Sie sind auf Seite 1von 159

PENGARUH INDEPENDENSI, KEAHLIAN, PENGETAHUAN

AKUNTANSI DAN AUDITING SERTA SKEPTISME PROFESIONAL

AUDITOR TERHADAP KETEPATAN PEMBERIAN OPINI AUDIT

OLEH AKUNTAN PUBLIK

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Untuk Memenuhi Syarat-syarat Guna Meraih Gelar Sarjana Ekonomi

Oleh:

Tania Kautsarrahmelia
NIM: 108082000002

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1434 H/2013 M
ii
iii
iv
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. IDENTITAS PRIBADI
1. Nama : Tania Kautsarrahmelia
2. Tempat & Tanggal Lahir : Jakarta, 11 Maret 1990
3. Alamat : Jl. Sabar No. 24 Rt. 008 Rw. 04
Petukangan Selatan, Pesanggrahan,
Jakarta Selatan
4. Telpon : 089630708038
5. E-mail : taniakautsar@yahoo.com

II. PENDIDIKAN
1. SD (1996-2002) : SDN 010 Pesanggrahan
2. SMP (2002-2005) : SMPN 177 Jakarta
3. SMA (2005-2008) : SMAN 90 Jakarta
4. S1 (2008-2013) : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

III. PENGALAMAN ORGANISASI


1. PRAMUKA SDN 010 Pesanggrahan sebagai Anggota (1999-2001)
2. Dokter Kecil SDN 010 Pesanggrahan (1999-2001)
3. Ekskul Tari Saman SMAN 90 Jakarta (2005-2008)
4. Badan Eksekutif Mahasiswa FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Sebagai Sekretaris Koordinator Divisi Pemberdayaan Ekonomi
(2009-2010)

v
IV. LATAR BELAKANG KELUARGA
1. Ayah : Achmad Nugroho (Alm.)
2. Ibu : Hj. Sri Wahyuni
3. Tempat & Tanggal Lahir : Bogor, 17 Juni 1964
4. Pekerjaan : PNS
5. Adik : Wemby A. S. P. Nugroho
6. Tempat & Tanggal Lahir : Jakarta, 17 Juli 1993
7. Suami : Han Sulaiman
8. Tempat & Tanggal Lahir : Jakarta, 04 Februari 1985
9. Pekerjaan : Dosen Swasta
10. Alamat : Jl. Sabar No. 24 Rt. 008 Rw. 04
Petukangan Selatan, Pesanggrahan,
Jakarta Selatan

vi
INFLUENCE OF INDEPENDENCE, EXPERTISE, KNOWLEDGE OF
ACCOUNTING AND AUDITING, AND AUDITOR’S PROFESSIONALISM
SCEPTICISM TO THE ACCURACY OF AUDIT OPINION BY PUBLIC
ACCOUNTING

ABSTRACT

This study was examining the influence of independence, expertise,


knowledge of accounting and auditing, auditor’s professionalism scepticism and
the accuracy of audit opinion. Respondents in this study were auditors who
worked for the Public Accounting Firm in Jakarta. The number of auditor
involved in this study were 67 auditors from 14 Public Accounting Firm in
Jakarta. The method of determining the sample was using purposive sampling
method, while the data processing methods used by researcher was the multiple
regression analysis.
The result shows that independence and expertise did not have sigificantly
influence to the accuracy of audit opinion, whereas knowledge of accounting and
auditing, and auditor’s professionalism scepticism had significantly and positively
influence to the accuracy of audit opinion.

Keyword: independence, expertise, knowledge of accounting and auditing,


auditor’s professioalism scepticism, the accuracy of audit opinion

vii
PENGARUH INDEPENDENSI, KEAHLIAN, PENGETAHUAN
AKUNTANSI DAN AUDITING SERTA SKEPTISME PROFESIONAL
AUDITOR TERHADAP KETEPATAN PEMBERIAN OPINI AUDIT
OLEH AKUNTAN PUBLIK

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh independensi,


keahlian, pengetahuan akuntansi dan auditing serta skeptisme profesional auditor
terhadap ketepatan pemberian opini. Responden dalam penelitian ini adalah para
Auditor yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik (KAP) di Jakarta. Jumlah
auditor yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah 67 responden dari 14
Kantor Akuntan Publik (KAP) di Jakarta. Metode penentuan sampel yang
digunakan dalam penelitian adalah purposive sampling, sedangkan metode
pengolahan data yang digunakan peneliti adalah analisis regresi berganda.
Hasil penelitian ini menunjukkann bahwa independensi dan keahlian tidak
memiliki pengaruh signifikan terhadap ketepatan pemberian opini audit,
sedangkan variabel pengetahuan akuntansi dan auditing memiliki pengaruh yang
signifikan dan positif terhadap ketepatan pemberian opini audit.

Kata kunci: independensi, keahlian, pengetahuan akuntansi dan auditing,


skeptisme profesional, dan ketepatan pemberian opini audit

viii
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahiim.
Assalammualaikum Wr.Wb.
Segala puji bagi Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya
kepada penulis, sehingga penulis penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang
berjudul: “Pengaruh Independensi, Keahlian, Pengetahuan Akuntansi Dan
Auditing Serta Skeptisme Profesional Auditor Terhadap Ketepatan
Pemberian Opini Audit Oleh Akuntan Publik”. Penyususnan skripsi ini
dimaksudkan untuk memenuhi sebagian syarat-syarat guna mencapai gelar
Sarjana Ekonomi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan
penghargaan yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan skripsi ini terutama kepada:

1. Mama tercinta, Hj. Sri Wahyuni. Penyemangat terbesar dan terbaik dalam
hidup yang telah memberikan dukungan tiada henti baik berupa doa maupun
kasih sayang berlimpah kepada penulis. Skripsi ini kupersembahkan untuk
Mama.
2. Papa, Achmad Nugroho (Alm.). Semoga segala pencapaian penulis dapat
selalu membanggakan dan menjadi amal baik untuk Papa.
3. Adik dan suamiku, Wemby Adhiatma dan Han Sulaiman. Terima kasih atas
segala pelajaran, motivasi, semangat, perhatian, serta cinta dan kasih
sayangnya kepada penulis.
4. Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
5. Ibu Dr. Rini, SE., Ak., M.Si selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas
Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
6. Bapak Hepi Prayudiawan, SE., Ak., MM selaku Sekretaris Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

ix
7. Bapak Prof. Dr. Azzam Jassin, MBA selaku Dosen Pembimbing I yang telah
bersedia meluangkan waktunya yang sangat berharga untuk membimbing
penulis selama menyusun skripsi.
8. Ibu Putriesti Mandasari, SP., MSi selaku Dosen Pemimbing II yang telah
bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan masukan dan ilmu yang
sangat berharga untuk penulis selama proses menyusun skripsi.
9. Seluruh staf pengajar yang telah memberikan ilmunya yang tidak bisa
disebutkan satu persatu, semoga Allah SWT membalas kebaikan Bapak/Ibu.
10. Seluruh jajaran karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, terimakasih atas
bantuan, perhatian dan pelayanan yang diberikan.
11. Sahabat-sahabatku, “The U” tercinta: Siti Zakiah, Tisha Kartika Fitriyani,
Tri Suryanti, Yulfa Zailia dan Yuni Ersa Syaiful. Terima kasih atas segala
canda tawa dalam suka maupun duka yang telah kalian bagi selama ini,
sukses dan bahagia selalu buat kita semua yaaaa!
12. Teman-teman Akuntansi A, B, C, D, dan E angkatan 2008, khususnya Latifah
Alfi Hidayati dan Nafis Kurtuby. Terima kasih atas kebersamaan yang
menyenangkan, juga ilmu, pengalaman, serta semangat yang banyak kalian
bagi kepada penulis.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari


sempurna dikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang
dimiliki penulis. Oleh karena itu penulis mengharapkan segala bentuk saran
serta masukan bahkan kritik yang membangun dari berbagai pihak.

Jakarta, 31 Mei 2013

Tania Kautsarrahmelia

x
DAFTAR ISI
Halaman

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI .............................. ii

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF ............................ ii

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ............................................. iv

SURAT PERNYATAAN ............................................................................... v

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ...................................................................... vi

ABSTRACT ..................................................................................................... viii

ABSTRAK ...................................................................................................... ix

KATA PENGANTAR .................................................................................... x

DAFTAR ISI ................................................................................................... xii

DAFTAR TABEL .......................................................................................... xvi

DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xvii

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xviii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1

A. Latar Belakang Penelitian .................................................................... 1


B. Rumusan Masalah ................................................................................ 11
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ............................................................ 12
1. Tujuan Penelitian ........................................................................... 12
2. Manfaat Penelitian ......................................................................... 12

xi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................... 14

A. Teori yang Berkenaan dengan Variabel yang Diambil ........................ 14


1. Basis Teori .................................................................................... 14
2. Teori Audit ..................................................................................... 15
a. Definisi Audit ........................................................................... 15
b. Jenis-Jenis Audit ...................................................................... 17
c. Jenis-Jenis Auditor ................................................................... 18
d. Tujuan Audit ............................................................................ 21
e. Standar Audit ........................................................................... 22
3. Pemberian Opini Auditor ............................................................... 24
4. Independensi .................................................................................. 25
5. Keahlian ......................................................................................... 32
6. Pengetahuan Akuntansi dan Auditing ............................................ 34
7. Skeptisme Profesional ................................................................... 38
B. Penelitian Sebelumnya ......................................................................... 40
C. Kerangka Berpikir ................................................................................ 46
D. Hipotesis............................................................................................... 48
1. Independensi terhadap Ketepatan Pemberian Opini Audit ............. 48
2. Keahlian terhadap Ketepatan Pemberian Opini Audit ................... 50
3. Pengetahuan Akuntansi dan Auditing terhadap Ketepatan Pemberian
Opini Audit ...................................................................................... 50
4. Skeptisme Profesional Auditor terhadap Ketepatan Pemberian Opini
Audit ................................................................................................ 52
5. Independensi, Keahlian, Pengetahuan Akuntansi dan Auditing, serta
Skeptisme Profesional Auditor terhadap Ketepatan Pemberian Opini
Audit ................................................................................................ 53

BAB III METODOLOGI PENELITIAN .................................................... 54


A. Ruang Lingkup Penelitian .................................................................... 54
B. Metode Pengumpulan Sampel.............................................................. 54

xii
C. Metode Pengumpulan Data .................................................................. 55
1. Sumber Data ................................................................................... 55
2. Teknik Pengumpulan Data ............................................................. 56
D. Metode Analisis Data ........................................................................... 56
1. Statistik Deskriptif ......................................................................... 56
2. Uji Kualitas Data ............................................................................ 56
3. Uji Asumsi Klasik .......................................................................... 58
4. Analisis Data .................................................................................. 61
E. Definisi Operasional Variabel dan Pengukurannya ............................. 63
1. Variabel Independen ...................................................................... 63
a. Independensi .............................................................................. 63
b. Keahlian ..................................................................................... 63
c. Pengetahuan Akuntansi dan Auditing ....................................... 64
d. Skeptisme Profesional Auditor .................................................. 64
2. Variabel Dependen ......................................................................... 65

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.............................. 70


A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian ......................................... 70
1. Tempat danWaktu Penelitian ......................................................... 70
2. Karakteristik Profil Responden ...................................................... 72
B. Hasil Uji Instrumen Penelitian ............................................................. 76
1. Hasil Uji Statistik Deskriptif .......................................................... 76
2. Hasil Uji Kualitas Data .................................................................. 78
a. Hasil Uji Validitas ..................................................................... 78
b. Hasil Uji Reliabilitas ................................................................. 81
3. Hasil Uji Asumsi Klasik ................................................................ 83
a. Hasil Uji Multikolonieritas ........................................................ 83
b. Hasil Uji Normalitas .................................................................. 84
c. Hasil Uji Heteroskedastisitas ..................................................... 86
4. Hasil Uji Hipotesis ......................................................................... 89
a. Uji Koefisien Determinasi ......................................................... 89

xiii
b. Hasil Uji Statistik t .................................................................... 90
c. Hasil Uji Statistik F ................................................................... 97

BAB V PENUTUP .......................................................................................... 102

A. Kesimpulan .......................................................................................... 102


B. Implikasi ............................................................................................... 103
C. Saran ................................................................................................... 104

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 106

LAMPIRAN-LAMPIRAN ............................................................................ 111

xiv
DAFTAR TABEL

No Keterangan Halaman

2.1 Penelitian Terdahulu .............................................................................. 41

3.1 Operasional Variabel Penelitian ............................................................. 66

4.1 Data Sampel Penelitian .......................................................................... 71

4.2 Data Distribusi Sampel Penelitian .......................................................... 72

4.3 Hasil Uji Deskriptif Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ................. 73

4.4 Hasil Uji Deskriptif Responden Berdasarkan Jabatan Kerja ................. 74

4.5 Hasil Uji Deskriptif Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir ...... 75

4.6 Hasil Uji Deskriptif Responden Berdasarkan Pengalaman Kerja .......... 76

4.7 Hasil Uji Statistik Deskriptif ................................................................... 77

4.8 Hasil Uji Validitas Independensi ............................................................ 79

4.9 Hasil Uji Validitas Keahlian .................................................................. 79

4.10 Hasil Uji Validitas Pengetahuan Akuntansi dan Auditing ..................... 80

4.11 Hasil Uji Validitas Skeptisme Profesional ............................................. 80

4.12 Hasil Uji Validitas Ketepatan Pemberian Opini Audit .......................... 81

4.13 Hasil Uji Reliabilitas ............................................................................... 82

4.14 Hasil Uji Multikolonieritas ..................................................................... 83

4.15 Hasil Uji Normalitas Menggunakan Kolmogorov Smirnov .................. 86

4.16 Hasil Uji Glejser Heteroskedastisitas ..................................................... 88

4.17 Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2) ..................................................... 89

4.18 Hasil Uji Statistik t .................................................................................. 91

4.19 Hasil Uji Statistik F ................................................................................. 98

xv
DAFTAR GAMBAR

No Keterangan Halaman

2.1 Kerangka Berpikir ................................................................................... 46

4.1 Hasil Uji Normalitas Menggunakan Grafik P-Plot................................. 85

4.2 Grafik Scatterplot ................................................................................... 87

xvi
DAFTAR LAMPIRAN

No Keterangan Halaman

1. Surat Penelitian Skripsi........................................................................... 111

2. Surat Keterangan Dari KAP ................................................................... 114

3. Kuesioner Penelitian .............................................................................. 120

4. Daftar Jawaban Responden..................................................................... 130

5. Output Hasil Pengujian Data .................................................................. 143

xvii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Akuntan publik merupakan auditor independen yang menjual jasanya

kepada masyarakat umum, terutama dalam bidang audit atas laporan

keuangan yang disajikan oleh kliennya. Tugas akuntan publik adalah

memeriksa dan memberikan opini terhadap kewajaran laporan keuangan

suatu entitas usaha berdasarkan standar yang telah ditentukan oleh

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) (Sari, 2011).

Laporan keuangan memiliki peran penting dalam dunia bisnis. Hal ini

disebabkan laporan keuangan dapat mencerminkan bagus tidaknya posisi

suatu perusahaan sehingga dapat menentukan keberlangsungan suatu

perusahaan (going concern). Laporan keuangan suatu perusahaan pasti

membutuhkan jasa seorang akuntan publik (auditor) untuk memeriksa laporan

keuangan tersebut.

Pemeriksaan ini tidak dimaksudkan untuk mencari kesalahan atau

menemukan kecurangan, walaupun dalam pelaksanaannya sangat

memungkinkan ditemukannya kesalahan atau kecurangan. Pemeriksaan atas

laporan keuangan dimaksudkan untuk menilai kewajaran laporan keuangan

berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku di Indonesia (Agoes, 2007).

Semakin meluasnya kebutuhan jasa profesional akuntan publik sebagai

pihak yang dianggap independen, menuntut profesi akuntan publik untuk

1
meningkatkan kinerjanya agar dapat menghasilkan opini audit yang dapat

diandalkan bagi pihak yang membutuhkan. Meningkatnya persaingan tersebut

membuat para akuntan publik menjadi lebih sulit berperilaku secara

professional, dan membuat banyak kantor akuntan publik lebih

berkepentingan untuk mempertahankan klien dan laba yang besar

(Mayasari, 2011).

Seorang akuntan publik dalam melaksanakan audit atas laporan keuangan

tidak semata-mata bekerja untuk kepentingan kliennya, melainkan juga untuk

pihak lain yang bekepentingan terhadap laporan keuangan auditan. Untuk

dapat mempertahankan kepercayaan dari klien dan dari para pemakai laporan

keuangan lainnya, akuntan publik dituntut untuk memiliki sikap independensi

dan kompetensi yang memadai (Herawaty dan Susanto, 2009). Akuntan

publik bertugas untuk membuktikan kewajaran suatu laporan keuangan klien

dan tidak memihak kepada siapapun karena akuntan publik tidak hanya

mendapatkan kepercayaan dari klien tetapi juga pihak ketiga.

Seringkali kepentingan klien dan pihak ketiga bertentangan atau dengan

kata lain terjadi situasi konflik audit. Ketika terjadi situasi konflik audit inilah

auditor dituntut untuk dapat mempertahankan kepercayaan dari klien dan

pihak ketiga dengan cara mempertahankan independensinya. Klien mungkin

saja melakukan penghentian penugasan bila auditor menolak memenuhi

keinginannya. Hal ini menunjukan bahwa, kesadaran moral auditor

memainkan peran penting dalam mengambil keputusan akhir. Seorang auditor

harus tetap profesional berlandaskan pada nilai dan keyakinannya

2
(Arens, et. al., 2008). Auditor yang dianggap telah melakukan kesalahan

maka akan mengakibatkan mereduksinya kepercayaan klien. Hal ini

dikarenakan klien merupakan pihak yang mempunyai pengaruh besar

terhadap auditor.

Kurangnya independensi auditor dan maraknya rekayasa laporan

keuangan korporat, telah menurunkan kepercayaan para pemakai laporan

keuangan auditan, sehingga para pemakai laporan keuangan seperti investor

dan kreditor mempertanyakan eksistensi akuntan publik sebagai pihak yang

independen. Beberapa kasus dalam dunia bisnis terkait kegagalan auditor

dalam mendeteksi kecurangan terbukti dengan adanya beberapa skandal

keuangan yang melibatkan akuntan publik seperti Enron, Xerox, World Com,

Walt Disney, Merck, dan Tyco.

Kasus yang belum lama terjadi yakni skandal keuangan yang terjadi pada

Olympus Corp., sebuah perusahaan produsen kamera dan peralatan kesehatan

asal Jepang, yang terungkap pada akhir tahun 2011. Olympus Corp., telah

menyembunyikan kerugian dengan menganggapnya sebagai aset sejak tahun

1990-an. Kasus ini mencuat setelah dewan Olympus memecat CEO mereka,

Michael C. Woodford, yang baru menjabat selama enam bulan, karena terus

mendesak dilakukannya penyelidikan internal terkait transaksi mencurigakan

biaya advisory (penasihat keuangan) sebesar 687 juta dollar AS atas transaksi

akuisisi senilai 2,2 miliar dollar AS. Setelah dipecat, Woodford membeberkan

dokumen yang mengungkap besarnya biaya penasihat keuangan yang dibayar

Olympus untuk mengakuisisi perusahaan alat kesehatan asal Inggris, Gyrus,

3
pada 2008 lalu. Reuters mencatat biaya 687 juta dollar AS atau sekitar

6 triliun rupiah itu sebagai biaya penasihat keuangan terbesar yang pernah

ada. Jumlah biaya penasihat keuangan yang dikeluarkan Olympus itu

mencapai sepertiga dari total nilai akuisisinya, atau hampir

30 kali lipat dari biaya advisory yang biasanya berlaku di pasar

modal, sekitar 1 hingga 5 persen. Diketahui kemudian

bahwa kesepakatan itu dilakukan untuk menyembunyikan kerugian

(indonesiafinancetoday.com, 2011; koran-jakarta.com, 2011).

Auditor Olympus pada 1990-an adalah Arthur Andersen afiliasi Jepang,

yang dulu adalah salah satu dari perusahaan akuntan Big Five. Setelah

Andersen runtuh pada 2002, KPMG mengakuisisi unit perusahaan ini di

Jepang, kemudian berganti nama menjadi Asahi & Co. Sejak saat itu, audit

Olympus diambil alih oleh Asahi & Co. KPMG masih menjadi auditor hingga

2009. Olympus kemudian beralih ke Ernst & Young pada akhir tahun tersebut

(indonesiafinancetoday.com, 2011).

Financial Times bulan Oktober 2011 melaporkan ada yang janggal

dengan opini KPMG terkait pembukuan Olympus. Tidak ada perselisihan

antara KPMG dan Olympus yang diungkap ke publik, namun kemudian

terkuak dalam artikel 4 November 2011 di Daily Telegraph. Begitu pula

dengan opini Ernst & Young yang tidak mengungkap terjadi masalah.

Laporan audit terbaru yang ditandatangani pada 28 Juni 2011 menyebutkan

laporan keuangan yang sudah diaudit hanya untuk tahun fiskal

4
2010 dan 2011. Sementara laporan keuangan 2009 diaudit oleh

auditor lain (indonesiafinancetoday.com, 2011).

Berdasarkan temuan-temuan tersebut dapat dilihat bahwa tidak hanya

Arthur Andersen, melainkan KPMG dan Ernest & Young juga tidak cukup

kompeten dalam mengaudit Olympus Corp., karena kegagalan dalam

mendekteksi maupun mengungkapkan kecurangan laporan keuangan mereka.

Kegagalan tersebut bisa terjadi karena kurangnya independensi, keahlian,

pengetahuan, ataupun skeptisme auditor dalam mengaudit laporan keuangan.

Contoh kasus di Indonesia seperti yang dikemukakan beberapa tahun

silam adalah kasus mark-up laporan keuangan PT. Kimia Farma (2001) yang

overstated di mana terjadi penggelembungan laba bersih tahunan senilai Rp.

32,668 miliar, telah menyebabkan tuntutan pengadilan terhadap sebuah

Kantor Akuntan Publik (KAP) yang menjadi auditor perusahaan tersebut.

Selain itu di tahun 2001 kasus penggelapan pajak oleh KAP “KPMG Sidharta

& Harsono” yang menyarankan kepada kliennya (PT. Easman Christensen)

untuk melakukan penyuapan kepada aparat perpajakan Indonesia untuk

mendapatkan keringanan atas jumlah kewajiban pajak yang harus dibayarkan

(Ludigdo, 2006). BPKP juga menemukan bahwa 10 KAP yang mengaudit 37

bank bermasalah (bank penerima BLBI, bank-bank beku usaha (BBU) dan

bank beku operasi (BBO)) melanggar Standar Profesional Akuntan Publik

(SPAP). Dengan indikasi KAP tidak melakukan pengujian yang memadai,

dokumentasi audit kurang memadai dan tak memahami peraturan perbankan.

5
Berdasarkan kasus-kasus di atas dan kemudian dihubungkan dengan

terjadinya krisis ekonomi di Indonesia, akuntan seolah menjadi profesi yang

harus/paling bertanggung jawab. Hal ini disebabkan karena peran pentingnya

akuntan dalam masyarakat bisnis. Akuntan publik bahkan dituduh sebagai

pihak yang paling besar tanggungjawabnya atas kemerosotan perekonomian

Indonesia (Ludigdo, 2006).

Secara umum auditing merupakan suatu proses sistematik untuk

memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan-

pernyataan tentang kegiatan dan kejadian-kejadian ekonomi, dengan tujuan

untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan tersebut dengan

kriteria yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil audit inilah, kemudian

auditor menarik sebuah kesimpulan dan menyampaikan kesimpulan tersebut

kepada pemakai yang berkepentingan.

Jasa yang diberikan oleh auditor dalam bidang auditing adalah

melakukan audit terhadap laporan keuangan perusahaan dan memberikan

opini apakah laporan keuangan perusahaan tersebut telah disajikan secara

wajar sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang telah

ditetapkan. Hasil akhir dari proses audit laporan keuangan perusahaan adalah

berupa pemberian opini auditor, yang dalam penulisan selanjutnya ditulis

opini audit.

Pemberian opini audit yang tepat dan sesuai dengan kriteria-kriteria yang

ditetapkan dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) sangat penting

agar hasil audit tidak menyesatkan para pengguna yang berkepentingan

6
(pimpinan perusahaan, pemegang saham, pemerintah, kreditur dan karyawan)

dalam pengambilan keputusan, oleh karena itu audit harus dilakukan dengan

sebaik-baiknya. Begitu pentingnya opini yang diberikan oleh auditor bagi

sebuah perusahaan, maka seorang auditor disyaratkan memiliki independensi

dan keahlian yang baik agar mampu mengumpulkan dan menganalisa bukti-

bukti audit sehingga dapat memberikan opini yang tepat.

Webster’s Ninth New Collegiate Dictionary (1983) yang dikutip dalam

Desyanti dan Ratnadi (2006) mendefinisikan keahlian merupakan

keterampilan dari seorang ahli. Ahli didefinisikan sebagai seseorang yang

memiliki tingkat keterampilan tertentu atau pengetahuan yang tinggi dalam

subjek tertentu yang diperoleh dari pelatihan atau pengalaman.

Hayes Roth dkk (1983) dalam Desyanti dan Ratnadi (2006) mendefinisikan

keahlian sebagai keberadaan dari pengetahuan tentang suatu lingkungan

tertentu, pemahaman terhadap masalah-masalah yang timbul dalam

lingkungan tersebut, dan keterampilan untuk memecahkan permasalahan

tersebut.

Keahlian auditor tentang audit akan semakin berkembang dengan

bertambahnya pengalaman bekerja. Pengalaman kerja akan meningkat

seiring dengan semakin meningkatnya kompleksitas kerja. Menurut pendapat

Tubbs (1992) dalam Noviyani dan Bandi (2002) jika seorang auditor

berpengalaman, maka (1) auditor menjadi sadar terhadap lebih banyak

kekeliruan, (2) auditor memiliki salah pengertian yang lebih sedikit tentang

kekeliruan, (3) auditor menjadi sadar mengenai kekeliruan yang tidak lazim,

7
dan (4) hal-hal yang terkait dengan penyebab kekeliruan departemen tempat

terjadinya kekeliruan dan pelanggaran serta tujuan pengendalian internal

menjadi relatif lebih menonjol.

Komponen keahlian berdasarkan model yang dikembangkan

oleh Abdol Mohammadi dkk (1992) dalam Desyanti dan Ratnadi

(2006) dapat dibagi menjadi (1) komponen pengetahuan (knowledge

component) yang meliputi komponen seperti pengetahuan terhadap fakta-

fakta, prosedur, dan pengalaman; (2) ciri-ciri psikologis (pshycological traits)

yang ditujukan dalam komunikasi, kepercayaan, kreativitas, dan kemampuan

bekerja dengan orang lain; (3) kemampuan berpikir untuk mengakumulasikan

dan mengolah informasi; (4) strategi penentuan keputusan, baik formal

maupun informal; dan (5) analisis tugas yang dipengaruhi oleh pengalaman

audit yang mempunyai pengaruh terhadap penentuan keputusan.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi ketepatan pemberian opini audit,

yaitu pengetahuan akuntansi dan auditing. Akuntansi adalah proses

pencatatan, penggolongan, peringkasan, pelaporan dan penganalisaan data

keuangan suatu organisasi (Nataline, 2007). Pengetahuan sangat penting

untuk dimiliki oleh semua auditor, terlebih pengetahuan di bidang akuntansi

dan auditing. Kedua pengetahuan tersebut merupakan dasar yang penting

yang menjadi modal selama mereka bekerja sebagai seorang akuntan terlebih

pada saat melakukan pengauditan atas laporan keuangan klien. Para auditor di

Jakarta umumnya saat melakukan pengauditan dihadapkan pada penguasaan

8
kedua pengetahuan tersebut dan menerapkannya dalam praktiknya. Kualitas

audit yang baik akan mempengaruhi ketepatan pemberian opini audit.

Auditor harus senantiasa menggunakan skeptisme profesionalnya dalam

mengumpulkan bukti audit. Sehingga tujuan auditor untuk memperoleh bukti

kompeten yang cukup dan memberikan basis yang memadai dalam

merumuskan pendapat dapat tercapai dengan baik. Penelitian yang dilakukan

oleh SEC (Securities and Exchange Commissions) menemukan bahwa urutan

ketiga dari penyebab kegagalan audit adalah tingkat skeptisme professional

yang kurang memadai. 40 kasus audit yang diteliti SEC, 24 kasus (60%)

diantaranya terjadi karena auditor tidak menerapkan tingkat skeptisme

profesional yang memadai.

Skeptisme berasal dari kata skeptis yang berarti kurang percaya atau

ragu-ragu (KBBI, 2005). Skeptisme profesional auditor adalah sikap yang

mencakup pikiran yang selalu mempertanyakan dan melakukan evaluasi

secara skeptis terhadap bukti audit (Gusti dan Ali, 2008). Seorang auditor

yang skeptis tidak akan menerima begitu saja penjelasan dari klien, tetapi

akan mengajukan pertanyaan untuk memperoleh alasan, bukti dan konfirmasi

mengenai objek yang dipermasalahkan. Skeptisme profesional auditor dapat

dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain independensi, keahlian,

pengalaman, situasi audit yang dihadapi dan etika.

Audit atas laporan keuangan berdasarkan atas standar auditing yang

ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia harus direncanakan dan dilaksanakan

dengan sikap skeptisisme profesional (SPAP, 2012). Skeptisme profesional

9
akan terasah oleh auditor dalam pengalamannya melaksanakan tugas audit

dan dalam mengumpulkan bukti yang cukup untuk mendukung atau

membuktikan asersi manajemen. Sikap skeptis dari auditor ini diharapkan

dapat mencerminkan keahlian profesional dari seorang auditor. Selanjutnya

keahlian profesional auditor diharapkan akan mempengaruhi ketepatan

pemberian opini oleh auditor, sehingga secara tidak langsung skeptisisme

profesional auditor ini akan mempengaruhi ketepatan pemberian opini oleh

akuntan publik. Selain itu, dengan sikap skeptisisme profesional auditor ini,

auditor diharapkan dapat melaksanakan tugasnya sesuai standar yang telah

ditetapkan, menjunjung tinggi kaidah dan norma agar kualitas audit dan citra

profesi auditor tetap terjaga.

Penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan

Sabrina dan Januarti (2012) tentang pengaruh pengalaman, keahlian, situasi

audit, etika dan gender terhadap ketepatan pemberian opini audit melalui

skeptisme profesional auditor (studi kasus pada KAP Big Four di Jakarta).

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian tersebut yaitu mengurangi variabel

pengalaman, situasi audit, etika dan gender, lalu menggantinya dengan

variabel independensi (Yuskar dan Devisia, 2011) serta pengetahuan

akuntansi dan auditing (Mardisar dan Sari, 2007), lalu mengganti variabel

moderating skeptisme profesional auditor menjadi variabel bebas atau

independen.

Beradasarkan uraian latar belakang masalah di atas, penulis bermaksud

melakukan penelitian dengan beberapa variabel yang berbeda dari penelitian

10
terdahulu. Penulis mengharapkan penelitian ini akan dapat menambah

pengetahuan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi ketepatan

pemberian opini audit. Untuk itu penulis akan memberikan judul

penelitian: Pengaruh Independensi, Keahlian, Pengetahuan Akuntansi

dan Auditing serta Skeptisme Profesional terhadap Ketepatan

Pemberian Opini Audit oleh Akuntan Publik.

B. Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka

perumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1. Apakah variabel independensi memiliki pengaruh signifikan dan positif

terhadap ketepatan pemberian opini audit?

2. Apakah variabel keahlian memiliki pengaruh signifikan dan positif

terhadap ketepatan pemberian opini audit?

3. Apakah variabel pengetahuan akuntansi dan auditing memiliki pengaruh

signifikan dan positif terhadap ketepatan pemberian opini audit?

4. Apakah variabel skeptisme profesional auditor memiliki pengaruh

signifikan dan positif terhadap ketepatan pemberian opini audit?

5. Apakah variabel independensi, keahlian, pengetahuan akuntansi dan

auditing, serta skeptisme profesional auditor memiliki pengaruh secara

simultan terhadap ketepatan pemberian opini audit?

11
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah penelitian yang telah penulis jabarkan

di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

a. Untuk mengetahui pengaruh faktor independensi terhadap ketepatan

pemberian opini audit.

b. Untuk mengetahui pengaruh faktor keahlian terhadap ketepatan

pemberian opini audit.

c. Untuk mengetahui pengaruh faktor pengetahuan akuntansi dan

auditing terhadap ketepatan pemberian opini audit.

d. Untuk mengetahui pengaruh faktor skeptisme profesional auditor

terhadap ketepatan pemberian opini audit.

e. Untuk mengetahui pengaruh faktor independensi, keahlian,

pengetahuan akuntansi dan auditing, serta skeptisme professional

auditor secara simultan terhadap ketepatan pemberian opini audit.

2. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak,

diantaranya:

a. Mahasiswa Jurusan Akuntansi, penelitian ini bermanfaat sebagai

bahan referensi penelitian selanjutnya dan pembanding untuk

menambah ilmu pengetahuan.

b. Masyarakat, sebagai sarana informasi tentang profesi akuntan publik

serta menambah pengetahuan akuntansi dan auditing dengan

12
memberikan bukti empiris tentang faktor-faktor yang mempengaruhi

ketepatan pemberian opini audit.

c. Peneliti berikutnya, sebagai bahan referensi bagi pihak-pihak yang

akan melaksanakan penelitian lebih lanjut mengenai topik ini.

d. Auditor dan Kantor Akuntan Publik (KAP), sebagai tinjauan yang

diharapkan dapat dijadikan informasi untuk meningkatkan ketepatan

pemberian opini auditnya.

13
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori yang Berkenaan dengan Variabel yang Diambil

1. Basis Teori

Konsep yang mendasari teori tentang ketepatan pemberian opini

merujuk kepada teori akuntansi keprilakuan khususnya teori

atribusi. Teori atribusi merupakan teori yang dikembangkan oleh

Fritz Heider yang berargumentasi bahwa perilaku seseorang ditentukan

oleh kombinasi antara kekuatan internal (internal forces), yaitu

faktor-faktor yang berasal dari dalam diri seseorang, seperti kemampuan

atau usaha, dan kekuatan eksternal (eksternal forces), yaitu faktor-faktor

yang berasal dari luar seperti kesulitan dalam pekerjaan atau

keberuntungan (Ikhsan, et. al., 2005). Sedangkan dalam kompasiana.com

disebutkan bahwa atribusi adalah sebuah teori yang membahas tentang

upaya-upaya yang dilakukan untuk memahami penyebab-penyebab

perilaku kita dan orang lain. Definisi formalnya, atribusi berarti upaya

untuk memahami penyebab di balik perilaku orang lain, dan dalam

beberapa kasus juga penyebab di balik perilaku kita sendiri.

Teori lain yang juga mendukung penelitian ini adalah teori peran

(role theory). Teori peran membahas bagaimana orang memposisikan

dirinya dan bagaimana tindakan yang dipilih saat melakukan interaksi

dengan orang lain dalam suatu organisasi (Praptapa, 2009). Teori peran

14
merupakan interaksi antara peran sosial (social role), norma (norms), dan

identitas (identity) atas orang-orang yang ada di dalam suatu organisasi.

Peran sosial adalah kaitan dari hak, tugas dan tanggungjawab, dan

perilaku yang tepat dari orang-orang yang memiliki posisi tertentu dalam

konteks sosial. Norma adalah perilaku yang dianggap tepat dan

diharapkan dalam suatu peran tertentu. Sedangkan identitas adalah

berkaitan dengan bagaimana seseorang menetapkan siapa dirinya dan

bagaimana ia akan bertindak pada suatu situasi tertentu (Praptapa, 2009).

2. Teori Audit

a. Definisi Audit

Definisi auditing yang berasal dari The Report of the

Committee on Basic Auditing Concepts of the American Accounting

Association yang dikutip oleh Boynton dan Johnson (2006), sebagai

berikut:

“Auditing adalah suatu proses sistematis untuk menghimpun dan


mengevaluasi bukti-bukti secara objektif mengenai asersi-asersi
tentang berbagai tindakan dan kejadian ekonomi untuk menentukan
tingkat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut dengan kriteria yang
telah ditentukan dan menyampaikan hasilnya kepada para pemakai
yang berkepentingan“

Menurut Arens, et. al. (2008) auditing adalah pengumpulan dan

evaluasi bukti tentang informasi untuk menentukan dan melaporkan

derajat kesesuaian antara informasi itu dan kriteria yang telah

ditetapkan. Auditing harus dilakukan oleh orang yang kompeten

dan independen.

15
Sedangkan Agoes (2007) mendefinisikan auditing yaitu sebagai

berikut:

“Pemeriksaan (Auditing) adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan


secara kritis dan sistematis, oleh pihak yang independen terhadap
laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen, beserta
catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya, dengan
tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran
laporan keuangan tersebut”.

Beberapa karakteristik audit dari definisi di atas dapat

disimpulkan sebagai berikut:

1) Audit merupakan suatu proses pengumpulan dan pengevaluasian

bukti atau informasi.

2) Adanya bukti audit (evidence) yang merupakan informasi atas

keterangan yang digunakan oleh seorang auditor untuk menilai

tingkat kesesuaian informasi.

3) Adanya tingkat kesesuaian dengan kriteria tertentu.

4) Kriteria yang telah ditentukan adalah standar-standar yang

digunakan sebagai dasar untuk menilai asersi atau pernyataan.

5) Audit harus dilakukan oleh seorang auditor yang memiliki

kualifikasi yang diperlukan untuk melakukan audit. Seorang

auditor harus kompeten dan independen terhadap fungsi atau

satuan usaha yang diperiksanya.

6) Adanya pelaporan dan pengkomunikasian hasil audit kepada

pihak yang berkepentingan melalui laporan tertulis yang

menunjukan derajat kesesuaian antara asersi dan kriteria yang

telah ditetapkan.

16
7) Pihak-pihak yang berkepentingan adalah mereka yang

menggunakan temuan-temuan auditor.

Berdasarkan definisi-definisi tersebut maka dapat penulis

simpulkan bahwa auditing merupakan suatu proses untuk

memperoleh dan mengevaluasi bukti mengenai asersi tentang

peristiwa ekonomi dengan menentukan derajat kesesuaian antara

asersi yang dibuat dengan kriteria yang telah ditetapkan, kemudian

hasilnya dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

b. Jenis-Jenis Audit

Menurut Arens, et. al. (2008) akuntan publik atau auditor

eksternal melakukan tiga jenis utama audit, antara lain:

1) Audit Operasional (Operational Audit)

Audit operasional mengevaluasi efisiensi dan efektifitas setiap

bagian dari prosedur dan metode operasi organisasi. Pada akhir

audit operasional, manajemen biasanya mengharapkan saran-

saran untuk memperbaiki operasi. Dalam audit operasional,

review atau penelaahan yang dilakukan tidak terbatas pada

akuntansi, tetapi dapat mencakup evaluasi atas struktur

organisasi, operasi komputer, metode produksi, pemasaran, dan

semua bidang lain dimana auditor menguasainya.

17
2) Audit Ketaatan (Compliance Audit)

Audit ketaatan dilaksanakan untuuk menetukan apakah pihak

yang diaudit mengikuti prosedur, aturan, atau ketentuan tertentu

yang ditetapkan oleh otoritas yang lebih tinggi. Hasil dari audit

ketaatan biasanya dilaporkan kepada manajemen, bukan kepada

pemakai luar, karena manajemen adalah kelompok utama yang

berkepentingan dengan tingkat ketaatan terhadap proseur dan

peraturan yang digariskan. Oleh karena itu, sebagian besar

pekerjaan jenis ini seringkali dilakukan oleh auditor yang

bekerja pada unit organisasi itu.

3) Audit Laporan Keuangan (Financial Statement Audit)

Audit laporan keuangan dilakukan untuk menentukan apakah

laporan keuangan (informasi yang diverifikasi) telah dinyatakan

sesuai dengan kriteria tertentu.Biasanya, kriteria yang berlaku

adalah Prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum

(Generally Accepted Accounting Principle—GAAP). Dalam

menentukan apakah laporan keuangan telah dinyatakan secara

wajar sesuai dengan GAAP, auditor mengumpulkan bukti untuk

menetapkan apakah laporan keuangan itu mengandung

kesalahan yang material atau salah saji lainnya.

c. Jenis-Jenis Auditor

Menurut Boynton (2006) para profesional yang ditugaskan

untuk melakukan audit atas kegiatan dan peristiwa ekonomi bagi

18
perorangan dan entitas resmi, pada umunya diklasifikasikan dalam

tiga kelompok, antara lain:

1) Auditor Independen (Independent Auditor)

Auditor Independen atau yang di Amerika biasa disebut

Certified Public Accountant (CPA) adalah para praktisi

individual atau anggota kantor akuntan publik yang memberikan

jasa auditing professional kepada klien. Klien dapat berupa

perusahaan bisnis yang berorientasi laba, organisasi nirlaba,

badan pemerintah maupun usaha individu perorangan. Lisensi

untuk dapat melakukan suatu audit diberikan pada mereka yang

telah lulus ujian CPA serta memilik pengalaman praktik dalam

bidang auditing. Auditor ini bertanggung jawab atas

pemeriksaan atau mengaudit laporan keuangan dengan

memberikan opini atas informasi yang diauditnya.

2) Auditor Internal (Internal Auditor)

Auditor internal merupakan karyawan suatu perusahaan,

perusahaan milik negara maupun perusahaan swasta, tempat

mereka melakukan audit. Tugas pokok auditor internal adalah

menentukan apakah kebijakan dan prosedur yang ditetapkan

oleh manajemen puncak telah dipatuhi, menetukan baik atau

tidaknya penjagaan terhadap kekayaan organisasi, menetukan

efisiensi dan efektifitas prosedur kegiatan organisasi, serta

19
menetukan kendala informasi yang dihasilkan oleh berbagai

bagian organisasi.

Tujuan audit internal adalah untuk membantu manajemen dalam

melaksanakan tanggungjawabnya secara efektif. Ruang lingkup

audit internal meliputi semua tahap kegiatan organisasi,

terutama berhubungan dengan audit kepatuhan dan operasional.

Meskipun demikian, pekerjaan auditor internal dapat

mendukung audit atas laporan keuangan yang dilakukan oleh

auditor independen. Agar dapat menjalankan tugasnya dengan

baik, maka auditor internal harus berada diluar fungsi lini suatu

organisasi, kedudukannya independen dari auditee. Auditor

internal wajib memberikan informasi bagi manajemen

pengambil keputusan yang berkaitan dengan operasional

perusahaan. Sehingga dukungan dari manajemen informasi dari

auditor internal tidak banyak dimanfaatkan oleh pihak

eksternal karena independensinya terbatas (tidak

independen bagi pihak eksternal), hal inilah yang

membedakan auditor internal dan akuntan publik

(Rahayu dan Suhayati, 2010).

3) Auditor Pemerintah (Government Auditor)

Auditor pemerintah adalah auditor yang bekerja di instansi

pemerintahan yang tugas utamanya adalah melakukan audit atas

pertanggungjawaban keuangan dari berbagai unit organisasi

20
dalam pemerintahan. Audit ini mencakup audit laporan

keuangan, audit kepatuhan, dan audit operasional. Laporan audit

ini diserahkan kepada kongres, dalam hal ini adalah Dewan

Perwakilan Rakyat. Rahayu dan Suhayati (2010) menyatakan

aktivitas yang dilakukan oleh auditor pemerintah adalah:

a) Audit keuangan (financial audit) yang terdiri atas audit

laporan keuangan dan audit atas hal-hal yang berkaitan

dengan keuangan.

b) Audit kinerja (performance audit) yang terdiri atas audit

ekonomi dan efisiensi operasi organisasi dan duti atas

program pemerintah dan BUMN (efektifitas).

4) Auditor Pajak

Auditor pajak bekerja pada Direktorat Jenderal Pajak yang

berada dibawah Kementerian Keuangan Republik

Indonesia.Auditor pajak mempunyai tanggung jawab terhadap

pelaksanaan pada pembayaran pajak oleh wajib pajak sesuai

dengan ketentuan perpajakan. Lingkup pekerjaannya adalah

melakukan audit terhadap wajib pajak tertentu untuk menilai

apakah telah sesuai dengan ketentuan undang-undang

perpajakan.

d. Tujuan Audit

Tujuan umum audit adalah untuk menyatakan pendapat atas

kewajaran, dalam semua hal yang material posisi keuangandan hasil

21
usaha serta arus kas apakah telah sesuai dengan prinsip akuntansi

yang berlaku umum. Untuk mencapain tujuan ini auditor perlu

menghimpun bukti kompeten yang cukup, auditor perlu

mengidentifikasi dan menyusun sejumlah tujuan audit spesifik untuk

setiap akun laporan keuangan.

Tujuan spesifik audit ditentukan berdasarkan asersi yang dibuat

oleh manajemen yang tercantum dalam laporan keuangan.

Laporan keuangan meliputi asersi manajemen yang bersifat

eskplisit maupun implisit. Auditing Standards Board (ASB)

AU 326.03 SAS 31 dalam Nasution (2010) telah mengakui lima

kategori asersi laporan keuangan sebagai berikut:

1) Keberadaan dan keterjadian (existence and ocurance)

2) Kelengkapan (completeness)

3) Hak dan kewajiban (right and obligation)

4) Penilaian dan pengalokasian (valuation and allocation)

5) Penyajian dan pengungkapan (presentation and disclosure)

e. Standar Audit

Standar auditing yang telah ditetapkan dan disahkan oleh Ikatan

Akuntan Indonesia dalam PSA No.1 (SA Seksi 150) adalah sebagai

berikut:

22
1) Standar Umum

a) Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang

memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai

auditor.

b) Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan,

independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh

auditor.

c) Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya,

auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya

dengan cermat dan seksama.

2) Standar Pekerjaan Lapangan

a) Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika

digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya.

b) Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus

diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat,

saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.

c) Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui

inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan

konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan

pendapat atas laporan keuangan yang diaudit.

23
3) Standar Pelaporan

a) Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan

keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi

yang berlaku umum di Indonesia.

b) Laporan auditor harus menunjukkan atau menyatakan, jika

ada, ketidak konsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam

penyusunan laporan keuangan periode berjalan

dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut

dalam periode sebelumnya.

c) Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus

dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan

auditor.

d) Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat

mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu

asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan.

Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan,

maka alasannya harus dinyatakan.

3. Pemberian Opini Audit

Opini auditor merupakan pendapat yang diberikan oleh auditor

tentang kewajaran penyajian lapoaran keuangan perusahaan tempat

auditor melakukan audit. Ikatan Akuntan Indonesia (2012) menyatakan

bahwa: “Laporan audit harus memuat suatu pernyataan pendapat

mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa

24
pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara

keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dinyatakan.

Dalam semua hal jika nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan,

laporan audit harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan

auditor, jika ada, dan tingkat tanggung jawab auditor bersangkutan”.

Terdapat lima opini atau pendapat yang mungkin diberikan oleh

akuntan publik atas laporan keuangan yang diauditnya. Pendapat-

pendapat tersebut adalah: Unqualified Opinion (pendapat wajar tanpa

pengecualian), Unqualified with Explanatory Paragraph or Modified

Wording (pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa yang

ditambahkan dalam laporan audit bentuk baku), Qualified Opinion

(pendapat wajar dengan pengecualian), Adverse Opinion (pendapat tidak

wajar), dan Disclaimer of Opinion (pernyataan tidak memberikan

pendapat).

4. Independensi

Standar Auditing Seksi 220.1 (SPAP: 2012) menyebutkan bahwa

independen bagi seorang akuntan publik artinya tidak mudah dipengaruhi

karena ia melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan umum. Dengan

demikian, auditor tidak dibenarkan memihak kepada kepentingan siapa

pun, sebab bagaimana pun sempurnanya keahlian teknis yang ia miliki, ia

akan kehilangan sikap tidak memihak, yang justru sangat penting untuk

mempertahankan kebebasan pendapatnya.

25
Independensi menurut IAI dalam pernyataan etika profesi no. 1:

independensi berarti sikap yang diharapkan dari seorang akuntan publik

untuk tidak mempunyai kepentingan pribadi dalam pelaksanaan tugasnya

yang bertentangan dengan prinsip integritas dan objektifitas.

Independensi akuntan publik merupakan dasar utama kepercayaan

masyarakat pada profesi akuntan publik dan merupakan salah satu faktor

yang sangat penting untuk menilai mutu jasa audit.

Akuntan publik dalam melaksanakan pemeriksaan akuntansi

memperoleh kepercayaan diri dari klien dan para pemakai laporan

keuangan untuk membuktikan kewajaran laporan keuangan yang disusun

dan disajikan oleh klien. Oleh karena itu, dalam memberikan pendapat

mengenai kewajaran laporan keuangan yang diperiksa harus bersikap

independen terhadap kepentingan klien, para pemakai laporan keuangan,

maupun terhadap kepentingan akuntan publik itu sendiri.

Menurut Mulyadi (2010) independensi berarti bebas dari pengaruh,

tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada orang lain atau

jujur dalam mempertimbangkan fakta dan adanya pertimbangan objektif,

tidak memihak dalam diri auditor dalam merumuskan dan menyatakan

pendapat.

Penilaian masyarakat atas independensi auditor independen bukan

pada diri auditor secara keseluruhan. Oleh karenanya apabila seorang

auditor independen atau suatu Kantor Akuntan Publik lalai atau gagal

mempertahankan sikap independensinya, maka kemungkinan besar

26
anggapan masyarakat bahwa semua akuntan publik tidak independen.

Kecurigaan tersebut dapat berakibat berkurang atau hilangnya

kredibilitas masyarakat terhadap jasa audit profesi auditor independen.

Banyak definisi mengenai independensi telah dikemukakan oleh para

pakar akuntansi. Umumnya definisi-definisi tersebut berbeda satu dengan

yang lain dan perbedaan itu disebabkan oleh perbedaan sudut pandang

masing-masing pakar yang pada gilirannya mengakibatkan perbedaan

cakupan makna independensi.

Arens dan Loebbecke (2003) dalam Indah (2010) mendefinisikan

independensi dalam pengauditan sebagai ”pengguna cara pandang yang

tidak bias dalam pelaksanaan pengujian audit, evaluasi hasil pengujian

tersebut, dapat pelaporan hasil temuan audit. Selain itu,

Arens dan Loebecke (2003) dalam Indah (2010) mengategorikan

independensi kedalam dua aspek, yaitu: independensi dalam kenyataan

(independence in fact) dan independensi dalam penampilan

(independence in appearance). Independensi dalam kenyataan ada

apabila akuntan publik berhasil mempertahankan sikap yang tidak bias

selama audit, sedangkan independensi dalam penampilan adalah hasil

persepsi pihak lain terhadap independensi akuntan publik.

Antle (1984) dalam Mayangsari (2003) mendefinisikan independensi

sebagai suatu hubungan antara akuntan dan kliennya yang mempunyai

sifat sedemikian rupa sehingga temuan dan laporan yang diberikan

27
auditor hanya dipengaruhi oleh bukti-bukti yang ditemukan dan

dikumpulkan sesuai dengan aturan atau prinsip-prinsip profesionalnya.

Independensi secara esensial merupakan sikap pikiran seseorang

yang dicirikan oleh pendekatan integritas dan obyektivitas tugas

profesionalnya. Hal ini senada dengan American Institute of Certified

Public Accountant (AICPA) dalam Meutia (2004) menyatakan bahwa

independensi adalah suatu kemampuan untuk bertindak berdasarkan

integritas dan objektivitas. Meskipun integritas dan obyektivitas tidak

dapat diukur dengan pasti, tetapi keduanya merupakan hal yang

mendasar bagi profesi akuntan publik. Integritas merupakan prinsip

moral yang tidak memihak, jujur, memandang dan mengemukakan fakta

seperti apa adanya, di lain pihak, obyektivitas merupakan sikap tidak

memihak dalam mempertimbangkan fakta, kepentingan pribadi tidak

terdapat dalam fakta yang dihadapi (Mulyadi, 1998 dalam Indah, 2010).

Selain itu American Institute of Certified Public Accountants

(AICPA) juga memberikan prinsip-prinsip berikut sebagai panduan yang

berkaitan dengan independensi, yaitu:

a. Auditor dan perusahaan tidak boleh tergantung dalam hal

keuanganterhadap klien.

b. Auditor dan perusahaan seharusnya tidak terlibat dalam konflik

kepentingan yang akan mengangggu obyektivitas mereka berkenaan

dengan cara-cara yang mempengaruhi laporan keuangan.

28
c. Auditor dan perusahaan seharusnya tidak memiliki hubungan dengan

klien yang akan menganggu obyektivitasnya auditor.

SEC (Securities and Exchange Commission) sebagai badan yang

juga berkepentingan terhadap audior yang independen memberikan

definisi lain berkaitan dengan independensi. SEC memberikan empat

prinsip dalam menentukan auditor yang independen. Prinsip-prinsip ini

menyatakan bahwa independensi dapat terganggu apabila auditor:

memiliki konflik kepentingan dengan klien, mengaudit pekerjaan mereka

sendiri, berfungsi baik sebagai manajer ataupun pekerja dari

kliennya, bertindak sebagai penasehat bagi kliennya

(Ryan, et. al., 2001 dalam Meutia, 2004).

Menurut Scott, et. al., (2000) dalam Meutia (2004) auditor

independen seharusnya dapat menjadi pelindung terhadap praktek-

praktek akuntansi, karena auditor tidak hanya dianggap memiliki

pengetahuan yang mendalam di bidang akuntansi tetapi juga dapat

berhubungan dengan komite audit dan dewan direksi yang bertanggung

jawab untuk memeriksa dengan teliti para pembuat keputusan di

perusahaan.

Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik (2011) disebutkan

bahwa dalam menjalankan tugasnya, anggota KAP harus selalu

mempertahankan sikap mental independen di dalam memberikan jasa

profesional sebagaimana diatur dalam Standar Profesional Akuntan

Publik yang ditetapkan oleh IAI. Sikap mental independen tersebut harus

29
meliputi independen dalam fakta (in fact) maupun dalam penampilan (in

appearance). Selain itu benturan kepentingan (conflict of interest) dan

tidak boleh membiarkan faktor salah saji material (material

misstatement) yang diketahuinya atau mengalihkan pertimbangannya

kepada pihak lain.

Buku “The Phylosophy of Auditing” karya Mautz dan Sharaf yang

dikutip oleh Sawyer (2006) memberikan beberapa indikator independensi

profesional bagi akuntan publik, sebagai berikut:

a. Independensi dalam Program Audit

1) Bebas dari intervensi manajerial dalam program audit.

2) Bebas dari segala intervensi dalam prosedur audit.

3) Bebas dari segala persyaratan untuk penugasan audit selain yang

memang disyaratkan untuk sebuah proses audit.

b. Independensi dalam Verifikasi

1) Bebas dalam mengakses semua catatan, memeriksa aktiva, dan

karyawan yang relevan dengan audit yang dilakukan.

2) Mendapat kerjasama yang aktif dari karyawan manajemen

selama verifikasi audit.

3) Bebas dari segala usaha manajerial yang berusaha membatasi

aktifitas yang diperiksa atau membatasi perolehan bahan bukti.

4) Bebas dari kepentingan pribadi yang menghambat verifikasi

audit.

30
c. Independensi dalam Pelaporan

1) Bebas dari perasaan wajib memodifikasi dampak atau

signifikansi dari fakta-fakta yang dilaporkan.

2) Bebas dari tekanan untuk tidak melaporkan hal-hal yang

signifikan dalam laporan audit.

3) Menghindari penggunaan kata-kata yang menyesatkan baik

secara sengaja maupun tidak sengaja dalam melaporkan fakta,

opini, dan rekomendasi dalam interpratasi auditor.

4) Bebas dari segala usaha untuk meniadakan pertimbangan auditor

mengenai fakta atau opini dalam laporan audit internal.

Atas dasar beberapa definisi tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan

mengenai unsur-unsur pengertian independensi akuntan publik sebagai

berikut :

a. Kepercayaan masyarakat terhadap integritas, obyektivitas dan

kebebasan kuntan publik dari pengaruh pihak lain.

b. Kepercayaan akuntan publik terhadap diri sendiri yang merupakan

integritas profesionalnya.

c. Kemampuan akuntan publik meningkatkan kredibilitas

pengetahuannya terhadap laporan keuangan yang diperiksa.

d. Suatu sikap mental akuntan publik yang jujur dan ahli, serta tindakan

yang bebas dari bujukan, pengaruh dan pengendalian pihak lain

dalam melaksanakan perencanaan, pemeriksaan, penilaian, dan

pelaporan hasil pemeriksaannya.

31
Berdasarkan berbagai pendapat mengenai independensi di atas,

terdapat satu kesepakatan bahwa independensi merupakan hal penting

yang harus dimiliki oleh auditor. Terdapat berbagai jenis independensi,

tetapi dapat disimpulkan bahwa independensi yang dapat dinilai hanyalah

independensi yang kelihatan dan penilaian terhadap independensi yang

kelihatan ini selalu berkaitan dengan hubungan yang dapat dilihat serta

diamati antara auditor dan kliennya (Indah, 2010).

5. Keahlian

Standar umum pertama (SA seksi 210 dalam SPAP, 2012)

menyebutkan bahwa audit harus dilaksanakan oleh seorang atau yang

memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor.

Sedangkan, standar umum ketiga (SA seksi 230 dalam SPAP, 2012)

menyebutkan bahwa dalam pelaksanaan audit akan penyusunan

laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya

dengan cermat dan seksama. Oleh karena itu, maka setiap auditor wajib

memiliki kemahiran profesionalitas dan keahlian dalam melaksanakan

tugasnya sebagai auditor.

Keahlian audit mencakup seluruh pengetahuan auditor akan dunia

audit itu sendiri, tolak ukurnya adalah tingkat sertifikasi pendidikan dan

jenjang pendidikan sarjana formal (Gusti dan Ali, 2008). Webster’s

Ninth New Collegiate Dictionary (1983) dalam Indah (2010)

mendefinisikan keahlian (expertise) sebagai keterampilan dari seorang

ahli. Ahli (expert) didefinisikan seseorang yang memiliki tingkat

32
keterampilan tertentu atau pengetahuan yang tinggi dalam subyek

tertentu yang diperoleh dari pelatihan dan pengalaman.

Definisi keahlian dalam bidang auditing pun sering diukur dengan

pengalaman (Mayangsari, 2003). Pengertian keahlian menurut

Bedard (1986) dalam Murtanto (1999) adalah seseorang yang memiliki

pengetahuan dan keterampilan prosedural yang luas yang ditunjukkan

dalam pengalaman audit. Menurut Trotter dalam Mayangsari (2003),

keahlian adalah mengerjakan pekerjaan secara mudah, cepat,

intuisi, dan sangat jarang atau tidak pernah membuat kesalahan.

Ashton (1991) dalam Mayangsari (2003) mengatakan bahwa ukuran

keahlian tidak cukup hanya pengalaman tetapi diperlukan

pertimbanganpertimbangan lain dalam pembuatan suatu keputusan yang

baik karena pada dasarnya manusia memiliki sejumlah unsur lain

disamping pengalaman.

Komponen keahlian berdasarkan model yang dikembangkan

oleh Abdol Mohammadi (1992) dalam Desyanti dan Ratnadi (2006)

dapat dibagi menjadi (1) komponen pengetahuan (knowledge component)

yang meliputi komponen seperti pengetahuan terhadap fakta-fakta,

prosedur, dan pengalaman; (2) ciri-ciri psikologis (pshycological traits)

yang ditujukan dalam komunikasi, kepercayaan, kreativitas, dan

kemampuan bekerja dengan orang lain; (3) kemampuan berpikir untuk

mengakumulasikan dan mengolah informasi; (4) strategi penentuan

keputusan, baik formal maupun informal; dan (5) analisis tugas yang

33
dipengaruhi oleh pengalaman audit yang mempunyai pengaruh terhadap

penentuan keputusan.

Prakteknya definsi keahlian sering ditunjukkan dengan pengakuan

resmi (official recognition) seperti kecerdasan partner dan penerimaan

konsensus (consensual acclamation) seperti pengakuan terhadap seorang

spesialis pada industri tertentu, tanpa adanya suatu daftar

resmi dari atribut-atribut keahlian (Mayangsari, 2003).

Shanteau (1987) dalam Murtanto (1999) memberikan definisi operasional

seorang ahli adalah seorang yang telah diatur dalam profesinya sebagai

orang yang memiliki keterampilan dan kemampuan yang penting untuk

menilai pada derajat yang tinggi (Indah, 2010).

6. Pengetahuan Akuntansi dan Auditing

Pengetahuan akuntan publik bisa diperoleh dari berbagai pendidikan

dan pelatihan formal maupun dari pengalaman khusus, berupa kegiatan

seminar, lokakarya serta pengarahan dari auditor senior kepada auditor

juniornya. Pengetahuan juga bisa diperoleh dari frekuensi seorang

akuntan publik melakukan perkerjaan dalam proses audit. Seseorang

yang melakukan pekerjaan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya

akan memberikan hasil yang lebih baik daripada mereka yang

tidak memiliki pengetahuan yang cukup memadai akan

tugasnya (Herawaty dan Susanto, 2009). Auditor harus telah menjalani

pendidikan dan pelatihan teknis yang cukup dalam praktik akuntansi dan

34
teknik auditing sehingga mampu menjalankan tugasnya dengan baik dan

tepat (Arnan, et. al., 2009 dalam Sabrina dan Januarti, 2012).

Nataline (2007) mendefinisikan akuntansi adalah proses

pencatatan, penggolongan, peringkasan pelaporan dan

penganalisaan data keuangan suatu organisasi. Sedangkan

menurut Arrens dan Loebbecke (1996) dalam Nataline (2007)

akuntansi merupakan proses pencatatan, pengelompokan, dan

pengikhtisaran kejadian-kejadian ekonomi dalam bentuk yang teratur dan

logis dengan tujuan menyajikan informasi keuangan yang dibutuhkan

untuk pengambilan keputusan. Jadi dari dua definisi tersebut dapat

disimpulkan bahwa akuntansi adalah proses pencatatan, penggolongan,

peringkasan, pelaporan dan penganalisaan data keuangan untuk

menghasilkan informasi keuangan yang dibutuhkan untuk pengambilan

keputusan.

Menurut Nataline (2007), pada dasarnya akuntansi harus

mengidentifikasikan data mana yang berkaitan atau relevan dengan

keputusannya akan diambil, maka proses atau menganalisa data yang

relevan, dan mengubah data menjadi informasi yang dapat digunakan

untuk pengambilan keputusan. Metode akuntansi melibatkan

pengidentifikasian kejadian dan transaksi yang berimbas terhadap

entitas, begitu diidentifikasi, unsur-unsur tersebut diukur, dicatat,

diklasifikasikan dan dirangkum dalam catatan akuntansi

(Simamora, 2002 dalam Sabrina dan Januarti, 2012).

35
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa akuntansi

berkaitan dengan proses pengidentifikasian, penganalisaan, kemudian

mengubah data dalam bentuk catatan akuntansi yang selanjutnya dapat

digunakan untuk pengambilan keputusan. Menurut Nataline (2007),

tujuan akhir akuntansi adalah komunikasi informasi keuangan yang

relevan dan andal yang bakal berfaedah bagi pengambilan keputusan.

Menurut Guy, et. al., (2002), tujuan umum akuntansi adalah

menyediakan informasi keuangan mengenai entitas ekonomi yang

berguna dalam pengambilan keputusan ekonomi. Berdasarkan keterangan

diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan akuntansi adalah memperoleh

informasi keuangan yang relevan dan andal yang berguna dalam

pengambilan keputusan ekonomi.

Pengertian auditing menurut Mulyadi (2002) dalam Indah (2010)

adalah pemeriksaan secara objekif atas laporan keuangan suatu

perusahaan atau organisasi lain dengan tujuan untuk menentukan apakah

laporan keuangan suatu perusahaan atau organisasi lain tersebut disajikan

secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan hasil

usaha perusahaan atau organisasi tersebut. Sedangkan Agoes (2007)

mendefinisikan auditing sebagai suatu pemeriksaan yang dilakukan

secara kritis dan sistematis, oleh pihak yang independen terhadap laporan

keuangan yang telah disusun oleh manajemen, beserta catatan-catatan

pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat

memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut.

36
Jadi dapat disimpulkan bahwa auditing adalah suatu proses

pengumpulan, pemeriksaan dan pengevaluasian secara objektif

atas laporan keuangan suatu perusahaan yang dilakukan oleh

seorang yang kompeten yang independen untuk menentukan

kewajaran suatu laporan keuangan, dan posisi keuangan

serta hasil usaha perusahaan tersebut.

Tujuan audit menurut Guy, et. al., (2002), adalah menguji

pernyataan dan meningkatkan keyakinan atas pernyataan tersebut.

Sedang menurut Mulyadi (2010), auditing ditujukan untuk menentukan

secara objektif keandalan informasi yang disampaikan oleh manajemen

dalam laporan keuangan. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan audit

adalah menguji pernyataan, dan menentukan secara objektif keandalan

informasi yang disampaikan oleh menajemen dalam laporan keuangan.

Standar umum pertama mengatur persyaratan keahlian auditor dalam

menjalankan profesinya. Auditor harus telah menjalani

pendidikan dan pelatihan teknis yang cukup dalam praktik akuntansi

dan teknik auditing (Mulyadi, 2002 dalam Indah, 2010). Bahkan

dalam Nataline (2007), juga disebutkan jika dalam hal auditor atau

asistennya tidak mampu menangani suatu masalah mereka berkewajiban

untuk mengupayakan pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan,

mengalihkan pekerjaannya kepada orang lain yang lebih mampu, atau

mengundurkan diri dari penugasan. Auditor selain harus memiliki

pendidikan auditing formal, mereka juga harus peduli dengan

37
perkembangan baru dalam bidang akuntansi, auditing, dan bisnis serta

harus menerapkan pernyataan otoritatif baru di bidang akuntansi dan

auditing begitu dikeluarkan.

7. Skeptisme Profesional Auditor

SPAP (Standar Profesional Akuntan Publik, 2012) menyatakan

skeptisme professional auditor sebagai suatu sikap yang

mencakup pikiran yang selalu mempertanyakan dan

melakukan evaluasi secara kritis terhadap bukti audit.

Shaub dan Lawrence (1996) dalam Gusti dan Ali (2008) mengartikan

skeptisisme profesional auditor sebagai berikut “Professional scepticism

is a choice to fulfill the professional auditor’s duty to prevent or reduce

or harmful consequences of another person’s behavior…”. Skeptisme

profesional digabungkan ke dalam literatur profesional yang

membutuhkan auditor untuk mengevaluasi kemungkinan kecurangan

material. Selain itu juga dapat diartikan sebagai pilihan untuk memenuhi

tugas audit profesionalnya untuk mencegah dan mengurangi konsekuensi

bahaya dan prilaku orang lain (SPAP, 2012).

Kee dan Knox’s (1970) dalam Gusti dan Ali (2008), dalam model

“Professional Scepticism Auditor” menyatakan bahwa skeptisisme

profesional auditor dipengaruhi oleh beberapa faktor

a. Faktor-faktor kecondongan etika

Faktor-faktor kecondongan etika memiliki pengaruh yang signifikan

terhadap skeptisisme profesional auditor. The American

38
Heritage Directory menyatakan etika sebagai suatu aturan atau

standar yang menentukan tingkah laku para anggota dari suatu

profesi. Pengembangan kesadaran etis/moral memainkan

peranan kunci dalam semua area profesi akuntan

(Louwers, 1997 dalam Gusti dan Ali, 2008), termasuk dalam melatih

sikap skeptisisme profesional akuntan.

b. Faktor-faktor situasi

Faktor-faktor situasi berperngaruh secara positif terhadap

skeptisisme profesional auditor. Faktor situasi seperti situasi audit

yang memiliki risiko tinggi (situasi irregularities) mempengaruhi

auditor untuk meningkatkan sikap skeptisisme profesionalnya.

c. Pengalaman

Pengalaman yang dimaksudkan disini adalah pengalaman auditor

dalam melakukan pemeriksaan laporan keuangan baik dari segi

lamanya waktu, maupun banyaknya penugasan yang pernah

dilakukan. Butt (1988) dalam Gusti dan Ali (2008) memperlihatkan

dalam penelitiannya bahwa auditor yang berpengalaman akan

membuat judgement yang relatif lebih baik dalam tugas-tugas

profesionalnya, daripada auditor yang kurang berpengalaman. Jadi

seorang auditor yang lebih berpengalaman akan lebih tinggi tingkat

skeptisisme profesionalnya dibandingkan dengan auditor yang

kurang berpengalaman.

39
Skeptisme profesional yang dimaksud disini adalah sikap skeptis

yang dimiliki seorang auditor yang selalu mempertanyakan dan

meragukan bukti audit. Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya

bahwa penggunaan kemahiran profesional dengan cermat dan seksama

menuntut auditor untuk melaksanakan skeptisisme profesional. Dapat

diartikan bahwa skeptisisme profesional menjadi salah satu faktor dalam

menentukan kemahiran profesional seorang auditor. Kemahiran

profesional akan sangat mempengaruhi ketepatan pemberian opini oleh

seorang auditor. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa semakin tinggi

tingkat skeptisisime seorang auditor dalam melakukan audit, maka

diduga akan berpengaruh pada ketepatan pemberian opini auditor

tersebut (Noviyanti, 2008).

B. Penelitian Sebelumnya

Adapun hasil-hasil sebelumnya dari penelitian-penelitian terdahulu

mengenai topik yang berkaitan dengan penelitian ini dapat dilihat dalam tabel

2.1 berikut:

40
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
No. Peneliti Judul Variabel Hasil Penelitian
dan yang Diteliti (Kesimpulan)
Tahun
1. Yulius Jogi Kompetensi Kompetensi Kualitas audit
Christiawan dan dan ditentukan oleh dua
(2002) Independensi independensi.
Akuntan hal yaitu kompetensi
Publik: Refleksi dan independensi.
Hasil Penelitian Hasil penelitian
Empiris. tentang kompetensi
menunjukkan bahwa
profesi akuntansi
mulai tidak menarik
dan tergeser oleh
profesi yang lain.
Hasil penelitian
tentang
independensi
menunjukkan bahwa
dalam mengambil
keputusan akuntan
publik dipengaruhi
oleh dorongan untuk
mempertahankan
klien auditnya.

Bersambung pada halaman selanjutnya

41
Tabel 2.1 (Lanjutan)

No. Peneliti Judul Variabel Hasil Penelitian


dan Tahun yang Diteliti (Kesimpulan)
2. Sekar Pengaruh Keahlian Pendapat auditor
Mayangsari Keahlian Audit audit, yang ahli dan
(2003) dan Independensi independensi, independen
terhadap dan opini berbeda dengan
Pendapat Audit: audit. auditor yang
Sebuah hanya memiliki
Kuasieksperimen. salah satu
karakter atau
sama sekali tidak
mempunyai
karakter tersebut.
3. Ida Suraida Pengaruh Etika, Etika, Etika,
(2005) Kompetensi, kompetensi, kompetensi,
Pengalaman pengalaman, pengalaman audit,
Audit dan Resiko resiko, risiko audit dan
Audit, terhadap skeptisisme skeptisisme
Skeptisisme professional professional
Profesional dan ketepatan auditor
Auditor dan pemberian berpengaruh
Ketepatan opini. positif terhadap
Pemberian Opini ketepatan
Akuntan Publik. pemberian opini
akuntan publik
baik secara
parsial maupun
secara simultan.

Bersambung pada halaman selanjutnya

42
Tabel 2.1 (Lanjutan)

No. Peneliti Judul Variabel Hasil Penelitian


dan Tahun yang Diteliti (Kesimpulan)
4. Abu Bakar, Factors Independensi. Ukuran
et. al. Influencing perusahaan audit
(2005) Auditor dan komite audit
Independence: berpengaruh
Malaysian Loan negatif terhadap
Officers’ independensi
Perception auditor. Ukuran
fee audit,
lamanya waktu
audit yang
diberikan kepada
klien, tingkat
persaingan antara
perusahaan audit,
dan Management
Advisory Services
(MAS)
berpengaruh
positif terhadap
independensi
auditor.

5. Nizarul Pengaruh Kompetensi, Hasil penelitian


Alim, et. al. kompetensi dan independensi, ini membuktikan
(2007). independensi kualitas bahwa
terhadap kualitas audit, dan kompetensi,
audit dengan etika etika auditor. independensi, dan
auditor sebagai etika auditor
variabel berpengaruh
moderasi. signifikan
terhadap kualitas
audit.

Bersambung pada halaman selanjutnya

43
Tabel 2.1 (Lanjutan)

No. Peneliti Judul Variabel Hasil Penelitian


dan Tahun yang Diteliti (Kesimpulan)
6. Mardisar Pengaruh Kualitas hasil Untuk
dan Sari akuntabilitas dan kerja auditor, menghasilkan
(2007) pengetahuan akuntabilitas pekerjaan yang
terhadap kualitas dan berkualitas
hasil kerja pengetahuan. seorang auditor
auditor. harus memiliki
akuntabilitas dan
pengetahuan
yang tinggi.
7. Gusti dan Hubungan Skeptisisme Hasil penelitian
Ali (2008) skeptisisme profesional ditemukan bahwa
profesional auditor, antara
auditor dan situasi situasi audit, skeptisisme
audit, etika, etika, profesional
pengalaman serta pengalaman, auditor dan
keahlian audit keahlian ketepatan
dengan ketepatan audit, dan pemberian opini
pemberian opini ketepatan auditor oleh
auditor oleh pemberian akuntan publik
akuntan publik. opini auditor. terdapat
hubungan yang
signifikan.
8. Sukriah, et. Pengaruh Pengalaman Pengalaman
al. (2009) pengalaman kerja, kerja, kerja, obyektifitas
independensi, independensi, dan kompetensi
obyektifitas, objektifitas, berpengaruh
integritas dan integritas, positif terhadap
kompetensi kompetensi, kualitas hasil
terhadap kualitas dan kualitas pemeriksaan.
hasil hasil Sedangkan untuk
pemeriksaan. pemeriksaan. indepedensi dan
integritas tidak
berpengaruh
signifikan
terhadap kualitas
hasil
pemeriksaan.

Bersambung pada halaman selanjutnya

44
Tabel 2.1 (Lanjutan)

No. Peneliti Judul Variabel Hasil Penelitian


dan yang Diteliti (Kesimpulan)
Tahun
9. Yuskar Pengaruh Independensi, Hasil penelitian
dan Independensi komitmen menunjukan bahwa
Devisia Auditor, organisasi, beberapa variabel
(2011) Komitmen pemahaman seperti independensi
Organisasi, good auditor, komitmen
Pemahaman governance, organisasi,
Good integritas, integritas auditor
Governance, budaya dan budaya
Integritas organisasi, organisasi berpengaruh
Auditor, etos kerja, signifikan terhadap
Budaya dan kinerja kinerja auditor,
Organisasi, auditor. sedangkan variabel lain
dan Etos Kerja seperti pemahaman
terhadap pemerintahan yang
Kinerja baik dan etika
Auditor kerja tidak berpengaruh
langsung
terhadap kinerja
auditor.
10. Sabrina Pengaruh Pengalaman, Penelitian ini
K. dan Pengalaman, keahlian, membuktikan situasi
Indira Keahlian, situasi audit, audit berpengaruh
Juniarti Situasi Audit, etika, gender, positif dengan
(2012) Etika dan ketepatan ketepatan pemberian
Gender pemberian opini auditor melalui
terhadap opini auditor skeptisisme profesional
Ketepatan dan auditor. Sedangkan
Pemberian skeptisme faktor lainnya
Opini Auditor profesional. pengalaman, keahlian,
Melalui situasi dan etika tidak
Skeptisme berpengaruh terhadap
Profesional ketepatan pemberian
Auditor opini. Faktor
(Studi Kasus pengalaman, etika,
Pada KAP Big keahlian, gender tidak
Four di berpengaruh terhadap
Jakarta) ketepatan pemberian
opini melalui
skeptisisme sebagai
variabel intervening.

45
C. Kerangka Berpikir

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran


Terjadinya Skandal Audit di Luar Negeri dan Dalam Negeri

Pengaruh Independensi, Keahlian, Pengetahuan Akuntansi dan


Auditing, serta Skeptisme Profesional Auditor terhadap Ketepatan
Pemberian Opini Audit

Teori Atribusi, Teori Peran, dan


Teori Auditing

Independensi
(Christiawan, 2002), (Mayangsari, 2003),
(Alim et. al. 2007 ),
(Yuskar dan Devisia, 2011)
Ketepatan
Pemberian Opini
Audit
Keahlian
(Mayangsari, 2003), (Gusti dan Ali, 2008), (Suraida, 2005),
(Sabrina dan Januarti, 2012)
(Gusti dan Ali,
2008), (Sabrina dan
Januarti, 2012)
Pengetahuan Akuntansi & Auditing
(Alim et. al., 2007), (Mardisar dan Sari, 2007)

Skeptisme Profesional
(Suraida, 2005), (Gusti dan Ali, 2008),
(Sabrina dan Januarti, 2012)

Bersambung pada halaman selanjutnya

46
Gambar 2.1 (lanjutan)
Metode Analisis:
Regresi Berganda

Uji Kualitas Data:


1. Validitas
2. Reliabilitas

Uji Asumsi Klasik:


1. Multikolonieritas
2. Heteroskesdastisitas
3. Normalitas

Uji Hipotesis:
1. Uji R2
2. Uji t
3. Uji F

Hasil Pengujian dan Pembahasan

Kesimpulan, Implikasi, dan Saran

47
D. Hipotesis

1. Independensi dengan Ketepatan Pemberian Opini Audit

Independensi adalah suatu istilah yang sering digunakan oleh profesi

auditor. Antle (1984) dalam Mayangsari (2003) mendefinisikan

independensi sebagai suatu hubungan antara akuntan dan kliennya yang

mempunyai sifat sedemikian rupa sehingga temuan dan laporan yang

diberikan auditor hanya dipengaruhi oleh bukti-bukti yang ditemukan

dan dikumpulkan sesuai dengan aturan atau prinsip-prinsip

profesionalnya. Independen berarti akuntan publik tidak mudah

dipengaruhi, karena ia melaksanakan pekerjaan untuk kepentingan umum

(Christiawan, 2002). Akuntan publik tidak dibenarkan memihak

kepentingan siapapun. Auditor berkewajiban untuk jujur tidak hanya

kepada manajemen dan pemilik perusahaan, namun juga kepada kreditur

dan pihak lain yang meletakkan kepercayaan atas pekerjaan akuntan

publik (Christiawan, 2002).

Independensi merupakan hal yang penting dalam melaksanakan

pemeriksaan akuntansi karena adanya kepercayaan dari klien dan para

pemakai laporan keuangan dalam hal membuktikan kewajaran

penyusunan laporan keuangan. Oleh karena itu, auditor harus bersikap

independen dari berbagai kepentingan. Auditor yang menegakkan

independensinya, tidak akan terpengaruh oleh pihak luar dalam

mempertimbangkan fakta yang ditemukan dalam pemeriksaan

(Windarti, 2011).

48
Mayangsari (2003) melakukan penelitian dengan tujuan untuk

mengetahui perbedaan pendapat antara auditor. Hasil penelitian tersebut

menunjukan bahwa yang menyebabkan perbedaan pendapat adalah

independensi. Auditor yang independen memberikan pendapat yang lebih

tepat dibandingkan auditor yang tidak independen. Auditor yang ahli dan

non-ahli memang mempunyai perbedaan dalam memberikan suatu

pendapat jika mereka tidak mendapatkan tekanan social maupun

ekonomis dalam proses pemberian pendapat.

Trianingsih (2007) dalam penelitiannya menyatakan bahwa

independensi auditor berpengaruh signifikan terhadap kinerja auditor.

Independensi merupakan aspek penting bagi profesionalisme akuntan

khususnya dalam membentuk integritas pribadi yang tinggi. Hal ini

disebabkan karena pelayanan jasa akuntan sangat dipengaruhi oleh

kepercayaan klien maupun publik secara luas dengan berbagai

kepentingan yang berbeda. Seorang auditor yang memiliki independensi

yang tinggi maka kinerjanya akan lebih baik dan dapat menghasilkan

ketepatan pemberian opini yang lebih baik pula. Berdasarkan berbagai

penjelasan di atas, maka hipotesis yang diajukan adalah:

H1: Independensi berpengaruh signifikan dan positif terhadap

ketepatan pemberian opini audit.

49
2. Keahlian dengan Ketepatan Pemberian Opini Audit

Keahlian dan kemahiran profesional merupakan standar umum yang

harus dimiliki oleh seorang auditor dalam melakukan pekerjaan auditnya

(Boynton et. al., 2003). Menurut hasil penelitian Mayangsari (2003),

pendapat auditor yang ahli dan independen berbeda dengan auditor yang

hanya memiliki salah satu karakter tersebut atau tidak sama sekali

memiliki kedua karakter tersebut. Jenis informasi yang digunakan oleh

seorang ahli akan berbeda dengan jenis informasi yang digunakan oleh

orang yang tidak ahli. Seorang yang ahli dalam bidangnya dan terlatih

independen, maka akan mendapatkan temuan audit dengan baik.

Mayangsari (2003) dalam penelitiannya menunjukan keahlian

mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap ketepatan pemberian

opini audit. Menurut Suraida (2005) kompetensi atau keahlian

profesional berpengaruh secara signifikan terhadap ketepatan pemberian

opini audit. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka hipotesis

sementara dalam penelitian ini sebagai berikut:

H2: Keahlian berpengaruh signifikan dan positif terhadap ketepatan

pemberian opini audit.

3. Pengetahuan Akuntansi dan Auditing dengan Ketepatan Pemberian

Opini Audit

Mardisar dan Sari (2007), perbedaan pengetahuan di antara auditor

akan berpengaruh terhadap cara auditor menyelesaikan sebuah pekerjaan.

50
Lebih lanjut dijelaskan bahwa seorang auditor akan bisa menyelesaikan

sebuah pekerjaan secara efektif jika didukung dengan pengetahuan yang

dimilikinya. Auditor yang memiki tingkat pengetahuan yang tinggi akan

berperilaku pantas sesuai dengan persepsi serta ekspektasi orang lain dan

lingkungan tempat auditor bekerja (Sabrina dan Januarti, 2012).

Seorang auditor dalam mendeteksi kesalahan harus didukung dengan

pengetahuan tentang apa dan bagaimana kesalahan tersebut terjadi

(Nasution, 2010 dalam Fitriyani, 2012). Secara umum seorang auditor

harus memiliki pengetahuan-pengetahuan mengenai General

auditing, Functional Area, computer auditing, Accounting Issue,

Specific Industri, General World knowledge (pengetahuan umum),

dan Problem solving knowledge (Mardisar dan Sari, 2007). Penelitian

juga dilakukan oleh Herawaty dan Susanto (2009) yang menyatakan

bahwa pengetahuan auditor dalam mendeteksi kekeliruan memiliki

pengaruh positif terhadap tingkat materialitas.

Mardisar dan Sari (2007) menemukan bahwa besarnya usaha yang

dicurahkan seseorang untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan berbeda-

beda sesuai dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki dan juga

menemukan bahwa tingkat pengetahuan seseorang dapat meningkatkan

kualitas hasil kerja. Kualitas hasil kerja auditor yang baik akan

menghasilkan pemberian opini yang tepat pula.

51
Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, maka keterkaitan antara

pengetahuan akuntansi dan auditing dengan ketepatan pemberian opini

audit dapat dirumuskan dalam hipotesis sebagai berikut:

H3: Pengetahuan akuntansi dan auditing berpengaruh signifikan

dan positif terhadap ketepatan pemberian opini audit.

4. Skeptisme Profesional Auditor terhadap Ketepatan Pemberian

Opini Audit

Skeptisme profesional auditor adalah sikap yang mencakup pikiran

yang selalu mempertanyakan dan melakukan evaluasi secara skeptis

terhadap bukti audit (Gusti dan Ali, 2008). Menurut

Sabrina dan Januarti (2012) skeptisisme profesional auditor adalah sikap

yang harus dimiliki oleh auditor dalam melaksanakan tugasnya sebgai

akuntan publik yang dipercaya oleh publik dengan selalu

mempertanyakan dan tidak mudah percaya atas bukti-bukti audit agar

pemberian opini auditor tepat. Auditor diharapkan dapat lebih

mendemonstrasikan tingkat tertinggi dari skeptisme profesionalnya.

Skeptisme profesional dapat dilatih oleh auditor dalam

melaksanakan tugas audit, pemberian opini audit harus didukung oleh

bukti audit kompeten yang cukup, dimana dalam mengumpulkan bukti

audit auditor harus senantiasa menggunakan skeptisme profesionalnya

yaitu sikap yang mencakup pikiran yang selalu mempertanyakan dan

melakukan evaluasi secara kritis terhadap bukti audit

52
(SPAP, 2001) agar diperoleh bukti-bukti yang meyakinkan sebagai dasar

dalam pemberian opini akuntan. Kemahiran profesional auditor akan

sangat mempengaruhi ketepatan pemberian opini oleh auditor, sehingga

secara tidak langsung skeptisme professional auditor ini akan

mempengaruhi ketepatan pemberian opini oleh akuntan publik.

H4: Skeptisme profesional auditor berpengaruh signifikan dan

positif terhadap ketepatan pemberian opini audit.

5. Independensi, Keahlian, Pengetahuan Akuntansi dan Auditing, serta

Skeptisme Profesional Auditor terhadap Ketepatan Pemberian

Opini Audit

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mayangsari

(2003), Suraida (2005), Alim, et. al. (2007), Mardisar dan Sari (2007),

Gusti dan Ali (2008), Yuskar dan Devisia (2011), serta Sabrina dan

Januarti (2012), maka diduga bahwa independensi, keahlian,

pengetahuan akuntansi dan auditing, serta skeptisme profesional auditor

secara simultan berpengaruh signifikan terhadap ketepatan pemberian

opini audit. Sehingga dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H5: Independensi, keahlian, pengetahuan akuntansi dan auditing,

serta skeptisme profeional auditor secara simultan berpengaruh

signifikan terhadap ketepatan pemberian opini audit.

53
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kausal komparatif, yaitu penelitian

yang bertujuan untuk mengetahui hubungan serta pengaruh antara dua atau

lebih variabel independen terhadap variabel dependen. Penelitian ini akan

membahas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi ketepatan pemberian

opini audit oleh akuntan publik. Populasi penelitian ini adalah auditor

eksternal yang bekerja pada 14 Kantor Akuntan Publik di DKI Jakarta.

B. Metode Penentuan Sampel

Metode yang digunakan peneliti dalam pemilihan sampel penelitian

adalah pemilihan sampel bertujuan (purposive sampling), dengan teknik

berdasarkan pertimbangan (judgement sampling) yang merupakan tipe

pemilihan sampel secara tidak acak yang informasinya diperoleh dengan

menggunakan pertimbangan tertentu (umumnya disesuaikan dengan tujuan

atau masalah penelitian) (Indriantoro dan Supomo, 2002) dengan kriteria

antara lain:

1. Sampel merupakan auditor di Kantor Akuntan Publik yang berada di

DKI Jakarta.

2. Auditor memiliki jabatan auditor junior, auditor senior, manajer,

supervisor, dan partner.

54
C. Metode Pengumpulan Data

1. Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas:

a. Data Primer

Data primer merupakan sumber data penelitian yang diperoleh

secara langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara).

Data primer ini secara khusus dikumpulkan peneliti untuk menjawab

pertanyaan penelitian (Indriantoro dan Supomo, 2002). Data primer

yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan

kuesioner. Kuesioner merupakan penelitian dengan cara mengajukan

daftar pertanyaan langsung kepada responden, yaitu auditor eksternal

yang bekerja pada KAP di Jakarta. Skala yang digunakan adalah

skala likert untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang

tentang kejadian atau gejala sosial. Kategori dari penilaian skala

likert:

SS = Sangat Setuju Diberi skor 5

S = Setuju Diberi skor 4

N = Netral Diberi skor 3

TS = Tidak Setuju Diberi skor 2

STS = Sangat Tidak Setuju Diberi skor 1

b. Data Sekunder

Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh

peneliti secara tidak langsung melalui media perantara

55
(Indriantoro dan Supomo, 2002). Penulis mengumpulkan data

sekunder dengan cara membaca, dan memahami buku, literature,

artikel, jurnal, dan data dari internet.

2. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang diperlukan, peneliti menggunakan

instrumen berupa kuesioner yang dikirimkan kepada auditor yang bekerja

di Kantor Akuntan Publik wilayah DKI Jakarta. Pengiriman kuesioner

dilakukan secara langsung, yaitu dengan mengirimkan langsung kepada

kantor yang bersangkutan (Indriantoro dan Supomo, 2002).

D. Metode Analisis Data

Metode analisis data menggunakan statistik deskriptif, uji kualitas data,

uji asumsi klasik dan analisis data.

1. Statistik Deskriptif

Statistik deskripstif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data

yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian,

maksimum, minimum, sum, range, kurtosis dan skewness

(kemelencengan distribusi) (Ghozali, 2011).

2. Uji Kualitas Data

Untuk melakukan uji kualitas data atas data primer ini, maka peneliti

menggunakan uji validitas dan reliabilitas.

56
a. Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengetahui seberapa baik

ketepatan dan kecermatan suatu instrumen untuk mengukur suatu

konsep yang seharusnya diukur. Uji validitas digunakan untuk

mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner

dinyatakan valid jika pertanyaan atau pernyataan pada kuesioner

mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur pada

kuesioner tersebut. Pengujian validitas dengan menggunakan

Pearson Correlation yaitu dengan cara menghitung korelasi

antara nilai yang diperoleh dari pertanyaan-pertanyaan.

Apabila Pearson Correlation yang didapat memiliki nilai di

bawah 0,05 berarti data yang diperoleh adalah valid

(Ghozali, 2011).

b. Uji Realibilitas

Uji realibilitas digunakan untuk mengetahui sejauh mana hasil

pengukuran tetap konsisten apabila dilakukan dua kali atau lebih

terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat ukur yang

sama. mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari

variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau

handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten

atau stabil dari waktu ke waktu (Ghozali, 2011). Suatu konstuk atau

variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai

Cronbach Alpha > 0, 70 (Nunnaly, 1994 dalam Ghozali, 2011).

57
Ghozali (2011) menyebutkan bahwa pengukuran reliabilitas

dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

1) Repeated Measure atau pengukuran ulang: Pengukuran ini

dilakukan dengan memberikan pertanyaan kepada seseorang

yang sama pada waktu yang berbeda, dan kemudian dilihat

apakah ia tetap konsisten dengan jawabannya.

2) One Shot atau pengukuran sekali saja: Pengukuran yang

dilakukan hanya sekali dan kemudian hasilnya dibandingkan

dengan pertanyaan lain atau mengukur korelasi antar jawaban

pertanyaan.

3. Uji Asumsi Klasik

Untuk melakukan uji asumsi klasik atas data primer ini, maka

peneliti melakukan uji multikolonieritas, uji heteroskedastisitas dan uji

normalitas.

a. Uji Multikolinearitas

Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model

regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Uji

multikolonieritas dilihat dari nilai tolerance dan Variance Inflantion

Factor (VIF) (Ghozali, 2011). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan

terdapat problem multikoliniearitas (multiko). Model regresi yang

baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen.

Deteksi ada atau tidaknya multikolinearitas di dalam model regresi

dapat dilihat dari besaran VIF (Variance Inflation Factor) dan

58
tolerance. Regresi bebas dari multikolinearitas jika nilai VIF < 10

dan nilai tolerance > 0,10 (Ghozali, 2011).

b. Uji Heterokedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah model regresi

terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke

pengamatan yang lain. Jika varians dari residual satu pengamatan ke

pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan

jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik

adalah homoskedastisitas (Ghozali, 2011).

Deteksi ada atau tidaknya heterokedastisitas dapat dilihat

dengan ada tidaknya pola tertentu yang teratur, seperti

bergelombang, melebar, kemudian menyempit maka

mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. Tetapi jika tidak

ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah

angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas

(Ghozali, 2011). Analisis dengan grafik plots memiliki kelemahan

yang cukup signifikan oleh karena jumlah pengamatan

mempengaruhi hasil ploting. Oleh sebab itu diperlukan uji statistik

yang lebih dapat menjamin keakuratan hasil. Ada beberapa uji

statistik yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya

heteroskedastisitas. Salah satunya dengan menggunakan uji Glejser.

Dasar pengambilan keputusan:

59
Nilai probabilitas > 0,05 berarti bebas dari heteroskedastisitas

Nilai probabilitas < 0,05 berarti terkena heteroskedastisitas

c. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah di dalam model

regresi variabel independen dan variabel dependen keduanya

mempunyai distribusi normal atau mendekati normal. Model regresi

yang baik adalah memiliki distribusi normal atau mendekati normal.

Analisis grafik adalah salah satu cara termudah untuk melihat

normalitas data dengan cara membandingkan antara data observasi

dengan distribusi yang mendekati garis normal dengan

menggunakan Normal Probability Plot (P-P Plot). Suatu variabel

dikatakan normal jika gambar distribusi dengan titik-titik data yang

menyebar di sekitar garis diagonal, dan penyebaran titik-titik data

searah mengikuti garis diagonal (Santoso, 2004).

Uji normalitas dapat dilakukan dengan uji kolmogorov smirnov.

Konsep dasar dari uji normalitas kolmogorov smirnov adalah dengan

membandingkan distribusi data (yang akan diuji normalitasnya)

dengan distribusi normal baku. Penerapan pada uji kolmogorov

smirnov adalah bahwa jika signifikansi di bawah 0,05 berarti data

yang akan diuji mempunyai perbedaan yang signifikan dengan data

normal baku, berarti data tersebut tidak normal.

60
4. Analisis Data

a. Analisis Regresi Berganda

Pengujian dalam penelitian ini menggunakan model regresi

berganda. Rumus regresi berganda yang digunakan adalah sebagai

berikut:

Y = α + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + β4 X4 + e

Keterangan:

Y = Ketepatan Pemberian Opini Audit

α = Konstanta

β1,..5 = Koefisien regresi

X1 = Independensi

X2 = Keahlian

X3 = Pengetahuan akuntansi dan auditing

X4 = Skeptisisme Profesional

e = error terms

b. Analisis Koefisien Determinan

Untuk mengetahui besarnya atau kecilnya persentase pengaruh

variabel bebas (X) terhadap variabel berikut (Y) dipergunakan

koefisien determinan dengan rumus sebagai berikut:

KD = r2 x 100%

Keterangan:

KD = Koefisien Determinan

r = Koefisien korelasi

61
c. Uji Hipotesis

1) Uji t

Uji t bertujuan untuk menguji seberapa jauh pengaruh satu

variabel independen secara individual, untuk dapat mengetahui

apakah ada pengaruh signifikan dari variabel masing-masing

independen terhadap variabel dependen, maka nilai

signifikannya dibandingkan dengan derajat kepercayaannya.

Apabila tingkat signifikan lebih kecil dari 0,05 maka Ha

diterima. Demikian pula sebaliknya jika tingkat signifikan lebih

besar dari 0,05 maka Ha ditolak. Bila Ha diterima dan Ho

ditolak berarti ada hubungan signifikan antara variabel

independen dengan variabel dependen (Ghozali, 2011).

2) Uji F

Uji statistik F dilakukan untuk mengetahui pengaruh semua

variabel independen yang dimasukkan ke dalam variabel model

regresi secara bersama-sama terhadap variabel dependen

(Ghozali, 2011). Kriteria yang dipakai untuk membuat

keputusan terhadap hasil uji hipotesis yang diuji adalah

berdasarkan tingkat signifikansi sebesar 0,05 yang merupakan

probabilitas kesalahan sebesar 5%. Dasar pengambilan

keputusan adalah sebagai berikut:

1) Jika Probabilitas > 0,05 maka Ha ditolak

2) Jika probabilitas < 0,05 maka Ha diterima

62
E. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Pada bagian ini akan diuraikan definisi variabel independen dan

dependen yang digunakan sebagai operasional dan pengukurannya.

Penjelasan masing variabel independen dan dependen yang digunakan dalam

penelitian ini antara lain:

1. Variabel Independen

Pengertian variabel independen (X) yaitu variabel yang bebas dan

mempengaruhi variabel lain (dependen). Variabel independen dalam

penelitian ini adalah independensi, keahlian, pengetahuan akuntansi dan

auditing, serta skeptisme profesional auditor.

a. Independensi (X1)

Independensi akuntan publik adalah sikap yang diharapkan dari

diri seorang akuntan publik utnuk tidak mempunyai kepentingan

pribadi dalam pelaksanaan tugasnya, yang bertentangan dengan

prinsip integritas dan objektifitas. Instrumen pengukuran variabel ini

adalah sebelas pertanyaan lewat kuesioner berdasarkan indikator dari

Mautz dan Sharaf dalam Sawyer (2006).

b. Keahlian

Keahlian (expertise) adalah keterampilan dari seorang ahli. Ahli

(experts) didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki tingkat

keterampilan tertentu atau pengetahuan yang tinggi dalam subjek

tertentu yang diperoleh dari pengalaman atau pelatihan. Variabel ini

63
diukur dengan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki serta

tingkat sertifikasi pendidikan atau pengakuan resmi.

Hasil penelitian Mayangsari (2003) menunjukkan bahwa

komponen keahlian untuk auditor di Indonesia terdiri atas:

1) Komponen pengetahuan, yang merupakan komponen penting

dalam suatu keahlian, komponen ini meliputi pengetahuan

terhadap fakta-fakta, prosedur-prosedur dan pengalaman.

2) Ciri-ciri psikologi, seperti kemampuan berkomunikasi,

kreativitas kemampuan bekerjasama dengan orang lain.

Instrumen pengukuran variabel ini adalah enam pertanyaan

lewat kuesioner berdasarkan indikator dari Mohammadi (1992)

dalam Desyanti dan Ratnadi (2006).

c. Pengetahuan Akuntansi dan Auditing

Pengetahuan akuntansi dan auditing menggambarkan segala

atau semua ilmu yang dimiliki auditor yang berguna dalam

melaksanakan pemeriksaan. Instrumen pengukuran variabel ini

adalah sembilan pertanyaan lewat kuesioner yang dikembangkan

dari Nataline (2007), Guy, et. al. (2002), dan Indah (2010).

d. Skeptisme Profesional Auditor

Skeptisme profesional auditor adalah sikap auditor yang akan

membawa pada tindakannya yang selalu mempertanyakan dan

menaksir secara kritis terhadap bukti audit. Indikator skeptisme

professional auditor adalah tingkat keraguan auditor terhadap bukti

64
audit, banyaknya pemeriksaan tambahan dan konfirmasi langsung.

Instrumen pengukuran variable ini terdiri dari enam

pertanyaan lewat kuesioner yang dikembangkan dari

Noviyanti dan Bandi (2008).

2. Variabel Dependen

Variabel ini (Y) sering disebut sebagai variabel output, kriteria,

konsekuen, dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel

terikat. Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau

menjadi akibat karena adanya variabel independen. Variabel dependen

dalam penelitian ini yaitu ketepatan pemberian opini audit.

Opini auditor merupakan pendapat yang diberikan oleh auditor

tentang kewajaran penyajian laporan keuangan perusahaan tempat

auditor melakukan audit. Variabel ini diukur antara lain melalui

pemberian opini yang sesuai dengan kriteria-kriteria yang ditetapkan

dalam macam-macam opini yaitu Wajar Tanpa Pengecualian

(Unqualified Opinion), Wajar Tanpa Pengecualian Dengan Bahasa

Penjelas (Unqualified Opinion with Explanatory Paragraph), Wajar

Dengan Pengecualian (Qualified Opinion), Tidak Wajar (Adverse), dan

Tidak Menyatakan Pendapat (Disclaimer). Instrumen pengukuran

variabel ini terdiri dari sepuluh pertanyaan yang dikembangkan dari

Mautz dan Sharaf dalam Sawyer (2006), Mohammadi (1992) dalam

Desyanti dan Ratnadi (2006), Nataline (2007), Guy, et. al. (2002), Indah

(2010), serta Noviyanti dan Bandi (2008).

65
Tabel 3.1
Operasional Variabel Penelitian

No. Butir Skala


Variabel Indikator
Pertanyaan Pengukuran

a) Bebas dari intervensi manajerial. 1

b) Bebas dari intervensi prosedur audit. 2

c) Bebas persyaratan. 3

d) Bebas mengakses data. 4

Independensi e) Bebas bekerja sama. 5


(X1)
Mautz dan f) Bebas dari pengaruh manajerial. 6 Skala Interval
Sharaf dalam
Sawyer g) Bebas dari kepentingan pribadi. 7
(2006)
h) Bebas dari keingian pribadi. 8

i) Bebas dari tekanan. 9

j) Menghindari kata menyesatkan. 10

k) Bebas menggunakan judgement. 11

a) Komponen penting dalam 12


pengetahuan.
b) Prosedur-prosedur dalam 13
Keahlian pengetahuan.
(X2)
c) Pengalaman dalam menghimpun dan
Mohammadi 14
(1992) dalam memberikan kemampuan bagi Skala Interval
Desyanti dan pengetahuan.
Ratnadi d) Kemampuan berkomunikasi. 15
(2006)
e) Kreativitas. 16

f) Kemampuan bekerja sama dengan 17


orang lain.

66
Tabel 3.1 Lanjutan

No. Butir Skala


Variabel Indikator
Pertanyaan Pengukuran

a) Pengetahuan akuntansi sangat


menunjang ketepatan pemberian opini 18
audit.

b) Pengetahuan auditing sangat menunjang


19
ketepatan pemberian opini audit.

c) Pengetahuan dan pengalaman praktik


akuntansi mempengaruhi ketepatan 20
Pengetahuan pemberian opini audit.
Akuntansi
dan Auditing d) Pengetahuan dan pengalaman praktik
(X3) auditing mempengaruhi ketepatan 21
Nataline pemberian opini audit. Skala Interval
(2007), Guy,
et. al. (2002), e) Pengetahuan Auditor berpengaruh 22
dan Indah terhadap keputusan yang dibuat.
(2010)
f) Pengetahuan akuntansi dan auditing
dapat membantu auditor mengetahui
23
kekeliruan di suatu perusahaan berikut
penyelesaiannya.

g) Semakin banyak pengetahuan akuntansi


dan auditing yang dimiliki auditor,
semakin besar kemampuan auditor 24
dalam menganalisis setiap permasalahan
yang ada.

h) Pengetahuan akunatnsi dan auditing


membantu auditor dalam mempertajam 25
analisis masalah.

i) Pengetahuan akuantansi dan auditing


membantu auditor dalam memprediksi
26
dan mendeteksi masalah secara
profesional.

67
Tabel 3.1 Lanjutan

No. Butir Skala


Variabel Indikator
Pertanyaan Pengukuran

a) Mengevaluasi temuan audit harus 27


menggunakan sikap skeptis.
b) Sikap skeptis berpengaruh dalam
28
menemukan pelanggaran dalam
laporan keuangan.
c) Auditor harus menggunakan sikap
29
skeptis dalam mengevaluasi temuan
Skeptisme audit.
Profesional
d) Tutuntan professional seorang
Auditor
(X4) auditor dalam mengaudit 30 Skala Interval
Noviyanti mengakibatkan tumbuhnya sikap
dan Bandi skeptis.
(2008) e) Akuntan publik diharapkan
mempunyai sikap skeptis terhadap
31
temuan audit yang berhubungan
dengan wajar tidaknya laporan
keuangan.
f) Bersikap cermat dan
seksamadalammelaksanakan tugas 32
audit merupakan faktor sikap
skeptis.
a) Memiliki sikap independensi
merupakan hal yang penting dalam 33
memberikan opini audit.
Ketepatan b) Memiliki keahlian merupakan hal
Pemberian 34
yang penting dalam ketepatan Skala Interval
Opini Audit pemberian opini audit.
(Y) c) Memiliki pengetahuan akuntansi dan
35
auditing merupakan hal yang penting
dalam memberikan opini audit.
d) SkeptismeProfesional mempengaruhi 36
ketepatan pemberian opini audit.

68
Tabel 3.1 Lanjutan

No. Butir Skala


Variabel Indikator
Pertanyaan Pengukuran

Ketepatan e) Memiliki sikap skeptis merupakan


Pemberian hal yang penting dalam memberikan 37
Opini Audit opini audit.
(Y)
Mautz dan f) Laporan keuangan telah sesuai
Sharaf dalam 38
dengan standar akuntansi keuangan.
Sawyer
(2006), g) Perlakuan akuntansi yang tepat. 39
Mohammadi
(1992) dalam h) Opini audit harus sesuai dengan bukti Skala Interval
Desyanti dan 40
dan temuan audit yang ada.
Ratnadi
(2006), i) Bukti yang cukup dan kompeten
Nataline sehingga tepat dalam memberikan 41
(2007), Guy,
opini audit.
et. al. (2002),
Indah (2010),
j) Kesalahan yang material dapat
serta
Noviyanti mempengaruhi jenis opini yang akan 42
dan Bandi diberikan auditor.
(2008)

69
BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian

1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan terhadap akuntan publik (auditor) yang

bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP) yang berada di wilayah

Jakarta. Auditor yang berpartisipasi dalam penelitian ini meliputi

manajer, supervisor, auditor senior, maupun auditor junior yang

melaksanakan pekerjaan di bidang auditing.

Pengumpulan data dilaksanakan melalui penyebaran kuesioner

penelitian secara langsung seperti dengan cara mendatangi

responden dan secara tidak langsung melalui perantara kepada

responden yang bekerja pada KAP di wilayah Jakarta dan terdaftar

dalam Directory Kantor Akuntan Publik 2012 yang diterbitkan

oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI). Penyebaran

serta pengembalian kuesioner dilaksanakan mulai tanggal

10 Desember 2012 hingga 9 Januari 2013.

Peneliti mengambil sampel sebanyak 14 KAP dari keseluruhan

KAP yang berada di wilayah Jakarta. Kuesioner yang disebarkan

berjumlah 110 buah dan jumlah kuesioner yang kembali adalah

sebanyak 72 kuesioner atau 65,5%. Kuesioner yang tidak kembali

70
sebanyak 38 buah atau 34,5%, hal ini mungkin dikarenakan waktu

penyebaran kuesioner yang masuk dalam masa-masa peak season.

Kuesioner yang dapat diolah berjumlah 67 buah atau 93,1%,

sedangkan kuesioner yang tidak dapat diolah karena tidak

memenuhi kriteria sebagai sampel dan tidak diisi secara lengkap

oleh responden sebanyak 5 buah atau 6,9%. Gambaran mengenai

data sampel disajikan pada tabel 4.1.

Tabel 4.1
Data Sampel Penelitian

No. Keterangan Jumlah Persentase


1. Jumlah kuesioner yang disebar 110 100%
2. Jumlah kuesioner yang kembali 72 65,5%
3. Jumlah kuesioner yang tidak 38 34,5%
kembali
4. Jumlah kuesioner yang tidak 5 6,9%
dapat diolah
5. Jumlah kuesioner yang dapat 67 93,1%
diolah
Sumber: Data primer yang diolah

Data distribusi penyebaran kuesioner penelitian ini dapat

dilihat dalam tabel 4.2.

71
Tabel 4.2
Data Distribusi Sampel Penelitian

Kuesioner Kuesioner
No. Nama Kantor Akuntan Publik
Dikirim Dikembalikan
1. Basyiruddin & Wildan (Pusat) 10 0
2. Darmawan, Hendang, & Yogi 10 10
(Pusat)
3. Doli, Bambang, Sudarmadji & 5 0
Dadang (Cab.)
4. Doli, Bambang, Sudarmadji & 10 10
Dadang (Pusat)
5. Drs. Danny Sughanda 5 0
6. Drs. Hananta Budianto & Rekan 10 10
7. Drs. Tasnim Ali Widjanarko & 5 0
Rekan
8. Drs. Wirawan & Rekan 5 0
9. Hasnil, M. Yasin & Rekan 5 0
10. Herman, Dody, Tanumihardja & 10 9
Rekan
11. Hertanto, Sidik & Rekan (Pusat) 10 10
12. Kosasih, Nurdiyaman, Tjahjo & 10 10
Rekan (Cab.)
13. Soejatna, Mulyana & Rekan 10 10
14. Usman & Rekan (Pusat) 5 3
Sumber: Data Primer

2. Karakteristik Profil Responden

Responden dalam penelitian ini adalah auditor yang bekerja

pada KAP di Jakarta sesuai dengan Directory Kantor Akuntan

Publik 2012 yang diterbitkan oleh Institut Akuntan Publik

Indonesia (IAPI), baik yang mempunyai Nomor Register Ak

maupun tidak, serta pernah melaksanakan pekerjaan di bidang

auditing. Berikut ini adalah deskripsi mengenai identitas responden

penelitian yang terdiri dari jenis kelamin, posisi terakhir,

72
pendidikan terakhir, pengalaman kerja, jumlah penugasan audit

responden.

a. Deskripsi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 4.3 berikut ini menyajikan hasil uji deskripsi

responden berdasarkan jenis kelamin.

Tabel 4.3

Data Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Valid Cumulative
Frequency Percent Percent Percent
Valid Laki-laki 31 46.3 46.3 46.3
Perempuan 36 53.7 53.7 100.0
Total 67 100.0 100.0
Sumber: Data primer yang diolah dengan SPSS
Tabel 4.3 diatas menunjukkan bahwa sekitar 36 orang atau

53,7% responden didominasi oleh jenis kelamin perempuan,

dan sisanya sebanyak 31 orang atau 46,3% responden berjenis

kelamin laki-laki.

b. Deskripsi Responden Berdasarkan Jabatan Auditor

Hasil uji deskripsi responden berdasarkan jabatan auditor

disajikan pada tabel berikut ini:

73
Tabel 4.4
Data Responden Berdasarkan Jabatan Kerja

Valid Cumulative
Frequency Percent Percent Percent
Valid Supervisor 1 1.5 1.5 1.5
Auditor 26 38.8 38.8 40.3
Senior
Auditor 40 59.7 59.7 100.0
Junior
Total 67 100.0 100.0
Sumber: Data primer yang diolah dengan SPSS

Berdasarkan tabel 4.4 diatas diperoleh informasi bahwa

mayoritas responden sebanyak 40 orang atau sebesar 59,7%

menduduki posisi sebagai auditor junior. Responden yang

menduduki jabatan sebagai auditor senior sebanyak 26 orang

atau 38,8%. Sedangkan sisanya yakni sebanyak 1 orang atau

1,5% menjabat sebagai supervisor.

c. Deskripsi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

Tabel 4.5 menyajikan hasil uji deskripsi responden

berdasarkan pendidikan terakhir.

74
Tabel 4.5
Data Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid D3 3 4.5 4.5 4.5
S1 61 91.0 91.0 95.5
S2 3 4.5 4.5 100.0
Total 67 100.0 100.0
Sumber: Data primer yang diolah dengan SPSS

Berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui bahwa sebagian

besar responden berpendidikan terakhir Strata Satu (S1)

dengan jumlah 61 responden atau 91,0%. Sebesar 4,5% atau

sebanyak 3 orang berpendidikan terakhir Strata Dua (S2) dan

juga sebesar 4,5% atau sebanyak 3 orang berpendidikan

terakhir Diploma III (D3).

d. Karakteristik Responden Berdasarkan Pengalaman Kerja

Berikut ini adalah hasil uji responden berdasarkan

pengalaman kerja:

75
Tabel 4.6
Data Responden Berdasarkan Pengalaman Kerja

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid < 1 tahun 24 35.8 35.8 35.8
1-3 tahun 22 32.8 32.8 68.7
> 3 tahun 21 31.3 31.3 100.0
Total 67 100.0 100.0
Sumber: Data primer yang diolah dengan SPSS

Berdasarkan tabel 4.6 di atas dapat diketahui bahwa

terdapat hasil yang cukup merata dalam jumlah responden

pada ketiga kategori lamanya pengalaman kerja yakni

sebanyak 24 auditor atau 35,8% memiliki pengalaman bekerja

kurang dari 1 tahun, lalu sebanyak 32,8% atau sekitar 22

auditor memiliki pengalaman 1-3 tahun dan sebanyak 21 orang

atau 31,3% sisanya memiliki pengalaman diatas 3 tahun.

B. Hasil Uji Instrumen Penelitian

1. Hasil Uji Statistik Deskriptif

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yang meliputi

Independensi, Keahlian, Pengetahuan Akuntansi dan Auditing,

Skeptisme Profesional, dan Ketepatan Pemberian Opini Audit

akan diuji secara statistik deskriptif seperti yang terlihat dalam

tabel 4.7.

76
Tabel 4.7
Hasil Uji Statistik Deskriptif
Descriptive Statistics
Std.
N Minimum Maximum Mean Deviation
Independensi 67 37 55 46.61 4.348
Keahlian 67 17 30 24.40 2.786
Pengetahuan Akuntansi 67 32 45 37.88 3.752
dan Auditing
Skeptisme Profesional 67 18 30 24.37 2.485
Ketepatan Pemberian 67 35 50 41.96 3.574
Opini Audit
Valid N (listwise) 67
Sumber: Data primer yang diolah

Tabel 4.7 menjelaskan bahwa pada variabel independensi

jawaban minimum responden sebesar 37 dan maksimum sebesar

55, dengan rata-rata total jawaban 46,61 dan standar deviasi

sebesar 4,348. Pada variabel keahlian, minimum jawaban

responden sebesar 17 dan maksimum sebesar 30, dengan rata-rata

total jawaban 24,40 dan standar deviasi sebesar 2,786. Pada

variabel pengetahuan akuntansi dan auditing, minimum jawaban

responden sebesar 32 dan maksimum sebesar 45, dengan rata-rata

total jawaban 37,88 dan standar deviasi sebesar 3,752. Pada

variabel skeptisme profesional, minimum jawaban responden

sebesar 18 dan maksimum sebesar 30, dengan rata-rata total

jawaban 24,37 dan standar deviasi sebesar 2,485. Sedangkan, pada

77
variabel ketepatan pemberian opini audit jawaban minimum

responden sebesar 35 dan maksimum sebesar 50, dengan rata-rata

total jawaban 41,96 dan standar deviasi sebesar 3,574.

2. Hasil Uji Kualitas Data

a. Hasil Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengukur valid atau

tidaknya suatu kuesioner. Pengujian ini dilakukan dengan

menggunakan Pearson Corelation, pedoman suatu model

dikatakan valid jika tingkat signifikansinya dibawah 0,05 maka

butir pertanyaan tersebut dapat dikatakan valid (Imam Ghozali,

2011). Tabel berikut menunjukkan hasil uji validitas dari 5

variabel yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu

Independensi (In), Keahlian (Ke), Pengetahuan Akuntansi dan

Auditing (PAA), Skeptisme Profesional (SP) dan Ketepatan

Pemberian Opini Audit (KPOA), dengan 67 sampel responden.

78
Tabel 4.8
Hasil Uji Validitas Independensi

Nomor Pearson Sig


Keterangan
Butir Pertanyaan Corelation (2-Tailed)
1 (In1) 0,601** 0,000 Valid
2 (In2) 0,609** 0,000 Valid
3 (In3) 0,763** 0,000 Valid
4 (In4) 0,701** 0,000 Valid
5 (In5) 0,736** 0,000 Valid
6 (In6) 0,812** 0,000 Valid
7 (In7) 0,802** 0,000 Valid
8 (In8) 0,777** 0,000 Valid
9 (In9) 0,621** 0,000 Valid
10 (In10) 0,755** 0,000 Valid
11 (In11) 0,707** 0,000 Valid
Sumber: Data primer yang diolah dengan SPSS

Tabel 4.8 menunjukkan variabel independensi mempunyai

kriteria valid untuk semua item pertanyaan dengan nilai

signifikansi lebih kecil dari 0,05.

Tabel 4.9
Hasil Uji Validitas Keahlian

Nomor Pearson Sig


Keterangan
Butir Pertanyaan Corelation (2-Tailed)
12 (Ke1) 0,750** 0,000 Valid
13 (Ke2) 0,553** 0,000 Valid
14 (Ke3) 0,362** 0,003 Valid
15 (Ke4) 0,784** 0,000 Valid
16 (Ke5) 0,772** 0,000 Valid
17 (Ke6) 0,576** 0,000 Valid
Sumber: Data primer yang diolah dengan SPSS

Tabel 4.9 menunjukkan variabel keahlian mempunyai

kriteria valid untuk semua item pertanyaan dengan nilai

signifikansi lebih kecil dari 0,05.

79
Tabel 4.10
Hasil Uji Validitas Pengetahuan Akuntansi dan Auditing

Nomor Pearson Sig


Keterangan
Butir Pertanyaan Corelation (2-Tailed)
18 (PAA1) 0,773** 0,000 Valid
19 (PAA2) 0,797** 0,000 Valid
20 (PAA3) 0,692** 0,000 Valid
21 (PAA4) 0,785** 0,000 Valid
22 (PAA5) 0,666** 0,000 Valid
23 (PAA6) 0,716** 0,000 Valid
24 (PAA7) 0,643** 0,000 Valid
25 (PAA8) 0,720** 0,000 Valid
26 (PAA9) 0,509** 0,000 Valid
Sumber: Data primer yang diolah dengan SPSS

Tabel 4.10 menunjukkan variable pengetahuan akuntansi

dan auditing mempunyai kriteria valid untuk semua item

pertanyaan dengan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05.

Tabel 4.11
Hasil Uji Validitas Skeptisme Profesional

Nomor Pearson Sig


Keterangan
Butir Pertanyaan Corelation (2-Tailed)
34 (SP1) 0,828** 0,000 Valid
35 (SP2) 0,790** 0,000 Valid
36 (SP3) 0,874** 0,000 Valid
37 (SP4) 0,678** 0,000 Valid
38 (SP5) 0,830** 0,000 Valid
39 (SP6) 0,768** 0,000 Valid
Sumber: Data primer yang diolah dengan SPSS

Tabel 4.11 menunjukkan variabel skeptisme profesional

mempunyai kriteria valid untuk semua item pertanyaan dengan

nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05.

80
Tabel 4.12
Hasil Uji Validitas Ketepatan Pemberian Opini Audit

Nomor Pearson Sig


Keterangan
Butir Pertanyaan Corelation (2-Tailed)
40 (KPOA1) 0,820** 0,000 Valid
41 (KPOA2) 0,800** 0,000 Valid
42 (KPOA3) 0,769** 0,000 Valid
43 (KPOA4) 0,459** 0,000 Valid
44 (KPOA5) 0,585** 0,000 Valid
45 (KPOA6) 0,662** 0,000 Valid
46 (KPOA7) 0,465** 0,000 Valid
47 (KPOA8) 0,839** 0,000 Valid
48 (KPOA9) 0,769** 0,000 Valid
49 (KPOA10) 0,472** 0,000 Valid
Sumber: Data primer yang diolah dengan SPSS

Tabel 4.12 menunjukkan variabel ketepatan pemberian

opini audit mempunyai kriteria valid untuk semua item

pertanyaan dengan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05.

b. Hasil Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas dilakukan untuk menilai konsistensi dari

instrumen penelitian. Suatu instrumen penelitian dapat

dikatakan reliabel jika nilai Cronbach Alpha berada diatas 0,7

(Imam Ghozali, 2011). Tabel 4.13 menunjukkan hasil uji

reliabilitas untuk lima variabel penelitian yang digunakan

dalam penelitian ini.

81
Tabel 4.13
Hasil Uji Reliabilitas

Cronbach’s
Variabel Keterangan
Alpha
Independensi 0,904 Reliabel
Keahlian 0,718 Reliabel
Pengetahuan Akuntansi 0,861 Reliabel
dan Auditing
Skeptisme Profesional 0,875 Reliabel
Ketepatan Pemberian Opini 0,856 Reliabel
Audit
Sumber: Data primer yang diolah dengan SPSS

Tabel 4.13 menunjukkan variabel independensi, keahlian,

pengetahuan akuntansi dan auditing, serta skeptisme

profesional yang masing-masing memiliki Cronbach’s Alpha

sebesar 0,904; 0,718; 0,861; 0,875 dan variabel dependen

ketepatan pemberian opini audit sebesar 0,856. Dengan

demikian, dapat disimpulkan bahwa pernyataan dalam

kuesioner ini reliabel karena mempunyai nilai cronbach’s

alpha lebih besar dari 0,7. Hal ini menunjukkan bahwa setiap

item pernyataan yang digunakan akan mampu memperoleh

data yang konsisten yang berarti bila pernyataan itu diajukan

kembali akan diperoleh jawaban yang relatif sama dengan

jawaban sebelumnya.

82
3. Hasil Uji Asumsi Klasik

a. Hasil Uji Multikolonieritas

Untuk mendeteksi adanya problem multikolonieritas,

maka dapat dilakukan dengan melihat nilai Tolerance dan

Variance Inflation Factor (VIF) serta besaran korelasi antar

variabel independen.

Tabel 4.14
Hasil Uji Multikolonieritas

Coefficientsa
Collinearity Statistics
Model Tolerance VIF
1 (Constant)
Independensi .693 1.442
Keahlian .714 1.400
Pengetahuan Akuntansi .723 1.384
dan Auditing
Skeptisme Profesional .749 1.336
a. Dependent Variable: Ketepatan Pemberian Opini Audit
Sumber: Data primer yang diolah

Berdasarkan tabel 4.14 diatas terlihat bahwa nilai

tolerance mendekati angka 1 dan nilai variance inflation factor

(VIF) dibawah angka 10 untuk setiap variabel, yang

ditunjukkan dengan nilai tolerance untuk Independensi,

Keahlian, Pengetahuan Akuntansi dan Auditing, serta

Skeptisme Profesional masing-masing sebesar 0,693; 0,714;

83
0,723; 0,749 serta masing-masing mempunyai VIF 1,442;

1,400; 1,384; 1,336. Dengan demikian, dapat disimpulkan

bahwa model persamaan regresi tidak terdapat problem

multikolonieritas dan dapat digunakan dalam penelitian ini.

b. Hasil Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah dalam

sebuah model regresi, variabel dependen dan variabel

independen atau keduanya mempunyai distribusi normal atau

tidak. Model regresi yang baik adalah distribusi data normal

atau mendekati normal.

84
Gambar 4.1
Hasil Uji Normalitas Menggunakan Grafik P-Plot

Sumber: Data primer yang diolah

Gambar 4.1 grafik normal probability plot of regresison

standardized menunjukan pola grafik yang normal. Hal ini

terlihat dari titik-titik yang menyebar di sekitar garis diagonal

dan penyebarannya mengikuti garis diagonal.

Selain dengan melihat grafik, dalam penelitian ini

normalitas data juga dilihat dengan menggunakan uji statistik

non-parametrik Kolmogorov-Smirnov pada alpha sebesar 5%.

85
Jika nilai signifikansi dari pengujian Kolmogorov-Smirnov

lebih besar dari 0,05 berarti data normal.

Tabel 4.15
Hasil Uji Normalitas Menggunakan Kolmogorov-Smirnov
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized
Residual

N 67
a,,b
Normal Parameters Mean .0000000

Std. Deviation 2.77781650

Most Extreme Differences Absolute .103

Positive .064

Negative -.103

Kolmogorov-Smirnov Z .840

Asymp. Sig. (2-tailed) .481

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.


Sumber: Data primer yang diolah

Terlihat bahwa nilai signifikan dari pengujian

Kolmogorov-Smirnov sebesar 0,481; dengan nilai signifikansi

di atas 0,05 berarti bahwa hipotesis nol diterima atau nilai

residual terdistribusi secara normal.

c. Hasil Uji Heteroskedastisitas

Pengujian heteroskedastisitas dilakukan untuk menguji

apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan

varians dari residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang

86
lain. Jika varians dari residual dari suatu pengamatan ke

pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas.

Gambar 4.2
Grafik Scatterplot

Sumber: Data primer yang diolah dengan SPSS

Berdasarkan gambar 4.2, grafik scatterplot menunjukkan

bahwa data tersebar di atas dan di bawah angka 0 (nol) pada

sumbu Y dan tidak terdapat suatu pola yang jelas pada

penyebaran data tersebut. Hal ini berarti tidak terjadi

heteroskedastisitas pada model persamaan regresi, sehingga

model regresi layak digunakan untuk memprediksi ketepatan

pemberian opini audit berdasarkan variabel yang

mempengaruhinya, yaitu independensi, keahlian, pengetahuan

akuntansi dan auditing, serta skeptisme profesional. Namun,

87
analisis grafik plots memiliki kelemahan yang cukup

signifikan oleh karena jumlah pengamatan mempengaruhi

hasil ploting. Semakin sedikit jumlah pengamatan semakin

sulit menginterpretasikan grafik plot. Oleh sebab itu,

diperlukan uji statistik yang dapat menjamin keakuratan

hasil, salah satunya menggunakan uji glejser.

Tabel 4.16

Hasil Uji Glejser Heteroskedastisitas


Coefficientsa

Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Std.
Mode B Error Beta t Sig.
1 (Constant) -4.417 3.037 -1.454 .151
Independensi .015 .062 .035 .244 .808
Keahlian -.065 .096 -.096 -.673 .504
Pengetahuan .075 .071 .151 1.060 .293
Akuntansi
dan Auditing
Skeptisme .184 .105 .244 1.748 .085
Profesional
a. Dependent Variable: ABS_RES

88
Tabel 4.16 menunjukkan bahwa nilai signifikansi t sebesar

0,808; 0,504; 0,293; 0,085. Tingkat probabilitas di atas 5%

tersebut berarti tidak ada indikasi heteroskedastisitas dalam

model regresi.

4. Hasil Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan model

analisis regresi berganda (multiple regression analysis), yaitu:

a. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Uji koefisien determinasi dilakukan untuk mengetahui

seberapa besar kemampuan model variabel independen untuk

menjelaskan variabel dependen.

Tabel 4.17
Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)
Model Summaryb
Adjusted R Std. Error of
Model R R Square Square the Estimate
1 .629a .396 .357 2.866
a. Predictors: (Constant), Skeptisme Profesional,
Pengetahuan Akuntansi dan Auditing, Keahlian,
Independensi
b. Dependent Variable: Ketepatan Pemberian Opini Audit
Sumber: Data primer yang diolah

Tabel 4.17 menunjukkan nilai adjusted R2 sebesar 0,357.

Hal ini menandakan bahwa variabel Independensi, Keahlian,

89
Pengetahuan Akuntansi dan Auditing, serta Skeptisme

Profesional bisa menjelaskan 35,7% variasi variabel Ketepatan

Pemberian Opini Audit. Sedangkan 64,3% sisanya dijelaskan

oleh faktor-faktor lain yang tidak disertakan dalam model

penelitian ini.

b. Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t)

Uji t dilakukan untuk melihat apakah variabel

independen secara individu memiliki dampak yang signifikan

terhadap variabel dependen, serta untuk membuktikan

variabel mana yang paling dominan. Hasil uji statistik t

dapat dilihat pada tabel 4.18, jika nilai probabilitas lebih

kecil dari 0,05 maka Ha diterima dan menolak H0.

Sedangkan jika nilai probabilitas lebih besar dari 0,05 maka

H0 diterima dan menolak Ha.

Tabel 4.18 dibawah ini menunjukkan bahwa variabel

pengetahuan akuntansi dan auditing serta variabel skeptisme

profesional berpengaruh secara signifikan dan positif

terhadap variabel ketepatan pemberian opini audit, namun

variabel independensi dan keahlian tidak berpengaruh

terhadap variabel k e t e p a t a n p e m b e r i a n o p i n i a u d i t .

Variabel independensi, keahlian, pengetahuan akuntansi dan

auditing, serta skeptisme profesional mempunyai tingkat

90
signifikansi sebesar 0,110; 0,296; 0,040; 0,015. Hasil Uji

Statistik t dapat dilihat dalam tabel 4.18 berikut ini:

Tabel 4.18
Hasil Uji Statistik t

a
Coefficients

Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients

Model B Std. Error Beta t Sig.

1 (Constant) 11.989 4.742 2.528 .014

Independensi .158 .097 .192 1.620 .110

Keahlian .158 .150 .123 1.055 .296

Pengetahuan .231 .111 .243 2.093 .040


Akuntansi dan
Auditing

Skeptisme .410 .164 .285 2.497 .015


Profesional

a. Dependent Variable: Ketepatan Pemberian Opini Audit

Sumber: Data primer yang diolah dengan SPSS

Hasil Uji Hipotesis 1: Pengaruh independensi terhadap

ketepatan pemberian opini audit

Hasil uji hipotesis 1 dapat dilihat pada tabel 4.18, variabel

independensi mempunyai tingkat signifikansi sebesar 0,110.

Hal ini berarti menolak H1, maka dapat disimpulkan bahwa

variabel independensi tidak berpengaruh secara signifikan

terhadap ketepatan pemberian opini audit karena tingkat

91
signifikansi yang dimiliki variabel independensi lebih besar

dari 0,05.

Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang

dilakukan oleh Sukriah, et. al. (2009) yang menyatakan bahwa

kualitas hasil pemeriksaan, atau dengan kata lain opini audit,

tidak dipengaruhi oleh independensi auditor. Hasil penelitian

tidak signifikan disebabkan karena pada saat penyusunan

program pemeriksaan masih ada intervensi pimpinan untuk

menentukan, mengeliminasi, atau memodifikasi bagian-bagian

tertentu yang akan diperiksa, serta intervensi atas prosedur-

prosedur yang dipilih oleh auditor (Sukriah, et. al., 2009).

Tudingan pelanggaran independen dalam penampilan

sering terjadi. Setidaknya terdapat dua hal penyebab

pelanggaran ini yaitu: pertama, kantor akuntan publik

melakukan multi service pada klien yang sama dan kedua,

tidak ada batasan lamanya kantor akuntan publik yang

sama melakukan audit pada klien yang sama

(Christiawan, 2002). Beberapa bukti penelitian menyatakan

bahwa pemakai laporan percaya jumlah consulting service

yang besar akan menurunkan independensi auditor (AAA

Financial Accounting Standard Committee, 2000 dalam

Christiawan, 2002). Sebab lainnya bahwa sebagian akuntan

92
publik tidak melakukan rotasi terhadap audit partnernya dan di

sisi lain perusahaan tidak memiliki kebijakan untuk merotasi

akuntan publiknya (Christiawan, 2002).

Berbeda dengan hasil penelitian Mayangsari (2002) serta

Yuskar dan Devisia (2011) yang menyatakan bahwa

independensi auditor berpengaruh terhadap pemberian opini

audit oleh akuntan publik. Perbedaan ini disebabkan karena

adanya perbedaan karakteristik responden, baik dari segi

jumlah ataupun wilayah.

Hasil Uji Hipotesis 2: Pengaruh keahlian terhadap

ketepatan pemberian opini audit

Hasil uji hipotesis 2 dapat dilihat pada tabel 4.18, variabel

keahlian mempunyai tingkat signifikansi sebesar 0,296. Hal ini

berarti menolak H2, maka dapat disimpulkan bahwa variabel

keahlian tidak berpengaruh secara signifikan terhadap

ketepatan pemberian opini audit karena tingkat signifikansi

yang dimiliki variabel keahlian lebih besar dari 0,05.

Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil

penelitian yang dilakukan Gusti dan Ali (2008) serta

Sabrina dan Januarti (2012) bahwa keahlian tidak berpengaruh

signifikan terhadap ketepatan pemberian opini audit. Namun

93
bertolak belakang dengan hasil penelitian Mayangsari (2003)

dan Suraida (2005).

Simamora (2002) dalam Sabrina dan Januarti (2012)

menyatakan keahlian ditentukan oleh pendidikan kesarjanaan

formal, pelatihan dan partisipasi dalam program edukasi yang

berkelanjutan selama karir profesi, semakin tinggi tingkat

pendidikan kesarjanaan formalnya maka semakin tepat dalam

melaksanakan prosedur audit sehingga opini yang diberikan

tepat.

Alasan tidak signifikannya variabel keahlian menurut

dugaan Sabrina dan Januarti (2012), adalah karena sebagian

besar responden berpendidikan S1 sehingga tidak semahir

auditor berpendidikan S2 dalam memberikan opininya.

Kondisi ini sama seperti yang terjadi pada penelitian ini,

dimana jumlah responden sebesar 91% adalah S1, sedangkan

jumlah responden dengan pendidikan S2 hanya sebesar 4,5%.

Hasil penelitian ini didukung oleh Gusti dan Ali (2008).

Menurut Gusti dan Ali (2008), hasil penelitian mereka dengan

menggunakan keahlian sebagai variabel independen

menyatakan bahwa keahlian audit mempunyai hubungan yang

tidak signifikan terhadap ketepatan pemberian opini auditor

oleh akuntan publik, sehingga belum tentu auditor yang

94
memiliki keahlian audit yang baik dapat menemukan temuan

audit yang akan diungkapkan dalam bentuk opini auditor

secara baik.

Hasil Uji Hipotesis 3: Pengaruh pengetahuan akuntansi

dan auditing terhadap ketepatan pemberian opini audit

Hasil uji hipotesis 3 dapat dilihat pada tabel 4.18, variabel

pengetahuan akuntansi dan auditing mempunyai tingkat

signifikansi sebesar 0,040. Hal ini berarti menerima H3, maka

dapat disimpulkan bahwa variabel pengetahuan akuntansi dan

auditing berpengaruh secara signifikan dan positif terhadap

ketepatan pemberian opini audit karena tingkat signifikansi

yang dimiliki variabel pengetahuan akuntansi dan auditing

lebih kecil dari 0,05.

Hal ini menunjukkan bahwa setiap tindakan dan keputusan

yang diambil auditor dalam melakukan audit adalah

berdasarkan pengetahuan akuntansi dan auditing yang dimiliki.

Hal itu dikarenakan pekerjaan tersebut tidak lepas dari

akuntansi dan auditing maka pengetahuan yang baik tentang

akuntansi dan auditing merupakan syarat yang utama, sebab

auditor tidak akan dapat menjalankan pekerjaan tersebut tanpa

dilandasi dengan pengetahuan yang baik.

95
Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan

oleh Nataline (2007), serta Mardisar dan Sari (2007) bahwa

pengetahuan akuntansi dan auditing berpengaruh signifikan

terhadap kualitas hasil kerja auditor atau dengan kata lain

berpengaruh terhadap ketepatan pemberian opini audit.

Semakin tinggi tingkat pengetahuan seorang auditor maka

semakin tinggi pula ketepatan pemberian opini audit yang

dihasilkan dan dapat bermanfaat bagi para pemakai laporan

keuangan dalam mengambil keputusan.

Hasil Uji Hipotesis 4: Pengaruh skeptisme profesional

terhadap ketepatan pemberian opini audit

Hasil uji hipotesis 4 dapat dilihat pada tabel 4.18, variabel

skeptisme profesional mempunyai tingkat signifikansi sebesar

0,015. Hal ini berarti menerima H4, maka dapat disimpulkan

bahwa variabel sketisme profesional berpengaruh secara

signifikan dan positif terhadap ketepatan pemberian opini audit

karena tingkat signifikansi yang dimiliki variabel skeptisme

profesional lebih kecil dari 0,05.

Skeptisme profesional auditor adalah sikap yang

mencakup pikiran yang selalu mempertanyakan dan

melakukan evaluasi secara skeptis terhadap bukti audit

96
(Gusti dan Ali, 2008). Skeptisme profesional dapat dilatih oleh

auditor dalam melaksanakan tugas audit, pemberian opini audit

akuntan harus didukung oleh bukti audit kompeten yang

cukup, dimana dalam mengumpulkan bukti audit auditor harus

senantiasa menggunakan skeptisme profesionalnya yaitu sikap

yang mencakup pikiran yang selalu mempertanyakan dan

melakukan evaluasi secara kritis terhadap bukti audit

(SPAP, 2001) agar diperoleh bukti-bukti yang meyakinkan

sebagai dasar dalam pemberian opini akuntan.

Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian

Suraida (2005), serta Gusti dan Ali (2008) bahwa skeptisme

profesional berpengaruh signifikan dan positif terhadap

ketepatan pemberian opini audit.

c. Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F)

Uji statistik F dapat dilihat pada tabel 4.19, jika nilai

probabilitas lebih kecil dari 0,05 maka Ha diterima dan

menolak H0. Sedangkan jika nilai probabilitas lebih besar dari

0,05 maka H0 diterima dan menolak Ha (Ghozali, 2011). Uji

statistik F dilakukan untuk mengetahui pengaruh semua

variabel independen yang dimasukkan ke dalam variabel

model regresi secara bersama-sama terhadap variabel

dependen.

97
Hasil Uji Statistik Signifikansi Simultan (Uji F) dapat

dilihat dalam tabel 4.19 berikut ini:

Tabel 4.19
Hasil Uji Statistik F

b
ANOVA

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.


a
1Regression 333.592 4 83.398 10.153 .000

Residual 509.273 62 8.214

Total 842.866 66

a. Predictors: (Constant), Skeptisme Profesional, Pengetahuan Akuntansi dan Auditing,


Keahlian, Independensi

b. Dependent Variable: Ketepatan Pemberian Opini Audit


Sumber: Data primer yang diolah dengan SPSS

Hasil Uji Hipotesis 5: Pengaruh independensi, keahlian,

pengetahuan akuntansi & auditing, serta skeptisme

profesional terhadap ketepatan pemberian opini audit

Tabel dari F-test didapat nilai F hitung sebesar 10,153

dengan tingkat signifikansi 0,000. Probabilitas signifikansi

lebih kecil dari 0,05, maka model regresi dapat digunakan

untuk memprediksi Ketepatan Pemberian Opini Audit atau

dapat dikatakan Independensi, Keahlian, Pengetahuan

Akuntansi dan Auditing, serta Skeptisme Profesional

berpengaruh terhadap Ketepatan Pemberian Opini Audit. Hasil

penelitian ini konsisten dengan penelitian Gusti dan Ali

98
(2008), Mardisar dan Sari (2007), serta Sabrina dan Januarti

(2012).

Berdasarkan tabel 4.18, maka diperoleh model persamaan

regresi sebagai berikut:

Y = α + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + β4 X4 + e

Y = 11,989 + 0,158X1 + 0,158X2 + 0,231X3 + 0,410X4 + e

Keterangan:

Y = Ketepatan Pemberian Opini Audit


a = Konstanta
b = Koefisien Regresi
X1 = Independensi
X2 = Keahlian
X3 = Pengetahuan Akuntansi dan Auditing
X4 = Skeptisme Profesional
e = Standar error

Pada persamaan regresi di atas menunjukkan nilai

konstanta sebesar 11,989. Hal ini menyatakan bahwa jika

variabel independensi, keahlian, pengetahuan akuntansi dan

auditing, serta skeptisme profesional auditor dianggap 0, maka

ketepatan pemberian opini audit akan meningkat sebesar

11,989 satuan.

Koefisien regresi pada variabel independensi sebesar

0,158 (15,8%); hal ini menunjukkan jika variabel independensi

99
mengalami kenaikan 1% maka variabel ketepatan pemberian

opini meningkat sebesar 15,8%; dengan catatan nilai variabel

independen lainnya tetap.

Koefisien regresi pada variabel keahlian sebesar 0,158

(15,8%); hal ini berarti jika variabel keahlian megalami

kenaikan 1% maka variabel ketepatan pemberian opini audit

meningkat sebesar 15,8%; dengan catatan nilai variabel

independen lainnya tetap.

Koefisien regresi pada variabel pengetahuan akuntansi dan

auditing sebesar 0,231 (23,1%); hal ini berarti jika variabel

pengetahuan akuntansi dan auditing mengalami kenaikan 1%

maka variabel ketepatan pemberian opini audit meningkat

sebesar 23,1%; dengan catatan nilai variabel independen

lainnya tetap.

Koefisien regresi pada variabel skeptisme profesional

sebesar 0,410 (41%); hal ini berarti jika variabel skeptisme

profesional mengalami kenaikan 1% maka variabel ketepatan

pemberian opini audit meningkat sebesar 41%, dengan catatan

nilai variabel independen lainnya tetap.

Seluruh variabel independen masing-masing koefisiennya

bernilai positif. Hal tersebut berarti terjadi hubungan positif

antara tiap variabel independen yaitu independensi, keahlian,

100
pengetahuan akuntansi dan auditing, serta skeptisme

profesional terhadap variabel dependen ketepatan pemberian

opini audit. Semakin tinggi independensi, keahlian,

pengetahuan akuntansi dan auditing, serta skeptisme

profesional yang dimiliki seorang auditor maka akan semakin

meningkat ketepatan pemberian opini audit.

101
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh independensi,

keahlian, pengetahuan akuntansi dan auditing, serta skeptisme profesional

terhadap ketepatan pemberian opini audit. Responden dalam penelitian ini

berjumlah 67 orang auditor yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik (KAP)

yang terletak di DKI Jakarta dan berdasarkan Directory KAP yang diterbitkan

oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) pada tahun 2012. Berdasarkan

pada data yang telah dikumpulkan dan pengujian yang telah dilakukan

terhadap permasalahan dengan menggunakan model regresi berganda, maka

dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Independensi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ketepatan

pemberian opini audit. Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan

peneltian Mayangsari (2002) dan Yuskar & Devisia (2011). Namun

sejalan dengan penelitian Christiawan (2002) dan Sukriah, et. al. (2009).

2. Keahlian tidak berpengaruh secara signifikan terhadap

ketepatan pemberian opini audit. Hasil penelitian ini konsisten

dengan hasil penelitian yang dilakukan Gusti dan Ali (2008) serta

Sabrina dan Januarti (2012).

3. Pengetahuan akuntansi dan auditing berpengaruh signifikan dan positif

terhadap ketepatan pemberian opini audit. Hasil penelitian ini mendukung

102
hasil penelitian yang dilakukan oleh Mardisar dan Sari (2007) bahwa

pengetahuan akuntansi dan auditing berpengaruh signifikan terhadap

ketepatan pemberian opini audit.

4. Skeptisme profesional berpengaruh signifikan dan positif terhadap

ketepatan pemberian opini audit. Hasil penelitian ini konsisten

dengan penelitian Gusti dan Ali (2008) bahwa skeptisme profesional

berpengaruh terhadap ketepatan pemberian opini audit.

5. Dalam penelitian ini setelah dilakukan pengujian terhadap kelima

variabel independen secara bersama-sama (simultan) ternyata dapat

disimpulkan bahwa independensi, keahlian, pengetahuan akuntasi dan

auditing, serta skeptisme profesional berpengaruh secara simultan dan

positif terhadap ketepatan pemberian opini audit. Hasil penelitian ini

mendukung penelitian yang dilakukan oleh penelitian Christiawan (2002),

Gusti dan Ali (2008), Mardisar dan Sari (2007), serta

Sabrina dan Januarti (2012).

B. Implikasi

Berdasarkan hasil analisis, implikasi dari penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1. Bagi mahasiswa jurusan akuntansi, penelitian ini bermanfaat sebagai

bahan referensi penelitian selanjutnya dan pembanding untuk

mengembangkan ilmu pengetahuan, khususnya mengenai ketepatan

pemberian opini audit.

103
2. Bagi masyarakat, sebagai sarana informasi tentang gambaran profesi

akuntan publik yang cakap serta menambah pengetahuan tentang

akuntansi dan auditing dengan memberikan bukti empiris tentang faktor-

faktor yang mempengaruhi ketepatan pemberian opini audit.

3. Bagi peneliti berikutnya, sebagai bahan referensi tambahan dalam

melaksanakan penelitian lebih lanjut khususnya mengenai ketepatan

pemberian opini audit.

4. Bagi auditor dan Kantor Akuntan Publik (KAP), hasil penelitian ini

membuktikan bahwa pengetahuan akuntansi dan auditing, serta skeptisme

profesional memberikan dampak kepada ketepatan pemberian opini audit.

Semakin tinggi tingkat pengetahuan akuntansi dan auditing serta

skeptisme profesional yang dimiliki oleh para auditor, khususnya auditor

yang bekerja di KAP, maka akan semakin tepat opini yang diberikan

dalam mengaudit laporan keuangan.

C. Saran

Penelitian ini di masa mendatang diharapkan dapat menyajikan hasil

penelitian yang lebih berkualitas lagi dengan adanya beberapa masukan

mengenai beberapa hal diantaranya:

1. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk menambah atau mengganti

variabel-variabel yang berpengaruh terhadap ketepatan pemberian opini

audit, dimana ketepatan pemberian opini audit dapat dipengaruhi oleh

104
beberapa factor lain, seperti tenure audit, fee audit, objektifitas, dan

integritas.

2. Penelitian lebih lanjut diharapkan dapat memperluas daerah survey

sehingga hasil penelitian lebih mungkin untuk disimpulkan secara lebih

lengkap, serta diharapkan dapat memfokuskan penelitian pada grup

tertentu, misalnya untuk senior auditor, supervisor, dan manajer, yang

memiliki tingkat pendidikan minimum S1 dan pengalaman bekerja sebagai

auditor lebih dari 3 tahun, khususnya dalam penelitian mengenai ketepatan

pemberian opini audit.

3. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menambah sampel penelitian yang

lebih banyak agar lebih mendapatkan gambaran keadaan secara lebih luas

dari objek yang diteliti.

4. Penelitian yang menggunakan kuesioner dengan auditor eksternal sebagai

responden disarankan untuk dilakukan pada waktu kantor akuntan publik

sedang low season yakni sekitar bulan April hingga September, hal ini

untuk memudahkan peneliti dalam megumpulkan data secara lebih leluasa

dan lengkap jika kembali menjadikan auditor sebagai sampel penelitian.

105
DAFTAR PUSTAKA

Abu Bakar, et. al. ”Factors Influencing Auditor Independence: Malaysian Loan
Officers’ Perceptions”, Managerial Auditing Journal Vol. 20 No. 8,
Department of Accounting Faculty of Economics and Mangement Sciences
International Islamic University Malaysia, Kuala Lumpur, 2005.

Agoes, Sukrisno. “Auditing (Pemeriksaan Akuntan) oleh Kantor Akuntan Publik”,


Jilid 1, Edisi ketiga. LPFE UI, Jakarta, 2007.

Arens, et. al. “Auditing dan jasa Assurance Pendekatan Terintegrasi”. Jilid I,
Edisi keduabelas, Erlangga, 2008.

Arens dan Loebbecke. “Auditing Pendekatan Terpadu”. Diadaptasi oleh Amir


Abadi Jusuf. Edisi Indonesia, Penerbit Salemba Empat, Jakarta, 2003.

Boynton, et. al. “Modern Auditing: Assurance Services and The Integrity of
Financial Reporting”. Eight Edition, John Wiley and Sons, Inc, United
State of America, 2006.

Christiawan, Yulius Yogi. “Kompetensi dan Independensi Akuntan


Publik:Refleksi Hasil Penelitian Empiris” Jurnal Akuntansi dan Keuangan
Vol 4 No.2 hal 79-92, 2002.

Departemen Pendidikan Nasional. “Kamus Besar Bahasa Indonesia”. Edisi


Ketiga, Balai Pustaka, 2005.

Desyanti, Ni Putu Eka dan Ni Made Dwi Ratnadi. “Pengaruh Independensi,


Keahlian Profesional, dan Pengalaman Kerja Pengawas Intern terhadap
Efektifitas Penerapan Struktur Pengendalian Intern pada Bank
Perkreditan Rakyat di Kabupaten Bandung”. Jurnal Akuntansi dan Bisnis,
Universitas Udayana Bali, 2006.

Fitriyani, Tisha Kartika. “Pengaruh Akuntabilitas, Pengetahuan Akuntansi dan


Auditing serta Batasan Waktu Audit terhadap Kualitas Hasil Kerja
Auditor pada Kantor Akuntan Publik (KAP) di Jakarta”. Skripsi,
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2012.

Ghozali, Imam. “Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS”.


Universitas Diponegoro, Semarang, 2009.

Ghozali, Imam. “Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS”.


Universitas Diponegoro, Semarang, 2011.

106
Gusti, Maghrifah dan Syahril Ali. “Hubungan Skeptisme Profesional Auditor dan
Situasi Audit, Etika, Pengalaman serta Keahlian Audit dengan ketepatan
Pemberian Opini Auditor oleh Akuntan Publik”. Simposium Nasional
Akuntansi XI, Pontianak, 2008.

Guy, et. al. “Auditing”. Edisi 5, Jilid 1, Erlangga, Jakarta, 2001.

Halim, Abdul. “Auditing 1 ( Dasar-Dasar Audit Laporan Keuangan )”.


AMP YKPN, Yogyakarta, 2001.

Hamid, Abdul. “Panduan Penulisan Skripsi”. UIN press, Jakarta, 2012.

Herawaty, Arleen dan Yulius K. Susanto. “Pengaruh Profesionalisme,


Pengetahuan Mendeteksi Kekeliruan, dan Etika profesi terhadap
Pertimbangan Tingkat Materialitas Akuntan Publik”. Jurnal Akuntansi
dan Keuangan Vol. 11, No. 1, 2009.

Ikatan Akuntan Indonesia. “Standar Profesional Akuntan Publik”. Salemba


Empat, Jakarta, 2012.

Ikhsan, Arfan, dan Muhammad Ishak. "Akuntansi Keperilakuan". Salemba Empat,


Jakarta, 2005.

Indah, Siti Nur Mawar. “Pengaruh Kompetensi dan Independensi terhadap


Kualitas Audit (Studi Empiris pada Auditor KAP di Semarang)”. Skripsi,
Universitas Diponegoro, Semarang, 2010.

Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo. “Metodologi Penelitian Bisnis untuk


Akuntansi dan Manajemen”. Edisi Pertama, Cetakan Ketiga, BFE,
Yogyakarta, 2009.

Ikatan Akuntan Indonesia. “Standar Professional Akuntan Publik”. Jakarta, 2001.

Institut Akuntan Publik Indonesia. “Directory 2012 Kantor Akuntan Publik dan
Akuntan Publik”. Jakarta, 2012.

Justiana, Dita. “Pengaruh Etika, Independensi, Pengalaman dan Keahlian Auditor


terhadap Opini Audit”. Skripsi, Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta, 2010.

107
Koran Jakarta. “Skandal Olympus Ancam Kredibilitas Jepang”. http://koran-
jakarta.com/index.php/detail/view01/74727. 2011. Diakses pada tanggal
10 Januari 2013.

Ludigdo, Unti. “Strukturisasi Praktik Etika di Kantor Akuntan Publik: Sebuah


Studi Interpretif”. Simposium Nasional Akuntansi IX, Padang, Agustus,
2006.

Mardisar, Diani dan Ria Nelly Sari. ”Pengaruh Akuntabilitas dan Pengetahuan
terhadap Kualitas Hasil Kerja Auditor “. Simposium Nasional Akuntansi
X, Makassar, 2007.

Mayangsari, Sekar. 2003. “Pengaruh Keahlian Audit dan Independensi terhadap


Pendapat Audit: Sebuah Kuasiaeksperimen”. Jurnal Riset Akuntansi
Indonesia Vol 6, 2003.

Mayasari, Dian. “Pengaruh Profesionalisme, Independensi, Kompetensi, Etika


Profesi, dan Pengetahuan Auditor dalam Mendeteksi Kekeliruan terhadap
Ketepatan Pemberian Opini Audit oleh Auditor”. Skripsi, UIN Syarif
Hidayatullah, Jakarta, 2011.

Meutia, Intan. “Pengaruh Independensi Auditor terhadap Manajemen Laba


untuk KAP Big 5 dan Non Big 5”. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol.
7, No. 3, 2004.

Mulyadi. "Auditing", Edisi ketujuh, Salemba Empat, Jakarta, 2010.

Nasution, Hafifah. “Pengaruh Akuntabilitas, Independendi, Pengetahuan dan


Pengalaman Audit terhadap Kualitas Hasil Kerja Auditor”. Skripsi, UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010.

Nataline. “Pengaruh Batasan Waktu Audit, Pengetahuan Akuntansi dan Auditing,


Bonus Serta Pengalaman terhadap Kualitas Audit”. Skripsi, Universitas
Negeri Semarang, 2007.

Noviyani, Putri dan Bandi. “Pengaruh Pengalaman dan Pelatihan terhadap


Struktur Pengetahuan Auditor tentang Kekeliruan”. Simposium Nasional
Akuntansi V, Semarang, 2002.

108
Noviyanti, Suzy. “Skeptisisme Profesional Auditor dalam Mendeteksi
Kecurangan untuk Mencapai Prosedur Audit yang Efektif”. Disertasi
Tidak Dipublikasikan, Program Doktor, Universitas Diponegoro,
Semarang, 2008.

Praptapa, Agung. “Konsep Akuntansi Keprilakuan”.


http://apbehavioralaccounting.blogspot.com/2009/03/konsep-akuntansi-
keperilakuan.html . 2009. Diakses pada tanggal 25 Maret 2013.

Pesek, William. “Olympus, Skandal Korporasi Baru di Jepang”.


http://www.indonesiafinancetoday.com/read/16661/Olympus-Skandal-
Korporasi-Baru-di-Jepang. 2011. Diakses pada tanggal 10 Januari 2013.

Rahayu, Siti Kurnia dan Ely Suhayati. “Auditing Konsep Dasar dan Pedoman
Pemeriksaan Akuntan Publik”. Graha Ilmu, Yogyakarta, 2010.

Sabrina dan Indira Januarti. “Pengaruh Pengalaman, Keahlian, Situasi Audit,


Etika, dan Gender terhadap Ketepatan Pemberian Opini Audit melalui
Skeptisme Profesional Auditor (Studi Kasus Pada KAP Big Four di
Jakarta)”. Simposium Nasional Akuntansi XV, Banjarmasin, 2012.

Sari, Ratna. “Pengaruh Skeptisme Profesional Auditor, Keahlian Audit dan


Pengalaman Auditor terhadap Ketepatan Pemberian Opini Audit pada
Akuntan Publik di DKI Jakarta”. Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
2011.

Sasongko, Noer. “Konsep Keprilakuan dari Psikologi dan Psikologi Sosial”.


http://akuntansikeperilakuan.blogspot.com/. 2009. Diakses pada tanggal
25 Maret 2013.

Sawyer, B. Lawrence, et. al. “Internal Auditing”. Buku 1, Salemba Empat,


Jakarta, 2006.

Simamora, Henry. “Auditing”. Unit Penerbit dan Percetakan (UPP) AMP YKPN,
Yogyakarta, 2002.

Sukriah, et. al. “Pengaruh Pengalaman Kerja, Independensi, Obyektifitas,


Integritas dan Kompetensi terhadap Kualitas Hasil Pemeriksaan”. SNA XII
Palembang, 2009.

109
Suraida, Ida. “Pengaruh Etika, Kompetensi, Pengalaman Audit dan Risiko Audit
terhadap Skeptisisme Profesional Auditor dan Ketepatan Pemberian Opini
Akuntan Publik”. Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran,
Sosiohumaniora, Vol. 7, No. 3, Bandung, 2005.

Trianingsih, Sri. “Independensi Auditor dan Komitmen Organisasi Sebagai


Mediasi Pengaruh Pemahaman Good Governence, Gaya Kepemimpinan
dan Budaya Organisasi terhadap Kinerja Auditor”. Simposium Nasional
Akuntansi X, Makassar, 2007.

Wahyudi, Teguh. “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Audit


dengan Pemanfaatan Teknologi Informasi sebagai Variabel Moderating”.
Skripsi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011.

Windarti, Gustami Ika. “Pengaruh Independensi Auditor, Pengalaman


Organisasi, dan Supervisi terhadap Kinerja Auditor (Studi Empiris pada
Kantor Akuntan Publik di Jakarta)”. Skripsi, Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011.

Zulaikha. “Pengaruh Interaksi Gender, Kompleksitas Tugas, dan Pengalaman


Auditor terhadap Audit Judgement”. Simposium Nasional Akuntansi IX,
Padang, 2006.

110
112
113
115
116
117
118
119
KUESIONER PENGARUH INDEPENDENSI, KEAHLIAN,

PENGETAHUAN AKUNTANSI DAN AUDITING, SERTA

SKEPTISME PROFESIONAL AUDITOR TERHADAP KETEPATAN

PEMBERIAN OPINI AUDIT

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1434 H/2013 M

119
Hal: Permohonan Pengisian Kuesioner Jakarta, Januari 2013

Kepada Yth.
Bapak/Ibu/Sdr/i Responden
Di Tempat

Dengan hormat,
Sehubungan dengan penyelesaian tugas akhir sebagai mahasiswa Program Strata Satu (S1)
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, saya:
Nama : Tania Kautsarrahmelia
NIM : 108082000002
Fak/Jur/Smtr : Ekonomi dan Bisnis/Akuntansi/IX
bermaksud melakukan penelitian ilmiah untuk penyusunan skripsi dengan judul “Pengaruh
Independensi, Keahlian, Pengetahuan Akuntansi dan Auditing, serta Skeptisme
Profesional Auditor terhadap Ketepatan Pemberian Opini Audit oleh Akuntan Publik”.
Untuk itu, saya sangat mengharapkan kesediaan Bapak/Ibu/Sdr/i untuk menjadi responden
dengan mengisi lembar kuesioner ini secara lengkap dan sebelumnya saya mohon maaf telah
menggangu waktu bekerja Bapak/Ibu/Sdr/i. Data yang diperoleh hanya akan digunakan untuk
kepentingan penelitian dan tidak digunakan sebagai penilaian kinerja di tempat Bapak/Ibu/Sdr/i
bekerja, sehingga kerahasiaannya akan saya jaga sesuai dengan etika penelitian.
Informasi yang diperoleh atas partisipasi Bapak/Ibu/Sdr/i merupakan faktor kunci untuk
mengetahui hal-hal yang berpengaruh terhadap ketepatan pemberian opini audit.
 Dimohon untuk membaca setiap pertanyaan secara hati-hati dan menjawab dengan
lengkap semua pertanyaan, karena apabila terdapat salah satu nomor yang tidak diisi
maka kuesioner dianggap tidak berlaku.
 Tidak ada jawaban yang salah atau benar dalam pilihan anda, yang penting memilih
jawaban yang sesuai dengan pendapat anda.

120
Apabila diantara Bapak/Ibu/Sdr/i ada yang membutuhkan hasil penelitian ini, maka
Bapak/Ibu/Sdr/i dapat menghubungi saya (telpon dan e-mail tertera di bawah). Atas kesediaan
Bapak/Ibu/Sdr/i meluangkan waktu untuk mengisi dan menjawab semua pertanyaan dalam
eksperimen ini, saya sampaikan terima kasih.

Dosen Pembimbing Hormat saya,


Peneliti

(Prof. Dr. Azzam Jassin, MBA.,) (Tania Kautsarrahmelia)

121
Nomor : ……… (diisi oleh peneliti)

IDENTITAS RESPONDEN

Nama : …………………….
(boleh tidak diisi)
Nama KAP : …………………….
Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan
Umur : ………… tahun
Posisi Terakhir : Partner Manajer Supervisor
Auditor Senior Auditor Junior
Pendidikan Terakhir : D3 S1 S2 S3
Pengalaman Kerja : < 1 tahun 1-3 tahun > 3 tahun

1. Variabel Independensi (X1)


Berilah tanda silang (X) pada pernyataan di bawah ini sesuai dengan penilaian anda, dimana:
1= Sangat Tidak Setuju (STS) 3= Netral (N) 5= Sangat Setuju (SS)
2= Tidak Setuju (TS) 4= Setuju (S)

No. Pernyataan STS TS N S SS


1. Penyusunan program audit bebas dari campur tangan
untuk menentukan, mengeliminasi, atau memodifikasi
bagian-bagian tertentu yang diperiksa.

2. Penyusunan program audit bebas dari campur tangan


atau sikap tidak mau bekerjasama mengenai penerapan
prosedur yg dipilih.

3. Penyusunan program audit bebas dari usaha-usaha pihak


lain terhadap subjek pekerjaan pemeriksaan yang
disediakan.

122
No. Pernyataan STS TS N S SS
4. Dalam melakukan verifikasi, auditor memperoleh
kebebasan dalam mengakses semua informasi yang
berhubungan dengan kegiatan audit.

5. Selama melakukan verifikasi auditor memperoleh


dukungan dan kerjasama yang baik dengan pihak
manajemen klien.

6. Manajemen klien memberikan kebebasan pada auditor


dalam menentukan bahan bukti yang diperlukan maupun
objek yang akan diperiksa

7. Kegiatan verifikasi auditor harus bebas dari keinginan


pribadi maupun pihak lain untuk memodifikasi bahan
bukti selama aktifitas audit.

8. Auditor harus bebas dari keinginan pribadi maupun


pengaruh pihak lain untuk memodifikasi bahan bukti
selama aktifitas audit.

9. Auditor harus bebas dari tekanan pihak manapun dalam


melaporkan temuan-temuan yang bersifat material.

10. Auditor harus menghindari kata-kata yang menyesatkan


baik secara sengaja maupun tidak sengaja dalam
melaporkan fakta, opini, dan rekomendasi dalam
interpretasi auditor.

11. Auditor harus bebas dalam mengunakan judgement


mengenai fakta dan opini dalam laporan audit.

123
2. Variabel Keahlian (X2)
Berilah tanda silang (X) pada pernyataan di bawah ini sesuai dengan penilaian anda, dimana:
1= Sangat Tidak Setuju (STS) 3= Netral (N) 5= Sangat Setuju (SS)
2= Tidak Setuju (TS) 4= Setuju (S)

No. Pernyataan STS TS N S SS


1. Semakin
1 sering seorang auditor mengikuti diklat,
2
seminar dan lokakarya dapat meningkatkan
.
pengetahuan dan keahlian seorang auditor ketika
melaksanakan pemeriksaan.

2. Pengetahuan,
1 prosedur dan pengalaman auditor
3
mempengaruhi auditor dalam mengambil keputusan.
.
3. Keahlian
1 dapat diperoleh seiring bertambahnya
4
pengetahuan, pengalaman dan jam terbang dalam
.
melakukan pemeriksaan.

4. Kemampuan
1 berkomunikasi mempengaruhi auditor
5
dalam mengambil keputusan.
.
5. Kemampuan
1 kreatifitas dalam mengaudit
6
mempengaruhi auditor dalam mengambil keputusan
.
6. Seorang
1 auditor harus mampu bekerja sama dengan
7
klien sehingga semua kegiatan audit dapat berjalan
.
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

124
3. Variabel Pengetahuan Akuntansi dan Auditing (X3)
Berilah tanda silang (X) pada pernyataan di bawah ini sesuai dengan penilaian anda, dimana:
1= Sangat Tidak Setuju (STS) 3= Netral (N) 5= Sangat Setuju (SS)
2= Tidak Setuju (TS) 4= Setuju (S)

No. Pernyataan STS TS N S SS


1. Pengetahuan
1 akuntansi sangat menunjang ketepatan
8
pemberian opini audit.
.
2. Pengetahuan
1 auditing sangat menunjang ketepatan
9
pemberian opini audit.
.
3. Pengetahuan
2 dan pengalaman praktik akuntansi
mempengaruhi
0 ketepatan pemberian opini audit.
.
4. Pengetahuan
2 dan pengalaman praktik auditing
1
mempengaruhi ketepatan pemb.rian opini audit.
.
5. Pengetahuan
2 Auditor berpengaruh terhadap keputusan
2 dibuat.
yang
.
6. Pengetahuan
2 akuntansi dan auditing dapat membantu
3
auditor mengetahui kekeliruan di suatu perusahaan
.
berikut penyelesaiannya

7. Semakin
2 banyak pengetahuan akuntansi dan auditing
4 dimiliki auditor, semakin besar kemampuan
yang
.
auditor dalam menganalisis setiap permasalahan yang
ada.

8. Pengetahuan
2 akuntansi dan auditing membantu auditor
5
dalam mempertajam analisis masalah.
.
9. Pengetahuan
2 akuntansi dan auditing membantu auditor
6
dalam memprediksi dan mendeteksi masalah secara
.profesional.

125
4. Variabel Skeptisme Profesional (X5)
Berilah tanda silang (X) pada pernyataan di bawah ini sesuai dengan penilaian anda, dimana:
1= Sangat Tidak Setuju (STS) 3= Netral (N) 5= Sangat Setuju (SS)
2= Tidak Setuju (TS) 4= Setuju (S)

No. Pernyataan STS TS N S SS


1. Auditor
3 diharapkan mempunyai sikap skeptis terhadap
4
proses audit.
.
2. Sikap
3 skeptis berpengaruh dalam menemukan
5
pelanggaran-pelanggaran dalam laporan keuangan.
.
3. Auditor
3 dalam mengevaluasi temuan audit harus
6
menggunakan sikap skeptis.
.
4. Tutuntan
3 professional seorang auditor dalam mengaudit
7
mengakibatkan tumbuhnya sikap skeptis.
.
5. Auditor
3 diharapkan mempunyai sikap skeptis terhadap
8
temuan audit yang berhubungan dengan wajar dan
.
tidaknya laporan keuangan.

6. Bersikap
3 cermat dan seksama dalam melaksanakan
9
tugas audit merupakan faktor skeptisme.
.

126
5. Variabel Ketepatan Pemberian Opini Audit oleh Akuntan Publik (Y)
Berilah tanda silang (X) pada pernyataan di bawah ini sesuai dengan penilaian anda, dimana:
1= Sangat Tidak Setuju (STS) 3= Netral (N) 5= Sangat Setuju (SS)
2= Tidak Setuju (TS) 4= Setuju (S)

No. Pernyataan STS TS N S SS


1. 4Memiliki sikap independensi merupakan hal yang
0penting dalam memberikan opini audit.
.
2. 4Memiliki keahlian merupakan hal yang penting dalam
1ketepatan pemberian opini audit.
.
3. 4Memiliki pengetahuan akuntansi dan auditing
2merupakan hal yang penting dalam memberikan opini
. audit.

4. 4Skeptisme profesional mempengaruhi ketepatan


3pemberian opini audit.
.
5. 4Memiliki sikap skeptis merupakan hal yang penting
4dalam memberikan opini audit.
.
6. 4Laporan Keuangan telah sesuai dengan standar
5akuntansi keuangan.
.
7. 4Perlakuan akuntansi yang tepat.
6
.
8. 4Opini audit harus sesuai dengan bukti dan temuan
7audit yang ada.
.
9. 4Bukti yang cukup dan kompeten sehingga tepat dalam
8memberikan opini audit.
.
10. 4Kesalahan yang material dapat mempengaruhi jenis
9opini yang akan diberikan auditor.
.

127
Jawaban Responden Variabel Independensi (X1)

No. In1 In2 In3 In4 In5 In6 In7 In8 In9 In10 In11 Independensi
1 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 45
2 4 4 4 4 4 4 3 4 5 4 3 43
3 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 43
4 4 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 52
5 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 43
6 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 55
7 5 4 4 4 4 5 5 5 5 5 4 50
8 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 44
9 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 55
10 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 4 42
11 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 44
12 5 4 5 5 5 4 5 5 4 4 5 51
13 4 5 4 5 5 5 5 5 4 4 4 50
14 4 4 4 4 4 5 5 5 4 4 4 47
15 5 5 4 5 5 5 4 4 5 4 4 50
16 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 44
17 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 44
18 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 43
19 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 44
20 5 5 5 4 4 4 5 5 5 5 5 52
21 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 44
22 3 3 3 4 3 3 4 3 4 4 3 37
23 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 44
24 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 55
25 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 44
26 3 3 3 4 4 4 3 3 4 3 4 38
27 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 43
28 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 44
29 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 44
30 3 5 5 5 3 5 5 5 5 5 5 51
31 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 44
32 3 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 53
33 4 3 4 5 5 5 4 4 5 5 5 49
34 4 3 4 5 5 5 4 4 5 5 5 49
35 4 4 4 3 4 5 5 5 5 5 4 48

131
Jawaban Responden Variabel Independensi (X1)

No. In1 In2 In3 In4 In5 In6 In7 In8 In9 In10 In11 Independensi
36 4 5 4 3 4 5 5 5 5 5 5 50
37 3 4 3 3 3 3 4 4 3 3 4 37
38 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 44
39 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 44
40 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 44
41 4 4 4 4 4 4 4 5 5 4 3 45
42 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 43
43 2 4 4 4 4 5 4 4 5 4 5 45
44 4 4 5 5 4 5 4 4 4 4 5 48
45 5 5 5 5 4 5 5 5 4 4 4 51
46 4 5 5 4 4 4 4 4 4 4 5 47
47 5 4 5 5 5 5 5 4 4 4 5 51
48 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 44
49 5 5 5 4 4 5 4 5 4 4 4 49
50 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 5 46
51 5 5 5 5 5 5 5 4 4 4 5 52
52 5 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 47
53 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 44
54 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 45
55 4 4 4 4 4 4 3 4 5 4 3 43
56 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 43
57 4 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 52
58 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 43
59 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 55
60 5 4 4 4 4 5 5 5 5 5 4 50
61 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 44
62 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 55
63 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 4 42
64 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 44
65 5 4 5 5 5 4 5 5 4 4 5 51
66 4 5 4 5 5 5 5 5 4 4 4 50
67 4 4 4 4 4 5 5 5 4 4 4 47

132
Jawaban Responden Variabel Keahlian (X2)

No. Ke1 Ke2 Ke3 Ke4 Ke5 Ke6 Keahlian


1 5 4 4 4 5 5 27
2 4 4 4 5 5 4 26
3 4 5 4 4 4 4 25
4 5 4 4 4 4 4 25
5 4 4 4 4 4 4 24
6 5 5 5 5 5 5 30
7 4 5 5 4 4 4 26
8 4 4 4 4 4 4 24
9 5 5 5 5 5 5 30
10 4 4 4 4 4 3 23
11 4 4 4 4 4 4 24
12 4 5 5 4 3 5 26
13 2 4 4 2 1 4 17
14 3 4 5 2 2 4 20
15 4 5 5 4 4 5 27
16 3 4 4 4 4 4 23
17 4 4 4 4 4 4 24
18 5 4 4 4 4 4 25
19 4 4 4 4 4 4 24
20 4 4 4 4 4 4 24
21 4 4 4 4 4 4 24
22 4 4 3 3 3 4 21
23 4 4 4 4 4 4 24
24 5 5 5 5 5 5 30
25 4 4 4 4 4 4 24
26 4 4 4 4 4 4 24
27 4 4 4 4 4 4 24
28 4 4 4 4 4 4 24
29 4 4 4 4 4 4 24
30 5 5 5 2 3 5 25
31 4 4 4 4 4 4 24
32 5 5 5 2 3 5 25
33 4 4 5 5 4 5 27
34 4 4 5 5 4 5 27
35 4 4 4 3 4 5 24

133
Jawaban Responden Variabel Keahlian (X2)

No. Ke1 Ke2 Ke3 Ke4 Ke5 Ke6 Keahlian


36 3 5 5 5 5 5 28
37 3 3 3 4 4 4 21
38 4 4 4 4 4 4 24
39 4 4 4 4 4 4 24
40 4 4 4 4 4 4 24
41 5 5 5 5 4 4 28
42 4 4 5 4 4 5 26
43 2 4 5 2 4 4 21
44 3 4 5 2 2 4 20
45 4 4 5 2 2 4 21
46 4 5 5 4 2 4 24
47 4 4 5 4 4 5 26
48 2 4 4 4 4 5 23
49 3 4 5 4 3 4 23
50 5 5 5 3 3 4 25
51 4 4 4 4 4 5 25
52 4 4 5 4 2 4 23
53 2 4 4 2 2 4 18
54 5 4 4 4 5 5 27
55 4 4 4 5 5 4 26
56 4 5 4 4 4 4 25
57 5 4 4 4 4 4 25
58 4 4 4 4 4 4 24
59 5 5 5 5 5 5 30
60 4 5 5 4 4 4 26
61 4 4 4 4 4 4 24
62 5 5 5 5 5 5 30
63 4 4 4 4 4 3 23
64 4 4 4 4 4 4 24
65 4 5 5 4 3 5 26
66 2 4 4 2 1 4 17
67 3 4 5 2 2 4 20

134
Jawaban Responden Variabel Pengetahuan Akuntansi dan Auditing (X3)

No. PAA1 PAA2 PAA3 PAA4 PAA5 PAA6 PAA7 PAA8 PAA9 PAA
1 5 4 4 4 4 4 4 4 4 37
2 4 4 4 4 3 5 3 4 4 35
3 4 4 4 5 4 5 5 4 3 38
4 5 5 4 5 5 5 4 5 5 43
5 4 5 5 5 4 5 5 4 4 41
6 5 5 5 5 5 5 5 5 5 45
7 4 4 4 5 5 4 5 4 5 40
8 4 4 4 4 4 4 4 4 4 36
9 5 5 5 5 5 5 5 5 5 45
10 3 4 4 4 3 3 4 4 4 33
11 4 4 4 4 4 4 4 4 4 36
12 4 4 4 4 5 5 5 5 4 40
13 4 4 4 4 5 5 4 4 4 38
14 4 4 5 5 4 4 5 4 4 39
15 5 5 4 4 4 4 4 4 4 38
16 4 4 4 4 4 4 4 4 4 36
17 4 4 4 4 4 4 4 4 4 36
18 5 4 4 4 4 4 4 4 4 37
19 4 4 4 4 4 4 4 4 4 36
20 4 4 4 4 4 4 4 4 4 36
21 2 2 4 4 4 4 4 4 4 32
22 3 3 4 4 4 4 4 3 4 33
23 4 4 4 4 4 4 4 4 4 36
24 5 5 5 5 5 5 5 5 5 45
25 2 2 4 4 4 4 4 4 4 32
26 3 3 4 4 4 4 4 4 4 34
27 2 2 4 4 4 4 4 4 4 32
28 2 2 4 4 4 4 4 4 4 32
29 2 2 4 4 4 4 4 4 4 32
30 3 4 4 4 3 4 4 5 5 36
31 4 4 4 4 4 4 4 4 4 36
32 3 4 4 4 4 4 4 5 5 37
33 5 5 5 5 4 5 5 5 5 44
34 5 5 5 5 4 5 5 5 5 44
35 3 5 4 4 4 5 5 4 4 38

135
Jawaban Responden Variabel Pengetahuan Akuntansi dan Auditing (X3)

No. PAA1 PAA2 PAA3 PAA4 PAA5 PAA6 PAA7 PAA8 PAA9 PAA
36 5 5 4 5 4 5 4 4 5 41
37 4 3 3 4 4 4 3 3 4 32
38 4 4 4 4 4 4 4 4 4 36
39 4 4 4 4 4 5 4 4 4 37
40 5 5 4 4 4 4 4 4 3 37
41 4 5 4 4 4 4 4 4 4 37
42 4 5 5 4 4 4 4 4 4 38
43 4 4 4 4 4 4 4 4 4 36
44 4 5 5 5 5 5 4 4 4 41
45 4 4 5 5 4 5 5 4 2 38
46 5 5 5 5 5 5 5 5 4 44
47 4 4 4 4 4 4 4 4 4 36
48 5 5 5 5 5 4 4 4 4 41
49 2 2 4 4 4 4 5 4 4 33
50 4 4 5 5 5 4 4 4 3 38
51 4 4 4 4 4 4 4 4 4 36
52 4 4 5 5 4 4 4 4 4 38
53 5 5 5 5 5 5 5 5 5 45
54 5 5 4 5 5 5 4 5 5 43
55 4 5 5 5 4 5 5 4 4 41
56 5 5 5 5 5 5 5 5 5 45
57 4 4 4 5 5 4 5 4 5 40
58 4 4 4 4 4 4 4 4 4 36
59 5 5 5 5 5 5 5 5 5 45
60 3 4 4 4 3 3 4 4 4 33
61 4 4 4 4 4 4 4 4 4 36
62 4 4 4 4 5 5 5 5 4 40
63 4 4 4 4 5 5 4 4 4 38
64 4 4 5 5 4 4 5 4 4 39
65 5 5 4 4 4 4 4 4 4 38
66 4 4 4 4 4 4 4 4 4 36
67 4 4 4 4 4 4 4 4 4 36

136
Jawaban Responden Variabel Skeptisme Profesional (X4)

No. SP1 SP2 SP3 SP4 SP5 SP6 SP


1 4 4 4 4 4 4 24
2 4 4 4 4 4 5 25
3 4 4 4 3 4 4 23
4 5 4 5 5 4 5 28
5 4 4 4 3 3 4 22
6 5 5 5 5 5 5 30
7 4 5 4 4 5 4 26
8 4 4 4 4 4 4 24
9 5 5 5 5 5 5 30
10 4 4 4 4 3 4 23
11 4 4 4 4 4 4 24
12 4 4 4 4 4 4 24
13 4 4 4 5 4 4 25
14 4 4 4 4 4 4 24
15 4 4 4 4 4 4 24
16 4 4 4 4 4 4 24
17 4 4 4 4 4 4 24
18 5 4 4 4 4 4 25
19 4 4 4 4 4 4 24
20 3 3 3 3 3 3 18
21 4 4 4 4 4 4 24
22 4 4 3 3 3 3 20
23 4 4 4 4 4 4 24
24 5 5 5 5 5 5 30
25 4 4 4 4 4 4 24
26 3 3 4 4 4 4 22
27 4 4 4 4 4 4 24
28 4 4 4 4 4 4 24
29 4 4 4 4 4 4 24
30 4 3 4 4 4 4 23
31 4 4 4 4 4 4 24
32 4 3 4 5 4 4 24
33 5 4 4 4 4 3 24
34 5 4 4 4 4 3 24
35 4 4 4 4 4 5 25

137
Jawaban Responden Variabel Skeptisme Profesional (X4)

No. SP1 SP2 SP3 SP4 SP5 SP6 SP


36 4 4 4 4 4 5 25
37 3 3 3 3 3 3 18
38 5 5 5 5 5 5 30
39 4 4 4 4 4 4 24
40 4 3 4 4 4 4 23
41 5 5 4 4 4 4 26
42 4 4 4 4 4 4 24
43 4 4 4 4 4 4 24
44 4 4 4 4 4 4 24
45 4 5 4 3 4 5 25
46 4 4 5 2 5 4 24
47 4 4 4 4 4 4 24
48 4 4 4 4 4 4 24
49 4 4 4 4 4 4 24
50 4 4 4 4 4 4 24
51 4 4 4 4 4 4 24
52 5 5 5 5 5 4 29
53 3 3 3 3 3 3 18
54 5 5 5 5 5 5 30
55 4 4 4 4 4 4 24
56 4 3 4 4 4 4 23
57 5 5 4 4 4 4 26
58 4 4 4 4 4 4 24
59 4 4 4 4 4 4 24
60 4 4 4 4 4 4 24
61 4 5 4 3 4 5 25
62 4 4 5 2 5 4 24
63 4 4 4 4 4 4 24
64 5 5 5 5 5 5 30
65 4 4 4 4 4 4 24
66 3 3 4 4 4 4 22
67 4 4 4 4 4 4 24

138
Jawaban Responden Variabel Ketepatan Pemberian Opini (Y)

No. KPO1 KPO2 KPO3 KPO4 KPO5 KPO6 KPO7 KPO8 KPO9 KPO10 KPO
1 4 4 5 4 4 5 4 5 4 4 43
2 4 5 5 4 4 5 4 4 5 4 44
3 4 4 3 4 4 4 4 4 5 5 41
4 5 5 5 4 4 5 4 5 5 5 47
5 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 38
6 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50
7 5 5 5 2 4 5 4 5 5 5 45
8 5 5 5 4 4 4 4 4 5 5 45
9 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50
10 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
11 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
12 4 4 4 4 4 4 3 5 5 4 41
13 5 5 5 4 4 4 4 5 4 4 44
14 5 5 5 4 4 4 4 5 5 4 45
15 4 4 4 5 5 4 4 5 5 5 45
16 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
17 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
18 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
19 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 39
20 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
21 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
22 3 4 3 3 4 4 4 3 3 4 35
23 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
24 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50
25 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
26 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 39
27 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 39
28 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
29 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
30 4 4 4 4 4 5 4 4 4 5 42
31 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
32 4 4 4 4 4 5 4 4 4 5 42
33 4 5 5 2 3 5 5 5 5 5 44
34 4 5 5 2 3 5 5 5 5 5 44
35 5 5 4 4 5 5 4 5 5 4 46

139
Jawaban Responden Variabel Ketepatan Pemberian Opini (Y)
No. KPO1 KPO2 KPO3 KPO4 KPO5 KPO6 KPO7 KPO8 KPO9 KPO10 KPO
36 5 5 4 4 5 5 4 5 5 4 46
37 4 4 4 4 4 3 3 3 3 4 36
38 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
39 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 42
40 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 39
41 5 5 5 4 4 5 4 5 4 5 46
42 4 4 4 3 4 4 5 4 4 4 40
43 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
44 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
45 4 2 4 2 3 4 4 4 4 4 35
46 5 5 5 4 4 4 4 5 5 5 46
47 5 5 5 4 4 4 4 4 4 4 43
48 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
49 5 5 5 5 5 4 4 5 4 2 44
50 5 5 5 4 4 4 4 5 5 4 45
51 5 5 5 5 5 5 4 5 5 4 48
52 5 5 5 4 5 4 4 5 5 4 46
53 4 4 4 2 4 4 4 4 5 4 39
54 4 4 4 4 4 4 3 5 5 4 41
55 5 5 5 4 4 4 4 5 4 4 44
56 5 5 5 4 4 4 4 5 5 4 45
57 4 4 4 5 5 4 4 5 5 5 45
58 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
59 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
60 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
61 3 4 3 3 4 4 4 3 3 4 35
62 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
63 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50
64 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
65 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 39
66 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 39
67 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40

140
Identitas Responden
JENIS JABATAN PENDIDIKAN PENGALAMAN
RESPONDEN KELAMIN KERJA TERAKHIR KERJA
1 2 5 1 1
2 2 5 2 2
3 1 4 2 3
4 2 4 2 2
5 2 5 1 1
6 1 4 2 3
7 2 4 2 3
8 1 5 2 2
9 2 5 2 2
10 1 5 2 1
11 2 5 2 1
12 2 5 2 2
13 1 4 2 3
14 1 4 2 3
15 1 5 2 1
16 1 5 2 1
17 1 5 2 1
18 1 5 2 1
19 1 5 2 1
20 1 4 2 3
21 2 4 2 3
22 1 5 2 2
23 2 4 2 3
24 1 4 2 3
25 2 5 2 2
26 2 5 2 1
27 2 5 2 1
28 2 4 2 3
29 1 4 2 3
30 2 4 2 2
31 2 4 2 2
32 2 5 2 1
33 1 4 2 2
34 1 4 2 2
35 1 5 2 1

141
Identitas Responden
JENIS JABATAN PENDIDIKAN PENGALAMAN
RESPONDEN KELAMIN KERJA TERAKHIR KERJA
36 1 5 2 1
37 1 4 3 3
38 2 5 2 1
39 2 5 2 2
40 2 5 2 2
41 1 4 2 3
42 2 5 2 1
43 1 4 3 3
44 2 4 2 2
45 2 5 2 2
46 1 3 3 3
47 1 4 2 3
48 1 5 2 1
49 2 4 2 3
50 2 5 2 1
51 1 4 2 3
52 2 5 2 2
53 1 5 1 1
54 2 5 2 2
55 2 5 2 2
56 2 4 2 3
57 2 5 2 1
58 1 5 2 1
59 2 4 2 3
60 1 5 2 1
61 2 5 2 2
62 1 5 2 2
63 2 5 2 2
64 2 5 2 2
65 2 5 2 1
66 2 5 2 1
67 1 4 2 3

Keterangan Identitas Responden:


Jenis Kelamin : 1 = Laki-laki, 2 = Perempuan;
Jabatan Kerja : 4 = Auditor Senior, 5 = Auditor Junior;
Pendidikan Terakhir : 1 = D3, 2 = S1, 3 = S2
Pengalaman Kerja : 1 = <1 tahun, 2 = 1-3 tahun 3 = >3 tahun

142
Correlations

In1 In2 In3 In4 In5


** ** ** **
In1 Pearson Correlation 1 .400 .547 .358 .502

Sig. (2-tailed) .001 .000 .003 .000

N 67 67 67 67 67
** ** * *
In2 Pearson Correlation .400 1 .581 .277 .270

Sig. (2-tailed) .001 .000 .023 .027

N 67 67 67 67 67
** ** ** **
In3 Pearson Correlation .547 .581 1 .545 .455

Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000

N 67 67 67 67 67
** * ** **
In4 Pearson Correlation .358 .277 .545 1 .736

Sig. (2-tailed) .003 .023 .000 .000

N 67 67 67 67 67
** * ** **
In5 Pearson Correlation .502 .270 .455 .736 1

Sig. (2-tailed) .000 .027 .000 .000

N 67 67 67 67 67
** ** ** ** **
In6 Pearson Correlation .315 .400 .499 .569 .604

Sig. (2-tailed) .009 .001 .000 .000 .000

N 67 67 67 67 67
** ** ** ** **
In7 Pearson Correlation .427 .477 .519 .459 .477

Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000 .000

N 67 67 67 67 67
** ** ** ** **
In8 Pearson Correlation .407 .500 .495 .343 .403

Sig. (2-tailed) .001 .000 .000 .005 .001

N 67 67 67 67 67
** ** **
In9 Pearson Correlation .170 .217 .317 .346 .412

Sig. (2-tailed) .170 .078 .009 .004 .001

N 67 67 67 67 67
* * ** ** **
In10 Pearson Correlation .310 .283 .410 .376 .429

Sig. (2-tailed) .011 .020 .001 .002 .000

N 67 67 67 67 67
* ** ** **
In11 Pearson Correlation .213 .311 .578 .535 .556

Sig. (2-tailed) .084 .010 .000 .000 .000


N 67 67 67 67 67
** ** ** ** **
Independensi Pearson Correlation .601 .609 .763 .701 .736

Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000 .000

N 67 67 67 67 67

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Correlations

In6 In7 In8 In9 In10


** ** ** *
In1 Pearson Correlation .315 .427 .407 .170 .310

Sig. (2-tailed) .009 .000 .001 .170 .011

N 67 67 67 67 67
** ** ** *
In2 Pearson Correlation .400 .477 .500 .217 .283

Sig. (2-tailed) .001 .000 .000 .078 .020

N 67 67 67 67 67
** ** ** ** **
In3 Pearson Correlation .499 .519 .495 .317 .410

Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .009 .001

N 67 67 67 67 67
** ** ** ** **
In4 Pearson Correlation .569 .459 .343 .346 .376

Sig. (2-tailed) .000 .000 .005 .004 .002

N 67 67 67 67 67
** ** ** ** **
In5 Pearson Correlation .604 .477 .403 .412 .429

Sig. (2-tailed) .000 .000 .001 .001 .000

N 67 67 67 67 67
** ** ** **
In6 Pearson Correlation 1 .651 .621 .614 .629

Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000

N 67 67 67 67 67
** ** ** **
In7 Pearson Correlation .651 1 .763 .337 .604

Sig. (2-tailed) .000 .000 .005 .000

N 67 67 67 67 67
** ** ** **
In8 Pearson Correlation .621 .763 1 .481 .677

Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000

N 67 67 67 67 67
** ** ** **
In9 Pearson Correlation .614 .337 .481 1 .793

Sig. (2-tailed) .000 .005 .000 .000


N 67 67 67 67 67
** ** ** **
In10 Pearson Correlation .629 .604 .677 .793 1

Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000

N 67 67 67 67 67
** ** ** ** **
In11 Pearson Correlation .545 .586 .418 .325 .518

Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .007 .000

N 67 67 67 67 67
** ** ** ** **
Independensi Pearson Correlation .812 .802 .777 .621 .755

Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000 .000

N 67 67 67 67 67

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Correlations

In11 Independensi
**
In1 Pearson Correlation .213 .601

Sig. (2-tailed) .084 .000

N 67 67
* **
In2 Pearson Correlation .311 .609

Sig. (2-tailed) .010 .000

N 67 67
** **
In3 Pearson Correlation .578 .763

Sig. (2-tailed) .000 .000

N 67 67
** **
In4 Pearson Correlation .535 .701

Sig. (2-tailed) .000 .000

N 67 67
** **
In5 Pearson Correlation .556 .736

Sig. (2-tailed) .000 .000

N 67 67
** **
In6 Pearson Correlation .545 .812

Sig. (2-tailed) .000 .000

N 67 67
** **
In7 Pearson Correlation .586 .802

Sig. (2-tailed) .000 .000


N 67 67
** **
In8 Pearson Correlation .418 .777

Sig. (2-tailed) .000 .000

N 67 67
** **
In9 Pearson Correlation .325 .621

Sig. (2-tailed) .007 .000

N 67 67
** **
In10 Pearson Correlation .518 .755

Sig. (2-tailed) .000 .000

N 67 67
**
In11 Pearson Correlation 1 .707

Sig. (2-tailed) .000

N 67 67
**
Independensi Pearson Correlation .707 1

Sig. (2-tailed) .000

N 67 67

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).