You are on page 1of 48

Jeremy Romeo Partahi

1261050054

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin


Periode 28 Agustus 30 September 2017
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
Sinonim: eksim
Dermatitis peradangan kulit (epidermis
dan dermis) sebagai respons terhadap
pengaruh faktor eksogen/ endogen
Efloresensi polimorfik dengan keluhan
gatal
Cenderung residif dan menjadi kronis
Dermatitis Pada seseorang yg telah mengalami
Kontak sensitisasi terhadap alergen
Alergi

Dermatitis
Tanpa didahului proses pengenalan/
Kontak
sensitisasi
Iritan
Hanya mengenai orang dengan keadaan kulit
sangat peka (hipersensitif).
Etiologi: bahan kimia sederhana dengan berat
molekul rendah (< 1000 dalton) disebut
HAPTEN, bersifat lipofilik, sangan reaktif, dan
dapat menembus stratum korneum sampai
mencapai epidermis.
Potensi sensitisasi allergen
Dosis per unit area
Luas daerah yang terkena
Lama pajanan
Suhu, kelembapan lingkungan, vehikulum,
dan pH
Keadaan kulit (keadaan stratum korneum,
ketebalan epidermis)
Status imun (sedang mengalami sakit,
terpajan sinar matahari secara intens)
Diperantarai oleh sel (cell-mediated immune
respons) atau reaksi imunologik tipe
IVreaksi hipersensitivitas tipe lambat
Terjadi melalui 2 fase:
Fase sensitisasi (2-3 minggu)
Fase elisitasi (24-48 jam)
Gatal
Pada stadium akut bercak eritematosa,
berbatas tegas, diikuti edema, papulovesikel,
vesikel, atau bula.
Pada stadium kronis kulit kering,
berskuama, papul, likenifikasi, fissure,
berbatas tidak tegas.
DKA dapat meluas ke tempat lain, misalnya
dengan cara autosensitisasi.
Skalp, telapak tangan, dan kaki relative
resisten terhadap DKA.
Tangan deterjen, antiseptic, getah sayuran,
semen, pestisida
Lengan jam tangan (nikel), sarung tangan
karet, debu semen, tanaman. Di ketiak
disebabkan deodorant, antiperspirant,
formaldehid.
Wajah bahan kosmetik
Telinga anting (nikel), tangkai kaca mata,
cat rambut, hearing aids
Leher kalung, cat kuku, parfum
Badan tekstil, zat pewarna, karet, plastic,
deterjen
Genitalia antiseptic, kondom, pembalut
wanita
Tungkai atas dan bawah tekstil, kaos kaki
nilon, sepatu/sandal
Dermatitis atopic
Dermatitis numularis
Dermatitis seboroik
Psoriasis
DKI (dibedakan melalui uji tempel)
Tempat : punggung
Menggunakan antigen standar. Kalau tidak
menggunakan bahan standar, harus
dilakukan pengenceran dengan vaselin
atau minyak mineral.
Dermatitis yang terjadi harus sudah tenang
(sembuh)
Dilakukan sekurang-kurangnya 1 minggu
setelah pemakaian kortikosteroid sistemik
dihentikan
Uji tempel dibuka setelah 48 jam, kemudian
dibaca, pembacaan kedua pada hari ke-3
sampai 7
Dilarang melakukan aktivitas yg
menyebabkan uji tempel longgar/ terlepas
Dilarang mandi selama 48 jam
Setelah 48 jam, uji tempel dilepas.
Pembacaan pertama dilakukan
15-30 menit setelah dilepas
+1 Reaksi lemah (non-vesikuler): eritema,
infiltrate, papul
+2 Reaksi kuat : edema atau vesikel
+3 Reaksi sangat kuat (EKSIM): bula atau ulkus
+- Meragukan : hanya makula eritematosa
IR Iritasi: seperti terbakar, pustul, atau
purpura
- Reaksi negatif
NT Tidak ditest (Not Tested)
Reaksi excited skin atau angry back = reaksi + palsu
Pembacaan kedua dilakukan 72 jam setelah
aplikasi.
Penting dilakukan untuk membedakan antara
respons alergik atau iritan.
Hasil positif lambat terjadi setelah 96 jam-1
minggu setelah aplikasi.

Respon DKA: crescendo


Respon DKI: decrescendo
Upaya pencegahan pajanan ulang allergen
penyebab
Kortikosteroid , misal: prednisone 30
mg/hari.
Untuk topical, cukup dikompres dengan
larutan garam faal atau larutan asam salisilat
1:1000
Kortikosteroid atau makrolactam
(pimecrolimus atau tacrolimus) secara topical.
Dapat dialami oleh semua orang
Etiologi : bahan pelarut, deterjen, minyak
pelumas, asam, alkali, serbuk kayu
Faktor resiko: lama kontak, gesekan, trauma
fisis, kelembapan lingkungan, usia, ras, jenis
kelamin
Akibat kerusakan sel secara kimiawi atau
fisis.
Bahan iritan merusak lapisan tanduk
denaturasi keratin menyingkirkan lemak
lapisan tanduk mengubah daya ikat kulit
terhadap air.
Bahan iritan lemah mengakibatkan kelainan
kulit setelah kontak berulang kali karena
kerusakan stratum korneum oleh karena
delipidasi.
Iritan kuat gejala akut
Iritan lemah gejala
kronis
DKI akut penyebab dengan iritan kuat, cth:
larutan asam sulfat dan asam hidroklorid
DKI akut lambat 8-24 jam setelah kontak,
cth: podifilin, antralin, tretinoin. (dermatitis
venenata)
DKI kronik kumulatif dengan iritan lemah,
cth: deterjen, sabun, pelarut, tanah
Reaksi iritan terpajan dengan pekerjaan
basah, cth: penata rambut dan pekerja logam
DKI traumatic setelah trauma panas atau
laserasi
DKI non-eritematosa
DKI subyektif kelainan kulit tidak ada, tapi
pasien merasa tersengat, terbakar. Cth: asam
laktat
Menghindari pajanan dengan bahan iritan
Kortikosteroid topical, missal: hidrokortison
Pemakaian alat pelindung diri
ALERGIKA IRITAN
MEKANISME Reaksi tipe 4 Non-imunologi
EFLORESENSI Eritema, papul, vesikel, Eritema, edema,
bula, krusta, likenifikasi pustula, bula, fissure
POPULASI YANG Individu yg sensitive Siapa saja yg terpajan
TERKENA
ONSET PAJANAN Jam-hari Menit-jam
DIDAHULUI Ya Tidak
SENSITISASI
KUANTITAS Sedikit Banyak
PAJANAN
AGENT Poison ivy, besi, Air, sabun, asam,
kosmetik, obat, karet basa
GEJALA KLINIS Gatal Terbakar, nyeri
RESPON KULIT Menyebar Terbatas pada area yg
TERHADAP TEST terkena, batas tegas
TEMPEL
HISTOPATOLOGI Spongiosis, infiltrate Spongiosis, infiltrate
limfosit neutrofil
TES TEMPEL + -/+
Dermatitis akut yang timbul pada tempat
yang jauh dari fokus inflamasi, sedangkan
penyebabnya tidak berhubungan langsung
dengan penyebab fokus inflamasi tersebut.
Etiologi : iritasi, infeksi, dan luka
pelepasan sitokin meningkatkan
sensitivitas kulit terhadap stimulasi non-
spesifik reaksi autosensitisasi
Gejala klinis : erupsi vesikuler akut dan luas,
dan ekzem kronis di tungkai bawah dengan
atau tanpa ulkus
Tatalaksana : kortikosteroid sistemik atau
topical, antihistamin, antibiotic oral bila
terjadi infeksi sekunder
Peradangan kulit kronis residif, disertai
rasa gatal, dan mengenai bagian tubuh
tertentu
Di wajah pada bayi (infantile) dan bagian
fleksural ekstremitas (pada anak)
Faktor risiko: asma bronchiale, rhinitis
alergik, dan hay fever
Disfungsi
Faktor Faktor
sawar
psikologis higiene
kulit
Harus ada:
Kulit yang gatal (atau tanda garukan pada anak
kecil)
Ditambah 3 atau lebih tanda berikut:
Riwayat perubahan kulit/kering di fossa cubiti,
fossa poplitea, bagian anterior dorsum pedis, atau
seputar leher (termasuk kedua pipi pada anak <10
tahun)
Riwayat asma atau hay fever pada anak (riwayat
atopi pada anak <4 tahun pada generasi -1 pada
keluarga)
Riwayat kulit kering sepanjang akhir tahun
Dermatitis fleksural (pipi, dahi, dan paha bagian
lateral pada anak <4 tahun)
Awitan di bawah usia 2 tahun (tidak dinyatakan
pada anak <4 tahun)
Kriteria major (harus terdapat 3) Kriteria minor (harus terdapat 3 atau
lebih)
History of flexural dermatitis Dry skin
Onset under the age of 2 years Ichthyosis
Presence of an itchy rash Palmar hiperlinearity
Personal history of asthma Keratosis pilaris
History of dry skin Type I allergy and increase serum IgE
Visible flexural dermatitis Hand and foot dermatitis
Nipple eczema
Pityriasis alba
Ealry age of onset
Reccurent conjungtivitis
Cataract
Itch when sweating
Food intolerance
Intolerance to wool and lipid solvent
Increased presence of Staph. aureus
Major features Minor features
Family history of atopic dermatitis Xerosis/ ischthyosis/ hyperlinear
palms
Evidence of pruritic dermatitis Periauricular fissures
Typical facial or extensor eczematous Chronic scalp scaling
or lichenified dermaitis
Diaper area and/or facial mouth/nose Perifollicular accentuation
area is free of skin lessions
Untuk menilai derajat sakit
1. Penilaian luas penyakit
2. Penilaian intensitas
3. Penilaian subjektif
DD
Dermatitis seboroik, psoriasis, dermatitis popok
(pada bayi)
Dermatitis numularis, dermatitis intertriginosa,
dermatitis kontak (pada anak)
Neurodermatitis dan liken simpleks (pada dewasa)
Terapi
Edukasi mengenai penyakit ini
Sistemik antihistamin dan kortikosteroid
Topical kortikosteroid, pelembab, penghambat
kalsineurin
Nama lain: liken simpleks kronikus
Peradangan kulit kronis, gatal, sirkumskrip,
ditandai dengan kulit tebal, dan likenifikasi
akibat garungan berulang karena ransangan
pruritogenik eonisofil
Terjadi pada usia 30-50 tahun
Gejala: gatal meningkat pada malam, enak bila
digaruk, lesi awal plak eritematosa edema
skuama likenifikasi
Predileksi: seluruh tubuh. Pada leher
ditemukan hanya pada perempuan (lichen
nuchae)
Variasi klinis: berupa prurigo nodularis
(akibat garukan berbentu nodus berbentu
kubah)
Tatalaksana :
Antipruritus: antihistamin
dengan efek sedative
(hidroksizin,
difenhidramin,
prometazin) ATAU topical
krim doxepin 5% jangka
pendek (max 8 hari)
Kortikosteroid berpotensi
kuat (DAPAT dikombinasi
dengan ter sebagai anti
inflamasi)
Peradangan kulit yang
bersifat kronis,
ditandai dengan lesi
berbentuk mata uang
(koin) atau agak
lonjong, berbatas
tegas, papulovesikel
yang mudah pecah
sehingga membasah
(oozing)
Risiko: riwayat atopi,
kelembapan menurun,
infeksi gigi dan saluran
napas, allergen
Th:/kortikosteroid potensi menengah hingga
kuat dengan vehikulum dan salep, dan bisa
diberikan ter, antihistamin oral.
Lesi luas diterapi dengan penyinaran broad
atau narrow UVB
Penyakit peradangan
pada kulit tungkai
bawah yang
disebabkan insufisiensi
dan hipertensi vena
yang bersifat kronis.
Pada usia diatas 50
tahun, thrombosis,
trauma, masa
kehamilan
Pelebaran vena atau
varises, edema
eritema, skuama,
eksudasi, gatal
Tatalaksana : tungkai dinaikan sewaktu tidur
dan duduk, kaos kaki penyangga varises
digunakan saat pasien beraktivitas.
Tatalaksana : kortikosteroid topical potensi
sedang, tacrolimus topical, vaselin (kasus
kronis)