Sie sind auf Seite 1von 17

Fenomena Akhir Zaman

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan tentang akhir


zaman dan apa yang terjadi di sana, amatlah penting bagi kita untuk
mengetahui kejadian-kejadian itu agar kita dapat menyelamatkan diri
dan segera menaiki perahu Nuh, karena seorang mukmin sangat
khawatir agamanya rusak, maka ia pun lari menyelamatkan agamanya,
walaupun ia harus tinggal di lembah-lembah yang jauh.

Lalu apakah kejadian yang telah dikabarkan oleh Rasulullah


shallallahu ‘alaihi wasallam agar kita mempelajarinya? Di antaranya
adalah:

1. Munculnya fitnah yang bergelombang.

Fitnah yang bergelombang bagaikan gelombang lautan, silih berganti


menerpa kehidupan manusia, fitnah ini telah dikabarkan oleh Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam, Hudzaifah radliyallahu ‘anhu bercerita,
‫ا ك دعلدنيعه دوُدسلندم دينذكككر انلعفدتدن دفدقاَّدل دقنوُمم دننحكن دسعمنعدناَّهك دفدقاَّدل‬ ‫صنلىَّ ن‬ ‫ا د‬ ‫ككنناَّ ععنندد كعدمدر دفدقاَّدل أدييككنم دسعمدع دركسوُدل ن ع‬
‫صججدددقكة‬ ‫صججدياَّكم دوُال ن‬ ‫صججدلةك دوُال ف‬ ‫ك كتدكففكردهججاَّ ال ن‬‫دلدعلنككنم دتنعكنوُدن عفنتدندة النركجعل عفيِ أدنهلععه دوُدجاَّعرعه دقاَّكلوُا أددجججنل دقججاَّدل عتنلجج د‬
‫ت‬ ‫ا ك دعلدنيعه دوُدسلندم دينذكككر انلعفدتدن النعتيِ دتكموُكج دمنوُدج انلدبنحججعر دقججاَّدل كحدذنيدفججكة دفأ دنسججدك د‬ ‫صنلىَّ ن‬ ‫دوُلدعكنن أدييككنم دسعمدع الننعبنيِ د‬
‫ض‬ ‫اج دعلدنيجعه دوُدسجلندم ديكقجوُكل كتنعجدر ك‬ ‫صنلىَّ ن ك‬ ‫ا د‬ ‫ت دركسوُدل ن ع‬ ‫ك دقاَّدل كحدذنيدفكة دسعمنع ك‬ ‫ل أدكبوُ د‬ ‫ت أددناَّ دقاَّدل أدنن د‬
‫ت عنع‬ ‫انلدقنوُكم دفقكنل ك‬
َّ‫ب أدنندكدردهججا‬ ْ‫ي دقنلجج ب‬ ‫ت عفيعه كننكدتمة دسججنوُدداكء دوُأد ي‬‫ب أ كنشعردبدهاَّ كنعك د‬ْ‫ي دقنل ب‬‫صيعر كعوُددا كعوُددا دفأ د ي‬ ‫ب دكاَّنلدح ع‬‫انلعفدتكن دعدلىَّ انلقككلوُ ع‬
‫ت‬ ‫ضججيرهك عفنتدنججمة دمججاَّ ددادمجج ن‬ ‫ض عمنثججعل ال ن‬
‫صججدفاَّ دفدل دت ك‬ ‫صيدر دعدلىَّ دقنلدبنيججعن دعدلججىَّ أدنبديجج د‬ ‫ضاَّكء دحنتىَّ دت ع‬‫ت عفيعه كننكدتمة دبني د‬ ‫كنعك د‬
َّ‫ف دمنعكروُدفاَّ دوُدل كيننعككر كمنندكججدرا إعنل دمججا‬ ‫ض دوُانلدخكر أدنسدوُكد كمنردباَّ ددا دكاَّنلككوُعز كمدجفخدياَّ دل دينععر ك‬ ‫ت دوُانلدنر ك‬ ‫النسدماَّدوُا ك‬
‫ب عمنن دهدوُاهك‬ ‫أ كنشعر د‬
“Kami berada di sisi Umar, lalu ia berkata: “Siapakah diantara kalian
yang mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan
fitnah ?” Mereka menjawab: “Kami mendengarnya”. Ia berkata:
“Mungkin yang kalian maksud adalah fitnah seseorang pada keluarga
dan tetangganya?” Mereka menjawab: “Ya”. Ia berkata: “Fitnah itu
dapat ditebus dengan shalat, puasa dan shadaqah. Akan tetapi siapa
diantara kamu yang mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
menyebutkan fitnah yang bergelombang seperti gelombang lautan ?”
Hudzaifah berkata: “Orang-orang diam, maka aku berkata: “Aku
mendengarnya”. Ia berkata: “Engkau, bagus sekali”. Hudzaifah berkata: ”
Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Fitnah akan ditampakkan kepada hati seperti tikar seutas demi seutas,
hati mana saja yang menerimanya akan diberikan titik hitam dan hati
mana saja mengingkarinya akan diberi titik putih, sehingga menjadi dua
hati: Hati yang putih bagaikan batu shofa, tidak terpengaruh oleh fitnah
selama langit dan bumi masih ada, dan hati yang hitam seperti cangkir
yang terbalik; tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang
mungkar kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya”. (HR Muslim).[1]

Al Hafidz ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan makna fitnah


yang bergelombang itu, katanya: “Adapun fitnah yang umum yaitu
fitnah yang bergelombang seperti gelombang lautan yang datang silih
berganti, fitnah yang pertama kali terjadi adalah terbunuhnya Utsman
bin Affan, kemudian munculnya perpecahan diantara kaum muslimin,
sebagian kelompok mengkafirkan kelompok lainnya dan menumpahkan
darah saudaranya…”.[2]

Subhanallah, fitnah ini amat dahsyat karena berasal dari syubhat


pemikiran yang merusak atau syahwat ketamakan terhadap kesenangan
dunia, sehingga diantara manusia ada yang beriman di pagi hari dan di
sore harinya menjadi kafir, ia beriman di sore hari dan di pagi harinya ia
menjadi kafir, sebagaimana dalam hadits:
‫دباَّعدكروُا عباَّنلدنعدماَّعل عفدتدنججاَّ دكعقدطججعع اللننيججعل انلكمنظلعججعم كي ن‬
َّ‫صججعبكح النركجججكل كمنؤعمدنججاَّ دوُكينمعسججيِ دكججاَّعفدرا أدنوُ كينمعسججيِ كمنؤعمدنججا‬
َّ‫ض عمنن اليدننديا‬ ْ‫صعبكح دكاَّعفدرا ديعبيكع عديدنكه عبدعدر ب‬ ‫دوُكي ن‬
“Bersegeralah beramal sebelum datangnya fitnah yang bagaikan malam
yang gelap gulita, seseorang beriman di waktu pagi dan menjadi kafir di
waktu sore, beriman di waktu sore dan menjadi kafir di waktu pagi, ia
menjual agamanya dengan kesenangan dunia”. (HR Muslim).[3]

Al Hasan Al Bashri berkata: “Beriman di waktu pagi” artinya di


waktu pagi ia masih mengharamkan darah, harta dan kehormatan
saudaranya, namun di waktu sore ia menganggapnya halal”.[4]

Ini adalah salah satu contoh yang diberikan oleh imam Al Hasan Al
bashri, beliau mengisyaratkan kepada syubhat pemikiran yang amat
kuat sehingga ia menganggap halal darah dan harta saudaranya yang
sebelumnya ia haramkan. Syahwat ketamakan menjadikan gelap mata
dan pikiran, maka ia tidak peduli dengan batasan-batasan Allah dan
berusaha menghalalkan apa yang Allah haramkan dengan berbagai
macam cara.

Seorang mukmin yang hatinya bercahaya dengan iman dan telah


merasakan manisnya iman, merasa khawatir agamanya menjadi rusak
oleh fitnah yang dahsyat ini, ia berkata: “Inilah yang akan
membinasakanku”. Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam:
‫دوُدتعجيِكء انلعفنتدنكة دفديكقوُكل انلكمنؤعمكن دهعذعه كمنهلعدكعتيِ كثنم دتنندكعش ك‬
‫ف دوُدتعجيِكء انلعفنتدنكة دفديكقوُكل انلكمنؤعمكن دهعذعه دهعذعه‬
“Datang fitnah, maka seorang mukmin berkata: “Ini yang akan
membinasakanku”. Kemudian fitnah itu pergi, lalu datang lagi fitnah
lain, maka seorang mukmin berkata: “Ini yang akan
membinasakanku…”. (HR Muslim).[5]

Maka selamatkanlah dirimu wahai hamba Allah ! larilah dengan


membawa agamamu ! walaupun engkau harus tinggal di puncak
gunung atau di lembah-lembah

‫ف انلعجدباَّعل دوُدمدوُاعقدع انلدقنطعر ديعفير عبعديعنعه عمنن انلعفدتعن‬


‫ك أدنن ديككوُدن دخنيدر دماَّعل النركجعل دغدنمم دينتدبكع عبدهاَّ دشدع د‬
‫كيوُعش د‬
“Hampir-hampir harta seseorang yang paling baik adalah kambing yang
ia pelihara di puncak gunung dan lembah, ia lari membawa agamanya
dari fitnah”. (HR Bukhari).[6]

Ibnu Rajab berkata: “Ia lari karena khawatir agamanya akan rusak
akibat masuk ke dalam fitnah, karena orang yang masuk dalam fitnah
dan ikut berperang merebut tahta tak akan selamat dari dosa, ia akan
membunuh orang yang haram darahnya atau mengambil harta dengan
tanpa hak atau setidaknya ia membantunya baik dengan perkataan dan
sebagainya…”.[7]

Sebab-sebab munculnya fitnah yang bergelombang

Yang harus kita ingat bahwa munculnya fitnah ini adalah


merupakan kehendak kauniyah dari Allah Rabbul ‘alamin, dan
dibaliknya ada hikmah-hikmah yang agung diantaranya adalah bahwa
Allah ingin menguji sebagian manusia dengan sebagian lainnya, agar
diketahui orang yang benar keimanannya dari orang yang binasa, Allah
berfirman:
‫س أدنجدمععيدن‬ ‫ت دكلعدمكة درفب د د د‬
‫ك لنملنن دجدهنندم عمدن انلعجننعة دوُالنناَّ ع‬ ‫ك دوُلعدذلع د‬
‫ك دخلددقكهنم دوُدتنم ن‬ ‫إعلندمن نرعحدم دريب د‬
“Kalaulah Rabbmu menghendaki, Ia akan menjadikan manusia satu
umat, namun mereka akan senantiasa berselisih. Kecuali orang yang
dirahmati oleh Rabbmu, untuk itulah Allah menciptakan mereka, dan
telah sempurna kalimat Rabbmu bahwa sesungguhnya Aku benar-benar
akan memenuhi Neraka Jahannam dengan Jin dan manusia semuanya”.
(Huud : 119).

Munculnya fitnah ini pasti karena adanya sebab-sebab yang telah


Allah kehendaki, diantara sebab itu adalah:

Pertama : Makar musuh islam terhadap kaum muslimin.

Semenjak munculnya islam yang menerangi pelosok-pelosok


negeri, musuh-musuh islam tak pernah diam melakukan makar dan tipu
daya terhadap kaum muslimin, makar yang pertama kali mereka
lakukan adalah pembunuhan Umar bin Khathab radliyallahu ‘anhu oleh
seorang Majusi yang bernama Abu Lulu’ah semoga Allah melaknatnya.
Dengan terbunuhnya Umar pecahlah pintu fitnah dan datanglah
gelombang fitnah yang tak pernah berhenti sampai hari ini.

Di zaman Utsman bin Affan, menyusup musuh islam yang


bernama Abdullah bin Saba orang Yahudi yang pura-pura masuk islam,
ia melancarkan tipu dayanya dengan cara memprovokasi dan memanas-
manasi hati kaum muslimin dengan seruannya yang menipu dibawah
kalimat “amar ma’ruf nahi mungkar” seraya berkoar: “Umat ini butuh
kepada ishlah, dan kebaikan negeri ini telah hilang dan rusak dan sebab
utamanya adalah khalifah Utsman bin Affan, dan tidak mungkin terjadi
ishlah kecuali dengan memulai dari kekhilafahan”.[8]

Maka berkumpullah orang-orang bodoh yang termakan oleh


provokasi dan makar busuk orang Yahudi itu di bawah bendera Abdullah
bin Saba, mereka mengepung Utsman bin Affan dan terjadilah peristiwa
yang memilukan dimana mereka membunuh Utsman dengan amat
bengis dan kejam. Dan Abdullah bin Saba terus beraksi dengan meniup
api permusuhan sehingga terjadilah perang saudara di antara kaum
muslimin, disamping itu ia menyebarkan pemikiran sesat yang
mengatakan bahwa Ali adalah orang yang berhak menjadi khalifah
setelah Rasulullah, bahkan menyatakan bahwa Ali adalah titisan Allah.

Perpecahan demi perpecahan terus muncul akibat pemikiran


yang menyesatkan, munculnya khawarij, syi’ah, murji’ah, qadariyah dan
firqah sesat lainnya semakin merobek dan mencabik-cabik kaum
muslimin, sebagian mereka mengkafirkan dan menumpahkan darah
sebagian yang lainnya.

Terlebih di zaman ini, musuh-musuh islam terus menerus


merusak negeri-negeri islam baik dengan kekuatan bersenjata atau
menguasai perekonomian dan media atau menebarkan pemikiran yang
menyesatkan, menuduh islam sebagai agama teroris bahkan
melecehkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kita memohon kepada Allah agar mengagalkan segala makar dan


tipu daya mereka, dan menjadikannya senjata makan tuan untuk
mereka, sesungguhnya Dia Maha kuat lagi Maha perkasa.

Kedua: Sikap remeh untuk ittiba’ kepada Al Qur’an dan sunnah


terutama dalam perselisihan.

Karena kunci kebinasaan adalah menyelisihi perintah Allah dan


Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

‫ب أدعليمم‬ ‫صيدبكهنم عفنتدنمة أدنوُ كي ع‬


‫صيدبكهنم دعدذا م‬ ‫دفنلدينحدذعر النعذيدن كيدخاَّلعكفوُدن دعنن أدنمعرعه دأن كت ع‬
“Hendaklah waspada orang-orang yang menyelisihi perintah-Nya untuk
ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih”. (An Nuur : 63).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Maksud ayat itu adalah


hendaklah orang yang menyelisihi syari’at Rasul waspada dan takut
(untuk ditimpa fitnah) di dalam hati mereka berupa kekafiran, atau
kemunafikan atau bid’ah, (atau ditimpa adzab yang pedih) di dunia
dengan dibunuh, atau ditegakkan had atau dipenjara dan sebagainya”.
[9]
Ayat ini amat dalam dan tajam, memberitakan kepada kita
penyakit yang menimpa umat ini dan sebab-sebabnya, yang terbesar
adalah menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ketika
umat ini menyelisihi Rasul datanglah bencana besar berupa fitnah yang
bergelombang, kaum muslimin pun terpecah belah karena lebih
berbangga kepada ra’yunya dan hawa nafsu kelompoknya, masing-
masing kelompok mempunyai tokoh dan fanatisan yang siap membela
kelompok atau pemimpinnya bila diusik atau dikeritik. Benar apa yang
disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
‫ك النعذيدن عمنن دقنبلعككنم دكنثدرةك دمدساَّعئلععهنم دوُانخعتدلفككهنم دعدلىَّ أدننعبدياَّعئعهنم‬
‫دفإعنندماَّ أدنهدل د‬
“Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kamu adalah
banyak bertanya dan menyelisihi Nabi mereka”. (HR Bukhari dan
Muslim).[10]

Ketiga: Munculnya maksiat dan ditinggalkannya amar ma’ruf dan nahi


munkar.

Tersebarnya kesyirikan, bid’ah, khurafat, dan maksiat adalah


musibah yang melanda kaum muslimin, sampai-sampai kesyirikan
dianggap tauhid dan tauhid dianggap syirik, sunnah dianggap bid’ah dan
yang ma’ruf dianggap sebagai kemungkaran, disamping itu kaum
muslimin disibukkan dengan urusan duniawi dan mengikuti hawa nafsu
dan syahwat. Cinta dunia membuat mereka mabuk dan tak perduli
dengan agama Allah sehingga mereka tak mau bahkan enggan untuk
membela agama-Nya, akhirnya kehinaanlah yang menguasai mereka.

‫ا ك دعلدنيككنم كذ دل دل ديننعزكعكه‬‫ضيكتنم عباَّلنزنرع دوُدتدرنككتنم انلعجدهاَّدد دسلندط ن‬


‫ع‬ ‫إعدذا دتدباَّدينعكتنم عباَّنلععيدنعة دوُأددخنذكتنم أدنذدناَّ د‬
‫ب انلدبدقعر دوُدر ع‬
‫دحنتىَّ دتنرعجكعوُا إعدلىَّ عديعنككنم‬
“Apabila kamu berjual beli dengan cara riba, mengambil ekor sapi, rela
dengan tanaman dan meninggalkan jihad (membela agama)[11], Allah
akan kuasakan kehinaan kepadamu dan Dia tidak akan mencabutnya
sampai kamu kembali kepada agamamu (yang benar)”. (HR Abu Dawud
dan lainnya).[12]

Di sisi lain, para pemuka agama banyak yang diam seribu bahasa,
bahkan menyembunyikan kebenaran karena mengharapkan suara dan
sedikit dari kesenangan dunia, sehingga gelombang fitnah semakin
dahsyat, dan bencana datang bertubi-tubi karena ulah perbuatan
manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
‫ك أدنن ديكعنمكهججنم ن‬
‫ا كجج‬ ‫صيِ كثنم دينقعدكروُدن دعدلىَّ أدنن كيدغفيكروُا كثنم دل كيدغفيكروُا إعنل كيوُعشجج ك‬
‫دماَّ عمنن دقنوُبْم كينعدمكل عفيعهنم عباَّنلدمدعاَّ ع‬
ْ‫عمننكه عبععدقاَّ ب‬
‫ب‬
“Tidaklah maksiat dilakukan pada suatu kaum, tetapi mereka tidak
mengingkarinya padahal mereka mampu merubahnya kecuali Allah
akan meratakan adzab kepada mereka”. (HR Abu Dawud dan lainnya).
[13]

Keadaan ini membuat panas hati orang-orang yang masih ada padanya
secercah cahaya iman, mereka pun bangkit dengan semangat yang
membara, namun sayang semangat yang tidak di dampingi oleh ilmu
dan ulama, yang ada hanya semangat membabi buta, hingga islam
semakin terkesan keras dan arogan. Kita hanya bisa mengerutkan dahi
dan berkata kepada mereka: “Terima kasih untuk kalian wahai pemuda
islam, semoga Allah memberikan pahala atas niatmu yang baik dan
kecemburuanmu terhadap islam, bekalilah dirimu dengan ilmu dan
cintailah para ulama, mintalah nasehat kepada mereka sebelum
melakukan aksi, agar perjuanganmu di berkahi oleh Allah dan tidak
menimbulkan mafsadah yang lebih besar…”.

Penulis: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.

Artikel www.cintasunnah.com

[1] Muslim 1/128 no 144.

[2] Ibnu Rajab, fathul bari 3/36 tahqiq Abu Mu’adz Thariq bin ‘Audlullah
bin Muhamad.

[3] Muslim 1/110 no 118.

[4] Al Baghawi, syarhussunnah 15/15 tahqiq Syu’aib Al Arnauth.

[5] Muslim 3/1472 no 1844.

[6] Bukhari no 19.

[7] Ibnu Rajab, Fathul bari 1/100.


[8] Muhamad Al ‘Aqil, Al Fitnah hal 47.

[9] Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al ‘Adziem 5/435 tahqiq Hani Al Haj.

[10] Bukhari no 7288 dan Muslim 2/975 no 1337.

[11] Artinya lebih mencintai dunia dan tidak mau membela agama
Allah.

[12] Abu Dawud no 3462 dari jalan Haywah bin Syuraih dari Ishaq Abu
Abdirrahman Al Khurrasani dari ‘Atha Al Khurrasani dari Nafi’ dari ibnu
Umar. Qultu: “Sanad hadits ini lemah karena Ishaq bin Asid Abu
Abdirrahman adalah perawi yang lemah demikian pula ‘Atha Al
Khurrasani. Namun imam Ahmad no 4593 meriwayatkan dari jalan Abu
Bakar bin ‘Ayyasy dari Al A’masy dari Atha’ bin Abi Rabah dari ibnu
Umar. Qultu: “Sanad ini shahih”. Dan hadits ini dishahihkan oleh syaikh
Al Bani dalam silsilah hadits shahih no 11.

[13] Abu Dawud no 4338 dari jalan Husyaim dari Isma’il bin Abi Khalid
dari Qais bin Abi Hazim dari Abu Bakar Ash Shiddiq. Qultu: “Sanad
hadits ini shahih”. Dan hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam
silsilah hadits shahih no 3353.

2. Tersebarnya kebodohan dalam agama.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


‫ض انلكعلددمججاَّعء دحنتججىَّ إعدذا دلججنم كينبججعق‬
‫ض انلععنلدم عبدقنب ع‬ ‫ض انلععنلدم اننعتدزادعاَّ دينندتعزكعكه عمنن انلععدباَّعد دوُلدعكنن دينقعب ك‬ ‫إعنن ن د‬
‫ا دل دينقعب ك‬
‫ضيلوُا دوُأد د‬
‫ضيلوُا‬ ‫س كركءوُدساَّ كجنهاَّدل دفكسعئكلوُا دفأ دنفدتنوُا عبدغنيعر ععنلبْم دف د‬ ‫دعاَّلعدماَّ انتدخدذ النناَّ ك‬
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba,
akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan diwafatkannya para ulama,
sehingga apabila ulama tidak tersisa lagi, orang-orang akan mengambil
pemimpin-pemimpin (agama) yang bodoh, mereka ditanyai lalu
berfatwa dengan tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan”. (HR
Bukhari dan Muslim).[1]

Hadits ini mengabarkan kepada kita bahwa ilmu akan dicabut


dengan diwafatkannya para ulama dan bila ilmu dicabut pastilah akan
tersebar kebodohan terhadap ilmu agama, dan kebodohan ini akan
terus berlanjut sampai tidak dikenal lagi apa itu shalat, zakat, puasa dan
haji.

‫صججدددقمة‬ ‫ك دوُدل د‬ ‫صججدلةم دوُدل كنكسجج م‬ ‫صججدياَّمم دوُدل د‬‫ب دحنتججىَّ دل كيججنددرىَ دمججاَّ ع‬ ‫س دوُنشكيِ النثنوُ ع‬ ‫س انلعنسدلكم دكدماَّ ديندكر ك‬ ‫ديندكر ك‬
‫س‬ ‫ف عمججنن الننججاَّ ع‬ ‫ض عمننكه آديمة دوُدتنبدقججىَّ دطدوُاعئجج ك‬‫ا دعنز دوُدجنل عفيِ دلنيدلبْة دفدل دينبدقىَّ عفيِ انلدنر ع‬ ‫ب نع‬ ‫دوُدلكينسدرىَ دعدلىَّ عكدتاَّ ع‬
‫النشنيكخ انلدكعبيكر دوُانلدعكجوُكز ديكقوُكلوُدن أدنددرنكدناَّ آدباَّدءدناَّ دعدلىَّ دهعذعه انلدكلعدمعة دل إعلدده إعنل ن‬
َّ‫ا ك دفدننحكن دنكقوُل كدها‬
‫صجدددقمة‬ ‫ك دوُدل د‬ ‫صجدياَّمم دوُدل كنكسج م‬‫صجدلةم دوُدل ع‬ ‫صدلكة دماَّ كتنغعنيِ دعننكهنم دل إعدلده إعنل ن‬
‫ا ك دوُكهنم دل ديندكروُدن دمجاَّ د‬ ‫دفدقاَّدل دلكه ع‬
َّ‫ض دعننكه كحدذنيدفكة كثنم أدنقدبدل دعلدنيعه عفيِ النثاَّلعدثعة دفدقاَّدل ديججا‬‫ك كينععر ك‬ ‫ض دعننكه كحدذنيدفكة كثنم درنددهاَّ دعلدنيعه دثدلدثاَّ ككنل دذلع د‬‫دفأ دنعدر د‬
َّ‫صدلكة كتننعجيعهنم عمنن النناَّعر دثدلدثا‬ ‫ع‬
“Islam akan punah sebagaimana hilangnya hiasan di baju hingga tidak
diketahui lagi apa itu puasa, shalat, haji tidak juga shadaqah, dan suatu
malam nanti Al Qur’an akan hilang sehingga tidak ada satupun ayat di
muka bumi ini. Dan akan tersisa beberapa orang yang telah tua renta
yang mengatakan: “Kami mendapati ayah-ayah kami di atas kalimat ini:
“Laa ilaaha illallah”. Dan kami pun mengucapkannya”.

Shilah berkata: “Laa ilaaha illallah tidak bermanfaat untuk


mereka karena mereka tidak tahu apa itu shalat, puasa, haji dan
shadaqah”. Hudzaifah berpaling darinya sementara shilah mengulang
perkataanya sampai tiga kali, di kali yang ketiga Hudzaifah berkata:
“Wahai shilah, kalimat itu menyelamatkan mereka dari api Neraka 3x”.
(HR Ibnu Majah).[2]

Dan itu adalah tanda-tanda dekatnya hari kiamat sebagaimana


yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

َّ‫ب انلدخنمكر دوُدينظدهدر الفزدنا‬ ‫عمنن أدنشدراعط النساَّدععة أدنن كينردفدع انلععنلكم دوُدينثكب د‬
‫ت انلدجنهكل دوُكينشدر د‬
“Diantara tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu, tersebarnya
kebodohan, arak diminum, dan zina menjadi tampak”. (HR Bukhari dan
Muslim).[3]

Cobalah survei, bila kita pergi ke pasar misalnya; berapa banyak


pedagang yang mengetahui fiqih jual beli, berapa banyak orang yang
mengetahui shalat dan wudlu yang sesuai dengan sunnah, berapa
banyak yang pakaiannya sesuai dengan syari’at… sungguh benar apa
yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
3. Banyak penceramah dan sedikit ulama.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

‫ُ انلدعدمكل عفنيعه دخنيمر عمدن‬،‫طوُكه‬ ‫ُ دكعثنيبْر كمنع ك‬،‫ُ دقلعنيبْل كسنؤالككه‬،‫ُ دقلعنيبْل كخدطدباَّكؤكه‬،‫صدبنحكتنم عفيِ دزدماَّبْن دكعثنيبْر فكدقدهاَّكؤكه‬‫إعننككنم أد ن‬
‫ُ دقلعنيججمل كمنع ك‬،‫ُ دكعثنيججمر كسججنؤالككه‬،‫ُ دكعثنيججمر كخدطدبججاَّكؤكه‬،‫ِ دوُدسديأنعتيِ دزدماَّمن دقلعنيمل فكدقدهاَّكؤكه‬.‫انلععنلم‬
‫ُانلععنلججكم عفنيججعه دخنيمرعمججدن‬،‫طججوُكه‬ ‫ع‬
‫انلدعدمعل‬.

“Sesungguhnya kalian hidup di zaman yang ulamanya banyak dan


penceramahnya sedikit, sedikit yang minta-minta dan banyak yang
memberi, beramal pada waktu itu lebih baik dari berilmu. Dan akan
datang suatu zaman yang ulamanya sedikit dan penceramahnya banyak,
peminta-minta banyak dan yang memberi sedikit, berilmu pada waktu
itu lebih baik dari beramal”. (HR Ath Thabrani dalam mu’jam kabirnya).
[4]

Fenomena ini telah kita lihat dengan mata kepala, banyak orang
berlomba-lomba terjun ke medan dakwah, berbicara masalah agama
dengan modal kepandaian bersilat lidah, majlis yang penuh gelak
ketawa menjadi trend yang dalam berdakwah, para artis dan bintang
film pun tak malu untuk memposisikan diri sebagai penceramah,
ajaibnya lagi anak kecil dilatih pandai berdakwah sebelum mereka
menuntut ilmu Allah.. Ya Rabbi..

4. Tahun-tahun yang menipu dan munculnya Ruwaibidlah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

‫صاَّعدكق دوُكينؤدتدمكن عفيدهججاَّ انلدخججاَّعئكن‬ ‫ب دوُكيدكنذ ك‬


‫صندكق عفيدهاَّ انلدكاَّعذ ك‬ ‫ن‬
‫ب عفيدهاَّ ال ن‬ ‫ت كي د‬ ‫ت دخندادعاَّ ك‬ ‫س دسدندوُا م‬‫دسديأعتيِ دعدلىَّ النناَّ ع‬
‫ضججكة دقججاَّدل النركجججكل النتججاَّعفكه ديدتدكلنججكم عفججيِ أدنمججعر‬
‫ضكة عقيدل دوُدماَّ اليردوُنيعب د‬ ‫دوُكيدخنوُكن عفيدهاَّ انلدعميكن دوُديننعطكق عفيدهاَّ اليردوُنيعب د‬
‫انلدعاَّنمعة‬
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang menipu, orang yang
dusta dianggap jujur, orang yang jujur dianggap dusta, orang yang suka
berkhianat diberikan amanah, dan orang yang amanah dianggap
pengkhianat, dan akan berbicara Ruwaibidlah”. Dikatakan: “Apa itu
Ruwaibidlah ?” Ia berkata: “Orang bodoh berbicara dalam perkara yang
berhubungan dengan keumuman manusia”. (HR Ibnu Majah dan
lainnya).[5]
Di zaman ini kita melihat apa yang dikabarkan oleh Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam telah terjadi, orang yang tidak amanah dan
korup mudah naik jabatan sementara orang yang jujur dan amanah
dimusuhi, diangkat seseorang untuk mengurus urusan besar padahal ia
tidak mampu dan tidak cakap dalam bidangnya, para ruwaibidlah
berbicara tentang urusan yang bukan bidangnya seperti masalah politik,
masalah negara, atau masalah agama yang berhubungan dengan
keumuman manusia, sehingga keadaan menjadi kacau balau. Andaikan
orang-orang bodoh itu diam dan tahu diri, tentu Allah akan
merahmatinya.

Penulis: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.

Artikel www.cintasunnah.com

[1] Bukhari no 100 dan Muslim 4/2058 no 2673.

[2] Ibnu Majah no 4049: Haddatsana Ali bin Muhammad haddatsana


Abu Mu’awiyah dari Abu Malik Al Asyja’iy dari Rib’iy bin Hirasy dari
Hudzaifah. Qultu: “Sanad ini hasan karena Ali bin Muhammad yaitu bin
Abil Khashib shaduq, namun ia dimutaba’ah oleh Abu Kuraib
Muhammad bin Al ‘Ala dikeluarkan oleh Al Bazzar dalam Al Bahruz
Zakhor no 2467 sehingga hadits ini menjadi shahih, dan dishahihkan
oleh syaikh Al Bani dalam silsilah shahihah no 87.

[3] Bukhari no 80 dan Muslim 4/2056 no 2671.

[4] No 3111, dan dishahihkan oleh syaikh Al Bani dalam silsilah shahihah
no 3189.

[5] Ibnu Majah no 4036 dan sanadnya lemah karena ada perawi yang
dla’if yang bernama Abdul Malik bin Qudamah Al Jumahi, namun imam
Ahmad no 8105 meriwayatkan dari jalan Fulaih dari Sa’id bin ‘Ubaid bin
As Sabbaq dari Abu Hurairah, dan fulaih bin Sulaiman bin Abul
Mughirah dikatakan oleh Al Hafidz: “Shaduq banyak salahnya”. Sehingga
sanad ini terangkat menjadi hasan. Dan hadits ini mempunyai syawahid
yang menguatkannya diantaranya hadits Anas bin Malik diriwayatkan
oleh Ahmad dan dalam sanadnya ada Muhamad bin Ishaq ia perawi
mudallis dan telah meriwayatkan dengan lafadz ‘an sehingga menjadi
lemah, namun ia mengangkat hadits di atas menjadi shahih, dan hadits
ini Dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam silsilah shahihah no 1887.

5. Orang shalih dihina dan orang jahat dimuliakan, ditutupnya pintu


amal, dan selain kitabullah dijadikan panduan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


‫ضدع الدنخدياَّكر دوُ كينفدتدح انلدقنوُكل دوُ كينخدزدن انلدعدمكل دوُ كينقدرأ ك عبججاَّنلدقنوُعم‬ ‫ب النساَّدععة أدنن كتنردفدع الدنشدراكر دوُ كتنوُ د‬ ‫عمنن انقعتدرا ع‬
‫ا دعنز دوُ دجنل‬ ‫ب ع‬ ‫ دماَّ انككتعتدب ن‬: ‫ دوُ دماَّ انلدمنثدناَّةك ؟ دقاَّدل‬: ‫س عفنيعهنم أددحمد كيننعككردهاَّ عقنيدل‬
‫ت عسدوُىَ عكدتاَّ ع‬ ‫انلدمنثدناَّةك دلني د‬
“Diantara (tanda) dekatnya hari kiamat adalah dimuliakannya orang-
orang yang buruk, dihinakannya orang-orang yang terpilih (shalih),
dibuka perkataan, dan di kunci amal, dan dibacakan Al Matsnah di suatu
kaum, tidak ada pada mereka yang berani mengingkari (kesalahannya)”.
Dikatakan: “Apakah Al Matsnah itu ? beliau menjawab: “Semua yang
dijadikan panduan selain kitabullah ‘Azza wa Jalla”. (HR Al Hakim).[1]

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan


tiga kejadian, yang pertama adalah dimuliakannya orang-orang yang
buruk yang suka bermaksiat sebagaimana yang kita saksikan kaum
muslimin terutama di negeri kita ini, para bintang film dan penyanyi
yang tak malu berbuat maksiat kepada Allah dijadikan sebagai idola dan
suri tauladan, sementara orang-orang shalih dipandang dengan mata
kebencian dan penghinaan, mata mereka telah ditutupi oleh kabut
gemerlapnya dunia.

Yang kedua adalah ditutupnya pintu amal akibat kerasnya hati dan
hilang kekhusyu’an, ilmu mantiq dipelajari untuk melihaikan lisan yang
dihiasi kata-kata yang mentereng, sebatas pandai bersilat lidah namun
tidak disertai dengan amal menyerupai kaum yang dimurkai oleh Allah
dalam firman-Nya:

“Amat besar kemurkaan Allah, engkau mengatakan sesuatu yang tidak


engkau perbuat”. (Ash Shaff : 3)

Yang ketiga adalah adanya buku-buku panduan selain kitabullah yang


dijadikan pedoman, bila dibacakan pada suatu kaum tidak ada yang
berani mengingkarinya, seperti yang terjadi pada fanatikus madzhab
dan golongan, mereka menjadikan kitab-kitab imamnya sebagai
pedoman yang tidak boleh disalahi.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al AlBani rahimahullah berkata:


“Tampaknya yang dimaksud dengan matsnah adalah kitab-kitab
madzhab yang diwajibkan untuk diikuti oleh para pengikutnya yang
memalingkan mereka dari kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wasallam sebagaimana yang kita saksikan pada zaman ini,
padahal banyak diantara mereka yang bergelar Doktor dan alumni
fakultas syari’at, akan tetapi mereka beragama dengan sebatas
madzhabnya saja bahkan mewajibkannya kepada manusia, sampai-
sampai diantara ulama mereka seperti Abul Hasan Al Karkhi berkata:
“Setiap ayat yang menyelesihi madzhab kami harus dita’wil atau
dianggap mansukh, demikian pula semua hadits yang bertentangan
dengan madzhab kami”.[2]

Dan ini tidak terbatas pada fanatik madzhab saja, karena hadits ini
umum mencakup setiap buku pedoman yang dijadikan panduan selain
kitabullah, masuk padanya kitab-kitab yang ditulis oleh pemimpin suatu
kelompok yang dijadikan sebagai aturan yang tidak boleh diselisihi atau
ditolak oleh pengikutnya walaupun tidak sesuai dengan Al Qur’an dan
sunnah.

6. Bagaikan bara api.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

‫ض دعدلىَّ انلدجنمعر‬
‫صاَّعبكر عفيعهنم دعدلىَّ عديعنعه دكاَّنلدقاَّعب ع‬ ‫ن‬
‫ديأعتيِ دعدلىَّ النناَّ ع‬
‫س دزدماَّمن ال ن‬
“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang bersabar di atas
agamanya seperti memegang bara api”. (HR At Tirmidzi).[3]

Dalam riwayat lain:

‫ف أ كنمعتنيِ دكاَّنلدقاَّعب ع‬
‫ض دعدلىَّ انلدجنمعر‬ ‫انلكمدتدمفس ك‬
‫ك عبكسننعتنيِ ععننعد انخعتلد ع‬
“Orang yang berpegang dengan sunnahku di waktu umatku berpecah
belah seperti orang yang memegang bara api”.[4]

Hal ini disebabkan oleh banyaknya kemungkaran dan tersamarnya


kebenaran, ditambah lagi sikap arogan dan anarkis sebagian pemegang
sunnah, sehingga orang orang yang berpegang kepada sunnah di
musuhi dan dicurigai, sebagian mereka diusir dari kampungnya dan
diasingkan oleh keluarganya, lebih-lebih ketika kaum muslimin berpecah
belah dari jalan kebenaran, terasa berat berpegang kepada sunnah dan
jalannya amat terjal namun alhamdulillah pahalanya pun amat besar,
sebagaimana dalam hadits :

‫ دياَّ دنعبنيِ ع‬: ‫ُ لعنلكمدتدمفسعك عفنيعهنن دينوُدمعئبْذ عبدماَّ أدننكتنم دعدلنيعه أدنجكر دخنمعسنيدن عمننككنم دقاَّل كنوُا‬، ‫صنبعر‬
‫ا‬ ‫إعنن عمنن دوُدراعئككنم أدنياَّدم ال ن‬
‫ دبنل عمننككنم‬: ‫ ” أدنوُ عمننكهنم ؟ دقاَّدل‬.

“Sesungguhnya di belakang kalian akan ada hari-hari kesabaran, orang


yang berpegang kepada apa yang kalian pegang pada hari itu
mendapatkan pahala lima puluh orang diantara kalian”. Mereka
berkata: “Atau lima puluh orang diantara mereka ?” Beliau menjawab:
“Tidak, tetapi diantara kalian”. (HR Ibnu Nashr).[5]

7. Keadaan yang berubah.

Berubahnya keadaan dimana orang-orang bodoh memangku jabatan


yang tak layak baginya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ditanya
oleh malaikat Jibril tentang tanda-tanda hari kiamat bersabda:
‫دوُأدنن دتدرىَ انلكحدفاَّدة انلكعدرادة انلدعاَّلددة عردعاَّدء النشاَّعء ديدتدطاَّدوُكلوُدن عفيِ انلكبنندياَّعن‬
“Dan engkau lihat orang yang telanjang kaki, telanjang badan dan
penggembala domba berlomba-lomba meninggikan bangunan”.
(Muslim).[6]

Al Hafidz ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Maksudnya adalah orang-


orang yang rendah menjadi pemimpin dan harta mereka melimpah
ruah sampai-sampai mereka meninggikan bangunan dan
mempercantiknya”.[7]

Beliau juga berkata: “Penyebutan tanda hari kiamat ini menunjukkan


bahwa urusan manusia diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya..
apabila orang yang tadinya telanjang kaki, telanjang badan dan
penggembala domba -maksudnya orang bodoh- menjadi pemimpin
manusia sehingga mereka pun berlomba-lomba meninggikan
bangunan, akan hancurlah aturan agama dan dunia”.[8]

Penafsiran ibnu Rajab ini sepadan dengan hadits :

‫دل دتكقوُكم النساَّدعكة دحنتىَّ ديككوُدن أدنسدعدد النناَّ ع‬


‫س عباَّليدنندياَّ ل كدككع نبكن ل كدكبْع‬
“Tidak akan tegak hari kiamat sampai orang yang paling bahagia di
dunia adalah orang bodoh”. (HR Ahmad).[9]

8. Bid’ah dianggap sunah, Ilmu dunia menjadi kebanggaan, dan mencari


dunia dengan amalan akhirat.

Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata:

‫ت اليسننكة‬‫ك عمنندهاَّ دشنيِمء عقيدل كتعردك ن‬ ‫صعغيكر إعدذا كتعر د‬ ‫ف أدننكتنم إعدذا لدعبدسنتككنم عفنتدنمة دينهدركم عفيدهاَّ انلدكعبيكر دوُدينركبوُ عفيدهاَّ ال ن‬
‫دكني د‬
‫ت‬‫ت فكدقدهججاَّكؤككنم دوُدككثججدر ن‬
‫ت قكنراكؤككنم دوُدقلن ن‬‫ت كجدهدلكؤككنم دوُدككثدر ن‬ ‫ت كعدلدماَّكؤككنم دوُدككثدر ن‬ ‫دقاَّكلوُا دوُدمدتىَّ دذا د‬
‫ك دقاَّدل إعدذا دذدهدب ن‬
‫ت اليدنندياَّ عبدعدمعل انلعخدرعة دوُكتفكفقده لعدغنيعر الفديعن‬ ‫ت أ كدمدناَّكؤككنم دوُانلكتعمدس ن‬
‫أ كدمدراكؤككنم دوُدقلن ن‬

“Bagaimana keadaan kamu apabila fitnah menerpamu, orang tua


menjadi renta di dalamnya dan anak kecil tumbuh dewasa di dalam
fitnah tersebut, apabila sebagian fitnah itu ditinggalkan, akan dikatakan:
“Telah ditinggalkan sunnah”.

Mereka berkata: “Kapan itu terjadi ?”.

Beliau menjawab: “Apabila ulama kalian telah pergi, orang-orang bodoh


menjadi banyak, qari-qari juga menjadi banyak, sedikit orang-orang
yang faqih, banyak pemimpin, sedikit yang amanah, dunia dicari
melalui amalan akhirat, dan belajar fiqih dari selain ilmu agama”. (HR Ad
Darimi dan lainnya).[10]

Subhanallah ! telah rusak dunia dan hancur agama, bila fitnah (bid’ah)
dianggap sunnah tentu akan dianggap sesat orang yang
meninggalkannya, akibatnya sunnahpun akan hilang dan kebenaranpun
akan pudar, namun akan senantiasa ada sekelompok umat islam yang
senantiasa tegak di atas kebenaran sampai hari kiamat.

9. Menjadi terasing.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
‫إعنن انلنسدلدم دبددأد دغريدباَّ دوُدسديكعوُكد دغريدباَّ دكدماَّ دبددأد دف ك‬
‫ دمججنن كهججنم ديججاَّ دركسججنوُدل ع‬: ‫طوُدبىَّ لعنلكغدردباَّعء عقنيدل‬
: ‫اجج ؟ دقججاَّدل‬ ‫ع‬ ‫ع‬ ‫ع‬
‫ن‬ ‫د‬
‫صلعكحنوُدن إعذا دفدسدد الناَّ ك‬
‫س‬ ‫ن‬
‫ ” العذنيدن كي ن‬.

“Sesungguhnya islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali


menjadi asing, maka pohon thuba (di surga) untuk orang yang terasing”.
Dikatakan: “Siapakah mereka wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab:
(Yaitu) orang-orang yang berbuat ishlah (kebaikan) ketika manusia telah
rusak”. (HR Abu Amru Ad Daani).[11]

Ia terasing dalam agamanya karena agama manusia telah rusak.


Ia terasing dalam berpegang kepada sunnah, karena mereka berpegang
kepada bid’ah.
Ia terasing dalam aqidahnya karena telah banyak penyimpangan dalam
aqidah manusia.
Ia terasing dalam shalatnya karena banyak manusia yang shalat tidak
sesuai dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ia terasing dalam pakaiannya karena ia berusaha memegang yang
sesuai dengan sunnah.
Ia pun terasing dalam pergaulannya, karena ia tidak mengikuti hawa
nafsu manusia.
Ia adalah orang yang berilmu di tengah manusia yang jahil,
Ia adalah pemegang sunnah di tengah manusia yang berbuat bid’ah,
Ia adalah penyeru kepada Allah dan Rasul-Nya di tengah para penyeru
kepada hawa nafsu dan syubhat.