Sie sind auf Seite 1von 7

Jurnal Ilmiah Farmasi xx(x) Bulan Tahun, Hal.

x-y
ISSN: 1693-8666
available at http://journal.uii.ac.id/index.php/JIF

ARTIKEL PRAKTIKUM KIMIA BAHAN ALAM


ISOLASI KANDUNGAN MINYAK ATSIRI PADA DAUN KEMANGI
(Ocinum basilicum L.) MENGGUNAKAN METODE DESTILASI UAP AIR

Disusun oleh :
1. Dinda Kalista Wisdaningrum (17613055 / B1)
2. Ajeng Dwi Sri Wardani (17613056 / B1)
3. Rachmi Endang Mayere (17613057 / B1)
4. Farikha Ni’matia ‘Amila (17613058 / B1)

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2 | I.D., Nama lengkap /Jurnal Ilmiah Farmasi Vol(Ed.) Bulan 20xx, Hal.

Isolasi Kandungan Minyak Atsiri Pada Daun Kemangi


(Ocinum basilicum L.) Menggunakan Metode Destilasi Uap Air

Dinda Kalista Wisdaningrum, Ajeng Dwi Sri Wardani, Rachmi Endang Mayeri, Farikha Ni’matia ‘Amila

Jurusan Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Islam Indonesia,
Daerah Istimewa Yogyakarta

Abstract
Background: Basil is one of the plants producing essential oils. Basil essential oil is usually taken
through the stems and leaves. Basil essential oil is also used in the pharmaceutical industry, food and
as a vegetable insecticide.
Objective: To isolate the essential oil content of basil leaves by the steam distillation method and to
identify the essential oils of basil leaves by TLC and Gas Chromatography
Method: The method of extracting basil essential oil is carried out by the steam water distillation
method and identification of essential oils using TLC and GC-MS methods.
Results: Steam distillation of basil leaves is obtained by 2mL of essential oil. The TLC results for Rf
extract value of 0.68. GC-MS results obtained the most dominant peak spectrum at peaks 10 and 12.
Conclusion: Isolation of essential oil compounds by steam distillation method obtained compounds
with the highest peak, namely C-Citral and Z-Citral.
Keywords: Essential Oils, Basil Leaves, Steam Distillation, Gas Chromatography

Intisari
Latar belakang: Kemangi merupakan salah satu tumbuhan penghasil minyak atsiri. Minyak atsiri
kemangi biasa diambil melalui batang dan daunnya. Minyak atsiri kemangi juga digunakan dalam
industri farmasi, makanan dan sebagai insektisida nabati.
Tujuan: Untuk melakukan isolasi kandungan minyak atsiri daun kemangi dengan metode destilasi
uap air dan untuk melakukan identifikasi minyak atsiri daun kemangi dengan KLT dan Kromatografi
Gas.
Metode: Metode pengambilan minyak atsiri kemangi dilakukan dengan metode destilasi uap air dan
identifikasi minyak atsiri menggunakan metode KLT dan GC-MS.
Hasil: Destilasi uap air daun kemangi diperoleh minyak atsiri sebanyak 2mL. Hasil KLT nilai Rf ekstrak
sebesar 0.68. Hasil GC-MS didapat spectrum puncak paling dominan pada peak 10 dan 12.
Kesimpulan: Isolasi senyawa minyak atsiri dengan metode destilasi uap didapatkan senyawa dengan
peak tertinggi yaitu C-Citral dan Z-Citral.
Kata kunci : Minyak Atsiri, Daun Kemangi, Destilasi Uap Air, Kromatografi Gas

1. PENDAHULUAN
Tanaman basil atau kemangi (Ocimum spp., Lamiaceae) mengandung minyak atsiri
yang kaya akan senyawa monoterpenoid dan fenolik (Rubiyanto dkk., 2009). Salah satu jenis
tanaman basil di Indonesia adalah kemangi jenis Ocimum citriodorum. Di Indonesia, tanaman
kemangi banyak dimanfaatkan dalam bidang kuliner tradisional karena kemangi memiliki
aroma yang khas. Tanaman kemangi memiliki aktivitas fisiologi yang digunakan untuk
pengobatan tradisional, seperti meredakan kelelahan, demam, kejang urat, rhinitis dan
sebagai pertolongan pertama pada luka akibat sengatan (Bilal dkk., 2012). Kemangi
merupakan tumbuhan dengan ciri tangkai yang tegak dan bercabang. Tanaman ini termasuk
dalam jenis tanaman perdu, dengan tinggi 0,6 hingga 0,9 meter. Tangkainya berwarna hijau
3 | I.D., Nama lengkap /Jurnal Ilmiah Farmasi Vol(Ed.) Bulan 20xx, Hal.

atau keunguan. Daunnya memiliki banyak titik seperti kelenjar minyak yang dapat
menghasilkan minyak beraroma yang bersifat volatil (Bilal dkk., 2012).

Kandungan utama minyak atsiri kemangi berupa sitral, geraniol, nerol dan linalool
(Tisserand, 2017). Sitral merupakan senyawa non-polar yang memiliki gugus aldehid
(Surburg dan Panten, 2006). Geraniol, nerol, dan linalool memiliki gugus fungsi alkohol yang
bersifat polar. Nerol banyak diaplikasikan pada industri flavor dan fragrance. Pada industri
flavor, nerol umumnya digunakan sebagai perisa citrus, sementara pada industri fragrance,
nerol digunakan sebagai salah satu komposisi pewangi dengan aroma mawar (Surburg dan
Panten, 2006). Linalool merupakan salah satu senyawa yang sering digunakan sebagai
fragrance dan diproduksi dalam jumlah besar.

Minyak atsiri kemangi dapat diperoleh melalui metode destilasi uap ataupun metode
ekstraksi dengan pelarut. Pada metode destilasi uap, pemisahan komponen minyak atsiri dari
bahan didasarkan pada volatilitas bahan. Sedangkan pada ekstraksi dengan pelarut,
komponen minyak atsiri terpisah dari bahan berdasarkan sifat kelarutan bahan dalam pelarut
yang sesuai (Geankoplis, 1993; Rydberg dkk., 2004).

2. METODOLOGI PENELITIAN
2.1 Waktu dan tempat
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Farmasi Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Penelitian dilakukan
pada tanggal 2 Desember 2019.

2.2 Alat dan Bahan


Bahan dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah Daun Kemangi yang berasal
dari daerah Sleman. Daun Kemangi diperoleh dari petani Merapi Farma yang dikumpulkan
dari Daun Kemangi yang siap panen. Bahan lain sebagai bahan pembantu mencakup air, etil
asetat, N-Heksan, Natrium sulfat anhidrat, H2SO4 pekat, Silika gel 60 GF 254.

Peralatan yang digunakan adalah seperangkat alat penyulingan destilasi uap-air, GC-
MS, dan alat-alat gelas yang umum digunakan dalam Laboratorium Biologi Farmasi. Analisa
komponen penyusun Minyak Atsiri Daun Kemangi dilakukan di Laboratorium Biologi Farmasi
FMIPA UII dan alat yang digunakan adalah GCMS.

2.3 Isolasi Minyak atsiri


Daun Kemangi basah seberat 1 kg yang sudah bersih dari kotoran dimasukkan
dalam ketel penyulingan yang sudah berisi air sampai permukaan air berada tidak jauh
dibawah saringan. Sampel daun dimasukkan kedalam ketel. Ketel ditutup rapat dan
dihubungkan dengan kondensor, adaptor dan penampungan. Ketel penyulingan dipanaskan
hingga semua minyak atsiri telah terdestilasi. Minyak atsiri yang dihasilkan ditimbang
kemudian diukur berat, ditentukan rendemen, dan dianalisis komponen kimianya.

2.4 Identifikasi Minyak Atsiri Daun Kemangi dengan KLT


Plat KLT yang mengandung silika gel GF 254 dengan ukuran 3 x 10 cm disiapkan.
Kemudian sample dan standar ditotolkan 1cm dari ujung plat dengan menggunakan pipa
4 | I.D., Nama lengkap /Jurnal Ilmiah Farmasi Vol(Ed.) Bulan 20xx, Hal.

kapiler. Plat KLT dibiarkan sesaat, kemudian dimasukkan kedalam bejana KLT yang sudah
jenuh dengan uap pelarut. Pelarut yang digunakan adalah N-Heksan : Etil Asetat (3:7). Setelah
terelusi, plat KLT kemudian disinari oleh UV 254 nm dan UV 366 nm. Plat KLT kemudian
disemprot dengan H2SO4 pekat. Plat KLT selanjutnya diamati noda-noda yang timbul setelah
dipanaskan dalam oven pada suhu 110°C selama 3 menit. Harga R f yang telah dihitung dan
warna noda dibandingkan dengan data sekunder dari literatur.

2.5 Analisis Komposisi Kimia Penyusun Minyak Atsiri Daun Kemangi


Komposisi Minyak Atsiri ditentukan menggunakan metode GC-MS (Gas
Chromatography – Mass Spectrometry) dengan kolom TG-5 MS (kolom kapiler), Panjang kolom
30 m, diameter kolom 0,25 mm. kondisi kolom diatur dengan suhu awal 60°C, kenaikan suhu
sebesar 10°C/menit dan suhu akhir adalah 250°C. Jenis detector adalah MS (Mass
Spectrometry) dengan ketebalan 0,25 µm. Temperatur injektor adalah 300°C. Gas pembawa
adalah Helium dan volume injeksi 0,1 µl dengan kecepatan alir 1,39 ml/menit dan tekanan
36,1 kPa dan waktu analisis yang dibutuhkan selama 15 menit. Penentuan struktur senyawa
dilakukan dengan menggunakan standar yang sudah diketahui dengan mencocokkan
fragmentasi senyawanya. Setiap puncak yang muncul dalam kromatogram memiliki waktu
retensi yang berbeda-beda.

3. HASIL & PEMBAHASAN


3.1 Hasil Ekstraksi dengan Destilasi Uap Air
Hasil dari pengamatan simplisia daun kemangi yaitu berupa helaian daun bulat
lonjong dan ujung daunnya runcing dan sedikit bergerigi, kedua permukaan agak kasar,
berwarna hijau muda hingga hijau tua, bau sangat khas, tidak berasa. Senyawa identitas dari
daun kemangi Metil Eugenol. (Farmakope Herbal Indonesia, 2017)
Daun kemangi yang digunakan sebanyak 1 kg yang diperoleh di perkebunan Merapi
Herba yang berada di Jalan Kaliurang. Daun Kemangi melewati proses destilasi uap air selama
2 jam dan diperoleh minyak atsiri sebanyak 2 mL.

Jumlah Minyak Atsiri (mL)


x100%
Berat Simplisia (gram)

2 mL x100% = 0,2 %
1000 gram

Selama 2 jam diperoleh jumlah minyak atsiri pada daun kemangi sebesar 0,2%.
Menurut Farmakope Herbal Indonesia jumlah minyak atsiri pada daun kemangi tidak boleh
kurang dari 0,29%.

3.2 Hasil Uji Identifikasi Minyak Atsiri menggunakan KLT


Hasil totolan pada plat KLT diamati dengan mata telanjang tidak berwarna. Jika
diamati dengan sinar UV 254 nm (Gambar 3.2 a) terlihat hasil bercak berwarna hitam dan
pada sinar UV 366 nm (Gambar 3.2 b) terlihat hasil berwarna hitam keabu-abuan. Hasil yang
diperoleh setelah disemprot dengan pereaksi semprot H 2SO4 pekat/anisaldehid (Gambar 3.2
c) terbentuk bercak berwarna coklat kehitaman. Hasil eluen yang baik dapat menghasilkan
jumlah noda yang terpisah dan banyak. Untuk hasil yang kurang baik dapat dilakukan dengan
pencampuran dari beberapa eluen tunggal agar dapat diperoleh spot yang terpisah. Hasil yang
kurang baik dapat disebabkan karena adanya pemisahan yang tidak sempurna, ketidak
jenuhan chamber, fase gerak (n-heksan : etil asetat) yang lebih dulu menguap pada saat elusi
atau kurang tepat pemilihan fase gerak dan fase diam.
5 | I.D., Nama lengkap /Jurnal Ilmiah Farmasi Vol(Ed.) Bulan 20xx, Hal.

Dalam percobaan ini nilai Rf ekstrak sebesar 0.68 dimana hasil tersebut sudah
mendekati dengan nilai Rf standar dari metil eugenol yaitu 0.65. Dan nilai Rf masuk dalam
rentang yang baik 0,2 – 0,8. Berdasarkan Farmakope Herbal Indonesia menyatakan bahwa
nilai Rf standard metil eugenol 0,70 (Farmakope Herbal Indonesia, 2017).

(a) (b) (c)

Gambar. 3.2 Hasil Kromatografi Lapis Tipis


a) UV λ 254 nm; b) UV λ 366 nm; c) setelah disemprot H2SO4 pekat/anisaldehid

3.3 Hasil Uji Identifikasi Minya Atsiri menggunakan GC-MS


Alat GC-MS digunakan untuk analisis secara deskriptif profil minyak atsiri. Data yang
dihasilkan berupa kromatogram GC-MS. Pada suatu penelitian sebelumnya menunjukan hasil
GC-MS minyak atsiri kemangi diperoleh beberapa senyawa berupa geraniol, neral, farnesol,
alfa-bergamoten, alfa bisabolen, dan linalool yang dilakukan dengan metode destilasi uap
selama 4 jam (Dewi et all,2018).
Namun hasil dari praktikum ini juga diperoleh senyawa geranial, linalool, verbenol,
nerol & neryl acetate akan tetapi untuk peak tertinggi yaitu senyawa E-citral dan Z-citral.
Berikut adalah hasil GC-MS minyak atsiri daun kemangi:

Gambar 3.3 Hasil Kromatogram GC Daun Kemangi


6 | I.D., Nama lengkap /Jurnal Ilmiah Farmasi Vol(Ed.) Bulan 20xx, Hal.

Berdasarkan data (Gambar 3.3) hasil kromatogram GC dibawah ini senyawa yang
jumlahnya paling banyak ditunjukan pada peak 10 & peak 12. Dimana peak 10 bernama Z-
Citral (C10H16O) dengan % area sebesar 31,26% dan peak 12 bernama E-Citral (C 10H16O)
dengan % area sebesar 43,23%.

Gambar 3.3 Hasil Kromatogram MS Peak 10

Gambar 3.4 Hasil Kromatogram MS Peak 12

Pada (Gambar 3.3) peak 10 bernama Z-Citral (C10H16O) dengan % area sebesar 31,26% &
(Gambar 3.4) peak 12 bernama E-Citral (C10H16O) dengan % area sebesar 43,23%. Semakin
besar % area maka semakin besar kadar senyawa penyusun minyak atsiri daun kemangi.
Senyawa citral yang mendominasi pada daun kemangi jadi dapat disimpulkan citral menjadi
senyawa pemberi aroma khas pada kemangi. Namun, menurut penelitian yang lain
mengatakan bahwa senyawa identitas dan pemberi aroma khas pada kemangi adalah
methyleugenol (Dewi et all, 2018). Praktikum ini tidak terdapat senyawa methyleugenol. Faktor
yang mempengaruhi hasil yang berbeda dengan Farmakope Herbal Indonesia adanya
kontaminasi ekstrak ketika proses ekstraksi karena alat yang kurang bersih setelah digunakan
ekstraksi Serai. Maka dari itu ketika dianalisis kandungan paling dominan citral (senyawa
identitas Serai).
7 | I.D., Nama lengkap /Jurnal Ilmiah Farmasi Vol(Ed.) Bulan 20xx, Hal.

KESIMPULAN
Isolasi kandungan minyak atsiri daun kemangi dengan metode destilasi uap air
diperoleh minyak atsiri sebanyak 2 mL. Identifikasi minyak atsiri daun kemangi menggunakan
GC-MS diperoleh hasil dengan peak tertinggi (paling dominan) adalah senyawa Z-Citral dan E-
Citral. Z-Citral (C10H16O) dengan % area sebesar 31,26% & E-Citral (C10H16O) dengan % area
sebesar 43,23%.

UCAPAN TERIMAKASIH
Terimakasih kepada dosen pembimbing, Pinus Jumaryanto S.Si., M.Phil, Apt. yang
sudah membimbing dan memberi saran dalam keberlangsungan penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2017, Farmakope Herbal Indonesia edisi 2,
213-216, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Bilal, A., Nasreen, J., Ajij, A., Saima, N.B., Shahida, H., dan Syeda, H. (2012).
Phytochemical and Pharmacological Studies on Ocimum Basilicum linn – A Review.
International Journal of Current Research and Review, 4, 73-74.
Rubiyanto, D., Anwar, C., dan Sastrohamidjoyo, H. (2009). Chemical Composition
Changes During Storage of Lemon Basil Essential Oil (Ocimum citriodorum sp.). Proceeding
International Seminar on Essential Oils (ISEO) 2009, 26-28 Oktober 2009, IPB, Bogor.
Surburg, H. dan Panten, J. (2006). Common Fragrance and Falvor Materials. Weinheim:
Wiley.
Tisserand. (2017). Essential Oil Safety: A Guide for Health Care Professionals. New
York: Churchill Livingstone.
Geankoplis, C. J. (1993). Transport Process and Unit Operations. New Jersey: Prentice
Hall.