Sie sind auf Seite 1von 8

PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9

PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT


6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA

GEOMORPHOLOGY CHARACTERISTIC OF CIANGSANA AND SURROUNDING


AREAS, CIKEMBAR SUB-DISTRICT, SUKABUMI REGENCY, WEST JAVA

Hary Cahyadi1*
Iqbal Jabbari1
Edi Tri2
Ismawan2
1
Undergraduate Program, Faculty of Geological Engineering, Padjadjaran University, Sumedang, West Java
2
Postgraduate Program, Faculty of Geological Engineering, Padjadjaran University, Sumedang, West Java
*Email : harycahyadi04@gmail.com

SARI
Geomorphology as a branch of geology that has a very important role to give an overview and
information on the existing landscape in an area. One of the interesting areas for further investigation
geomorphology characteristics is Ciangsana. Ciangsana administratively included in Cikembar sub-
districts bordering Cibadak sub-district, Sukabumi Regency, West Java. The purpose of this paper is
to map the geomorphology characteristics of the research area that can provide information to the
communities living nearby in order to become the reference in infrastructure development activities
and disaster mitigation. The method used is the analysis of geomorphology that includes morphometry
(slope), morphograpy (absolute altitude), morphogenetic (genetic class) and river flow patterns.
Based on the analysis will be produced geomorphology unit. It can be concluded that the research
area can be divided into three geomorphological units, namely: steep volcanic hills, gentle volcanic
hills, and steep sedimentary hills.

Kata kunci : Ciangsana, Geomorphoology, Morphometry, Morphografy, Morphogenetic

I. PENDAHULUAN infrastruktur. Dengan membuat analisa


karakteristik geomorfologi pada daerah
Secara administratif daerah penelitian penelitian, maka akan diperoleh informasi
termasuk kedalam Kecamatan Cikembar dan mengenai karakteristik geomorfologi yang
Cibadak. Secara geografis daerah penelitian meliputi Satuan Geomorfologi, Penyebaran
terletak pada koordinat 106o 45’ 47.25” BT dan Ketinggian Daerah, Topografi, Unsur-
sampai 108o48’47.25” BT dan -6o 54’ Unsur Geomorfologi, dan Pola Pengaliran.
19.4868” LS sampai 6o 57’ 19.4868” LS
(Gambar 1). Analisis geomorfologi II. TINJAUAN PUSTAKA
dilakukan sebelum kelapangan guna
Thornbury (1954) menyatakan bahwa proses
memperoleh data awal yang menunjang.
geomorfik adalah seluruh perubahan, baik
Lokasi penelitian memiliki karakteristik
secara fisik maupun secara kimia, yang
geomorfologi dan bentang alam yang
mengakibatkan perubahan pada permukaan
beragam. Pada bagian barat penelitian terdiri
bumi. Proses-proses yang umum terjadi
dari perbukitan vulkanik curam, pada bagian
adalah proses erosional yang dipengaruhi
tengah terdiri dari perbukitan vulkanik
oleh permeabilitas, kelarutan, dan sifat-sifat
landai dan pada bagian timur merupakan
lainnya dari batuan. Bentuk-bentuk pada
perbukitan sedimen curam. Karakteristik
muka bumi umumnya melalui tahapan-
geomorfologi tersebut memberikan
tahapan mulai dari tahapan muda (youth),
keuntungan juga kerugian bagi masyarakat
dewasa (maturity), tahapan tua (old age).
yang tinggal di daerah tersebut, bentang
alam perbukitan memberikan tantangan Berdasarkan pembagian fisiografi van
tersendiri dalam proses pembanguan Bemmelen (1949) tersebut, maka daerah

34
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA
penelitian termasuk ke dalam Zona Bogor merupakan hasil proses geomorfologi pada
(Bogor Zone). Zona ini ditempati oleh permukaan bumi dengan struktur geologi
pegunungan dan perbukitan dengan lebar tertentu. Sistem pengaliran yang
kurang lebih 40 km, merupakan suatu berkembang pada permukaan bumi secara
antiklinorium yang terpatahkan kuat. regional dikontrol oleh kemiringan lereng,
Endapannya terdiri oleh akumulasi endapan jenis dan ketebalan lapisan batuan, struktur
Neogen yang tebal dengan dicirikan oleh geologi, jenis dan kerapatan vegetasi serta
endapan laut dalam, umumnya terdiri dari kondisi alam.
endapan batulempung, batu pasir, dan breksi
yang merupakan endapan turbidit disertai  Morfometri
beberapa intrusi hipabisal. Aspek kuantitatif terhadap bentuk lahan, dan
Menurut Baumann, dkk (1973) daerah Jawa sebagai aspek pendukung morfografi dan
Barat bagian selatan di bagi atas beberapa morfogenetik, sehingga klasifikasi semakin
satuan struktur yaitu tinggian dan rendahan. tegas dengan angka-angka yang jelas.
Daerah tinggian diantaranya adalah Honje, Pembagian kemiringan lereng dilakukan
Bayah, Sukabumi, Ciletuh, Jampang dan secara kuantitatif berdasarkan jumlah
Cimandiri.Sedangkan daerah rendahan persen dan besar sudut lereng (Tabel 2).
adalah Malimping dan Cibadak - Pelabuhan Rumus kemiringan lereng dari peta topografi
Ratu. dan foto udara:
Berdasarkan peta geologi lembar Bogor S = ( h / D ) X 100 %
( Effendi, A.C et al., 1998), Kecamatan
Cibadak didominasi oleh litologidari formasi  Morfogenetik
walat (TOW), anggota batugamping formasi Merupakan asal usul terbentuknya
Rajamandala (Toml), Formasi Rajamandala permukaan bumi, dimana kenampakan
(Tomr), batuan gunungapi tua (Qvb) dan bentuk lahan pada muka bumi disebabkan
batuan gunungapi gunung pangrango dua proses yakni endogenik yaitu
(Qvpo). Pada daerah penelitian juga merupakan proses yang dipengaruhi oleh
dipengaruhi oleh keberadaan srtuktur kekuatan dari dalam kerak bumi dan proses
geologi berupa sesar (Gambar 2). eksogenik yang merupakan proses yang
dipengaruhi dari luar seperti iklim, vegetasi,
III. METODE PENELITIAN dan erosi.
Analisis karakterisktik geomorfologi
didasarkan pada data sekunder, observasi IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
dan dengan bantuan software map info. Berdasarkan Citra Satelit (Gambar 3),
Tiga aspek utama geomorfologi untuk daerah penelitian memiliki ketianggiatan
pendekatan pemetaan geomorfologi yaitu: antara 326-613 meter di atas permukaan laut,
morfografi, morfogenetik, dan morfometri. sehingga berdasarkan ketinggian absolutnya
 Morfografi daerah penelitian terbagi menjadi 2 bentuk
perbukitan yaitu perbukitan tinggi dan
Merupakan aspek deskriptif area secara perbukitan. Bentuk perbukitan tinggi
kualitatif yang dilakukan dengan cara mencakup 60% daerah penelitian dengan
menganalisis kondisi topografi di lapangan ketinggian diatas 500 mdpl, sedangkan
berupa pengenalan bentuk lahan serta bentuk perbukitan mencakup 40% daerah
identifikasi pola yang tampak dari tampilan peelitian dengan ketinggian diantara 200-
kerapatan kontur pada peta sehingga dapat 500mdpl. Dari citra satelit ini juga dapat
menentukan bentuk perbukitan atau diketahu arah kelurusan punggungan dan
pedataran. lembahan serta dengan cara mendigit ulang
aliran sungai dapat diketahui pola aliran
Selain itu, analisa dari pola pengaliran
35
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA
yang ada diadaerah penelitian yaitu ` Berdasarkan hasil pembahasan diatas yang
subdendritik dan trellis. mencakup analisa morfografi, morfometri
dan morfogenetik, maka disusunlah peta
Bentuk lembah yang terdapat pada daerah
geomorfologi daerah penelitian (Gambar 6).
penelitian berdasar analisis topografi dan
Daerah penelitian dapat dibagai menjadi tiga
kenampakan di lapangan termasuk ke dalam
satuan geomorfologi yaitu: satuan
jenis lembah U dan V. Lembah V berada di
geomorfologi perbukitan vulkanik curam
sekitar puncak perbukitan yaitu di sungai Ci
yang mencakup 15% dari total luas dan
batugirang, Sungai Cireundeu, dan Sungai
terletak pada bagian bagian barat daerah
Ciangsana. Sedangkan lembah U terdapat
penelitian. Satuan geomorfologi perbukitan
pada sungai-sungai utama yang proses erosi
vulkanik landai yang mencakup 45% dari
didominasi dengan gaya horizontal yaitu
total luas dan terletak dibagian tengah dan
sungai Cicatih. Pola pengaliran yang
selatan daerah penelitian. Satuan
berkembang pada daerah penelitian adalah
geomorfologi perbukitan sedimen curam
subdendritik dan trellis.
mencakup 40% dari total luas dan terletak
Berdasarkan peta kemiringan lereng dibagian timur daerah penelitian (Tabel 3).
(Gambar 4), kemiringan lereng agak landai
dengan sudut kemiringan 2-40, meliputi V. KESIMPULAN
daerah sukamulya, ciangsana, tenjojaya dan Dari hasil pembahasan dihasilkan peta
kebonkalapa atau mencakup 40% dari geomorfologi dimana daerah penelitian
daerah penelitian. Kemiringan lereng landai dapat dibagi menjadi tiga satuan
dengan sudut kemiringan 4-80, meliputi geomorfologi yaitu: satuan perbukitan
daerah manggis, pangkalan dan babakan vulkanik curam yang mencakup 15%
sari. Kemiringan lereng agak curam dengan wilayah penelitian, satuan perbukitan
sudut kemiringan 8-160 meliputi daerah vulkanik landai mencakup 45% wilayah
Margasari, Panenjoan, Sukabakti dan penelitian, satuan perbukitan sedimen curam
Gunung Karang. mencakup 40 % wilayah penelitian. Dengan
dibuatnya analisa dan peta geomorfologi
Dari hasil observasi lapangan dapat
daerah ciangsana dan sekitarnya dapat
diketahui bahwa daerah penelitian bagian
digunakan sebagi acuan dalam proses
selatan didominasi oleh litologi batulanau
pembangunan infrastruktur dan mitigasi
tufan, dibagian utara didominasi oleh
bencan. Dengan demikian tujuan dari
batupasir kuarsa, selain itu terdapat
pembuatan paper ini tercapai.
batugamping yang berada disekitar Gunung
Karang, dan breksi yang mendominasi
disekitar aliran Sungai Cicatih (Gambar 5).

DAFTAR PUSTAKA
Bauman, P., Genevrraye, P., de, Samuel, L., Mudjito dan Sajekti, S., 1973, Contribution to the
Geological Knowledge of SouthWest Java, Proc.2nd Annual Convention Indonesian
Petroleum Assoc.
Effendi, A.C, Kusnama dan B. Hermanto. 1998. Geologic Map of The Bogor Quadrangle, Java.
Centre for Geological Research and Development, Bandung.
Thornbury, W.D., 1954, Principles of Geomorphology, Wiley Eastern Limited, New Delhi, India.
Van Bemmelen, R.W. 1949. The Geology Of Indonesia, Volume 1 A. The Hague Martinus Nijhoff,
Netherlands, 732 h.

36
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA
Van Zuidam, R. A. 1985. Aerial Photo – Interpretation in Terrain Analysis and Geomorphologic
Mapping. Smith Publisher, The Hague, ITC.

TABEL

Tabel 1. Hubungan Ketinggian Absolut dengan Morfografi (van Zuidam,1985)


Ketinggian Absolut (Meter) Unsur Morfografi
<50 Dataran rendah
50-100 Dataran rendah pedalaman
100-200 Perbukitan rendah
200-500 Perbukitan
500-1500 Perbukitan tinggi
1500-3000 Pegunungan
>3000 Pegunungan tinggi

Tabel 2. Pembagian Kemiringan Lereng (van Zuidam, 1985)

Kemiringan
Klasifikasi Persen (%) Derajat ( o) Beda Tinggi (m) Warna
Datar 0–2 0-2 <5m Hijau
Agak Landai 2–7 2–4 5 – 25 m Hijau muda
Landai 7 – 15 4–8 25 -75 m Kuning
Agak Curam 15 – 30 8 – 16 75 – 200 m Jingga
Curam 30 -70 16 – 35 200 – 500 m Merah muda
Terjal 70 -140 35 – 55 500 – 1000 m Merah
Sangat Terjal > 140 > 55 > 1000 m Ungu

37
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA
Tabel 3. Karakteristik Geomorfologi
Karakteristik Geomorfologi

W
Satuan a Morfografi Morfometri Morfogenetik Luas
Geomorfol r
Bentu Elev Proses %
ogi n Pola Kerapa
a Bentuk k asi Kemiringa
Pengalira tan Litologi Endog Eksog
Lahan Lemb (Md n%
n Kontur en en
ah pl)
Perbukitan
Perbukita Sub 325- Breksi, Tekto
Vulkanik V 7-30 Rapat Erosi 15
n dendritik 415 Batupasir nik
Curam
Perbukitan
Perbukita Sub 325- Rengga Tekto
Vulkanik U 2-15 Breksi Erosi 45
n dendritik 376 ng nik
Landai
Batupasir
Kuarsa,
Perbukitan Trellis,
Perbukita 347- Batulemp Tekto
Sedimen Subdend V 2-30 Rapat Erosi 40
n 613 ung, nik
Curam ritik
Batugamp
ing

GAMBAR

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian

38
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA

Gambar 2. Peta Geologi Daerah Penelitian

Gambar 3. Citra Satelit Daerah Penelitian

39
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA

Gambar 4. Peta Kemiringan Lereng

5a 5b

5c 5d

Gambar 5. 5a. Batulanau yang tersingkap di Sukabakti, 5b. Batugamping yang tersingkap di Gunung
Karang Batupasir Kuarsa yang tersingkap di Gunung Walat, 5d. Breksi yang tersingka;p
di Sungai Cicatih., 5c.

40
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA

Gambar 6. Peta Geomorfologi

41