Sie sind auf Seite 1von 195

HASIL PERHITUNGAN CROSS WIND

N-S
PRESENTASE (%)
KECEPATAN
TOTAL (%)
ANGIN 10-20 KNOT 20-40 KNOT 40-60 KNOT

N 1.500 2.000 1.500 5.000

1.000 1.000 1.000

NNE 2.000 2.500 2.500 5.818

1.000 0.978 0.549

NE 2.000 2.250 2.500 2.832

1.000 0.370 0.000

EEN 1.750 2.250 2.500 1.896

1.000 0.065 0.000

E 2.000 1.750 2.750 2.004

1.000 0.002 0.000

EES 1.500 3.000 2.500 1.695

1.000 0.065 0.000

SE 2.000 2.250 2.500 2.832

1.000 0.370 0.000

SSE 1.250 2.250 2.500 4.823

1.000 0.978 0.549

S 2.000 2.250 2.750 7.000

1.000 1.000 1.000

SSW 1.000 1.500 2.000 3.565

1.000 0.978 0.549

SW 2.000 2.000 2.500 2.740

1.000 0.370 0.000

WWS 1.250 2.250 2.000 1.396

1.000 0.065 0.000


W 1.000 1.500 2.000 1.003

1.000 0.002 0.000

WWN 1.250 2.000 2.500 1.380

1.000 0.065 0.000

NW 1.000 1.500 3.000 1.555

1.000 0.370 0.000

NNW 2.000 2.500 3.400 6.312

1.000 0.978 0.549

CLAM 1.350 1.350

SUB TOTAL 53.201


HASIL PERHITUNGAN CROSS WIND

NNE - SSW
PRESENTASE (%)
KECEPATAN
TOTAL (%)
ANGIN 10-20 KNOT 20-40 KNOT 40-60 KNOT

N 1.500 2.000 1.500 4.279

1.000 0.978 0.549

NNE 2.000 2.500 2.500 7.000

1.000 1.000 1.000

NE 2.000 2.250 2.500 5.573

1.000 0.978 0.549

EEN 1.750 2.250 2.500 2.582

1.000 0.370 0.000

E 2.000 1.750 2.750 2.114

1.000 0.065 0.000

EES 1.500 3.000 2.500 2.610

1.000 0.370 0.000

SE 2.000 2.250 2.500 5.573

1.000 0.978 0.549

SSE 1.250 2.250 2.500 1.255

1.000 0.002 0.000

S 2.000 2.250 2.750 5.711

1.000 0.978 0.549

SSW 1.000 1.500 2.000 4.500

1.000 1.000 1.000

SW 2.000 2.000 2.500 5.329

1.000 0.978 0.549

WWS 1.250 2.250 2.000 2.082


1.000 0.370 0.000

W 1.000 1.500 2.000 1.097

1.000 0.065 0.000

WWN 1.250 2.000 2.500 1.990

1.000 0.370 0.000

NW 1.000 1.500 3.000 4.115

1.000 0.978 0.549

NNW 2.000 2.500 3.400 2.005

1.000 0.002 0.000

CLAM 1.350 1.350

SUB TOTAL 59.165


HASIL PERHITUNGAN CROSS WIND

NE - SW
PRESENTASE (%)
KECEPATAN
TOTAL (%)
ANGIN 10-20 KNOT 20-40 KNOT 40-60 KNOT

N 1.500 2.000 1.500 2.240

1.000 0.370 0.000

NNE 2.000 2.500 2.500 5.818

1.000 0.978 0.549

NE 2.000 2.250 2.500 6.750

1.000 1.000 1.000

EEN 1.750 2.250 2.500 5.323

1.000 0.978 0.549

E 2.000 1.750 2.750 2.647

1.000 0.370 0.000

EES 1.500 3.000 2.500 1.695

1.000 0.065 0.000

SE 2.000 2.250 2.500 2.005

1.000 0.002 0.000

SSE 1.250 2.250 2.500 1.396

1.000 0.065 0.000

S 2.000 2.250 2.750 2.832

1.000 0.370 0.000

SSW 1.000 1.500 2.000 3.565

1.000 0.978 0.549

SW 2.000 2.000 2.500 6.500

1.000 1.000 1.000

WWS 1.250 2.250 2.000 4.548


1.000 0.978 0.549

W 1.000 1.500 2.000 1.555

1.000 0.370 0.000

WWN 1.250 2.000 2.500 1.380

1.000 0.065 0.000

NW 1.000 1.500 3.000 1.003

1.000 0.002 0.000

NNW 2.000 2.500 3.400 2.162

1.000 0.065 0.000

CLAM 1.350 1.350

SUB TOTAL 52.770


HASIL PERHITUNGAN CROSS WIND

EEN - WWS
PRESENTASE (%)
KECEPATAN
TOTAL (%)
ANGIN 10-20 KNOT 20-40 KNOT 40-60 KNOT

N 1.500 2.000 1.500 1.630

1.000 0.065 0.000

NNE 2.000 2.500 2.500 2.925

1.000 0.370 0.000

NE 2.000 2.250 2.500 5.573

1.000 0.978 0.549

EEN 1.750 2.250 2.500 6.500

1.000 1.000 1.000

E 2.000 1.750 2.750 5.222

1.000 0.978 0.549

EES 1.500 3.000 2.500 2.610

1.000 0.370 0.000

SE 2.000 2.250 2.500 2.146

1.000 0.065 0.000

SSE 1.250 2.250 2.500 1.255

1.000 0.002 0.000

S 2.000 2.250 2.750 2.146

1.000 0.065 0.000

SSW 1.000 1.500 2.000 1.555

1.000 0.370 0.000

SW 2.000 2.000 2.500 5.329

1.000 0.978 0.549

WWS 1.250 2.250 2.000 5.500


1.000 1.000 1.000

W 1.000 1.500 2.000 3.565

1.000 0.978 0.549

WWN 1.250 2.000 2.500 1.990

1.000 0.370 0.000

NW 1.000 1.500 3.000 1.097

1.000 0.065 0.000

NNW 2.000 2.500 3.400 2.005

1.000 0.002 0.000

CLAM 1.350 1.350

SUB TOTAL 52.398


HASIL PERHITUNGAN CROSS WIND

E-W
PRESENTASE (%)
KECEPATAN
TOTAL (%)
ANGIN 10-20 KNOT 20-40 KNOT 40-60 KNOT

N 1.500 2.000 1.500 1.504

1.000 0.002 0.000

NNE 2.000 2.500 2.500 2.162

1.000 0.065 0.000

NE 2.000 2.250 2.500 2.832

1.000 0.370 0.000

EEN 1.750 2.250 2.500 5.323

1.000 0.978 0.549

E 2.000 1.750 1.000 4.750

1.000 1.000 1.000

EES 1.500 3.000 2.500 5.806

1.000 0.978 0.549

SE 2.000 2.250 2.500 2.832

1.000 0.370 0.000

SSE 1.250 2.250 2.500 1.396

1.000 0.065 0.000

S 2.000 2.250 2.750 2.005

1.000 0.002 0.000

SSW 1.000 1.500 2.000 1.097

1.000 0.065 0.000

SW 2.000 2.000 2.500 2.740

1.000 0.370 0.000

WWS 1.250 2.250 2.000 4.548


1.000 0.978 0.549

W 1.000 1.500 2.000 4.500

1.000 1.000 1.000

WWN 1.250 2.000 2.500 4.579

1.000 0.978 0.549

NW 1.000 1.500 3.000 1.555

1.000 0.370 0.000

NNW 2.000 2.500 3.400 2.162

1.000 0.065 0.000

CLAM 1.350 1.350

SUB TOTAL 51.144


HASIL PERHITUNGAN CROSS WIND

SSE - NNW
PRESENTASE (%)
KECEPATAN
TOTAL (%)
ANGIN 10-20 KNOT 20-40 KNOT 40-60 KNOT

N 1.500 2.000 1.500 4.279

1.000 0.978 0.549

NNE 2.000 2.500 2.500 2.925

1.000 0.370 0.000

NE 2.000 2.250 2.500 3.520

1.000 0.065 0.549

EEN 1.750 2.250 2.500 4.255

1.000 0.002 1.000

E 2.000 1.750 2.750 3.625

1.000 0.065 0.549

EES 1.500 3.000 2.500 7.000

1.000 1.000 1.000

SE 2.000 2.250 2.500 5.573

1.000 0.978 0.549

SSE 1.250 2.250 2.500 6.000

1.000 1.000 1.000

S 2.000 2.250 2.750 5.711

1.000 0.978 0.549

SSW 1.000 1.500 2.000 1.555

1.000 0.370 0.000

SW 2.000 2.000 2.500 3.504

1.000 0.065 0.549

WWS 1.250 2.250 2.000 3.255


1.000 0.002 1.000

W 1.000 1.500 2.000 2.196

1.000 0.065 0.549

WWN 1.250 2.000 2.500 1.990

1.000 0.370 0.000

NW 1.000 1.500 3.000 4.115

1.000 0.978 0.549

NNW 2.000 2.500 3.400 7.900

1.000 1.000 1.000

CLAM 1.350 1.350

SUB TOTAL 68.751


HASIL PERHITUNGAN CROSS WIND

SE - NW
PRESENTASE (%)
KECEPATAN
TOTAL (%)
ANGIN 10-20 KNOT 20-40 KNOT 40-60 KNOT

N 1.500 2.000 1.500 2.240

1.000 0.370 0.000

NNE 2.000 2.500 2.500 2.162

1.000 0.065 0.000

NE 2.000 2.250 2.500 2.005

1.000 0.002 0.000

EEN 1.750 2.250 2.500 1.896

1.000 0.065 0.000

E 2.000 1.750 2.750 2.647

1.000 0.370 0.000

EES 1.500 3.000 2.500 5.806

1.000 0.978 0.549

SE 2.000 2.250 2.500 6.750

1.000 1.000 1.000

SSE 1.250 2.250 2.500 4.823

1.000 0.978 0.549

S 2.000 2.250 2.750 2.832

1.000 0.370 0.000

SSW 1.000 1.500 2.000 1.097

1.000 0.065 0.000

SW 2.000 2.000 2.500 2.004

1.000 0.002 0.000

WWS 1.250 2.250 2.000 1.396


1.000 0.065 0.000

W 1.000 1.500 2.000 1.555

1.000 0.370 0.000

WWN 1.250 2.000 2.500 4.579

1.000 0.978 0.549

NW 1.000 1.500 3.000 5.500

1.000 1.000 1.000

NNW 2.000 2.500 3.400 6.312

1.000 0.978 0.549

CLAM 1.350 1.350

SUB TOTAL 54.956


HASIL PERHITUNGAN CROSS WIND

EES - WWN
PRESENTASE (%)
KECEPATAN
TOTAL (%)
ANGIN 10-20 KNOT 20-40 KNOT 40-60 KNOT

N 1.500 2.000 1.500 1.630

1.000 0.065 0.000

NNE 2.000 2.500 2.500 2.005

1.000 0.002 0.000

NE 2.000 2.250 2.500 2.146

1.000 0.065 0.000

EEN 1.750 2.250 2.500 2.582

1.000 0.370 0.000

E 2.000 1.750 2.750 5.222

1.000 0.978 0.549

EES 1.500 3.000 2.500 7.000

1.000 1.000 1.000

SE 2.000 2.250 2.500 5.573

1.000 0.978 0.549

SSE 1.250 2.250 2.500 2.082

1.000 0.370 0.000

S 2.000 2.250 2.750 2.146

1.000 0.065 0.000

SSW 1.000 1.500 2.000 1.003

1.000 0.002 0.000

SW 2.000 2.000 2.500 2.130

1.000 0.065 0.000

WWS 1.250 2.250 2.000 2.082


1.000 0.370 0.000

W 1.000 1.500 2.000 3.565

1.000 0.978 0.549

WWN 1.250 2.000 2.500 5.750

1.000 1.000 1.000

NW 1.000 1.500 3.000 4.115

1.000 0.978 0.549

NNW 2.000 2.500 3.400 2.925

1.000 0.370 0.000

CLAM 1.350 1.350

SUB TOTAL 53.307


Data -data Perencanaan Desain Lapangan Terbang adalah sebagai berikut :
I Data Jenis Pesawat B-707-320B
1. Annual Departure = 1575
2. ARFL = 3352.8 m
3. Wingspan = 41.92 m
4. OMGWS (Jari - Jari Putar) = 26.85 m
5. Type Roda Pendaratan = Dual Wheel
6. MTOW (Max Take-off) = 137500 Kg 302863.4361233
7. Length (Panjang Badan Pesawat) = 45.9 m
8 Type Pressure = 1240 kpa

II Data Daerah Rencana Pembangunan Lapangan Terbang


a. Ketinggian = 236 (MSL)
b. Temperatur Rata - rata = 28 °C
c. Gradian Efektif = 0.80 %

IV Data Konstruksi Lapisan Perkerasan


a. CBR Subgrade = 5%
b. CBR Subbase = 30 %
c. Angin Permukaan / Angin Samping = 20 Knot =

MENGHITUNG FAKTOR KOREKSI


a. Koreksi Elevasi
h
Fе = 1 + 0.07
300
236
Fе = 1 + 0.07
300
= 1.055

b. Koreksi Temperatur
Ft = 1 + 0.01 [ T - (
= 1 + 0.01 [ 28 - (
= 1.145
c. Koreksi Kemiringan Runway
Fs = 1 + 0.1000 S
= 1 + 0.1 x 0.008
= 1.0008

d. Koreksi Angin Permukaan


Tentang pengaruh angin permukaan terhadap panjang runway, maka untuk kekuatan angin 20 kno
fw = -5 % = -0.05

MENGHITUNG PANJANG RUNWAY MINIMUN DENGAN METODE ARFL


a.
ARFL = ( ARFLren x Ft x Fе x
= ( 3352.8 x 1.145 x 1.055 x
= 3887 m

b. Kondisi Landing
ARFL = ( ARFLrencana x Fе ) +
ARFL = ( 3352.8 x 1.0550666667 ) +
= 3370 m

Setelah dilakukan koreksi terhadap faktor diatas,


maka panjang runway perencanaan (ARFL) adalah
= 3887 m

ANALISA ANGIN
Persyaratan ICAO Chapter 3.1.3, pesawat dapat mendarat dan lepas landas pada sebuah lapangan terba
dari waktu crosswind dengan tidak melebihi :

TABEL ICAO Crosswind design criteria


Panjang runway (m) Kekuatan angin (knots)
> 1200 10 ( 19 km/h )
> 1200 - 1500 13 ( 24 km/h )
> 1500 20 ( 37 km/h )

sumber : ICAO - Annex 14 vol.1 Aerodrome Design and Operation

Crosswind maksimum yang diizinkan untuk airport dengan panjang runway > 1500 m ( untuk pes
adalah 20 knot (23 mph). Untuk alat ukur yang tingginya 20 feet, memiliki faktor koreksi sebesar

Sehingga lebar wind coverage (a) :


a = 2xPcw
c
= 2 x 23
1
= 46 Mpa

HASIL PERHITUNGAN ANALISA ANGIN


NO. ARAH ANGIN KECEPATAN ANGIN D
1 NNE-SSW #REF!
2 N -S #REF!
3 NE - SW #REF!
4 EEN - WWS #REF!
5 E-W #REF!
6 EES - WWN #REF!
7 SE - NW #REF!
8 SSE - NNW #REF!

Orientasi runway selalu berorientasi terhadap arah angin (prevailing wind). Dimana pada saat pes
harus bebas dari komponen angin yang arahnya tegak lurus arah pesawat seminimal mungkin (cro

Pada desain ini, arah angin dominan adalah arah EEN-WWS


(sesuai arah angin dominan). Posisi arah runway yaitu :
- EEN 70°
- WWS 250°
Maka akan didesain runway satu arah dengan penomoran pada landasan (runway designator) yan
EEN - WWS 70-250
302863.436123348 lbs

23 Mpa

15 - { 0.0065 x h } )
15 - { 0.0065 x 236 } )
ang runway, maka untuk kekuatan angin 20 knot faktor koreksi angin

Fs ) + ( ARFL x fw )
1.0008 ) + ( 3352.8 x -0.05 )

( ARFL x fw )
( 3352.8 x -0.05 )

rat dan lepas landas pada sebuah lapangan terbang pada 95%
Aerodrome Design and Operations, 2009

t dengan panjang runway > 1500 m ( untuk pesawat DC-10-30, runway 3416 m)
gginya 20 feet, memiliki faktor koreksi sebesar c = 1.0

KECEPATAN ANGIN DOMINAN


#REF!
#REF!
#REF!
#REF!
#REF!
#REF!
#REF!
#REF!

angin (prevailing wind). Dimana pada saat pesawat take-off dan landing
gak lurus arah pesawat seminimal mungkin (cross wind kecil).
omoran pada landasan (runway designator) yang mengarah dari
Berikut adalah Data Angin (DATA 1)

10 - 20 20 - 40 40 - 60
Arah TOTAL
knot knot knot
N 1.50 2.00 1.50 5.00
NNE 2.00 2.50 2.50 7.00
NE 2.00 2.25 2.50 6.75
EEN 1.75 2.25 2.50 6.50
E 2.00 1.75 2.75 6.50
EES 1.50 3.00 2.50 7.00
SE 2.00 2.25 2.50 6.75
SSE 1.25 2.25 2.50 6.00
S 2.00 2.25 2.75 7.00
SSW 1.00 1.50 2.00 4.50
SW 2.00 2.00 2.50 6.50
WWS 1.25 2.25 2.00 5.50
WWS 1.00 1.50 2.00 4.50
WWN 1.25 2.00 2.50 5.75
NW 1.00 1.50 3.00 5.50
NNW 2.00 2.50 3.40 7.90
CALM angin < 10 knot 1.35
JUMLAH
100.00

Dalam desain ini panjang runway rencana yaitu :


3416 m ( > 1500 m ),
maka kekuatan angin yang digunakan adalah
tidak melebihi 20 knot.
PENENTUAN KARAKTERISTIK PESAWAT
Penetuan ARFL
Langkah awal dalam perencanaan lapangan terbang adalah penentuan
batasan panjang landasan pacu. Dari tipe pesawat yang diberikan, perlu
untuk mengetahui karakteristik pesawat agar mempermudah mengetahui
panjang landasan pacu minimum yang dipakai setelah beberapa kali tes
yang dilakukan pleh pabrik pembuat pesawat terbang yang bersangkutat
(Aeroplane Referebce Field Length).

Karateristik Pesawat Terbang Komersial menurut Ir.HERU BASUKI


AEROPLANE REF AEROPLANE CHARACTERISTICS
TYPE CODE ARFL WINGSPAN OMGWS Length MTOW TP
(m) (m) (m) (m) (kg) (kPa)
McDonnell Douglas
DC - 9 -32 4C 2134 28.5 6 37.8 48988 -
DC10-30 4D 3170 50.4 12.6 55.4 251744 1276
Lockheed
L1011-100/200 4D 2469 47.3 12.8 54.2 211378 1207
McDonnell Douglas
MD11 4D 2207 51.7 12.0 61.2 273289 1400
Tupolev TU154 4D 2160 37.6 12.4 48 90300 -
Airbus
A 330-200 4E 2713 60.3 12.0 59.0 230000 1400
A 330-300 4E 2560 60.3 12.0 63.6 230000 1400
A 340-300 4E 2200 60.3 12.0 63.7 253500 1400
Boeing
B747-SP 4E 2710 59.6 12.4 56.3 318420 1413
B747-300 4E 3292 59.6 12.4 70.4 377800 1323
B747-400 4E 3383 64.9 12.4 70.4 394625 1410
B707-320b 4D 3505 43.41 7.9 46.61 151321 1240

Dari tabel diatas, digunakan pesawat rencana tipe Boeing


B-707-320B sebagai pesawat dengan panjang landas pacu yaitu 3821 m.
PENGGOLONGAN KODE RUNWAY
Dari data jenis dan karakteristik pesawat telah diketahui
kode runway untuk tipe pesawat B - 707 -320B adalah 4C.
Berdasarkan ARFL take-off maka Aerodrome Reference Code
( ARC ) yaitu :

TABEL Arodrome Reference Code ( ARC )


Kode Elemen I Kode Elemen II
Kode Angka ARFL (m) Kode HurufBentang Sayap (m) Jarak terluar roda utama (m)
1 < 800 A < 15 < 4.5
2 800 - 1200 B 15 - 24 4.5 - 6
3 1200 - 1800 C 24 -36 6-9
4 > 1800 D 36 - 52 9 - 14
E 52 - 65 9 - 14
F 65 - 80 14 - 16

sumber : Perencanaan dan Perancangan Bandar Udara KP 39 Tahun 2015

ARFL ( take-off) = 3887 m


Wingspan = 41.92 m
OMGWS = 26.85 m
Aerodrome Reference Code = 4D
SUMBER : KARAKTERISTIK PESAWAT TERBANG UDARA KP 39 Tahun 2015
DECLARED DISTANCE

Dengan menunjuk pada paragraf 6.2.5.2, lebar dari sebuah runway harus tidak
Kurang dari yang telah ditentukan dalam Tabel 6.2-1.Operation, KP 39 2015
menggunakan runway tipe 4D.
TABEL LEBAR RUNWAY MINIMUM
Code Code Letter
Number A B C D E F
1 18 m 18 m 23 m - - -
2 23 m 23 m 30 m - - -
3 30 m - 30 m 45 m - -
4 - - 45 m 45 m 45 m 60 m

TABEL LEBAR SHOULDERS :


Code Penggolongan
Lebar Bahu (m)
Letter Pesawat
A I 3
B II 3
C III 6
D IV 7.5
E V 10.5
F VI 12
(Sumber : Peraturan Dirjen Perhubungan Udara SKEP/77/VI/2005)

a. Lebar runway = 45 m
b. Bahu runway = 7.5 m
c. Runway strip
panjang runway = 60 m
lebar runway = 300 m

TABEL DIMENSI RUNWAY STRIP


Code Letter
URAIAN
1 2 3 4
panjang runway strip
Instrumen runway 60m 60m 60m 60m
Non-instrumen runway 30m 60m 60m 60m
lebar runway strip
Instr.precision approach 150m 150m 300m 300m
Instr.non-precision approach 90m 90m 150m 300m
Non-instrumen runway 60m 60m 150m 150m
Kemiringan Transverse 3% 3% 2.50% 2.50%
Kemiringan Longitudinal 2% 2% 1.75% 1.50%
Tabel RESA berdasarkan Peraturan Dirjen Perhubungan Udara SKEP/77/VI/2005

Code Letter/ Penggolongan Pesawat


Uraian
A/1 B/II C/III D/IV E/V
Landasan instrument (m) 90 90 90 90 90
Landasan non - instrument (m) 60 60 90 90 90
Lebar Minimum (m) 18 23 30 45 45
Kemiringan memanjang maxs.(%) 5 5 5 5 5
Kemiringan melintang maxs.(%) 5 5 5 5 5

(Sumber : Peraturan Dirjen Perhubungan Udara SKEP/77/VI/2005)

d.Stopway
panjang = 300 m (demi kemanan panjang stopway diperpanjang )
lebar = Lbr R/w + 2 x Shoulders

= 45 + ( 2 x 7.5

= 60 m
e.Clearway
panjang = 0.25 x TORA
= 0.25 x 3887
= 971.790 m
lebar = 150 m (Kode 4)
f.Runway end safety area (RESA)
panjang = 240m ( atau menngikuti panjang displacted Treshold )
lebar = 2 x Lebar R/W
= 2 x 45 = 90 m
g.Threshold
panjang = (Lebar R/W + 2 x Bahu)
= 45 + 2 x 7.5
= 60 m

tebal = 1.8 m

PERHITUNGAN DECLARED DISTANCES


1. Take-0ff run available (TORA)
TORA = panjang ARFL take-off
TORA = 3887 m
2. Take-off distance available (TODA)
TODA = TORA + CWY
TODA = 3887 + 971.790
TODA = 4859 m

3. Accelerate-stop distance available (ASDA)


ASDA = TORA + SWY
ASDA = 3887 + 60
ASDA = 3947 m

4. Landing distance available (LDA)


LDA = panjang ARFL landing
LDA = 3370 m
Displaced threshold = TORA - LDA
= 3887 - 3370
= 517.371 m
Code Letter/ Penggolongan Pesawat
F/VI
90
90
60
5
5

(demi kemanan panjang stopway diperpanjang )

)
MENGHITUNG PANJANG RUNWAY BERDASARKAN BEBERAPA KONDISI
A. Keadaan Lepas Landas (take-off) normal
TODA = 1.15 x ARFL take-off = 1.15 x 3887
LODA = 0.55 x TODA = 0.55 x 4470.2323
CW = 0.5 x [TODA - (1.15 x LODA)] = 0.5 ( 4470 -
TORA = TODA - CW = 4470.2323 - 821.40518
FL = FS + CW→(FS=TORA) = 3648.8271 + 821.40518

B. Keadaan Pendaratan (landing) normal


LD = TODA = 4470
SD = 0.6 x LD = 0.6 x 4470
CW = 0.5 x (TODA - LODA) = 0.5 x ( 4470
SW = 0.05 x LD = 0.05 x 4470
FL = TORA + CW→(TORA=ARFL) = 3887 + 1005.8023

C. Keadaan Take-Off Over Shoot


LD = TODA = 4470
LODA = 0.75 x TODA = 0.75 x 4470.2323
CW = 0.5 x (TODA - LODA) = 0.5 x ( 4470
SW = 0.05 x LD = 0.05 x 4470.2323

D. Keadaan Kegagalan Mesin


LD = TODA = 4470
SD = 0.6 x LD = 0.6 x 4470
CW = 0.15 x LD = 0.15 x 4470
SW = 0.05 x LD = 0.05 x 4470
FL = TORA + SW→(TORA=ARFL) = 3887 + 223.51161

E. Keadaan Poor Approach


LD = TODA = 4470
SD = 0.6 x LD = 0.6 x 4470
CW = 0.15 x LD = 0.15 x 4470
SW = 0.05 x LD = 0.05 x 4470
= 4470.232 m
= 2458.628 m
( 1.15 x 2458.63 ) = 821.405 m
= 3648.827 m
= 4470.232 m

= 4470.232 m
= 2682.139 m
- 2458.628 ) = 1005.802 m
= 223.512 m
= 4892.961 m

= 4470.232 m
= 3352.674 m
- 2458.628 ) = 1005.802 m
= 223.512 m

= 4470.232 m
= 2682.139 m
= 670.535 m
= 223.512 m
= 4110.670 m

= 4470.232 m
= 2682.139 m
= 670.535 m
= 223.512 m
KEMIRINGAN RUNWAY
A. Kemiringan Memanjang ( Longitudinal)
Persyaratan dan kemiringan memanjang landasan
yang mengacu pada peraturan ICAO,
kode angka 4 berdasarkan ARFL diperoleh :

TABEL LONGITUDINAL SLOPE RUNWAY


code letter
URAIAN
4 3 2 1
Max. efektif slope 1.0 1.0 2.0 2.0
Max. longitudinal slope 1.25 1.5 2.0 2.0
Max. longitudinal change 1.5 1.5 2.0 2.0
Slope change per 30 m 0.1 0.2 0.4 0.4
sumber : Manual of Standar (MOS) - Part 139 Aerodromes 2002

B. Kemiringan melintang (transversal)


Berdasarkan tabel transverse slope runway untuk kode runway
C,D,E atau F memiliki kriteria :
Kemiringan maksimum = 2.00%
Kemiringan diinginkan = 1.50%
Kemiringan minimum = 1.00%

TABEL TRANSVERSE SLOPE RUNWAY


code letter
URAIAN
A atau B C, D, E atau F
Kemiringan maksimum 2.50% 2.00%
Kemiringan diinginkan 2.00% 1.50%
Kemiringan minimum 1.50% 1.00%

sumber : Manual of Standar (MOS) - Part 139 Aerodromes 2002

PERENCANAAN TAXIWAY
Berdasarkan tabel jenis dan karakteristik pesawat, maka untuk jenis
pesawat B707-320B yang termasuk golongan 4D
memiliki karakteristik sebagai berikut :
a.ARFL = 3352.8 m
b.Wingspan = 41.92 m
c.OMGWS = 26.85 m
d.Length = 45.9 m
e.MTOW = 137500 kg
f.Tipe pressure = 1240 kPa

JARAK BEBAS TEPI TAXIWAY


Jarak bebas minimum ( minimum clearance) pada perencanaan
taxiway berdasarkan tabel dibawah ini, yaitu sebesar 3m.
TABEL BEBAS MINIMUN ANTARA OMGWS DENGAN TEPI TAXIWAY
Code Letter Clearance
A 1.5m
B 2.25m
3m if the taxiway is intended to be used by aeroplanes
with a wheel base less than 18m
C
4.5m if the taxiway is intended to be used by aeroplanes
with a wheel base equel to or greater than 18m
D 4.5m
E 4.5m
F 4.5m
sumber : ICAO - Annex 14 vol.1 Aerodrome Design and Operations, 2009

LEBAR TAXIWAY
Berdasarkan tabel dibawah, maka lebar taxiway untuk kode letter D
dan dengan outer main gear wheel span 6.9m adalah 18m.

TABEL LEBAR MINIMUM UNTUK STAIGHT SECTION TAXIWAY


Code Letter Taxiway widht
A 7.5m
B 10.m
15m if the taxiway is intended to be used by aeroplanes
with a wheel base less than 18m
C
18m if the taxiway is intended to be used by aeroplanes
with a wheel base equel to or greater than 18m
18m if the taxiway is intended to be used by aeroplanes
with a wheel base less than 9m
D
23m if the taxiway is intended to be used by aeroplanes
with a wheel base equel to or greater than 9m
E 23m
F 25m
sumber : ICAO - Annex 14 vol.1 Aerodrome Design and Operations, 2009

KEMIRINGAN TAXIWAY
Berdasarkan Annex 14 chapter 3.9.9 dan 3.9.10, jika huruf kode taxiway
C, D, E atau F maka :
a. Kemirigan memanjang (longitudinal slope) disepanjang seberang bagian
dari taxiway tidak boleh lebih dari 1.5%. Jika perubahan kemiringan tidak
dapat dihindarkan, maka tingkat perubahan tidak lebih dari 1% per 30m.
b. Kemiringan melintang (transverse slope) pada seberang bagian taxiway
harus memadai untuk mencegah pengakumulasian air dan tidak boleh
kurang dari 1.0% dan tidak boleh lebih dari 1.5%.

JARAK PANDANG TAXIWAY


Garis pandang tak terhalang di sepanjang permukaan taxiway, dari suatu
titik di atas taxiway, tidak boleh kurang dari jarak yang ditentukan dengan
menggunakan tabel berikut :

TABEL STANDAR UNTUK GARIS PANDANG TAXIWAY


Code Letter Minimum line of sight
A 150m dari 1.5m diatas taxiway
B 200m dari 2m diatas taxiway
C, D, E atau F 300m dari 3m diatas taxiway
sumber : Manual of Standar (MOS) - Part 139 Aerodromes 2002
JARAK MINIMUM PEMISAHAN TAXIWAY
Berdasarkan tabel minimun pemisahan taxiway untuk kode runway 4D, maka
diperoleh jarak antara garis tengah taxiway dengan garis tengah runway
untuk tipe instrument runways yaitu 168m.
Jarak antar garis tengah taxiway = 66.5
Jarak taxiway terdekat dengan suatu benda = 40.5
Jarak taxiway terdekat dengan banguna = 36

TABEL JARAK MINIMUM PEMISAHAN TAXIWAY


Code Letter instrumen non-instrumen
D 176 101 66.5 40.5

sumber : ICAO - Annex 14 vol.1 Aerodrome Design and Operations, 2009

LEBAR BAHU TAXIWAY


Berdasarkan Annex 14 untuk pesawat dengan code letter D dan code number 4
diperoleh :
Lebar Bahu dan taxiway = 38
Lebar Bahu strip dari centre line = 40.5
Grading of taxiway strip = 19
Kemiringan melintang taxiway strip arah ke atas = 2.5
Kemiringan melintang taxiway strip arah ke bawah = 5
Radius turn-off kurva minimum = 550
Kecepatan keluar dari kondisi basah = 93
Sudut antara runway dengan rapid exid taxiway = 30
EXIT TAXIWAY
TABEL KLASIFIKASI PESAWAT UNTUK EXIT TAXIWAY
Design Group Kecepatan touchdown Pesawat
kurang dari 167 km/jm Bristol Freighter 170
(90 knot) DC-3
I
DC-4
F-27
antara 169-222 km/jm Bristol Britania
(91-120 knot) DC-6
II
F-28 MK 100
Viscount 800
lebih dari 224 km/jm B-707
(121 knot) B-727
B-747
B-737
Airbus
III
DC-8
DC-9
DC-10
L-1011
Trident
sumber : Merancang dan merencanakan lapangan terbang, Heru Basuki, 1986

Berdasarkan tabel diatas, untuk pesawat denga tipe DC-10-30, termasuk


dalam group III, maka untuk kecepatan touchdown digunakan 225 km/jam
: 62.5 m/dt.
Penentuan kecepatan rencana dapat dihitung dengan persamaan berikut :

v=√(125𝑥𝑅𝑥µ)

Dimana :
v = kecepatan awal atau rencana dari pesawat saat akan memasuki taxiway
R = jari-jari tikungan pada sistem taxiway
µ = koefisien gesek antara ban dan struktur perkerasan = 0.13

TABEL DIMENSI FILET TAXIWAY


Code Letter = D/IV
R = 45
L = 75
Syimetrical (F) = 31.5 - 33
One side (F) = 29 - 30
Tracking (F) = 25
sumber : Peraturan Dirjen Perhubungan Udara SKEP/77/VI/2005

Maka kecepatan awal saat meninggalkan landasan yaitu :


v=√(125𝑥𝑅𝑥µ)
v=√125𝑥45𝑥0.13
= 731.25 = 27.0416 m/dt
Jarak dari treshold ke lokasi exit taxiway = jarak touchdown + D
Dimana :
D = jarak dari touchdown ke titik A = ( 〖 (𝑆1) 〗 ^2−
S1 = Kecepatan touchdown (m/dt) 〖 (𝑆2) 〗 ^2)/2�
S2 = kecepatan awal ketika meninggalkan landasan
a = perlambatan
Perhitungan :
D= (S1)² - (S2)²
2a
D= (62.5)² - (27)²
2 x 1.5
D= 1059 m = 1060 m

Berdasarkan Peraturan Dirjen Perhubungan Udara SKEP/77/VI/2005 bahwa


lokasi jalan keluar pesawat yaitu antara 450 m hingga 650 m.
Jarak touchdown yang digunakan yaitu 550 m.
Jarak dari threshold ke lokasi exit taxiway (S) : Jarak touchdown + D
= 550 +
= 1610 m

Jarak lurus minimun setelah belokan sehingga pesawat dapat berhenti


penuh sebelum melalui persimpangan dengan pesawat lain adalah :

TABEL JARAK LURUS MINIMUM SETELAH BELOKAN TAXIWAY


Code Letter Penggolongan Pesawat Jarak Lurus (m)
A I 35
B II 35
C III 75
D IV 75
E V 75
F VI 75
sumber : Peraturan Dirjen Perhubungan Udara SKEP/77/VI/2005

Untuk Perencanaan Jari-jari fillet dapat berpedoman pada tabel dibawah


ini sesuai dengan penggolongan pesawat yang direncanakan.

TABEL JARI JARI FILLET


Code Letter = D/IV
Lebar runway = 45
Lebar parallel taxiway = 30
Lebar dari dan keluar taxiway = 26.5
R1 m = 30
R₂ m = 60
r₀ m = 71.5
r₁ m = 35
r₂ m = 55
sumber : Peraturan Dirjen Perhubungan Udara SKEP/77/VI/2005

JENIS JENIS TAXIWAY


A. Take Off Taxiway, adalah taxiway yang digunakan untuk keperluan
pesawat terbang lepas landas.
B. Exit Taxiway, adalah taxiway untuk keperluan pesawat terbang exit,
meninggalkan runway setelah selessai melakukan pendaratan.
Exit Taxiway terletak diantara ujung ujung runway (tidak pada ujung
ujungnya).
C. Parallel Taxiway, adalah taxiway yang terletak sejajar dengan runway
yang dugunakan untuk keperluan take off maupun exit.

Parallel Taxiway diletakan sejajar dengan sumbu panjang runway,


dengan jarak antara sumbu parallel taxiway dan sumbu taxiway :
Non Instrument Runway Instrument Runwa
Airport Category
(feet) (feet)
A 363 623
B 353 563
C 315 -
D 174 -

E 138 -

Parallel Taxiwat berfungsi sebagai bagian


dari take off taxiway atau exit taxiway.

Exit taxiway dapat pula dibuat miring membentuk sudut 30° atau 45° ter-
hadap sumbu panjang runway. Exit taxiway miring ini disebut high speed
exit taxiway, karena dengan bentuknya yang miring terhadap sumbu
panjang runway, memungkinkan pesawat dapat meninggalkan runway
dengan kecepatan tinggi (50 - 60 mph).
ANTARA OMGWS DENGAN TEPI TAXIWAY
Clearance

Taxiway widht
emisahan taxiway untuk kode runway 4D, maka

m
m
m

36

pesawat dengan code letter D dan code number 4

m
m
m
%
%
m
km/jam
(25°-45°)
A = ( 〖 (𝑆1) 〗 ^2−
〖 (𝑆2) 〗 ^2)/2� : 62.5 m/dt
: 27 m/dt
: 1.5 m/dt²
1060

Jarak Lurus (m)


35
35
75
75
75
75
Instrument Runway
(feet)
623
563
-
-

-
KEMIRINGAN RUNWAY
A. Kemiringan Memanjang ( Longitudinal)
Persyaratan dan kemiringan memanjang landasan
yang mengacu pada peraturan ICAO,
kode angka 4 berdasarkan ARFL diperoleh :

TABEL LONGITUDINAL SLOPE RUNWAY


code letter
URAIAN
4 3 2 1
Max. efektif slope 1.0 1.0 2.0 2.0
Max. longitudinal slope 1.25 1.5 2.0 2.0
Max. longitudinal change 1.5 1.5 2.0 2.0
Slope change per 30 m 0.1 0.2 0.4 0.4
sumber : Manual of Standar (MOS) - Part 139 Aerodromes 2002

B. Kemiringan melintang (transversal)


Berdasarkan tabel transverse slope runway untuk kode runway
C,D,E atau F memiliki kriteria :
Kemiringan maksimum = 2.00%
Kemiringan diinginkan = 1.50%
Kemiringan minimum = 1.00%

TABEL TRANSVERSE SLOPE RUNWAY


code letter
URAIAN
A atau B C, D, E atau F
Kemiringan maksimum 2.50% 2.00%
Kemiringan diinginkan 2.00% 1.50%
Kemiringan minimum 1.50% 1.00%
sumber : Manual of Standar (MOS) - Part 139 Aerodromes 2002
PERENCANAAN TAXIWAY
Berdasarkan tabel jenis dan karakteristik pesawat, maka untuk jenis
pesawat B-737-200 yang termasuk golongan 4C
memiliki karakteristik sebagai berikut :
a.ARFL = 1990 m
b.Wingspan = 28.4 m
c.OMGWS = 6.4 m
d.Length = 30.6 m
e.MTOW = 52400 kg
f.Tipe pressure = 1145 kPa

JARAK BEBAS TEPI TAXIWAY


Jarak bebas minimum ( minimum clearance) pada perencanaan
taxiway berdasarkan tabel dibawah ini, yaitu sebesar 30m.

TABEL BEBAS MINIMUN ANTARA OMGWS DENGAN TEPI TAXIWAY


Code Letter Clearance
A 1.5m
B 2.25m
3m if the taxiway is intended to be used by aeroplanes
with a wheel base less than 18m
C
4.5m if the taxiway is intended to be used by aeroplanes
with a wheel base equel to or greater than 18m
D 4.5m
E 4.5m
F 4.5m
sumber : ICAO - Annex 14 vol.1 Aerodrome Design and Operations, 2009
LEBAR TAXIWAY
Berdasarkan tabel dibawah, maka lebar taxiway untuk kode letter C
dan dengan outer main gear wheel span 6.4m adalah 15m.

TABEL LEBAR MINIMUM UNTUK STAIGHT SECTION TAXIWAY


Code Letter Taxiway widht
A 7.5m
B 10.m
15m if the taxiway is intended to be used by aeroplanes
with a wheel base less than 18m
C
18m if the taxiway is intended to be used by aeroplanes
with a wheel base equel to or greater than 18m
18m if the taxiway is intended to be used by aeroplanes
with a wheel base less than 9m
D
23m if the taxiway is intended to be used by aeroplanes
with a wheel base equel to or greater than 9m
E 23m
F 25m
sumber : ICAO - Annex 14 vol.1 Aerodrome Design and Operations, 2009

KEMIRINGAN TAXIWAY
Berdasarkan Annex 14 chapter 3.9.9 dan 3.9.10, jika huruf kode taxiway
C, D, E atau F maka :
a. Kemirigan memanjang (longitudinal slope) disepanjang seberang bagian
dari taxiway tidak boleh lebih dari 1.5%. Jika perubahan kemiringan tidak
dapat dihindarkan, maka tingkat perubahan tidak lebih dari 1% per 30m.
b. Kemiringan melintang (transverse slope) pada seberang bagian taxiway
harus memadai untuk mencegah pengakumulasian air dan tidak boleh
kurang dari 1.0% dan tidak boleh lebih dari 1.5%.
JARAK PANDANG TAXIWAY
Garis pandang tak terhalang di sepanjang permukaan taxiway, dari suatu
titik di atas taxiway, tidak boleh kurang dari jarak yang ditentukan dengan
menggunakan tabel berikut :

TABEL STANDAR UNTUK GARIS PANDANG TAXIWAY


Code Letter Minimum line of sight
A 150m dari 1.5m diatas taxiway
B 200m dari 2m diatas taxiway
C, D, E atau F 300m dari 3m diatas taxiway
sumber : Manual of Standar (MOS) - Part 139 Aerodromes 2002

JARAK MINIMUM PEMISAHAN TAXIWAY


Berdasarkan tabel minimun pemisahan taxiway untuk kode runway 4C, maka
diperoleh jarak antara garis tengah taxiway dengan garis tengah runway
untuk tipe instrument runways yaitu 168m.
Jarak antar garis tengah taxiway = 44
Jarak taxiway terdekat dengan suatu benda = 26
Jarak taxiway terdekat dengan banguna = 24.5

TABEL JARAK MINIMUM PEMISAHAN TAXIWAY


Code Letter instrumen non-instrumen
C 168 93 44 26
sumber : ICAO - Annex 14 vol.1 Aerodrome Design and Operations, 2009
LEBAR BAHU TAXIWAY
Berdasarkan Annex 14 untuk pesawat dengan code letter C dan code number
diperoleh :
Lebar Bahu dan taxiway = 25
Lebar Bahu strip dari centre line = 26
Grading of taxiway strip = 12.5
Kemiringan melintang taxiway strip arah ke atas = 2.5
Kemiringan melintang taxiway strip arah ke bawah = 5
Rasius turn-off kurva minimum = 550
Kecepatan keluar dari kondisi basah = 93
Sudut antara runway dengan rapid exid taxiway = 30

EXIT TAXIWAY
TABEL KLASIFIKASI PESAWAT UNTUK EXIT TAXIWAY
Design Group Kecepatan touchdown Pesawat
kurang dari 167 km/jm Bristol Freighter 170
(90 knot) DC-3
I
DC-4
F-27
antara 169-222 km/jm Bristol Britania
(91-120 knot) DC-6
II
F-28 MK 100
Viscount 800
lebih dari 224 km/jm B-707
(121 knot) B-727
B-747
B-737
Airbus
III
DC-8
DC-9
DC-10
L-1011
Trident
sumber : Merancang dan merencanakan lapangan terbang, Heru Basuki, 1986
sumber : Merancang dan merencanakan lapangan terbang, Heru Basuki, 1986
Berdasarkan tabel diatas, untuk pesawat denga tipe B-737-200, termasuk
dalam group III, maka untuk kecepatan touchdown digunakan 225 km/jam
: 62.5 m/dt.
Penentuan kecepatan rencana dapat dihitung dengan persamaan berikut :

v=√(125𝑥𝑅𝑥µ)

Dimana :
v = kecepatan awal atau rencana dari pesawat saat akan memasuki taxiway
R = jari-jari tikungan pas asistem taxiway
µ = koefisien gesek antara ban dan struktur perkerasan = 0.13

TABEL DIMENSI FILET TAXIWAY


Code Letter = C/III
R = 30
L = 45
Syimetrical (F) = 20.4
One side (F) = 18
Tracking (F) = 16.5
sumber : Peraturan Dirjen Perhubungan Udara SKEP/77/VI/2005

Maka kecepatan awal saat meninggalkan landasan yaitu :


v=√(125𝑥𝑅𝑥µ)

v=√125𝑥30𝑥0.13
= 1125 = 33.54 m/dt
Jarak dari treshold ke lokasi exit taxiway = jarak touchdown + D
Dimana :
A =
D = jarak dari touchdown ke titik ( 〖 (𝑆1) 〗 ^2−
= 〖 (𝑆2) 〗 ^2)/2�
S1 Kecepatan touchdown (m/dt)
S2 = kecepatan awal ketika meninggalkan landasan
a = perlambatan
Perhitungan :
D= (S1)² - (S2)²
2a
D= (62.5)² - (33.5)²
2 x 1.5
D= 3532 m
Berdasarkan Peraturan Dirjen Perhubungan Udara SKEP/77/VI/2005 bahwa
lokasi jalan keluar pesawat yaitu antara 450 m hingga 650 m.
Jarak touchdown yang digunakan yaitu 550 m.
Jarak dari threshold ke lokasi exit taxiway (S) : Jarak touchdown + D
= 550 +
= 4082 m
Jarak lurus minimun setelah belokan sehingga pesawat dapat berhenti
penuh sebelum melalui persimpangan dengan pesawat lain adalah :
TABEL JARAK LURUS MINIMUM SETELAH BELOKAN TAXIWAY
Code Letter Penggolongan Pesawat Jarak Lurus (m)
A I 35
B II 35
C III 75
D IV 75
E V 75
F VI 75
sumber : Peraturan Dirjen Perhubungan Udara SKEP/77/VI/2005

Untuk Perencanaan Jari-jari fillet dapat berpedoman pada tabel dibawah


ini sesuai dengan penggolongan pesawat yang direncanakan.
TABEL JARI JARI FILLET
Code Letter = C/III
Lebar runway = 30
Lebar parallel taxiway = 23
Lebar dari dan keluar taxiway = 26.5
R₃ m = 41.5
R₂ m = 41.5
r₀ m = 53
r₁ m = 25
r₂ m = 35
sumber : Peraturan Dirjen Perhubungan Udara SKEP/77/VI/2005
JENIS JENIS TAXIWAY
A. Take Off Taxiway, adalah taxiway yang digunakan untuk keperluan
pesawat terbang lepas landas.
B. Exit Taxiway, adalah taxiway untuk keperluan pesawat terbang exit,
meninggalkan runway setelah selessai melakukan pendaratan.
Exit Taxiway terletak diantara ujung ujung runway (tidak pada ujung
ujungnya).
C. Parallel Taxiway, adalah taxiway yang terletak sejajar dengan runway
yang dugunakan untuk keperluan take off maupun exit.

Parallel Taxiway diletakan sejajar dengan sumbu panjang runway,


dengan jarak antara sumbu parallel taxiway dan sumbu taxiway :

Non Instrument Runway Instrument Runway


Airport Category
(feet) (feet)
A 363 623
B 353 563
C 315 -
D 174 -

E 138 -

Parallel Taxiwat berfungsi sebagai bagian


dari take off taxiway atau exit taxiway.

Exit taxiway dapat pula dibuat miring membentuk sudut 30° atau 45° ter-
hadap sumbu panjang runway. Exit taxiway miring ini disebut high speed
exit taxiway, karena dengan bentuknya yang miring terhadap sumbu
panjang runway, memungkinkan pesawat dapat meninggalkan runway
dengan kecepatan tinggi (50 - 60 mph).
untuk jenis

TAXIWAY

eroplanes
de letter C
ay 4C, maka

m
m
m

24.5
ode number

m
m
m
%
%
m
km/jam
(25°-45°)
: 62.5 m/dt
: 33.5 m/dt
: 1.5 m/dt²
3532

Jarak Lurus (m)


35
35
75
75
75
75

a tabel dibawah
k keperluan

terbang exit,

ada ujung

engan runway

Instrument Runway
(feet)
623
563
-
-

30° atau 45° ter-


but high speed
dap sumbu
alkan runway
PERENCANAAN APRON
Untuk perencanaan apron, diambil nilai berdasarkan wingspan
terlebar jenis pesawat DC-10-30 dan Length terpanjang
jenis pesawat DC-10-30.
wings span = 41.92 m
Panjang badan pesawat = 45.90 m
Aerodrome ref.code = 4D

DIMENSI APRON
Berdasarkan Peraturan Dirjen Perhubungan Udara SKEP/77/VI
/2005, dimensi apron untuk satu pesawat dapat dilihat pada tabel
berikut :
TABEL DIMENSI APRON UNTUK SATU PESAWAT
URAIAN pesawat golongan IV
1.Dimensi untuk satu pesawat
a.slef taxing (45° taxiing)
panjang (m) = 70 - 85
lebar (m) = 55 - 80
b.nose in
panjang (m) = 190
lebar (m) = 70
c.clereance antar pesawat = 7.5
dengan pesawat diapron (m)
2.Slope/Kemiringan
a.ditempat pesawat parkir = 1≤
maksimum
b.didaerah pemuatan bahan = + 1/2
bakar pesawat

JARAK BEBAS PESAWAT


Berdasarkan ICAO Annex 14, Aircraft parking posotion taxilane
harus dipisahkan dari seberang objek dengan jarak tidak kurang
dari yang ditentukan dengan menggunakan tabel berikut :

TABEL JARAK BEBAS TEPI AIRCRAFT PARKIR


Code Letter Clearance
A 3m
B 3m
C 4.5 m
D 7.5 m
E 7.5 m
F 7.5 m

Berdasarkan FAA Airport Design 150-5300-13, pada konfigurasi


push-out / power-out jarak antara hidung pesawat dengan
bangunan terminal sangat bervariasi antara 4.5 m sampai 9 m atau
lebih. Sehingga dalam desain ini digunakan jarak bebas 9 m.

Untuk merancang apron, perlu mencari jumlah pesawat pada jam


sibuk per harinya, dimana dianggap 75% pesawat akan mengisi apron
pada saat jam sibuk, untuk perhitungannya sbb :

Jmlh pergerakan pesawat = 10500


Jmlh pesawat per hari = 10500 = 28.7671
365
Jmlh pesawat saat jam sibuk = 75% x 28,76
= 21.575342466 = 22 pesawat

Akan direncanakan luas apron yang dibutuhkan untuk meng


akomodasikan 22 spand pesawat terbesar. Maka luas apron yang
dibutuhkan untuk satu pesawat dengan wingspan terbesar yaitu :

A = (wingspan+clearance)x(panjang bdn pswt+jrk bbs)


= (43.41+ 7,5) x (46.61+ 7,5 + 10)
= 4220.9100 m²
22 pesawat
PERKERASAN RIGID UNTUK APRON
Jenis perkerasan yang digunakan dalam perencanaan apron adalah per-
kerasan kaku/rigid pavement.
Adapun hal-hal yang mempengaruhi ketebalan perkerasan rigid adalah :
Lalu lintas pesawat
Ramalan lalu lintas
Kekuatan subgrade atau kombinasi subbase-subgrade
Metode yang dipergunakan dalam perencanaan ini adalah berdasarkan
FAA. Dalam perencanaan dengan metode FAA diperhitungkan untuk masa
pemakaian 20 tahun tanpa pemeliharaan yang berarti, apabila tidak ada
perubahan pesawat yang harus dilayani.

MENENTUKAN TIPE PESAWAT RENCANA


MTOW Tipe Roda Forecast Annual Jumlah
Pesawat
(kg) Pendaratan Departure Roda
B-737-200 52400.000 SWG 10500 2

Diasumsikan forecast annual departure 10.500 untuk proyeksi beberapa


tahun mendatang.
Wheel load tiap type pesawat B-737-200 dengan MTOW(Maksimum Take-off
Weight) 52390 kg = ±115522.245 lbs. Untuk pesawat dengan badan lebar,
MTOW dibatasi 300.000 lbs dengan type roda Dual Wheel .

MENENTUKAN FLEXTURAL STRENGTH


Untuk menentukan kuat lentur/Flexural Strenght rumus yang dipergunakan
adalah :
MR = k x
Dimana :
√(𝒇𝒄′)
MR = Flexural Strength
k = konstanta (nilai 8,9,10 tergantung dari berbagai parameter)
fc' = Kuat Tekan Besi (Psi)

Direncanakan, mutu beton yang dipergunakan adalah beton dengan mutu


K-400 = 400 Kg/cm² = 400 x 14.22 lb/in² = 5688 Psi dan nilai k=10, sehingga
diperoleh nilai flexTural Strength sebesar :
MR = 10 X
√𝟓𝟔𝟖𝟖
= 754.188 Psi ˃ 300 Psi
TABEL MODULUS OF SUBGRADE REACTION
Nilai K
Bahan Subgrade
MN/m³ Psi
Sangat Jelek ˂40 ˂150
Sedang-baik 55-82 200-300
Sangat Baik ˃82 ˃300

Pada pelaksanaan dilapangan, untuk memperoleh nilai Modulus Of Subgrade


Reaction, diperlukan percobaan test plate bearing, akan tetapi adalam pe-
rencanaan ini digunakan nilai pendekatan dari percobaan.
Dengan mempergunakan tabel diatas, siasumsikan kondisi subgrade sangat
baik dengan nilai K (Modulus Of Subgrade Reaction) 300 Psi.

Dengan memasukan nilai Flexural Strength, nilai K, Serta MTOW kedalam


kurva perencanaan perkerasan rigid dual tandem gear diperoleh nilai
ketebalan slab beton yang diperlukan sebesar 13 in untuk annual departure
10.500.

PENULANGAN BETON
Jumlah besi yang digunakan untuk penulangan pada perkeasan rigid di
tentukan dengan rumus :
(𝟎.𝟔𝟒𝑳√
As = (𝑳 𝒙
𝒕))/𝒇�
Dimana :
As : luas penampang melintang setiap lebar/panjang slab (cm²)
L : panjang/lebar slab (cm)
t : tebal slab (cm), tebal perkerasan rigid yang paling kritis
fs : tegangan tarim baja (Kg/cm²)

Direncanakan baja tulangan dengan mutu U-32, fs = 3200 kg/cm²


Tebal Perkerasan beton (t) = 13 in = 32.500 cm
Panjang slab beton (L) = 500 cm

Tulangan Melintang :
(𝟎.𝟔𝟒 𝒙 𝟓𝟎𝟎 √(𝟓𝟎𝟎 𝒙
As = 𝟑𝟐.𝟓𝟎𝟎))/𝟑𝟐𝟎𝟎
= 12.748 cm²

Direncanakan menggunakan tulangan D-10, dimana :


Luas Penampang As = 1/4 𝑝𝐷²

1/4 𝑝10²
=

= 78.5 mm²
= 0.785 cm²

Jumlah tulangan : n = 12.748 = 16.23949 ≈ 16 buah


0.785
Jarak tulangan : 500 = 31.25 cm ≈ 35 cm
16
Jadi tulangan yang dipakai adalah 16D10 mm - − 35 cm

SAMBUNGAN/JOIN
Joint dibuat pada perkerasan kaku agar beton bisa mengembang dam
meyusut sehingga mengurangi tekana bengkok akibat gesekan, perubahan
temperatur, perubahan kelembaban, serta untuk melengkapi konstruksi.
Direncanakan jenis sambungan slab beton dilakukan dengan jenis sambungan
ekspansi, yang dalam pelaksannan nya dibuat slab beton yang salaing
menyudut satu sama lain.
4.9 Perencanaan Perkerasan

Landasaan Pacu Lapangan terbang yang di rencanakan adalah untuk bisa melayani
berbagai jenis pesawat dengan berbagai tipe roda dan berat yang berbeda - beda dari jenis -
jenis pesawat. Untuk tanah dasar yang bisa distabilitas mencapai > 6 % dapat - jenis dapat
dipergunakan perkerasan kaku (rigid pavement) atau perkerasaan lentur (flexible
pavement).

Perkerasaan fleksibel terdiri dari :


a. Lapisan surface coarse dari aspal Hot Mix.
b. Lapisan pondasi atas (base)
c. Lapisan pondasi bawah (sub base)
d. Lapisan tanah dasar CBR 6%

4.9.1 Equivalent Wheel Load

Dari Sub 4.1 diketahui pergerakan pesawat pada tahun 2025, yaitu :

Tabel 4.49 Pergerakan Pesawat tahun 2025

Tahun
No. Aircraft types
2025
1 Airbus
airbus A321-200 1571
airbus A330-200 1717
2 Boieng
B727-200 1199
B737-200 2100
B737-300 870
B747-100 531
3 Mc Donnell Douglas
DC8-63 1494
DC10-30 2061
4 Fokker
Fokker F28-2000 1235
12778

Dalam perencanaan lalu lintas pesawat, perlengkapan harus melayani bermacam - macam
pesawat yang mempunyai tipe roda yang berbeda, pengaruh dari semua jenis lalulintas
harus dikonfigurasi kedalaman rencana ini dengan equivalen annual departure dari
pesawat campuran, dari hal ini dipakai rumus konversi dari Robert Horeen Jeof yaitu :

Log R1 = Log R2

Dimana :
R1 = Equivalent annual departure pesawat rencana
R2 = Annual departure pesawat campuran yang dinyatakan dalam roda pesawat rencana
W1 = Beban roda pesawat terencana
W2 = Beban roda pesawat yang dinyatakan
W2 = 0,95 x MTOW x 1/n
n = Jumlah Roda

Maka diperoleh nilai W2 :


B737 - 200 → W2 = 52400 X 0,95 X 1/2 = 24890 Ib
B727 - 200 → W2 = 76650.4 X 0,95 X 1/2 = 36408.94 Ib
B707 - 120B → W2 = 116729 X 0,95 X 1/4 = 27723.24 Ib
DC10 - 10 → W2 = 195048 X 0,95 X 1/4 = 46323.9 Ib
DC8 - 63 → W2 = 158757 X 0,95 X 1/4 = 37704.79 Ib
DC8 - 62 → W2 = 150760 X 0,95 X 1/4 = 35805.5 Ib
DC8 - 61 → W2 = 147420 X 0,95 X 1/4 = 35012.25 Ib
DC9 - 50 → W2 = 54432 X 0,95 X 1/2 = 25855.2 Ib
36408.94

Berat wheel load pesawat rencana (W1) diambil tipe pesawat pesawat terbanyak yaitu B737-200
dengan W2 = 36408.9 Ib
Dual gear departure (R2) di hitung dengan mengkonfogurasi tipe roda pesawat rencana DC-10-10
Dual Gear

R2 = Rn x Faktor Pengali
Dimana faktor pengali dilihat pada tabel 6-6, Ir Heru Basuki, Hal 295

Tabel 4.50 Faktor Pengali


Konversi dari Ke Faktor Pengali
Single Wheel Dual Wheel 0.8
Single Wheel Dual Tandem 0.5
Dual Wheel Dual Tandem 0.6
Double Dual Tandem Dual Tandem 1
Dual Tandem Single Wheel 2
Dual Tandem Dual Wheel 1.7
Dual Wheel Single Wheel 1.3
Double Dual Tandem Dual Wheel 1.7

Maka nilai R2
A321 - 200 → R2 = 2100 x 0.5 = 1050
A330 - 200 → R2 = 1050 x 0.5 = 525
B727 - 200 → R2 = 1575 x 0.6 = 945
B727 - 300 → R2 = 1575 x 0.6 = 945
B747 - 100 → R2 = 1050 x 0.6 = 630
DC8 - 63 → R2 = 1050 x 0.6 = 630
DC10 - 30 → R2 = 1050 x 0.6 = 630
Fokker F28 - 2000 → R2 = 1050 x 0.5 = 525
10500 Σ 5880
KURVE RENCANA PERKERASAN FLEXIBEL MENURUT Ir.HERU BASUKI
MENENTUKAN TEBAL PERKERASAN
DIKETAHUI :
CBR TANAH DASAR = 5 %
CBR SUB BASE = 25 %
BERAT KOTOR LEPASA LANDAS PESAWAT RENCANA JENIS
(MTOW) = 48988
KEBERANGKATAN TAHUNAN EQUIVALENT ADALAH
∑ R1 (ANNUAL DEPARTURE) = 10.500

Maka equivalen annual departure yaitu : 4622.93 (dari tabel 4.51)


Data CBR subgrade = 5%
Data CBR subgrade = 25 %
Didaptkan Tebal Sub Base Coarse adalah 28 inci

Didaptkan Tebal Sub Base Coarse 9.5 inci


SYARAT MINIMUM TEBAL SURFACE = 3 INCI - 4 INCI

Lapisan Permukaan = 4 inci = 10 cm


Lapisan Base Coarse = 14.5 inci = 36.25 cm
Lapisan Sub Base Coarse = 9.5 inci = 23.75 cm
TOTAL TEBAL PERKERASAN 28 inci Σ 70
keterangan : 1 inci = 2,54 cm
Tabel 4.52. Tebal lapisan pada daerah kritis, non kritis dan pinggir
KRITIS (T) NON KRITIS (0,9 T ) PINGGIR (0,7 T)
LAPISAN
(Inchi) (Inchi) (Inchi)
SURFACE ASPAL 4 3.6 2.8
BASE COURSE 14.5 13.05 10.15
SUBBASE COURSE 9.5 8.55 6.65

ILUSTRASI GAMBAR KONSTRUKSI :

4.000 INCI

14.500 INCI

9.500 INCI

CBR 5%
a DC-10-10
PERHITUNGAN PERKERASAN METODE LCN
FLOCHART :

PARAMETER PERHITUNGAN :
1 DATA PESAWAT RENCANA
forecast annual
BERAT KOTOR LEPAS departure / Ramalan
NO JENIS PESAWAT LANDAS /MTOW (Pound) keberangkatan Pesawat KETERANGAN
Tahunan

1 B737 - 200 115418.502 2,100 SINGLE WHEEL


2 B727 - 200 168833.480 1,050 SINGLE WHEEL
3 B707 - 120B 257113.260 1,575 DUAL WHEEL
4 DC10 - 10 429621.145 1,575 DUAL WHEEL
5 DC8 - 63 349685.022 1,050 DUAL WHEEL
6 DC8 - 62 332070.485 1,050 DUAL WHEEL
7 DC8 - 61 324713.656 1,050 DUAL WHEEL
8 DC9 - 50 119894.273 1,050 DUAL WHEEL
9
10
TOTAL 10,500

Pesawat rencana dipilih yang memiliki tingkat Annual Departure yang terbanyak
maka dipilihlah pesawat B.737-200 dengan Roda pendaratan Single Whell
Annual Departure Pesawat Rencana = 2,100 terbanyak

2 DATA RUNWAY :
1 Panjang landas pacu : 3887 Meter (Sesuai Perhitungan A
2 Lebar landas pacu : 45 Meter
3 Kemiringan memanjang : 1.5%
4 Kemiringan melintang : 1.5%
5 Jenis lapis permukaan : Aspal beton (AC)
6 Lebar bahu landas pacu (apron) : 26 meter

3 DATA CBR TANAH DASAR :


1 Nilai CBR tanah adalah : 4 %
2 Nilai CBR Sub Base : 25 %

4 PERHITUNGAN TEBAL PERKERASAN :


1 MENENTUKAN PESAWAT RENCANA (Design Aircraft)
Berdasarkan data diatas, maka untuk pesawat rencana dipilih pesawat :
dengan Kriteria sebagai berikut:
1 Berat Kotor Pesawat lepas landas : 115,419
2 Jumlah keberangkatan dan kedatangan / tahun : 2,100
3 Jenis Konfigurasi Roda : SINGLE WHEEL
Jumlah Roda Pendaratan Utama : 2

5 MENENTUKAN ESWL (equivalent single wheel load)


JUMLAH RODA
BERAT KOTOR LEPAS Persen Pembebanan
NO JENIS PESAWAT LANDAS (POUND) Main Gear (95%) PENDARATAN UTAMA
(Rd)

1 B737 - 200 115,419 95% 2


2 B727 - 200 168,833 95% 2
3 B707 - 120B 257,113 95% 4
4 DC10 - 10 429,621 95% 4
5 DC8 - 63 349,685 95% 4
6 DC8 - 62 332,070 95% 4
7 DC8 - 61 324,714 95% 4
8 DC9 - 50 119,894 95% 4
BEBAN REPETISI (BERULANG)

Maka ESWL Pesawat Rencana


B737 - 200 = 54,823.79 lbs

6 MENENTUKAN GARIS KONTAK AREA PESAWAT


TEKANAN RODA PESAWAT P = 100 Psi

Dengan Menggunakan Rumus:


SEHINGGA :
54,823.79
K =
100

= 548.24 lbs/psi

548.24 lbs/psi
Dengan Pembacaan Grafis
7 MENENTUKAN TEBAL PERKERASAN
MENCARI NILAI LCN DENGAN GRAFIK LCN
548.24 lbs/psi

54,823.79 lbs

GRAFIK LCN 100 psi


DIKETAHUI
ESWL = 54,823.79 lbs
K = 548.24 lbs/psi
didapat LCN = 54

DENGAN HASIL LCN DIDAPAT MAKA :


TEBAL PERKERSAN UNTUK CBR :
SUB GRADE = 4 %
SUB BASE = 25 %
DIDAPAT TEBAL LAPISAN PERKERSAN TOTAL = 34 INCI

MENGHITUNG KETEBALAN SUB BASE :


DIDAPAT NILAI TEBAL LAPISAN SUB BASE = 14 INCI

MAKA :
TEBAL LAPISAN SURFACE DI AMBIL MINIMUM = 4 INCI
SEHINGGA LAPISA BASE COARSE ADALAH = TEBAL TOTAL - LAPISAN SUB BASE - LAPISAN SURFACE
= 34 - 14 - 4
= 16 INCI

GAMBAR PERKERASAN :

surface 4 INCI = 10.16

Base coarse 16 INCI = 40.64

Sub Base coarse


14 INCI = 35.56
CBR 20%

cbr Tanah Dasa (Sub Grade) = 4%

UNTUK PERKERASAN NON KRITIS :


Perkerasan Non Kritis dikalikan Koefisien terhadap Perkerasan Kritis sebesar :
Nilai Koefisien Perkerasan Non kritis = 0.9
Sehingga:
dalan Inci dalam cm
Lapisan Surface = 3.6 = 9.144
Lapisan Base = 14.4 = 36.576
Lapisan Sub Base = 12.6 = 32.004
PerkerasanTOTAL = 30.6 = 77.724

GAMBAR PERKERASAN NON KRITIS:

surface 3.6 INCI = 9.144

Base coarse 14.4 INCI = 36.576


Sub Base coarse
12.6 INCI = 32.004
CBR 20%

cbr Tanah Dasa (Sub Grade) = 4%

UNTUK PERKERASAN TEPI :


Perkerasan Non Kritis dikalikan Koefisien terhadap Perkerasan Kritis sebesar :
Nilai Koefisien Perkerasan Non kritis = 0.7
Sehingga:
dalan Inci dalam cm
Lapisan Surface = 2.52 = 6.4008
Lapisan Base = 10.08 = 25.6032
Lapisan Sub Base = 8.82 = 22.4028
PerkerasanTOTAL = 21.42 = 54.4068

GAMBAR PERKERASAN NON KRITIS:

surface 2.52 INCI = 6.4008

Base coarse 10.08 INCI = 25.6032

Sub Base coarse


8.82 INCI = 22.4028
CBR 20%

cbr Tanah Dasa (Sub Grade) = 4%


(Sesuai Perhitungan ARFL)

B737 - 200

115,419 lbs
2,100 lintasan/tahun
SINGLE WHEEL
2
Beban Roda Pendaratan Utama

W2 = 1/Rd*95%*MTOW

54,824
80,196
61,064
102,035
83,050
78,867
77,119
28,475
537,156
ASE - LAPISAN SURFACE
4

10.16 CM

40.64 CM

35.56 CM

9.144 CM

36.576 CM
32.004 CM

6.4008 CM

25.6032 CM

22.4028 CM
PERHITUNGAN PERKERASAN FLEXIBEL METODE FAA
FLOCHART :

1 MENENTUKAN JUMLAH KEBERANGKATAN PESAWAT :

forecast annual
BERAT KOTOR LEPAS LANDAS /MTOW departure / Ramalan
NO JENIS PESAWAT (Pound) keberangkatan KETERANGAN
Pesawat Tahunan

1 DC - 9 - 32 107,905 1,575 DUAL WHEEL


2 DC - 9 -50 119,894 2,100 DUAL WHEEL
3 DC - 10 - 30 554,502 2,625 DUAL TANDEM
4 B - 737 - 200 100,411 1,050 DUAL WHEEL
5 B - 707 - 320B 333,306 1,575 DUAL TANDEM
6 B - 707 - 120B 257,113 525 DUAL TANDEM
7 B - 727 - 200 168,851 1,050 DUAL WHEEL
8 Mercure 114,539 525 DUAL WHEEL

TOTAL 11,025

Pesawat rencana dipilih yang memiliki tingkat Annual Departure yang terbanyak
maka dipilihlah pesawat B-707-320B dengan Roda pendaratan Dual Whell
Annual Departure Pesawat Rencana = 1,575.0 terbanyak

2 MENENTUKAN TYPE RODA PENDARATAN UTAMA (R2) / KONVERSI RODA PENDARATAN

R2 = Forecast Annual Departure (A) x Konversi Roda (B)

FAKTOR KONVERSI
FORECAST ANNUAL DEPARTURE RODA PENDARATAN SINGLE GEAR DEPARTURE
NO JENIS PESAWAT (a) UTAMA R2 = (axb)
(b)

1 DC - 9 - 32 1,575 0.6 945


2 DC - 9 -50 2,100 0.6 1,260
3 DC - 10 - 30 2,625 1 2,625
4 B - 737 - 200 1,050 0.6 630
5 B - 707 - 320B 1,575 1 1,575
6 B - 707 - 120B 525 1 525
7 B - 727 - 200 1,050 0.6 630
8 Mercure 525 0.6 315

Karena Pesawat Rencana menggunakan type Roda Dual Tandem yaitu DC-10-30
Maka semua jenis pesawat dikonversikan ke arah pesawat rencana dengan
mengubah atau mengkonversikan roda pendaratan utama ke pesawat rencana.
3 MENGHITUNG BEBAN RODA TIAP PESAWAT (W2)
Keterangan : 1 Pound sama dengan 0,45359237 kilogram
1 Pound = 1 Lbs

BERAT KOTOR LEPAS LANDAS Persen Pembebanan JUMLAH RODA


NO JENIS PESAWAT (POUND) Main Gear (95%) PENDARATAN UTAMA (Rd

1 DC - 9 - 32 107,905 95% 2
2 DC - 9 -50 119,894 95% 2
3 DC - 10 - 30 554,502 95% 8
4 B - 737 - 200 100,411 95% 2
5 B - 707 - 320B 333,306 95% 4
6 B - 707 - 120B 257,113 95% 4
7 B - 727 - 200 168,851 95% 2
8 Mercure 114,539 95% 4

4 MENGHITUNG BEBAN RODA PESAWAT RENCANA (W1)


Dari hasil perhitungan beban roda pesawat (W2), maka diperoleh nilai terbesar
Beban roda pesawat rencana adalah:
DC - 10 - 30 = 65,847 Lbs

5 MENGHITUNG KEBERANGKATAN TAHUNAN EKIVALEN (R1)


RUMUSNYA:

NO JENIS PESAWAT Log. R2

1 DC - 9 - 32 2.975 0.88 2.625


2 DC - 9 -50 3.100 0.93 2.883
3 DC - 10 - 30 3.419 1.00 3.419
4 B - 737 - 200 2.799 0.85 2.382
5 B - 707 - 320B 3.197 1.10 3.506
6 B - 707 - 120B 2.720 0.96 2.620
7 B - 727 - 200 2.799 1.10 3.089
8 Mercure 2.498 0.64 1.606
TOTAL EQUIVALENT ANNUAL DEPARTURE (R1)

6 MENENTUKAN TEBAL PERKERASAN


DIKETAHUI :
CBR TANAH DASAR = 5 %
CBR SUB BASE = 30 %
BERAT KOTOR LEPASA LANDAS PESAWAT RENCANA JENIS (MTOW)
DC - 10 - 30 = 554,502 lbs
KEBERANGKATAN TAHUNAN EQUIVALENT ADALAH
∑ R1 (ANNUAL DEPARTURE) = 8,942
Karena Konversi Ke Dual Wheel maka Ambil Grafik Dual Whell untuk menghitung
Tebal Perkerasannya.
= CBR 5 %

Eswl =
554,502 lbs

50 INCI

Didaptkan Total Tebal Perkerasan adalah 50 INCI

MENENTUKAN TEBAL PERKERASAN SUB BASE DENGAN CBR = 30 %


DENGAN CARA YANG SAMA AMBIL GRAFIK SEPERTI PERHITUNGAN PADA
TOTAL TEBAL PERKERASAN, MAKA :

CBR 30%
Eswl =
554,502 lbs

SUMBER HERU BASUKI, HAL. 305

Didaptkan Tebal Sub Base Coarse adalah 14.1 INCI


SYARAT MINIMUM TEBAL SURFACE :
Untuk daerah Kritis (Touchdown) = 4 Inci
Untuk daerah non kritis (Taxxing) = 3 Inci

PERKERASAN UNTUK DAERAH KRITIS:


1 Lapisan Permukaan = 4 inci = 10.16
2 Lapisan Base Coarse = 31.9 inci = 81.026
3 Lapisan Sub Base Coarse = 14.1 inci = 35.814
TOTAL TEBAL PERKERASAN = 50 inci = 127
keterangan : 1 inci = 2,54 cm

Cek Ketebalan Base Course dengan Grafik:

Tebal Perkerasan
Total = 50 inc

15.9 inc < 31.9

GAMBAR KONSTRUKSI :
PERKERASAN UNTUK DAERAH NON KRITIS:
Untuk Daerah Non Kritis dikalikan faktor koreksi 0,9 x tebal Kritis
Sehingga : 0.9
1 Lapisan Permukaan = 3 inci = 7.62
2 Lapisan Base Coarse = 28.71 inci = 72.9234
3 Lapisan Sub Base Coarse = 12.69 inci = 32.2326
TOTAL TEBAL PERKERASAN = 44.4 inci = 112.776
keterangan : 1 inci = 2,54 cm
Cek Ketebalan Base Course dengan Grafik:

Tebal Perkerasan
Total = 44.4 inc

12.9 inc < 28.7

GAMBAR KONSTRUKSI :
PERKERASAN UNTUK DAERAH PINGGIR:
Untuk Daerah Pinggir dikalikan faktor koreksi 0,7 x tebal Kritis
Sehingga : 0.7
1 Lapisan Permukaan = 3 inci = 7.62
2 Lapisan Base Coarse = 22.33 inci = 56.7182
3 Lapisan Sub Base Coarse = 9.87 inci = 25.0698
TOTAL TEBAL PERKERASAN = 35.2 inci = 89.408
keterangan : 1 inci = 2,54 cm
Cek Ketebalan Base Course dengan Grafik:

Tebal Perkerasan
Total = 35.2 inc

9.9 inc < 22.33

GAMBAR KONSTRUKSI :
Sehingga Hasil Perhitungan:
Daerah Kritis Daerah Non Kritis
INCI CM INCI CM
surface 4 10.16 3 7.62
Base Coarse 31.9 81.026 28.71 72.9234
Sub Base Coarse 14.1 35.814 12.69 32.2326
TOTAL 50 127 44.4 112.776
KETERANGAN

DUAL WHEEL
DUAL WHEEL
DUAL TANDEM
DUAL WHEEL
DUAL TANDEM
DUAL TANDEM
DUAL WHEEL
DUAL WHEEL
SINGLE GEAR DEPARTURE
R2 = (axb)

945
1,260 SUMBER HERU BASUKI, HAL. 295
2,625
630
1,575
525
630
315
JUMLAH RODA Beban Roda Pendaratan Utama
PENDARATAN UTAMA (Rd)
W2 = 1/Rd*95%*MTOW

2 51,254.80
2 56,950
8 65,847
2 47,695
4 79,160
4 61,064
2 80,204
4 27,203

2.625 422
2.883 764
3.419 2,625
2.382 241
3.506 3,204
2.620 416
3.089 1,229
1.606 40
) 8,942
∑ R1 = 8,942
∑ R1 = Rp 8,942
10.16 Cm
81.026 Cm
35.814 Cm
127 Cm

Perkerasan okey
4 INCI

32 INCI

14 INCI CBR 40%

CBR 5 %

7.62 Cm
72.9234 Cm
32.2326 Cm
112.776 Cm
Perkerasan okey

3.00 INCI

28.71 INCI
12.69 INCI CBR 20%

CBR 5 %

7.62 Cm
56.7182 Cm
25.0698 Cm
89.408 Cm
Perkerasan okey

3.00 INCI

22.33 INCI
9.87 INCI CBR 20%

CBR 5 %

Daerah Pinggir
INCI CM
3 7.62
22.33 56.7182
9.87 25.0698
35.2 89.408
PERHITUNGAN PERKERASAN KAKU METODE FAA
Dalam metode FAA ini umur Konstruksi adalah 20 tahun (tanpa pemeliharaan berarti)
DIKETAHUI LALU-LINTAS PESAWAT TAHUNAN SEBAGAI BERIKUT:
forecast annual
BERAT KOTOR LEPAS LANDAS departure / Ramalan
NO JENIS PESAWAT /MTOW (Pound) keberangkatan KETERANGAN
Pesawat Tahunan

1 B737 - 200 115418.502 2,100 SINGLE WHEEL


2 DC - 9 -32 168833.480 1,050 SINGLE WHEEL
3 B707 - 120B 257113.260 1,575 DUAL WHEEL
4 DC10 - 10 429621.145 1,575 DUAL WHEEL
5 DC8 - 63 349685.022 1,050 DUAL WHEEL
6 DC8 - 62 332070.485 1,050 DUAL WHEEL
7 DC8 - 61 324713.656 1,050 DUAL WHEEL
8 DC9 - 50 119894.273 1,050 DUAL WHEEL

TOTAL 10,500

MUTU BETON ADALAH K-400


CBR SUBGRADE = 5 %
CBR SUB BASE = 30 %
HITUNGLAH PERKERASAN LAPANGAN TERBANG TERSEBUT:
JAWAB :

1 MENENTUKAN JUMLAH KEBERANGKATAN PESAWAT :


forecast annual
BERAT KOTOR LEPAS LANDAS departure / Ramalan
NO JENIS PESAWAT /MTOW (Pound) keberangkatan KETERANGAN
Pesawat Tahunan

1 B737 - 200 115418.502 2,100 SINGLE WHEEL


2 B727 - 200 168833.480 1,050 SINGLE WHEEL
3 B707 - 120B 257113.260 1,575 DUAL WHEEL
4 DC10 - 10 429621.145 1,575 DUAL WHEEL
5 DC8 - 63 349685.022 1,050 DUAL WHEEL
6 DC8 - 62 332070.485 1,050 DUAL WHEEL
7 DC8 - 61 324713.656 1,050 DUAL WHEEL
8 DC9 - 50 119894.273 1,050 DUAL WHEEL
9
10
TOTAL 10,500
Pesawat rencana dipilih yang memiliki tingkat Annual Departure yang terbanyak
maka dipilihlah pesawat B.727-200 dengan Roda pendaratan Single Whell
Annual Departure Pesawat Rencana = 1,050 banyak
2 MENENTUKAN TYPE RODA PENDARATAN UTAMA (R2) / KONVERSI RODA PENDARATAN

R2 = Forecast Annual Departure (A) x Konversi Roda (B)

FAKTOR KONVERSI SINGLE GEAR


FORECAST ANNUAL DEPARTURE RODA PENDARATAN
NO JENIS PESAWAT (a) UTAMA DEPARTURE
R2 = (axb)
(b)

1 B737 - 200 2,100 1 2,100


2 B727 - 200 1,050 1 1,050
3 B707 - 120B 1,575 1.3 2,048
4 DC10 - 10 1,575 1.3 2,048
5 DC8 - 63 1,050 1.3 1,365
6 DC8 - 62 1,050 1.3 1,365
7 DC8 - 61 1,050 1.3 1,365
8 DC9 - 50 1,050 1.3 1,365

Karena Pesawat Rencana menggunakan type Roda Single Whell yaitu B.727-200
Maka semua jenis pesawat dikonversikan ke arah pesawat rencana dengan
mengubah atau mengkonversikan roda pendaratan utama ke pesawat rencana.

3 MENGHITUNG BEBAN RODA TIAP PESAWAT (W2)


Keterangan : 1 Pound sama dengan 0,45359237 kilogram
1 Pound = 1 Lbs

BERAT KOTOR LEPAS LANDAS Persen Pembebanan JUMLAH RODA


NO JENIS PESAWAT (POUND) Main Gear (95%) PENDARATAN UTAMA

1 B737 - 200 115,418.502 95% 2


2 B727 - 200 168,833.480 95% 2
3 B707 - 120B 257,113.260 95% 4
4 DC10 - 10 429,621.145 95% 8
5 DC8 - 63 349,685.022 95% 4
6 DC8 - 62 332,070.485 95% 4
7 DC8 - 61 324,713.656 95% 4
8 DC9 - 50 119,894.273 95% 4

4 MENGHITUNG BEBAN RODA PESAWAT RENCANA (W1)


Dari hasil perhitungan beban roda pesawat (W2), maka diperoleh nilai terbesar
Beban roda pesawat rencana adalah:
B727 - 200 = 80,196 Lbs

5 MENGHITUNG KEBERANGKATAN TAHUNAN EKIVALEN (R1)


RUMUSNYA:
NO JENIS PESAWAT Log. R2

1 B737 - 200 3.322 0.83 2.747


2 B727 - 200 3.021 1.00 3.021
3 B707 - 120B 3.311 0.87 2.889
4 DC10 - 10 3.311 0.80 2.641
5 DC8 - 63 3.135 1.02 3.190
6 DC8 - 62 3.135 0.99 3.109
7 DC8 - 61 3.135 0.98 3.074
8 DC9 - 50 3.135 0.60 1.868
TOTAL EQUIVALENT ANNUAL DEPARTURE (R1)
6 MENENTUKAN TEBAL PERKERASAN
DIKETAHUI :
CBR TANAH DASAR = 5 % Tanah sedang
CBR SUB BASE = 30 %
BERAT KOTOR LEPASA LANDAS PESAWAT RENCANA JENIS (MTOW)
B727 - 200 = 168,833
KEBERANGKATAN TAHUNAN EQUIVALENT ADALAH
∑ R1 (ANNUAL DEPARTURE) = 6,844

6.1. MENGHITUNG MODULUS OF SUBGRADE REACTION (K):


Tabel Nilai K (Modulus Off Subgrade Reaction)

sumber heru basuki hal.341


Didapatkan Nilai K = 200 pci (kondisi tanah sedang)

6.2. MENGHITUNG MODULUS OF RUPTURE (FLEXURAL STRENGTH) / MR

SUMBER HERU BASUKI HAL. 348

konversi Karekteristik beton ke Fc'


22,5*10/0,83 = 271 kg/cm2
MAKA: K = 8
mutu beton = K-400 = 400 kg/cm2
FC' = 33.2 Mpa
= 4,815.3 Psi

1 KG/CM2 = 14.2233 psi


1 MPA = 145.038 psi
Maka didapatkan nilai MR sebesar ;
MR = 555.1 Psi
Karena Konversi Ke Dual Wheel maka Ambil Grafik Dual Whell untuk menghitung
Tebal Perkerasannya.

Didaptkan Total Tebal Perkerasan Beton adalah 20.8 INCI = 52.832


MENENTUKAN TEBAL PERKERASAN SUB BASE DENGAN CBR = 30 %
DENGAN CARA YANG SAMA AMBIL GRAFIK SEPERTI PERHITUNGAN PADA
TOTAL TEBAL PERKERASAN, MAKA :

Eswl= =
168,833 lbs

SUMBER HERU BASUKI, HAL. 305 16 INC

Didaptkan Tebal Sub Base Coarse adalah 15 INCI

PERKERASAN UNTUK DAERAH KRITIS:


1 Lapisan Beton (Slab Beton) = 20.8 inci = 52.832
2 Lapisan Bawah Sub base = 15 inci = 38.1
TOTAL TEBAL PERKERASAN = 35.8 inci = 90.932
keterangan : 1 inci = 2,54 cm
Cek Ketebalan Base Course dengan Grafik:

tebal perkerasan=
35.8 inci

12.5 inc < 15 Perkeras

GAMBAR KONSTRUKSI :

20.8
slab beton / concrete

subbase coarse cbr 20% 15

subgrade cbr 6,5%


PERKERASAN UNTUK DAERAH NON KRITIS:
Untuk Daerah Non Kritis dikalikan faktor koreksi 0,9 x tebal Kritis
Sehingga : 0.9
1 Lapisan Beton (Slab Beton) = 18.72 inci = 47.5488
2 Lapisan Bawah Sub base = 13.5 inci = 34.29
TOTAL TEBAL PERKERASAN = 32.22 inci = 81.8388
keterangan : 1 inci = 2,54 cm
Cek Ketebalan Base Course dengan Grafik:

tebal perkerasan=
35.8 inci

12.5 inc < 13.5 Perkeras

GAMBAR KONSTRUKSI :

18.72
slab beton / concrete

subbase coarse cbr 20% 13.5

subgrade cbr 6,5%


PERKERASAN UNTUK DAERAH PINGGIR:
Untuk Daerah Pinggir dikalikan faktor koreksi 0,7 x tebal Kritis
Sehingga : 0.7
1 Lapisan Beton (Slab Beton) = 14.56 inci = 36.9824
2 Lapisan Bawah Sub base = 12.6 inci = 32.004
TOTAL TEBAL PERKERASAN = 27.16 inci = 68.9864
keterangan : 1 inci = 2,54 cm
Cek Ketebalan Base Course dengan Grafik:

tebal perkerasan=
35.8 inci

12.5 inc < 12.6 Perkeras

GAMBAR KONSTRUKSI :

14.56
slab beton / concrete

subbase coarse cbr 20% 12.6

subgrade cbr 6,5%


Sehingga Hasil Perhitungan:
Daerah Kritis Daerah Non Kritis
INCI CM INCI CM INCI
surface 20.8 52.832 18.72 47.5488 14.56
Sub Base Coarse 15 38.1 13.5 81.8388 12.6
TOTAL 35.8 90.932 32.22 129.3876 27.16
DESAIN PENULANGAN PLAT:

sumber : Heru Basuki (hal.389)

DIMENSI PLAT BETON (DILATASI):


PANJANG = 7.6 Meter = 760 cm
LEBAR = 7.6 Meter = 760 Cm
TEBAL PLAT = 52.832 Cm = 0.52832 Meter
Baja Tulangan = U.32
Fs = 166.6 Mpa 1 Mpa = 10.197 kg/cm2
= 1,698.85 Kg/cm2
LUAS TULANGAN (As) :

sumber : Heru Basuki (Hal.401)


Maka :
As = 57.371 Cm2
Diambil Besi Tulangan Diameter = 1.2 Cm
As. Tulangan = 1/4*phi*d 2

= 1.1304 Cm2
Jumlah Tulangan adalah (As : As Tulangan)
= 50.7529 Bh 51 Bh
Jarak Tulangan : = Lebar Plat : Jumlah tulangan
= 14.902 cm 14 Cm
Kontrol :
As = As.tulangan * Lebar plat / jarak tulangan
= 61.365 cm2 > 57.371 cm2 okey

Maka dipakai Tulangan Diameter 12 jarak 140 mm


DESAIN DENGAN PENULANGAN TIE BAR & DOWEL :
PERHITUNGAN TIE BAR :

Berat Jenis Beton = 2,400 Kg/m3


= 0.086 lb/in3
Ket: 1 kg/m3 = 3.6Ex10-5 lb/in3
Tebal Plat = 52.832 cm = 20.8 in
Maka : Berat Beton per 1 inci2
w = 0.864 lb/in2
Fs = 166.60 Mpa ket : 1 Mpa = 145.038 Psi
= 24,163 Psi
j = 500.00 cm = 196.85 inci
f = 1.50
Sehingga :

As = 0.01 Inci2
Jadi diperlukan tie bar dengan penampang seluas 0.01 Inci2
tiap 1 In panjang

Maka dipakai Diameter Tie Bar = 0.625 inch


Jumlah Tie Bar = As / (Phi*(dia. Tiebar^2))
= 0.01 bh = 1 bh
Maka dipakai tiebar 5/8 inch (16mm) tiap 1 m panjang)

PANJANG TIE BAR :


DIKETAHUI :
Fs = 24,163.3 Psi
d = 0.625 Inchi
ϻ = 350 Psi
Maka :
Panjang Tie Bar (Lt) = 24.57 Inchi 62.42 cm
MENCARI UKURAN DAN JARAK DOWEL:

Sumber : Heru Basuki (Hal.392)

Berdasarkan Tabel Diatas ;


Tebal Plat Beton = 20.8 Inchi
Maka :
Diameter Dowel = 2 Inchi = 50.8 mm
Panjang Dowel = 24 Inchi = 609.6 mm
Jarak Dowel = 18 Inchi = 457.2 mm

PERHITUNGAN JOINT SEALENT:

Sumber : Heru Basuki (Hal.395)

1 FEET = 0.3048 METER


JARAK JOINT = 7.6 METER
= 25 Feet

Dari Tabel Lebar dan Dalam Joint didapatkan:


Jarak Joint = 25 feet
Lebar Joint = 0.375 Inchi = 0.953 cm
Dalam Joint = 0.5 Inchi = 1.27 cm
KETERANGAN

SINGLE WHEEL
SINGLE WHEEL
DUAL WHEEL
DUAL WHEEL
DUAL WHEEL
DUAL WHEEL
DUAL WHEEL
DUAL WHEEL

KETERANGAN

SINGLE WHEEL
SINGLE WHEEL
DUAL WHEEL
DUAL WHEEL
DUAL WHEEL
DUAL WHEEL
DUAL WHEEL
DUAL WHEEL
SINGLE GEAR
DEPARTURE
R2 = (axb)

2,100
1,050
2,048
2,048
1,365
1,365
1,365
1,365

Beban Roda Pendaratan


JUMLAH RODA Utama
PENDARATAN UTAMA
W2 = 1/4*95%*MTOW

54,824
80,196
61,064
51,018
83,050
78,867
77,119
28,475
2.747 558
3.021 1,050
2.889 775
2.641 438
3.190 1,550
3.109 1,285
3.074 1,187
1.868 74
6,844
6,844

20.8 inci

52.832 cm
∑ R1 = 6,844

52.832 Cm
38.1 Cm
90.932 Cm
Perkerasan okey

inci

inci
47.5488 Cm
34.29 Cm
81.8388 Cm
Perkerasan okey

inci

inci
36.9824 Cm
32.004 Cm
68.9864 Cm
Perkerasan okey

inci

inci
Daerah Pinggir
INCI CM
14.56 36.9824
12.6 68.9864
27.16 105.9688
PERHITUNGAN PERKERASAN KAKU METODE FAA
Dalam metode FAA ini umur Konstruksi adalah 20 tahun (tanpa pemeliharaan berarti)
DIKETAHUI LALU-LINTAS PESAWAT TAHUNAN SEBAGAI BERIKUT:
forecast annual
BERAT KOTOR LEPAS LANDAS departure / Ramalan
NO JENIS PESAWAT /MTOW (Pound) keberangkatan KETERANGAN
Pesawat Tahunan

1 DC - 9 - 32 107904.846 1,275 DUAL WHEEL


2 DC - 9 -50 119894.273 1,700 DUAL WHEEL
3 DC - 10 - 30 554502.203 2,125 DUAL TANDEM
4 B - 737 - 200 100411.454 850 DUAL WHEEL
5 B - 707 - 320B 333306.079 850 DUAL TANDEM
6 B - 707 - 120B 257113.260 425 DUAL TANDEM
7 B - 727 - 200 168851.101 850 DUAL WHEEL
8 Mercure 114538.987 425 DUAL WHEEL

TOTAL 8,500

MUTU BETON ADALAH K-400


CBR SUBGRADE = 5 %
CBR SUB BASE = 30 %
HITUNGLAH PERKERASAN LAPANGAN TERBANG TERSEBUT:
JAWAB :

1 MENENTUKAN JUMLAH KEBERANGKATAN PESAWAT :


forecast annual
BERAT KOTOR LEPAS LANDAS departure / Ramalan
NO JENIS PESAWAT /MTOW (Pound) keberangkatan KETERANGAN
Pesawat Tahunan

1 DC - 9 - 32 107904.846 1,275 DUAL WHEEL


2 DC - 9 -50 119894.273 1,700 DUAL WHEEL
3 DC - 10 - 30 554502.203 2,125 DUAL TANDEM
4 B - 737 - 200 100411.454 850 DUAL WHEEL
5 B - 707 - 320B 333306.079 850 DUAL TANDEM
6 B - 707 - 120B 257113.260 425 DUAL TANDEM
7 B - 727 - 200 168851.101 850 DUAL WHEEL
8 Mercure 114538.987 425 DUAL WHEEL
9
10
TOTAL 8,500
Pesawat rencana dipilih yang memiliki tingkat Annual Departure yang terbanyak
maka dipilihlah pesawat DC-10-30 dengan Roda pendaratan DUAL TANDEM
Annual Departure Pesawat Rencana = 2,125 banyak
2 MENENTUKAN TYPE RODA PENDARATAN UTAMA (R2) / KONVERSI RODA PENDARATAN

R2 = Forecast Annual Departure (A) x Konversi Roda (B)

FAKTOR KONVERSI SINGLE GEAR


FORECAST ANNUAL DEPARTURE RODA PENDARATAN
NO JENIS PESAWAT (a) UTAMA DEPARTURE
R2 = (axb)
(b)

1 DC - 9 - 32 1,275 0.6 765


2 DC - 9 -50 1,700 0.6 1,020
3 DC - 10 - 30 2,125 1 2,125
4 B - 737 - 200 850 0.6 510
5 B - 707 - 320B 850 1 850
6 B - 707 - 120B 425 1 425
7 B - 727 - 200 850 0.6 510
8 Mercure 425 0.6 255

Karena Pesawat Rencana menggunakan type Roda TANDAM WHEEL yaitu DC - 10 - 30


Maka semua jenis pesawat dikonversikan ke arah pesawat rencana dengan
mengubah atau mengkonversikan roda pendaratan utama ke pesawat rencana.

3 MENGHITUNG BEBAN RODA TIAP PESAWAT (W2)


Keterangan : 1 Pound sama dengan 0,45359237 kilogram
1 Pound = 1 Lbs

BERAT KOTOR LEPAS LANDAS Persen Pembebanan JUMLAH RODA


NO JENIS PESAWAT (POUND) Main Gear (95%) PENDARATAN UTAMA

1 DC - 9 - 32 107,904.846 95% 2
2 DC - 9 -50 119,894.273 95% 2
3 DC - 10 - 30 554,502.203 95% 8
4 B - 737 - 200 100,411.454 95% 2
5 B - 707 - 320B 333,306.079 95% 4
6 B - 707 - 120B 257,113.260 95% 4
7 B - 727 - 200 168,851.101 95% 2
8 Mercure 114,538.987 95% 4

4 MENGHITUNG BEBAN RODA PESAWAT RENCANA (W1)


Dari hasil perhitungan beban roda pesawat (W2), maka diperoleh nilai terbesar
Beban roda pesawat rencana adalah:
B - 727 - 200 = 80,204 Lbs

5 MENGHITUNG KEBERANGKATAN TAHUNAN EKIVALEN (R1)


RUMUSNYA:
NO JENIS PESAWAT Log. R2

1 DC - 9 - 32 2.884 0.80 2.305


2 DC - 9 -50 3.009 0.84 2.535
3 DC - 10 - 30 3.327 0.91 3.015
4 B - 737 - 200 2.708 0.77 2.088
5 B - 707 - 320B 2.929 0.99 2.910
6 B - 707 - 120B 2.628 0.87 2.293
7 B - 727 - 200 2.708 1.00 2.708
8 Mercure 2.407 0.58 1.402
TOTAL EQUIVALENT ANNUAL DEPARTURE (R1)
6 MENENTUKAN TEBAL PERKERASAN
DIKETAHUI :
CBR TANAH DASAR = 5 % Tanah sedang
CBR SUB BASE = 30 %
BERAT KOTOR LEPASA LANDAS PESAWAT RENCANA JENIS (MTOW)
DC - 10 - 30 = 554,502
KEBERANGKATAN TAHUNAN EQUIVALENT ADALAH
∑ R1 (ANNUAL DEPARTURE) = 3,222

6.1. MENGHITUNG MODULUS OF SUBGRADE REACTION (K):


Tabel Nilai K (Modulus Off Subgrade Reaction)

sumber heru basuki hal.341


Didapatkan Nilai K = 200 pci (kondisi tanah sedang)

6.2. MENGHITUNG MODULUS OF RUPTURE (FLEXURAL STRENGTH) / MR

SUMBER HERU BASUKI HAL. 348

konversi Karekteristik beton ke Fc'


22,5*10/0,83 = 271 kg/cm2
MAKA: K = 8
mutu beton = K-400 = 400 kg/cm2
FC' = 33.2 Mpa
= 4,815.3 Psi

1 KG/CM2 = 14.2233 psi


1 MPA = 145.038 psi
Maka didapatkan nilai MR sebesar ;
MR = 555.1 Psi
Karena Konversi Ke Dual Wheel maka Ambil Grafik Dual Whell untuk menghitung
Tebal Perkerasannya.

Didaptkan Total Tebal Perkerasan Beton adalah 12.9 INCI = 32.766


MENENTUKAN TEBAL PERKERASAN SUB BASE DENGAN CBR = 30 %
DENGAN CARA YANG SAMA AMBIL GRAFIK SEPERTI PERHITUNGAN PADA
TOTAL TEBAL PERKERASAN, MAKA :

Eswl= =
554,502 lbs

SUMBER HERU BASUKI, HAL. 305

Didaptkan Tebal Sub Base Coarse adalah 13 INCI

PERKERASAN UNTUK DAERAH KRITIS:


1 Lapisan Beton (Slab Beton) = 12.9 inci = 32.766
2 Lapisan Bawah Sub base = 13 inci = 33.02
TOTAL TEBAL PERKERASAN = 25.9 inci = 65.786
keterangan : 1 inci = 2,54 cm
Cek Ketebalan Base Course dengan Grafik:

tebal perkerasan=
25.9 inci

6.9 inc < 13 Perkeras

GAMBAR KONSTRUKSI :

12.9
slab beton / concrete

subbase coarse cbr 20% 13

subgrade cbr 5%
PERKERASAN UNTUK DAERAH NON KRITIS:
Untuk Daerah Non Kritis dikalikan faktor koreksi 0,9 x tebal Kritis
Sehingga : 0.9
1 Lapisan Beton (Slab Beton) = 11.61 inci = 29.4894
2 Lapisan Bawah Sub base = 11.7 inci = 29.718
TOTAL TEBAL PERKERASAN = 23.31 inci = 59.2074
keterangan : 1 inci = 2,54 cm
Cek Ketebalan Base Course dengan Grafik:

tebal perkerasan=
25.9 inci

6.9 inc < 11.7 Perkeras

GAMBAR KONSTRUKSI :

11.61
slab beton / concrete

subbase coarse cbr 20% 11.7

subgrade cbr 6,5%


PERKERASAN UNTUK DAERAH PINGGIR:
Untuk Daerah Pinggir dikalikan faktor koreksi 0,7 x tebal Kritis
Sehingga : 0.7
1 Lapisan Beton (Slab Beton) = 9.03 inci = 22.9362
2 Lapisan Bawah Sub base = 9.1 inci = 23.114
TOTAL TEBAL PERKERASAN = 18.13 inci = 46.0502
keterangan : 1 inci = 2,54 cm
Cek Ketebalan Base Course dengan Grafik:

tebal perkerasan=
25.9 inci

6.9 inc < 9.1 Perkeras

GAMBAR KONSTRUKSI :

9.03
slab beton / concrete

subbase coarse cbr 20% 9.1

subgrade cbr 6,5%


Sehingga Hasil Perhitungan:
Daerah Kritis Daerah Non Kritis
INCI CM INCI CM
surface 12.9 32.766 11.61 29.4894
Sub Base Coarse 13 33.02 11.7 59.2074
TOTAL 25.9 65.786 23.31 88.6968
DESAIN PENULANGAN PLAT:

sumber : Heru Basuki (hal.389)

DIMENSI PLAT BETON (DILATASI):


PANJANG = 6.1 Meter = 610 cm
LEBAR = 6.1 Meter = 610 Cm
TEBAL PLAT = 32.766 Cm = 0.32766 Meter
Baja Tulangan = U.32
Fs = 166.6 Mpa 1 Mpa = 10.197 kg/cm2
= 1,698.85 Kg/cm2
LUAS TULANGAN (As) :

sumber : Heru Basuki (Hal.401)


Maka :
As = 32.489 Cm2
Diambil Besi Tulangan Diameter = 1.6 Cm
As. Tulangan = 1/4*phi*d 2

= 2.0096 Cm2 Jumlah Tulangan


Jumlah Tulangan adalah (As : As Tulangan)
= 16.1667 Bh 54 Bh
Jarak Tulangan : = Lebar Plat : Jumlah tulangan
= 11.296 cm 11 Cm
Kontrol :
As = As.tulangan * Lebar plat / jarak tulangan
= 111.441 cm2 > 32.489 cm2 okey

Maka dipakai Tulangan Diameter 16 jarak 112 mm


DESAIN DENGAN PENULANGAN TIE BAR & DOWEL :
PERHITUNGAN TIE BAR :

Berat Jenis Beton = 2,400 Kg/m3


= 0.086 lb/in3
Ket: 1 kg/m3 = 3.6Ex10-5 lb/in3
Tebal Plat = 32.766 cm = 12.9 in
Maka : Berat Beton per 1 inci2
w = 0.864 lb/in2
Fs = 166.60 Mpa ket : 1 Mpa = 145.038 Psi
= 24,163 Psi
j = 500.00 cm = 196.85 inci
f = 1.50
Sehingga :

As = 0.01 Inci2
Jadi diperlukan tie bar dengan penampang seluas 0.01 Inci2
tiap 1 In panjang

Maka dipakai Diameter Tie Bar = 0.625 inch


Jumlah Tie Bar = As / (Phi*(dia. Tiebar^2))
= 0.01 bh = 1 bh
Maka dipakai tiebar 5/8 inch (16mm) tiap 1 m panjang)

PANJANG TIE BAR :


DIKETAHUI :
Fs = 24,163.3 Psi
d = 0.625 Inchi
ϻ = 350 Psi
Maka :
Panjang Tie Bar (Lt) = 24.57 Inchi 62.42 cm
MENCARI UKURAN DAN JARAK DOWEL:

Sumber : Heru Basuki (Hal.392)

Berdasarkan Tabel Diatas ;


Tebal Plat Beton = 12.9 Inchi
Maka :
Diameter Dowel = 1 Inchi = 25.4 mm
Panjang Dowel = 19 Inchi = 482.6 mm
Jarak Dowel = 12 Inchi = 304.8 mm

PERHITUNGAN JOINT SEALENT:

Sumber : Heru Basuki (Hal.395)

1 FEET = 0.3048 METER


JARAK JOINT = 6.1 METER
= 20 Feet

Dari Tabel Lebar dan Dalam Joint didapatkan:


Jarak Joint = 20 feet
Lebar Joint = 0.25 Inchi = 0.635 cm
Dalam Joint = 0.5 Inchi = 1.27 cm
KETERANGAN

DUAL WHEEL
DUAL WHEEL
DUAL TANDEM
DUAL WHEEL
DUAL TANDEM
DUAL TANDEM
DUAL WHEEL
DUAL WHEEL

KETERANGAN

DUAL WHEEL
DUAL WHEEL
DUAL TANDEM
DUAL WHEEL
DUAL TANDEM
DUAL TANDEM
DUAL WHEEL
DUAL WHEEL
SINGLE GEAR
DEPARTURE
R2 = (axb)

765
1,020
2,125
510
850
425
510
255

Beban Roda Pendaratan


JUMLAH RODA Utama
PENDARATAN UTAMA
W2 = 1/4*95%*MTOW

51,255
56,950
65,847
47,695
79,160
61,064
80,204
27,203
2.305 202
2.535 343
3.015 1,035
2.088 122
2.910 813
2.293 197
2.708 510
1.402 25
3,222
3,222

12.9 inci

32.766 cm
∑ R1 = 3,222

32.766 Cm
33.02 Cm
65.786 Cm
Perkerasan okey

inci

inci
29.4894 Cm
29.718 Cm
59.2074 Cm
Perkerasan okey

inci

inci
22.9362 Cm
23.114 Cm
46.0502 Cm
Perkerasan okey

inci

inci
Daerah Pinggir
INCI CM
9.03 22.9362
9.1 46.0502
18.13 68.9864
Jumlah Tulangan 16
38
3.9. Marka Pada Landasan

3.9.1 Marka pre-runway end

Untuk Marka ini dapat di desain sabagai berikut :


Jarak Antar Strip = 30 m
Lebar strip = 0.9 m
Panjang strip = 30 m
Sudut pada strip = 45 ᵒ
Jarak Tepi = 7.5 m
(Dapat di lihat pada Lampiran marka pada Landasan" atau paa halaman 57 )

3.9.2 Nomor Landasan


Untuk Marka ini dapat di desain sabagai berikut :
Jarak dari runway designation markings ke marking threshold = 12 m
besarnya ukuran nomor runway = 9m
Jarak antar angka = 2.2 m
(Dapat di lihat pada Lampiran marka pada Landasan" atau paa halaman 58 )

3.9.3 Marking Sumbu Landasan


Untuk Marka ini dapat di desain sabagai berikut :
Lebar strip = 0.9 m
Panjang centerline marking = 30 m
Jarak antar centerline strip = 20 m
Jarak Awal dari nomor landasan = 12 m
(Dapat di lihat pada Lampiran marka pada Landasan" atau paa halaman 58 )

3.9.4 Marking Treshold


Dalam perencanaan untuk lebar runway 45 m, maka diambil jumlah strip
sebanyak 12 strip. Sehingga luasan yang akan dicat :

Panjang strip Melintang = 60 m


Lebar strip melintang = 1.8 m
Luas = 60 x 1.8 = 108 m2

Panjang Strip Memanjang = 30 m


Jumlah Strip = 12 m
lebar strip = 1.8 m
spasi antar strip = 1.7 m
Luas = 12 x 30 x 1.8 = 648 m2
(Dapat di lihat pada Lampiran marka pada Landasan" atau paa halaman 59 )
3.9.5 Fixed Distance Mark

Adapun dimensi dari fixed distance marks yaitu :


Lebar = 6 m untuk lebar runway 30 m
= 9 m untuk lebar runway 45 m

Jarak antar runway fixed distance = 17 m untuk lebar runway 30 m


= 23 m untuk lebar runway 45 m

Jarak dari treshold = ARFL > 1500 m 300 m

(Dapat di lihat pada Lampiran marka pada Landasan" atau paa halaman 60 )

3.9.6 Marking Touchdown Zone


Adapun dimensi dari Marking Touchdown zone yaitu :

Panjang strip = 22.5 m


Lebar Strip = 1.8 m
spasi Antar strip = 1.5 m
Jumlah Strip = ARFL > 2400 m 6 buah
Jarak dari Treshold = 150 m
(Dapat di lihat pada Lampiran marka pada Landasan" atau paa halaman 61 )
syarat tebal minimum untuk lapisan pondasi dan permukaan
pembebanan berat
tabel syarat minimum lapisan pondasi permukaan
Trafftebal minimum (in)
Base (CBR 1 Base ( CBR 80)
Per BaseTotaPer BaseTotal
A 5 10 15 6 9 15
B 4 9 13 5 8 13
C 4 9 13 5 8 13
D 3 6 9 3 6 9
BAB IV
Kesimpulan Dan Saran
4.1. Kesimpulan

1. Dalam merancang dan merencanakan sebuah lapangan terbang


perlu diketahui terlebih dahulu data yang terdapat pada daerah
dimana lapangan terbang akan dibangun seperti data angin,
attitude, suhu dan Lingkungan sekitar.

2. Dari tabel karakteristik pesawat , digunakan pesawat rencana tipe


DC - 10 -30 sebagai pesawat dengan panjang
landas pacu yaitu 3170 m.

3. Adapun data rencana bandar udara sbb :


Ketinggian Lokasi Bandar Udara Dari Muka Air Laut (h) : 236 m
Gradien Efektif Landar Pacu Arah Memanjang (GE) : 0.8 %
Temperantur Udara (T) : 28 °
Angin Permukaan / Angin Samping : 20 knot

4. Arah yang Terkoreksi


Setelah dilakukan koreksi terhadap faktor perhitungan,
maka panjang runway perencanaan (ARFL) adalah
= 3887

5. Dari Perhitungan yang dilakukan didapat :


a. Panjang landasan pacu (Runway) rencana yang dihitung dengan
metode ARFL adalah 3352.8
b. Lebar landasan pacu (Runway) adalah 45 m dengan lebar
masing-masing 7.5 m.
c. Panjang clearway sebesar 0 m dan Lebarnya
d. Panjang stopway yaitu 300 m dan lebar nya . = 60

6. Tebal perkerasan yang digunakan dalam desain berdasarkan


hitungan :

Flexibel untuk RUNWAY DAN TAXIWAY


a. Surface Coarse = 4 inch
b. Base Coarse = 31.9 inch
c. Subbase Coarse = 14.1 inch +
Dengan total tebal perkerasan = 50 inch

RIGID untuk Apron


a. Lapisan Beton ( Slab Beton ) = 20.8 inch
b. Lapisan Bawah ( Sub Base ) = 15 inch
c. Dengan total tebal perkerasan = 35.8 inch

d. Tanah Dasar = 5 %

4.2. SARAN
1. Sebuah lapangan terbang harus didesain(direncanakan) sebaik mungkin demi
kenyamanan dan kepuasan seluruh pengguna jasa penerbangan.
2. Dalam merancang sebuah lapangan terbang kita juga harus
memperhatikan faktor-faktor sosial, ekonomi, politik dan budaya
agar menguntungkan semua pihak dan bisa berguna untuk
regenerasi berikutnya.
150 m
m
+

) sebaik mungkin demi


KETERANGAN:
KETERANGAN:
LEBARGARIS:
LEBAR GARIS:
A.0.90
A. 0.90mmUNTUK
UNTUKRUNWAY
RUNWAYDENGAN
DENGANLEBAR
LEBAR≥≥30
30mm
B.B.0.45
0.45mmUNTUK
UNTUKRUNWAY
RUNWAYDENGAN
DENGANLEBAR
LEBAR<<30
30mm
Arah Landas Pacu

Panjang Landas Pacu

ARC

Declared Distance

FL

Geometric

Tebal perkerasan