Sie sind auf Seite 1von 13

PENGARUH KONFLIK PERAN GANDA (FAMILY WORK

CONFLICT) TERHADAP STRES KERJA PERAWAT


WANITA DI RSUD dr. SOEDARSO PONTIANAK

Risti Rachmaningrum, Lestari Makmuriana


Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan Muhammadiyah Pontianak
rachmaningrumristi@gmail.com

ABSTRACT

Background: The involvement of female nurses into the world of work causes women to have
multiple roles. Family work conflict is a conflict arising from family responsibilities that interfere with
job responsibilities, so the impact is the emergence of forms of job stress, interpersonal conflict in
working area, career transition, the existence of the organization or superiors less supportive, long
and irregular work hours and increased workload.
Purpose : To determine the magnitude of the influence of dual role family work conflict against the
work of female nurses in dr. Soedarso Pontianak hospitals.
Method : Correlative research method with crossectional approach. The sample in this study were
60 people. Total sampling used in this study. Done in this study is questionnaire and analyzed by
Chi Square statistical test.
Results : This study indicate that there is the influence of family work conflict on the work stress of
female nurses in dr. Soedarso Pontianak with value ρ value 0,010 (p value <0,05) which means Ha
accepted and Ho rejected.
Conclusions : There is influence of dual role conflict (family work conflict) to work stress of female
nurse in dr. Soedarso Pontianak
Keywords : Family Work Conflict, Working Stress, Female Nurse

ABSTRAK

Latar Belakang : Terlibatnya perawat wanita ke dalam dunia kerja menyebabkan wanita memiliki
peran ganda. Konflik peran ganda (family work conflict) merupakan konflik yang muncul akibat
tanggung jawab terhadap keluarga yang mengganggu tanggung jawab terhadap pekerjaan. Dampak
yang ditimbulkan adalah munculnya bentuk-bentuk dari stres kerja, konflik interpersonal di
lingkungan kerja, transisi karir, adanya organisasi atau atasan yang kurang mendukung, jumlah jam
kerja yang panjang dan tidak teratur serta meningkatnya beban kerja.
Tujuan: Mengetahui besarnya pengaruh konflik peran ganda (family work conflict) terhadap stres
kerja perawat wanita di RSUD dr. Soedarso Pontianak.
Metode : Penelitian korelatif dengan pendekatan crossectional. Sampel dalam penelitian ini
sebanyak 60 orang. Tehnik pengambilan sampel dengan cara total sampling. Instrumen kuesioner
dan dianalisis dengan uji statistik Chi Square.
Hasil : Ada pengaruh konflik peran ganda (family work conflict) terhadap stres kerja perawat wanita
di RSUD dr. Soedarso Pontianak dengan nilai ρ value 0,010 (p value < 0,05) yang artinya Ha diterima
dan Ho ditolak.
Kesimpulan : Terdapat pengaruh konflik peran ganda (family work conflict) terhadap stres kerja
perawat wanita di RSUD dr. Soedarso Pontianak.
Kata Kunci : Konflik Peran Ganda, Stres Kerja, Perawat Wanita

1
PENDAHULUAN wanita yang sudah menikah dan memiliki
Rumah Sakit merupakan salah satu anak.
bentuk sarana kesehatan yang Kenyataannya, banyak perawat yang
diselenggarakan oleh pemerintah bekerja adalah wanita. Ada banyak hal
maupun masyarakat yang bermanfaat yang menjadi alasan wanita menjadi
untuk melakukan suatu pelayanan seorang wanita karier, diantaranya ada
kesehatan dasar atau kesehatan rujukan yang memilih karier karena tuntutan
dan atau upaya kesehatan penunjang. perekonomian, status single parent, dan
Peningkatan mutu dalam pelayanan menjadi penopang utama bagi kehidupan
rumah sakit dijadikan sebagai tolak ukur keluarga. Wanita berkarir karena ingin
dalam keberhasilan suatu rumah sakit mengaktualisasikan diri dan masuk ke
dalam menjalankan fungsinya. Ada ajang sosialisasi, banyaknya wanita yang
beberapa faktor yang dapat ingin mempunyai kebebasan finansial
meningkatkan mutu rumah sakit, salah sehingga tidak ingin tergantung kepada
satunya adalah sumber daya manusia [11]. suami, serta wanita yang sudah
Perawat merupakan sumber daya mengenyam pendidikan yang tinggi
manusia yang ikut serta dalam merasa pentingnya mengaplikasikan
memberikan pelayanan kesehatan di pendidikan tersebut kedalam dunia kerja
[15]
rumah sakit. Berdasarkan laporan .
keanggotaan yang tercatat dalam sistem Terlibatnya wanita ke dalam dunia
organisasi profesi perawat (PPNI), jumlah kerja menyebabkan wanita memiliki peran
perawat di Indonesia yang mendaftar ganda. Sebagaimana wanita yang sudah
sampai bulan April 2017 adalah 359.339 berkeluarga, perawat wanita dituntut
orang perawat yang terdiri dari 29 % untuk menjalankan dua peran sekaligus,
(103.013 orang) perawat laki-laki, dan 71 yaitu peran sebagai istri dan ibu ketika
% (256.326 orang) perawat perempuan. berada di rumah, dan sebagai wanita
Total jumlah perawat di Indonesia yang karier ketika berada di tempat kerja. Hal
diperoleh PPNI tersebut merupakan ini menyebabkan perawat wanita yang
jumlah perawat individu yang sudah menikah dan memiliki anak
mendaftarkan diri untuk keanggotaan mempunyai peran dan tanggung jawab
PPNI sebagai salah satu syarat mengikuti yang lebih besar dari pada wanita yang
uji kompetensi dan memperoleh surat masih single, apalagi orangtua yang
tanda registrasi [25]. memiliki anak usia prasekolah karena
Jumlah perawat di Kalimantan Barat pada usia ini merupakan masa emas (the
berada pada urutan ke 17 dari 34 provinsi golden age) bagi anak, sehingga pada
yaitu dengan jumlah perawat sebanyak masa ini seluruh aspek pertumbuhan dan
5.433 orang berdasarkan hasil perkembangan anak harus lebih
rekapitulasi BPPSDMK (Badan diperhatikan [17, 30].
Pengembangan dan Pemberdayaan Wanita yang bekerja cenderung
Sumber Daya Manusia Kesehatan) per dapat menimbulkan persoalan. Ketika di
Desember 2016 [19]. Rumah sakit dr. tempat kerja, ia dihadapkan pada
Soedarso Pontianak adalah rumah sakit tuntutan pekerjaan, misalnya tekanan
terbaik di Kalimantan Barat karena kerja yang berasal dari beban kerja
merupakan rumah sakit rujukan Nasional yang berlebihan dan pekerjaan yang
dengan tipe A. Adapun jumlah perawat harus segera diselesaikan sesuai
yang bekerja di ruang instalasi rawat inap dengan deadline. Wanita harus melewati
B di RSUD dr. Soedarso Pontianak dan menyelesaikan pekerjaannya,
adalah sebanyak 77 orang. Klasifikasi kemudian ketika pulang ke rumah, ia
dari jumlah tersebut terdiri dari 17 orang sudah harus dihadapkan kembali pada
perawat laki-laki dan 60 orang perawat tuntutan keluarga, misalnya berhubungan

2
dengan waktu dan tenaga yang membuat perawat harus mampu
dibutuhkan untuk menyelesaikan menyesuaikan diri, baik sikap maupun
pekerjaan rumah tangga, mengatur emosi. Situasi ini membuat perawat
waktu dengan suami dan anak serta menjadi rentan mengalami stres dalam
menyelesaikan urusan rumah tangga bekerja yang berdampak pada penurunan
lainnya dengan baik, sehingga hal ini fisik dan emosional, kinerja perawat
disebut sebagai konflik peran ganda [3]. menurun, kurangnya sikap responsif
Konflik peran ganda (family work terhadap pasien serta asuhan
conflict) merupakan konflik yang muncul keperawatan yang diberikan menjadi
akibat tanggung jawab terhadap keluarga kurang efektif [21].
yang mengganggu tanggung jawab Stres yang dihadapi perawat saat
terhadap pekerjaan, sehingga dampak bekerja akan sangat mempengaruhi
yang ditimbulkan adalah munculnya kualitas pelayanan keperawatan yang
bentuk-bentuk dari stres kerja, konflik diberikan kepada pasien, yang dapat
interpersonal di lingkungan kerja, transisi berpengaruh terhadap tingkat kepuasan
karir, adanya organisasi atau atasan yang pasien dalam menerima pelayanan yang
kurang mendukung, jumlah jam kerja diberikan. Kepuasan pasien merupakan
yang panjang dan tidak teratur serta indikator utama dalam keberhasilan
[7,18]
meningkatnya beban kerja . pelayanan keperawatan [14]. Hal ini
Berdasarkan hasil penelitian yang sejalan dengan penelitian yang dilakukan
dilakukan sebelumnya oleh Susijawati, oleh Mukti, dkk (2013) dalam hasil
dkk (2017) bahwa konflik peran ganda penelitiannya ditemukan bahwa adanya
berpengaruh terhadap kinerja perawat responden yang merasa tidak puas
yang memberikan pelayanan di rumah terhadap petugas di rumah sakit yang
sakit [31]. tidak tepat waktu, hal ini dikarenakan
Perawat memiliki tugas yang dituntut perawat tidak siap di ruangan perawatan
untuk sigap dalam menghadapi berbagai dalam waktu 24 jam [22].
masalah dalam menjalankan proses Pada tahun 2011, World Health
asuhan keperawatan, khususnya perawat Organization (WHO) menemukan fakta
di ruang instalasi rawat inap yang memiliki bahwa perawat yang bekerja di rumah
tuntutan kerja yang sangat tinggi. Perawat sakit dibeberapa negara Asia Tenggara
yang bekerja diruang rawat inap lebih termasuk Indonesia menjalani
rentan mengalami stres dibanding peningkatan beban kerja dan masih
perawat rawat jalan, karena tipe mengalami kekurangan jumlah perawat
pekerjaan yang monoton sehingga dapat dan menyatakan bahwa stres merupakan
menyebabkan kebosanan dan stres kerja. epidemi yang menyebar keseluruh dunia.
Kemampuan perawat dalam berprilaku Penyakit-penyakit yang berkaitan dengan
sangat berperan penting dalam menjaga stres telah menyebabkan kerugian
keselamatan pasien. Prilaku perawat ekonomi negara Amerika sekitar lebih dari
yang ceroboh, lupa, kurang perhatian $100 miliar pertahun. Sebanyak 90% dari
atau motivasi, tidak teliti, tidak pelayanan kesehatan di rumah sakit
memperdulikan dan tidak menjaga adalah pelayanan keperawatan dan dari
keselamatan pasien beresiko beberapa penelitian dikemukakan bahwa
menyebabkan terjadinya kesalahan yang stres kerja merupakan hal yang lazim bagi
akan mengakibatkan cidera pada pasien. perawat, hal ini merupakan pernyataan
Tekanan-tekanan dalam merawat orang menurut The American Institute of Stress
[27]
lain, menyaksikan situasi yang .
menyakitkan, intensitas interaksi yang Riset yang telah dilakukan selama
tinggi terhadap pasien dan keluarganya bertahun-tahun di Amerika Serikat
serta dengan staf kesehatan lain mengenai tingkat stres wanita, ditemukan

3
bahwa terdapat 92 persen dari 4,3 juta oleh perawat wanita dengan peran ganda,
perawat di Amerika Serikat adalah wanita. menjadi dasar peneliti untuk mengetahui
Hasil statistik dari Roper Starch lebih dalam mengenai adakah pengaruh
Worldwide’s Global 2000 Consumer konflik peran ganda terhadap stres kerja
Study terhadap 30.000 orang antara usia perawat wanita di RSUD dr. Soedarso
13 dan 65 tahun di 30 negara Pontianak.
menunjukkan bahwa peningkatan stres
dirasakan di seluruh dunia, dengan METODOLOGI PENELITIAN
wanita secara konsisten melaporkan lebih Desain penelitian yang digunakan
stres daripada pria. Creating Healhty dalam penelitian ini analitik korelatif
Corporate Cultures for Both Genders, dengan pendekatan cross sectional
juga mengungkapkan bahwa stres lebih dimana pengambilan data pada suatu
memengaruhi wanita dari pada pria. penelitian terhadap beberapa variabel
Wanita mengalami lebih banyak masalah penelitian dilakukan pada satu waktu
kesehatan hampir 40% dibandingkan untuk mengetahui adanya pengaruh
pria, dan mengalami tingkat stres yang konflik peran ganda (family work conflict)
lebih tinggi [6]. terhadap stres kerja perawat wanita di
Hasil studi pendahuluan yang RSUD dr. Soedarso Pontianak.
dilakukan oleh peneliti dengan metode Populasi pada penelitian ini adalah
wawancara pada salah satu perawat perawat wanita yang sesuai dengan
wanita yang bekerja di RSUD dr. kriteria inklusi di instalasi rawat inap B
Soedarso Pontianak mengatakan bahwa RSUD dr. Soedarso Pontianak yaitu
banyaknya tanggung jawab pekerjaan sebanyak 60 orang.
yang harus ia selesaikan mulai dari Kriteria inklusi adalah karakteristik sampel
tanggung jawab didalam rumah tangga yang layak untuk diteliti yaitu:
maupun pekerjaan. Hal ini menyebabkan a. Perawat wanita pelaksana yang sudah
perawat merasa lelah saat bekerja, serta bekerja minimal 1 tahun
tengkuk dan punggung terasa tegang. Di b. Perawat wanita yang sudah menikah
pagi hari, perawat yang bekerja harus dan memiliki maksimal 2 anak usia
mengurus suami dan anak sebelum prasekolah
berangkat sekolah, menyiapkan sarapan, c. Perawat wanita yang tinggal dengan
mengantar anak sekolah, sehingga keluarga inti dan memiliki minimal 1
terkadang terlambat untuk dinas pagi. Hal anak
ini menyebabkan dirinya lupa dan tidak d. Perawat wanita yang bersedia menjadi
sempat untuk sarapan, sehingga ketika ia responden
bekerja perut terasa sakit. Jika dinas Kriteria eksklusi adalah pasien yang tidak
malam ia seringkali mengantuk, karena layak diteliti menjadi sampel yaitu :
sudah merasa lelah mengurus rumah a. Perawat wanita yang memiliki Asisten
tangga dari pagi hingga sore, dan selesai Rumah Tangga (ART)
dinas malam perawat ingin segera pulang b. Perawat wanita dengan status single
ke rumah namun biasanya ada perawat parent
dinas pagi yang datang terlambat, c. Perawat wanita yang sedang cuti / izin
sehingga bertambahnya beban kerja saat pengambilan data
yang harus diselesaikan. Akibatnya,
kurangnya waktu istirahat dan tidur Uji validitas pada kuesioner ini
membuat ia mudah merasa pusing dan menggunakan rumus Korelasi Pearson
lelah saat bekerja. Product Moment. Setelah dilakukan uji
Mengingat besarnya dampak yang validitas, dari total 15 pernyataan pada
dapat ditimbulkan akibat konflik peran kuesioner konflik peran ganda dinyatakan
ganda dan stres kerja yang dapat dialami valid dengan nilai uji validitas ≥ 0,361.

4
Pada kuesioner stres kerja terdiri dari 24 responden (10%), dan SPK sebanyak
pernyataan, dengan 22 pernyataan 7 responden (11,7%).
dinyatakan valid dan 2 pernyataan tidak
valid dikarenakan nilai uji validitas <0,361, c. Karakteristik Berdasarkan Masa
sehingga pernyataan yang tidak valid Kerja
tersebut dieliminasi karena pernyataan Tabel 3.Distribusi Frekuensi Masa
tersebut sudah diwakili oleh pernyataan Kerja
yang lainnya. Karakteristik
Persentase
Frekuensi (%)
Responden
HASIL PENELITIAN
Analisa Univariat 1-5
11 18,3
a. Karakteristik Berdasarkan Usia tahun
6-10
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Usia 13 21,7
tahun
Karakteristik Persentase
Frekuensi > 11
Responden (%) 36 60,0
tahun
17-25 3 5,0
Total 60 100,0
26-35 23 38,3
36-45 19 31,7 Sumber : Data Primer, 2018
46-55 15 25,0
Total 60 100,0 Berdasarkan tabel hasil penelitian
Sumber : Data Primer, 2018 menunjukkan bahwa masa kerja
responden di RSUD dr. Soedarso
Berdasarkan tabel hasil penelitian Pontianak yang paling lama adalah
menunjukkan bahwa responden di lebih dari 11 tahun yaitu sebanyak 36
RSUD dr. Soedarso Pontianak yang responden (60%), masa kerja 6-10
berusia 17-25 tahun yaitu 3 responden tahun sebanyak 13 responden
(5,0 %), usia 26-35 sebanyak 23 (21,7%), dan masa kerja 1-5 tahun
responden (38,3%), usia 36-45 sebanyak 11 responden (18,3%).
sebanyak 19 responden (31,7%), dan
usia 46-55 sebanyak 15 responden d. Konflik Peran Ganda (Family Work
(25%). Conflict)
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Konflik
b. Karakteristik Berdasarkan Peran Ganda (Family Work Conflict)
Pendidikan Persentase
Variabel Frekuensi (%)
Tabel 2. Distribusi Frekuensi
Pendidikan
Tidak
Karakteristik Persentase
Frekuensi Mengalami 35 58,3
Responden (%)
Konflik
SPK 7 11,7 Mengalami
DIII 47 78,3 25 41,7
Konflik
S1 6 10,0
Total 60 100,0
Total 60 100,0
Sumber : Data Primer, 2018
Sumber : Data Primer, 2018
Berdasarkan tabel hasil penelitian
Berdasarkan tabel hasil penelitian
menunjukkan bahwa responden yang
menunjukkan bahwa pendidikan
tidak mengalami konflik peran ganda
responden di RSUD dr. Soedarso
(Family Work Conflict) sebanyak 35
Pontianak yang paling banyak adalah
responden (58,3%), sedangkan yang
D III Keperawatan dengan jumlah 47
mengalami konflik peran ganda
responden (78, 3%), S1 sebanyak 6
(Family Work Conflict) adalah
sebanyak 25 responden (41,7%).

5
e. Stres Kerja mengalami konflik peran ganda
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Stres mengalami stres kerja ringan sebanyak 7
Kerja Perawat Wanita responden (20%), mengalami stres kerja
Variabel Frekuensi
Persentase sedang sebanyak 28 responden (80%),
(%) dan tidak ada yang mengalami stres kerja
Stres berat. Perawat wanita yang mengalami
Kerja 7 11,7 konflik peran ganda tidak ada yang
Ringan mengalami stres kerja ringan, sementara
Stres
yang mengalami stres kerja sedang
Kerja 50 83,3
Sedang sebanyak 22 responden (88%), dan yang
Stres mengalami stres kerja berat sebanyak 3
Kerja 3 5,0 responden (12%). Hasil ukur pada
Berat penelitian ini menggunakan data
Total 60 100,0 kategorik-kategorik, dengan tabel 3x2
Sumber : Data Primer, 2018 sehingga hasil uji statistik yang dilihat
adalah nilai Pearson Chi Square dan
Berdasarkan tabel hasil penelitian didapatkan nilai signifikansi p value 0,01
diatas menunjukkan bahwa perawat (p value < 0,05) yang menunjukkan
wanita yang mengalami stres kerja adanya pengaruh konflik peran ganda
ringan sebanyak 7 responden (11,7%), (family work conflict) terhadap stres kerja
stres kerja sedang sebanyak 50 perawat wanita di RSUD dr. Soedarso
responden (83,3%), dan yang Pontianak. Maka dengan demikian Ha
mengalami stres kerja berat sebanyak diterima dan Ho ditolak.
3 responden (5,0%).
PEMBAHASAN
Analisa Bivariat 1. Karakteristik Berdasarkan Usia
Analisa bivariat dilakukan untuk Hasil penelitian ini menunjukkan
mengetahui ada tidaknya pengaruh bahwa responden yang mengalami
konflik peran ganda (family work conflict) konflik peran ganda (family work
terhadap stres kerja perawat wanita di conflict) yaitu sebanyak 25 responden
RSUD dr. Soedarso Pontianak, maka (41,7%). Akan tetapi, responden yang
dilakukan analisis (tabel 3x2) pada tidak mengalami konflik peran ganda
variabel yang diteliti. Uji statistik yang lebih banyak yaitu 35 orang responden
digunakan yaitu uji Chi Square dengan CI (58,3%). Berdasarkan hal tersebut,
95%. peneliti menganalisa bahwa lebih
Tabel 6. Distribusi Frekuensi pengaruh banyaknya jumlah responden yang
konflik peran ganda (family work conflict) tidak mengalami konflik peran ganda
terhadap stres kerja perawat wanita dibandingkan responden yang
Variabel p value mengalami konflik peran ganda,
Konflik peran dimungkinkan karena jumlah
ganda dan 0,010* responden dengan usia dewasa akhir
Stres kerja dan lansia awal lebih banyak daripada
Keterangan:* bermakna secara statistik (p responden dengan usia remaja akhir
< 0,05) dan dewasa awal. Hal ini didukung
oleh pernyataan menurut Herqutanto,
Hasil penelitian mengenai distribusi dkk (2017) bahwa perawat yang
frekuensi pengaruh konflik peran ganda berusia lebih dari 40 tahun lebih dapat
(family work conflict) terhadap stres kerja mengendalikan stres, mampu
perawat wanita di RSUD dr. Soedarso mengendalikan emosi terhadap suatu
Pontianak yaitu perawat wanita yang tidak konflik, toleran terhadap pandangan

6
dan prilaku yang berbeda darinya, Stres Kerja Perawat Wanita di RSUD
lebih matang kejiwaannya, bijaksana, dr. Soedarso Pontianak
berpikir rasional, serta lebih matang Berdasarkan hasil analisis statistik
tingkat intelektual dan psikologisnya dengan menggunakan uji Chi Square
[16]
. bahwa maka Ha diterima dan Ho
Hal ini sejalan dengan teori yang ditolak yang artinya adanya pengaruh
dikemukakan oleh Yamin (2003) dalam konflik peran ganda (family work
Nurman (2017) bahwa usia merupakan conflict) terhadap stres kerja perawat
salah satu faktor yang dapat wanita di RSUD dr. Soedarso
mempengaruhi kematangan Pontianak. Hasil penelitian dari 60
seseorang dalam mengambil responden, terdapat 35 responden
keputusan dan berprilaku. Semakin yang tidak mengalami konflik peran
bertambah usia secara psikologis ganda dengan 7 responden yang
maka kedewasaan seseorang dalam mengalami stres kerja ringan, 28
bertindak semakin baik, yang artinya responden yang mengalami stres kerja
semakin dewasa usia seseorang, sedang, dan tidak ada yang
maka akan semakin baik perilakunya mengalami stres kerja berat,
[24]
. sedangkan dari 25 responden yang
2. Karakteristik Berdasarkan mengalami konflik peran ganda
Pendidikan terdapat 22 responden yang
Hasil penelitian ini menunjukkan mengalami stres kerja sedang, 3
bahwa pendidikan responden di RSUD responden yang mengalami stres kerja
dr. Soedarso Pontianak yang paling berat, dan tidak ada responden yang
banyak adalah D III Keperawatan mengalami stres kerja ringan.
dengan jumlah 47 responden (78, 3%). Hasil penelitian tersebut
Seseorang yang memiliki tingkat menunjukkan responden yang tidak
pendidikan yang tinggi cenderung mengalami konflik peran ganda lebih
memiliki standar kerja yang tinggi. banyak yang mengalami stres kerja
Standar kerja yang tinggi dalam dibandingkan responden yang
pekerjaan inilah yang dapat mengalami konflik peran ganda.
menyebabkan stres kerja, karena Peneliti menganalisa bahwa hal
adanya tuntutan dan tanggung jawab tersebut dapat terjadi dikarenakan
yang lebih besar [4,13]. lebih banyak responden yang berusia
3. Karakteristik Berdasarkan Masa >40 tahun dengan masa kerja yang
Kerja panjang, yang mana dengan usia
Hasil penelitian ini menunjukkan tersebut responden lebih mampu
bahwa masa kerja responden di RSUD mengendalikan emosi terhadap konflik
dr. Soedarso Pontianak yang paling peran ganda yang dialaminya, namun
lama adalah lebih dari 11 tahun yaitu masa kerja yang panjanglah yang
sebanyak 36 responden (60%). menyebabkan kejenuhan dalam
Menurut Robin (2007) dalam Maatilu bekerja sehingga lebih banyak
(2014) bahwa seseorang yang telah responden yang mengalami stres
lama dalam bekerja tidak menjamin kerja. Hal tersebut sejalan dengan
seseorang tesebut memiliki motivasi pendapat menurut Puteri (2009) dalam
kerja yang tinggi dan bekerja lebih Sumarto, dkk (2017) bahwa semakin
produktif dibandingkan mereka yang lama masa kerja maka semakin besar
senioritasnya lebih rendah [20]. peluang seseorang mengalami stres.
4. Pengaruh Konflik Peran Ganda Perawat yang bekerja diatas 9 tahun
(Family Work Conflict) Terhadap lebih banyak mengalami stres kerja
dikarenakan harus mengerjakan

7
pekerjaan yang berulang-ulang setiap sebagai ibu rumah tangga, individu,
hari dan monoton dalam jangka waktu istri, warga masyarakat serta sebagai
yang lama, sehingga pada akhirnya karyawan yang tidak dapat membagi
menimbulkan kejenuhan dan atau menyeimbangkan waktu untuk
kebosanan yang dirasakan perawat urusan keluarga dan bekerja dapat
saat menyelesaikan pekerjaannya [29]. menimbulkan konflik [26].
Menurut teori pendekatan Roy Berdasarkan hasil penelitian
dalam model adaptasi keperawatan sebelumnya yang dilakukan oleh
bahwa individu adalah makhluk Almasitoh (2011) dalam penelitiannya
biopsikososial sebagai satu kesatuan yang berjudul Stres Kerja Ditinjau dari
yang memiliki mekanisme koping Konflik Peran Ganda dan Dukungan
untuk beradaptasi terhadap perubahan Sosial pada Perawat yang
lingkungan. Individu selalu menyebutkan bahwa terdapat
menggunakan koping, baik yang hubungan yang signifikan antara
bersifat positif maupun negatif untuk konflik peran ganda dan dukungan
dapat beradaptasi. Respon atau sosial terhadap stres kerja perawat.
prilaku adaptasi seseorang terhadap Penelitian ini juga menyimpulkan
perubahan atau kemunduran, semakin tinggi konflik peran ganda
bergantung pada stimulus yang masuk dan semakin rendah dukungan sosial
dan tingkat/kemampuan adaptasi maka semakin tinggi stres kerja
orang tersebut [5]. yang dialami perawat. Sebaliknya,
Rendahnya konflik peran ganda semakin rendah konflik peran ganda
yang dialami oleh wanita yang bekerja dan semakin tinggi dukungan sosial
disebabkan karena baiknya maka semakin rendah stres kerja yang
kemampuan mekanisme koping dialami perawat [1].
wanita yang bekerja, yaitu dengan Setelah dianalisis dari jawaban
mencari dukungan sosial dari anggota yang diberikan oleh responden pada
keluarga dan rekan kerja, melibatkan kuesioner konflik peran ganda dengan
anggota keluarga dalam pernyataan yaitu kurangnya bantuan
menyelesaikan tanggung jawab rumah dari suami dalam menyelesaikan
tangga, melakukan penjadwalan dan pekerjaan dirumah membuat
penyusunan hal-hal yang perlu bertambahnya beban pekerjaan yang
diprioritaskan serta merencanakan harus saya selesaikan, menunjukkan
waktu untuk bersama-sama keluarga hasil bahwa lebih banyak responden
[8]
. yang menjawab setuju pada
Konflik peran ganda yang dialami pernyataan tersebut. Hal ini sejalan
oleh perawat wanita yang bekerja, dengan hasil penelitian terdahulu yang
sesuai dengan teori yang dikemukakan dilakukan oleh Anggriana, dkk (2016)
oleh Greenhaus & Beutell (1985) menunjukkan bahwa ada pengaruh
dalam Diane & Tremblay (2016) yaitu yang signifikan antara dukungan sosial
keterbatasan waktu yang dimiliki oleh keluarga terhadap konflik peran ganda,
seseorang, dan banyaknya waktu yang dalam penelitiannya mengungkapkan
digunakan untuk suatu pekerjaan, bahwa konflik peran ganda yang
seringkali berakibat pada terbatasnya dialami oleh perempuan yang bekerja
waktu untuk keluarga dan sebaliknya, tidak terlepas dari pengaruh dan
hal inilah yang memicu terjadinya dukungan dari keluarga terutama
konflik peran ganda [10]. Hal yang dukungan emosional dari suami,
sama juga diungkapkan oleh Rantika misalnya suami dapat memberikan
(2011) yaitu kegagalan pemenuhan kenyamanan sehingga istri dapat
tuntutan dari salah satu peran baik terbebas dalam kondisi keluarga yang

8
penuh dengan tekanan. Dukungan peran yang harus dijalani wanita tidak
juga dapat diberikan oleh suami dalam hanya mengurus keluarga tetapi juga
bentuk keikutsertaannya dalam mengurus pekerjaan. Perawat harus
mengurus rumah tangga dan berbagi menjalankan tugasnya yang
peran dalam mengasuh anak. Motivasi menyangkut kelangsungan hidup
dan penghargaan yang diberikan pasien yang dirawatnya, perawat
suami terhadap prestasi kerja yang memiliki tanggung jawab untuk
diraih oleh istri juga dapat mengurangi memenuhi kebutuhan pasien selama
konflik peran ganda yang dialami oleh dalam perawatan seperti memandikan
istri [3]. pasien, mencatat perkembangan
Konflik peran ganda yang pasien, menyiapkan mental rohani
dirasakan oleh wanita yang bekerja bagi pasien dan keluarga dalam masa-
cenderung mengarah kepada stres. masa perawatan. Kondisi ini dapat
Ketika urusan pekerjaan mencampuri membuat perawat merasa tertekan,
kehidupan di dalam keluarga, tekanan hal inilah yang dapat memicu stres
sering kali terjadi pada individu untuk kerja pada perawat [12].
mengurangi waktu yang dihabiskan Stres di tempat kerja dapat
dalam pekerjaan dan menyediakan disebabkan oleh beberapa faktor
lebih banyak waktu untuk keluarga. seperti adanya konflik peran,
Sama halnya dengan konflik keluarga ketidaknyamanan pada pekerjaan,
terhadap pekerjaan, konflik ini dapat ambiguitas peran, tekanan waktu,
mengarah pada stres kerja konflik interpersonal, jumlah pekerjaan
dikarenakan banyaknya waktu yang yang berlebihan, masalah-masalah
dibutuhkan untuk menyelesaikan yang terjadi di luar organisasi, seperti
pekerjaan [8]. adanya kekhawatiran finansial,
Wanita yang bekerja lebih sering masalah yang bersangkutan dengan
mengalami konflik dan permasalahan anak, masalah-masalah fisik,
serta lebih menekankan pentingnya masalah-masalah perkawinan
permasalahan yang ada pada misalnya perceraian, perubahan-
keluarga dibandingkan pekerjaan, perubahan yang terjadi di tempat
ketika keluarga sebagai domain yang tinggal, dan masalah pribadi lainnya
paling penting bagi kebanyakan misalnya seperti kematian sanak
wanita, maka permasalahan ini dapat saudara [23,32].
mempengaruhi wanita dalam bekerja Stres yang dirasakan oleh perawat
dan dapat menjadi gangguan bagi wanita yang mengalami konflik peran
mereka, sehingga menyebabkan ganda, sejalan dengan pendapat
penurunan kinerja [9]. Konflik ini terjadi menurut Yani (2011) dalam Amalia,
karena selain menjadi ibu rumah dkk (2017) yang menyebutkan bahwa
tangga yang mengurus keluarga, juga perempuan lebih mengalami stres
sebagai pencari nafkah yaitu sebagai karena memiliki dua peran yaitu peran
perawat yang membutuhkan energi ketika di rumah dan di tempat kerja.
baik secara psikis maupun fisik. Peran ganda yang harus dijalani baik
Konflik peran ganda ini dapat sebagai ibu rumah tangga maupun
menyebabkan pelayanan perawat sebagai perawat inilah yang seringkali
kepada pasien menjadi kurang optimal memicu timbulnya stres kerja [2]. Hal ini
[30]
. juga diungkapkan oleh Ruswanti &
Menurut Aditama (2000) dalam Jacobus (2013) dalam penelitiannya
Finarti, dkk (2016) pekerjaan perawat yang berjudul Konflik antara Pekerjaan
sangatlah berat, khususnya perawat dan Keluarga, Stress Kerja terhadap
wanita. Hal ini disebabkan karena Kinerja Perawat Wanita pada Rumah

9
Sakit Bethesda Yogyakarta bahwa ringan sebanyak 7 responden (20%),
perawat yang bekerja dapat menyita mengalami stres kerja sedang
waktu dan tenaga yang dimilikinya sebanyak 28 responden (80%), dan
untuk bekerja dan mengurus keluarga. tidak ada yang mengalami stres kerja
Konflik yang terjadi antara keluarga berat. Perawat wanita yang mengalami
dan pekerjaan inilah yang konflik peran ganda tidak ada yang
menyebabkan perawat tidak dapat mengalami stres kerja ringan,
menyeimbangkan waktu dan sementara yang mengalami stres kerja
tenaganya, hal ini membuat perawat sedang sebanyak 22 responden
mengalami kelelahan dan (88%), dan yang mengalami stres kerja
menyebabkan terjadinya stres kerja berat sebanyak 3 responden (12%).
[28]
. 5. Hasil analisis statistik dengan
menggunakan uji Chi Square
KESIMPULAN didapatkan nilai signifikansi p value
Berdasarkan hasil penelitian 0,01 (p value < 0,05) yang
mengenai pengaruh konflik peran ganda menunjukkan adanya pengaruh konflik
(family work conflict) terhadap stres kerja peran ganda (family work conflict)
perawat wanita di RSUD dr. Soedarso terhadap stres kerja perawat wanita di
Pontianak, maka dapat disimpulkan : RSUD dr. Soedarso Pontianak.
1. Responden di RSUD dr. Soedarso
Pontianak yang paling banyak berusia SARAN
26-35 tahun yaitu 23 responden (38,3 1. Layanan dan masyarakat
%). Pendidikan responden di RSUD dr. Pihak rumah sakit diharapkan
Soedarso Pontianak yang paling dapat memberikan informasi tentang
banyak adalah D III Keperawatan manajemen yang dapat dilakukan
dengan jumlah 47 responden (78, 3%). untuk menghadapi konflik peran
Masa kerja responden di RSUD dr. ganda, dan memperhatikan beban
Soedarso Pontianak yang paling lama kerja perawat sehingga dengan
adalah lebih dari 11 tahun yaitu demikian, tidak semakin memperberat
sebanyak 36 responden (60%). tanggung jawab yang harus
2. Responden yang tidak mengalami diselesaikan perawat wanita dengan
konflik peran ganda (Family Work peran ganda, dengan berkurangnya
Conflict) sebanyak 35 responden konflik peran ganda dan stres kerja,
(58,3%), sedangkan yang mengalami maka perawat dapat meningkatkan
konflik peran ganda (Family Work kinerja dalam memberikan pelayanan
Conflict) adalah sebanyak 25 kepada masyarakat yang lebih baik
responden (41,7%). lagi. Diharapkan perawat wanita
3. Perawat wanita yang mengalami stres dengan peran ganda dapat
kerja ringan sebanyak 7 responden menyeimbangkan peran dan
(11,7%), stres kerja sedang sebanyak mengatasi konflik peran ganda yang
50 responden (83,3%), dan yang dialaminya.
mengalami stres berat sebanyak 3 2. Pendidikan dan perkembangan ilmu
responden (5,0%). keperawatan
4. Hasil penelitian mengenai distribusi Hasil penelitian ini diharapkan
frekuensi pengaruh konflik peran dapat dijadikan sebagai sumber
ganda (family work conflict) terhadap informasi bagi institusi pendidikan,
stres kerja perawat wanita di RSUD dr. menambah wawasan bagi pembaca
Soedarso Pontianak yaitu perawat terkait pengaruh konflik peran ganda
wanita yang tidak mengalami konflik (family work conflict) terhadap stres
peran ganda mengalami stres kerja kerja perawat wanita, serta dapat

10
dijadikan referensi bagi penelitian [6] Borkowski, N. (2015). Manajemen
selanjutnya. Bagi peneliti selanjutnya Pelayanan Kesehatan Prilaku
yang ingin melanjutkan penelitian Organisasi, Ed 2. Jakarta : EGC
dalam bidang yang sama, diharapkan [7] Christine, W.S., Oktorina, M & Mula,
dapat melakukan penelitian dengan I. (2010). Pengaruh Konflik Pekerjaan
jumlah yang seimbang pada kelompok dan Konflik Keluarga Terhadap
usia responden, dan menggunakan Kinerja dengan Konflik Pekerjaan
jenis penelitian dengan mix method Keluarga Sebagai Intervening
(kualitatif dan kuantitatif), sehingga Variabel (Studi pada Dual Career
selain dapat mengetahui besarnya Couple di Jabodetabek). Jurnal
konflik peran ganda dalam cakupan Manajemen Dan Kewirausahaan,
yang luas, juga dapat mengetahui 12(2) : 121-132
pengalaman responden dalam http://jurnalmanajemen.petra.ac.id/in
menghadapi konflik peran ganda dex.php/man/article/view/18170/180
(family work conflict) secara spesifik. 55
[8] Cucuani, H. (2013). Konflik Peran
DAFTAR PUSTAKA Ganda : Memahami Coping Strategi
[1] Almasitoh, U. H. (2011). Stres Kerja Pada Wanita Bekerja. Sosial Budaya,
Ditinjau dari Konflik Peran Ganda 10 (1)http://ejournal.uin-
dan Dukungan Sosial pada Perawat. suska.ac.id/index.php/SosialBudaya/
Jurnal Psikologi Islam, 8 (1) article/view/393
http://ejournal.uin- [9] Dardin. (2013). Hubungan Konflik
malang.ac.id/index.php/psiko/article/ Peran Ganda, Stress Kerja Dan
view/1546 Beban Kerja Dengan Burnout
[2] Amalia, B. R., Wahyuni, I & Ekawati. Perawat Wanita Di Rs Haji
(2017). Hubungan Antara Makassar Universitas Hasanuddin,
Karakteristik Individu, Beban Kerja Makasar. Tesis
Mental, Pengembangan Karir Dan [10] Diane, S. M & Tremblay, D. G. (2016).
Hubungan Interpersonal Dengan Workload, generic and work–family
Stres Kerja Pada Guru Di Slb Negeri specific social supports and job
Semarang. Jurnal Kesehatan stress: mediating role of work-family
Masyarakat (e-Journal), 5(5). and family-work conflict. International
[3] Anggriana, T. M., Margawati, T. M & Journal of Contemporary Hospitality
Wardani, S. Y. (2016). Konflik Peran Management, 28 (8).
Ganda Pada Dosen Perempuan http://dx.doi.org/10.1108/IJCHM-11-
Ditinjau Dari Dukungan Sosial 2014-0607
Keluarga. Counsellia Jurnal [11] Fauzan, M. (2017). Pengaruh Stress
Bimbingan dan Konseling, 5 (1) Dan Kepemimpinan Terhadap
http://e- Kinerja Perawat Di Rumah Sakit
journal.unipma.ac.id/index.php/JBK/ Umum Daerah Pematangsiantar.
article/viewFile/269/241 Jurnal Wawasan Manajemen. 5(1)
[4] Apollo & Cahyadi, A. (2012). Konflik http://jwm.ulm.ac.id/id/index.php/jwm
Peran Ganda Perempuan Menikah /article/view/109/114
yang Bekerja Ditinjau dari Dukungan [12] Finarti, D. R., Bachri, A. A & Arifin, S.
Sosial Keluarga dan Penyesuaian (2016). Hubungan Gaya
Diri. J Widya War, 2 : 255-71 Kepemimpinan, Motivasi, Stres Kerja
[5] Asmadi. (2012). Konsep Dasar Dengan Kinerja Perawat. Jurnal
Keperawatan. Jakarta : EGC Berkala Kesehatan, 1 (2): 115-120

11
http://ppjp.unlam.ac.id/journal/index. [21] Muatsiroh, A & Siswati. (2017).
php/berkalakesehatan/article/view/3 Hubungan Antara Kecerdasan
150/2699 Interpersonal Dengan Stres Kerja
[13] Gutek, B. A & Klepa, L. (1991). Pada Perawat Instalasi Rawat Inap
Rational Versus Gender Role Di Rumah Sakit Jiwa Daerah
Explanation for Work Family Conflict. Surakarta. Jurnal Empati, 6(1) : 34-39
J Appl Psychol, 76(4) : 560-8 https://ejournal3.undip.ac.id/index.ph
[14] Handayani, S. (2016). Tingkat p/empati/article/view/15109
Kepuasan Pasien Terhadap [22] Mukti, W. Y., Hamzah, A & Nyorong,
Pelayanan Kesehatan Di M. (2013). Pengaruh Mutu Layanan
Puskesmas Baturetno. Jurnal Kesehatan Terhadap Kepuasan
Profesi, 14 (1) Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit
https://www.ejournal.stikespku.ac.id/i Woodward Kota Palu. Jurnal AKK, 2
ndex.php/mpp/article/view/135 (3) : 35-41
[15] Harun, I & Rifqoh. (2016). Super https://media.neliti.com/media/public
Woman Sukses di Tempat Kerja dan ations/8226-ID-pengaruh-mutu
Keluarga. Yogyakarta : C.V Andi layanan-kesehatan-terhadap-
Offset kepuasan-pasien-rawat-inap-di-
[16] Herqutanto., Harsono, H., rumah-sak.pdf
Damayanti, M & Setiawati, E. P. [23] Nur, I. R., Hidayati, T & Maria, S.
(2017). Stres Kerja pada Perawat di (2016). Pengaruh Konflik Peran,
Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan Ambiguitas Peran Dan Stres Kerja
Kesehatan Primer. eJKI, 5(1). Terhadap Kinerja Karyawan. Jurnal
[17] Hidayah, R., Yunita, E & Utami. Y. W. Manajemen, 8 (1)
(2013). Hubungan Pola Asuh http://journal.feb.unmul.ac.id/index.p
Orangtua Dengan Kecerdasan hp/jurnalmanajemen/article/view/118
Emosional Anak Usia Prasekolah 2
(4-6 Tahun) Di Tk Senaputra Kota [24] Nurman. M. N. M. (2017). Faktor–
Malang. Jurnal Keperawatan, 4 (2). Faktor Yang Berhubungan Dengan
http://ejournal.umm.ac.id/index.php/k Pendokumentasian Keperawatan Di
eperawatan/article/view/2363/3200 Ruang Rawat Inap Rsud
[18] Huang, Y. H., Hammer, L. B., Bangkinang. Jurnal Ners, 6(1) : 45-
Neal, N. B & Perrin, N. A. (2004). 58.
Family and The Relationship
Between Work-to-Family Conflict [25] PPNI (2017) dalam Infodatin Situasi
and Family-to-Work Conflict: A Tenaga Keperawatan Indonesia.
Longitudinal Study. Journal of http://www.depkes.go.id/resources/d
Economic Issues ownload/pusdatin/infodatin/infodatin
[19] Kemenkes RI (2017) dalam Infodatin %20perawat%202017.pdf
Situasi Tenaga Keperawatan. [26] Rantika, R., & Sunjoyo, S. (2011).
http://www.depkes.go.id/resources/d Pengaruh Konflik Kerja-Keluarga
ownload/pusdatin/infodatin/infodatin Terhadap Komitmen Organisasional
%20perawat%202017.pdf Yang Dimediasi Oleh Kepuasan
[20] Maatilu, V., Mulyadi, N., & Malara, R. Kerja Pada Profesi Perawat Di
(2014). Faktor-Faktor yang Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)
Berhubungan dengan Response Dr. Moewardi Surakarta. Jurnal
Time Perawat pada Penanganan Manajemen Teori Dan Terapan
Pasien Gawat Darurat di IGD RSUP Journal Of Theory And Applied
Prof. Dr. RD Kandou Manado. Jurnal Management, 4(2).
Keperawatan, 2(2)

12
[27] Russeng, S. S., Usman, M & Saleh,
L. M. (2013). Stress Kerja Pada
Perawat di Instalasi Rawat Inap
Rumah Sakit dr. Tadjuddin Chalid
Makassar.
[28] Ruswanti, E., & Jacobus, O. A.
(2013). Konflik Antara Pekerjaan Dan
Keluarga, Stress Kerja Terhadap
Kinerja Perawat Wanita Pada Rumah
Sakit Bethesda Yogyakarta. In Forum
Ilmiah, 10(1) : 81-89.
[29] Sumarto, I., Asfian, P & Munandar, S.
(2017). Perbedaan Stress Kerja di
Tinjau dari Shift Kerja Pagi Siang dan
Malam pada Perawat di Rumah Sakit
Umum Daerah Kota Kendari Tahun
2016. Jurnal Ilmiah Mahasiswa
Kesehatan Masyarakat, 1 (3)
[30] Susanti, I. H., & Kurniawan, W. E.
(2017). Analisis Work Family Conflict
Dan Burnout Perawat Wanita di
RSUD dr. R. Goeteng
Taroenadibrata Purbalingga. Jurnal
Ilmu dan Teknologi Kesehatan, 8(2).
http://ojs.stikesbhamada.ac.id/ojs/ind
ex.php/jitk/article/view/149
[31] Susijawati, N., Maryam, S & Lisa, H.
S. (2017). Konflik Peran Ganda,
Disiplin Dan Komitmen Organisasi
Terhadap Kinerja Perawat Pada
RSUD Gunung Jati Kota Cirebon.
Jurnal Logika, 19(1)
http://jurnal.unswagati.ac.id/index.ph
p/logika/article/view/576
[32] Zainal, V. R., Ramly, M. R., Mutis, T
& Arafah, W. (2015). Manajemen
Sumber Daya Manusia Untuk
Perusahaan : Dari Teori ke Praktik.
Jakarta : PT Rajagrafindo Persada

13