You are on page 1of 29

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI

Dosen Pendamping : Hansen, M.KL

DISUSUN OLEH :

Sri Ayuningsih 17111024130250

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN DAN FARMASI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KALIMANTAN TIMUR

2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Air merupakan sesuatu terpenting dalam kehidupan karena
semua makhluk di dunia ini membutuhkan air. Tumbuhan
dan hewan sebagian besar tersusun oleh air. Sel tumbuhan
mengandung lebih dari 75% air dan sel hewan lebih dari 67%
serta 0,5% air dapat digunakan untuk kepentingan manusia
secara langsung (Widiyanti, 2004).
Air dimanfaatkan oleh manusia untuk berbagai kebutuhan
hidup sehari-hari untuk mandi, makan dan kebutuhan rumah
tangga lainnya sehingga banyak bermunculan penyedia jasa air
untuk berbagai keperluan contohnya air minum isi ulang.
Kualitas air minum dijaga agar aman dikonsumsi
masyarakat. Tempat harus bersih dan sanitasi yang baik.
Tenaga kerja yang sehat baik perilaku maupun peralatan yang
tentunya direkomendasikan aman serta air baku yang berasal
dari sumber air bersih dan pengawasan yang terus menerus
dapat menjamin mutu air minum produksi depot air minum
(Depkes, 2006 dalam Abdilanov, 2012).

B. Tujuan
1. Mampu melakukan pembuatan media LB dan LBGT.
2. Mampu melakuan uji pendugaan dan uji penegasan pada
uji kualitas air berdasarkan nilai MPN coliform dengan
sampel air mineral

C. Manfaat
1. Mahasiswa mampu melakukan pembuatan media LB dan
BGLB.
2. Mahasiswa mampu melakuan uji pendugaan dan uji
penegasan pada uji kualitas air berdasarkan nilai MPN
coliform dengan sampel air mineral
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi Air
Air merupakan salah satu bahan pokok yang mutlak
dibutuhkan oleh manusia sepanjang masa. Sumber air yang
banyak dipergunakan oleh masyarakat adalah berasal dari :
1. Air Permukaan, yaitu air yang mengalir di permukaan
bumi akan membentuk air permukaan. Air ini umumnya
mendapat pengotoran selama pengalirannya. 2. Air Tanah,
secara umum terbagi menjadi : air tanah dangkal yaitu
terjadi akibat proses penyerapan air dari permukaan tanah,
sedangkan air tanah dalam terdapat pada lapis rapat air
yang pertama. 3. Air Atmosfer/meteriologi/air hujan, dalam
keadaan murni sangat bersih tetapi sering terjadi
pengotoran karena industri, debu dan lain sebagainya
(Waluyo, 2005).
Air mempunyai hubungan yang erat dengan
kesehatan. Apabila tidak diperhatikan, maka air yang
dipergunakan masyarakat dapat mengganggu kesehatan
manusia. Untuk mendapatkan air yang baik, sesuai dengan
standar tertentu, saat ini menjadi barang yang mahal karena
air sudah banyak tercemar oleh bermacam-macam limbah
dari hasil kegiatan manusia, baik limbah dari kegiatan
rumah tangga, limbah dari kegiatan industri dan kegiatan-
kegiatan lainnya (Wardhana, 2004).
Sifat air yang penting dapat digolongkan ke dalam
sifat fisis, kimiawi, dan biologis. Sifat fisis dari air yaitu
didapatkan dalam ketiga wujudnya, yakni, bentuk padat
sebagai es, bentuk cair sebagai air, dan bentuk gas sebagai
uap air. Bentuk mana yang akan didapatkan, tergantung
keadaan cuaca yang ada setempat. Sifat kimia dari air yaitu
mempunyai pH=7 dan oksigen terlarut (=DO) jenuh pada 9
mg/L. Air merupakan pelarut yang universal, hampir semua
jenis zat dapat larut di dalam air. Air juga merupakan cairan
biologis, yakni didapat di dalam tubuh semua organisme.
Sifat biologis dari air yaitu di dalam perairan selalu didapat
kehidupan, fauna dan flora. Benda hidup ini berpengaruh
timbal balik terhadap kualitas air (Slamet, 2004)

B. Klasifikasi Air
Ada 4 macam klasifikasi penyakit yang berhubungan
dengan air sebagai media penularan penyakit yaitu
(Kusnoputranto, 1986) :
1. Water Borne Disease, yaitu penyakit yang penularannya
melalui air yang terkontaminasi oleh bakteri pathogenn dari
penderita atau karier. Bila air yang mengandung kuman
pathogen terminum maka dapat terjadi penjangkitan pada
Universitas Sumatera Utara orang yang bersangkutan,
misalnya Cholera, Typhoid, Hepatitis dan Dysentri Basiler.
2. Water Based Disease, yaitu penyakit yang ditularkan air
pada orang lain melalui persediaan air sebagai pejamu (host)
perantara, misalnya Schistosomiasis.
3. Water Washed Disease, yaitu penyakit yang disebabkan
oleh kurangnya air untuk pemeliharaan kebersihan
perseorangan dan air bagi kebersihan alat-alat terutama alat
dapur dan alat makan. Dengan terjaminnya kebersihan oleh
tersedianya air yang cukup maka penularan penyakit-
penyakit tertentu pada manusia dapat dikurangi. Penyakit
ini sangat dipengaruhi oleh cara penularan, diantaranya :
penyakit infeksi saluran pencernaan. Salah satu penyakit
infeksi saluran pencernaan adalah diare. Penyakit diare
dapat ditularkan melalui beberapa jalur, diantaranya
melalui air (Water borne) dan melalui alat-alat dapur yang
dicuci dengan air (Water washed). Contoh penyakit ini
adalah cholera, thypoid dan Dysentry basiller. Berjangkitnya
penyakit ini erat kaitannya dengan ketersediaan air untuk
makan, minum, memasak dan kebersihan alat-alat makan.
4. Water Related Insect Vectors, Vektor-vektor insektisida
yang berhubungan dengan air yaitu penyakit yang vektornya
berkembang biak dalam air, misalnya Malaria, Demam
Berdarah, Yellow Fever, Trypanosomiasis. Berdasarkan
Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
416/Menkes/Per/IX/1990, yang dimaksud air bersih adalah
air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang
kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum
apabila telah dimasak. Air bersih merupakan salah satu
kebutuhan manusia untuk memenuhi standar kehidupan
manusia secara sehat. Ketersediaan air yang terjangkau dan
berkelanjutan menjadi bagian terpenting bagi setiap individu
baik yang tinggal di perkotaan maupun di perdesaan.

C. Syarat-syarat Kualitas Air Bersih


Syarat-syarat Kualitas Air Bersih diantaranya adalah
sebagai berikut : a. Syarat Fisik : tidak berbau, tidak berasa
b. Syarat Kimia : Kadar besi maksimum yang diperbolehkan
1,0 mg/l, kesadahan maksimal 500 mg/l c. Syarat
Mikrobiologis : Jumlah total koliform dalam 100 ml air yang
diperiksa maksimal adalah 50 untuk air yang berasal dari
bukan perpipaan dan 10 untuk air yang berasal dari
perpipaan. Sarana air bersih adalah bangunan beserta
peralatan dan perlengkapannya yang menghasilkan,
menyediakan dan membagi-bagikan air bersih untuk
masyarakat. Jenis sarana air bersih ada beberapa macam
yaitu sumur gali, sumur pompa tangan dangkal dan sumur
pompa tangan dalam, tempat penampungan air hujan,
penampungan mata air, dan perpipaan.

D. Lokasi Pengambilan Sampel Air Sungai


Pengambilan sampel di sungai yang dekat muara atau
laut yang dipengaruhi oleh air pasang harus dilakukan agak
jauh dari muara. Adapun pengambilan sampel air sungai
dapat dilakukan di lokasi-lokasi sebagai berikut :

1. Sumber alamiah, yaitu lokasi yang belum pernah atau


masih sedikit mengalami pencemaran.

2. Sumber air tercemar, yaitu lokasi yang telah mengalami


perubahan atau di bagian hilir dari sumber pencemar.

3. Sumber air yang dimanfaatkan, yaitu lokasi penyadapan


atau pemanfaatan sumber air (Effendi, 2003).

Peraturan Pemerintah No.20 tahun 1990 mengelompokkan


kualitas air menjadi beberapa golongan menurut
peruntukannya.

1. Golongan A, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air


minum secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu.

2. Golongan B, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air


baku air minum.

3. Golongan C, yaitu air yang dapat digunakan untuk


keperluan perikanan dan peternakan.

4. Golongan D, yaitu air yang dapat digunakan untuk


keperluan pertanian, usaha di perkotaan, industri, dan
PLTA.
E. Tujuan pemantauan kualitas air pada perairan umum

1. Mengetahui nilai kualitas air dalam bentuk parameter


fisika, kimia, dan biologi.

2. Membandingkan nilai kualitas air tersebut dengan


baku mutu sesuai dengan peruntukannya menurut
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.20 tahun
1990.

3. Menilai kelayakan suatu sumber daya air untuk


kepentingan tertentu (Effendi, 2003).

F. Sumber Air di Indonesia


1. Mata air
Yaitu sumber air yang berada di atas permukaan
tanah. Debitnya sulit untuk diduga, kecuali jika dilakukan
penelitian dalam jangka beberapa lama. Sumber air
semacam ini yang terbesar di Jawa Timur terdapat di daerah
Umbulan - Pasuruan yang berhulu di Gunung Bromo.
2. Sumur dangkal (shallow wells)
Yaitu sumber air hasil penggalian ataupun
pengeboran yang kedalamannya kurang dari 40 meter.
3. Sumur dalam (deep wells)
Yaitu sumber air hasil penggalian ataupun
pengeboran yang kedalamannya lebih dari 40 meter.
4. Sungai
Yaitu saluran pengaliran air yang terbentuk mulai dari
hulu di daerah pegunungan/tinggi sampai bermuara di
laut/danau. Secara umum air baku yang didapat dari
sungai harus diolah terlebih dahulu, karena kemungkinan
untuk tercemar polutan sangat besar.
5. Danau dan Penampung Air (lake and reservoir)
Yaitu unit penampung air dalam jumlah tertentu yang
airnya berasal dari aliran sungai maupun tampungan dari
air hujan.
Sumber air untuk penyediaan system air minum
berdasarkan kualitasnya (Anonim, 1987), dapat dibedakan
atas :
a. Sumber yang bebas dari pengotoran (Pollution).
b. Sumber yang mengalami pemurniaan alamiah (Natural
Purification).
c. Sumber yang mendapatkan proteksi dengan pengolahan
buatan (Artificial Treatment).

G. Sumber-sumber air yang ada dapat dimanfaatkan


untuk keperluan air minum
1. Air hujan
Biasanya sebelum jatuh ke permukaan bumi akan
mengalami pencemaran sehingga tidak memenuhi syarat
apabila langsung diminum.
2. Air permukaan tanah (surface water)
Yaitu rawa, sungai, danau yang tidak dapat diminum
sebelum melalui pengolahan karena mudah tercemar. Untuk
mengetahui potensi air yang berada di sungai, waduk,
danau secara pasti diperlukan data primer disamping data
sekunder yang berkaitan dengan hidrologi, yang diantaranya
meliputi :
a. Data Primer
Air permukaan dan yang berkaitan dikumpulkan
secara in-situ, yakni dari suatu kegiatan survey lapangan
berupa : penelusuran sungai-sungai, tempat-tempat
penampungan air, seperti waduk, danau, dan atau empang.
b. Data Sekunder
Air permukaan dan yang berkaitan dikumpulkan dari
berbagai sumber, antara lain meliputi : peta topografi, data
klimatologi, data hasil permukaan muka air, dan debit.
3. Air dalam tanah (ground water)
Yang terdiri dari air sumur dangkal dan air sumur
dalam. Air sumur dangkal dianggap belum memenuhi syarat
untuk diminum karena mudah tercemar. Di lain pihak
sumur dalam yang sudah mengalami perjalanan panjang
adalah air yang jauh lebih murni, dan pada umumnya dapat
langsung diminum, namun memerlukan pemeriksaan
laboratorium untuk memastikan kualitasnya. Keburukan
dari pemakaian sumur dalam ini adalah apabila diambil
terlalu banyak akan menimbulkan intrusi air asin dan air
laut yang membuat sumber air jadi asin, biasanya daerah-
daerah sekitar pantai.
Untuk mengetahui potensi air tanah secara pasti
diperlukan data primer disamping data sekunder yang
diantaranya :
a. Data Primer
Air bawah tanah dan yang berkaitan dikumpulkan
secara in-situ yakni dari suatu kegiatan surve lapangan
berupa : evaluasi hidrogeologi, dan hidrologi meliputi :
sumur gali, mata air, dan fasilitas lain yang serupa
b. Data Sekunder
Air bawah tanah dan yang bekaitan dikumpulakan
dari berbagai sumber antara lain meliputi : Peta topografi,
data hasil kegiatan pemboran, data hasil pengukuran
geofisika, data hasil pengukuran geofisika, data fisik air
kimia bawah tanah, data hidroklimatologi, data hidrologi
berupa aliran sungai dan aliran permukaan lainnya,data
jenis tanah dan tanaman penutup, data penggunaan air
bawah tanah.
4. Mata air (spring water)
Sumber air untuk penyediaan air minum berdasarkan
kualitasnya dapat dibedakan atas :
a. Sumber yang bebas dari pengotoran (pollution)
b. Sumber yang mengalami pemurniaan alamiah (natural
purification)
c. Sumber yang mendapatkan proteksi dengan pengolahan
buatan (artificial treatment)

H. Penyediaan Air Bersih di Indonesia

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik


Indonesia Nomor 1405/menkes/sk/xi/2002 tentang
Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan
industri terdapat pengertian mengenai Air Bersih yaitu air
yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari dan
kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan air bersih
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
dan dapat diminum apabila dimasak.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik


Indonesia Nomor 16 Tahun 2005 Tentang Pengembangan
Sistem Penyediaan Air Minum, didapat beberapa pengertian
mengenai :
1. Air baku untuk air minum rumah tangga, yang
selanjutnya disebut air baku adalah air yang dapat berasal
dari sumber air permukaan, cekungan air tanah dan/atau
air hujan yangmemenuhi baku mutu tertentu sebagai air
baku untuk airminum.
2. Air minum adalah air minum rumah tangga yang melalui
proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang
memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.
3. Air limbah adalah air buangan yang berasal dari rumah
tangga termasuk tinja manusia dari lingkungan
permukiman.
4. Penyediaan air minum adalah kegiatan menyediakan air
minum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat agar
mendapatkan kehidupan yang sehat, bersih, dan produktif.
5. Sistem Penyediaan Air Minum yang selanjutnya disebut
SPAM merupakan satu kesatuan sistem fisik (teknik) dan
non fisik dari prasarana dan sarana air minum.
6. Pengembangan SPAM adalah kegiatan yang bertujuan
membangun, memperluas dan/atau meningkatkan
sistemfisik (teknik) dan non fisik (kelembagaan,
manajemen,keuangan, peran masyarakat, dan hukum)
dalam kesatuan yang utuh untuk melaksanakan penyediaan
air minum kepada masyarakat menuju keadaan yang lebih
baik.
7. Penyelenggaraan pengembangan SPAM adalah kegiatan
merencanakan,melaksanakankonstruksi,mengelola,memelih
ara,merehabilitasi,memantau, dan/atau mengevaluasi
sistem fisik (teknik) dan non fisik penyediaanair minum.
8. Penyelenggara pengembangan SPAM yang selanjutnya
disebut Penyelenggara adalah badan usaha
miliknegara/badan usaha milik daerah, koperasi, badan
usaha swasta, dan/atau kelompok masyarakat yang
melakukan penyelenggaraan pengembangan sistem
penyediaan air minum.

I. Manfaat Air Bagi Kehidupan Manusia


Air bagi kehidupan manusia sangat penting berfungsi
dan berperan bagi kehidupan makhluk hidup di bumi ini.
Penting bagi kita sebagai manusia untuk tetap selalu
melestarikan dan menjaga agar air yang kita gunakan tetap
terjaga kelestariannya dengan melakukan pengelolaan air
yang baik seperti pnghematan, tidak membuang sampah
dan limbh yang dapat membuat pencemaran air sehingga
dapat mengganggu ekosistem yang ada.

Air merupakan zat yang paling penting dalam


kehidupan setelah udara. Sekitar tiga per empat bagian dari
tubuh kita terdiri dari air dan tidak seorangpun dapat
bertahan hidup lebih dari 4-5hari tanpa minum air. Tubuh
manusia sebagian besar terdiri dari air, sekitar 73%
keberadaannya. Apabila ketersediaan air cukup, maka
kehidupan akan terus berlangsung. Selain itu, manfaat air
bagi kehidupan manusia :

1. Air dipergunakan untuk memasak, mencuci, mandi,


minum, dan mengepel lantai dan membersihkan
kotoran yang ada di sekitar rumah.
2. Air juga digunakan untuk mengairi segi pertanian dan
pertanakan. Petani memanfaatkan air untuk mengairi
lahan pertanian dan juga perkebunannya. Bertenak
juga membutuhkan air guna menghidupi hewan-hewan
ternaknya.
3. Air sangat penting bagi transportasi. Sebuah kapal
berlayar membutuhkan air sebagai media
transportasinya. Selain itu, perairan di kalimantan
dimanfaatka sebagai sarana transportasi yang vital.
4. Air pun terasa sangat penting bagi sarana rekreasi dan
olahraga. Ada beberapa cabang olahraga yang
dilombakan dan harus dilakukan didalam air.
5. Air juga dimaanfaatkan untuk keperluan industri,
pemadam kebakaran, tempat rekreasi, transportasi,
dan lain-lain. Penyakit-penyakit yang menyerang
manusia juga dapat ditularkan dan disebarkan melalui
air. Kondisi tersebut tentunya dapat menimbulkan
wabah penyakit dimana-mana.

J. Persyaratan Air Bersih


1. Air yang sehat harus memenuhi beberapa persyaratan
antara lain :
a. Air harus jernih atau tidak keruh. Kekeruhan pada air
biasanya disebabkan oleh adanya butir-butir tanah liat yang
sangat halus. Semakin keruh menunjukkan semakin
banyak butir-butir tanah dan kotoran yang terkandung di
dalamnya.

b. Tidak berwarna. Air yang berwarna berarti mengandung


bahan-bahan lain berbahaya bagi kesehatan, misalnya pada
air rawa berwarna kuning , air buangan dari pabrik ,
selokan, air sumur yang tercemar dan lain-lain.

c. Rasanya tawar. Air yang terasa asam, manis, pahit, atau


asin menunjukan bahwa kualitas air tersebut tidak baik.
Rasa asin disebabkan adanya garam-garam tertentu yang
larut dalam air, sedangkan rasa asam diakibatkan adanya
asam organik maupun asam anorganik.

d. Tidak berbau. Air yang baik memiliki ciri tidak berbau bila
dicium dari jauh maupun dari dekat. Air yang berbau busuk
mengandung bahan-bahan organik yang sedang
didekomposisi (diuraikan) oleh mikroorganisme air.

e. Derajat keasaman (pH) nya netral sekitar 6,5 – 8,5 . Air


yang pHnya rendah akan terasa asam, sedangkan bila
pHnya tinggi terasa pahit. Contoh air alam yang terasa asam
adalah air gambut (rawa)

f. Tidak mengandug zat kimia beracun, misalnya arsen,


timbal, nitrat, senyawa raksa, senyawa sulfida, senyawa
fenolik, amoniak serta bahan radioaktif.

g. Kesadahannya rendah. Kesadahan air dapat diakibatkan


oleh kandungan ion kalsium (Ca2+)dan magnesium (Mg2+) .
Hal ini dapat dilihat bila sabun atau deterjen yang
digunakan sukar berbusa dan di bagian dasar peralatan
yang dipergunakan untuk merebus air terdapat kerak atau
endapan. Air sadah dapat juga mengandung ion-ion Mangan
(Mn2+)dan besi (Fe2+) yang memberikan rasa anyir pada air
dan berbau, serta akan menimbulkan noda-noda kuning
kecoklatanpada peralatan dan pakaian yang dicuci.
Meskipun ion kalsium, ion magnesium, ion besi dan ion
mangan diperlukan oleh tubuh kita. Air sadah yang banyak
mengandung ion-ion tersebut tidak baik untuk dikonsumsi.
Karena dalam jangka panjang akan menimbulkan
kerusakan pada ginjal, dan hati. Tubuh kita hanya
memerlukan ion-ion tersebut dalam jumlah yang sangat
sedikit sedikit sekali. Kalsium untuk pertumbuhan tulang
dan gigi, mangan dan magnesium merupakan zat yang
membantu kerja enzim, besi dibutuhkan untuk
pembentukan sel darah merah.Batas kadar ion besi yang
diizinkan terdapat di dalam air minum hanya sebesar 0,1
sampai 1 ppm ( ppm = part per million, 1ppm = 1
mgr/1liter). Untuk ion mangan ; 0,005 – 0,5 ppm, ion
kalsium : 75 – 200 ppm dan 1on magnesium : 30 – 150 ppm.

h. Tidak boleh mengandung bakteri patogen seperti Escheria


coli , yaitu bakteri yang biasa terdapat dalam tinja atau
kotoran, serta bakteri-bakteri lain yang dapat menyebabkan
penyakit usus dan limpa, yaitu kolera, typhus, paratyphus,
dan hepatitis. Dengan memasak air terlebih dahulu hingga
mendidih, bakteri tersebut akan mati.

K. Parameter Air Layak Dikonsumsi

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik


Indonesia Nomor 1405/menkes/sk/xi/2002 tentang
Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan
industri terdapat pengertian mengenai Air Bersih yaitu air
yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari dan
kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan air bersih
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
dan dapat diminum apabila dimasak.

Parameter kualitas air bersih yang ditetapkan dalam


PERMENKES 416/1990 terdiri atas parameter fisik,
parameter kimiawi, parameter mikrobiologis.

1. ParameterFisik

Parameter fisik yang harus dipenuhi pada air minum yaitu


harus jernih, tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna.
Sementara suhunya sebaiknya sejuk dan tidak panas. Selain
itu, air minum tidak menimbulkan endapan. Jika air yang
kita konsumsi menyimpang dari hal ini, maka sangat
mungkin air telah tercemar.

2. Parameter Kimia

Dari aspek kimiawi, bahan air minum tidak boleh


mengandung partikel terlarut dalam jumlah tinggi serta
logam berat (misalnya Hg, Ni, Pb, Zn,dan Ag) ataupun zat
beracun seperti senyawa hidrokarbon dan detergen. Ion
logam berat dapat mendenaturasi protein, disamping itu
logam berat dapat bereaksi dengan gugus fungsi lainnya
dalam biomolekul. Karena sebagian akan tertimbun di
berbagai organ terutama saluran cerna, hati dan ginjal,
maka organ-organ inilah yang terutama dirusak

3. Parameter Mikrobiologis

Bakteri patogen yang tercantum dalam Kepmenkes yaitu


Escherichia colli, Clostridium perfringens, Salmonella.
Bakteri patogen tersebut dapat membentuk toksin (racun)
setelah periode laten yang singkat yaitu beberapa jam.
Keberadaan bakteri coliform (E.coli tergolong jenis bakteri
ini) yang banyak ditemui di kotoran manusia dan hewan
menunjukkan kualitas sanitasi yang rendah dalam proses
pengadaan air. Makin tinggi tingkat kontaminasi bakteri
coliform, makin tinggi pula risiko kehadiran bakteri patogen,
seperti bakteri Shigella (penyebab muntaber), S. typhii
(penyebab typhus), kolera, dan disentri.

Salah satu faktor yang sangat penting dan


menentukan bahwa air yang layak konsumsi adalah
kandungan TDS (Total Dissolved Solids) atau kandungan
unsur mineral dalam air. Contoh unsur mineral dalam air
adalah: zat kapur, besi, timah, magnesium, tembaga,
sodium, chloride, dan chlorine. Air yang mengandung
mineral tinggi sangat tidak baik untuk kesehatan. Mineral
dalam air tidak hilang dengan cara direbus. Mineral yang
baik bagi tubuh manusia adalah mineral organik yang
berasal dari sayur, buah, daging, telor, atau susu. Mineral di
dalam air disebut mineral nonorganik atau mineral dari
benda mati yang tidak bisa diuraikan oleh tubuh.
Bila terlalu banyak mineral nonorganik di dalam
tubuh dan tidak dikeluarkan, maka seiring berjalannya
waktu akan mengendap di dalam tubuh yang berakibat
tersumbatnya bagian tubuh. Misal bila mengendap di mata
mengakibatkan katarak, pada ginjal/empedu
mengakibatkan batu ginjal/batu empedu, pada pembuluh
darah mengakibatkan pengerasan pembuluh darah,tekanan
darah tinggi, stroke, pada otak mengakibatkan Parkinson,
pada persendian tulang mengakibatkan pengapuran, dll.

Menurut standar WHO, air minum yang layak


dikonsumsi memiliki kadar TDS <100. Pada dasarnya
kategori air menurut TDS terbagi menjadi 4:

a. Lebih dari 100 ppm : bukan air minum


b. 10 – 100 ppm: air minum
c. 1 – 10 ppm : air murni
d. 0 ppm : air organik

L. Pengaruh Air Terhadap Kesehatan


Air merupakan kebutuhan dasar makhluk hidup.
Namun air yang disediakan untuk keperluan sehari-hari,
termasuk untuk keperluan MCK, juga dapat memberikan
dampak yang merugikan bagi manusia beserta
lingkungannya. Tentu saja hal ini terjadi jika air yang
diberikan tidak memenuhi syarat kualitas sanitasi dan
higiene yang dibutuhkan.

a. Pengaruh Langsung

Pengaruh air secara langsung terhadap kesehatan


sangat tergantung pada kualitas air dan terjadi karena air
berfungsi sebagai penyalur/penyebar penyebab penyakit
ataupun sebagai sarang insekta penyebar penyakit. Kualitas
air berubah karena kapasitas air untuk membersihkan
dirinya telah terlampaui. Hal ini disebabkan bertambahnya
jumlah serta intensitas aktivitas penduduk yang tidak hanya
meningkatkan kebutuhan air tetapi juga meningkatkan
jumlah air buangan. Buangan pengotor air yang
berpengaruh langsung, di antaranya : zat-zat yang persisten,
zat radioaktif, dan penyebab penyakit.

b. Pengaruh Tidak Langsung

Pengaruh air secara tidak langsung adalah pengaruh


yang timbul sebagai akibat pendayagunaan air yang dapat
meningkatkan/menurunkan kesejahteraan masyarakat.
Misalnya, air yang dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga
listrik, industri, irigasi, perikanan, pertanian, dan rekreasi
dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebaliknya,
pengotoran air oleh zat pengikat oksigen, pupuk, material
tersuspensi, dan panas dapat menurunkan kesejahteraan
masyarakat.
BAB III
METODOLOGI

A. Waktu Pelaksanaan
Hari, Tanggal : Selasa, 21 Mei 2019
Rabu, 22 Mei 2019
Kamis, 23 Mei 2019
Pukul : 09.00-11.30 WITA
Materi Praktikum : Uji kualitas air berdasarkan nilai
MPN coliform
B. Alat
1. Tabung reaksi
2. Pipet ukur
3. Pipet filler
4. Lampu spiritus
5. Beaker glass
6. Sendok kayu
7. Mikropipet + tip
8. Pipet tetes
9. Korek
10. Rak tabung reaksi
11. Tabung durham
12. Inkubator
13. Oven
14. Hot plate
15. Timbangan analitik

C. Bahan
1. Handscoon
2. Masker

3. Sampel air
4. Tissu
5. Karet gelang
6. Beaker glass
7. Kertas coklat
8. Aquades
9. Alkohol
10. Media Lactose Broth (LB)
11. Media Brilliant Green Lactose Bileboth (BGLB)

D. Pelaksanaan Prosedur
1. Pembuatan Media
a. Didihkan 1L aquades menggunakan beaker glass di
atas hot plate
b. Menimbang LB menggunakan timbangan analitik
1) Single Strength : 13 g/L = 1,3g/100ml
2) Single Strength : 13 g/L = 1,3g/100ml
3) Double Strength : 26 g/L = 2,6g/100ml
c. Menimbang BGLB menggunakan timbangan analitik
1) Single Strength : 40 g/L = 4g/100ml
2) Single Strength : 40 g/L = 4g/100ml
3) Double Strength : 80 g/L = 8g/100ml
d. Aquades yang telah mendidih dipindahkan ke dalam
gelas ukur lalu dipindahkan ke beaker glass masing-
masing ukuran 100 ml dan 200 ml dan masing-
masing 2 buah beaker glass
e. Aquades dipanaskan kembali di atas hot plate
f. Menambahkan LB ke dalam aquades dengan ukuran
1) 2,6g/100ml aquades
2) 2,6g/200ml aquades
g. Menambahkan LB ke dalam aquades dengan ukuran
3) 8g/100ml aquades
4) 8g/200ml aquades
h. Memindahkan larutan LB dan BGLB yang telah
homogen ke dalam tabung reaksi yang telah berisi
tabung durham di dekat lampu spiritus
i. Berikan kode tabung LBSS 0,1 ml (3 tabung), LBSS 1
ml (3 tabung), LBDS 6 ml (3 tabung), BGLBSS 0,1 ml
(3 tabung), BGLBSS 1 ml (3 tabung) dan BGLBDS 6
ml (3 tabung).
j. Menghilangkan gelembung yang ada dalam tabung
durham
k. Tutup tabung reaksi dengan kapas
l. Masukkan tabung ke dalam oven selama 1 jam dengan
suhu 110 derajat selsius

m. Kemudian masukkan ke dalam kulkas

n. Lakukan uji pendugaan setelah 1 x 24 jam

2. Uji Pendugaan

a. Mengambial tabung reaksi yang berisi media dari


dalam kulkas
b. Menuang air sampel (air mineral) menggunakan pipet
steril sebanyak 6 ml ke dalam tabung LBDS 6 ml (3
tabung), 0,1 ml ke dalam tabung LBSS 0,1 ml (3
tabung) dan 1 ml ke dalam tabung LBSS 1 ml (3
tabung)
c. Menginokulasi 9 tabung reaksi tersebut pada suhu 37
derajat celcius selama 1 x 24 jam
d. Mengamati adanya gelembung udara di dalam tabung
durham
e. Mencatat hasil tabung yang positif
3. Uji Penegasan

a. Mengambil tabung dengan larutan BGLB


b. Memindahkan hasil sampel positif pada larutan LB
menggunakan jarum ose
c. Menginkubasi sampel pada suhu 37 derajat celcius di
dalam inkubator selama 1 x 24 jam
d. Mencatat tabung yang positif
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
1. Tabung positif pada larutan LB ditemukan 6 tabung positif
yaitu :
Tabung Hasil
LBDS 6 ml +
LBDS 6 ml +
LBDS 6 ml +
LBSS 1 ml +
LBSS 1 ml +
LBSS 1 ml +
Gambar 4.1 Sampel LB positif

2. Tabung positif pada larutan BGLB ditemukan 6 tabung


positif yaitu :
Tabung Hasil
BGLBDS 6 ml +
BGLBDS 6 ml +
BGLBDS 6 ml +
BGLBSS 1 ml +
BGLBSS 1 ml +
BGLBSS 1 ml +
Gambar 4.1 Sampel BGLB positif

3. Nilai MPN Coliform dari sampel air mineral ialah


No tabung positif Indeks 95% Batas
MPN per Kepercayaan
6 ml 1 ml 0,1 ml 100 ml Terendah Tertinggi
3 3 0 240 36 1300

4. Perbandingan dengan permenkes nomor


416/menkes/IX/1990 terkait persyaratan air minum
Parameter Satuan Kadar yang Keterangan
diperbolehkan
Mikrobiologik Jumlah 0 95% dari
Koliform per 100 sampel yang
Tinja ml diperiksa
Total Jumlah 0 selama
koliform per 100 setahun.
ml Kadang-kadang
boleh ada 3 per
100/ ml
sampel, tetapi
tidak berturut-
turut

B. Pembahasan
Pada pengamatan uji pendugaan selama 1 x 24 jam
didapatkan hasil negatif pada 3 tabung LBSS 0,1 ml dan positif
pada 3 tabung LBSS 1 ml dan pada 3 tabung LBDS6 ml.
Kemudian hasil sampel positif akan ditindak lanjuti dengan uji
penegasan.
Pada uji penegasan atau pengamatan pada 2 x 24 jam
didapatkan hasil 6 tabung positif yaitu BGLBSS 1 ml dan BGLBDS
6 ml.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Ditemukan 6 tabung reaksi positif saat uji kualitas air
dengan MPN coliform dengan sampel air minum
2. Mampu melakukan uji pendugaan dan uji penegasan
untuk uji kualitas air dengan MPN coliform dengan sampel
air minum
3. Berdasarkan uji kualitas air dengan jumlah tabung positif
6 ml (3 tabung) dan 1 ml (3 tabung) maka sampel hasil uji
pada air minum menunjukkan bahwa sampel tidak layak
dikonsumsi.

B. Saran
Diharapkan mahasiswa pada praktikum selanjutnya
dapat melakukan praktikum lebih baik serta menyiapkan alat
dan bahan dengan lengkap sebelum melakukan praktikum.
Semoga apa yang sudah diajarkan dan dijelaskan oleh dosen
dapat bermanfaat bagi mahasiswa

DAFTAR PUSTAKA

Arya Wardhana ,W. 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan.


Cetakan Keempat. Yogyakarta : Penerbit Andi. Suryani Dyah Astuti,

Effendi. H. 2003. Telaah Kualitas Air. Yogyakarta: Penerbit


Kanisius.
Kusnoputranto, Haryoto, 1986. Kesehatan Lingkungan,
Departemen P&K. UI: Jakarta

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 16


Tahun 2005 Tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.20 tahun 1990


Tentang Kualitas Air

Peraturan Menteri Kesehatan RI. No. 416/Menkes/IX/1990,


Tentang Syarat-Syarat Pengawasan Kualitas Air.

Slamet, J.S. 2004. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta :


Gadjah Mada University Press

Waluyo, Lud. 2005. Mikrobiologi Umum. Malang: Universitas


Muhammadiyah Malang Prees.