You are on page 1of 15

ASUHAN KEPERAWATAN PRE

OPERATIF

AHMAD NAWAWI
APRILIANA PIDA
ARYA FATHURAHMAN
BAGIA RIANTO
ELSIANI
PENGKAJIAN

1. RIWAYAT KESEHATAN
a. Data biografi
b. Genogram (riwayat keluarga)
c. Kajian persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan
d. Kajian nutrisi metabolik
e. Kajian pola eliminasi
f. Kajian pola aktivitas dan latihan
g. Kajian pola tidur dan istirahat
h. Kajian pola persepsi kognitif
i. Kajian pola persepsi dan konsep diri
j. Kajian pola peran dan hubungan dengan sesama
k. Kajian pola reproduksi-seksualitas
l. Kajian pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stres
m. Kajian pola sistem kepercayaan
2. PEMERIKSAAN FISIK
a. Status Pemeriksaan Fisik Secara
Umum, identitas pasien, riwayat
penyakit, riwayat kesehatan keluarga,
pemeriksaan fisik lengkap: status
hemodinamika, kardiovaskuler,
pernapasan, fungsi ginjal dan hepatik,
fungsi endokrin, fungsi imunologi, dll.
b. Status Nutrisi, kebutuhan nutrisi ditentukan
dengan mengukur tinggi badan dan berat badan,
lipat kulit trisep, lingkar lengan atas, kadar protein
darah (albumin dan globulin) dan keseimbangan
nitrogen.

c. Keseimbangan Cairan dan Elektrolit, kadar


elektrolit yang biasanya dilakukan pemeriksaan di
antaranya adalah kadar natrium serum (normal:
135-145 mmol), kadar kalium serum (normal: 3,5-5
mmol) dan kadar kreatinin serum (0,70-1,50 mg/dL).
d. Status Pernapasan, kesulitan pernapasan
meningkatkan kemungkinan atelekstasis,
bronkopneumonia dan gagal napas ketika anestesia
diberikan pada keadaan ventilasi yang tidak adekuat.
- Inspeksi toraks
- Palpasi toraks
- Perkusi toraks
- Auskultasi toraks

e. Status Kardiovaskuler, tujuan dalam menyiapkan


semua pasien untuk pembedahan adalah agar fungsi
sistem kardiovaskular berfungsi dengan baik untuk
memenuhi kebutuhan oksigen, cairan dan nutrisi
sepanjang periode perioperatif.
f. Kebersihan Lambung dan Kolon, yaitu pasien dipuasakan
dan dilakukan tindakan pengosongan lambung dan kolon
dengan tindakan enema lavement. Lamanya puasa 7-8
jam. Tujuannya untuk menghindari aspirasi (masuknya
cairan lambung ke paru-paru) dan menghindari
kontaminasi feses ke area pembedahan sehingga
menghindarkan terjadinya infeksi pasca pembedahan.

g. Fungsi Hepatik dan Ginjal, tujuannya untuk mempunyai


fungsi hepar dan urinari yang maksimal sehingga
medikasi, agen anestetik dan sampah tubuh serta toksik
dapat dibuang oleh tubuh secara adekuat.

h. Pencukuran Daerah Operasi, tujuannya untuk


menghindari terjadinya infeksi pada daerah yang akan
dilakukan pembedahan karena rambut yang tidak dicukur
dapat menjadi tempat kuman dan juga dapat mengganggu
menghambat proses penyembuhan dan perawatan luka.
i. Higiene Perseorangan, kaji mengenai kebersihan diri
pasien melalui inspeksi dan palpasi.

j. Pengosongan Kandung Kemih, dilakukan dengan


melakukan pemasangan kateter, selain itu tindakan
kateterisasi juga diperlukan untuk mengobservasi
keseimbangan cairan.

k. Latihan Pra-Operasi, yaitu latihan persiapan pasien


dalam menghadapi kondisi pasca operasi (nyeri, batuk
dan banyak lendir di tenggorokan)
LATIHAN YANG DIBERIKAN PADA PASIEN
SEBELUM OPERASI ANTARA LAIN:

1. Latihan napas dalam.


2. Latihan batuk efektif.
3. Latihan gerak sendi.
3. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

- Darah lengkap, masa perdarahan, pembekuan


- Pemeriksaan feses dan urine
- Pemeriksaan rontgen, endoskopi, biopsi jaringan,
BNO, IVP, USG, Scan
- Untuk pasien tertentu sesuai keadaan dan
instruksi dokter, misalnya: gula darah, tes fungsi
liver, fungsi jantung. Pada pasien usia diatas 40
tahun dilakukan pemeriksaan EKG.
DIAGNOSIS KEPERAWATAN

Kecemasan/ansietas yang berhubungan dengan


krisis situasional; ketidak-akraban dengan
lingkungan; ancaman kematian; perubahan pada
status kesehatan; berpisah dengan sistem
pendukung yang ada ditandai oleh peningkatan
ketegangan, penurunan kepercayaan diri,
menunjukkan perhatian akan perubahan, rasa
takut akan konsekuensi, tidak dapat beristirahat,
pemfokusan pada diri.
KRITERIA HASIL INTERVENSI RASIONAL

1. Pasien menunjukkan 1. Identifikasi rasa takut 1. Rasa takut yang


perasaan dan yang mengharuskan berlebihan akan
mengidentifikasi cara dilakukannyaa mengakibatkan reaksi
yang sehat dalam penundaan prosedur stres yang berlebihan.
berhadapan dengan pembedahan. 2. Mengidenntifikasi rasa
mereka. 2. Validasi sumber rasa takut secara spesifik
2. Pasien tampil santai, takut. Sediakan akan membantu pasien
dapat beristirahat atau informasi yang akurat untuk menghadapinya
tidur cukup. dan faktual. secara realistis.
3. Pasien melaporkan 3. Catat ekspresi yang 3. Pasien mungkin telah
penurunan rasa takut berbahaya atau berduka terhadap
dan cemass yang perasaan tidak kehilangan yang
berkurang ke tingkaat tertolong. ditunjukkan dengan
yang dapat diatasi. 4. Beritahu pasien antisipasi prosedur
kemungkinan pembedahan atau
dilakukannya anestesi diagnosis penyakit.
dimana rasa pusing 4. Mengurangi ansietas
atau mengantuk atau rasa takut bahwa
mungkin saja terjadi. pasien mungkin
5. Perkenalkan staf pada melihat prosedur.
waktu pergantian ke 5. Menciptakan
ruang operasi. hubungan dan
kenyamanan
INTERVENSI RASIONAL EVALUASI
6. Berikan petunjuk 6. Ketidakseimbangan 1. Pasien menunjukkan
atau penjelasan dari proses pemikiran perasaan dan
sederhana pada akan membuat pasien mengidentifikasi cara
pasien yang tenang. menemui kesulitan yang sehat dalam
7. Kontrol stimulasi untuk memahami berhadapan dengan
eksternal. petunjuk yang panjang mereka.
8. Kolaborasi dan rujuk dan berbelit-belit. 2. Pasien tampil santai,
dengan rohaniawan 7. Suara gaduh dan dapat beristirahat
atau spiritual jika keributan akan atau tidurr cukup.
diperlukan. meningkatkan ansietas. 3. Pasien melaporkan
9. Diskusikan tentang 8. Konseling profesional penurunan rasa takut
penundaan mungkin dibutuhkan dan cemas yang
pembedahan dengan pasien untuk mengatasi berkuraang ke
dokter, rasa takut. tingkat yang dapat
anestesiologis, pasien 9. Mungkin diperlukan diatasi.
dan keluarga sesuai jika rasa takut yang
kebutuhan. berlebihan tidak
10. berikan obat-obatan berkurang atau
sesuai program teratasi.
medis, misalnya zat- 10. Untuk meningkatkan
zat sedatif, hipnotis tidur malam hari
(contoh: valisanbe). sebelum pembedahan,
meningkatkan koping.
TINGKAT KECEMASAN
1. Antisipasi, pada tingkat ini seseorang akan dapat
merencanakan kegiatan dengan baik.
2. Kecemasan Ringan, tingkat ini dikatakan normal yaitu
individu mampu belajar dan memecahkan masalah secara
efektif, motivasi untuk melakukan sesuatu sangat besar, dapat
memotivasi diri maupun orang lain untuk bertindak.
3. Kecemasan Sedang, tingkat ini pasien atau individu
mempunyai lapangan persepsi yang menyempit atau persepsi
terhadap permasalahan yang ada menyempit sehingga perlu
pengarahan orang lain untuk memecahkan permasalahan.
4. Kecemasan Berat, yaitu menjadi pusat perhatian pasien atau
individu pada detail yang kecil atau terpecah, muncul perasaan
tidak percaya pada orang lain.
5. Panik, adalah tingkat kecemasan yang paling berat, disini
pasien kacau, sehingga berbahaya untuk dirinya maupun orang
lain, pasien tidak mampu untuk melakukan tindakan untuk
pemecahan masalahnya, hiperaktif dan gelisah (agitasi).
DAFTAR PUSTAKA

Heriana, Pelapina. (2014). Buku Ajar Kebutuhan


Dasar Manusia. Tangerang: BINAPURA AKSARA
PUBLISHER
SEKIAN
DAN
TERIMA KASIH