Sie sind auf Seite 1von 12

Populasi, 5(2), 1994

PERAN DUKUN BERSALIN TRADISIONAL


DALAM PERAWATAN KEHAMILAN, PERTOLONGAN PERSAIINAN,
PERAWATAN PASCAPERSALINAN DAN KEPERCAYAAN

Lestari Handayani*

Abstrak
Delivery mortality rate is still considered high. One of the main reasons is the high
rate of delivery assistance conducted by traditional midwives. To anticipate the
problems and to obtain safe delivery, the government has decided to enact a program
to appoint midwives to work in the villages A study was carried out on trained
traditional midwiveswho play their role in the villages in the hope to study their role
and development of these midwives in the future.
The study was conducted in six villages of two subdistricts in Tulung Agung
Regency. An interview and a survey were carried out to six traditional midwives and
mothers-of-children-below-five years respectively in the study area. The study shows
that 67.1 percent of delivery cases were assisted by traditional midwives. The role of
traditional midwives during pregnancy care was considered low, yet was considered
high during the delivery itself, the post-partum services, and the belief in relation to
pregnancy and delivery. The fact shows there is a considerable healthy relation of
social and delivery cooperation assistance between traditional midwives and trained
midwives. It is suggested that improvement in knowledge and skills on delivery
assistance be intensified. Besides, it is also suggested to improve the role of traditional
village midwives to cooperate with trained midwives to guide the former in becoming
the agents to convey the health program to its targets.

Pendahuluan
Angka kematian ibu bersalin di berdasarkan data SKRT pada tahun 1992
Indonesia masih sangat tinggi yaitu 450 pertolongan persalinan oleh dukun di
per 100.000 kelahiran hidup Besarnya perkotaan sebesar 25,6 persen, di
angka kematian ibu diduga salah satu pedesaan sebesar 69.0 persen. dan
penyebabnya adalah karena cara rata-rata adalah sebesar 52 persen
pertolongan persalinan yang kurang Dalam seminar "The Safe
mengikuti kaidah ilmukesehatan. Hal ini Motherhood" di Kenya tahun 1987.
diduga karena masih luasnya praktik untuk meningkatkan persalinan aman
dukun bersalin tradisional, terbukti dari dianjurkan menurunkan angka kematian
angka pertolongan persalinan oleh ibu bersalin sampai separo dari keadaan
dukun yang masih tinggi. Di Indonesia. sekarang pada tahun 2000 Strategi

dr. Lestari Handayani, MPH. adalah staf peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan
Pelayanan Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.

62
Populasi, 5(2), 1994

ganda dianjurkan dan salah satunya masa datang Oleh karena itu, dilakukan
adalah mengembangkan persalinan oleh suatu studi terhadap daerah yang telah
masyarakat. Untuk menanganinya memiliki tenaga bidan di desa untuk
jajaran kesehatan telah melakukan mengetahui peran dukun dan pendapat
tindakan yaitu dengan menempatkan masyarakat tentang keberadaan dukun
tenaga bidan di desa. bersalin sehingga diharapkan dapat
Penempatan bidan di desa dimanfaatkan untuk mengembangkan
merupakan satu upaya untuk peran dukun bersalin tradisional.
menyediakan persalinan aman yang
dapat terjangkau oleh masyarakat Bahan dan Cara
pedesaan, namun tidak dapat kita Studi ini menganalisis peran dukun
pungkiri bahwa keberadaan dukun terhadap perawatan kehamilan,
bersalin tradisional masih melekat erat pertolongan persalinan, perawatan
sebagai salah satu kebutuhan pasca-persalinan, dan kepercayaan yang
masyarakat oleh karena beberapa terkait dengan peristiwa kehamilan dan
kelebihannya. persalinan. Penelitian dilakukan di
Program penempatan bidan telah Kabupaten Tulung Agung, diambil 2
dimulai sejak tahun 1989. Diharapkan kecamatan dan masing-masing
sampai akhir Pelita V dapat diluluskan kecamatan dipilih 3 desa yang
18.900 bidan dan sampai dengan tahun mempunyai tenaga bidan. Dilakukan
1992 telah diluluskan sebanyak 13.000 wawancara mendalam kepada seorang
bidan untuk ditempatkan di desa. dukun bayi di masing-masing desa dan
Dengan adanya bidan di desa dilakukan survai dengan responden ibu
diharapkan akan menggantikan yang memiliki anak bawah umur lima
kedudukan dan menggeser peran dukun tahun (balita) di desa sampel penelitian.
sebagai penolong persalinan. Seperti
diketahui bahwa dukun bersalin Hasil dan Pembahasan
tradisional cukup banyak jumlahnya.
Gambaran Umum Pencarian
Sejak Pelita IIItelah dilakukan pelatihan
Pertolongan Persalinan.
dukun dalam rangka meningkatkan
kemampuan menolong persalinan. Dari
Jumlah sampel yang tercakup dalam
survai sebanyak 292 ibu balita, dari
103-000 dukun bayi pada tahun 1989 sejumlah ibu tersebut 67,1 persen
sebanyak 70.000 telah dilatih.
persalinannyaditolong oleh dukun, 30,2
Diharapkan tidak akan tumbuh lagi persen oleh tenaga medis, dan 2,7
dukun-dukun bersalin yang baru persen oleh penolong persalinan
sebagaimana mulai dicanangkan sejak lainnya. Angka tersebut sesuai dengan
tahun 1951 hasil SKRT tahun 1992yaitu sebanyak 69
Mengantisipasi pengembangan
persen persalinan ditolong oleh dukun
program penempatan bidan di desa di pedesaan. Apabila dilihat distribusi
dengan mempertimbangkan sosial pendidikan ibu yang ditolong oleh
budaya, kiranya perlu dipikirkan dukun terlihat bahwa sebagian besar ibu
pemanfaatan tenaga dukun bersalin berpendidikan SD dan buta huruf. Bila
tradisional dalam kondisi saat ini dan

63
mmilk

Populasi, 5(2), 1994

dibandingkan dengan pendidikan ibu atau nenek mereka masih aktif


yang persalinannyaditolong oleh tenaga berprofesi sebagai dukun bersalin,
medis terdapat kecenderungan bahwa mereka selalu diajak membantu
ibu yang ditolong tenaga medis pelaksanaan pertolongan persalinan.
mempunyai pendidikan yang lebih tinggi Meskipun semula merasa terpaksa
dibandingkan dengan ibu yang ditolong menjalani profesi dukun bersalin oleh
dukun karena harus mengemban tanggung
jawab yang besar, akhirnya mereka
Ciri-ciri Dukun Bersalin Tradisional dapat menghayati profesi tersebut
Sebanyak 6 orang dukun telah sebagai rasa sosial karena tenaga mereka
diwawancarai, hanya seorang yang dibutuhkan oleh masvarakat setempat.
berumur sekitar 40 tahun. sedangkan Mereka adalah warga asli dari daerah
yang lainnya berumur 50-60 tahun ke setempat yang berdomisili di desa
atas. Umumnya mereka adalah wanita tersebut sejak kecil dengan mata
berkeluarga yang sudah tidak pencaharian utama sebagai petani.
mempunyai tanggungan keluarga (satu Umumnya mereka tidak mengandalkan
keluarga terdiri dari 2 sampai 4 orang) profesi dukun sebagai mata
dengan sosial ekonomi sederhana dan pencaharian. meskipun mereka
semuanya tidak pernah mengecap mengaku bahwa untuk kebutuhan
bangku sekolah meskipun ada yang bisa makan mereka seringkali dicukupi dari
membaca dan menulis. Ciri ini tidak jauh masvarakat yang pernah ditolong
berbeda bila kita bandingkan dengan Rasa bangga sebagai dukun sangat
dukun bersalin tradisional di India, yang jelas terlihai dari cara mereka
dalam suatu penelitian tercatai bahwa menceritakan kegiatannya. Mereka
dari 240 dukun hanya 4,1 persen yang sangat dikenal oleh masvarakat karena
dapat membaca dan menulis. namun selain sering dimintai nasihat dan
umurnva rata-rata lebih muda vaitu 40,3 pertolongan dalam persalinan atau
tahun. kehamilan serta kepercayaan. mereka
Dengan profesi dukun yang sudah juga berperan sebagai dukun pijat.
belasan tahun (kecuali seorang yang menolong anak yang sakit dengan
baru beberapa tahun). umumnya pijatan dan memberi jamu tradisional
profesi itu ditekuni bukan karena Mereka umumnya tidak menolak untuk
teinginan dan kemauan sendiri tetapi datang apabtla dipanggil meskipun
ebih dikarenakan tuntutan dari cuaca buruk. medan sulit. dan oleh
nasyarakat yang membutuhkan masvarakat yang tidak mampu
>ertolongan mereka. Seluruh dukun Dukun yang belum terlatih ada 2
ang diwawancarai merupakan turunan orang, sedangkan 4 orang di antaranva
lukun bersalin yang berasal dari ibu sudah terlatih Seorang dukun tidak
tau nenek yang juga berprofesi sebagai terlatih bahkan mengaku tidak pernah
ukun. Data di India juga menyatakan pergi ke kota oleh karena tidak tahan
ihwa dukun sebagai profesi keturunan bila naik kendaraan bermotor. Dukun
peroleh pada 79,2 persen dukun yang yang terlatih (4 orang) secara rutin
wawancarai (N = 240). Pada waktu ibu mengadakan pertemuan arisan bulanan
Populasi, 5(2), 1994

antardukun yang biasanya dihadiri juga Bukti bahwa untuk perawatan


oleh bidan. kehamilan ibu-ibu sudah banyak
disentuh oleh tenaga kesehatan dapat
Perawatan Kehamilan dilihat dari hasil survai yaitu 75 persen
Dukun bersalin pada masa lalu ibu yang ditolong dukun minum tablet
sangat banyak berperan dalam masa tambah darah pada kehamilan terakhir
kehamilan seorang ibu antara lain dan 73,4 persen mendapat suntikan
ngoyog perut ibu agar posisi janin baik Tetanus Toxoid (TT) 1 dan 2 kali suntik
atau membetulkan letak janin yang (lihatTabel 1). Data survai menyebutkan
kengser pada ibu hamil yang terpeleset. bahwa tidak seorang pun ibu yang
Dukun Juga membuatkan jamu-jamuan mendapat suntikan TT dan minum tablet
untuk kesehatan ibu hamil dan janin di tambah darah atas anjuran dukun. Dari
perut ibu. Bahkan mereka adalah orang uji homogenitas (Test Chi Square
pertama yang dituju untuk memperoleh dengan a = 0.05) asal tablet tambah
nasihat yang terkait dengan kehamilan darah (7.11 < X2-tabel) tidak
Akan tetapi, saat sekarang ketika significant dan anjuran suntik TT (2,575
bidan sudah ada di desa, bidan < X2-tabel) tidak significant terhadap
memberikan pelayanan kesehatan di jenis penolong persalinan. Dengan
posyandu atau pondok bersalin desa demikian. penolong persalinan dukun
atau bidan menolong persalinan - ibu - bayi tidak mempengaruhi asal tablet
lebih banyak untuk perawatan tambah darah yang diminum ibu dan
kehamilannya Akan tetapi, untuk anjuran suntik TT sehingga ibu hamil
kasus-kasus yang dirasakan terjadi yang melakukan tindakan positif waktu
gangguan letak janin, ibu hamil memilih kehamilan (minum tablet tambah darah
datang ke dukun untuk membetulkan- dan suntik TT) bukan karena peran
nya. Tindakan ngoyog kandungan sudah dukun bayi.
tidak banyak dilakukan lagi. Apabila ibu Tabel 1 v
hamil datang minta nasihat, umumnya Ibu Hamil yang Minum Tablet Tambah Darah
dukun hanya mengelus-elus perut ibu dan Vaksinasi Tetanus Toxoid, yang Ditolong
sambil memberikannasihat-nasihat yang Dukun Bayi, Tulung Agung, 1994 (n=196).
berkaitan dengan pantangan makanan
Perawatan Kehamiian Jumlah Persen
ataupun tindakan yang harus dihindari
Minum Table! 147 75.0
oleh ibu atau suami dan biasanya juga Tambah Darah
menganjurkan agar ibu memeriksakan
Suntik TT - 1 x 24 12,2
diri kepada bidan karena bidan dapat
Suntik TT - 2x 120 61,2
memberikan pil tambah darah dan
'suntikan sehat' bagi ibu. Akan tetapi,
menurut pengakuan dukun, umumnya Meskipun dari hasil survai diperoleh
ibuhamilbaru memeriksakankehamilan data seakan-akan dukun tidak berperan
setelah usia kehamilan 4 bulan ke atas dalam anjuran berperilaku sehat
dan rata-rata memeriksakan diri (minum tablet tambah darah, suntik TT),
sebanyak 2 kali, kecuali bila ada keluhan sebenarnva kedatangan ibu hamil ke
kehamilan bidan untuk memeriksakan kehamilan

65
Populasi, 5(2), 1994

sebagian adalah atas anjuran dukun. tersebut diduga berkaitan dengan


Perilaku dukun yang positif ini dapat keinginan sebagian besar ibu untuk
lebih dikembangkan lagi untuk melahirkan di rumah (lihat Tabel 3).
pencapaian program kesehatan
mengingat keberadaan dukun secara Tabel 3.
Distribusi Frekwensi pemllihanTempat
fisik dan psikis sangat dekat dengan Bersalin di Kabupaten Tulung Agung, tahiin
masyarakat sasaran 1994 (n = 292).

Pertolongan Persalinan Tempat Persalinan Frekwensi Persen


Rumah 265 90,8
Menurut dukun, ibu hamil yang
minta pertolongan persalinan umumnya Klinik BKIA 8 2,7
berdasarkan nasihat dari orang tua dan Rumah Sakit 7 2,4
karena sudah kenal dengan dukun Polindes 5 1,7
tersebut. Ditanyakan beberapa alasan Puskesmas 2 0,7
memilih dukun sebagai penolong Lain-lain 5 1,7
persalinan kepada 196 ibu bersalin yang Total 292 100,0
ditolong dukun. Ternyata persentase
terbanyak yang menjawab 'ya' untuk
alasan-alasan yang diajukan adalah jarak Data hasil wawancara dengan dukun
dekat (51 persen), disusul karena diperoleh informasi bahwa meskipun
berpengalaman (41,3 persen), biaya bidan ditempatkan di desa bahkan telah
murah (31,1 persen). Beberapa alasan disediakan tempat tinggal di rumah
lain persentasenya tidak banyak (lihat penduduk atau menjadi satu dengan
Tabel 2). Alasan yang disampaikan polindes, ternyata beberapa orang tidak
bertempat tinggal di desa tersebut
terutama bidan yang telah berkeluarga

Tabel 2. dan mempunyai anak. Mereka datang


Alasan Memilih Dukun sebagai Penolong pada jam dinas atau sampai dengan sore
Persalinan, Tulung Agung, 1994 (n=196). hari, membuka poli KIA dan KB di
polindes, dan hanya kadang-kadang
Perawatan Kehamilan Jumlab Persen
menginap di desa tersebut sehingga bila
Supaya aman 32 16,3
sewaktu-waktu dibutuhkan kadang-
Pengalaman 81 41,3 kadang tidak ada di tempat Berbeda
Jarak dekat 100 51,0 dengan dukun, untuk mendapatkan
Ada hubungan 16 8,2 pertolongannya. masyarakat dapat
keluarga datang sewaktu-waktu karena umumnya
Biava murah 61 31,1 dukun selalu siap di rumah atau di
Membantu pekerjaan 1
0,5 ladangnya dan bila dibutuhkan dukun
RT akan segera datang.
Perawatan pasca 29 14,8 Ibu-ibu yang melahirkan anak
persalinan lama pertama biasanya kurang paham saat
Lain-lain 24 12,2 yang cukup dekat dengan persalinan
sehingga seringkali dukun harus

66
Populasi, 5(2), 1994

menunggu sampai berhari-hari. Dalam minum jamu hasil produksi pabrik


keadaan sepeni ini dukun dengan sabar dipersilahkan oleh dukun. Menurut
akan menunggu atau sering-sering dukun, jamu 'pipisan' sendirilebih segar
menjenguk ibu yang akan melahirkan. dibandingkan dengan jamu buatan
Alasan-alasan di atas tersebut diduga pabrik, lagipulaharga jamu terlalumahal
merupakan penyebab mengapa masih bagi kemampuan ekonomi rau-rata ibu
banyak pertolongan persalinan di desa.
dilakukan oleh dukun, meskipun telah Setelah selesai menolong persalinan,
ada bidan di desa. umumnya dukun terlatih menganjurkan
Perilaku dukun terlatih lebih keluarga untuk mengundang bidan agar
memenuhi persyaratan kesehatan. Hal memberikan suntikan 'sehat' bagi ibu
ini dapat dilihat dari cara penolongan bersalin. Biasanya keluarga akan
persalinan. Dukun yang terlatih menuruti nasihat dukun agar
(sebanyak empat orang) menggunakan mengundang bidan 2-3 kali untuk
peralatan yang diperoleh dari memeriksa ibu dan memberikan
puskesmas dalam pelaksanaan suntikan. Dukun sering juga diminta
pertolongan persalinan serta oleh bidan untuk membantu dalam
menggunakan alkohol sebagai menolong persalinan. Dukun merasa
antiseptik. Mereka merebus peralatan tidak keberatan berperan sebagai
yang akan digunakan dalam pertolongan pembantu bidan karena tanggung
persalinan. Dukun yang tidak terlatih jawabnya menjadi lebih ringan.
mengaku menggunakan 'welat' (terbuat Biasanya dukun berperan menunggu
dari bambu yang diraut dengan tajam) ibu sampai menjelang melahirkan dan
untuk memotong tali pusat dan setelah melahirkan, dukun merawat bayi
memberikan campuran tumbukan yang baru lahir sedangkan ibu akan
kunyit, kapur dan sirih pada sisa ditangani oleh bidan. Dalam hal ini,
potongan tali pusat bayi. Dukun tidak selain karena tanggung jawab yang
terlatih mengatakan bahwa berdasar ringan, dukun tetap mendapat imbalan
pengalamannya pemberian alkohol yang tidak jauh berbeda dengan bila
membuat tali pusat lebih lama kering dukun sendiri yang menolong bersalin
dibandingkan bila diberi ramuan dan malahan kadang-kadang masih
tradisional. Seorang dukun tidak terlatih mendapat imbalantambahan dari bidan
bahkan pemah merogoh ke dalam rahim Perilaku dukun ini mencerminkan
ibu untuk mengeluarkan ari-ari bahwa dukun dapat menerima petugas
(placenta) yang tidak dapat lepas. kesehatan untuk bersama-sama
Perilakudukun tidak terlatih ini ternyata menolong ibu yang membutuhkan
juga merupakan perilaku yang banyak tenaga mereka.
dikerjakan oleh dukun di Kwazulu - Persalinan yang ditolong dukun
Afrika, India dan mungkin di negara umumnya berjalan lancar sesuai dengan
sedang berkembang lainnya. pengakuan dukun dengan alasan karena
Selain menolong persalinan, dukun orang yang tinggal di desa biasa bekerja
luga meramu jamu untuk diminum oleh keras dan sering berjalan jauh.
bu. Akan tetapi, ibu yang menghendaki Berdasarkan hasil survai didapatkan

67
Populasi, 5(2), 1994

bahwa peran dukun pada saat yang bermakna untuk hubungan antara
persalinan dapat dilihat pada tabel 4. kepuasan ibu atas pertolongan
Responden yang merasa puas terhadap persalinan dengan penolong persalinan
pertolongan dukun ada sebanyak 194 (14,775 > X2-tabel) significant. Dapat
dengan memberikan jawaban 'ya'. Ada diartikan bahwa perasaan puas setelah
beberapa alasan pada jawaban 'ya' pertolongan persalinan berhubungan
sebagai berikut: merasa aman (31,1 erat dengan jenis penolong persalinan.
persen), penolong bersikap ramah (31,1
persen), lain-lain (57,7 persen) Perawatan Pascapersalinan
sedangkan ibu yang merasa puas karena Lama perawatan pascapersalinan
keterampilan dukun hanya6,l persen. yang diberikan dukun bersalin
Tabel 4. tergantung pada permintaan ibu yang
Hasil Pertolongan Persalinan oleh Dukun ditolong. Perawatan ibu dan bayi dapat
Bersalin Tradisional, Tulung Agung, 1994 dilakukan selama selapan (35 hari) atau
(n=196). sampaipuputpuser (lepasnya tali pusat)
atau beberapa hari sesuai dengan
Masa Persalinan Jumlah Persen
permintaan ibu. Perawatan sampai
Persalinan Berjalan 192 98,0
Lancar denganpuput puser biasanya dilakukan
setiap hari dengan kunjungan pagi dan
Hasil Persalinan Lahir 195 99.5
Hidup sore. Selain dukun merawat bayi
3erasaan Puas 194 99,0 -memandikan dan merawat tali pusat-
ietelah Persalinan juga merawat ibu. Dukun meramu jamu
untuk diminum ibu, juga diberikan jamu
luar (bobok, tapel, pilis). Ibu juga
Hasil di atas membuktikan bahwa
dianjurkan memakai gurita dan
emilihan jenis tenaga penolong
bengkung (tubuh dililit dengan setagen)
:rsalinan banvak dipengaruhi oleh
agar bentuk perut kembali seperti
:terjangkauan tenaga penolong, baik
sebelum hamil. Menurut dukun, ibu-ibu
iri segi jarak maupun biaya dan
sekarang malas untuk menggunakan
tunjang masih tingginya keinginan
bengkung, tetapi masih mau
isyarakat untuk bersalin di rumah.
menggunakan gurita. Pada masa lalu ibu
eskipun 41,3 persen memilih dukun
setelah bersalin harus tidur dengan
is pertimbanganpengalaman, ternyata
tubuh bersandar pada bantal yang
ig menganggap keterampilan dukun
disusun tingi-tinggi, tetapi hal tersebut
kup baik hanya 6,1 persen. Keadaan
tidak dilakukan lagi setelah mendapat
memudahkan tenaga medis untuk
petunjuk dari tenaga kesehatan karena
pat diterima sebagai penolong
dapat terjadi gangguan aliran darah.
rsalinan. Di samping itu, hal ini
Dukun juga melakukan pemijatan pada
lihat dari perilaku ibu dalam
badan ibu dan melakukan uialik dadah
•awatan kehamilan yang sebagian
(mengatur letak kandungan) setelah
ar pergi ke bidan.
masa selapan.
Dilakukan uji Chi Square dengan a =
Pada waktu-waktu yang lalu, dukun
') dan tercatat bahwa terdapat hasil
juga meramu jamu untuk diberikan
Populasi, 5(2), 1994

kepada bayi. Akan tetapi, atas anjuran ada hubungan yang bermakna antara
tenaga kesehatan, pemberian jamu perawatan kehamilan dengan penolong
kepada bayi sudah tidak dilakukan lagi. persalinan (60,84425 > X2-tabel,
Demikian juga tapel dan parem tidak significant), demikian juga dengan
lagi diberikan kepada bayi, tetapi diganti anjuran meneteki (25,017 > X2-tabel,
dengan minyak telon dan bedak bayi. significant). Jadi dukun bayi mempunyai
Dukun tidak keberatan dengan cara pengaruh terhadap perawatan bayi dan
yang diajarkan oleh tenaga kesehatan anjuran meneteki.
karena melihat manfaatnya yaitu bayi
Tabel 6.
tetap sehat dan terlihat lebih bersih serta
Anjuran Meneteki pada Ibu yang Ditolong
tidak lagi harus mencuci baju bayi yang Dukun, Tulung Agung, 1994 (n=196)
penuh noda bekas parem atau tapel.
Anjuran-anjuran yang diperoleh dukun Anjuran Meneteki Jumlah Persen
biasanya didapat melalui petugas Kemauan Sendiri 184 93,9
kesehatan secara langsung atau melalui Keluarga 20 10,2
kader kesehatan atau perangkat desa. Dukun Bayi 10 5,1
Tabel 5. Petugas Kesehatan 1 0,5
Perawatan Bayi Selelah Persalinan, Yang Teman 1 0,5
Dilolong Dukun Bayi Tulung Agung, Tahun
1994 (n = 196)

Pelaksana Perawatan Jumlah Persen Kepercayaan yang Terkait dengan


Sendiri / Ibu 37 18,90 Kehamilan dan Persalinan
Dukun Bayi 134 68,40 Beberapa kepercayaan yang
Petugas Kesehatan 25 12,75 berkaitan dengan kehamilan masih
Total 196 100,00 banyak dilakukan ibu dan dianjurkan
oleh dukun. Pantangan tentang
makanan dapat membahayakan bila
Hasil survai menunjukkan bahwa
dapat mengurangijenis makanan bergizi
perawatan bayi banyak yang dilakukan
yang seharusnya dikonsumsi oleh ibu
oleh dukun (lihat Tabel 5). Meskipun
hamil. Beberapa pantangan yang masih
demikian, perawatan dukun setelah
banyak dianut antara lain nanas, ikan
persalinan bukan merupakan alasan
laut, pepaya, cabe, terong, kangkung,
utama bagi ibu bersalin untuk memilih
ontong (bunga pisang), dll. Pantangan
tenaga dukun sebagai penolong
tindakan antara lain tidak boleh makan
persalinan. Pertanyaan tentang anjuran
sambil berjalan, makan menggunakan
meneteki bayi karena kemauan sendiri
cobek, suami menyembelih/membunuh
dijawab 'ya' oleh sebagian besar
binatang, bila melihat sesuatu yang aneh
(responden) yang ditolong dukun (lihat
harus menyebut amit-am.it jabang bayi
Tabel 6). Ini berarti bahwa kesadaran
sambil menepuk perut, dan lain-lain
untuk meneteki masih cukup tinggi pada
Kebiasaan yang masih banyak
ibu-ibu di pedesaan. Dari uji Chi-Square
dilakukan adalah selamatan mitoni
dengan a = 0,05 diperoleh hasil bahwa
(hamil 7 bulan), mengubur ari-ari

69
Populasi, 5(2), 1994

disertai ubo rampe berupa benang, persen percaya 'selamatan'. (Tabel 7)


jarum, kembang, dll. kemudian diterangi Ditambah lagidengan 59,7 persen suami
dengan lampu minyak dan disiram air menyatakan setuju dan melaksanakan
kembang setiap hari, selamatan pantangan, sedangkan suami yang
brokoban bagi ibu yang baru setuju selamatan dan mengerjakannya
melahirkan, dan lain-lain. Kebiasaan ibu sebanyak 99,5 persen. Untuk
pada waktu proses persalinan harus melaksanakan kepercayaan, ibu/suami
berbaring sesuai dengan arah tertentu minta nasihat terutama kepada orang tua
sudah tidak banyak dianut oleh dukun sebanyak 68,40 persen dan hanya 15,20
bersalin Dukun hanya menolong persen yang minta nasihat kepada
persalinan bila keluarga memintanya dukun. Pada uji Chi-Square untuk
dan biasanya keluarga meminta mengetahui hubungan antara jenis
pertimbangan kepada orang-orang tua penolong persalinan dengan
atau dukun ramal/paranormal. Selama pelaksanaan kepercayaan diperoleh
menjalankan tugasnya, semua dukun nilai yang bermakna (10,45122 >
mengatakan membaca doa-doa atau X2-tabel, significant) sehingga dapat
mantera sesuai dengan ajaran dari dikatakan bahwa ada pengaruh dukun
pendahulunva agar persalinan berjalan terhadap pelaksanaan kepercayaan.
lancar dan ibu serta bayinya selamat.
Masih tingginya kepercayaan seputar Pembiayaan
kehamilan dan persalinan seperti yang Dalam memberikan pertolongan
diuraikan oleh dukun didukung oleh persalinan, dukun tidak pernah
hasil survai yaitu 59,7 persen ibu masih menetapkan besar tarif sebagai imbalan
Dercaya terhadap pantangan dan 90,3 jasanya. Berapa punyang diberikan oleh
masyarakat, jumlah itu diterima dengan
senang had, baik berupa uang maupun
Tabel 7.
barang. Pemberian berupa uang sangat
irclmnsi Ibu Percaya terhadap Pantangan dan
Selamatan, Yang Dilolong Dukun Bayi, Tulnng
bervariasi tergantung kemampuan
Agung, Tahun 1994 (n = 196). keluarga yang meminta bantuan yaitu
berkisar antara Rp5.000,00 sampai
Kepercayaan Jumlah Persen Rpl5.000,00 bahkan ada yang hanya
'ercaya pantangan & 109 55,6 memberi Rp2.000,00. Berdasar data
elamatan survai, rata-rata imbalan uang yang
'ercaya pantangan &. 8 4,1 diberikan adalah sebesar Rpl0.246,00
Ik selamatan
dengan Standar Deviasi 1.036.
'dk pantangan & 68 34,7 Dukun yang melakukan perawatan
ercaya selamatan
setelah persalinan akan mendapat
idak pantangan & 1 0,5
lamatan
tambahan imbalan, baik berupa uang
maupun barang. Besar imbalan
agu pantangan & 10 5,1
lamatan tergantung pada lama perawatan dan
biasanya berkisar antara Rp5 000,00 dan
>tai 196 100,0
maksimal Rp30.000,00 untuk pelayanan
sampai dengan selapan. Dari hasil
Populasi, 5(2), 1994

pengumpulan data responden bidan juga ikut hadir. Dengan seringnya


diperoleh bahwa rata-rata imbalan uang kontak antara dukun dengan bidan, hal
sebesar Rpl5 .015,00 dengan SD 829. itu telah memudahkan terjalinnya
Beberapa barang yang sering diberikan komunikasi sehingga para dukun
oleh keluarga ibu bersalin kepada terlatih telah banyak melakukan
dukun adalah beras, ayam hidup, perilaku pertolongan persalinan dan
makanan, dan pakaian. Makanan perilaku sehat sesuai dengan anjuran
seringkali diberikan pada waktu yang mereka peroleh dari petugas
keluarga melaksanakan 'selamatan' dan kesehatan.
dukun mendapat bagian makanan yang Pada kasus persalinan yang
istimewa, bahkan seorang dukun mengalami kesulitan, dukun terlatih
mengaku jarang memasak di rumah tidak segan-segan untuk meminta
karena sering mendapat kiriman bantuan kepada bidan. Demikian juga
makanan dari ibu yang ditolongnya. sebaliknya, untuk masalah-masalah
Pengelompokan pengeluaran sosial atau budaya, bidan sering
rata-rata per bulan per jiwa dan dilihat membicarakan dengan dukun untuk
distribusi berdasar jenis tenaga mendapatkan pemecahannya. Hubung¬
penolong persalinan diperoleh bahwa -
an baik antara dukun bidan terlihat
sebagian besar ibu yang menggunakan pula dari pengakuan seorang dukun
tenaga dukun adalah kelompok dengan yang mengatakan telah membetulkan
pengeluaran sebesar Rpl0.000,00 - letak kandungan seorang bidan yang
Rp50.000,00 per bulan per jiwa. Sisanya terjatuh pada saat hamil. Dukun
36,22 persen dari kelompok menganggap bidan telah mengurangj
pengeluaran kurang dari Rpl0.000,00. beban tanggung jawab mereka. Misalkan
Bila kita mengacu kepada garis pada ibu yang harus dirujuk ke rumah
kemiskinan di desa menurut Biro Pusat sakit, dengan adanya bidan, dukun tidak
Statistik (kurang dari Rpl3 295,00), perlu ikut mengantar ibu yang
terlihat bahwa kelompok miskin banyak mengalami kesulitan persalinan ke
yang menggunakan tenaga dukun rumah sakit.
tradisional. Dukun merasa tidak mempunyai
masalah apabila harus bekerja sama
Pendapat Dukun tentang Bidan dengan bidan karena bidan tidak
di Desa dianggap sebagai saingan. Apabila
Secara umum dukun dapat dukun bekerja sama. biasanya mereka
menerima keberadaan bidan di desa. lebih berperan sebagai perawat bayi dan
Meskipun rata-rata masih berusia muda, ibu setelah persalinan selesai. Sebelum
bidan cukup cekatan dalam menangani persalinan berlangsung, dukun
persalinan. Hubungan sosial dukun dan memberikan dorongan moral kepada
bidan cukup akrab, mereka sering saling ibu dan keluarganya pada saat
mengunjungi secara kekeluargaan menunggu ibu menanti kelahiran.
bahkan dukun mengganggap bidan Dalam proses persalinan, dukun
seperti anak sendiri. Dalam pertemuan bertindak sebagai pembantu bidan,
arisan dukun setiap bulan, tidak jarang menyiapkan segala sesuatu yang

71
Populasi, 5(2), 1994

dibutuhkan berkenaan dengan berisiko terhadap keamanan


persalinan yang dibantu oleh keluarga persalinan.
ibu, serta membantu mendorong perut
ibu pada saat proses persalinan. Dukun Saran
banyak membantu dalam pelaksanaan Untuk menyambut program
budaya, sedangkan bidan biasanya penempatan bidan di desa dan
hanya melaksanakan pertolongan mengupayakan persalinan aman dengan
persalinan saja dan tidak turut campur memanfaatkan dukun bersalin
terhadap pelaksanaan kepercayaan tradisional serta mempertimbangkan
ataupun selamatan. Pendapat dukun sosial budaya setempat dapat
tentang persalinan di pondok bersalin disarankan hal-hal sebagai berikut.
desa (polindes), ialah dukun masih 1. Pelaksanaan pertolongan persalinan
meragukan pelaksanaannya karena kerja sama dukun mempunyai
biasanya sarana yang tersedia di beberapa kemungkinan.
polindes tidak cukup lengkap, bidan a. Persalinan di rumah:
kadang-kadang tidak berada di tempat,
di samping itu, sebagian besar ibumasih • menempatkan dukun sebagai
pembantu bidan dan perawat
menginginkan melahirkan di rumah
ibu serta bayi pascapersalinan
dan membantu dalam
Kesimpulan
pelaksanaan budaya, sedang¬
Hasil penelitian ini dapat kan bidan berperan sebagai
disimpulkan sebagai berikut. penolong persalinan utama;
1. Dukun masih sangat berperan dalam
pertolongan persalinan, perawatan
• dukun sebagi penolong
persalinan dengan pengawasan
pascapersalinan. dan pelaksanaan dari bidan
budaya/kepercayaan b. Persalinan di polindes.
2. Beberapa kelebihan dukun adalah
mudah dijangkau, biava murah, dan
• dukun berperan sebagai
pembantu bidan;
berpengalaman. 2. memberikan pelatihan kepada
3- Dihasilkan hubungan yang dukun yang belum terlatih dan
bermakna antara dukun dengan memberikan kursus penyegar bagi
kepuasan ibu setelah persalinan, dukun terlatih secara rutin; dan
pemberian perawatan pascapersalin¬ 3 meningkatkan peran dukun sebagai
an, dan pelaksanaan kepercayaan. penyampai program kesehatan
1. Dukun terlatih tidak sulit untuk pemerintah dengan meningkatkan
menerima keberadaan tenaga pengetahuan dan kemampuan dalam
kesehatan. berkomunikasi.
I. Persalinan lebih diminati
dilaksanakan di rumah
. Dukun tidak terlatih masih
melaksanakan tindakan yang

I
Populasi, 5(2), 1994

Indonesia. Biro Pusat Siatistik. 1992.


Kemiskinan dan pemerataan
pendapatan di Indonesia
1976-1990. Jakarta.
.............
Daftar Pustaka

. 1991. "Terobosan menuju


persalinan aman dan kelangsungan
hidup anak". Medika, 11(17):
849-854.
Sarwono, S. 1993- Sosiologi kesehatan:
Kumar, Ashok. 1984. "A comparative
study of trained and untrained beberapa konsep beserta
aplikasinya. Yogyakarta: Gadjah
traditional birth attendants".
Mada University Press.
Journal of Family Welfare, 30(4):
85-91. Yitno, Amin. dan Handayani, Tri 1980.
"Sang penolong", studi tentang
Larsen J.V. et al. 1983. "The Zulu peranan dukun bayi dalam
traditional birth attendant: an
persalinan di Ngaglik,
evaluation of her attitudes and
Yogyakarta. Yogyakarta: Pusat
techniques and their implications
Penelitian dan Studi
for health education". 54 Medical
Kependudukan Universitas Gadjah
Journal, 63: 540-542.
Mada.
Martodipuro, S. 1987. "Pemanfaatan
dukun bayi dalam pelayanan
kesehatan ibu dan anak". Medika,
2(13): 116-122.

73