Sie sind auf Seite 1von 24
XADER KESEHATAN / KADER POSYANDU Oleh : Paiman Soeparmanto 6i Sukanto Suernodineto Abstract Pos Pelayanan
XADER KESEHATAN / KADER POSYANDU
Oleh
:
Paiman Soeparmanto
6i Sukanto Suernodineto
Abstract
Pos Pelayanan Terpadu / Posyandu (Village
Integrated Health Past / VIHP) was introduced
in 1984. The purpose is ta establish community
based services which are relevant to child
survival, safe motherhood and family planning.
Services are provided by health cadres; cura-
tive services and immunizatian are provided by
health centre staffs.
The fact that Posyandu is located at
hamlet, Posyandu contribute to the reach of
target population, but Posyandu Cadre's per-
formance in health education is still minimal.
The objectives of this review are to
study what are the roles and tasks of Posyandu
cadres and what are the factors that are
associatedFwith their performance.
The fxndings of studies
showed
that
active cadre's conducted weighing and record-
ing the result in mother and children health 7
card (KMS), and assisting health centre team
in providing health care at Posyandu or mobile '
services.
As for health education activities of
Posyandu Cadre's studies found that socio-
economic status of Posyandu Cadek, skill
deficit in health education, and minimal
health knowledge are conditions that are
associated
wlth
minimal
activity of Posyandu
Cadres in health education.
With regard to performance of other
activities there were findings showing its association with provision of recognition, provision of personal things
activities there were findings showing its
association with provision of recognition,
provision of personal things that were related
in doing tasks.
It is recommended that trainninq of
Posyandu Cadres should also be aimed to obtain
communication skill, ability to conduct tech-
nique of health education which is specific to
charecteristics of audience. Health knowledge
of Posyandu Cadres' showed be added to give
them better capability to discuss health
matters with their clients. This could be done
through meeting in M+ - day.
To maintain active state of Posyandu
Cadres there policies that should be adopted
are: improving skill of Village PKK ~eam in
management of Posyandu and leadership, invol-
ment of private business company in production
and distribution health education tools for
Posyandu Cadres, provision of consequences.
y ;dith regard to becoming Posyandu Cadre should
e promoted, and supporting programmes aimed
to keep abreast Posyandu movement with other
movements such as: Gerakan KB (Family Planning
Movement), Gerakan Kembali ke Desa (Village
Orientation Movement), Klompencapir (Village
0 Institution of Radio Programme Audience).
In connection of health education materi-
als, it is secomended. that: new messages
should be developed to avoid boring situatkon
-Awexperienced
by
audience of health
education,
messages through mass media should have cam-
$7
paign and promotion elements, net just infor-
mation
(of products).
Key Word: Primary Health Care, Health Cadre,
Community Base Health Services.
Pada akhir dekade 3970-an, angka ke- matian bayi di Indonesia masih tinggi di- bandingkan dengan
Pada akhir dekade 3970-an, angka ke-
matian bayi di Indonesia masih tinggi di-
bandingkan dengan angka kematian bayi di
negara Asean yang lain (Soetopo, 1981:l)-
Untuk mempercepat menurunkan?angka
kernatian
hayi, se jak 1984 dibentak-'Pos Pelayanan
Terpadu
(Posyandu).
Posyandu dibentuk dengan tujuan agar
intervensi untuk menurunkan angka kematian
bayi meliputi 80 % dari sasaran. Intervensi
tersebut, terdiri dasi: imuhisasi bayi dan 3
anak balita, penyuluhan gizi ibu.',limah
bayi, balita, pencegaban Ulare dan penyu-
luhan
cara
penggunaan
'cairan rehidrasi
oral, pemeliharaanSkesekiatan ibu hamil,
pelayanhn KB dan pengbbatan. Pengobatan
terutarna ditujukan untuk menanggulangi
infeksi saluran napas pada bayi dan balita,
,. sedang pelayanan KB dilaksanakan secara
menyatu dengan perawatan antenatal ibu
liarnil agar wanita usia subur termotivasi
menjadi akseptor KB (Depkes RI, 1984:l).
Sisi lain yang penting dari pembentu-
kan Posyandu ialah sebagai bentuk partisi-
pasi masyarakat dalam KB dan kesehatan. Ini
mengingat kenyataan bahwa meski inisiatif
dilakukan oleh Puskesmas tetapi pengorgani-
sasian dan pelaksanaan pelayanan Posyandu
dilakukan oleh masyarakat. Kegiatan Posyan-
du dasi mulai sebelum hari buka ( R-), pada
waktu hari buka (H+), dan evaluasi (W+)
dilakukan oleh pengurus Posyandu dan kader
Posyandu mempersiapkan Posyandu. Petugas
kesehatan lebih berperan dalam bantuan
tehnis, besupa pelatihan, pembimbingan dan
menesirna
rujukan
kesehatan
sepesti pengo-
batan, pemasangan alat kontrasepsi dan pe-
cd.--y) i" nanggulangan penyulitnya, dan pemberian' I imunisasi. Kader Posyandu dipilih oleh masyara- /.
cd.--y)
i"
nanggulangan penyulitnya, dan pemberian'
I
imunisasi.
Kader Posyandu dipilih oleh masyara-
/.
kat, selanjutnya pelatihan diberikap oleh
petugas
kesehatan dan petuga-sintersbktoral
terkait. Apabila Posyandu telah terbentuk,
diharapkan Posyandu dibuka secasa teratur.
Tngas Kader Posyandu terutama dalam penyy-
1,uhan gizi, sanitasi lingkungpn, pencegahan
diare, KB, pembtivasian pem iksaan antena-
tal, imunisasi dan penimba3an bayi, kepada
ibu hamil dan pengunjuna Posyandu yang
memhutuhkan pelayanan KB, pengisian KMS.
Kenyataannya, Kader Posyandu ternyata
belum memiliki keberanian melaksanakan
penyuluhan (Nariyah et al, 1986:54). Pene-
litian lain rnenemukan bahwa Kader Posyandu
baru 10 % yang melaksanakan peranannya
dengan baik (Adi Susila et al, 1984~64).
Dari uraian di atas dapat dirumuskan
bahwa permasalahannya ialah mengapa Kader
Posyandu belum dapat melaksanakan peran-
perannya ? Apakah
faktor-faktor
yang
rnem-
pengaruhinya ? Pemahaman
kedua
hal
ini
tentu akan mernbantu cara-cara memperbaiki
peranan tugas-tugas Kader Posyandu secara
optimal.
C. Tujuan
Telaah ini dilakukan dengan tujuan :
1. Mempelajari peran-peran Kader Posyandu
dalam rangka penurunan tingkat kematian
bayi dan balita.
2. Mempelajari faktor-faktor yang mempenga-
ruhi pelaksanaan peran-peran dan kuali-
tasnya.
Untuk mencapai tujuan di atas dilaku- kan studi kepustakaan. Liputannya terdiri dari hasil-hasil penelitian kegiatan
Untuk mencapai tujuan di atas dilaku-
kan studi kepustakaan. Liputannya terdiri
dari hasil-hasil penelitian kegiatan Kader
Kesehatan Desa, Kader Posyandu.
Di samping itu juga dilakukan penelu-
suran kepustakaan teori-teori, tentang
peran dan perilaku untuk
rnengidentifisir
faktor yang terkait dengan struktur sosial
budaya, yang mendasari pelaksanaan suatu
peran.
Studi Kepustakaan dan temuannya
Seperti dikemukakan permasalahan yang
dihadapi kualitas pelaksanaan peran Kader
Posyandu. Untuk mendapatkan pemecahannya
perlu diketahui peran apa yang diharapkan
dan faktor yang mempengasuhinya.
Untuk mengidentifikasi faktor-faktor
pelaksanaan dari peran, dapat didekati dari
dua sisi:
Pertama makna peran dalam kehidupan berma-
syarakat dan kedua, pexan siil yang dibe-
bankan.
Yang
pertama
akan membantu mengi-
dentifikasi variabel pelaksanaan peran pada
umumnya, misalnya : faktor sosial dan bu-
daya. Yang kedua, tinjauan peran riil,
dapat mengidentifisir menghasilkan dua hal.
Jika peran riil bestentangan dengan peran
secara sosial-budaya, tentunya akan mempe-
ngaruhi pelaksanaan peran riil (tugas Kader
Posyandu); aspek kedua dari pentingnya
pesan riil ialah aspek operasional. Axti-
nya, peran riil dapat tak terlaksana, jika
ada hambatan seperti kemampuan, pengetahuan
dan kebutuhan-kebutuhan untclk melaksanakan
peran.
Atas dasar pernikiran tesebut di atas, maka tinjauan kepustakaan dipusatkan pada dua hal, yakni :
Atas
dasar pernikiran tesebut di atas,
maka tinjauan kepustakaan dipusatkan pada
dua hal, yakni : konsep peran secara teori-
tik dan peran-peran riil yang ditugaskan
kepada Kader Posyandu.
1. Tinjauan tearitik peran dan perilaku.
Menurut Suwarno (1984:174) peran
berkaitan dengan posisi, status, atau
kedudukan seorang. Dengan adanya suatu
kedudukan, maka suatu rangkaian peran
akan ditetapkan. Pandangan ini berkaitan
dengan pendapat Parson, sebagaimana
dikemukakan Poloma (1984:278) dirnana,
kedudukan seseorang menunjukkan posisi-
nya dalam suatu sistem sosial; dengan
kedudukan
ini maka ada sejurnlah peran
yang perlu di manifestasikan.
Luthans (1977:25) menyatakan bahwa
pexklaku adalah apa-apa yang dilakukan
oleh seorang. Artinya suatu perilaku
dapat terukur . Bagairnana sarnpai terj a-
dinya perilaku, pandangan sistem budaya
menyatakan bahwa perilaku bersumber
kepada sistem nilai (ide). Sedang dari
sudut pandang psikososial perilaku
terjadi karena motivasi. Rarena motivasi
terkait dengan tujuan-tujuan yang sebe-
narnya diturunkan dari nilai-nilai maka
jelas, meski sulit dilihat hubungannya
secara konkrit antara sistem nilai dan
perilaku terdapat hubungan.
Peran, sebenarnya mexupakan bagian
dari sistem nilai/ide, mengingat peran
besupa
harapan
terkait
dengan kedudukan
seorang. Dengan demikian bila aspek ide
adalah peran maka untuk mengetahui perne-
ranan dari peran-peran adalah adanya
perilaku. Dalam hal Kader Posyandu ialah
pelaksanaan tugas-tugasnya sebagai Kader posyandu. Kurt Lewin sebagaimana dikutip oleh Shortell (1987:lQl) menyatakan
pelaksanaan tugas-tugasnya sebagai Kader
posyandu.
Kurt Lewin sebagaimana dikutip oleh
Shortell (1987:lQl) menyatakan bahwa
perilaku adalah fungsi dari karekteris-
tik seorang dan lingkungannya. Selanjut-
nya Notoatmojo (1981:6J:rnenguraikan bah-
wa faktor diri terdiri dari : pengalaman
dan keyakinan. Sarana phisik dan sosial-
budaya masyarakat mexupakan faktor
lingkungan. Pendapat yang sama tentang
faktor diri juga dikemukakan oleh kelom-
pok Studi WHO, dimana-perilaku (pelaksa-
naan tugas-tugas) dipengaruhi oLeb
pengetahuan, kepercayaan, sikap dan
nilai-nilai (Flajalah: Kes. Masy. Indone-
sia XVI
(2)
:
75-76,
Nov.1985).
Dari tinjauan beberapa literatur di
atas dapat disimpul kan, bahwa makna
suatu peran dalam masyarakat , pengeta-
huan, pengalaman, keyakinan, nilai dan
". sikap dan lingkunan phisik akan berpe-
n$iruh kepada pelaksanaan peran (tugas-
'tugas) Kader Posyandu.
2. Peran Kader Kesehatan.
Jauh sebelurn dibentuknya Kader
Posyandu, upaya rnelibatkan masyarakat
dalm kesehatan pada tingkat desa sudah
dimulai. Ini tesjadi dalam berbagai ha1
rnisalnya pengembangan dana sehat di
Kabupaten Karanganyar, perluasan jang-
kauan pelayanan kesehatan (Sukanto dan
Soeparmanto et al. 1983:30) di Kabupaten
Kudus, pembentukan Petugas Keluarga
Berencana Desa (PPKBD), dan kader gizi.
Penelitian peran-peran Kader Kese-
hatan seperti yang dilaporkan dari
penelitian dana sehat di Cangkringan,
Sleman, DIY, di temukan bahwa Kader Kesehatan desa tugas-tugasnya sebagai berikut: a, Tugas di bidang
Sleman, DIY, di temukan bahwa Kader
Kesehatan desa tugas-tugasnya sebagai
berikut:
a, Tugas di bidang kesehatan meliputi:
pengobatan sederhana, pendistribusian
air, mengorganisir olahraga.
b. Di bidang lingkungan : rnengorganisir
perbaikan j alan desa, mengorganisir
penyarnbungan
pi pa
dan
pesagaan
rumah
sehat .
c. Di bidang agama : mengajak rajin ber-
ibadah dan rnengajak menghilangkan
kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik.
d. Di hidang keamanan : mengorganis~r
pelaksanaan penjagaan keamanan desa
(Soeherman,
1978;35).
Kegiatan yang relatif luas dilaku-
kan juga oleh Promotor Kesehatan Desa
(Prokesa). Dari penelitian kader kese-
hatan desa/promotor kesehatan desa di
Sumatera Barat, Yogyakarta, Jawa Barat
dan Jawa Tengah, Soemantri et al.
(1983:15) melaparkan bahwa tugas-tugas
kader kesehatan desa ialah perbaikan
sanitasi lingkungan, kunjungan rumah,
rnengadakan pertemuan kelompok, pengobat-
an sederhana, dalam rangka pendidikan
kesehatan.
Peran Kader
Pesyandu
Posyandu tidak hanya dibentuk di
desa-desa, tetapi juga dilaksanakan di
kota. Dari hasil penelitian yang dilak-
sanakan di Kecamatan Setio Budi Jakarta,
"bahwa:tugas-tugas Kader Posyandu adalah
meliputi:
rnelakukan
penimbangan
anak
di
Posyandu, rneniotivasi peserta KB, memuat
pencatatan hasil penimbangan dalam Kartu
Menuju Sehat (KMS), ikut kerja bakti di
RT/RW, ikut memungut jimpitan beras untuk orang miskin dan memetivasi ibu- ibu anggota PRK ikut
RT/RW, ikut memungut jimpitan beras
untuk orang miskin dan memetivasi ibu-
ibu anggota PRK ikut arisan" (Departemen
Kesehatan RI, 1978:5).
Sedangkan Kader Posyandu
di Kotama-
dya Surabaya tugasnya antara lain :
kunjungan rumah melakukan penyuluhan
sanitasi lingkungan, penyuluhan pada
kelompok-kelompok PKK tentang pemakaian
obat-obatan dart membuat catatan kegiatan
dan memberikan laporan pada Puskesmas/
Sub Puskesmas
{Suparto et al.,
1985:45)
Dari gambaran pala kerja kader men-
jalankan perannya pada masa lampau,
menyesuaikan pada kebutuhan daerah kerja
kader .
Sedangkan dalam Posyandu peran
kader relatif, sudah dirinci dengan
membagi dalam lima meja pelayanan.
Gambaran peran kader dalam melayani
di
Posyandu,
dari
hasil
pengarnatan
di
baberapa Posyandu di Kotamadya Mojoker-
to dan Kabupaten Tuban sebagai berikut :
'la. Pelayanan Administrasi : mencatat
semua pengunjung yang datang di
Posyandu dan memberikan penyuluhan
kesehatan sepeslunya menurut ,perma-
salahan yang dihadapi pengunjung.
b. Pelayanan makanan tambahan
(PMT)
pada anak-anak balita, penyuluhan
manfaat makanan dan penyuluhan gizi
anak.
c. Melakukan penimbangan dan pencatatan
dari hasil penimbangan. Sambil men-
catat hasil
penimbangan
dapat
dike-
tahui naik/turunnya berat badan
balita. Kader melakukan penyuluhan
sepeslunya, bilamana berat anak
badan turun.
d . Kegiatan penyuluhan kader. Kegiatan penyuluhan ini dilakukan oleh kader terhadap kasus-kasus yang ditemui,
d . Kegiatan penyuluhan kader. Kegiatan
penyuluhan ini dilakukan oleh kader
terhadap kasus-kasus yang ditemui,
pada waktu rnelakukan pelayanan di
Posyandu, tetapi juga melakukan
penyuluhan di luar Posyandu yaitu
pada kelompok PKK dan pada pertemuan
arisan, pengajian kampung RT/RW.
Penyuluhan kader dilaksanaan bersa-
maan dengan adanya perternvan khusus
ibu-ibu pada sebulan sekali : ibu
anak balita dan ibu hamil.
e. Pelayanan KIA, Keluarga Berencana
dan pengobatan. Selain kegiatan
dalam pelayanan kesehatan, kader
memberikan pelayanan KB yakni me-
nyampaikan pi 1 kontrasepsi dan mem-
berikan
penjelasan
cara
rninumnya
''
(Soeparmanta, et al., 1991:25).
4. Faktor-faktor rnempengaruhi pelaksanaan
tugas Kader Kesehatan dan Kader Posyandu
Berdasarkan pada qambaran hasil-
hasil penelitian di atas dapat disimpul-
kan bahwa kader-kader di desa telah mau
dan mampu melaksanakan tugas-tugas pem-
bangunan di bidang kesehatan atas him-
bingan dan kerjasama dengan berbagai
sektor di tingkat
kecarnatan.
Di samping hal-ha1 yang relatif
pesitif, dari hasil-hasil penelitian
yang dilakukan di beberapa daerah, masa-
lah yang dihadapi adalah kelangsungan
keberadaan kader-kader pelaksana. Dika-
takan
bahwa
angka
putus
kerja
cukup
tinggi .
Hal ini diungkapkan dari hasil-
hasil penelitian yang dilakukan relatif
mendalam, diperoleh kesimpulan bahwa
banyak faktor yang mempengaruhi kelang- sungan kader-kader kesehatan antara lain: kader jarang mendapatkan bimbingan
banyak faktor yang mempengaruhi kelang-
sungan kader-kader kesehatan antara
lain: kader jarang mendapatkan bimbingan
karena letak desa di pelosok dan sukar
transportasi (Soemanto et al, 1978:66),
tugas kader terlalu banyak, k,urang
mantapnya kedudukan kader dalam infra-
struktur di desa, kader sukarelawan
tidak mendapat imbalan dan kurang menda-
pat bimbingan dari atasan {Soeherrnan,
1978327).
Hal ini juga ditemukan penelitian
di Yogyakarta dan ~asanganyar.Hambatan
tugas Promotor Kesekatan Desa dalarn
melaksanakan tugasn'ya, '.ialah luasnya
tugas (kesehatan: dan 'hon
kesehatan).
Sementara itu "pembinaan oleh sektor
terkait dengan kader kurang sekali"
(Soemartono et al., 1989:180 ).
Selanjutnya Eaktor-faktor yang mem-
pengaruhi keberadaan kelangsungan kader
di kota antara lain bahwa kurang pembi-
naan, kurang adanya komunikasi antara
kader dan pengurus-pengurus RT/RW,
kurang sarana dan prasarana (Suparto,
1985:50).
Faktor lain yang rnempengaruhi ber-
hubungan dengan sangat minimalnya waktu
dan materi
kursus,
sehingga
kader-kader
itu belum merasa mampu sebagai penyuluh
(Nariyah et al, 1986:54).
Faktor-faktor di atas merupakan
faktor
yang .lebih banyak
menghambat
kelangsungan kader yang ada di desa atau
pun di kota, tetapi dari hasil peneli-
tian diperoleh gambaran
adanya
faktor
yang mempengaruhi positif tugas kader,
antara lain : tingkat pendidikan yang
relatif tinggi, pemberian kursus yang
cukup memadai dan seleksi kader sebelum menjalankan tugasnya [Soernantri, et al, 1983 : 30 1.
cukup memadai dan seleksi kader sebelum
menjalankan tugasnya [Soernantri, et al,
1983 : 30 1.
Di samping itu faktor lain yang
mempengaruhi tugas kader adalah pemberi-
an hadiah yang diterima oleh kader.
Pemberian penghargaan yang diberikan
pada Kader Posyandu/Kader Kesehatan ber-
macam-macam. Di Gunung Kidul Kader Kese-
hatan
yang
terkenal
dengan
sebutan
Promotor Kesehatan Desa diberi hadiah,
dalam pelayanan pengobatan di Puskesrnas.
Kader beserta anggota keluasganya bila-
mana berobat di Puskesmas tidak dikena-
kan biaya pengobatan.
Dari hasil penelitian eksperimen
dengan sistem penghargaan kader dapat
'"emberi pengaruh cakupan Posyandu 2,5
kali lebih tinggi dari cakupan di daerah
kontrol . Penghargaan bagi kades berupa:
pemberian pakaian seragarn dan tanda
pengenal kader, pembesian pelayanan
kesehatan gratis bagi keluarga kader,
karyawisata bagi kader, dan pemberian
status sosial kader. Penemuan penelitian
M.Syarief di Sandung, Jawa<Barat bahwa
cara pemilihan dan pembinaan kader
mempengaruhi penampilan kader. Kader
hasil pemilihan masyarakat mempunyai
penampilan
lebih
baik
dalam
kemampuan
dan keaj egan kegiatannya. Faktor lain
yang ditemukan dari penelitian Y.Warella
bahwa "sistim pelati.han kader masih
memegang peran yang sangat menentukan
dalam upaya rnempesoleh kader yang ber-
prestasi.
Kemampuan
kader
ada hubung-
annya dengan sistim pelatihan" (Warta
Posyandu, Maret, 1990:Z-3).
C. Pembahasan Kader Posyandu dipilih oleh rnasyara- kat, dibina secara teknis tentang pelayanan kesehatan sederhana
C. Pembahasan
Kader Posyandu dipilih oleh rnasyara-
kat, dibina secara teknis tentang pelayanan
kesehatan sederhana oleh tenaga Puskesmas.
Dalam menjalankan tugasnya.sehari-hari, di-
organisir oleh Kelompok Kerja PKK Pokja IV,
di bawah kkeodinasi Lembagd.Ketahanan Ma-
syarakat Desa (LKMD). -.
Kegiatan Kader ~esekr$tan sebelum di-
bentuk Posyandu sangat luas. Malahan Kader
Kesehatan ikut dalam kegiatan
LKMD,
sehing-
ga mendapat tugas di luar kesehatan seper-
ti: penyuluhan agama, keamanan desa dan
perbaikan prasarana dan sarana desa.
Kader Posyandu melaksafiakan kegiatan
secara sukarela, tidak mendapatkan imbalan
dari desa atau puskegmas secara tetap.
Untuk meadoxong kader menjalankan kegiatan
seperti yang diharapkan oleh masyarakat,
-
kader di beberapa desa rnendapat imbalan,
, ;, misalnya; kader dan anggota keluarganya
b.ila
sakit
rnendapat
pelayanan
kesehatan
Pkke-smas tanpa biaya, pemberian pakaian
seragam. Dengan imbalan ini diharapkan
kader melaksanakan peran-peran mereka.
Dari penelitian di Pxrobolinggo, ter-
nyata bahwa pemberian imbalan pada kader
mampu meningkatkan kegiatan kader secara
bermakna (Marta Pos-yandu, 1991:2). Tetapi
terdapat
kendala yakni
kernampuan
memberi
imbalan oleh desa. Serain terbatas, tidak
kontinyu, juga tidak terj adi pada kebanya-
kan desa karena amat terbatasnya sumber
dana di desa.
Salah satu tujuan lain pernbentukan
Kader Kesehatan Desa/Kader Posyandu ialah
meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan,
biasanya dilaksanakan para Kader. Ini
ditunjukkan oleh baatuan mereka dalam
kegiatan Puskesmas Keliling. Dalarn pelayanan kesehatan di Posyandu Kader Posyandu, selain melaksanakan tugas di
kegiatan Puskesmas Keliling.
Dalarn pelayanan kesehatan di Posyandu
Kader Posyandu, selain melaksanakan tugas
di Posyandu, kader juga melaksanakan kun-
jungan-kunjungan ke rumah-rumah agar ibu,
bayi dan balita menghadiri Posyandu pada
waktu Posyandu dibuka.
Peran Kader Posyandu sebenarnya dapat
dibagi dua: melaksanakan kegiatan pelayanan
termasuk membantu pelaksanaan Puskesmas
Keliling dan memberikan penyuluhan. Dari
kader-kader
yang aktif, mereka selalu
rnelaksanakan kegiatan pelayanan di meja
kesatu sampai dengan keempa. Tetapi praktis
Kader Posyandu belum melaksanakan penyuluh-
an seperti diharapkan.
Nariyah et al. (1985) menyimpulkan ada
yang mempengaruhi kurangnya pelaksanaan
penyuluhan kesehatan : kernampuan berkomuni-
kasi dan keberanian. Kader Posyandu kurang
berani menghadapi kliennya karena mereka
biasanya besstatus sosial ekonami lebih
rendah dari pengunjung Posyandu.
Tentang status sosial ekonomi Kader
Posyandu, Nariyah menjelaskan bahwa hal ini
berkaitan dengan sifat sukarela. Penduduk
yang berstatus ekonomi baik, karena kesibu-
kan pekerjaannya biasanya tidak memiliki
waktu untuk menjadi Kader Posyandu.
Tentang kernampuan penyuluhan kader se-
cara eksplisit Nariyah tidak merincinya.
Pada pelatihan Kader Posyandu tentang
penyuluhan kader diberi pelajaran cara
menggunakan Xembar balik, dengan judul
misalnya gizi ibu hamil (anemia), bayi
dengan diare.
Dengan proses pelatihan penyuluhan
dernikian ada beberapa permasalahan, yang
akhirnya menyebabkan Kader
Posyandu
tidak
mampu menyuluh. Pertama, pada meja 4 dimana kader melakukan penyuluhan sebenarnya kader memerlukan metoda dan
mampu menyuluh. Pertama, pada meja 4 dimana
kader melakukan penyuluhan sebenarnya kader
memerlukan metoda dan teknik untuk penyulu-
han kepada individu, sedangkan yang di-
latih adalah metoda dan teknik penyuluhan
kelompok. Kedua, dalam kenyataanya buku
pegangan kader umumya tidak , didapatkan di
Pesyandu, demikian pula 'lembar-lembar ba-
liknya, sehingga para kadcr tidak memiliki
alat peraga. Ketiga, pengetahuan kesehatan
yang
amat sedikit yang dimi 1iki kader yang
berkaitan dengan pesan-pesan yang perlu
disampaikan sehingga ~ader.Pasyandu sulit
berimprovisasi, biLa menghadapi pestanyaan
dari ibu yang lebih speskfik. Pada posisi
ini maka para kader ' t-erjkbak dalam kebi-
ngungan, sehingga akhirnya cenderung tidak
melakukan penyuluhan. Ini dipesburuk bila
pengunjung pendidikannya lebih baik dari
kader. Keempat, dari metode pelatihan
, penyuluhan kesehatan dan waktu yang terse-
dl,.&, belum memungkinkan bagi kader memiliki
ketrgmilan berkomunikasi, baik dalam rang-
ka penyuluhan kelompok maupun penyuluhan
individu (konseling). Kader juga tidak
dilatih cara rnembuat alat peraga sendiri.
Mengingat status sosial-ekonorni kader
sebagai akibat prinsip sukarela, kader Pos-
yandu biasanya berpendidikan rendah, masih
rnuda usianya karena yang berusia lebih dari
25 tahun biasanya sudah memiliki pekerjaan
tetap. Prinsip sukarela ternyata cenderung
menghasilkan pilihan kader pada rnereka yang
berpenghasilan kurang. Dasi kenyataan-
kenyataan ini maka selain mereka perlu
mendapat imbalan untuk kehilangan kesempae-
an mencari nafkah, juga berakibat pada
kurang kepercayaan pengunjung kepada penyu-
luhan yang dilakukan Kader Posyandu. lien
kader karena tingkat sosial ekonomi-nya baik, biasanya mereka sudah lebih tahu dibandingkan penyuluhnya. Masalah
kader karena tingkat sosial ekonomi-nya
baik, biasanya mereka sudah lebih tahu
dibandingkan penyuluhnya.
Masalah imbalan memang sering diper-
tentangkan karena dianggap kurang layak
untuk diajukan mengingat kader adalah
peker jaan sukarela. Pandangan ini perlu
dirubah karena persoalannya bukan insentif.
Imbalan harus dilihat sebagai cara penghin-
daran dari konsekuensi negatif suatu peri-
laku. Ini berarti bila kita menginginkan
tugas-tugas dilaksanakan maka mengingat
kondisi sosial ekonomi para kader, 'imba-
lanQpelu ddiberikan bukan sebagai insentiv
tetapi untuk menanggulangi konsekuensi dari
melaksanakan tugas-tugas sebagai kader.
Persoalan ini perlu diberi perhatian lebih
real isti k mengingat tugas kader posyandu
bukan hanya di hari H, tetapi
juga
pada
hazi H-, hari H+. Pada hari N- beban mereka
cukup berat. Selain mengunjungi sasaran
pelayanan Posyandu, juga melakukan per-
siapan agar pada hari H peralatan dan
pengadaan daya tarik seperti makanan kecil
untuk anak balita bisa tersedia. Pada hari
H+ selain menyelesaikan administrasi, tidak
jarang mereka yang dirujuk ke Puskesmas
meminta diantarkan Kader.
Sejauh ini pembahasan masih terpusat
pada pelaksanaannya tugas yang berkaitan
dengan pelatihannya. Faktor Lain yang juga
perlu diperhatikan adalah keaktifan dari
tim PKK tingkat desa. Hal ini memang rela-
tif baru. Karena itu belum banyak rnendapat
perhatian para peneliti . Masalah ini peslu
diketengahkan karena dengan adanya Instruk-
si Mendagri Nomor 9, tahun 1990, telah
datetapkan bahwa Posyandu adalah milik desa
dengan penggeraknya adalah Tim PKK Desa.
1. Posyandu merupakan bentuk part isipasi masyasakat dalam kesehatan yang akan ikut memheri dampak pada
1. Posyandu merupakan bentuk part isipasi
masyasakat dalam
kesehatan
yang akan
ikut memheri dampak pada penurunan angka
kematian bayi, peningkatan akseptor KB,
dan pe~ingkatan status; 'kesehatan ibu
hamil, mengingat:
a. Posyandu melaksanakan pelayanan ditu-
jukan kepada terjangkaunya bayi dan
balita oleh pelayanan pencegahan
kematian bayi dan balita.
b . Sasaran dar i .pernlYefitukan Posyandu
ialah di tingkat. Sub :@esa, sehingga
penduduk sasaran tidak akan terhambat
oleh faktor cjeo.glraphik, khususnya
2.
j asak.
Karena tugas
kader, Posyandu
bersifat
sukarela, maka sebagian besar Kader
. L Posyandu memiliki status sosial ekonomi
I. rendah. Status sosial ekonomi ini meng-
bambat keberanian Kader dalam penyuluhan
kesehatan-
3. Posyandu adalah milik dan diselenggara-
kan oleh masyarakat.
4. Dalam kaitan kualitas pelaksanaan tugas,
kader yang aktif:
a. telah mengkontribusi dalam pelaksa-
naan Puskesmas Keliling.
b. telah rnelaksanakan tugas-tugas pe-
layanan seperti: penimbangan bayiJ
balita dan ibu hamil, pengisian Kartu
KMS, mexujuk pengunjung ke petugas
kesehatan.
c. sebagian besar $elurn melaksanakan
tugas penyuluhan kesehatan. Tugas
penyuluhan hampir tidak dilaksanakan
pada waktu hari buka. Kunjungan ke
rumah pada hari H- lebih bersifat
penggerakan penduduk sasaran agar berkunjung pada hari A. Selain faktor sosial ekonomi kader, penyuluhan tidak
penggerakan penduduk sasaran agar
berkunjung pada hari A. Selain faktor
sosial ekonomi kader, penyuluhan
tidak dilaksanakan karena kader masih
belum memiliki ketrampilan penyuluhan
kelompok dan penyuluhan individu.
Sebagian besar kader tidak memiliki
alat peraga dan masih peslu ditambah
pengetahuan kesehatannya.
5. Meskipun terjadi pengurangan tugas Kader
Posyandu dibandingkan tugas Kades
Kesehatan, cukup banyak Kader Posyandu
yang tidak aktif, Ini berkaitan dengan
penerapan prinsip sukarela. Dengan
- prinsip ini, maka :
a. yang menjadi kader cenderung mereka
yang berusia muda dan belum bekerja;
setelah beberapa bulan sebagian besar
kader 'menghilang' karena bekerja
atau menikah.
b. para kader terpilih biasanya status
sosial ekonominya rendah.
6. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
pemberian imbalan rnembantu memotivasi
kader dalam melaksanakan tugas-tugas
mereka.
E. Saran
1. Untuk memperbaiki kualitas Posyandu
diperlukan pembimbingan kontinyu.
a. Pembimbingan oleh Tim Penggerak PKK
Desa. Karena tanggung jawab pembim-
bingan oleh Tim Penggerak PKK Desa
relatif baru, maka perlu dipelajari,
seberapa jaub Tim Penggerak PKK Desa
telah melaksanakan pembimbingan ke-
pada Kader Posyandu. Tim Penggerak
PKK Desa perlu mendapat pelatihan, dimana tujuannya ialah: 1) Memiliki pengetahuan tentang tuju- an KHPA
PKK Desa perlu mendapat pelatihan,
dimana tujuannya
ialah:
1) Memiliki pengetahuan tentang tuju-
an KHPA dan cara-casa pencegahan
kematian bayi, balita dan penyebab
kematian pada ibu hamil.
2) Memiliki pengetagai tentang mana-
jemen Posyandu, dan kegiatan-
kegiatan
pada hari H-, hari H dan
3 ) Mendapatkan ketrarnpilan tentang
teknik pembimbingan kades, cara-
cara memecahkan,perrnasalahan, tek-
nik
b. Pembimbingan oleh -p&tL9as Puskesrnas .
Pembimbingan .pehl:u':' diprioritaskan
untuk:
J
1 ~emberikm/ketrampilan metoda dan
teknik konseling.
.
.
2) Mewujudkan ketrampilan tentang
teknik penyuluhan kelempok.
3) Mewujudkan ketrampilan berkomuni-
kasi.
4) Mewujudkan ketrarnpilan merancang
dan membuat alat peraga dengan
bahan setempat.
LJntuk mewujudkan ha1 di atas perlu
disusun 'WoduI Pelatihan Penyuluhan
Kesehatan Kader Posyandu".
2. Pelatihan lanjutan tentang kesehatan
bayi
dan balita,
kesehatan
ibu hamil dan
menyusui, infeksi saluran nafas dan cara
penanggulangannya, perlu direncanakan
oleh Puskesmas terutama pada hari H+,
agar
keraguan kader ka~ena pengetahuan
yang terbatas dapat dihindarkan.
3. Kader Posyandu perlu mendapatkan perla-
kukan-perlakuan untuk menanggulangi kon-
sekuensi negatif dari pelaksanaan tugas sebaqai kader dan pengembangan konse- kuensi posit if. Peslakuan dapat
sekuensi negatif dari pelaksanaan tugas
sebaqai kader dan pengembangan konse-
kuensi posit if.
Peslakuan dapat berupa:
a. Pemberian pengakuan atas psestasi
kader, misalnya diadakan pemilihan
Kader Posyandu teladan dari tingkat
kabupaten sampai nasional, lomba
Posyandu .
b. Masukan teknik-teknik untuk memudah-
kan pelaksanaan tugas, sehingga waktu
mereka di Posyandu dapat diperkecil.
c. Secara kontinyu mendapatkan rumusan
pesan-pesan baru, agar sasaran penyu-
luhan tidak bosan.
d. Pesan melalui media massa dirancang
sehinga membexi paparan tentang aspek
kampanye dan promosi.
Selama
ini pesan tentang Posyandu
hanya menyentuh segi informasi tentang
produk dari Posyandu seperti : imunisa-
si, cara penanggulangan diare.
4. Mengingat Pasyandu dan kader-kadernya
sebagian besar tidak memiliki bahan
tertulis untuk kepentingan pendalarnan
pengetahuan atau tidak memiliki alat
pesaga,
perlu ditawarkan kepada para
pengusaha/perusahaan untuk berpastisipa-
si dalam produksi dan distsibusi pera-
latan kader.
5.
Program
pernexintah
untuk
menernpatkan
pos5si Posyandu, seiring dengan gerakan
1ain.misalnya KB, Gerakan ke desa sepes-
ti dianjurkan Gubesnur KDB Propinsi Dati
I Jawa TimuT, KELOMPENCAPIR dari Depar-
temen Penerangan.
DAFTAR PUSTAKA Adisusilo,T.F.,Mufis,A.,Susilo,E.A. et al. Gaporan Penelitian dan Penqembanqan PKK Dalam Posyandu.
DAFTAR
PUSTAKA
Adisusilo,T.F.,Mufis,A.,Susilo,E.A.
et al.
Gaporan Penelitian dan Penqembanqan
PKK Dalam Posyandu. Kerjasama Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah Jawa
Tengah - Lembaga Penelitian Unives-
sitas, Semarang, 1988: 64.
Departemen Kesehatan, Pusat Penyuluhan Keseha-
tan Masyarakat. Pedaman Pembinaan
Peranserta Masyarakat Dalam Keterpa-
duan Keluarga Besencana-Kesehatan di
Tinqkat Desa, Jakarta. 1984:l.
Glanz,K., Lewis, M.F., Rimer, 3, [editors)
(1990); Health Behavior and Health
Education, Theory, Research and
Practice, Jossey-Bass Publishers,
San Francisco, Okxford:69.
HersentM.B.SA.,eds.(1976);
Behavioral Asses-
ment, A Practical Hanbook,
Per gamon
Press, Oxford: 3.
Isaac,S. and MichaeP,B.W.(1974); Handbook in
Research and Evaluation, Robert
R.Knapp, Publisher, San Diego,
California 92107:77.
Luthan, F-Orqanizational Behavior, Tokyo,
McGraw Hill, Kogakusha, 1977: 25.
Nariyah,E., Rimbawan,D., Astika, et al. Pene-
Litian KB-Gizi Studi Determinan
Faktor-Faktor vana Menentukan Efek-
tivitas Kader di Bali. Kerjasama
BKKBN - Universits Udayana, 1986,
A-
d
-
Denpasar : 54.

Notoadmadjo,S. Bebexapa Nodel Kerangka Anali- sks Perilaku Kesehatan, Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia,

Tahun XVI,Nornor 2, 30 Nopember

Poloma, M.M.

Sosiologi Kontempores. Penerbit

CV. Rajawali, Jakarta, 1984: 278.

Sarwono,S.W. Teori-Teori Psikologi Sosial,

Penerbit CV. Rajawali, 1983:243.

Shortel, S.M, Kaluzny, A.D. and Associates. Health Care Management. A Text in

Orqanization Theory and Behavior,

second edition, A Wiley Medical

Publications John Wiley & Sons, New

York, Chichester, Bsisbane, 1987:

101.

Soemantri,S., Somodinoto, S.,Bahroen,C.,et al.

(1983) F

Penelitian Penilaian

Prokesa, Puslitbang Pelayanan Kese- hatan, Surabaya, 1983: 15.

Szlmodinoto,S., Soeparmanto,P., Prajitno,A.S., et a1.(1980); Peran Promotor Keseha- tan Desa dalam Memperluas Jangkauan

PeIayanan Kesehatan di Pedesaan, Puslitbang Pelayanan Kesehatan,

Surabaya: 25.

Soeparto H. , Hesmono, I. J. , dan D j oerban, B . (1985); Sub Proyek Penyuluhan Kese-

hatan Masyarakat Proyek Perbaikan

Kampung Kotamadya Dati 11 Surabaya,

Puslitbang Pelayanan Kesehatan,

Surabaya:45.

hatan Masyarakat Proyek Perbaikan Kampung Kotamadya Dati 11 Surabaya, Puslitbang Pelayanan Kesehatan, Surabaya:45.
Soemanto, R.B.,Sunarsih,G.Jr. dan Purwanta,H. (1978); Laporan Penelitian tentang Peningkatan Pelayanan Kesehatan
Soemanto, R.B.,Sunarsih,G.Jr. dan Purwanta,H.
(1978); Laporan Penelitian tentang
Peningkatan Pelayanan Kesehatan
Masyarakat dengan S istim Promokesa
dan Dana Sehat di Karanqanyar dan
Kudus, Jawa Tengah, Lembaga Studi
Pedesaan dan Kawasan Universitas
Gajah Mada, Yogyakarta:66.
SoehermanfB.(1978):Peranan Kader Kesehatan
Desa dalam PKMD di Kecamatan Cangk-
ringan, Kabupaten Dati I1 Sleman,
D.I.Yogyakarta, Fakultas Kesehatan
Masyarakat U.I., Jakarta:35
Warta Posyandu. Edisi Khusus. Studi Sistem
Penghargan Kader Posyandu, Maret
Warta Posyandu, Nornor 6. Peranan Kader Dalam
Pemberantasan ISPA, Tahun 1991/1992:
6.
World Health Organization ( 1978); Report of
the international Conference on
Primary Health Care, Geneva:5.