Sie sind auf Seite 1von 15

PENYELESAIAN SENGKETA TANAH PT.

INECDA PLANTATION DENGAN


MASYARAKAT ADAT SUNGAI PARIT DI INDRAGIRI HULU

Oleh: Yarizkha Seftirizanda


Pembimbing I:Dr. Firdaus, SH., M.H
Pembimbing II: Rahmad Hendra,SH.,M.Kn
Alamat: Jalan Teladan, Gg Dara, Panam, Pekanbaru
Email: seftirizanday@yahoo.co.id - Telepon : 081277939441

ABSTRACT
Problems that occur between is a 42 Ha land dispute villagers Sungai Parit, district
Indragiri Hulu Sungai Lala with PT.Inecda Plantation.Masyarakat claims that about 42
hectares of land belongs to the people while PT.Inecda Plantation claims that 42 ha of land
that are owned by the company the. Plantation PT.Inecda related dispute with residents of
Sungai Parit causing residents sent a letter to the Regional Representatives Council Indragiri
Hulu. The letter sent to residents of the Regional Representatives Council Indragiri Hulu in
connection with PT.Inecda Plantation since 20 years ago to annex the land warga.Surat sent
due to lack of clarity on the settlement that has been done several times with the Government
of Indragiri Hulu. The purpose of this thesis, namely: First, to find out what the causes of
land disputes between indigenous peoples PT.Inecda Plantation with moat river, Secondly, to
find out how the efforts made for the settlement of land disputes with indigenous peoples
PT.Inecda Plantation river trench.
This type of research can be classified in this type of sociological research is
research done by identifying how the effectiveness of law that law applies in the community.
From the research it is clear that the cause of the problem of land disputes with
indigenous peoples PT.Inecda Plantation River Ditch is due to the inclusion of a new home
or investment of PT.Inecda Plantation namely household money. PT.Inecda Plantation as
well as ignoring the rights of indigenous peoples and the Government Sungai Parit not firm
in see investments coming in, a local company established itself so that the environment of
indigenous people ignoring local area and do not pay attention to the condition of the area
where they founded the company. The settlement of land disputes with indigenous peoples
PT.Inecda Plantation Sungai Parit is the first mediation session conducted on January 15,
2013 Date mediated by the head of the Sungai Parit in Hall Village Head Office, On January
10, 2004 Local Government conduct a second mediation process mediated by the head of the
Regional land Indragiri Hulu, As of February 15, 2016 at a meeting held by the National
land Agency and the Ministry of Environment held diaur china to listen to the opinions of
indigenous peoples Sungai Parit against customary land tilled by PT.Inecda Plantation. The
results of the meeting the majority of customary land Sungai Parit people returned to the
Ministry of Environment to manage.

Keywords : Settlement-Limited-Indigenous

JOM Fakultas Hukum Volume III Nomor 2,Oktober 2016 Page 1


A. Latar Belakang Masalah Salah satu daerah di Provinsi Riau
yaitu Kabupaten Indragiri Hulu,
Di Indonesia merupakan negara Kabupaten Indragiri Hulu mempunyai
berkembang yang masih memerlukan potensi dibidang sektor industri,
investasi untuk mencapai pertumbuhan perternakan, perikanan, dan sektor
ekonomi yang berkesinambungan. pertambangan dan energi.Dengan luas
Istilah investasi berasal dari bahasa latin wilayah mencapai 8,195.26 km2
yaitu investire (memakai), sedangkan (819,826.00 ha) dan sebagian besar
dalam bahasa inggris disebut dengan penduduknya berprofesi pertanian dan
investment yaitu menempatkan uang industrisebagai sedikit banyak ikut
atau dana dengan harapan untuk memberikan kontribusinya pada
memperoleh keuntungan tertentu atas perekonomian di Kabupaten Indragiri
uang atau dana tersebut. Untuk yang Hulu.3
berkesinambungan diperlukan sebuah Di Daerah Kabupaten Indragiri
iklim investasi yang kondusif. Menurut Hulu banyak perusahan-perusahan yang
Strun, iklim investasi adalah semua menanamkan modalnya.Lebih dari 40
kebijakan, kelembagaan dan (empat puluh) data Investasi
lingkungan, baik yang sedang penanaman modal yang terdaftar di
berlangsung maupun diharapkan terjadi Kantor Badan Penanaman Modal
dimasa depan diharapkan terjadi dimasa Daerah dan Perizinan Indragiri
depan yang bisa mempengaruhi tingkat Hulu.Namun banyak perusahaan yang
pengambilan dari resiko suatu tidak juga mendaftarkan perusahaannya
investasi.1 dan tidak memiliki izin dan bahkan
Di Indonesia perkembangan bersengketa dengan warga sekitar
investasi yang ditanamkan oleh perusahaan itu berdiri, PT yang
investor, dapat dibagi menjadi dua era, bermasalah antara lain adalah PT.
yaitu era orde baru dan reformasi. SSR,PT.Duta Palma Group,PT.Kencana
Pertama, era orde baru dimulai dari Amal Tani (KAT), PT.Arvena Sepakat,
tahun 1967 sampai dengan tahun 1997. PT.Mega Nusa Inti Sawit, PT.Tirta Sari
Jumlah investasi asing yang di Surya,PT.Banyu Bening Utama (PKS
tanamkan oleh investor asing, dari dan Perkebunan), PT.Palma Satu,
tahun 1967 sampai dengan tahun 1997 PT.Panca Agro Lestari dan
sebanyak 190.631,7 miliar dolar AS dan PT.Seberida, dan salah satu perusahaan
jumlah proyek yang dibiayainya yang bersengketa dengan masyarakat
sebanyak 5,699 proyek. Pada masa ini, sekitar adalah PT.Inecda Plantation.4
investasi asing yang berkembang di PT.Inecda Plantation adalah salah
Indonesia dari tahun ke tahun satu Perusahaan yang berdiri di
mengalami peningkatan yang Kabupaten Indragiri Hulu yang terletak
signifikan.Hal ini terjadi setelah di Petala Bumi Seberida, Indragiri
diundang-undangkan Republik Hulu. PT.Inecda Plantations yang
Indonesia Nomor 1 tahun 1967 tentang bergerak disektor perkebunan kelapa
penanaman modal asing.2 sawit yang memiliki luas lahan : HGU 1

3
1
Hasmah Diana, ,“Analisis Yuridis http://www.bpmdppt.inhukab.go.id/index.php?com
Penyelesaian Sengketa Tanah Untuk Kepentingan =halumata&link=profil_inhu, diakses, tanggal, 03
Usaha (Studi di Kota Samarinda)”, Jurnal Ilmu november 2015.
4
Hukum, Fakultas Hukum Universitas Mulawarman, http://metroterkini.com/berita-12038-
23 Juli 2013, hlm. 2. sejumlah-perusahaan-perkebunan-di-inhu-
2
Didik J Rachbini, Arsitektur Hukum Investasi bermasalah.html, diakses, Tanggal, 03 November
Indonesia, Jakarta, Kencana, 2010, hlm.12 2015

JOM Fakultas Hukum Volume III Nomor 2,Oktober 2016 Page 2


(Hak Guna Usaha) berdiri 2 Januari batang sawit dan ketiga dijadikan uang
2001 memiliki luas 6357,9 ha dan HGU tunai, tiga alternatif tersebut sudah
2 (Hak Guna Usaha) berdiri 28 April dijalankan tetapi PT.Inecda Plantation
1999 memiliki luas 3108.147 ha.5 tetap menggarap ditanah milik
Permasalahan yang terjadi antara masyarakat adat sungai parit ternyata
adalah Sengketa lahan 42 Ha warga hasil mediasi ini tidak terlaksana
desa Sungai Parit, kecamatan Sungai dengan baik. Karena mediasi tidak
Lala Kabupaten Indragiri Hulu dengan terlaksana masyarakat turun kelapangan
PT.Inecda Plantation.Masyarakat dan memberikan waktu 21(dua puluh
mengklaim bahwa tanah sekitar 42 ha satu) hari bagi perusahaan untuk
adalah milik masyarakat sedangkan menghentikan penggarapan tetapi tidak
PT.Inecda Plantation mengklaim bahwa ditanggapi oleh pihak
lahan 42 ha tersebut adalah miliki perusahaan.Masyarakat adat sungai
perusahaan tersebut. Terkait sengketa parit melaporkan ke Komisi Nasional
PT.Inecda Plantation dengan warga Hak Azasi Manusia, Badan Pertanahan
Sungai Parit menyebabkan warga Nasional dan Kementerian Lingkungan
mengirimkan surat kepada Dewan Hidup.7 Berdasarkan uraian diatas
Pewakilan Rakyat Daerah Indragiri penulis bermaksud mengajukan rencana
Hulu. Surat yang dikirimkan warga ke penelitian untuk menjawab pertanyaan
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah penelitian Bagaimana Penyelesaian
Indragiri Hulu sehubungan dengan Sengketa Tanah PT.Inecda
PT.Inecda Plantation semenjak 20 tahun Plantation Dengan Masyarakat Adat
lalu mencaplok tanah warga.Surat Sungai Parit Di Indragiri Hulu?
tersebut dikirim karena tidak adanya
kejelasan terhadap penyelesaian yang B. Rumusan Masalah
telah di lakukan beberapa kali dengan Dari uraian yang dikemukakan
Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu.6 dalam latar belakang masalah di atas,
Permasalahan PT.Inecda Plantation maka dapat dirumuskan beberapa
dengan masyarakat adat sungai parit permasalahan sebagai berikut :
yaitu masyarakat adat Talang Parit, 1. Apa yang menyebabkan timbulnya
Talang Perigi. Diselesaikan dengan sengketa tanah antara PT.Inecda
berbagai cara baik dari pihak Plantation dengan masyarakat adat
Perusahaan maupun dari masyarakat. sungai parit ?
Salah satu upaya penyelesaian masalah 2. Bagaimana upaya yang dilakukan
kedua belah pihak adalah proses untuk penyelesaian sengketa tanah
mediasi yang menjadi Mediator Kepala PT.Inecda Plantation dengan
PT.Inecda Plantation pusat di Jakarta masyarakat adat sungai parit ?
dan bapak Tamsir Rahman memberi C. Pembahasan
tawaran 3 (tiga) alternatif yaitu :
1. Apa yang menyebabkan
pertama dibangun 250 (dua ratus lima
timbulnya sengketa tanah antara
puluh) hektar di luar Hak Guna Usaha,
PT.Inecda Plantation dengan
kedua diberi 250 (dua ratus lima puluh)
masyarakat adat sungai parit
a) Penyebab Timbulnya Sengketa
5
Wawancara dengan Bapak Joko, kepala Tanah Dari PT.Inecda
Hubungan Masyarakat (HUMAS) PT.Inecda Plantation
Plantation, hari Selasa, 10 November 2015,
Bertempat di Kantor PT.Inecda Plantation
6 7
http://fokusnews.net/07/05/2015/index- Wawancara dengan Bapak Irasan, Kepala
berita/regional/inhu/sengketa-lahan-warga-vs-pt- Suku Talang Masyarakat Sungai Parit, hari Kamis
inecda-plantations-erujung-surati--dpr/, diakses, Tanggal 11 Februari 2016, Bertempat di Rumah
tanggal, 20 November 2015. Bapak Irasan

JOM Fakultas Hukum Volume III Nomor 2,Oktober 2016 Page 3


Bahwa penyebab timbulnya Setelah kedatangan Kepala
sengketa tanah antara PT.Inecda Adat Desa Sungai Parit ke
Plantation dengan Masyarakat PT.Inecda Plantation Pusat,
Adat Sungai Parit menggarap kepala desa memberikan waktu
ditanah adat milik Masyarakat 21 hari kepada pihak PT.Inecda
Adat Sungai Parit tanpa adanya Plantation. Namun setelah 21 hari
kesepakatan dan ganti rugi kepada tidak adanya niat baik dari
Masyarakat Adat Sungai Parit. PT.Inecda Plantation, membuat
Tanah 9000 ha milik masyarakat masyarakat turun kelapangan
adat Sungai Parit digarap oleh meminta PT.Inecda Plantation
PT.Inecda Plantation tanpa tidak menggarap lagi di lahan
adanya ganti rugi kepada seluas 5760,2 ha termasuk
masyarakat adat sungai parit.8 perumahan dan perusahaan.11
Penyebab Konflik PT.Inecda Konflik PT.Inecda Plantation
Plantation dengan masyarakat dengan masyarakat adat Sungai
adat Sungai Parit karena Parit, tidak adanya itikad baik
datangnya rumah tangga uang PT.Inecda Plantation dengan
baru yaitu PT.Inecda Plantation kedatangan Kepala Suku Adat
yang menggarap tanah Talang Mamak ke Jakarta untuk
masyarakat adat Sungai Parit membicarakan permasalahan
tanpa adanya perjanjian dan ganti tanah adat masyarakat adat
rugi terhadap masyarakat adat Sungai Parit. Perundingan terjadi
Sungai Parit. namun setelah 21 hari
Pada tahun Kepala Adat Desa perundingan itu berjalan
Sungai Parit datang ke Jakarta PT.Inecda Plantation tidak
untuk melakukan perundingan melakukan 3 alternatif dari hasil
dengan PT.Inecda Plantation perundingan (Wanprestasi)
pusat tetapi selama lima hari Kepala Pusat PT.Inecda
Kepala Adat Desa Sungai Parit Plantation dengan Kepala Suku
tidak diterima oleh PT.Inecda Adat Talang Mamak.
Plantation Pusat. Sehingga Kepala Akibatnya selama 1 (satu)
Adat Desa Sungai Parit membawa bulan lahan seluas 2500 ha tidak
Bupati Indragiri Hulu Untuk dipanen baik itu dari pihak
datang ke PT.Inecda Plantation PT.Inecda Plantation maupun dari
Pusat.9 Masyarakat Adat Sungai Parit.
Kepala PT.Inecda Plantation Karena tidak adanya itikad baik
Pusat memerikan tawaran tiga dari PT.Inecda Plantation kepada
alternatif:10 Masyarakat Desa Sungai Parit,
1. Di bangun 250 ha diluar Kepala Adat Desa Sungai Parit
Hak Guna Usaha memerintakan 1000 masyarakat
2. Diberikan 250 batang untuk turun kelapangan dan
kelapa sawit menggarap kelapa sawit yang
3. Dijadikan Uang Tunai ditanam.12

8 11
Wawancara dengan Bapak Irasan, Kepala Wawancara dengan Bapak Sigodok Kepala
Suku Talang Masyarakat Sungai Parit, hari Kamis Suku Ampang Delapan Sungai Parit, hari Kamis
Tanggal 11 Februari 2016, Bertempat di Rumah Tanggal 11 Februari 2016, Bertempat di Rumah
Bapak Irasan Bapak Irasan
9 12
Wawancara dengan Bapak Irasan Wawancara dengan Bapak Sigodok Kepala
10
Wawancara dengan Bapak Irasan Suku Ampang Delapan Sungai Parit, hari Kamis

JOM Fakultas Hukum Volume III Nomor 2,Oktober 2016 Page 4


Undang-Undang Nomor 40 hak yang sah, pemilik bangunan
tahun 2007 tentang Perseroan dan tanaman tersebut diberi ganti
Terbatas mengenai Tanggung kerugian yang dibebankan pada
Jawab Sosial Dan Lingkungan pemegang Hak Guna Usaha baru.
Pasal 74 : Hak Guna Usaha merupakan hak
“Perseroan yang menjalankan untuk mengusahakan tanah yang
kegiatan usahanya di bidang dan/ dikuasai langsung oleh negara,
atau berkaitan dengan sumber daya dalam jangka waktu tertentu dan
alam wajib melaksanakan didahului penetapan pemerintah
Tanggung Jawab Sosial dan dengan pertimbangan-
Lingkungan. Tanggung Jawab pertimbangan tertentu sesuai
Sosial dan Lingkungan. dengan ketentuan yang berlaku.”
Sebagaimana dimaksud pada ayat Dimana Perusahaan yang
(1) merupakan kewajiban berdiri ditengah-tengah masyarakat
Perseroan yang dianggarkan dan adat harus menjunjung tinggi
diperhitungkan sebagai biaya aturan-aturan yang berlaku
Perseroan yang pelaksanaannya dimasyarakat adat tempat
dilakukan dengan memperhatikan perusahaan itu berdiri. Menurut
kepatutan dan kewajaran. John Elkington13 Perusahaan dalam
Perseroan yang tidak melaksanakan dunia bisnis tidak bisa hanya
kewajiban sebagaimana dimaksud mencari keuntungan atau profit
pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai saja, melainkan juga perlu
dengan ketentuan peraturan „berbagi‟ kepada masyarakat dan
perundang-undangan. Ketentuan lingkungan. Masyarakat atau aspek
lebih lanjut mengenai Tanggung sosial juga perlu menjadi perhatian
Jawab Sosial dan Lingkungan khusus dari perusahaan, dimana
diatur dengan peraturan masyarakat merupakan stakeholder
pemerintah” dari suatu perusahaan. Untuk
Peraturan Pemerintah menjaga keberlanjutan, perusahaan
Nomor 40 Tahun 1996 Tentang yang menjalankan kegiatan bisnis
Hak Guna Usaha, Hak Guna di tengah-tengah masyarakat perlu
Bangunan Dan Hak Pakai Atas melakukan hubungan-hubungan
Tanah Pasal 4 ayat (3) dan (4) : positif dengan masyarakat.
“Pemberian Hak Guna Usaha atas Sehingga dukungan kuat dari
tanah yang telah dikuasai dengan masyarakat kepada perusahaan
hak tertentu sesuai ketentuan yang dalam melakukan kegiatan bisnis
berlaku, pelaksa naan ketentuan bisa terwujud.
Hak Guna Usaha baru dapat b. Penyebab Timbulnya Sengketa
dilaksanakan setelah selesai Tanah Dari Masyarakat Adat
pelepasan hak sesuai dengan tata Sungai Parit.
cara yang diatur dalam peraturan Penyebab sengketa
perundang-undangan yang berlaku. masyarakat adat Sungai Parit
Dalam hal di atas tanah yang akan dengan PT.Inecda Plantation dari
diberikan dengan Hak Guna Usaha segi masyarakat adatnya karena
itu terdapat tanaman dan/atau kurangnya pengetahuan dari
bangunan milik pihak lain yang masyarakat itu yang rendah yang
keberada annya berdasarkan alas menimbulkan tanah mereka
13
John Elkington, Cannibals With Fork, Triple
Tanggal 11 Februari 2016, Bertempat di Rumah Bottom Line Of Twentieth Century Bussines,
Bapak Irasan Solihin, 2008, hlm 30

JOM Fakultas Hukum Volume III Nomor 2,Oktober 2016 Page 5


digarap tanpa adanya persetujuan Sesungguhnya masyarakat hukum
dari pihak masyarakat adat Sungai adat di Sungai Parit Indragiri
Parit itu sendiri. Tanah Ulayat Hulu, memiliki suatu kewenangan
Masyarakat Sungai Parit yang terhadap tanah-tanah yang ada di
disalah gunakan oleh pihak dalam lingkungan dan pada
tertentu yang tidak tahunya persekutuan tersebut. Wewenang
kepastian terhadap wilayah tanah tersebut berpangkal pada suatu
ulayat di daerah setempat tempat hak penguasaan tanah ulayat
Perusahaan itu didirikan. berdasarkan hak masyarakat
PT.Inecda Plantation yang hukum adat dengan mengelola
tidak melibatkan masyarakat adat tanah-tanah tersebut untuk
Sungai Parit dalam menguasai kepentingan bersama.
lahan. Membuat masyarakat adat Wewenang masyarakat adat
Sungai Parit memandang bahwa atas tanah dan sumber daya yang
pihak PT.Inecda Plantation dimaksud umumnya mencakup:
menyerobot tanah masyarakat
adat Sungai Parit dan masyarakat a. Mengatur dan
adat Sungai Parit tidak menyelenggarakan
mengetahui bahwa perusahaan penggunaan tanah (untuk
telah memegang hak guna pemukiman, bercocok
penguasahaan lahan secara resmi tanam,dan lain-lain)
dari Pemerintahan. Oleh sebab itu persediaan (pembuatan
sangat jarang ditemukan surat- pemukiman/perladangan baru
surat penyerahan tanah dari dan lain-lain) dan
masyarakat adat Sungai Parit pemeliharaan tanah.
kepada PT.Inecda Plantation. b. Mengatur dan menentukan
Masyarakat adat Sungai Parit baru hubungan hukum antara
mengetahui jika tanah adat orang dengan tanah
masyarakat adat Sungai Parit (memberikan hak tertentu
setelah perusahaan telah kepada subyek tertentu).
membuka lahan ditanah adat c. Mengatur dan menetapkan
masyarakat adat Sungai Parit. hubungan hukum antara
Lahan yang ada di orang-orang dan perbuatan-
masyarakat adat Sungai Parit perbuatan hukum yang
adalah lahan yang belum diolah berkenan dengan tanah (jual
atau belum ditanami oleh beli, warisan dan lain-lain).14
masyarakat biasanya dipandang
Masyarakat Adat Desa
sebagai ulayat desa. Masyarakat
Sungai Parit terdiri dari:
Sungai Parit yang mayoritasnya
bekerja sebagai petani yang a. Batin Irasan dari Talang Parit
membutuhkan tanah sebagai b. Batin Perigi Sirapan dari
lahan untuk bercocok tanam. Talang Perigi
Maka mereka memanfaatkan
tanah adat/ulayat di Sungai Parit
untuk menopang hidup mereka 14
Martua Sirait, 2001, Bagaimana Hak-hak
tetapi pihak PT.Inecda Plantation
Masyarakat Adat Dalam Mengelola Sumber Daya
menggarap tanah adat/ulayat Alam Diatur? Dalam Seri Kajian I Kajian-kajian
masyarakat adat Sungai Parit Hak-hak Masyarakat Di Indonesia; Suatu Refleksi
tanpa adanya izin dan ganti rugi Pengaturan Kebijakan Dalam Era Otonomi
terhadap masyarakat sungai parit. daerah, ICRAF- Latin dan P3AE-UI, Jakarta, hlm
6.

JOM Fakultas Hukum Volume III Nomor 2,Oktober 2016 Page 6


c. Batin Sigondok dari Ampang lain, Tanah Hak Ulayat banyak
Delapan yang sudah beralih menjadi hak
d. Batin Barisan Monti dari individu anggota Masyarakat
Talang Parit Hukum Adat dan sudah terdaftar
e. Batin noar dari Talang Parit atau bersertipikat atas nama
f. Batin sagap m.ampang individu-individu tersebut melalui
delapan dari Talang Durian mekanisme Pengakuan Hak
Cacar Bekas Tanah Adat. Harus
g. Batin Sigun dari Talang dipahami, konflik agraria yang
Perigi berlangsung saat ini adalah
h. Batin Gilong dari Talang konflik agraria yang bersifat
Perigi struktural, yakni konflik yang
i. Batin Saiful dari Talang Parit melibatkan penduduk setempat
j. Batin Murian dari Talang berhadapan dengan kekuatan
Parit modal dan atau instrumen
negara.16 Umumnya konflik
Muchammad Tauchid dalam agraria bermula dari proses
bukunya, Masalah Agraria, kebijakan pemerintah yang “me-
mengingatkan, persoalan agraria negara-isasi” tanah-tanah milik
adalah persoalan hidup dan komunitas. Kemudian di atas
penghidupan manusia, karena tanah yang diberi label “tanah
tanah adalah asal dan sumber negara” tersebut, pemerintah
makanan.15 Perebutan tanah menguasakan kepada badan usaha
berarti perebutan makanan, milik swasta maupun pemerintah
perebutan tiang hidup manusia. dalam berbagai hak pemanfaatan,
Untuk itu orang rela seperti Hak Guna Usaha, Izin
menumpahkan darah, Usaha Pemanfaatan Hutan, Izin
mengorbankan segala yang ada Usaha Pertambangan, dan
untuk mempertahankan hidup sebagainya. Konflik agraria yang
selanjunya. bersifat struktural. Maraknya
Penyebab terjadinya sengketa konflik agraria akhir-akhir ini erat
tanah antara Masyarakat Hukum kaitannya dengan meningkatnya
Adat dengan perusahaan adalah perampasan tanah (land
banyaknya Tanah Hak Ulayat grabbing)17 Perampasan tanah
Masyarakat Hukum Adat yang adalah gejala global yang dipicu
belum atau tidak terdaftar (tidak akuisisi lahan skala luas untuk
bersertipikat atas nama kebutuhan pangan global.
Masyarakat Hukum Adat) dan Sektor agraria telah banyak
sekarang tanah tersebut dikuasai diatur dalam Konstitusi Negara
oleh perusahaan, atau dalam kita.18 Negara dimandatkan oleh
perkembangan investasi ekonomi, rakyat untuk mengelola bumi, air
masyarakat Hukum Adat sudah dan kekayaan alam yang
melepaskan hak-haknya terhadap
Tanah Hak Ulayat tersebut 16
Efendi Perangin, Hukum Agraria Di
melalui pembebasahan lahan Indonesia, Suatu Telaah Dari Sudut Pandang
dalam rangka perolehan tanah Praktis Hukum, Jakarta. CV Rajawali. 1983, Hlm.
oleh perusahaan untuk 27
17
Bachtiar Effendi, Pendaftaran Tanah Di
penanaman modal, dan di sisi Indonesia dan Peraturan-Peraturan
Pelaksanaannya. Bandung : Alumni, 1983. Hal. 34
15 18
Muchammad Tauchid, Masalah Agraria, Supriadi, Hukum Agraria, Jakarta. Sinar
Djambatan, Jakarta, 1988, Hlm. 43 Grafika, 2007, Hlm 74

JOM Fakultas Hukum Volume III Nomor 2,Oktober 2016 Page 7


terkandung di dalamnya untuk untuk sebesar-besarnya
sebesar-besarnya kemakmuran kemakmuran rakyat.19 Malah di
rakyat. Cita-cita mulia tersebut beberapa tempat, negara
semestinya mencegah adanya melakukan pembiaran tanah
pertikaian antara Negara dan tersebut menjadi “Tanah Tuan-
Rakyat. “Tanah-tanah di Tuan”, atau milik segelintir “Para
nusantara ini semestinya Tuan Tanah”. Jika negara dan
dibebaskan dari dominasi rakyat sudah tidak lagi mampu
kerakusan pemodal atau mengelola tanah secara
kekuasaan semata”. berketuhanan, maka sangat wajar
jika tanah tersebut tidak akan
c. Penyebab Timbulnya Sengketa menciptakan kesejahteraan, tapi
Tanah Dari Pemerintah Daerah sebaliknya menimbulkan
Indragiri Hulu kesengsaraan. “Jadi, kedua pihak
Pemerintah Daerah Indragiri Rakyat atau Negara bisa saja
hulu yang memberikan izin dalam melakukan kelalian”.
penggarapan tanah adat di Sungai Untuk itu dibutuhkan solusi
Parit yang tanpa melihat secara komprehensif baik dari
masyarakat adat Sungai Parit pemerintah pusat, daerah,
yang masih menjujung tinggi adat peradilan dan seluruh masyarakat
yang ada disekitar dan sekitar untuk meminimalisir
menghilangkan tanah adat/ulayat adanya konflik dibidang
daerah sekitar. Sementara sudah pertanahan. Dalam upaya
dilakukan penelitian yang meminimalisir terhadap sengketa
didorong oleh Badan Pertanahan pertanahan, maka diperlukan
Nasional untuk melihat masih ada strategi yang komprehensif guna
atau tidaknya masyarakat hukum mengantisipasi dan mengurangi
adat di daerah mereka yang angka sengeketa dibidang
dituangkan dalam peraturan pertanahan, maka untuk itu perlu
daerah, sehingga wilayah tanah dilaksanakan beberapa upaya
ulayat suatu masyarakat hukum strategi sebagai berikut :20
adat menjadi lebih pasti. Karena a. Strategis administrative
belum adanya pengakuan resmi Negara, yang sangat
atas tanah ulayat, akan tetapi membutuhkan professional
keberadaan tanah ulayat di yang komprehenship/holistic
Kabupaten Indragiri Hulu disadari (multidisiplin) yang tidak
oleh pejabat-pejabat setempat bisa diserahkan kepada
tetapi masih banyak pihak-pihak professional berorientasi
tertentu yang memanfaatkan produk, perubahan struktur
ketidak tahuan dari masyarakat organisasi sektoral bukan
adat Sungai Parit yang berdasar produk (komoditas)
menimbulkan sengketa tanah adat tetapi struktur organisasi atas
masyarakat Sungai Parit dengan dasar proses. Hal ini
PT.Inecda Plantation. meminimalisasi kepentingan-
Negara bisa juga dikatakan
lalai atau tidak sedang 19
M Wahid, Memaknai Kepastian Hukum Hak
melaksanakan prinsip-pirinsip Milik Atas Tanah:Suatu Analisis dengan
pengelolaan tanah secara Pendekatan Terpadu Secara Normatif dan
berketuhanan, karena hasil bumi Sosiologis. Republika, Jakarta, 2008, hal. 67
20
tidak lagi mampu digunakan A P Perlindungan., Pendaftaran Tanah Di
Indonesia, Bandung. Mandar Maju,1998, Hlm 82

JOM Fakultas Hukum Volume III Nomor 2,Oktober 2016 Page 8


kepentingan sektoral atas semua sektor mengacu kalau
dasar produk yang tidak mau dikatakan
berdampak kebijakan yang berbenturan dengan
dibuat menteri sebenarnya penguasaan oleh kehutanan
hanya hasil salah satu deputy yang sebenarnya
yang tupoksinya produk penguasaannya oleh
bukan proses yang kekuasaan Negara. Sehingga
membutuhkan professional perlu pertanyaan besar
multidisiplin). Sekarang tidak dimana letak demokrasinya
bedanya format yang terjadi untuk rakyat tanpa kekuasaan
di Perguruan Tinggi dengan Negara yang bekerja
pembagian fakultasnya, apa (executive bersama
seperti ini format legislative terkait dengan
Administrasi untuk semua tanah, Mengapa anggaran
Kementerian di Indonesia? bisa).
Reformasi administrative. d. Stategi Masyarakat,
Khusus bidang pertanahan masyarakat sebenarnya dapat
harus Bagaimana? meredam sendiri konflik
b. Yudikatif, menyelesaikan yang terjadi di
timpang tindih perundangan lingkungannya. Untuk itu
dan rekomendasi perumusan dibutuhkan kearifan dan
payung regulasi pertanahan kemauan bersama untuk
Negara dapat dibentuk menyelesaikan persoalan
“KPN” Komisi Pertanahan pertanahan yang menjadi
Negara yang merupakan objek sengketa antara yang
bentuk implementasi regulasi satu dengan yang lainnya.
kekuasaan Negara terhadap Sengketa tanah masyarakat
tanah Negara, yang sekarang adat sungai parit terjadi karena
diemban oleh kekuasaan masuknya rumah tangga baru atau
pemerintah dan hanya investasi dari PT.Inecda
sektoral. Plantation. Salah satu konflik
c. Strategi legislative (wakil tanah yang paling umum dan
rakyat) bersama presiden sering terjadi adalah masuknya
berkewajiban mengatur rumah tangga uang. PT.Inecda
semua kebijakan terkait Plantation sebagai pemilik modal
kekuasaan Negara, RAPBN mengabaikan hak-hak masyarakat
(anggaran pendapatan dan adat Sungai Parit untuk meminta
belanja Negara sudah benar, izin kepada Pemerintah untuk
RPTPN (Rencana Penyediaan mengelola tanah milik masyarakat
Tanah Pembangunan Negara adat Sungai Parit dengan hak
saat belum bekerja guna usaha. Pemerintah tanpa izin
legislative, executive pun kepada masyarakat Sungai Parit
menyerahkan kepada sektoral berdasarkan Pasal 33 Undang-
yang menguasai Undang Dasar Negara Republik
(administrative–BPN, Indonesia Tahun 1945 dan
penguasaan tanah dominan – Undang-Undang Nomor 5 Tahun
Kehutanan). Pertanyaannya 1960 dan Undang-Undang
apakah kehutanan bukan Penanaman Modal memberi izin
sektoral komoditas? Mengapa kepada para pemilik modal
menguasai tanah Negara dan melalui investasi.

JOM Fakultas Hukum Volume III Nomor 2,Oktober 2016 Page 9


Dalam kaitannya dengan bertindak salah satu pemegang
pemanfaatan tanah adat bagi saham dengan prinsip bagi hasil.
orang diluar persekutuan Namun tentunya kemampuan
masyrakat hukum adat, hak ulayat masyarakat untuk membuat
mempunyai daya berlaku perjanjian-perjanjian kerjasama
eksternal,artinya bahwa orang- dengan pihak perusahaan yang
orang asing yang bukan anggota dapat merugikan masyarakat adat
persekutuan baik para pendatang perlu dikhawatirkan, sehingga
maupun juga yang berasal dari disinilah peran pemerintah sangat
persekutuan tetangga, dapat dibutuhkan sebagai fasilitator.
memanfaatkan tanah adat dengan Pemerintah tidak lagi
lebih dahulu mendapatkan izin berperan sebagai pihak dalam
dari kepala persekutuan dengan perjanjian pemanfaatan tanah
membayar sejumlah uang adat, tetapi menjadi fasilitator
pengakuan terlebih dahulu dan sehingga perjanjian pemanfaatan
sebuah ganti rugi yang dibayar tanah yang selama ini melibatkan
kemudian, yang didalamnya investor Negara dalam hal ini
orang asing pada prinsipnya tidak pemerintah dan masyarakat adat,
dapat memperoleh hak individual dapat diubah menjadi investor
atas tanah yang lebih lama dari langsung kepada masyarakat
hak menikmatinya ialah satu hukum adat sebagai suatu badan
periode panen (hak menikmati), hukum
dan bahwa para pendatang dari
luar ialah orang-orang B. Upaya yang dilakukan untuk
nonpersekutuan tidak Penyelesaian Sengketa Tanah
diperkenankan mewarisi, PT.Inecda Plantation dengan
mewariskan maupun membeli dan Masyarakat Adat Sungai Parit
menerima gadai atas tanah-tanah 1. Upaya Yang Dilakukan Oleh
pertanian, bahkan memasuki Kepala Desa Dengan Mediasi
daerah hak ulayat dapat saja Sengketa mengenai ada
dilarang secara hukum adat atau tidaknya hak ulayat, harus
diikat dengan persyaratan- dilihat ke lapangan keadaan
21
persyaratan. nyatanya atau tanda-tanda
Oleh karena itu diperlukan tanah ulayat, dimana kriteria
Peraturaan Daerah yang mengatur penentu keberadaan hak ulayat
pemanfaatan tanah ulayat bagi terdiri dari tiga unsur, yaitu
pengembangan investasi yang adanya masyarakat adat
lebih berpihak pada masyarakat tertentu, adanya hak ulayat
hukum adat sebagai pemegang berupa tanah ulayat yang
hak ulayat. Artinya bahwa menjadi lingkungan hidup dan
investor dapat memnfaatkan tanah tempat mengambil keperluan
ulayat berdasarkan kesepakatan hidup masyarakat hukum adat,
dengan masyarakat hukum adat. dan adanya tatanan hukum adat
selaku pemenga hak ulayat mengenai pengurusan,
masyarakat hukum adat tidak penguasaan, dan penggunaan
harus melepaskan haknya kepada tanah ulayat yang berlaku dan
pihak ketiga tetapi dapat
21
Ter Haar B, Asas-asas Dan Tatanan Hukum
Adat (Terjemahan), Mandar Maju, Bandung, 2011,
hlm 55

JOM Fakultas Hukum Volume III Nomor 2,Oktober 2016 Page 10


ditaati oleh masyarakat hukum Plantation. Setelah 5 (lima) hari
adat.22 baru diterima kedatangan
Sengketa Tanah PT.Inecda kepala adat Sungai Parit dengan
Plantation dengan masyaraka Bupati Indragiri Hulu,
adat Sungai parit dilakukan Perundingan yang dilakukan
dengan upaya mediasi karena oleh PT.Inecda Plantation
masyarakat adat Sungai Parit dengan Kepala Adat Sungai
menjunjung tinggi musyawarah Parit dan Bupati Indragiri Hulu,
dalam menyelesaikan sengketa PT.Inecda Plantation
dengan jalan perdamaian memerikan 3 (tiga) alternatif
dengan cara musyawarah kepada Kepala Adat Sungai
mufakat untuk menemukan Parit.23
jalan keluar yang baik tanpa Setelah perundingan
adanya pihak yang dirugikan. tersebut pihak PT.Inecda tetap
Penyelesaian Sengketa menggarap ditanah adat
tanah masyarakat adat Sungai masyarakat adat Sungai Parit.
Parit dengan PT.Inecda Pada tahun 2004 Kepala Adat
Plantation bahwa masyarakat Sungai Parit melaporkan pihak
adat Sungai Parit menjujung PT.Inecda Plantation kepada
tinggi nilai keadilan yang mana Komisi Nasional Hak Asasi
masyarakat adat pertama Manusia, Badan Pertanahan
bermusyawarah dengan kepala- Nasional dan Kementerian
kepala suku masyarakat adat Lingkungan Hidup. 24Dalam
Talang Mamak yang ada di kasus PT.Inecda Plantation
Sungai Parit. Mereka dengan Masyarakat Adat
berpedoman pada adat istiadat Sungai Parit menyelesaikan
yang mereka yakini. Pada sengketa tanah masyarakat adat
sengketa tanah ada PT.Inecda dengan proses mediasi dengan
Plantation dengan masyarakat campur tangan dari pihak
Adat Sungai Parit upaya yang ketiga untuk menyelesaikan
dilakukan adalah pada pihak sengketa tanpa memperdulikan
Masyarakat Adat Sungai Parit bahwa kedua belah pihak yang
sudah melakukan itikad baik bersengketa meminta bantuan
kepada PT.Inecda Plantation atau tidak. Penyelesaian
untuk menyelesaikan Sengketa antara PT.Inecda
permasalahan dengan baik-baik Plantation dengan Masyarakat
karena tidak adanya tanggapan Adat Sungai Parit dilakukan
dari pihak PT.Inecda Plantation dengan mediasi pertama kali
kepada Masyarakat Adat pada Tanggal 15 Januari 2013
Sungai Parit maka Kepala Adat dimediasi kan oleh Kepala
masyarakat adat Sungai Parit Desa Sungai Parit di Balai
mendatangi PT.Inecda Pusat Kantor Kepala Desa,
yang berada di Jakarta, namun masyarakat Adat meminta
itikad baik masyarakat adat PT.Inecda Plantation Untuk
ditolak selama 5 (lima) hari tidak menggarap ditanah adat
kepala adat tidak boleh masuk tanpa adanya persetujuan dari
kedalam kantor PT.Inecda masyarakat adat Sungai Parit,

22 23
Pasal 2, Undang-Undang Nomor 5 Tahun Wawancara dengan Bapak Irasan, Op.Cit.
24
1960, Op.cit Ibid.

JOM Fakultas Hukum Volume III Nomor 2,Oktober 2016 Page 11


dalam mediasi pertama pada 2. Upaya Yang Dilakukan Oleh
PT.Inecda Plantation Pemerintah Daerah Dengan
memberikan ganti rugi kepada Mediasi
masyarakat adat Sungai Parit, Karena proses mediasi
ganti rugi diberikan pada tidak mendapat titik terang
tanggal 20 februari 2013 maka pada tanggal 21 oktober
namun masyarakat adat Sungai 2011 masyarakat meminta
Parit tidak mau menerima ganti kepada pemerintah keadilan
rugi tersebut.25 kepada pemerintah daerah
Upaya penyelesaian Indragiri Hulu untuk
sengketa tanah PT.Inecda menyelesaikan sengketa tanah
Plantation dengan masyarakat adat dengan PT.Inecda
adat Sungai Parit dapat Plantation. Pada tanggal 10
memberikan perlindungan Januari Tahun 2004
hukum bagi tanah adat yang Pemerintah Daerah melakukan
ada di Sungai Parit sehingga proses mediasi kedua yang
tidak adanya lagi sengketa dimediatori oleh kepala bagian
tanah adat dengan pihak Pertanahan Daerah Indragiri
PT.Inecda Plantation, sehingga Hulu, masyarakat adat
pihak PT.Inecda Plantation meminta perlindungan hukum
tidak melanggar hak-hak tanah bagi masyarakat adat Sungai
adat masyarakat adat Sungai Parit terhadap tanah adat
Parit. Pihak Pemerintah Daerah mereka. Supaya tidak ada lagi
lebih memperhatikan investasi- sengketa antara PT dengan
investasi yang masuk di Daerah Masyarakat adat disekitar
sehingga Tanah adat perusahaan yang berdiri.
Masyarakat sekitar Perusahaan Tetapi PT.Inecda Plantation
berdiri dapat dikelola dengan tetap menggarap ditanah milik
baik dan tidak ada pihak yang masyarakat adat Sungai Parit,
dirugikan, dan PT.Inecda masyarakat meminta
Plantation juga memerikan PT.Inecda Plantation selama
tanggung jawab sosial nya 21(dua puluh satu) hari untuk
terhadap masyarakat sekitar tidak menggarap tanah
yang ada diperusahaannya masyarakat adat Sungai Parit
seperti mempekerjakan terhitung dari proses mediasi,
masyarakat yang karena PT.Inecda Plantation
penggangguran disekitar tetap menggarap ditanah
perusahaan, memperaiki jalan masyarakat adat Sungai Parit
yang ada disekitar agar maka masyarakat adat Sungai
transfortasi berjalan lancar Parit menggugat PT.Inecda
disekitar masyarakat adat dan Plantation dengan melaporkan
perusahaan, dan PT.Inecda PT.Inecda Plantation kepada
Plantation memerikan ganti Kementerian Naional Hak
kerugian terhadap tanah adat Asasi Manusia, Badan
Sungai Parit yang digarap oleh Pertanahan Nasional dan
PT.Inecda Plantation. Kementerian Lingkungan
Hidup. Pada Tanggal 15
Februari 2016 di adakan
pertemuan oleh Badan
25 Pertanahan Nasional dan
Wawancara dengan Bapak Irasan, Op Cit.

JOM Fakultas Hukum Volume III Nomor 2,Oktober 2016 Page 12


Kementrian Lingkungan Hidup Parit adalah karena masuknya
bertempat diaur cina untuk rumah tangga baru atau investasi
mendengarkan pendapat dari PT.Inecda Plantation yaitu
masyarakat adat Sungai Parit rumah tangga uang. Serta
terhadap tanah adat yang PT.Inecda Plantation
digarap oleh PT.Inecda mengabaikan hak-hak
Plantation. Hasil pertemuan masyarakat adat Sungai Parit
tersebut sebagian tanah adat dan Pemerintah tidak tegas
masyarakat Sungai Parit dalam melihat investasi-
dikembalikan kepada investasi yang masuk di
Kementrian Lingkungan Hidup Daerahnya sendiri sehingga
untuk dikelola.26 perusahaan yang berdiri
Dari laporan hasil Dialog dilingkungan masyarakat
Reformasi Kebijakan mengabaikan adat daerah
Pertanahan di Indonesia tahun setempat dan tidak
2001 dan hasil Diskusi memperhatikan kondisi daerah
Pertanahan tahun 2002, telah tempat mereka mendirikan
memberikan suatu gambaran perusahaannya.
kepada semua pihak bahwa 2. Penyelesaian sengketa tanah
masalah konflik dan sengketa PT.Inecda Plantation dengan
tanah adalah masalah yang masyarakat adat Sungai Parit
utama dan sangat penting serta adalah dengan tahap mediasi
tidak dapat ditunda-tunda lagi yang pertama dilakukan pada
untuk segera ditangani oleh Tanggal 15 Januari 2013
pemerintah. dimediasi kan oleh Kepala Desa
Dalam Kasus PT.Inecda Sungai Parit di Balai Kantor
Plantation dan Masyarakat adat Kepala Desa, Pada tanggal 10
Sungai parit dilakukan Januari Tahun 2004 Pemerintah
penyelesaian secara mediasi Daerah melakukan proses
karena masyarakat adat Sungai mediasi kedua yang dimediatori
Parit menjunjung tinggi oleh kepala bagian Pertanahan
musawarah yang dilakukan Daerah Indragiri Hulu, Pada
dengan cara damai sehingga Tanggal 15 Februari 2016 di
mediasi lah diambil untuk adakan pertemuan oleh Badan
menyelesaikan sengketa. Pertanahan Nasional dan
Kementrian Lingkungan Hidup
bertempat diaur cina untuk
A.Kesimpulan mendengarkan pendapat
Berdasarkan uraian hasil masyarakat adat Sungai Parit
penelitian dan pembahasan di atas, terhadap tanah adat yang
penulis memberikan kesimpulan digarap oleh PT.Inecda
sebagai berikut: Plantation. Hasil pertemuan
1. Penyebab timbulnya Sengketa tersebut sebagian tanah adat
tanah PT.Inecda Plantation masyarakat Sungai Parit
dengan masyarakat adat Sungai dikembalikan kepada
Kementrian Lingkungan Hidup
26
Wawancara dengan Kepala Kantor Hukum untuk dikelola.
dan HAM bagian Pertanahan Pemerintah Daerah
Indragiri Hulu, hari Senin Tanggal 18 April 2016,
Bertempat di Kantor Hukum dan HAM bagian
Pertanahan Pemerintah Daerah Indragiri Hulu

JOM Fakultas Hukum Volume III Nomor 2,Oktober 2016 Page 13


B.Saran Telaah Dari Sudut Pandang
1. Dalam menyelesaikan sengketa Praktis Hukum, CV Rajawali.
tanah PT.Inecda Plantation dengan Jakarta.
Masyarakata Adat Sungai Parit John Elkington, 2008, Cannibals
diharapkan masyarkat adat suku With Fork, Triple Bottom
Talang tidak dengan emosional, akan Line Of Twentieth Century
tetapi lebih menggunakan kepala Bussines, Solihin.
dingin sehingga sengketa dapat Martua Sirait, 2001, Bagaimana
terselesaikan dengan cepat, aman Hak-hak Masyarakat Adat
dan tidak melebar ke hal-hal lainnya. Dalam Mengelola Sumber
2. Sebaiknya Pemerintah Daerah Daya Alam Diatur? Dalam
Kabupaten Indragiri Hulu di dalam Seri Kajian I Kajian-kajian
memanfaatkan tanah ulayat tersebut Hak-hak Masyarakat Di
agar lebih cepat untuk dijadikan Indonesia; Suatu Refleksi
lahan permukiman transmigarsi, Pengaturan Kebijakan
dengan cara mendaftarkan tanah- Dalam Era Otonomi daerah,
tanahnya agar mendapatkan bukti ICRAF- Latin dan P3AE-UI,
kepemilikan tanah yang kuat Jakarta,
(sertifikat tanah) melalui Badan Muchammad Tauchid, 1998,
Pertanahan Nasional. Masalah Agraria,
3. Sudah waktunya bagi Pejabat- Djambatan, Jakarta.
pejabat yang berwenang dalam hal M Wahid, 2008, Memaknai
ini (Kecamatan dan Badan Kepastian Hukum Hak Milik
Pertanahan Nasional) untuk kembali Atas Tanah:Suatu Analisis
melakukan sosialisasi mengenai dengan Pendekatan Terpadu
berbagai peraturan yang berkaitan Secara Normatif dan
dengan bidang pertanahan Sosiologis. Republika,
khususnya dalam hal kepemilikan Jakarta.
tanah. Sosialisasi tersebut dapat Supriadi, 2007, Hukum Agraria,
dilakukan melalui penyuluhan- Sinar Grafika, Jakarta.
penyuluhan kepada masyarakat adat Ter Haar B, 2011, Asas-asas Dan
di Sungai Parit. Tatanan Hukum Adat
(Terjemahan), Mandar Maju,
F. Daftar Pustaka Bandung.
a. Buku
A P Perlindungan.,1998, b. Jurnal/Tesis/Skripsi/Kamus
Pendaftaran Tanah Di Hasmah Diana, ,“Analisis Yuridis
Indonesia, Mandar Maju, Penyelesaian Sengketa Tanah
Bandung. Untuk Kepentingan Usaha
Bachtiar Effendi, 1983, (Studi di Kota Samarinda)”,
Pendaftaran Tanah Di Jurnal Ilmu Hukum, Fakultas
Indonesia dan Peraturan- Hukum Universitas
Peraturan Pelaksanaannya. Mulawarman, 23 Juli 2013.
Alumni, Bandung : Rifai Affandi, Ilyas Ismail,
Didik J Rachbini, Arsitektur Suhaimi, 2013,
Hukum Investasi Indonesia, “Penyelesaian Sengketa
Jakarta, Kencana, 2010, Penguasaan Tanah Hak
hlm.12 Guna Usaha (HGU)
Efendi Perangin, 1983, Hukum Perkebunan Kelapa Sawit
Agraria Di Indonesia, Suatu antara

JOM Fakultas Hukum Volume III Nomor 2,Oktober 2016 Page 14


PT.UBERTRACO/NAFASI Prosedur Mediasi di
NDO dengan Masyaratak Pengadilan
(suatu penelitian di
kabupaten Aceh Singkil)”,
Jurnal Ilmu Hukum, d. Website
Fakultas Hukum
universitas Syiah Kuala. http://www.bpmdppt.inhukab.go.i
Asmawati, “Mediasi Salah Satu d/index.php?com=halumata
Cara Dalam Penyelesaian &link=profil_inhu, diakses,
Sengketa Pertanahan”, tanggal, 03 november 2015.
Jurnal Ilmu Hukum, http://metroterkini.com/berita-
Fakultas Hukum 12038-sejumlah-
Universitas Jambi, 2014. perusahaan-perkebunan-di-
Hengki Andora, “Penyelesaian inhu-bermasalah.html,
Sengketa Tanah Ulayat diakses, Tanggal, 03
melalui Mediasi oleh November 2015
Kerapatan Adat Nagari Air http://fokusnews.net/07/05/2015/i
Tabit Kota Payakumbuh”, ndex-
Artikel Pada Jurnal Ilmu berita/regional/inhu/sengket
Hukum Yustisia, Fakultas a-lahan-warga-vs-pt-inecda-
Hukm Universitas Andalas, plantations-erujung-surati--
Vol. 20, No. 1 (Januari- dpr/, diakses, tanggal, 20
Juni) 2013. November 2015.
Lutfi Nsution, Catatan Ringkas
Tentang Pemberdayaan
Masyarakat Dalam
Pengelolaan dan
Pemanfaatan Tanah,
Pokok-Pokok Pikiran
Dalam Sarasehan

c. Peraturan Perundang-Undangan
Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1960 tentang Peraturan
dasar Pokok-Pokok Agraria
Peraturan Menteri Negara
Agraria/Kepala Badan
Pertanahan Nasional Nomor
5 Tahun 1999, tentang
Pedoman Penyelesaian
Masalah Hak Ulayat
Masyarakat Hukum Adat
Undang-Undang Nomor 40
Tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas
Peraturan Mahkamah Agung
Republik Indonesia Nomor
1 Tahun 2008 tentang

JOM Fakultas Hukum Volume III Nomor 2,Oktober 2016 Page 15