Sie sind auf Seite 1von 7

Jurnal Florea Volume 4 No.

1, April 2017

PENGGUNAAN STRATEGI INKUIRI DALAM PEMBELAJARAN ISOLASI


BAKTERI ASAL MOL DAN PENERAPANNYA
SEBAGAI PUPUK HAYATI

Meli Astriani1), Ervina Mukharomah2)


1)2)
Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Muhammadiyah Palembang
Jl. Jendral Ahmad Yani, 13 Ulu, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30252, Indonesia
e-mail: meliastriani.g021@gmail.com

Diterima 17 Februari 2017, dan disetujui 30 Maret 2017

ABSTRACT
This study aims to utilize household waste and used MOL (Micro-Organism-Local). MOL is used
to assist the process of decomposition in composting. This study aims to isolate the bacterial origin
of MOL with media of different organic materials and the application of the isolated bacteria as
a biological fertilizer. Stages of research involved isolating bacteria from MOL vegetables, then
do purification. The next stage is to identify the bacteria colony morphology that includes forms,
cells, and Gram. This research is expected to contribute to the field, namely: the development
of science, research methodology. First, for science to improve information research methods,
research for further development activities for people who have an interest in the processing of
biological fertilizers and organic fertilizers. Second, the methodology how to obtain microbes
for use in applied research. The results were obtained bacterial isolates were collected from
three kinds of treatment samples MOL namely MOL to-I (waste vegetable, sugar, rice water), II
(vegetable waste, brown sugar, rice water), and III (waste vegetable, sugar sand, coconut water).
The result of the isolation and purification of bacteria obtained amounted to 79 types of bacterial
isolates comprising 23 species of bacteria from the sample MOL to-1, 30 species of bacteria
from the sample to the MOL-II, and 24 types of bacteria from the sample to-III. Overall the data
obtained from the sample to the MOL-I, II, and III of the highest number of bacterial cells present
in the sample to the MOL-II with a number of types of bacteria most. This type of bacteria that is
known at the time T0, T1.

Keywords: Isolation, Biofertilizer, MOL

PENDAHULUAN
Pengolahan sampah saat ini masih sekitar kita seperti limbah sayuran, rebung,
menjadi hal yang meresahkan. Oleh sebab limbah buah-buahan, dan nasi.
itu dicari solusi untuk memecahkan masalah Keunggulan penggunaan MOL
sampah sehingga ramah lingkungan, selain yaitu bahan yang digunakan mudah dan
itu di lain pihak menjadi pertimbangan lain murah untuk dibuat. Dalam pembuatan
pada penggunaan pupuk anorganik pada MOL dibutuhkan beberapa campuran
tanaman masih menjadi pilihan di kalangan yang mengandung glukosa, air kelapa
petani. Penggunaan pupuk anorganik untuk membantu proses fermentasi yang
dalam jangka waktu yang panjang akan berlangsung. Cairan MOL yang telah dibuat
mempengaruhi tingkat kesuburan tanah. dapat digunakan sebagai aktivator proses
Banyak masyarakat memanfaatkan pembuatan kompos yang berasal dari
teknik pembuatan MOL untuk membantu sampah organik (NOSC, 2008). MOL hasil
mempercepat proses pembuatan kompos. pembuatan masyarakat dianggap kurang
Menurut NOSC (2008) bahwa MOL optimal untuk memberikan pengaruh
(mikroorganisme lokal) merupakan cairan pada kompos. Waktu pengomposan yang
atau starter dalam pembuatan kompos dan dibutuhkan cukup lama dan harus diperkaya
dibuat menggunakan bahan yang ada di dengan agen biologi yang komersial.

17
Isolasi Bakteri Asal MOL dan Penerapannya Sebagai Pupuk Hayati

Salah satu cara mendapatkan agen METODE


biologi komersial yaitu dengan mencari
Pembuatan MOL
potensi dari bakteri yang mempunyai
fungsi sebagai biofertilizer. Komposisi Sayuran sisa sebanyak 5 kg dan 1
mikroba dekomposer yang diperkaya dapat kg gula tebu dihaluskan, kemudian semua
membantu proses penghancuran sampah bahan yang telah dihaluskan dicampurkan
organik dalam waktu beberapa minggu ke dalam wadah toples yang berisi air
bahkan beberapa hari saja. Suhastyo cucian beras sebanyak 5 liter kemudian
(2011) melaporkan berbagai macam ditutup rapat. Selanjutnya air murni
mikroorganisme yang terlibat dalam dimasukkan kedalam botol aqua yang telah
proses penghancuran sampah antara lain dilubangi tutupnya, dan hubungkan selang
Azotobacter dan Azospirillum. dari botol aqua ke tutup toples yang telah
diberi lubang. Diamkan selama 21 hari
Berdasarkan penelitian Batara (2015)
agar terjadi fermentasi, setelah 21 hari
pengaruh MOL yang diperkaya dalam
ampas di dalam wadah toples disaring
meningkatkan pertumbuhan dan produksi
dipisahkan antara ampas dan airnya. Air
tanaman padi memberi pengaruh yang
MOL sudah dapat digunakan ( modifikasi
tinggi terhadap pertumbuhan vegetatif
NOSC, 2008).
tanaman dibandingkan tanpa pemberian
MOL. MOL yang berasal dari rebung Pengambilan sampel MOL
bambu yang diperkaya mikroorganisme Pengambilan sampel dari MOL
mempunyai kemampuan 61% terhadap sebanyak 5 ml dilakukan pada saat
pertumbuhan tanaman. pembuatan MOL pada 1 x 24 jam (T0),
Cairan MOL mengandung minggu pertama pada 7 x 24 jam (T1),
Mikroorganisme yang menguntungkan minggu ke-2 pada 21 x 24 jam (T2), minggu
karena sampai saat ini masih digunakan ke-3 pada 21 x 24 jam (T3). Sampel MOL
masyarakat sebagai media yang membantu diambil menggunakan pipet tetes pada
dalam pembuatan kompos. Cairan dalam kedalam yang berbeda yaitu 4 cm, 14 cm,
MOL mengandung bakteri yang dapat dan 23 cm (Suhastyo et al. 2013).
membantu proses penghancuran bahan
organik untuk membuat kompos. Kompos Isolasi Bakteri
yang mengandung bakteri diketahui Sebanyak 1 ml sampel dilarutkan
dapat memacu pertumbuhan tanaman ke dalam larutan NaCl 0,85%, kemudian
dan menyediakan nutrisi bagi tanaman. dihomogenkan dengan vortex. Suspensi
sehingga berdasarkan keterangan tersebut diambil sebanyak 1 ml lalu diencerkan
maka perlu dilakukan penelitian isolasi mulai 10-1 sampai 10-6 dengan cara
bakteri dari MOL dan penerapannya menghomogenkan 1 ml sampel. Kemudian
sebagai agen biologis untuk dibuat pupuk dari masing-masing pengenceran 10-4, 10-
hayati. 5, 10-6 ditumbuhkan pada medium NA
Penelitian ini diharapkan dapat dengan metode pour plate secara aseptis.
berkontribusi pada kemajuan ilmu Lalu diinkubasi pada suhu 37 oC selama
pengetahuan, yakni: bidang pengembangan 2x24 jam, kemudian diamati koloni bakteri
ilmu, bidang metodologi penelitian. dan dilakukan penghitungan jumlah
Pertama, bagi ilmu pengetahuan dengan bakteri dalam satuan sel/ml (Widjajanti et
meningkatkan informasi metode penelitian, al. 2006).
hasil penelitian untuk pengembangan Pemurnian
kegiatan lebih lanjut bagi pihak yang Koloni yang tumbuh dengan ciri
memiliki kepentingan terhadap pengolahan berbeda dimurnikan dengan cara distreak
kompos dan pupuk organik serta menjadi pada medium NA steril dalam cawan
salah satu upaya pengolahan sampah secara petri, lalu diinkubasi selama 2x24 jam
mandiri. pada suhu 37 oC. Teknik ini dilakukan

18
Astriani, dkk

secara berulang sampai diperoleh koloni kurang lebih 2-3 tetes selama 1 menit,
yang diindikasikan murni. Koloni murni lalu dibilas dengan aquades dan buanglah
adalah koloni yang hanya terdiri dari satu kelebihan zat warna. Kemudian ditetesi
jenis bakteri saja. Setelah mendapatkan dengan larutan iodium selama 2 menit,
koloni yang murni, selanjutnya isolat lalu dicuci dengan air yang mengalir
ditumbuhkan ke dalam medium NA miring dan dikeringkan. Setelah itu lakukanlah
sebagai stok kerja (Widjajanti et al. 2006). pemucatan dengan alkohol 95% selama
Karakterisasi 30 detik, dicuci dengan air mengalir dan
dikeringkan. Setelah itu ditetesi dengan
Isolat bakteri dilakukan karakterisasi zat warna safranin selama 30 detik lalu
yang meliputi: dibilas dengan air, seraplah sisa air
a. Morfologi koloni (Jutono 1983 dalam dengan kertas serap dan dikeringkan.
Widjajanti et al. 2006). Amati preparat dibawah mikroskop
1. Isolat bakteri ditumbuhkan pada yaitu bentuk sel yang tampak. Warna
medium Nutrient Agar lempeng, ungu atau biru untuk gram positif
lalu diamati bentuk pertumbuhan dan untuk gram negatif. Diamati pula
yang meliputi bentuk koloni standar, bentuk dari sel bakteri tersebut apakah
bentuk elevasi, tepi dan struktur bulat (coccus), batang (basil), atau
dalam koloni bakteri. bergelombang (spiral) (Hadioetomo
1993; Irianto 2006).
2. Isolat bakteri ditumbuhkan pada
Nutrient Agar tegak, lalu diamati Penyajian Data
bentuk pertumbuhan koloni standar. Data yang diperoleh dari pengamatan
3. Isolat bakteri ditumbuhkan pada disajikan dalam bentuk foto dan tabel.
medium Nutrient Agar miring, lalu
diamati pertumbuhan koloni standar. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. Isolat bakteri ditumbuhkan pada Sampel MOL limbah sayuran terdiri
medium Nutrient Broth pada suhu atas 3 macam yaitu MOL ke-I (limbah
370C kemudian diamati pertumbuhan sayuran, gula pasir, air cucian beras), II
(aerob, fakultatif, anaerob dan (limbah sayuran, gula merah, air cucian
mikroaerofil) dari masing-masing beras), dan III (limbah sayuran, gula pasir,
isolat. air kelapa). Hasil isolasi dan pemurnian
b. Morfologi Sel bakteri diperoleh berjumlah 79 jenis isolat
Sifat Gram Bakteri bakteri yang terdiri atas 23 jenis isolat
bakteri dari sampel MOL ke-1, 30 jenis
Sediakanlah 4 buah kaca objek yang isolat bakteri dari sampel MOL ke-II, dan
dibersihkan dengan alkohol 70%. 24 jenis isolat bakteri dari sampel ke-III
Siapkanlah olesan bakteri pada keempat data ditampilkan pada (Tabel 1).
buah kaca objek dengan jarak antara
kedua olesan tersebut paling sedikit
2 cm. Isolat bakteri berumur 24
jam diambil satu ose secara aseptis,
diinokulasi ke dalam 9 ml akuades
steril, dihomogenkan dengan vortex.
Kemudian satu tetes suspensi bakteri
diambil dengan menggunakan pipet
tetes steril, diratakan diatas kaca objek,
kemudian dikering anginkan dan
difiksasi di atas nyala api. Setelah dingin
ditetesi dengan zat warna kristal violet

19
Isolasi Bakteri Asal MOL dan Penerapannya Sebagai Pupuk Hayati

Tabel 4.1 Hasil isolasi dan pemurnian bakteri asal (2011) menyatakan bahwa karbohidrat
MOL limbah sayuran merupakan substrat utama yang diperlukan
dalam proses fermentasi, sumber
karbohidrat dari cairan MOL dapat berasal
dari air gula dan air cucian beras sehingga
akan meningkatkan kandungan C-organik
dalam cairan MOL. Menurut Juanda, et
al (2011), fermentasi merupakan proses
oksidasi anaerob karbohidrat menghasil-
kan alkohol dan asam-asam. Gula jika
difermentasi akan menghasilkan etanol,
asam laktat, asam butirat, aseton, dan
hidrogen.
Sampel MOL ke-I memiliki jumlah
sel bakteri yang tidak berbeda nyata
terhadap sampel MOL ke-II, tetapi berbeda
nyata dari sampel MOL ke-3. Sampel
MOL ke-2 memiliki 23 jenis bakteri yang
tidak jauh berbeda dari sampel MOL ke-3
yaitu sebanyak 24 jenis bakteri, namun
sampel MOL ke I dan II memiliki jumlah
jenis bakteri yang berbeda jauh dari sampel
MOL ke-1 dengan jumlah 30 jenis bakteri
(Tabel 1). Perhitungan jumlah sel bakteri
mengalami peningkatan pada waktu
minggu ke-1 di sampel MOL I, II, dan
III (Gambar 1). Hal ini dikarenakan hasil
penguraian bahan organik yang dilakukan
Keterangan: T0: waktu ke-0, T1: waktu minggu ke- bakteri dalam memperoleh nutrisi sehingga
1, T2: waktu minggu ke-2, T3: waktu minggu ke-3
laju pertumbuhan mengalami peningkatan.
MOL dibuat sebagai media hidup Peningkatan bakteri juga bersamaaan
dan mengandung mikroorganisme yang dengan jumlah jenis bakteri yang semakin
dapat bersifat dekomposisi bahan organik meningkat. Pada minggu ke-2 dan minggu
dan memiliki potensi sebagai pemacu ke-3 di sampel MOL ke-I dan II mengalami
pertumbuhan tanaman. Berdasarkan hasil penurunan. Hal ini diduga kondisi substrat
isolasi dapat dilihat pada Tabel.1 bahwa yang berkurang dalam mendukung
diperoleh data secara keseluruhan dari pertumbuhan bakteri, sehingga memasuki
sampel MOL ke-I, II, dan III jumlah sel waktu fermentasi minggu ke-3 jumlah
bakteri tertinggi terdapat pada sampel MOL sel bakteri dan diikuti jenis bakteri yang
ke-II dengan jumlah jenis bakteri paling berkurang. Suhastyo (2011) menyatakan
banyak. Faktor yang mempengaruhi jumlah kondisi total populasi mikrob pada MOL
populasi mikroba untuk tumbuh pada keong dan MOL urin kelinci rata-rata
media fermentasi antara lain pH, oksigen, optimum pertumbuhan pada hari ke-7
dan substrat. Sumber nutrisi utama yang sedangkan MOL bonggol pisang pada
diperoleh mikroba dari cairan MOL yaitu hari ke-14. Menurut Budiyani dkk (2016)
glukosa. Glukosa pada sampel MOL ke-II bahwa hasil kandungan C-organik pada
diduga paling tinggi kandunganny karena fermentasi dua minggu masih mengalami
bersumber dari gula merah dan ditambah peningkatan dan penurunan terjadi
dengan air cucian beras yang juga menjadi pada minggu ke enam. Perbedaan ini
sumber kandungan karbohidrat dalam dikarenakan komposisi yang tidak sama
sampel MOL ke-II. Didukung Suhastyo pada masing-masing perlakuan. Sampel

20
Astriani, dkk

MOL ke-3 pada grafik perhitungan jumlah Uji karakterisasi sampel bakteri asal
sel bakteri menunjukkan pertumbuhan MOL pada waktu awal fermentasi yang
yang berbeda dengan sampel MOL ke-I diperoleh terdapat 28 bakteri. Pada MOL
dan II. Pertumbuhan jumlah sel bakteri ke- I (waktu T0) terdapat 6 isolat dengan
mengalami peningkatan sampai waktu masing-masing kode 1 (S1)T0, 2 (S1)
minggu ke-3. Hal ini diduga karena T0, 3 (S1)T0, 4 (S1) T0, 5 (S1)T0 dan
pertumbuhan mikrob yang ada dalam 12(S1)T0, MOL II (waktu T0) terdapat 7
cairan MOL ke-III masih beradaptasi isolat dengan masing-masing kode 3(S2)
dengan lingkungan sekitar pada minggu T0, 4(S2)T0, 5(S2)T0, 6(S2)T0, 8(S2)T0,
ke-1 dan memulai memanfaatkan substrat 9(S2)T0, 11(S2)T0. Pada MOL II (T1)
memasuki minggu ke-2 dan 3. Peningkatan terdapat 8 jumlah isolat dengan masing-
populasi bakteri disebabkan kandungan masing kode 1(S2)T1, 2(S2)T1, 3(S2)
C-organik telah dirombak mikroorganisme T1, 4(S2)T1, 5(S2)T1, 6(S2)T1, 7(S2)T1,
menjadi senyawa yang lebih sederhana 8(S2)T. Pada MOL III waktu T1 terdapat
dalam larutan MOL. Semakin lama proses 7 isolat dengan masing-masing kode 1(S3)
fermentasi maka akan semakin menurun T1, 2(S3)T1, 3(S3)T1, 4(S3)T1, 5(S3)T1,
jumlah populasi bakteri yang diikuti dengan 6(S3)T1 dan 7(S3)T1 dan MOL 1 (T2)
berkurangnya substrat bagi pertumbuhan terdapat 1 isolat dengan kede 1(S1)T2. Dari
(Budiyani dkk, 2016). Menurut Budiyanto, masing-masing sampel terlihat bahwa rata-
(2002) air kelapa merupakan media yang rata memiliki bentuk yang bulat dengan
baik untuk pertumbuhan mikroorganisme tepian tidak rata dan berwarna putih. Pada
selama proses fermentasi karena air kelapa bakteri asal limbah sayuran terlihat pada
mengandung 7,27% karbohidrat; 0,29% tabel 2. Terlihat bahwa pada MOL 1(Waktu
protein; beberapa mineral antara lain 312 T0) pada media agar tegak 3 isolat pertama
mg L-1 kalium; 30 mg L-1 magnesium; 0,1 Villous dan pada 3 isolat terkahir masing-
mg L-1 besi; 37 mg L-1 fosfor; 24 mg L-1 masing Rhizoid, dan untuk media Agar
belerang; dan 183 mg L-1 klor. Miring bervariasi anatara Spreading,
Arborescent, Ecninulate dan Filifrom.
Untuk MOL II(T0), MOL II (T1) dan MOL
III(T0) sama halnya dengan MOL I (T0)
karakter masing-masing isolat bervariasi.
Namun pada Pertumbuhan pada media cair
NB dapat dilihat paling banyyak Anaerob
Fakultatif. Sesuai dengan ang dijelaskan
oleh Surono (2004) menjelaskan bahwa
variasi karakteristik bakteri normal terjadi.
Dijelaskan juga oleh Volk dan Wheeler
(1988) dalam Isdaryanti (2011) perbedaan
Gambar 1. Perhitungan Jumlah sel bakteri bentuk pertumbuhan dari tiap isolat bakteri
yang diisolasi dari MOL limbah sayuran pada medium agar cawan, mengindikasikan
(a) sampel MOL ke-1 --♦-- bahwa semua isolat tersebut berasal
(b) sampel MOL ke-2 --■-- dari jenis bakteri yang berbeda, dimana
(c) sampel MOL ke-3 --▲-- bentuk koloni dapat dijadikan dasar dalam
identifikasi bakteri.
Isolat bakteri hasil isolasi
dan pemurnian yang dilanjutkan uji SIMPULAN
karakterisasi koloni, morfologi sel Hasil penelitian diperoleh isolat
hanya berjumlah 28 isolat bakteri. Uji bakteri yang berasal dari MOL limbah
karakterisasi isolat dilakukan sebagai uji sayuran yang terdiri atas 3 macam
awal untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk perlakuan yaitu MOL ke-I (limbah sayuran,
koloni bakteri. Sebanyak 28 isolat bakteri. gula pasir, air cucian beras), II (limbah

21
Isolasi Bakteri Asal MOL dan Penerapannya Sebagai Pupuk Hayati

sayuran, gula merah, air cucian beras), dan Juanda, Irfan, dan Nurdiana. (2011).
III (limbah sayuran, gula pasir, air kelapa). Pengaruh Metode dan Lama
Hasil isolasi dan pemurnian bakteri Fermentasi terhadap Mutu MOL
diperoleh berjumlah 79 jenis isolat bakteri (Mikroorganisme Lokal). Jurnal
yang terdiri atas 23 jenis isolat bakteri dari Floratek 6: 140–143. Fakultas
sampel MOL ke-1, 30 jenis isolat bakteri Pertanian Unsyiah, Darussalam
dari sampel MOL ke-II, dan 24 jenis isolat Banda Aceh.
bakteri dari sampel ke-III. Bahwa diperoleh Kesumaningwati R. (2015). Penggunaaan
data secara keseluruhan dari sampel MOL MOL bonggol pisang (Musa
ke-I, II, dan III jumlah sel bakteri tertinggi paradisiaca) sebagai dekomposer
terdapat pada sampel MOL ke-II dengan untuk pengomposan tandan kosong
jumlah jenis bakteri paling banyak. kelapa sawit. J Ziraa’ah vol 40 (1):
40-45 hlm.
DAFTAR PUSTAKA
Surono, I.S. (2004). Prebiotik susu
Batara, L.N. (2015). Kualitas fermentasi dan kesehatan. Tri Cipta
mikroorganisme lokal (MOL) yang Kara. Jakarta
digunakan pada penanaman padi
(Oryza sativa L.) dengan metode Sutari, N. W. S. (2010). Uji Berbagai
system of rice intensification (SRI) Jenis Pupuk Cair Biourine terhadap
organik. Tesis. Pasacasarjana IPB. Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman
Sawi Hijau (Brassica juncea L.).
Budiyani, N.K., Soniari, N.N dan Agritrop : Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian
Sutari, N.W.S. (2016). Analisis (Journal On Agricultural Sciences)
Kualitas Mikroorganisme Lokal edisi desember 2010. Vol.29.
(MOL.) Bonggol Pisang. E-Jurnal
Agroteknologi Tropika. Vol 5 (1): Suyanto A, Irianti ATP. (2015). Efektivitas
Universitas Udayana. Bali. Trichoderma sp dan mikroorganisme
local (MOL) sebagai decomposer
Budiyanto, M. (2002). Mikrobiologi dalam meningkatkan kualitas pupuk
Terapan. Universitas Muhammadiya. organik alami dari beberapa limbah
Malang. tanaman pertanian. Jurnal Agrosains
Hadiotomo, R. S. (1995). Mikrobiologi Vol 12 (2). ISSN 1693-5225. Hal 1-7.
Dasar Dalam Praktek Teknik dan Suhastyo AA. (2011). Studi mikrobiologi
Prosedur Dasar Laboratorium. dan sifat kimia mikroorganisme
Gramedia. lokal (MOL) yang digunakan pada
Husen E, Irawan. (2008). Efektivitas budidaya padi metode SRI (system
dan efisiensi mikroba dekomposer of rice intensif ication). Tesis. Bogor
komersial dan lokal dalam pembuatan (ID): Intitut Pertanian Bogor.
kompos jerami. http:www.balittanah. Suhastyo AA, Anas I, Santosa DA, Lestari
litbang.deptan.go.id/ dokumen/ Y. (2013). Studi mikrobiologi sifat
prosiding2008pdf/ edihusen.pdf. kimia mikroorganisme lokal (MOL)
Irianto, K. (2006). Mikrobiologi, Menguak yang digunakan pada budidaya
Dunia Mikroorganisme. Jilid 1. padi metode SRI (System of Rice
Yrama Widya. Bandung. Intensification). J Sainteks Vol x (2):
29-39 hlm.
Isdaryanti, Abdullah. A dan Nawir, N.H.A.
(2011). Isolasi dan karakerisasi Purwasasmita M, Kunia K. (2009).
bakteri pendegradasi Lignoselulosa Mikroorganisme lokal sebagai
Asal Rumen Sapi. Jurusan FMIPA pemicu siklus kehidupan dalam
UNHAS. Jurnal tidak diterbitkan. bioreaktor tanaman. Seminar
Nasional Teknik Kimia Indonesia-

22
Astriani, dkk

SNTKI 2009. Bandung 19-20


Oktober 2009.
Widjajanti, H., Munawar & Nafiah. (2006).
Isolasi, Seleksi, dan Karakterisasi
Bakteri Hidrokarbonoklastik dari
Limbah Cair Kegiatan Eksplorasi
Minyak Bumi. Jurnal Pengelolahan
Lingkungan & Sumber Daya Alam.
Vol6(4): 22-31 hlm

23