You are on page 1of 38

By : Ns. Warsono, M.

Kep

1
Pengertian
 Gangguan penglihatan adalah kondisi
yang ditandai dengan penurunan tajam
penglihatan ataupun menurunnya luas
lapangan pandang, yang dapat
mengakibatkan kebutaan (Quigley dan
Broman, 2006).

2
Angka kejadian kelainan penglihatan:
 Hasil Riskesdes tahun 2007 menyatakan
bahwa gangguan penglihatan dan kebutaan
merupakan suatu masalah kesehatan
diindonesia, yaitu; 1,5% penduduk
indonesia mengalami kebutaan yang
disebabkan oleh katarak (52%), glaukoma
(13,4%), kelainan refraksi (9,5%), gangguan
retina (8,5%), kelainan kornea (8,4%) dan
penyakit mata lainnya.
3
Anatomi Mata
Mata
 Komponen Indera Penglihatan

1. Sistem syaraf mata yang memberi informasi ke otak

2. Mata memfokuskan bayangan pada retina

3. Korteks penglihatan salah satu bagian pusat
penglihatan tersebut.

5
Alat optik mata
 Retina
Terdapat rod (batang) dan kones (kerucut). Fungsi rod untuk
melihat pada malam hari sedangkan kone untuk melihat siang
hari. Dari retina ini akan dilanjutkan ke saraf optikus.
 Kornea dan lensa
Kornea merupakan lapisan mata paling depan dan berfungsi
memfokuskan benda dengan cara refraksi, tebalnya 0,5 mm
sedangkan lensa terdiri dari kristal mempunyai dua permukaan
dengan jari jari kelengkungan 7,8 m fungsinya adalah
memfokuskan objek pada berbagai jarak.
 Pupil
Di tengah-tengah iris terdapat pupil yang fungsinya mengatur
cahaya yang masuk. Apabila cahaya terang pupil menguncup
demikian sebaliknya.

6
 j. Bola mata dilengkapi dengan otot-otot mata
yang mengatur gerakan bola mata (m=muskulus =
otot).
 i.M.medialis = menarik bola mata ke dalam
ii. M. rektus lateralis = menarik bola mata ke samping
iii. M. rektus superior = menarik bola mata ke atas
iv. M. rektus inferior = menarik bola mata ke bawah
v. M. obligus inferior = memutar ke samping atas
vi. M. obligus superior = memutar ke samping dalam.
Kelumpuhan salah satu otot mata akan timbul gejala
yang disebut strabismus (mata juling). Ada tiga
macam strabismus yaitu strabismus horizontal,
vertical dan torsional.

7
DAYA AKOMODASI
 Dalam hal memfokuskan objek pada retina, lensa
mata memegang peranan penting. Kornea mempunyai
fungsi memfokuskan objek secara tetap demikian pula
bola mata (diameter bola mata 20 – 23 mm).
kemampuan lensa mata untuk memfokuskan objek di
sebut daya akomodasi. Selama mata melihat jauh,
tidak terjadi akomodasi. Makin dekat benda yang
dilihat semakin kuat mata / lensa berakomodasi. Daya
akomodasi ini tergantung kepada umur. Usia makin
tua daya akomodasi semakin menurun. Hal ini
disebabkan kekenyalan lensa/elastisitas lensa semakin
berkurang. 8
Kolerasi antara jarak titik dekat
dg berbagai usia
Umur (tahun) Titik dekat
10 7
20 10
30 14
40 22
50 40
60 200

9
 Jarak terdekat dari benda agar masih dapat dilihat
dengan jelas dikatakan benda terletak pada “titik
dekat” punktum proksimum. Jarak punktum
proksimum terhadap mata dinyatakan P (dalam
meter) maka disebut Ap (akisal proksimum); pada saat
ini mata berakomodasi sekuat-kuatnya (mata
berakomodasi maksimum). Jarak terjauh bagi benda
agar masih dapat dilihat dengan jelas dikatakan benda
terletak pada titik jauh/punktum remotum.

10
 Beberapa lapis dibelakang permukaan retina terdapat
kombinasi sel-sel batang dan kerucut yang sangat
berperan dalam fungsi penglihatan mata. sel kerucut
(kone) bersifat fotopik dan berperan di siang hari dan
peka terhadap warna, sedangkan sel batang (rod)
adalah skotopik, dan peka terhadap cahaya, dan
menjadi parameter kepekaan retina terhadap adaptasi
gelap-terang.

11
 Jarak punktum remotum terhadap mata dinyatakan r
(dalam meter) maka disebut Ar (Aksial Proksimum); pada
saat ini mata tidak berakomodasi/lepas akomodasi. Selisih
A dengan Ar disebut lebar akomodasi, dapat dinyatakan :
Ac = Ap – Ar
Ac =lebar akomodasi yaitu perbedaan antara akomodasi
maksimal dengan lepas akomodasi maksimal.
 Secara empiris A = 0,0028 (80 th – L) dioptri L = umur
dalam tahun
Bertambah jauhnya titik dekat akibat umur disebut mata
presbiop. Presbiop ini bukan merupakan cacat
penglihatan. Ada satu dari sekian jumlah orang tidak
mempunyai lensa mata . Mata demikian disebut mata
afasia.

12
Penyimpangan penglihatan dan
tehnik koreksi
 Mata memiliki titik terjauh/punktum remotum
terhingga akan memberikan bayangan benda scr tajam
pd selaput retina, dikatakan mata emetropia,jk titik
jauh yg bukan takterhingga, disebut ametropia.
 Emetropia: punktum proksimum ±25 cm,jk punktum
proksimum >25 cm disebut Presbiopia.
 Emetropia mempunyai dua buah bentuk:
a. Miopia(penglihatan dekat)
b. Hipermetropia (penglihatan jauh)

13
 A. Miopia
 Ametropia P dan r terlalu kecilmdisebut hipermetropia. Mata
agak gepeng dari normal, bayanga yang dihslkan berada di
depan retina, mata mampu melihat > dekat tanpa
akomodasi.
B. Hipermetropia
Ametropia P dan r terlalu besar disebut miopia. Mata terlalu
lonjong, bayanga yang dihslkan berada di belakang retina,
mata mampu melihat benda jauh takterhingga scr tajam.
Baik miopia maupun hipermetropia kelainannya terletak pada
poros yg disebut ametropia poros.
Astigmatisma : salah satu dari komponen lensa mjd bentuk
telur dari pada sferis. Tambahan pula kornea atau lensa
kristalina mjd memanjang ke salah satu arah. Pandangan
jauh terhadap bbrp berkas cahay dan bbrp pandangan trhdp
sisa chy, shg tidak dpt memfokuskan setiap objek dg jelas.

14
Tehnik koreksi
 A. Mata presbiopia:
 Mata tdk jelas melihat dekat, koreksi kaca mata positif
B. Hipermetropia:
Kemampuan mata melihat dekat, maupun jauh koreksi dg
lensa positif.
c. Miopia : Puntum proksimum dan remotum terlalu dekat,
dianjurkan memakai kacamata negatif
D. Mata astigmatisma
terganggu Penglihatannya tdk dlm segala arah, koreksi
kacamata silindris/toroidal
E. Campuran:
1. presbiop,dan miopi kaca mata rangkap/bifokal (negatif
diatas, positif di bwh)
2. Presbiopia, miop/hipermetropia memakai kacamata
berlensa sferis 15
Ketajaman penglihatan (visual
acuity)
 Digunakan untuk menentukan penggunaan kaca mata
dikenal dg visus
 Visus: nilai kebalikan sudt (dalam menit) terkecil
benda masih kelihatan dan dapat dibedakan.
 Parameter ketajaman visus dg snelent card, dg ukaran
huruf dan jarak yg sdh ditentukan.
 20/40 = penderita membaca huruf 20 ft sdgkan mata
normal dapat membaca pd jark 40 ft(20 ft=4 meter)
 Rumus V = d
D
Keterangan: d= jrk yg dpt dilihat penderita
D= jrk yg dpt dilihat oleh mata normal.
16
 Kelemahan snellent card huruf yg sama besarnya
mempunyai derajat kesukaran yg berbeda, untuk
mengatasinya
 “kartu cincin landolt”: cincin berlubang, diatur berderet yg
sama besar, dg lubang yg arahnya ke ats, ke bwh, ke kiri
dan ke kanan. Angka visus didpt dg menghitung sudut
dimana cincin landolt diamati. Misal hsil Penderita
menunjukkkan cincin landolt tanpa salah pada 0,8mm
jarak 4 meter.
 Menggunakan jari, gerakan tangan. Hsl visus:
1/60 = penderita dpt menghitung jari tangan pd jarak
1 meter
1/300 = penderita dpt melihat gerakan tangan pd
jarak 1 meter
1/∞ = hanya bisa membedakan gelap dan terang
Jika penderita mengalami penurunan visus tanpa kelainan
organis disebut amblyopia
17
Medan penglihatan
 Perimeter : mengukur besar/kecilnya medan
penglihatan seseorang
 Medan penglihatan vertikal ±130°; horisontal ± 155°

18
Tanggap cahaya
 Bagian mata yg tanggap dg cahaya adalah retina
 Ada dua tipe fotoreseptor pada retina yaitu Rod (batang) dan
kone(kerucut). Rod dan Kone ada di belakang jaringan syaraf.
 Distribusi Rod dan Kone pada retina
 a. Kone (kerucut)
Tiap mata mempunyai ± 6,5 juta kone yang berfungsi untuk melihat
siang hari disebut “fotopik”.Kone mengenal berbagai warna, ia
hanya sensitive terhadap warna kuning, hijau (panjang gelombang
550 mm). Kone terdapat terutama pada fovea sentralis.
 b. Rod (batang)
Setiap mata ada 120 juta batang. Berfungsi pada waktu malam
disebut “Skotopik”. Merupakan ketajaman penglihatan dan
dipergunakan untuk melihat ke samping: Distribusi pada retina
tidak merata, pada sudut 20° terdapat kepadatan yang maksimal.
Sangat peka terhdp cahaya biru, hijau (510 mm).Tetapi Rod dan
Kone sama-sama peka terhadap cahaya merah (650 – 700 nn)kone >
rod terhadap cahaya merah 19
TANGGAP WARNA
 Mekanisme tanggap warna tersebut belum diketahui secara jelas.
Pengamatan Skotopik pada intensitas cahaya yang lemah, tidak
ada respon terhadap warna,tetapi pengamatan Fotopik dapat
melihat warna namun tidak bisa membedakan warna pada objek
yang letaknya jauh dari pusat medan penglihatan.
 Teori Tanggap Warna
kone memberikan jawaban vang selektif terhadap warna, kurang
sensitif terhadap cahaya dan mempunyai hubungan dengan otak
dibandingkan dengan rod. Ahli faal Lamanov, Young Helmholtz
berpendapat ada tiga tipe kone yang tanggap terhadap tiga
warna pokok yaitu: Biru, Hijau, Dan Merah.
 Kone biru: tanggap gelombang frekuensi cahaya antara 400 dan
500 milimikron,menerima cahaya, ungu, biru dan hijau.
 Kone hijau : Berkemampuan menerima gelombang cahaya
dengan frekuensi antara 450 dan 650 milimikron, mendeteksi
warna biru, hijau, kuning, orange dan merah.
 Kone merah: mendeteksi seluruh gelombang cahaya tetapi
20
respon terhadap cahaya orange kemerahan sangat kuat.
 Ketiga warna pokok disebut Trikhromatik. Teori ini sukar untuk
dimengerti untuk deteksi warna menengah dari tiga warna
pokok.
 Teori tiga tipe Dikromat yaitu suatu warna menengah
terproduksi oleh karena dua tipe kone yang terangsang. Sebagai
contoh kone hijau dan merah terangsang bersamaan, tetapi kone
hijau terangsang lebih kuat daripada kone merah maka warna
terproduksi adalah kuning kehijauan. Apabila kone hijau dan
kone biru terangsang warna yang ditampilkan sebagai warna
biru hijau. Jika intensitas rangsangan terhadap kone hijau lebih
besar dari kone biru warna yang ditampilakan lebih hijau dan
biru. Pada suatu percobaan di mana mata disinari denaan
spektrum cahaya kemudian dibuat kurva respon dari pigmen
peka cahaya akan tampak tiga warna pigmen peka cahaya yang
serupa dengan kurva sensitif untuk ketiga tipe kone.

21
Buta Warna
 Buta warna adalah suatu kondisi ketika sel-sel retina
tidak mampu merespon warna dengan semestinya.
Sel-sel kerucut di dalam retina mata mengalami
pelemahan atau kerusakan permanen.

22
A. Klasifikasi buta warna :
 1. Trikromasi
 Yaitu mata mengalami perubahan tingkat sensitivitas
warna dari beberapa warna.
tiga klasifikasi turunan pada trikomasi :
1. Protanomali, seorang buta warna lemah mengenal
merah
2. Deuteromali, warna hijau akan sulit dikenali oleh
penderita
3. Trinomali (low blue), kondisi di mana warna biru
sulit dikenali penderita.

23
 2. Dikromasi
Yaitu keadaan ketika satu dari tiga sel kerucut tidak
ada.Ada tiga klasifikasi turunan:
1. Protanopia, sel kerucut warna merah tidak ada
sehingga tingkat kecerahan warna merah atau
perpaduannya kurang
2. Deuteranopia, retina tidak memiliki sel kerucut yang
peka terhadap warna hijau
3. Tritanopia, sel kerucut warna biru tidak ditemukan.

24
 3. Monokromasi
Monokromasi sebenarnya sering dianggap sebagai
buta warna oleh orang umum.Kerusakan total
pada retina dalam merespon warna. Hanya
warna hitam dan putih yang mampu diterima
retina.
B. Penyebab Buta Warna
 genetik. Kromosom X pada perempuan buta warna
diturunkan kepada anak-anaknya

25
C. Fakta-fakta tentang Buta
Warna
 > sering lelaki dr pd perempuan.
 Terkait warna merah dan hijau: Sebanyak 99%
membedakan tak mampu mengenali warna keduanya,
 Terjadi 8 -12% lelaki Eropa, perempuan adalah 0,5 -1%.
 Tingkat buta warna di benua lain tentu bervariasi.
 Tidak ada cara untuk mengobati buta warna, karena ia
bukan penyakit melainkan cacat mata.
 Tes buta warna dengan menggunakan plat bernama
Ishihara.

26
Peralatan pada pemeriksaan
mata
 Ada 3 prinsip pemeriksaan mata: bagian dalam, daya
fokus dan pengukuran kelengkungan kornea
 PerLtN PEMERIKSAAN MATA DA LENSA:
1. Opthalmoskop
2. retinoskop
3. Keratometer
4. Tonometri dari schiotz
5. Pupilometer
6.lensometer

27
 1. Opthalmoskop
 Mengetahui fundus okuli.(retina mata dan pembuluh
darahkhoroidea keseluruhan).ada dua prinsip kerja:
 A. pencerminan mata scr langsung
 B. pencerminan mata scr tak langsung
A. Pencerminan mata scr langsung. Fundus okuli penderita
penderita disinari dg lampu, apabila penderita emetropia
dan tdk melakukan akomodasi mk sebagian chy akan di
pantulkan dan keluar dr lensa mata penderita dlm kedaan
sejajar dan terkumpul gambar tajam pd selaput jar mata
pemeriksa yg jg tdk terokomodasi.pada jar mata pemeriksa
terbentuk gambar terbalik dan sama besar dg fundus
penderita
B. pencerminan mata scr tak langsung
Lensa kondensor diproyeksikan ke dlm mata penderita dg
cermin datar,kmd mll retina pasien dipantulkan keluar pd
mata pemeriksa. Oftalmoskup dpt mendeteksi Tu mata
28
 2. Retinoskop
 Untuk resep lensa demi koreksi mata penderita, mata terbuka
saat di periksa.caya lampu di proyeksikan ke mata klien(tanpa
akomodasi) ,chy yg dipantulkan retina akan menghslkan
bayangan fokusbpd titik jauh pula.lensa positif/negatif
diletakkan di depan mata klien,ditambahkan atau dikurangi
agar pemfokusan bayangan dari retina thdp pemeriksa tepat.
3. Keratometer
Mengukur kelengkungan kornea. Untuk pemakaian lensa
kontak.Lensa kontak ditempelkan pd kornea Lensa kontak :
Hard & soft Contact lens
Hard C.L: keras, tebal 1 mm,diameter 1 cm,dpt koreksi
astigmatisma.
Soft C.L : Sgt nyaman tdk dpt koreksi astigmatisma.
Dasar kerja: Benda dg ukuran ttt diletakkan di depan cermin
cembung dg jrk diketahui akan membentung bayangan di
belakang cermin cembung.

29
 4. Tonometer dari schiotz)
 Cara kerja : Penderita terlentang , kornea mata dibius,
alat (plug)diletakkan diatas kornea,shg timbul tekanan
ringan.Alat pemberat 5,5, 7,5 10,5 gram. Ex: plug diberi
beban 5,5 gram, mk berat tonometer:
=berat plug + alat pemberat
= 11 gr = 5,5 gr
= 16,5 gr, 16,5 gr ini menunjukkan tio sebesr 17 mm Hg.
Normal 20-25 mm Hg.
1950 tonometer dimodifikasi pembacaan scr elektronik
dsn direkam disbt tonograf. 1955 Goldmann
Tonometer Goldmann.Aplanation ; pengukuran
tonometer dg posisi duduk.
30
 6. Pupilometer dari eindhoven
 Pupil diukur melalui lempengan kertas yg terdiri
sejumlah lubang kecil dg jrk ttt, tampa akomodasi.
7. Lensanometer
untuk mengukur kekuatan lensa dan mengetahui diptri
lensa tsb.dasar kerja mengkombinasikan antara lensa
negatif dan positif.

31
Cahaya
 PENDAHULUAN
 Melalui pendekatan shy sbg gelombang dan partikel mk peristiwa
refraksi, disfraksi, dispersi dan refleksi
 Panas yg di timbulkan oleh shy dijelskan oleh teori foton
kwantum/partikel
SUMBER DAN SIFAT CHY
1. Sumber chy : a). Alam ; matahari, cuaca, b). Artifisial ; chy listrik,
gas, lampu minyak,lilin.
2. Sifat sumber chy: berbeda dlm distribusi spektrum.
FOTOMETRI DAN SATUAN
Fotometri: ilmu yg membicarakan ttg pengukuran kwantitas chy.
Kwantitas chy: kuat cahaya(I), arus chy (F), kuat penerangan (E), dan
terang chy (e).
A. Kuat chy (I): Jumlah arus chy yg dipancarkan dr sumber chy /satuan
sudut ruang. Satuan cd (kandela) : kuat chy yg memberikan chy
sebyk 1/20 kali byk chy yg dipancarkan oleh 1 cm² platina pd titik
32
lebur
 B. Arus chy (fluks cahay=F)
 Byknya tenaga chy yg dipancarkan dr sumber chy /satuan
wkt.Satuan Lumen(Lm) : arus chy yg dipancarkan dr sumber chy yg
menembus bidang 1 m² dr kulit bola yg berjari-jari 1 m.
C. Kuat penerangan (E)
Jumlah arus chy / satuan luas. Satuan Luks.Satu Luks : kuat
peneranga bidang tiap 1 m² menerima arus chy 1 lumen.
E =F
A
F = arus chy dalam lumen
A = Luas bidang /m²
E = kuat penerangan dlm Luks
D. Terang Cahaya
Besar kuat chy tiap cm² dari luas chy yg dilihat.
e= I
A
e = Terang chy dlm satuan lilin (stilb)
cm²
I = Kuat chy dlm lilin(kandela)
A = luas permukaan sumber chy
33
ALAT PENGUKUR CAHAYA
a. Alat pengukur kuat chy: fotometer sederhana, fotometer buatan
lummer dan Brodhun.
b. Alat pengukur kuat penerangan bidang disbt Luks meter.
HUBUNGAN GEL CHY DG GEL ELKTROMAGNETIK
Chy yg melewati prisma akan dibiaskan (difraksi) dan
diuraikan(dispersi) mjd tujuh warna /pelangi(mejikuhibiniu).scr garis
besar gelombang chy ini dibagi atas 3 bagian :
1. Ungu Ultra :
EFEK RADIASI EFEK BIOLOGIS,MATA DAN KULIT
U.V Region Wavelength(cm) Daerah Ungu Panjang efel
Ultra gel (nm)
Vacuum 100 – 200 Ungu Ultra A 320-400 Fluoresen
far 100-280
Middle 280-320 Ungu Ultra A 290-320 Eritema
Near 315-400
Actinic 200-320 Ungu Ultra A 100-290 Germisidal
34
 2. Sinar tampak (visible light)
 Panjang gelombang: 400-700 nm
3. Sinar merah Infra(I.R) panjang gelmb 700-10⁴ nm lebih
PENGGUNAAN SINAR DLM BID KEDOKTERAN
A. Sinar Tampak
Mengetahui scr langsg bagian tubuh luar/dalam yg mengalami
kelainan
1. Transluminasi : transmisi chy mll jar tubuh,dihamburkan
membentuk chy yg spesifik. Mengetahui: pneumetroraks,
sinusitis, kelainan testis dan payudara.
2. Endoskop : melihat ruang dlm tubuh, alat ini terdiri fiberglas
dan lampu. Sifat fiberglas mudah dibengkokkan.
3. Sitoskop : Untuk melihat struktur dlm vesika urinari.
4. Protoskop : Prinsip sama endoskopi, melihat struktur rektum
5. Bronkhoskopi: Melihat bronkhus paru-paru.

35
B. Ultra Ungu
Sinar ultra ungu mempunyai efek kimia, fisik dan biologis,
sterilisasi sifat bakterisid. Efek pada kulit pembentukan vit D,
eritema, vitiligo, edema kulit,pada mata: foto keratitis , katarak ,
flouresen pd vitrous humor.
C. Merah Infra
Dihslkan dari lampu berfilter merah dg daya 250 watt, 750 wattt,
sinar matahari, emisi lampu pijar, lampu flouresen dan
temperatur tinggi dari komponen listrik.Kegunaan merah infra:
1. Diatermi pd penderita artritis
2. Emisi infra merah fotografi di deteksi sbg thermogram
3. Refleksi infra red photography λ 700-900 nm untuk
menunjukkan aliran vena pada kulit
4. Fotografi pada pupil
5. Pd pekerja gelas 10-15 th intensitas 0,1 W cm ⁻² menyebabkan
katarak.
6. Heat stress efek pd mata dan kulit.
7. λ > 1,5 nm tubuh mjd opaque
36
 Sinar Biru
 λ-450 nm, fototerapi pd penderita penyakit kuning(pd infant
joundice/kern icterus/eritroblastosis fetalis.
Sinar-sinar tsb diatas digunakan sbg “color therapy”,
pengobatan berbagai penyakit.
LASER
Light Amplification by Stimulated Emission of Radition
Sumber chy yg diemisi sbg berkas chy yg monokromatis yg
msg-msg gel yg dlm satu fase bersama-sama dg berkas chy
lainnya yg berdekatan(chy koheren) dan parallel.
Fungsi : 1. Koagulasi drh dan memblokir pembuluh drh vena
2. Menghslkan hologram
3. Penghancuran Ca.
Dampak: Kerusakan jaringan pd 100°C

37
TERIMA KASIH

38