Sie sind auf Seite 1von 28

ASUHAN KEPERAWATAN PADA AGREGAT

DALAM KOMUNITAS : KESEHATAN WANITA DAN PRIA

Disusun OlehKelompok 3 :

1. ADE NUR QISTI


2. AHMAD SOFYAN
3. INE SUSILAWATI
4. SRI PUJI LESTARI
5. TAMRIN EFENDI

PROGRAM STUDY S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)WIDYA DHARMA HUSADA TANGERANG

2019
DAFTAR ISI

Halaman Judul … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … i

Daftar isi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 1

BAB II TINJAUAN TEORI

A. Penyakit Tidak Menular


1. Definisi … … … … … … … … … … … … … … … … … … …

2. Prevalensi Penyakit Tidak Menular


… … … … … … … … … …

B. Hipertensi
1. Definisi
… … … … … … … … … … … … … … … … … … …

2. Etiologi
… … … … … … … … … … … … … … … … … … …

3. Patofisiologi Hipertensi
… … … … … … … … … … … … …

4. Tanda dan Gejala Hipertensi


… … … … … … … … … …

5. Faktor-faktor resiko hipertensi


… … … … … … … … … …

6. Komplikasi Hipertensi
… … … … … … … … … … … … …

7. Tingkatan Hipertensi
… … … … … … … … … … … … … … … …

8. Pengendalian
Hipertensi … … … … … … … … … … … … … … … …

C. Kanker Payudara
1.Definisi
2.Etiologi
3.Faktor resiko kanker
payudara
4. Manifestasi klinis
5. Klasifikasi TNM kanker payudara & harapan hidup
… … … …

6. Tipe kanker payudara


… … … … … … … … … … … … … … … …

7. Pemeriksaan penunjang
… … … … … … … … … … … … …

8. Komplikasi
… … … … … … … … … … … … … … … … … … …

9. Penatalaksanaan
10. Pengobatan kanker payudara … … … … … … … … … … … … … … … …
11. Pencegahan kanker
payudara
… … … … … … … … … … … … …

D. BPH
1. Definisi
… … … … … … … … … … … … … … … … … … …

2. Etiologi
… … … … … … … … … … … … … … … … … … …

3. Patofisiologi
… … … … … … … … … …

4. Manifestasi klinis
… … … … … … … … … … … … … … … …

5. komplikasi
… … … …

6. konsep eliminasi urine


… … … … … … … … … … … … …

… … … … … … … … … … … … … … … …

BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …

B. Diagnosa Keperawatan
… … … … … … … … … … … … … … … … … … …

C. Intervensi Keperawatan
… … … … … … … … … … … … … … … … … … …

DAFTAR PUSTAKA … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit tidak menular (PTM) menjadi penyebab utama kematian secara


global. Data WHO menunjukkan bahwa dari 57 juta kematian yang terjadi di dunia
pada tahun 2008, sebanyak 36 juta atau hampir dua pertiganya disebabkan oleh
Penyakit Tidak Menular. PTM juga membunuh penduduk dengan usia yang lebih
muda. Di negara-negara dengan tingkat ekonomi rendah dan menengah, dari seluruh
kematian yang terjadi pada orang-orang berusia kurang dari 60 tahun, 29%
disebabkan oleh PTM, sedangkan di negara-negara maju, menyebabkan 13%
kematian. Proporsi penyebab kematian PTM pada orang-orang berusia kurang dari
70 tahun, penyakit cardiovascular merupakan penyebab terbesar (39%), diikuti
kanker (27%), sedangkan penyakit pernafasan kronis, penyakit pencernaan dan PTM
yang lain bersama-sama menyebabkan sekitar 30% kematian, serta 4% kematian
disebabkan diabetes.

Menurut Badan Kesehatan Dunia WHO, kematian akibat Penyakit Tidak


Menular (PTM) diperkirakan akan terus meningkat di seluruh dunia, peningkatan
terbesar akan terjadi di negara-negara menengah dan miskin. Lebih dari dua pertiga
(70%) dari populasi global akan meninggal akibat penyakit tidak menular seperti
kanker, penyakit jantung, stroke dan diabetes. Dalam jumlah total, pada tahun 2030
diprediksi akan ada 52 juta jiwa kematian per tahun karena penyakit tidak menular,
naik 9 juta jiwa dari 38 juta jiwa pada saat ini.

Secara global, regional dan Nasional pada tahun 2030 transisi epidemiologi
dari penyakit menular menjadi penyakit tidak menular semakin jelas. Diproyeksikan
jumlah kesakitan akibat penyakit tidak menular dan kecelakaan akan meningkat dan
penyakit menular akan menurun. PTM seperti kanker, jantung, DM dan paru
obstruktif kronik, serta penyakit kronik lainnya akan mengalami peningkatan yang
signifikan pada tahun 2030. Sementara itu penyakit menular seperti TBC,
HIV/AIDS, Malaria, Diare dan penyakit infeksi lainnya diprediksi akan mengalami
penurunan pada tahun 2030. Peningkatan kejadian PTM berhubungan dengan
peningkatan faktor risiko akibat perubahan gaya hidup seiring dengan perkembangan
dunia yang makin modern, pertumbuhan populasi dan peningkatan usia harapan
hidup.

Indonesia dalam beberapa dasawarsa terakhir menghadapi masalah Triple


Burden Diseases. Di satu sisi, penyakit menular masih menjadi masalah ditandai
dengan masih sering terjadi KLB beberapa penyakit menular tertentu , munculnya
kembali beberapa penyakit menular lama (Re-Emerging Diseases). Di sisi lain, PTM
menunjukkan adanya kecenderungan yang semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 dan Survei
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 dan 2001, tampak bahwa selama 12
tahun (1995-2007) telah terjadi transisi epidemiologi dimana kematian karena
penyakit tidak menular semakin meningkat, sedangkan kematian karena penyakit
menular semakin menurun.

Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (2007), terdapat 50.1% responden laki-
laki yang terkena Hipertensi. Hal ini dikarenakan prevalensi merokok di Indonesia
sangat tinggi, terutama pada laki-laki mulai dari anak, remaja dan dewasa. Data dari
Riskesdas tahun 2010 menunjukkan prevalensi perokok 16 kali lebih tinggi pada
laki-laki (65.9%) dibandingkan perempuan (4.2%). Selain dari merokok, hal lain
yang memicu tingginya hipertensi disebabkan oleh kebiasaan memakan makanan
yang kadar asupan lemaknya >30%, aktivitas fisik yang sangat kurang dan
mengalami stress. Sedangkan, prevalensi asma dan kanker di Indonesia cenderung
lebih tinggi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Prevalensi kanker
cenderung lebih tinggi pada masyarakat kota dibanding pedesaan dan cenderung
lebih tinggi pada orang yang berpendidikan tinggi. Hal ini disebabkan karena gaya
hidup yang tidak sehat, kebiasaan mengkonsumsi makanan cepat saji, serta
kurangnya aktivitas fisik (Riskesdas, 2013).

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi


prevalensi PTM di Indonesia, namun belum sepenuhnya mencapai derajat kesehatan
yang optimal. Sebagai seorang perawat, peran kita tidak hanya sebagai pemberi
pengobatan ataupun perawatan di rumah sakit, namun juga dapat berperan sebagai
perawat komunitas yang berperan meliputi pendidik, pengamat kesehatan,
koordinator pelayanan kesehatan, peran pembaharu, role model dan fasilitator
kesehatan. Peran perawat komunitas dalam mengurangi PTM yaitu dengan
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat seoptimal mungkin melalui praktik
keperawatan komunitas, dilakukan melalui peningkatan kesehatan (Promotif), dan
pencegahan penyakit (preventif) di semua tingkat pencegahan (levels of prevention)
tanpa mengabaikan aspek kuratif dan rehabilitative.
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Kanker Payudara
1. Definisi
Carsinoma Mammae merupakan gangguan dalam pertumbuhan sel
normal mammae dimana sel abnormal timbul dari sel-sel normal, berkembang
biak dan menginfiltrasi jaringan limfe dan pembuluh darah (Nurarif & Kusuma,
2015).
Kanker payudara adalah pertumbuhan yang tidak normal dari sel-sel
jaringan tubuh yang berubah menjadi ganas (Harianto 2005).
Jadi kanker payudara (ca mammae) adalah suatu gangguan pada sel
normal mammae yang tumbuh menjadi sel abnormal yang dapat berubah menjadi
ganas.
2. Etiologi
Penyebab kanker payudara belum dapat ditentukan, tetapi terdapat
beberapa faktor resiko yang telah ditetapkan, yaitu lingkungan atau genetik.
Kanker payudara memperlihatkan proliferasi keganasan sel epitel yang
membatasi duktus atau lobus payudara. Pada awalnya hanya terdapat hyperplasia
sel dengan perkembangan sel-sel yang atipikal dan kemudian berlanjut menjadi
karsinoma insitu dan menginvasi stroma. Kanker membutuhkan waktu 7 tahun
untuk tumbuh dari satu sel menjadi massa. Hormone steroid yang dihasilkan
oleh ovarium juga berperan dalam pembentukan kanker payudara (estradisol dan
progesterone mengalami perubahan dalam lingkungan seluler) (Brunner &
Suddarth,2002).
3. Faktor resiko kanker payudara
i. Riwayat keluarga tentang kanker payudara
Keluarga tingkat pertama (keluarga maternal atau paternal )
dengan kanker payudara 2-3 kali lebih besar terkena kanker.Ibu dan
saudara perempuan,atau 2 saudara perempuan terkena kanker payudara
mempunyai resiko 6 kali lebih besar terkena kanker payudara.
Ii. Usia
Usia 30-50 tahun mengalami peningkatan kasus ca.mammae dan
tingkat menurun saat menopause.
iii. Lokasi geografis dan ras
Pada orang Eropa barat dan Amerika Utara mengalami peningkatan
kasus ca.mammae lebih dari 6-10 kali orang keturunan Amerika, perempuan
Afrika - Amerika sebelum usia 40 tahun.
iv. Bentuk tubuh
Orang yang obesitas setiap penambahan 10 kg berat badan maka
80% lebih besar terkena kanker payudara.
v. Sosial ekonomi dan status perkawinan

Perempuan tidak menikah 50% lebih sering terkena kanker payudara


dan kelompok sosial ekonomi menengah keatas.

vi. Paparan radiasi


Peningkatan resiko untuk setiap radiasi pada perempuan muda dan
anak-anak,bermanifestasi setelah usia 30 tahun,periode laten minimun 10-15
tahun.
vii. Kanker primer kedua
Orang dengan kanker ovarium primer memiliki resiko kanker
payudara 3-4 kali lebih besar. Orang dengan kanker endometrium primer
memiliki resiko kanker payudara 2 kali lebih besar. Orang dengan kanker
kolorektal mempunyai resiko 2 kali lebih besar terhadap kanker payudara
(Price, A Sylvia. 2006).
viii. Menarke dini.
ix. Nulipara dan usia maternal lanjut saat kelahiran anak pertama.
x. Menopouse.
xi. Riwayat penyakit payudara jinak.
xii. Obesitas resiko terendah diantara wanita pascamenopouse.
xiii. Kontrasepsi oral lebih dari 7 tahun meningkatkan terjadinya ca.mammae
(Depkes RI,2007).
xiv. Terapi pergantian hormone.
xv. Masukan alkohol
(Brunner & Sudarth,2002)
4. Manifestasi klinis
i. Nyeri.
Nyeri yang menyebar pada payudara dan nyeri tekan yang terjadi
saat menstruasi biasanya berhubungan dengan penyakit payudara jinak.
Nyeri yang jelas pada bagian yang ditunjuk dapat berhubungan dengan
kanker payudara pada kasus lebih lanjut. Biasanya nyeri timbul jika
kanker sudah bermetastase ke tulang (Brunner & Sudarth,2002).
ii. Benjolan pada payudara.
Benjolan ini mula-mula kecil makin lama semakin membesar, lalu
melekat pada kulit atau menimbulkan perubahan pada kulit payudara atau
puting susu.
iii. Erosi atau eksema puting susu.
Kulit atau puting susu tertarik kedalam (retraksi) berwarna merah
muda atau kecoklat-coklatan sampai menjadi edema, hingga kulit terlihat
seperti jeruk (peau d’orange) mengkerut atau timbul borok (ulkus pada
payudara). Ulkus itu semakin lama semakin besar dan mendalam sehingga
dapat menghancurkan payudara, sering berbau busuk dan mudah berdarah.
iv. Timbul pembesaran kelenjar getah bening ketiak bengkak pada lengan dan
penyebaran kanker diseluruh tubuh.
v. Penglupasan papilla payudara
vi. Keluar cairan abnormal dari puting susu berupa nanah darah, cairan encer
padahal ibu tidak sedang hamil ataupun menyusui.
5. Klasifikasi TNM Kanker Payudara dan Harapan Hidup

TUMOR PRIMER (T)

Tumor Primer

T0 Tidak ada bukti tumor primer

Tis Karsinoma in situ

T1 Tumor < 2 cm
T2 Tumor > 2 cm tapi <5 cm

T3 Tumor >5 cm

T4 Perluasan kedinding dada,


inflamasi

KELENJAR GETAH BENING REGIONAL(N)

Kelenjar Getah Bening Regional

N0 Tidak ada tumor dalam kelenjar getah bening


regional

N1 Metastasis kekelenjar ipsiteral yang dapat


berpindah-pindah

N2 Metastase kekelenjar ipsiteral yang menetap

N3 Metastase kekelenjar mamaria interna


ipsilateral

METASTASIS JAUH (M)

Metastasis Jauh

M0 Tidak ada metastasis jauh

M1 Metastasisi jauh (termasuk menyebar ke


kelenjar supraklavikular ipsilteral)
PENGELOMPOKAN STADIUM

Pengelompokan Bertahan hidup


stadium 5 tahun (%
pasien)

Stadium 0 N0 MO 99%

Stadium 1 N0 MO 92%

Stadium II A TQ N1 MO 82%

T1 N1 MO

T2 N0 MO

Stadium IIB T2 N1 MO 65%

T3 N0 MO

Stadium IIIA T0 N2 MO 47%

T1 N2 MO

T2 N2 MO

T3 N1,N2 MO

Stadium IIIB T4 N apa saja MO 44%

T apa saja N3 MO

Stadium IV T apa saja N apa saja M1 14%

(American Joint Committee on Cancer,1997.*National Cancer Institute-


Surveillance,Epidemiology,and End Result <SEER>,2001).
6. Tipe kanker payudara
i. Karsinoma duktal menginfiltrasi
Kanker ini terasa jelas sangat keras saat dipalpasi, biasanya kanker
ini bermetastasis ke nodus aksila.
ii. Karsinoma Lobular menginfiltrasi
Tipe kanker ini dapat terjadi penebalan disalah satu area atau
kedua area payudara. Karsinoma duktal biasanya menyebar ketulang,
paru, hepar atau otak, sementara karsinoma lonular biasanya bermetastasis
kepermukaan meningeal atau tempat-tempat tidak lazim lainnya.
iii. Karsinoma medular
Ini tubuh didalam kapsul dalam tubuh, tipe tumor ini dapat
menjadi besar tetapi meluas dengan lambat.
iv. Kanker musinus
Penghasil lendir, tumbuh dengan lambat, mempunyai prognosis
yang lebih baik.
v. Kanker duktal-tubular
Bermetastasis ke aksilaris secara histologi tidak lazim, maka
prognosisinya sangat baik.
vi. Karsinoma inflamatori
Tumor setempat ini terasa nyeri tekan dan sangat nyeri, payudara
secara abnormal keras dan membesar, kulit diatas tumor ini merah dan
agak kehitaman, sering terjadi edema retraksi puting susu. Penyakit
menyebar dengan cepat pada bagian tubuh lainnya.

7. Pemeriksaan Penunjang
i. Non Invasif
a. Mammografi
Mammografi adalah teknik pencitraan payudara yang dapat
mendeteksi lesi yang tidak terpalpasi. Mammografi terakhir harus
dibandingkan dengan hasil mammografi terbaru. Keuntungan dari
pemeriksaan ini jauh lebih ringan dari resiko yang ditimbulkan, pasien
perlu menemukan pusat perawatan payudara yang mempunyai
akreditasi dalam mammografi berkaitan dengan bergamnya setting satu
ke setting lainnya. Pedoman ACS menganjurkan setiap 1 atau 2 tahun
bagi wanita di usia 40-50 tahun dan setelah usia 50 tahun. Mammografi
bagi wanita antara usia 35 dan 40 tahun belum dianjurkan.
b. USG (Ultrasonografi)
USG dilakukan untuk membedakan kista yang berisi cairan dengan
jenis lesi lainnya. Teknik ini 95% sampai 99% akurat dalam
mendiagnosisi kista tetapi tidak secara definitif menyingkirkan lesi
(Brunner & Sudarth,2002).
c. MRI
MRI digunakan untuk membedakan karsinoma mammae yang
rekuren atau jaringan parut, untuk memeriksa mammae kontralateral
pada wanita karsinoma payudara, menentukan penyebaran dari
karsinoma terutama karsinoma lobuler atau menentukan respon
terhadap kemoterapi neoadjuvan.
ii. Invasif
a. Biopsi bedah
b. Biopsi eksisional
c. Tru-cut core biopsy
d. Biopsi stereotaktik
e. Aspirasi jarum halus
(Brunner & Sudarth,2002).

8. Komplikasi
Komplikasi terjadi karena kanker ini bermetastasis melalui saluran limfe
(limfogen) ke paru-paru,tulang dan hati.
9. Penatalaksanaan
i. Terapi Medis
Mastektomi adalah operasi pengangkatan payudara,ada tiga jenis
mastektomi antara lain:
a. Modiefied Radical Mastectomy yaitu operasi pengangkatan seluruh
payudara, jaringan payudara ditulang dada, tulang selangkang dan
tulang iga, serta benjolan disekitar ketiak.
b. Total (Simple) Mastectomy yaitu pengangkatan diseluruh payudara
saja, tetapi bukan kelenjar ketiak.
c. Radicial Mastectomy yaitu operasi pengangkatan sebagian dari
payudara, biasanya disebut Lumpectomy yaitu pengangkatan hanya
pada bagian yang mengandung sel kanker bukan seluruh pa yudara.
ii. Terapi Non-Medis
a. Lintas Metabolisme
Asam bifosfonat merupakan senyawa penghambat aktivitas
osteoklas dan resorpsi tulang yang sering digunakan untuk melawan
osteoporosis yang diinduksi oleh overian suppression, hiperkalsemia
dan kelainan metabolisme tulang, menunjukkan efektivitas untuk
menurunkan metastasisi sel kanker pudara menuju tulang. Walaupun
penggunaan dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek samping
seperti osteonerkrosisi dan turunnya fungsi ginjal.
b. Radiasi
c. Kemoterapi
 Kemoterapi Adjuvant
 Neoadjuvant Chemotheraphy
d. Terapi anti-estrogen
e. Terapi antibodi anti-HER 2/neu
10. Pengobatan
Pengobatan kanker payudara yang sudah disepakati oleh ahli kanker
menurut (Mediastore 2011) yaitu:

Stadium Pengobatan

I Dilakukan operasi dan kemoterapi

II Operasi dilanjutkan dengan kemoterapi,


hormonal

III Operasi dilanjutkan dengan kemoterapi


ditambah dengan radiasi dan hormonal

IV Dilakukan kemoterapi dilanjutkan dengan


radiasi dan hormonal

Selanjutnya Setelah diobati harapan hidup pasien paling


lama adlah 4 tahun

11. Pencegahan
i. Melakukan pemeriksaan payudara secara mandiri (SADARI).
ii. Memberikan ASI pada bayi bagi ibu menyusui.
iii. Jika menemukan benjolan/gumpalan segera kedokter.
iv. Mencari tahu riwayat keluarga mengenai kanker payudara.
v. Mengurangi konsumsi alcohol.
vi. Memperhatikan berat badan untuk mencegah obesitas dan mengurangi
makanan yang banyak mengandung lemak.
vii. Untuk usia 50-40 dan usia lebih dari 50 tahun untuk melakukan skrinning
mammografi 1 atau 2 tahun sekali
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Geografi
- Apakah anda tingal di daerah pegunungan atau pantai ?
- Bagaimana keadaan tanah di daerah ini ?
- Berapa luas daerah ini ?
- Ada berapa batas wilayah di daerah ini dan apa saja nama wilayah di masing-
masing batasnya?
2. Demografi
- Berapakah jumlah KK di daerah ini ?
- Berapakah jumlah penduduk di daerah ini ?
- Bagaimana mobilitas penduduk, apakah penduduk jarang di rumah ketika pagi
dan siang hari karena bekerja, sedangkan anak-anak pada sekolah.?
- Apakah daerah ini termasuk daerah yang padat dengan penduduk?
3. Vital Statistik
- Bagaimana status kelahiran di daerah ini?
- Penyakit apa saja yang banyak terjadi di masyarakat khususnya pada wanita usia
dewasa?
- Penyakit apa saja yang banyak terjadi di daerah ini khususnya pada pria usia
dewasa?
- Apakah dalam satu bulan ini sudah terdapat banyak warga yang meninggal?
4. Kelompok Etnis
- Suku apa yang dianut di masyarakat?
5. Nilai dan Keyakinan
- Apakah ada masjid / mushola atau tempat ibadah lainnya?
- Apakah masyarakat menganut agama yang sama?
- Keyakinan apa yang di anut dalam masyarakat?
Pengakajian Sub Sistem
1. Lingkungan fisik
- Apakah rumah penduduk tergolong perumahan yang menetap?
- Apakah pencahayaan di rumah penduduk sudah cukup?
- Apakah di daerah ini sirkulasi udara sudah baik ? misalnya terdapat pepohonan
dan terdapat ventilasi yang cukup pada setiap rumah warga?
2. Pelayanan Kesehatan
- Apakah terdapat praktik klinik swasta di daerah ini ?
- Berapa jumlah tenaga kesehatan di daerah ini (perawat, bidan, dokter)?
- Apakah terdapat mushola atau tempat ibadah lainnya di daerah ini ?
- Ada berapa sekolah yang terdapat pada daerah ini ?
- Apakah terdapat panti sosial di daerah ini?
- Apakah terdapat pasar/swalayan/ toko yang menyediakan kebutuhan masyarakat?
- Apakah ada tempat perkumpulan untuk melakukan musyawarah di daerah ini ?
- Apakah program posyandu terlaksana di daerah ini? Posyandu apa saja yang
diselenggarakan di daerah ini? Apakah posyandu sudah berjalan aktif? Berapa
kali diselenggarakan?
- Apakah sanitasi warga sudah tergolong baik atau tidak ?
- Dari mana sumber air yang digunakan dalam masyarakat?
- Dimanakah pembuangan air limbah pada masyarakat?
- Apakah mayoritas warga telah memiliki jamban pada setiap rumah ?
- Dimanakah mayoritas warga melakukan MCK?
- Dimankah tempat penumpukan/pembuangan sampah ?
- Dari mana terdapatnya sumber polusi yang mungkin mengancam kesehatan atau
kegiatan sehari-hari?
- Apakah ada vektor penyebab penyakit di masyarakat?
3. Keamanan & Transportasi :
- Apakah ada pemadam kebakaran?
- Apakah ada terdapat siskamling atau hansip?
- Apakah ada transportasi umum atau pribadi yang bisa digunakan di masyarakat?
- Apakah keadaan jalanan di daerah ini sudah dalam keadaan baik?
- Bagaimana cara pemilihan RT/RW di daerah ini ?
4. Pemerintah dan politik
- Ada berapa RT dan RW di desa ini ?
- Ada berapa kader di desa ini ?
- Apakah ada karang taruna di desa ini? Apakah sudah berjalan dengan baik dan
aktif?
- Apakah terdapat tokoh agama di desa ini ?
5. Pendidikan
- Tingkat pendidikan komunitas ?
- Apa fasilitas pendidikan yang tersedia?
- Jenis bahasa apa yang digunakan dalam pendidikan?
6. Rekreasi
- Apakah masyarakat sering melakukan rekreasi antar warga atau kelompok
tertentu?
- Fasilitas apa yang digunakan jika pergi berekreasi?
7. Ekonomi
- Apakah warga memiliki pekerjaan yang tetap?
- Berapa jumlah penghasilan rata-rata tiap bulan?
- Berapa jumlah pengeluaran rata-rata tiap bulan?
- Berapa jumlah pekerja dibawah umur, ibu rumah tangga, dan lanjut usia?

Deteksi Kanker

Langkah-langkah yang dilakukan antara lain:

1. Mempersiapkan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Memetakan Fasilitas Kesehatan Tingkat


Pertama yang dapat melakukan pemeriksaan Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara

2. Melakukan pemetaan peserta wanita sudah menikah dan wanita berisiko dengan ketentuan:
a. Berisiko tinggi Kanker Leher Rahim, antara lain: menikah/hubungan seksual pada usia
muda, sering melahirkan, merokok, berganti-ganti pasangan seksual, dan infeksi
menular seksual.

1) Apakah anda sudah menikah?

2) Apakah anda pernah melakukan hubungan seksual pada usia muda?

3) Berapakali anda melahirkan?

4) Apkah anda merokok ?

5) Apakah anda pernah berganti-ganti pasangan seksual?

6) Apakah anda pernah mengalami infeksi menular seksual ?

b. Berisiko tinggi Kanker Payudara, antara lain: riwayat keluarga ada yang menderita
Kanker Payudara, menstruasi dini, wanita yang mempunyai anak pertama diatas usia 30
tahun, tidak pernah menyusui, menopause usia lanjut, riwayat tumor jinak payudara,
terapi hormon, pajanan radiasi, kontrasepsi oral terlalu lama, alkohol dan trauma terus
menerus

1) Apakah ada keluarga anda yang menderita kangker payu dara?

2) Pada umur berapakah anda mulai menstruasi?

3) Pada usia berapa anda melahirkan anak pertama?

4) Apakah anda memberikan ASI kepada anak anda?

5) Apakah anda masih menstruasi setiap bulannya? Kapan terkahir menstruasi?

6) Apakah sebelumnya anda mempunyai riwayat tumor jinak payudara?

7) Apakah anda pernah melakukan terpai hormon?

8) Apakah anda berada di lingkungan yang terpapar radiasi?

9) Apakah anda mengkonsumsi pik KB? Berapa lama anda mengkonsumsinya?


10) Apakah anda pernah mengkonsumsi alkohol?

11) Apakah anda pernah mengalami trauma yang terus-menrus?

c. Peserta mendapatkan rekomendasi dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama

d. Peserta mendaftar dengan lembar kesediaan Formulir Permohonan Pelayanan Deteksi


Kanker Leher Rahim atau Kanker Payudara

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Gaya hidup monoton b.d kurang pengetahuan tentang keuntungan olahraga bagi
kesehatan : suatu kebiasaan hidup yang dicirikan dengan aktivitas fisik yang
rendah.
b. Perilaku kesehatan cenderung beresiko b.d kurang dukungan sosial : Hambatan
kemampuan untuk mengubah gaya hidup/perilaku dalam cara yang memperbaiki
status kesehatan.
c. Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan b.d keterampilan komunikasi yang tidak
efektif : ketidakmampuan mengidentifikasi, mengelola, dan/atau mencari bantuan
untuk mempertahankan kesehatan.
d. Defisiensi kesehatan komunitas b.d ketidakcukupan akses pada pemberi layanan
kesehatan.
e. Ketidakefektifan manajemen kesehatan b.d kurang dukungan sosial.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

Dx.1 Gaya hidup monoton b.d kurang pengetahuan tentang keuntungan olahraga
bagi kesehatan : 00168

Kriteria hasil :

1. (185520) Faktor lingkungan yang mempengaruhi perilaku kesehatan :


dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 5.
2. (185522) Strategi pencegahan penyakit : dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke
5.

3. (185525) Manfaat dukungan sosial: dipertahankan pada 2 di tingkatkan ke 5.

4. (180502) Manfaat olahraga teratur : dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 5.

5. (182308) Perilaku meningkatkan kesehatan : dipertahankan pada 2 ditingkatkan


ke 5.

NIC :

1. Peningkatan Latihan : Latihan kekuatan.

2. Terapi latihan : Latihan pergerakan sendi.

3. Bantuan modifikasi diri.

4. Fasilitasi tanggung jawab diri.

Dx. 2 Perilaku kesehatan cenderung beresiko b.d kurang dukungan sosial : 00188

Kriteria hasil :

1. Penerimaan status kesehatan

a) 130016 : Mempertahankan hubungan : dipertahankan pada 3 di


tingkatkan 5.

b) 130007 : Menyesuaikan perubahan dalam status kesehatan :


dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 4.

c) 130011 : Membuat keputusan tentang kesehatan : dipertahankan pada 2


ditingkatkan ke 4.

2. Kepercayaan mengenai kesehatan : Sumber-sumber yang diterima


a) 170303 : Merasakan dukungan dari tetangga :dipertahankan pada 3
ditingkatkan ke 5.

b) 170304 : Merasakan dukungan dari penyedia layanan kesehatan :


dipertahankan pada 3 ditingkatkan ke 5.

c) 170305 : Merasakan dukungan dari dukungan kelompok sendiri :


dipertahankan pada 3 ditingkatkan ke 5.

NIC :

1. Modifikasi perilaku.

2. Membangun hubungan yang kompleks.

3. Peningkatan koping.

4. Dukungan pengambilan keputusan.

Dx. 3 Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan b.d kurang pengetahuan tentang

keuntungan olahraga bagi kesehatan : 00099

Kriteria hasil :

1. Keseimbangan Gaya Hidup : 2013

a) 201301 : Mengenali kebutuhan untuk menyeimbangkan aktivitas-


aktivitas hidup : dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 5.

b) 201302 : Mencari informasi tentang startegi untuk aktivitas hidup


yang seimbang : dipertahankan pada 2 ditingkatkan pada 4.

2. Pengetahuan : Manajemen Kanker : 1833

a) 183301 : hasil skrining abnormal : Dipertahankan pada 2


ditingkatkan ke 4.
b) 183302 : Tanda dan gejala kanker : dipertahankan pada 2
ditingkatkan ke 4.

c) 183303 : diagnosis kanker tertentu : dipertahankan pada 2


ditingkatkan ke 4.

3. Pengetahuan : Manajemen Hipertensi : 1837

a) 183703 : Target tekanan darah dipertahankan pada 3 ditingkatkan


ke 5.

b) 183705 : komplikasi potensial hipertensi dipertahankan pada 2


ditingkatkan pada 4.

c) 183706 : Pilihan pengobatan yang tersedia dipertahankan pada 2


ditingkatkan ke 4.

d) 183707 : manfaat pengobatan jangka panjang dipertahankan pada 2


ditingkatkan ke 4.

4. Pengetahuan : gaya hidup sehat : 1855

a) 185522 : strategi pencegahan penyakit dipertahankan pada 2


ditingkatkan di 4.

b) 185527 : Pentingnya skrining pencegahan dipertahankan pada 2


ditingkatkan ke 4.

c) 185535 : strategi meningkatkan keseimbangan hidup dipertahankan


pada 2 ditingkatkan ke 4.

NIC :

1. Berikan pendidikan kesehatan.

2. Peningkatan kesadaran kesehatan.

3. Lakukan Skrining kesehatan.


4. Berikan panduan sistem pelayanan kesehatan.

5. Fasilitasi pembelajaran.

Dx. 4 Defisiensi kesehatan komunitas b.d ketidakcukupan akses pada


pemberi layanan kesehatan : 00215
Kriteria hasil

1. Status imun komunitas : 2800

a) 280001 : Tingkat imunisasi sama dengan atau lebih besar dari


standar dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 4.

b) 280007 : Skrining pada populasi beresiko infeksi dipertahankan pada


1 ditingkatkan ke 4.

c) 280008 : Kepatuhan dengan rekomendasi imunisasi dipertahankan


pada 2 ditingkatkan ke 4.

2. Kontrol resiko komunitas penyakit kronik : 2801

a) 280101 : Penyediaan program pendidikan publik tentang penyakit


kronis dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 4.

b) 280102 : Tingkat partisipasi populasi target dalam program


pengurangan resiko dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 4.

c) 280103 : Ketersediaan program preventif dipertahankan pada 2


ditingkatkan ke 4.

d) 280105 : ketersediaan program pendidikan manajemen penyakit


kronis sendiri dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 4.

e) 280119 : pemantauan insiden penyakit kronis dipertahankan pada 2


ditingkatkan ke4.
f) 280123 : pemantauan komplikasi penyakit kronis dipertahakan pada
2 ditingkatkan ke 5.

3. Kefektifan skrining kesehatan komunitas : 2807

a) 280701 : identifikasi kondisi berisiko tinggi yang umum di


komunitas dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 4.

b) 280703 : pemilihan skrining difokuskan pada deteksi dini


dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 4.

c) 280707 : identifikasi kebutuhan skrining untuk orang dewasa


dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 4.

NIC :

1. Pengembangan kesehatan komunitas.

2. Manajemen sumber daya keuangan.

3. Skrining kesehatan.

Dx. 5 Ketidakefektifan manajemen kesehatan b.d kurang dukungan sosial : 00078

Kriteria hasil :

1. Perilaku patuh : 1600

a) 160001 : Menanyakan pertanyaan terkait kesehatan dipertahankan


pada 2 ditingkatkan ke 4.

b) 160002 : mencari informasi kesehatan dari berbagai macam sumber


dipertahakan pada 2 ditingkatkan ke 4.

c) 160003 : Menggunakan informasi kesehatan yang dapat dipercaya


untuk mengembangkan strategi dipertahakan pada 2 ditingkatkan ke
4.
NIC :

1. Membangun hubungan yang kompleks.

2. Modifikasi perilaku.

3. Peningkatan koping.

4. Konseling.

5. Dukungan emosional.

6. Panduan sistem pelayanan kesehatan.


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, A. (2011). Kanker Payudara. Diambil dari


http://medicastore.com/penyakit/1045/Kanker_Payudara.html. 13 Oktober 2017.

Brunner and Suddarth. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8 volume 2.
Jakarta : EGC.

Bulechek, gloria m., dkk.2015 Nursing interventions cassifiction, NIC Edisi VI Ahli Bahasa:
Intrasi Nurjannah, dk. Elesiver; Jakarta

Bustan, M.N., 2007. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Cetakan 2 Rineka Cipta, .
Jakarta.

Depkes RI., 2007. InaSH Menyokong Penuh Penanggulangan Hipertensi. Intimedia. Jakarta.

Elizabeth J. Corwin. (2009). Buku Saku Patofisiologi Corwin. Jakarta : Aditya Media.

Gray, Huon H, dkk, 2002. Lucture Notes : Kardiologi (Edisi Keempat). Erlangga Medical
Series. Jakarta.

Guyton AC, JE Hall. Buku Ajar Fisiologi. Ed. 9. Alih Bahasa: Setiawan I, Santoso A.
Jakarta: EGC; 2006.

Harianto, Rina, M, dan Hery, S 2005. Risiko penggunaan pil kontrasepsi kombinasi
terhadap kejadian kanker payudara pada reseptor KB di Perjan RS Dr.
CiptoMangun kusumo, Jakarta: Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. 2, No.1, hh. 84-99.

Hayens,B,dkk. (2003). Buku pintar menaklukkan Hipertensi. Jakarta : Ladang Pustaka.

Herdman t. Heather, S.Kamitsuru. 2015. NANDA Internasional Inc. Diagnosis keperawatan :


Definisi dan Klasifikasi 2015-2017 Edisi 10 Ahli Bahasa Budi Ana Keliat,dkk.
Jakarta: EGC .

Jansje dan Samodra. 2013. Prevalensi Penyakit Tidak Menular Pada Tahun 2012 - 2013 di
Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara Sulawesi Utara. Diambil dari :
https://www.researchgate.net/publication/316992216_Prevalensi_Penyakit_Tidak_

Mooheread,sue dkk. 2015. Nursing Interventions Cassification, NOC Edisi VI Ahli Bahasa:
Intrasi Nurjannah, dk. Elesiver; Jakarta.

Nur Arif dan Kusuma. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarakan Nanda NIC-
NOC.Edisi Revisi. Jilid 1 dan 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC:Jakarta.
_________________. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarakan Nanda NIC-
NOC.Edisi Revisi. Jilid 1. Jogjakarta : Mediaction.
Price, S. A. dan Wilson, L. M. (2006). Patofisiologi : Konsep Klinis ProsesProses Penyakit,
Edisi 6, Volume 1. Jakarta: EGC.

RISKESDAS. Riset Kesehatan Dasar. 2007. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan, Departemen Kesehatan, Republik Indonesia.

____________________________ ___ . 2013 . Jakarta: Badan Penelitian dan


Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan, Republik Indonesia.

Sagala, LMB.2010.Perawatan Penderita Hipertensi di Rumah oleh Keluarga Suku Batak


dan Suku Jawa di Kelurahan Lau Cimba Kabanjahe. Skripsi. Fakultas Keperawatan.
Medan: Universitas Sumatra Utara.

Sheps, S. G. (2005). Mayo clinic hipertensi; mengatasi tekanan darah tinggi. Jakarta:Intisari
Mediatama.

Sudjaswadi,Wiryowidagdo, M.Sitanggang. 2002. Tanaman Obat untuk Penyakit Jantung,


Darah Tinggi, dan Kolesterol. Jakarta: AgroMedia Pustaka.

WHO., 2010. The World Health Report 2010. http://www.who.int./whr/2010/en/index.html


Akses 13 Oktober 2017.

WHO, 2011. Noncommunicable Diseases Country Profiles 2011. http://-


whqlibdoc.who.int/publications/2011/9789241502283_eng.pdf.