Sie sind auf Seite 1von 17

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/236985481

Global Ethics

Article · May 2006

CITATIONS READS
0 995

1 author:

Yulius Yusak
Universitas Kristen Satya Wacana
18 PUBLICATIONS   0 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Mental Health and Poverty in East Nusa Tenggara-Indonesia View project

Well-being In Indonesia View project

All content following this page was uploaded by Yulius Yusak on 21 May 2014.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Telah dimuat dalam Jurnal Kajian Sosial Interdisipliner Bina Darma, Volume 
XXIV No. 71, Mei 2006 

SUMBANGAN PRINSIP-PRINSIP ETIK GLOBAL


DALAM KRISIS KEMANUSIAAN MASYARAKAT MODERN

Oleh
Yulius Yusak Ranimpi, S.Psi, M.Si ℜ

Abstract
Normlessness. Anomie. Is this how modernity look like? Or is there any ‘positive’ thing that able to
represent the nowadays era? Undeniable, that modern era (together with technology development as a
tool) has made time and space smaller. Everything is available easily and quickly. Practical, fast,
pragmatism, and satisfaction have become a slogan to modern human being. Therefore value and ethic
that have humanism nuances become secluded. The problem is, human being is alienated from others,
environment, even to himself. There is no time to ponder, to reflect. In order to find life meaning that is
more essential, for people himself as for others. Religion as an entity that is full with sacred rules and
moral doctrine, has not proven good enough to drive people to be a better person. What is happening is
that religion destroys human interaction. Therefore, new offer emerges, that is a new global consensus
that based on humanity spirit and equality. That offer needs to be accepted immediately.

Keywords
Modernization, humanity crisis, global ethic

0. Pendahuluan
“bagaikan mercusuar yang memandu para pelaut menuju pantai, ‘pembangunan’
berdiri sebagai idea yang mengarahkan bangsa-bangsa yang baru saja merdeka untuk
menempuh perjalanan sejarah pasca perang. Entah itu negara-negara demokratis
maupun diktator, negara-negara Selatan memaklumkan ‘pembangunan’ sebagai
aspirasi utama, setelah mereka dibebaskan dari penjajahan. Empat dekade kemudian,
baik pemerintah maupun warga negara masih tetap mengarahkan mata mereka
kepada mercusuar itu yang semakin jauh: setiap usaha dan tumbal dibenarkan untuk
mencapai tujuan itu, akan tetapi mercusuar ini keeps on receding the dark” 1

Ironis! Kata ini sangat tepat untuk melukiskan kenyataan yang


sedang kita alami saat ini. Kita hidup dalam alam dan semangat yang
sangat menjunjung tinggi dan mengagungkan kemajuan. Setiap jengkal
wilayah Bumi dalam hitungan waktu yang singkat dapat segera di


Adalah staf pengajar di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga
1
St. Sunardi, Keselamatan Kapitalisme Kekerasan:Kesaksian atas Paradoks-paradoks
(Yogyakarta:LkiS,1996) hal. 74-75
jelajahi, Bumi terasa kian sempit. Belum lagi perkembangan dan
kemajuan teknologi yang senatiasa mencengangkan kesadaran kita.
Namun di sisi lain, kita juga diperhadapkan dengan wajah lain dari
perkembangan ini, yaitu krisis kemanusiaan.
Renggangnya ikatan sosial dalam keluarga dan masyarakat, tindak
kekerasan yang kian marak dalam berbagai bentuk (termasuk yang
mengatasnamakan kemajuan dan modernisasi), krisis ekologi, dan
berbagai bentuk krisis lainnya, telah mencerminkan tiadanya
penghargaan terhadap manusia dan alam. Kemajuan demi kemajuan
diraih oleh manusia. Segala daya dan upaya (dengan ‘bahan bakar’ need of
achievement yang tinggi) yang ditunjang dengan kemajuan teknologi, telah
menghasilkan begitu banyak penemuan-penemuan baru yang dapat
digunakan untuk mempermudah manusia menjalani kehidupannya. Atas
nama pembangunan, modernisasi (dengan teknologi sebagai tool-nya)
mendapat tempat yang sentral dalam kehidupan umat manusia.
Seakan tiada lelah, manusia berlomba untuk menjadi yang terbaik
dengan menciptakan dan menghasilkan sesuatu yang baru dan jauh lebih
unggul. Proyek modernisasi telah menjadi jiwa kolektif manusia saat ini.
Atas nama modernisasi dan pembangunan, manusia semakin
mengukuhkan predikatnya sebagai homo homini lupus. Saling sikut dan
menyingkirkan sesama adalah hal yang biasa. Human cost tidak mendapat
prioritas untuk dipertimbangkan.
Dunia moden dengan segala kisah suksesnya, agaknya kurang
memberi bekal kepada manusia sehingga banyak orang yang gagap dan
tersesat di tengah kemajuan dan kemodernannya. Manusia menjadi
mahluk yang lebih praktis dan pragmatis. Sikap ini menunjuk pada
tindakan yang serba mempertimbangkan nilai kegunaan, tanpa
mempertimbangkan benar atau salah dari tindakan itu. Selain itu,
manusia lebih hedonis, dalam arti keserakahan dan ambisi menjadi utama
dan mengabaikan kepentingan sesama 2 .
Jika demikian halnya, apa yang patut dibanggakan dengan
kehidupan modern saat ini, ketika pencerahan akal budi dan kehormatan
terabaikan? Masih bisakah humanisme menjadi sandaran moral manusia
modern, manakala krisis kemanusiaan bermekaran dan menjadi
panorama keseharian hidup? Patokan logika dan empiris apa lagi yang
patut menjadi acuan, ketika manusia kehilangan makna hidup dan rentan
terserang penyakit kehidupan? Masih adakah pijakan moral-etis yang
dapat digunakan manusia untuk membangun empati kolektif dengan
sesama dalam masyarakat plural, ketika agama dan nilai-nilainya justru
sering digunakan untuk memberangus mereka yang dianggap beda?

I. Pemberontakan Manusia: Modernisasi


Krisis monumental yang menjadi pintu masuk manusia menuju
peradaban modern terjadi pada abad V, yang ditandai dengan semangat
pencerahan. Suatu masa yang memungkinkan manusia untuk melakukan
demitologisasi terhadap realitas sekaligus membawa umat manusia ke
dalamnya. Pencerahan membuat manusia mampu menjelajah realitas
secara bebas dengan menggunakan cara tidak pernah diimpikan
sebelumnya 3 .
Modernisasi merupakan wujud pemberontakan manusia atas
penguasaan alam. Sekaligus pemberontakan terhadap otoritas dan kontrol
agama. Sepere aude! Hendaklah anda berani berfikir sendiri! Semboyan ini
bergema keras diabad delapan belas, yang dalam sejarah Barat dikenal
sebagai jaman aufklarung, jaman ketika manusia gandrung dengan akal
budinya. Aufklarung berarti pencerahan yang diberikan oleh jaman itu

2
Haedar Nashir, Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern (Yogyakarta:Pustaka Pelajar,1999) hal. 35-36
3
Hikmat Budiman, Pembunuhan yang Selalu Gagal:Modernisme dan Krisi Rasionalitas Mneurut Daniel
Bell (Yogyakarta:Pustaka Pelajar,1997) hal. 21
karena manusia mencari cahaya dalam akal budinya 4 . Namun perlu
diperhatikan pendapat Horkheimer, bahwa aufklarung tidak dapat dilihat
dalam penggalan abad delapan belas, namun pada umumnya telah
dimulai sejak ribuan tahun yang lalu ketika manusia mencoba mencari
pengertian rasional pertama seperti yang dirintis olef filsuf-filsuf Yunani
dari Yonia 5 . Semangat pencerahan ini semakin terlihat sebagai peristiwa
bercerainya agama dengan filsafat 6 . Padahal pada abad 17, filsafat
rasionalisme pernah berdamai dengan agama, sebab agama tidak
dipandang sebagai kompetitor di bidang kebenaran oleh filsafat, malah
filsafat membantu agama untuk mencari dasar rasional bagi kebenaran
agama 7 . Jadi, baik agama maupun filsafat sama-sama mengandaikan
adanya realitas terakhir yang sama dan obyektif. Namun pengandaian
yang sama itu justru akar dari perselisihan antar mereka. Sebab
pengandaian tersebut didasarkan pada otoritas yang berbeda, agama
berdasarkan wahyu atau lumen supra naturale, sedangkan filsafat bertolak
dari akal budi atau lumen naturale 8 .
Semangat pencerahan teraktualisasikan secara sosial politik- yang
didahului dengan penemuan mesiu, kompas, dan teknik cetak 9 - dengan
meletusnya revolusi Perancis sebagai satuan simbolik yang
mengindikasikan pararelitas antara rasio (reason) dan kebebasan
(freedom), yakni ketika tatanan politik dan sosial menjadi subyek bagi
kritik rasional 10 . Peristiwa itu tidak semata-mata momentum historis yang
menandakan pemakzulan kekuasaan Raja yang berkolusi dengan Gereja
oleh gegap gempita semangat pencerahan, tetapi merupakan anugerah

4
Sindhunata, Dilema Usaha Manusia Rasional:Kritik Masyarakat Modern oleh Max Horkheimer dalam
Rangka Sekolah Frankfurt (Jakarta:Gramedia,1983) hal. 68
5
Sindhunata 1983:97
6
Budiman 1997:27
7
Sindhunata 1983:100
8
Sindhunata 1983:100
9
Hari Hamashera, Tokoh-Tokoh Filsafat Modern Barat (Jakarta:Gramedia,1986) hal. 3
10
Budiman 1997:30
Tuhan yang akan menciptakan satu bentuk baru dari kemanusiaan.
Kemanusiaan sebagai kredo pembebasan manusia modern dianggap
termanifestasikan dalam revolusi yang bersemboyankan liberte, egalite,
freternite ou la mort, yang merupakan refleksi dari itikad yang kian
menguat untuk menjadikan rasio sebagai puncak hirarki pemikiran
manusia 11 .
Dengan demikian kita melihat yang membedakan era modern
dengan era-era sebelumnya adalah adanya kepercayaan atas akal budi
yang memungkinkan manusia mendewasakan diri. Dengan kata lain,
rasionalitas merupakan identitas manusia modern, sehingga modernitas
tidak lain dari proses rasionalitas yang diberlakukan dalam aras
kemasyarakatan dan menjadi manusia modern berarti memisahkan diri
sekaligus menolak irasionalitas (bahkan hal-hal yang dikategorikan
nonrasionalitas) 12 . Sedangkan pada aras operasional, modernisasi
merupakan pergantian teknik produksi dari cara-cara tradisional ke cara-
cara modern yang tertampung dalam pengertian revolusi industri 13 . Atau
dalam tinjauan historis modernisasi merupakan satu jenis perubahan
sosial sejak abad kedelapan belas, berupa kemajuan ekonomi dan politik
dalam beberapa masyarakat perintis, disusul oleh perubahan-perubahan
dalam masyarakat-masyarakat pengikut 14 .
Dalam pikiran para cendikiawan, modernisasi setidaknya memiliki
2 segi yang khas. Pertama, adanya asumsi bahwa modernisasi tidak
hanya berbeda tetapi juga lebih unggul daripada segala sesuatu yang
mendahuluinya. Kedua, adalah banyaknya orang yang beranggapan

11
Budiman 1997:31
12
Budiman 1997:36
13
J.W. Schrool, Modernisasi:Pengantar SosiologiPembangunan Negara-Negara sedang Berkembang,
terjemahan (Jakarta:Gramedia,1991) hal. 1
14
Beling dan Toten, Modernisasi:Masalah Model Pembangunan, terjemahan (Jakarta:Rajawali,1985) hal.
4
bahwa mereka mengetahui secara autoritatif tentang segala beluk
modernisasi 15 .
Dalam Wilayah sosiologi, konsep modernisasi dapat ditelusuri
dalam pemikiran August Comte tentang tiga tahap perkembangan
masyarakat. Pertama, tahap agama. Dalam tahap ni gagasan keagamaan
digunakan untuk menerangkan semua peristiwa dan fenomena. Kedua,
tahap metafisika. Ketika peristiwa dan fenomena tidak lagi dilihat sebagai
intervensi langsung dari Yang Maha Kuasa, melainkan oleh alam itu
sendiri, meskipun belum ada bukti empirisnya. Ketiga, tahap
positivisme. Dalam tahap ini peristiwa dan fenomena diterangkan oleh
akal budi berdasarkan suatu metode penelitian yang dapat diuji 16 .
Ketiga konsep yang disampaikan Comte di atas diikuti dengan
rancang bagian sosial, yaitu sikap teologis (tahap agama) mendominasi
periode sejarah manusia sampai abad pertengahan, tahap metafisis pada
abad keenam belas sampai kedelapan belas yang mengakibatkan
ambruknya sistem monarki, menghasilkan kekuatan militer dan
munculnya gagasan-gagasan politis sekunder seperti hak kodrati,
kedaulatan rakyat, dan properti. Tahap ilmiah (positivisme) bersifat
industrial 17 dan elitis, yang dikontrol tidak oleh imam-imam atau tentara,
melainkan oleh para bankir dan teknokrat. Tahap ini akan menyaksikan
berakhirnya kelas dan pembagian-pembagian ekonomis, pemapanan
kehidupan kota, perencanaan menyeluruh atas kegiatan ekonomi, dan
15
Peter L. Berger, Brigitte Berger, Hansfried Kellner, Pikiran Kembara:Modernisasi dan Kesadaran
Manusia, terjemahan (Yogyakarta:Kanisius,1992) hal. 11
16
K.J. Veeger, Realitas Sosial:Refleksi Filsafat Sosial atas Hubungan Individu Masyarakat dalam
Cakrawala Sejarah Sosiologi (Jakarta:Gramedia,1993) hal. 20-22
17
Ciri masyarakat industrial yang dikemukakan oleh Raymond Aron dalam Veeger 1993:26-27 adalah
pertama, industri merupakan rasionalisasi proses kerja. Kedua, penemuan-penemuan di bidang ilmu alam
yang diterapkan dalam proses-proses kerja. Ketiga, berkembangnya industri mengakibatkan konsentrasi
kamu buruh di dekat pabrik dan tambang serta urbanisasi. Keempat, konsentrasi kaum buruh itu
mengakibatkan antagonisme (pertentangan) entah masih terpendam atau sudah terbuka antara dua kelas
sosial, yaitu kaum proletar dan kaum bermodal. Kelima, rasionalisasi metode kerja tadi membawa rejeki
besar bagi sebagian kecil manusia, tetapi kemiskinan yang mencemaskan bagi banyak orang lain. Keenam,
muncul liberalisme di bidang ekonomi dengan slogannya laissez faire, laissez aller (biarlah orang berbuat
sendiri, biarlah orang mencari jalan sendiri).
akan menandai puncak prestasi moral manusia dalam perkembangan
penuh altruisme dan cinta. 18
Namun yang perlu dikritisi di sini adalah janganlah kita
memandang ciri-ciri yang sudah dilalui oleh masyarakat di atas sebagai
langkah mutlak bagi modernisasi 19 .

II. Krisis Yang Berkepanjangan


Selama dua abad terakhir atau lebih, kaum kuat adalah bangsa-
bangsa yang maju dalam dalam teknologi di Barat. Sebagaimana mereka
memaksakan kuasa militer, politik dan ekonomi terhadap sebagian besar
dunia, merekapun memaksakan “kata-kata” mereka. Merekalah yang
memberikan nama kepada liyan dalam jenis pembaptisan yang negatif.
Siapakah liyan itu? Ketika Barat masih berpandangan Kristen, liyan
adalah “kaum kafir”, kemudian mereka menjadi “kaum beradab” atau
lebih optimistik “kurang beradab”, sebagaimana kekuasaan imperial
Barat dimengerti sebagai tugas penyebar “peradaban”. Dan sesudah
muncul PBB, mereka yang lain itu memberi nama seperti “ negara
berkembang” atau “negara tidak berkembang” 20 . Sehingga modernisasi
bisa dijelaskan sebagai sikap mental yang mengsubordinatkan yang
tradisional di bawah yang baru.
Memang tidak dapat disangkal bahwa banyak data empirik yang
tersaji di depan mata kita mengenai hasil modernisasi yang bernilai
positif. Pekerjaan yang biasanya dilakukan dalam jangka waktu yang
lama, kini dengan bantuan teknologi dapat diselesaikan dalam hitungan
detik (sekaligus dalam jumlah yang banyak dan mutu yang tetap baik).
Dulu, jarak dan waktu merupakan kendala bagi manusia untuk

18
Tom Campbell, Tujuh Teori Sosial:Sketsa, Penilaian, Perbandingan, terjemahan
(Yogyakarta:Kanisius,1994) hal. 166
19
Beling dan Totten 1985:8
20
Peter L. Berger, Piramida Kurban Manusia:Etika Politik dan Perubahan Sosial, terjemahan
(Jakarta:LP3ES,1982)hal.7
berinteraksi dan berkomunikasi, namun kini hal itu dapat dipecahkan
dengan kemajuan teknologi telekomunikasi dan transportasi.
Kemajuan yang pesat tersebut, perlu disadari telah menyilaukan
mata kita, karena bersamaan dengan itu manusia sesungguhnya tengah
meradang kesakitan. Anthony Giddens, menyebutkan bahwa modernisasi
telah menampilkan fenomena bermata ganda, yaitu satu sisi
menentramkan, sisi lain menggelisahkan. Karakter tersebut ditangkap
oleh Giddens dalam istilah “runaway world” dunia yang berlari atau
dunia yang “mrucut” 21 .
Sebagai contoh konkrit, kita telah kehilangan kesempatan untuk
mengenal tetangga di seberang jalan sambil setiap hari mengunyah secara
cermat informasi tentang pelbagai peristiwa di seberang negeri. Apa
sesungguhnya yang terjadi jika seorang anak SD di sebuah dusun
terpencil di Jawa Tengah, misalnya, lebih hafal nama-nama pemain tim
kesebelasan yang bertanding dalam liga sepakbola Inggris daripada
Kepala Desa-nya sendiri? Atau apa pula yang terjadi pada sebuah pagi
yang hiruk pikuk, sekerumunan pejalan kaki yang lewat di jalan
Malioboro, Yogyakarta, memergoki sepasang muda-mudi yang sedang
bercumbu di dalam sebuah mobil dengan keadaan tanpa busana? Apa
pula sesungguhnya yang tengah berlangsung ketika para aktivis politik
yang demikian vokal, pada malam-malamnya kerap membunuh waktu di
“kedai-kedai” malam, diskotik atau berkaraoke atau hilir mudik dalam
mobil pribadi merek BMW? Segenap tingkah laku kita adalah duplikasi
kesekian kali dari tayangan-tayangan acara televisi setiap harinya. 22
Koentjaraningrat, mencatat beberapa bahaya dari kemakmuran
dan demokrasi yang ekstrim (sebagai side effect modernisasi) yaitu:
1. Individualisme ekstrim serta isolasi individu

21
B. Hari Juliawan, Dunia yang Berlari, dalam BASIS No. 01-02 Tahun ke -49, Januari-Pebruari 2000
22
Budiman 1997:3
2. Keretakan prinsip-prinsip kekeluargaan
3. Hilangnya nilai-nilai hidup rohaniah yang mempertinggi mutu hidup
4. Penggunaan kelebihan harta dan waktu luang yang tidak wajar
5. Polusi dan pencemaran lingkungan hidup. 23
Senada dengan itu Peter L. Berger melukiskan manusia modern
mengalami anomie, yaitu suatu keadaan ketika manusia kehilangan ikatan
yang memberikan perasaan aman dan kemantapan dengan sesama manusia
lainnya, sehingga menyebabkan kehilangan pengertian yang memberikan
petunjuk tentang dan arti kehidupan di dunia ini. 24
Kita mendengung-dengungkan keluhuran nilai-nilai ketimuran
seperti keramahan, halus budi, gotong royong, dan berkepribadian Bangsa
yang kokoh. Tetapi, pada saat yang bersamaan bermunculan wajah buruk
rupa dalam bentuk kekerasan dan kebrutalan dalam berbagai bentuk di
lingkungan keluarga dan masyarakat. 25 Pelaku tidak lagi ragu-ragu
menjalankan aksinya di tempat terbuka, praktek pengadilan jalanan yang
marak, perkosaan warga etnis tertentu sampai pada anak-anak di bawah
umur, perkelahian pelajar dan mahasiswa, pemakaian obat-obatan terlarang,
pornografi via internet, prostitusi, perselingkuhan, bunuh diri, pemalsuan
uang, ekploitasi sumber kekayaan alam, konflik bernuansa SARA, ancaman
perang dan senjata biokimia dan sebagainya.

Para Sosiolog melihat gejala ini dalam skala kehidupan


masyarakat, yang menggambarkan kemunduran (regresi), sebagai suatu
kenyataan sosial yang tidak terbantah. Terdapat kerusakan dalam jalinan
struktur perilaku manusia dalam kehidupan masyarakat. Pertama,
berlangsung pada level pribadi, termasuk yang berkaitan dengan motif,
persepsi, dan respon (tanggapan), termasuk di dalamnya konflik status dan

23
Koentjaraningrat, Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan (Jakarta:Gramedia,1993) hal. 84
24
Haedar Nashir 1999:3
25
Nashir 1999:5
peran. Kedua, berkenaan dengan norma, yang berkaitan dengan rusaknya
kaidah-kaidah yang harus menjadi patokan kehidupan perilaku (yang oleh
Durkheim disebut sebagai normlessnes). Pada level kebudayaan, krisis itu
berkenaan dengan pergeseran nilai dan pengetahuan masyarakat yang oleh
Ogburn disebut gejala kesenjangan budaya atau “cultural lag”. 26 Dalam
kritiknya terhadap peradaban manusia, Karl Marx menyebutkan akibat yang
ditimbulkan yaitu: manusia teralienasi (termarjinalisasi) dari pekerjaannya,
dirinya sendiri dan orang lain yang pada akhirnya teralienasi dari alam atau
dunianya. 27

Bagi Herbert Marcuse, masyarakat industri modern adalah


masyarakat yang berdimensi satu, yang artinya segala segi kehidupannya
diarahkan pada satu tujuan saja, yaitu keberlangsungan dan peningkatan
sistem yang telah ada (dalam hal ini adalah kapitalisme). Masyarakat ini
bersifat represif dan totaliter karena pengarahan pada satu tujuan itu berarti
menegasikan dan menindas dimensi-dimensi lan yang berseberangan dengan
sistem tersebut. Berkembangnya situasi ini dimungkinkan karena teknologi
modern (sebagai tools ) dapat menciptakan kemakmuran yang serba rasional
serta dapat memuaskan hasrat dan kebutuhan hidup masyarakat tersebut.
Kondisi ini, pada akhirnya memperhadapkan manusia pada pilihan usang,
apakah memperlambat gerak arus modernisasi atau memberikan diri
menjadikan saksi bagi kehancuran jagad raya.

III. Prinsip Etik Global: Solusi yang Utopis?


Demikian akar permasalahan dan sumber prahara kehidupan
manusia modern, yang berawal dari pendewaan rasio dan materi dalam
paham humanisme-antroplogis dengan bangunan alam pikiran naturalisme
yang menolak kehadiran alam pikiran keagamaan dan hal-hal yang

26
Nashir 1999:4
27
Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx: dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme
(Jakarta:Gramedia,1999) hal. 95-99
supranatural telah dianggap sebagai pembelenggu kebebasan dan
kemerdekaan manusia.
Permasalahan semakin berkembang ketika manusia berupaya
untuk kembali ke fitrahnya sebagai mahluk religius, sontak terkejut setelah
melihat torehan jejak sejarah yang ditinggalkan agama dalam perkembangan
peradaban manusia, juga menghasilkan krisis kemanusiaan yang sangat
hebat ledakannya. Atas nama Tuhan, para penganut agama dapat saling
serang dan bahkan saling bunuh, pemaksaan untuk menganut agama
tertentu, saling mengklaim kebenaran ajaran agama, dan sebagainya. Dan
dalam perkembangan peradaban manusia, konflik yang bernuansa agama
telah menjadi tontonan teatrikal utama yang senantiasa tayang dalam ruang
dan waktu kesadaran manusia. Dalam situasi seperti ini, pantaslah bagi
seorang Hans Kung menyatakan bahwa tidak ada perdamaian dunia tanpa
perdamaian antar agama. Lantas, bagaimana harusnya manusia modern
bersikap?
Dengan berpatokan pada sebuah prinsip kuno, what you do not wish
to yourself, do not do to others or what you wish done to yourself, do to others 28 ,
muncul 4 petunjuk yang cakupannya sangat luas bagi perilaku manusia,
yaitu:
1. Komitmen pada budaya non-kekerasan dan hormat pada kehidupan.
Dalam hal ini manusia diajak untuk merenungkan kembali petunjuk
yang mengatakan bahwa semua orang mempunyai hak untuk hidup,
selamat dan mengembangkan kepribadiannya secara bebas sejauh
mereka tidak merugikan hak-hak orang lain
2. Komitmen pada budaya solidaritas dan tata ekonomi yang adil. Kita
harus memanfaatkan kekuasaan ekonomi dan politik untuk melayani

28
Hans Kung dan Karl-Josef Kuscher, A Global Ethic:The Declaration of the Parliament of the World’s
Religious (New York:Continuan,1993) hal. 22
kemanusiaan dan bukan untuk menyalahgunakan dalam perang yang
tidak benar
3. Komitmen pada budaya toleransi dan hidup yang tulus. Kita tidak
boleh mencampuradukkan kebebasan dengan kesewenang-wenangan
atau pluralisme dengan ketakpedulian terhadap kebenaran
4. Komitmen pada budaya kesejajaran hak dan kerjasama antara laki-laki
dan perempuan. Hubungan antara laki-laki dan perempuan
seharusnya tidak bersifat patronasi atau ekploitasi, tapi dengan cinta,
kerjasama, dan saling mempercayai. 29
Namun, persoalan historis menunjukkan Bumi tidak bisa diubah
menjadi lebih baik jika kita tidak melakukan transformasi kesadaran
terhadap individu maupun kehidupan publik. Sejauh ini, transformasi
terdapat dalam wilayah seperti perang dan perdamaian, ekonomi dan
ekologi, yang dalam dekade terakhir terjadi beberapa perubahan
fundamental. Transformasi ini juga harus berlangsung dalam wilayah etik
dan nilai-nilai. Setiap individu mempunyai martabat yang intrinsik dan hak
yang tidak boleh diganggu gugat, sekaligus memiliki kewajiban yang tidak
bisa dilepaskan dari yang dilakukan dan tidak dilakukan. Semua keputusan
dan perbuatan, bahkan kelalaian dan kegagalan mempunyai konsekuensi. 30
Yang kita perlukan sekarang adalah ‘universal guide’ untuk
mengarahkan manusia agar dapat menjadikan sesama dan Bumi sebagai
sahabat yang saling mendukung. Kita memerlukan etik BUKAN etika. Dalam
etik termaktub sikap moral manusia yang mendasar, sedangkan etika
menunjuk pada teori sikap, nilai, dan norma moral secara filosofis atau
teologis. 31 Prinsip-prinsip dalam etik global mengajak kita (tanpa ada
pembeda) untuk secara bersama-sama menjawab tantangan kemanusiaan ini.

29
Hans Kung dan Karl-Josef Kuscher, Etik Global, Terjemahan (Yogyakarta:Pustaka Pelajar,1999) hal. 21-
37
30
Hans Kung dan Karl-Josef Kuscher 1999:39-40
31
Hans Kung dan Karl-Josef Kuscher 1999:75-75
Kita harus bergerak bersama dengan didasari pemikiran bahwa setiap
manusia berhak untk diperlakukan secara manusiawi, dengan tidak
memandang perbedaan-perbedaan seperti agama, suku bangsa, warna kulit
atau dasar apapun. Dengan etik global, kita maksudkan sebuah konsensus
fundamental tentang nilai yang mengikat, standar yang tidak bisa diganggu
gugat sekaligus personal. Tanpa konsensus etik fundamental semacam itu,
cepat atau lambat setiap komunitas manusia akan terancam oleh ‘chaos’ serta
penindasan dan manusia kian menderita. 32

IV. Kesimpulan
Krisis kemanusiaan masyarakat modern yang terjadi sampai
sekarang semakin melegitimasi kenyataan bahwa agama sebagai hasil
konstruksi masyarakat yang sarat dengan nilai-nilai moral yang adiluhung,
belum mampu berperan secara optimal. Agama hanya dijadikan sebagai
instrumen untuk membedakan manusia berdaarkan kepercayaannya. Agama
lebih banyak digunakan sebagai palu hakim yang menjatuhkan vonis untuk
mengeksekusi kebenaran orang lain sebagai sesat atau bidat.
Untuk mencari jalan keluar dari persoalan ini, terasa kian sulit
ketika ‘life world’ masyarakat global saat ini tidak dengan segera
didefenisikan. Life world adalah dunia kehidupan atau penghayatan yang
dialami oleh umat manusia sehari-hari. Jurgen Habermas mengungkapkan
bahwa life world masyarakat global telah ter-reduksi sedemikian rupa dalam
proses rasionalisasi yang mengedepankan rasionalitas-bertujuan. Out-put-nya
adalah terciptanya bentuk masyarakat teknologis (dalam istilah Erich Fromm
dikenal dengan sebutan otomaton) atau masyarakat satu dimensi ( istilah
Herbert Marcuse). Dalam masyarakat seperti ini, kritik tidak berfungsi dan
mengakibatkan struktur serta pola pikir masyarakat menjadi tumpul. Tidak

32
Hans Kung dan Karl-Josef Kuscher 1999:16
berfungsinya dimensi kritik ini dikarenakan fokus masyarakat hanya tertuju
pada satu mainstream yaitu materialisme. 33
Kondisi-kondisi seperti ini, menuntut dengan segra
direalisasikannya prinsip-prinsip yang terkandung dalam etik global dengan
nilai-nilai kemanusiaan sebagai mainstream-nya. Sudah sepatutnya
digencarkan gerakan yang berskala internasional 34 dalam mendukung
penerapan prinsip-prinsip etik global ini. Juga perlu dimasukkannya prinsip
ini sebagai dasar pengambilan keputusan-keputusan yang bersifat publik.
Transformasi nilai-nilai ini ke dalam kesadaran manusia modern sudah tidak
bisa ditawar lagi pelaksanaannya. (Namun, apakah harapan ini tidak sekedar
upaya penciptaan mitos baru oleh manusia rasional yang pada akhirnya akan
bermuara pada krisis yang baru?)

“Kesempatan setiap manusia untuk mendayagunakan dan


mengembangkan kemampuan-kemampuan dirinya; untuk memberikan
peluang bagi dirinya mengatasi egocenteredness-nya dengan saling
bergandengan tangan dengan sesamanya melakukan tugas penyejahteraan
masyarakat; dan untuk mempersembahkan barang-barang dan jasa-jasa yang
dibutuhkan oleh setiap manusia agar semakin penuh keberadaannya” (EF
Schumacher)

33
Hans Kung dan Karl-Josef Kuscher 1999:hal vi-vii
34
seperti yang dilakukan oleh World Social Forum(WSF) sebagai bentuk dari Global Civil Society
dengan slogan terkenalnya another world is possible! Di Indonesia, WSF ala Indonesia bernama
Gerakan Sosial Baru:Indonesia Yang Lain (GSB). Pada tanggal 20-24 Juli 2005 GSB telah
menyelenggarakan temu-karya-budaya 400 utusan dari berbagai organisasi rakyat dan aktivis
LSM dari sebagian besar seluruh Indonesia.
KEPUSTAKAAN

Budiman, Hikmat., Pembunuhan yang Selalu Gagal:Modernisme dan Krisis


Rasionalitas Menurut Daniel Bell. Yogyakarta:Pustaka Pelajar,1997

Beling dan Toten., Modernisasi:Masalah Model Pembangunan. Terjemahan


Jakarta:Rajawali,1985

Berger, Peter L; Brigitte Berger dan Hansfried Kellner, Pikiran


Kembara:Modernisasi dan Kesadaran Manusia. Terjemahan,
Yogyakarta:Kanisius,1992

Berger, Peter L., Piramida Kurban Manusia:Etika Politik dan Perubahan Sosial.
Terjemahan, Jakarta:LP3ES,1982

Campbell,Tom., Tujuh Teori Sosial:Sketsa, Penilaian, Perbandingan. Terjemahan,


Yogyakarta:Kanisius,1994

Hamashera, Hari., Tokoh-Tokoh Filsafat Modern Barat. Jakarta:Gramedia,1986

Juliawan, B. Hari., Dunia yang Berlari, dalam BASIS No. 01-02 Tahun ke -49,
Januari-Pebruari 2000

Koentjaraningrat, Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan.


Jakarta:Gramedia,1993

Kung, Hans dan Karl-Josef Kuscher., A Global Ethic:The Declaration of the


Parliament of the World’s Religious. New York:Continuan,1993

Kung, Hans dan Karl-Josef Kuscher., Etik Global. Terjemahan,


Yogyakarta:Pustaka Pelajar,1999

Nashir, Haedar., Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern. Yogyakarta:Pustaka


Pelajar,1999

Schrool,J.W., Modernisasi:Pengantar SosiologiPembangunan Negara-Negara sedang


Berkembang. Terjemahan, Jakarta:Gramedia,1991
Sindhunata, Dilema Usaha Manusia Rasional:Kritik Masyarakat Modern oleh Max
Horkheimer dalam Rangka Sekolah Frankfurt. Jakarta:Gramedia,1983

Sunardi, St., Keselamatan Kapitalisme Kekerasan:Kesaksian atas Paradoks-Paradoks.


Yogyakarta:LkiS,1996

Suseno, Franz Magnis., Pemikiran Karl Marx: dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan
Revisionisme. Jakarta:Gramedia,1999

Veeger,K.J., Realitas Sosial:Refleksi Filsafat Sosial atas Hubungan Individu Masyarakat


dalam Cakrawala Sejarah Sosiologi. Jakarta:Gramedia,1993

View publication stats