Sie sind auf Seite 1von 16

Perspektif Vol. 17 No. 2 /Des 2018. Hlm 101- 116 DOI: http://dx.doi.org/10.21082/psp.v17n2.

2018, 101 -116


ISSN: 1412-8004

STATUS KLON-KLON KARET SERI IRR HASIL KEGIATAN


PEMULIAAN INDONESIA DAN ADOPSINYA
DI PERKEBUNAN KARET INDONESIA
The Status of IRR Series Rubber Clones from Indonesia Breeding Activity and Its
Adoption in Indonesia Rubber Plantation

MUHAMAD RIZQI DAROJAT dan SAYURANDI


Balai Penelitian Sungei Putih, Pusat Penelitian Karet
Sungei Putih Research Centre, Indonesian Rubber Research Institute
PO BOX 1415 Medan 20001
e-mail: mr.darojat@puslitkaret.co.id

ABSTRAK ABSTRACT

Kegiatan pemuliaan dan seleksi tanaman karet di Rubber breeding activities in Indonesia have occurred
Indonesia telah berjalan selama 4 generasi (G-4) dan for 4 generations and result in increasing plant
telah diperoleh kemajuan yang cukup pesat dalam hal productivity. IRR (Indonesian Rubber Research) series
peningkatan produktivitas tanaman. Klon Karet seri clones are the fourth generation of rubber clones that
IRR (Indonesian Rubber Research) merupakan klon its selection started in 1985. The clones have high
generasi ke-4 yang awal seleksinya dimulai pada tahun potency in productivity (>2.500 kg/ha) and have fast
1985. Selain memiliki potensi produktivitas tinggi growth rate so that the immature period of rubber
(>2.500 kg/ha), keunggulan klon-klon seri IRR memiliki plants can be shortened and the tapping activity can be
laju pertumbuhan tanaman cepat sehingga masa done in less than 4-year-old plants. Moreover, IRR
tanaman belum menghasilkan (TBM) lebih singkat dan series clones also have moderate to resistant
tanaman dapat disadap pada umur ≤ 4 tahun. Klon- characteristic against leaf fall disease of Colletotrichum.
klon seri IRR memiliki tingkat resistensi tergolong The results of the multilocation test showed that IRR
moderat - resisten terhadap penyakit gugur daun series clones have a wide range of adaptability and
Colletotrichum. Hasil pengujian multilokasi juga stability. However, The IRR series clones have rarely
menunjukkan bahwa beberapa klon karet seri IRR been adopted by smallholders in Indonesia. Due to
memiliki daya adaptasi dan stabilitas yang cukup baik lack of knowledge, smallholders mostly utilized
di berbagai lokasi pengujian, sehingga klon-klon seedlings as planting materials rather than trusting the
tersebut sangat potensial dikembangkan di berbagai IRR series clones. The role of advisors is the key factor
wilayah Indonesia yang memiliki agroklimat yang in order to improve the adoption of IRR series clones in
cukup luas. Namun, adopsi klon seri IRR oleh Indonesia. This attempt will certainly boost natural
masyarakat karet Indonesia masih tergolong rendah. rubber production in Indonesian rubber plantation.
Sebagian petani karet masih menggunakan bahan
Keywords: Hevea brasiliensis, IRR series clones, growth
tanam asal biji atau bibit asalan karena kurangnya
and productivity, adaptibility, clone
pengetahuan dan kepercayaan terhadap klon-klon
adoption.
unggul yang telah beredar selama ini. Agar
pemanfaatan klon-klon karet unggul seri IRR dapat
berjalan lebih baik, maka peranan penyuluh dan PENDAHULUAN
pendamping perlu dioptimalkan kembali. Upaya Tanaman karet (Hevea brasiliensis)
tersebut tentunya akan berdampak positif tehadap
merupakan tanaman industri penghasil karet
perbaikan produktivitas perkebunan karet di
alam yang paling banyak dikembangkan di
Indonesia.
seluruh dunia. Budidaya tanaman karet telah
Kata kunci: Hevea brasiliensis, klon seri IRR, dikenal di wilayah Asia Tenggara sejak akhir
pertumbuhan dan produktivitas, abad 19 dengan menggunakan bahan tanam yang
resistensi penyakit, adaptasi, adopsi
berasal dari biji yang tidak diseleksi (unselected
klon.
seedling) (Dijkman, 1951). Bahan tanam koleksi
Wickham diketahui memiliki potensi produksi

Status Klon-Klon Karet Seri Irr Hasil Kegiatan Pemuliaan Indonesia Dan Adopsinya di Perkebunan Karet 101
Indonesia (MUHAMAD RIZQI DAROJAT dan SAYURANDI)
tidak lebih dari 225 kg per hektar dengan Klon-klon unggul Indonesia (seri IRR) telah
menggunakan sistem sadap terbaik (Imle, 1978). berhasil dikembangkan oleh Indonesian Rubber
Bahan tanaman semaian terpilih (selected seedling) Research Institute (IRRI) sejak tahun 1985 atau
dari areal perkebunan yang sehat dan memiliki generasi ke-4 (G4) pemuliaan karet Indonesia.
hasil lateks yang tinggi pertama kali digunakan Klon tersebut dibagi menjadi dua jenis
saat program kegiatan pemuliaan di luncurkan berdasarkan potensi hasilnya yaitu klon
(Tan et al., 1996; Aidi Daslin, 2014). Awal abad ke- penghasil lateks dan klon penghasil lateks-kayu.
20 baru diketahui bahwa tanaman karet asal biji Hal ini bertujuan agar pelaku industri
memiliki variasi produksi sangat tinggi. perkebunan karet dapat mengembangkan
Kegiatan pemuliaan tanaman karet di agribisnis karet sesuai dengan kebutuhannya.
Indonesia telah berlangsung selama empat Beberapa klon unggul G4 yang termasuk ke
generasi (1910 – 2010) dan saat ini telah dalam klon penghasil lateks diantaranya IRR 104,
memasuki generasi ke-5. Salah satu parameter IRR 112, IRR 118 dan IRR 220. Sedangkan klon
keberhasilan kegiatan pemuliaan pada tanaman unggul penghasil lateks kayu yaitu IRR 5, IRR 39,
karet yaitu menghasilkan klon unggul baru yang IRR 42 dan IRR 230. Tulisan ini menyajikan
memiliki kandungan genetik lebih baik dari informasi tentang perkembangan perakitan klon
sebelumnya (Aidi-Daslin, 2006). Beberapa unggul dan potensi keunggulan klon-klon
capaian yang cukup siginifikan yaitu unggul IRR generasi ke-4 hasil dari kegiatan
peningkatan potensi produksi lateks, perbaikan pemuliaan serta adopsinya di perkebunan
karakteristik sekunder serta peningkatan potensi Indonesia.
biomassa kayu. Saat ini pada generasi ke-4 (G4)
telah terbentuk klon-klon unggul baru yang PEMULIAAN TANAMAN KARET
memiliki potensi produksi lima kali lipat lebih
Sejarah dan Proses Domestikasi
tinggi (≥2500 kg/ha/thn) dibandingkan dengan
generasi pertama (500 kg/ha/thn). Produksi Tanaman karet secara alami berasal dan
tersebut masih dapat terus ditingkatkan berkembang dari hutan amazon yang dapat
mencapai 7.000 – 12.000 kg/ha/thn melalui ditemukan di beberapa negara amerika latin
perakitan klon unggul yang disertai dengan yaitu Bolivia, Brazil, Colombia, Ecuador, French
tindakan pemuliaan yang lebih progresif Guiana, Guyana, Peru, Surinam dan Venezuela
(Paardekooper, 1989). (Priyadarshan, 2009). Proses domestikasi
Program pemuliaan dan seleksi tanaman tanaman karet pertama kali dilakukan oleh
karet harus disesuaikan dengan kebutuhan Henry Wickham seorang naturalis
industri karet nasional maupun internasional berkebangsaan Inggris pada tahun 1876 dengan
(Aidi-Daslin, 2005). Kegiatan perakitan klon melakukan ekspedisi ke Brazil. Ekspedisi tersebut
unggul baru pada prinsipnya tidak hanya mendapatkan 70.000 biji dari wilayah Rio Tapajoz
diorientasikan pada potensi dan mutu hasil lateks dan mengirimkannya ke Kew Botanical Gardens
yang tinggi saja, namun juga pada sifat yang lain (United Kingdom). Sebanyak 1.911 benih
seperti jagur, tahan terhadap cekaman abiotik selanjutnya dikirim ke Ceylon Botanical Gardens
dan biotik, serta memiliki biomassa yang tinggi. (Srilanka) dan 22 tanaman dikirim ke Singapura
Menurut Priyadarshan et al. (2009) diversifikasi yang selanjutnya tersebar ke daerah Malaya
klon unggul baru dapat memberikan manfaat (Baulkwill, 1989). Menurut Imle (1978) dan
dalam mengurangi resiko di area tertentu seperti Thomas (2001) tanaman karet klonal yang
lahan sub-optimal. Sumber genetik yang saat ini tersebar pada perkebunan di wilayah Asia
digunakan sebagai material perakitan klon Tenggara saat ini merupakan berasal dari
unggul diantaranya berasal dari genotipe terpilih tanaman koleksi Wickham.
plasma nutfah IRRDB 1981, klon-klon unggul Kegiatan pemuliaan dan seleksi tanaman
asal materi Wickham maupun klon-klon karet pertama kali dilakukan pada tahun 1883
introduksi hasil persilangan buatan. oleh P.J.S Cramer di Bogor dengan mengamati
variasi 33 tanaman seedling koleksi Wickham asal

102 Volume 17 Nomor 2, Des 2018 :101 - 116


Penang, Malaysia (Dijkman, 1951). Hasil analisis dimanfaatkan secara luas dalam kegiatan
Cramer mengungkapkan bahwa tanaman karet pemuliaan dan seleksi untuk menghasilkan klon
memiliki sifat heterozigositas yang tinggi unggul baru Indonesia (Aidi-Daslin et al., 2009a).
sehingga kualitas genetik biji yang dihasilkan
dari suatu persilangan tidak dapat diketahui Kegiatan Perakitan Klon Karet Unggul
secara pasti. Seleksi generatif menggunakan
Karakter produksi lateks dan pertumbuhan
semaian terpilih untuk menghasilkan klon
masih menjadi tujuan utama dalam perakitan
terbukti memberikan dampak yang signifikan
klon unggul karet (Priyadarshan dan Damange,
terhadap peningkatan produktivitas sebesar 40%
2004). Menurut Simmond (1989) kedua sifat
dari rata-rata 496 kg/ha/thn menjadi 704
tersebut secara genetik dikendalikan oleh banyak
kg/ha/thn. Klon komersial pertama yang
gen (polygen) dan secara kualitatif dapat diamati
dihasilkan melalui perbanyakan okulasi
dengan mudah. Selain berfokus pada hasil lateks,
diantaranya yaitu Ct3, Ct9, Ct38 pada tahun 1918
sasaran program pemuliaan juga mengarah pada
(Tan et al., 1996).
sifat-sifat sekunder seperti toleran terhadap
angin, tahan kering alur sadap, tahan penyakit,
Sumber Genetik
sesuai lahan marjinal, ramah lingkungan, respon
Genus Hevea memiliki 10 spesies yang terdiri perubahan iklim dan biomassa kayu tinggi (Aidi-
dari H. benthamiana, H. brasiliensis, H. camargoana, Daslin, 2014).
H. camporum, H. guianensis, H. microphylla, H. Proses perakitan klon unggul tanaman karet
nitida, H. pauciflora, H. rigidifolia, dan H. spruceana dibagi menjadi dua tahapan utama yaitu
(Wycherley, 1992). Secara umum antar spesies persilangan (hibridisasi) dan seleksi. Sumber
Hevea dapat disilangkan untuk kepentingan genetik terpilih sebagai populasi dasar dalam
kegiatan pemuliaan. Hevea brasiliensis merupakan pemuliaan tanaman karet dapat berasal dari
tanaman yang diduga memiliki kandungan persilangan alami maupun persilangan buatan
genetik amphiploid (2n = 4x = 36) (Priyadarshan (Aidi-Daslin, 2005). Beberapa hambatan yang
et al., 2009). Hasil pengamatan sel menunjukkan dihadapi dalam persilangan yaitu rendahnya
bahwa terjadi formasi tetravalensi kromosom persentase hasil buah jadi, tingginya variasi antar
selama proses meiosis (Ong, 1975) dan klon dan waktu proses seleksi yang cukup lama
persilangan in situ mengungkapkan terdapat dua (Aidi-Daslin, 2005; Venkatachalam et al., 2007;
lokus terpisah yaitu 18S-25S rDNA dan 5S rDNA Priyadarshan, 2011). Husin (1990) mengestimasi
yang memungkinkan nenek moyang Hevea bahwa buah jadi yang dihasilkan hanya sebesar
memiliki sifat allotetraploid (Leitch et al., 1998). 5% dari total jumlah persilangan. Data yang
Kegiatan konservasi dan pemanfaatan dimiliki oleh Balai Penelitian Sungei Putih
sumber genetik merupakan hal penting dalam menunjukkan nilai rata-rata keberhasilan buah
upaya untuk meningkatkan potensi genetik jadi hasil persilangan buatan sebesar 5,4% dan
tanaman karet (Priyadarshan dan Goncalves, jumlah tanaman F1 sebesar 2,5% selama kurun
2003; Aidi daslin et al., 2009). Klon-klon karet waktu 30 tahun (Tabel 1).
yang beredar saat ini sebagian besar Secara alami tanaman karet memiliki sifat
dikembangkan dari koleksi Wickham sehingga heterozigositas yang tinggi sehingga
telah mengalami proses seleksi selama lebih dari keturunannya (F1) memiliki variasi genetik yang
satu abad dan menyebabkan penurunan jarak sangat tinggi. Sifat inilah yang menyebabkan
genetik. Alternatif sumber genetik lainnya yaitu tanaman karet tidak dianjurkan diperbanyak
plasma nutfah IRRDB 1981 hasil ekspedisi ke menggunakan biji. Menurut Azwar (1990) sifat
Brasil pada wilayah Acre, Rondonia, dan Mato unggul tanaman karet diduga ditentukan oleh
Grosso. Sehingga sampai saat ini koleksi sumber pengaruh heterosis, walaupun sampai saat ini
genetik yang tersedia untuk perakitan klon belum ada penelitian yang dapat menjelaskan hal
terdiri dari spesies Hevea, koleksi IRRDB 1981, tersebut (Priyadarshan, 2017). Beberapa hasil
klon asal Wickham maupun klon introduksi dari penelitian melaporkan bahwa pengaruh heterosis
negara lain. Sumber genetik tersebut telah terlihat masih belum konsisten pada karakter

Status Klon-Klon Karet Seri Irr Hasil Kegiatan Pemuliaan Indonesia Dan Adopsinya di Perkebunan Karet 103
Indonesia (MUHAMAD RIZQI DAROJAT dan SAYURANDI)
Tabel 1. Hasil persilangan buatan selama kurun waktu 30 tahun.
Tahun Jumlah Persilangan Jumlah Buah Jadi Jumlah Biji Jumlah Tanaman F1
1985 – 1990 37525 1956 (5,2) 5804 (15,5) 1716 (4,6)
1991 – 1995 82893 2000 (2,4) 3631 (4,4) 1908 (2,3)
1996 – 2000 85271 2438 (2,9) 7416 (8,7) 3892 (4,6)
2001 – 2005 48992 1457 (3,0) 4070 (8,3) 1386 (2,8)
2006 – 2014 185841 16114 (8,7) 5087 (2,7) 2089 (1,1)
Total 440522 23965 (5,4) 26008 (5,9) 10991 (2,5)
Rata-rata pertahun 14684 799 (5,4) 867 (5,9) 366 (2,5)
Keterangan : data dimodifikasi dari Aidi-Daslin, 2005

yang berhubungan dengan produksi lateks 2007), pengelompokkan tetua (Oktavia et al.,
(Sayurandi dan Aidi-Daslin, 2011; Garcia et al., 2007; Tistama et al., 2008; Oktavia et al., 2017),
2017). Namun studi transkriptomika terbaru dan identifikasi klon karet anjuran (Oktavia et al.,
mengungkapkan bahwa heterosis telah diketahui 2009; Oktavia et al., 2011; Oktavia et al., 2016).
berperan penting dalam pembentukan karakter
produksi (Li et al., 2016) dan sifat pertumbuhan KEUNGGULAN KLON-KLON INDONESIA
(Yang et al., 2018).
Salah satu parameter kemajuan program
Proses seleksi terdiri dari tiga tahapan yaitu
pemulian tanaman karet adalah dihasilkannya
evaluasi progeni F1, pengujian skala kecil, dan
klon-klon unggul baru. Klon unggul merupakan
pengujian skala besar. Priyadarshan (2017)
suatu genotipe tanaman yang memiliki potensi
mengelompokkan proses seleksi menjadi dua
hasil dan sifat-sifat agronomis lebih baik dari
skema berdasarkan waktu yang dibutuhkan yaitu
pada genotipe standar yang biasa digunakan
proses 30 tahun (long process) dan proses 20 tahun
sebagai bahan tanam dalam pertanaman
(short process). Di Indonesia, pengujian skala kecil
komersial. Klon tersebut setidaknya harus
dibagi menjadi dua kegiatan yaitu pengujian
memiliki sifat-sifat primer (produksi,
pendahuluan dan pengujian plot promosi.
pertumbuhan, dll) dan sekunder (ketahanan
Perbedaan keduanya terletak pada nilai persen
penyakit, dll) lebih baik dari klon sebelumnya.
seleksi terhadap hasil progeni F1 (10% dan 1%).
Tabel 2 menunjukan karakteristik tipe klon
Plot promosi dikembangkan untuk menghemat
unggul berdasarkan ciri produkasi dan
waktu seleksi sehingga klon unggul dapat lebih
pertumbuhan.
cepat diketahui karakternya dan dilanjutkan ke
Kegiatan pemuliaan telah berhasil
pengujian skala besar (pengujian lanjutan/
meningkatkan potensi produksi karet kering dari
multilokasi).
500 kg/ha/thn pada generasi-1 (G1) menjadi 3.000
Upaya mempercepat waktu seleksi dapat
kg/ha/thn pada generasi-4 (G4). Keunggulan
dilakukan melalui identifikasi karakter tanaman
lainnya yaitu masa tanaman belum menghasilkan
muda yang berkolerasi erat dengan produksi
(TBM) dapat dipersingkat dari 6 (enam) tahun
pada tanaman tua dan juga pendekatan
menjadi 4 (empat) tahun serta lebih tahan
bioteknologi. Menariknya, hanya dua parameter
terhadap serangan penyakit. Penyakit utama
yaitu indeks penyumbatan dan jumlah pembuluh
tanaman karet sebagian besar disebabkan oleh
lateks yang dapat digunakan sebagai indikasi
fungi seperti jamur akar putih (Rigidoporus
potensi produksi (Huang et al., 1981). Darojat dan
microporus) dan gugur daun (Microcyclus uley,
Tistama (2014) menyimpulkan bahwa
Corynespora cassicola, Phytophthora spp,
bioteknologi melalui teknik marka molekuler
Colletotrichum, Fusicoccum dan Oidium). Hasil
dapat mereduksi waktu seleksi hingga 15 tahun.
beberapa penelitian melaporkan bahwa serangan
Selain itu teknik tersebut dapat dimanfaatkan
gugur daun dapat menurunkan produksi sebesar
untuk menganalisis kekerabatan hasil
1,3% - 45% (Situmorang et al., 2008; Ogbebor,
persilangan (Aidi-Daslin et al., 2007; Woelan,
2010; Junaidi et al., 2017).

104 Volume 17 Nomor 2, Des 2018 :101 - 116


Tabel 2. Karakteristik tipe klon unggul berdasarkan ciri produksi dan pertumbuhan.
Karakteristik Klon penghasil lateks Klon penghasil lateks-kayu
Produksi awal (kg/ha/thn) Tinggi (> 1.500) Sedang (1.000 – 1.500)
Produksi lanjutan (kg/ha/thn) Tinggi (2.500 – 3000) Sedang – Tinggi (1.500 – 2.500)
Pertambahan lilit batang masa TBM (cm/thn) Rendah (< 11) Sedang (11 – 13)
Pertambahan lilit batang masa TM (cm/thn) Rendah (< 4) Sedang (4 – 5)
Potensi produksi kayu saat peremajaan (m3/ph) Rendah (<1,0) Sedang (1,0 – 1,5)
Sumber: Aidi-Daslin (2005)

Tabel 3. Sifat dan karakter klon unggul seri 00.


Rata-rata Potensi Potensi
Klon IRR Resistensi GD
Tetua Tipe Klon pertumbuhan lilit produksi Kayu
Seri 00 Colletotrichum
batang (cm) (kg/ha/thn) (m3/ha)
Seleksi 1.610
semaian 62,5 (5 tahun
IRR 5 PBIG Lateks-Kayu (umur 6 tahun) sadap) 250 Resisten
1.561
LCB 1320 x 48,26 (8 tahun
IRR 39 FX 25 Lateks-Kayu (umur 4 tahun) sadap) 299,95 Resisten
1.988
LCB 1320 x 50,98 (8 tahun
IRR 42 F 351 Lateks-Kayu (umur 4 tahun) sadap) 285,6 Resisten
Keterangan : diolah dari Lasminingsih et al., 2001

Klon-klon unggul G4 yang diberi nama IRR tinggi yaitu sebesar 1.610 kg/ha/thn. Hasil
(Indonesian Rubber Research) telah dihasilkan dari pengamatan menunjukkan klon IRR 5 tergolong
lima seri percobaan yaitu seri 00, 100, 200, 300, tahan terhadap penyakit gugur daun
dan yang terkini seri 400. Colletotrichum dan moderat terhadap penyakit
Oidium dan Corynespora.
Klon IRR Seri 00 Klon IRR 39 dan IRR 42 berasal dari
Klon IRR seri 00 yang termasuk ke dalam persilangan dengan tetua betina yang sama yaitu
klon anjuran berdasarkan lokakarya nasional LCB 1320. Kedua klon tersebut memiliki rata-rata
pemuliaan tanaman karet tahun 2009 yaitu IRR 5, pertumbuhan yang hampir sama dengan
IRR 39 (LCB 1320 X FX 25), dan IRR 42 (LCB 1320 morfologi batang bebas cabang yang tinggi. Klon
X F351) (Aidi-Daslin et al., 2009b). Seluruh klon IRR 39 dan IRR 42 merupakan klon slow starter
tersebut termasuk ke dalam tipe klon lateks-kayu yang memiliki potensi produksi rendah diawal
yang tidak hanya menghasilkan lateks, namun penyadapan dengan nilai rata-rata diatas 1.500
juga menghasilkan kayu. Hal ini bertujuan agar kg/ha/thn selama delapan tahun penyadapan.
produktivitas lahan dan pendapatan para Boerhendhy (2013) melaporkan pemberian
pekebun dapat ditingkatkan. stimulan saat awal sadap pada klon IRR 39 tidak
Sifat klon-klon unggul seri 00 disajikan pada berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan lilit
Tabel 3. Klon IRR 5 merupakan hasil seleksi dari batang, pertumbuhan kulit pulihan, kadar karet
pohon induk semaian Prang Besar Isolated Garden kering, dan kekeringan alur sadap. Hasil uji
(PBIG) (Lasminingsih et al., 2001). Pertumbuhan adaptasi menunjukkan klon IRR 39 tumbuh baik
klon ini sangat jagur sehingga buka sadap dapat di wilayah Jawa Timur, Batumarta, Ogan
dimulai rata-rata pada umur 4,5 tahun. Selama Komering Ilir, dan Lampung (Lasminingsih et al.,
lima tahun penyadapan tanpa stimulan, klon ini 2001). Karakter lain menunjukkan klon IRR 39
memiliki potensi produksi karet kering yang dan 42 memiliki potensi kayu yang tinggi serta

Status Klon-Klon Karet Seri Irr Hasil Kegiatan Pemuliaan Indonesia Dan Adopsinya di Perkebunan Karet 105
Indonesia (MUHAMAD RIZQI DAROJAT dan SAYURANDI)
mutu lateks yang baik untuk menghasilkan SIR 3 mm/th) namun memiliki kapasitas osmoregulasi
dan SIR 5. yang rendah sehingga kurang tahan terhadap
kekeringan.
Klon IRR Seri 100 Klon IRR 107 dihasilkan dari persilangan
Klon IRR seri 100 merupakan hasil seleksi antara klon BPM 101 x FX 2784. Klon ini memiliki
dari persilangan buatan yang dilakukan pada pertumbuhan yang jagur pada masa TBM dan
periode 1985 – 1989. Persilangan tersebut TM, moderat-resisten terhadap KAS, oidium dan
menghasilkan tanaman F1 sebanyak 577 genotipe jamur upas, resisten terhadap Colletotrichum dan
dan 187 genotipe telah menjadi klon moderat-rentan terhadap Corynespora. Woelan et
(Lasminingsih et al., 2009). Klon-klon tersebut al., (2005) melaporkan bahwa klon IRR 107
telah dilakukan pengujian pada kondisi memiliki kondisi matang sadap optimal pada
agroklimat yang berbeda di daerah Sumatera umur empat tahun. Potensi produksi karet kering
Utara dan Sumatera Selatan dan sebanyak 44 klon IRR 107 mencapai 1.614 kg/ha/thn pada
klon telah diperoleh yang diberi nama IRR 100 – umur 7 tahun sadap dan mengandung biomassa
IRR 143. Hasil pengujian tersebut memperoleh 5 kayu rata-rata 0,11 m3/ph (Tabel 4). Klon IRR 107
klon seri 100 yang telah dianjurkan untuk menunjukan kinerja yang baik pada daerah
pertanaman komersial berdasakan lokakarya agroekosistem yang lebih kering (curah hujan
nasional pemuliaan tanaman karet tahun 2009 rendah s.d sedang) dan mampu beradaptasi pada
yaitu IRR 104, IRR 107, IRR 112, IRR 118, dan IRR lahan sub-optimal dengan permukaan air tanah
119 (Tabel 4). dangkal (Aidi-Daslin et al,. 2009).
Klon IRR 104 merupakan kombinasi Klon IRR 112 dan 119 merupakan klon yang
genotipe hasil persilangan dari tetua BPM 101 dihasilkan dari tetua jantan yang sama yaitu
dengan RRIC 110 (Woelan et al., 1995). Pertajukan RRIC 110, namun kedua klon tersebut memiliki
klon IRR 104 memiliki bentuk percabangan yang persamaan dan perbedaan karakteristik. Kedua
menarik dengan indeks luas daun yang tinggi klon memiliki persamaan ciri pertumbuhan yang
(Woelan et al., 1996). Klon ini memiliki jagur pada masa TBM sehingga matang sadap
pertumbuhan yang moderat pada masa TBM dan optimal dapat dicapai pada umur 4 (empat)
TM serta resisten terhadap serangan penyakit tahun. Selain itu kedua klon tersebut memiliki
gugur daun Oidium, Colletotrichum, Corynespora resistensi yang baik terhadap serangan penyakit
dan tergolong toleran terhadap gangguan angin. gugur daun dan penyakit cabang jamur upas.
Hasil pengujian menunjukkan potensi produksi Perbedaan mencolok terlihat pada potensi
kering mencapai 1.869 kg/ha/th pada umur 7 produksi masing-masing klon. Hasil pengujian
tahun sadap. Woelan et al., (2006) melaporkan oleh Woelan et al., (2005) selama 7 (tujuh) tahun
klon IRR 104 dapat tumbuh optimal pada curah penyadapan menunjukkan bahwa klon IRR 112
hujan sedang (1.500 mm/th) dan tinggi (>3.500 memiliki rata-rata produksi lebih tinggi
dibandingkan klon IRR 119 yaitu 2.546 kg/ha dan

Tabel 4. Sifat dan Karakter klon unggul seri 100.


Lilit Tebal Potensi
Klon IRR Potensi produksi Resistensi GD
Tetua Tipe Klon Batang Kulit Kayu
Seri 00 (kg/ha/thn) Colletotrichum
(4 thn) (3,5 thn) (m3/ph)
1.869
IRR 104 BPM 101 X RRIC 110 Lateks 45,0 5,1 (7 tahun sadap) 0,15 Resisten
1.614
IRR 107 BPM 101 X FX 2784 Lateks-Kayu 45,6 4,6 (7 tahun sadap) 0,11 Resisten
2.546
IRR 112 IAN 873 X RRIC 110 Lateks 50,3 5,2 (7 tahun sadap) 0,11 Resisten
2.200
IRR 118 LCB 1320 X FX 2784 Lateks 48,9 4,6 (7 tahun sadap) 0,17 Resisten
RRIM 701 X RRIC 1.715
IRR 119 110 Lateks-Kayu 47,0 5,2 (7 tahun sadap) 0,15 Resisten
Keterangan: diolah dari Woelan et al., 2001; Woelan et al., 2005

106 Volume 17 Nomor 2, Des 2018 :101 - 116


1.715 kg/ha. Namun nilai tersebut masih klon-klon yang lain, klon IRR 118 lebih
tergolong pada produksi tinggi yaitu diatas 1.500 beradaptasi pada kondisi agroklimat kering
kg/ha. Selain itu, klon IRR 119 memiliki potensi dengan produksi yang relatif stabil.
produksi biomassa kayu lebih tinggi
dibandingkan klon IRR 112 dengan nilai 1,04 Klon IRR Seri 200
m3/ph dan 0,98 m3/ph pada umur 20 tahun. Hal Klon IRR seri 200 merupakan klon yang
inilah yang menyebabkan klon IRR 119 termasuk dihasilkan dari persilangan buatan pada tahun
ke dalam tipe klon penghasil lateks-kayu. Hasil 1990 di KP Balai Penelitian Sungei Putih.
pengujian multilokasi menunjukkan klon IRR 112 Persilangan tersebut memperoleh 1.144 genotipe
maupun 119 mampu beradaptasi pada kondisi tanaman F1 dari sebanyak 18.352 persilangan
agroekosistem yang lebih luas, baik di daerah yang dilakukan (Woelan et al., 2009). Berdasarkan
dengan curah hujan rendah maupun curah hujan pengujian pendahuluan dan plot promosi telah
tinggi. dihasilkan beberapa klon yang memiliki potensi
Klon 118 merupakan klon penghasil lateks yang bagus dan dua diantaranya telah dilepas sebagai
berasal dari persilangan antara 1320 x FX 2784. klon anjuran komersial yaitu klon IRR 220 dan
Seleksi biji dan uji F1 dilakukan di Kebun klon IRR 230 (Tabel 5). Kedua klon tersebut telah
Percobaan Sungei Putih serta pengujian lanjutan disahkan oleh Kementerian Pertanian sebagai
dilakukan pada beberapa kebun yang memiliki benih bina pada tahun 2016.
agroklimat yang berbeda. Lateks klon IRR 118 Klon IRR 220 merupakan klon yang
berwana putih dan memiliki kadar karet kering dihasilkan dari persilangan antara klon PB 260 x
yang tinggi. Potensi produksi klon karet kering IAN 873. Klon ini telah direkomendasikan untuk
klon IRR 118 masih dibawah klon IRR 112 namun penanaman komersial sejak tahun 2010
masih termasuk dalam kategori tinggi yaitu 2.200 berdasarkan hasil lokakarya pemuliaan karet
kg/ha dalam 7 tahun penyadapan. Aidi-Daslin et tahun 2009. Klon IRR 220 memiliki pertumbuhan
al. (2007) melaporkan bahwa klon IRR 118 yang jagur pada masa TBM sehingga matang
memiliki resistensi yang tinggi terhadap sadap optimal dapat dicapai pada umur 4 – 4,5
serangan gugur daun Oidium dan Corynespora. tahun (Woelan dan Azwar, 2001). Selain itu
Selain itu, potensi volume kayu klon IRR 118 perkembangan lilit batang klon IRR 220 pada
termasuk ke dalam kategori sedang yaitu 0,92 masa tanaman menghasilkan (TM) dilaporkan
m3/ph pada umur 15 tahun. Berbeda dengan cukup cepat dan menghasilkan biomassa yang

Tabel 5. Karakteristik klon IRR 220 dan IRR 230 dibandingkan dengan klon PB 260

Karakterisasi IRR 220 IRR 230 PB 260


Produksi
 Produksi awal 5 4 5
 Produksi lanjutan 5 5 4
 Respon terhadap stimulan 2 3 3
 Respon terhadap kekeringan kulit 4 4 3
Pertumbuhan
 Pertumbuhan saat buka sadap 3 5 4
 Pertumbuhan selama sadap 3 4 3
 Tebal kulit murni 4 4 3
 Ketahanan terhadap pelukaan 4 4 2
Ketahanan penyakit
 Angin 2 5 3
 Jamur Upas 4 5 5
 Oidium 5 5 4
 Colletotrichum 4 3 4
 Corynespora 5 3 4
 Jamur upas 5 5 5
Keterangan: Sangat baik = 5, Baik = 4, Sedang = 3, Kurang = 2, Jelek = 1
Sumber : Woelan et al., 2016

Status Klon-Klon Karet Seri Irr Hasil Kegiatan Pemuliaan Indonesia Dan Adopsinya di Perkebunan Karet 107
Indonesia (MUHAMAD RIZQI DAROJAT dan SAYURANDI)
tinggi sehingga digolongkan sebagai klon spesifik (Aidi-Daslin & Sayurandi, 2006; Thomas
penghasil lateks-kayu (Woelan et al., 2005). Klon et al., 2009).
IRR 220 termasuk resisten terhadap gangguan Faktor lingkungan yang secara nyata
penyakit gugur daun Oidium, dan Corynespora mampu mempengaruhi produktivitas karet
serta moderat terhadap penyakit Colletotrichum adalah jumlah dan frekuensi hujan, ketinggian
dan jamur upas. Woelan et al., (2005) melaporkan tempat, topografi areal, dan sifat-sifat fisik tanah
bahwa klon IRR 220 memiliki potensi rata-rata (Aidi-Daslin et al., 2007; Hadi et al., 2007).
produksi karet kering sebesar 2.888 kg/ha selama Penurunan produksi dapat mencapai 7 – 40%
8 (delapan) tahun penyadapan. akibat penanaman klon di wilayah beriklim
Berbeda dengan klon IRR 220, klon IRR 230 basah (curah hujan >3.000 mm/thn tanpa bulan
merupakan klon hasil seleksi dari pengujian kering). Menurut Thomas et al. (1995) curah hujan
pendahuluan dan plot promosi kelompok klon rata-rata per tahun yang terbaik untuk
seri 100 (Woelan dan Azwar, 1992; Woelan et al., mendukung produktivitas tanaman karet adalah
2009). Persilangan dilakukan pada tahun 1985 s.d 1.800 - 2.500 mm/thn, dengan jumlah hari hujan
1990 dan menghasilkan tanaman F1 yang berkisar 115 - 150 hari, serta bulan kering (<130
sebanyak 657 genotipe baru. Hasil seleksi 1% mm) berkisar 5 - 6 bulan dan bulan basah (>150
genotipe terbaik dari F1 diperoleh sebanyak 21 mm) selama 5 - 6 bulan.
genotipe yang digunakan untuk pengujian plot Ketinggian tempat juga sangat
promosi. Azwar dan Suhendry (1998) mempengaruhi produktivitas tanaman karet.
melaporkan bahwa klon IRR 230 memiliki laju Pertumbuhan tanaman akan melambat jika
pertumbuhan jagur yaitu sebesar 14 cm per tahun ditanam pada ketinggian >700 m dpl. Demikian
saat masa TBM dan dan 4 cm per tahun saat TM. halnya, bentuk (topografi) areal pada kemiringan
Berdasarkan hasil pengujian penyakit di tiga 17-40% berpengaruh terhadap pertumbuhan
lokasi berbeda rata-rata klon IRR 230 tanaman, sehingga penanaman pada areal-areal
mempunyai ketahanan yang moderat terhadap tersebut harus memperhatikan klon yang mampu
Corynespora maupun terhadap penyakit daun beradaptasi pada daerah tersebut. Selain itu,
Colletotrichum. Pengujian multilokasi perubahan iklim akibat pemanasan global dapat
mendapatkan bahwa klon IRR 230 dapat tumbuh mempengaruhi daerah optimum untuk budidaya
baik dan memiliki potensi produksi yang tinggi tanaman (Mearns, 2000). Zhang et al., (2014)
pada daerah curah hujan sedang sampai daerah melaporkan bahwa kenaikan suhu lingkungan
kering (Woelan et al., 2016). berpengaruh negatif terhadap produksi lateks
karena menyebabkan gangguan dalam proses
PENGUJIAN KLON SERI IRR DI aliran lateks.
BERBAGAI LINGKUNGAN TUMBUH Tingkat keragaman lingkungan Indonesia
yang luas sangat memerlukan alternatif pilihan
Keunggulan suatu klon dipengaruhi oleh
berbagai jenis klon unggul yang sesuai untuk
faktor genetik yang akan membedakan satu klon
lingkungan spesifik. Pengujian multilokasi telah
dengan klon lainnya (Aidi-Daslin et al., 2012).
menghasilkan klon karet unggul seri IRR yang
Produktivitas klon karet unggul sangat
mampu berdaptasi luas maupun pada
dipengaruhi oleh faktor genotipe, lingkungan
lingkungan spesifik. Terdapat tiga lokasi
dan interaksi genotipe x lingkungan. Setiap klon
pengujian klon seri IRR di beberapa daerah
memiliki karakteristik berbeda sehingga
berdasarkan distribusi curah hujan. Karakteristik
membutuhkan kondisi lingkungan yang sesuai
lingkungan I (L1) yang merupakan daerah sub-
agar mampu tumbuh dan berproduksi secara
optimal (curah hujan rendah), karakteristik
optimal. Beberapa hasil pengujian klon
lingkungan II (L2) adalah kondisi lingkungan
menunjukkan bahwa beberapa klon karet
optimal (curah hujan normal) dan karakteristik
mampu beradaptasi dan berproduksi stabil
lingkungan III (L3) merupakan daerah sub-
pada berbagai agroekosistem yang berbeda,
optimal (curah hujan tinggi). Tabel 6 menyajikan
namun ada juga klon yang tumbuh dan
deskripsi lokasi pengujian klon seri IRR.
berproduksi optimal pada lingkungan yang

108 Volume 17 Nomor 2, Des 2018 :101 - 116


Gambar 3. Produksi kumulatif 5 tahun sadap di tiga lokasi lingkungan tumbuh.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa ADOPSI KLON SERI IRR DI PERKEBUNAN


produksi karet kering per hektar kumulatif lima INDONESIA
tahun sadap pada klon seri IRR sangat bervariasi
di berbagai lingkungan (Gambar 3). Sebagian Salah satu hambatan dalam upaya perbaikan
besar klon seri IRR yang diuji memiliki perkebunan karet di Indonesia, khususnya bagi
produktivitas yang rendah di L3, kecuali klon perkebunan rakyat, adalah rendahnya tingkat
IRR 220. Klon IRR 112 memiliki produksi adopsi klon unggul oleh para pekebun.
tertinggi dibanding klon-klon lainnya dan sesuai Boerhendhy (2013) menyatakan bahwa 60%
untuk L1 dan L2 dengan produksi kumulatif per produktivitas tanaman karet ditentukan oleh
hektar selama lima tahun sadap, berkisar 8.400 – kualitas bahan tanam dan 40% dipengaruhi oleh
9.200 kg/ha. faktor lingkungan dan pengelolaan kebun.
Klon IRR 118 lebih stabil di lokasi L1 dan Dampaknya adalah Indonesia, sebagai negara
L2 dengan produktivitas 7.200 – 7.600 kg/ha. perkebunan karet terluas, menduduki peringkat
Menurut Aidi-Daslin et al. (2007), klon IRR 118 6 dunia (862 kg/ha) dalam hal produktivitas dan
dapat dikembangkan pada agroklimat yang lebih terpaut jauh dari Thailand yang memiliki
kering, sedangkan IRR 112 lebih beradaptasi produktivitas mencapai 1,8 ton/ha (Mani dan
luas. Klon IRR 208 dan IRR 211 memberikan Santhakumar, 2011). Nilai produktivitas karet
produksi tertinggi di L1 dan L2 dengan nasional berada di bawah produktivitas
produktivitas kumulatif lima tahun sadap perkebunan karet besar dan sedikit lebih tinggi
masing-masing sebesar 7.800 kg/ha dan 7.000 – dibandingkan dengan perkebunan karet rakyat
7.500 kg/ha. Klon IRR 220 memiliki respon yang (Gambar 4). Selain itu, kenaikan produktivitas
cukup baik di L2 dan L3 dengan produktivitas karet nasional rata-rata hanya sebesar 6,67% per
masing-masing sebesar 7.700 kg/ha dan 8.000 tahun dalam kurun waktu 15 tahun (2001 – 2015)
kg/ha. Hasil penelitian Aidi-Daslin et al. (2012), (Badan Pusat Statistik, 2017.
potensi hasil yang tinggi juga ditunjukkan klon Pemerintah sejak tahun 1980an telah
IRR 208, IRR 211, IRR 220 pada uji plot promosi menggulirkan berbagai macam program terkait
di lokasi kebun percobaan Sungei Putih, Provinsi dengan upaya memperbaiki perkebunan karet.
Sumatera Utara. Pola program tersebut diantaranya adalah
plasma, PRPTE, UPP berbantuan, transmigrasi,
swadaya berbantuan dan PIR (Madjid, 1995).

Status Klon-Klon Karet Seri Irr Hasil Kegiatan Pemuliaan Indonesia Dan Adopsinya di Perkebunan Karet 109
Indonesia (MUHAMAD RIZQI DAROJAT dan SAYURANDI)
Gambar 4. Produktivitas perkebunan karet Indonesia 2001 – 2015 (diolah dari BPS, 2017).

Sejak tahun 2012 mulai diluncurkan Gerakan beredar lebih dari 15 tahun di perkebunan karet
Nasional Karet (Gernas Karet) oleh pemerintah Indonesia.
untuk melanjutkan program sebelumnya dalam Syarifa et al., (2012) melaporkan bahwa
merevitalisasi perkebunan karet rakyat (Nasir, tingkat adopsi klon karet oleh petani karet di
2013). Namun upaya-upaya besar tersebut belum Sumatera Selatan mencapai 59,2%. Klon
berjalan optimal dan masih jauh dari tujuan. terpopuler berdasarkan hasil penelitian tersebut
Salah satu alasannya adalah para petani karet yaitu PB 260 dengan tingkat popularitas 83%
masih menggunakan bibit sembarang (seedling, diikuti klon lama Indonesia yaitu GT 1 (48%) dan
palsu, dll) dan bibit klon lama dalam BPM 24 (39%). Sementara itu klon seri IRR belum
meremajakan areal perkebunan karet. Hal banyak diketahui ditingkat petani terbukti hanya
tersebut timbul dari rendahnya pengetahuan klon IRR 39 yang telah diadopsi dengan tingkat
para petani mengenai klon unggul dan popularitas rendah sebesar 32%. Fakta serupa
terbatasnya sentra penghasil klon unggul yang terjadi di perkebunan besar negara yang
tersedia saat ini. ditemukan bahwa klon PB 260 mengisi luasan
Permasalahan rendahnya tingkat adopsi terbesar diikuti klon N (RRIM seri 900), PB 340,
klon oleh masyarakat karet telah berlangsung GT 1 dan RRIC 100 (Gambar 5). Klon seri IRR
sejak lama. Pee dan Khoo (1975) melaporkan hanya menempati 1,19% dan 0,05% total luasan
bahwa setidaknya dibutuhkan waktu selama 10 areal (lingkaran merah). Fakta-fakta tersebut
tahun sampai sebuah klon dapat teradopsi menunjukkan bahwa adopsi klon karet baru,
hingga mengisi 90% dari total luas area di khususnya klon seri IRR, masih sangat rendah di
perkebunan besar (estate) Malaysia. Di Indonesia, tingkat petani karet maupun di perkebunan besar
teknologi klon telah dikenalkan sejak lama, negara.
namun rekomendasi klon anjuran baru Beberapa faktor yang menyebabkan
digulirkan awal tahun 1980an melalui Lokakarya lambatnya tingkat adopsi klon seri IRR yaitu
Nasional Pemuliaan Karet. Sementara itu, klon rendahnya pengetahuan tentang klon, lambatnya
unggul seri IRR diperkenalkan pertama kali pada penyebaran kebun entres, ketidakpercayaan akan
tahun 1995 sebagai klon harapan dan dilepas klon unggul baru dan mahalnya harga bibit klon
sebagai klon anjuran pada tahun 1998 (Pusat unggul (Pee dan Khoo, 1975; Syarifa et al., 2012).
Penelitian Karet, 1995; 1998). Hal ini Salah satu akibat dari rendahnya pemahaman
menunjukkan bahwa klon karet seri IRR telah petani karet terhadap klon yaitu banyak
beredarnya bibit klon palsu/asalan di pasaran.

110 Volume 17 Nomor 2, Des 2018 :101 - 116


Gambar 5. Persentase sebaran luasan klon di dua perkebunan besar negara. (diolah dari Balai Penelitian
Sungei Putih, 2016)

Pemahaman yang baik tentang klon akan entres dan desentralisasi penyedia benih karet
mendorong petani karet untuk selalu unggul agar ketersediaan dan harga benih
memperbanyak tanaman karet dengan mata unggul dapat sesuai dengan kebutuhan
tunas berasal dari kebun entres murni. Oleh masyarakat karet setempat (Saefudin dan
karena itu, perlu adanya upaya serius dari Listyati, 2013).
pemerintah untuk meningkatkan pemahaman Adopsi klon oleh pelaku agribisnis karet
petani karet terhadap bibit karet klonal yang memiliki dampak signifikan dalam
berkualitas. Wahyudi (2011) menyatakan bahwa meningkatkan produktivitas karet nasional.
peran aktif petani dan dukungan dari berbagai Kementrian Pertanian telah menetapkan salah
lembaga terkait (pemulia, pengelola kebun induk, satu sasaran dalam pengembangan agribisnis
penangkar, lembaga sertifikasi, dan pedagang karet ke depan yaitu mempercepat peremajaan
benih) merupakan kunci meningkatnya adopsi karet rakyat (revitalisasi) dengan menggunakan
benih unggul oleh petani. klon unggul (Badan Libang Pertanian, 2005).
Saefudin dan Listyati (2013) telah Melalui sasaran tersebut diharapkan produksi
mengidentifikasikan empat permasalahan karet Indonesia mencapai 3,5 – 4 juta ton dan
rendahnya adopsi dan penyediaan benih karet produktivitas kebun mencapai 1.200 – 1.500 kg/ha
unggul yaitu: (1) sosialisasi benih karet unggul, pada tahun 2025. Selain itu, pertumbuhan
(2) penetapan kebun sumber benih untuk batang produksi karet indonesia diproyeksikan dapat
bawah, (3) revitalisasi kebun entres, dan (4) mencapai 3,1% pertahun melalui program
desentralisasi penyediaan benih karet unggul. revitalisasi yang sedang digulirkan (Saefudin dan
Penyuluhan dan advokasi (pendampingan) Listyati, 2013). Namun dengan beredarnya klon
merupakan faktor kunci keberhasilan adopsi klon unggul baru, khususnya seri IRR, yang memiliki
unggul oleh petani (Sudjarmoko, 2013), terbukti potensi produksi hingga 2 ton/ha, sasaran dan
hampir 90% petani karet Kalimantan dan Jambi produksi karet dapat ditingkatkan lebih tinggi
telah menerapkan pengetahuannya dari hasil lagi. Bahkan salah satu perkebunan swasta di
pelatihan yang diikuti (Ilahang et al., 2008). Selain Sumatera Utara telah memiliki produktivitas
itu kondisi kebun sumber benih dan kebun entres mencapai 3 ton/ha dengan menggunakan
masih belum merata dan berusia tua sehingga teknologi klon unggul (komunikasi pribadi).
proses penyediaan dan adopsi klon unggul masih Apabila adopsi klon unggul baru dapat berjalan
berjalan lambat. Perlu adanya revitalisasi kebun optimal, produksi karet nasional Indonesia

Status Klon-Klon Karet Seri Irr Hasil Kegiatan Pemuliaan Indonesia Dan Adopsinya di Perkebunan Karet 111
Indonesia (MUHAMAD RIZQI DAROJAT dan SAYURANDI)
diperkirakan dapat mencapai 4,38 ton pada DAFTAR PUSTAKA
sepuluh tahun mendatang.
Aidi-Daslin. 2005. Kemajuan pemuliaan dan
seleksi dalam menghasilkan kultivar karet
PENUTUP
unggul. Prosiding Lokakarya Nasional
Program perakitan klon unggul karet telah Pemuliaan Tanaman Karet. Pusat
berjalan selama lebih dari satu abad dan saat ini penelitian karet. Medan. Hlm 26-37.
telah memasuki generasi ke-5 (2010 – 2035). Aidi-Daslin dan Sayurandi. 2006. Pengaruh
Selama empat generasi pemuliaan karet, para interaksi genotipe dan lingkungan
pemulia telah menghasilkan kemajuan yang terhadap pertumbuhan dan produksi klon
signifikan dalam perbaikan karakter primer IRR seri 100 pada uji lanjutan. Jurnal
maupun sekunder. Hal ini dibuktikan dengan Penelitian Karet 24(2): 91-100.
dihasilkannya klon karet yang memiliki potensi Aidi-Daslin, S Woelan, M Lasminingsih, H hadi.
produksi 5 kali lebih tinggi dari generasi pertama 2007. New recommended clones for
dan tahan terhadap serangan penyakit. Sejak Indonesian Rubber Plantation. Proceedings
tahun 1985, Indonesia secara intensif telah of International Rubber Conference and
melakukan program perakitan klon unggul dan Exhibition. Pusat Penelitian Karet. Medan.
beberapa telah dilepas sebagai klon anjuran 97-103.
diantaranya IRR 5, IRR 39, IRR 42, IRR 112, IRR Aidi-Daslin, Sayurandi dan S Woelan. 2007.
118, IRR 220 dan IRR 230. Klon-klon tersebut Analisis kekerabatan genetik populasi F1
telah melalui serangkaian pengujian sehingga hasil persilangan tetua tanaman karet
dapat diusahakan pada agroekologi perkebunan penghasil lateks dan kayu berdasarkan
Indonesia. teknik RAPD. J penelitian karet 25(2): 1-9.
Bagi seorang pemulia tanaman, tujuan akhir Aidi-Daslin, Sayurandi and Sekar Woelan. 2007.
dari rangkaian program perakitan klon adalah Adaptability and stability of IRR 100-series
menghasilkan klon-klon yang memiliki sifat-sifat rubber clones. Proc. International Rubber
unggul. Namun yang lebih penting adalah Conference & Exhibition 2007 Hlm.385-392.
apabila klon unggul tersebut telah banyak Aidi-Daslin, S Woelan, M Lasminingsih, H Hadi.
digunakan (adopsi) oleh pelaku industri 2009a. Kemajuan pemuliaan dan seleksi
perkebunan karet. Walaupun telah tanaman karet di Indonesia. Prosiding
diperkenalkan lebih dari 15 tahun yang lalu, Lokakarya Nasional Pemuliaan Tanaman
adopsi klon, khususnya klon seri IRR, oleh Karet. Pusat Penelitian Karet. Medan. Hlm.
masyarakat karet Indonesia masih tergolong 50-59.
rendah. Petani karet masih menggunakan bahan Aidi-Daslin et al 2009b. Rumusan Lokakarya
tanam asal biji atau klon palsu/asalan karena Nasional Pemuliaan Tanaman Karet 2009.
kurangnya pengetahuan dan kepercayaan Prosiding lokakarya Nasional Pemuliaan
terhadap klon-klon unggul yang telah beredar. Tanaman Karet. Pusat Penelitian Karet.
Penyuluhan dan pendampingan perlu Medan.
dioptimalkan kembali agar pemanfaatan klon- Aidi-Daslin, S.Woelan and S.A.Pasaribu. 2012.
klon unggul dapat berjalan dengan baik. Selain High latex yielding and disease resistance
itu kerjasama antar lembaga terkait (Puslit Karet, of rubber clones IRR 200 series. Indonesian
Dinas Perkebunan, Lembaga Penyuluh, dan Journal of Agricultural Science 13(2), 2012 :
lainnya) perlu dipererat agar adopsi klon dapat 80-85.
berlangsung dengan cepat dan optimal. Dengan Aidi-Daslin. 2014. Perkembangan penelitian klon
upaya tersebut diharapkan akan berdampak karet unggul irr seri 100 sebagai penghasil
pada perbaikan produktivitas perkebunan karet lateks dan kayu. Warta perkaretan, 33(1): 1
di Indonesia. – 10.
Azwar R. 1990. Advantages and disadvantages of
the use of seedling and clonal rubber
planting materials.

112 Volume 17 Nomor 2, Des 2018 :101 - 116


Azwar R. dan I. Suhendry. 1998. Kemajuan Huang X, L Wei, S Zhan, C Chen, Z Zhou, X
pemuliaan karet dan dampaknya terhadap Yuen, Q Guo, and J Lin. 1981. A
pada peningkatan produktivitas. Pros. Lok. preliminary study of relations between
Nasional Pemuliaan Karet dan Diskusi latex vessel system of rubber leaf blade and
Nasional Prospek Karet Alam Abad 21. yield prediction at nursery. Chinese
Pusat Penelitian Karet. APPI. Hlm 51 - 64. Journal of Tropical Crops, 2: 16–20.
Badan penelitian dan pengembangan pertanian. Husin SM. 1990. Hevea seed: its characteristics,
2005. Prospek dan arah pengembangan collection and germination. Planters’
agribisnis karet. Departemen Pertanian RI. Bulletin (Rubber Research Institute of
Badan Pusat Statistik. 2017. Produksi Perkebunan Malaysia), 202; 3–8.
Rakyat Menurut Jenis Tanaman tahun García DAM, JMC Torres, AAN Arboleda and
2000-2015. https://www.bps.go.id/ OJC Gaona. 2017. Repeatability for yield
[diunduh tanggal 2 Maret 2017]. total solids in a segregating population of
Badan Pusat Statistik. 2017. Produksi Perkebunan rubber (Hevea brasiliensis) in Colombia.
Besar menurut Jenis Tanaman, Indonesia Rev. Fac. Nac. Agron. Medellín, 71(1):
tahun 1995 - 2015. https://www.bps.go.id/ 8407-8414.
[diunduh tanggal 2 Maret 2017]. Imle EP. 1978. Hevea rubber: Past and future.
Balai Penelitian Sungei Putih. Evaluasi Dan Econ Bot. 32: 264–277.
Rekomendasi Sistem Eksploitasi Kebun Ilahang, D Wulandari, R Akiefnawati, Budi, L
Karet PT. Perkebunan Nusantara III tahun Joshi dan G. Wibawa. 2008. Pengeruh
2016. Sungei Putih. Pelatihan Teknologi Karet bagi Petani Kecil
Balai Penelitian Sungei Putih. Evaluasi Dan terhadap Perspsi, Pengetahuan dan
Rekomendasi Sistem Eksploitasi Kebun Penerapan Penanaman Karet. Warta
Karet PT. Perkebunan Nusantara VII tahun Perkaretan, 27(1): 25-34.
2016. Sungei Putih. Junaidi, Radite Tistama, Atminingsih, Zaida
Baulkwill WJ. 1989. The history of natural rubber Fairuzah,Arief Rachmawan, Muhammad
production. Dalam: Rubber. Webster CC, Rizqi Darojat, dan Mochlisin Andriyanto.
Baulkwill WJ (Ed). Longman Scientific and 2017. Fenomena gugur daun sekunder di
Technical. Essex, England. p1–56. wilayah sumatera utara dan pengaruhnya
Boerhendhy I. 2013. Prospek perbanyakan bibit terhadap produksi karet. Warta
karet unggul dengan teknik okulasi dini. Perkaretan, 37 (1): 1-16.
Jur Litbang Pert. 32(2): 85-90. Lasminingsih M, S Woelan, Aidi-Daslin, H Hadi,
Boerhendhy I. 2013. Penggunaan stimulan sejak I Boerhendhy. 2001. Evaluasi dan Keragaan
awal penyadapan untuk meningkatkan klon karet harapan penghasil lateks dan
produksi klon IRR 39. Jurnal Penelitian kayu. prosiding lokakarya nasional
Karet 31(2): 117-126. pemuliaan karet. Pusat penelitian karet.
Darojat dan Tistama. 2014. Upaya perbaikan Medan. Hlm 82-93.
genetik dan penyediaan bibit tanaman Lasminingsih M, S Woelan, Aidi-Daslin. 2009.
karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) Evaluasi keragaan klon karet IRR seri 100.
melalui pendekatan bioteknologi. Warta Prosiding lokakarya nasional pemuliaan
Perkaretan 33(2): 57-72. tanaman karet. Pusat penelitian karet.
Djikman MJ. 1951. Hevea-Thirty years of research Medan. Hlm 60-83.
in the far east. Univ Miami Press, Coral Leitch AR, KY Lim, IJ Leitch, M O’Neill, ML
Gables, Florida, USA. Chye, FC Low. 1998. Molecular cytogenetic
Hadi, H., A.D.Wahyudi and K.Anwar. 2007. studies in rubber. Hevea brasiliensis Muell.
Performance of the promoting clones of Arg. (Euphorbiaceae). Genome, 41: 64–467.
Hevea rubber planted on dry climate area. Li D, R Zeng, Y Li, M Zhao, J Chao, Y Li, K Wang,
Proc. International Rubber Conference & L Zhu, WM Tian, C Liang. 2016. Gene
Exhibition 2007. Hlm. 379-383. expression analysis and SNP/InDel

Status Klon-Klon Karet Seri Irr Hasil Kegiatan Pemuliaan Indonesia Dan Adopsinya di Perkebunan Karet 113
Indonesia (MUHAMAD RIZQI DAROJAT dan SAYURANDI)
discovery to investigate yield heterosis of Oktavia F, Sudarsono, Kuswanhadi, D Dinarty,
two rubber tree F1hybrids. Sci. Rep. 6 Widodo. 2016. Identifikasi ketahanan
(24984): 1-12. plasma nutfah karet IRRDB 1981 terpilih
Madjid A. 1995. Upaya mempercepat terhadap penyakit gugur daun corynespora
penggunaan klon unggul di perkebunan berdasarkan aktivitas toksin Cassiicolin.
karet rakyat. Prosiding lokakarya nasional Jurnal Penelitian Karet, 34 (1) : 35-48.
pemuliaan tanaman karet. Medan. Paardekooper EC. 1989. Exploitation of the
Mani S and V Santhakumar. 2011. Diffusion of rubber tree. Dalam: Rubber. Webster CC
New Technologies and Productivity and Baulkwill WJ (Ed). Longman Scientific
Growth in Agriculture: Natural Rubber vs and Technical. Essex, England. p349–414.
Coconuts. Economic and Political Weekly, Pee TY and SK Khoo. 1975. Diffusion and impact
46 (6): 58 – 63. of high yielding materials on rubber
Mearns, L.O. 2000. Climate change and production in Malaysia. Proceedings of the
variability. In Reddy, K.R. and Hodges, international rubber conference. 327-349p.
H.F (Ed.). Climate Change and Global Priyadarshan PM, PS Goncalves and KO
Crop Productivity. CAB International. 7-35. Omokhafe. 2009. Breeding Hevea Rubber.
Nasir G. 2013. Karet rakyat menanti peremajaan. Dalam: Breeding Plantation Tree Crops:
Tabloid Sinar Tani. Edisi 6-12 Pebruari Tropical Species. SM Jain, PM
2013 3493: 4. Priyadarshan (Ed). Springer
Ogbebor ON (2010). The status of three common Science+Business Media. p469-522.
leaf disease of Para rubber in Nigeria. Priyadarshan PM, PS Goncalves. 2003. Hevea gene
Journal of Animal and Plant Sciences 6(1): pool for breeding. Genet. Resour. Crop
567- 570. Evol, 50: 101–114.
Ong SH. 1975. Chromosome morphology at the Priyadarshan PM, A Clement-Demange. 2004.
pachytene stage in Hevea brasiliensis: a Breeding Hevea rubber: formal and
preliminary report. Proceeding molecular genetics. Adv. Genet, 52: 51–115.
International Rubber Conference IRRDB, Priyadarshan PM. 2017. Biology of Hevea
Kuala Lumpur, 2. : 3–12. Rubber. Springer International Publishing.
Oktavia F, Kuswanhadi, Dini Dinarty, Widodo Pusat penelitian karet. 1995. Hasil rumusan
and Sudarsono. 2017. Genetic Diversity lokakarya nasional pemuliaan tanaman
and Population Structure of IRRDB 1981 karet 1995. Prosiding lokakarya nasional
and Wickham Rubber Germplasm Based pemuliaan tanaman karet. Medan. Hlm 9-
on EST-SSR. AGRIVITA Journal of 10.
Agricultural Science, 39(3): 239-251. Pusat penelitian karet. 1998. Hasil rumusan
Oktavia F, M Lasminingsih, S Ismawanto dan lokakarya nasional pemuliaan tanaman
Kuswanhadi. 2007. Analisis genetik klon- karet 1998. Lokakarya nasional pemuliaan
klon tanaman karet (Hevea brasiliensis) tanaman karet dan diskusi nasional
menggunakan penanda RAPD. J Penelitian prospek karet alam abad 21. Medan.
Karet 25(1): 1-12. Sayurandi Dan Aidi-Daslin. 2011. Heterosis Dan
Oktavia F, M Lasminingsih, dan Kuswanhadi. Heritabilitas Pada Progeni F1 Hasil
2009. Identifikasi klon karet anjuran Persilangan Kekerabatan Jauh Tanaman
dengan teknik RAPD. J Penelitian Karet Karet. Jurnal Penelitian Karet, 29 (1) : 1 –
27(1): 21-31. 15.
Oktavia F, M Lasminingsih dan Kuswanhadi. Simmonds NW. 1989. Rubber breeding, in Rubber,
2011. Genetic Relationship of Wickham and ed. by C. C. Webster, W. J. Baulkwill
IRRDB 1981 Rubber Population Based on (Longman Scientific and Technical, New
RAPD Markers Analysis. HAYATI Journal York, pp. 85–124.
of Biosciences, 18 (1): 27-32. Situmorang A, Suryaningtyas H, Febbiyanti TR.
2008. Penyakit hawar daun Amerika

114 Volume 17 Nomor 2, Des 2018 :101 - 116


Selatan dan pengendaliaanya pada Woelan, S. dan R. Azwar, 1992. Kemajuan
tanaman karet. Lokakarya Nasional persilangan dan seleksi tanaman karet
Agribisnis Karet, 20-21 Agustus. Hevea brasiliensis Muell. Arg. Pros. Lok.
Yogyakarta. Nas. Pemuliaan Tanaman Karet. Medan 7 –
Syarifa LF, DS Agustina, C Nancy dan M 9 Desember 1992.
Supriyadi. 2012. Evaluasi tingkat adopsi Woelan S, R Azwar, Aidi-Daslin. 1995. Klon-klon
klon unggul di tingkat petani karet harapan baru IRR seri 00 dan IRR seri 100.
propinsi Sumatera Selatan. Jur Penel Kar Prosiding Lokakarya nasional pemuliaan
30 (1): 12 – 22. tanaman karet. Pusat penelitian karet.
Sudjarmoko. 2013. Peran strategis industri benih Medan.
dalam gerakan nasional peningkatan Woelan S, R Azwar, I Suhendry. 1996.
produktivitas karet di Indonesia. Medkom Penampilan klon karet IRR seri 100 selama
Perkebunan. Tanaman Industri dan periode tanaman belum menghasilkan.
penyegar. Hlm. 1. Jurnal penelitian karet, 14(2): 111-124.
Tan H, SK Khoo, Ong SH. 1996. Selection of Woelan S, Aidi-Daslin, R Azwar, I Suhendry.
advanced polycross progenies in Hevea 2001. Keragaan klon karet unggul harapan
improvement. Jour Nat Rubb Res. 11: 215– IRR seri 100. Prosiding Lokakarya nasional
225. pemuliaan tanaman karet. Pusat penelitian
Tistama R, Sayurandi, Aidi-Daslin, & S Woelan. karet. Medan. Hlm 173-189.
2008. Pengelompokkan tetua tanaman Woelan S dan R Azwar. 2001. Penampilan klon
karet (Hevea brasiliensis Muell Arg.) IRR seri 200 selama masa TBM. Prosiding
berdasarkan penanda RAPD. J Penel Karet lokakarya nasional pemuliaan tanaman
26(1): 10-19. karet. Pusat penelitian karet. Medan. Hlm
Thomas, W., P.Grist and K.Menz. 1995. 188-200.
Modelling rubber growth as a function of Woelan S, Aidi-Daslin, I Suhendry, M
climate and soils. Imperata Project Centre Lasminingsih. 2005. Evaluasi Keragaan
for Resource and Environmental Studies. klon karet IRR seri 100 dan 200. Prosiding
The Australian National University. Lokakarya nasional pemuliaan tanaman
Thomas KK. 2001. Role of Clement Robert karet. Pusat penelitian karet. Medan. Hlm
Markham in the introduction of Hevea 38-61.
rubber into the British India. The Planter Woelan S, Aidi-Daslin, I Suhendry. 2006. Potensi
77: 287–292. Keunggulan klon karet generasi IV seri
Thomas, W., A.Situmorang dan M.Lasminingsih. IRR. Prosiding lokakarya nasional
2009. Pemilihan klon karet untuk provinsi budidaya tanaman karet. Pusat penelitian
Lampung berdasarkan kondisi agroklimat. karet. Medan. Hlm 33-52.
Warta Perkaretan 28(1) : 19-27. Woelan S, R Tistama, dan Aidi-Daslin. 2007.
Venkatachalam P, PK Jayasree, S Sushmakumari, Determinasi keragaman genetik hasil
R Jayashree, K Rekha, S Sobha, P Priya, RG persilangan antar populasi berdasarkan
Kala and A Thulaseedharan. 2007. Current karakteristik morfologi dan teknik RAPD. J
Perspectives on Application of Penel Karet, 25(1): 13-26.
Biotechnology to Assist the Genetic Woelan S, Aidi-Daslin, M Lasminingsih, I
Improvement of Rubber Tree (Hevea Suhendry. Evaluasi keragaan klon karet
brasiliensis Muell. Arg.): An Overview. IRR seri 200 dan 300 pada tahap pengujian.
Functional Plant Science and 2009. Prosiding lokakarya nasional
Biotechnology. Global Science Books. pemuliaan tanaman karet. Pusat penelitian
Wahyudi, A. 2011. Kelembagaan perbenihan karet. Medan. Hlm 84-106.
perkebunan.Tree, Majalah Semi Populer Woelan S, R Azwar, Aidi-Daslin, I Suhendry, M
Tanaman Rempah dan Industri 2(1): 4. Lasminingsih, Sayurandi, SA Pasaribu.
2016. Keunggulan klon karet IRR 220 dan

Status Klon-Klon Karet Seri Irr Hasil Kegiatan Pemuliaan Indonesia Dan Adopsinya di Perkebunan Karet 115
Indonesia (MUHAMAD RIZQI DAROJAT dan SAYURANDI)
IRR 230. Warta Penelitian karet, 35 (2), 89- mechanisms underlying growth heterosis
106. and weakness of rubber tree seedlings.
Wycherley PR. 1992. The genus Hevea: botanical BMC Plant Biology (2018), 18:10.
aspects. Dalam: Natural Rubber: Biology, Zhang H, L Zhang, Y Ge, Y Hua, Z Lan, H
Cultivation and Technology. Sethuraj MR, Huang. 2014. Short Communication:
Mathew NM (Ed). Elsevier, Amsterdam. Climate And Latex Production Of Rubber
The Netherlands. p50–66. Tree (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) In
Yang H, X Wang, Y Wei, Z Deng, H Liu, J Chen, L Wanning, Southeastern Part Of Hainan
Dai, Z Xia, G He, D Li. 2018. Province, China. J. Rubb. Res., 17(4):261–
Transcriptomic analyses reveal molecular 265.

116 Volume 17 Nomor 2, Des 2018 :101 - 116