You are on page 1of 23

ASUHAN KEPERAWATAN HIRSCHPRUNG

DISUSUN OLEH: KELOMPOK 5


RONIN
BEKTI
SRI M
ANTI
SUMI
DEFINISI
• Penyakit Hirschsprung (mega kolon kongenital) adalah
suatu penyumbatan pada usus besar yang terjadi
akibat pergerakan usus yang tidak adekuat karena
sebagian dari usus besar tidak memiliki saraf yang
mengendalikan kontraksi ototnya.
• Hirschsprung terjadi karena adanya permasalahan pada
persarafan usus besar paling bawah mulai dari anus
hingga usus diatasnya. Saraf yang berguna untuk
membuat usus bergerak melebar menyempit biasanya
tidak sama sekali atau kalaupun ada sedikit sekali.
Namun yang jelas kelainan ini akan membuat BAB bayi
tidak normal, bahkan cenderung sembelit terus-
menerus. Hal ini dikarenakan tidak adanya saraf yang
dapat mendorong kotoran keluar dari anus.
ETIOLOG
I
• Adapun yang menjadi penyebab hirschsprung
atau mega kolon kongenital adalah diduga
karena terjadi faktor genetik dan lingkungan
sering terjadi pada anak dengan Down
syndrome, kegagalan sel neural pada masa
embrio dalam dinding usus, gagal eksistensi,
kranio kaudal pada myentrik dan submukosa
pada dinding plexus.
ANATOMI FISIOLOGI
PENCERNAAN
PATOFISIOLOG
I
• Istilah congenital agang lionic Mega Colon
menggambarkan adanya kerusakan primer
dengan tidak adanya sel ganglion pada dinding
sub mukosa kolon distal.
• Ketidakadaan ini menimbulkan keabnormalan
atau tidak adanya gerakan tenaga pendorong
(peristaltik) dan tidak adanya evakuasi usus
spontan serta spinkter rektum tidak dapat
berelaksasi sehingga mencegah keluarnya feses
secara normal yang menyebabkan adanya
akumulasi pada usus dan distensi pada saluran
cerna. Bagian proksimal sampai pada bagian yang
rusak pada Mega Colon.
• Semua ganglion pada intramural plexus dalam
usus berguna untuk kontrol kontraksi dan
relaksasi peristaltik secara normal. Isi usus
mendorong ke segmen aganglionik dan feses
terkumpul didaerah tersebut, menyebabkan
terdilatasinya bagian usus yang proksimal
terhadap daerah itu karena terjadi obstruksi
dan menyebabkan dibagian Colon tersebut
melebar.
MANIFESTASI
KLINIS
• Penyakit Hirschprung ini harus dicurigai apabila
seorang bayi cukup bulan dengan berat lahir 3kg
(penyakit ini tidak bias terjadi pada bayi kurang
bulan) yang terlambat mengeluarkan tinja
(Wyllie, 2000; Mansjoer,2000).
• Trias klasik gambaran klinis pada neonates adalah
Pengeluaran mekonium yang terlambat, yaitu:
- Lebih dari 24jam pertama
- Muntah hijau
- Perut membuncit keseluruhan
KOMPLIKASI
• Diagnosa penyakit Hirschprung harus dapat ditegakkan
sedini mungkin mengingat berbagai komplikasi yang
dapat terjadi dan sangat membahayakan jiwa pasien
seperti;
- Enterokolitis
- Pneumatosis Usus
- Abses Perikolon
- Perforasi
- Septikimia yang dapat menyebabkan kematian
• Komplikasi pada tindakan bedah penyakit Hirschprung
dapat digolongkan atas kebocoran Anatomose,
Stenosis, Enterokilitis, dan gangguan sfingter.
PEMERIKSAAN
PENUNJANG

1. Pemeriksaan Laboratorium
2. Pemeriksaan Radiologi
3. Biopsi
PENATALAKSANAAN
1. Pembedahan
2. Konservatif
3. Tindakan bedah sementara
4. Perawatan
A. Pengkajian
a. Identitas
ASUHAN KEPERAWATAN
Lihat kondisi pasien. Penyakit ini sebagian
besar ditemukan pada bayi cukup bulan dan
merupakan kelainan tunggal.
b. Anamnesis
• Adanya keterlambatan pengeluaran mekonium yang
pertama, biasanya keluar >24 jam.
• Adanya muntah berwarna hijau.
• Adanya obstipasi masa neonates, jika terjadi pada anak
yang lebih besar obstipasi semakin sering, perut kembung,
dan pertumbuhan terhambat.
• Adanya riwayat keluarga sebelumnya yang pernah
menderita keluhan serupa, misalnya anak laki-laki
terdahulu meninggal sebelum usia 2 minggu dengan
riwayat tidak dapat defekasi.
c. Pemeriksaan Fisik
• Inspeksi : Tanda khas didapatkan adanya
distensi abnormal. Pemeriksaan rectum dan
feses akan didapatkan adanya perubahan feses
seperti pita dan berbau busuk.
• Auskultasi : Pada fase awal didapatkan
penurunan bising usus, dan berlanjut dengan
hilangnya bising usus.
• Perkusi : Timpani akibat abdominal mengalami
kembung.
• Palpasi : Teraba dilatasi kolon abdominal.
d. Pemeriksaan Diagnostik
• Foto Polos adomen
• Biopsi
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang sering muncul
adalah ;
• Risiko konstipasi berhubungan dengan
penyempitan kolon, sekunder, obstruksi
mekanik
• Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan
masukan makanan tidak adekuat dan
rangsangan muntah
C. Intervensi
Risiko konstipasi berhubungan dengan
penyempitan kolon, sekunder, obstruksi mekanik
• Tujuan : Pola BAB normal
• Kriteria Hasil : Pasien tidak mengalami
konstipasi, pasien mempertahankan defekasi
setiap hari
No Intervensi Rasional
1 Observasi bising usus dan periksa Untuk menyusun rencana penanganan
adanya distensi abdomen pasien. yang efektif dalam mencegah konstipasi
Pantau dan catat frekuensi dan dan impaksi fekal
karakteristik feses
2 Catat asupan haluaran secara Untuk meyakinkan terapi penggantian
akurat cairan dan hidrasi
3 Dorong pasien untuk Untuk meningkatkan terapi penggantian
mengkonsumsi cairan 2.5 L setiap cairan dan hidrasi
hari, bila tidak ada kontraindikasi
4 Lakukan program defekasi. Untuk membantu adaptasi terhadap fungsi
Letakkan pasien di atas pispot atau fisiologi normal
commode pada saat tertentu
setiap hari, sedekat mungkin
kewaktu biasa defekasi (bila
diketahui)
5 Berikan laksatif, enema, atau Untuk meningkatkan eliminasi feses padat
supositoria sesuai instruksi atau gas dari saluran pencernaan, pantau
keefektifannya
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan
masukan makanan tidak adekuat dan
rangsangan muntah
• Tujuan : Kebutuhan cairan terpenuhi
• Kriteria Hasil : Turgor kulit elastik dan normal,
CRT < 3 detik, Berat badan stabil
No Intervensi Rasional

1 Timbang berat badan Untuk membantu mendeteksi perubahan


keseimbangan cairan

2 Pertahankan intake dan output Untuk menjaga agar berat badan stabil
yang akurat

3 Periksa membran mukosa mulut Membran mukosa kering merupakan suatu


setiap hari indikasi dehidrasi

4 Monitor vital sign Untuk mengetahui perkembangan tanda-


tanda viltal pasien
d. Implementasi
No Diagnosa Implementasi
1 Risiko konstipasi -Mengobservasi bising usus dan periksa adanya
berhubungan dengan distensi abdomen pasien. Pantau dan catat frekuensi
penyempitan kolon, dan karakteristik feses
sekunder, obstruksi -Mencatat asupan haluaran secara akurat
mekanik -Mendorong pasien untuk mengkonsumsi cairan 2.5
L setiap hari, bila tidak ada kontraindikasi
-Melakukan program defekasi. Letakkan pasien di
atas pispot atau commode pada saat tertentu setiap
hari, sedekat mungkin kewaktu biasa defekasi (bila
diketahui)
-Memberikan laksatif, enema, atau supositoria sesuai
instruksi
2 Ketidakseimbangan -Menimbang berat badan
nutrisi kurang dari -Mempertahankan intake dan output yang akurat
kebutuhan tubuh -Memeriksa membran mukosa mulut setiap hari
berhubungan dengan -Memonitori vital sign
masukan makanan tidak
adekuat dan
rangsangan muntah
e. Evaluasi
• Kebutuhan nutrisi sebagian terpenuhi
• Kebutuhan cairan sebagian terpenuhi
• Integritas kulit lebih baik
• Nyeri berkurang