Sie sind auf Seite 1von 2

A Retrospective Cohort Study Patient Chart Review of Neonatal Sepsis Investigating

Responsible Microorganisms and Their Antimicrobial Susceptibility


Mountasser M. Al-Mouqdad, Faisal A. Alaklobi1, Fahad H. Aljobair1, Tariq M. Alnizari2, Muhammed Yassen Taha4,
Suzan S. Asfour3
Background and Aims: Microorganisms responsible for neonatal sepsis have developed increased drug resistance
to commonly used antibiotics making treatment extremely difficult. To select an appropriate antibacterial therapy,
the common pathogens causing sepsis in neonates and their bacterial resistance should be known first. The
present study was designed to investigate the microorganisms responsible for neonatal sepsis in King Saud Medical
City Neonatal Intensive Care Unit (NICU). In addition, we sought to determine the antibiotic susceptibility of the
isolated microorganisms for planning a strategy for the management of neonatal sepsis.
Subjects and Methods: This study is a retrospective cohort study, was conducted at the NICU of King Saud Medical
City. A total of 295 inborn premature infants aged ≤180 days and received antibiotics. The study lasted for 12
months. The primary outcome measures were the incidence of the bacterial infection and its etiology in cases with
suspected sepsis. The secondary outcome measure was the bacterial sensitivity to antibiotics used.
Results: A total of 70 different microorganisms were isolated from culture-positive samples from 57 neonates.
Gram-positive organisms (57%) were more common than Gram-negatives (38.5%), coagulase-negative
staphylococci were the most isolated pathogens (44%), and the prevalence of fungal sepsis was low (4.3%). The
prevalence of antimicrobial resistance was low. Among Gram-positives, there were only three methicillin-resistant
Staphylococcus aureus isolates, and no vancomycin-resistant enterococci. Whereas three of the Gram-negative
isolates were resistant, two Enterobacter cloacae and one Pseudomonas aeruginosa, and none of Candida species
were resistant.
Conclusion : Antimicrobial resistance was low in our study, mostly because of the restriction of broad-spectrum
antibiotics.

LATAR BELAKANG
Sepsis neonatal adalah salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada bayi
prematur. Mikroorganisme yang bertanggung jawab atas sepsis neonatal telah meningkatkan resistensi
terhadap antibiotik yang umum digunakan. Karena pola resistensi patogen bervariasi dari satu lokasi
geografis ke lainnya; patogen umum yang menyebabkan sepsis pada neonatus serta resistensi bakteri
mereka harus diketahui terlebih dahulu untuk memilih terapi antibakteri yang tepat. Penelitian ini
bertujuan untuk menyelidiki mikroorganisme yang bertanggung jawab untuk sepsis neonatal di King
Saud Medical City Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Selain itu, kami berusaha untuk menentukan
kerentanan antibiotik mikroorganisme terisolasi untuk merencanakan strategi manajemen.

METODE
Penelitian ini merupakan studi kohort retrospektif, penelitian dilakukan pada pasien neonatus
di NICU King Saud Medical City, antara Juli 2015 dan Juni 2016. Populasi penelitian termasuk 323
neonatus ≤32 minggu, berat 1,5 kg atau kurang dengan dugaan sepsis neonatal yang dirawat di NICU
kami selama periode ini. Kriteria inklusi adalah semua bayi prematur berusia ≤180 hari yang dirawat di
NICU dan menerima antibiotik. Kriteria eksklusi adalah neonatus yang baru lahir atau yang memiliki
kelainan bawaan. Ukuran luaran primer adalah kejadian infeksi bakteri dan etiologinya pada kasus yang
diduga sepsis. Ukuran luaran sekunder adalah resistensi bakteri terhadap antibiotik yang digunakan.
Sepsis neonatal diklasifikasikan sebagai sepsis onset dini (EOS) jika sepsis bermanifestasi dalam 3 hari
pertama kehidupan, atau sepsis onset lambat (LOS) jika termanifestasi setelah 3 hari kehidupan.
Multiple-drug resistance (MDR) didefinisikan sebagai tidak ada kerentanan terhadap setidaknya satu
agen dalam tiga atau lebih kategori antibakteri sedangkan resistensi obat luas didefinisikan sebagai tidak
ada kerentanan terhadap setidaknya satu agen di semua kecuali dua atau lebih sedikit kategori
antibakteri. Analisa data menggunakan perangkat lunak SPSS.
HASIL
Penelitian ini termasuk 323 neonatus dengan dugaan sepsis neonatal, 28 neonatus dikeluarkan dari
penelitian; 16 adalah bayi sejak lahir, enam tidak menggunakan antibiotik, lima memiliki kelainan
bawaan utama, dan satu memiliki kelainan bawaan besar dan belum lahir, sehingga 295 kasus
dimasukkan dalam analisis penelitian ini. Karakteristik neonatus dengan sepsis sebanyak 295 neonatus,
153 (51,9%) di antaranya adalah laki-laki, dengan sepsis diperiksa darahnya untuk pertumbuhan bakteri,
di mana sebanyak 57 (19,3%) ditemukan berkultur positif sedangkan sisanya 238 (80,7 %) adalah kultur
negatif. Positif kultur lebih tinggi di antara laki-laki (n = 33, 21,6%) dibandingkan di antara perempuan
(n=24, 16,9%) (P = 0,310). Dari total kasus sepsis neonatal, 1,69% (n = 5) memiliki EOS sedangkan 18,3%
(n=54) memiliki LOS. Dua kasus memiliki EOS dan LOS. Insiden sepsis kultur positif secara signifikan lebih
tinggi pada neonatus dengan prematur ekstrem (29,3%) dibandingkan dengan neonatus tanpa prematur
ekstrem (14,4%) (P=0,002). Empat puluh lima ibu menderita pecahnya selaput premature yang
berkepanjangan, dari sembilan ibu melahirkan neonatus dengan sepsis kultur-positif (20,0%) (P = 0,900).
Kultur positif lebih tinggi di antara neonatus yang dilahirkan melalui vagina secara spontan (SVD) (23,5%)
dibandingkan operasi caesar (15,7%). Dari 57 neonatus sepsis dengan kultur positif, 70 jenis
mikroorganisme diisolasi. Insiden infeksi oleh mikroorganisme Gram positif adalah 57,2% (n = 40)
sedangkan mikroorganisme Gram negatif adalah 38,6% (n = 27). Infeksi jamur menyumbang 4,2% (n = 3)
dari kasus kultur positif. Stafilokokus negatif koagulase (CoNS) adalah organisme yang paling sering
diisolasi (n = 31, 44%), dan Staphylococcus epidermidis adalah yang paling sering ditemukan (80,7%)
Staphylococcus aureus lebih jarang (n = 5, 13,1%), dan 60 % dari ini adalah S. aureus resisten methicillin
(MRSA). Prevalensi MRSA adalah 1% dalam semua kasus dengan dugaan sepsis dan 4,3% dari semua
isolat. Grup B Streptococcus dan Enterococcus jarang ditemukan (masing-masing satu isolat, 2,7%). Di
antara Gram negatif, Escherichia coli, spesies Klebsiella, Enterobacter cloacae dan Pseudomonas
aeruginosa adalah patogen yang paling sering diisolasi (masing-masing 18,5%), sedangkan Serratia
marcescens, spesies Acinetobacter dan Kluyvera ascorbata kurang umum. Hanya ada tiga isolat jamur
(4,3%), semuanya adalah Candida. Pada kerentanan antimikroba terhadap isolasi, seratus persen
Coagulase-negative staphylococci (CoNS) rentan terhadap vankomisin dan linezolid, sedangkan
kerentanan terhadap rifampisin, trimetoprim/sulfametoksazol, klindamisin, dan gentamisin masing-
masing adalah 90%, 74%, 42%, dan 6%. Di sisi lain, 100% isolat S. aureus rentan terhadap vankomisin,
linezolid, rifampin dan klindamisin, 80% untuk trimetoprim/sulfametoksazol, dan 60% untuk gentamisin.
Kelompok B Streptococcus, Enterococcus faecalis, dan corynebacteria sensitif terhadap penisilin.
Sembilan puluh tiga persen dari semua isolat basil Gram negatif rentan terhadap gentamisin, amikacin,
dan colistin sedangkan 90% rentan terhadap cefepime dan ciprofloxacin, dan 85% terhadap ceftazidime.
Semua isolat Gram negatif kecuali satu isolat pseudomonal rentan terhadap karbapenem (meropenem
dan imipenem). Semua isolat Candida rentan terhadap flukonazol, amfoterisin B, dan echinocandin.

SIMPULAN
LOS pada neonatus ditemukan secara signifikan lebih umum daripada sepsis onset dini. Selain itu,
mikroorganisme Gram positif lebih sering ditemui, dan lebih spesifik S. epidermidis. Resistansi
antimikroba rendah dalam penelitian kami, sebagian besar karena pembatasan antibiotik spektrum luas.