Sie sind auf Seite 1von 12

Sifat-sifat Dasar Integral Riemann di ℝ𝟐

Muhammad Abdy1, a), Ilham Minggi1, b), dan Khaerani Nurdin1, c)


1
Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Makassar; 90224
a)
abdy02@yahoo.com
b)
ilhamminggi@gmail.com
c)
nurdinkhaerani@gmail.com

Abstrak. Penelitian ini adalah penelitian kajian pustaka yang bertujuan untuk mengkaji sifat-sifat dasar
integral Riemann di ℝ2 . Dalam mempelajari sifat-sifat dasar integral Riemann di ℝ2 , digunakan metode
studi literatur. Kajian dimulai dari definisi partisi di ℝ, definisi jumlahan Riemann di ℝ, dan definisi
integral Riemann di ℝ. Selanjutnya, dikaji pula beberapa sifat dasar integral Riemann yang berlaku di ℝ
seperti: sifat ketunggalan, Kriteria Cauchy, eksistensi integral Riemann, sifat kelinearan, dan sifat
keterbatasan yang akan dikembangkan di ℝ2 . Sebagai hasil penelitian, berhasil dikembangkan definisi
integral Riemann dan sifat ketunggalan di ℝ2 . Selain itu, berhasil pula dikembangkan Kriteria Cauchy,
eksistensi integral Riemann, sifat kelinearan, dan sifat keterbatasan di ℝ2 . Untuk penelitian selanjutnya,
integral Riemann dapat dikembangkan ke ℝ3 atau ke ℝ𝑛 dengan berbagai sudut tinjauan.
Kata Kunci: integral Riemann, sifat-sifat dasar, ℝ2 .

Abstract. This research is a literature study which aims to examine the basic properties of Riemann
integrals in ℝ2 . In studying the basic properties of the Riemann integral in ℝ2 , the literature study
method is used. The study starts from the definition of partition in ℝ, definition of Riemann sum in ℝ, and
the Riemann integral definition in ℝ. Furthermore, we also examine some of the basic characteristics of
the Riemann integral that apply in ℝ such as: the nature of singularity, the Cauchy Criteria, the existence
of Riemann integrals, the nature of linearity, and the nature of limitations to be developed in ℝ2 . As a
result of research, definitions of Riemann integral and characteristics of unity in ℝ2 have been
developed. Besides that, it was also successfully developed Cauchy Criteria, the existence of Riemann
integrals, linearity properties, and the nature of limitations in ℝ2 . For further research, Riemann
integrals can be developed to ℝ3 or to ℝ𝑛 with various viewpoints.
Keywords: Riemann integral, the basic properties, ℝ2 .

PENDAHULUAN

Teori integral yang dipelajari untuk jenjang Strata 1 (S1) sekarang ini ada dua macam yaitu
integral anti turunan dan integral Riemann. Keduanya memiliki pengembangan tersendiri dalam
hal menyelesaikan integral, sehingga integral anti turunan terlihat lebih mudah digunakan.
Namun demikian, integral Riemann lebih banyak aplikasinya dalam rekayasa. Terdapat fungsi
yang sekaligus terintegral Riemann dan terintegral anti turunan. Kedua integral tersebut
berangkat dari perkembangan limit dan turunan.
Pengertian limit dan turunan di suatu titik pertama kali diperkenalkan oleh ilmuwan
matematika, salah satunya adalah I.Newton (1642-1727). Newton memanipulasi pengertian
turunan suatu fungsi beserta sifat-sifatnya dan menyusun pola teori integral pertama kali yang
disebut teori integral Newton. Fungsi 𝑓: [𝑎, 𝑏] → ℝ dikatakan terintegral Newton pada [𝑎, 𝑏]
jika ada fungsi 𝐹: [𝑎, 𝑏] → ℝ sehingga 𝐹 kontinu pada [𝑎, 𝑏] dan 𝐹 ′ (𝑥) = 𝑓(𝑥) untuk setiap
𝑥 ∈ (𝑎, 𝑏).
𝑏
Nilai (𝑁) ∫𝑎 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 = 𝐹(𝑏) − 𝐹(𝑎) disebut integral Newton fungsi 𝑓 pada [𝑎, 𝑏]. Integral
Newton dapat diterapkan pada perhitungan luas daerah di bawah kurva yang dibatasi oleh
sumbu-𝑥 atau sumbu-𝑦 (Purcell, dkk., 2010). Selanjutnya A. Cauchy (1789-1857)
mendefinisikan integral sebagai berikut.
Diberikan fungsi 𝑓: [𝑎, 𝑏] → ℝ dan 𝑃 = {𝑎 = 𝑥0 , 𝑥1 , … , 𝑥𝑛 = 𝑏}. Partisi pada [𝑎, 𝑏], ditulis
‖𝑃‖, didefinisikan sebagai
‖𝑃‖ = maks{(𝑥𝑖 − 𝑥𝑖−1 ); 1 ≤ 𝑖 ≤ 𝑛 dan 𝑥1 = 𝑎}
𝑥𝑖 +𝑥𝑖−1 𝑏
𝑡𝑖 = 2
dengan 1 ≤ 𝑖 ≤ 𝑛, maka bilangan 𝐼 = (𝐶) ∫𝑎 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 disebut integral Cauchy
fungsi 𝑓 pada [𝑎, 𝑏] jika
𝑛 𝑏
𝑥𝑖 + 𝑥𝑖−1
lim ∑ 𝑓(𝑡𝑖 )(𝑥𝑖 − 𝑥𝑖−1 ) = (𝐶) ∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 = 𝐼 ; 𝑡𝑖 = ,1 ≤ 𝑖 ≤ 𝑛
‖𝑃‖→0 2
𝑖=1 𝑎
dengan kata lain, untuk setiap bilangan 𝜀 > 0, ada bilangan 𝛿 > 0 sehingga untuk setiap partisi
𝑃 pada [𝑎, 𝑏] dengan ‖𝑃‖ < 𝛿 berlaku
𝑛

|∑ 𝑓(𝑡𝑖 )(𝑥𝑖 − 𝑥𝑖−1 ) − 𝐼| < 𝜀


𝑖=1
(D.C. Gillespie, dalam Achmad, 2005).
Kemudian pada tahun 1854, Bernhard Riemann (1826-1866) mulai memperhalus definisi yang
digunakan oleh Cauchy, dan mengadakan penelitian tentang integral fungsi diskontinu.
Riemann berhasil menemukan suatu metode khusus dari integral yang sangat simpel untuk
didefinisikan. Metode integral ini disebut integral Riemann (Sinay, 2012). Riemann
memperbaiki integral Cauchy dengan mengambil 𝑡𝑖 sebagai sebarang titik di dalam selang
bagian [𝑥𝑖−1 , 𝑥𝑖 ]. Dengan sedikit perbaikan ini ternyata hasilnya sangat menakjubkan, fungsi
terbatas dan diskontinu di beberapa titik terintegralkan secara Riemann. Fungsi yang
terintegralkan merupakan fungsi yang terbatas. Tetapi, tidak semua fungsi yang terbatas
terintegral Riemann (Achmad, 2005).
Riemann mendefinisikan integral sebagai berikut. (Sinay, 2012)
Suatu fungsi 𝑓: [𝑎, 𝑏] → ℝ dikatakan terintegral Riemann jika ada bilangan 𝐴 sehingga untuk
setiap 𝜀 > 0 terdapat 𝛿 > 0 sehingga jika
𝑃 = {𝑎 = 𝑥0 , 𝑥1 , 𝑥2 , … , 𝑥𝑛 = 𝑏; 𝑡1 , 𝑡2 , … , 𝑡𝑛 }; 𝑡𝑖 ∈ [𝑥𝑖−1 , 𝑥𝑖 ] , 1 ≤ 𝑖 ≤ 𝑛
partisi Riemann pada [𝑎, 𝑏] dengan ‖𝑃‖ < 𝛿 berlaku
𝑛

|∑ 𝑓(𝑡𝑖 )(𝑥𝑖 − 𝑥𝑖−1 ) − 𝐴| < 𝜀.


𝑖=1
Selanjutnya bilangan 𝐴 disebut nilai integral Riemann fungsi 𝑓 pada [𝑎, 𝑏] dan dinotasikan
dengan
𝑏

𝐴 = (𝑅) ∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 .
𝑎
Integral Riemann pada dasarnya hanya membahas fungsi-fungsi dari ℝ ke ℝ. Dengan demikian
banyak hal yang dapat menjadi aspek pengembangan dari integral Riemann, diantaranya adalah
fungsi-fungsi dari ℝ2 ke ℝ, dari ℝ3 ke ℝ, dari ℝ2 ke ℝ2 , dari ℝ𝑛 ke ℝ𝑚 , dan seterusnya. Pada
tulisan ini membahas integral Riemann dengan fungsi dari ℝ2 ke ℝ.
KAJIAN PUSTAKA

Penelitian Relevan

Achmad (2005) dalam tulisannya yang membahas karakteristik fungsi-fungsi yang


terintegral Riemann. Fungsi yang dibahas dalam tulisan Achmad adalah fungsi dari ℝ
ke ℝ (𝑓: ℝ → ℝ). Selanjutnya, Andiwijaya (2012) yang membahas ketunggalan nilai
integral Henstock dan sifat linear pada integral Henstock. Tulisan Andiwijaya
merupakan pengembangan dari integral Riemann dengan mengubah bilangan positif 𝛿
menjadi fungsi positif 𝛿. Fungsi-fungsi yang dibahas pada tulisan Andiwijaya adalah
fungsi yang domainnya ℝ (𝑓: ℝ → ℝ). Selanjutnya, Ilwaru, dkk. (2012) dalam
tulisannya yang membahas beberapa teorema kekonvergenan pada integral Riemann.
Fungsi yang dibahas masih fungsi dengan domain ℝ (𝑓: ℝ → ℝ).

Teorema 1

Jika 𝑎 ∈ ℝ, sehingga 0 ≤ 𝑎 < 𝜀 untuk setiap 𝜀 > 0 maka 𝑎 = 0, (Bartle, 2011).


Bukti:
Dibuktikan dengan kontradiksi.
1
Andaikan 𝑎 ≠ 0, berarti 𝑎 > 0 (diketahui 0 ≤ 𝑎 < 𝜀). Pilih 𝜀0 = 2 𝑎, 𝑎 > 0, diperoleh
1
0< 𝑎<𝑎
2
0 < 𝜀0 < 𝑎
Kontradiksi dengan pernyataan bahwa 0 ≤ 𝑎 < 𝜀, ∀𝜀 > 0.
Jadi, 𝑎 = 0. ∎

METODE PENELITIAN

Penelitian ini digolongkan dalam jenis kajian pustaka dengan menggunakan literatur beberapa
buku, jurnal, skripsi, tesis, dan disertasi. Penelitian dilakukan pada bulan Juni - November 2018
dengan melakukan studi literatur terhadap teori integral Riemann di ℝ, kemudian sejumlah
informasi terkumpul dilakukan kajian kepustakaan. Selanjutnya, mendefinisikan yang
dibutuhkan untuk membangun integral Riemann di ℝ2 , kemudian membuktikan sifat-sifat dasar
integral Riemann di ℝ2 .

HASIL PENELITIAN

Ruang ℝ𝟐

Dalam tulisan ini, ℝ menyatakan bilangan real dan ℝ+ menyatakan himpunan bilangan real
positif.
Definisi 2
Menurut Indrati (2002), bentuk ruang euclide ℝ𝑛 sebagai berikut,
ℝ𝑛 = {𝒙 = (𝑥1 , 𝑥2 , … , 𝑥𝑛 ): 𝑥𝑖 ∈ ℝ 𝑑𝑎𝑛 1 ≤ 𝑖 ≤ 𝑛}
Selanjutnya untuk n=2,
ℝ2 = {𝒙 = (𝑥1 , 𝑥2 ): 𝑥𝑖 ∈ ℝ 𝑑𝑎𝑛 1 ≤ 𝑖 ≤ 2}
merupakan ruang linear terhadap:
Operasi penjumlahan
𝒙 + 𝒚 = (𝑥1 , 𝑥2 ) + (𝑦1 , 𝑦2 ) ≡ (𝑥1 + 𝑦1 , 𝑥2 + 𝑦2 )
Operasi perkalian dengan skalar
𝛼𝒙 = 𝛼(𝑥1 , 𝑥2 ) ≡ (𝛼𝑥1 , 𝛼𝑥2 ).

Selanjutnya, di ℝ2 didefinisikan norm sebagai berikut:


‖𝒙‖ = √𝑥1 2 + 𝑥2 2 . (Pfeffer, 1993)
Jarak antara dua titik atau antara dua vektor 𝒙 = (𝑥1 , 𝑥2 ) dan 𝒚 = (𝑦1 , 𝑦2 ) di dalam ℝ2
disajikan dengan
𝑑(𝒙, 𝒚) = ‖𝒚 − 𝒙‖ = √(𝑦1 − 𝑥1 )2 + (𝑦2 − 𝑥2 )2 .
Dua anggota 𝒂 = (𝑎1 , 𝑎2 ) dan 𝒃 = (𝑏1 , 𝑏2 ) di dalam ℝ2 dikatakan:
𝒂 < 𝒃 jika 𝑎𝑖 < 𝑏𝑖 untuk 𝑖 = 1,2.
𝒂 = 𝒃 jika 𝑎𝑖 = 𝑏𝑖 untuk 𝑖 = 1,2.
𝒂 ≤ 𝒃 jika 𝑎𝑖 ≤ 𝑏𝑖 untuk 𝑖 = 1,2.
Definisi 3
Menurut Nurdin (2018), terdapat empat jenis selang dalam ℝ𝑛 khususnya untuk 𝑛 = 2 dan
didefinisikan sebagai berikut:
[𝒂, 𝒃] = {𝒙 ∈ ℝ2 ∶ 𝒂 ≤ 𝒙 ≤ 𝒃}
[𝒂, 𝒃) = {𝒙 ∈ ℝ2 ∶ 𝒂 ≤ 𝒙 < 𝒃}
(𝒂, 𝒃] = {𝒙 ∈ ℝ2 ∶ 𝒂 < 𝒙 ≤ 𝒃}
(𝒂, 𝒃) = {𝒙 ∈ ℝ2 ∶ 𝒂 < 𝒙 < 𝒃}
Jika 𝒂 < 𝒃 himpunan
[𝒂, 𝒃] = {𝒙 ∶ 𝒙 ∈ ℝ2 dan 𝑎𝑖 ≤ 𝑥𝑖 ≤ 𝑏𝑖 𝑖 = 1,2}
disebut selang tertutup sejati (non-degenerate closed interval) atau sel tertutup atau sel. Jika
tidak demikian, [𝒂, 𝒃] disebut selang degenerate. Selanjutnya, titik 𝒙 = (𝑥1 , 𝑥2 ) dengan 𝑥𝑖 = 𝑎𝑖
atau 𝑥𝑖 = 𝑏𝑖 , 𝑖 = 1,2, disebut titik verteks sel 𝐸, dan himpunan {(𝑥1 , 𝑥2 ): 𝑎𝑖 ≤ 𝑥𝑖 ≤
𝑏𝑖 untuk suatu 𝑖, 𝑥𝑗 = 𝑎𝑗 atau 𝑥𝑗 = 𝑏𝑗 , 𝑗 ≠ 𝑖, 1 ≤ 𝑖, 𝑗 ≤ 2} disebut rusuk sel 𝐸. Selanjutnya,
(𝒂, 𝒃) = (𝑎1 , 𝑏1 ) × (𝑎2 , 𝑏2 ) disebut selang terbuka di ℝ2 .
Jika 𝐸 ∈ ℝ2 didefinisikan |𝐸| = ∏2𝑖=1(𝑏𝑖 − 𝑎𝑖 ). Jadi, jika 𝐸 ⊂ ℝ2 maka |𝐸| nilainya sama
dengan luas 𝐸.
Definisi 4
Didefinisikan persekitaran-𝛿 di ℝ2 (𝛿-neighborhood) sebagai berikut:
𝑉𝛿 (𝒂) = {𝒙 ∈ ℝ2 | |𝒙 − 𝒂| < 𝛿}
= {𝒙 ∈ ℝ2 | √(𝑥1 − 𝑎1 )2 + (𝑥2 − 𝑎2 )2 < 𝛿}
= {𝒙 ∈ ℝ2 | (𝑥1 − 𝑎1 )2 + (𝑥2 − 𝑎2 )2 < 𝛿 2 }
Definisi 5
Himpunan 𝐺 ⊂ ℝ2 disebut himpunan buka jika untuk setiap 𝒙 ∈ 𝐺 terdapat 𝑉𝛿 (𝒙) sehingga
𝑉𝛿 (𝒙) ⊆ 𝐺 dengan kata lain,
𝒙 ∈ 𝑉𝛿 (𝒙) ⊆ 𝐺.
Lebih lanjut, himpunan 𝐺 disebut himpunan buka jika setiap titiknya merupakan titik interior.
Definisi 6
Himpunan 𝐴 ⊆ ℝ2 disebut himpunan tutup jika 𝐴𝑐 himpunan buka.

Partisi pada ℝ𝟐

Definisi 7
Menurut Indrati (2002), koleksi sel 𝑃 = {I𝑖 }1∞ dikatakan tidak tumpang-tindih jika 𝐼𝑖𝑜 ∩ 𝐼𝑗𝑜 = ∅
untuk 𝑖 ≠ 𝑗. Selanjutnya, koleksi berhingga sel tidak saling tumpang-tindih 𝑃 = {𝐼} =
𝑝
{𝐼1 , 𝐼2 , … , 𝐼𝑝 } dengan ⋃𝐼∈𝐷 𝐼 = ⋃𝑖=1 𝐼𝑖 = 𝐸 disebut partisi pada sel 𝐸 ⊂ ℝ2. Jika 𝐸 =
𝑝
⋃𝑖=1 𝐼𝑖 , 𝒙𝒊 ∈ 𝐼𝑖 ⊆ 𝑉𝛿 (𝒙𝒊 ), dan sel 𝐼𝑖 = [𝒂𝒊 , 𝒃𝒊 ] = [𝑎𝑖1 , 𝑏𝑖1 ] × [𝑎𝑖2 , 𝑏𝑖2 ] dengan 𝐼𝑖𝑜 ∩ 𝐼𝑗𝑜 = ∅
untuk 𝑖 ≠ 𝑗, 𝑖 = 1,2, koleksi sel-titik
𝑃 = {(𝐼, 𝒙)} = {(𝐼1 , 𝒙𝟏 ), (𝐼2 , 𝒙𝟐 ), … , (𝐼𝑝 , 𝒙𝒑 )},
disebut partisi 𝛿 pada 𝐸.
Selanjutnya, 𝒙 pada (𝐼, 𝒙) ∈ 𝒫 disebut titik terkait dan (𝐼, 𝒙) ∈ 𝒫 disebut selang 𝛿 dengan titik
terkait 𝒙.
Definisi 8
Diberikan 𝑃 = {𝐼1 , 𝐼2 , … , 𝐼𝑛 }. 𝐼1 = [𝒂, 𝒃]; 𝒂 = (𝑎1 , 𝑎2 ) dan 𝒃 = (𝑏1 , 𝑏2 ),
‖𝑃‖ = max|𝐼𝑖 |
dengan |𝐼1 | = (𝑎2 − 𝑎1 )(𝑏2 − 𝑏1 ). (Indrati, 1992)

Teorema 9 (Penghalusan Partisi)


Misalkan 𝛿1 , 𝛿2 , 𝛿 masing-masing merupakan bilangan riil positif pada [𝑎, 𝑏] dengan
𝛿 = min{𝛿1 , 𝛿2 }
Jika 𝑃 partisi-𝛿 pada [𝑎, 𝑏], maka 𝑃 juga merupakan partisi-𝛿1 dan partisi-𝛿2 pada [𝑎, 𝑏].
(Agustiani, 1996)
Bukti:
Misalkan 𝑃 partisi-𝛿 pada [𝑎, 𝑏] yang diberikan oleh
𝑃 = {𝑎 = 𝑥0 , 𝑥1 , … , 𝑥𝑛 = 𝑏; 𝑡1 , 𝑡2 , … , 𝑡𝑛 }
dengan 𝑡𝑖 − 𝛿1 < 𝑥𝑖−1 ≤ 𝑡𝑖 ≤ 𝑥𝑖 < 𝑡𝑖 + 𝛿1 , 𝑖 = 1,2, … 𝑛.
Karena 𝛿 = min{𝛿1 , 𝛿2 } maka 𝛿 ≤ 𝛿1 atau 𝛿 ≤ 𝛿2 .
Akibatnya,
𝑡𝑖 − 𝛿1 ≤ 𝑡𝑖 − 𝛿 < 𝑥𝑖−1 ≤ 𝑡𝑖 ≤ 𝑥𝑖 < 𝑡𝑖 + 𝛿1
dan juga
𝑡𝑖 − 𝛿2 ≤ 𝑡𝑖 − 𝛿 < 𝑥𝑖−1 ≤ 𝑡𝑖 ≤ 𝑥𝑖 < 𝑡𝑖 + 𝛿2
untuk 𝑖 = 1,2, … , 𝑛.
Jadi 𝑃 merupakan partisi-𝛿1 dan partisi-𝛿2 pada [𝑎, 𝑏] dan terbukti pula bahwa 𝑃 partisi-𝛿 lebih
halus dari partisi-𝛿1 dan partisi-𝛿2 . ∎
Definisi 10 (Jumlahan Riemann)
Misalkan sebuah partisi 𝑃 = {(𝐼𝑖 , 𝒕𝒊 )} = {(𝐼1 , 𝒕𝟏 ), (𝐼2 , 𝒕𝟐 ), … , (𝐼𝑛 , 𝒕𝒏 )}, 𝒕𝒊 ∈ 𝐼𝑖 membagi sel
[𝒂, 𝒃] menjadi 𝑛 sel-bagian yang tidak saling tumpang-tindih. Kita sebut jumlah
𝑛

𝑆(𝑓; 𝑃) = ∑ 𝑓(𝒕𝒊 ) |𝐼𝑖 |


𝑖=1
sebagai jumlahan Riemann fungsi 𝑓 terhadap partisi 𝑃.

Integral Riemann

Definisi 11 (Integral Riemann di ℝ2 )


Diberikan [𝒂, 𝒃] ⊂ ℝ2. Fungsi 𝑓: [𝒂, 𝒃] → ℝ dikatakan terintegral Riemann pada [𝒂, 𝒃] jika
terdapat bilangan 𝐴 sehingga untuk setiap 𝜀 > 0 terdapat bilangan 𝛿 > 0 sehingga jika 𝑃 =
{(𝐼𝑖 , 𝒕𝒊 )} = {(𝐼1 , 𝒕𝟏 ), (𝐼2 , 𝒕𝟐 ), … , (𝐼𝑛 , 𝒕𝒏 )}, 𝒕𝒊 ∈ 𝐼𝑖 partisi pada [𝒂, 𝒃] dengan ‖𝑃‖ < 𝛿 berakibat
𝑛

|𝑆(𝑓; 𝑃) − 𝐴| = |∑ 𝑓(𝒕𝒊 )|𝐼𝑖 | − 𝐴| < 𝜀


𝑖=1
𝐴 disebut nilai integral Riemann fungsi 𝑓 pada [𝒂, 𝒃] dengan,
𝑛

𝐴 = lim (𝑆; 𝑃) = lim ∑ 𝑓(𝒕𝒊 ) |𝐼𝑖 |


‖𝑃‖→0 ‖𝑃‖→0
𝑖=1
dapat pula ditulis,
𝒃 𝒃

𝐴 = ∫ 𝑓 𝑑𝒙 = ∫ 𝑓 (𝒙)𝑑𝒙.
𝒂 𝒂

Teorema 12 (Sifat Ketunggalan)


Jika 𝑓 terintegral Riemann pada [𝒂, 𝒃], maka nilai integralnya tunggal.
Bukti:
Misalkan 𝐴 dan 𝐵 nilai integral Riemann 𝑓 pada [𝒂, 𝒃]. Ini berarti,
untuk sebarang 𝜀 > 0 dapat diplih 𝛿1 > 0 sehingga jika
𝑃1 = {(𝐼𝑖 , 𝒕𝒊 )} = {(𝐼1 , 𝒕𝟏 ), (𝐼2 , 𝒕𝟐 ), … , (𝐼𝑛 , 𝒕𝒏 )}, 𝒕𝒊 ∈ 𝐼𝑖
= {((𝒙𝟎 , 𝒙𝟏 ), 𝒕𝟏 ), ((𝒙𝟏 , 𝒙𝟐 ), 𝒕𝟐 ), … , ((𝒙𝒏−𝟏 , 𝒙𝒏 ), 𝒕𝒏 )}, 𝒕𝒊 ∈ 𝐼𝑖 adalah partisi pada [𝒂, 𝒃]
dengan ‖𝑃1 ‖ < 𝛿1 berakibat,
𝑛
𝜀
|∑ 𝑓(𝒕𝒊 )|𝐼𝑖 | − 𝐴| < (1)
2
𝑖=1
untuk sebarang 𝜀 > 0 dapat dipilih 𝛿2 > 0 sehingga jika
𝑃2 = {(𝐼𝑖 , 𝒖𝒊 )} = {(𝐼1 , 𝒖𝟏 ), (𝐼2 , 𝒖𝟐 ), … , (𝐼𝑛 , 𝒖𝒏 )}
= {((𝒚𝟎 , 𝒚𝟏 ), 𝒖𝟏 ), ((𝒚𝟏 , 𝒚𝟐 ), 𝒖𝟐 ), … , ((𝒚𝒏−𝟏 , 𝒚𝒏 ), 𝒖𝒏 )}, 𝒖𝒊 ∈ 𝐼𝑖 adalah partisi pada [𝒂, 𝒃]
dengan ‖𝑃2 ‖ < 𝛿2 berakibat,
𝑛
𝜀
|∑ 𝑔(𝒖𝒊 )|𝐼𝑖 | − 𝐴2 | < (2)
2
𝑖=1
Pilih 𝛿 = min{𝛿1 , 𝛿2 }, akibatnya jika
𝑃 = {(𝐼𝑖 , 𝒗𝒊 )} = {(𝐼1 , 𝒗𝟏 ), (𝐼2 , 𝒗𝟐 ), … , (𝐼𝑛 , 𝒗𝒏 )}
= {((𝒛𝟎 , 𝒛𝟏 ), 𝒗𝟏 ), ((𝒛𝟏 , 𝒛𝟐 ), 𝒗𝟐 ), … , ((𝒛𝒏−𝟏 , 𝒛𝒏 ), 𝒗𝒏 )}, 𝒗𝒊 ∈ 𝐼𝑖
‖𝑃‖ < 𝛿 ≤ 𝛿1 , 𝛿2 . Jadi, (1) dan (2) dipenuhi.
Perhatikan bahwa:
𝑛 𝑛

|𝐴 − 𝐵| = |𝐴 − ∑ 𝑓(𝒕𝒊 )|𝐼𝑖 | + ∑ 𝑓(𝒕𝒊 )|𝐼𝑖 | − 𝐵|


𝑖=1 𝑖=1
𝑛 𝑛

≤ |𝐴 − ∑ 𝑓(𝒕𝒊 )|𝐼𝑖 || + |∑ 𝑓(𝒕𝒊 )|𝐼𝑖 | − 𝐵|


𝑖=1 𝑖=1
𝑛 𝑛

= |∑ 𝑓(𝒕𝒊 )|𝐼𝑖 | − 𝐴| + |∑ 𝑓(𝒕𝒊 )|𝐼𝑖 | − 𝐵|


𝑖=1 𝑖=1
𝜀 𝜀
< + < 𝜀.
2 2
Jadi berdasarkan Teorema 1 diperoleh,
|𝐴 − 𝐵| = 0 ↔ 𝐴 − 𝐵 = 0 ↔ 𝐴 = 𝐵. ∎
Teorema 13 (Kriteria Cauchy)
Diketahui [𝒂, 𝒃] ⊂ ℝ2, fungsi 𝑓: [𝒂, 𝒃] → ℝ terbatas. Fungsi 𝑓 terintegral Riemann pada [𝒂, 𝒃]
jika dan hanya jika untuk setiap bilangan 𝜀 > 0 terdapat bilangan 𝛿 > 0 sehingga jika 𝑃1 dan 𝑃2
partisi pada [𝒂, 𝒃] dengan ‖𝑃1 ‖ < 𝛿 dan ‖𝑃2 ‖ < 𝛿 berakibat |𝑆(𝑓; 𝑃1 ) − 𝑆(𝑓; 𝑃2 )| < 𝜀.
Bukti:
Syarat perlu: Jika 𝑓 terintegral Riemann pada [𝒂, 𝒃], maka ada bilangan 𝐴 sehingga untuk
setiap bilangan 𝜀 > 0 terdapat bilangan 𝛿 > 0 sehingga jika 𝑃 partisi pada [𝒂, 𝒃] dengan ‖𝑃‖ <
𝛿 berakibat
𝜀
|𝑆(𝑓; 𝑃) − 𝐴| <
2
Diambil sebarang dua partisi 𝑃1 dan 𝑃2 partisi pada [𝒂, 𝒃] dengan ‖𝑃1 ‖ < 𝛿 dan ‖𝑃2 ‖ < 𝛿
berakibat
𝜀 𝜀
|𝑆(𝑓; 𝑃1 ) − 𝑆(𝑓; 𝑃2 )| ≤ |𝑆(𝑓; 𝑃1 ) − 𝐴| + |𝐴 − 𝑆(𝑓; 𝑃2 )| < + = 𝜀. ∎
2 2
Syarat cukup: Menurut yang diketahui, untuk bilangan 𝜀0 = 1 terdapat bilangan 𝛿 > 0
sehingga jika 𝑃1 dan 𝑃2 masing-masing partisi pada [𝒂, 𝒃] dengan ‖𝑃1 ‖ < 𝛿 dan ‖𝑃2 ‖ < 𝛿
berakibat |𝑆(𝑓; 𝑃1 ) − 𝑆(𝑓; 𝑃2 )| < 1.
Akan ditunjukkan fungsi 𝑓 terintegral Riemann pada [𝒂, 𝒃].
Akan ditunjukkan fungsi 𝑓 terbatas.
Tulis 𝒫 sebagai koleksi semua partisi 𝑃 pada [𝒂, 𝒃] dengan
‖𝑃‖ < 𝛿
Diambil 𝑃0 ∈ 𝒫, untuk setiap 𝑃 ∈ 𝒫 diperoleh
|𝑆(𝑓; 𝑃) − 𝑆(𝑓; 𝑃0 )| < 1
atau
𝑆(𝑓; 𝑃0 ) − 1 < 𝑆(𝑓; 𝑃) < 𝑆(𝑓; 𝑃0 ) + 1
jadi, himpunan bilangan real
𝑆(𝑓) = {𝑆(𝑓; 𝑃); 𝑃 ∈ 𝒫}
terbatas. Akibatnya, 𝑓 terbatas. ∎
Akan ditunjukkan fungsi 𝑓 terintegral Riemann pada [𝒂, 𝒃].
Bagian 1) telah ditunjukkan fungsi 𝑆(𝑓) terbatas dimana ada 2 kemungkinan, yaitu:
Jika anggota 𝑆(𝑓) banyaknya berhingga, maka 𝑓 merupakan fungsi konstan dan oleh karena itu
𝑓 terintegral Riemann pada [𝒂, 𝒃].
Jika anggota 𝑆(𝑓) banyaknya tak berhingga, maka 𝑓 bukan fungsi konstan. Menurut teorema
Bolzano-Weierstrass, 𝑆(𝑓) mempunyai paling sedikit satu titik limit, namakan titik limit itu 𝐴.
Hal ini berarti untuk setiap bilangan 𝜀 > 0 terdapat 𝑃0 ∈ 𝒫, sehingga dari (i) dan (ii) diperoleh
|𝑆(𝑓; 𝑃0 ) − 𝐴| < 𝜀
dengan kata lain, fungsi 𝑓 terintegral Riemann pada [𝒂, 𝒃]. ∎

Teorema 14 (Eksistensi Integral Riemann)


Misalkan 𝐸 ≔ [𝒂, 𝒃] ⊂ ℝ2 dan 𝑓: 𝐸 → ℝ kontinu pada 𝐸, maka 𝑓 terintegral Riemann pada 𝐸.
Bukti:
Karena 𝑓 kontinu pada 𝐸 dan 𝐸 tertutup dan terbatas, maka 𝑓 kontinu seragam pada 𝐸 (Bartle,
2011, h. 143). Dengan demikian, jika diberikan 𝜀 > 0 sebarang, terdapat 𝛿 > 0 sehingga jika
𝒖, 𝒗 ∈ 𝐸 dan ‖𝒖 − 𝒗‖ < 𝛿, maka |𝑓(𝒖) − 𝑓(𝒗)| < 𝜀⁄|𝐸|.
|𝐸|⁄
Pilih 𝑛 ∈ 𝑁 sehingga 𝑛 < 𝛿. Bentuk partisi 𝑃𝑛 ≔ (𝐼1 , 𝐼2 , … , 𝐼𝑛 ) pada 𝐸 dengan syarat |𝐼𝑖 |
untuk setiap 𝑖 dan
|𝐼𝑖 | = |𝐸|⁄𝑛 < 𝛿.
Menurut teori maksimum-minimum terdapat 𝒖𝑖 ∈ 𝐼𝑖 dan 𝒗𝑖 ∈ 𝐼𝑖 sehingga diperoleh,
𝑓(𝒖𝑖 ) = 𝑀𝑖 = max 𝑓(𝐼𝑖 ) dan 𝑓(𝒗𝑖 ) = 𝑚𝑖 = min 𝑓(𝐼𝑖 ).
Akibatnya, jika 𝑃1 = {(𝐼𝑖 , 𝒖𝑖 )} dan 𝑃2 = {(𝐼𝑖 , 𝒗𝑖 )} merupakan partisi 𝛿 pada 𝐸,
maka
𝑛 𝑛
|𝑆(𝑓; 𝑃1 ) − 𝑆(𝑓; 𝑃2 )| = |∑ 𝑓(𝒖𝑖 )|𝐼𝑖 | − ∑ 𝑓(𝒗𝑖 )|𝐼𝑖 ||
𝑖=1 𝑖=1
𝑛

= |∑(𝑓(𝒖𝑖 ) − 𝑓(𝒗𝑖 ))|𝐼𝑖 ||


𝑖=1
𝑛
𝜀 |𝐸| 𝜀
<∑ . = . |𝐸| = 𝜀. ∎
|𝐸| 𝑛 |𝐸|
𝑖=1
Menurut Kriteria Cauchy (Teorema 13), 𝑓 terintegral Riemann pada 𝐸. ∎

Teorema 15 (Sifat Kelinearan Integral Riemann)


Misalkan bahwa 𝑓 dan 𝑔 terintegral Riemann pada [𝒂, 𝒃] dan 𝑘 adalah konstanta, maka 𝑘𝑓 dan
𝑓 + 𝑔 terintegral Riemann dan
𝒃 𝒃
∫𝒂 𝑘𝑓(𝒙) 𝑑𝒙 = 𝑘 ∫𝒂 𝑓(𝒙) 𝑑𝒙;
𝒃 𝒃 𝒃
∫𝒂 [𝑓(𝒙) + 𝑔(𝒙)] 𝑑𝒙 = ∫𝒂 𝑓(𝒙) 𝑑𝒙 + ∫𝒂 𝑔(𝒙) 𝑑𝒙 ; dan
𝒃 𝒃 𝒃
∫𝒂 [𝑓(𝒙) − 𝑔(𝒙)] 𝑑𝒙 = ∫𝒂 𝑓(𝒙) 𝑑𝒙 − ∫𝒂 𝑔(𝒙) 𝑑𝒙
Bukti:
Diketahui 𝑓 terintegral Riemann pada [𝒂, 𝒃], namakan 𝐴 adalah nilai integral Riemann-nya. Ini
berarti untuk sebarang 𝜀 > 0 dapat dipilih 𝛿 > 0 sehingga jika 𝑃 = {(𝐼𝑖 , 𝒕𝒊 )} =
{(𝐼1 , 𝒕𝟏 ), (𝐼2 , 𝒕𝟐 ), … , (𝐼𝑛 , 𝒕𝒏 )}, 𝒕𝒊 ∈ 𝐼𝑖 adalah partisi pada [𝒂, 𝒃] dengan ‖𝑃‖ < 𝛿 berakibat,
𝑛
𝜀
|∑ 𝑓(𝒕𝒊 )|𝐼𝑖 | − 𝐴| <
|𝑘| + 1
𝑖=1
Perhatikan bahwa:
𝑛 𝑛
𝜀
|∑ 𝑘𝑓(𝒕𝒊 )|𝐼𝑖 | − 𝑘𝐴| = |𝑘| |∑ 𝑓(𝒕𝒊 )|𝐼𝑖 | − 𝐴| < |𝑘| <𝜀 ∎
|𝑘| + 1
𝑖=1 𝑖=1
Berdasarkan Teorema 1,
𝒃

∫ 𝑘𝑓(𝒙) 𝑑𝒙 − 𝑘𝐴 = 0
𝒂

jadi,
𝒃 𝒃

∫ 𝑘𝑓(𝒙) 𝑑𝒙 = 𝑘𝐴 = 𝑘 ∫ 𝑓(𝒙) 𝑑𝒙. ∎


𝒂 𝒂

Diketahui 𝑓 dan 𝑔 terintegral Riemann pada [𝒂, 𝒃], namakan 𝐴1 dan 𝐴2 adalah nilai integral
Riemann-nya. Ini berarti,
untuk sebarang 𝜀 > 0 dapat dipilih 𝛿1 > 0 sehingga jika
𝑃1 = {(𝐼𝑖 , 𝒕𝒊 )} = {(𝐼1 , 𝒕𝟏 ), (𝐼2 , 𝒕𝟐 ), … , (𝐼𝑛 , 𝒕𝒏 )}
= {((𝒙𝟎 , 𝒙𝟏 ), 𝒕𝟏 ), ((𝒙𝟏 , 𝒙𝟐 ), 𝒕𝟐 ), … , ((𝒙𝒏−𝟏 , 𝒙𝒏 ), 𝒕𝒏 )}, 𝒕𝒊 ∈ 𝐼𝑖 adalah partisi pada [𝒂, 𝒃] dengan
‖𝑃1 ‖ < 𝛿1 berakibat,
𝑛
𝜀
|∑ 𝑓(𝒕𝒊 )|𝐼𝑖 | − 𝐴1 | < (3)
2
𝑖=1
untuk sebarang 𝜀 > 0 dapat dipilih 𝛿2 > 0 sehingga jika
𝑃2 = {(𝐼𝑖 , 𝒖𝒊 )} = {(𝐼1 , 𝒖𝟏 ), (𝐼2 , 𝒖𝟐 ), … , (𝐼𝑛 , 𝒖𝒏 )}
= {((𝒚𝟎 , 𝒚𝟏 ), 𝒖𝟏 ), ((𝒚𝟏 , 𝒚𝟐 ), 𝒖𝟐 ), … , ((𝒚𝒏−𝟏 , 𝒚𝒏 ), 𝒖𝒏 )}, 𝒖𝒊 ∈ 𝐼𝑖 adalah partisi pada [𝒂, 𝒃]
dengan ‖𝑃2 ‖ < 𝛿2 berakibat,
𝑛
𝜀
|∑ 𝑔(𝒖𝒊 )|𝐼𝑖 | − 𝐴2 | < (4)
2
𝑖=1
Pilih 𝛿 = min{𝛿1 , 𝛿2 }, akibatnya jika 𝑃 = {(𝐼𝑖 , 𝒗𝒊 )} = {(𝐼1 , 𝒗𝟏 ), (𝐼2 , 𝒗𝟐 ), … , (𝐼𝑛 , 𝒗𝒏 )}
= {((𝒛𝟎 , 𝒛𝟏 ), 𝒗𝟏 ), ((𝒛𝟏 , 𝒛𝟐 ), 𝒗𝟐 ), … , ((𝒛𝒏−𝟏 , 𝒛𝒏 ), 𝒗𝒏 )}, 𝒗𝒊 ∈ 𝐼𝑖
‖𝑃‖ < 𝛿 ≤ 𝛿1 , 𝛿2 . Jadi, (3) dan (4) dipenuhi.
Perhatikan bahwa:
𝑛 𝑛 𝑛

|∑(𝑓(𝒗𝒊 ) + 𝑔(𝒗𝒊 ))|𝐼𝑖 | − (𝐴1 + 𝐴2 )| = |(∑ 𝑓(𝒗𝒊 )|𝐼𝑖 | + ∑ 𝑔(𝒗𝒊 )|𝐼𝑖 |) − (𝐴1 + 𝐴2 )|
𝑖=1 𝑖=1 𝑖=1
𝑛 𝑛

= |∑ 𝑓(𝒗𝒊 )|𝐼𝑖 | − 𝐴1 + ∑ 𝑔(𝒗𝒊 )|𝐼𝑖 | − 𝐴2 |


𝑖=1 𝑖=1
𝑛 𝑛

≤ |∑ 𝑓(𝒗𝒊 )|𝐼𝑖 | − 𝐴1 | + |∑ 𝑔(𝒗𝒊 )|𝐼𝑖 | − 𝐴2 |


𝑖=1 𝑖=1
𝜀 𝜀
< + < 𝜀. ∎
2 2
Berdasarkan Teorema 1,
𝒃

(∫(𝑓(𝒙) + 𝑔(𝒙)) 𝑑𝒙) − (𝐴1 + 𝐴2 ) = 0


𝒂
jadi,
𝒃 𝒃 𝒃

∫(𝑓(𝒙) + 𝑔(𝒙)) 𝑑𝒙 = 𝐴1 + 𝐴2 = ∫ 𝑓(𝒙)𝑑𝒙 + ∫ 𝑔(𝒙)𝑑𝒙 . ∎


𝒂 𝒂 𝒂
Diketahui 𝑓 dan 𝑔 terintegral Riemann pada [𝒂, 𝒃], namakan 𝐴1 dan 𝐴2 adalah nilai integral
Riemann-nya. Ini berarti,
untuk sebarang 𝜀 > 0 dapat dipilih 𝛿1 > 0 sehingga jika
𝑃1 = {(𝐼𝑖 , 𝒕𝒊 )} = {(𝐼1 , 𝒕𝟏 ), (𝐼2 , 𝒕𝟐 ), … , (𝐼𝑛 , 𝒕𝒏 )}
= {((𝒙𝟎 , 𝒙𝟏 ), 𝒕𝟏 ), ((𝒙𝟏 , 𝒙𝟐 ), 𝒕𝟐 ), … , ((𝒙𝒏−𝟏 , 𝒙𝒏 ), 𝒕𝒏 )}, 𝒕𝒊 ∈ 𝐼𝑖 adalah partisi pada [𝒂, 𝒃] dengan
‖𝑃1 ‖ < 𝛿1 berakibat,
𝑛
𝜀
|∑ 𝑓(𝒕𝒊 )|𝐼𝑖 | − 𝐴1 | < (5)
2
𝑖=1
untuk sebarang 𝜀 > 0 dapat dipilih 𝛿2 > 0 sehingga jika
𝑃2 = {(𝐼𝑖 , 𝒖𝒊 )} = {(𝐼1 , 𝒖𝟏 ), (𝐼2 , 𝒖𝟐 ), … , (𝐼𝑛 , 𝒖𝒏 )}
= {((𝒚𝟎 , 𝒚𝟏 ), 𝒖𝟏 ), ((𝒚𝟏 , 𝒚𝟐 ), 𝒖𝟐 ), … , ((𝒚𝒏−𝟏 , 𝒚𝒏 ), 𝒖𝒏 )}, 𝒖𝒊 ∈ 𝐼𝑖 adalah partisi pada [𝒂, 𝒃]
dengan ‖𝑃2 ‖ < 𝛿2 berakibat,
𝑛
𝜀
|∑ 𝑔(𝒖𝒊 )|𝐼𝑖 | − 𝐴2 | < (6)
2
𝑖=1
Pilih 𝛿 = min{𝛿1 , 𝛿2 }, akibatnya jika 𝑃 = {(𝐼𝑖 , 𝒗𝒊 )} = {(𝐼1 , 𝒗𝟏 ), (𝐼2 , 𝒗𝟐 ), … , (𝐼𝑛 , 𝒗𝒏 )}
= {((𝒛𝟎 , 𝒛𝟏 ), 𝒗𝟏 ), ((𝒛𝟏 , 𝒛𝟐 ), 𝒗𝟐 ), … , ((𝒛𝒏−𝟏 , 𝒛𝒏 ), 𝒗𝒏 )}, 𝒗𝒊 ∈ 𝐼𝑖
‖𝑃‖ < 𝛿 ≤ 𝛿1 , 𝛿2 . Jadi, (5) dan (6) dipenuhi.
Perhatikan bahwa:
𝑛 𝑛 𝑛

|∑(𝑓(𝒗𝒊 ) − 𝑔(𝒗𝒊 ))|𝐼𝑖 | − (𝐴1 − 𝐴2 )| = |(∑ 𝑓(𝒗𝒊 )|𝐼𝑖 | − ∑ 𝑔(𝒗𝒊 )|𝐼𝑖 |) − (𝐴1 − 𝐴2 )|
𝑖=1 𝑖=1 𝑖=1
𝑛 𝑛

= |∑ 𝑓(𝒗𝒊 )|𝐼𝑖 | − 𝐴1 − ∑ 𝑔(𝒗𝒊 )|𝐼𝑖 | + 𝐴2 |


𝑖=1 𝑖=1
𝑛 𝑛

= |(∑ 𝑓(𝒗𝒊 )|𝐼𝑖 | − 𝐴1 ) + (𝐴2 − ∑ 𝑔(𝒗𝒊 )|𝐼𝑖 |)|


𝑖=1 𝑖=1
𝑛 𝑛

≤ |∑ 𝑓(𝒗𝒊 )|𝐼𝑖 | − 𝐴1 | + |𝐴2 − ∑ 𝑔(𝒗𝒊 )|𝐼𝑖 ||


𝑖=1 𝑖=1
𝑛 𝑛

= |∑ 𝑓(𝒗𝒊 )|𝐼𝑖 | − 𝐴1 | + |∑ 𝑔(𝒗𝒊 )|𝐼𝑖 | − 𝐴2 |


𝑖=1 𝑖=1
𝜀 𝜀
< + < 𝜀. ∎
2 2
Berdasarkan Teorema 1,
𝒃

(∫(𝑓(𝒙) − 𝑔(𝒙)) 𝑑𝒙) − (𝐴1 − 𝐴2 ) = 0


𝒂
jadi,
𝒃 𝒃 𝒃

∫(𝑓(𝒙) − 𝑔(𝒙)) 𝑑𝒙 = 𝐴1 − 𝐴2 = ∫ 𝑓(𝒙)𝑑𝒙 − ∫ 𝑔(𝒙)𝑑𝒙 . ∎


𝒂 𝒂 𝒂
Teorema 16 ( Sifat Keterbatasan )
Jika fungsi 𝑓 terintegral Riemann pada [𝒂, 𝒃] ⊂ ℝ2 , maka 𝑓 terbatas pada [𝒂, 𝒃].
Bukti: Dibuktikan secara kontradiksi.
Andaikan fungsi 𝑓 tak terbatas ke atas pada [𝒂, 𝒃] (analog untuk fungsi 𝑓 tak terbatas ke
bawah), maka untuk setiap bilangan asli 𝑛 terdapat 𝒕 ∈ [𝒂, 𝒃] sehingga
𝑓(𝒕) > 𝑛 (𝑓(𝒕) = ∞)
Untuk setiap partisi 𝑃 = {(𝐼𝑖 , 𝒕𝒊 )} = {(𝐼1 , 𝒕𝟏 ), (𝐼2 , 𝒕𝟐 ), … , (𝐼𝑛 , 𝒕𝒏 )}, 𝒕𝒊 ∈ 𝐼𝑖 , tentu 𝒕 ∈ [𝒙𝒊−𝟏 , 𝒙𝒊 ].
Hal ini berarti,
𝑛

lim 𝑆(𝑓; 𝑃) = lim ∑ 𝑓(𝒕𝒊 ) |𝐼𝑖 | = ∞


‖𝑃‖→0 ‖𝑃‖→0
𝑖=1
(tidak ada) yang dengan kata lain fungsi 𝑓 tak terintegral Riemann pada [𝒂, 𝒃]. Kontradiksi
dengan yang diketahui bahwa 𝑓 terintegral Riemann pada [𝒂, 𝒃]. Jadi, 𝑓 terbatas. ∎

PEMBAHASAN

Indrati (2002) membahas tentang Integral Henstock-Kurzweil di dalam Ruang Euclide


Berdimensi-n. Sifat-sifat yang berhasil dikembangkan meliputi sifat-sifat dasar Integral
Henstock di ℝ𝑛 , sifat Kekontinuan, sifat Kekonvergenan, Perluasan Harnack, dan sifat Cauchy
serta Lemma Henstock. Achmad (2005) membahas karakteristik fungsi-fungsi yang terintegral
Riemann. Fungsi yang dibahas dalam tulisan Achmad adalah fungsi dari ℝ ke ℝ (𝑓: ℝ → ℝ).
Selanjutnya, Andiwijaya (2012) yang membahas ketunggalan nilai integral Henstock dan sifat
linear pada integral Henstock. Tulisan Andiwijaya merupakan pengembangan dari integral
Riemann dengan mengubah bilangan positif 𝛿 menjadi fungsi positif 𝛿. Fungsi-fungsi yang
dibahas pada tulisan Andiwijaya adalah fungsi yang domainnya ℝ (𝑓: ℝ → ℝ). Selanjutnya,
Ilwaru, dkk. (2012) dalam tulisannya yang membahas beberapa teorema kekonvergenan pada
integral Riemann. Fungsi yang dibahas masih fungsi dengan domain ℝ (𝑓: ℝ → ℝ).
Pada tulisan ini berhasil disusun beberapa sifat-sifat dasar Integral Riemann pada ℝ2 meliputi
sifat ketunggalan (Teorema 12), sifat kriteria Cauchy (Teorema 13), eksistensi integral Riemann
(Teorema 14), sifat kelinearan (Teorema 15), dan sifat keterbatasan (Teorema 16),. Dalam
menyusun sifat-sifat dasar tersebut, diawali dengan pendefinisian selang, partisi, dan Integral
Riemann di ℝ2 . Hal ini merupakan penyederhanaan dari pengembangan partisi dan selang yang
dilakukan Indrati (2002) di ℝ𝑛 . Beberapa sifat yang belum sempat dibahas meliputi sifat
Kekonvergenan dan sifat Kekontinuan.

KESIMPULAN

Kesimpulan dalam penelitian ini adalah


1. Definisi integral Riemann di 𝑅 berhasil dikembangkan di ℝ2 .
2. Sifat ketunggalan pada integral Riemann di 𝑅 berhasil dikembangkan di ℝ2 .
3. Kriteria Cauchy pada integral Riemann di 𝑅 berhasil dikembangkan di ℝ2 .
4. Eksistensi integral Riemann di 𝑅 berhasil dikembangkan di ℝ2 .
5. Sifat kelinearan pada integral Riemann di 𝑅 berhasil dikembangkan di ℝ2 .
6. Sifat keterbatasan pada integral Riemann di 𝑅 berhasil dikembangkan di ℝ2 .

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, M. (2005). Karakterikstik Fungsi-fungsi yang Terintegral Riemann. (Skripsi tidak


dipublikasikan). Universitas Negeri Makassar, Makassar.
Agustiani M. (1996). Integral Nonlinear Henstock (Tesis, tidak dipublikasikan). Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta.
Andiwijaya. (2012). Ketunggalan Nilai Integral Henstock dan Sifat Linear pada Integral
Henstock (Skripsi tidak dipublikasikan). Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati.
Bartle, R.G. & Sherbert, D.R. (2011). Introduction to Real Analysis. Fourth Edition, John Wiley
& Sons, Inc. New York.
Indrati, C.R. (2002). Integral Henstock-Kurzweil di dalam Ruang Euclid Berdimensi-n
(Disertasi, tidak dipublikasikan). Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Ilwaru, V.Y., Wattimanela, H.J., & Talakua, M.W. (2012). Beberapa Teorema Kekonvergenan
pada Integral Riemann. Jurnal Barekeng, Vol.6 No. 1 Hal. 13-18.
Nurdin. (2018). Perluasan Teorema Cauchy pada Integral Nonlinear Henstock pada Ruang
Euclide ℝn . Jurnal Pendidikan Biharul Ulum Ma’arif, 2 (2). 522-527.
Pfeffer, W.F. (1993). The Riemann Approach to Integration. Cambridge: The United States of
America.
Purcell, E.J., Dale, V., & Ringdon, S.E. (2010). Kalkulus Edisi Kesembilan Jilid 1. Penerbit
ERLANGGA: Jakarta.
Sinay, L.J. & Talakua, M.W. (2012). Sifat-sifat Dasar Integral Henstock. Jurnal Barekeng,
Vol.6 No. 2 Hal. 7-15.