Sie sind auf Seite 1von 15

Jurnal Agro Ekonomi, Vol. 36 No. 1, Mei 2018:55-69 DOI: http://dx.doi.org/10.21082/jae.v36n1.2018.

55-69 55

ANALISIS EFISIENSI PRODUKSI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PATI


DENGAN FUNGSI PRODUKSI FRONTIER STOKASTIK COBB-DOUGLAS

Analyzing the Efficiency of Shallot Production in Pati Regency Using the


Cobb-Douglas Stochastic Frontier Production Function
Eka Nurjati*, Idqan Fahmi, Siti Jahroh

Departemen Manajemen dan Bisnis, Fakultas Sekolah Bisnis, Institut Pertanian Bogor
Jln. Raya Padjajaran, Kampus IPB Gunung Gede, Bogor 16151, Jawa Barat, Indonesia
* Korespondensi penulis. E-mail: eka.nurjati17@gmail.com

Diterima: 8 Februari 2018 Direvisi: 9 Maret 2018 Disetujui terbit: 13 Juli 2018

ABSTRACT

Pati includes the prospective regencies for accelerating the growth rate and area diversification of shallot
production in Central Java. However, the shallot production and productivity in Pati were unstable with a decreasing
trend in recent years. The objective of this study is to evaluate the status and determinants of the shallot production
efficiency using the Cobb-Douglas stochastic frontier production function. The research was conducted in three
production centers sub-districts, Wedarijaksa, Batangan, and Jaken, in October 2017. The primary data were
collected by interviewing 33 respondents which were selected through the stratified sampling technique. The results
indicated that shallot farmers were efficient technically, but not economically and allocatively. Two significant
determinants of the technical efficiency were the length of farming experience (positively related) and farmers’ age
(negatively related). The farmers group membership and access to extension services were not significant, but both
have positive effects on technical efficiency. Production efficiency may be increased through inputs use optimization
that include reducing of anorganic fertilizer, increasing the quantity of organic fertilizer and seed, using of the true
shallot seed and implementation of Integrated Pest Management. Improving the functions of agriculture extentions
and farmers’ groups should also enhance shallot farming efficiency.
Keywords: Allium cepa L., Cobb-Douglas, efficiency, pati

ABSTRAK

Kabupaten Pati termasuk kabupaten di Jawa Tengah yang dipandang prospektif untuk percepatan peningkatan
dan diversifikasi wilayah produksi bawang merah. Namun, produksi dan produktivitas bawang merah di Kabupaten
Pati tidak stabil dan cenderung turun akhir-akhir ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status dan
determinan efisiensi produksi bawang merah tersebut dengan fungsi produksi stokastik frontier Cobb-Douglas.
Penelitian dilakukan di tiga kecamatan sentra produksi yaitu Wedarijaksa, Batangan, dan Jaken pada Oktober
2017. Data primer diperoleh dengan mewawancarai 33 orang responden yang dipilih secara stratified sampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani bawang merah di Kabupaten Pati sudah efisien secara teknis, namun
belum efisien secara ekonomis dan alokatif. Ditemukan dua faktor yang berpengaruh nyata terhadap efisiensi
teknis, yaitu lama pengalaman menjadi petani (berpengaruh positif) dan umur petani (berpengaruh negatif).
Keanggotaan kelompok tani dan akses penyuluhan berpengaruh positif, namun tidak nyata. Efisiensi dapat
ditingkatkan melalui optimalisasi penggunaan input-input produksi, termasuk dengan mengurangi jumlah
penggunaan pupuk anorganik, menambah jumlah pupuk organik dan benih, menggunakan benih jenis biji botani,
dan menerapkan sistem pengendalian hama terpadu. Peningkatan fungsi penyuluh pertanian dan kelompok tani
termasuk strategi untuk meningkatkan efisiensi usaha tani bawang.
Kata kunci: Allium cepa L., Cobb-Douglas, efisiensi, pati

PENDAHULUAN alamnya yang ditunjukkan dengan peningkatan


produksi bawang merah setiap tahunnya.
Provinsi Jawa Tengah merupakan provinsi
Bawang merah merupakan salah satu penghasil bawang merah tertinggi di Indonesia
komoditas hortikultura yang penting bagi dengan Kabupaten Brebes sebagai sentra utama
masyarakat Indonesia yang digunakan sebagai produksi. Namun, Pemerintah Provinsi Jawa
bahan utama bumbu dasar masakan. Indonesia Tengah tidak ingin menggantungkan produksinya
berpotensi untuk pengembangan usaha tani hanya di Kabupaten Brebes (Sismanto 2014).
bawang merah karena kesesuaian kondisi Salah satu daerah di Jawa Tengah yang
56 Jurnal Agro Ekonomi, Vol. 36 No. 1, Mei 2018:55-69

prospektif untuk pengembangan produksi penurunan selama periode 2012–2015. Tsurayya


bawang merah ialah Kabupaten Pati (Kementan dan Kartika (2015) menyatakan bahwa me-
2014). Kabupaten Pati menyumbang produksi nurunnya produktivitas bawang merah disebab-
nasional sebesar 22.101 ton atau memberikan kan kurangnya kesadaran untuk melakukan
kontribusi produksi bawang merah sebesar pengendalian organisme pengganggu tanaman.
1,80% dari total produksi nasional pada tahun Berdasarkan Daryanto (2010), esensi dari daya
2015. Namun, pada tahun 2012–2015, produksi saing suatu industri, perusahaan, atau komoditas
bawang merah di Kabupaten Pati cenderung adalah efisiensi dan produktivitas. Sumber
mengalami penurunan (Gambar 1). Kondisi ini pertumbuhan produksi pertanian berasal dari
tidak sesuai dengan salah satu target pengembangan luas areal tanam dan peningkat-
pemerintah, yaitu bawang merah merupakan an produktivitas. Sementara itu, Aldila et al.
komoditas dalam kebijakan pemantapan ke- (2017) menyatakan bahwa rendahnya daya saing
daulatan pangan dengan target peningkatan bawang merah Indonesia disebabkan oleh
produksi, stabilisasi harga, dan meningkatnya tingginya biaya usaha tani, terutama untuk benih,
kesejahteraan pelaku usaha (Kementan 2015). tenaga kerja, dan pestisida. Tingginya biaya
produksi yang dikeluarkan, yaitu mencapai 90%
Gambar 2 menunjukkan bahwa produktivitas
bawang merah di Kabupaten Pati mengalami

30.000
25.997
25.000 23.229
21.654 22.101

20.000
Produksi (ton)

15.000

10.000

5.000

0
2012 2013 2014 2015
Tahun

Sumber: BPS (2015a)

Gambar 1. Produksi bawang merah di Kabupaten Pati, 2012–2015

14 13,2
12 11,3
11,1
Produktivitas (ton/ha)

9,7
10

0
2012 2013 2014 2015
Tahun

Sumber: BPS (2015b)

Gambar 2. Produktivitas bawang merah di Kabupaten Pati, 2012–2015

56
ANALISIS EFISIENSI PRODUKSI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PATI DENGAN FUNGSI PRODUKSI FRONTIER 57
STOKASTIK COBB-DOUGLAS Eka Nurjati, Idqan Fahmi, Siti Jahroh

terhadap total penerimaan, menyebabkan harga untuk setiap satu rupiah dari pendapatan yang
jual bawang merah juga cenderung tinggi. diterima oleh petani, maka risiko yang dihadapi
adalah 0,727 rupiah.
Luas lahan bawang merah di Kabupaten Pati
mengalami peningkatan pada periode 2012– Perkembangan harga rata-rata bawang
2014, namun pada tahun 2015 mengalami merah di tingkat nasional selama tahun 2010 dan
penurunan sebesar 18,65% (Gambar 3). Darwis 2012 menunjukkan peningkatan masing-masing
(2017) menyatakan bahwa penurunan areal sekitar 6,20% dan 3,07%, sedangkan pada tahun
panen bawang merah disebabkan oleh adanya 2011 secara rata-rata mengalami penurunan
konversi lahan dan persaingan dengan sebesar 4,77%. Peningkatan harga yang cukup
komoditas pertanian lainnya. Pada umumnya tinggi terjadi pada bulan Agustus 2013 dengan
petani akan memilih komoditas pertanian yang harga mencapai Rp60.549/kg. Harga rata-rata
memiliki nilai jual yang tinggi dan risiko gagal bawang merah pada Februari 2015 mengalami
panen yang rendah. Fauzan (2016) meng- penurunan sebesar 2,66% dibandingkan bulan
ungkapkan bahwa tingkat risiko kerugian yang sebelumnya (Gambar 4). Produksi bawang
dihadapi oleh petani bawang merah cukup tinggi, merah yang berfluktuasi di sentra-sentra produksi
yaitu sebesar 72,7%. Kondisi ini berarti bahwa menyebabkan harga bawang merah juga

3.000
2.402
2.500
1.966 2.061
1.954
Luas lahan (ha)

2.000

1.500

1.000

500

0
2012 2013 2014 2015
Tahun

Sumber: BPS (2015c)

Gambar 3. Luas lahan bawang merah di Kabupaten Pati, 2012–2015

70000
60000
50000
Harga (Rp/kg)

40000
30000
20000
10000
0
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des
Bulan

2010 2011 2012 2013 2014 2015

Sumber: BPS (2015d)

Gambar 4. Perkembangan harga rata-rata eceran bawang merah di tingkat nasional, 2010–2015
58 Jurnal Agro Ekonomi, Vol. 36 No. 1, Mei 2018:55-69

berfluktuasi sehingga perubahan harga terjadi peningkatan efisiensi teknis, ekonomis, serta
sangat cepat (Nuraeni et al. 2015). Darwis (2017) alokatif merupakan alternatif strategi yang tepat.
menjelaskan bahwa produksi bawang merah
Berbagai penelitian tentang efisiensi teknis,
sampai saat ini belum optimal dan masih
ekonomis, dan alokatif telah dilakukan. Salah
tercermin dalam keragaman cara budi daya yang
satu di antaranya adalah penelitian Waryanto et
bercirikan spesifik agroekosistem, kurang
al. (2014) yang mengungkapkan bahwa usaha
mengacu pada teknologi budi daya yang
tani bawang merah di Kabupaten Nganjuk, Jawa
seharusnya. Selain itu, ciri khas lainnya dalam
Timur telah efisien secara teknis, namun belum
usaha tani sayuran adalah harga jual yang
efisien secara ekonomis dan alokatif. Hasil
berfluktuasi dan cenderung murah pada saat
penelitian yang melaporkan bahwa usaha tani
panen, usaha tani yang dilakukan lebih
sudah efisien secara teknis namun belum efisien
berorientasi pasar (tidak konsisten), bersifat
secara ekonomis dan alokatif ditunjukkan oleh
padat modal, dan risiko harga relatif besar karena
penelitian Rinaldi et al. (2013) dalam usaha tani
sifat komoditas yang cepat rusak. Permasalahan-
kakao pada perkebunan rakyat di Bali, Kalangi
permasalahan tersebut mengakibatkan rendah-
(2014) dalam peternakan sapi potong rakyat di
nya daya saing bawang merah di Kabupaten Pati.
Provinsi Jawa Timur, Fadwiwati et al. (2014)
Tingkat daya saing usaha tani dapat diukur usaha tani jagung di Provinsi Gorontalo, dan
berdasarkan tingkat efisiensi teknis, ekonomis, Silitonga et al. (2016) dalam usaha tani jagung
dan alokatif. Tinaprilla (2012) menyatakan bahwa pada lahan kering melalui penerapan
kemampuan dalam mengombinasikan peng- pengelolaan tanaman terpadu (PTT) di Provinsi
gunaan input secara teknis pada tingkat biaya Jawa Barat. Sementara itu, Anggraini et al.
minimum, akan berpengaruh terhadap efisiensi (2016) mengungkapkan bahwa usaha tani ubi
dari pelaku usaha atau petani. Jika secara teknis kayu di Kabupaten Lampung Tengah telah efisien
proses produksi dilakukan secara tidak efisien, secara teknis, ekonomis, dan alokatif. Lubis et al.
maka akan berdampak pada ketidakberhasilan (2014) menganalisis usaha tani nanas di
mewujudkan produktivitas maksimal. Dikatakan Kabupaten Subang dan melaporkan bahwa
secara alokatif proses produksi tidak dilakukan usaha tani tersebut sudah efisien secara alokatif,
secara efisien, yaitu jika proporsi penggunaan namun efisiensi teknis dan ekonomis belum
input pada komoditas tidak optimum yang terpenuhi.
diindikasikan dengan produk penerimaan
Berbeda dengan penelitian-penelitian ter-
marginal yang tidak sebanding dengan biaya
dahulu, penelitian ini menganalisis efisiensi
marginal input yang digunakan. Penggunaan
usaha tani bawang merah di Kabupaten Pati,
input yang tidak efisien akan berpengaruh pada
Jawa Tengah dengan metode Cobb-Douglas
tingkat produktivitas usaha tani yang juga akan
stochastic frontier. Penelitian tentang efisiensi
berpengaruh pada tingkat daya saing komoditas.
usaha tani bawang merah telah dilakukan di
Selain itu, Adiyoga (1999) menjelaskan bahwa
daerah-daerah utama penghasil bawang merah,
terdapat isu inefisiensi yang diinterpretasikan
seperti Kabupaten Brebes, Jawa Tengah dan
sebagai suatu titik atau tahapan di mana tujuan
Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Namun,
dari pelaku ekonomi belum secara penuh
penelitian tentang efisiensi usaha tani bawang
dimaksimalkan karena petani melakukan
merah di Kabupaten Pati yang merupakan salah
penyimpangan-penyimpangan yang menimbul-
satu daerah prospektif untuk pengembangan budi
kan konsekuensi-konsekuensi. Dinamika sektor
daya bawang merah belum pernah dilakukan.
pertanian yang ditandai oleh adanya perubahan
lingkungan teknis dan ekonomis secara terus- Penelitian ini memiliki beberapa tujuan, yaitu
menerus, akan menyulitkan petani dalam (1) menganalisis faktor-faktor yang meme-
menyesuaikan keputusan-keputusan alokatifnya ngaruhi produksi, (2) menganalisis tingkat
agar tetap merespons penggunaan sumber daya. efisiensi teknis, (3) menganalisis faktor-faktor
efisiensi teknis, (4) menganalisis tingkat efisiensi
Upaya yang perlu dilakukan untuk
ekonomis, dan (5) menganalisis tingkat efisiensi
mewujudkan produktivitas bawang merah yang
alokatif. Adapun manfaat yang dapat diambil dari
optimal adalah dengan peningkatan efisiensi baik
penelitian ini yaitu (1) bagi peneliti, penelitian ini
secara teknis, ekonomis, maupun alokatif. Upaya
digunakan sebagai sarana peningkatan
tersebut dilakukan karena strategi peningkatan
kompetensi diri, baik dari segi pengetahuan
produksi bawang merah dengan ekstensifikasi
maupun keterampilan dalam menganalisis tingkat
pertanian atau perluasan lahan pertanian sulit
efisiensi usaha tani bawang merah di Kabupaten
untuk diwujudkan karena terbatasnya penyedia-
Pati; (2) bagi pelaku agribinis, penelitian ini
an lahan pertanian. Oleh karena itu, strategi
diharapkan mampu memberikan informasi dan
peningkatan daya saing bawang merah melalui
gambaran mengenai usaha tani bawang merah
dari segi efisiensi; dan (3) bagi pemerintah,

58
ANALISIS EFISIENSI PRODUKSI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PATI DENGAN FUNGSI PRODUKSI FRONTIER 59
STOKASTIK COBB-DOUGLAS Eka Nurjati, Idqan Fahmi, Siti Jahroh

Daya saing bawang merah di Kabupaten Pati

Faktor-faktor input Efisiensi teknis, Sumber-sumber


produksi ekonomis, dan alokatif inefisiensi teknis

Luas lahan Usia

Benih Anggota kelompok tani

Tenaga kerja Pelatihan

Pestisida Pendidikan

Pupuk organik Lama menjadi petani

Pupuk anorganik Akses ke penyuluh

Strategi Peningkatan Daya Saing Bawang Merah di Kabupaten Pati

Gambar 5. Kerangka pemikiran

penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan memengaruhi inefisiensi produksi usaha tani
dan bahan pertimbangan dalam merumuskan yaitu usia petani, keanggotaan kelompok tani,
kebijakan bagi pengembangan agribisnis bawang pendidikan formal, tingkat akses kepada
merah di Kabupaten Pati. penyuluh, dan lama waktu menjadi petani.
Pemilihan variabel-variabel tersebut didasarkan
pada penelitian terdahulu serta informasi-
METODE PENELITIAN informasi yang berkaitan dengan usaha tani
bawang merah di Kabupaten Pati. Setelah
diketahui faktor-faktor yang memengaruhi
Kerangka Pemikiran
produksi bawang merah, tingkat efisiensi teknis,
Dalam menghadapi tantangan eksternal ekonomis, dan alokatif, serta sumber-sumber
dalam era globalisasi yang ditandai dengan inefisiensi teknis, maka dapat dirumuskan
persaingan dan perdagangan bebas, petani strategi peningkatan daya saing bawang merah di
dituntut untuk meningkatkan daya saing dan Kabupaten Pati.
kemandiriannya. Daya saing dalam artian
penerapan manajemen dan teknologi yang lebih
Pengumpulan Data
efisien, produk yang bermutu, serta pemenuhan
selera dan permintaan pasar (Gany 1996). Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara
Esensi dari daya saing suatu industri, purposive sampling di tiga kecamatan di
perusahaan, atau komoditas adalah efisiensi dan Kabupaten Pati, yaitu Kecamatan Wedarijaksa,
produktivitas. Sumber pertumbuhan produksi Kecamatan Batangan, dan Kecamatan Jaken.
pertanian berasal dari pengembangan luas areal Pemilihan Kabupaten Pati dilandasi dengan
tanam dan peningkatan produktivitas (Daryanto pertimbangan bahwa Kabupaten Pati merupa-
2010). Pada penelitian ini daya saing dikaji kan salah satu kabupaten di Indonesia yang
melalui analisis efisiensi teknis, ekonomis, dan prospektif untuk pengembangan usaha tani
alokatif. Berdasarkan Latruffe (2010), produk bawang merah (Kementan 2014). Namun,
pertanian khususnya bawang merah di Indonesia terdapat berbagai permasalahan usaha tani
perlu didorong untuk memiliki daya saing yang bawang merah di Kabupaten Pati, yaitu produksi
kuat baik dari nilai harga maupun kualitas. Agar yang cenderung menurun selama periode 2012–
memiliki daya saing yang kuat maka proses 2015 dan masih sedikitnya jumlah rumah tangga
usaha tani harus lebih efisien dalam hal usaha tani bawang merah. Ketiga kecamatan
penggunaan input produksi. Input-input produksi tersebut merupakan kecamatan utama penghasil
bawang merah yang dianalisis dalam penelitian bawang merah di Kabupaten Pati. Jumlah sampel
ini yaitu luas lahan, jumlah benih, tenaga kerja, yang diambil adalah sebanyak 33 responden
pestisida, pupuk organik, dan pupuk anorganik, petani yang berasal dari tiga kecamatan di
sedangkan faktor-faktor produksi yang diduga Kabupaten Pati. Penentuan sampel ditentukan
60 Jurnal Agro Ekonomi, Vol. 36 No. 1, Mei 2018:55-69

menggunakan stratified sampling yang didasar- X4 = nitrogen, phospat, dan kalium sebagai hara
kan pada strata luas usaha tani bawang merah. pupuk anorganik (kg NPK)
Distribusi responden berdasarkan kecamatan X5 = jumlah tenaga kerja yang digunakan (JKSP)
dan luas usaha tani bawang merah di Kabupaten X6 = jumlah pestisida (liter)
Pati disajikan pada Tabel 1.
β0 = intersep/konstanta
Survei lapang dilaksanakan pada bulan βj = koefisien parameter penduga ke-j, di mana j
Oktober 2017. Data usaha tani bawang merah = 1, 2, 3, …, 6
yang digunakan adalah data penanaman pada Vi-Ui = (Vi) kesalahan pengganggu, (Ui) efek
bulan kering, yaitu bulan Mei sampai Juli 2017. inefisiensi teknis dalam model
Pengambilan data pada waktu bulan tersebut
dipilih karena budi daya bawang merah lebih Penggunaan software Frontier 4.1 selain
sesuai ditanam pada musim kemarau atau bulan mengeluarkan hasil analisis regresi juga
kering. menghasilkan analisis efek inefisiensi teknis
berupa dugaan nilai parameter Ui sesuai
Pengumpulan data dilakukan dengan cara persamaan berikut:
wawancara kepada petani bawang merah
sebagai responden penelitian baik menggunakan U = δ0 + δ 1 Z 1 + δ 2 Z 2 + δ3 Z 3 + δ 4 Z 4 + δ 5 Z 5 +
kuesioner terstruktur maupun diskusi. Daftar δ6 Z6 + W i ............................................................................ (2)
pertanyaan untuk petani terdiri dari karakteristik
responden dan usaha taninya, data produksi, di mana:
serta jumlah dan biaya input yang dikeluarkan
Ui = efek inefisiensi teknis
oleh petani pada satu musim tanam.
Z1 = usia petani (tahun)
Z2 = keanggotaan kelompok tani (Z2 = 1 bila ‘ya’
Analisis Data dan Z2 = 0 bila ‘tidak’)
Untuk menjawab tujuan yang telah ditetapkan, Z3 = adanya pelatihan (Z3 = 1 bila ‘ya’ dan Z3 = 0
penelitian ini didekati dengan fungsi produksi bila ‘tidak’)
Cobb-Douglas stochastic frontier. Pemilihan alat Z4 = lama waktu pendidikan formal yang
analisis ini digunakan karena metode ini dapat ditempuh petani (tahun)
dibentuk menjadi fungsi dual yang diperlukan Z5 = lama waktu menjadi petani (tahun)
untuk menghitung efisiensi ekonomis. Analisis Z6 = tingkat akses kepada penyuluh (Z5 = 1 bila
data dilakukan dengan menggunakan program ‘ya’ dan Z5 = 0 bila ‘tidak’)
Frontier 4.1. Mengacu pada Coelli (1996), untuk
W i = menyebar normal terpotong dengan rataan
mempermudah pendugaan fungsi produksi
0 dan ragam σ2
bawang merah, persamaan regresi Cobb-
Douglas stochastic frontier diubah dalam bentuk Pengujian parameter fungsi produksi Cobb-
linier berganda dengan cara pendekatan Douglas stochastic frontier dilakukan melalui dua
logaritma menjadi persamaan berikut: tahap. Tahap pertama, menduga parameter
fungsi produksi βj dilakukan dengan
ln Y = β0+ β1 lnX1+ β2lnX2+ β3 lnX3+ β4 lnX4+ menggunakan metode ordinary least square
β5 lnX5+ β6 lnX6 + Vi-Ui ........................ (1) (OLS). Tahap kedua, melakukan pendugaan
di mana: seluruh parameter β0, βj, varians dengan
menggunakan metode maximum likelihood
Yi = produksi (kg) (MLE). Selain itu, pengolahan software Frontier
X1 = luas lahan yang digarap (m2) 4.1 menghasilkan perkiraan varians dalam
X2 = jumlah penggunaan bibit (kg) bentuk parameterisasi sebagai berikut:
X3 = jumlah pupuk organik (kg) 2 2
σ2 = σ + σ ..................................................... (3)
𝑣 𝑢

Tabel 1. Sebaran responden petani bawang merah di Kabupaten Pati, 2017

Luas lahan
Nama kecamatan Total
<0,2 0,2 s/d 0,5 >0,5
Jaken 3 6 9 18
Batangan 0 2 2 4
Wedarijaksa 6 5 0 11
Total 9 13 11 33

60
ANALISIS EFISIENSI PRODUKSI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PATI DENGAN FUNGSI PRODUKSI FRONTIER 61
STOKASTIK COBB-DOUGLAS Eka Nurjati, Idqan Fahmi, Siti Jahroh

2
σ HASIL DAN PEMBAHASAN
γ = 𝜎2𝑢 .............................................................. (4)

Nilai varians dapat digunakan untuk mencari Budi daya bawang merah yang dilakukan oleh
nilai gamma γ, dengan sebaran 0 ≤ γ ≤ 1. Nilai γ petani di Kabupaten Pati sebagian besar
merupakan kontribusi dari efisiensi teknis di dilakukan secara monokultur. Akan tetapi, ada
dalam efek residual total. Hasil perhitungan beberapa petani yang melakukan tumpang sari
efisiensi teknis perlu diuji untuk meyakinkan dengan tanaman lain, seperti cabai. Dalam satu
bahwa suatu usaha tani telah efisien secara tahun rata-rata petani menanam bawang merah
teknis. Teknik uji menggunakan metode sebanyak 3–6 kali. Kondisi ini dilakukan karena
likelihood ratio (LR) test dengan hipotesis budi daya bawang merah memerlukan waktu
sebagai berikut: yang singkat, yaitu 55–60 hari. Jumlah
2 penerimaan usaha tani bawang merah per
H0 = σ𝑢 = 0 (tidak ada efek inefisiensi)
hektare pada periode Agustus 2016 hingga
2 Agustus 2017 adalah Rp597.612.800. Usaha tani
H1 = σ𝑢 > 0 (ada efek inefisiensi)
bawang merah di Kabupaten Pati masih
Hipotesis nol (H0) menyatakan bahwa tidak tergolong kecil karena petani yang memiliki lahan
ada efek inefisiensi terhadap ragam dari di bawah 0,5 hektare masih dominan. Input-input
kesalahan penggangu dan sebaliknya dengan produksi pada usaha tani bawang merah antara
hipotesis satu (Sukiyono 2005; Asmara et al. lain benih, lahan, pupuk organik, pupuk
2010). Rumus LR test adalah sebagai berikut: anorganik, tenaga kerja, dan pestisida. Selain
benih, harga input bawang merah lainnya
LR = - 2 [ln (Lr) – ln (Lu)] ................................. (5)
cenderung stabil. Biaya terbesar usaha tani
di mana: bawang merah adalah biaya pembelian benih
yang mencapai 54,29% dari total biaya usaha
Lr = nilai LR pada pendekatan OLS
tani. Harga benih bawang merah tertinggi pada
Lu = nilai LR pada pendekatan MLE
periode penelitian ini, yaitu mencapai Rp70.000
Setelah dilakukan analisis regresi dan analisis per kilogram. Varietas bawang merah yang
efisiensi teknis, selanjutnya dilakukan dibudidayakan di Kabupaten Pati yaitu Thailand
perhitungan analisis efisiensi ekonomis, yang dan Bima. Pada umumnya varietas Thailand
dihitung berdasarkan persamaan sebagai berikut: ditanam pada musim kemarau, sedangkan
∗ varietas Bima ditanam pada musim hujan. Harga
C E (ci | ui = 0,yi,pi)
𝑖
EEi = = ................................... (6) jual bawang merah bervariasi pada tahun 2017
Ci E (Ci | ui,yi,pi)
dari Rp7.000 sampai Rp45.000 per kilogram.
C adalah fungsi biaya dual yang diperoleh dari Harga bawang merah cenderung turun pada
fungsi produksi Cobb-Douglas dan fungsi biaya
musim kemarau dan naik pada musim hujan.
input, sehingga diperoleh fungsi biaya dual
Kondisi ini disebabkan musim kemarau adalah
sebagai berikut:
masa panen raya bawang merah.
7 𝑎𝑖 𝑟
Ci = k π 𝑗−𝑖 p Y 0.......................................... (7) Pada umumnya petani bawang merah
𝑗𝑖
1 𝑏𝑗 -1 memasarkan hasil panennya kepada tengkulak
di mana αi = rβi ; r = [Ʃj βj]-1 ; k = [β0 πj β ] ; atau pedagang besar pasar induk bawang merah
𝑟 𝑗
dan βj = 1, 2, …, 6 di Kabupaten Pati. Bawang merah dari petani di
Kabupaten Pati dipasarkan di kota-kota besar di
Βj merupakan nilai parameter hasil estimasi
fungsi produksi stochastic frontier dan Pxj Pulau Jawa, yaitu Semarang, Surabaya, dan DKI
merupakan harga dari input produksi ke-j. Harga Jakarta. Namun, sebagian besar petani lebih
tersebut merupakan harga input yang berlaku di memilih memasarkan produknya kepada
daerah penelitian. Variabel Y0 adalah tingkat pedagang penebas. Kondisi ini disebabkan
output observasi dari petani responden. Nilai EE karena sistem penjualan kepada pedagang
berkisar 0 ≤ EE ≤ 1. Efisiensi ekonomis penebas disebabkan oleh beberapa hal, yaitu
merupakan gabungan antara efisiensi teknis dan praktis, mengurangi risiko, menyediakan tenaga
efisiensi alokatif, sehingga efisiensi alokatif (EA) kerja atau buruh panen, dan meminimalkan
dapat diperoleh dari: pengeluaran. Dengan menggunakan pedagang
EEi penebas untuk memasarkan hasil panen, petani
EAi = ......................................................... (8) tidak mengeluarkan biaya panen dan pasca-
ETi
panen, seperti biaya pencabutan, pengangkutan,
dan pemotongan bawang merah.
62 Jurnal Agro Ekonomi, Vol. 36 No. 1, Mei 2018:55-69

Ringkasan Variabel Fungsi Produksi Bawang meningkatkan produksi sebesar 10% dengan
Merah asumsi input lainnya tetap dan berada di tingkat
kepercayaan 90% atau 95%.
Ringkasan data pendugaan variabel bebas
dan variabel terikat bawang merah disajikan pada
Tabel 2. Tabel 2 menjelaskan bahwa rata-rata Uji Asumsi Kenormalan Data
produksi bawang merah sebesar 4,44 ton Jumlah sampel yang digunakan dalam
dihasilkan dari lahan dengan luas rata-rata 0,48 analisis regresi produksi bawang merah adalah
hektare atau 9,31 ton per hektare. Rata-rata sebanyak 33 sampel. Untuk menjamin hasil
jumlah benih bawang merah yang digunakan analisis yang baik diperlukan uji kenormalan data.
adalah 465,6 kg, pupuk organik sebesar 519 kg, Dalam penelitian ini digunakan uji Kolmogorov-
pupuk anorganik 396,4 kg, tenaga kerja sebesar Smirnov, uji multikolinieritas, dan uji
831 JKSP, dan pestisida 5,32 liter. heteroskedastisitas. Hasil uji Kolmogorov-
Smirnov menunjukkan nilai sebesar 0,068 dan
Pendugaan Fungsi Produksi Bawang Merah nilai p-value lebih besar dari 0,150. Nilai p-value
dengan Metode OLS yang diperoleh pada fungsi produksi bawang
merah lebih besar dari α = 0,05 sehingga dapat
Ringkasan hasil pendugaan parameter fungsi disimpulkan bahwa data penelitian sudah
produksi dengan metode OLS disajikan pada memenuhi asumsi menyebar normal. Hasil uji
Tabel 3. Dari Tabel 3 dapat dijelaskan bahwa multikolinieritas menunjukkan nilai VIF pada
semua dugaan parameter yang diuji bernilai semua variabel input produksi kurang dari 10
positif. Hal ini berarti bahwa setiap kenaikan input yang menunjukkan tidak ada masalah multi-
produksi akan berpengaruh pada peningkatan kolinieritas pada kedua fungsi produksi. Uji
produksi bawang merah. Tabel 3 juga heteroskedastisitas yang dilakukan melalui
menjelaskan bahwa terdapat beberapa variabel pendekatan scatter plot antara nilai standardized
yang berpengaruh nyata pada produksi bawang predicted value dengan standardized residual
merah, yaitu luas lahan, jumlah benih, dan tenaga menunjukkan titik-titik menyebar dengan pola
kerja. Beberapa variabel yang berpengaruh nyata yang tidak beraturan, sehingga dapat disimpul-
menjelaskan bahwa setiap peningkatan 10% kan tidak terjadi masalah heteroskedastisitas
penggunaan jumlah variabel tersebut akan pada fungsi produksi bawang merah.

Tabel 2. Ringkasan data pendugaan fungsi produksi bawang merah di Kabupaten Pati, 2015

Variabel Rata-rata Standar deviasi Koefisien variasi


Produksi (kg) 4.438 4,662 105,06
Luas lahan (m2) 4.767 4.460 93,57
Benih (kg) 465,6 407,1 87,43
Pupuk organik (kg) 519 581 111,98
Pupuk anorganik (kg) 396,4 473,5 119,46
Tenaga kerja (JKSP) 831 674 81,18
Pestisida (liter) 5,32 6,76 126,98
Sumber: Data primer (2015), diolah

Tabel 3. Pendugaan fungsi produksi bawang merah di Kabupaten Pati dengan metode OLS, 2015

Variabel bebas Parameter dugaan t-ratio


Intersep 0,9117 0,8309
Luas lahan (X1) 0,3480 * 2,5450
Benih (X2) 0,2253 ** 1,5489
Pupuk organik (X3) 0,0628 1,0097
Pupuk anorganik (X4) 0,1034 0,9627
Tenaga kerja (X5) 0,2768 ** 1,5406
Pestisida (X6) 0,1475 1,2554
R 0,9522
Adj – R2 0,9411
Keterangan: *nilai t-α 5% = 1,7056 dan **t-α 10% = 1,3150
Sumber: Data primer (2015), diolah

62
ANALISIS EFISIENSI PRODUKSI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PATI DENGAN FUNGSI PRODUKSI FRONTIER 63
STOKASTIK COBB-DOUGLAS Eka Nurjati, Idqan Fahmi, Siti Jahroh

Pendugaan Fungsi Produksi Bawang Merah (Kodde dan Palm 1986) dengan jumlah restriksi
dengan Metode MLE satu dengan t-α 5% adalah 2,706, maka nilai LR
test lebih besar. Kondisi ini menggambarkan
Berdasarkan hasil pengujian asumsi
bahwa produksi bawang merah belum efisien
kenormalan data, multikolinieritas, dan hetero-
seratus persen. Nilai log likelihood metode MLE
skedastisitas menunjukkan hasilnya sesuai
harapan, sehingga tahap selanjutnya yaitu pada fungsi produksi bawang merah lebih besar
analisis fungsi produksi stochastic frontier Cobb- dari nilai log likelihood dengan menggunakan
Douglas menggunakan metode MLE. Hasil metode OLS yang menunjukkan bahwa fungsi
pendugaan model fungsi produksi stochastic produksi dengan metode MLE ini adalah baik dan
frontier Cobb-Douglas dengan metode MLE sesuai dengan kondisi di lapangan.
disajikan pada Tabel 5. Hasil penelitian ini Hasil perhitungan pada Tabel 4 memper-
memperlihatkan bahwa nilai sigma square (σ2) lihatkan bahwa nilai return to scale (RTS) untuk
dari fungsi produksi bawang merah adalah fungsi bawang merah adalah sebesar 1,025 atau
0,0275. Sigma square (σ2) menunjukkan total berada pada wilayah II dan disebut constant
varians dari dua komponen, yaitu efek inefisiensi return to scale (CRS). Dari nilai RTS pada Tabel
(ui) dan efek noise (vi). Berdasarkan hasil 4 dapat diartikan bahwa setiap proporsi
perhitungan diperoleh nilai σ2 dari fungsi produksi penambahan faktor produksi akan menghasilkan
bawang merah lebih besar dari nol dan berbeda tambahan produksi yang proporsinya sama.
nyata pada taraf t-α 5% sehingga dapat Kondisi CRS pada penelitian ini menunjukkan
disimpulkan bahwa model yang digunakan sudah bahwa usaha tani bawang merah masih potensial
tepat dan kesalahan ui dan vi menyebar normal untuk ditingkatkan produksinya, yaitu dengan
sesuai dengan asumsi yang diinginkan (Ojo et al. meningkatkan proporsi input produksi melalui
2009). berbagai teknologi dan inovasi pertanian.
Nilai pendugaan pada Tabel 4 juga Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihat bahwa
menunjukkan nilai gamma (γ) dari fungsi produksi terdapat empat input produksi yang berpengaruh
bawang merah adalah 0,0542 dan tidak berbeda nyata terhadap peningkatan produksi bawang
nyata pada t-α 5%. Berdasarkan hasil penelitian merah, yaitu luas lahan, jumlah benih, pupuk
tersebut, dapat dinyatakan bahwa pada fungsi organik, dan tenaga kerja, sedangkan jumlah
produksi bawang merah tidak terdapat pengaruh pupuk anorganik dan pestisida tidak berpengaruh
efek inefisiensi teknis terhadap model yang nyata terhadap produksi bawang merah baik
dibangun, namun terdapat pengaruh noise pada pada t-α 5% maupun t-α 10%. Luas lahan dan
fungsi produksi bawang merah. jumlah tenaga kerja berpengaruh signifikan
terhadap peningkatan produksi bawang merah
Nilai LR Test yang dinyatakan oleh Tabel 4
dengan tingkat kepercayaan sebesar 95%,
pada fungsi produksi bawang merah adalah
sedangkan jumlah benih dan pupuk organik
9,5844. Jika dibandingkan dengan nilai kritis X2R

Tabel 4. Pendugaan fungsi produksi stochastic frontier Cobb-Douglas usaha tani bawang merah di Kabupaten Pati
menggunakan metode Maximum Likelihood Estimation (MLE), 2015

Variabel bebas Parameter dugaan t-ratio


Intersep 0,419 0,423
Luas lahan 0,382 * 3,523
Benih 0,188 ** 1,650
Pupuk organik 0,072 ** 1,417
Pupuk anorganik 0,081 0,879
Tenaga kerja 0,383 * 2,524
Pestisida 0,127 1,258
Sigma-squared (σ2 = σ2v + σ2u) 0,027 * 2,689
Gamma (γ = σ2u/ σ2) 0,054 0,146
Return to Scale (RTS) 1,233
LR 9,584
Loglikelihood function (Metode OLS) 3,590
Loglikehood function (Metode MLE) 8,382
Keterangan: * nilai t-α 5% = 1,7056 dan ** t-α 10% = 1,3150
Sumber: Data primer (2015), diolah
64 Jurnal Agro Ekonomi, Vol. 36 No. 1, Mei 2018:55-69

Tabel 5. Sebaran nilai efisiensi teknis usaha tani bawang merah di Kabupaten Pati, 2015

Indeks efisiensi (%) Jumlah responden %


0,00–0,10 0 0,00
0,11–0,20 0 0,00
0,21–0,30 0 0,00
0,31–0,40 0 0,00
0,41–0,50 0 0,00
0,51–0,60 0 0,00
0,61–0,70 0 0,00
0,71–0,80 11 33,34
0,81–0,90 7 21,21
0,91–1,00 15 45,45
Total 33 100,00
Efisiensi rata-rata 0,8683
Efisiensi minimum 0,7006
Efisiensi maksimum 0,9952
Sumber: Data primer (2015), diolah

berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pada usaha tani bawang merah untuk luas lahan
produksi bawang merah dengan tingkat 0,48 hektar adalah 369,4 kg atau 774,91 kg per
kepercayaan sebesar 90%. hektar. Menurut Sumarni et al. (2005) dosis
anjuran penggunaan pupuk anorganik (Nitrogen,
Hasill pendugaan fungsi produksi bawang
Phospor, Kalium) pada tanaman bawang merah
merah dengan menggunakan metode MLE dapat
adalah sebesar 390 kg per hektare. Penggunaan
digunakan sebagai alternatif strategi peningkatan
pupuk anorganik yang melebihi dosis pada
daya saing bawang merah melalui efisiensi
penelitian ini berpotensi mempengaruhi kondisi
penggunaan input-input produksi. Penyemprotan
lingkungan terutama pada tanah dan air. Oleh
pestisida pada penelitian ini cenderung merupa-
karena itu, perlu dilakukan tindakan untuk
kan tindakan preventif yang merefleksikan bahwa
menggunakan pupuk anorganik sesuai anjuran.
lokasi penelitian rawan serangan hama atau
penyakit. Hasil penelitian ini sama dengan Hasil uji pendugaan fungsi produksi pada
penelitian Safitri (2014) yang meneliti usaha tani Tabel 4 menunjukkan bahwa nilai elastisitas
bawang merah di Kabupaten Nganjuk, Jawa variabel tenaga kerja merupakan nilai elastisitas
Timur. Purmiyanti (2002) menjelaskan bahwa yang terbesar diantara nilai elastisitas input
penggunaan pestisida yang tidak tepat dosis produksi lainnya. Berdasarkan besaran nilai
akan mengakibatkan organisme penganggu elastisitas tersebut, pemanfaatan teknologi
tanaman resisten terhadap pestisida dan penggunaan tenaga kerja dapat diprioritaskan
berdampak buruk terhadap lingkungan. Salah untuk segera diimplementasikan. Elastisitas
satu strategi untuk membatasi penggunaan variabel luas lahan termasuk elastisitas yang
pestisida kimia adalah dengan menggunakan tertinggi kedua setelah tenaga kerja. Namun,
konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT). strategi peningkatan daya saing dengan metode
Konsep PHT dikemukakan oleh Yusdja (1992) ekstensifikasi lahan bawang merah di Kabupaten
yang menjelaskan bahwa PHT adalah suatu Pati terkendala oleh beberapa hal, antara lain
sistem pengelolaan hama dan penyakit dengan persaingan dengan komoditas pertanian lainnya
menggabungkan berbagai teknik pengendalian dan keterbatasan modal. Komoditas lain yang
yang serasi dengan sasaran menjadi satu diusahakan petani di daerah penelitian yaitu padi,
program, agar populasi hama selalu berada pada tebu, caisin, dan cabai. Waryanto et al. (2014)
tingkat yang tidak menimbulkan kerugian juga menjelaskan bahwa ekstensifikasi lahan
ekonomis (ekologis dan sosial diterima), bawang merah di Kabupaten Nganjuk tidak dapat
sehingga menghasilkan keuntungan ekonomis dilakukan karena adanya persaingan dengan
yang maksimal bagi produsen, konsumen dan komoditas pertanian lainnya. Kendala lainnya
pelestarian lingkungan. Penggunaan pupuk dalam penerapan ekstensifikasi luas lahan yaitu
anorganik dalam penelitian juga sudah melebihi permasalahan permodalan. Banyaknya petani
dosis anjuran. Pada penelitian ini menunjukkan bawang merah yang memiliki luas lahan di bawah
bahwa rata-rata penggunaan pupuk anorganik 0,5 hektare di Kabupaten Pati menjadi salah satu

64
ANALISIS EFISIENSI PRODUKSI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PATI DENGAN FUNGSI PRODUKSI FRONTIER 65
STOKASTIK COBB-DOUGLAS Eka Nurjati, Idqan Fahmi, Siti Jahroh

kendala perluasan lahan bawang merah. Petani yang digunakan dalam usaha tani bawang merah
dengan kategori tersebut pada umumnya adalah kotoran hewan ternak dan pupuk organik
memiliki keterbatasan permodalan. yang dijual di toko pertanian yang berasal dari
bahan organik, seperti limbah alam, limbah
Strategi lain yang dapat diterapkan untuk
tanaman, dan limbah ternak. Adanya ketersedian
peningkatan daya saing melalui optimalisasi input
pupuk organik di Kabupaten Pati menjadi
produksi bawang merah adalah melalui pe-
landasan bahwa peningkatan penggunaan pupuk
manfaatan teknologi penggunaan biji botani/true
organik merupakan salah satu strategi
shallot seed. Teknologi biji botani dianggap
peningkatan produktivitas bawang merah.
sebagai teknologi baru bagi petani bawang
merah di daerah penelitian, karena sampai saat
ini mayoritas petani masih menggunakan umbi Sebaran Efisiensi Teknis
bawang merah sebagai benih. Selain teknologi
Berdasarkan perhitungan efisiensi teknis pada
penggunaan bibit, variabel input yang potensial
Tabel 6 terlihat bahwa secara umum petani
untuk meningkatkan daya saing bawang merah
bawang merah di Kabupaten Pati sudah efisien.
melalui peningkatan produktivitas adalah pe-
Hal ini ditunjukkan dari nilai efisiensi teknis yang
makaian pupuk organik. Penggunaan pupuk
lebih besar dari 0,7. Menurut Abedullah et al.
organik pada model fungsi produksi bawang
(2006), apabila nilai efisiensi teknis lebih besar
merah berpengaruh nyata terhadap produk-
dari 0,7 maka suatu usaha tani sudah dapat
tivitas, walaupun dengan hasil pendugaan
dikatakan cukup efisien. Efisiensi teknis rata-rata
parameter menunjukkan bahwa nilai elastisitas
pupuk organik paling kecil dibandingkan nilai pada penelitian ini yaitu sebesar 0,8683 dengan
efisiensi minimum sebesar 0,7006 dan efisiensi
elastisitas variabel lainnya. Untuk mendukung
maksimum sebesar 0,9952.
usaha tani bawang merah di Kabupaten Pati yang
lebih efisien, maka penggunaan pupuk organik Jika dianalisis melalui nilai rata-rata efisiensi
pada masa mendatang perlu ditingkatkan. teknis tersebut, petani bawang merah di
Penggunaan pupuk organik menguntungkan bagi Kabupaten Pati masih berpeluang untuk
perbaikan struktur tanah, selain itu juga dapat meningkatkan produksinya untuk mendapatkan
mengurangi penggunaan pupuk anorganik. hasil yang lebih tinggi. Untuk jangka pendek,
Pupuk organik bermanfaat baik bagi tanah dan petani bawang merah mempunyai peluang untuk
tanaman, di antaranya dapat mengikat air tanah meningkatkan produksi sebesar 13,23% (1-
yang lebih besar, dapat meningkatkan agregasi 0,8683/0,9952). Peluang tersebut dapat diper-
tanah, pori-pori tanah, dan air tanah (Nahraeni oleh dengan cara meningkatkan keterampilan
2012). Pada penelitian ini mayoritas petani telah dan mengadopsi teknologi usaha tani bawang
menggunakan pupuk organik, baik yang di jual di merah yang lebih efisien. Aldila et al. (2017)
toko pertanian maupun pupuk kandang hasil menyatakan bahwa peningkatan daya saing
produksi sendiri. Namun, penggunaan pupuk bawang merah dapat dilakukan dengan mening-
organik dalam penelitian ini masih relatif rendah. katkan produktivitas bawang merah. Peningkatan
Dosis penggunaan pupuk organik pada penelitian produktivitas bawang merah dapat dilakukan
ini rata-rata hanya sebesar 1,09 ton per hektare. melalui penggunaan benih bermutu, penggunaan
Penggunaan pupuk organik tersebut masih varietas bawang merah yang memiliki
rendah dari dosis anjuran. Sumarni dan Hidayat produktivitas tinggi, adaptif, tahan terhadap hama
(2005) menyatakan bahwa dosis anjuran dan penyakit, dan perbaikan dalam teknik budi
penggunaan pupuk organik untuk bawang merah daya bawang merah.
adalah enam ton per hektare. Pupuk organik

Tabel 6. Pendugaan efek inefisiensi teknis usaha tani bawang merah di Kabupaten Pati, 2015

Variabel bebas Parameter dugaan Standard error t-ratio


Intersep 0,615 0,541 1,137
Usia petani -0,020 ** 0,011 -1,767
Keanggotaan kelompok tani -0,030 0,723 -0,041
Adanya pelatihan 0,019 0,232 0,084
Lama menempuh pendidikan 0,015 0,024 0,602
Lama menjadi petani 0,014 ** 0,009 1,520
Akses ke penyuluh -0,030 0,723 -0,041
Keterangan: * nilai t-α 5% = 1,7056 dan ** t-α 10% = 1,3150
Sumber: Data primer (2015), diolah
66 Jurnal Agro Ekonomi, Vol. 36 No. 1, Mei 2018:55-69

Sumber Inefisiensi Teknis adanya kelompok tani bawang merah di wilayah


tersebut. Selain itu, peningkatan kinerja
Berdasarkan Tabel 6 dapat dijelaskan bahwa
kelompok tani seperti adanya pelatihan-pelatihan
terdapat dua dari enam variabel bebas yang
bagi petani juga akan berkontribusi positif bagi
memiliki tanda dari parameter dugaan δ sesuai
daya saing bawang merah. Usaha lainnya untuk
dengan dugaan awal. Kedua variabel bebas
meningkatkan daya saing bawang merah di
tersebut yaitu keanggotaan kelompok tani dan
Kabupaten Pati adalah meningkatkan peran
akses ke penyuluh. Meskipun keanggotaan
kelembagaan penyuluh pertanian dan peningkat-
kelompok tani tidak berpengaruh nyata, namun
an kualitas sumber daya manusia bagi penyuluh
mempunyai kecenderungan bahwa keikut-
sertaan petani sebagai anggota kelompok tani pertanian agar lebih banyak memiliki penge-
berkontribusi positif terhadap efisiensi teknis. tahuan, keterampilan, dan teknologi untuk
Hasil yang sama ditunjukkan pada variabel akses disebarluaskan kepada petani bawang merah di
ke penyuluh yang bertanda positif sesuai dengan Kabupaten Pati.
dugaan awal bahwa adanya penyuluh berindikasi
positif terhadap efisiensi teknis. Penyuluh Sebaran Efisiensi Alokatif dan Efisiensi
pertanian berfungsi penting untuk memberikan Ekonomis
informasi terkini tentang perkembangan teknologi
usaha tani bawang merah. Sumarno et al. (2015) Perhitungan efisiensi ekonomis pada
menyatakan bahwa penguatan kelembagaan penelitian ini menggunakan harga rata-rata yang
kelompok penting dilakukan sebagai wadah berlaku di wilayah penelitian. Harga rata-rata
dalam mendiseminasikan inovasi teknologi dan untuk beberapa input produksi bawang merah
menyalurkan sarana produksi agar lebih efisien. yaitu sewa lahan Rp3.500.000 per hektare per
musim, benih bawang merah Rp40.333 per kg,
Berdasarkan analisis keenam faktor yang pupuk organik Rp500 per kg, pupuk anorganik
memengaruhi efisiensi teknis tersebut, maka Rp5.100 per kg, ongkos tenaga kerja Rp10.000
strategi utama untuk mencapai bawang merah JKSP, dan harga pestisida Rp380.333 per liter.
yang mempunyai produktivitas dan berdaya saing
tinggi di Kabupaten Pati adalah meningkatkan Berdasarkan Tabel 7 menunjukkan bahwa
fungsi kelompok tani di wilayah penghasil efisiensi alokatif dan ekonomi rata-rata pada
bawang merah. Bagi petani yang telah memiliki usaha tani bawang merah berturut-turut adalah
kelompok tani, maka tetap menjaga berfungsinya 0,472 dan 0,404. Efisiensi alokatif dan ekonomis
kelompok tani tersebut, sedangkan bagi petani minimum berturut-turut adalah sebesar 0,277 dan
yang belum mempunyai anggota kelompok tani 0,271, sedangkan efisiensi alokatif dan ekonomis
maka peran serta pemerintah terkait di maksimum berturut-turut adalah sebesar 0,863
Kabupaten Pati diperlukan untuk menggalakkan dan 0,681. Hasil penelitian tersebut memper-

Tabel 7. Sebaran efisiensi alokatif dan efisiensi ekonomis usaha tani bawang merah di Kabupaten Pati, 2015

Indeks efisiensi (%) Efisiensi alokatif Efisiensi ekonomis


Jumlah responden % Jumlah responden %
0,00 –0,10 0 0,0 0 0,0
0,11–0,20 0 0,0 0 0,0
0,21–0,30 1 3,0 1 3,0
0,31–0,40 8 24,2 17 51,5
0,41–0,50 15 45,5 11 33,3
0,51–0,60 6 18,2 2 6,1
0,61–0,70 1 3,0 2 6,1
0,71–0,80 0 0,0 0 0,0
0,81–0,90 2 6,1 0 0,0
0,91–1,00 0 0,0 0 0,0
Total 33 100,0 33 100,0
Efisiensi rata-rata 0,472 0,404
Efisiensi minimum 0,277 0,271
Efisiensi maksimum 0,863 0,618
Sumber: Data primer (2015), diolah

66
ANALISIS EFISIENSI PRODUKSI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PATI DENGAN FUNGSI PRODUKSI FRONTIER 67
STOKASTIK COBB-DOUGLAS Eka Nurjati, Idqan Fahmi, Siti Jahroh

lihatkan bahwa usaha tani bawang merah di pertanian dan kelompok tani termasuk strategi
Kabupaten Pati belum efisien baik secara alokatif untuk meningkatkan efisiensi usaha tani bawang
maupun ekonomi. Wadud (1999) menyatakan merah.
bahwa terdapat empat hubungan antara ET dan
EA, yaitu 1) usaha tani secara teknis dan alokatif
Saran
efisien; 2) usaha tani secara teknis efisien tetapi
secara alokatif tidak efisien; 3) usaha tani secara Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih
teknis tidak efisien tetapi secara alokatif efisien; terdapat peluang untuk meningkatkan produksi
dan 4) usaha tani secara teknis dan alokatif tidak daya saing usaha tani bawang merah di
efisien. Pada Tabel 7, dengan menggunakan Kabupaten Pati melalui peningkatan optimasi
kriteria nilai efisiensi di atas 0,7, maka sesuai penggunaan input-input produksi. Kebijakan pen-
dengan pendapat Wadud (1999), usaha tani dukung antara lain diarahkan untuk menerapkan
bawang merah pada penelitian ini masuk kategori pemupukan berimbang dengan mengurangi
usaha tani yang secara teknis efisien namun penggunaan pupuk anorganik dan meningkatkan
secara alokatif belum efisien. pupuk organik melalui pengaturan paket bantuan
atau subsidi pupuk. Untuk optimasi penggunaan
Kondisi usaha tani bawang merah di
benih, pemerintah disarankan dapat mengem-
Kabupaten Pati secara umum sudah efisien
bangkan kawasan atau desa mandiri benih
secara teknis, namun belum efisien secara bawang merah yang disertai dengan pemberian
alokatif dan ekonomis. Kondisi ini mencerminkan subsidi usaha pembibitan dan subsidi harga.
bahwa kebijakan pembangunan di Indonesia Optimasi penggunaan pestisida dilakukan
khususnya di Kabupaten Pati masih terfokus
dengan mendorong dan memfasilitasi petani
pada permasalahan teknis yang terkait dengan menerapkan sistem Pengendalian Hama
pengembangan teknologi pada input-input Terpadu. Peningkatan fungsi penyuluh pertanian
produksi bawang merah seperti bibit dan pupuk, dan kelompok tani merupakan faktor pendukung
sedangkan kebijakan untuk meningkatkan esensial yang perlu disediakan pemerintah.
efisiensi ekonomis seperti kebijakan harga input Namun demikian, penelitian ini belum mencakup
produksi bawang merah belum banyak dilakukan rekomendasi spesifik tentang input optimal pada
oleh pemerintah terkait. usaha tani bawang merah. Untuk itu disarankan
agar penelitian ini dilanjutkan dengan penentuan
jenis, takaran, waktu, dan cara penggunaan input
KESIMPULAN DAN SARAN yang optimal secara teknis dan ekonomis
(termasuk secara alokatif).
Kesimpulan
Input yang berpengaruh nyata terhadap UCAPAN TERIMA KASIH
produksi bawang merah yaitu luas lahan, jumlah
benih, jumlah pupuk organik, dan jumlah tenaga
kerja. Penggunaan pupuk anorganik tidak Ucapan terima kasih penulis sampaikan
berpengaruh nyata terhadap produksi bawang kepada Dinas Pertanian dan Peternakan
merah di lokasi penelitian. Hasil penelitian ini Kabupaten Pati yang membantu penulis
memperlihatkan bahwa usaha tani bawang memperoleh informasi awal kondisi usaha tani
merah di Kabupaten Pati sudah efisien secara bawang merah di Kabupaten Pati, para penyuluh
teknis, namun belum efisien secara ekonomis pertanian di Kecamatan Wedarijaksa, Batangan,
dan alokatif. Faktor-faktor berpengaruh nyata dan Jaken serta seluruh responden yang telah
meluangkan waktunya kepada penulis untuk
terhadap efisiensi teknis produksi bawang merah
memperoleh informasi dan data yang dibutuhkan
ialah usia petani (berpengaruh negatif) dan lama
dalam penulisan artikel ini. Terakhir, penulis
pengalaman bekerja sebagai petani (ber-
mengucapkan terima kasih kepada Redaksi dan
pengaruh positif). Keanggotaan kelompok tani
Mitra Bestari Jurnal Agro Ekonomi yang banyak
dan akses ke penyuluhan berpengaruh positif membantu penulis dalam memberikan saran dan
namun tidak nyata. Efisiensi produksi bawang masukan dalam perbaikan artikel ini.
merah dapat ditingkatkan melalui optimalisasi
penggunaan input-input produksi, termasuk
dengan mengurangi jumlah penggunaan pupuk DAFTAR PUSTAKA
anorganik, menambah pupuk organik, me-
nambah jumlah benih, menggunakan benih jenis
biji botani, dan menerapkan sistem Pengendalian Abedullah, Bakhsh K, Ahmad B. 2006. Technical
efficiency and its determinant in potato production,
Hama Terpadu. Peningkatan fungsi penyuluh
68 Jurnal Agro Ekonomi, Vol. 36 No. 1, Mei 2018:55-69

evidence from Punjab, Pakistan. Lahore J Fauzan M. 2016. Pendapatan, risiko, dan efisiensi
Econ.11(2):1-22. ekonomi usahatani bawang merah di Kabupaten
Bantul. Agraris. 2(2):107-117.
Adiyoga W. 1999. Beberapa alternatif pendekatan
untuk mengukur efisiensi atau in-efisiensi dalam Gany R. 1996. Meningkatkan kemandirian dan daya
usahatani. Inform Pertan. 8(8):488-497. saing pertanian Indonesia: suatu tinjauan dari
perspektif pengembangan teknologi tepat guna dan
Aldila HF, Fariyanti A, Tinaprilla N. 2015. Analisis dampak produktivitas pertanian. Prosiding
profitabilitas usahatani bawang merah berdasarkan Koferensi Nasional XII Perhepi: Membangun
musim di tiga kabupaten sentra produksi di Kemandirian dan Daya Saing Nasional dalam
Indonesia. SEPA. 11(2):249-260. Menghadapi Era Industrialisasi dan Perdagangan
Aldila HF, Fariyanti A, Tinaprilla N. 2017. Daya saing Bebas; 1996 Agu 19; Denpasar, Indonesia.
bawang merah di wilayah sentra produksi di Denpasar (ID): Perhimpunan Ekonomi Pertanian
Indonesia. J Manaj Agribis. 14(1):43-53. Indonesia.

Anggraini N, Harianto, Anggraeni L. 2016. Efisiensi Kalangi LS. 2014. Analisis efisiensi ekonomi usaha
teknis, alokatif, dan ekonomis pada usahatani perkembangbiakan ternak sapi potong rakyat di
ubikayu di Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Provinsi Jawa Timur [Tesis]. [Bogor (ID)]: Institut
Lampung. J Agribis Indones. 4(1):43-56. Pertanian Bogor.

Asmara R, Hanani N, Irawati N. 2010. Analisis efisiensi [Kementan] Kementerian Pertanian. 2014. Kebijakan
teknis dengan pendekatan frontier pada pembangunan pertanian 2015–2019. Jakarta (ID).
pembuatan chips mocaf (modified cassava flour). Kementerian Pertanian.
Habitat. 12(1):51-59. [Kementan] Kementerian Pertanian. 2015. Kebijakan
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2015a. Database Pembangunan Pertanian 2015–2019. Jakarta (ID).
produksi bawang merah di Kabupaten Pati. Jakarta Kementerian Pertanian
(ID): Badan Pusat Statistik. Kodde DA, Palm FC. 1986. Wald criteria for jointly
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2015b. Database testing equality and inequality restrictions.
produktivitas bawang merah di Kabupaten Pati. Econometrica. 54(5):1243-1248.
Jakarta (ID): Badan Pusat Statistik. Latruffe L. 2010. Competitiveness, productivity and
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2015c. Database luas efficiency in the agricultural and agri-food sectors.
lahan bawang merah di Kabupaten Pati. 2015. OECD Food, Agriculture and Fisheries Papers No.
Jakarta (ID): Badan Pusat Statistik. 30. Paris (FR): OECD Publishing.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2015d. Perkembangan Lubis RRB, Daryanto A, Tambunan M, Rachman HPS.
harga rata-rata eceran bawang merah di tingkat 2014. Analisis efisiensi teknis produksi nanas: studi
nasional tahun 2010-2015. Jakarta (ID): Badan kasus di Kabupaten Subang, Jawa Barat. J Agro
Pusat Statistik. Ekon. 32(2):91-108.

Coelli TJ. 1996. A guide to Frontier version 4.1: a Nahraeni W. 2012. Efisiensi dan nilai keberlanjutan
computer program for stochastic frontier production usaha tani sayuran dataran tinggi di Provinsi Jawa
and cost function estimation, centre for efficiency Barat [Disertasi]. [Bogor (ID)]: Institut Pertanian
and productivity analysis. Armidale NSW (AU): Bogor.
University of New England. Nuraeni D, Anindita R, Syafrial. 2015. Analisis variasi
Darwis V. Pembatasan impor, rantai pasok dan analisa harga dan integrasi pasar bawang merah di Jawa
usahatani bawang merah di Kabupaten Cirebon. Barat. Habitat. 26(3):163-172.
Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Ojo MA, Mohammed US, Ojo AO, Olaleye RS. 2009.
Teknologi Pertanian; 2017 Sep 7; Bandar Return to scale and determinants of farm level
Lampung, Indonesia. Bandar Lampung (ID): technical inefficiency among small scale yam based
Politeknik Negeri Lampung. hlm. 184-194. farmers in Niger State, Nigeria: implication for food
Daryanto A. 2010. Posisi daya saing pertanian security. Int J Agric Econ Rural Dev. 2 (1): 43-51.
indonesia dan upaya peningkatannya. Dalam: Purmiyanti S. 2002. Analisis produksi dan daya saing
Suradisastra K, Simatupang P, Hutabarat B, bawang merah di Kabupaten Brebes Jawa Tengah
editors. Prosiding Seminar Nasional Peningkatan [Tesis]. [Bogor (ID)] : Institut Pertanian Bogor.
Daya Saing Agribisnis Berorientasi Kesejahteraan
Petani; 2009 Okt 14; Bogor, Indonesia. Bogor (ID): Rinaldi J, Fariyanti A, Jahroh S. 2013. Faktor-faktor
Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. yang mempengaruhi produksi kakao pada
hlm. 1-35. perkebunan rakyat di Bali: pendekatan stochastic
frontier. SEPA. 10(1):47-54.
Fadwiwati AY. Hartoyo S, Kuncoro SU, Rusastra IW.
2014. Analisis efisiensi teknis, efisiensi alokatif, dan Safitri AS. 2014. Analisis efisiensi lingkungan usaha
efisiensi ekonomis usahatani jagung berdasarkan tani bawang merah berkelanjutan di Kabupaten
varietas di Provinsi Gorontalo. J Agro Ekon. Nganjuk – Jawa Timur dengan metode stochastic
32(1):1-12. frontier analysis (SFA) [Skripsi]. [Bogor (ID)]:
Institut Pertanian Bogor.

68
ANALISIS EFISIENSI PRODUKSI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PATI DENGAN FUNGSI PRODUKSI FRONTIER 69
STOKASTIK COBB-DOUGLAS Eka Nurjati, Idqan Fahmi, Siti Jahroh

Sismanto A. 2014 Agu 6. Jateng terus perluas penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT)
produktivitas bawang merah [Internet]. di Gorontalo. J Manaj Agribis. 12(2):79-91.
Sindonews.com. Ekbis. [diunduh 2015 Des 2].
Tersedia dari: Tinaprilla N. 2012. Efisiensi usahatani padi antar
https://ekbis.sindonews.com/read/888521/34/jaten wilayah sentra produksi di Indonesia: pendekatan
stochastic metafrontier production function
g-terus-perluas-produktivitas-bawang-merah-
1407294599 [Disertasi]. [Bogor (ID)]: Institut Pertanian Bogor.

Silitonga PY, Hartoyo S. Sinaga BM, Rusastra IW. Tsurayya S, Kartika L. 2015. Kelembagaan dan strategi
2016. Analisis efisiensi usahatani jagung pada peningkatan daya saing komoditas cabai
lahan kering melalui penerapan pengelolaan Kabupaten Garut. J Manaj Agribis. 12(1):1-13.
tanaman terpadu (PTT) di Provinsi Jawa Barat. Wadud MDA. 1999. Farm efficiency in Bangladesh
Inform Pertan. 25(2):199-214. [Thesis]. [New Castle (UK)]: New Castle University.
Sukiyono K. 2005. Faktor penentu tingkat efisiensi Waryanto B, Chozin MA, Dadang, Intan EK. 2014.
teknik usaha tani cabe merah di Kecamatan Selupu Analisis efisiensi teknis, efisiensi ekonomis dan
Rejang, Kabupaten Rejang Lebong. J Agro Ekon. daya saing pada usahatani bawang merah di
23 (2):176-190. Kabupaten Nganjuk-Jawa Timur: suatu pendekatan
Sumarni, Hidayat. 2005. Panduan teknis PTT bawang ekonometrik dan PAM. Inform Pertan. 23(2):147-
merah No. 3. Bogor (ID): IPB Press. 158.

Sumarno J, Harianto, Kusnadi N. 2015. Peningkatan Yusdja YC, Saleh M, Amin M, Amir A, Sribagyo,
produksi dan efisiensi usahatani jagung melalui editors. 1992. Studi base line aspek sosek PHT.
Bogor (ID): PSE Badan Litbang Pertanian bekerja
sama dengan Bappenas.