You are on page 1of 15

ARTIKEL

Sistem Keamanan Di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Biaro


Bukitinggi
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagai Syarat
Mencapai Gelar Sarjana Hukum

Oleh:

M. Yusuf
1310012111178

Bagian Hukum Pidana

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS BUNG HATTA
PADANG
2017

No Reg. : 42/PID-02/1-2017

1
Sistem Keamanan Di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Biaro
Bukitinggi
M. Yusuf1, Syafridatati1, Rianda seprasia1
Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas Bung Hatta
Email : muhammadyusuf4358@yahoo.com

ABSTRACT

The prison's security system is primarily an activity to manifest the lives and
livelihoods of regular, secure and peaceful effort is done with directional planned
and systematic. In article 46 of the ACT mentions Correctional prison Chief
responsible for the security and order in the prison in pimpinya. To ensure the
achievement of a system of keaman prison in need of the situation and conditions
of safe and orderly so need to do step in preventive measures and penindakan of
all keaman and order security disturbances happened, by way of doing basic tasks
and functions of the security and order in the whole range of prison. In the
formulation of research problem is (1) how the application of the system of
security in the prisons of the class II A Bairo Bukitinggi? and (2) the constraints
in the face in the implementation of the security system in jail Indonesia
Bukitinggi II A class? Research on the method of use is the juridical sociological
approach method. While data collecting tool was an interview, study the
documents, then in the qualitative analysis by grouping data according to the
aspect that in carefully. Based on the results of the research can be conclude (1)
the application of the system of security in the prisons of the class II with
Indonesia unresolved Bukitinggi according to regulations (2) obstacles
encountered in the implementation of the security system in the prison A class II
Indonesia Bukitinggi is human resources, over capacity, and inmates.

Keywords: System security, prison

2
A. Pendahuluan Sedangkan yang dimaksud dengan

narapidana menurut kamus Besar


Sistem keamanan di Lembaga
Bahasa Indonesia edisi kedua,
Pemasyarakatan pada dasarnya
memberikan artian adalah sebagai
merupakan suatu kegiatan untuk
orang hukuman (orang yang
mewujudkan kehidupan dan
menjalani Hukuman karena tindak
penghidupan yang teratur, aman dan
pidana).1
tentram. Keamanan tersebut di

lakukan dengan terencana, terarah Dalam sistem pemasyarakatan

dan sistematis sehinga dapat seorang narapidana ketika berada di

menjamin terselengaranya kegiatan dalam lembaga pemasyarakatan

perawatan tahanan dan pembinaan seharusnya mendapatkan jaminan

warga binaan pemasyarakatan dalam hak-haknya sebagai seorang

rangka pencapaian tujuan narapidana tidak terkecuali jaminan

pemasyarakatan. rasa aman di dalam lembaga

pemasyarakatan,
Menurut Pasal 1 ayat (3)

Undang-Undang No. 12 Tahun 1995 Seperti yang di jelaskan dalam

tentang Pemasyarakatan (selanjutnya Pasal 46 UU Pemasyarakatan

di sebut UU Pemasyarakatan), menyebutkan kepala Lapas

menyebutkan“ lembaga bertangung jawab atas keamanan dan

pemasyarakatan yang selanjutnya ketertiban di LAPAS yang dia

disebut LAPAS adalah tempat pimpin. Sementara itu menurut Pasal

melakukan pembinaan narapidana 47 ayat (1) UU Pemasyarakatan

dan anak didik pemasayarakatan. 1


Pusat Bahasa Depdiknas, 1996,
Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi
Kedua, Balai Pustaka, Jakarta , hlm. 638.

3
tersebut menyatakan, kepala Lapas narapidana serta tidak terpenuhinya

berwenang memberikan tindakan hak-hak narapidana dalam hal

disiplin atau menjatuhkan hukuman keamanan dan ketertiban di lembaga

disiplin warga binaan pemasyarakatan. Berdasarkan

Pemasyarakatan yang melangar pemikiran diatas maka penulis

peraturan keamanan dan ketertiban di tertarik melakukan penelitian dan

lingkungan lapas yang di pimpinya. menuliskan dalam bentuk skripsi

yang berjudul “SISTEM


Sebagai contoh kurang
KEAMANAN DI LEMBAGA
terjaminya sistem keamanan di Lapas
PEMASYARAKATAN KELAS II
klas II A Biaro Bukitinggi, lima
A BIARO BUKITINGGI”
tahanan kasus Narkotika kabur dari

kamarnya Blok Melati Lapas Biaro B. Rumusan Masalah dan

pada hari Rabu 30 Desember 2015 Tujuan Penelitian

pagi. Para napi tersebut kabur dengan 1. Bagaimanakah penerapan

cara menggergaji crel kunci kamar sistem keamanan di

serta memanjat dinding teralis Lembaga Pemasyarakatan

setinggi 2,5 m2 . klas II A Biaro Bukitinggi ?

2. Apakah kendala-kendala
Terjadi kasus pelarian
dalam menerapkan sistem
narapidana di lembaga
keamanan di dalam
pemasyarakatan tidak lepas dari
Lembaga Pemasyarakatan
lemahnya sistem keamana bagi
klas II A Biaro Bukitinggi ?
2
Jontra,Lima Napi Kabur Dari Lapas
Biaro, Secara umum tujuan
https://www.gosumbar.com/berita/baca/2015
/12/30/lagi-lima-napi-kabur-dari-lp-biaro-
kelas-ii-a-bukittinggi, diakses, diakses penelitian ini adalah :
tanggal 18 oktober 2016, jam 23.00

4
1. Untuk mengetahui menghasilkan deskriptif yang berupa

bagaimana penerapan kata kata tertulis atau lisan dari orang

sistem keamanan di orang dan prilaku yang diamati

Lembaga Pemasyarakatan kemudian penelitian ini akan di

klas II A Biaro Bukitinggi rumuskan menjadi kesimpulan dalam

2. Untuk mengetahui kendala- penelitian

kendala dalam menerapkan


D. Hasil dan Pembahasan
sistem keamanan di
A. Penerapan Sistem
Lembaga Pemasyarakatan
Keamanan di Lembaga
klas II A Biaro Bukitinggi
Pemasyarakatan Kelas II A
C. Metode Penelitian
Biaro Bukitingi

Metode penelitian yang di


Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA
gunakan adalah metode pendekatan
Bukittinggi adalah Unit
yuridis sosiologis yaitu dalam
PelaksanaTeknis di bidang
menghadapi permasalahan yang di
Pemasyarakatan yang berada di
bahas berdasarkan peraturan
bawah Kementerian Hukum dan
perundang-undangan yang berlaku
HAM RI. Tugas keamanan lapas
kemudian di hubungkan dengan
dikepalai oleh Kepala Pengamanan
kenyataan yang terjadi dalam
Lapas yang di singkat ( KPLP ) yang
masyarakat. Sedangkan teknik
terdiri dari 4 Regu pengamanan,
pengumpul data adalah wawancara,
dimana di setiap regu terdapat 4
Studi dokumen, kemudian di analisis
orang petugas keamanan dan di
secara kualitatif yaitu deskriptif yaitu
kepalai oleh Komandan Regu
sebagai prosedur penelitian yang
Pengamanan (KARUPAM).

5
penerapan sistem keamanan di lapas Lapas biaro bukitingi terdiri 4

Kelas II A Biaro Bukitinggi Pos Atas, Penjagaan pos atas

dilakukan dengan cara sebagai dilakukan 4 orang petugas dimana

berikut : masing masing blok di isi 1 orang.

Adapun tugas pos atas adalah


1. Penerapa sistem keamanan di
mealakukan pengamatan tembok
bidang Penjagaan Pintu
keliling memastikan tidak ada
Gerbang Halaman, Pintu
aktifitas di sekitarnya.
Gerbang utama, Pintu Utama

(portir), Pos Atas, Blok, Penjagaan lingkungan blok

lingkungan blok dan Ruang lapas kelas II A Biaro Bukitingi di

Kunjungan. lakukan 1 orang petugas Regu

Keamanan yang tugasnya membuka,


Penjagaan pintu gerbang
menutup, mengunci pintu,
halaman di lakukan 1 orang,gerbang
mengawasi lalu lintas orang di
utama dijaga2 orangpetugas, pintu
lingkungan blok, pengeledahan
utama dijaga 1 orang petugas Regu
terhadap narapidana dan barang
Keamanan yang tugasnya membuka
barang yang mencurigakan yang
dan menutup pintu gerbang halaman
dapat menimbuatkan ganguan
luar sesuai jadwal yang telah di
keamanan di lingkungan blok.
tentukan. Selain itu melakukan

pemeriksaan keperluan orang yang Blok hunian Lapas kelas

memasuki lapas dan melakukan II A Biaro Bukitinggi terdiri

pemeriksaan barang dan kendaraan empat blok dimana masing

yang keluar masuk di lingkungan masing blok di jaga oleh 1 orang

pintu gerbang Lapas. petugas. Adapun tugas penjaga

6
blok keamanan adalah berkunjung, melakukan pengawalan

melakukan buka tutup dan terhadap narapidana resiko tinggi

pengucian sell, melakukan baik pada saat memasuki maupumn

pengecekan jumlah penghuni, meningalkan ruangan kunjungan

pengecekan keamaan sell baik serta mengendalikan situasi apabila

dalam bentuk perusakan Lapas, terjadi ganguan keamanan dan

perkelahian dan pelarian ketertiban di ruang kunjungan.

narapidana dari dalam sell. Selain


2. Penerapan Sistem Keamanan
itu petugas penjaga blok bertugas
di Bidang Pengeledahan
mengawasi masuknya barang
napidana dan sell
barang yang dapat menimbulkan
Pengeledahan narapidana atau
ganguan keamanan. Apabila
kamar hunian di Lembaga
terdapat barang barang terlarang
Pemasyarakatan Klas II A Biaro
petugas blok dapat mengeluarkan
Bukitinggi dilakukan dengan dua
barang terlarang tersebut dan
cara yaitu pengeledahan rutin dan
memberikan sanksi bagi
pengeledahan insidentil.
narapidana tesebut.
Pengeledahan rutin di lakukan 2 kali
Penjagaan ruangan kunjungan
dalam semingu baik terhadap
Lapas klas II A Biaro Bukitingi
narapidana maupun kamar hunian
dilakukan oleh 1 orang petugas
narapidana. Pengeledahan isidentil
keamanan. Dimana tugas nya
adalah pengeledahan mendadak
adalalah mengawasi kunjungan,
apabila ada informasi yang dapat
mengeledah pengunjung narpidana
mengangu keamanan seperti
atau tahanan yang telah selesai
narapidana yang membawa narkoba

7
atau senjata tajam, Maka sewaktu itu prasarana, memastikan narapidana

juga pengeledahan narapidana dan baik di dalam blok kamar dan tempat

kamar hunian. kerja melakukan aktifitas yang tidak

membahayakan diri sendiri atau


3. Penerapan Sistem Keamanan
lingkungan Lapas.
di Bidang Kontrol Petugas

dan Narapidana 4. Penerapan sistem keamanan

dalam hal pengamanan dan


Pelaksanaan kontrol merupakan
pengawalan keluar masuknya
tugas dari kepala Regu Pengamanan,
narapidana di Lingukungan
dalam pelaksanaanya pengontrolan
Lapas.
petugas atau narapidana belum
a. Tingkat pengawasan sangat
secara rutin dilakukan dalam satu
tinggi (maximum Security)
Sesuai peraturan perundang

undangan di karenakan ada hal-hal Dalam pengawasanya di Lapas

lain yang dilakukan karena kekurang minimal 1 orang narapidana di awasi

jumlah petugas. Pengontrolan 3 orang petugas keamanan dan

dilakukan pada saat pergantian shiff segala aktivitas narapidana ini di

yaitunya pagi, siang dan malam. catatat. Pada saat membawa

Adapun tugas di bidang Kontrol narapidana atau tahanaan ini keluar

adalah memeriksa keberadaan dari Lapas sesuai keperluan baik

petugas dan alat pengamanan di area untuk persidangan maupun karna

masing masing, memastikan alasan kekeluargaan yang sangat

keberfungsian sarana dan prasarana penting, narapidana ini di borgol dan

keamanan seperti besi terali sell, dikawal 5 orang petugas

kenci gembok sell dan semua

8
b. Tingkat pengawasan tinggi. Pada pengawasan tingkat

(maximum security) rendah narapidana atau tahanan di

beri kebebasan berkunjung dan


Dalam pengawasanya di Lapas
berkomunikasi dengan dunia luar.
minimal 1 orang narapidana di awasi
Dalam pengawasanya di Lapas
2 orang petugas. Pada saat membawa
narapidana ini di awasi 1 orang
narapidana atau tahanaan ini keluar
petugas blok keamanan. Pada saat
dari Lapas sesuai keperluan baik
membawa narapidana atau tahanaan
untuk persidangan maupun karna
ini keluar dari Lapas narapidan ini di
alasan kekeluargaan yang sangat
dikawal 2 orang petugas, 1 orang di
penting, narapidan dikawal 3 orang
sebelah kiri atau kanan narapidana
petugas.
dan 1 orang petugas .
c. Tingkat pengawasan
e. Standar Penindakan Ganguan
menengah (medium security)
Keamanan di Lembaga
Dalam pengawasanya di Lapas
Pemasyarakatan klas A Biaro
minimal 1 orang narapidana di awasi
Bukitinggi
1 orang petugas keamanan dan
Adapun tindakan pengamanan
segala aktivitas narapidana ini di
yang dilakukan apabila terjadi
catatat. Pada saat membawa
pekelahian di dalam maupun di luar
narapidana atau tahanaan ini keluar
kamar atau perkelahian masal adalah
dari Lapas sesuai narapidan ini
memberikan perintah menghentikan
dikawal 3 orang petugas
perkelahian, membuka pintu kamar
d. Tingkat pengawasan rendah
yang di lakukan oleh 2 orang regu
(minimum security)
pengamanan dan memisahkan

9
penghuni yang terlibat pekelahian, peralatan keamanan seperti gas air

apabila terjadi perlawanan petugas mata dan semprotan merica maupun

regu keamanan dapat melumpuhkan menembak kaki pelaku. Apabila

narapidana tersebut dengan gas air skala penyerangan meningkat KPLP

mata dan semprotan merica. Kemudian meminta Bantuan Polisi

Kemudian narapidana tersebut di atau TNI. Setelah suasana terkendali

pindahkan ke seel isolasi selama 3 KPLP melakukan pemeriksaan

hari untuk perkelahian didalam pelaku kemudian pelaku

maupun di luar kamar dan 6 hari penyerangan dan pemberontakan di

dalam sell isolasi bagi perkelahian beri tindakan disiplin dengan cara

masal sebagai tindakan disiplin yang pengurungan di sell isolasi selama 6

mengangu keamanan dan ketertiban. hari.

Penindakan pengamanan yang Apabila terjadi percobaan

dilakukan apabila terjadi pelarian dan pelarian tindakan yang

Penyerangan pada petugas, di lakukan adalah Kepala regu

Pemberontakan dan Penyerangan Segera memberikan Isyarat tanda

dari Luar langkah yang di lakukan bahaya dimana setiap angota regu

adalah memberikan perintah kepada bersiap sipa di setiap dan pos atas.

Regu Pengamanan untuk melakukan Kemudian memerintahkan kepada

pembatasan bergerak narapidana pelaku untuk menghentikan

berupa penguncian seluruh pintu. percobaan pelarian dengan

mengunakan tembakan tiga kali ke


Kemudian KPLP merintahkan Regu
atas. Apabila perintah tidak di
Pengamanan melumpuhkan
indahkan maka Regu pengamanan
narapidana dengan cara mengunakan

10
menembak kaki pelaku. Kemudian tahanan ketempat lebih aman di luar

mengamankan pelaku dan Lapas.

menempatkan pelaku ke sell isolasi


Adapun sanksi sanksi yang di
selama 6 hari. Sedangkan apabila
terapakan Lapas klas II A Biaro
pelarian sudah terjadi tindakan yang
Bukitingi dalam hal narapidana
di lakukan petugas Lapas adalah
melakukan perbuatan yang
melakukan pengeledahan dan
menimbulkan ganguan keamanan
pemeriksaan di lokasi pelarian
adalah
kamar atau blok hunian kemudian
1. Hukuman disiplin tingkat
berkordinasi dengan Polri dan TNI
ringan dalam bentuk
terdekat
peringatan lisan atau tulisan
Dalam keadaan terjadinya
2. Hukuman disiplin tingkat
bencana alam yang menimbulkan
sedang berupa pengasingan
ganguan keamanan dan pelarian dari
dalam sel selama 6 hari atau
Lapas tindakan yang dilakukan
menunda, meniadakan hak
Petugas satuan keamanan adalah
tertentu
mengeluarkan narapidana dan tahan
3. Hukuman disiplin tingkat
dari kamar hunian ketempat yang
beratberupa pengasingan
lebih aman dan terbuka. Hal
dalam sel selama 6 hari dapat
selanjutnya yang dilakukan Kepala
di perpanjang 2x6 serta
lapas adalah segera menghubungi
meniadakan hak tertentu.
Polri atau BNPB untuk membantu
B. Kendala-Kendala
memindahkan narapidana atau
Penerapan Sistem

Keamanan di Lembaga

11
Pemasyrakatan Klas II A di isi 434 narapidana sementara itu

Biaro Bukitinggi jumlah petugas lapas klas II A Biaro

1. Sumber Daya Manusia Bukitinggi 54 orang jadi tidak semua

kegiatan napirapidana yang


Masih rendahnya kwalitas
menganggu keamanan dapat
dan kwantitas pegawai Lembaga
diketahui di karenakan jumlah
Pemasyarakatan dilihat dari sifat dan
pegawainya tidak sebanding dengan
tugas khusus yang di bebankan
jumlah narapidana.
seperti masih terjadi pelarian

narapidana saat pengawalan di 3. Narapidana

karenakan kurangnya kehati hatian


narapidana yang belum
saat pengawalan. Dalam hal
menyadari tujuan diadakanya
kwantitas tidak sebandingnya jumlah
pembinaan dan penerapan sistem
petugas dengan narapidana ,Lapas
keamanan Lembaga Pemasyarakatan.
klas II A Biaro Bukitinggi terdiri dari
Mereka masih berangapan mereka
434 orang narapidana dan tahanan
adalah orang yang tidak merdeka dan
sementara petugas Lapas hanya 54
masih tidak sadar dengan kesalahan
orang, jadi tidak semua kegiatan
yang di perbuat walaupun sudah
narapidana dapat terkontrol.
dilakakukan pembinaan tetapi

2. Over Kapasitas masih melakukan perbuatan

melangar keamanan dan ketertiban


Dimana kapasitas Lapas Klas II A

Biaro Bukitinggi 284 narapidana dan E. Kesimpulan

tahanan sementara dalam A. Kesimpulan

kenyataanya Lapas Biaro Bukitinggi A. Simpulan

12
1. Penerapan sistem keamanan pembinaan narapidana dapat

lembaga pemasyarakatan berjalan dengan baik dan

kelas II A Biaro Bukitinggi penerapan sistem keamanan

belum sesuai menurut dapat terkendali.

peraturan yang berlaku 2. Perlunya diadakan penataran

yakninya Keputusan Dirjen atau pendidikan khusus, bagi

Pemasyarakatan Kementrian petugas Lapas untuk

Hukum Dan Ham Nomor: meningkatkan kemampuan

PAS- 416.PK.01.04.01 Tahun mereka dalam melaksanakan

2015 tentang Standar pengawasan narapidana di

Pencegahan Gangguan dalam Lapas maupun

Keamanan dan Ketertiban di pengawalan narapidana di

Lapas dan Rutan luar Lapas sehinga tidak

2. Kendal-kendala dalam terjadi lagi pelarian.

penerapan sistem keamanan 3. Pemenuhan hak-hak

di Lembaga Permasyarakatan narapidana dan adanya

Klas II A Biaro Bukitinggi sosialisasi anatara petugas

adalah :Sumberdaya dengan narapidana dalam

Manusia, Over kapasitas, melakukan kegiatan, serta

Narapidana tidak ada perlakuan membeda

B. Saran bedakan sesama narapidana.

1. Perlunya penambahan 4. Mengupayakan adanya

petugas dan penambahan luas pegawai yang mengikuti

wilayah Lapas sehinga tugas belajar berbagai bidang

13
ilmu terutama bidang Pusat Bahasa Depdiknas, Kamus
Besar Bahasa Indonesia Edisi
psikologi, sosiolog dan Kedua, Balai Pustaka, Jakarta.

keterampilan. Roeslan Saleh,1978, Stelsel Pidana


Indonesia, Aksara Baru,
Jakarta.
Daftar Pustaka
Romli Atmasasmita,1979, Sistim
Pemasyarakatan di Indonesia,
A. Buku
Percetakan Ekonomi, Bandung.
A Josias Simon R dan Thomas Soerjono Soekanto , 1986, Pengantar
Sunaryo, 2010, Studi Kebudayaan Penelitian hukum, UI-Pres,
Lembaga Pemasyarakatan di Jakarta.
Indonesia, Lubuk Agung, Bandung.
Sudarman Danim, 2002, Menjadi
Andi Hamzah, 1993, Sistem Pidana Penelitian Kualitatif,Pustaka
dan Pemidanaan di Indonesia, Setia,Bandung.
Pradnya Paramita, Jakarta.
Zainudin, 2013, Metode Penelitian
Bambang Poernomo, 1986, Hukum, Sinar Grafika, Jakarta.
Pelaksanaan Pidana Penjara B. Peraturan Perundang-
Dengan Sistem Pemasyarakata, Undangan
Liberty, Yogyakarta.
Undang-undang No. 12 Tahun 1995
Barda Nawawi Arief,2002, Bunga tentang Pemasyarakatan .
Rampai Kebijakan Hukum
pidana, Citra Aditya Bakti, Undang-undang No. 39 Tahun 1999
Bandung. tentang Hak Asasi Manusia.

Bambang Walayu , 2004, Pidana Kepmenkeh RI Nomor M-


dan pemidanaan, Sinar 02.PR.08.10 Tahun 1983
Grafika, Jakarta. tentang Pola Pembinaan
Keamanan dan Ketertiban.
Djisman Samosir, 1982, Fungsi
Pidana Penjara dalam Sistem Kepmenkeh Rl Nomor M.02-
Pembinaan Narapidana di PK.04.10 Tahun 1990 tentang
Indonesia, Pradnya Paramita, Pola Pembinaan Narapidana
Jakarta. dan Tahanan.
Keputusan Direktur Bina Tuna
P. A. F. Lamintang dan Theo
Warga Nomor: DP.3/18/14
Lamintang, 2010, Hukum
Tahun 1974 tentang Peraturan
Penitensier Indonesia, Sinar
Pengamanan Lembaga
Grafika, Jakarta.
Pemasyarakatan.
Priyatno Dwidja, 2006, Sistem Keputusan Dirjen Pemasyarakatan
pelaksanaan Pidana Penjara di Kementrian Hukum Dan
Indonesia,PT Refika Aditama, Ham Nomor: PAS-
Jakarta . 416.PK.01.04.01 Tahun 2015

14
tentang Standar Pencegahan http ://www.komisi.kepolisian
Gangguan Keamanan Dan Indonesia.com/php?page=artikel kid,
Ketertiban Di Lapas Dan di akses tanggal 17 september 2016
Rutan. jam 22.00
Keputusan Dirjen Pemasyarakatan Ebta Setiawan, 2012, Pengertian
Kementrian Hukum Dan Sistem Keamanan,
Ham Nomor: PAS- https://kamus.cektkp.com/keamanan/
459.PK.01.04.01 Tahun 2015 -, diakses tangal 20 september 2016
tentang Standar Penindakan jam 22.00
Gangguan Keamanan Dan
Ketertiban Di Lapas Dan
Rutan.
Kepmenkeh Rl Nomor M.01-
PR.07.03 Tahun 1985 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Lembaga
Pemasyarakatan.
Peraturan Mentri Hukum Dan Ham Nomor
33 tahun 2015 tentang Pengamanan
Pada Lembaga Pemasyarakatan Dan
Rumah Tahanan Negara
Keputusan Direktur Jenderal
Pemasyarakatan Nomor
E.22.PR.O8.O3 Tahun 2001
tentang Prosedur Tetap
Pelaksanaan Tugas
Pemasyarakatan. (PROTAP).

C. Internet

Jontra, 2015, Lima Napi Kabur Dari


Lapas Biaro,
https://www.gosumbar.com/berita/ba
ca/2015/12/30/lagi-lima-napi-kabur-
dari-lp-biaro-kelas-ii-a-bukittinggi,
diakses, diakses tanggal 18 oktober
2016, jam 23.00

Pandji susilo, 2012, Tinjauan Umum


Tentang Sistem Keamanan,

15