Sie sind auf Seite 1von 13

PENGARUH MENDONGENG TERHADAP PENINGKATAN

KEMAMPUAN PERKEMBANGAN BAHASA PADA ANAK


USIA 3-5 TAHUN

(Studi di TK Tunas Mekar, TK YKK 2 dan TK Safinda IV Kelurahan Mlajah Kabupaten


Bangkalan)

NASKAH PUBLIKASI

Diajukan Dalam Rangka Untuk Melengkapi Sebagian Persyaratan


Menjadi Sarjana Keperawatan

Oleh :
EVI DWI YULIATI
NIM. 15142010069

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


STIKES NGUDIA HUSADA MADURA
BANGKALAN
2019
HALAMAN PENGESAHAN

1
PENGARUH MENDONGENG TERHADAP PENINGKATAN
KEMAMPUAN PERKEMBANGAN BAHASA PADA ANAK
USIA 3-5 TAHUN

(Studi di TK Tunas Mekar, TK YKK 2 dan TK Safinda IV Kelurahan Mlajah Kabupaten


Bangkalan)

NASKAH PUBLIKASI

Disusun Oleh :

Oleh :
EVI DWI YULIATI
NIM. 15142010069

Telah disetujui pada Tanggal :

Pembimbing

Dr. M. Hasinuddin, S.Kep., Ns., M.Kep


NIDN. 0723058002

2
INFLUENCE OF STORY TELLING METHOD TO
LANGUAGE DEVELOPMENT ON
CHILDREN AGED 4-5 YEARS
(Study at RA KARTINI Kindergarten Dumajeh Village)
Surotur Rofiah, Hamimatus Zainiyah.S.ST.,M.Pd.,M.Keb3
ABSTRACT
Language development is a skill in giving respond voice, following command and
spontaneously speaking. Based on data in RA KARTINI kindergarten Dumajeh Village on 27
Children aged 4-5 years old detectioned by DDST, there are 16 children (59%) had suspect
language development. The purpose of this study is to determine the effect of storytelling
method on children's language development.

The study design was a pre experiment design with one group pre test post test model.
The independent variable is the storytelling method and the dependent variable is language
development. The population of this study were 27 children aged 4-5 years and a sample 16
children aged 4-5 years who had delayed language development. The sampling technique
used in this study is random sampling. Data collection used DDST observation sheet and the
results were analyzed using Wilcoxon test.

The development of the child's language before giving method of storytelling all
children are suspect (100%), and after giving the method of storytelling almost all normal
(81.75%). The result of data analysis with Wilcoxon test showed the value of P Value (0.000)
with significance level α (0.05), it means value of P Value <α, meaning there is influence of
story telling method to language development on children aged 4-5 years at Dumajeh
Village.

It is expected that the next researcher will conduct research using more interesting
storytelling methods such as using hand puppets or using picture media so that children feel
happy. It is expected for parents to provide storytelling stimulation accompanied by media
that is good and appropriate for the needs of children aged 4-5 years so that it can stimulate
the development of the language. For kindergarten students can provide various kinds of
stimulation tools such as story books, educational game tools or other media to support
children's development.
Keywords: Storytelling Method, Language Development

1. Judul Skripsi
2. Mahasiswa D4 Kebidanan Ngudia Husada Madura
3. Dosen STIKes Ngudia Husada Madura

LATAR BELAKANG Kemampuan berbahasa merupakan


indikator seluruh perkembangan anak.

3
Kemampuan bahasa sensitif terhadap sangat penting yang dibutuhkan dalam
keterlambatan atau kerusakan pada sistem perkembangan anak, khusunya
lainnya, sebab melibatkan kemampuan mempengaruhi perkembangan belajar dan
kognitif, sensori motor, psikologis, emosi perkembangan kognisinya. Membaca,
dan lingkungan di sekitar anak (Komalasari, menulis, bahasa tubuh, mendengarkan dan
2014). Gangguan bicara dan bahasa adalah berbicara, semuanya merupakan bentuk
terjadinya gangguan atau keterlambatan pada berbahasa, simbol / kode yang digunakan
anak dalam berbicara atau menggunakan untuk mengkomunikasikan pendapat dan
bahasa di dalam kehidupan sehari-harinya. pikiran (Soetjiningsi, 2012).
Keterlambatan ini bisa dimulai dari bentuk
yang paling sederhana, seperti bunyi suara Optimalisasi perkembangan anak
yang ‘tidak normal’ (sengak atau serak) dapat dilakukan dengan cara menstimulasi
sampai dengan ketidakmampuan untuk kemampuan anak sesuai usianya. Stimulasi
mengerti atau menggunakan bahasa, atau yang dapat diberikan pada anak dibawah 6
ketidakmampuan mekanisme oral-motor tahun untuk merangsang perkembangan
dalam fungsinya untuk berbicara dan makan bahasa dalam bentuk permainan, yang
(Yuniarti, 2012). dianggap sebagai metode pembelajaran.
Dongeng merupakan salah satu warisan /
Kemampuan bahasa merupakan salah tradisi budaya yang perlu kita lestarikan,
satu indikator perkembangan anak, karena karena sejak bangun hingga menjelang tidur
kemampuan bahasa sensitif terhadap anak- anak dihadapkan pada televisi yang
keterlambatan atau kerusakan pada sistem menyajikan beragam acara, mulai dari film
lainnya. Hal ini dikarenakan keterlibatan kartun, komik, kuis, hingga sinetron. Semua
kemampuan kognitif, sensori motorik, itu akan berakibat baik jika pesan yang
psikologis, emosi dan lingkungan di sekitar disampaikan merupakan baik dan bermoral
anak. Anak usia 3 diharapkan mampu (Menurut Prasasti 2005, dalam Yuniarti
memahami 50-300 kosa kata mengucapkan 2012).
kalimat dengan 2-3 kata bermakna, mampu
mendengarkan cerita sederhana dan mampu Metode bernyanyi merupakan metode
menceritakan pengalaman cerita sehari-hari yang menggunakan unsur seni yang
secara sederhana. Anak usia 4 tahun kosa digemari oleh anak usia dini. Dalam
kata anak mencapai 4.000-6.000 kata dan kegiatan pembelajaran pada anak usia dini
berbicara 5-6 kata bermakna. Anak usia 5 bernyanyi merupakan kegiatan yang harus
tahun perbendaharaan kata terus bertambah ada di setiap kegiatan pembelajaran,
mencapai 5.000-8.000 kata dan kalimat yang bahkan bernyanyi seolah-olah menjadi
dipakai pun semakin kompleks (Soetjiningsi, kegiatan yang wajib di lakukan setiap hari.
2013). Sedangkan bahasa perlu dilatih sejak usia
Berdasarkan studi pendahuluan yang dini karena bahasa merupakan alat utama
dilakukan di TK Tunas Mekar Mlajah yang dibutuhkan untuk berkomunikasi dan
Bangkalan dari 10 orang anak usia 3-5 tahun bersosialisasi dengan orang lain. Bernyanyi
didapatkan 6 anak (60%) dikategorikan merupakan metode pembelajaran yang
suspect dimana diantaranya ada 4 anak yang menggunakan syair-syair yang biasanya
mengalami delayed dalam melaksanakan disesuaikan dengan materi yang akan
tugas dan 2 anak caution dalam diajarkan oleh guru (Fadlillah, 2014).
melaksanakan tugas.
METODE PENELITIAN
Gangguan berbahasa dapat Populasi dalam penelitian ini adalah
mempengaruhi anak dalam berkomunikasi anak usia 3-5 tahun di TK Tunas Mekar, TK
dengan orang lain, dalam proses memahami YKK 2, dan TK Safinda IV Kelurahan
atau menganalisa informasi. Keterampilan Mlajah, Bangkalan. Peneliti mengambil
berkomunikasi merupakan keterampilan sampel anak usia 3-5 tahun sebanyak 44

4
anak yang mengalami keterlambatan Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan
perkembangan bahasa. Jenis Kelamin Anak di TK Tunas Mekar, TK
Teknik sampling merupakan cara-cara YKK 2 dan TK Safinda IV Pada Bulan
yang ditempuh dalam pengambilan sampel, Februari-Maret 2019
agar memperoleh sampel yang benar-benar Kelompok Kelompok
sesuai dengan keseluruhan seluruh objek Perlakuan Kontrol
Jenis
Freku Perse Frekue Persent
(Nursalam, 2014). Dalam penelitian ini Kelamin
ensi ntase nsi ase (%)
menggunakan Probability Sampling secara (%)
Proportionate Stratified Random Sampling Perempuan 15 68.2 8 36.4
teknik yang digunakan bila populasi Laki-laki 7 31.8 14 63.6
mempunyai anggota/unsur yang tidak Total 22 100.0 22 100.0
homogen dan berstrata proporsional Sumber data: Data primer Februari-Maret 2018
(Sugiyono, 2010).
Alat yang digunakan dalam Berdasarkan tabel 4.2 diatas dapat diketahui
pengumpulan data adalah lembar observasi bahwa distribusi frekuensi jenis kelamin
DDST dan diuji dengan uji statistik menguji anak di TK Tunas Mekar, TK YKK 2 dan TK
normalitas data dengan shapiro wilk. Dan uji Safinda IV pada kelompok perlakuan
Wilxocon dan uji Mann-Whitney. berdasarkan jenis kelamin sebagian besar
berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 9
HASIL PENELITIAN orang dengan persentase (56,25%) dan pada
1. Data Penelitian kelompok kontrol berdasarkan jenis kelamin
Sasaran penelitian adalah anak usia 3-5 sebagian besar berjenis kelamin laki-laki
tahun di TK Tunas Mekar, TK YKK 2, dan yaitu sebanyak 14 orang dengan persentase
TK Safinda IV Kelurahan Mlajah, Bangkalan (63,6%).
pada bulan Februari-Maret 2019.
2. Data karakteristik berdasarkan usia anak 4. Karakteristik orang tua anak Berdasarkan
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Berdasarkan pendidikan
Usia Anak di TK Tunas Mekar, TK YKK 2 Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Orang Tua
dan Tk Safinda IV Pada Bulan Februari Anak Berdasarkan Pendidikan di TK Tunas
2019-Maret 2019 Mekar, TK YKK 2 dan TK Safinda IV Pada
Kelompok Kelompok Bulan Februari-Maret 2019
Perlakuan Kontrol Kelompok Kelompok
Usia Pendidi Perlakuan Kontrol
Freku Persent Freku Persentase
ensi ase (%) ensi (%) kan Freku Persentas Freku Persentase
3 tahun 5 22.7 7 31.8 ensi e (%) ensi (%)
4 tahun 9 40.9 6 27.3 SMP 6 27.3 10 45.5
5 tahun 8 36.4 9 40.9 SMA 8 36.4 5 22.7
Total 22 100.0 16 100.0 Sarjana 8 36.4 7 31.8
Total 22 100.0 22 100.0
Sumber data: Data primer Februari-Maret 2019
Sumber data: Data primer Februari-Maret 2019
Berdasarkan tabel 4.1 diatas dapat diketahui
Berdasarkan tabel 4.3 di atas menunjukkan
bahwa distribusi frekuensi berdasarkan usia
bahwa pendidikan orang tua anak di TK
anak di TK Tunas Mekar, TK YKK 2 dan TK
Tunas Mekar, TK YKK 2 dan TK Safinda IV
Safinda IV pada kelompok perlakuan
pada kelompok perlakuan sebagian
sebagian besar berusia 4 tahun yaitu
berpendidikan SMP dan SMA yaitu masing-
sebanyak 9 anak dengan persentase (40,9%)
masing sebanyak 8 orang dengan persentase
dan pada kelompok kontrol sebagian besar
masing-masing (36,4%) pada kelompok
berusia 5 tahun yaitu sebanyak 9 anak
kontrol hampir setengahnya berpendidikan
dengan persentase (40,9%).
SMP yaitu sebanyak 10 orang dengan
3. Karakteristik berdasarkan jenis kelamin persentase (45,5%).

5
5. Karakteristik orang tua anak berdasarkan bekerja sebagai petani yaitu sebanyak 15
usia orang tua orang dengan persentase (68,2%).
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Orang Tua
Anak Berdasarkan Usia Orang Tua di TK 7. Distribusi frekuensi kemampuan
Tunas Mekar, TK YKK 2 dan TK Safinda IV perkembangan bahasa usia 3-5 tahun di
Pada Bulan Februari 2019-Maret 2019 TK Tunas Mekar, TK YKK 2 dan TK
Kelompok Kelompok Safinda IV sebelum dan sesudah
Usia
Perlakuan Kontrol diberikan dongeng
Orang
Freku Persentas Frekuen Persent Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Kelompok
Tua
ensi e (%) si ase (%) Perlakuan Sebelum dan Sesudah Diberikan
20-35 Dongeng
16 72.7 15 68.2
tahun Responden Pretest Postest
>35
6 27.3 7 31.8 1. 5 5
tahun
Total 22 100.0 22 100.0 2. 7 9
Sumber data: Data primer Februari-Maret 2019 3. 7 9
4. 5 7
Berdasarkan tabel 4.4 di atas menunjukkan 5. 7 9
6. 7 9
bahwa usia orang tua anak di TK Tunas 7. 7 7
Mekar, TK YKK 2 dan TK Safinda IV pada 8. 5 7
kelompok perlakuan sebagian besar berusia 9. 7 7
20-35 tahun yaitu sebanyak 16 orang dengan 10. 7 9
persentase (72,7%) dan pada kelompok 11. 7 9
12. 7 7
kontrol sebagian besar berusia 20-35 tahun 13. 5 7
yaitu sebanyak 15 orang dengan persentase 14. 7 9
(68,2%). 15. 5 7
16. 7 9
6. Distribusi frekuensi berdasarkan 17. 5 7
pekerjaan orang tua. 18. 7 9
Tabel 4.5 Distribusi frekuensi Orang Tua 19. 5 7
20. 5 7
Anak Berdasarkan Pekerjaan di TK Tunas 21. 7 9
Mekar, TK YKK 2 dan TK Safinda IV Pada 22. 7 7
Bulan Februari 2019-Maret 2019 Meningkat = 19 ( 86,0%)
Kelompok Kelompok Tidak Meningkat = 3 (14,0%)
Perlakuan Kontrol Sumber data: Data primer Februari-Maret 2019
Pekerjaan Frekue Perse Freku Persent
nsi ntase ensi ase (%) Berdasarkan tabel 4.6 diatas dapat
(%) diketahui perkembangan bahasa pada anak
PNS 6 27.3 7 31.8 kelompok perlakuan setelah diberikan
Wiraswasta dongeng meningkat sebanyak (86,00%).
16 72.7 15 68.2
/Swasta
Total 22 100.0 22 100.0 8. Distribusi frekuensi kemampuan
Sumber data: Data primer Februari-Maret 2019 perkembangan bahasa usia 3-5 tahun di
Berdasarkan tabel 4.5 diatas dapat diketahui TK Tunas Mekar, TK YKK 2 dan TK
bahwa distribusi frekuensi orang tua anak di Safinda IV sebelum dan sesudah
TK Tunas Mekar, TK YKK 2 dan TK diberikan metode bernyanyi
Safinda IV pada kelompok perlakuan Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Kelompok
berdasarkan pekerjaan sebagian besar Perlakuan Sebelum dan Sesudah Diberikan
bekerja sebagai wiraswasta/swasta yaitu Metode Bernyanyi
sebanyak 16 orang dengan persentase
(27,3%) dan pada kelompok kontrol
Responden Prepost Postest
berdasarkan pekerjaan sebagian besar
1. 7 9

6
2. 5 7 diperoleh Asymp. Zig.(2-Tailed) sebesar
3. 5 7
4. 7 9 0,000 < dari (0,05) H1 diterima yang
5. 7 7
6. 5 7 berarti ada perbedaan kemampuan
7. 7 9 perkembangan bahasa kelompok perlakuan
8. 7 7 pada anak usia 3-5 tahun sebelum dan
9. 5 9 sesudah diberikan dongeng di TK Tunas
10. 5 7 Mekar, TK YKK 2 dan TK Safinda IV.
11. 7 7
12. 5 7 Sedangkan Uji Wilcoxon pada kelompok
13. 7 7 kontrol diperoleh Asymp. Zig.(2-Tailed)
14. 7 9 sebesar 0,000 < dari (0,05) H1 diterima
15. 5 7
16. 7 7 yang berarti ada perbedaan kemampuan
17. 5 9 perkembangan bahasa kelompok kontrol
18. 7 7
19. 5 7 pada anak usia 3-5 tahun di TK Tunas
20. 7 9 Mekar, TK YKK 2 dan TK Safinda IV
21. 5 7 sebelum dan sesudah diberikan metode
22. 5 9 bernyanyi.
Meningkat = 16 (72,5%)
Tidak Meningkat = 6 (27,5%) Sebelum dilakukan analisis data
Sumber data: Data primer Februari-Maret 2019
meggunakan uji Mann-Whitney dilakukan uji
Berdasarkan tabel 4.7 diatas dapat Homogenitas yang didapatkan hasil
diketahui bahwa perkembangan bahasa usia Siginifikansi (Sig) sebesar 0,06 > (0,05)
3-5 tahun di TK Tunas Mekar, TK YKK 2
dan TK Safinda IV sesudah diberikan sehingga dapat disimpulkan bahwa varian
metode bernyanyi hampir seluruh normal kelompok kontrol dan perlakuan homogen.
yaitu 16 responden (72,5%). Lalu dilanjutkan analisis data menggunakan
uji Mann-Whitney untuk mengetahui
9. Distribusi frekuensi perbedaan perbedaan perkembangan bahasa pada anak
kemampuan perkembangan bahasa yang diberikan dongeng dan yang diberikan
kelompok perlakuan dan kelompok metode bernyanyi terhadap peningkatan
kontrol pada anak usia 3-5 tahun sebelum kemampuan perkembangan bahasa anak usia
dan sesudah diberikan dongeng metode 3-5 tahun di TK Tunas Mekar, TK YKK 2
bernyanyi di TK Tunas Mekar, TK YKK dan TK Safinda IV Kelurahan Mlajah
2 dan TK Safinda IV. Kabupaten Bangkalan didapatkan hasil
diperoleh Asymp. Zig.(2-Tailed) sebesar
Berdasarkan hasil tabel 4.8
0,061 > dari (0,05) H1 ditolak yang berarti
menunjukkan bahwa hasil pretest didapatkan
nilai rata-rata perkembangan bahasa pada tidak ada perbedaan yang signifikan antara
kelompok perlakuan adalah 6,27 setelah perkembangan bahasa pada anak yang
diberikan perlakuan dongeng dan dilakukan diberikan dongeng dan yang diberikan
postest terjadi peningkatan menjadi 8,00. metode bernyanyi terhadap peningkatan
Sedangkan kelompok kontrol pretest kemampuan perkembangan bahasa anak usia
didapatkan nilai rata-rata perkembangan 3-5 tahun di TK Tunas Mekar, TK YKK 2
bahasa adalah 6,00 dan setelah dilakukan dan TK Safinda IV Kelurahan Mlajah
metode bernyanyi dan dilakukan postest Kabupaten Bangkalan.
terjadi peningkatan juga menjadi 7,45.
PEMBAHASAN
Dari hasil statistik yang menggunakan 1. Gambaran Pengembangan Bahasa
uji statistik dengan menggunakan Uji Anak Usia 3-5 Tahun Sebelum Dan
Wilcoxon pada kelompok perlakuan Setelah Mendapat Mendongeng TK

7
Tunas Mekar, TK YKK 2 dan Tk bagian badan, menunjuk 4 gambar, menyebut
Safinda IV Kelurahan Mlajah 2 kegiatan, mengerti 2 kata sifat, menyebut 1
Kabupaten Bangkalan warna, mengetahui kegunaan 2 benda,
menghitung 1 kubus, mengetahui kegunaan 3
Berdasarkan hasil penelitian benda, mengetahui 4 kegiatan, mengerti 4
didapatkan bahwa perkembangan bahasa kata depan, menyebut 4 warna, mengartikan
sebelum mendapatkan dongeng didapatkan 5 kata, serta mengetahui 3 kata sifat.
hasil pretest perkembangan bahasanya rata-
rata sebesar 6,27. Hasil penelitian Namun demikian masih ada yang
menunjukkan bahwa sebagian besar teknik mendongeng yang baik tetapi
pendidikan orang tua di TK Tunas Mekar, perkembangan bahasa anak tidak meningkat
TK YKK 2 dan Tk Safinda IV adalah SMP sebanyak yaitu sebanyak 3 anak (14,0%).
dan SMA sebesar 36,4%. Bagaimanapun Hal ini dapat disebabkan dari usia anak,
pendidikan dan pengalaman orang tua dalam berdasarkan hasil penelitian didapatkan usia
perawatan anak akan mempengaruhi anak yang mengalami perkembangan bahasa
kesiapan mereka menjalankan peran anak usianya 3 tahun yaitu semakin
pengasuhan serta akan berdampak pada bertambah usia anak maka semakin baik
bagaimana orang tua memberikan stimulasi dalam menerima konsep sebagai proses
kepada anak misalnya menggunakan penerimaan stimulasi. Usia anak berkaitan
dongeng dan media pendukung yang baik. dengan bagaimana anak dapat menerima
konsep dan perkembangan kognitif anak
Menurut Soetjiningsih (2012) bahwa sebagai proses penerimaan stimulasi. Usia
pendidikan orang tua merupakan salah satu anak menunjukkan karakteristik yang
faktor yang penting dalam pengasuhan anak. berbeda, anak usia 5 tahun cenderung lebih
Karena dengan pendidikan yang baik, maka mampu menerima stimulasi lebih baik
orang tua dapat menerima segala informasi dibandingkan anak usia 4 tahun.
dari luar Terutama cara pengasuhan anak
yang baik. Pendidikan orang tua merupakan Sesuai dengan teori Faradisa (2014)
salah satu faktor yang penting dalam menyatakan perkembangan kognitf
perkembangan anak karena dengan pendidi menggambarkan bagaimana pikiran anak
yang baik, maka informasi semakin banyak berkembang dan berfungsi sehingga dapat
di dapat, semakin luas kemampuan yang berfikir. Perkembangan kognitif merupakan
dimiliki seseorang terutama dengan ibu yang proses mental yang mencakup pemahaman
mengajar, melatih dan memberikan contoh tentang dunia, penemuan pengetahuan,
bahasa kepada anak. pembuatan perbandingan, berfikir dan
mengerti. Proses mental yang dimaksud
Berdasarkan penelitian didapatkan adalah proses pengolahan informasi yang
bahwa perkembangan bahasa anak setelah menjangkau kegiatan kognisi, intelegensi,
mendapatkan dongeng didapatkan nilai rata- belajar, pemecahan masalah dan
rata sebesar 8,00. Setelah dilakukan postest pembentukan konsep. Anak mengalami
didapatkan mayoritas anak sudah mampu krisis yang pertama pada usia 3 tahun yang
untuk melaksanakan tugas-tugas disebut masa adaptasi. Anak yang semula
perkembangan bahasa sesuai dengan usianya manis tingkah lakunya, tiba-tiba menjadi
mengetahui 4 kegiatan, mengetahui bandel, menentang dan keras kepala. Masa
kegunaan 3 benda, menyebut 4 warna, ini datangnya tiba-tiba dan hilangnya juga
mengetahui kegunaan 2 benda. secara tiba-tiba, pada umur 4 tahun gejala
mulai menghilang dan anak mulai kooperatif.
Hal ini sesuai dengan konsep tugas
perkembangan bahasa anak Soetjiningsih 2. Gambaran Perkembangan Bahasa
(2012) bahwa tugas perkembangan anak usia Anak Usia 3-5 Tahun Sebelum Dan
3-5 tahun: menyebut 1 gambar, menyebut 5 Setelah Mendapat Metode Bernyanyi

8
Di TK Tunas Mekar, TK YKK 2 dan karena masih belum terbiasa dengan
Tk Safinda IV Kelurahan Mlajah keberadaan orang tersebut. Anak yang tidak
Kabupaten Bangkalan mengalami peningkatan juga bisa disebabkan
oleh tingkat kecerdasannya.
Berdasarkan hasil penelitian Sesuai dengan teori Soetjiningsih
didapatkan bahwa perkambangan bahasa (2012). Kecerdasan anak juga mempengaruhi
anak sebelum mendapatkan metode perkembangan anak. Anak yang dilahirkan
bernyanyi sebagian besar adalah dengan tingkat kecerdasan yang rendah tidak
perkembangan bahasanya rata-rata 6,27. akan mencapai prestasi yang cenderung
Hasil penelitian menunjukan bahwa tinggi walaupun stimulasi yang diberikan
pekerjaan orang tua responden adalah dilingkungannya sendiri. Sementara anak
sebagai wiraswasta/swasta 68,2%. yang dilahirkan dengan tingkat kecerdasan
Wiraswasta/swasta lebih sering meluangkan tinggi dapat didorong stimulasi lingkungan
waktunya untuk bekerja sehingga kuantitas untuk berprestasi cemerlang.
interaksi dengan anak berkurang. Pekerjaan 3. Perbedaan Perkembangan Bahasa
orang tua juga menjadi salah satu pengaruh Anak Usia 3-5 Tahun yang
dalam perkembangan kognitif anak. Mendongeng dan Menggunakan
Sesuai teori Faradisa (2014) pekerjaan Metode Bernyanyi
orang tua adalah sumber penghasilan bagi
keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan Berdasarkan hasil penelitian
fisik, psikologis dan spritual keluarga. Selain didapatkan Setelah dilakukan uji statistik
itu, seseorang yang mempunyai pekerjaan antar variabel menunjukkan bahwa anak
yang penting dan melakukan aktivitas tinggi yang mendapat stimulasi dongeng lebih
akan cendurung melepas peran dan tanggung banyak memiliki perkembangan bahasa
jawab mengasuh dan melatih anak. Semakin yang meningkat dibandingkan dengan anak
sibuk orang tua dengan pekrejaannya maka yang mendapat metode bernyanyi. Apabila
kualitas bertemu antara orang tua dan anak dilihat dari hasil uji statistik dengan
sedikit sehingga orang tua tidak optimal menggunakan Mann Whitney melalui SPSS,
dalam memantau perkembangan anak.
didapatkan hasil p-value= 0,061 > 0,05,
Hasil penelitian menujukkan bahwa
perkembangan bahasa anak setelah Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
mendapatkan stimulasi bernyanyi sebagian H1 ditolak yang berarti tidak ada perbedaan
besar adalah perkembangan bahasanya yang signifikan antara perkembangan
meningkat yaitu sebanyak 16 anak (72,5%). bahasa pada anak yang diberikan dongeng
Hasil penelitian ditemukan juga 6 anak dan yang diberikan metode bernyanyi
(27,5%) tidak meningkat walaupun sudah terhadap peningkatan kemampuan
diberikan metode bernyanyi yang baik. Hal perkembangan bahasa anak usia 3-5 tahun di
ini disebabkan oleh adanya sebagaian anak TK Tunas Mekar, TK YKK 2 dan TK
yang kurang memperhatikan, sibuk sendiri, Safinda IV Kelurahan Mlajah Kabupaten
bahkan anak takut sehingga anak kurang Bangkalan.
memahami informasi yang telah
disampaikan. Ketika anak kurang Hal tersebut dipengaruhi oleh
memperhatikan atau sibuk sendiri maka pemberian stimulasi dongeng ataupun
perhatian anak kurang terfokus untuk metode bernyanyi yang kurang akan
memperhatikan apa yang sudah disampaikan, mempengaruhi penyampaian stimulasi
hal itulah yang bisa menyebabkan anak tidak terhadap perkembangan bahasa anak, sesuai
mengalami peningkatan. Anak yang merasa teori yang ada stimulasi dongeng dan
takut berhadapan dengan orang baru juga metode bernyanyi sama-sama dapat
bisa menyebabkan enggan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa,
memperhatikan apa yang disampaikan, yaitu melalui pembendaharaan kosakata

9
yang sering mendengarnya. Semakin banyak dan memberikan efek imajinatif yang
kosakata yang dikenalnya, semakin banyak dibutuhkan anak usia dini, seperti pada
tentang sesuatu yang dikenalnya. Selain nyanyian yang dapat menumbuhkan minat
melalui kosakata, kemampuan berbahasa ini dan menguatkan daya tarik pembelajaran.
juga dapat diasah melalui ketepantan Kedua metode tersebut saling memberikan
berbahasa sesuai dengan suasana emosi, pengaruh terhadap penguasaan kosakata
yaitu bagaimana berbahasa ketika suasana bahasa. Nada dari lagu yang dinyanyikan
sedih, mengharukan, membahagiakan, dan mendorong anak untuk ketrampilan
sebagainya. Lebih dari itu, kemampuan berbahasa yang berkenaan dari indera
berbahasa secara baik dan benar akan pendengar yang mengingat melodi nada
diperoleh anak jika si pendongeng maupun dan lagu yang mengembangkan
penyanyi mampu mendongeng dan perbendaharaan kata dan memperkenalkan
bernyanyi dengan menggunakan bahasa kata-kata baru dalam lagu maupun kosakata
yang baik dan benar juga (Soetjiningsih, lain (Miranti, 2015).
2012). Kelebihan mendongeng dengan
media boneka jari dapat melatih Berdasarkan hasil observasi peneliti,
kemampuan berbicara anak karena anak yang mendapat stimulasi dongeng dan
memahami suatu pesan melalui pendengaran bernyanyi sebagian besar perkembangan
saja akan lebih mudah dilupakan. Bila bahasanya rata-rata 6,27 dan 6,00. Hal ini
mendengar cerita dengan bantuan alat dipengaruhi karena masih kurangnya
visual, akan membuat kita lebih pemberian stimulasi yang optimal. Sesuai
mengingatnya. Media boneka jari dapat teori yang ada, menurut Soetjiningsih (2012)
memberi kesan yang lebih mendalam pada stimulasi adalah perangsangan yang datang
daya ingat seseorang terutama anak-anak dari lingkungan luar anak. Stimulasi
(Anggraeni, 2016). Kelebihan bernyanyi merupakan hal yang sangat penting dalam
dengan media audio visual adalah media tumbuh kembang anak. Anak yang banyak
yang mempunyai unsur suara dan unsur mendapatkan stimulasi yang terarah akan
gambar. Jenis media ini mempunyai lebih cepat berkembang dari pada yang tidak
kemampuan yang lebih baik, karena mendapatkan stimulasi. Pemberian stimulasi
meliputi kedua jenis media yang pertama akan lebih efektif apabila memperhatikan
dan kedua (Djamarah, 2010). kebutuhan-kebutuhan anak sesuai dengan
tahap perkembangannya. Pada awal
Penggunaan teknik mendongeng dan perkembangan, anak berada pada tahap
bernyanyi yang baik dapat mempengaruhi sensorik dan motorik. Anak yang tidak
ketertarikan anak dalam mendengarkan mendapatkan stimulasi dari lingkungan
dongeng dan lagu yang dibacakan dan dapat maka tidak akan terjadi sambungan antar
mempengaruhi bahasa anak terkait dengan sinaps dan mengganggu dalam proses
lebih mudah mengingat dan menambah belajar serta perkembangan akan mengalami
perbendaharaan kosakata anak yang lebih keterlambatan. Stimulasi dongeng dan
cepat dipahami melalui penglihatan anak bernyanyi menjadi terlalu verbal, sehingga
dengan adanya gerakan tubuh atau mimik tatkala pemberi stimulasi berbicara ada kata-
yang sesuai dengan isi dongeng ataupun kata yang anak tidak mengerti sehingga
lagu serta pengunan media yang anak kurang paham bahkan dapat terjadi
mendukung. Mendongeng dan bernyanyi anak dapat mengerti kata-kata tetapi tidak
dapat menimbulkan rasa senang terhadap tahu bentuk bendanya, selain itu, karena
anak karena dongeng dan bernyanyi latar belakang yang dimiliki anak satu
merupakan bagian dunia anak usia dini dengan yang lainnya berbeda ada kalanya
yang dapat membuat anak merasa senang. anak merasa jenuh duduk berlama-lama
Dalam mendongeng akan memberikan rasa dengan memperhatikan 1 objek.
tahu kepada anak terhadap suatu peristiwa

10
PENUTUP seperti buku dongeng,alat peraga dongeng,
alat permainan edukatif audio visual ataupun
1. Kesimpulan media lainnya untuk dapat menunjang
a. Ada perbedaan kemampuan perkembangan bahasa anak.
perkembangan bahasa kelompok
perlakuan anak usia 3-5 tahun sebelum DAFTAR PUSTAKA
dan sesudah diberikan dongeng di TK Amin,Sabi’ati, Aning Pudjiastuti, Rina
Tunas Mekar, TK YKK 2 dan TK Roudhotull Jannah, dkk. 2009.
Safinda IV Kelurahan Mlajah Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta
Kabupaten Bangkalan Kelurahan :Ar-Ruzz Media.
Mlajah Kabupaten Bangkalan. Anggraeni, Ni Made, dkk. 2016.
b. Ada perbedaan kemampuan Implementasi Metode Bercerita
perkembangan bahasa kelompok Boneka Untuk Meningkatkan
kontrol anak usia 3-5 tahun sebelum Kemampuan Berbicara Kelompok B2
dan sesudah diberikan metode Di TK Negeri Bangli (Doctoral
bernyanyi di TK Tunas Mekar, TK dissertation, University of Pendidikan
YKK 2 dan TK Safinda IV Kelurahan Ganesha).
Mlajah Kabupaten Bangkalan Asfandiyar, Andi Yudha. 2009. Cara
Kelurahan Mlajah Kabupaten Pintar Mendongeng. Bandung : Dari
Bangkalan. Mizan.
c. Tidak ada perbedaan signifikan
perkembangan bahasa pada anak yang Azkiya, N. R. 2016. Pengaruh
diberikan dongeng dan yang diberikan Mendengarkan Dongeng Terhadap
metode bernyanyi terhadap Kemampuan Bahasa Pada Anak
peningkatan kemampuan Prasekolah (Doctoral dissertation,
perkembangan bahasa anak usia 3-5 University of Muhammadiyah
tahun di TK Tunas Mekar, TK YKK 2, Malang).
dan TK Safinda IV Kelurahan Mlajah
Kabupaten Bangkalan. Hamid, Achir Yani S, Kusman Ibrahim.
2. Saran 2017. Pakar Teori Keperawatan dan
Beberapa saran yang dapat peneliti Karya Mereka Edisi 8. Singapore :
sampaikan terhadap pihak yang terkait, Elsevier.
dalam hal ini adalah:
Djamarah, Syaiful Bahri. 2010. Strategi
a. Teoritis
Belajar Mengajar.Jakarta: Rineka
Diharapkan bagi peneliti selanjutnya
Cipta
melakukan penelitian menggunakan
kombinasi antara mendongeng dan metode Dwi Rohmawati, E., Sunaryo, I., & AUD, M. P.
benyanyi yang lebih menarik lagi untuk 2018. Upaya Meningkatkan
dapat mengetahui faktor-faktor lain yang Perkembangan Bahasa Melalui
dapat mempengaruhi perkembangan bahasa Bernyanyi Di Tk Aisyiyah Bulak
atau mengkombinasi dua metode tersebut Karanganyar (Doctoral dissertation,
manakah yang lebih efektif. Universitas Muhammadiyah Surakarta).
b. Praktis Fadlillah, Muhammad. 2014. Desain
Diharapkan bagi orang tua untuk pembelajaran PAUD. Jogjakarta: Ar-
memberikan dongeng dan metode bernyanyi Ruzz Media.
didampingi oleh media yang baik dan sesuai
oleh kebutuhan anak usia 3-5 tahun sehingga Hana, J. 2011. Terapi Kecerdasan Anak
dapat merangsang perkembangan bahasanya. Dengan Dongeng.Yogyakarta: Berlian
Dan diharapkan bagi sekolah TK agar dapat Media.
menyediakan berbagai macam alat stimulasi

11
Hartono. 2010. Psikologi Perkembangan Untuk Anak Usia Dini. Yogyakarta :
Anak dan Remaja.Jakarta : Gunung Tiara Wacana.
Mulia.
Hertanto,Gunawan, Ahmad Susanto Notoatmodjo. 2010. Metodologi penelitian
dkk.2009. Pengaruh Perkembangan kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Bahasa terhadap Perkembangan
Nursalam. 2011. Konsep dan Penerapan
Kognitif Anak Usia 1-3 Tahun.
Metodologi Penelitian Ilmu
Jakarta : Kencana Prenadamedia
Keperawatan. Edisi 2. Jakarta:
Group.
Salemba Medika.
Hidayat, Aziz Alimul. 2011. Konsep dan
Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu . 2014. Metodologi Penelitian
Keperawatan. Jakarta: Salemba Ilmu Keperawatan, Pendekatan
Medika. Praktis Ed 3. Jakarta : Salemba
Hurlock,E. 2010. Perkembangan anak edisi Medika.
ke enam jilid I. Jakarta : Erlangga.
IDAI. 2010. Tumbuh Kembang Anak dan Rusmiyati, A. (2014). Pengaruh Bercerita
Remaja Jilid II. Jakarta : Sagung Seto. Dengan Media Big Book Terhadap
Indriani, Etty. 2011. Kesulitan Berbahasa Kecerdasan Linguistik Anak TK A
dan Bicara pada Anak. Jakarta: PAUD Saymara Kartasura Tahun
Prenada Media Group. Ajaran 2013/2014 (Doctoral
Jannah, Alfiyaatul Lily. 2013. Kesalahan- Dissertation, Universitas
Kesalahan Guru PAUD Yang Sering Muhammadiyah Surakarta).
Dianggap Sepele. Jogjakarta: Diva Soetjiningsih. (2012). Tumbuh Kembang
Press. Anak Edisi 2. Jakarta : EGC.
Jariyah, A. (2017). Keterlambatan Bicara
Pada Anak Usia Dini (Doctoral Sugiyono.2010. Statistika Untuk Penelitian.
dissertation, UIN Sunan Ampel Bandung : Alfabeta.
Surabaya). .2012. Metode Penelitian
Komalasari, Septin. 2014. Pengaruh teknik Kuantitatif Kualitatif & RND. Bandung
bercerita terhadap perkembangan : Alfabeta.
bahasa pada anak usia 4-6 tahun.
Bangkalan : STIKes Ngudia Husada Sujarweni, V. Wiratna. 2014. Metodologi
Madura. Penelitian Keperawatan. Yogyakarta:
Kyle, Terri., & Carman, Susan. 2014. Buku Gava Medika.
Ajar Keperawatan Pediatri Edisi 2.
Jakarta : Buku Kedokteran EGC. Sulistyawati, A. 2014. Deteksi Tumbuh
Mangunatmadja, Idris. 2010. Strategi Kembang Anak. Jakarta : Salemba
Perkembangan Bahasa Pada Anak. Medika.
Jakarta : Kencana Prenadamedia
Suryaningsih, S. 2016. Pengaruh Metode
Group.
Bernyanyi Terhadap Perkembangan
Miranti, I. dkk. 2015. Penggunaan Media
Bahasa Anak Usia Dini Di Lembaga
Lagu Anak-anak dalam
PAUD Melati Ii Madiun Tahun Ajaran
Mengembangkan Kemampuan
2015/2016. Prosiding Ilmu
Kosakata Bahasa Inggis Siswa di
Pendidikan, 1(2).
PAUD. Faktor Jurnal Ilmiah
Pendidikan, 2(2). Muhammad, As’adi. Susanto, A. 2011. Perkembangan Anak Usia
2010. Panduan Praktis Stimulasi Otak Dini : Pengantar Dalam Berbagai
Anak. Yogyakarta : Diva Press. Aspeknya. Jakarta : Prenada Media
Musfiroh, Tadkiroatun. 2014. Memilih, Grup.
Menyusun, Dan Menyajikan Cerita

12
Wahyuningsih, Siti. 2009. Bidang-Bidang
Pengembangan Materi Guru
TK.Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru
Rayon 13 FKIP UNS.
Yuniarti, Sri.2012. Asuhan tumbuh kembang
neonatus, bayi-balita dan anak pra
sekolah. Bandung. PT.Refika Aditama.
Yusuf, Syamsu. 2011. Psikologi
Perkembangan Anak dan Remaja.
Jakarta : PT Indeks.
Zaman, Zaiful. 2009. 12 Permainan Untuk
meningakatkan Intelegensi Anak.
Jakarta : PT Indeks.

13