Sie sind auf Seite 1von 5

J.

Agroland 24 (3) : 208 - 213, Desember 2017 ISSN : 0854-641X


E-ISSN : 2407-7607

EFEKTIFITAS EKSTRAK DAUN PANDAN WANGI


(Pandanus amaryllifolius Roxb) TERHADAP KUMBANG BERAS
(Sitophylus oryzae L.)

Effectiveness of Fragrant Leaf Extract (pandanusamaryllifoliusRoxb.)Againts Rice


Weevils (sitophylus oryzae L.)

Susanti1), Moh yunus2), Flora pasaru2)


1)
Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Palu
2)
Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Palu

ABSTRACT

Sitophilusoryzae L. is an important insectin warehouses causing damages to rice grainsand assisting


fungal growthto spreadin a short time. This leads to the rice grain become inconsumable.
Symptoms of attacksinclude holes in rice grains or the rice grains change into flour. This study
aimed to determine the effectiveness of extracts of fragrant pandan leaves (Pandanus amaryllifolius
Roxb.) in controlling Sitophylusoryzae L. The research was carried out in the Laboratory of
Disease of TadulakoUniversity and arranged in a completely randomized design (CRD) with five
treatments and replicated five times. The treatments included control (without treatment, A0), 5%
fragrant pandan leaf extract (A1), 10% fragrant pandan leaf extract (A2), 15% fragrant pandan leaf
extract (A3), and 20% fragrant pandan leaf extract (A4). Data was then analyzed using analysis of
variance followed by a HSD test at 5% level when the treatments had significant effect. The study
showed that the leaf extract of P. Amaryllifoliussignificantlyaffected the mortality
ofSitophylusoryzae L observed at oneWAA (week after application), two WAA, and three WAA.
The leaf extracts of P. amaryllifoliusapplied at theconcentration of 20% is more effective in
controlling Sitophylusoryzae L atone WAA, two WAA, and three WAA. The insect mortality was
57.87% at the concentration of 20% while it was 50.52% at the concentration of 15%,30.16%at the
concentration of 10%, 18.2% at the concentration of 5%, and least at Control.

Keywords:Pandanusamaryllifolius extract, and Sitophylusoryzae.

PENDAHULUAN untuk memenuhi kebutuhan beras yang


terus meningkat (Badan Pusat Statistik,
Kebutuhan beras secara nasional 2016). Penyimpanan beras dan bahan
terus meningkat seiring dengan meningkatnya pangan lain, merupakan salah satu kegiatan
jumlah penduduk. Produksi padi di pasca panen yang penting. Kerusakan pada
Indonesia pada tahun 2015 sebanyak 75,36 beras, berubahnya warna beras, terdapat
juta ton, sedangkan kebutuhan padi pada bau, penyusutan berat beras merupakan hal
tahun 2025 diperkirakan meningkat hingga penting harus diperhatikan selama
mencapai 70 juta ton. Kenaikan produksi penyimpanan. Beras yang disimpan di
padi terjadi karena kenaikan luas panen dalam gudang tradisional maupun gudang
seluas 0,32 juta hektar (2,31%) dan modern sering mendapat gangguan dari
peningkatan produktivitas sebesar 2,04 serangga hama. Gangguan tersebut dapat
kuintal/hektar (3,97%). Hal ini menunjukkan menyebabkan terjadinya kerusakan dan
bahwa peningkatan produktivitas padi kehilangan berat bahan. Besarnya
nasional harus benar-benar dipacu agar kerusakan dan kehilangan tergantung dari
dapat mencapai tingkatan yang diperlukan cara serangga hama menyerang atau

208
merusak. Produk pasca panen merupakan kotak plastik ukuran 15x12 cm yang
bagian tanaman yang dipanen dengan sebelumnya telah di isi beras sebanyak
berbagai tujuan terutama untuk memberikan 100g sebagai tempat hidup dan makanannya
nilai tambah dan keuntungan bagi petani kemudian ditutup dengan kain kasa.
maupun konsumen. Bulog memperkirakan Adapun perbedaan kumbang beras jantan
susut bobot beras sekitar 25%, terdiri dari dan betina yaitu permukaan genetalia jantan
8% waktu panen, 5% waktu 13 rata dan licin sedangkan betina agak
pengangkutan, 2% waktu pengeringan, 5% bergelombang. Moncong jantan lebih
waktu penggilingan, dan 5% waktu pendek, lebar, kasar dan mempunyai
penyimpanan (Wagianto, 2008). banyak bintik sedangkan moncong betina
Sitophilus oryzae L. merupakan lebih panjang, ramping, melengkung,
serangga hama penting digudang yang mengkilat dengan bintik-bintik lebih.
tergolong insecta dan bersifat polifak yang
tidak hanya menyerang beras tapi juga Pembuatan dan Ekstrak Daun Pandan
menyerang jagung, ubi jalar, dan kacang Wangi. Sebanyak 3 Kg daun pandan wangi
hijau. Besarnya kerusakan yang diakibatkan segar dipotong-potong kemudian dioven
oleh S. Oryzae L. dapat dilihat dari selama 1x24 jam dengan suhu 35oC. Daun
besarnya populasi hama yang menyerang pandan wangi yang telah menjadi bubuk
serta lamanya penyimpanan. Gejala selanjutnya ditimbang sebanyak 10 gram
serangan yang ditimbulkan oleh hama ini kemudian dibungkus dengan kertas saring
yaitu butir beras berlubang-lubang atau yang selanjutnya dimasukkan kedalam
menjadi tepung karena gerekan kumbang. soxhlet set dan diberikan larutan heksan
Kepadatan populasi hama berhubungan sampai bungkusan yang berisi serbuk daun
erat dengan besarnya kerusakan yang pandan benar-benar terendam secara
ditimbulkan. Hama bahan simpan umumnya keseluruhan kemudian dibiarkan terendam
merupakan hama langsung, yang artinya selama 24 jam. Setelah 24 jam serbuk
kerusakan terjadi langsung pada bahan yang tersebut terendam kemudian soxhlet set
di konsumsi. 5-15% kerusakan diantaranya dinyalakan dengan suhu 2oC lalu biarkan
disebabkan oleh S. Oryzae. (Sitepu at al, hingga larutan serbuk pandan tercuci atau
2004). tidak berwarna.
Pemanfaatan tanaman sebagai Ekstrak yang dihasilkan dari soxhlet
insectisida telah lama dilakukan. Hal ini set kemudian di rotari dengan menggunakan
mendasari penggunaan Daun pandan wangi alat evaporator untuk memisahkan antara
sebagai insectisida nabati, yang secara
ekstrak dan pelarutnya. Suhu yang
umum daun pandan wangi hanya digunakan
digunakan selama rotari yaitu 62oC dengan
sebagai pewarna dan penambah aroma
makanan. kecepatan rotari 5-8 (Munawaroh, 2010).
Penelitian ini bertujuan untuk kemudian ekstrak yang dihasilkan dibagi
mengetahui efektifitas ekstrak daun pandan menjadi empat perlakuan yaitu5%, 10%,
wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) 15%, dan 20% dengan rumus:
dapat digunakan dalam mengendalikan Uji destilas ekstrak daun pandan
hama kumbang beras (Sitophylus oryzae wangi dilakukan dengan memasukkan 20
L.). Hasil penelitian ini diharapkan akan ekor serangga kumbang bera (S. OryzaeL.)
dapat digunakan sebagai referensi untuk didalam kotak plastik yang telah diletakkan
pengelolaan hama tanaman terpadu pada tissue yang sebelumnya telah ditetesi
beras. dengan ekstrak daun pandan wangi masing-
Pelaksanaan Penelitian masing perlakuan sebanyak5 ml dan telah di
isi beras sebagai pakan. Sedangkan sebagai
Persiapan Serangga Uji. Kumbang beras kontrol menggunakan aquades dan tissue.
yang diperoleh dari bulog dipelihara untuk
diperbanyak sebagai serangga uji. Lima
pasang kumbang beras di letakkan dalam M1.V1 = M2.V2

209
Keterangan: menunjukkan bahwa perlakuan kontrol A0
dengan persentase mortalitas S. oryzae
V1 = Volume sebelum pengenceran
terendah sebesar 0,71% berbeda nyata
V2 = Volume sesudah pengenceran
dengan semua perlakuan A1 (21,91%),
M1 = Konsentrasi sebelum pengenceran
A2 (25,73%), A3 (36,85%) dan A4 (39,80%).
M2 = Konsentrasi sesudah pengenceran.
Perlakuan A4 menghasilkan mortalitas
Uji distilas ekstrak daun dilakukan S. oryzae tertinggi dan berbeda nyata
dengan memasukkan 20 ekor serangga dengan perlakuan ekstrak daun P.
kumbang beras (S. OryzaeL.) didalam kotak amaryllifolius A1 dan A2 tetapi tidak
plastik yang telah diletakkan tissueyang berbeda nyata dengan perlakuan A3yang
sebelumnya telah ditetesi dengan ekstrak diujikan.
daun masing-masing perlakuan sebanyak 5 Pengamatan 2Msa menunjukkan
ml dan telah di isi beras sebagai pakan. hasil yang berbeda dari 1Msa yakni
Sedangkan sebagai kontrol menggunakan persentase mortalitas pada perlakuan A3
aquades dan tissue. berbeda nyata dengan perlakuan A4.
Variabel Pengamatan. Variabel pengamatan Perlakuan terendah didapatkan pada
dalam pengendalian Kumbang beras (S perlakuan A0 sebesar 0,71% dan berbeda
oryzae L.) Menggunakan Pandan Wangi nyata pada setiap perlakuan dengan A1
(Pandanus amarylifolius Roxb.) yaitu (22,65%), A2 (31,12%), A3(44,98%) dan A4
pengamatan mortalitasS.oryzaedilakukan (55,45%).
selama 3 minggu pengamatan, dengan Selanjutnya pengamatan pada 3Msa
rumus (Mardianingsih et al, 1994) sebagai menunjukkan hasil yang lebih meningkat
berikut: dibanding dengan 1Msa dan 2Msa yaitu
Jumlah kumbng beras dewasa mati
uji ekstrak daun P. amaryllifolius pada
M = X 100% perlakuan A4 meningkat mencapai 57,87%
Jumlah kumbang beras dewasa yang diamati
begitupun selanjutnya pada perlakuan A3
Analisis Data. Data yang dihasilkan (50,52%), A2 (33,23%) dan A1 (24,96%)
kemudian di analisis menggunakan tabel tetapi tidak menunjukkan perubahan pada
sidik ragam atau tabel anova kemudian perlakuan A0 atau kontrol yang tetap pada
dilanjutkan dengan menguji BNJ 5% untuk 0,71%.
melihat pengaruh perlakuan yang
digunakan. Tabel 1. Rata-rata Kumulatif Mortalitas S.
oryzae pada Berbagai Perlakuan
Konsentrasi Ekstrak Daun P.
HASIL DAN PEMBAHAHASAN amaryllifolius Pengamatan 1Msa
s/d 3Msa.
Hasil Periode Waktu Pengamatan
Mortalitas Sitophilus oryzae L. Berdasarkan
hasil sidik ragam mortalitas S. oryzae sejak Perlakuan 1Msa 2Msa 3Msa
pengamatan 1 Msa sampai 3 Msa
menunjukkan bahwa perlakuan berbagai
konsentrasi ekstrak daun P. amaryllifolius A0 (0%) 4,05a 4,05a 4,05a
yang diujikan berpengaruh sangat nyata A1 (5%) 21,91 b 22,65 b 24,96 b
terhadap mortalitas S. oryzae. Rata-rata A2 (10%) 25,73 c 31,12 c 33,23 c
kumulatif mortalitas S.oryzae pada berbagai A3 (15%) 36,85 d 44,98 d 50,52 d
perlakuan konsentrasi ekstrak daun P. A4 (20%) 39,80 d 55,47 e 57,87 e
amaryllifolius disajikan pada Tabel 1.
Berdasarkan hasil BNJ taraf 5 % Keterangan: Rata-rata yang diikuti huruf yang tidak
(Tabel 1) pada pengamatan 1Msa samaa berbeda nyata pada Uji BNJ 5%.

210
70.00 berfungsi sebagai racun syaraf.
Flavonoidmerupakan kelompok triterpenoid
60.00 yang termasuk dalam senyawa terpenoid.
50.00 Senyawa flavonoid memberikan efek yang
bermacam-macam terhadap berbagai
minggu
40.00 1 macam organisme. Flavonoid dapat bekerja
sebagai inhibitor yang kuat pada proses
30.00 minggu
pernafasan. (Kardinan at l., 2003).
2
20.00 Tingginya mortalitas serangga S.
minggu oryzae pada perlakuan A3 dan A4
3
10.00 dibandingkan dengan perlakuan A1 dan A2
menunjukkan bahwa ekstrak daunP.
0.00
amaryllifolius dengan konsentrasi yang
0% 50% lebih tinggi akan lebih efektif atau
berpotensi dalam mengendalikan S. oryzae.
Hal ini disebabkan karena semakin banyak
Grafik 1. Efektifitas Ekstrak Daun Pandan
dan semakin cepatnya zat bioaktif yang
Wangi (Pandanus amaryllifolius
bekerja pada tubuh serangga. Sesuai dengan
Roxb.) terhadap Mortalitas Kutu
pendapat Sutoyo dan Wirioadmojo (1997)
Beras (Sitophilus oryzae L.).
bahwa semakin tinggi konsentrasi, maka
jumlah racun yang mengenai kulit serangga
Dari keseluruhan pengamatan rata- semakin banyak, sehingga dapat
rata mortalitas S. oryzae (Tabel 1) tampak menghambat pertumbuhan dan menyebabkan
bahwa perlakuan yang cenderung lebih mortalitas pada serangga lebih banyak.
meningkat adalah perlakuan A3 sejak Kepekatan ekstrak daun P.
pengamatan 2Msa dan perlakuan A4 sejak amaryllifolius pada perlakuan A3 dan
pengamatan 1Msa. perlakuan A4 ikut mempengaruhi tingginya
mortalitas S. oryzae. Hal ini sesuai dengan
Pembahasan. Hasil penelitian
hasil penelitian Fitri (2002) bahwa semakin
menunjukkan bahwa berbagai perlakuan
tinggi konsentrasi pula tingkat mortalitas.
ekstrak daun atsiri P. amaryllifolius
Kepekatan berhubungan dengan tinggi
memberikan pengaruh yang sangat nyata
rendahnya konsentrasi yang diberikan.
terhadap mortalitas S. oryzae selama
Tingkat mortalitas yang rendah pada
berlangsungnya pengamatan (1Msa s/d
Soryzae disebabkan oleh kemampuan untuk
3Msa) pada setiap perlakuan.
menahan senyawa flavonoid pada ekstrak
Grafik 1 menunjukkan bahwa daun P. amaryllifolius yang masuk kedalam
konsentrasi ekstrak daun P. Amaryllifolius tubuhnya atau serangga tersebut masih
yang diaplikasikan mempengaruhi mortalitasS. dapat beradaptasi dengan baik. Tingkat
Oryzae. Hal ini dapat artikan jika mortalitas yang tinggi disebabkan zat
konsentrasi ekstrak daun pandan wangi beracun yang ada pada bahan botani dapat
ditingkatkan maka tingkat mortalitas S. menghambat aktifitas respirasi sehingga
Oryzae juga meningkat. MortalitasS. menyebabkan kematian apabila masuk
Oryzae yang berbentuk linier juga melalui saluran pencernaan (Brotodjojo,
dipengaruhi oleh jumlah S. oryzae yang 2000).
digunakan dalam penelitian yaitu sebanyak
20 ekor sehingga pada pengamatan 3 Msa Kesimpulan
telah berada pada mortalitas 57,87%. 1. Setiap perlakuan ekstrak daun P.
Kematian pada S. Oryzae diduga amaryllifolius terhadap S. oryzae
disebabkan oleh senyawa flavonoid yang memberikan persentase mortalitas yang

211
2. berbeda pada setiap perlakuan, A1 (5%) sehingga telah dapat digunakan untuk
= 24,96%, A2 (10%) = 33,23%, A3 pengendalian S.oryzae.
(15%) = 50,52%, A4 (20%) = 57,87%. Saran. Perlu dilakukan peelitian lebih
lanjut mengenai aplikasi ekstrak daun P.
3. Perbandingan rata-rata mortalitasS. amaryllifolius untuk pengendalian hama S.
oryzae dari 1Msa sampai 3 Msa oryzae di gudang agar dapat diketahui
menunujukkan bahwa konsentrasi 20% efektifitasnya ekstrak daun P. amaryllifolius
memiliki nilai mortalitas paling tinggi, di gudang dalam mengendalikan S. oryzae.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2016. Produksi Padi, Jagung dan Kedelai.https://www.bps.go.id


/website/brs_ind/brsInd20160301120806.pdf. Diakses 22 September 2016.

Brotodjojo, R.R. 2000. Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Biji Srikaya (Annona Squamosa L) Terhadap
Mortalitas Hama Bubuk Beras (Sithopilus Oryzae Linn). Agrivet. Yogyakarta.

Chaieb, I. 2010. Saponin as insecticides: a review. Tunisian Journal of plant


Protection 5(3): 39-50.

Elimam, A. et al. 2009. Larvacidal, adult emergence inhibition and pviposition detterent effect of
foliage extract from Ricinus communis L. against Anopheles arabiensis and Culex
quinquefasciatus in Sudan. Tropical Biomedicine. 26(2): 130-139.

Fitri. 2002. Pengaruh Berbagai Konsentrasi Ekstrak Biji Bengkuang (Pachyrrhizus erosus Urban.)
Terhadap Mortalitas Larva Plitella xylostella L. pada Tanaman Kubis (Brassica oleracea
L.). Skripsi.Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako.

Kardinan, A. 2004. Pestisida Nabati, Ramuan dan Aplikasi. Jakarta: Penebar Swadaya. hlm. 29.

Mardianingsih, T.L. et al. 1994. Kemungkinan Produk Nilam SebagaiBahan Penolak Serangga.
Balai PenelitianTanaman Rempah dan Obat, Bogor.

Munawaroh S, Prisma Astuti Handayani. 2010. Ekstraksi Minyak Daun Jeruk Purut (Citrus hystrix
D.C.) Dengan Pelarut Etanol dan N-Heksana. Jurnal Kompetensi Teknik 2(1): 73-78.

Naria, E. 2005. Insektisida Nabati untuk Rumah Tangga. Info Kesehatan Masyarakat. 9(1): 43-59.

Sitepu, S. F. Zulnayati dan Yuswani, P. 2004. Patologi Benih dan Hama Pasca Panen. Fakultas
Pertanian USU, Medan.

Setyawan, A.D. 2002. Keragaman Varietas Jahe (Zingiber officinaleRosc) Berdasarkan


Kandungan Kimia Minyak Atsiri, BioSMART 4(2) : 48-54.

Sudarta, M.S. Sianipar dan Y. Supriyadi. 1998. Uji Toksisitas Ekstrak Kasar Biji Bengkuang
(Pachyrrhizus erosus Urban.) Biji Selasih (Occimum basilicum L.) dan Rimpang Bangle
(Zingiber cassumunar Roxb.) Terhadap Ulat Buah Tomat (Helicoverpa armigera Hbn.).
Jurnal Agrikultura, 9 (3) : 1-7.

Susanto, U. et al. 2003. Perkembangan Pemuliaan Padi Sawah di Indonesia. Jurnal Litbang
Pertanian, 22 (3) : 125-131.

Wagianto. 2008. Hama dan Penyakit. Universitas Negri Yogyakarta.

212