Sie sind auf Seite 1von 4

Prosiding Seminar Nasional Lingkungan Lahan Basah p-ISSN 2623-1611

Volume 3 Nomor 1 Halaman 205-208 April 2018 e-ISSN 2623-1980

PERILAKU ZOOFARMAKOGNOSIS ORANGUTAN (Pongo pygmaeus Wurmbii) DI


TAMAN NASIONAL SEBANGAU, KALIMANTAN TENGAH INDONESIA

The Orangutan (Pongo pygmaeus Wurmbii) Zoopharmacognocy in


Sebangau National Park, Central Kalimantan Indonesia

Adventus Panda *, Yohanes Edy Gunawan


Laboratorium Zoologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UPR,
Jalan Hendrik Timang, Kampus Tunjung Nyaho, Universitas Palangka Raya Central Kalimantan Indonesia
*Surel: apanda@fkip.upr.ac.id

Abstract
Zoopharmacognocy is the ability of animals to perform self medication. This capability is perform by utilizing the plant
secondary metabolite and/or component of the non-nutritional. It is suspected that this behavior is a long-term
observation of Orangutans' behavior (Pongo pygmaeus wurmbii), by communities surround Sebangau National Park
(SNP). to be practiced as ethnomedication. The treatment can be either prophylactic or therapeutic. Nowadays many
developing herbal treatment methods, but not yet much excavated empirical about the claims. This study aims to study
the ability of Orangutans to self-medicate in Sebangau ecosystem area.The research was conducted in Punggualas,
SNP, 29 April to 03 October 2017. Observation method followed the Orangutan protocol, with focus of observation on
feeding behavior. Target plants were collected, identified and documented, while the behavior of orangutans was
recorded based on the Orangutans' observation protocol, on which focal activities were recorded every 2 minutes,
including their social behavior. The obervations will be terminated, if during follow, focal get outward the study grid. All
data were analyzed descriptively.There were three focal orangutans been followed, consisting of two dominant male,
namely Eboy and Sander, and an individual female and infant. Both Sander and Eboy, each were only followed once,
while the unnamed mother and infant, were followed four times. The results revealed hat two male individuals, did not
show signs of zoofaramkognosi behavior, their feeding activity restricted on the Orangutan food list. Meanwhile, the
mother, indicate the sign of zoopharmacognocy. It is characterized by selectively choosing young leaves of Karipak
(Mezzetia sp.), pulp of the Pantung (Dyera lowii) and Kamasira (Ilex cymosa), the last to chew the entire Leaf Handipe
leaves. This was conducted repeatedly for several times, and consistent before embark nest areas. Allegedly, this is a
preventive measure against fatigue conditions, and the combination of these three plant species is assumed to be related
to stamina. The study urged to isolated the secondary metabolites for further investigation, especially in term of phyto-
pharmacy.

Keywords: zoopharmacognocy, orangutan, Sebangau National Park, secondary metabolite

1. PENDAHULUAN (self-medication behavior). Studi beberapa dekade


kemudian, sebagaimana kompilasi Huffman (2003),
Kemampuan hewan mengobati dirinya sendiri menunjukkan bukti empiris baru (Tabel 1).
(zoopharmacognosy), sebagaimana disampaikan Kemampuan ini didokumentasikan dengan
pada bagian terdahulu, termasuk di dalamnya baik sejak tahun 1987 pada salah satu golongan
adalah pemanfaatan metabolit sekunder (non- kera besar, yakni Simpanse (Huffman 1996, 1997,
nutritif) dari tumbuhan. Janzen (1957) saat itu 2003; Huffman & Hatoshi 2004) dan golongan kera
menyampaikan bahwa anggota sub-filum vertebrata, lain (Baker 1996; Dejoseph et al. 2002; Verderane
utamanya yang bersifat herbivor, akan memperoleh etal. 2007, Morrogh-Bernard, 2008). Beberapa studi
manfaat secara medis dari metabolit sekunder dari terkait kemampuan tersebut pada golongan taksa
tumbuhan yang mereka konsumsi. Ini didasarkan burung (Clark & Mason 1985, 1987; Clark et al.
pada studi empiris pada golongan non-manusia, 1990). Namun, beberapa penelitian mengemukakan
dengan sifat herbivor dan omnivor, seperti pada fakta bahwa ada kesamaan pemilihan bagian
primata dan burung, serta penyakit yang disebabkan tumbuhan oleh hewan dan manusia, sebagaimana
oleh parasit. Menurutnya, patut diduga bahwa ada yang dilaporkan Huffman (2003) di kawasan Gurun
banyak lagi dijumpai herbivor dan omnivor yang Sahara, Afrika dan Morrogh-Bernard (2008) di
akan menunjukkan perilaku mengobati diri sendiri Kawasan Sebangau Kalimantan Tengah.

© Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Lambung Mangkurat


205
Prosiding Seminar Nasional Lingkungan Lahan Basah p-ISSN 2623-1611
Volume 3 Nomor 1 Halaman 205-208 April 2018 e-ISSN 2623-1980

Tabel 1. Kompilasi beberapa laporan mengenai zoopharmacognosy

Sumber: Huffman (2003)


(Gambar 1) jika dibandingkan dengan kawasan eks.
Proyek Lahan Gambut (PLG) satu juta hektar.
Menurut data WWF-Indonesia (2004), kawasan ini
memiliki keanekaragaman hayati flora dan fauna
yang tinggi, meliputi 166 jenis flora, 116 jenis
burung, 35 jenis mammalia dan 36 jenis ikan, serta
merupakan habitat orang utan (Pongo pygmaeus
wurmbii) dengan kelimpahan populasi sebanyak
kurang lebih 6.200 individu.Selain itu, kawasan ini
memiliki peran penting di dalam menjaga tata air
(hidrologi) kawasan di dua kabupaten yakni
Kabupaten Katingan dan Pulang Pisau, serta satu
Kota, yakni Palangka Raya.

2. METODE

Pencatatan data orangutan, terutama perilaku


makan mengikuti protokol Russon et al. (2008).
Pengamatan perilaku menggunakan sistem grid. Di
Kawasan Punggualas, Taman Nasional Sebangau
terdapat empat transek utama yang panjang setiap
Gambar 1. Visual antar-muka dari Google Earth transeknya 1000 m. Setiap transek utama dibagi lagi
terhadap kawasan Sebangau dan Eks- beberapa sub-transek yang panjangnya masing-
Proyek Lahan gambut satu juta Ha (Google masing 100 m, sehingga perpotongan tiap jalur,
Earth, 2009) menghasilkan grid 100 x 100 m (10.000 m2 = 1 ha).
Dengan demikian, luas area studi adalah 4 x 100 x
Sebangau merupakan salah satu perwakilan 10.000 m2 = 4.000.000 m2 (~ 400 ha). Tim secara
ekosistem rawa gambut yang relative masih utuh regular menyusuri transek utama, mencari tanda

© Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Lambung Mangkurat


206
Prosiding Seminar Nasional Lingkungan Lahan Basah p-ISSN 2623-1611
Volume 3 Nomor 1 Halaman 205-208 April 2018 e-ISSN 2623-1980

kehadiran orangutan (suara, faeces). Pada saat jauh dari sarang orangutan, sehingga saat aktivitas
terjadi penjumpaan, tim tidak melakukan pencatatan harian dimulai, demikian pula halnya dengan
perilaku, namun melakukan habituasi. Habituasi pencatatan perilaku. Perilaku dicatat selang dua
bertujuan untuk membiasakan orangutan dengan menit (2 x 60 detik), sesuai dengan standar
keberadaan pengamat, sehingga berangsur angsur pengamatan perilaku orangutan. Jika orangutan
merasa tidak terganggu. Tim terus mengikuti masih berada di dalam grid, aktivitas akan diulangi
(follow), sampai individu membuat sarang malam esok hari. Namun jika orangutan meninggalkan area
(nest). Pada saat orangutan akan meninggalkan studi (off the grid), pencatatan selesai.
sarang keesokan hari, tim harus sudah berada tidak

(a) (b)
Gambar 2. Lokasi Penelitian, (a) Peta tutupan lahan Taman Nasional Sebangau (2014); (b) kawasan penelitian
Punggualas, Taman Nasional Sebangau (2014).Sumber: WWF-Indonesia, Kalimantan Tengah.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN memilih daun muda karipak (Mezzetia sp.), kulit ari
batang pantung (Dyera lowii) dan kamasira (Ilex
Tiga focal yang diikuti terdiri atas dua individu jantan cymosa), terakhir mengunyah keseluruhan daun
dominan, Eboy dan Sander, satu individu betina dan belang handipe (Gambar 3).
infant. Tercatat 23 jenis tumbuhan yang menjadi
pakan alami atau bukan. Di antaranya adalah
bajakah kalalawit (Uncaria gambir Roxb), dan
kamasulan (Pternandra galeata Ridl.).
Bajakah kalalawit sebagaimana dilaporkan oleh
Pambayun et al., (2005) memiliki kandungan phenol
dan antibacterial pada beberapa ekstrak yang
dicobakan. Lebih lanjut, Setyowati (2017)
menyatakan bahwa spesies ini memiliki komponen (a) (b)
aktif, “catechin”. Komponen ini adalah grup
senyawaan yang menempati posisi tingkat
menengah pada hieraki senyawa tannin, dikenal
sebagai kelompok catechin-tannin. Kompilasi
Huffman (2003) menyebutkan bahwa komponen
phenol pada tumbuhan berhubungan dan/atau
menyebabkan efek penyusutan jaringan ikat
(c) (d)
(astringency) dan menurunkan lama waktu cerna
Gambar 3. Perilaku teramati orangutan memakan bagian
makanan. tumbuhan bukan pakan alami (a dan b)
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa dua orangutan menggigit batang kamasira (Ilex
individu jantan, tidak menunjukkan tanda perilaku cymosa) – mengambil lapisan antara kulit luar
zoofarmakognosi, aktivitas makan hanya pada dengan kambium; (c dan d) orangutan
kelompok pakan (lihat daftar pakan orangutan). memakan bakal bunga tumbuhan Mahoni
Sementara itu, individu betina, menunjukkan baputi.
perilaku tersebut. Ini ditandai dengan secara selektif

© Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Lambung Mangkurat


207
Prosiding Seminar Nasional Lingkungan Lahan Basah p-ISSN 2623-1611
Volume 3 Nomor 1 Halaman 205-208 April 2018 e-ISSN 2623-1980

penelitian ini, dan semua pihak yang tidak dapat


disebutkan satu demi satu.

6. DAFTAR PUSTAKA

Baker M. 1996. Fur rubbing: Use of medicinal plants by


(a) (b) capuchin monkeys (Cebuscapucinus). American
Gambar 4. Daun (a) tumbuhan bajakah kalalawit (U. Journal of Primatology, 38, 263–270.
gambir Roxb.) dan (b) Kamasulan (Pternandra Carlos-Neto EM, 2012. Zoopharmacognosy, the self
galeata Ridl.). medication behaviour of animals. Interfaces
Científicas - Saúde e Ambiente. Aracaju, 01(01),
Diduga ini adalah tindakan preventif terhadap 61-72.
kondisi kelelahan. Pengkonsumsian kombinasi tiga Clark CC, Clark L, Clark L. 1990. Anting behavior by
spesies tumbuhan diasumsikan berhubungan common grackles and starlings. Wilson Bulletin,
dengan stamina. Simpulan ini muncul setelah 102, 167–169.
Clark L, Mason JR. 1985. Use of nest material as
orangutan betina yang diikuti selama tiga hari
insecticidal and anti-pathogenic agents by the
berturut-turut tidak lagi muncul pada saat pertemuan European starling. Oecologia, 67, 169–176.
berikutnya. Analisis terhadap setiap komponen Clark L, Mason JR. 1987. Olfactory discrimination of plant
metabolit sekunder bisa dilakukan dengan baik, volatiles by the European starling. Animal Behavior,
seperti studi Pambayun et. al. (2005) dan Setyowati 35, 227–235.
(2017). Namun, dalam kaitanya dengan perilaku Dejoseph M, Taylor RS, Baker M, Aregullin M. 2002. Fur-
mengobati diri sendiri, pemilihan selektif terhadap rubbing behaviour of capuchin monkeys. Journal of
tumbuhan yang spesifik patut diduga memiliki Academic Dermatology, 46, 924–925.
faedah tidak hanya bagi orangutan, tetapi juga bagi Huffman MA. 1997. Current evidence for self-medication
manusia. Pencatatan terhadap bahan diet in primates: A multidisciplinary perspective.
Yearbook of Physical Anthropology, 40, 171–200.
orangutan pada lokasi spesifik (site-specific) dan
Huffman MA. 2003. Animal self-medication and ethno-
kompilasi daftar jenis seluruh bahan makan sangat medicine: Exploration and exploitation of the
berguna untuk melihat pola makan orangutan yang medicinal properties of plants. Proceedings of the
berhubungan dengan perilaku pengobatan. Dua Nutrition Society, 62, 371–381.
jenis tumbuhan yang digunakan oleh tabib di desa Huffman MA, Hatoshi S. 2004. An experimental study of
sekitar adalah bajakah kalalawit dan kamasulan. leaf swallowing in captive chimpanzees: Insight into
Berdasarkan daftar jenis pakan orangutan (Russon the origin of self-medicative behaviour and the role
et. al. 2008), satu dari dua jenis pakan alami of social learning. Primates, 45, 113–118.
orangutan adalah kamasulan. Perilaku mengobati Morrogh-Bernard HC. 2008. Fur-Rubbing as a Form of
diri sendiri oleh individu orangutan menyimpan Self-Medication in Pongo pygmaeus. Int. J. Prim.,
29:1059–1064 . DOI 10.1007/s10764-008-9266-5
menarik untuk diteliti lebih lanjut.
Pambayun R, Gardjito M, Sudarmadji S, Kuswanto KR.
2007. Phenoloc content and antibacterial properties
4. SIMPULAN of various extract of gambir (Uncaria gambir
Roxb.). Indonesian Journal of Phar., 18 (3).
Ada indikasi perilaku mengobati diri sendiri individu Russon AE, Wich SA, Ancrenaz M, Kanamori T, Knott
orangutan melalui pemilihan tumbuhan spesifik. CD, Kuze N, Morrogh-Bernard HC, Pratje P,
Pada manusia, ini adalah meramu dengan Ramlee H, Rodman P, Sawang A, Sidiyasa, S,
konsistensi diet (frekuensi konsumsi) pagi hari/ Singleton I & van Schaik CP. 2009. Geographic
variation in orangutan diets. In SA Wich, SS Utami,
T Mitra Setia & CP van Schaik (ed.). Orangutans:
5. UCAPAN TERIMA KASIH Geographic Variation in Behavioral Ecology and
Conservation. Oxford University Press, Oxford. pp.
Terima kasih disampaikan untuk Rosenda Chandra 135-156.
Kasih, Project Manager WWF-Indonesia Kalimantan Setyowati H. 2017. Gambir (Uncaria gambir Roxb.) as
Tengah atas masukan terhadap substansi bahasan, natural cosmeceutical agent. CDK-250, 44(3).
Kepala Balai Taman Nasional Sebangau, Verderane M P, Falotico T, Resende BD, Labruna MB,
Yuliansyah; Tica Yulica, Herianto dan Depie; Tim Izar P, Ottoni EB. 2007. Anting in semi free-ranging
Laboratorium Zoologi FKIP-UPR, Freshyumander group of Cebus apella. International Journal of
Patianom atas desain dan tata letak luaran Primatology, 28, 47–53.

-----

© Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Lambung Mangkurat


208

Verwandte Interessen