Sie sind auf Seite 1von 16

PERILAKU APARATUR SIPIL NEGARA PADA BAGIAN

HUBUNGAN MASYARAKAT SEKRETARIAT DAERAH


KABUPATEN PARIGI MOUTONG

Astiti H. Simpu
astitihakimsimpu81@gmail.com
Mahasiswa Program Studi Magister Administrasi Publik Pascasarjana Universitas Tadulako

Abstract
The main subject of this study is the behavior of public servant employees. This study aims at
finding out the behavior of public servant employees of public relation division of regional
secretariat of Parigi Moutong Regency. The theory used is theory of Bureaucracy by Miftha Thoha
that formulated in five aspects: Capabilities, Needs, Trust, Experiences and Expectations.This
research usedqualitative method. The informants are official employees and staff public relation
division of regional secretariat of Parigi Moutong Regency that taken by purposive sampling
technique. Technique of data collection consisted of observation, interview and documentation
while technique of data analysiswere data reduction, data presentation, and conclusion
(verification). The results shows that the behavior of public servantemployee in public relation
division of regional secretariat of Parigi Moutong Regencyhas not conducted fully by Bureaucracy
apparatur. It can be seen from the Individual Characteristics. Only aspect of capability, trust and
experience run well.Meanwhile, need and expectation have not been fully carried out. The ability
of personnel in public relation division is categorized as good enough, but they lack of discipline in
terms of office hours. In fact, good individual ability should be in harmony with good discipline.
Furthermore, in line with the aspect of needs, individuals behave differently because of the
different individual needs background, but in order to achieve organizational goals, employees in
public relations division have the same orientation to achive organizational goals. Regarding to
the aspect of trust, each staff in public relations division gets egual trust from the leader. Each
employee who break the trust given by the leader are going to recieve directly either verbal or
written reprimand. In relation to the aspect of work experience, each employee of public relation
division is basically good, but they must always be given guidance. For those who complete the
task properly, need to be given reward while those who are negligent penalties should be applied.
Therefore, the leader needs tocreate work plans that lead to the fulfillment of those needs. Last but
not least, the aspect of expectations in public relation division has not been entirely fulfilled.
Therefore, leaders should plan to increase those capabilities to a variety of training or technical
assistances.
Keywords: Behavior, Public Servant Employees, Public Relation Division

Keberadaan Undang-Undang RI Nomor memiliki kompetensi, kualifikasi, kinerja,


5 Tahun 2014, tentang Aparatur Sipil Negara, transparansi, objektivitas, serta bebas dari
diharapkan mampu memperbaiki manajemen KKN yang berbasis pada manajemen sumber
pemerintahan yang beorientasi pada pelayanan daya manusia dan mengedepankan sistem
publik karena PNS tidak lagi berorientasi merit menuju terwujudnya birokrasi
melayani atasannya, melainkan masyarakat. pemerintahan yang professional. Tantangan
Aturan ini menempatkan PNS sebagai sebuah yang dihadapi aparatur Negara hingga saat ini
profesi yang bebas dari intervensi politik dan antara lain, adanya peluang penyalahgunaan
akan menerapkan sistem karier terbuka yang wewenang/kekuasaan yang akan merugikan
mengutamakan prinsip profesionalisme yang negara dan masyarakat, mafia hukum,

18
19 e Jurnal Katalogis, Volume 5 Nomor 12, Desember 2017 hlm 18-33 ISSN: 2302-2019

menghadapi persaingan global yang semakin gejala penyimpangan birokrasi (dysfunction of


kompleks dan berbagai masalah krusial lain. bureaucracy). Dalam kaitannya dengan
Pada saat ini untuk mewujudkan aparatur fenomena perilaku birokrasi maka kedudukan,
negara yang bisa dipertanggung jawabkan, peran dan fungsinya tidak dapat dipisahkan
reformasi aparatur perlu dilaksanakan secara dari individu selaku aparat (pegawai) yang
terus-menerus dengan ditopang oleh motivasi mempunyai persepsi, nilai, motivasi dan
untuk mencari cara yang lebih efektif dan pengetahuan dalam rangka melaksanakan
efisien. (Efendi,2008). fungsi, tugas dan tanggung jawab sosial.
Keberhasilan dan berdaya gunanya suatu Perilaku manusia dalam organisasi
organisasi, dapat dilihat pada salah satu aspek sangat menentukan pencapaian hasil yang
yang terkandung di dalamnya, yaitu kualitas maksimal dalam rangka untuk mencapai
sumber daya manusia. Untuk mencapai tujuan organisasi. Thoha (2005:29)
keberhasilan tersebut, maka pengelolaan menjelaskan bahwa perilaku manusia adalah
organisasi yang baik dan benar pada suatu fungsi dari interaksi antara individu dengan
institusi pemerintahan tentunya sangat lingkungannya. Perilaku seorang individu
tergantung kepada sumber daya manusia terbentuk melalui proses interaksi antara
dalam hal ini aparatur yang mewakilinya yang individu itu sendiri dengan lingkungannya.
tidak dapat dipegang oleh sembarang orang, Setiap individu mempunyai karakteristik
karena memerlukan persiapan dengan melalui tersendiri, dan karakteristik tersebut akan
pendidikan dan pelatihan yang memadai. ASN dibawanya ketika ia memasuki lingkungan
diharapkan dapat memberikan pelayanan yang tertentu. Karakteristik ini berupa kemampuan,
baik manakala memiliki semangat kerja, kepercayaan pribadi, kebutuhan, pengalaman
budaya dan etos kerja, serta motivasi tinggi, dan sebagainya. Demikian pula halnya dengan
yang konsisten di dijalankan bagi kepentingan organisasi sebagai lingkungan bagi individu
masyarakat luas. mempunyai karakteristik tertentu, yaitu
Dalam Undang- Undang Nomor 5 tahun keteraturan yang diwujudkan dalam susunan
2014 tentang Aparatur Sipil Negara(ASN), hierarki, pekerjaan, tugas, wewenang dan
kehadiran UU ASN ini berdasarkan pada 2 hal tanggung jawab, sistem imbalan dan sistem
yakni, pertama memantapkan aparatur sebagai pengendalian. Jika karakteristik individu
abdi negara yang melayani kepentingan (aparat) dan karakteristik organisasi (birokrasi)
publik. Sehingga diperlukan birokrat yang berinteraksi, maka terbentuklah perilaku
professional dan memiliki integritas serta individu (aparat) dalam organisasi (birokrasi).
memiliki kompetensi dibidangnya. Kedua Substansi dari persoalan perilaku
adalah masih identiknya birokrasi yang birokrasi pada dasarnya merupakan bagian
bekerja untuk kepentingan politik. Kedua hal dari bentuk feodalisme yang terus dipelihara
itu menjadi, daya dorong untuk melakukan oleh sistem birokrasi. Hal ini menciptakan
perubahan terhadap tatanan birokrasi melalui kehidupan birokrasi yang kental dengan upaya
UU ASN yaitu perubahan dalam sistem, kooptasi penguasa negara terhadap institusi
manajemen, rekruitmen dan budaya pegawai birokrasi. Apalagi dominasi negara
negeri sipil. mengerdilkan kekuatan lain dalam masyarakat,
Perilaku Aparatur Sipil Negara sangat yang kemudian menjadikan birokrasi
berkaitan erat dengan Birokrasi. Perilaku menguasai sebagian besar informasi kebijakan
birokrasi pada hakekatnya merupakan hasil untuk mempengaruhi opini publik.
interaksi birokrasi sebagai kumpulan individu Manusia modern menghabiskan
dengan lingkungannya (Thoha, 2005:138). hidupnya dalam organisasi. Organisasi ini
Perilaku birokrasi yang menyimpang lebih kemudian dikendalikan oleh sejumlah orang.
tepat dipandang sebagai patologi birokrasi atau Organisasi inilah yang tanpa kita disadari
Astiti H. Simpu, Perilaku Aparatur Sipil Negara Pada Bagian Hubungan Masyarakat Sekretariat ..............................20

disebut sebagai negara yang selama ini kita tidak semestinya (the right man in the wrong
huni. Sementara orang yang place).
mengendalikannya kita sebut sebagai Dalam hal tertentu, tenaga profesional
pemerintah dengan aparat yang disebut ini juga seringkali tidak dapat didayagunakan
sebagai birokrat termasuk dalam hal ini adalah secara optimal karena alasan kepangkatan
para PNS (Pegawai Negeri Sipil). posisi dan sebagainya. Evaluasi program
Dalam konteks kenegaraan, kehidupan kepegawaian sangat jarang dilakukan dan
pengorganisasian masyarakat dalam wilayah walaupun ada hasilnya, biasanya sangat
negara disebut birokrasi pemerintahan. diragukan obyektivitasnya, karena selain
Individu (manusia) menjadi dimensi yang bernuansa “asal bapak senang” juga dilakukan
amat penting dan menjadi motor pengerak hanya untuk memenuhi formalitas belaka.
dalam organisasi. Apabila dimensi manusia Masih kaburnya kode etik bagi aparat birokrasi
tidak ada, maka tidak akan ada organisasi. publik (code of conduct), sehingga tidak
Perilaku individu adalah suatu sikap atau mampu menciptakan adanya budaya birokrasi
tindakan yang dinampakkan oleh setiap yang sehat, seperti kerja keras, keinginan
individu, dan setiap tindakan individu pastilah untuk berprestasi, kejujuran, rasa tanggung
berbeda-beda. Perilaku manusia muncul jawab dan lain sebagainya.
sebagai suatu fungsi dari adanya interaksi Perilaku manusia merupakan kajian
antara individu dengan lingkungannya. multi disiplin ilmu pengetahuan. Hal ini
Ada beberapa faktor yang dapat karena perilaku itu sendiri merupakan reflesi
diidentifikasi sebagai tantangan birokrasi saat dari berbagai macam segi, baik fisik maupun
ini. Pertama, rendahnya pengetahuan dan non fisik. Diantara cabang-cabang ilmu
keterampilan para aparatur birokrasi. Kedua, pengetahuan yang cukup besar sumbangsinya
birokrasi yang terlalu “gemuk” sehingga dalam penegmbangan perilaku seperti yang
membebani keuangan negara. Ketiga, perilaku dikemukakan Thoha. (2005:14), yaitu:
dan gaya birokrasi yang jauh dari jati diri a. Psikologi adalah ilmu yang berkenaan
masyarakatnya. dengan usaha untuk mengukur,
Aparat birokrasi telah terkooptasi sikap menjelaskan, dan kadang-kadang mengubah
dan perilakunya oleh kepentingan-kepentingan perilaku dari aspek kejiwaan.
pribadi dan politik sang patron (pimpinan) b. Sosiologi yaitu ilmu yang mempelajari
yang cenderung vested interest. Profil aparat sistem sosial dimana individu memainkan
birokrasi telah dibentuk sedemikian rupa perannya. Artinya sosiologi itu mempelajari
sehingga tidak lagi menjadi alat rakyat, manusia dalam hubungannya dengan
mereka menjadi sangat arogan, ingin menang manusia lain (aspek masyarakat).
sendiri, merasa benar sendiri dan menafikan c. Psikologi sosial adalah ilmu yang
kepentingan rakyat Kuntjorodjakti, (1980:11). mempelajari perilaku antara pribadi (aspek
Lemahnya proses rekruitmen, seleksi sosial).
serta pengembangan sumberdaya manusia Berkenaan dengan apa yang dia anggap
(SDM) yang tidak terprogram dengan baik. penting dan berharga, dan sebaliknya apa yang
Kita lihat banyak birokrasi publik yang diisi dia anggap kurang penting dan kurang
oleh tenaga-tenaga yang tidak profesional (the berharga dalam hidupnya. Dalam nilai sistem
wrong man in the right place). Tidak budaya ini, terhadap pola-pola perilaku atau
diterapkannya merit sistem, tetapi atas dasar tata kelakuan yang sekaligus merupakan
rasa like and dislike. Adanya tenaga pengatur dan pengendali.
profesional, tetapi seringkali karena berbeda Lahirnya pola-pola kelakuan
ideologi politik dengan pimpinannya sebagaimana telah diuraikan diatas
ditempatkan pada tempat atau posisi yang membuktikan bahwa kebudayaan masyarakat
21 e Jurnal Katalogis, Volume 5 Nomor 12, Desember 2017 hlm 18-33 ISSN: 2302-2019

tersusun dari kebiasaan tingkah laku tugas pokok dan fungsinya sebagai seorang
masyarakat. Dengan demikian, kebudayaan yang bekerja di bagian Kehumasan serta lebih
merupakan tingkah laku yang berpola. Hal banyak menunut hak ketimbang kewajiban.
tersebut diperkuat dengan ungkapan Talkot Keseluruhan permasalahan inilah berkaitan
Parson (1999:64), bahwa manusia adalah dengan Prilaku Aparatur Sipil Negara. Dari
mahluk yang aktif, kreatif dan evaluatif dalam masalah-masalah inilah yang mendorong
memilih berbagai alternatif tindakan dalam peneliti melakukan penelitian di Bagian
usaha mencapai tujuannya. Hubungan Masyarakat Sekretariat Daerah
Perilaku itu sendiri merupakan sesuatu Kabupaten Parigi Moutong.
yang sangat kompleks dan merupakan
resultance dari berbagai macam aspek internal METODE
maupun eksternal. Perilaku itu tidak akan
berdiri sendiri namun dipengaruhi oleh faktor- Penelitian tentang perilaku Aparatur
faktor yang lain. Sebagaimana yang Sipil Negara pada Bagian Humas Sekretariat
dikemukakan Gibson (2005:9) dalam teori Daerah Kabupaten Parigi Moutong ini
perilakunya, bahwa pada intinya faktor-faktor menggunakan metode penelitian kualitatif.
yang mempengaruhi perilaku dibedakan Menurut Sugiyono (2007:19) Metode
menjadi tiga, yaitu fisiologis, psikologis, dan kualitatif adalah metode penelitian yang
lingkungan. digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek
Berdasarkan gambaran Perilaku yang alami (natural), dan peneliti menjadi
Aparatur Sipil Negara yang dikemukakan di instrumen kunci serta hasil penelitiannya lebih
atas dan didasarkan pada beberapa teori yang menekankan pada makna dari yang diteliti,
ada serta dengan pemikiran yang dari pada menggeneralisasikan obyek
dideskripsikan, maka peneliti mencoba penelitian.
menggali permasalahan-permasalahan yang Metode penelitian kualitatif lebih mudah
terjadi di Bagian Hubungan Masyarakat menyesuaikan dengan kondisi lapangan, lebih
Sekretariat Daerah Kabupaten Parigi Moutong. peka terhadap perubahan pola/nilai dan bahkan
Berdasarkan Observasi awal, peneliti data yang ada di lapangan Moleong,
menemukan masih banyaknya terjadi hal-hal (2005:29).
yang sifatnya pelanggaran, mulai dari tidak Kemudian untuk mempertajam
disiplinnya aparatur sipil negara mengikuti gambaran terhadap fenomena yang diteliti,
aturan yang tertuang dalam Undang-Undang maka interpretasi langsung dari fenomena/
ASN, tidak mentaati regulasi yang dibuat kejadian memperoleh prioritas yang tinggi
Pemerintah Daerah, perilaku individu hingga dalam penelitian kualitatif dari pada
kendala membangun hubungan relasi diluar interpretasi terhadap pengukuran data.
lembaga atau organisasi. Teori dalam penelitian kualitatif tidak
Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan semata-mata dimaksudkan untuk dibuktikan
tentunya terkait dengan sikap prilaku individu (verification), namun dapat saja untuk
seseorang. Misalnya tidak disiplinnya pegawai dikembangkan berdasarkan data yang
mengikuti ketentuan apel pagi dan sore. Masih dikumpulkan (falsification). Dengan demikian
adanya sikap pegawai yang apatis tidak mau penelitian kualitatif menghasilkan data
pusing dengan regulasi yang ada. Bermalas- deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan
malasan, tidak mempunyai sikap atitude yang dari orang-orang dan perilaku yang dapat
baik dan bersikap apatis dengan keadaan, diamati Moleong, (2002:31).
terlambat masuk kantor, tidak ada inisiatif Penelitian dilakukan dengan mengambil
untuk bertindak, sering menunda pekerjaan lokasi di Bagian Humas Sekretariat Daerah
dan sebagian besar aparatur tidak mengerti Kabupaten Parigi Moutong yang masih
Astiti H. Simpu, Perilaku Aparatur Sipil Negara Pada Bagian Hubungan Masyarakat Sekretariat ..............................22

merupakan lingkungan Kantor Bupati Parigi 2. Kepala Sub Bagian Penereangan, Publikasi
Moutong. dan Dokumentasi (Kasubag) 1 Orang
Yang menjadi ketertarikan peneliti pada 3. Kepala Sub Bagian Sandi dan
lokasi tersebut karena di Bagian Humas Telekomunikasi (Kasubag) 1 orang
banyak permasalahan-permasalahan yang 4. Staf Sub Bagian Protokol dan Perjalanan 1
terjadi khususnya permasalahan pada perilaku orang
Aparatur Sipil Negara (birokrasi). Apalagi 5. Staf Sub Bagian Penerangan, Publikasi dan
fungsi Humas adalah sebuah seni Dokumentasi 1 orang.
berkomunikasi dengan publik untuk Kelima informan ini ditentukan secara
membangun saling pengertian, menghindari general berdasarkan purposive sampling, tidak
kesalahpahaman dan mispersepsi, sekaligus terfokus hanya di kantor kecamatan saja.
membangun citra positif lembaga. Sebagai Menurut Sugiyono (2011:9), peneliti dengan
sebuah profesi seorang Humas bertanggung sengaja memilih informan tersebut karena
jawab memberikan informasi, mendidik, dianggap mengetahui permasalahan yang akan
meyakinkan, meraih simpati dan diteliti.
membangkitkan ketertarikan masyarakat akan Untuk mengumpulkan data dalam
sesuatu atau membuat masyarakat mengerti penelitian ini, maka teknik pengambilan dan
dan menerima sebuah situasi. Namun peneliti pengumpulan data yang digunakan adalah
menemukan masih banyak aparatur sipil sebagai berikut:
negara di lembaga ini yang belum memahami a) Pengamatan (observation) menurut Bungin
tugas dan fungsinya. dalam Satori dan Komariah (2009) adalah
Waktu penelitian ini dilaksanakan metode pengumpulan data yang digunakan
selama kurang lebih 3 (tiga) bulan di Tahun untuk menghimpun data penelitian melalui
2016, yakni pada bulan, Agustus, September pengamatan dan penginderaan. Artinya
dan Oktober 2016. peneliti mengamati secara langsung untuk
Penentuan informan penelitian ini melihat fenomena di tempat penelitian
ditentukan secara purposive sampling. sehingga penulis mendapat gambaran dalam
Menurut Sugiyono (2011) purposive sampling, melakukan penelitian.
yaitu dipilih dengan pertimbangan dan tujuan b) Wawancara (interview) menurut Moloeng
tertentu. Dipilihnya purposive sampling demi (2010:13) adalah percakapan dengan
mengirit informan dan tidak terlalu banyak maksud tertentu. Percakapan dilakukan oleh
informan. Hanya orang yang tahu dan dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer)
memahami khususnya tentang masalah yang mengajukan pertanyaan dan
perilaku birokrasi. terwawancara (interviewee) yang
Informan penelitian merupakan sumber memberikan jawaban atas pertanyaan itu.
data yang secara langsung memberikan Artinya peneliti melakukan tatap muka
informasi sehingga keberadaannya sangat dengan informan untuk melakukan tanya
penting untuk mendukung data yang jawab yang bertujuan untuk mengetahui
dibutuhkan. Informan dipilih untuk keadaan yang sebenarnya terjadi di tempat
mendapatkan informasi yang jelas dan penelitian. Selain itu pengumpul data dapat
mendalam tentang berbagai hal yang mengembangkan wawancara melalui
berhubungan dengan masalah penelitian. tanggapan informan lain yang sesuai
Jumlah informan yang dilibatkan dalam dengan keadaan di lapangan untuk
penelitian ini sebanyak 5 orang dengan rincian menggali informasi yang lebih mendalam.
sebagai berikut: c) Dokumentasi, menurut Satori dan
1. Kepala Bagian Humas (Kabag) 1 Orang Komariah (2009:20) adalah mengumpulkan
dokumen dan data-data yang diperlukan
23 e Jurnal Katalogis, Volume 5 Nomor 12, Desember 2017 hlm 18-33 ISSN: 2302-2019

dalam permasalahan penelitian lalu ditelaah mencari tema-tema, menulis memo, dan
secara intens sehingga dapat mendukung lain-lain.
dan menambah kepercayaan dan c. Penyajian Data: penyajian data adalah
pembuktian suatu kejadian. Dokumentasi sekumpulan informasi tersusun yang
ini ditujukan untuk memperoleh data memberi kemungkinan untuk menarik
langsung dari tempat penelitian, meliputi kesimpulan dan pengambilan tindakan.
buku-buku yang relevan, peraturan- Bentuk penyajiannya antara lain berupa
peraturan, laporan kegiatan, foto-foto, dan teks naratif, matriks, grafik, jaringan, dan
lain sebagainya. Artinya peneliti melakukan bagan. Oleh karena itu, sajiannya harus
pencarian data dengan menelaah berbagai tertata secara apik. Penyajian data juga
literatur-literatur atau dokumen-dokumen merupakan bagian dari analisis, bahkan
lainnya yang dianggap relevan dengan mencakup pula reduksi data. Dalam tahap
penelitian yang dilakukan. ini peneliti juga melakukan display
Teknik analisis data yang digunakan (penyajian) data secara sistematik, agar
dalam penelitian ini mengacu pada teori yang lebih mudah untuk dipahami interaksi antar
dikemukakan oleh Miles dan Huberman bagian-bagiannya dalam konteks.
(1992:14). Analisis dilakukan secara d. Penarikan Kesimpulan/Verifikasi:Penarikan
bersamaan yang mencakup empat kegiatan, kesimpulan hanyalah sebagian dari satu
yaitu kalaborasi data, reduksi data, penyajian kegiatan dari konfigurasi yang utuh.
data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi
Teknik Analisis data model Miles dan selama penelitian berlangsung. Makna-
Huberman yaitu: makna yang muncul dari data harus selalu
a. Kalaborasi Data: Kolaborasi data diuji kebenaran dan kesesuainnya sehingga
mencakup semua kegiatan yang ingin validitasnya terjamin. Dalam tahap ini,
dicapai dan mempunyai tujuan serta peneliti membuat rumusan proposisi yang
manfaat bersama. Kegiatan kolaborasi data terkait dengan prinsip logika deskriptif,
dalam penelitian secara umum dapat mengangkatnya sebagai temuan penelitian,
memberikan batasan bahwa seorang peneliti kemudian dilanjutkan dengan mengkaji
dikatakan berkolaborasi apabila mereka secara berulang-ulang terhadap data yang
bekerjasama dalam proyek penelitan, ada, pengelompokkan data yang telah
bertanggung jawab dalam satu atau lebih terbentuk, dan proposisi yang telah
elemen penelitian, pelaksanaan eksperimen, dirumuskan. Langkah selanjutnya yaitu
analisa dan interpretasi data, juga dapat melaporkan dan mendiskripsikan hasil
mencakup antara lain bertanggung jawab penelitian tersebut.
dalam tahap-tahap penting penelitian,
seperti pencetus ide, hipotesis asli atau HASIL DAN PEMBAHASAN
interpretasi teori.
b. Reduksi Data: Reduksi data merupakan Tanggal 10 April 2002 menjadi hari
proses pemilihan, perumusan perhatian, yang sangat bersejarah bagi Kabupaten Parigi
pengabstraksian dan pentransformasian data Moutong. Pada tanggal tersebut Kabupaten
kasar dari lapangan. Proses ini berlangsung Parigi Moutong terbentuk berdasarkan
selama penelitian dilakukan, dari awal Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2002.
sampai akhir penelitian. Pada awal, Perjuangan pembentukan Kabupaten Parigi
misalnya melalui kerangka konseptual, Moutong sudah dimulai sejak tanggal 8 Juni
permasalahan, pendekatan pengumpulan 1963 yakni adanya pembentukan Panitia
data yang diperoleh. Selama pengumpulan Penuntut Pembentukan Kabupaten. Setelah
data misalnya membuat ringkasan, kode, diketahui arah perjuangan yang pasti dan jelas,
Astiti H. Simpu, Perilaku Aparatur Sipil Negara Pada Bagian Hubungan Masyarakat Sekretariat ..............................24

maka tanggal 23 Desember tahun 1965 Seiring waktu berjalan, dalam upaya
terbentuklah Yayasan Pembangunan Wilayah mewujudkan Visi dan Misi yang sudah
Pantai Timur dengan Akte Notaris Nomor 33 ditetapkan dalam memperhatikan
tahun 1965. perkembangan informasi, teknologi dan
Sejak saat itulah diketahui arah, tujuan tuntutan reformasi, di Kabupaten Parigi
dan hakekat pembentukan Kabupaten secara Moutong dihadapkan pada tugas yang berat
yuridis formal. Perjuangan selama hampir 39 terutama dalam mendukung kelancaran
tahun akhirnya membuahkan hasil pada penyelenggaraan pemerintahan dan
tanggal 2 Juli 2002, Kabupaten Parigi pembangunan serta pembinaan
Moutong resmi menjadi daerah otonom baru di kemasyarakatan di era Otonomi Daerah.
Provinsi Sulawesi Tengah. Parigi Moutong Struktur Organisasi Bagian Humas
yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Sekretariat daerah Kabupaten Parigi Moutong,
Donggala diresmikan di gedung PMD Pasar dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah
Minggu Jakarta Selatan oleh Menteri Dalam Kabupaten Parigi Moutong Nomor 11 Tahun
Negeri Hari Sabarno atas nama Presiden 2008 tentang susunan organisasi dan tata kerja
Republik Indonesia. Sekretariat Daerah dan Sekretariat Dewan
Delapan hari kemudian tepatnya pada Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Parigi
tanggal 10 Juli 2002, Drs. H. Longki Moutong.
Djanggola, M.Si dilantik sebagai pejabat Bagian Humas melekat di Sekretariat
Bupati Parigi Moutong oleh Gubernur Daerah Kabupaten Parigi Moutong yang
Sulawesi Tengah Prof. H. Aminuddin dikoordinir langsung oleh Asisten
Ponulele, MS di Parigi Ibukota Kabupaten Administrasi Umum. Bagian Humas,
Parigi Moutong. membawahi tiga sub bagian, yang memiliki
Setelah itu, dalam pemilihan calon tugas pokok dan fungsi sebagai berikut:
Bupati dan Wakil Bupati Parigi Moutong yang 1. Sub Bagian Sandi dan Telekomunikasi
dilaksanakan di DPRD, Drs H Longki Sub bagian ini mempunyai tugas
Djanggola terpilih sebagai Bupati dan Ir Asmir menyiapkan bahan pembinaan, koordinasi
Ntosa MS sebagai Wakil Bupati. Sejak dan bahan perumusan kebijakan,
kepemimpinan pasangan Longki Djanggola- merumuskan program serta melakukan
Asmir Ntosa, maka sejak saat itu pula dibentuk pemantauan terhadap penyelenggaraan
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) tugas dibidang pengumpulan dan
dilingkungan Pemerintah Kabupaten Parigi penyaringan informasi, sandi dan
Moutong, termasuk Bagian Informasi dan telekomunikasi.
Komunikasi (Infokom) yang saat ini berganti 2. Sub Bagian Penerangan, Publikasi dan
nama menjadi Bagian Hubungan Masyarakat Dokumentasi
(Humas), berdasarkan Peraturan Pemerintah Sub bagian ini mempunyai tugas
nomor 41 tahun 2007 tentang Organisasi menyiapkan bahan pembinaan dan
Perangkat Daerah. koordinasi serta penyelenggaraan kegiatan
Selanjutnya, pada pemilihan kepala dibidang penerangan dan publikasi.
daerah periode 2008-2013, Drs H Longki 3. Sub Bagian Protokol dan Perjalanan
Djanggola MSi berpasangan dengan H Sub Bagian ini mempunyai tugas
Samsurizal Tombolotutu, maju sebagai calon menyiapkan bahan pembinaan koordinasi
Bupati dan Wakil Bupati Parigi Moutong. serta penyelenggaran kegiatan dibidang
Sampai akhirnya pasangan ini terpilih sebagai keprotokolan dan perjalanan.
Bupati dan Wakil Bupati Parigi Moutong Pada penelitian ini, peneliti lebih
pertama yang dipilih secara langsung oleh memfokuskan pada perilaku Aparatur Sipil
masyarakat. Negara atau Birokrat atau Individu. Perilaku
25 e Jurnal Katalogis, Volume 5 Nomor 12, Desember 2017 hlm 18-33 ISSN: 2302-2019

birokrasi adalah pada hakekatnya merupakan memperhatikan diri sendiri ketimbang subtansi
hasil interaksi birokrasi sebagai kumpulan melayani masyarakat.
individu dengan lingkungannya. Thoha, Jika melihat Perilaku birokrasi yang
(2005). Perilaku birokrasi yang menyimpang bersifat patologis bukanlah merupakan hal
lebih tepat dipandang sebagai patologi yang berdiri sendiri, tetapi merupakan hasil
birokrasi atau gejala penyimpangan birokrasi interaksi antara berbagai aspek, seperti aspek
(dysfunction of bureaucracy). Dalam individu dan aspek organisasi yang ada dalam
kaitannya dengan fenomena perilaku birokrasi lingkungan birokrasi. Aspek individu
maka kedudukan, peran dan fungsinya tidak membawa tatanan birokrasi sehingga
dapat dipisahkan dari individu selaku aparat menjaring sebuah keharusan untuk melakukan
(pegawai) yang mempunyai persepsi, nilai, sesuatu.
motivasi dan pengetahuan dalam rangka Untuk mengetahui tujuan bagaimana
melaksanakan fungsi, tugas dan tanggung perilaku birokrasi pada Kantor Kecamatan
jawab sosial. Parigi Barat Kabupaten Parigi Moutong, maka
Dimana-mana Karakteris individu dalam penelitian ini akan dibahas dengan
menjadi modal utama dalam menciptakan menggunakan teori perilaku birokrasi yang
good governance di suatu Birokrasi, baik pada dikemukakan Miftah Thoha, namun peneliti
tingkat Pusat maupun Daerah. Selama membatasi pembahasannya. Peneliti hanya
perjalanan panjang Birokrasi yang ada, kerap membahas pada skala karakteristik individu
menjadi sorotan adalah perilaku aparatur dengan melihat perilaku aparatur atau birokrat,
Birokrasi. Mengapa tidak, sorotan kritik yang bukan karakteristik organisasi, mengingat
tajam baik dari kalangan akademisi, LSM, banyaknya yang akan diteliti jika semua
para pakar politik, ekonomi, sosial budaya variabel diambil. Peneliti mengetahui bahwa
bahkan masyarakat itu sendiri, perilaku karakteristik individu tidak bisa dipisahkan
birokrasi menjadi konsumsi buah bibir di dengan karakteristik organisasi sehingga
tengah-tengah derasnya arus globalisasi, melahirkan output perilaku Birokrasi. Dari dua
Thoha (2007). karakteristik yang di kemukan Miftah Thoha,
Oleh karena itu, memang benar, perilaku yaitu karakteristik Individu dan karakteristik
birokrasi selama ini yang hangat di media organisasi peneliti hanya membahas
massa baik media cetak maupun elektronik individunya saja yang terdiri dari lima variabel
adalah misalnya sikap perilaku korupsi, yaitu aspek Kemampuan, Kebutuhan,
perilaku buruknya Hirarki kelembagaan, Kepercayaan, Pengalaman dan Pengharapan.
Perilaku etika sebagai aparatur misalnya
mengkonsumsi Narkotika, Perilaku bolos saat Kemampuan
jam kerja, menambah-nambah libur, dan masih Menurut Thoha (2002) bahwa
banyak lagi perilaku lain yang peniliti tidak karakteristik individual meliputi kemampuan,
bisa sebut satu persatu yang intinya. Bahwa kebutuhan, kepercayaan, pengalaman, dan
perilaku yang tidak baik dilakukan manusia pengharapan. Perbedaan karakteristik individu
utamanya aparatur birokrasi harus di reformasi tersebut menyebabkan perbedaan perilaku
sesuai nawa cita Presiden Republik Indonesia mereka.
Joko Widodo yaitu Revolusi Mental. Kemampuan atau ability adalah
Apabila kita mendengar orang berbicara seseorang yang turut serta menentukan
tentang birokrasi selalu terkonotasi negatif perilaku dan hasilnya. Yang dimaksud
khususnya di kalangan masyarakat. Birokrasi albilities ialah bakat yang melekat pada
menurut mereka lamban, berbelit-belit, seseorang untuk melakukan satu kegiatan
sehingga terkesan itu dilakukan oleh orang- secara fisik atau mental yang ia peroleh sejak
orang yang tidak berperilaku baik, lebih
Astiti H. Simpu, Perilaku Aparatur Sipil Negara Pada Bagian Hubungan Masyarakat Sekretariat ..............................26

lahir, belajar dan dari pengalaman. Soehardi diwawancarai pada tanggal 31 Oktober 2016
(2003). mengatan:
Selain itu, Soelaiman (2007) juga “Sesuai kodrat manusia tidak ada yang
mengatakan bahwa kemampuan adalah sifat sempurna, masing-masing diberikan
yang dibawa lahir atau dipelajari yang kelebihan dan kekurangan oleh Tuhan.
memungkinkan seseorang yang dapat Termasuk pengalaman, tidak semua orang
menyelesaikan pekerjaannya, baik secara memiliki pengalaman yang sama dalam
mental ataupun fisik. Karyawan dalam suatu hidupnya. Namun kemampuan ini bisa
organisasi, meskipun dimotivasi dengan baik, didasarkan pada pengalamannya. Karena itu,
tetapi tdak semua memiliki kemampuan untuk semestinya setiap aparat itu bekerja sesuai
bekerja dengan baik. Kemampuan dan tupoksinya. Dalam konteks kemampuan
keterampilan memainkan peranan utama individu di Bagian Humas saya kira cukup
dalam perilaku dan kinerja individu. variatif dan saling mengisi. Dari 40 orang
Keterampilan adalah kecakapan yang jumlah pegawai di Bagian Humas tidak
berhubungan dengan tugas yang di miliki dan semua bekerja secara total. Pegawai yang
dipergunakan oleh seseorang pada waktu yang sudah terbiasa melaksanakan tugasnya, tentu
tepat. memiliki kemampuan berbeda dengan mereka
Sedangkan menurut Stepen P. Robbins yang hanya datang duduk lalu kembali ke
dalam bukunya Perilaku Organisasi (2003) rumah. Dari aspek kemampuan ini saya dapat
kemampuan adalah suatu kapasitas individu katakan kemampuan melaksanakan pekerjaan
untuk melaksanakan tugas dalam pekerjaan pegawai di Bagian Humas relatif baik, namun
terrtentu. Selanjutnya Stepen menambahkan masih kurang disiplin mengikuti ketentuan
bahwa Kemampuan (ability) adalah kapasitas berkantor seperti apel pagi dan sore.
individu untuk melaksanakan berbagai tugas Penyebab ketidakdisplinan ini lebih
dalam pekerjaan tertentu. Seluruh kemampuan dipengaruhi oleh lingkungan. Ada yang
seorang individu pada hakekatnya tersusun beranggapan, karena temannya malas, maka
dari dua perangkat factor yaitu kemampuan yang bersangkutan akan ikut-ikutan malas.
intelektual dan kemampuan pisik. Karena itu, tidak ada jalan lain, pemberian
Dimensi Penjelasan teori tersebut bahwa sanksi tegas kepada pegawai yang indipliner
kemampuan menentukan sikap perilaku harus dilakukan. Jika sanksi ini tidak
seseorang perlu didukung adanya motivasi dilaksanakan, maka tidak akan ada efek jera
bekerja tetapi tidak semua memiliki bagi mereka yang indispiliner, sehingga hal
kemampuan untuk bekerja dengan baik. ini mempengaruhi pegawai lainnya yang pada
Namun yang terpenting adalah kemampuan akhirnya akan ikut-ikutan indispliner”.
intelektual dan kemampun fisik. Ini Dari hasil wawancara diatas dapat
diisyaratkan bahwa setiap masing-masng dijelaskan bahwa kemampuan aparatur di
individu harus mempunyai kemampuan kerja Bagian Humas cukup baik, namun kurang
dan berwawasan luas dalam memenej disiplin mengikuti ketentuan jam berkantor.
tupoksinya sehingga tercipta perilaku baik. Padahal, antara kemampuan individu yang
Untuk mengetahui bagaimana proses baik, harus dibarengi dengan disiplin yang
perilaku Birokras dari segi kemampuan baik pula. Bagaimana mungkin bisa melayani
Aparatur Sipil Negara pada Bagian Humas masyarakat kalau kehadirannya di kantor
Sekretariat Daerah Kabupaten Parigi Moutong, selalu meleset dari ketentuan yang telah
maka dapat dilihat dari hasil wawancara ditetapkan. Peneliti melihat bahwa dari 40
dengan informan Kepala Bagian Humas Bapak jumlah pegawai di Bagian Humas, hanya
Syamsu Nadjamuddin, SPd, yang separuh yang melaksanakan disiplin dengan
27 e Jurnal Katalogis, Volume 5 Nomor 12, Desember 2017 hlm 18-33 ISSN: 2302-2019

baik. Mereka adalah pegawai tidak tetap berbeda. Seperti halnya seorang karyawan
ditambah beberapa orang pegawai negeri sipil. pabrik yang rajin bekerja setiap hari karena
Kesemuanya ini akan mempengaruhi butuh uang untuk makan dan mempertahankan
tingkat perilaku aparatur dalam menjalankan kelangsungan hidupnya dan sangat jelas
tugas menuju birokrasi yang diharapkan. berbeda denga karyawan yang bekerja karena
Kemampuan merupakan sebuah intisari dari butuh penghargaan sosial dari lingkungannya.
aktivitas seseorang, berkemampuan sudah Pemahaman kebutuhan yang berbeda dari
pasti bekerja secara nyata. Peneliti sangat setiap individu ini sangat bermanfaat dalam
mengharapkan perubahan bisa terjadi, bahwa memahami konsep perilaku individu dalam
antara kemampuan melaksanakan tugas juga organisasi.
harus dibarengi dengan disiplin mengikuti Menurut Miftah Thoha, (2004), bahwa
ketentuan jam berkantor, yaitu apel pagi dan kebutuhan merupakan salah satu unsur pokok
sore masuk pukul 07.30 wita dan kembali jam dalam perilaku seseorang. kebutuhan adalah
16.00 wita. Jika perpaduan ini bisa berjalan suatu proses psikologi. Namun demikian, ini
dengan baik, maka diperoleh Aparatur Sipil bukan berarti bahwa kebutuhan adalah satu-
Negara yang profesional. satunya unsur yang bisa menjelaskan adanya
Proses penyelenggaraan pemerintahan perilaku seseorang.
hanya dapat berlangsung dengan efisien dan Dari uraian teori tersebut, bahwa
efektif bila didukung oleh manusia-manusia kebutuhan masuk dalam peranan penting
pelaksananya yang memiliki kualitas, terutama dalam perilaku aparatur. Setiap individu akan
pada aparatur pemerintah sebagai pelaksana berbeda perilakunya sesuai kebutuhanya
utamanya, yang beretika dan bermoral dalam masing-masing. Di Bagian Humas
penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan. kesejahteraan individu sangat penting dan
Jika ingin memiliki kemampuan apa saja yang sangat diharapkan untuk meningkatkan
sifatnya baik harus dimulai dari kemauan. kapasitas perilaku aparatur, sehingga
Kemauan untuk mau berubah secara positif menghasilkan birokrasi maju serta diharapkan
menjadi modal utama untuk mencapai bagi keberlangsungan organisasi. Lalu
kesuksesan, dan juga modal utama di dalam bagaimana kebutuhan kesejahteraan aparatur
membagun birokrasi yang sifatnya hierarki di Bagian Humas? Berikut hasil wawancara
serta bisa berinteraksi sosial dengan individu. dengan informan, Kepala Sub Bagian
Dari segi kemampuan aparatur birokrasi Penerangan, Publikasi dan Dokumentasi
dituntut harus patuh terhadap aturan yang ada, Bagian Humas, Bapak Jeprin SSos, M.Si yang
harus punya kemampuan kerja antara atasan diwawancarai pada Tanggal 01 November
dan bawahan, serta di topang oleh perilaku 2016, mengatakan:
baik. Itulah yang disebut teori Miftah Thoha “Pegawai di bagian humas selama ini sudah
(2002) bahwa kemampuan menentukan sikap berorientasi pada tujuan organisasi. Secara
perilaku seseorang. Yang terpenting adalah finansial kebutuhan pegawai di Bagian
kemampuan intelektual dan kemampun fisik. Humas relatif terpenuhi. Namun kebutuhan
Masing-masng individu harus mempunyai itu tidak diperoleh secara merata oleh seluruh
kemampuan kerja dan berwawasan luas dalam pegawai. Tergantung siapa bekerja apa.
memenej tupoksinya sehingga tercipta perilaku Hanya saja dalam hal pekerjaan belum
baik. sepenuhnya dijalankan secara merata.
Sebenarnya tanggungjawab pekerjaan sudah
Kebutuhan dibagi secara merata kepada seluruh
Menurut Miftah Thoha (2009) Setiap pegawai, namun masih ada saja pegawai
individu berperilaku berbeda karena dilatar yang bersikap apatis dengan pekerjaannya.
belakangi dengan kebutuhan individu yang Hal inilah yang kemudian mempengaruhi
Astiti H. Simpu, Perilaku Aparatur Sipil Negara Pada Bagian Hubungan Masyarakat Sekretariat ..............................28

insentif yang diperoleh. Kondisi ini tentu suatu kombinasi sifat-sifat yang tampak.
menjadi masalah, karena disatu sisi pegawai Seorang pemimpin memiliki ciri-ciri atau
ingin kebutuhannya terpenuhi, namun tidak sifat-sifat tertentu yang menyebabkan mereka
dibarengi dengan tanggunggungjawab dapat memimpin para bawahanya. Sifat-sifat
melaksanakan tugas, sehingga kebutuhan ini mencakup energi, pandangan, pengetahuan
yang ingin dicapai tidak terpenuhi. Idealnya dan kecerdasan, imajinasi, kepercayaan diri,
ketika pegawai bekerja dengan penuh integritas, kepandaian berbicara, pengendalian
tanggungjawab maka apa yang menjadi dan keseimbangan mental maupun emosional,
kebutuhannya akan terpenuhi. Jika kondisi bentuk fisik, pergaulan sosial dan
ideal ini berjalan, saya yakin akan persahabatan, dorongan, antusiasme, berani
mendukung tujuan organisasi”. dan lain-lain, itu merupakan penilain pimpinan
Dari hasil wawancara tersebut dapat kepada bawahan dalam memberikan tugas
dijelaskan bahwa kebutuhan sangat penting di tertentu. Berikut hasil wawancara dengan
dalam sebuah birokrasi. Kebutuhan menjadi informan Kepala Sub Bagian Sandi dan
tolak ukur dalam melaksanakan suatu Telekomunikasi, Bapak Farid Ali Buraera,
pekerjaan. Apa yang terjadi di Bagian Humas S.Sos, yang diwawancarai tanggal 02
mengambarkan bahwa apa yang dikerjakan November 2016 mengatakan:
oleh pegawai sebanding dengan insentif yang “Aspek kepercayaan aparatur menjadi hal
diperoleh. Mereka yang sudah bekerja sesuai yang utama dalam setiap organisasi. Kalau di
dengan tugas pokok dan fungsinya akan humas saya menilai seluruh staf mampu
memperoleh insentif sesuai apa yang menjaga kepercayaan itu dengan baik. Bagian
dikerjakannya. Bagi yang tidak melaksanakan humas selalu bersentuhan langsung dengan
tugas, tentu akan sangat jauh berbeda insentif kepentingan masyarakat. Bagian humas harus
yang diterimanya. memberikan citra positif bagi lembaga, dalam
Meskipun tingkat kebutuhan pegawai itu hal ini Pemerintah Kabupaten Parigi
berbeda, namun hal itu menurut peneliti sudah Moutong. Nah, bagaimana jadinya jika
sangat memenuhi unsur keadilan. Kondisi pegawai yang ada di bagian humas ini tidak
diatas juga menggambarkan bahwa kebutuhan dipercaya publik, tentu akan berpengaruh
pegawai di bagian Humas relatif terpenuhi, pada penilaian publik terhadap pemerintah
utamanya dari aspek finansial. Akan tetapi hal daerah. Sehingga saya selalu menekankan
itu belum sejalan dengan tugas dan kepada seluruh staf, agar kepercayaan yang
tanggungjawab yang seharusnya dilaksanakan diberikan pimpinan harus dijaga dengan baik.
oleh pegawai. Artinya kebutuhan pegawai Sanksi tegas tentu menanti para pegawai
harus diselaraskan dengan tanggungjawab. yang lalai terhadap kepercayaan yang
Artinya semakin bertanggungjawab pegawai diberikan, mulai dari teguran lisan, teguran
terhadap tugasnya, maka kebutuhannya akan tertulis, hingga menunda kenaikan pangkat”.
dengan mudah terpenuhi. Hal itu tentu akan Dari hasil wawancara diatas, dapat
sangat menguntungkan dalam mencapai tujuan dijelaskan bahwa pendekatan kepercayaan
organisasi. bagi pejabat Kepala Sub Bagian maupun staf
pada umumnya sudah berjalan dengan baik
Kepercayaan tanpa mengabaikan fungsi koordinasi.
Pendekatan Aspek Kepercayaan dalam Kepercayaan menjadi syarat mutlak dalam
studi perilaku individu merupakan sebuah menudukung kinerja organisasi. Bisa
situasional (contingency) dalam pemberian dibayangkan bagaimana jadinya ketika
tugas dan wewenang kepada bawahan. pimpinan tidak mempercayai stafnya dalam
Pendekatan Kepercayaan pertama memandang melaksanakan tugas, tentu akan menghambat
bahwa kepercayaan yang diberikan merupakan kinerja organisasi. Sehingga menurut peneliti,
29 e Jurnal Katalogis, Volume 5 Nomor 12, Desember 2017 hlm 18-33 ISSN: 2302-2019

kepercayaan yang diberikan pimpinan tersebut Pengalaman kerja seseorang menunjukkan


harus dijaga dengan baik oleh setiap staf dan jenis-jenis pekerjaan yang pernah dilakukan
tidak disalahgunakan. seseorang dan memberikan peluang yang besar
Pada dasarnya perilaku dari karakteristik bagi seseorang untuk melakukan pekerjaan
kepercayaan merupakan bagian dari keharusan yang lebih baik.
jalannya sebuah Birokrasi. Kepercayaan sudah Miftah Thoha, (2002) mengatakan jika
diberikan sepenuhnya kepada seluruh staf, seorang memasuki karier sebagai figur publik,
meskipun masih ada yang lalai terhadap ia harus lebih dulu mencari pengalaman
kepercayaan itu. Sehingga menurut peneliti, profesi dibawah pengawasan figur senior yang
ketika seseorang diberikan kepercayaan, maka lebih berpengalaman.
kepercayaan itu harus dijaga dengan baik. Berdasarkan ungkapan beberapa teori
Tindakan tidak akan merubah perilaku tersebut bahwa pengalaman individu dituntut
seseorang, kecuali perubahan itu muncul dari untuk menguasai suatu pekerjaan sehingga
diri setiap individu. dalam memasuki area kerja mempunyai
Oleh karena itu, setiap pribadi harus kematangan pengalaman dan pasti dengan
memegang teguh kepercayaan yang diberikan sendirinya akan timbul perilaku individu yang
kepada dirinya, baik oleh atasan maupun baik demi keberlangsungan suatu birokrasi.
orang-orang disekelilingnya. Setiap individu Berikut hasil wawancara dengan informan,
perlu menjaga citra lembaganya dengan baik. Staf Sub Bagian Protokol dan Perjalanan
Individu yang baik harus selalu bisa dipercaya Bagian Humas, Jumardin S Adjam, yang
baik ucapan maupun tindakannya. diwawancarai pada tanggal 04 November
Apalagi di Bagian Humas yang setiap 2016, mengatakan:
harinya bersentuhan dengan kepentingan “Sebagian besar staf bagian humas sudah
masyarakat, tentu publik trust atau sangat lama mengabdi, hal ini tentunya
kepercayaan publik harus selalu ditunjukan membuat pengalaman kerja mereka semakin
oleh setiap pegawai. Pendekatan kepercayaan tinggi. Hal tersebut terbukti dengan efisiensi
yang peneliti kemukakan tadi, mempunyai serta kinerja humas selama ini. Pengalaman
anggapan bahwa seorang individu yang merupakan suatu pelajaran yang sangat
memiliki sifat-sifat tertentu atau berharga untuk mewujudkan tujuan
memperagakan perilaku-perilaku tertentu akan organisasi. Makin eksisnya bagian humas
muncul sebagai pemimpin dalam situasi Kabupaten Parigi Moutong tidak terlepas
kelompok apapun di mana dia berada. dari kinerja seluruh staf yang didukung oleh
faktor pengalaman kerja dan pendidikan yang
Pengalaman memadai,”.
Aspek pengalaman individu sangat Dari hasil wawancara diatas dapat
menentukan untuk mencapai keberhasilan dijelaskan bahwa pengalaman juga merupakan
organisasi. Dian indri purnamasari, (2005:3) bagian penting dari sebuah organisasi.
memberikan kesimpulan bahwa seorang Pengalaman menjadi modal utama seorang
karyawan yang memiliki pengalaman kerja individu dalam melaksanakan tugasnya.
yang tinggi akan memiliki keunggulan dalam Pengalaman kerja setiap pegawai di Bagian
beberapa hal diantaranya: 1). Mendeteksi Humas pada dasarnya sudah baik, namun
kesalahan, 2). Memahami kesalahan, dan 3) harus selalu diberikan pembinaan. Bagi yang
Mencari penyebab munculnya kesalahan. menyelesaikan tugasnya dengan baik, perlu
Keunggulan tersebut bermanfaat bagi diberikan penghargaan. Sementara bagi yang
pengembangan keahlian. Berbagai macam lalai fungsi pembinaan juga harus selalu
pengalaman yang dimiliki individu akan dilakukan.
mempengaruhi pelaksanakan suatu tugas.
Astiti H. Simpu, Perilaku Aparatur Sipil Negara Pada Bagian Hubungan Masyarakat Sekretariat ..............................30

Dapat dijelaskan pula bahwa Faktor- Snyder mengatakan, pengharapan adalah


faktor yang mempengaruhi pengalaman keadaan termotivasi yang positif didasarkan
individu pada dasarnya diperoleh dari pada hubungan interaktif antara agency (energi
lingkungan. Artinya makin sering pegawai yang mengarah pada tujuan) dan pathway
bekerja pada satu bidang tertentu, maka (rencana untuk mencapai tujuan). Selanjutnya
pengalamannya akan semakin banyak. Modal dia juga menjelaskan bahwa pengharapan
pengalaman seseorang dalam bekerja sebagai sekumpulan kognitif yang didasarkan
merupakan salah satu faktor yang pada hubungan timbal-balik antara agency
berhubungan dengan perilaku dan persepsi (penentu perilaku yang berorientasi tujuan)
individu. dan pathway (rencana untuk mencapai tujuan).
Dengan melakukan pekerjaan yang sama Snyder dalam Carr, (2004:33)
secara berulang-ulang, seseorang bukan saja mengkonsepkan pengharapan ke dalam dua
akan menjadi lebih mahir dalam melaksanakan komponen, yaitu kemampuan untuk
tugasnya, tetapi juga dapat membuka peluang merencanakan jalur untuk mencapai tujuan
baginya untuk menemukan cara-cara yang yang diinginkan, dan agency atau motivasi
lebih praktis dan lebih baik dalam untuk menggunakan jalur tersebut. Harapan
melaksanakan tugasnya khususnya melayani merupakan keseluruhan dari kedua komponen
masyarakat, yang pada akhirnya akan tersebut. Berdasarkan konsep ini, pengharapan
meningkatkan prestasi kerjanya dan merubah akan menjadi lebih kuat jika pengharapan ini
perilaku individu. Perilaku pegawai akan disertai dengan adanya tujuan yang bernilai
terbentuk berdasarkan pengalaman yang yang memiliki kemungkinan untuk dapat
dimilikinya. dicapai bukan sesuatu yang mustahil dicapai.
Makin banyak pengalaman, maka akan Namun jika individu memiliki keyakinan
semakin pegawai tersebut mengusai untuk mencapai tujuannya, maka individu
pekerjaannya. Hal ini sejalan dengan teori tidak memerlukan harapan. Sebaliknya, jika
Miftah Thoha, (2002) mengatakan jika seorang individu yakin bahwa ia tidak akan bisa maka
memasuki karier sebagai figur publik, ia harus ia akan mendapatkan tujuanya.
lebih dulu mencari pengalaman profesi Teori pengharapan ini juga menekankan
dibawah pengawasan figur senior yang lebih peran dari hambatan, stressor, dan emosi.
berpengalaman. Berdasarkan ungkapan Ketika menjumpai hambatan yang
beberapa teori tersebut bahwa pengalaman menghalangi pencapaian tujuan, individu
individu dituntut untuk menguasai suatu menilai kondisi tersebut sebagai sumber stres.
pekerjaan sehingga dalam memasuki area Berdasarkan postulat teori harapan, emosi
kerja mempunyai kematangan pengalaman dan positif dihasilkan dari persepsi mengenai
pasti dengan sendirinya akan timbul perilaku keberhasilan pencapaian tujuan. Sebaliknya
individu yang baik demi keberlangsungan emosi negatif mencerminkan kegagalan
suatu birokrasi. pencapaian tujuan, baik yang mengalami
hambatan ataupun tidak mengalami hambatan.
Pengharapan Oleh karena itu, persepsi mengenai
Pengharapan adalah keseluruhan dari keberhasilan pencapaian tujuan akan
kemampuan yang dimiliki individu untuk mendorong munculnya emosi positif dan
menghasilkan jalur mencapai tujuan yang negatif. Snyder & Sympson dalam Snyder,
diinginkan, bersamaan dengan motivasi yang (2000:12).
dimiliki untuk menggunakan jalur-jalur Oleh karena itu, dari teori ini akan
tersebut. Harapan didasarkan pada harapan merumuskan sikap perilaku pengharapan
positif dalam pencapaian tujuan (Snyder kepada aparatur di Bagian Humas Sekretariat
2000:4). Daerah Kabupaten Parigi Moutong. Berikut
31 e Jurnal Katalogis, Volume 5 Nomor 12, Desember 2017 hlm 18-33 ISSN: 2302-2019

kutipan wawancara dengan informan, Staf Sub terpenuhinya kebutuhan tersebut. Kalau
Bagian Penerangan, Publikasi dan seandainya disebabkan karena kemampuan
Dokumentasi, Suci Lestari, S.IP, yang karyawan, maka pimpinan dapat
diwawancarai pada tanggal 07 November merencanakan peningkatan kemampuan
2015, mengatakan: tersebut dengan berbagai latihan jabatan.
“Sebagai staf saya selalu berharap apa yang
menjadi tujuan organisasi juga diikuti oleh KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
seluruh pegawai. Kami berutung bekerja di
organisasi ini, karena apa yang menjadi Kesimpulan
kebutuhan kami, misalnya sarana dan Setelah peneliti mengkaji secara
prasarana dalam mendukung kinerja selalu mendalam hasil penelitian ini kemudian
dipenuhi. Sebagai staf saya tidak menunjuk didukung dengan teori para ahli, maka dapat
siapa-siapa tetapi saya selalu berharap para disimpulkan bahwa, Perilaku Aparatur Sipil
pegawai baik PNS maupun PTT dapat Negara (ASN) di Bagian Humas Sekretariat
merubah sikap dan perilakunya. Selalu Daerah Kabupaten Parigi Moutong belum
menunjukan profesionalisme dalam bekerja, sepenuhnya dilaksanakan dengan baik oleh
berbakti untuk daerah, bangsa dan Negara. Aparatur Birokrasi. Hal itu dapat dilihat dari
Ketika kita diberikan tugas oleh atasan harus Karakteristik Individu. Hanya aspek
selalu dikerjakan dengan baik dan penuh Kemampuan, Kepercayaan dan Pengalaman
tanggungjawab, dengan begitu sudah pasti yang sudah berjalan dengan baik, sementara
akan merubah perilaku kita dan tujuan aspek Kebutuhan dan Pengharapan belum
organisasi akan terwujud”. sepenuhnya dilakukan.
Dari hasil wawancara tersebut diatas Oleh karena itu, seorang pemimpin perlu
dapat dijelaskan bahwa pengharapan menjadi merancang suatu rencana kerja yang mengarah
modal utama dalam menunjang perilaku. terpenuhinya kebutuhan tersebut. Jika
Pengaharapan merupakan suatu bentuk seandainya disebabkan karena kemampuan
keinginan yang ingin dicapai, sehingga di pegawai, maka pemimpin dapat merencanakan
dalam membentuk karakteristik individu di peningkatan kemampuan tersebut baik dengan
dalam organisasi maka pengharapan dalam jalan latihan jabatan atau disekolahkan.
aktivitasnya menjadi sangat penting.
Pengharapan tersebut dapat dikatakan Rekomendasi
sebagai sikap atau perilaku. Karena itu, Berdasarkan hasil kesimpulan penelitian
idealnya pengharapan itu harus dimulai dari diatas, maka sebagai bahan pertimbangan
mindset berpikir yang jelas, misalnya tidak dalam penerapan perilaku Aparatur Sipil
berorientasi imbalan dalam melaksanakan Negara, peneliti merekomendasikan hal-hal
tugas. Hal ini sejalan dengan apa yang sebagai berikut:
dikatakan Miftah Thoha (2002), bahwa 1) Dari aspek Kebutuhan demi mendukung
banyaknya faktor yang mempengaruhi kelancaran tugas-tugas di Bagian Humas
perilaku manusia, maka seringkali suatu Sekretariat Daerah Kabupaten Parigi
organisasi akan menghadapi kesulitan di Moutong, diperlukan adanya pemenuhan
dalam menciptakan suatu keadaan yang kesejahteraan aparatur. Kesejahteraan yang
memimpin kearah tercapainya efektivitas proporsional akan mendorong perilaku
pelaksanaan kerja. Aparatur bekerja lebih profesional. Maka
Perilaku untuk menciptakan efektivitas dari itu, prinsip integritas dan
kerja banyak ditentukan karena kebutuhannya. profesionalisme muncul sebagai suatu
Oleh karena itu, pimpinan perlu merancang kebutuhan terhadap tantangan tugas yang
suatu rencana kerja yang mengarah dihadapi aparatur birokrasi, sebab tanpa
Astiti H. Simpu, Perilaku Aparatur Sipil Negara Pada Bagian Hubungan Masyarakat Sekretariat ..............................32

prinsip tersebut tidaklah mungkin tercapai Gibson, James. 2006. Organisasi Perilaku,
tingkat efektifitas dan produktivitas yang Struktur dan, Proses). Edisi ke-5.
tinggi dalam melaksanakan proses Cetakan ke-3. Jakarta: Penerbit
reformasi birokrasi. Erlangga.
2) Sedangkan dari aspek pengharapan, peneliti Hermila. 2010. Perilaku Birokrasi Dalam
menyarankan aparatur di Bagian Humas Peningkatan Mutu Pelayanan Pada
Sekretariat Daerah Kabupaten Parigi Kantor Urusan Agama Kecamatan Palu
Moutong lebih diarahkan untuk Timur. Tesis: Program Studi Magister
meningkatkan kapastitas dan Administrasi Publik Universitas
kemampuanya, misalnya mengikutkan Tadulako, Palu.
mereka bimbingan teknis menyangkut tugas Hersey. Dharma Agus. 1995. (Penterjemah)
pokok dan fungsinya. Kapasitas individu Manajemen Perilaku Organisasi
yang baik akan memperlancar terwujudnya Pendayagunaan Sumber Daya Manusia.
tujuan organisasi. Jakarta: Erlangga.
Iqbal. 2012. Analisis Perilaku Birokrasi dalam
UCAPAN TERIMA KASIH Pelayanan Sertipikasi di Kantor
Pertanahan Kota Palu. Tesis: Program
Selama berlangsungnya kegiatan dan Studi Magister Administrasi Publik
penulisan artikel ini, peneliti banyak mendapat Univer Tadulako, Palu.
bantuan, bimbingan, arahan dan dorongan dari Irawan. Bayhaqi Yuzza. 2006. Pengaruh
berbagai pihak. Untuk itu, dengan segala Kualitas Layanan, dan Keunggulan
hormat peneliti menyampikan banyak terima Produk terhadap Kepuasan Pelanggan.
kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya (management analysis, journal of
kepada Dr. H. Nasir Mangangsing, M.Si diponegoro university).
selaku Ketua Tim Pembimbing dan Dr. Moh. Kartasapoetra. 1989. Kamus Sosiologi Prilaku
Irfan Mufti, M.Si selaku anggota Tim Birokrasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Pembimbing yang telah banyak memberikan Lapalambora. 1991. Pengertian Birokrasi
arahan, bimbingan dan motivasi dalam (Terjemahan), Universitas Tri Sakti
penulisan artikel ini. Jakarta.
Mangkunegara, Anwar Prabu. 2005. Perilaku
DAFTAR RUJUKAN dan budaya organisasi. Bandung: PT
Refika Aditama.
Benveniste. Guy. 1997. Birokrasi Mas'oed, Mohtar. 2008. Politik, Birokrasi dan
(Terjemahan: Sahat Simamora). Jakarta: Pembangunan. Yogyakarta: Pustaka
Rajawali Pers. Pelajar.
Cooper, Robin. 1986. Tense and discourse ___________. 2003. Perilaku Negara Kapital
location in situation semantics. dan Demokrasi, Yogyakarta: Pustaka
Linguistics and Philosophy. Jakarta: PT. Pelajar.
Radjagrafindo Persada. Moleong, Lexy, J. 2002. Metodologi
Davis. 1996. Perilaku Dalam Organisasi. Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
Edisi Tujuh. Jakarta: Erlangga. Rosda Karya.
__________. 2008. Perilaku dan Budaya ____________. 2005. Metodologi Penelitian
Organisasi. Edisi Revisi. Penerbit Kualitatif. Edisi Revisi. Bandung: PT.
Bandung: PT. Rafika Adi Tama. Remaja Rosdakarya.
Dhraha, Taliziduhu. 1987. Perilaku Manusia
yang Baik. Jakarta: Bina Aksara.
33 e Jurnal Katalogis, Volume 5 Nomor 12, Desember 2017 hlm 18-33 ISSN: 2302-2019

Nasution. 1996. Metode Penelitian ______________. 2002. Perilaku Birokrasi.


Naturalistik-Kualitatif. Bandung: Jakarta: PT. Raja Grafindo.
Tarsito. _____________. 1991. Perspektif perilaku
Peraturan Menteri Pendayaagunaan Aparatur birokrasi dimensi-dimensi prima ilmu
Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor administrasi Negara. Cetakan ke-2.
15 tahun 2014 Tentang Pedoman Standar Jakarta: Rajawali Pers.
Pelayanan Publik. ____________. 1999. Kepemimpinan dalam
Riandja. 1996. Konsep-konsep birokrasi dalam Manajemen Suatu Pendekatan Prilaku.
Perencanaan dan Perancangan Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada.
Rekayasa. Prinsip-prinsip dasar Jilid I. _____________. 2001. Birokrasi Pemerintah
Jakarta: Erlangga. dan Kekuasaan di Indonesia. Cetakan I.
Robert, Kreitner. 2005. Perilaku Organisasi. Thafa Media. Dua Satria Offset.
Buku 1. Edisi Kelima. Salemba Empat. Yogyakarta.
Jakarta. ____________. 2005. Perilaku Organisasi
_______________. 2011. Metode Penelitian Konsep dan Aplikasinya. Jakarta: PT.
Kualitatif dan R & D. Bandung: Raja Grafindo.
Alfabeta. ___________. 2009. Perilaku Organisasi:
Santoso. 1993. Politik Birokrasi di Indonesia. Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta:
Pustaka Pelajar: Yogyakarta. Rajawali Pers.
Sartika Dewi 2013. Analisis Perilaku Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
Birokrasi dalam Penyelenggaraan tentang Otonomi Daerah.
Pelayanan Publik di Kelurahan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang
Lambara Kecamatan Tawaeli. Tesis: Aparatur Sipil Negara.
Program Studi Magister Administrasi Weber, Max. 1947. The Teory of Birokrasi.
Publik Universitas Tadulako, Palu. Social and Economis.
Satori, Djam’an dan Aan Komariah. 2009.
Metodologi Penelitian Kualitatif.
Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian
Kuantitatif Kualitatif dan R&D.
Alfabeta, Bandung.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif
dan Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Sujamto. 1991. Otonomi, Birokrasi,
Partisipasi. Jakarta: PT. Erlangga.
Tephen, P Robbins, Dr. Handayana
Pujaatmaka. 2002. Penterjemah:
Perilaku Organisasi. Edisi ketujuh
Cetakan ketiga. Jakarta: Penerbit P.T
Prenhallindo.
Toha Miftah. 2005. Perilaku Organisasi
Konsep dan Aplikasinya. Jakarta: PT.
Raja Grafindo.
______________. 1980. Pengantar Ilmu
Antropologi Sosial. Jakarta: Aksara
Baru.