Sie sind auf Seite 1von 6

~ Mimbar Sekolah Dasar, Volume 1 Nomor 1 April 2014, (hal.

77-82) ~

SUPERVISI AKADEMIK PEMBELAJARAN IPA MELALUI ICT BASED LESSON


STUDY UNTUK MEMBANGUN LEARNING COMMUNITY GURU SD

Achmad Samsudin

Jurusan Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia


Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung 40154
Email: achmadsamsudin@upi.edu

ABSTRACT
Have conducted a study on academic supervision science learning through ICT based Lesson Study to
develop a learning community for science teachers. This article was a written idea can be realized in
learning science especially in elementary school. A community of learning among elementary science
teachers needs to be developed in order to improve the quality of science teaching and student learning
achievement in the schools. This idea is carried through descriptive method based on a literature review.
Supervision programs are assessed and analyzed using a pattern of lesson study, combined with ICT
based that can bridge between science teachers and lecturers in the schools are separated by distance
and geographical location are difficult to reach and require large additional costs. Some advantages of
academic supervision program of learning science through ICT based Lesson Study is to provide broad
access to learning for among components such as science teachers, supervisors, principals and lecturers.
Keywords: supervision of academic, science, ICT based Lesson Study, learning community.

ABSTRAK
Telah dilakukan suatu kajian tentang supervisi akademik pembelajaran IPA melalui ICT Based Lesson
Study untuk membangun learning community bagi guru IPA. Artikel ini merupakan sebuah gagasan
tertulis yang dapat diwujudkan dalam pembelajaran IPA khususnya di SD. Sebuah komunitas belajar
diantara guru IPA SD perlu dibangun guna meningkatkan kualitas pembelajaran IPA dan hasil belajar
siswa di lapangan. Gagasan ini dilakukan melalui metode deskriptif berdasarkan kajian literatur.
Program supervisi yang dikaji dan dianalisis menggunakan pola lesson study yang dipadukan dengan
ICT based yang dapat menjembatani antar guru IPA dan dosen pendamping di lapangan yang
dipisahkan oleh jarak dan letak geografis yang sulit dijangkau maupun memerlukan biaya akomodasi
yang besar. Kelebihan program supervisi akademik pembelajaran IPA melalui ICT based lesson Study
yaitu dapat memberikan akses belajar yang luas antar komponen seperti sesama guru IPA, pengawas,
kepala sekolah, dan dosen pendamping.

Kata kunci: supervisi akademik, IPA, ICT based lesson study, learning community.

PENDAHULUAN ~ Kualitas pendidikan di posisi ke 32 dari jumlah peserta yang sama


Indonesia banyak mendapatkan sorotan akhir- (Mullis et al, 2000). Ana (2011) mengatakan
akhir ini. Khusus mengenai IPA (IPA) yang akan dalam blog UMY bahwa dalam hal prestasi, 15
menjadi sorotan kajian selanjutnya. Rendahnya September 2004 lalu United Nations for
capaian siswa dalam UAN dan hasil studi Development Programme (UNDP) juga telah
komparasi antar negara, merupakan salah satu mengumumkan hasil studi tentang kualitas
indikator rendahnya kualitas pendidikan di manusia secara serentak di seluruh dunia
Indonesia. Rendahnya capaian siswa Indonesia melalui laporannya yang berjudul Human
dikuatkan pula oleh laporan TIMMS yang Development Report 2004. Di dalam laporan
memaparkan bahwa kemampuan matematika tahunan ini Indonesia hanya menduduki posisi
siswa di Indonesia berada pada urutan 34 dari ke-111 dari 177 negara. Apabila dibanding
38 negara peserta, dan jauh di bawah dengan negara-negara tetangga saja, posisi
kemampuan rata-rata secara internasional, begitu Indonesia berada jauh di bawahnya. Selain itu,
juga dengan kemampuan IPA (IPA) siswa dalam anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu

Publikasi Online: http://jurnal.upi.edu/mimbar-sekolah-dasar/ ~ 77 ~


~ Achmad Samsudin, Supervisi Akademik Pembelajaran IPA ~

menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata banyak hukum, prinsip, prosedur, dalil, dan
mereka mengalami kesulitan dalam menjawab rumus yang berhubungan dengan konsep IPA,
soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan sehingga pengetahuan IPA siswa bersifat
penalaran. Hal ini lebih disebabkan karena verbalistis dan kurang bermakna. Apalagi
mereka sangat terbiasa menghafal dan banyak konsep-konsep IPA yang abstrak
mengerjakan soal pilihan ganda. menyebabkan siswa salah memaknainya dan
Kualitas pendidikan ditentukan oleh banyak mengalami miskonsepsi (Romberg & Kaput:
faktor, di antaranya kurikulum, guru, fasilitas, 1999; Silver: 1989; Koseki: 2001). Seperti telah
dan masyarakat. Kurikulum di Indonesia telah disampaikan di atas, guru merupakan pihak
beberapa kali mengalami perubahan, yang masih yang paling disorot dalam capaian belajar siswa.
hangat dibicarakan adalah menjelang perubahan Oleh karena itu muncul berbagai upaya untuk
kurikulum di tahun 2013 ini, namun rata-rata meningkatkan kemampuan profesional guru.
UN IPA siswa relatif rendah, meskipun telah Berdasarkan kondisi-kondisi di atas perlu
didukung keikutsertaan masyarakat atau orang dicarikan suatu alternatif solusi agar setiap guru
tua misalnya dengan dibentuknya dewan memperoleh kesempatan layanan untuk
pendidikan dan komite sekolah. Dengan meningkatkan profesionalismenya. Memang
demikian, wajarlah jika guru sebagai ujung sudah berjalan salah satu forum guru untuk
tombak pendidikan merupakan pihak yang meningkatkan profesionalismenya, yaitu melalui
paling disorot dalam capaian belajar siswa. kegiatan MGMP (Musyawarah Guru Mata
Terlebih lagi, hasil Ujian Kompetensi Guru Pelajaran) Bidang IPA. Akan tetapi, forum ini
(UKG) hingga hari ketiga, tercatat 373.415 guru tidak lebihnya sekedar ajang kumpul dan agenda
TK hingga SD/SMK telah mengikuti uji besarnya hanya menyusun soal ujian semester
kompetensi guru. Dari hasil pengolahan bersama. Jarang sekali yang membicarakan dan
terhadap 243.619 peserta UKG hari pertama dan mengeksplorasi praktikum IPA dan membahas
kedua, nilai rata-rata sementara UKG tergolong konsep-konsep dalam pembelajaran IPA yang
rendah, hanya 44,5 dari skor maksimum 100. lebih interaktif dan inkuiri. Alternatif solusi yang
Kenyataan di lapangan juga menunjukkan ditawarkan adalah pemanfaatan teknologi
bahwa mata pelajaran IPA tidak disukai oleh informasi dan komunikasi (TIK) atau ICT dalam
siswa. Banyak siswa SD mengalami kesulitan upaya peningkatan profesionalisme guru IPA SD
belajar IPA. Mata pelajaran ini dianggap tidak menggunakan ICT based Lesson Study.
menarik minat siswa dan kebanyakan siswa Secara umum kegiatan ini betujuan untuk
memperoleh hasil belajar IPA yang rendah, membentuk learning community (komunitas
bahkan sangat rendah. Analisis terhadap belajar) dan meningkatkan kualitas pendidikan
permasalahan ini mengarahkan temuan pada IPA di Jawa Barat. Secara khusus, kegiatan ini
akar permasalahan yaitu bahwa sumber bertujuan untuk meningkatkan:
kesulitan tersebut disebabkan oleh sebagian a. Jangkauan layanan profesional kepada guru-
besar guru IPA SD kurang memanfaatkan media guru SD.
informasi digital seperti: internet, multimedia b. Pemahaman konsep IPA bagi guru-guru SD.
interaktif, dan e-learning dalam pembelajaran IPA c. Kemampuan pedagogi guru SD dalam
di kelas mereka, sehingga pengetahuan mereka pembelajaran IPA.
tentang IPA menjadi sepotong-sepotong (partial) d. Kemampuan guru IPA dalam menggunakan
dan kurang kreatif dalam mencari sumber belajar ICT.
dan sharing belajar dengan bantuan TIK e. Kemampuan guru IPA SD dalam
(Teknologi Informasi dan Komunikasi). melaksanakan PTK dan menghasilkan karya
Rendahnya pengetahuan IPA guru SD ditengarai tulis ilmiah.
sebagai penyebab rendahnya dan kurang f. Kemampuan guru SD dalam melakukan
disukainya IPA bagi siswa-siswi di sekolah inovasi dalam pembelajaran IPA.
karena pembelajaran IPA diselenggarakan secara Metode kajian literatur yang digunakan
tradisional. adalah studi literatur dengan mendeskripsikan
Pembelajaran IPA biasanya dilakukan secara segala pemikiran dan gagasan yang terkait
ceramah dan siswa cenderung menghafalkan dengan supervisi akademik pembelajaran IPA

~ 78 ~ Publikasi Online: http://jurnal.upi.edu/mimbar-sekolah-dasar/


~ Mimbar Sekolah Dasar, Volume 1 Nomor 1 April 2014, (hal. 77-82) ~

melalui ICT based lesson study dalam rangka Visualisasi model ICT based Lesson Study
membangun komunitas belajar guru IPA SD. dapat dilihat dalam kerangka dasar peningkatan
kualitas pembelajaran IPA SD di Jawa Barat
VISUALISASI MODEL ICT BASED LESSON seperti Gambar 1 berikut.
STUDY

PETA MASALAH PEMBELAJARAN IPA DI SD


JAWA BARAT

PENGUASAAN GURU IPA BER-LB LETAK GEOGRAFIS


KONSEP IPA GURU NON-IPA YANG MENYEBAR
RENDAH

PEMBELAJARAN
IPA TRADISIONAL

IPA TIDAK
MENARIK MINAT
SISWA PENINGKATAN KUALITAS
PEMBELAJARAN IPA GURU
SD DENGAN ICT BASED
LESSON STUDY

HASIL BELAJAR IPA HASIL UN IPA


SISWA SD CUKUP SISWA RENDAH
RENDAH

PENGUASAAN PENGUASAAN PENGUASAAN


KONSEP IPA PEDAGOGI TIK (ICT)

PERAN SUPERVISOR
(PENGAWAS KEPALA
SEKOLAH, DAN DOSEN)
PENINGKATAN KUALITAS PENINGKATAN
PEMBELAJARAN IPA SMA ILMIAH MELALUI PTK
& KTI

Gambar 1. Visualisasi Model ICT Based Lesson Study terhadap Guru IPA SD

Kegiatan ini terdiri dari 4 tahap, yaitu analisis (3) Monitoring


kebutuhan (need assessment), pelatihan untuk Monitoring dilaksanakan terhadap
guru, monitoring, dan evaluasi. pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
(1) Analisis Need Assessment (Base Line) Monitoring diperlukan sebagai refleksi dan
Pada tahap ini instrumen yang digunakan evaluasi pelaksanaan program yang sedang
meliputi lembar tes siswa, pedoman berjalan.
wawancara, lembar observasi, dan angket. (4) Evaluasi Program (End Line).
(2) Pelatihan Evaluasi program meliputi program evaluasi
Pelatihan untuk guru meliputi pengenalan yang diterapkan untuk mengetahui sejauh
materi, penjelasan teknis, PTK, KTI, serta mana program ini dilaksanakan secara efektif.
komunikasi, diskusi, dan konsultasi melalui Ruang lingkup kegiatan ini meliputi:
ICT. 1) Identifikasi kebutuhan (need assessment)

Publikasi Online: http://jurnal.upi.edu/mimbar-sekolah-dasar/ ~ 79 ~


~ Achmad Samsudin, Supervisi Akademik Pembelajaran IPA ~

2) Penentuan kelompok sasaran. Untuk lebih menggambarkan kerangka dasar


3) Pengembangan instrumen dari ICT based Lesson Study tersebut dapat
4) Validasi, penyempurnaan, dan penggandaan diuraikan dalam komponen-komponen model
instrumen. yang terkait di dalamnya. Komponen-komponen
5) Pengembangan bahan ajar melalui Lesson yang terlibat dalam model ICT based Lesson Study
Study (LS) secara online: meliputi pihak internal dan eksternal dari
(Rencana Pelaksanaan LS online setiap hari sekolah, antara lain:
Senin dan Rabu Jam 13.00-16.00) 1. Guru IPA
(1) Materi IPA melalui internet (online). 2. Pengawas Sekolah Bidang IPA
(2) Pedagogi IPA melalui internet (online). 3. Kepala Sekolah
(3) Pengayaan materi IPA melalui MMI. 4. Dosen
(4) Pengayaan pedagogi IPA melalui internet 5. Siswa
(online) 6. Staf Sekolah yang lain
6) Membangun dan menguji coba infrastruktur
ICT/TIK. HUBUNGAN ANTAR KOMPONEN
7) Pelatihan: (1) Pengenalan ICT (Moodle) Komponen-komponen yang dianggap sangat
(2) Penjelasan teknis berperan dalam sistem penjaminan mutu
(3) Pelatihan PTK dan KTI pendidikan IPA terutama di persekolahan
(4) Komunikasi, diskusi, dan mempunyai peran dan tanggungjawab masing-
konsultasi melalui ICT. masing dan saling mendukung. Secara singkat
8) Monitoring pelaksanaan pembelajaran IPA dapat digambarkan hubungan antar komponen
dan refleksinya. antara lain: Perguruan Tinggi (Dosen), Sekolah
9) Pengumpulan dan analisis data. (Siswa, Guru, Kepala Sekolah, dan Staf lain), dan
10) Pelaporan. Dinas Pendidikan (Pengawas Sekolah) melalui
Gambar 2.

External Pengelola Program Internal


Customer Moodle dan Supervisi Customer
kelas IPA

Perguruan Tinggi (Dosen)


Sekolah (Siswa, Guru, KS, Staf lain)

Koordinasi
Supervisi
Supervisi di kelas
Optimal
IPA (KS & PS) –
Bantuan
administrasi (staf
lain)
External
Customer

Dinas Pendidikan (Pengawas)

Gambar 2. Hubungan antar Komponen Model ICT based Lesson Study

~ 80 ~ Publikasi Online: http://jurnal.upi.edu/mimbar-sekolah-dasar/


~ Mimbar Sekolah Dasar, Volume 1 Nomor 1 April 2014, (hal. 77-82) ~

Berdasarkan Permendiknas No. 16 Tahun pembelajaran berbasis inkuiri bebas dan problem
2007 seorang guru dituntut memiliki empat solving. Guru SD pembelajar IPA hanya
kompetensi: pedagogi, kepribadian, sosial, dan menyediakan alat dan bahan berupa silet,
profesional. Profesionalisme guru dinilai magnet, benang, dan tempat air disertai LKS
berdasarkan Permendiknas No. 18 Tahun 2007 yang tidak membimbing secara penuh apa yang
terdiri dari uraian tentang: siswa lakukan dalam mengeksplorasi konsep
a. kualifikasi akademik; kemagnetan. Siswa dengan bekerja secara
b. pendidikan dan pelatihan; berkelompok mulai melakukan eksplorasi dan
c. pengalaman mengajar; pengamatan sedangkan peran guru memfasilitasi
siswa belajar dan membimbing jika dalam proses
d. perencanaan dan pelaksanaan
eksplorasi kemagnetan siswa mengalami
pembelajaran;
kesulitan.
e. penilaian dari atasan dan pengawas; Kepala Sekolah, Pengawas, dan Dosen yang
f. prestasi akademik; terlibat dalam kegiatan pembelajaran berupaya
g. karya pengembangan profesi; menjadi observer yang baik tanpa melakukakn
h. keikutsertaan dalam forum ilmiah; intervensi terhadap pembelajaran yang sedang
i. pengalaman organisasi di bidang berlangsung. Customer eksternal ini melakukan
supervisi dan melakukan refleksi dengan
kependidikan dan sosial; dan
memberikan masukan yang positif untuk
j. penghargaan yang relevan dengan bidang kemajuan pembelajaran di pertemuan berikutnya
pendidikan. secara berkelanjutan.

Pengawas berperan sebagai peneliti, STRATEGI IMPLEMENTASI


konsultan atau penasehat, fasilitator, motivator, Lesson Study (LS) yang sukses adalah LS yang
dan pelopor. Pengawasan bisa berwujud: dapat meningkatkan profesionalisme guru, maka
memperhatikan, mengerti dan memahami, pelaksanaan LS secara berkesinambungan
membantu dan membimbing, memupuk diyakini dapat meningkatkan praktik-praktik
evaluasi diri bagi perbaikan dan pengembangan, pembelajaran sehari-hari. Peningkatan praktik-
memupuk kepercayaan diri dan memupuk, praktik pembelajaran akan bermuara pada
mendorong bagi pengembangan inisiatif dan peningkatan kualitas proses dan produk belajar
kreativitas (Satori, 2012). siswa. Secara umum pelaksanaan Lesson Study
Siswa sebagai subjek pembelajaran melalui tiga fase yaitu Plan, Do, dan See seperti
menjadikan pembelajaran lebih bermakna Gambar 3 di bawah.
manakal siswa benar-enar terlibat dalam
pembelajaran. Sebagai contoh, guru melakukan

Menyusun rencana pembelajaran (Merancang


SEE Pembelajaran)

Guru “model” melaksanakan pembelajaran dan guru


DO lain “mengamati”

PLAN Guru merefleksi kegiatan bersama

Gambar 3. Tahap-tahap Lesson Study (JICA, 2009)

Dalam pembelajaran IPA, secara operasional kelompok ICT based LS, (3) Memfokuskan
ICT based LS dapat dilaksanakan melalui 7 (tujuh) kegiatan ICT based LS, (4) Merencanakan
tahapan diadaptasi dari Santyasa (2009), yaitu (1) pembelajaran dan PTK, (5) Membelajarkan dan
Menyiapkan program Moodle yang terintegrasi mengamati pembelajaran IPA serta melakukan
dengan program Skype. (2) Membentuk

Publikasi Online: http://jurnal.upi.edu/mimbar-sekolah-dasar/ ~ 81 ~


~ Achmad Samsudin, Supervisi Akademik Pembelajaran IPA ~

PTK, (6) Merefleksikan dan menganalisis PTK, JICA. (2009). Panduan untuk Lesson Study Berbasis
dan (7) Merencanakan kembali ICT based LS. MGMP dan Lesson Study Berbasis Sekolah.
Jakarta: Depdiknas, Depag, dan JICA.
SIMPULAN Mullis, I.V.S, et al. (2000). TIMMS 1999, (p. 32).
Pengawasan (Supervisi) oleh kepala sekolah, Boston: The International Study Center
pengawas satuan pendidikan, dan dosen Boston College, Lynch School of Education.
perguruan tinggi, hendaknya memahami tentang Permendiknas RI No. 16. (2007). Kompetensi Guru.
hakikat sains inkuiri dan mengikuti prinsip- Jakarta: Kemdiknas.
prinsip Lesson Study seperti kolegialitas. Permendiknas RI No. 18. (2007). Tugas Guru dan
Sehingga evaluasi dan pengawasan yang Pengawas. Jakarta: Kemdiknas.
dilakukan tidak mengarah kepada penghakiman Romberg, T.A & Kaput, J.J. (1999). Mathematics
atas pembelajaran guru melainkan dapat worth teaching, mathematics worth
digunakan sebagai refleksi berkelanjutan understanding. In Elizabeth Fennema &
terhadap pembelajaran IPA di Kelas. Thomas A. Romberg (Eds.), Mathematics
Pengawasan terus menerus, menghasilkan classroom that promote understanding, (pp.3-17).
refleksi yang diimplementasikan terus menerus New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates
melalui fase LS yaitu PLAN, DO, dan SEE yang Publishers.
selalu berulang, sehingga budaya mutu (culture Santyasa, I. (2009). Implementasi Lesson Study
quality) melalui terciptanya Learning Community dalam Pembelajaran. Makalah: Disajikan dalam
berlaku untuk semua komponen penyelenggara ”Seminar Implementasi Lesson Study dalam
pendidikan dan mutu bukan suatu tujuan tetapi Pembelajaran bagi Guru-Guru TK, Sekolah
suatu proses. Dasar, dan Sekolah Menengah Pertama di
Kecamatan Nusa Penida, Tanggal 24 Januari
REFERENSI 2009, di Nusa Penida.
Ana. (2011). Penyebab Rendahnya Kualitas Satori, D. (2012). Sistem Penjaminan dan
Pendidikan di Indonesia. [Online]. Tersedia: Peningkatan Mutu Pendidikan. Makalah tidak
http://blog.umy.ac.id/anadwiwahyuni/pendid diterbitkan.
ikan/penyebab-rendahnya-kualitas-
pendidikan-di-indonesia/. [4 Januari 2013].

~ 82 ~ Publikasi Online: http://jurnal.upi.edu/mimbar-sekolah-dasar/