katarak yang paling dapat dimodifikasi dan dicegah adalah merokok dan
terpapar sinar matahari.
Katarak biasanya terjadi pada kedua mata, tetapi tidak selalu berkembang
secara bilateral dengan kecepatan yang sama. Katarak digolongkan menurut
lokasinya: katarak kortikal terjadi di korteks, katarak nuklir terjadi di dalam nukleus,
dan katarak subkapsular posior terjadi di belakang membran yang mengelilingi
lensa. Lokasi katarak secara signifikan mempengaruhi dampaknya, dengan katarak
nuklir paling mengganggu penglihatan.
Pada tahap awal, katarak tidak serta merta mempengaruhi ketajaman seksual,
tetapi seiring perkembangannya, katarak menyebabkan kesulitan melakukan
kegiatan seperti membaca dan mengemudi malam hari (lihat Gambar 17-2). Orang
dengan katarak cenderung mengalami perubahan penglihatan berikut:
a. Visi redup atau kabur
b. Gambar terdistorsi atau ganda
c. Perubahan yang sering terjadi pada lensa korektif
d. Meningkatnya sensitivitas untuk menyilaukan
e. Kebutuhan akan lebih banyak cahaya saat membaca
f. Persepsi "film" di atas mata
g. Kemampuan yang berkurang untuk membedakan kontras
h. Persepsi lingkaran cahaya di sekitar lampu terang
i. Persepsi warna yang terdistorsi atau berkurang (mis., Apl biru pir tumpul,
dan merah, kuning, dan oranye tampak lebih cerah).
Katarak tidak dapat diobati dengan obat-obatan, tetapi pada tahap awal,
katarak dikelola dengan resep kacamata yang lebih kuat atau lensa kontak. Ketika
ketajaman visual menurun sampai pada titik yang memengaruhi keselamatan atau
kualitas hidup orang tersebut dan memberikan kemungkinan yang masuk akal untuk
meningkatkan penglihatan, operasi katarak biasanya direkomendasikan. Ketika
operasi diperlukan untuk kedua mata, prosedur biasanya dilakukan pada satu mata
pada satu waktu, dengan operasi kedua dilakukan setelah yang pertama sembuh

32
sepenuhnya. Namun, sebuah studi baru-baru ini tentang operasi katarak sekuensial
langsung dan tertunda menemukan bahwa subjek yang memiliki operasi katarak
pada kedua mata dalam satu sesi mengalami peningkatan yang lebih besar dan
rehabilitasi visual yang lebih cepat (Nassiri, Nassiri, Sadeghi Yarandi, &
Rahnavardi,2009).
2. Age- Related Macular Degeneration (Degenerasi Makula Terkait Usia)
Degenerasi makula terkait usia (AMD) adalah penyebab utama kehilangan
penglihatan yang parah dan kebutaan pada orang yang lebih tua dari 55 tahun di
Amerika Serikat dan negara maju lainnya (Coleman, Chan, Ferris, & Chew, 2008).
AMD, dalam berbagai tahap, mempengaruhi 18% orang antara usia 70 dan 74 tahun,
dan 47% orang berusia 85 tahun ke atas. AMD dikaitkan dengan faktor-faktor risiko
yang dirangkum dalam Tabel 17-2. Studi longitudinal menemukan bahwa AMD
secara signifikan terkait dengan konsekuensi fungsi serius, termasuk tingkat yang
lebih tinggi dari kebutaan, depresi, patah tulang pinggul, dan tinggal di fasilitas
perawatan jangka panjang (Wysong, Lee, & Sloan, 2010). Pencegahan AMD
berfokus pada kontrol faktor-faktor risiko yang dapat dimodifikasi, seperti merokok,
dan penggunaan suplemen nutrisi yang mengandung semua hal berikut: vitamin C
500 mg, vitamin E 400 IU, beta-karoten 15 mg, seng oksida 80 mg, dan tembaga
oksida 2 mg (Coleman et al., 2008). Pada awal penyakit, deposit produk sampingan
kuning dari pigmen retal, yang disebut drusen, menumpuk di makula, yang
merupakan area di tengah retina di mana ketajaman visual adalah yang terbaik.
Ketika penyakit berkembang, penyakit ini diklasifikasikan sebagai tipe kering, yang
menyumbang 80% hingga 90% kasus, atau tipe basah (eksudatif). Pada tipe kering,
kerusakan disebabkan oleh kematian fotoreseptor, yang terlihat pada funduscopy
sebagai area kecil atrofi epitel pigmen retina. Jenis AMD kering biasanya
berkembang perlahan dan tidak menyebabkan kebutaan total; Namun, jika tipe basah
berkembang, kehilangan penglihatan bisa cepat dan parah. Pada tipe basah,
kerusakan disebabkan oleh pembentukan pembuluh darah baru di koroid, sebuah
proses yang disebut neovaskularisasi koroid, diikuti oleh perdarahan ke dalam ruang
subretinal.
Pada tahap awal AMD, orang tersebut mengalami penglihatan kabur dan
mengalami kesulitan membaca, terutama dalam cahaya redup. Mirip dengan
kebanyakan kondisi mata lainnya, AMD terjadi pada kedua mata, tetapi pada
awalnya hanya muncul dalam satu mata, dan arahnya mungkin berbeda dalam setiap

33
mata. Ketika AMD berkembang, hal itu memengaruhi penglihatan sentral dan secara
signifikan mencampuri kegiatan seperti membaca, mengemudi, menonton televisi,
mengenali orang, dan melakukan banyak kegiatan perawatan diri (lihat Gambar 17-
2). Tujuan pengobatan utama untuk pasien dengan kedua jenis AMD adalah untuk
mengurangi risiko kehilangan penglihatan lebih lanjut.
Fotokoagulasi laser dan terapi fotodinamik adalah dua intervensi yang
digunakan untuk mengobati neovaskularisasi koroid yang terjadi pada AMD tipe
basah untuk orang yang memenuhi kriteria medis untuk kedua perawatan ini.
Kelemahan dari perawatan ini adalah bahwa banyak pasien tidak mengalami efek
jangka panjang yang signifikan. Beberapa kemajuan sedang dibuat sehubungan
dengan agen biologis atau farmakologis yang menghentikan proses penyakit,
sehingga perawat dapat mendorong siapa pun dengan AMD untuk mendapatkan
informasi tentang uji klinis dan pengembangan baru melalui sumber-sumber seperti
National Eye Institute dan organisasi terpercaya lainnya. . Perawat dapat melayani
dalam peran dukungan untuk orang dengan AMD dengan mendorong mereka untuk
berpartisipasi dalam program rehabilitasi visi sehingga mereka dapat belajar cara
paling efektif untuk mengkompensasi penurunan visi. Orang dengan AMD biasanya
diajarkan untuk menguji mata mereka setiap hari dengan menggunakan kisi Amsler
(Gambar 17-3) sehingga mereka akan menyadari perubahan mendadak. Dalam
pengaturan perawatan jangka panjang dan untuk orang dewasa yang lebih tua
dengan masalah memori, perawat mungkin harus memberikan pengingat harian atau
bantuan untuk melakukan tugas ini. Perawat juga perlu mendorong orang dengan
AMD untuk menerima evaluasi berkelanjutan oleh praktisi perawatan mata untuk
mendeteksi aspek yang dapat diobati dari penyakit ini.
3. Glaukoma
Istilah glaukoma mengacu pada sekelompok penyakit mata di mana sel-sel
ganglion dari saraf optik dirusak oleh penumpukan yang tidak normal dari humor
berair di mata. Aqueous humor adalah cairan bening yang diproduksi di ruang
anterior mata dan biasanya mempertahankan tekanan mata antara 10 dan 20 mm Hg.
Jika cairan tidak dapat mengalir keluar dari ruang anterior mata melalui saluran
antara iris dan kornea, itu menumpuk dan mendorong saraf optik ke dalam bentuk
menangkup atau cekung. Kerusakan yang dihasilkan pada saraf optik menyebabkan
hilangnya penglihatan tepi. Jika tidak ditangani, kerusakan dapat berlanjut menjadi
kebutaan. Glaukoma kronis (sudut terbuka), yang merupakan 90% dari kasus

34
glaukoma di Amerika Serikat, terjadi ketika saluran drainase tersumbat. Kondisi ini
memiliki onset yang berbahaya dan mempengaruhi penglihatan ketika saraf optik
menjadi rusak. Tanda-tanda awal termasuk peningkatan tekanan intraokular,
penglihatan yang buruk dalam pencahayaan redup, dan peningkatan sensitivitas
terhadap silau. Jika kondisi berlanjut, manifestasi termasuk sakit kepala, "mata
lelah," gangguan penglihatan tepi, pupil yang tetap dan melebar, persepsi lingkaran
cahaya di sekitar lampu, dan seringnya perubahan dalam resep untuk lensa korektif.
Glaukoma kronis biasanya terjadi pada kedua mata, tetapi hanya dapat dimulai pada
satu mata dan tidak selalu berkembang dengan kecepatan yang sama pada kedua
mata. Karena glaukoma kronis berjalan perlahan dan menyebabkan sedikit atau tidak
ada gangguan penglihatan pada tahap awal, penilaian tahunan tekanan intraokular
diperlukan untuk mendeteksi kondisi sebelum gangguan penglihatan terjadi.
Glaukoma kronis paling sering dikelola dengan obat-obatan, tetapi opsi perawatan
bedah termasuk operasi laser dan jenis operasi mata lainnya. Manajemen obat
biasanya mencakup satu atau lebih dari beberapa jenis tetes mata berikut: miotik,
prostaglandin, beta-blocker, agonis adrenergik, dan inhibitor karbonat anhidrase.
Glaukoma tensi normal adalah tipe lain dari glaukoma yang terjadi pada
orang dewasa yang lebih tua. Dengan jenis glaukoma ini, tekanan intraokular berada
dalam kisaran normal, tetapi saraf optik rusak dan bidang visual menyempit (lihat
Gambar 17-2). Kondisi ini sering dikelola dengan obat yang sama dan pendekatan
bedah yang digunakan untuk glaukoma kronis.
Glaukoma akut (sudut tertutup) disebabkan oleh penyumbatan aliran
aqueous humor yang tiba-tiba. Kondisi ini memiliki onset tiba-tiba di satu atau
kedua mata dan harus dianggap sebagai darurat medis. Orang dengan glaukoma akut
datang dengan peningkatan tekanan intraokular, nyeri mata yang parah, pandangan
kabur atau kabur, pelebaran pupil, dan mual dan muntah. Kondisi ini dapat dipicu
oleh pengobatan yang menyebabkan pelebaran pupil, seperti antikolinergik.
Perawatan segera dengan obat-obatan biasanya efektif untuk serangan akut, tetapi
intervensi bedah sering diperlukan.
Pendidikan kesehatan untuk orang dewasa yang lebih tua dengan glaukoma
berfokus pada pentingnya mematuhi rutinitas pengobatan yang sedang berlangsung
dan secara teratur dievaluasi oleh praktisi perawatan mata mereka. Jika orang
dewasa yang lebih tua dengan glaukoma dirawat di rumah sakit, perawat perlu
memastikan bahwa obat tetes mata yang diresepkan diberikan sesuai pesanan.

35
Dalam situasi perawatan di rumah, perawat mungkin perlu mengembangkan rencana
untuk memberikan tetes mata setiap hari atau lebih sering. Jika orang dewasa yang
lebih tua memiliki masalah memori, membuat rutin untuk pemberian obat tetes mata
bisa sangat menantang. Seringkali, regimen tetes mata yang rumit dapat
disederhanakan dengan bekerja sama dengan praktisi perawatan mata untuk
mengurangi jumlah tetes mata yang diperlukan atau meresepkan obat yang bekerja
lebih lama yang dapat diberikan lebih jarang.
PENILAIAN PENGLIHATAN KEPERAWATAN
Penilaian penglihatan keperawatan bertujuan mengidentifikasi hal-hal berikut:
a. Faktor-faktor yang mengganggu kesehatan visual
b. Masalah penglihatan
Mengidentifikasi Peluang untuk Promosi Kesehatan
Perawat mengidentifikasi peluang untuk promosi kesehatan dengan bertanya
tentang praktik perawatan mata biasa orang tersebut dan tentang faktor-faktor yang
dapat mengganggu kesehatan visual. Informasi tentang sumber, frekuensi, dan
tanggal pemeriksaan mata orang tersebut sangat berguna untuk merencanakan
intervensi promosi kesehatan yang membahas deteksi dini penyakit mata. Perawat
juga mendengarkan indikator mitos atau kesalahpahaman yang harus diatasi melalui
pendidikan kesehatan. Jika orang tersebut memiliki katarak, glaukoma, atau kondisi
kronis lainnya yang memengaruhi penglihatan, perawat mengajukan pertanyaan
untuk memastikan praktik perawatan diri dan sikap orang tersebut terhadap
pemeriksaan mata dan manajemen penyakit. Jika tidak ada gangguan penglihatan
yang dilaporkan, perawat menilai sikap tentang deteksi dini kondisi yang dapat
diobati.
Terakhir, identifikasi faktor-faktor risiko yang dapat dimodifikasi memberikan
kesempatan untuk pendidikan kesehatan. Misalnya, sangat penting untuk bertanya
tentang merokok jika orang tersebut memiliki katarak, AMD, atau riwayat keluarga
AMD. Jika orang yang lebih tua cenderung menghabiskan waktu di luar ruangan di
iklim cerah, perawat bertanya tentang paparan sinar matahari. Menempatkan
pertanyaan ini menjelang akhir wawancara menetapkan panggung untuk pendidikan
kesehatan tentang langkah-langkah perlindungan, seperti penggunaan kacamata
hitam.
Mengamati Isyarat untuk Fungsi Visual

36
Informasi yang dapat dipercaya tentang fungsi visual seseorang dapat
diperoleh hanya dengan menjadi jeli. Sebagai contoh, perawat dapat mengamati
adanya kelainan pada kelopak mata, seperti kelopak mata yang serius, yang dapat
mengganggu kesehatan visual. Perawat dapat mendeteksi indikasi lain yang lebih
halus bahwa fungsi visual terganggu dengan mengamati penampilan dan
kemampuan orang tersebut untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Akhirnya, perawat
berbasis komunitas mungkin memiliki kesempatan untuk mengamati orang dewasa
yang lebih tua di lingkungan mereka yang biasa untuk menilai fungsi dan kondisi
mereka yang dapat memengaruhi kemampuan visual. Ketika penilaian tidak dapat
dilakukan di lingkungan orang biasa, perawat dapat meminta informasi kepada
orang yang lebih tua dan pengasuh tentang kemampuan orang tersebut dalam
pengaturan rumah.
Perawat mempertimbangkan pengamatan mereka sehubungan dengan pola
aktivitas dan perawatan pribadi yang biasa dilakukan orang tersebut. Sebagai contoh,
pengamatan noda dan noda pada pakaian akan ditafsirkan secara berbeda untuk
seseorang yang diketahui sangat teliti tentang penampilannya daripada seseorang
yang tidak pernah menunjukkan banyak kekhawatiran tentang hal ini. Ketika menilai
orang tua dalam lingkungan klinis atau lingkungan biasanya, perawat harus mencatat
keadaan apa pun yang dapat memengaruhi kinerja visual mereka, baik secara positif
maupun negatif. Contoh pengaruh positif mungkin adalah adanya pencahayaan yang
baik dan kontras warna. Beberapa pengaruh negatif, seperti silau dari lampu neon
yang terpantul di lantai yang sangat halus, lebih mungkin ada di lingkungan
kelembagaan daripada di rumah. Penilaian kinerja visual orang tersebut juga harus
memperhitungkan pengaruh faktor-faktor seperti penyakit, efek pengobatan, tekanan
psikologis, lingkungan yang tidak dikenal (dalam pengaturan klinis), dan tidak
tersedianya lensa korektif (jika tidak digunakan). Pengaruh-pengaruh ini menjadi
perhatian khusus karena mereka cenderung memiliki dampak negatif pada kinerja
orang tua dari kegiatan sehari-hari. Saran untuk mengamati isyarat perilaku dan
lingkungan yang berkaitan dengan fungsi visual tercantum dalam Kotak 17-2.

Menggunakan Tes Penglihatan Standar


Perawat dapat menilai penglihatan dengan menggunakan tes formal dan
informal. Namun sebelum pengujian, hilangkan sumber silau, pastikan bahan
pengujian memiliki kontras warna yang baik, dan letakkan sumber cahaya di atas

37
kepala orang tersebut untuk memberikan pencahayaan yang baik sambil
menghindari bayangan. Jika orang tersebut biasanya memakai lensa korektif,
pastikan lensa itu bersih dan ada di tempatnya. Tes setiap mata secara terpisah,
menggunakan penutup mata yang sesuai; hindari menggunakan tangan sebagai
penutup. Ketahuilah bahwa akurasi dari beberapa tes dipengaruhi oleh visi perawat
sendiri. Penilaian keperawatan tentang penglihatan bukan merupakan pengganti
untuk pemeriksaan mata yang lengkap, tetapi tujuannya adalah untuk memberikan
informasi yang berguna untuk perencanaan perawatan dan mengidentifikasi
kebutuhan untuk evaluasi lebih lanjut.
Alat penilaian penglihatan yang dapat digunakan oleh perawat dalam pengaturan
klinis termasuk Snellen chart, penilaian lubang jarum, Cardiff Acuity Test, dan grid
Amsler (seperti yang dijelaskan secara rinci oleh Kalinowski, 2008). Perawat
menggunakan tes ini dengan wawancara dan observasi, seperti yang dijelaskan
sebelumnya. Kotak Penilaian 17-3 merangkum pedoman untuk menggunakan bagan
Snellen dan Uji Konfrontasi, yang dapat digunakan perawat untuk menilai
ketajaman jarak dan penglihatan tepi.
Perawat dapat secara tidak resmi menguji ketajaman dekat dengan meminta orang
tersebut untuk membaca koran atau materi cetak lainnya dengan berbagai ukuran
ukuran. Metode lain adalah meminta orang tersebut untuk membaca satu atau dua
baris formulir yang perlu ditandatangani dan kemudian mengamati kemampuan
orang tersebut untuk menemukan garis tanda tangan. Perawat dapat menciptakan
peluang tambahan untuk menilai ketajaman dengan memberikan materi pendidikan
tertulis dan meminta orang tersebut untuk membaca bagian tertentu, seperti nomor
telepon. Perawat dapat secara informal menilai ketajaman jarak dengan meminta
orang tersebut untuk melihat jendela atau lorong dan untuk menjelaskan detail
tertentu, seperti kata-kata pada tanda.
Mempertahankan dan Meningkatkan Kualitas Hidup
Konsekuensi psikososial dari penglihatan yang diperbaiki bisa sangat
signifikan untuk orang dewasa yang lebih tua. Banyak intervensi yang membantu
orang dewasa yang lebih tua mengkompensasi kekurangan visual dan berfungsi pada
tingkat tertinggi juga akan meningkatkan kualitas hidup mereka dan mengatasi
konsekuensi psikososial dari gangguan penglihatan. Penggunaan kacamata baca
yang tepat dan pencahayaan lingkungan yang baik memungkinkan orang dewasa
yang lebih tua untuk membaca buku, koran, dan majalah. Selanjutnya, kualitas hidup

38
mereka dapat meningkat karena mereka mengalami interaksi sosial yang
memuaskan dan peningkatan stimulasi intelektual. Perawat juga mendorong
partisipasi dalam kelompok dukungan dan pendidikan karena intervensi ini berperan
penting dalam meningkatkan kualitas hidup orang dengan kehilangan penglihatan
yang signifikan atau progresif.
MENGEVALUASI EFEKTIVITAS INTERVENSI KEPERAWATAN
Perawat mengamati perilaku kompensasi orang dewasa tunanetra untuk
mengevaluasi efektivitas intervensi untuk Persepsi Sensorik Terganggu: Visual.
Berikut ini adalah indikator dari intervensi yang berhasil:
a) Penggunaan lensa korektif dan alat bantu low-vision untuk mencapai fungsi
visual sebaik mungkin
b) Adaptasi lingkungan untuk keselamatan dan fungsi visual yang ditingkatkan
(mis., Pencahayaan yang terang, tidak berwarna, kontras warna yang baik)
c) Perasaan aman yang dinyatakan dalam kaitannya dengan fungsi visual
d) Kemandirian maksimal dalam kegiatan seperti berpakaian, perawatan
pribadi, menggunakan peralatan, dan mengelola obat-obatan
e) Meskipun demikian, perasaan yang diungkapkan tentang peningkatan
kualitas hidup tunanetra.
Perawat mengevaluasi efektivitas intervensi untuk meningkatkan kemandirian
dengan menilai dan menilai kembali kemampuan orang dewasa sebelum dan
sesudah intervensi. Ketika intervensi mengatasi dampak psikososial dari gangguan
penglihatan, perawat mengamati sejauh mana kualitas hidup orang tersebut dan
kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang menyenangkan ditingkatkan.
Misalnya, pencahayaan yang lebih baik dan penggunaan buku audio atau buku cetak
besar memungkinkan seseorang untuk menikmati membaca lagi. Perawat
mengevaluasi keefektifan intervensi pendidikan kesehatan sesuai dengan
kemampuan orang tersebut untuk menindaklanjuti dengan rujukan atau tindakan
yang direkomendasikan. Di rumah, komunitas, dan pengaturan perawatan jangka
panjang, perawat mungkin dapat memfasilitasi rujukan untuk skrining visi atau
layanan perawatan visi lainnya. Dalam pengaturan ini, perawat mengevaluasi
efektivitas intervensi berdasarkan umpan balik dari orang dewasa yang lebih tua atau
pengasuh mereka tentang penggunaan aktual sumber daya yang disarankan.
C. Sistem Integument (Miller, 2006)
PERUBAHAN USIA YANG MEMPENGARUHI KULIT
Kulit adalah organ tubuh yang terbesar dan paling terlihat. Secara struktural,
kulit terdiri dari tiga lapisan: epidermis, dermis, dan jaringan subkutan. Kelenjar

39
rambut, kuku, dan keringat juga merupakan bagian dari sistem integumen. Seperti
halnya banyak aspek fungsionalitas lainnya, sulit untuk membedakan antara
perubahan yang disebabkan oleh penuaan dan perubahan yang terjadi karena faktor
risiko. Genetika, gaya hidup, dan faktor lingkungan memberikan efek yang
signifikan pada kulit sepanjang umur dan memiliki efek kumulatif pada orang
dewasa yang lebih tua.

1. EPIDERMIS
Epidermis adalah lapisan luar kulit yang relatif impermeabel yang berfungsi
sebagai penghalang, mencegah hilangnya cairan tubuh dan masuknya zat dari
lingkungan. Kepadatan epidermis bervariasi, tergantung pada bagian tubuh yang
dicakupnya. Epidermis terdiri dari lapisan sel yang mengalami siklus regenerasi,
cornifikasi, dan pelepasan terus menerus. Sel epidermis berkembang di lapisan
epidermis paling dalam dan terus bermigrasi ke permukaan kulit tempat mereka
ditumpahkan. Dengan bertambahnya usia, sel-sel ini menjadi lebih besar dan lebih
bervariasi dalam bentuk, dan tingkat pergantian epi- dermal secara bertahap
menurun.
Melanosit adalah sel epidermis yang memberi warna kulit dan memberikan
penghalang pelindung terhadap radiasi ultraviolet. Mulai sekitar usia 25 tahun,
jumlah melanosit aktif berkurang 10% hingga 20% setiap dekade. Meskipun
penurunan ini terjadi pada kulit yang terpapar sinar matahari dan yang dilindungi
sinar matahari, kepadatan melanosit pada kulit yang terpapar adalah dua kali lipat
atau tiga kali lipat pada kulit yang tidak terpapar. Dengan bertambahnya usia, jumlah
sel Langerhans, yang berfungsi sebagai makrofag, juga menurun pada kulit yang
terpapar sinar matahari dan yang dilindungi sinar matahari; penurunan berkisar dari
50% hingga 70% pada kulit yang terpapar sinar matahari. Perubahan lain yang
berkaitan dengan usia adalah penurunan kadar air pada lapisan epidermis luar.Papilla
memberikan tekstur pada kulit dan menghubungkan epidermis ke dermis yang
mendasarinya di persimpangan dermal-epidermal. Dengan bertambahnya usia,
papila menarik kembali, menyebabkan perataan persimpangan dermal-epidermal dan
mengurangi area permukaan antara epidermis dan dermis. Perubahan yang berkaitan
dengan usia ini memperlambat perpindahan nutrisi antara dermis dan epidermis.
Berbeda dengan perubahan epidermis lainnya yang lebih menonjol pada permukaan

40
kulit yang terbuka, perubahan ini terjadi pada tingkat tertentu pada semua
permukaan kulit.
2. Dermis
Fungsi utama dermis adalah
a) Penyediaan dukungan untuk struktur di dalam dan di bawah ini lapisan
b) Pemeliharaan epidermis, yang tidak memiliki suplai darah sendiri
c) Warna
d) Persepsi sensorik
e) Pengaturan suhu.
Kolagen, yang merupakan 80% dari dermis, memberikan elastisitas dan
kekuatan tarik, yang membantu mencegah robek dan peregangan kulit yang
berlebihan. Elastin, yang merupakan 5% dari dermis, mempertahankan ketegangan
kulit dan memungkinkan peregangan sebagai respons terhadap gerakan. Bahan dasar
kulit, yang memiliki kapasitas pengikat air, menentukan turgor kulit dan sifat elastis.
Pembuluh darah di pleksus dalam berperan dalam termoregulasi, dan pleksus
superfisial memasok nutrisi ke lapisan epidermis. Saraf kulit di dermis menerima
informasi dari lingkungan mengenai rasa sakit, tekanan, suhu, dan sentuhan yang
dalam dan ringan.
Dimulai pada awal masa dewasa, ketebalan kulit secara bertahap berkurang,
dengan penipisan kolagen pada tingkat 1% per tahun. Elastin meningkatkan
kuantitas dan menurunkan kualitas karena perubahan yang disebabkan oleh usia dan
lingkungan. Ranjang vaskular menurun sekitar sepertiga dengan bertambahnya usia;
ini berkontribusi pada atrofi dan fibrosis umbi rambut, keringat, dan kelenjar
sebaceous. Perubahan terkait usia tambahan pada dermis termasuk penurunan
jumlah fibroblas dan sel mast.
3. Jaringan Subkutan dan Saraf Kulit
Subkutis adalah lapisan dalam jaringan lemak yang melindungi jaringan di
bawahnya dari trauma. Fungsi tambahan termasuk penyimpanan kalori, isolasi
tubuh, dan pengaturan kehilangan panas. Dengan bertambahnya usia, beberapa area
atrofi jaringan subkutan, terutama di permukaan kaki plantar dan di daerah yang
terpapar sinar matahari pada tangan, wajah, dan tungkai bawah. Daerah hipertrofi
jaringan subkutan lainnya, bagaimanapun, dengan efek keseluruhan menjadi
peningkatan bertahap dalam proporsi lemak tubuh antara dekade ketiga dan
kedelapan. Peningkatan lemak tubuh ini lebih terasa pada wanita daripada pada pria
dan paling terlihat pada pinggang pria dan paha wanita. Perubahan terkait usia juga
memengaruhi saraf kulit yang bertanggung jawab atas sensasi tekanan, getaran, dan
sentuhan ringan.
4. Kelenjar Keringat dan Sebaceous

41
Kelenjar keringat ekrin dan apokrin berasal dari lapisan kulit dan paling banyak
terdapat di telapak tangan, telapak kaki, dan aksila. Kelenjar ekrin, yang penting
untuk termoregulasi, terbuka langsung ke permukaan kulit dan paling melimpah di
telapak tangan, sol, dan dahi. Kelenjar apokrin lebih besar dari kelenjar ekrin dan
terbuka ke folikel rambut, terutama di daerah aksila dan genital. Satu-satunya fungsi
kelenjar ini adalah menghasilkan sekresi, yang menciptakan bau tubuh yang khas
ketika terurai. Baik kelenjar ekrin dan apokrin menurun dalam jumlah dan
kemampuan fungsional dengan bertambahnya usia.
Kelenjar sebaceous hadir di lapisan kulit dermal di setiap bagian tubuh kecuali
telapak tangan dan telapak kaki. Kelenjar ini secara terus menerus mengeluarkan
sebum — suatu zat yang bergabung dengan keringat untuk membentuk emulsi.
Secara fungsional, sebum mencegah hilangnya air dan berfungsi sebagai
penghambat pertumbuhan bakteri dan jamur. Sekresi sebum mulai berkurang selama
dekade ketiga, dengan wanita mengalami penurunan lebih besar daripada pria. Pada
orang dewasa yang lebih muda, produksi sebum terkait erat dengan ukuran kelenjar
sebous; Namun, pada orang dewasa yang lebih tua, kelenjar sebaceous bertambah
besar tetapi menghasilkan lebih sedikit sebum.
5. Kuku
Tingkat pertumbuhan kuku dipengaruhi oleh banyak faktor termasuk usia, iklim,
kondisi kesehatan, sirkulasi ke dan di sekitar kuku, dan aktivitas jari tangan dan
kaki. Pertumbuhan kuku mulai melambat pada awal masa dewasa, dengan
penurunan bertahap dari 30% menjadi 50% dari umur individu. Perubahan terkait
usia lainnya yang mempengaruhi kuku termasuk perkembangan lecet memanjang
dan penurunan ukuran lunula dan ketebalan lempeng kuku. Karena perubahan ini,
kuku menjadi semakin lunak, rapuh, dan rapuh dan lebih mudah pecah. Secara
tampilan, kuku yang lebih tua kusam, buram, lurik memanjang, dan kuning atau abu-
abu.
6. Rambut
Warna rambut dan distribusi berubah sedikit banyak pada semua orang dewasa
yang lebih tua, dengan perubahan yang paling mencolok adalah kebotakan dan
rambut beruban. Pada usia 50 tahun, sekitar 50% orang memiliki rambut beruban
dan sekitar 60% pria kulit putih memiliki tingkat kebotakan yang nyata. Rambut
yang memutih disebabkan oleh penurunan produksi melanin dan penggantian
rambut berpigmen secara bertahap oleh rambut yang tidak berpigmen. Perubahan
yang berkaitan dengan usia juga mempengaruhi distribusi rambut, dengan bercak

42
rambut terminal kasar yang tumbuh di bibir atas dan wajah bawah pada wanita yang
lebih tua dan di telinga, nares, dan alis pria yang lebih tua. Perubahan lain yang
berkaitan dengan usia adalah hilangnya rambut tubuh secara progresif, awalnya di
bagasi, kemudian di daerah kemaluan dan aksila. Selain itu, beberapa pria secara
genetik cenderung mengalami kebotakan, yang disebabkan oleh perubahan produksi
dari rambut terminal kasar ke rambut vellus halus.
FAKTOR RISIKO YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN KULIT
Faktor risiko yang mempengaruhi kulit dan rambut orang dewasa yang lebih
tua termasuk faktor keturunan, gaya hidup dan lingkungan, dan efek obat tambahan.
Faktor gaya hidup dan lingkungan memiliki efek kumulatif yang bermanifestasi
lebih penuh selama masa dewasa nanti, tetapi penting untuk mengidentifikasi faktor
risiko yang dapat ditangani oleh perawat melalui pendidikan kesehatan. Faktor-
faktor risiko yang terkait dengan borok tekan dan kanker kulit dibahas dalam bagian
Kondisi Patologis yang Mempengaruhi Kulit.
1. Pengaruh Genetik
Keturunan memainkan peran penting dalam perkembangan perubahan kulit dan
rambut. Orang dengan kulit putih, rambut terang, dan mata terang lebih sensitif
terhadap efek radiasi ultraviolet daripada orang dengan kulit gelap, sebagaimana
dibuktikan oleh fakta bahwa kanker kulit biasa terjadi pada orang berkulit terang
keturunan nenek moyang Eropa utara tetapi jarang di Afrika Amerika. .
2. Pengaruh Gaya Hidup dan Lingkungan
Merokok, paparan sinar matahari, stres emosional, dan penyalahgunaan zat atau
alkohol adalah faktor gaya hidup dan lingkungan yang secara signifikan
memengaruhi kesehatan kulit. Paparan radiasi ultraviolet adalah faktor lingkungan
yang paling signifikan, tetapi kondisi iklim yang buruk juga dapat menyebabkan
konsekuensi fungsional negatif. Sebagai contoh, karena kadar air stratum korneum
dipengaruhi oleh kelembaban relatif, xerosis (kulit kering) diperburuk ketika
kelembaban relatif di bawah 30%.
Photoaging adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perubahan kulit
yang terjadi karena paparan radiasi ultraviolet, bahkan pada tingkat yang tidak
menyebabkan kulit terbakar yang terdeteksi. Meskipun perubahan ini sering
dipandang sebagai penuaan dini, mereka secara biologis berbeda proses (Habif,
2010).
Karakteristik kulit yang rusak akibat sinar matahari termasuk
a. Penampilan kasar, kasar, dan kemerahan atau menguning
b. Banyak kerutan dalam, terutama di wajah dan leher
c. Lesi patologis dan sebatheik dan keratosis aktinik
d. Epidermis yang menebal

43
e. Pembesaran kelenjar sebaceous
f. Kehilangan elastisitas yang nyata
g. Pembuluh darah melebar dan berliku
h. Penurunan jumlah kolagen dewasa.
Perubahan yang berkaitan dengan usia adalah bahwa efek kumulatif dari
radiasi ultraviolet mungkin tidak terbukti sampai dewasa nanti.
3. Rokok
adalah faktor lain yang telah dikaitkan dengan perubahan kulit yang merugikan,
serta dengan perubahan rambut seperti rambut botak dan beruban. Kulit orang yang
merokok cenderung memiliki lebih banyak kerutan dan perubahan warna keabu-
abuan. Merokok juga mengurangi kemampuan kulit untuk melindungi dari
kerusakan radiasi ultraviolet dan meningkatkan risiko kanker kulit. Studi tentang
kembar secara konsisten mengidentifikasi merokok dan paparan sinar matahari
sebagai faktor lingkungan yang berkontribusi terhadap penuaan kulit (Guyuron et
al., 2009; Martires, Polster, Cooper, & Baron, 2009). Sebuah studi cross-sectional
menggunakan analisis komputer dari sistem pencitraan wajah standar menemukan
bahwa status merokok dan perlindungan sinar matahari topikal secara signifikan
terkait dengan kondisi kulit pada orang dewasa yang lebih tua (Asakura, 2009).
Faktor budaya, sikap masyarakat, dan tren periklanan memengaruhi praktik
kebersihan dan perawatan kulit. Orang-orang di masyarakat industri memberi nilai
tinggi pada pemandian yang sering dan penggunaan produk komersial untuk
keperluan higienis dan kosmetik. Meskipun sebagian besar praktik pribadi yang
terkait dengan nilai-nilai ini diinginkan atau tidak berbahaya pada orang dewasa
yang lebih muda, mereka dapat mempengaruhi orang dewasa yang lebih tua.
Misalnya, sering mandi dengan sabun deodoran yang keras dapat menyebabkan atau
memperburuk masalah kulit kering pada orang tua.
4. Efek Obat
Efek-efek pengobatan umum yang merugikan yang melibatkan kulit
termasuk reaksi pruritus, dermatosis, dan fotosensitifitas. Efek obat yang kurang
umum pada kulit dan rambut termasuk alopecia dan perubahan pigmentasi pada kulit
atau rambut. Agen sitotoksik adalah jenis obat yang paling sering dikaitkan dengan
kerontokan rambut, tetapi obat lain yang dapat menyebabkan alopecia termasuk
antikoagulan, levodopa, indometasin, propranolol, dan obat yang digunakan untuk
asam urat dan kolesterol (Habif, 2010). Selain itu, obat-obatan dapat memperburuk
perubahan kulit yang berkaitan dengan usia. Misalnya, kehilangan cairan dari
diuretik dapat memperburuk xerosis dan menyebabkan ketidaknyamanan lebih lanjut
atau masalah kulit untuk orang dewasa yang lebih tua. Contoh lain dari efek

44
gabungan dari penuaan dan obat-obatan adalah orang dewasa yang lebih tua yang
menggunakan antikoagulan cenderung mudah memar dan memar yang lebih luas.
Dermatosis, atau ruam, adalah efek samping obat yang paling sering
dikutip, dan mereka dapat disebabkan oleh hampir semua obat. Erupsi kulit terkait
obat sangat bervariasi dalam manifestasinya, termasuk onsetnya. Ruam obat dapat
terjadi dari 1 hari hingga 4 minggu setelah memulai atau menghentikan pengobatan
kausatif; jenis paling umum dari reaksi kulit yang terkait dengan obat adalah erupsi
makulopapular. Antibiotik adalah jenis obat yang paling sering dikaitkan dengan
erupsi kulit; Namun, obat apa pun dapat menyebabkan reaksi kulit. Obat-obatan
yang umumnya menyebabkan dermatitis termasuk allopurinol, ampicillin, bacitracin,
erythromycin, gentamisin, miconazole, naproxen, neomycin, penicillin,
pseudoephedrine, streptomycin, dan kortikosteroid sistemik (Habif, 2010, Nijharat,
2009).
Fotosensitifitas adalah efek obat yang merugikan yang menyebabkan
respons intensif terhadap radiasi ultraviolet. Reaksi inflamasi awalnya
didistribusikan di daerah yang terpapar sinar matahari, tetapi dapat menyebar ke
daerah yang tidak terpapar dan bertahan bahkan setelah pengobatan dihentikan.
Fotosensitifitas dapat dimulai selama paparan musiman sinar matahari cerah atau
selama liburan di iklim panas yang tidak biasa. Amiodarone, furosemide, naproxen,
phenothiazine, sulfonamide, tetracyclines, dan thiazide adalah contoh obat yang
dapat menyebabkan reaksi fotosensitifitas. Beberapa persiapan herbal juga dapat
meningkatkan risiko fotosensitifitas (mis., St. John's wort) (Habif, 2010).
KONSEKUENSI FUNGSIONAL YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN
KULIT
Perubahan yang berkaitan dengan usia dan faktor risiko memengaruhi
banyak fungsi kulit secara negatif termasuk termoregulasi, sensitivitas sentuhan, dan
respons terhadap cedera. Perubahan terkait usia tidak mengganggu fungsi pelindung
kuku; Namun, kuku pada orang tua rapuh dan lebih cenderung membelah.
Konsekuensi psikososial dapat terjadi ketika perubahan dalam penampilan kulit dan
rambut dikaitkan dengan sikap negatif tentang indikator penuaan yang terlihat.
1. Kerentanan terhadap Cedera
Perubahan degeneratif kulit yang progresif bergabung dengan efek paparan
sinar matahari jangka panjang dan kondisi lingkungan yang merugikan lainnya
untuk meningkatkan kerentanan orang dewasa yang lebih tua terhadap gangguan
kulit seperti robekan kulit, ulkus tekan, dermatitis stasis, kondisi kulit autoimun, dan

45
obat-obatan. reaksi (Farage, 2009). Selain itu, lesi kulit sering berkembang, seperti
yang dibahas dalam bagian Kanker Kulit dan Penilaian.
Karena sambungan dermal-epidermal yang rata, kulit yang lebih tua kurang
tahan terhadap gaya geser dan karenanya lebih rentan terhadap memar dan cedera
tipe geser. Penurunan yang berkaitan dengan usia dalam ketebalan kulit memperumit
efek dari persimpangan dermal-epidermal yang diratakan, lebih lanjut meningkatkan
kerentanan kulit yang lebih tua terhadap cedera dan efek stres mekanik dan radiasi
ultraviolet. Perubahan kolagen juga mengganggu kekuatan tarik kulit,
menyebabkannya menjadi kurang ulet dan lebih rentan terhadap kerusakan dari
kekuatan abrasi atau sobek. Selain usia lanjut, faktor risiko yang terkait dengan
robekan kulit termasuk imobilitas; polifarmasi; nutrisi buruk; dan gangguan
sensorik, kognitif, atau fungsional (LeBlanc & Baranoski, 2009).
Regenerasi kulit yang sehat membutuhkan waktu dua kali lebih lama untuk
orang yang berusia 80 tahun dan orang yang berusia 30 tahun. Pada kulit yang utuh
sempurna, regenerasi yang melambat ini tidak memiliki efek yang nyata. Akan
tetapi, ketika integritas kulit terganggu, perubahan yang berkaitan dengan usia ini
berkontribusi pada penyembuhan luka yang tertunda, bahkan untuk luka yang sangat
parah. Konsekuensi dari perubahan terkait usia yang mempengaruhi penyembuhan
luka dalam meliputi peningkatan risiko gangguan luka pasca operasi, penurunan
kekuatan tarik luka penyembuhan, dan peningkatan risiko infeksi sekunder.
2. Respon terhadap Radiasi Ultraviolet
Penurunan melanosit yang berkaitan dengan usia menyebabkan orang
dewasa yang lebih tua tidak terlalu dalam dan lebih lambat bila terkena radiasi
ultraviolet, dan meningkatnya variabilitas kepadatan melanosit pada kulit yang
terpapar dan tidak terpapar dapat menyebabkan penampilan yang berbintik-bintik
dan tidak teratur pada keseluruhan pigmentasi kulit. Konsekuensi fungsional yang
positif dari perubahan melanosit yang berkaitan dengan usia adalah penurunan
dalam terjadinya tahi lalat yang dimulai sekitar dekade keempat. Selain dari efek
kosmetik ini, konsekuensi fungsional yang lebih serius dari penurunan melanosit
terkait usia adalah meningkatnya insiden kanker kulit pada orang dewasa yang lebih
tua. Faktor lain yang meningkatkan kerentanan orang dewasa yang lebih tua
terhadap kanker kulit adalah peningkatan usia, penurunan jumlah sel Langerhans,
dan paparan kumulatif radiasi ultraviolet.
3. Kenyamanan dan Sensasi
Kulit kering adalah salah satu keluhan paling umum dari orang dewasa yang
lebih tua; memang, telah diamati hingga 85% dari lansia yang tidak dilembagakan.

46
Perubahan yang berhubungan dengan usia, seperti keluaran sebum dan keringat
ekrin yang berkurang, berkontribusi terhadap penurunan kadar air kulit. Faktor risiko
yang dapat berkontribusi pada kulit kering termasuk stres, merokok, paparan sinar
matahari, lingkungan kering, keringat berlebihan, reaksi obat yang merugikan,
penggunaan sabun yang berlebihan, dan kondisi medis tertentu (misalnya,
hipotiroidisme).
Sensitivitas taktil mulai menurun sekitar usia 20 tahun, yang pada
akhirnya menyebabkan orang dewasa yang lebih tua memiliki respons yang
berkurang dan kurang intens terhadap sensasi kulit. Definisi ini disebabkan,
setidaknya sebagian, perubahan yang berkaitan dengan usia pada sel darah Pacinian
dan Meissner, yang merupakan reseptor kulit yang merespons getaran. Faktor yang
berkontribusi lainnya termasuk suhu tubuh yang lebih rendah dan perubahan
fungsional pada sistem saraf pusat. Secara fungsional, orang dewasa yang lebih tua
lebih rentan terhadap luka bakar karena berkurangnya kemampuan mereka untuk
merasakan suhu air panas yang berbahaya.
Termoregulasi juga dipengaruhi oleh pengurangan terkait usia dalam
keringat ekrin, lemak subkutan, dan suplai darah dermal. Perubahan yang berkaitan
dengan usia ini mengganggu berkeringat, menggigil, vasokonstriksi perifer dan
vasodilatasi, dan isolasi terhadap suhu lingkungan yang merugikan. Dengan
demikian, orang dewasa yang lebih tua lebih berisiko untuk pengembangan
hipotermia dan penyakit terkait panas, seperti dibahas dalam Bab 25.
4. Efek Kosmetik
Efek kosmetik keseluruhan dari perubahan kulit terkait usia adalah kulit
terlihat lebih pucat, lebih tipis, lebih tembus cahaya, dan berpigmen tidak teratur.
Indikator tambahan dari perubahan kulit yang berkaitan dengan usia termasuk
kendur, keriput, dan berbagai pertumbuhan dan lesi. Perubahan warna kulit
disebabkan penurunan melanosit dan sirkulasi kulit. Kerutan dan kendur pada kulit
disebabkan oleh perubahan epidermis dan dermis yang berkaitan dengan usia,
khususnya perubahan yang memengaruhi serat kolagen. Jaringan subkutan yang
berkurang berkontribusi pada kulit yang kendur, terutama pada lengan atas, dengan
membiarkan gravitasi menarik kulit ke bawah.
Meskipun perubahan-perubahan dalam penampilan ini bersifat bertahap dan
tidak mengganggu fungsi fisiologis secara signifikan, konsekuensi psikologis dari
perubahan-perubahan ini dapat menjadi signifikan karena nilai sosial yang
ditempatkan pada penampilan pribadi dan sikap negatif yang mungkin dimiliki

47
tentang bertambahnya usia. Terlepas dari usia, penampilan fisik seseorang telah
terbukti menjadi penentu penting persepsi diri, dan masyarakat modern mengaitkan
daya tarik dengan kulit yang tampak muda.
Karena visibilitas wajah dan leher yang tinggi, tanda-tanda bertambahnya
usia yang menonjol di sekitar mata dan mulut mungkin sangat mengganggu bagi
orang yang ingin menghindari indikasi usia yang terlihat. Tanda-tanda karakteristik
usia lanjut yang tampak jelas di sekitar mata termasuk peningkatan pigmentasi,
keriput-kerutan di kaki, dan penumpukan lemak dan cairan pada tutup atas dan
bawah mata. Juga, karena elastisitas kulit yang berkurang dan hilangnya dan
pergeseran lemak subkutan, kulit leher melorot, dan dagu ganda dapat terbentuk.
Tabel 23-1 merangkum konsekuensi fungsional akibat perubahan kulit, rambut,
kuku, dan kelenjar yang berkaitan dengan usia.

KONDISI PATOLOGI YANG MEMPENGARUHI KULIT: KANKER KULIT


DAN TEKANAN
1. Kanker kulit
Kanker kulit, didefinisikan sebagai pertumbuhan sel-sel kulit yang tidak
normal, adalah jenis kanker yang paling umum — dan juga yang paling dapat
dicegah. Orang dewasa yang lebih tua sangat rentan terhadap dua jenis kanker kulit
yang paling umum, terutama karena efek kumulatif dari paparan sinar matahari.
Karsinoma sel basal, yang merupakan jenis paling umum, paling sering terjadi pada
kepala dan leher (Gambar 23-1A). Jika didiagnosis dan diobati pada tahap awal,
angka kesembuhan untuk karsinoma sel basal mendekati 100%; Namun, jika tidak
dirawat, ia menyerang jaringan di sekitarnya. Karsinoma sel skuamosa, tipe kedua
yang paling umum, terjadi paling sering pada kepala, leher, lengan, dan tangan
punggung. (Gambar 23-1B).
Melanoma, yang merupakan jenis kanker kulit paling serius, berasal dari
melanosit (lihat Gambar 23-1C). Insiden melanoma telah meningkat secara bertahap
dalam beberapa dekade terakhir, dengan pria yang lebih tua terhitung secara tidak
proporsional untuk peningkatan tersebut (Tucker, 2009). Pria berusia 60 dan 70
tahun telah mengalami peningkatan lebih dari empat kali lipat dan lima kali lipat,
masing-masing, di Amerika Serikat antara tahun 1975 dan 2005 (Geller, 2009).
Melanoma adalah kanker kulit yang kemungkinan besar bermetastasis dan

48
menyebabkan kematian, dengan hampir tiga perempat dari semua kematian
melanoma terjadi pada orang berusia 55 tahun ke atas (Geller, 2009).
Deteksi dan perawatan dini sangat penting untuk meningkatkan hasil semua
jenis kanker kulit, dan perawat memiliki peran penting dalam menilai dan mengajar
orang dewasa yang lebih tua tentang kanker kulit, seperti yang dibahas di bagian
Penilaian Keperawatan dan Intervensi Keperawatan. Perawat juga perlu waspada
terhadap faktor-faktor risiko, sehingga mereka mempertimbangkan ini dalam
penilaian mereka dan mengatasinya dalam promosi kesehatan. Usia lanjut
meningkatkan risiko untuk semua jenis lesi kulit termasuk kanker kulit. Paparan
sinar ultraviolet, termasuk yang berasal dari tempat penyamakan kulit, adalah faktor
risiko yang sangat terkait dengan kanker kulit dan yang paling sesuai dengan
tindakan perlindungan. Studi menunjukkan bahwa paparan sinar matahari kronis,
yang merupakan jenis yang diterima seseorang selama aktivitas luar ruangan sehari-
hari yang biasa, lebih kecil risiko untuk melanoma dibandingkan paparan berlebihan
intermiten (Berwick & Erdei, 2009). Faktor-faktor risiko tambahan untuk melanoma
termasuk riwayat pribadi atau keluarga melanoma dan kulit putih yang mudah
terbakar dan memiliki banyak tahi lalat besar atau tidak teratur.
2. Ulkus Tekanan
Ulkus dekubitus adalah “cedera lokal pada kulit dan / atau jaringan yang
tidak turun, biasanya karena tonjolan tulang, sebagai akibat dari tekanan atau
tekanan dalam kombinasi dengan geser dan / atau gesekan” (Panel Penasihat Ulkus
Tekanan Nasional, 2007). Meskipun sebagian besar orang dewasa yang lebih tua
tidak memiliki keterbatasan mobilitas atau aktivitas yang cukup serius untuk
meningkatkan risiko kerusakan kulit, bagi sebagian kecil orang lanjut usia yang
melakukannya, risiko ini merupakan masalah besar dengan konsekuensi fungsi
negatif yang luas. . Karena faktor utama dalam pengembangan ulkus dekubitus
adalah tekanan persisten, orang yang tidak memiliki kemampuan untuk bergerak
secara mandiri, bahkan untuk periode singkat (mis., Selama dirawat di rumah sakit)
adalah yang paling rentan (Gambar 23-2). Para peneliti telah menyimpulkan bahwa
tingkat rendah tekanan yang berkepanjangan dapat sama merusaknya dengan
periode pendek tekanan tinggi, terutama pada orang yang kemampuannya
beradaptasi dengan tekanan terganggu (Dealey, 2009).
PENILAIAN KEPERAWATAN KULIT
Karena kulit adalah organ tubuh yang terbesar dan paling terlihat, relatif
mudah untuk mengidentifikasi masalah yang mempengaruhinya. Selain itu, kulit

49
dapat menghasilkan petunjuk untuk area lain fungsi fisiologis dan psikososial seperti
nutrisi, hidrasi, dan perawatan pribadi. Perawat mengumpulkan informasi tentang
kulit, rambut, dan kuku selama wawancara penilaian dan melalui prosedur
pemeriksaan fisik. Peluang untuk pemeriksaan langsung juga muncul selama
kegiatan perawatan rutin seperti membantu perawatan pribadi atau mendengarkan
paru-paru dan detak jantung apikal. Memperhatikan karakteristik kulit, rambut, dan
kuku bisa
juga memberikan informasi untuk memvalidasi atau mengajukan pertanyaan tentang
bidang fungsi lainnya. Sebagai contoh, pengamatan bahwa seorang pria yang lebih
tua memiliki janggut pertumbuhan beberapa hari, ketika dikombinasikan dengan
informasi penilaian tentang fungsi keseluruhannya, dapat mendukung kesimpulan
tentang kemungkinan depresi atau kebutuhan untuk bantuan dengan kegiatan
perawatan pribadi.
Mengidentifikasi Peluang untuk Promosi Kesehatan
Kejadian yang umum dari berbagai lesi kulit membuat penilaian kulit pada
orang dewasa yang lebih tua. Meskipun sebagian besar perubahan ini tidak
berbahaya, kecuali dalam hal konsekuensi kosmetiknya, beberapa bersifat kanker
atau prekanker. Aspek penting dari promosi kesehatan adalah meyakinkan orang
dewasa yang lebih tua tentang perubahan yang tidak berbahaya dan mendorong
evaluasi medis terhadap yang dipertanyakan. Secara umum, karakteristik lesi kulit
memerlukan evaluasi medis:
a. Kemerahan
b. Pembengkakan
c. Pigmentasi gelap
d. Kelembaban atau drainase
e. Rasa sakit atau tidak nyaman
f. Tepi terangkat atau tidak teratur di sekitar pusat datar.
Juga, setiap lesi yang mengalami perubahan, atau luka apa pun yang tidak sembuh
dalam waktu yang wajar, harus dievaluasi lebih lanjut. Evalidasi juga diindikasikan
ketika, karena lokasinya, tahi lalat atau lesi kulit lainnya sering mengalami gosok
atau iritasi. Ketika perawat mengkaji dan hasil pernyataan kulit yang diberikan.
kuku dan sekitar kutikula mungkin merupakan petunjuk untuk sembelit. Dalam
beberapa keadaan, kuku kaki memberikan petunjuk untuk kesulitan mobilitas,
terutama ketika kuku yang sangat panjang melengkung di bawah jari kaki.
Pengamatan kulit dapat memberikan satu-satunya bukti obyektif dari masalah
fungsional serius yang orang tua mungkin tidak mengakui. Misalnya, banyak
memar, khususnya dalam berbagai tahap penyembuhan, mungkin merupakan

50
petunjuk yang signifikan untuk jatuh, alkoholisme, pengabaian diri, atau
penyalahgunaan fisik.
Dalam menilai kulit sebagai petunjuk terhadap aspek fungsi yang lebih luas,
perlu diingat bahwa beberapa manifestasi yang biasa dapat diubah pada orang
dewasa yang lebih tua. Sebagai contoh, perawat sering menilai turgor kulit di tangan
atau lengan sebagai indikasi status higienis. Karena xerosis dan penurunan elastisitas
pada kulit orang dewasa yang lebih tua, bagaimanapun, turgor kulit tidak selalu
menjadi indikator yang dapat diandalkan untuk status hidrasi. Meskipun tangan atau
lengan mungkin merupakan lokasi pemeriksaan yang nyaman dan dapat diterima
secara sosial, kulit di atas area yang dilindungi, seperti sternum atau perut,
merupakan indikator status hidrasi yang lebih akurat pada orang dewasa yang lebih
tua. Pada orang dewasa lanjut usia yang tidak berobat, selaput lendir mulut biasanya
merupakan indikator hidrasi yang andal. Namun, banyak obat, termasuk sediaan
bebas resep yang mengandung bahan antikolinergik, menyebabkan mulut kering.
Perubahan lain terkait usia yang mempersulit penilaian kulit adalah
penyembuhan luka yang tertunda. Perubahan ini membuatnya sulit untuk menilai
pola penyembuhan luka menggunakan standar yang sama yang diterapkan pada
orang dewasa yang lebih muda.
Pengamatan rambut, kulit, dan kuku memberikan banyak petunjuk untuk
harga diri dan aspek lain dari fungsi psikososial. Keterbatasan fisik dapat
mengganggu perawatan pribadi, seperti halnya pengaruh psikososial seperti
kurangnya motivasi atau kesadaran. Dengan demikian, bukti pengabaian diri dalam
perawatan dapat menunjukkan depresi, demensia, atau isolasi sosial. Penggunaan
pewarnaan rambut dapat mencerminkan sikap orang tersebut tentang penuaan, dan
warna pewarnaan rambut atau kosmetik wajah yang luar biasa dapat
mengindikasikan persepsi warna yang terganggu.
INTERVENSI KEPERAWATAN UNTUK KESEHATAN KULIT
Perawat memiliki banyak peluang untuk mempromosikan kesehatan dengan
mempertimbangkan kenyamanan, harga diri, dan pemeliharaan sistem institusi
kesehatan yang sehat. Intervensi keperawatan untuk orang dewasa tua yang sehat
fokus pada pengajaran tentang praktik perawatan diri, seperti mempromosikan
tanggung jawab untuk mengidentifikasi dan mencari evaluasi lebih lanjut untuk lesi
berbahaya atau pra-kanker. Intervensi untuk orang dewasa yang lebih tua secara fisik
terganggu fokus pada menjaga kulit yang utuh dan mengelola borok tekanan.
Perawat dapat menggunakan terminologi Klasifikasi Intervensi Keperawatan (NIC)

51
berikut dalam rencana perawatan mereka: Perawatan Rambut, Pendidikan
Kesehatan, Pemeriksaan Kesehatan, Terapi Kesehatan, Penempatan Posisi,
Manajemen Tekanan, Pencegahan Bisul Tekanan, Manajemen Pruritus, Identifikasi
Risiko, Peningkatan Harga Diri , Pengawasan Kulit, dan Perawatan Luka.
Mempromosikan Kulit Sehat
Karena kondisi kulit sangat tergantung pada kesehatan keseluruhan orang
tersebut, pemeliharaan nutrisi dan hidrasi yang optimal merupakan intervensi
penting dalam perawatan kulit orang dewasa yang lebih tua. Karena kondisi
lingkungan dan praktik perawatan pribadi juga memengaruhi kesehatan kulit,
intervensi termasuk pendidikan orang dewasa yang lebih tua mengenai faktor-faktor
ini. Kotak 23-3 merangkum poin-poin pengajaran yang harus dimasukkan dalam
pendidikan orang dewasa yang lebih tua, atau pengasuh orang dewasa yang lebih
tua,tentang kesehatan kulit. Meskipun banyak literatur keperawatan gerontologis
menganjurkan membatasi mandi atau mandi hingga satu sampai tiga kali seminggu,
tidak jelas bahwa ada hubungan sebab akibat antara mandi atau mandi dan kulit
kering. Faktor-faktor lain, termasuk merokok, dehidrasi, paparan sinar matahari,
kelembaban lingkungan yang rendah, dan penggunaan produk pembersih yang
keras, kemungkinan berkontribusi terhadap xerosis pada orang dewasa yang lebih
tua.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak pertanyaan telah diajukan tentang
apakah kejadian umum kekurangan vitamin D adalah karena paparan sinar matahari
yang terbatas yang dianjurkan untuk pencegahan kanker kulit. Pertanyaan-pertanyaan
ini valid karena sinar matahari diperlukan untuk sintesis vitamin D pada manusia,
tetapi sinar matahari juga merupakan penyebab kanker kulit, keriput, dan photoaging
yang dikenal baik. Selain mencegah kekurangan vitamin D, manfaat kesehatan yang
didokumentasikan dari sinar matahari termasuk peningkatan suasana hati dan
peningkatan energi (Sivamani, Crane, & Dellavalle, 2009). Sebuah ulasan baru-baru
ini mengenai bukti yang berkaitan dengan sinar matahari dan vitamin D
menyimpulkan bahwa paparan lengan dan kaki terhadap sinar matahari selama 5
hingga 30 menit antara jam 10 pagi dan 3 sore dua kali seminggu dapat mencegah
kekurangan vitamin D tanpa memiliki efek yang merugikan (Kulie, Groff, Redmer,
Hounshell, & Schrager, 2009).
Mencegah Kerutan Kulit
Metode terbaik untuk mencegah lesi dan kerutan kulit adalah menghindari
paparan sinar matahari terlalu banyak dan menggunakan tabir surya dengan faktor

52
perlindungan matahari (SPF) 15 atau lebih tinggi ketika paparan sinar matahari tidak
dapat dihindari. Produk topikal yang mengandung asam alfa atau beta-hidroksi dapat
bermanfaat dalam membalikkan kerutan dan mempromosikan regresi keratosis surya.
Perawat harus waspada terhadap kemungkinan bahwa orang dewasa yang lebih tua
mungkin mengembangkan reaksi alergi atau sensitivitas terhadap beberapa bahan
dalam produk topikal. Informasi tentang efek berbahaya dari sinar matahari harus
dimasukkan dalam pendidikan kesehatan tentang pemeliharaan kulit yang sehat dan
pencegahan kosmetik yang tidak diinginkan dan perubahan kulit patologis. Selain itu,
perawat dapat mendorong orang-orang yang peduli tentang kerutan dan kulit kering
untuk mendiskusikan intervensi medis dengan penyedia perawatan primer mereka.

Mencegah Kulit Kering


Petrolatum dan emolien lainnya efektif dalam mengurangi ketidaknyamanan
kulit kering, karena melembabkan dan melumasi kulit. Efektivitas emolien didasarkan
pada kemampuannya untuk mencegah penguapan air, sehingga efek yang
menguntungkan akan meningkat ketika diterapkan pada kulit yang sudah memiliki
tingkat kelembaban tertentu. Dengan demikian, agen emolien paling efektif bila
diterapkan pada kulit yang lembab segera setelah mandi. Lihat Kotak 23-3 untuk
informasi tentang penggunaan emolien dan intervensi lain yang dirancang untuk
mencegah atau merawat kulit kering pada orang dewasa yang lebih tua.
Mendeteksi dan Mengobati Lesi Kulit yang Berbahaya
Deteksi dini dan pengobatan lesi kulit kanker atau prakanker adalah faktor
kunci dalam mencegah konsekuensi fungsional yang serius, karena tingkat
penyembuhan untuk sebagian besar kanker kulit mendekati 100% dengan eksisi awal.
Peran perawat adalah untuk mendeteksi lesi yang tampak mencurigakan dan untuk
mendorong atau memfasilitasi evaluasi lebih lanjut.
Perawat dapat mendorong semua orang dewasa yang lebih tua untuk
menggunakan panduan berikut untuk mengidentifikasi sendiri setiap perubahan kulit
yang memerlukan evaluasi lebih lanjut:
a. Bentuk asimetris: sisi tidak beraturan atau tampak berbeda
b. Perbatasan yang tidak teratur: acak-acakan, berlekuk, kabur, tidak teratur
c. Perubahan warna: warna berbeda, distribusi tidak merata
d. Diameter: lebih besar dari seperempat inci (6 mm),
Jika orang dewasa yang lebih tua atau pengasuh telah menghindari evaluasi
medis karena takut tentang kanker, perawat dapat memberikan jaminan tentang
tingkat kesembuhan yang tinggi dan kemungkinan minimal masalah jangka panjang

53
jika perawatan dini diperoleh. Demikian pula, jika mereka mengabaikan perubahan
yang mencurigakan karena mereka mengaitkannya dengan "penuaan normal," perawat
dapat mengajarkan tentang pentingnya evaluasi lebih lanjut.
MENGEVALUASI EFEKTIVITAS INTERVENSI KEPERAWATAN
Perawatan keperawatan untuk orang dewasa yang lebih tua dengan kulit
kering atau gatal dievaluasi dengan menentukan sejauh mana intervensi mengurangi
keluhan orang tersebut. Mungkin diperlukan beberapa minggu bagi orang dewasa
yang lebih tua untuk merasakan efek penuh dari intervensi perawatan kulit karena
keterlambatan terkait usia dalam respons dermal terhadap rangsangan eksternal. Juga,
ada banyak variasi individu di antara orang dewasa yang lebih tua dalam tanggapan
mereka terhadap intervensi. Dengan demikian, mungkin perlu untuk mengevaluasi
efek dari satu jenis sabun atau lotion selama beberapa minggu sebelum mencoba
merek yang berbeda jika masalahnya tidak selesai. Karena kelembaban lingkungan
mempengaruhi kenyamanan kulit, kondisi lingkungan juga dapat mempengaruhi
evaluasi intervensi.
Efektivitas intervensi untuk orang dewasa yang lebih tua yang berisiko
mengalami kerusakan kulit diukur dengan tidak adanya ulkus tekan. Efektivitas
intervensi untuk ulkus tekan ditentukan oleh laju penyembuhan dan pencegahan
komplikasi seperti osteomielitis. Karena masalah biaya dan kualitas hidup yang
signifikan terkait dengan borok tekanan, mencegah kerusakan kulit dapat memiliki
konsekuensi positif yang luas untuk orang dewasa yang lebih tua yang berisiko
mengembangkan borok tekanan.

8. Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas
insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler
serta neuropati. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar
glukosa darah normal.
Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes :
a. Diet
Suatu perencanaan makanan yang terdiri dari 10% lemak, 15% Protein, 75%
Karbohidrat kompleks direkomendasikan untuk mencegah diabetes. Kandungan

54
rendah lemak dalam diet ini tidak hanya mencegah arterosklerosis, tetapi juga
meningkatkan aktivitas reseptor insulin.
b. Latihan
Latihan juga diperlukan untuk membantu mencegah diabetes. Pemeriksaan sebelum
latihan sebaiknya dilakukan untuk memastikan bahwa klien lansia secara fisik mampu
mengikuti program latihan kebugaran. Pengkajian pada tingkat aktivitas klien yang
terbaru dan pilihan gaya hidup dapat membantu menentukan jenis latihan yang
mungkin paling berhasil. Berjalan atau berenang, dua aktivitas dengan dampak
rendah, merupakan permulaan yang sangat baik untuk para pemula. Untuk lansia
dengan NIDDM, olahraga dapat secara langsung meningkatkan fungsi fisiologis
dengan mengurangi kadar glukosa darah, meningkatkan stamina dan kesejahteraan
emosional, dan meningkatkan sirkulasi, serta membantu menurunkan berat badan.
c. Pemantauan
Pada pasien dengan diabetes, kadar glukosa darah harus selalu diperiksa secara rutin.
Selain itu, perubahan berat badan lansia juga harus dipantau untuk mengetahui
terjadinya obesitas yang dapat meningkatkan resiko DM pada lansia.
d. Terapi (jika diperlukan)
Sulfoniluria adalah kelompok obat yang paling sering diresepkan dan efektif hanya
untuk penanganan NIDDM. Pemberian insulin juga dapat dilakukan untuk
mepertahankan kadar glukosa darah dalam parameter yang telah ditentukan untuk
membatasi komplikasi penyakit yang membahayakan.
e. Pendidikan
a. Diet yang harus dikomsumsi
b. Latihan
c. Penggunaan insulin

9. Pemeriksaan Diagnostik
a. Glukosa darah sewaktu
b. Kadar glukosa darah puasa
c. Tes toleransi glukosa
Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan:
1) Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)
2) Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
3) Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi
75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl

55
10. Komplikasi Diabetes Melitus
Komplikasi diabetes mellitus diklasifikasikan menjadi akut dan kronis. Yang
termasuk dalam komplikasi akut adalah hipoglikemia, diabetes ketoasidosis (DKA),
dan hyperglycemic hyperosmolar nonketocic coma (HHNC). Yang termasuk dalam
komplikasi kronis adalah retinopati diabetic, nefropati diabetic, neuropati,
dislipidemia, dan hipertensi.
A. Komplikasi akut
a. Diabetes ketoasidosis
Diabetes ketoasidosis adalah akibat yang berat dari deficit insulin yang berat pada
jaringan adipose, otot skeletal, dan hepar. Jaringan tersebut termasuk sangat sensitive
terhadap kekurangan insulin. DKA dapat dicetuskan oleh infeksi ( penyakit)
B. Komplikasi kronis:
a. Retinopati diabetic
Lesi paling awal yang timbul adalah mikroaneurism pada pembuluh retina. Terdapat
pula bagian iskemik, yaitu retina akibat berkurangnya aliran darah retina. Respon
terhadap iskemik retina ini adalah pembentukan pembuluh darah baru, tetapi
pembuluh darah tersebut sangat rapuh sehingga mudah pecah dan dapat
mengakibatkan perdarahan vitreous. Perdarahan ini bisa mengakibatkan ablasio retina
atau berulang yang mengakibatkan kebutaan permanen.
b. Nefropati diabetic
Lesi renal yang khas dari nefropati diabetic adalah glomerulosklerosis yang nodular
yang tersebar dikedua ginjal yang disebut sindrom Kommelstiel-Wilson.
Glomeruloskleriosis nodular dikaitkan dengan proteinuria, edema dan hipertensi. Lesi
sindrom Kommelstiel-Wilson ditemukan hanya pada DM.
c. Neuropati
Neuropati diabetic terjadi pada 60 – 70% individu DM. neuropati diabetic yang paling
sering ditemukan adalah neuropati perifer dan autonomic.
d. Displidemia
Lima puluh persen individu dengan DM mengalami dislipidemia.
e. Hipertensi
Hipertensi pada pasien dengan DM tipe 1 menunjukkan penyakit ginjal,
mikroalbuminuria, atau proteinuria. Pada pasien dengan DM tipe 2, hipertensi bisa
menjadi hipertensi esensial. Hipertensi harus secepat mungkin diketahuin dan
ditangani karena bisa memperberat retinopati, nepropati, dan penyakit makrovaskular.

56
f. Kaki diabetic
Ada tiga factor yang berperan dalam kaki diabetic yaitu neuropati, iskemia, dan
sepsis. Biasanya amputasi harus dilakukan. Hilanggnya sensori pada kaki
mengakibatkan trauma dan potensial untuk ulkus. Perubahan mikrovaskuler dan
makrovaskuler dapat mengakibatkan iskemia jaringan dan sepsis. Neuropati, iskemia,
dan sepsis bisa menyebabkan gangrene dan amputasi.
g. Hipoglikemia
Hipoglikemia adalah keadaan dengan kadar glukosa darah di bawah 60 mg/dl, yang
merupakan komplikasi potensial terapi insulin atau obat hipoglikemik oral. Penyebab
hipoglikemia pada pasien sedang menerima pengobatan insulin eksogen atau
hipoglikemik oral.

BAB III
TIJAUAN KASUS

Seorang lansia laki-laki Tn.k berusia 75 tahun tinggal di panti jompo bersama dengan
istrinya (68 tahun). Lansia mengatakan memiliki penyakit gula 1 tahun yang lalu, Lansia
mengeluh lemas serasa ingin pingsan. Akhi-akhir ini lansia mengeluh sering haus, sering
BAK terutama di malam hari, sering merasa lapar, berat badan turun 5 kg dalam satu bulan
terakhir. Lansia juga mengeluh mudah lelah, kesemutan pada jari tangan dan kaki, pandangan
kabur seperti ada kabut putih. Hasil pemerikasaan GDS lansia dalam 3 hari terakhir : 320
mg/dl, 201 mg/dl, 375 mg/dl. Istri mengatakan lansia lebih banyak berbaring di tempat tidur
sambil menonton TV sambil makan cemilan manis , tidak mau ikut kegiatan senam ataupun
kegiatan seni lainnya. Istri mengakatan tidak tau tentang penyakit suaminya. Lansia
mendapatkan injeksi insulin 1x/hari, tetapi jarang diinjeksikan karena lansia mengganggap
penyakitnya adalah penyakit tua. Istri mengatakan sering bertengkar karena lansia mengalami
penurunan pendengaran. Lansia sering nonton TV dengan volume yang kencang, berbicara
kepada istri dengan nada tinggi dan berteriak. Namun lansia menganggap istri tidak pernah
mendengarkan perkataannya. Istri mengatakan sudah menjawab namun sambil mengerjakan
sesuatu dengan jarak yang cukup jauh.

1. Pengkajian
a. Perubahan fisik

57
Pengumpulan data dengan wawancara
1) Riwayat Penyakit
Tn. K berkata, “Saya tidak tahu punya penyakit apa mbak. Sekarang yang
dirasakan sering haus, sering BAK terutama di malam hari, sering merasa
lapar, mudah lelah, kesemutan pada jari tangan dan kaki, pandangan kabur
seperti ada kabut putih mbak.”
2) Riwayat Penyakit Keluarga
Tn. K berkata, “Tidak ada mbak yang punya penyakit seperti saya.”
3) Riwayat Pencegahan Penyakit
Tn. K berkata, “ ya saya selalu menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya,
terutama lingkungan tempat tidur dan lemari pakain.”
4) Riwayat pemeriksaan GDS

Tgl 9/05/2016 10/05/2016 11/05/2016

GDS 320 mg/dl, 201 mg/dl, 375 mg/dl

5) Skrining Kesehatan yang Dilakukan


Tn. K berkata, “Paling pemeriksaan tekanan darah mbak dari petugas
puskesmas. Biasanya posyandu lansia diadakan sebulan sekali pada tanggal
25, dengan kegiatan pengukuran tekanan darah, tinggi badan, berat badan
dan pengobatan.”
6) Status Gizi
BB = 40 kg
TB = 150 cm

IMT = = =26,66 (normal)

7) Masalah Kesehatan Terkait Status Gizi


a. Masalah pada mulut
Tn. K berkata, “gigi saya sudah banyak yang hilang mbak”
b. Perubahan berat badan

Tn. K berkata, “berat badan turun 5 kg dalam satu bulan terakhir mbak”

c. Masalah nutrisi
Tn. K berkata, “Ya makan mbak dan saya lebih suka mengemil .”
8) Masalah Kesehatan yang Dialami Saat Ini
Tn. K berkata, “sering haus, sering BAK terutama di malam hari, sering
merasa lapar, mudah lelah, kesemutan pada jari tangan dan kaki, pandangan
kabur seperti ada kabut putih mbak”
9) Obat-Obatan yang Dikonsumsi Saat Ini
Tn. K berkata “saya belum mengkonsumsi obat-obatan karna belum
melakukan pemeriksaan”
10) Tindakan Spesifik yang Dilakukan Saat Ini

58
Tn. K berkata, “ saya mendapatkan injeksi insulin 1x/hari, tetapi jarang
diinjeksikankarna saya malas mbak.”
a. Status Fungsional
Mobilisasi : mandiri
Berpakaian : mandiri
Makan dan minum : mandiri
Toileting : mandiri
Personal Hygiene : mandiri
Mandi : mandiri
Tn. K memiliki Indeks KATZ dalam kategori A yaitu Mandiri untuk semua
fungsi (6 fungsi)
1. Pemenuhan Kebutuhan Sehari-Hari
a. Mobilisasi
Tn. K berkata, “saya bisa jalan sendiri mbak tapi pake tongkat.”
b. Berpakaian
Tn. K berkata, “bisa ganti baju sendiri mbak.”
c. Makan dan minum
Tn. K berkata, “bisa makan sendiri mbak.”
Tn. K berkata,” Saya masih suka makan yang manis, kalo gak gitu saya
gak nafsu makan.”
d. Toileting
Tn. K berkata, “ya kalo ke toilet saya sendirian mbak, pelan-pelan.”
e. Personal hygiene
Tn. K berkata, “saya bisa ngelakuin sendiri mbak seperti sikat gigi,
mandi, merapikan tempat tidur.”
f. Mandi
Tn. K berkata, “mandinya 2 kali sehari mbak, yo kadang pagi saya
tidak mandi karena dingin.”

Pengumpulaan data dengan pemeriksaan fisik

Bagian/ Masalah keperawatan


No Hasil pemeriksaan
region yang muncul
1. Kepala Mesocephal, rambut berwarna putih, tidak Tidak ada masalah
ada lesi, dan tidak ada nyeri tekan pada
kepala
2. Wajah/ muka Bentuk wajah oval, kulit wajah keriput, Tidak ada masalah
bibir lembab, tidak ada lesi sekitar wajah.
3. Mata Klien tidak memakai kacamata, kedua Tidak ada masalah
mata klien sudah tidak bisa melihat,
pandangan kabur seperti ada kabut
putih
4. Telinga Kedua telinga simetris, telinga sedikit Tidak ada masalah
kotor
5. Mulut dan gigi Bibir lembab, gigi tidak lengkap, tidak Tidak ada masalah

59
ada sariawan
6. Leher Tidak ada benjolan/ pembesaran Tidak ada masalah
kelenjar tiroid.
7. Dada I: pengembangan dada simetris kanan Tidak ada masalah
dan kiri, tulang dada terlihat jelas
P: taktil fremitus teraba sama sama
antara kanan dan kiri, depan dan
belakang.
P: perkusi dada redup.
A: bunyi nafas vesikuler.
8. Jantung I: warna kulit sesuai dgn warna kulit Tidak ada masalah
bagian tubuh lainnya.
P: tidak ada pembesaran jantung.
P: perkusi suara redup.
A: tidak terdapat bunyi jantung
tambahan.
9. Abdomen I: cekung, tidak terdapat lesi Tidak ada masalah
A: bising usus 7x/menit.
P: timpani.
P: tidak ada nyeri tekan.
11. Ekstremitas Kuku bersih, capilary refil kembali Tidak ada masalah
atas <3 detik, kekuatan otot 4/4, sering
kesemutan pada bagian jari
12. Ekstremitas Kuku bersih, capilary refil kembali Tidak ada masalah
bawah <3 detik, telapak kaki pecah-pacah,
terdapat luka di punggung kaki,
kekuatan otot 4/4, sering kesemutan
pada bagian jari

Pengkajian pada psikologis

1. Status Kognitif
SHORT PORTABLE MENTAL STATE QUESIONNARE

Pertanyaan Jawaban
Betul Salah
1. Tanggal Berapa Hari ini ? √
2. Hari apakah hari ini? √
3. Apakah nama tempat ini? √
4. Berapa no. Telpon rumah anda? √
5. Berapa usia anda? √
6. Kapan anda lahir (Tgl/Bln/Thn)? √
7. Siapakah nama presiden sekarang? √
8. Siapakan nama presiden sebelumnya? √
9. Siapakah nama ibu anda? √
10. 5+6 adalah √
Keterangan : Berdasarkan hasil pengkajian dengan SPMSQ, Ny. S menjawab salah 2
pertanyaan. Dapat disimpulkan Tn. K mengalami gangguan ringan.

60
2. Perubahan yang Timbul Terkait Status Kognitif
Tn. K masih mengingat usia, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi baik dimasa lalu
maupun yang sekarang.
3. Dampak yang Timbul Terkait Status Kognitif
Menurut hasil pengkajian Tn. K mengalami gangguan memori ringan. Akan tetapi
hal tersebut tidak memiliki dampak bagi Tn. K. Tn. K masih dapat berkomunikasi
dengan baik dengan istri dan orang lain
4. Status Depresi
The Geriatric Depresion Scale
Kunci Jawaban
Pertanyaan
Jawaban Tn. K
1. Apakah anda pada dasarnya puas dengan kehidupan Tidak Ya
anda?
2. Sudahkah anda meninggalkan aktivitas dan minat Ya Ya
anda?
3. Apakah anda merasa hidup anda kosong? Ya Ya
4. Apakah anda sering bosan? Ya Ya
5. Apakah anda mempunyai semangat setiap waktu? Tidak Tidak
6. Apakah anda takut sesuatu akan terjadi pada anda? Ya Ya
7. Apakah anda merasa bahagia setiap waktu? Tidak Tidak
8. Apakah anda merasa jenuh? Ya Ya
9. Apakah anda merasa lebih suka tinggal di rumah Ya Ya
pada malam hari, dari pada pergi melakukan sesuatu
yang baru?
10. Apakah anda merasa bahwa anda lebih banyak Ya Tidak
mengalami masalah dengan ingatan anda daripada
yang lainnya?
11. Apakah anda berfikir sangat menyenangkan hidup Tidak Tidak
sekarang ini?
12. Apakah anda merasa tidak berguna saat ini? Ya Ya
13. Apakah anda merasa penuh berenergi saat ini? Tidak Tidak
14. Apakah anda saat ini sudah tidak ada harapan lagi? Ya Ya
15. Apakah anda berfikir banyak orang yang lebih baik Ya Ya
dari anda?
Keterangan : nilai ≥ 5 menandakan depresi
Hasil pengkajian menunjukkan skor depresi Tn. K yaitu 13, hal ini menunjukkan
bahwa Tn. K mengalami tanda-tanda depresi.
5. Perubahan yang Timbul Terkait Status Depresi
Tn. K lebih banyak berbaring di tempat tidur sambil menonton TV sambil makan
cemilan manis , tidak mau ikut kegiatan senam ataupun kegiatan seni lainnya, Istri
mengatakan sering bertengkar karena lansia mengalami penurunan pendengaran.
Lansia sering nonton TV dengan volume yang kencang, berbicara kepada istri
dengan nada tinggi dan berteriak. Namun lansia menganggap istri tidak pernah
mendengarkan perkataannya. Istri mengatakan sudah menjawab namun sambil
mengerjakan sesuatu dengan jarak yang cukup jauh.
6. Dampak yang Timbul Terkait Status Depresi

61
Tn. K sudah pasrah akan penyakit dampak yang dirasaknnya sekarang
7. Keadaan Emosi
a. Ansietas
Ny. S berkata, “saya merasa takut jika penyakit saya akan berdampak ke fungsi
organ tubuh saya yang lainnya”
Skala Kecemasan Hamilton Anxiety Rate Scale (HARS)
No Jawaban
Pertanyaan
0 1 2 3 4
1 Perasaancemas: √
a. Kecemasan
b. Firasat buruk,
c. Takut akan pikiran sendiri,
d. Mudah tersinggung.
2 Ketegangan: √
a. Merasa tegang, Lesu,
b. Tidak dapat istirahat tenang,
c. Mudah terkejut,
d. Gemetar
3 Ketakutan : √
a. Ketakutan pada gelap,
b. Ketakutan ditinggal sendiri,
c. Ketakutan pada orang asing,
d. Ketakutan pada binatang besar,
e. Ketakutan pada keramaian lalu lintas.
4 Gangguan tidur: √
a. Sukar untuk tidur,
b. Terbangun malam hari,
c. Tidur tidak nyenyak,
d. Bangun dengan lesu
e. Mimpi buruk.
5 Gangguan kecerdasan: √
a. Sukar konsentrasi,
b. Daya ingat buruk,
c. Daya ingat menurun.
6 Perasaan depresi: √
a. Kehilangan minat,
b.Sedih,
c. Bangun dini hari,
d. Kurangnya kesenangan pada hoby,
e. Perasaan berubah sepanjang hari.
7 Gejala somatik: √
a. Nyeri pada otot,
b. Kaku,
c. Kedutan otot,
d. Gigi gemeretak,
e. Suara tidak stabil.
8 Gejala sensorik: √
a. Perasaan di tusuk-tusuk,
b. Penglihatan kabur,
c. Muka merah
d. Pucat
e.Merasa lemah

62
9 Gejala kardiovaskuler: √
a. Takikardi,
b. Nyeri di dada,
c. Denyut nadi mengeras
d. Detak jantung hilang sekejap.
10 Gejala pernapasan: √
a. Rasa tertekan di dada,
b. Perasaan tercekik,
c. Seringmenarik napas panjang
d. Merasa napas pendek.
11 Gejala gastrointestinal: √
a.Sulit menelan,
b. Mual,
c. Perut melilit,
d. Gangguan pencernaan,
e. Nyeri lambung sebelum dan sesudah
makan.
12 Gejala urogenital: √
a. Sering kencing,
b. Tidak dapat menahan kencing,
c. Amenorrhoe,
d. Masa haid berkepanjangan atau pendek,
e. Haid beberapa kali dalam sebulan,
13 Gejala vegetatif : √
a. Mulut kering,
b. Mudah berkeringat,
c. Muka merah,
d. Bulu roma berdiri,
e. Pusing atau sakit kepala.
14 Perilaku sewaktu wawancara: √
a. Gelisah,
b. Jari-jari gemetar,
c. Mengkerut kan dahi atau kening,
d. Muka tegang,
e. Tonus otot meningkat.
Total Skor 16 (kategori sedang)

Penilaian:

Skor 0 = Tidak ada gejala

Skor 1 = Ringan ( Satu gejala)

Skor 2 = Sedang ( Satu atau dua gejala)

Skor 3 = Berat (Lebih dua gejala)

Skor 4 = Sangat berat (Semua Gejala)

63
Kategori :

Skor < 6 = Tidak ada kecemasan

Skor 6-14 = Kecemasan Ringan

Skor 15 – 27 = Kecemasan sedang

Skor > 27 = Kecemasan Berat

b. Perubahan perilaku
Tn. K lebih banyak berbaring di tempat tidur sambil menonton TV sambil makan
cemilan manis , tidak mau ikut kegiatan senam ataupun kegiatan seni lainnya. .
Tn. K mendapatkan injeksi insulin 1x/hari, tetapi jarang diinjeksikan karena
lansia mengganggap penyakitnya adalah penyakit tua.
c. Mood
Ny. S kooperatif saat dilakukan wawancara. Tn. K dan istrinya mudah diajak
bicara dan terbuka menceritakan kehidupannya

Pengkajian pada sosial

1. Hubungan Lansia dengan Lansia didalam Panti


Tn. K berkata, “saya jarang ngobrol mbak, paling cuma ngobrol sama istri
saja .”
2. Hubungan Antar Lansia Diluar Panti
Tn. K berkata, “saya jarang keluar kamar mbak, penglihatan saya juga sudah
tidak baik mbak jadi mau pergi kemana-mana susah.”
3. Hubungan Lansia dengan Anggota Keluarga
Tn. K berkata, “hubungan saya dengan istri baik, tapi kita sering berantem
karna pendengaran saya menurun”
4. Hubungan Lansia dengan Pengasuh Panti
Tn. K berkata, “yo baik mbak dengan pengurus disini,paling ada satu orang
yang galak sedikit.”
5. Kegiatan Organisasi Sosial
Tn. K rutin mengikuti pengajian setiap hari kamis, senam lansia setiap hari
jumat dan kerja bakti.

Pengkajian pada tingkah laku

1. Pola Makan
Tn.k makan 3 kali sehari, jika lauk dari panti tidak cocok biasanya Tn. K
membeli sendiri lauk dari penjual sayur yang biasanya berjualan di panti dan

64
sering membeli cemilan. Tn. K minum air putih dan setiap pagi minum teh
manis.
2. Pola Tidur
Tn.k tidur malam pukul 22.00 WIB bangun pukul 05.00 WIB, jumlah tidur
malam 7 jam, Tn. K tidak pernah tidur siang.
3. Pola Eliminasi
BAK : 3-6 kali dalam sehari, urin warna kuning
Tn. K mengatakan tidak merasakan nyeri saat BAK. Tidak ada inkontinensia
urine
BAB : 1 hari sekali, konsistensi padat kadang cair, warna kuning dan bau khas.
4. Kebiasaan Buruk Lansia
Tn. K lebih banyak berbaring di tempat tidur sambil menonton TV sambil makan
cemilan manis , tidak mau ikut kegiatan senam ataupun kegiatan seni lainnya. .
Tn. K mendapatkan injeksi insulin 1x/hari, tetapi jarang diinjeksikan karena
lansia mengganggap penyakitnya adalah penyakit tua
5. Pelaksanaan Pengobatan
Pengobatan dilakukan jika ada lansia yang memerlukan pengobatan serius.
Pemeriksaan kesehatan rutin dilakukan sebulan sekali pada tanggal 25 saat
posyandu lansia. Pengobatan dilakukan oleh petugas puskesmas.
6. Kegiatan Olahraga
Kegiatan olahraga yang diadakan panti biasanya adalah senam seminggu sekali
pada hari jumat. Tapi Tn. K tidak melakukan aktifitas senam tersebut.
7. Rekreasi
Tn. K mengatakan saat di panti tidak pernah pergi kemana-mana, hanya tiduran
di kamar.
8. Pengambilan Keputusan.
Pengambilan keputusan dilakukan oleh lansia dan pengasuh panti dan pengurus
panti.

Pengkajian pada system kesehatan

1. Perilaku Mencari Pelayanan Kesehatan


Pada saat klien sakit maka pengurus panti akan memberikan obat sedangkan jika
ada anggota panti yang sakit dan memerlukan penanganan emergensi, ada dokter
dari pihak puskesmas untuk memeriksa dan merujuk apabila kondisi memburuk.
2. Sistem Pelayanan Kesehatan
a. Fasilitas kesehatan yang tersedia
Terdapat puskesmas pembantu Bringin dekat dengan panti. Bila diharuskan
dirujuk maka akan dibawa kerumah sakit.
b. Jumlah tenaga kesehatan
Tidak terdapat tenaga kesehatan. Pengasuh wisma akan memberi obat yang
tersedia bila ada lansia yang sakit.

65
c. Tindakan pencegahan terhadap penyakit
Biasanya dilakukan pendidikan kesehatan.
d. Jenis pelayanan kesehatan yang tersedia
Terdapat posyandu lansia. Petugas posyandu dari puskesmas pembantu
Bringin akan datang ke panti setiap satu bulan sekali.
e. Frekuensi kegiatan pelayanan kesehatan
Posyandu lansia dilaksanakan 1 bulan sekali pada sekitar tanggal 25

2. Analisa Data

Data Etiologi Masalah


Ds: Faktor biologis Ketidakseimbangan nutrisi:
- Klien mengatakan
kurang dari kebutuhan tubuh
berat badan turun 5
kg dalam satu bulan
terakhir

- klien mengatakan
sering merasa lapar

Do :
- klien terlihat kurus
- klien terlihat lemas
pada saat menjawab
pertanyaan

Ds : klien mengatakan Faktor biologis(penyakit) Resiko Ketidakstabilan


memiliki penyakit gula 1 glukosa darah
tahun yang lalu
Do : hasil GDS lansia dalam
3 hari terakhir 320 mg/dl,
201 mg/dl, 375 mg/dl.

Ds: Penurunan penglihatan dan Resiko cedera


- Lansia mengatakan
pendengaran
pandangan kabur
seperti ada kabut
putih
- Istri mengatakan
sering bertengkar

66
karena lansia
mengalami penurunan
pendengaran
- Istri mengatakan
Lansia sering nonton
TV dengan volume
yang kencang
- Istri mengatakan
lansia berbicara
kepada istri dengan
nada tinggi dan
berteriak namun
lansia menganggap
istri tidak pernah
mendengarkan
perkataannya
- Istri mengatakan
sudah menjawab
namun sambil
mengerjakan sesuatu
dengan jarak yang
cukup jauh.
-
Do:
- Pada saat wawancara
klien lama meresppon
- Pada saat pengkajian
perawat harus
menggunakan volume
yang lumayan tinggi
agar klien mendengar
suara dari perawat
- Pada saat pegkajian
pupil klien berwarna
putih

67
Data subjektif
1) Lansia mengatakan memiliki penyakit gula 1 tahun yang lalu
2) Lansia mengeluh lemas serasa ingin pingsan
3) Akhir-akhir ini lansia mengeluh sering haus
4) sering BAK terutama di malam hari
5) sering merasa lapar
6) berat badan turun 5 kg dalam satu bulan terakhir
7) Lansia juga mengeluh mudah Lelah
8) kesemutan pada jari tangan dan kaki
9) pandangan kabur seperti ada kabut putih
10) Istri mengatakan lansia lebih banyak berbaring di tempat tidur sambil menonton
TV sambil makan cemilan manis
11) tidak mau ikut kegiatan senam ataupun kegiatan seni lainnya
12) Istri mengakatan tidak tau tentang penyakit suaminya
13) Istri mengatakan sering bertengkar karena lansia mengalami penurunan
pendengaran
14) Lansia sering nonton TV dengan volume yang kencang
15) berbicara kepada istri dengan nada tinggi dan berteriak namun lansia
menganggap istri tidak pernah mendengarkan perkataannya
16) Istri mengatakan sudah menjawab namun sambil mengerjakan sesuatu dengan
jarak yang cukup jauh.

Data Objektif
1) Hasil pemerikasaan GDS lansia dalam 3 hari terakhir : 320 mg/dl, 201 mg/dl, 375
mg/dl
2) Klien terlihat membrane mukosa kering
3) Klien terlihat kulit kering
4) Klien terlihat penurunan turgor kulit
5) Lansia mendapatkan injeksi insulin 1x/hari, tetapi jarang diinjeksikan karena lansia
mengganggap penyakitnya adalah penyakit tua

3. Diagnosa Keperawatan

No. Diagnosa Keperawatan


1. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor
biologis
2. Resiko ketidakstabilan glukosa darah
3. resiko cedera berhubungan dengan penurunan penglihatan dan pendengaran

68
4. NCP (Nursing Care Planning)
No. Diagnosa Tujuan Kriteria Hasil Intervensi
(NOC) (NIC)
1. Ketidakseimbangan Setelah dilakukan Status nutrisi Manajemen nutrisi
nutrisi: kurang dari tindakan keperawatan 1. Asupan nutrisi tidak 1. Kolaborasi dengan anggota tim kesehatan untuk
kebutuhan tubuh b.d 3x24 jam, diharapkan bermasalah memuat perencanaan perawatan jika sesuai.
2. Asupan makanan 2. Diskusikan dengan tim dan pasien untuk
faktor biologis kebutuhan nutrisi klien
dan cairan tidak membuat target berat badan, jika berat badan
dapat terpenuhi
bermasalah pasien tdak sesuai dengan usia dan bentuk tubuh.
3. Energi tdak 3. Diskusikan dengan ahli gizi untuk menentukan
bermasalah asupan kalori setiap hari supaya mencapai dan
4. Berat badan ideal
atau mempertahankan berat badan sesuai target.
4. Ajarkan dan kuatkan konsep nutrisi yang baik
pada pasien
5. Kembangkan hubungan suportif dengna pasien.
6. Dorong pasien untuk memonitor diri sendiri
terhadap asupan makanan dan kenaikan atau
pemeliharaan berat badan.
7. Gunakan teknik modifikasi tingkah laku untuk
meningkatkan berat badan dan untuk
menimimalkan berat badan.
8. Berikan pujian atas peningkatan berat badan dan
9. tingkah laku yang mendukung peningkatan berat

69
badan.
2. Resiko ketidakstabilan Setelah dilakukan Kadar glukosa darah Manjamen hiperglikemi (2120)
glukosa darah tindakan keperawatan (2300) 1. Monitor kadar glukosadarah sesuai indikasi
3x24jam diharapkan 2. Monitor tanda dan gejala hiperglikemi
1. Glukosa daeah tidak ada 3. Monitor nadi dan tekanan darah ortostatik
resiko ketidakstabilan 4. Dukung asupan cairan oral
deviasi dari kisaran
glukosa darah dapat 5. Monitor status cairan termasuk input dan
normal ouput susuai kebutuhan
teratasi 2. Urin glukosa tidak ada 6. Monitor akses IV sesuai kebutuhan
deviasi dari kisaran 7. Berikan cairan IV sesuai kebutuhan
8. Konsultasikan dengan dokter dengan tanda dan
normal gejala hiperglikemia yang menetap atau
Keparahan hiperglikemia memburuk
9. Identifikasi kemungkinan penyebab
(2111) hiperglikemia
10. Antisipasi situasi dimana aka nada kebutuhan
1. Peningkatan urin output peningkatan insulin
Manajemen hipoglikemia (2130)
tidak ada
2. Kehilanganberat badan 1. Identifikasi resiko hipoglikemia
yang tidak bisa 2. Kenali tanda dan gejala hipoglikemia
3. Monitor tanda gejala hiipoglekemia
dijelaskan tidak ada 4. Monitor kadar glukosa darah sesuai dengan
3. Mulut kering tidak ada indikasii
4. Peningkatan glukosa 5. Berikan glukosa sesuai indikasi
darah tidak ada 6. Berikan glukosa secara intervena sesuai
5. Gangguann elektrolit indikasi
7. Pertahankan akses intravena
tidak ada 8. Pertahankan jalan nafas jika diperlukan
Keparahan hipoglekimia Lindungi trauma
(2113)

70
1. Gemetar tidak ada
2. Berkeringat tidak
ada
3. Kelemahan tidak ada
4. Kelelahan tidak ada
5. Gangguan
penglihatan tidak
ada
6. Prnurunan kadar
glukosa darah tidak
ada

3. resiko cedera Setelah dilakukan Fungsi sensori : Peningkatan keamanan (5380)


berhubungan dengan tindakan keperawatan penglihatan (2404) 1. Ajarkan kepada keluarga untuk menyediakan
penurunan penglihatan selama 1x24 jam, cedera - Klien terbebas dari lingkungan yang aman untuk pasien.
dan pendengaran tidak terjadi pada klien cedera 2. Identifikasi kebutuhan keamanan pasien,
- Klien mampu
dengan kriteria: sesuai dengan kondisi fisik dan fungsi kognitif
menjelaskan cara
pasien dan riwayat penyakit terdahulu pasien.
untuk mencegah
3. Ajarkan kepada keluarga dan klien untuk
cedera
menghindarkan lingkungan yang berbahaya
- Klien mampu
(misalnya memindahkan perabotan berbahaya,
menjelaskan manfaat
kebersihan lantai rumah dan kamar mandi).
senam mata
- Klien mampu 4. Ajarkan kepada keluarga untuk memberikan

71
mendemonstrasikan penerangan yang cukup di dalam rumah.
senam mata 5. Jelaskan manfaat senam mata.
- Pandangan klien
6. Ajarkan gerakan senam mata
menjadi tajam
(kanan-kiri)
- Pandangan klien tidak
kabur
- Penglihatan klien
tidak terganggu Pendidikan kesehatan (5510)
- tentukan pengetahuan kesehatan dan gaya
hidup perilaku saat ini pada individu dan
keluarga
- tekankan manfaat kesehatan positif yang
langsung atau manfaat jangka pendek yang
bisa diterima oleh perilaku gaya hidup positif
daripada menekan jangka panjang atau efek
Fungsi sensori : negatif dari ketidakpatuhan
pendengaran (2401) - pertimbangan dukungan keluarga, teman
- Pendengaran klien sebaya, dan masyarakat teradap perilaku
normal
- Klien mampu
merespon pada
stimulus pendengaran

72
-

73
BAB IV
PENUTUP

A. Simpulan
Lansia merupakan kelompok yang telah memasuki tahapan akhir dari fase
kehidupan (WHO). Menurut (WHO) kategori lanjut usia berkisar antara 60-74
tahun. Di Indonesia menurut Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 tentang
Kesejahteraan Lanjut Usia, yang dimaksud dengan lanjut usia adalah penduduk
yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.
Diabetes melitus merupakan kelainan metabolisme yang kronis terjadi
defisiensi insulin atau retensi insulin, di tandai dengan tingginya keadaan glukosa
darah (hiperglikemia) dan glukosa dalam urine (glukosuria) atau merupakan
sindroma klinis yang ditandai dengan hiperglikemia kronik dan gangguan
metabolisme karbohidrat, lemak dan protein sehubungan dengan kurangnya sekresi
insulin secara absolut / relatif dan atau adanya gangguan fungsi insulin.

74
DAFTAR PUSTAKA

Ikram, Ainal, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Diabetes Mellitus Pada Usia Lanjut jilid I Edisi
ketiga, Jakarta : FKUI, 1996.
Kushariyadi.2010.Asuhan Keperawatan pada Klien Lanjut Usia.Jakarta : Salemba Medika
Luecknote, Annette Geisler, Pengkajian Gerontologi alih bahasa Aniek Maryunani, Jakarta:EGC,
1997.
Mary Baradero, Mary Wilfrid dan Yakobus Siswandi. 2009. Klien Gangguan Endokrin: Seri Asuhan
Keperawatan. Jakarta : EGC
Miller, C.A. (2006). Nursing Wellness in Older Adults : Theory and Practice.8th ed. Wolter Kluwer

Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth
Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih, Jakarta :
EGC, 2002.

75