Sie sind auf Seite 1von 13

Full Name : Naeny Fajriah

Phone Number :
Title : Relationship of Bacterial Vaginosis with First Trimester
of Pregnancy on Progesterone Levels
E-mail : fajriahnaeny@yahoo.com

RELATIONSHIP OF BACTERIAL VAGINOSIS WITH FIRST


TRIMESTER OF PREGNANCY ON PROGESTERONE LEVELS
Naeny Fajriah, Maisuri T Chalid
Bagian Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar
Abstract
Introduction:
Bacterial vaginosis (BV) is a clinical syndrome due to the change of
Lactobacillus spp, which is the normal vaginal flora with a high concentration of
anaerobic bacteria. The use of hormonal contraceptives was found to decrease
the incidence of BV, where high progesterone concentrations can cause a
decrease in estrogen hormone that can increase the frequency of BV.
Aims :
To find the relationship between progesterone levels with the incidence of
bacterial vaginosis in the first trimester pregnant women.
Method :
Cross-sectional study, using a pregnant women in the first trimester. The sample
consisted of 77 pregnant women who came for antenatal care with vaginal
discharge, from January – April 2018. Statistical analysis using chi-square test.
Results :
Progesterone levels were found to have a significant association with BV (p =
0.035, RR 1.778, 95% CI 1.085-3.208), while age, parity, education and
occupation had no significant association (p> 0.05). Analysis of the progesterone
levels with Amsel criteria, it was found that vaginal pH were found to have
significant associations with progesterone levels (p=0.039, RR 2.095, 95% CI
1.003-4.554).
Conclusions :
There was a significant association between high levels of progesteron in first
trimester of pregnancy with the incidence of bacterial vaginosis.

Key Words :
Bacterial Vaginosis, Progesterone Levels, First Trimester
Nama Lengkap : Naeny Fajriah
No.Hp : 082266609871
Judul : Hubungan Kejadian Bakterial Vaginosis Pada Ibu
Hamil Trimester I Terhadap Kadar Progesteron
E-mail : fajriahnaeny@yahoo.com
Institusi : Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi FK UNHAS/
RS. Dr. Wahidin Sudirohusodo

HUBUNGAN KEJADIAN BAKTERIAL VAGINOSIS PADA IBU


HAMIL TRIMESTER I TERHADAP KADAR PROGESTERON
Naeny Fajriah, Maisuri T Chalid
Bagian Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar
Abstrak
Latar Belakang:
Bakterial vaginosis (BV) adalah sindrom klinis akibat pergantian Lactobacillus
spp, yang merupakan flora normal vagina dengan bakteri anaerob konsentrasi
tinggi. Penggunaan kontrasepsi hormonal ditemukan dapat menurunkan
insidensi BV, dimana konsentrasi progesteron yang tinggi dapat menyebabkan
penurunan hormon estrogen yang dapat meningkatkan frekuensi BV.
Tujuan :
Untuk mencari hubungan antara kadar progesteron dengan kejadian bakterial
vaginosis pada ibu hamil trimester I.
Metode :
Penelitian cross-sectional, menggunakan sampel ibu hamil trimester I. Sampel
terdiri dari 77 ibu hamil trimester I yang datang untuk ANC dengan keputihan
pada periode Januari – April 2018. Analisis statistik menggunakan uji chi-square
Hasil:
Didapatkan variabel kadar progesteron memiliki hubungan yang bermakna
dengan BV (p=0,035, RR 1,778, 95% CI 1,085-3,208), sedangkan umur, paritas,
pendidikan dan pekerjaan ditemukan tidak memiliki hubungan bermakna
(p>0,05). Dari analisis hubungan kadar progesteron dengan kriteria Amsel,
variabel pH vagina meruupakan satu – satunya yang memiliki hubungan
bermakna dengan kadar progesteron (p=0,039, RR 2,095, 95% CI 1,003-4,554).
Kesimpulan:
Terdapat hubungan yang bermakna terhadapat tingginya kadar progesteron pada
wanita hamil trimester I dengan kejadian bakterial vaginosis.

Kata kunci :
Bakterial vaginosis, kadar progesteron, Trimester I
HUBUNGAN KEJADIAN BAKTERIAL VAGINOSIS PADA IBU HAMIL
TRIMESTER I TERHADAP KADAR PROGESTERON
Naeny Fajriah, Maisuri T Chalid,

I. PENDAHULUAN
BV (Bacterial Vaginosis) adalah sindrom klinis akibat pergantian Lactobacillus
spp, penghasil hidrogen peroksidase (H2O2) yang merupakan flora normal pada vagina
dengan bakteri anaerob konsentrasi tinggi (seperti: Bacteriodes sp., Mobilluncus sp.,
Gardnerella vaginalis dan Mycoplasma hominis). BV merupakan penyebab utama
timbulnya sekret vagina yang berbau tidak sedap pada wanita usia reproduktif, dimana
penyebab pasti dan pencetus terjadinya BV tersebut masih sulit dipahami.1
Bakterial vaginosis (BV) ini merupakan penyebab tersering infeksi vagina pada
wanita usia subur. Bakterial vaginosis ditandai dengan perubahan flora normal saluran
genital, yaitu dominasi Lactobacillus sp. digantikan oleh berbagai jenis organisme Gram
positif maupun Gram negatif, yakni Gardnerella vaginalis, Prevotella sp., Bacteroides sp.,
dan lain-lain. Perubahan mikrobiologis ini menyebabkan peningkatan pH vagina, produksi
uap amin, serta peningkatan kadar endotoksin, enzim sialidase dan glikosidase bakteri pada
cairan vagina.2
Keluhan tersering dari BV adalah malodor atau bau vagina yang khas yaitu bau
amis (fishy odor) dan rasa gatal. Keluhan malodor disebabkan oleh peningkatan amin
terutama trimethylalamine yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang dicurigai menjadi
penyebab BV yaitu G. vaginalis, M. hominis, dan Mobiluncus spp. Amin menguap bila
cairan vagina menjadi basa. Cairan semen yang basa (pH 7,2) menimbulkan
terlepasnya amin dari perlekatannya pada protein dan amin yang menguap menimbulkan
bau yang khas 3,4,5
Prevalensi dan distribusi BV bervariasi di antara seluruh populasi dunia. Beberapa
penelitian melaporkan prevalensi BV tinggi pada populasi ras Afrika, Afro-Amerika, dan
Afro-Karibia. Prevalensi BV didapatkan sebesar 32% di antara wanita Asia di India dan
Indonesia. Berdasarkan penelitian Pujiastuti di poli IMS RSUD Dr. Soetomo Surabaya
periode 2007-2011 didapatkan 35 pasien baru BV, yang merupakan 0,71% dari jumlah
kunjungan pasien Divisi IMS dan 0,1% dari jumlah kunjungan pasien baru URJ Penyakit
Kulit dan Kelamin. Kelompok usia terbanyak didapatkan pada kelompok usia 25-44 tahun
sebanyak 74.3%.6
Semua penggunaan kontrasepsi hormonal ditemukan berhubungan dengan
penurunan prevalensi BV yang cukup bermakna pada 19 penelitian, tiga penelitian
melaporkan adanya hubungan borderline dengan CI 95% 1,00 (Tabel 1, Gambar 2) dan
tidak ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara semua penggunaan kontrasepsi
hormonal dengan BV pada 25 penelitian.7
Selain itu tingginya konsentrasi progesteron menyebabkan penurunan hormon
estrogen yang dapat meningkatkan frekuensi BV pada pengguna kontrasepsi jenis ini.
Penelitian ini akan mencari hubungan antara kadar progesteron dengan kejadian bakterial
vaginosis.

Metode : Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan melibatkan sampel
dari ibu hamil trimester pertama yang datang untuk memeriksakan kehamilannya dengan
dan atau tanpa keluhan fluor albus. Waktu pengambilan sampel mulai bulan Januari s/d
April 2018, bertempat di RS Wahidin Sudirohusodo dan jejaringnya di kota Makassar.
Adapun penegakan diagnosis bakterial vaginosis dari penelitian ini berdasarkan gejala
klinis yang didukung oleh pemeriksaan laboratorium yang kemudian dikategorikan
menurut kriteria Amsel, dimana terdapat paling tidak tiga dari empat tanda-tanda berikut
: Sekret vagina berwarna putih yang homogen, pH cairan vagina > 4,5. Adanya fishy odor
dari cairan vagina yang ditetesi KOH 10% (whiff test), serta pada pemeriksaan mikroskopik
ditemukan Clue cells. Data diambil berupa demografi pasien, umur, usia kehamilan, dan
keluhan. Hubungan antara kadar progesterone dengan bacterial vaginosis dilakukan dengan
cara uji chisquare dengan kebermaknaan p<0,05.

Hasil
Tabel 1 Karakteristik ibu hamil trimester 1 dengan kecurigaan bakterial vaginosis

Variabel n %
Umur < 27 Tahun 38 49,4
≥ 27 Tahun 39 50,6
Paritas Primi 46 59,7
Multi 31 40,3
Pendidikan < 9 Tahun 46 59,7
≥ 9 tahun 31 40,3
Pekerjaan Tidak Bekerja 48 62,3
Bekerja 29 37,7
BV Positif BV 40 51,9
Bukan BV 37 48,1
Ph Vagina Ph > 4,5 49 63,6
pH ≤ 4,5 28 36,4
Kadar Progesteron Progesteron ≥ 6 49 63,6
Progesteron < 6 28 36,4

Dari tabel 1 diatas dapat dilihat bahwa dari 77 sampel ibu hamil trimester 1 yang
datang untuk ANC dengan ada keluhan keputihan, berdasarkan umur terbanyak adalah ≥
27 tahun 50,6 %, < 27 tahun 49,4%. Untuk paritas 59,7% primipara, dan 40,3% multipara.
Pendidikan < 9 tahun sebanyak 59,7% dan ≥ 9 tahun sebanyak 40,3%. Untuk kategori
pekerjaan terdapat 62,3% kategori tidak bekerja dan sebanyak 37,7% yang bekerja.
Kategori BV positif sebanyak 51,9%, bukan BV sebanyak 48,1. Berdasarkan kategori pH
vagina, sebanyak 63,6% pH > 4,5 dan 36,4% pH ≤ 4,5. Sedangkan untuk kadar
progesteron < 6 sebanyak 36,4% sedangkan progesteron ≥ 6 sebanyak 63,6%.
Pembagian umur dengan batasan 27 tahun dilakukan sebab dalam analisis ditribusi
didapatkan nilai mean adalah 27, 38 Pada penelitian ini didapatkan 77 sampel ibu hamil
dengan distribusi umur termuda 15 tahun dan tertua 40 tahun dengan mean 27,38. Sd 6,205.

Tabel 2 Hubungan Karakteristik sampel dengan keadaan bakterial vaginosis

Bakterial Vaginosis

Variabel Positif BV Bukan BV p RR CI 95%


Umur < 27 Tahun 23 15 0,137 0,700 0,433-1,132
57,50% 40,50%
>= 27 tahun 17 22
42,50% 59,50%
Paritas Primi 22 24 0,378 1,244 0,756-2,047
55,00% 64,90%
Multi 18 13
45,00% 35,10%
Pendidikan < 9 Tahun 22 24 0,378 1,244 0,756-2,047
55,0% 64,9%
≥ 9 tahun 18 13
45,0% 35,1%

Pekerjaan Tidak Bekerja 26 22 0,616 0,886 0,555-1,414


65,0% 59,5%
Bekerja 14 15
35,0% 40,5%
Progesteron ≥6 21 28 0,035 1,778 1,085-3,208
52,5% 75,7%
<6 19 9
47,5% 24,3%

Pada tabel 2 diatas dapat dilihat bahwa variabel umur, paritas, pendidikan dan
pekerjaan mempunyai hubungan yang tidak bermakna dengan bakterial vaginosis dengan
p 0,137, 0,378,0,378,dan 0,886 masing masing. Variabel yang mempunyai hubungan
secara statistik bermakna adalah kadar progesteron dengan p 0,035 RR 1,778 dan 95% CI
1,085-3,208.
Dengan didapatkannya kadar progesteron yang secara statiskik bermakna dengan
nilai p < 0,05 maka ingin dicari lagi hubungan antara kadar progesteron dengan kriteria
Amsel yang digunakan sebagai penegakan diagnosis Bakterial Vaginosis pada penelitian
ini, seperti yang didapatkan pada tabel 3 dibawah ini.

Tabel 3. Hubungan antara kadar progesteron dengan kriteria Amsel

Progesteron
Variabel P RR 95% CI
≥6 <6

Progesteron
Variabel P RR 95% CI
≥6 <6
Sekret Positif 17 7 0,377 0,736 0,363-1,492
vagina 34,7% 25,0%
Negatif 32 21
65,3% 75,0%
Positif 29 16 0,861 0,948 0,523-1,720
Whiff 59,20% 57,10%
test Negatif 20 12
40,80% 42,90%

Ph > 4,5 27 22 0,039 2,095 1,003-4,554


Vagina 55,1% 78,6%
4,5 22 6
44,9% 21,4%

Clue Ya 24 17 0,321 1,357 0,736-2,503


Cell 49,0% 60,7%
Bukan 25 11
51,0% 39,3%

Dari tabel diatas ditemukan bahwa dari kriteria Amsel ; Sekret vagina, Whiff Test,
dan Clue tidak ditemukan hubungan yang bermakna dengan kadar progesteron terhadap
masing masing variabel kriteria amsel. Dengan nilai p berturut turut 0,377, 0,861, dan
0,321. Untuk kadar pH vagina ditemukan adanya hubungan yang bermakna secara statistik
dengan nilai p 0,039 RR 2,095 dan 95% CI 1,003-4,554.

Pembahasan
Pada tabel 1 didapatkan Secara distribusi umur, kami bagi atas 2 bagian yaitu
kurang dari 27 tahun (49,4%) dan lebih dari atau sama dengan 27 tahun (50,6%). Umur ini
merupakan umur rata-rata wanita dengan usia subur yang mana wanita hamil trimester
pertama tentu saja mempunyai pasangan seksual. Data tersebut diatas sesuai dengan hasil
penelitian Pujiastuti yang menyatakan kelompok umur terbanyak kasus baru bakterial
vaginosis periode 2007-2011 yaitu pada kelompok umur 25-44 tahun sebanyak 35
pasien (58,3%). 6 Hal itu bisa disebabkan karena wanita pada kelompok usia tersebut
merupakan kelompok usia dengan aktivitas seksual yang tinggi. 13 Hasil penelitian
Ocviyanti dan kawan-kawan didapatkan prevalensi BV cukup besar pada kelompok umur
41-45 tahun (54,5%), tetapi pada penelitian tersebut tidak dinilai kemaknaan hubungan
antara prevalensi BV dan karakteristik subjek 8
Hacker N.F dkk (2010) mendapatkan bahwa bakterial vaginosis lebih jarang pada
wanita pascapubertas tanpa pengalaman seksual dibandingkan yang mempunyai
pengalaman seksual. Studi kohort longitudinal memberikan bukti bahwa wanita yang
memiliki banyak pasangan seksual pria pasangan seksual pria dalam 12 bulan terakhir
berkaitan dengan terjadinya vaginosis bakterial. BV juga meningkat pada wanita yang
melakukan hubungan seksual dengan wanita (women have sex with women/WSW ) dan
berkaitan dengan wanita yang memiliki satu atau lebih pasangan seksual wanita dalam 12
bulan terakhir Studi pada lesbian memberikan bukti lebih jauh tentang peranan hubungan
seksual dalam penularan BV. Sekitar 101 lesbian yang mengunjungi klinik ginekologi
sebesar 29% menderita BV begitu juga pasangan seksualnya. Kemungkinan wanita
menderita BV hampir 20 kali, jika pasangannya juga menderita BV. Patogenesis terjadinya
BV pada WSW ini masih belum jelas.9 7

Untuk paritas, distribusi terbanyak pada primigravida (59,7%) dibandingkan


dengan multigravida (40,3%).
Untuk variable pendidikan dibagi atas dua : kurang dari 9 tahun (59,7%) dan lebih
atau sama dengan 9 tahun (40,3%). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu-ibu
hamil yang menjadi sampel kami masih berada pada tingkat pendidikan kurang dari 9
tahun.
Pada variable pekerjaan, 62,3 % sampel kami adalah ibu-ibu yang tidak bekerja
(mengurus rumah tangga) dan 37,7% yang bekerja (PNS maupun pegawai swasta).
Cunningham dkk (2010) mendapatkan bahwa hampir semua wanita dengan
bakterial vaginosis memiliki ph vagina > 4,5 jika diukur menggunakan kertas indikator pH.
Meskipun pemeriksaan pH ini membantu dalam pemeriksaan klinis tetapi tidak spesifik
untuk bakterial vaginosis. Peningkatan sekret vagina sering tetapi bukan merupakan gejala
yang spesifik pada B bakterial vaginosis. Keluhan ini ditemukan sekitar 73 – 92% pada
pasien bakterial vaginosis.10 Hal sama yang ditemukan pada penelitian ini dimana 63,6%
wanita hamil trimester pertama mempunyai pH > 4,5 sedangkan 36,4% mempunya pH ≤
4,5. Yang secara distribusi pH vagina mempunyai nilai rata-rata (mean 4,857) dengan nilai
minimum 4 dan nilai maksimum 7,5.
Progesteron terutama dihasilkan oleh korpus luteum sampai usia kehamilan
10 minggu. Pada masa awal kehamilan (6-7 minggu) progesteron dari korpus
luteum ini sangat diperlukan untuk mempertahankan kehamilan. Setelah masa
transisi (antara minggu ke 7 dan 11), plasenta mengambil alih peran korpus luteum
dalam mengasilkan progesteron. Pengukuran kadar progesteron dapat digunakan
sebagai prediktor yang reliabel untuk menentukan viabilitas kehamilan bila terjadi
ancaman abortus pada usia kehamilan kurang dari 77 hari. Kadar terendah
progesteron pada awal kehamilan yang diperkirakan dapat menjaga kelangsungan
kehamilan adalah 6 ng/ml. Jika pada pengukuran kadar serum progesteron lebih
dari atau sama dengan 25 ng/ml, maka angka ini menunjukkan 97% kehamilan
viable intrauterin. Tetapi jika pada kehamilan trimester pertama kadar progesteron
kurang dari 18,9 ng/ml maka risiko terjadinya kegagalan berlanjutnya kehamilan
sebesar 4,6 kali lebih tinggi.
Pada tabel hubungan karakteristik sampel dengan kejadian bakterial
vaginosis dengan menggunakan analisis chisquare ditemukan bahwa variabel umur,
paritas, pendidikan, dan pekerjaan secara statistik tidak mempunyak kebermaknaan dengan
nilai p masibg-masing 0,137, 0.378, 0,378, dan 0,616. Satu-satunya variabel yang
bermakna adalah kadar progesteron ≥ 6 dengan nilai p 0,035 RR 1,778 dan CI 95% 1,085-
3,208 yang berarti bahwa kadar progesteron > 6 mempunyai kecenderungan untuk
terjadinya bakterial vagiosis pada wanita hamil trimester pertama 1,778 kali dibandingkan
wanita dengan kadar progesteron < 6.
Karena hanya kadar progesteron yang mempunyai hubungan bermakna dengan
bakterial vaginosis, maka ingin dicari hubungan antara kadar progesteron itu sendiri
terhadap keempat kategori kriteria Amsel. Dengan analisis chisquer didapatkan hubungan
yang bermakna pada pH vagina >4,5 dengan nilai p 0,039 RR 2,095, 95% CI 1,003-4,554.
Untuk variabel yang lain yaitu sekret vagina kemudian whiff test dan clue cell secara
statistik tidak mempunyai hubungan yang bermakna denagn p masing-masing 0,377, 0,861
dan 0,321.
Ketersediaan progesteron dalam jumlah yang cukup pada masa awal kehamilan
sangat penting peranannya, terutama dalam menghambat kontaraksi uterus. Hal ini
dibutuhkan sehubungan dengan usaha untuk mempertahankan janin muda yang baru
berimplantasi di uterus agar tidak terjadi kelahiran premature atau keguguran selain itu juga
berfungsi untuk mengentalkan secret vagina, sebagai proteksi tambahan terhadap
kemungkinan infeksi.10
Keluhan yang sering didapatkan pada bakterial vaginosis yaitu malodor atau bau
vagina yang khas yaitu bau amis (fishy odor) dan rasa gatal. 2,5. malodor disebabkan oleh
peningkatan amin terutama trimethylalamine yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang
dicurigai menjadi penyebab BV yaitu G. vaginalis, M. hominis, dan Mobiluncus spp.2,7
Amin menguap bila cairan vagina menjadi basa. Cairan semen yang basa (pH 7,2)
menimbulkan terlepasnya amin dari perlekatannya pada protein dan amin yang menguap
menimbulkan bau yang khas. Iritasi daerah vagina atau sekitar vagina dapat
menimbulkan rasa nyeri.4
Pada penelitian ini didapatkan distribusi pasien dengan fishy odor adalah 59,20%
vs 40,80% pada kadar progesteron >= 6 yang juga disertai dengan kadar pH vagina > 4,5
(55,1%) vs 44,9% pada pH <= 4,5.
Cairan servikovaginal (CSV) merupakan transudat dari epitel vagina serta mukus
serviks dan sekret dari uterus dan tuba fallopii. Lapisan gen mucin yang melapisi epitel
vagina merupakan mekanisme pertahanan pertama terhadap patogen. Pada patogen yang
menular secara seksual, misalnya HIV, untuk menginfeksi mereka harus berpenetrasi ke
lapisan mukosa dan berikatan dengan reseptor pada sel target di epitel vaginal atau servikal.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa sifat dari CSV sangat mempengaruhi seberapa
efisien partikel patogen dapat mengubah CSV dan menginfeksi epitel vagina atau serviks.
Penurunan viskositas CSV akan mengubah lapisan gel mucin menjadi lebih permisif untuk
penetrasi patogen. CSV juga menjadi carrier bagi sejumlah besar peptida antimikroba dan
protein seperti lisosom, laktoferin, secretory leukocyte protease inhibitor (SLPI) dan
human beta-defensins. Dengan demikian, protein dalam CSV juga merupakan komponen
penting dalam perlindungan mukosa bawaan.11
Laktobasilus penghasil hidrogen memiliki kemampuan untuk menghasilkan asam
organik (asam laktat) sehingga menjaga ph vagina <4,7 dengan menggunakan glikogen
pada epitel vagina sebagai substrat, selain itu laktobasilus juga menghasilkan bakteriosin,
suatu protein yang dapat menghambat spesies bakteri lainnya. Laktobasilus yang tidak
menghasilkan hidrogen ditemukan sebesar 4% pada wanita normal dan sebesar 36% pada
wanita dengan BV. 10 1,6,7

Pada wanita yang menggunakan kontrasepsi progeteron didapatkan bahwa


tingginya konsentrasi progesteron menyebabkan penurunan hormon estrogen sehingga hal
ini bisa saja menyebabkan kejadian BV pada pengguna kontrasepsi jenis ini meningkat.
Namun hal ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Vodstrcil dkk
yang mengatakan bahwa menurununnya frekuensi menstruasi berbanding lurus dengan
menurunnya resiko terjadinya bakterial vaginosis pada wanita.7 Pada beberapa penelitian
yang dibahas oleh Vodstrcil dkk disebutkan bahwa kejadian BV meningkat pada siklus
awal menstruasi dimana kadar estradiol dalam kondisi yang sangat rendah. Hal ini
dikarenakan jumlah hemoglobin dalam saluran genital meningkat. Di dalam hemoglobin
terdapat zat besi yang cukup tinggi. Zat besi inilah yang menjadi zat yang sangat penting
untuk pertumbuhan Gradnella vaginalis yang merupakan bakteri anaerob tertinggi
penyebab terjadinya BV.7, 12
Sebuah penelitian yang bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kontrasepsi
hormonal dengan perubahan CSV menunjukkan bahwa penggunaan depot
medroxyprogesterone acetate menurunkan protein dalam CSV ketika dibandingkan dengan
penggunaan IUD. Temuan yang sama ditemukan pada wanita menopause, hal ini
menunjukkan adanya efek estrogenik DMPA. Penurunan protein pada CSV
mengindikasikan adanya penurunan jumlah mukus atau penurunan kuantitas protein
antimikrobial yang ada di CSV. Namun hasil penelitian ini perlu dikonfirmasi dengan
penelitian yang lebih besar.7 10

Kesimpulan
Terdapat hubungan yang bermakna terhadapat tingginya kadar progesteron pada
wanita hamil trimester I dengan kejadian bakterial vaginosis. Kadar progesteron yang
tinggi pada ibu hamil trimester pertama bertujuan untuk memelihara kelangsungan janin
yang berinplantasi pada endometrium. Peningkatan kadar progesteron dalam darah
menyebabkan penurunan kadar estrogen sehingga menyebabkan penurunan protein pada
cairan serviko vagina yang mengindikasikan adanya penurunan jumlah mukus atau
penurunan kuantitas protein antimikrobial yang ada di cairan servico vagina.
DAFTAR PUSTAKA

1. Adam, Zainuddin, Maskur, Makalew, 2009. Vaginosis Bakterial. Dalam : Infeksi


Menular Seksual Edisi Keempat. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, 116-122
2. Rosen T. Gonorrhea, mycoplasma, and vaginosis. In: Wolf K, Goldsmith L, Katz
S, Gilcherst B, Paller A, Leffell O, editors. Fritzpatrick’s dermatology general
medicine. 8 th edition. New York: McGrawHill; 2013. p.4739-42.
3. Sharon H, Jeanne M, Holmes KK. Bacterial vaginosis. In: Holmes KK, Sparling
PF, Stamm WE, Piot P, Wasserheit JN,Corey L, et al., editors. Sexually transmitted
disease. 4 thed. New York: McGraw Hill; 2008. p.737-68.
4. Center for Disease Control and Prevention. Sexually transmitted diseases
treatment guidelines. Rep; 2015; p.69-72. [cited 2018 Mey 12]. Available from:
www.cdc.gov/std/tg2018/tg-2018-print.pdf.

5. Turovskiy Y, Noll KS, Chikindas ML. The etiology of bacterial vaginosis. J


Appl Microbiol 2011; 1-2.

6. Pujiastuti AT, Murtiastutik D. Studi retrospektif: Vaginosis bakterial. Berkala Ilmu


Kesehatan Kulit dan Kelamin. 2014;26(2):1-7.
7. Vodstrcil LA, Hocking JS, Law M, Walker S, Tabrizi SN, Fairley CK, Bradshaw CS.
Hormonal contraception is associated with a reduced risk of bacterial vaginosis: a
systematic review and meta-analysis. PLoS One. 2013 Sep 4;8(9):e73055
8. Fethers KA, Fairley CK, Morton A, Hocking JS, Hopkins C, Kennedy J, et al. Early
sexual experiences and risk factors for bacterial vaginosis. J Infect Dis 2009;
200:1662–70.
9. Hacker N.F., Gambone J.C., Hobel C.J., 2010. Vulvovaginitis, Sexually Transmitted
Infections, and Pelvic Inflammatory Disease. Dalam : Essentials of Obstetrics and
Gynecology 5th Edition. Philadelphia : Elseiver, 265-269.
10. Cunningham, Leveno, Bloom, Hauth, Rouse, dan Spong, 2010. Sexually Transmitted
Diseases : Vaginitis. Dalam : Williams Obstetrics 23rd Edition. United States of
America : McGraw-Hill Companies, 1246.
11. Chappell CA, Rohan LC, Moncla BJ, Wang L, Meyn LA, Bunge K, Hillier SL. The
effects of reproductive hormones on the physical properties of cervicovaginal fluid.
American Journal of Obstetrics & Gynecology. 2014 Sep 1;211(3):226-e1.
12. Widyawati W, Armalina D. Hubungan Antara Terjadinya Bakterial Vaginosis Dengan
Penggunaan Kontrasepsi Hormonal. Jurnal Kedokteran Diponegoro. 2016;5(4):1708-
14.