Sie sind auf Seite 1von 13

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/322653322

Kekuatan Tarik, Noda, Opasitas dan Derajat Putih Kertas Pada Proses Daur
Ulang Kertas Koran

Preprint · June 2009

CITATIONS READS

0 1,118

3 authors, including:

Feli City
Universitas Sriwijaya
3 PUBLICATIONS   0 CITATIONS   

SEE PROFILE

All content following this page was uploaded by Feli City on 23 January 2018.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


KEKUATAN TARIK, NODA, OPASITAS DAN DERAJAT PUTIH
KERTAS PADA PROSES DAUR ULANG KERTAS KORAN

Felicity, F Parikesit Partoputro dan Nina Elyani


Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri
Universitas Katolik Parahyangan, Jl. Ciumbuleuit No.94, Bandung / 022 - 2042360
Balai Besar Pulp dan Kertas, Jl. Raya Dayeuhkolot No.132, Bandung / 022 - 5202980
Email : fellyzhang@yahoo.com

Abstract
The raw material in main paper making process comes from wood fibers that contain cellulose, lignin and
hemicellulose. Increasing consumer demand of paper is not balance with the number of timber that can
damage the preservation of forest and environment. Therefore, the used of paper or recycled paper is very
useful as primary source of fiber. The purpose of this research is to learn the process of using recycle
newspaper, the influenced of changes in the concentration of NaOH, the addition of collector and the
enzyme at the quality of the paper from flotation method resulting recycling paper such as the degree of
whiteness and paper strength that the condition provide optimal good quality of recycled paper. The process
of waste ink from newspaper used including fiber disintegration process (pulping), the process of heating
and separation of ink (deinking) with enzyme additional and flotation method provide a sheet of recycled
paper. The result of sheet analyzed by the parameter was observed in this study is the concentration NaOH
solution which is 1,5 %, 2 % and 2,5 % of dry weight of paper used, the addition of collector and also the
influence of enzyme. Analysis research has done with result which pull strength and the whiteness degree of
recycle paper. Throughout the experiment and the analysis conducted in the Center for pulp and paper,
BPPK Bandung. The result shows that the addition of NaOH on newspaper can damage the fiber and affect
the ink realease which caused the fiber to be a yellow paper color. Additional collector not causing damage
to the fiber but it could increase the degree of whiteness.

Keywords : deinking, newspaper, flotation, whiteness degree and recycle

Abstrak
Bahan baku utama dalam proses pembuatan kertas berasal dari kayu yang mengandung serat selulosa,
hemiselulosa dan lignin. Peningkatan kebutuhan akan kertas tersebut tidak seimbang dengan banyaknya
jumlah kayu yang dapat merusak kelestarian hutan dan lingkungan. Oleh sebab itu, pemanfaatan kertas –
kertas bekas sangat berguna sebagai pengganti sumber serat primer. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menganalisis dan mengidentifikasi proses daur ulang kertas menggunakan kertas koran bekas, mengamati
pengaruh perubahan konsentrasi NaOH, penambahan kolektor dan adanya enzim pada tahap flotasi
terhadap kualitas kertas daur ulang yakni derajat putih dan kekuatan tarik. Proses penghilangan tinta pada
kertas koran bekas ini meliputi proses penguraian serat (pulping), proses pemanasan dan pemisahan tinta
(deinking) secara konvensional dan enzimatis menggunakan metode flotasi serta proses pembuatan
lembaran kertas.Penambahan NaOH dilakukan untuk menghilangkan tinta dan H2O2 untuk meningkatkan
derajat putih. Lembaran kertas tersebut dianalisis hasil dan parameter yang diamati dalam penelitian ini
adalah larutan kimia, lama pembuburan,, adanya penambahan kolektor serta pengaruh penambahan enzim.
Analisis hasil penelitian dilakukan dengan mengamati noda, derajat putih, opasitas dan indeks tarik kertas
koranhasil daur ulang yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan larutan NaOH
menimbulkan kerusakan pada serat dan menimbulkan warna kuning. Pada penambahan NaOH 1,5 %, 2 %
dan 2,5 % memiliki hasil indeks tarik yang lebih baik dibanding blanko kertas koran. Sedangkan pada
penambahan enzim, derajat putih pada serat kertas koran lebih baik dibandingkan dengan penggunaan
NaOH. Penambahan enzim 0,5 % dapat meningkatkan indeks tarik lebih baik dibandingkan blanko.

Kata kunci : deinking, kertas koran, flotasi, derajat putih, dan daur ulang

I.Pendahuluan
Kertas merupakan salah satu media komunikasi yang sangat penting dalam
perkembangan teknologi saat ini yang berperan dalam penyebaran informasi dalam bentuk

1
buku, kertas koran, majalah, artikel, poster dan lain sebagainya. Koran atau surat kabar
adalah suatu penerbitan kertas yang berisikan beritan terbaru dan beragam informasi.
Sebagai salah satu media informasi yang sangat penting, harga koran harus terjangkau oleh
masyarakat [Kompas, 2009].
Pada umumnya kertas koran terbuat dari pulp yang harganya sangat ekonomis
seperti pulp mekanis, pulp sekunder maupun serat bukan kayu. Produksi pulp dunia pada
tahun 1994 mencapai 164,9 juta ton dan produksi pulp Indonesia mencapai 1,3 juta ton
[Earthanswer]. Produksi pulp di dunia, khususnya Indonesia cukup besar dan dapat
membantu perekonomian negara mengingat kertas merupakan sarana yang sangat penting
dalam pendidikan dan komunikasi. Namun, sumber bahan baku hutan tidak memadai
untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan kebutuhan pakai sehari – hari yang sangat
banyak jumlahnya. Agar bahan baku hutan tersebut dapat seimbang dengan konsumsi
kertas di Indonesia maka proses daur ulang kertas koran dapat menghemat pemakaian
virgin pulp serta pemakaian bahan – bahan kimia [Berita Selulosa, 2007].
Indonesia memiliki 81 industri pulp dan kertas yang merupakan salah satu industri
andalan sebagai sumber penghasil devisa [APKI, 2005]. Menurut berita pulp dan kertas
Indonesia, harga pulp terus meningkat sejak dua tahun lalu serta diperkirakan melemah
pada bulan Maret atau April 2007 [BIPKI, 2007]. Di Indonesia, industri pulp dan kertas
terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Data konsumsi kertas tulis dan cetak
pada tahun 2004 sebanyak 1.403.000 milliar ton mengalami kenaikan pada tahun menjadi
1.455.000 milliar ton di tahun 2005. Dan, pada tahun 2006 konsumsi kertas menjadi
1.468.450 milliar ton [IPPI, 2007].
Seiring dengan peningkatan produksi kertas, terjadi peningkatan konsumsi
masyarakat terhadap kertas koran setiap harinya dan dapat di lihat melalui data produksi
setiap masing – masing penerbit. Data tersebut menunjukan terjadi kenaikan produksi
kertas koran dari tahun 1997 hingga tahun 2006. Pada tahun 2004 produksi kertas koran
mencapai 564.440 milliar ton, kemudian pada tahun 2005 meningkat menjadi 589.440
milliar ton dan pada tahun 2006 kapasitas produksi menjadi 602.850 milliar ton dengan
konsumsi sebesar 348.890 milliar ton [IPPI, 2007]. Peningkatan jumlah produksi kertas
koran meningkat seiring dengan jumlah konsumsi kertas koran. Hal ini diperlukan daur
ulang untuk menghemat bahan virgin pulp sehingga jutaan pohon tidak lagi ditebang untuk
produksi tersebut.

II.Identifikasi Masalah
Permasalahan yang timbul sehubungan dengan topik utama antara lain :
1. Bagaimana pengaruh penambahan zat kimia seperti NaOH, H2O2, Na2SiO3 yang
digunakan pada hasil daur ulang kertas koran yang dihasilkan?
2. Bagaimana pengaruh enzim atau tidak adanya pemakaian enzim pada proses
deinking kertas koran ?
3. Bagaimana pengaruh penambahan kolektor pada proses flotasi terhadap hasil daur
ulang kertas koran ?

2
III.Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian
1.Mengidentifikasi dan menganalisa pengaruh larutan kimia NaOH, H2O2, Na2SiO3 pada
proses pemisahan serat dan tinta dari kertas koran
2.Memperoleh kembali serat dari proses daur ulang
3.Mengamati pengaruh enzim Selulase Hemiselulase yang ditambahkan pada proses
deinking kertas koran
4.Menentukan atau memilih kondisi pada proses daur ulang dalam menghasilkan kertas
daur ulang sesuai Standar Nasional Indonesia

Manfaat Penelitian
1.Memberikan informasi dan kondisi yang mampu mendukung proses daur ulang kertas
koran
2.Mengurangi bahan baku virgin pulp atau bahan baku kayu
3.Memberi dukungan terhadap pencegahan bahaya limbah industri

IV.Tinjauan Pustaka
Istilah – istilah
Noda adalah benda asing yang terdapat pada lembaran pulp, kertas dan karton berwarna
lain dan memiliki luas hitam setara minimal 0,04 mm2.

Derajat putih adalah perbandingan antara intensitas cahaya biru dengan panjang
gelombang 457 nm.

Opasitas adalah jumlah cahaya yang ditransmisikan oleh kertas dan salah satu parameter
penting dalam proses cetak.

Indeks tarik adalah ketahanan tarik (N/m) dibagi dengan gramatur (g/m2). Ketahanan tarik
merupakan besar daya yang maksimum jalur uji terhadap gaya tarik yang bekerja pada
kedua ujung jalur tersebut sampai putus.

Proses Pembuatan Kertas


Secara garis besar proses pembuatan kertas dapat dilakukan melalui proses daur
ulang maupun proses pengolahan langsung dari kayu dengan tahapan – tahapan pembuatan
kertas seperti pulping. Pulping merupakan proses pembuatan pulp pertas yakni penguraian
dalam hidropulper. Proses bleaching yaitu proses pemutihan pulp serta proses sizing
(ukuran kertas) dan proses pembentukan lembaran kertas sesuai dengan gramatur tertentu.
Proses pengkonversian kertas yang dilakukan pada waktu lampau sangat primitif
dan kasar. Serat dicuci kemudian dikeringkan diatas container tertutup untuk beberapa
hari. Dalam tahap ini terjadi proses fermentasi dimana membawa serat pada kekonsistenan.

3
V.Metodologi Penelitian
5.1 Alat dan Bahan
Bahan Baku Utama
Bahan baku utama adalah kertas koran bekas

Bahan Baku Kimia


Larutan NaOH, kolektor asam oleat, larutan H2 O2, enzim selulase hemiselulase, larutan
Na2SiO3

Alat – alat Penelitian


a.Gelas kimia 100 mL, 3 L dan 1 L j.Indikator Universal
b.Gelas ukur 100 mL dan 1 L k.Eksikator
c.Batang pengaduk l.Timers
d.Timbangan m.Cawan timbang
e.Oven n.Kawat penyaring
f.Termometer raksa o.Flotation cell
g.Handsheet formers
h.Kain
i.Hidropulper

5.2 Premis – premis Penelitian

Parameter Kondisi
2,5 %; 1,25 %;
Konsentrasi Larutan NaOH
1,5 %; 1,75 %
Kolektor 0,5 %; 0,8 %
Konsistensi Pembuburan 4%
Konsistensi Flotasi 0,8 %; 1 %; 0,8 – 1,2 %
10 – 15 menit
Lama Pembuburan 30 menit

Lama Flotasi 15 menit


Lama Perendaman 60 menit
Temperatur Perendaman 25 °C; 85 °C
Temperatur Pembuburan 50 – 60 °C
50 °C
Temperatur Flotasi 40; 50; 60 °C
40 – 45 °C
pH Pembuburan 6-9

4
5.3 Metode Penelitian
Metode Penelitian terdiri dari percobaan pendahuluan dan percobaan utama.
Percobaan pendahuluan terdiri dari penentuan kadar air, persiapan larutan (chemical agent)
dan persiapan blanko. Blanko merupakan pulp kertas koran tanpa penambahan bahan
kimia.
Percobaan utama pada proses daur ulang kertas koran meliputi proses perendaman
dan penguraian serat (pulping), proses penghilangan serta pemisahan tinta (deinking dan
flotasi). Kemudian dilanjutkan dengan proses pengeringan pulp kertas dan proses
pembuatan lembaran pada kertas koran.
Setelah terbentuk lembaran kertas koran dilakukan pengujian noda, derajat putih,
opasitas, ketahanan tarik (tensile strength) atau indeks tarik di laboratorium bagian
pengujian kertas di Balai Besar Selulosa Bandung dengan standard prosedur SNI.

5.4 Diagram Alir Proses


5.4.1 Diagram Alir Proses Konvensional
Bahan Baku
Kertas koran bekas
Chemical
Pulping Agent
Pulping dengan konsistensi, C = NaOH, H2O2
4% 2,5 % &
Na2SiO3 2,5 %
Pengenceran
Konsistensi, C = 4 % menjadi
Kolektor konsistensi, C = 1 %
0,5 %

Flotasi
Konsistensi, C = 1 % dengan
T = 60 °C, t = 25 menit

Pencucian
Pulp dengan kertas koran dicuci
dan dilakukan penyaringan

Pembentukan Sheet
Pengempaan dan pengeringan

Pengujian Sheet
- Uji noda
- Uji opasitas
- Uji derajat putih
- Uji ketahanan tarik

5
5.4.2 Diagram Alir Proses Enzimatis

Bahan Baku
Kertas koran bekas

Pulping Enzimatis
Pulping dengan konsistensi, C = Enzim 5 %. pH
4% = 7; T = 5 °C

Kolektor Pengenceran
0,5 % Konsistensi, C = 4 % menjadi
konsistensi, C = 1 %

Flotasi
Konsistensi, C = 1 % dengan
T = 60 °C, t = 25 menit

Pencucian
Pulp dengan kertas koran dicuci
dan dilakukan penyaringan

Pembentukan Sheet
Pengempaan dan pengeringan

Pengujian Sheet
- Uji noda
- Uji opasitas
- Uji derajat putih
- Uji ketahanan tarik

VI.Hasil dan Pembahasan


Penelitian ini dilakukan dengan 3 (tiga) parameter yaitu dengan ada atau tidak
adanya penambahan kolektor, variasi kadar NaOH sebesar 1,5 %, 2 % dan 2,5 % pada
beberapa run yang dibandingkan dengan ada atau tidaknya penambahan enzim.
Pada percobaan awal dilakukan dengan lama waktu pulping selama 15 menit
dengan pengadukan secara otomatis. Kemudian bubur kertas koran sebanyak 22,5 L
dimasukan ke dalam drum dan dilakukan pengenceran dari 4 % hingga 1 % dengan
penambahan air sebanyak 67,5 L sesuai kapasitas alat yakni 90 L. Setelah proses
pengenceran ditambahkan kolektor dan campuran bubur kertas koran dipanaskan sampai

6
pada temperatur flotasi yaitu 60 ºC. Proses flotasi berlangsung selama 25 menit
dimaksudkan untuk mengaktifkan kolektor yang akan aktif secara maksimal pada suhu 60
ºC. Proses pulping pada hidropulper dalam waktu 15 menit mengakibatkan penguraian
serat terlalu hancur sehingga derajat penguraian kertas koran tersebut terlalu rendah. Jika
serat kertas koran terlalu hancur akan sulit untuk membuat satu lembaran kertas koran baru
dan akan memiliki ketahanan sobek yang rendah. Hal ini dapat dibuktikan melalui alat
freeness tester.

Berikut merupakan hasil percobaan dan pembahasan dibawah ini :


- Noda
Perbandingan noda pada blanko dan kertas koran RUN 1 telah terjadi penurunan.
Rendahnya hasil noda tersebut menandakan tidak adanya gangguan antarserat sehingga
metode flotasi dapat dikatakan berhasil. Berikut hasil rata – rata noda pada serat daur
ulang kertas koran :
Tabel 6.1 Hasil Rata – rata Noda
Pada Serat Kertas Koran Yang Di Daur Ulang
Var. Percobaan Noda (mm2/m2)
RUN (blanko) 2984
RUN 1 82,52
RUN 2 101
RUN 3 94
RUN (enzim) 1207

Gambar 6.1 Grafik Hasil Rata - rata


Perolehan Noda

Perolehan Noda
4000
2000
0 Noda
(mm2/m2)
Enzim
Blanko

RUN 3
RUN 1
RUN 2

Pada percobaan, noda yang paling baik diperoleh pada penambahan NaOH 1,5 % yakni
82,52 mm2/m2 dibanding hasil rata – rata noda pada RUN 2 dan RUN 3. Semakin rendah
noda yang terdapat pada hasil daur ulang serat maka semakin bersih serat dari ikatan tinta.

- Derajat putih
Derajat putih menunjukan kebersihan suatu proses pemutihan. Berikut hasil derajat putih
pada serat dibawah ini :

7
Tabel 6.2 Hasil Rata - rata Derajat Putih
Pada Serat Kertas Koran Daur Ulang
Var. Percobaan Derajat Putih (%)
RUN (blanko) 47,07
RUN 1 50,6
RUN 2 50,24
RUN 3 49,48
RUN (Enzim) 54,8

Grafik 6.2 Hasil Percobaan


Rata – rata Derajat Putih

Derajat Putih
60
55
50
45 Derajat putih
40
RUN…

RUN…

(%)
RUN 1
RUN 2
RUN 3

Hasil rata – rata derajat putih pada RUN 1, RUN 2 dan RUN 3 terlihat adanya
kenaikan dibandingkan dengan blanko. Hal ini disebabkan penambahan kolektor pada
proses flotasi dapat mempercepat pengikatan tinta kertas koran diatas permukaan sehingga
derajat putih meningkat.
Namun, penambahan larutan NaOH berlebih dapat mengakibatkan yellowing atau
penguningan pada kertas karena peningkatan kadar larutan NaOH membuat serat – serat
kertas koran semakin terdegradasi serta menurunnya kadar lignin [Berita Selulosa, 2006].
Nilai derajat putih yang diperoleh dengan penggunaan enzim 0,5 % paling tinggi
yakni 54,8 % dibanding dengan NaOH 1,5 % yakni 50, 60, NaOH 2 % yakni 50, 24 dan
NaOH 2,5 % (49, 48). Hal ini disebabkan karena penggunaan enzim yang mengandung
senyawa organik sehingga ikatan serat semakin tinggi dan kadar lignin tidak banyak yang
hilang dalam serat.

- Opasitas
Opasitas dapat ditingkatkan dengan beberapa cara seperti pengaturan gramatur,
penggillingan, pengempaan basa, bahan pengisi dan jenis serat itu sendiri. Semakin tinggi
gramatur maka semakin tinggi nilai opasitas [Berita Selulosa, 2006]. Hasil rata – rata
opasitas kertas daur ulang yakni :

8
Tabel 6.3 Hasil Rata - rata Opasitas
Pada Serat Kertas Koran Daur ulang
Var. Percobaan Opasitas (%)
RUN (Blanko) 99,42
RUN 1 97,91
RUN 2 97,91
RUN 3 99,2
RUN (Enzim) 99,4

Grafik 6.3 Grafik Hasil Rata - rata


Perolehan Opasitas

Opasitas
100
99
98
97
Opasitas (%)
Blanko
RUN 1
RUN 2
RUN 3

Pada percobaan RUN 1, RUN 2 dan RUN 3 terjadi penurunan nilai rata - rata
opasitas dibandingkan dengan blanko. Nilai opasitas paling baik dicapai pada RUN 1 dan
RUN 2 yakni pada penambahan NaOH 1,5 % dan NaOH 2 % karena nilai opasitas
mendekati nilai standar SNI yakni sebesar 89 %.

- Indeks tarik
Dalam penelitian ini, dapat dilihat hasil uji indeks tarik kertas koran dengan variasi
gramatur yakni sebagai berikut :
Tabel 6.4 Hasil Rata - rata Indeks Tarik
Pada Serat Kertas Koran
Var. Percobaan Opasitas (%)
RUN (Blanko) 24,66
RUN 1 30,79
RUN 2 30,18
RUN 3 30,48
RUN (Enzim) 29,55

9
Grafik 6.4 Grafik Hasil Rata – rata
Perolehan Indeks Tarik

Indeks Tarik
40
20
0 Indeks tarik
(g/m2)

Hasil data rata – rata menunjukan bahwa terjadi peningkatan nilai indeks tarik pada
RUN 1, RUN 2 dan RUN 3 dibandingkan dengan blanko. Hal ini sesuai dengan
meningkatnya tingkat derajat putih dan penurunan noda pada serat kertas koran karena
adanya noda atau tinta yang menghalangi ikatan antarserat sehingga kekuatan kertasnya
rendah. Dalam hal ini, indeks tarik pada hasil percobaan diatas sudah memenuhi standar
SNI kertas koran.

VII.Kesimpulan dan Saran


Kesimpulan :
1.Penambahan NaOH dapat mempengaruhi pelepasan tinta. Larutan NaOH yang berlebih
menimbulkan kerusakan pada serat sehingga menyebabkan serat menjadi berwarna
kuning
2.Penambahan kolektor dapat meningkatkan derajat putih serat kertas serta tidak
menimbulkan kerusakan serat
3.Penambahan kadar NaOH tidak mempengaruhi indeks tarik suatu kertas koran. Namun,
penambahan NaOH 1,5 %, 2 % dan 2,5 % memiliki hasil rata - rata indeks tarik yang
lebih baik dibanding blanko kertas koran
4.Pada penggunaan enzim, perolehan derajat putih serat kertas koran lebih baik dibanding
dengan penggunaan NaOH
5.Pada penambahan enzim 0,5 % dapat meningkatkan indeks tarik lebih baik dibandingkan
blanko
6.Sebagai tambahan, pengaruh waktu pulping dari segi pelepasan tinta lebih memudahkan
tetapi dari ukuran serat terlalu halus berdasarkan hasil csf pada freeness tester menjadi
lebihsehingga kekuatan tarik juga lebih rendah

Saran :
Beberapa saran untuk peneliian lebih lanjut yaitu :
1.Dilakukan penambahan zat aditif lain seperti dispersan, surfaktan maupun jenis detergen
lainnya pada proses flotasi untuk mendapatkan kualitas kertas lebih baik
2.Dilakukan penambahan filler pada bahan baku serat kerta koran agar dapat dicetak
kembali menjadi kertas koran sehingga hasil penelitian lebih komersial

10
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada Ibu Cucu sebagai staff laboratorium yang membantu
pelaksanaan analisis derajat putih dan opasitas kertas koran hasil daur ulang.

Daftar Pustaka
Anderson, R., 1992. Hydrogen Peroxide Use in Chemical Pulp Bleaching, page 123.
TAPPI Bleach Plant Operations Short Course Notes.Atlanta : TAPPI Press
Anonim,How is Paper Recycled. Earthanswer, TAPPI – The Leading Technical
Association for The Worldwide Pulp, Paper and Converting Industry
Anonim. 1982. Production of Newsprint From Waste Paper in North America. November
1982 / UNIDO / IO.500 / Rev.1. United Nation Industrial Development
Organization
Anonim.1979. Penghilangan Tinta Pada Kertas Bekas dengan Proses Flotasi. Berita
Selulosa Vol. XV, No.3
Berita Industri Pulp dan Kertas Indonesia.1996. Tantangan Perdagangan Pulp dalam Era
Globalisasi, hlm.8.Jakarta : Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia
Berita Selulosa No.1.Juni, 2006. Bandung
Berita Selulosa No.3., Vol.XXXIV. September, 1998
Berita Industri Pulp dan Kertas Indonesia No.250. Februari, 2008
Bestari, M. Analisis Kinetika Pulp Bleaching dengan Hidrogen Peroksida. Jurnal Teknik
Kimia, Vol.6, No.3, hlm. 675 - 665
Berita Industri Pulp dan Kertas Indonesia. April, 2007. Jakarta
Casey, J.P. 1960. Pulp and Paper : Chemistry and Chemical Technology, Vol. 1, 2nd ed.
New York :Interscience Publishers
Dina, S.F.. 2002. Aplikasi Enzim Lokal Pada Perbaikan Kualitas Kertas Bekas. Laporan
Akhir Penelitian dalam Proyek Pengembangan dan Pelayanan Teknologi Industri
Selulosa
Elyam, N. 1996.Pengaruh Variasi Bahan Kimia dan Suhu Flotasi Pada Proses
Penghilangan Tinta Kertas Bekas. Berita Selulosa Vol.XXXII., No.2
Hart, C.H. 2003. Kimia Organik. Houghton Mifflin Compa
Indriati, L. 1998. Penggunaan ASA (Alkenyl Succinic Anhydride) Sebagai Bahan Darih
Kertas Hasil Daur Ulang Kertas Koran Bekas. Berita Selulosa, Vol.XXXIV., No.3
Indonesian Pulp and Paper Industry.2007. Asosiasi Pulp and Kertas Indonesia.Jakarta :
Gramedia
McKinney, R.W.J. 1995. Technology of Paper Recycling, 1st edition. Chapman and Hall
Othmer, K. 1997. Encyclopedia of Chemical Technology, 4 th edition. John Wiley and
Sons, inc. USA
Richardson, C. 1985. Chemical Engineering. R.K. Sinnot Vol.6
Retnowati, Endang dan Nina Elyani.1989. Pengambilan Kembali Serat Koran Bekas.
Berita Selulosa, Vol.XXV, No.1
Rismijana, J dkk. 2003. Penggunaan Enzim Selulase – Hemiselulase Pada Proses Deinking
Kertas Koran Bekas. Jurnal Matematika dan Sains, Vol.8, No.2, hlm.67 – 71
Snook, G.A. 1992. Handbook For Pulp and Paper Technologist, 2 nd edition. Angus Wilde
Publication, Van Couver
Standar Nasional Indonesia 0437 – 81. Cara Uji Derajat Putih Pulp, Kertas dan Karton
Syafii, W. 2002.Teknologi Ramah Lingkungan untuk Industri Pulp dan Kertas. Fakultas
Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

11
Venditti, R. Pulping Plant into Fibers, Flotation Deinking of Copy Paper, Handsheet
Preparation. Department of Wood and Paper Science.North California State
University. Vijayakumar, C.V. Design of a Deinking Process for Recycling Mixed
Waste Paper.

Referensi website :
www.suaramerdeka.com/harian/0210/21/ragam4.htm
www.bpsbandung.com
www.kompas.comwww.oldansold.com/articles10/paper-making-6.shtmlhttp://natural-
resources.Ncsu.edu/wps/k12activities/lectures.htm
www.patentstrom.com
http://kompas.com/kompas-cetak/0207/14/IPTEK/tekn22.htm

12

View publication stats